Anda di halaman 1dari 19

SATUAN ACARA PENYULUHAN

KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI DAN PERAN SERTA KELUARGA DALAM


MERAWAT PASIEN
DI RUANG 23 PSIKIATRI RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Oleh
Tim PKRS
IRNA: I

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SAIFUL ANWAR
MALANG
SEPTEMBER 2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegawatdaruratan Psikiatrik merupakan aplikasi klinis dari psikiatrik pada


kondisi darurat. Kondisi ini menuntut intervensi psikiatrik seperti percobaan
bunuh diri, penyalahgunaan obat, depresi, penyakit kejiwaan, kekerasan atau
perubahan lainnya pada perilaku. Pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik
dilakukan oleh para profesional di bidang kedokteran, ilmu perawatan, psikologi
dan pekerja sosial. Permintaan untuk layanan kegawatdaruratan psikiatrik
dengan cepat meningkat di seluruh dunia sejak tahun 1960-an, terutama di
perkotaan. Penatalaksanaan pada pasien kegawatdaruratan psikiatrik sangat
kompleks. Para profesional yang bekerja pada pelayanan kegawatdaruratan
psikiatrik umumnya beresiko tinggi mendapatkan kekerasan akibat keadaan
mental pasien mereka. Pasien biasanya datang atas kemauan pribadi mereka,
dianjurkan oleh petugas kesehatan lainnya, atau tanpa disengaja.
Penatalaksanaan pasien yang menuntut intervensi psikiatrik pada umumnya
meliputi stabilisasi krisis dari masalah hidup pasien yang bisa meliputi gejala atau
kekacauan mental baik sifatnya kronis ataupun akut. Kesehatan jiwa adalah
suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan sosial yang terlihat dari hubungan
interpersonal yang memuaskan, perilaku, dan koping yang efektif, konsep diri
positif, dan kestabilan emosional (Videback, 2008).
Dan data yang ada, 95% kasus bunuh diri berkaitan dengan masalah
kesehatan jiwa diantaranya 80% mengalami Depresi, 10% Skizofrenia dan 5%
Dementia/Delirium. Sedangkan sekitar 25% lainnya mempunyai diagnosa ganda
yang berkaitan dengan Ketergantungan Alkohol
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran,
dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap
anggota keluarga (Friedman, 2010). Penderita gangguan jiwa merupakan bagian
dari anggota keluarga. Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang
memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan sehat dan sakit. Pada
umumnya, keluarga meminta bantuan tenaga kesehatan jika mereka tidak
sanggup lagi merawat keluarganya yang sakit. Peran serta keluarga dalam
perawatan jiwa yang dapat dipandangi dari berbagai segi: (1) keluarga
merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan
lingkungannya, (2) keluarga merupakan suatu sistem yang saling bergantung
dengan anggota keluarga lain, (3) pelayanan kesehatan jiwa bukan tempat klien
seumur hidup tetapi fasilitas yang hanya membantu klien dan kelaurga
sementara. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor penyebab
gangguan jiwa adalah keluarga yang pengetahuannya kurang (Keliat, 2003).
Oleh karena itu asuhan keperawatan jiwa yang berfokus pada keluarga
bukan hanya memulihkan keadaan klien tetapi meningkatkan peran serta
keluarga dalam mengatasi kesehatan tersebut (Keliat, 2003).

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan peserta dapat
memahami tentang konsep kegawatdaruratan psikiatri serta peran
keluarga dalam merawat pasien dengan kegawatdaruratan psikiatri.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah pemberian edukasi, diharapkan peserta dapat
menjelaskan kembali tentang:
a. Definisi kegawat daruratan psikiatri
b. Jenis kegawat daruratan psikiatri
c. Tanda-tanda kegawat daruratan psikiatri
d. Peran keluarga dalam merawat pasien dengan kegawatdaruratan
psikiatri
e. Dampak kurangnya peran keluarga pada pasien dengan
kegawatdaruratan psikiatri
f. Penatalaksanaan gangguan jiwa di rumah
1.3 Manfaat
Diharapkan penyuluhan ini bermanfaat bagi pasien dan keluarga dalam
menerapkan penatalaksaan kegawatdaruratan psikiatri, serta meningkatkan peran
keluarga dalam merawat pasien dengan kegawatdaruratan psikiatri.

BAB II
TINJUAN TEORI
2.1 Definisi kegawat daruratan psikiatri
Kegawatdaruratan psikiatri adalah kasus kedaruratan psikiatrik meliputi
gangguan pikiran, perasaan dan perilaku yang memerlukan intervensi terapeutik
segera, antara lain (Elvira,Sylvia D dan Gitayanti hadisukanto, 2010). Adapun
indikasi rawat inap antara lain adalah
a. Bila pasien membahayakan diri sendiri atau orang lain
b. Bila perawatan di rumah tidak memadai
c. Perlu observasi lebih lanjut
Kedaruratan psikiatri adalah sub bagian dari psikiatri yang mengalami
gangguan alam pikiran, perasaan, atau perilaku yang membutuhkan intervensi
terapeutik segera yang disebabkan oleh berbagai keadaan seperti bertambahnya
tindak kekerasan, perubahan perilaku dan jiwa akibat penyakit organik, serta
epidemik dari gangguan penggunaan zat seperti alkoholisma.
Pada kedaruratan psikiatri, prioritas yang utama diberikan pengobatan
pada pasien agitasi yang dapat menimbulkan insiden pada pasien dan melukai
petugas yang menimbulkan ketidaknyamanan secara psikologis terhadap pasien.
Secara klinis agitasi dapat dijumpai berupa pembicaraan yang berlebihan dan
abnormal atau penyerangan fisik, perilaku motorik tertentu, kemarahan yang
memuncak daan gangguan fungsi pada pasien.
Pasien psikotik sering dirujuk ke bagian darurat oleh seseorang yang lain.
Tingkah laku yang tidak dapat ditoleransi pada masyarakat, seperti tindak
kekerasan, agresi, agitasi, dan tingkah laku yang kacau atau yang tidak sesuai,
biasanya akan melibatkan pihak penegak hukum ataupun layanan darurat medis.
Keluarga dari pasien psikotik membawa pasien ke layanan kedaruratan karena
tindakan agresif, atau mereka melaporkan bahwa pasien berhenti makan, tidak
tidur, berperilaku aneh, atau mereka tidak mampu lagi mengurus diri.

2.2 Jenis Kegawatdaruratan Psikiatri


a Keadaan Gaduh Gelisah
Keadaan gaduh gelisah dipakai sebagai sebutan sementara untuk suatu
gambaran psikopatologis dengan ciri-ciri utama gaduh dan gelisah. (Maramis dan
Maramis, 2009).

b. Tindak kekerasan (violence)


Violence atau tindak kekrasan adalah agresi fisik yang dilakukan oleh
seseorang terhadap orang lain. Jika hal itu diarahkan kepada dirinya sendiri,
disebut mutilasi diri atau tingkah laku bunuh diri (suicidal behavior). Tindak
kekerasan dapat timbul akibat berbagai gangguan psikiatrik, tetapi dapat pula
terjadi pada orang biasa yang tidak dapat mengatasi tekanan hidup sehari-hari
dengan cara yang lebih baik.

c. Resiko Bunuh diri (suicide)/ Tentamen Suicidum


Bunuh diri atau suicide atau tentamen suicidum adalah kematian yang
diniatkan dan dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri (Elvira, Sylvia D
dan Gitayanti Hadisukanto, 2010) atau segala perbuatan seseorang yang dapat
mengakhiri hidupnya sendiri dalam waktu singkat (Maramis dan Maramis, 2009).
Kemungkinan bunuh diri dapat terjadi apabila (Tomb, 2004):
Pasien pernah mencoba bunuh diri
Keinginan bunuh diri dinyatakan secara terang-terangan maupun tidak, atau
berupa ancaman: kamu tidak akan saya ganggu lebih lama lagi (sering
dikatakan pada keluarga)
Secara objektif terlihat adanya mood yang depresif atau cemas
Baru mengalami kehilangan yang bermakna (pasangan, pekerjaan, harga diri,
dan lain-lain)
Perubahan perilaku yang tidak terduga: menyampaikan pesan-pesan,
pembicaraan serius dan mendalam dengan kerabat, membagi-bagikan
harta/barang-barang miliknya.
Perubahan sikap yang mendadak: tiba-tiba gembira, marah atau menarik diri.

d. Penyalahgunaan NAPZA
NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah
bahan/zat/obat yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi
tubuh terutama otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan
kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan
(adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Istilah NAPZA
umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan, yang menitik beratkan
pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial.
NAPZA sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada
otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.
Golongan NAPZA (DRUGS):
1. Anti Psikosis (major tranquilizer, neuroleptik)
2. Anti Anxietas (minor tranquilizer psycholeptic)
3. Anti depresan (thymoleptika, pshychic energizeer)
4. Anti Mania (mood modulary, mood stabilizer)
5. Psikotogenik
Yang paling sering digunakan adalah golongan Psikootogenik dengan
efek yang ditimbulkan : gangguan/kelainan tingkah laku, halusinasi, ilusi,
gangguan cara berfikir, perubahan alam perasaan, dan lama-kelamaan menjadi
psikosis (gila). Contoh obat yang sering digunakan antara lain: heroin (putaw),
morfin, ganja, shabu-shabu.

e. Reaksi dan Interaksi Obat


Overdosis, interaksi obat, dan reaksi berbahaya dari pengobatan
psikiatris, terutama antipsikotik, dimasukkan ke dalam kegawatdaruratan
psikiatri. Neuroleptic malignant syndrome adalah komplikasi mematikan dari
generasi pertama atau kedua obat antipsikotik. Jika tidak ditangani, neuroleptic
malignant syndrome dapat mengakibatkan demam, kekakuan otot, kebingungan,
tanda vital tidak stabil, atau bahkan kematian. Gejala sindrom serotonin yang
parah meliputi hyperthermia, mata gelap, dan tachycardia yang boleh mendorong
kearah shock.

f. Gangguan kepribadian
Gangguan yang termanifestasi pada kelainan fungsi pada area kognisi,
afek, fungsi interpersonal dan impuls kontrol dapat digolongkan sebagai
gangguan kepribadian. Pasien yang menderita gangguan kepribadian pada
umumnya tidak akan mengeluh tentang gejala gangguan mereka. Pasien yang
menderita kegawatdaruratan dari gangguan kepribadian dapat menunjukkan
perilaku curiga, psikosis, atau delusi.

g. Kecemasan
Pasien yang menderita kasus kecemasan yang ekstrim boleh mencari
perawatan ketika semua sistem pendukung telah dikerahkan dan mereka tidak
mampu untuk menghilangkan kecemasan itu. Rasa cemas bisa hadir lewat jalan
yang berbeda dari suatu dasar penyakit medis atau gangguan psikiatrik, suatu
gangguan fungsional sekunder dari gangguan psikiatrik yang lain, dari suatu
gangguan psikiatrik utama seperti gangguan panik atau gangguan cemas umum,
atau sebagai hasil stress dari kondisi seperti gangguan penyesuaian atau gangguan
stress pasca trauma.

h. Pelecehan seksual
Peristiwa fisik, perkosaan atau pelecehan seksual dapat mengakibatkan
hasil yang berbahaya kepada korban dari tindakan kriminal. Korban dapat
menderita kecemasan yang ekstrim, ketakutan, ketidakberdayaan, kebingungan,
gangguan makan atau tidur, permusuhan, rasa bersalah dan malu. Penanganan
pada umumnya meliputi pertimbangan psikologis, medis, dan undang-undang
yang sah. Bergantung pada ketentuan hukum di daerah, para tenaga kesehatan
diperlukan untuk melaporkan aktivitas kriminal kepada suatu kepolisian. Tenaga
kesehatan pada umumnya mengumpulkan dan mengidentifikasi data sepanjang
penilaian awal dan menunjuk pasien yang jika perlu akan menerima perawatan
medis.

2.3 Penatalaksanaan
Berdasarkan prinsip tindakan intensif segera, maka penanganan
kedaruratan dibagi dalam fase intensif I (24 jam pertama), fase intensif II (24-72
jam pertama), dan fase intensif III (72 jam-10 hari).

1. Fase intensif I
Fase intensif I adalah fase 24 jam pertama pasien dirawat dengan
observasi, diagnosa, tritmen dan evaluasi yang ketat. Berdasarkan hasil
evaluasi pasien maka pasien memiliki tiga kemungkinan yaitu dipulangkan,
dilanjutkan ke fase intensif II, atau dirujuk ke rumah sakit jiwa.
2. Fase intensif II
Fase intensif II perawatan pasien dengan observasi kurang ketat sampai
dengan 72 jam. Berdasarkan hasil evaluasi maka pasien pada fase ini
memiliki empat kemungkinan yaitu dipulangkan, dipindahkan ke ruang fase
intensif III, atau kembali ke ruang fase intensif I.
3. Fase intensif III
Fase intensif III pasien di kondisikan sudah mulai stabil, sehingga
observasi menjadi lebih berkurang dan tindakan-tindakan keperawatan lebih
diarahkan kepada tindakan rehabilitasi. Fase ini berlangsung sampai dengan
maksimal 10 hari. Merujuk kepada hasil evaluasi maka pasien pada fase ini
dapat dipulangkan, dirujuk ke rumah sakit jiwa atau unit psikiatri di rumah
sakit umum, ataupun kembali ke ruang fase intensif I atau II.

2.4 Peran keluarga dalam merawat klien dengan gangguan jiwa.


Peran adalah suatu pola atau sikap dan tujuan yang diharapkan seseorang
berdasarkan posisinya dimasyarakat. Peranan adalah pola tingkah laku yang
diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu jabatan atau tingkah laku yang
diharapkan pantas dari seseorang ( Bailon dan Maglayan, 1996)
Keluarga adalah unit pelayanan dasar di masyarakat dan juga merupakan
Perawat utama bagi anggota keluarga (Junaiti, 1995). Keluarga adalah orang-
orang yang sangat dekat dengan pasien dan dianggap paling banyak tahu kondisi
pasien serta dianggap paling banyak memberi pengaruh pada pasien. Sehingga
keluarga sangat penting artinya dalam perawatan dan penyembuhan pasien. Peran
keluarga saat ditemukan pasien dengan kondisi kegawatdaruratan psikiatri adalah
langsung dibawa ke rumah sakit umum terdekat sehingga pasien dapat ditangani
secara langsung dan tidak menimbulkan keparahan yang lebih lanjut.

Alasan utama pentingnya keluarga dalam perawatan jiwa adalah :


a. Keluarga merupakan lingkup yang paling banyak berhubungan dengan pasien
b. Keluarga (dianggap) paling mengetahui kondisi pasien
c. Gangguan jiwa yang timbul pada pasien mungkin disebabkan adanya cara
asuh yang kurang sesuai bagi pasien
d. Pasien yang mengalami gangguan jiwa nantinya akan kembali kedalam
masyarakat; khususnya dalam lingkungan keluarga
e. Keluarga merupakan pemberi perawatan utama dalam mencapai pemenuhan
kebutuhan dasar dan mengoptimalkan ketenangan jiwa.
Hal-hal yang perlu diketahui oleh keluarga dalam perawatan Gangguan Jiwa :
a. Pasien yang mengalami gangguan jiwa adalah manusia yang sama dengan
orang lainnya; mempunyai martabat dan memerlukan perlakuan manusiawi
b. Pasien yang mengalami gangguan jiwa mungkin dapat kembali ke
masyarakat dan berperan dengan optimal apabila mendapatkan dukungan
yang memadai dari seluruh unsur masyarakat. Pasien gangguan jiwa bukan
berarti tidak dapat sembuh
c. Pasien dengan gangguan jiwa tidak dapat dikatakan sembuh secara utuh,
tetapi memerlukan bimbingan dan dukungan penuh dari orang lain (dan
keluarga)
Tujuan perawatan adalah :
a. Meningkatkan Kemandirian pasien
b. Pengoptimalan peran dalam masyarakat
c. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah
d. Pasien memerlukan pemenuhan kebutuhan aktivitas sehari-hari seperti
makan, minum dan berpakaian serta kebersihan diri dengan optimal.
e. Keluarga berperan untuk membantu pemenuhan kebutuhan ini sesuai tahap-
tahap kemandirian pasien
f. Kegiatan sehari-hari seperti melakukan pekerjaan rumah (ringan), membantu
usaha keluarga atau bekerja (seperti orang normal lainnya) merupakan salah
satu bentuk terapi pengobatan yang mungkin berguna bagi pasien.
g. Berilah peran secukupnya pada pasien sesuai dengan tingkat kemampuan
yang dimiliki. Pemberian peran yang sesuai dapat meningkatkan harga diri
pasien.
h. Berilah motivasi pada pasien sesuai dengan kebutuhan (tidak dibuat-buat)
dalam rangka meningkatkan moral dan harga diri.
i. Kembangkan kemampuan yang telah dimiliki oleh pasien pada waktu yang
lalu. Kemampuan masa lalu berguna untuk menstimulasi dan meningkatkan
fungsi klien sedapat mungkin.
BAB III
PENGORGANISASIAN

3.1 Rencana Kegiatan


1. Metode
Ceramah dan tanya jawab (diskusi)
2. Media
Power point presentation, leaflet
3. Waktu dan Tempat
Waktu : Rabu, 21 September 2016
Pukul : 10.00-10.40 WIB
Tempat : Ruang 23 Psikiatri RSSA
4. Pemateri :
- Priskila P.
5. Fasilitator :
- Adimas M.S
- Lutfi C.A
6. Moderator :
- Sahrul Aini
7. Peserta : Keluarga/ wali pasien yang dirawat di ruang 23 Psikiatri RSSA.
8. Tahap-Tahap Kegiatan

Tahap Waktu Kegiatan Edukator Kegiatan Peserta Metode Media


Pembukaan 3 menit - Memberi salam Menjawab salam, Ceramah -
- Menjelaskan tujuan
Mendengarkan dan
edukasi
memperhatikan
- Menyebutkan
kontrak waktu
- Menyebutkan
materi/pokok
bahasan yang akan
disampaikan
5 menit Membagikan lembar Menjawab - Lembar
pretest dan mengambil pertanyaan pada pretest
lembar pretest apabila lembar pretest yang
waktu telah habis diberikan
Pelaksanaan 15 - Menggali Mengungkapkan Tanya jawab, Power point
pengetahuan peserta apa yang diketahui ceramah presentation
tentang materi yang mengenai pre , leaflet
akan disampaikan eklampsia ringan
(brainstorming) dan pre eklampsia
- Menjelaskan materi
berat.
penyuluhan secara Menyimak dan
berurutan dan teratur. memperhatikan
- Materi:
1. Pengertian kegawat
daruratan psikiatri
dan jenisnya
2. Tanda gejala
kegawat daruratan
psikiatri (perilaku
kekerasan)
3. Menjelaskan peran
keluarga dalam
merawat klien
dengan gangguan
jiwa
4. Menjelaskan
dampak
ketidakikutsertaan
keluarga dalam
merawat pasien PK
5. Menjelaskan
penatalaksanaan
PK dirumah
Tanya Jawab 10 menit- Memberikan tawaran Mengajukan Tanya jawab Power point
bagi klien untuk pertanyaan presentation
bertanya , leaflet
- Memberikan timbal
balik terhadap
pertanyaan yang
diberikan
Evaluasi 5 menit Membagikan lembar Menjawab - Lembar
postest dan mengambil pertanyaan pada postest
lembar postest apabila lembar postest yang
waktu telah habis diberikan
Penutup 2 menit - Memberikan Memperhatikan dan Ceramah -
kesimpulan tentang menjawab salam
penyuluhan yang
disampaikan
- Mengucapkan terima
kasih
- Mengucapkan salam

3.2 Kriteria Evaluasi


1. Evaluasi Struktur
- Adanya koordinasi dengan CI klinik ruang 23 Psikiatri RSSA untuk
menentukan tempat dan waktu edukasi.
- Pengorganisasian kegiatan edukasi dilakukan sebelum kegiatan.
- Media dan bahan-bahan untuk edukasi telah siap sebelum edukasi
dilakukan.
2. Evaluasi Proses
- Peserta mengikuti kegiatan dari awal sampe akhir dengan kooperatif.
- Peserta antusias dan aktif selama kegiatan edukasi dilakukan.
- Peserta memberikan respon atau umpan balik berupa pertanyaan.
3. Evaluasi Hasil
Peserta penyuluhan dapat menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan
materi yang disampaikan oleh pemateri.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kegawatdaruratan psikiatri adalah setiap gangguan dalam pikiran,
perasaan, atau tindakan yang membahayakan diri dan hidup individu
bersangkutan yang memerlukan intervensi teraputik segera. Kondisi
kegawatdaruratan meliputi: gaduh gelisah, tindak kekerasan (violence), bunuh
diri (suicide)/ tentamen suicidum, penyalahgunaan NAPZA, reaksi dan
interaksi obat, gangguan kepribadian, kecemasan dan pelecehan seksual.
Tindakan yang harus dilakukan saat terjadi kegawatdaruratan psikiatri
diantaranya adalah membawa ke pelayanan kesehatan tanpa meninggalkan pasien
sendirian dan petugas harus memiliki kewaspadaan.

4.2 Saran
1. Pemberi pelayanan primer harus mengerti dan memahami tatalaksana pada
kegawatdaruratan psikiatri.
2. Keluarga dengan anggota keluarga yang memiliki kecenderungan gangguan
psikis harus hati-hati dan tanggap terhadap tanda-tanda kegawatdaruratan
medis.

STRATEGI PELAKSANAAN

TINDAKAN KEPERAWATAN

PASIEN KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Audience
- Peserta penyuluhan berada pada kelompok umur 20-70 tahun
- Peserta penyuluhan rata-rata memiliki tingkat pendidikan terakhir SMP
2. Diagnosa Keperawatan
Kegawatdaruratan psikiatrik
3. Tujuan Keperawatan
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan peserta penyuluhan dapat mengerti
terkait kegawatdaruratan psikiatrik dan peran keluarga
4. Implementasi Keperawatan
- Bina Hubungan Saling Percaya dengan peserta penyuluhan
- Melakukan pretest
- Menjelaskan tentang pengertian kegawatdaruratan psikiatrik , macam-macam
kegawat daruratan gangguan jiwa, peran keluarga dalam perawatan gangguan
jiwa, dan manfaat dari terapi keluarga
- Melakukan Post-test
B. Strategi Komunikasi
1. Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum bapak-bapak ibu-ibu. Perkenalkan kami dari
kelompok 19 profesi NERS Universitas Brawijaya akan mengadakan
penyuluhan terkait kegawatdaruratan psikiatrik dan peran keluarga
b. Evaluasi Validasi
Bagaimana hari ini keadaan bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian?
c. Kontrak
- Topik : Tadi saya sudah sebut diawal, hari ini kita akan belajar
bersama terkait kegawatdaruratan psikiatrik dan peran keluarga
bagaimana apakah semua setuju?
- Waktu : Untuk waktunya bapak-bapak ibu-ibu bisa sampai berapa
lama? 30 menit bisa?
- Tempat : ya, tempatnya disini ya bapak-bapak dan ibu-ibu
2. Fase Kerja
jadi Kedaruratan psikiatri merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa
dan Kedokteran Kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus
kedaruratan yang memerlukan intervensi psikiatrik. Kasus kedaruratan
psikiatrik meliputi gangguan pikiran, perasaan dan perilaku yang
memerlukan intervensi terapeutik segera, antara lain: Keadaan Gaduh
Gelisah, Tindak kekerasan (violence), Bunuh diri (suicide)/ Tentamen
Suicidum, Penyalahgunaan NAPZA, Reaksi dan Interaksi Obat,
Gangguan kepribadian, Kecemasan, Pelecehan. Peran keluarga saat
ditemukan pasien dengan kondisi kegawatdaruratan psikiatri adalah
langsung dibawa ke rumah sakit umum terdekat sehingga pasien dapat
ditangani secara langsung dan tidak menimbulkan keparahan yang lebih
lanjut.Manfaat dari peran serta keluarga disini adalah Mempercepat
proses penyembuhan, Memperbaiki hubungan interpersonal, dan
Menurunkan angka kekambuhan
ada yang kurang jelas atau mau ditanyakan lebih lanjut?
3. Fase Terminasi
- Evaluasi Subjektif
bagaimana sekarang bapak-bapak dan ibu-ibu perasaannya setelah
mengikuti penyuluhan ini?
- Evaluasi Objektif
jadi tadi apa itu kegawatdaruratan psikiatrik dan peran keluarga?
- Rencana Tindak Lanjut
setelah menegtahui kegawatdaruratan psikiatrik dan peran keluarga,
harapannya bapak-bapak dan ibu-ibu dapat ikut membantu proses
penyembuhan pasien dan jika ada tanda tanda kegawatdaruratan bisa
langsung dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat
- Kontrak yang akan datang
1. Topik
nanti ada penyuluhan selanjutnya dengan topik menyusul
2. Waktu
untuk waktunya setiap hari rabu, apa bapak-bapak dan ibu-ibu
bisa?
3. Tempat
nanti tempatnya seperti biasa disini, bagaimana apa bersedia?
DAFTAR PUSTAKA

Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto ed. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI

Maramis, W.F. dan Maramis, A.A. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2.
Surabaya: Airlangga University Press.

Sadock, B.J., Sadock, V.A., et al. 2007. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York: Lippincott Williams &
Wilkins.

Tomb, D.A. 2004. Buku Saku Psikiatri. Edisi 6. Jakarta: EGC.


PRE dan POST TEST

1. Suatu kondisi dimana pasien memiliki gangguan pikiran, perasaan dan perilaku
yang memerlukan intervensi terapeutik segera disebut :
a. Keadaan mendesak
b. Keadaan biasa saja
c. Keadaan kegawatdaruratan psikiatrik
2. Berikut ini yang merupakan indikasi pasien rawat inap adalah :
a. Membahayakan diri sendiri atau orang lain
b. Tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
c. Perawatan di rumah memadai.
3. Salah satu pasien yang berpotensi bunuh diri adalah :
a. Pasien yang suka menyapa pasien lain
b. Adanya perasaan sedih atau cemas
c. Pasien yang ikut serta membersihkan kamar inap
4. Alasan keluarga merupakan faktor penting dalam perawatan pasien dengan
gangguan jiwa adalah:
a. Keluarga merupakan lingkup yang paling banyak berhubungan dengan
pasien
b. Keluarga tidak mengetahui kondisi pasien
c. Gangguan jiwa yang timbul pada pasien tidak akan pernah disebabkan
adanya cara asuh yang kurang sesuai bagi pasien

5. Peran keluarga dalam merawat pasien dengan kegawatdaruratan psikiatrik adalah


a. Membiarkan pasien
b. Membawa ke dukun
c. Segera membawa ke rumah sakit