Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL

Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo

Periode 17 Oktober 11 November 2016

BENIGN PAROXYSMAL POSITIONAL VERTIGO

Pembimbing :
dr. Dina Permatasari, Sp.THT-KL

Disusun Oleh :
Yuanita Rahmawati
301.0120.6752

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2016
Lembar Pengesahan

Laporan Kasus

BENIGN PAROXYSMAL POSITIONAL VERTIGO

Telah Didiskusikan Tanggal :

Rabu, 1 November 2016

Pembimbing:

dr. Dina Permatasari, Sp.THT-KL

Mengetahui

dr. Dina Permatasari, Sp.THT-KL

BAGIAN ILMU KESEHATAN THT KL

RSUD TUGUREJO

SEMARANG
LAPORAN KASUS
KEPANITERAAN KLINIK
ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROK KEPALA LEHER
RSUD TUGUREJO SEMARANG

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. N
Usia : 29 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Karyawan swasta
Alamat : Kudorejan RT 05/08 Ampel, Boyolali
Agama : Islam
No. RM : 515577

II. PEMERIKSAAN SUBJEKTIF


Autoanamnesis dilakukan pada hari Kamis, 27 Oktober 2016 pukul 10.41 di
poliklinik THT.

Keluhan Utama
Pusing berputar

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengeluh pusing berputar 9 hari yang lalu. Pusing dirasakan ketika
beraktifitas dan terasa lebih baik jika pasien beristirahat tiduran. Pasien merasa pusing
berputar seperti mau jatuh, keluhan timbul secara mendadak, hilang timbul dan
keluhan bertambah jika pasien berubah posisi dari duduk berdiri atau sebaliknya atau
jika pasien menggerakan kepala secara cepat. 6 hari yang lalu pasien masuk IGD RS
Tugurejo dengan keluhan pusing berputar, mual, muntah sebanyak 3 x dalam waktu
30 menit, berkeringat dingin, bila berjalan merasa mau jatuh serta tidak kuat untuk
berdiri terlalu lama. Pasien di rawat inap selama 3 hari dan dikelola oleh dokter
spesialis saraf. Kemudian pasien pulang dan datang untuk kontrol ke poli saraf
kemudian di rujuk ke poli THT karena masih pusing berputar.
Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat keluhan serupa sebelumnya : diakui (Riwayat keluhan serupa


diakui, pasien mengaku sering merasa pusing berputar jika lelah namun tidak
pernah mual dan muntah)

Riwayat stroke sebelumnya : disangkal

Riwayat penyakit kencing manis : disangkal

Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal

Riwayat cedera kepala/trauma kepala : disangkal

Riwayat operasi : disangkal

Riwayat batuk lama : disangkal

Riwayat gangguan tidur dan perilaku : disangkal

Riwayat sakit telinga : disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :

Riwayat keluhan serupa pada keluarga : disangkal

Riwayat stroke pada keluarga : disangkal

Riwayat kencing manis pada keluarga : disangkal

Riwayat Sosial Ekonomi :


Pasien berprofesi sebagai pegawai administrasi
Biaya pengobatan ditanggung BPJS
Kesan ekonomi: cukup
III. PEMERIKSAAN OBJEKTIF

Status Present
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Status gizi : Malnutrisi moderate
BB : 38 kg
Tekanan darah : 118/75 mmHg
Nadi : 82 x/menit
Napas : 19 x/menit
Suhu : 38,30 C

Kepala dan Leher


Kepala : Normocephal
Wajah : Simetris

Status Lokalis
1. Telinga

Pemeriksaan Rutin Umum Telinga dbn


DEKSTRA SINISTRA
Aurikula Bentuk (N) Bentuk (N)
Benjolan (-) benjolan (-)
Nyeri tekan (-) nyeri tekan (-)
Preaurikula Tragus pain (-) Tragus pain (-)
fistula (-) fistula (-),
abses (-) abses (-)
Retroaurikula Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
edema (-) edema (-)
hiperemis (-) hiperemis (-)
Mastoid Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
edema (-) edema (-)
hiperemis (-) hiperemis (-)
CAE Discharge (-) Discharge (-)
serumen (-) serumen (-)
hiperemis (-) hiperemis (-)
edema (-) edema (-)
corpus allienum (-) corpus allienum (-)
MEMBRAN TYMPANI dbn
- Perforasi (-) (-)
-Cone of Light (+) bentuk kerucut (+) bentuk kerucut ke
arah jam 5 arah jam 7
-Warna Putih keabu-abuan Putih keabu-abuan
seperti mutiara seperti mutiara
-Bentuk Cekung Cekung

2. Hidung
Pemeriksaan Rutin Umum Hidungdbn
HIDUNG DEKSTRA SINISTRA
BAGIAN HIDUNG LUAR
Bentuk Normal Normal
Deformitas (-) Deformitas (-)
RHINOSKOPI ANTERIOR
Mukosa Livid (-) Livid (-)
Edema (-) Edema (-)
Konka Inferior Livid (-) Livid (-)
Edema (-) Edema (-)
Hipertrofi (-) Hipertrofi (-)
Meatus Nasi Inferior Sekret (-) Kuning Kehijauan Sekret (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Massa AbN (-) Massa AbN (-)
Massa (-) (-)
Corpus Alienum (-) (-)
Septum Deviasi (-)

Pemeriksaan Rutin Sinus Paranasaldbn


LOKASI DEKSTRA SINISTRA
Infraorbita Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Nyeri ketuk (-) Nyeri ketuk (-)

Glabela Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)


Nyeri ketuk (-) Nyeri ketuk (-)
Supraorbita Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Nyeri ketuk (-) Nyeri ketuk (-)

Tes Diafanoskopi Tenggorok dbn


Tidak dilakukan

Pemeriksaan Rutin Umum Tenggorokdbn


Mukosa buccal Warna merah muda
: warna merah
muda
Ginggiva Warna merah muda
Gigi geligi Tidak ada kelainan
Palatum durum dan mole Warna merah muda
Lidah 2/3 anterior Merah muda,
Ulkus (-)
Stomatitis (-)

Tonsildbn
Tonsil Dekstra Sinistra
Ukuran T1 T1
Kripta Tidak melebar Tidak melebar
Permukaan Rata Rata
Warna Merah muda Merah muda
Detritus (-) (-)
Peritonsil Abses (-) Abses (-)
Pilar anterior Merah muda Merah muda
Fixative (+) (+)

Orofaringdbn
Arkus faring Simetris, hiperemis (-)
Palatum Merah muda
Mukosa Merah muda
Dinding posterior orofaring Hiperemis (-)
Rata, granular (-)
Post nasal drip (-)

Pemeriksaan Rutin Khusus Tenggorok : tidak dilakukan

Tes Garpu Tala


Telinga Kanan Telinga Kiri

Tes Rinne + +

Tes Weber Lateralisasi (-) Lateralisasi (-)

Tes Swabach Sama dengan pemeriksa Sama dengan pemeriksa

Kesan dbn

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan tes kalori
Pemeriksaan audiometri
Elektronistagmografi
X-foto tengkorak posisi Stenvers & Town Chamberlain
Angiografi

V. RESUME
Pemeriksaan Subjektif

RPS : Seorang wanita berusia 29 tahun, datang ke poli THT dengan


keluhan pusing berputar. Pasien mengeluh pusing berputar 9 hari yang lalu. Pusing
dirasakan ketika beraktifitas dan terasa lebih baik jika pasien beristirahat. Pasien
merasa pusing berputar, hilang timbul, keluhan bertambah jika pasien berubah posisi
dari duduk berdiri atau sebaliknya atau jika pasien menggerakan kepala secara cepat.
6 hari yang lalu pasien masuk IGD RS Tugurejo dengan keluhan pusing berputar,
mual, muntah sebanyak 3 x dalam waktu 30 menit, berkeringat dingin, bila berjalan
merasa mau jatuh serta tidak kuat untuk berdiri terlalu lama. Pasien di rawat inap
selama 3 hari dan dikelola oleh dokter spesialis saraf.

Pemeriksaan Objektif
Status present : Dalam batas normal
Pemeriksaan rutin umum kepala dan leher : Dalam batas normal
Pemeriksaan rutin umum hidung : Dalam batas normal
Pemeriksaan rutin sinus paranasal : Dalam batas normal
Pemeriksaan rutin umum telinga : Dalam batas normal
Pemeriksaan rutin umum tenggorok : Dalam batas normal
Pemeriksaan Garpu Tala : Dalam batas normal
Pemeriksaan Otoneurologi : Dalam batas normal

VI. DIAGNOSIS BANDING


- Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV)
- Neuronitis vestibuler
- Labirintis

VII. DIAGNOSIS KLINIS


Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV)

VIII. PROGNOSIS
Dubia ad bonam

IX. PENATALAKSANAAN
1. Non-Medikamentosa
- Manuver reposisi partikel
- - manuver Epley
- - manuver Semont
- - manuver Lempert
- - forced prolonged position
- - Brandt daroff exercise
2. Medikamentosa
- Pengobatan suppresant vestibular (benzodiazepine, antihistamin)
- Terapi untuk meningkatkan aliran darah koklea, tranquilizer, antidepresan
sedatif, neurotonik, vitamin dan mineral
- Anti muntah

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI DAN KLASIFIKASI


Vertigo ialah adanya sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh seperti rotasi
(memutar) tanpa sensasi peputaran yang sebenarnya, dapat sekelilingnya terasa berputar
atau badan yang berputar. Keluhan yang paling sering dijumpai dalam praktek. Vertigo
berasal dari bahasa latin vertere yaitu memutar. Vertigo termasuk ke dalam gangguan
keseimbangan yang dinyatakan sebagai pusing, pening, sempoyongan, rasa seperti
melayang atau dunia seperti berjungkir balik. Vertigo paling sering ditemukan adalah
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV). Menutur penelitian pasien yang datang
dengan keluhan pusing berputar/vertigo, sebanyak 20% memiliki BPPV, walaupun
penyakit ini sering disertai penyakit lainnya

B. FISIOLOGI KESEIMBANGAN

Fisiologi Alat Keseimbangan

Informasi yang berguna akan ditangkap oleh reseptor alat keseimbangan tubuh
(reseptor vestibuler memiliki kontribusi paling besar, sekitar 50%, disusul reseptor
visual dan reseptor propioseptik). Arus informasi berjalan intensif bila ada
gerakan/perubahan gerakan pada kepala atau tubuh. Akibat gerakan ini menyebabkan
perpindahan cairan endolimfe di labirin dan selanjutnya cilia dari hair cell akan
menekuk, Tekukan cillia akan menyebabkan perubahan permeabilitas membran hair
cell sehingga ion Ca2+ masuk ke dalam sel (influks). Influks Ca akan menyebabkan
depolarisasi dan juga merangsang pelepasan neurotransmiter eksitatorik (glutamat,
aspartat, asetilkolin, histamin, substansia P, dan lainnya) yang selanjutnya akan
meneruskan impuls sensorik ini lewat saraf aferen (vestibularis) ke pusat alat
keseimbangan di otak dan timbullah persepsi. Bila dalam keadaan sinkron dan wajar
maka muncul respon berupa penyesuaian otot mata dan penggerak tubuh, tidak terjadi
vertigo (Joesoef, 2003).

Pusat integrasi pertama diduga berada pada inti vestibularis, menerima impuls
aferen dari propioseptif, visual dan vestibuler. Serebelum selain merupakan pusat
integrasi kedua juga merupakan pusat komparasi informasi yang sedang berlangsung
dengan informasi gerakan yang sudah lewat, karena memori gerakan yang dialami di
masa lalu diduga tersimpan di vestibuloserebeli. Selain serebelum, informasi tentang
gerakan juga tersimpan di pusat memori prefrontal korteks memori (Keith, 2001).

Alat vestibuler (alat keseimbangan) terletak di telinga dalam (labirin),


terlindung oleh tulang yang paling keras yang dimiliki oleh tubuh. Labirin secara umum
adalah telinga dalam, tetapi secara khusus dapat diartikan sebagai alat keseimbangan.
Labirin terdiri atas labirin tulang dan labirin membran. Labirin membran terletak dalam
labirin tulang dan bentuknya hampir menurut bentuk labirin tulang. Antara labirin
membran dan labirin tulang terdapat perilimfa, sedang endolimfa terdapat di dalam
labirin membran. Berat jenis cairan endolimfa lebih tinggi daripada cairan perilimfa.
Ujung saraf vestibuler berada dalam labirin membran yang terapung dalam perilimfa,
yang berada dalam labirin tulang. Setiap labirin terdiri dari 3 kanalis semi-sirkularis
(kss), yaitu kss horizontal (lateral), kss anterior (superior) dan kss posterior
(inferior).Selain 3 kanalis ini terdapat pula utrikulus dan sakulus (Sherwood,1996).

Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya


tergantung pada input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin, organ visual dan
proprioseptif. Gabungan informasi ketiga reseptor sensorik tersebut akan diolah di SSP,
sehingga menggambarkan keadaan posisi tubuh pada saat itu.

Labirin terdiri dari labirin statis yaitu utrikulus dan sakulus yang merupakan
pelebaran labirin membran yang terdapat dalam vestibulum labirin tulang. Pada tiap
pelebarannya terdapat makula utrikulus yang di dalamnya terdapat sel-sel reseptor
keseimbangan. Labirin kinetik terdiri dari tiga kanalis semisirkularis dimana pada tiap
kanalis terdapat pelebaran yang berhubungan dengan utrikulus, disebut ampula. Di
dalamnya terdapat krista ampularis yang terdiri dari sel-sel reseptor keseimbangan dan
se-luruhnya tertutup oleh suatu substansi gelatin yang disebut kupula (Sherwood,1996).

Gerakan atau perubahan kepala dan tubuh akan menimbulkan perpindahan


cairan endolimfa di labirin dan selanjutnya silia sel rambut akan menekuk. Tekukan
silia menyebabkan permeabilitas membran sel berubah, sehingga ion kalsium akan
masuk ke dalam sel yang menyebabkan terjadinya proses depolari-sasi dan akan
merangsang pelepasan neurotransmiter eksitator yang selanjutnya akan meneruskan
impuls sensoris melalui saraf aferen ke pusat keseimbangan di otak. Sewaktu berkas
silia terdorong ke arah berlawanan, maka terjadi hiperpolarisasi (Sherwood,1996).

Organ vestibuler berfungsi sebagai transduser yang mengubah energi mekanik


akibat rangsangan otolit dan gerakan endolimfa di dalam kanalis semisirkularis menjadi
energi biolistrik, sehingga dapat memberi informasi mengenai perubahan posisi tubuh
akibat per-cepatan linier atau percepatan sudut.Dengan demikian dapat memberi
informasi mengenai semua gerak tubuh yang sedang berlangsung (Sherwood,1996).
Sistem vestibuler berhubungan dengan sistem tubuh yang lain, sehingga
kelainannya dapat menimbulkan gejala pada sistem tubuh bersangkutan. Gejala yang
timbul dapat berupa vertigo, rasa mual dan muntah.Pada jantung berupa bradikardi atau
takikardi dan pada kulit reaksinya berkeringat dingin (Sherwood,1996).

C. ETIOLOGI

Penyebab utama vertigo perifer :


1. Labirinitis toksis akut
2. Penyakit meniere
3. Vertigo posisi paroksismal
4. Neuronitis vestibuler
5. Insufisiensi arteri vertebra basalis
6. Trauma
7. Tumor

Jenis kelainan yang harus dibedakan dari penyakit diatas terutama adalah sebagai berikut :
1. Penyakit pada serebelum, terutama vaskular dan tumor
2. Penyakit pada sistem proprioseptif
3. Anoksemia otak, khususnya arterio-sklerosis ringam, hipotensi postural dan anemia
4. Penyakit endokrin, hipotiroidisme dan gangguan hormon wanita
5. Epilepsi

Labirinitis toksik akut BPPV Neuronitis vestibuler Penyakit arteri vertebra


basilaris (insufisiensi)
- Biasanya - Biasanya - Suatu bentuk - Gangguan
menyertai infeksi timbul neuritis epidemik, koklea (-)
akut/subakut, setelah virus yang - Px. Penunjang
infeksi hidung dan trauma mengenai nervus arteriografi
tenggorok. (lesi pada vestibularis. karotis vertebra
- Serangan vertigo fossa - Ditandai dengan untuk melihat
bertahap (24-48 posterior), hilangnya fungsi lesi-lesi di
jam), mereda penyumbat vestibuler disertai vertebra
bertahap pula an arteri. vertigo hebat, basilaris
dalam jangka - Serangan mual, muntah, dan - Rentan pada
waktu 7-10 hari terjadi nistagmus spontan. usia muda
- Spontan (-), tapi tiba-tiba - Penyembuhan dengan
dapat timbul ketika berlangsung 7 hari- arterisklerosis
karena perubahan kepala 3 minggu, dengan - Pemeriksaan
posisi kepala berada di gejala sisa vestibuler
- Gangguan posisi sensitivitas dengan uji
pendengaran/tinitu tertentu vestibuler kalori
s (-) (o/k - Pemeriksaan menunjukkan
- Pada pecandu otolith) audiometri directinal
alkohol, intoksikasi - Penegakka menunjukkan tidak preponderance
obat, alergi, n diagnosis adanya kelainan pada gangguan
keadaan fisik yang dengan cara pada koklea atau nukleus
lemah memposisi jalur-jalurnya - Terapi dapat
- Sakit kepala, rasa kan kepala - Pengobatan terdiri menggunakan
lelah menyertai pada posisi dari istirahat di anti koagulan
vertigo yang tempat tidur, obat untuk mencegah
- Pemeriksaan tes mencetuska sedatif dan obat penyumbatan
kalori n gejala tidur
menunjukkan dan
respon normal atau mengamati
hiperaktif timbulnya
- Pengobatan serangan
suportif dan nistagmus
simtomatik(anti
histamin), penyakit
dasarnya diobati
D. MANIFESTASI KLINIS

Berikut ini tabel untuk membedakan vertigo perifer dari vertigo sentral:

Tanda dan Gejala Vertigo Perifer Pasien Vertigo Sentral


1. Serangan Intermiten intermiten Konstan
2. Pusing berputar Hebat hebat Tidak terlalu hebat
3. Mual muntah Hebat hebat Ringan
4. Nistagmus Selalu ada Ada Ada/tidak ada
5. Ciri Nistagmus tidak pernah vertikal horisontal sering vertikal
6.Kurang pendengaran / Sering ada Tidak ada Jarang ada
tinitus
7. Tanda Lesi batang Tidak ada Tidak ada Ada
otak
8. Disartria Tidak ada Tidak ada Ada
9. Defek Visual Tidak ada Tidak ada Ada
10. Diplopia Tidak ada Tidak ada Ada
11. Drop attack Tidak ada Tidak ada Ada
12. Ataksia Tidak ada Tidak ada Ada
13. Gaya berjalan Lambat, tegak dan Lambat, tegak Bergerak
berhati-hati dan berhati- menyimpang ke satu
hati arah, ataksik

Sumber: Hamid,2003., Sidharta, 1999., Perdossi, 2000., Greenberg, 2001


F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan tes kalori

Tes kalori ini diajurkan oleh Dix dan Hallpike. Pada cara ini dipakai 2 macam air, dingin
dan panas. Suhu air dingin adalah 30 derajat C, sedangkan suhu air panas adalah 44
derajat C. Volume air yang dialirkan ke dalam liang telinga masing-masing 250 mL,
dalam waktu 40 detik. Setelah air dialirkan, dicatat lama nistagmus timbul. Setelah
telinga kiri diperiksa dengan air dingin, periksa telinga kanan dengan air digin juga.
Kemudian telinga kiri dengan air panas lalu telinga kanan. Pada tiap-tiap selesai
pemeriksaan (telinga kana atau kiri atau air panas atau air dingin)pasien diistirahatkan
selama 5 menit. (untuk menghilangkan pusingnya).

Kemudian hasil tes kalori dihitung dengan menggunakan rumus :

Sensitivitas L-R : (a+c) (b+d) = < 40 detik

Keterangan:

L: left

R: right

a: Waktu nistagmus pemeriksaan telinga kiri dengan suhu air dingin

b: Waktu nistagmus pemeriksaantelinga kanan dengan suhu air dingin

c: Waktu nistagmus pemeriksaan telinga kiri dengan suhu air panas

d: Waktu nistagmus pemeriksaan telinga kanan dengan suhu air panas dalam rumus ini
dihitung selisih waktu nistagmus kiri dan kanan. Bila selisih kurang dari 40 detik maka
berarti kedua fungsi vestibular masih dalam keadaan seimbang. Tetapi bila selisih lebih
dari 40 detik, maka berarti yang mempunyai waktu nistagmus lebih kecil mengalami
paresis kanal (Soepardi, 2007)

Pemeriksaan audiometri
Tes Bera

Brain Evoked Response Audiometry atau BERA merupakan alat yang bisa
digunakan untuk mendeteksi dini adanya gangguan pendengaran, bahkan sejak bayi
baru saja dilahirkan. Istilah lain yang sering digunakan yakni Brainstem Auditory
Evoked Potential (BAEP) atau Brainstem Auditory Evoked Response Audiometry
(BAER). Alat ini efektif untuk mengevaluasi saluran atau organ pendengaran mulai
dari perifer sampai batang otak.

Tes BERA ini dapat menilai fungsi pendengaran bayi atau anak yang tidak
kooperatif. Yang tidak dapat diperiksa dengan cara konvensionil. Berbeda dengan
audiometry, alat ini bisa digunakan pada pasien yang kooperatif maupun non-
kooperatif seperti pada anak baru lahir, anak kecil, pasien yang sedang mengalami
koma maupun stroke,tidak membutuhkan jawaban atau respons dari pasien seperti
pada audiometry karena pasien harus memencet tombol jika mendengar stimulus
suara. Alat ini juga tidak membutuhkan ruangan kedap suara khusus.

Brainstem Evoke Response Audiometri (BERA) merupakan tes neurologik


untuk fungsi pendengaran batang otak terhadap rangsangan suara (click). Pertama kali
diuraikan oleh Jewett dan Williston pada tahun 1971, BERA merupakan aplikasi yang
paling umum digunakan untuk menilai respon yang dibangkitkan oleh rangsangan
suara. Administrasi dan pelaksanaan tes ini biasanya oleh para ahli audiologi.
Berbagai kondisi yang dianjurkan untuk pemeriksaan BERA antara lain bayi baru
lahir untuk mengantisipasi gangguan perkembangan bicara/bahasa. Jika ada anak
yang mengalami gangguan atau lambat dalam berbicara, mungkin salah satu sebabnya
karena anak tersebut tidak mampu menerima rangsangan suara karena adanya
gangguan di telinga.

Elektronistagmografi
X-foto tengkorak posisi Stenvers & Town Chamberlain
Angiografi

G. PENATALAKSANAAN

1. Non-Farmakologi
Benign Paroxysmal Positional Vertigo dikatakan adalah suatu penyakit yang
ringan dan dapat sembuh secara spontan dalam beberapa bulan. Namun telah banyak
penelitian yang membuktikan dengan pemberian terapi dengan manuver reposisi
partikel/ Particle Repositioning Maneuver (PRM) dapat secara efektif menghilangkan
vertigo pada BPPV, meningkatkan kualitas hidup, dan mengurangi risiko jatuh pada
pasien. Keefektifan dari manuver-manuver yang ada bervariasi mulai dari 70%-100%.
Beberapa efek samping dari melakukan manuver seperti mual, muntah, vertigo, dan
nistagmus dapat terjadi, hal ini terjadi karena adanya debris otolitith yang tersumbat
saat berpindah ke segmen yang lebih sempit misalnya saat berpindah dari ampula ke
kanal bifurcasio. Setelah melakukan manuver, hendaknya pasien tetap berada pada
posisi duduk minimal 10 menit untuk menghindari risiko jatuh (Bittar, 2011).

Tujuan dari manuver yang dilakukan adalah untuk mengembalikan partikel ke


posisi awalnya yaitu pada makula utrikulus. Ada lima manuver yang dapat dilakukan
tergantung dari varian BPPV nya (Bittar, 2011).

1. Manuver Epley

Manuver Epley adalah yang paling sering digunakan pada kanal vertikal.
Pasien diminta untuk menolehkan kepala ke sisi yang sakit sebesar 450, lalu pasien
berbaring dengan kepala tergantung dan dipertahankan 1-2 menit. Lalu kepala
ditolehkan 900 ke sisi sebaliknya, dan posisi supinasi berubah menjadi lateral
dekubitus dan dipertahan 30-60 detik. Setelah itu pasien mengistirahatkan dagu pada
pundaknya dan kembali ke posisi duduk secara perlahan (Bittar, 2011).

2. Manuver Semont

Manuver ini diindikasikan untuk pengobatan cupulolithiasis kanan posterior.


Jika kanal posterior terkena, pasien diminta duduk tegak, lalu kepala dimiringkan 450
ke sisi yang sehat, lalu secara cepat bergerak ke posisi berbaring dan dipertahankan
selama 1-3 menit. Ada nistagmus dan vertigo dapat diobservasi. Setelah itu pasien
pindah ke posisi berbaring di sisi yang berlawanan tanpa kembali ke posisi duduk lagi
(Bittar, 2011).

3. Manuver Lempert
Manuver ini dapat digunakan pada pengobatan BPPV tipe kanal lateral. Pasien
berguling 3600, yang dimulai dari posisi supinasi lalu pasien menolehkan kepala 900
ke sisi yang sehat, diikuti dengan membalikkan tubuh ke posisi lateral dekubitus. Lalu
kepala menoleh ke bawah dan tubuh mengikuti ke posisi ventral dekubitus. Pasien
kemudian menoleh lagi 900 dan tubuh kembali ke posisi lateral dekubitus lalu
kembali ke posisi supinasi. Masing-masing gerakan dipertahankan selama 15 detik
untuk migrasi lambat dari partikel-partikel sebagai respon terhadap gravitasi (Bittar,
2011).

4. Forced Prolonged Position

Manuver ini digunakan pada BPPV tipe kanal lateral. Tujuannya adalah untuk
mempertahankan kekuatan dari posisi lateral dekubitus pada sisi telinga yang sakit
dan dipertahankan selama 12 jam (Bittar, 2011).

5. Brandt-Daroff exercise

Manuver ini dikembangkan sebagai latihan untuk di rumah dan dapat


dilakukan sendiri oleh pasien sebagai terapi tambahan pada pasien yang tetap
simptomatik setelah manuver Epley atau Semont. Latihan ini juga dapat membantu
pasien menerapkan beberapa posisi sehingga dapat menjadi kebiasaan (Bittar, 2011).

2. Farmakologi

Penatalaksanaan dengan farmakologi untuk BPPV tidak secara rutin dilakukan.


Beberapa pengobatan hanya diberikan untuk jangka pendek untuk gejala-gejala vertigo,
mual dan muntah yang berat yang dapat terjadi pada pasien BPPV, seperti setelah
melakukan terapi PRM. Pengobatan untuk vertigo yang disebut juga pengobatan
suppresant vestibular yang digunakan adalah golongan benzodiazepine (diazepam,
clonazepam) dan antihistamine (meclizine, dipenhidramin). Benzodiazepines dapat
mengurangi sensasi berputar namun dapat mengganggu kompensasi sentral pada kondisi
vestibular perifer. Antihistamine mempunyai efek supresif pada pusat muntah sehingga
dapat mengurangi mual dan muntah karena motion sickness. Harus diperhatikan bahwa
benzodiazepine dan antihistamine dapat mengganggu kompensasi sentral pada kerusakan
vestibular sehingga penggunaannya diminimalkan (Bhattacharyya ,2008).
DAFTAR PUSTAKA

1. Adams R.D., Victor M., Rooper A.H., 2001, Disease of N. VIII in Principles of
Neurology, 7th ed. McGraw-Hill, New York

2. Baehr, Frotscher, 2010. Diagnosis topic neurologi Duus.Jakarta : EGC

3. Bhattacharyya N, Baugh F R, Orvidas L. Clinical Practice Guideline: Benign


Paroxysmal Positional Vertigo. Otolaryngology-Head and Neck Surgery. 2008;139:
S47-S81.