Anda di halaman 1dari 2

arzal hidayat18 Desember 2015 04:54Hidayatullah.

comKejadian menarik ternjadi


saat diskusi Hari-hari terakhir Kartosoewirjo di TIM, Jalan Cikini Raya, Jakarta
Pusat, Rabu (05/09/2012). Kala itu, pengamat sejarah Dr Muhammad Iskandar,
mengatakan bila tentara DI/TII Kartosoewirjo diklaim tidak berakhlak dan
berperilaku kurang Islami. Menurut Muhammad Iskandar banyak perilaku tentara
Kartosoewirjo yang jauh dari akhlak Islam. Mulai dari berperilaku arogan kepada
masyarakat hingga membuat air kencing disembarang tempat.Menurut Muhammad
Iskandar, tentara Kartosoewirjo dinilai bertindak sangat kejam. Saya sebagai salah
satu penduduk desa saat itu melihat mereka berlaku arogan bahkan sampai ada
kiai-kiai yang sering ditodong dan buang air (besar) di sungai, jelas pakar sejarah
dari Universitas Indonesia ini.Namun pendapat Dr Muhammad Iskandar ini langsung
dibantah seorangpeserta seminar bernama Yayan. Yayan yang sengaja datang jauh
dari Tasikmalaya Jawa Barat menghadiri acara seminar ini karena ia adalah seorang
anggota DI/TII. Secara gamblang ia bahkan mengakui bahwa keluarga besarnya
adalah keturunan DI/TII.Dalam bantahannya, Yayan bercerita bahwa perilaku
tentara Kartosoewirjo yang disebut Iskandar sesungguhnya bagian dari operasi
inteligen.Menurut Yayan, Suparjo-lah yang menyusupkan banyak orang PKI kedalam
tubuh DI/TII. Sejak dari situlah terbangun image penghalalan segala cara. DI/TII
pecah menjadi dua di tanah Jawa. DI/TII Kartosoewirjo dan DI/TII dari operasi
inteligen Suparjo. Perilaku yang dikatakan bahwa tentara DI/TII tidak berakhlak
sebenarnya bukanlah tentara Kartosoewirjo. Semua itu adalah perilaku para
penyusup agen Suparjo yang mengaku-ngaku anggota DI/TII.Menurut Yaya, TNI
secara sengaja mengirimkan Danrem Suparjo. Suparjo sendiri orang TNI yang
merupakan kader PKI, ia juga terlibat dalam pemberontakan PKI di Indonesia, jelas
Yayan.Semua itu dilakukan untuk membangun citra buruk mengenai
Kartosoewirjo, tambah Yayan yang sebelumnya juga memaparkan fakta ini di
depan peserta seminar.Penggembosan terhadap Kartosoewirjoitu sendiri dibenarkan
oleh Wibisono. Wibisono adalah seorang yang telah bekerja selama 32 tahun pada
Badan Inteligen Negara (BIN). Menurut Wibisono, sosok Kartosoewirjo adalah
seorang pahlawan Indonesia. Kepentingan Kartosoewirjo mendirikanNegara Islam
Indonesia (NII) adalah aset dari sejarah Indonesia.Menurut Wibisono, kala itu negara
Indonesia sedang lemah. Indonesia barat, tengah dan timur sedang carut marut.
Padahal kondisi Belanda saat itu sedang terdesak. Untuk menjaga beberapa
kekuatan teritorial dibeberapa titik vital di Indonesia.Perjanjian Linggarjati, menurut
Wibisono membuat daerah Indonesia hanya tersisa Jawa, Madura dan Sumatera.
Sedangkan Perjanjian Renville telah membuat teritorial Indonesia di pulau Jawa
hanya sebatas Jogyakarta. Untuk menjaga sisa teritorial Indonesia, maka
pemerintah Indonesia berpikir untuk mengirim Lukas Kustario untuk menjaga
daerah utara. Sedangkan daerah selatan justru dimandatkan ke Kartosoewirjo oleh
pemerintah.Karenanya, cukup aneh bagi Wibisono, tiba-tiba Kartosoewirjo yang
banyak jasa distigmakan seorang yang kurangbaik oleh sejarah.Hati-hati dalam
menjelaskan sejarah,seperti Kahar Muzakar, Daud Beureuh hingga Kartosoewirjo
semua itu aslinyapejuang (kemerdekaan) semua, jelas Wibisono di depan forum
seminar secara gamblang terbuka.Bagi Yayan dan Wibisono, pencitraan buruk yang
dibangun terhadap Kartosoewirjo adalah fitnah sejarah yang harus
diluruskan.Sarjono Kartosoewirjo, anak terbungsuKartosoewirjo juga menguatkan
pendapat-pendapat tersebut. Menurutnya, seharusnya orang-orang TNI jangan
menyebarkan sejarah sepihak. Sejarah juga harus mengizinkan pihak keluarga
Kartosoewirjo dan keturunan DI/TII untuk menjelaskan sudut pandang mereka.
Terlebih mereka adalah bagian dari pelaku sejarah tersebut. Mereka tidak menulis
dalam kepalsuan apalagi dari sebuah tulisan contekan,ujarnya.*