Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN

GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL :

ASAM URAT

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Praktek Keperawatan Komunitas III

Disusun Oleh:

Uswatun Khasanah

C.0105.12.038

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

BUDI LUHUR

CIMAHI
2016

A. KONSEP LANSIA
1. Pengertian
Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2000)
2. Batas-Batas Lanjut Usia
a. Batasan usia menurut WHO meliputi :
usia pertenghaan (middle age), yaitu kelompok usia 45 sampai 59
tahun
lanjut usia (elderly), antara 60 sampai 74 tahun
lanjut usia tua (old), antara 75 sampai 90 tahun
usia sangat tua (very old), diatas 90 tahun
b. Menurut UU No. 4 tahun 1965 pasal 1 dinyatakan sebagai berikut :
Seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia
setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai
atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya
sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain.
3. Perubahan-perubahan yang Terjadi pada Lanjut Usia
a. Perubahan-Perubahan Fisik
1) Sel
- Lebih sedikit jumlahnya.
- Lebih besar ukurannya.
- Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan
intraseluler.
- Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati.
- Jumlah sel otak menurun.
- Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
- Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%.
2) Sistem Persarafan.
- Berat otak menurun 10-20%. (Setiap orang berkurang sel saraf
otaknya dalam setiap harinya).
- Cepatnya menurun hubungan persarafan.
- Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan
stres.
- Mengecilnya saraf panca indra.Berkurangnya penglihatan,
hilangnya pendengaran, mengecilnya saraf penciumdan perasa,
lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya
ketahanan terhadap dingin.
- Kurang sensitif terhadap sentuhan.
3) Sistem Pendengaran.
- Presbiakusis ( gangguan dalam pendengaran ). Hilangnya
kemampuan pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap
bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit
mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
- Otosklerosis akibat atrofi membran tympani .
- Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena
meningkatnya keratin.
- Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami
ketegangan jiwa/stres.
4) Sistem Penglihatan.
- Timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
- Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
- Kekeruhan pada lensa menyebabkan katarak.
- Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap
kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap.
- Hilangnya daya akomodasi.
- Menurunnya lapangan pandang, berkurang luas pandangannya.
- Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau.
5) Sistem Kardiovaskuler.
- Elastisitas dinding aorta menurun.
- Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
- Kemampuan jantung memompa darah menurun, hal ini
menyebabakan menurunnya kontraksi dan volumenya.
- Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas
pembuluh darah perifer untuk oksigenisasi,. Perubahan posisi dari
tidur ke duduk atau dari duduk ke berdiri bisa menyebabkan
tekanan darah menurun, mengakibatkan pusing mendadak.
- Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi
pembuluh darah perifer.
6) Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh.
- Temperatur tubuh menurun ( hipotermia ) secara fisiologis akibat
metabolisme yang menurun.
7) Sistem Respirasi
- Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.
- Menurunnya aktivitas dari silia.
- Paru-paru kehilangan elastisitas, menarik nafas lebih berat,
kapasitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman
bernafas menurun.
- Alveoli ukuranya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.
- Kemampuan untuk batuk berkurang.
- Kemampuan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring
dengan pertambahan usia.
8) Sistem Gastrointestinal.
- Kehilangan gigi akibat Periodontal disease, kesehatan gigi yang
buruk dan gizi yang buruk.
- Indera pengecap menurun, hilangnya sensitivitas saraf
pengecapm di lidah terhadap rasa manis, asin, asam, dan pahit.
- Eosephagus melebar.
- Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
- Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
- Daya absorbsi melemah.
9) Sistem Reproduksi.
- Menciutnya ovari dan uterus.
- Atrofi payudara.
- Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa
meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur.
- Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia asal
kondisi kesehatan baik.
- Selaput lendir vagina menurun.
10) Sistem Perkemihan.
- Nefron menjadi atrofi dan aliran darah ke ginjal menurun sampai
50%.
- Otot-otot vesika urinaria menjadi lemah, frekuensi buang air kecil
meningkat dan terkadang menyebabkan retensi urin pada pria.
11) Sistem Endokrin.
- Produksi semua hormon menurun.
- Menurunnya aktivitas tyroid, menurunnya BMR (Basal
Metabolic Rate), dan menurunnya daya pertukaran zat.
- Menurunnya produksi aldosteron.
- Menurunya sekresi hormon kelamin misalnya, progesteron,
estrogen, dan testosteron.
12) Sistem Kulit ( Sistem Integumen )
- Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
- Permukaan kulit kasar dan bersisik karena kehilangan proses
keratinisasi, serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel
epidermis.
- Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu.
- Rambut dalam hidung dan telinga menebal.
- Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunya cairan dan
vaskularisasi.
- Pertumbuhan kuku lebih lambat.
- Kuku jari menjadi keras dan rapuh, pudar dan kurang bercahaya.
- Kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya.
13) Sistem Muskuloskletal
- Tulang kehilangan density ( cairan ) dan makin rapuh.
- Kifosis
- Pergerakan pinggang, lutut, dan jari-jari terbatas.
- Persendiaan membesar dan menjadi kaku.
- Tendon mengerut dan mengalami skelerosis.
- Atrofi serabut otot ( otot-otot serabut mengecil ).Otot-otot serabut
mengecil sehingga seseorang bergerak menjadi lamban, otot-otot
kram dan menjadi tremor.
- Otot-otot polos tidak begitu berpengaruh.
b. Perubahan-Perubahan Mental.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental.
- Perubahan fisik, khususnya organ perasa.
- Kesehatan umum
- Tingkat pendidikan
- Keturunan (Hereditas)
- Lingkungan
- Kenangan (Memory).
- Kenangan jangka panjang: Berjam-jam sampai berhari-hari yang
lalu mencakup beberapa perubahan.
- Kenangan jangka pendek atau seketika: 0-10 menit, kenangan
buruk.
- IQ (Inteligentia Quantion).
- Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan
verbal.
- Berkurangnya penampilan, persepsi dan ketrampilan psikomotor,
terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan-
tekanan dari faktor waktu.
c. Perubahan-Perubahan Psikososial.
1) Pensiun: nilai seseorang sering diukur oleh produktivitasnya dan
identitas dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila seseorang
pensiun (purna tugas), ia akan mengalami kehilangan-kehilangan,
antara lain :
- Kehilangan finansial (income berkurang).
- Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup
tinggi, lengkap dengan segala fasilitasnya).
- Kehilangan teman/kenalan atau relasi.
- Kehilangan pekerjaan/kegiatan.
2) Merasakan atau sadar akan kematian (sense of awareness of
mortality)
3) Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan
bergerak lebih sempit.
4) Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan (economic deprivation).
5) Meningkatnya biaya hidup pada penghasilan yang sulit,
bertambahnya biaya pengobatan.
6) Penyakit kronis dan ketidakmampuan.
7) Gangguan saraf pancaindra, timbul kebutaan dan ketulian.
8) Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan.
9) Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan
teman-teman dan family.
10) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik: perubahan terhadap
gambaran diri, perubahan konsep diri.
4. Tugas Perkembangan pada Lanjut Usia
Orang tua diharapkan untuk menyesuaikan diri dengan menurunnya
kekuatan dan menurunnya kesehatan secara bertahap. Mereka diharapkan
untuk mencari kegiatan untuk mengganti tugas-tugas terdahulu yang
menghabiskan sebagian besar waktu kala mereka masih muda. Bagi
beberapa orang berusia lanjut, kewajiban untuk menghadiri rapat yang
menyangkut kegiatan sosial sangat sulit dilakukan karena kesehatan dan
pendapatan mereka menurun setelah pensiun, mereka sering mengundurkan
diri dari kegiatan sosial.
Disamping itu, sebagian besar orang berusia lanjut perlu
mempersiapkan dan menyesuaikan diri dengan peristiwa kehilangan
pasangan, perlu membangun ikatan dengan anggota dari kelompok usia
mereka untuk menghindari kesepian dan menerima kematian dengan
tentram.
B. ASAM URAT
1. Pengertian
Pirai atau gout adalah suatu penyakit yang ditandai dengan serangan
mendadak dan berulang dari artritis yang terasa sangat nyeri karena adanya
endapan kristal monosodium urat, yang terkumpul di dalam sendi sebagai
akibat dari tingginya kadar asam urat di dalam darah (hiperurisemia).
o Artritis pirai (Gout) adalah suatu proses inflamasi yang terjadi
karena deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi. gout
terjadi sebagai akibat dari hyperuricemia yang berlangsung lama
(asam urat serum meningkat) disebabkn karena penumpukan
purin atau ekresi asam urat yang kurang dari ginjal. Artritis gout
adalah suatu sindrom klinis yang mempunyai gambaran khusus,
yaitu artritis akut. Artritis akut disebabkan karena reaksi inflamasi
jaringan terhadap pembentukan kristal monosodium urat
monohidrat.
2. Etiologi
Gout disebabkan oleh adanya kelainan metabolik dalam pembentukan
purin atau ekresi asam urat yang kurang dari ginjal yang menyebakan
hyperuricemia. Hyperuricemia pada penyakit ini disebabakan oleh :
1) Pembentukan asam urat yang berlebih.
o Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang
bertambah.
o Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat
berlebih karana penyakit lain, seperti leukemia.
2) Kurang asam urat melalui ginjal.
o Gout primer renal terjadi karena ekresi asam urat di tubulus distal
ginjal yang sehat. Penyabab tidak diketahui
o Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal,
misalnya glumeronefritis kronik atau gagal ginjal kronik.
3) Perombakan dalam usus yang berkurang. Namun secara klinis hal ini
tidak penting.

3. Klasifikasi
Gout mempunyai empat peringkat yang nyata, yaitu:
o Asimptomatik
o Akut
o Interkritikal
o Kronik
Dalam peringkat pertama (Asimptomatik), aras asid uric plasma
bertambah, tetapi tanpa sebarang gejala. Serangan gout menandakan
peringkat kedua (Akut). Serangan- serangan yang tidak parah biasanya
hilang dengan cepat, manakala serangan- serangan yang pernah berlangsung
beberapa hari atau juga beberapa minggu.
Selepas serangan pertama, pesakit itu masuk peringkat interkritikal atau
jarak waktu yang bebas daripada gejala. Periode ini mungkin berlangsung
selama beberapa bulan tau juga tahun. Kebanyakan pesakit gout mengalami
serangan kedua dalam enam bulan hingga 2 tahun serangan pertama.
Pada tingkat terakhir (kronis), seranagn- serangan gout menjadi sering
dan poliartikular, yaitu serangan itu melibatkan banyak sendi pada tiap
waktu. Tofus- tofus juga tersedia didalam banyak sendi. Dalam kasus gout
kronis yang sudah parah, kerusakan ginjal, hypertensi dan karang ginjal
dapat juga terjadi.
4. Patofisiologi
Perjalanan penyakit gout sangat khas dan mempunyai 3 tahapan. Tahap
pertama disebut tahap artritis gout akut. Pada tahap ini penderita akan
mengalami serangan artritis yang khas dan serangan tersebut akan
menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 5 7 hari. Karena cepat
menghilang, maka sering penderita menduga kakinya keseleo atau kena
infeksi sehingga tidak menduga terkena penyakit gout dan tidak melakukan
pemeriksaan lanjutan.
Bahkan, dokter yang mengobati kadang-kadang tidak menduga penderita
terserang penyakit gout. Karena serangan pertama kali ini singkat waktunya
dan sembuh sendiri, sering penderita berobat ke tukang urut dan waktu
sembuh menyangka hal itu disebabkan hasil urutan/pijatan. Padahal, tanpa
diobati atau diurut pun serangan pertama kali ini akan hilang sendiri.
Setelah serangan pertama, penderita akan masuk pada gout interkritikal.
Pada keadaan ini penderita dalam keadaan sehat selama jangka waktu
tertentu. Jangka waktu antara seseorang dan orang lainnya berbeda. Ada
yang hanya satu tahun, ada pula yang sampai 10 tahun, tetapi rata-rata
berkisar 1 2 tahun. Panjangnya jangka waktu tahap ini menyebabkan
seseorang lupa bahwa ia pernah menderita serangan artritis gout
atau menyangka serangan pertama kali dahulu tak ada hubungannya dengan
penyakit gout.
Tahap kedua disebut sebagai tahap artritis gout akut intermiten. Setelah
melewati masa gout interkritikal selama bertahun-tahun tanpa gejala,
penderita akan memasuki tahap ini, ditandai dengan serangan artritis yang
khas. Selanjutnya penderita akan sering mendapat serangan (kambuh) yang
jarak antara serangan yang satu dan serangan berikutnya makin lama makin
rapat dan lama, serangan makin lama makin panjang, serta jumlah sendi
yang terserang makin banyak.
Tahap ketiga disebut sebagai tahap artritis gout kronik bertofus. Tahap ini
terjadi bila penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau lebih. Pada
tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan di sekitar sendi yang sering
meradang yang disebut sebagai tofus. Tofus ini berupa benjolan keras yang
berisi serbuk seperti kapur yang merupakan deposit dari kristal monosodium
urat. Tofus ini akan mengakibatkan kerusakan pada sendi dan tulang di
sekitarnya. Tofus pada kaki bila ukurannya besar dan banyak akan
mengakibatkan penderita tidak dapat menggunakan sepatu lagi.
Banyak faktor yang berperan dalam mekanisme serangan gout. Salah
satunya yang telah diketahui peranannya adalah kosentrasi asam urat dalam
darah. Mekanisme serangan gout akut berlangsung melalui beberapa fase
secara berurutan.
1. Presipitasi kristal monosodium urat.
Presipitasi monosodium urat dapat terjadi di jaringan bila
kosentrasi dalam plasma lebih dari 9 mg/dl. Presipitasi ini terjadi di
rawan, sonovium, jaringan para- artikuler misalnya bursa, tendon, dan
selaputnya. Kristal urat yang bermuatan negatif akan dibungkus (coate)
oleh berbagai macamprotein. Pembungkusan dengan IgG akan
merangsang netrofil untuk berespon terhadap pembentukan kristal.
2. Respon leukosit polimorfonukuler (PMN)
Pembentukan kristal menghasilkan faktor kemotaksis yang
menimbulkan respon leukosit PMN dan selanjutnya akan terjadi
fagositosis kristal oleh leukosit.
3. Fagositosis
Kristal difagositosis olah leukosit membentuk fagolisosom dan
akhirnya membram vakuala disekeliling kristal bersatu dan membram
leukositik lisosom.
4. Kerusakan lisosom
Terjadi kerusakn lisosom, sesudah selaput protein dirusak, terjadi
ikatan hidrogen antara permukan kristal membram lisosom, peristiwa ini
menyebabkan robekan membram dan pelepasan enzim-enzim dan
oksidase radikal kedalam sitoplasma.
5. Kerusakan sel
Setelah terjadi kerusakan sel, enzim-enzim lisosom dilepaskan
kedalam cairan sinovial, yang menyebabkan kenaikan intensitas
inflamasi dan kerusakan jaringan.

5. Manifestasi Klinis
Gejala awal dari artritis gout adalah panas, kemerahan dan
pembengkakan pada sendi yang tipikal dan tiba-tiba. Persendian yang sering
terkena adalah persendian kecil pada basis dari ibu jari kaki. Beberapa sendi
lain yang dapat terkena ialah pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan,
jari tangan, dan siku. Pada serangan akut penderita gout dapat menimbulkan
gejala demam dan nyeri hebat yang biasanya bertahan berjam-jam sampai
seharian, dengan atau tanpa pengobatan. Seiring berjalannya waktu serangan
artritis gout akan timbul lebih sering dan lebih lama.
Pasien dengan gout meningkatkan kemungkinan terbentuknya batu
ginjal. Kristal-kristal asam urat dapat membentuk tophi (benjolan keras tidak
nyeri disekitar sendi) di luar persendian. Tophi sering ditemukan di sekitar
jari tangan, di ujung siku dan sekitar ibu jari kaki, selain itu dapat ditemukan
juga pada daun telinga, tendon achiles (daerah belakang pergelangan kaki)
dan pita suara (sangat jarang terjadi).
Secara klinis ditandai dengan adnya artritis,tofi dan batu ginjal. Yang
penting diketahui bahwa asm urat sendiri tidak akan mengakibatkan apa-apa.
Yang menimbulkan rasa sakit adalah terbentuk dan mengendapnya kristal
monosodium urat. Pengendapannya dipengaruhi oleh suhu dan tekanan.
Oleh sebab itu, sering terbentuk tofi pada daerah-daerah telinga, siku, lutut,
dorsum pedis, dekat tendo Achilles pada metatarsofalangeal digiti 1 dan
sebagainya. Pada telinga misalnya karena permukaannya yang lebar dan tipis
serta mudah tertiup angin,kristal-kristal tersebut mudah mengendap dan
menjadi tofi. Demikian pula di dorsum pedis,kalkaneus karena sering
tertekan oleh sepatu. Tofi itu sendiri terdiri dari kristal-kristal urat yang
dikelilingi oleh benda-benda asing yang meradang termasuk sel-sel raksasa.
Serangan sering kali terjadi pada malam hari. Biasanya sehari sebelumnya
pasien tampak segar bugar tanpa keluhan. Tiba-tiba tengah malam terbangun
oleh rasa sakit yang hebat sekali. Daerah khas yang sering mendapat
serangan adalah pangkal ibu jari sebelah dalam,disebut podagra. Bagian ini
tampak membengkak, kemerahan dan nyeri ,nyeri sekali bila sentuh. Rasa
nyeri berlangsung beberapa hari sampai satu minggu,lalu menghilang.
Sedangkan tofi itu sendiri tidak sakit,tapi dapat merusak tulang. Sendi lutut
juga merupakan tempat predileksi kedua untuk serangan ini. Tofi merupakan
penimbunan asm urat yang dikelilingi reaksi radang pada sinovia,tulang
rawan,bursa dan jaringan lunak. Sering timbul ditulang rawan telinga
sebagai benjolan keras. Tofi ini merupakan manifestasi lanjut dari gout yang
timbul 5-10 tahun setelah serangan artritis akut pertama.
Pada ginjal akan timbul sebagai berikut:
1. Mikrotrofi dapat terjadi di tubuli ginjal dan menimbulkan nefrosis
2. Nefrolitiasis karena endapan asam urat
3. Pielonefritis kronis
4. Tanda-tanda aterosklerosis dan hipertensi
Tidak jarang ditemukan pasien dengan kadar asam urat tinggi dalam
darah tanpa adanya riwayat gout yang disebut hiperurisemia asimtomatik.
Pasien demikian sebaiknya dianjurkan mengurangi kadar asam uratnya
karena menjadi faktor resiko dikemudian hari dan kemungkinan terbentuknya
batu urat diginjal.
6. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajin fungsi muskuluskletal dapat
menunjukan :
- Ukuran sendi normal dengan mobilitas penuh bila pada remisi.
- Tofu dengan gout kronis. Ini temuan paling bermakna.
- Laporan episode serangan gout
7. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan lab yang dilakukan pada penderita gout didapatkan
kadar asam urat yang tinggi dalam darah ( >6 mg% ). Kadar asam urat
normal dalam serum pria 8 mg% dan pada wanita 7mg%. Sampai saat ini,
pemeriksaan kadar asam urat terbaik dilakukan dengan cara enzimatik.
Kadang-kadang didapatkan leukositosis ringan dan LED yang meninggi
sedikit. Kadar asam urat dalam urin juga tinggi (500mg%/liter per 24jam).
Pemeriksaan radiografi pada serangan artritis gout pertama adalah non
spesifik. Kelainan utama radiografi pada long standing adalah inflamasi
asimetri, arthritis erosive yang kadang-kadang disertai nodul jaringan lunak.
8. Penatalaksanaan Medis
a. Fase akut.
Obat yang digunakan :
1. Colchicine (0,6 mg)
Kolkisin adalah suatu agen anti radang yang biasanya dipakai
untuk mengobati serangangout akut, dan unluk mencegah serangan
gout Akut di kemudian hari. Obat ini jugadapat digunakan sebagai
sarana diagnosis.Pengobatan serangan akut biasanya tablet 0,5mg
setiap jam, sampai gejala-gejala serangan Akut dapat dikurangi atau
kalau ternyata dari berat pasien bersangkutan. Beberapa pasien
mengalami rasa mual yang hebat,muntah-muntah dan diarhea, dan
pada keadaan ini pemberian obat harus dihentikan.
2. Fenilbutazon.
Fenilbutazon, suatu agen anti radang, dapat juga digunakan unluk
mengobati artritis gout akut. Tetapi, karena fenilbutazon
menimbulkan efek samping, maka kolkisin digunakan sebagai terapi
pencegahan. Indometasin juga cukup efektif.
3. Indometasin ( 50 mg 3 X sehari selama 4-7 hari)
Pengobatan jangka panjang terhadap hyperuricemia untuk
mencegah komplikasi.
1. Golongan urikosurik
- Probenasid, adalah jenis obat yang berfungsi menurunkan asam
urat dalam serum.
- Sulfinpirazon, merupakan dirivat pirazolon dosis 200-400 mg
perhari.
- Azapropazon, dosisi sehari 4 X 300 mg.
- Benzbromaron.
2. Inhibitor xantin (alopurinol)
Adalah suatu inhibitor oksidase poten, bekerja mencegah
konversi hipoxantin menjadi xantin, dan konversi xantin menjadi
asam urat.
Dilakukan pembedahan
jika ada tofi yang sudah mengganggu gerakan sendi,karena tofi
tersebut sudah terlalu besar.
Obat lain yang berguna untuk terapi penunjang atau terapi
pencegahan seperti:
Alopurinol dapat mengurangi pembentukan asamb urat. Dosis
100-400 mg per hari dapat menurunkan kadar asam urat
serum. Probenesid dan Sulfinpirazin merupakan agen urikosurik, artinya
mereka dapat menghambat proses reabsorpsi urat oleh tubulus ginjal dan
dengan dernikian meningkatkan ekskresi asam urat. Pemeriksaan kadar
asam urat serum berguna untuk menentukan etektivitas suatu terapi.
9. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Diet rendah purin.
Hindarkan alkohol dan makanan tinggi purin (hati, ginjal, ikan
sarden, daging kambing) serta banyak minum.
b. Tirah baring.
Merupakan suatu keharusan dan di teruskan sampai 24 jam setelah
serangan menghilang. Gout dapat kambuh bila terlalu cepat bergerak.
10. Komplikasi
1. Radang sendi akibat asam urat (gouty arthritis)
Komplikasi hiperurisemia yang paling dikenal adalah radang sendi
(gout). Telah dijelaskan sebelumnya bahwa, sifat kimia asam urat
cenderung berkumpul di cairan sendi ataupun jaringan ikat longgar.
Meskipun hiperurisemia merupakan faktor resiko timbulnya gout,
namun, hubungan secara ilmiah antara hiperurisemia dengan serangan
gout akut masih belum jelas. Atritis gout akut dapat terjadi pada keadaan
konsentrasi asam urat serum yang normal. Akan tetapi, banyak pasien
dengan hiperurisemia tidak mendapat serangan atritis gout.
Gejala klinis dari Gout bermacam-macam, yaitu, hiperurisemia tak
bergejala, serangan akut gout, gejala antara(intercritical), serangan gout
berulang, gout menahun disertai tofus.
Keluhan utama serangan akut dari gout adalah nyeri sendi yang
amat sangat yang disertai tanda peradangan (bengkak, memerah, hangat
dan nyeri tekan). Adanya peradangan juga dapat disertai demam yang
ringan. Serangan akut biasanya puncaknya 1-2 hari sejak serangan
pertama kali. Namun pada mereka yang tidak diobati, serangan dapat
berakhir setelah 7-10 hari. Serangan biasanya berawal dari malam hari.
Awalnya terasa nyeri yang sedang pada persendian. Selanjutnya nyerinya
makin bertambah dan terasa terus menerus sehingga sangat mengganggu.
Biasanya persendian ibu jari kaki dan bagian lain dari ekstremitas
bawah merupakan persendian yang pertama kali terkena. Persendian ini
merupakan bagian yang umumnya terkena karena temperaturnya lebih
rendah dari suhu tubuh dan kelarutan monosodium uratnya yang
berkurang. Trauma pada ekstremitas bawah juga dapat memicu serangan.
Trauma pada persendian yang menerima beban berat tubuh sebagai hasil
dari aktivitas rutin menyebabkan cairan masuk ke sinovial pada siang
hari. Pada malam hari, air direabsobsi dari celah sendi dan meninggalkan
sejumlah MSU.
Serangan gout akut berikutnya biasanya makin bertambah sesuai
dengan waktu. Sekitar 60% pasien mengalami serangan akut kedua
dalam tahun pertama, sekitar 78% mengalami serangan kedua dalam 2
tahun. Hanya sekitar 7% pasien yang tidak mengalami serangan akut
kedua dalam 10 tahun.
Pada gout yang menahun dapat terjadi pembentuk tofi. Tofi adalah
benjolan dari kristal monosodium urat yang menumpuk di jaringan lunak
tubuh. Tofi merupakan komplikasi lambat dari hiperurisemia.
Komplikasi dari tofi berupa nyeri, kerusakan dan kelainan bentuk
jaringan lunak, kerusakan sendi dan sindrom penekanan saraf.
2. Komplikasi Hiperurisemia pada Ginjal
Tiga komplikasi hiperurisemia pada ginjal berupa batu ginjal,
gangguan ginjal akut dan kronis akibat asam urat. Batu ginjal terjadi
sekitar 10-25% pasien dengan gout primer. Kelarutan kristal asam urat
meningkat pada suasana pH urin yang basa. Sebaliknya, pada suasana
urin yang asam, kristal asam urat akan mengendap dan terbentuk batu.
Gout dapat merusak ginjal, sehingga pembuangan asam urat akan
bertambah buruk. Gangguan ginjal akut gout biasanya sebagai hasil dari
penghancuran yang berlebihan dari sel ganas saat kemoterapi tumor.
Penghambatan aliran urin yang terjadi akibat pengendapan asam urat
pada duktus koledokus dan ureter dapat menyebabkan gagal ginjal akut.
Penumpukan jangka panjang dari kristal pada ginjal dapat menyebabkan
gangguan ginjal kronik.

11. Pengkajian
- Tanyakan keluhan nyeri yang terjadi, biasanya pada ibu jari kaki atau
pada sendi-sendi lain. Bagaimana gejala awalnya dan bagaimana klien
menanggulanginya, adakah riwayat gout dalam keluarga. Obat-obatan
yang diperoleh
- Tentukan apakah ada nyeri saat digerakkan, bengkak, dan kemerahan,
demam subfebris, periksa adanya nodul diatas sendi.
- Kaji adanya kecemasan dan ketakutan dalam melakukan aktivitas dan
masalah-masalah yang terkait dengan psikososialnya.
- Pemeriksaan diagnostik

Asam urat meningkat

Sel darah putih dan sedimentasi eritrosit meningkat (selama fase


akut)

Pada aspirasi sendi ditemukan asam urat

Pemeriksaan urin

Rontgen

12. Analisa Data


No Data Etiologi Masalah
1. DS : Ny. O mengeluh Kelainan metabolic Nyeri Akut
nyeri pada seluruh akibat konsumsi pirin
tubuhnya. berlebih
DO :
Gangguan metabolic
- Klien tampak
purin
meringis ekspresi
Kristal asam urat
wajahnya.
- Klien memiliki mengendap pada membrane
riwayat asam urat synovial dan tulang rawan
dengan hasil tes artikuler

terakhir asam urat Menimbulkan iritasi lokal


: 6,5 mg%
- TTV: Implus nyeri ketalamus
- TD: 180/100
Nyeri dipersepsikan
mmHg
- N: 85 x/mnt Nyeri
- RR: 21 x/mnt
- S: 37oC
- Klien mengatakan
sering susah tidur
karna nyeri
- Skala nyeri 6 (0-
10)
2. DS : Kristak asam urat Kurang Pengetahuan
mengendap pada
DO :
- Klien sering membrane synovial dan
bertanya tulang rawan
mengenai
Kristal asam urat
proses
menumpuk
penyakit
- Klien bertanya Terbentuk trofi
tentang
Akses Informasi rendah
pengobatan
Kurang terpapar
penyakitnya
- Klien tidak informasi
mengetahui
Kurang Pengetahuan
pantangan dan
diit asam urat

13. Diagnosa keperawatan


1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses penyakit
2. Kurang pengetahuan tentang pengobatan dan perawatan dirumah

14. Intervensi Keperawatan


DAFTAR PUSTAKA

Brunner & suddath. Buku Ajar Bedah Medikal Bedah. Vol 3. Penerbit Buku
Kedokteran. EGC.Jakarta. 2001.
Price, Sylvia Anderson. Patologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 2.
Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. EGC. 1990
Soeparman. Waspadji, Sarwono. Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit FKUI.
Jakarta. 1998
http://herbalmedicine.wordpress.com/makanan-sehat-asam-urat.html
http://demediapustaka.com/2008021442/Berita/7-Prinsip-Diet-Penderita-Asam-
Urat.html
http://ojantikareborn.wordpress.com/2012/03/12/asuhan-keperawatan-lansia-
dengan-gout/
http://nursingcyber.blogspot.com/2012/10/asuhan-keperawatan-gout-asam-
urat.html
http://nurse87.wordpress.com/2012/04/20/asuhan-keperawatan-klien-dengan-
gout/