Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN GERONTIK

REMATIK

A. KONSEP LANSIA
1. Pengertian
Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan
fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang diderita (Nugroho, 2000)
2. Batas-Batas Lanjut Usia
a. Batasan usia menurut WHO meliputi :
usia pertenghaan (middle age), yaitu kelompok usia 45 sampai 59 tahun
lanjut usia (elderly), antara 60 sampai 74 tahun
lanjut usia tua (old), antara 75 sampai 90 tahun
usia sangat tua (very old), diatas 90 tahun
b. Menurut UU No. 4 tahun 1965 pasal 1 dinyatakan sebagai berikut : Seorang
dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang
bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya
mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima
nafkah dari orang lain.
3. Perubahan-perubahan yang Terjadi pada Lanjut Usia
a. Perubahan-Perubahan Fisik
1) Sel
- Lebih sedikit jumlahnya.
- Lebih besar ukurannya.
- Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler.
- Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati.
- Jumlah sel otak menurun.
- Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
- Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%.
2) Sistem Persarafan.
- Berat otak menurun 10-20%. (Setiap orang berkurang sel saraf otaknya
dalam setiap harinya).
- Cepatnya menurun hubungan persarafan.
- Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.
- Mengecilnya saraf panca indra.Berkurangnya penglihatan, hilangnya
pendengaran, mengecilnya saraf penciumdan perasa, lebih sensitif
terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.
- Kurang sensitif terhadap sentuhan.
3) Sistem Pendengaran.
- Presbiakusis ( gangguan dalam pendengaran ). Hilangnya kemampuan
pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau
nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata,
50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
- Otosklerosis akibat atrofi membran tympani .
- Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya
keratin.
- Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami
ketegangan jiwa/stres.
4) Sistem Penglihatan.
- Timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
- Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
- Kekeruhan pada lensa menyebabkan katarak.
- Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap
kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap.
- Hilangnya daya akomodasi.
- Menurunnya lapangan pandang, berkurang luas pandangannya.
- Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau.
5) Sistem Kardiovaskuler.
- Elastisitas dinding aorta menurun.
- Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
- Kemampuan jantung memompa darah menurun, hal ini menyebabakan
menurunnya kontraksi dan volumenya.
- Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas
pembuluh darah perifer untuk oksigenisasi,. Perubahan posisi dari tidur
ke duduk atau dari duduk ke berdiri bisa menyebabkan tekanan darah
menurun, mengakibatkan pusing mendadak.
- Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi pembuluh
darah perifer.
6) Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh.
- Temperatur tubuh menurun ( hipotermia ) secara fisiologis akibat
metabolisme yang menurun.
7) Sistem Respirasi
- Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.
- Menurunnya aktivitas dari silia.
- Paru-paru kehilangan elastisitas, menarik nafas lebih berat, kapasitas
pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun.
- Alveoli ukuranya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.
- Kemampuan untuk batuk berkurang.
- Kemampuan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring dengan
pertambahan usia.
8) Sistem Gastrointestinal.
- Kehilangan gigi akibat Periodontal disease, kesehatan gigi yang buruk
dan gizi yang buruk.
- Indera pengecap menurun, hilangnya sensitivitas saraf pengecapm di
lidah terhadap rasa manis, asin, asam, dan pahit.
- Eosephagus melebar.
- Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
- Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
- Daya absorbsi melemah.
9) Sistem Reproduksi.
- Menciutnya ovari dan uterus.
- Atrofi payudara.
- Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun
adanya penurunan secara berangsur-angsur.
- Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia asal
kondisi kesehatan baik.
- Selaput lendir vagina menurun.
10) Sistem Perkemihan.
- Nefron menjadi atrofi dan aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%.
- Otot-otot vesika urinaria menjadi lemah, frekuensi buang air kecil
meningkat dan terkadang menyebabkan retensi urin pada pria.
11) Sistem Endokrin.
- Produksi semua hormon menurun.
- Menurunnya aktivitas tyroid, menurunnya BMR (Basal Metabolic
Rate), dan menurunnya daya pertukaran zat.
- Menurunnya produksi aldosteron.
- Menurunya sekresi hormon kelamin misalnya, progesteron, estrogen,
dan testosteron.
12) Sistem Kulit ( Sistem Integumen )
- Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
- Permukaan kulit kasar dan bersisik karena kehilangan proses
keratinisasi, serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel epidermis.
- Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu.
- Rambut dalam hidung dan telinga menebal.
- Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunya cairan dan
vaskularisasi.
- Pertumbuhan kuku lebih lambat.
- Kuku jari menjadi keras dan rapuh, pudar dan kurang bercahaya.
- Kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya.
13) Sistem Muskuloskletal
- Tulang kehilangan density ( cairan ) dan makin rapuh.
- Kifosis
- Pergerakan pinggang, lutut, dan jari-jari terbatas.
- Persendiaan membesar dan menjadi kaku.
- Tendon mengerut dan mengalami skelerosis.
- Atrofi serabut otot ( otot-otot serabut mengecil ).Otot-otot serabut
mengecil sehingga seseorang bergerak menjadi lamban, otot-otot kram
dan menjadi tremor.
- Otot-otot polos tidak begitu berpengaruh.
b. Perubahan-Perubahan Mental.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental.
- Perubahan fisik, khususnya organ perasa.
- Kesehatan umum
- Tingkat pendidikan
- Keturunan (Hereditas)
- Lingkungan
- Kenangan (Memory).
- Kenangan jangka panjang: Berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu
mencakup beberapa perubahan.
- Kenangan jangka pendek atau seketika: 0-10 menit, kenangan buruk.
- IQ (Inteligentia Quantion).
- Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal.
- Berkurangnya penampilan, persepsi dan ketrampilan psikomotor,
terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan-tekanan
dari faktor waktu.
c. Perubahan-Perubahan Psikososial.
1) Pensiun: nilai seseorang sering diukur oleh produktivitasnya dan identitas
dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila seseorang pensiun (purna
tugas), ia akan mengalami kehilangan-kehilangan, antara lain :
- Kehilangan finansial (income berkurang).
- Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup tinggi,
lengkap dengan segala fasilitasnya).
- Kehilangan teman/kenalan atau relasi.
- Kehilangan pekerjaan/kegiatan.
2) Merasakan atau sadar akan kematian (sense of awareness of mortality)
3) Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan bergerak
lebih sempit.
4) Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan (economic deprivation).
5) Meningkatnya biaya hidup pada penghasilan yang sulit, bertambahnya
biaya pengobatan.
6) Penyakit kronis dan ketidakmampuan.
7) Gangguan saraf pancaindra, timbul kebutaan dan ketulian.
8) Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan.
9) Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman-
teman dan family.
10) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik: perubahan terhadap gambaran
diri, perubahan konsep diri.

4. Tugas Perkembangan pada Lanjut Usia


Orang tua diharapkan untuk menyesuaikan diri dengan menurunnya
kekuatan dan menurunnya kesehatan secara bertahap. Mereka diharapkan untuk
mencari kegiatan untuk mengganti tugas-tugas terdahulu yang menghabiskan
sebagian besar waktu kala mereka masih muda. Bagi beberapa orang berusia
lanjut, kewajiban untuk menghadiri rapat yang menyangkut kegiatan sosial
sangat sulit dilakukan karena kesehatan dan pendapatan mereka menurun setelah
pensiun, mereka sering mengundurkan diri dari kegiatan sosial.
Disamping itu, sebagian besar orang berusia lanjut perlu mempersiapkan
dan menyesuaikan diri dengan peristiwa kehilangan pasangan, perlu membangun
ikatan dengan anggota dari kelompok usia mereka untuk menghindari kesepian
dan menerima kematian dengan tentram.

B. REMATIK
1. Pengertian

Reumatik adalah penyakit sendi yang disebabkan oleh peradangan pada


persendian sehingga tulang sendi mengalami destruksi dan deformitas serta
menyebabkan jaringan ikat akan mengalami degenerasi yang akhirnya semakin
lama akan semakin parah.
Penyakit rematik meliputi cakupan luas dari penyakit yang
dikarakteristikkan oleh kecenderungan untuk mengefek tulang, sendi, dan jaringan
lunak (Soumya, 2011).
2. Etiologi
Etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor
resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, antara lain;
1. Usia lebih dari 40 tahun
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor penuaan adalah
yang terkuat. Akan tetapi perlu diingat bahwa osteoartritis bukan akibat
penuaan saja. Perubahan tulang rawan sendi pada penuaan berbeda dengan
perubahan pada osteoartritis.
2. Jenis kelamin wanita lebih sering
Wanita lebih sering terkena osteosrtritis lutut dan sendi. Sedangkan laki-laki
lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara
keseluruhan, dibawah 45 tahun, frekuensi psteoartritis kurang lebih sama
antara pada laki-laki dan wanita, tetapi diats usia 50 tahunh (setelah
menopause) frekuensi osteoartritis lebih banyak pada wanita daripada pria.
Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis.
3. Genetik
4. Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih, nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk
timbulnya osteoartritis, baik pada wanita maupun pria. Kegemukan ternyata
tidak hanya berkaitan dengan oateoartritis pada sendi yang menanggung beban
berlebihan, tapi juga dengan osteoartritis sendi lain (tangan atau
sternoklavikula). Olehkarena itu disamping faktor mekanis yang berperan
(karena meningkatnya beban mekanis), diduga terdapat faktor lain (metabolit)
yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut.
5. Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus menerus
berkaitan dengan peningkatan resiko osteoartritis tertentu. Olahraga yang
sering menimbulkan cedera sendi yang berkaitan dengan resiko osteoartritis
yang lebih tinggi.
6. Kelainan pertumbuhan
Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha telah dikaitkan dengan timbulnya
oateoartritis paha pada usia muda.
7. Kepadatan tulang
Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan resiko timbulnya
osteoartritis. Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih padat (keras)
tidak membantu mengurangi benturan beban yang diterima oleh tulang rawan
sendi. Akibatnya tulang rawan sendi menjadi lebih mudah robek.

3. Patofisiologi
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti
vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang berkelanjutan,
sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi. Pada
persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi
kartilago. Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan granulasi menguat
karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer.Kartilago
menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Bila
kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi,
karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago dan
tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan
subluksasi atau dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang sub chondrial bisa
menyebkan osteoporosis setempat.

4. Manifestasi Klinik
Gejala utama dari osteoartritis adalah adanya nyeri pada sendi yang terkena,
etrutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan. Mula-mula
terasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang dnegan istirahat. Terdapat
hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi, krepitasi, pembesaran sendi dn
perubahan gaya jalan. Lebih lanjut lagi terdapat pembesaran sendi dan krepitasi.
Tanda-tanda peradangan pada sendi tidak emnonjol dan timbul belakangan,
mungkin dijumpai karena adanya sinovitis, terdiri dari nyeri tekan, gangguan
gerak, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan, antara lain;
1. Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya bertambah dengan
gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu
kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibandingkan gerakan
yang lain.
2. Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan
dengan bertambahnya rasa nyeri.
3. Kaku pagi
Pada beberapa pasien, nyeri sendi yang timbul setelah immobilisasi, seperti
duduk dari kursi, atau setelah bangun dari tidur.
4. Krepitasi
Rasa gemeretak (kadqang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang sakit.
5. Pembesaran sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (lutut atau tangan
yang paling sering) secara perlahan-lahan membesar.

5. Pemeriksaan Penunjang
1. Tes serologi
Sedimentasi eritrosit meningkat
Darah, bisa terjadi anemia dan leukositosis
Rhematoid faktor, terjadi 50-90% penderita
2. Pemerikasaan radiologi
Periartricular osteoporosis, permulaan persendian erosi
Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, sub luksasi dan ankilosis
3. Aspirasi sendi
Cairan sinovial menunjukkan adanya proses radang aseptik, cairan dari sendi
dikultur dan bisa diperiksa secara makroskopik.

6. Penatalaksanaan Klinik
a. Medikamentosa
Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya bersifat
simtomatik. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) bekerja hanya sebagai
analgesik dan mengurangi peradangan, tidak mampu menghentikan proses
patologis.
b. Istirahatkan sendi yang sakit, dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi
yang sakit.
c. Mandi dengan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri
d. Lingkungan yang aman untuk melindungi dari cedera
e. Dukungan psikososial
f. Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin, serta program latihan yang
tepat
g. Diet untuk menurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya keluhan
h. Diet rendah purin:
Tujuan pemberian diet ini adalah untuk mengurangi pembentukan
asam urat dan menurunkan berat badan, bila terlalu gemuk dan
mempertahankannya dalam batas normal. Bahan makanan yang boleh dan
yang tidak boleh diberikan pada penderita osteoartritis:

7. Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan
Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan, atau pada tungkai.
Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode/waktu sebelum pasien
mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada sendi.
2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral), amati
warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.
Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi sinovial
- Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)
- Catat bila ada krepitasi
- Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan
- Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara bilateral
Catat bia ada atrofi, tonus yang berkurang
Ukur kekuatan otot
Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya
Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari
3. Riwayat Psiko Sosial
Pasien dengan RA mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup tinggi
apalagi pada pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi karean ia
merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan merasakan
kegiatan sehari-hari menjadi berubah. Perawat dapat melakukan pengkajian
terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan harga diri klien.
4. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan tanda dan gejala yang dialami oleh pasien dengan artritis
ditambah dengan adanya data dari pemeriksaan diagnostik, maka diagnosa
keperawatan yang sering muncul yaitu:

8. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1 DS : klien mengeluh Distensi jaringan akibat Nyeri Akut
nyeri pada sendi, akumulasi cairan/proses
ketidaknyamanan, inflamasi
kelelahan,
destruksi sendi
DO : klien tampak
Nyeri Akut
meringis
2 DS : Kondisi dan Program Kurang Pengetahuan
- klien kurang
penyakit
paham
Perubahan status
mengenai
kesehatan
penyakit yang
dialaminya Akses Informasi rendah
DO :
- Klien bertanya Kurang terpapar
mengenai informasi
proses
Kurang Pengetahuan
penyakit

9. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan aktivitas fisik berhubungan dengan nyeri akut
b. Kurang Pengetahuan b.d Kurang terpapar informasi
10. Intervensi Keperawatan

No Dx. Kep Tujuan Intervensi Rasional


1 Gangguan aktivitas Setelah dilakukan 1. kaji nyeri pada klien, 1. mengkaji sejauh mana
fisik b.d nyeri akut tindakan skala nyeri nyeri yang dirasakan oleh
keperawatan klien agar dapat megetahui
selama 3x24 jam 2. Kaji TD klien tindakan selanjutnya.
2. mengetahui
nyeri klien
berkurang/hilang 3. ajarkan klien teknik meningkatnya TD
dengan kriteria kompres air hangat
3. kompres air hangat
hasil :
membantu meringankan
-Nyeri
4. Anjurkan istirahat yang rasa nyeri
berkurang/hila
cukup
ng 4.membantu meringankan
-Skala nyeri 3 (1-
rasa nyeri dan membantu
10)
pasien agar tenang
-Klien dapat
beraktifitas
kembali
2 Kurang Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat 1. Mengetahui tingkat
Pengetahuan b.d tindakan pengetahuan pengalaman dan
Kurang terpapar keperawatan klien/keluarga tentang pengetahuan klien
informasi selama 3x24 jam penyakitnya tentang penyakit untuk
pengetahuan dilakukan intervensi
klien dapat selanjutnya
2. Klien mengetahui dan
bertambah 2. Berikan penjelasan pada
menganstisipasi serta
dengan kriteria klien seputar
mengurangi rasa cemas
hasil : penyakitnya
3. menurunkan regangan
- klien tidak
3.
jantung dan paru serta
menanyakan
menurunkan kebutuhan
tentang
O2
penyakitnya
4. Meningkatkan aktifitas
- klien tampak
secara bertahap dan
tenang
memperbaiki tonus otot
3 Kurang Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat 1. Mengetahui tingkat
Pengetahuan b.d tindakan pengetahuan pengalaman dan
Kurang terpapar keperawatan klien/keluarga tentang pengetahuan klien
informasi selama 1x24 jam penyakitnya tentang penyakit untuk
dilakukan intervensi
2. Berikan penjelasan pada selanjutnya
2. Klien mengetahui dan
klien seputar
menganstisipasi serta
penyakitnya
mengurangi rasa cemas
3. Evaluasi tingkat
pengetahuan klien dan 3. Mengetahui seberapa
keluarga tentang jauh pemahaman klien
penyakitnya serta menilai
keberhasilan dari
tindakan yang dilakukan

11. Daftar Pustaka


Azizah,Lilik Marifatul. Keperawatan Lanjut Usia. Edisi 1. Garaha Ilmu.
Yogyakarta. 2011

Doenges E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta

Kushariyadi. Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia. Salemba Medika.


Jakarta. 2010

Mubaraq, Chayatin, Santoso. Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep Dan Aplikasi.


Salemba Medika. Jakarta. 2011

Stanley, Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Alih Bahasa; Nety Juniarti,
Sari Kurnianingsih. Editor; Eny Meiliya, Monica Ester. Edisi 2. EGC. Jakarta.
2006