Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM GRAVITY

PENGOLAHAN DATA G OBS

Oleh:

EBENEZER ANUGRAH BAGINTA


115.150.007
KELOMPOK 01

LABORATORIUM GEOFISIKA EKSPLORASI


PROGRAM STUDI TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2016

1
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM GRAVITY
PENGOLAHAN DATA G OBS

Laporan ini disusun sebagai syarat mengikuti acara Praktikum Gravity


selanjutnya, tahun ajaran 2016/2017, Program Studi Teknik Geofisika, Fakultas
Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

Disusun Oleh :

Ebenezer Anugrah Baginta


115.150.007

ACC 1 ACC 2

Asisten Gravity Asisten Gravity

LABORATORIUM GEOFISIKA EKSPLORASI

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2016

2
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa, kami panjatkan puja dan
puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan berkat dan karunianya
kepada kami, sehingga kami dapat menyusun laporan ini dengan tepat waktu.
Laporan ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan laporan ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan laporan ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki laporan ini. Akhir kata kami berharap semoga
laporan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Yogyakarta, 20 Februari 2017

EBENEZER ANUGRAH BAGINTA

3
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ii
KATA PENGANTAR......................................................................................iii
DAFTAR ISI....................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR....................................................................................... vi
DAFTAR TABEL............................................................................................ vii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.................................................................................1
1.2. Maksud dan Tujuan.......................................................................... 1

BAB II. DASAR TEORI


2.1 Metode Gravitasi...............................................................................2
2.2. Faktor yang Mempengaruhi Gravitasi..............................................5
2.3. Percepatan Gravitasi Lintang (G Lintang) .......................................7
2.4 Percepatan Gravitasi Teoritis (G Teoritis) ........................................8
2.5 Koreksi Udara Bebas.........................................................................9

2.6. Metode Penetuan Densitas................................................................9


2.6.1. Metode Penetuan Densitas Nettelton Secara Grafis...................9
2.6.2. Metode Penetuan Densitas Nettelton Secara Analitik................10
2.7. Anomali Bouguer Sederhana............................................................11
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1.Diagram Alir Pengolahan Data......................................................... 12
3.2.Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data.................................... 13

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN................................................
4.1. Tabel Pengolahan Data Kelompok 1 ...............................................
4.2. Pembahasan Penetuan Densitas.......................................................

4.2.1. Pembahasan Metode Penentuan Densitas Nettelton Secara Grafis


Lintasan X Terpilih...........................................................................................
4.2.2. Pembahasan Metode Penetuan Densitas Nettelton Secara Analitik...
4.2.3. Perbandingan Metode Nettelton Grafis dan Nettelton Analitik....
4.3. Pembahasan Peta..............................................................................
4.3.1. Peta Gravitasi Lintang...................................................................
4.3.2. Peta Gravitasi Teoritis...................................................................
4.3.3. Peta Free Air Correction................................................................
4.3.4. Peta Anomali Bouguer Sederhana.................................................

BAB V. PENUTUP

4
5.1. Kesimpulan....................................................................................... 16
5.2. Saran ................................................................................................ 16

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
LAMPIRAN A. TABEL DATA KELOMPOK 1
LAMPIRAN B. TABEL HASIL PENGOLAHAN DATA SEMUA KELOMPOK
LAMPIRAN C. NOTEPAD PENGOLAHAN PETA
LAMPIRAN D. TURUNAN RUMUS PERUBAHAN GRAVITASI TERHADAP
KETINGGIAN
LAMPIRAN E. PERHITUNGAN MANUAL

5
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Prinsip Gravitas......................................................................3


Gambar 2.2. Prinsip La Coste & Romberg..................................................4
Gambar 2.2.4. Koreksi Bouger .....................................................................7
Gambar 3.1. Diagram Alir .....................................................................8
Gambar 4.2.1. Grafik Elevasi Lintasan..........................................................11
Gambar 4.2.2. Grafik G Obs Lintasan 1 ........................................................12
Gambar 4.3.1 Peta Elevasi Lintasan 1 - 8......................................................13
Gambar 4.3.2. Peta G Obs Lintasan 1 - 8.......................................................14
Gambar 4.3.3. Hubungan G Obs vs Elevasi...................................................15

6
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Pengolahan data.................................................................................10

7
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Metode gravitasi merupakan salah satu metode eksplorasi geofisika yang
digunakan untuk mengukur variasi medan gravitasi bumi akibat adanya perbedaan
densitas atau perbedaan rapat massa antar batuan yang menggambarkan adanya
struktur geologi di bawah permukaan bumi. Dalam penerapannya, metode ini
mempelajari perbedaan medan gravitasi dari suatu titik terhadap titik observasi
lainnya. Sumber yang merupakan suatu zona massa di bawah permukaan bumi 10

akan menyebabkan suatu gangguan pada medan gravitasi. Gangguan medan


gravitasi ini disebut anomali gravitasi. Pada laporan ini,kami mencari hasil akhir
dari gravitasi observasi.Gravitasi observasi adalah nilai gravitasi yang didapat
dari pengukuran dengan menggunakan Gravimeter yang diukur diatas permukaan
bumi, di topografi. Gravitasi observasi ini sangat berguna dalam pencarian
anomali bouger.

1.2. Maksud dan Tujuan


Maksud dari praktikum kali ini adalah menguji tentang penguasaan
dan pemahaman tentang pencarian data gravitasi observasi dari data
gravitymeter hingga turunan rumus metode gayaberat. Tujuan dari
praktikum kali ini adalah menghasilkan penampang yang diketahui besar
tonase yang ada di dalamnya.

1
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Metode Gravitasi

Metode gravitasi merupakan salah satu metode eksplorasi geofisika


yang digunakan untuk mengukur variasi medan gravitasi bumi akibat
adanya perbedaan densitas atau perbedaan rapat massa antar batuan yang
menggambarkan adanya struktur geologi di bawah permukaan bumi.
Dalam penerapannya, metode ini mempelajari perbedaan medan gravitasi
dari suatu titik terhadap titik observasi lainnya. Sumber yang merupakan
suatu zona massa di bawah permukaan bumi akan menyebabkan suatu
gangguan pada medan gravitasi. Gangguan medan gravitasi ini disebut
anomali gravitasi.

2.1.1 Gambar Prinsip Gravitasi

Gambar diatas merupakan hasil dari suatu percobaan dengan


menjatuhkan bola dari suatu ketinggian di beberapa tempat tertentu.

2
Percepatan bola di hitung dengan mengukur perubahan kecepatan bola.
Dari gambar tersebut dapat terlihat bahwa terjadinya perbedaan percepatan
gravitasi dari suatu titik dengan yang lainnya menandakan adanya
perbedaan densitas dan kandungan yang ada di bawah permukaan bumi.

Perubahan percepatan yang terjadi relatif kecil, sehingga dalam


eksplorasi menggunakan metoda gravitasi diperlukan alat ukur yang
memiliki kepekaan yang sangat tinggi. Alat ukur yang biasa digunakan
adalah gravimeter. Di dalam gravimeter terdapat sebuah massa yang
digantung pada sebuah pegas, dimana apabila densitas batuan di bawah
permukaan berbeda maka juga akan menyebabkan tarikan gaya yang
berbeda. Pada daerah dengan densitas kandungan batuan bawah
permukaan yang tinggi akan menyebabkan nilai gravitasi yang terukur
akan lebih besar pula. Begitu pula dengan sebaliknya dimana densitas
kandungan batuan bawah permukaan yang kecil akan menyebabkan nilai
gravitasi yang terukur akan lebih kecil pula.

Salah satu contoh gravimeter yang sering digunakan dalam


pengambilan data gravitasi adalah gravimeter LaCoste dan Romberg. Alat
ukur ini terdiri dari sebuah tiang berengsel, terkait dengan beban dan
dihubungkan dengan sebuah pegas yang dipasang langsung di atas engsel.

Gambar 2.1.2 Prinsip Gravimeter LaCoste dan Romberg

3
Walaupun gaya pemulih dari pegas meningkat, sudut akan turun menjadi .
Dengan desain yang tepat pada pegas dan geometri dari tiang, maka besar
kenaikan dari momen pemulih akibat kenaikan gaya gravitasi dapat dibuat sekecil
yang kita inginkan. Dengan menggunakan pegas biasa kerja yang dihasilkan akan
terbatas. Dengan menggunakan pegas zero-length maka gaya pemulih yang
dihasilkan dapat proporsional dengan panjang fisis dari pegas dibandingkan
dengan gaya pemulihnya. Dengan begitu alat ini dapat memberikan pembacaan
respons yang sangat sensitif meliputi area yang luas.

Konsep dasar dari gravitasi berasal dari dua hukum fisika yang dijabarkan oleh
Issac Newton. Kedua hukum fisika tersebut adalah Universal law of gravitation
dan Second law of motion (Reynolds, J.M., 1997). Dalam hukum gravitasi
(Universal law of gravitation) menyatakan bahawa gaya tarik menarik antara dua
benda (M dan m) adalah sebanding dengan perkalian massa kedua benda dan
berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari pusat massa kedua benda tersebut.
Sehingga apabila jarak antara kedua benda semakin kecil, maka semakin besar
gaya tarik menarik antara kedua benda tersebut. Persamaan matematisnya dapat
dituliskan sebagai berikut :

Mm
r^
F= - G r

di mana:

F adalah gaya tarik menarik dua benda bermassa M dan m (N)

G adalah konstanta gravitasi 6.672 x 10-11 Nm2/kg2 dalam SI

M adalah massa dari benda pertama

m adalah massa dari benda kedua, dan

r adalah jarak antara dua massa tersebut.

Untuk satuan percepatan gravitasi didefinisikan yaitu Gal. Perbedaan


gravitasi karena pengaruh rapat massa di bawah permukaan bumi ordenya

4
sangatlah kecil, sehingga satuan anomali gaya gravitasi dalam kegiatan
eksplorasi ditetapkan dalam orde mGal, dimana :

1 mGal = 10-3 Gal = 10-3 cm/s2

2.2 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Gravitasi

Dalam pengukuran gravitasi pada suatu titik di permukaan bumi


dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah
variasi ketinggian, variasi topografi, pasang surut, goncangan pada pegas
alat ukur, lintang, dan variasi densitas batuan bawah permukaan.
Sedangkan yang dibutuhkan hanyalah satu faktor saja yaitu variasi
densitas batuan bawah permukaan. Oleh karena itu, maka sebelum data-
data gravitasi dapat diinterpretasikan, pengaruh dari faktor-faktor lain
tersebut harus dihilangkan dan dikoreksi dari hasil pembacaan alat ukur.
Koreksi-koreksi tersebut antaralain adalah koreksi apungan (drift
correction), koreksi pasang surut (tidal correction), koreksi lintang
(latitude correction), koreksi free air, koreksi bouguer, dan koreksi medan
(terrain correction).

1. Koreksi Apungan (drift correction)


Koreksi apungan dilakukan untuk menghilangkan pengaruh
perubahan kondisi alat ukur (gravimeter) terhadap nilai hasil pembacaan.
Hal ini disebabkan karena adanya guncangan pegas pada alat gravimeter
sehingga menyebabkan bergesernya pembacaan titik nol pada alat tersebut
dan mengakibatkan pembacaan gaya berat yang berbeda pada stasiun yang
sama di waktu yang berbeda.

tntb '
Dn= '
(g b gb)
t b tb

Dn = koreksi drift pada titik ke-n

tn = waktu pembacaan pada titik-n

5
tb = waktu pembacaan di titik ikat pada awal looping

tb = waktu pembacaan di titik ikat pada akhir looping

gb = nilai pembacaan di titik ikat pada awal looping

gb = nilai pembacaan di titik ikat pada akhir looping

2. Koreksi Ketinggian
Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan perbedaan gravitasi
yang dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian setiap titik amat. Koreksi
ketinggian terdiri dari dua macam yaitu koreksi udara bebas dan koreksi
Bouguer.

a) Koreksi Udara Bebas (free air correction)

Koreksi ini merupakan koreksi pengaruh ketinggian (h) terhadap


perbedaan medan gravitasi bumi dengan mengabaikan massa yang terletak
di antara titik amat dengan spheroid referensi. Koreksi ini dilakukan untuk
mendapatkan anomali medan gaya berat di topografi. Koreksi udara bebas
secara matematis dinyatakan sebagai berikut :

gfa = (0.3086 X Ta) mgal

3. Koreksi Lintang (latitude correction)

Bumi memiliki bentuk yang ellips. Bumi juga memiliki gaya sentrifugal yang
disebabkan oleh rotasi bumi. Hal ini akan mempengaruhi nilai gravitasi di setiap
lintang geografis yang ada di bumi.
Koreksi lintang dilakukan untuk mengkoreksi nilai gravitasi di setiap lintang
geografis karena nilai gravitasi bervariasi di setiap lintang geografis. Dari koreksi
ini akan diperoleh anomali medan gaya berat. Medan anomali tersebut merupakan
selisih antara medan gaya berat observasi dengan medan gaya berat teoritis
(medan gaya berat normal).

6
4. Koreksi Bouguer

gambar 2.2.4 Koreksi Bouger

Untuk mengkoreksi efek tarikan massa antara titik pengukuran dan datum,
dibutuhkan adanya suatu koreksi. Koreksi inilah yang disebut dengan koreksi
Bouguer. Koreksi Bouguer memperhitungkan gaya tarik tambahan yang
dihasilkan oleh lapisan batuan yang memiliki densitas dan ketebalan tertentu.
Koreksi Bouguer dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut.

gb = 0.04193 h

di mana koreksi Bouguer dalam satuan mGal, merupakan densitas batuan


3
(mg/m ), dan h merupakan ketinggian antara titik pengamatan dan datum dalam
satuan meter. Bila titik pengamatan terletak di daratan pada ketinggian tertentu di
atas permukaan laut, maka koreksi Bouguer akan bersifat mengurangi nilai gaya
berat. Sayangnya, koreksi Bouguer berasumsi bahwa topografi di sekitar stasiun
pengukuran datar dan tidak memiliki elevasi. Oleh karena itu, masih diperlukan
adanya koreksi ketinggian lain untuk medapatkan nilai gaya berat di suatu titik
pengamatan

5. Koreksi Medan (Terrain Correction)

Untuk melengkapi kedua koreksi ketinggian yang telah disebutkan sebelumnya,


terdapat suatu koreksi untuk memperhitungkan pengaruh ketidakberaturan
permukaan atau induksi di sekitar titik pengukuran. Koreksi ini disebut dengan
koreksi medan atau terrain, yang akan selalu bernilai positif. Koreksi ini
dilakukan dengan menggunakan hammer chart, yang dibagi menjadi beberapa
zona oleh garis kosentris dan garis melingkar.

7
2.3. Percepatan Gravitas Lintang (G Lintang)

Dari pengukuran geodesi global diketahui bentuk bumi mendekati


spheroid bumi tidaklah bulat sempurna tetapi agak tetap dikutubnya.akibatnya
terdapat variasi radius bumi. Akibat yang lain adalah perbedaan percepatan
sentriugal di kutub dan di ekuator. Percepatan sentrifugal maksimum di ekuator
dan nol di kutub.Sehingga g di kutub lebih besar dibandingkan dengan g di
ekuator.

b
r

Gambar II.1
Diagram Koreksi Lintang

Dimana:
a : jari-jari ekuator
b : jari-jari kutub
r : jari-jari putar
w : kecepatan
: lintang

: kerapatan bumi (=1/298,257222101;GRS 80)

Dari keadaan di atas didapat g sebagai fungsi lintang (dengan satuan mgal) :

G lintang = 978031.8 (1 + 0.053024 Sin2 + 0.0000059 Sin2(2)) (II.3)

2.4. Percepatan Gravitasi Teoritis

8
Persamaan Rumus Gravitasi Teoritis

G= G Lintang +
FAC

2.5. Koreksi Udara Bebas

Koreksi ini merupakan koreksi pengaruh ketinggian (h) terhadap


perbedaan medan gravitasi bumi dengan mengabaikan massa yang terletak
di antara titik amat dengan spheroid referensi. Koreksi ini dilakukan untuk
mendapatkan anomali medan gaya berat di topografi. Koreksi udara bebas
secara matematis dinyatakan sebagai berikut :

gfa = (0.3086 X Ta) mgal

2.6. Penentuan Densitas Batuan


Pada koreksi topografi di atas (koreksi Bouguer dan koreksi medan) ada satu nilai
yang belum diketahui yaitu densitas batuan permukaan (densitas topografi).
Densitas batuan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah rapat massa
butir pembentuknya, porositas, kandungan fluida yang mengisi pori-porinya, serta
pemadatan akibat tekanan dan pelapukan yang dialami batuan tersebut. Metode
penentuan densitas lapisan permukaan kerak bumi dari data hasil pengukuran
gravitasi dapat dibagi atas dua bagian, yaitu :
a) Metode yang memanfaatkan data pengukuran gravitasi di permukaan.
b) Metode yang memanfaatkan data pengukuran gravitasi di bawah permukaan
pada pertambangan dan boreholes. Penentuan densitas dengan memanfaatkan
data-data hasil pengukuran di permukaan dapat dilakukan dengan menggunakan
metode Nettleton yang dapat ditempuh dengan dua cara.
2.6.1 Metode Penetuan Densitas Nettelton Secara Grafis
Secara grafis yaitu dengan membuat profil topografi dan profil anomali Bouguer
untuk

9
densitas yang berbeda-beda dari tiap-tiap lintasan yang dipilih. Harga densitas
yang dipilih sebagai densitas batuan permukaan (atau densitas topografi) adalah
densitas yang profil anomali Bouguernya berkorelasi minimum terhadap profil
topografi.

2.6.2. Metode Penetuan Densitas Nettelton Secara Analitik


Secara analitik yaitu dengan menggunakan persamaan matematis untuk
menghitung koefisien korelasi dari semua data pengukuran gravitasi. Cara ini
sangat baik karena memasukkan semua data pengukuran gravitasi sehingga
menjadi kros korelasi dua dimensi.
2.7. Anomali Bouger Sederhana
Harga anomali Bouger (absolut) adalah selisih antara gravitasi
pengamatan (observasi) dengan harga teoritis yang seharusnya terarnati pada suatu
titik.
Distribusi harga anomali Bouger secara horizontal dapat digambarkan
melalui kontur "iso-anomali" yang memberikan gambaran distribusi atau
kontras rapat massa lateral bawah permukaan, yang pada akhimya dapat
d2nterpretasikan sebagai suatu kondisi atau struktur geologi tertentu.
Anomali bouguer merupakan suatu representasi dari medan gravitasi yang
paling umum untuk memperkirakan gambaran kondisi bawah permukaan berdasarkan
kontras rapat massa satuan.
Dengan demikian anomali Bouguer sederhana dapat dirumuskan sebagai
berikut :
ABS = G observasi G lintang FAC KB (2.7)

10
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

11
Gambar 3.1. Diagram Alir

3.2 Pembahasan Diagram Alir


Berikut adalah penjelasan diagram alir yang dimulai dari data mentah gravity
hingga mendapatkan g obs.

Siapkan data mentah gravity


Menghitung waktu yang diperlukan pengukuran pada tiap titik dengan

12
mengurangkan waktu pada titik tersebut dan waktu awal pengambilan
data. Cari rata rata dari pengurangan waktu tersebut
Konversi skala pembacaan ke mgal
Menghitung koreksi pasang surut, dimana data pasang surut harian
didapatkan dari software
Menghitung koreksi ketinggian dengan rumus
Tinggi alat ( m ) x0.3068

Menghitung gravitasi relatif dengan rumus


g=Nilai Konversi Skala+ Nilai Koreksi Tinggi AlatNilai Koreksi Pasut

Dari hasil g relatif yang kita dapatkan, Hitung g rata rata tersebut
Menghitung koreksi drift dengan rumus
g= grata-rata Koreksi drift
Hitung nilai G dengan rumus
GTerkoreksi Drift ke-i GTerkoreksi Drift awal
Kemudian kita bisa mendapatkan g obs

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

13
4.1 Tabel Pengolahan Data Lintasan 1

Tabel 4.1. Pengolahan Data

4.2 Pembahasan Penentuan Densitas

4.2.1. Pembahasan Metode Penentuan Densitas Nettelton Secara Grafis


Lintasan 1 Terpilih

14
Grafik Hubungan Z VS Koreksi Bouguer
400 45
350 40
300 35
250 30
200 25
150 20
100 15
50 10
5
0 0 z
Z (m) Koreksi Bouguer
2.700

Offset

Gambar 4.2.1 Grafik Penentuan Densitas Nettelton Secara Grafis

Dari hasil pengolahan data,line 1 memiliki 7 titik pengukuran. Penentuan densitas


nettelton adalah dengan cara mencocokkan grafik kedalaman dengan koreksi
bouger. Grafik diatas menjelaskan bahwa ada hubungan antara kedalaman dengan
koreksi bouger . Perumusan koreksi bouger sebagai berikut

gb = 0.04193 h

gb = Koreksi Bouger

Densitas Batuan

h = ketinggian dari atas permukaan laut

Pada penentuan densitas nettelton terdapat 3 kemungkinan koreksi bouger yang


digunakan, yaitu pada densitas 2.1, 2.4, dan 2.7. Tetapi yang paling mendekati
secara analisa grafis adalah 2.7, karena pada umumnya densitas batuan yang ada
di Indonesia kurang lebih 2.7. Penentuan densitas nettelton kurang baik digunakan
karena setiap orang memiliki penglihatan yang berbeda untuk mencocokkan
grafik kedalaman dan koreksi bouger.

4.2.2. Pembahasan Metode Penetuan Densitas Nettelton Secara Analitik


Penentuan densitas nettelton secara analitik yaitu dengan menggunakan
persamaan matematis untuk menghitung koefisien korelasi dari semua data

15
pengukuran gravitasi. Cara ini sangat baik karena berbeda dengan penentuan
densitas nettelton secara grafik yang hanya melihat dari kesamaan grafik,
Penentuan densitas nettelton secara analitik yaitu dengan menggunakan
persamaan matematis untuk menghitung koefisien korelasi dari semua data
pengukuran gravitasi yang dapat meminimalisir error. Persamaan analitik yang
dipakai menghitung koefisien korelasi k adalah :

Untuk koefisien korelasi (k) harus mendapatkan nilai yang mendekati nol
dan nilai koefisien korelasi tidak boleh kurang dari 0. Dari perhitungan
koefisien korelasi, didapatkan nilai densitas batuan dengan nilai
2.6650503434 dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0.

4.2.3. Metode Nettelton Grafis dan Nettelton Analitik

Penentuan densitas nettelton adalah dengan cara mencocokkan grafik kedalaman


dengan koreksi bouger. Grafik menjelaskan bahwa ada hubungan antara
kedalaman dengan koreksi bouger. Pada penentuan Nettelton grafis bisa mendapat
nilai densitas batuan lebih dari satu. Kelemahan metode ini adalah pengamatan
terhadap grafis setiap orang berbeda beda dan dapat menimbulkan perbedaan
persepsi. Sedangkan penentuan densitas nettelton secara analitik yaitu dengan
menggunakan persamaan matematis untuk menghitung koefisien korelasi dari
semua data pengukuran gravitasi. Cara ini sangat baik karena berbeda dengan
penentuan densitas nettelton secara grafik yang hanya melihat dari kesamaan
grafik, Penentuan densitas nettelton secara analitik yaitu dengan menggunakan
persamaan matematis untuk menghitung koefisien korelasi dari semua data
pengukuran gravitasi yang dapat meminimalisir error.

4.3 Pembahasan Peta

4.3.1. Peta Gravitasi Lintang

16
G
ambar 4.3.1. Peta Gravitasi Lintang

G Lintang merupakan nilai percepatan gravitasi yang telah dikoreksi


menggunakan koreksi lintang sehingga apabila dibandingkan percepatan gravitasi
di kutub lebih besar dari pada percepatan gravitasi di equator. Dari peta G Lintang
dapat dilihat bahwa peta diatas memiliki range ketinggian dari 978121,3 mGal
sampai 978120,8 mGal. Pada line 1 terletak pada koordinat X : 353000 sampai
356500 sedangkan pada koordinat Y kurang dari 9167500 dengan warna merah
yang terlihat merupakan percepatan gravitasi tinggi. Dilihat secara kesuluruhan
pada peta nilai percepatan gravitasi tinggi pada sekitar koordinat X : 353000
sampai 356500 dan pada sekitar koordinat Y kurang dari 9167500 dengan kisaran
nilai 978121,22 mGal sampai 978121,3 mGal pada bagian utara peta dengan
warna gradasi orange hingga merah. Pada bagian barat hingga timur peta adalah
dengan percepatan gravitasi sedang dengan nilai 978120,98 mGal sampai
978121,12 mGal terletak pada koordinat X : 353000 sampai 357000 dan pada
sekitar koordinat Y : 9168750 sampai 9169000 dengan gradasi warna hijau.
Sedangkan pada bagian utara peta adalah dengan nilai percepatan gravitasi rendah
dengan nilai nilai 978120,8 mGal sampai 978120,94 mGal terletak pada koordinat
X : 353000 sampai 357000 dan koordinat Y : 9169500 sampai 9169000 dengan
gradasi warna biru.
4.3.2. Peta Gravitasi Teoritis

17
Gambar 4.3.2. Peta G Obs Line 1 - 8

G Teoritis merupakan nilai percepatan gravitasi berdasarkan pada teoritis


saja dan didapatkan dari pembacaan alat. Pada peta G Teoritis lintasan 1 terdapat
berbagai gradasi warna yang menandakan nilai percepatan gravitasi pada lintasan
tersebut. Dimana pada sepanjang lintasan 1 memiliki nilai G Teoritis mulai dari
nilai terendah hingga nilai tertinggi. Pada bagian timur hingga barat peta terlihat
memiliki nilai G Teoritis sedang hingga tinggi dengan kuning, orange, dan merah.
Pada bagian timur laut, dan utara dengan nilai G Teoritis dominan rendah dengan
gradasi warna biru dan hijau.

4.3.3. Peta Free Air Correction

18
Gambar 4.3.3 Hubungan G Obs vs Elevasi

G FAC merupakan nilai percepatan gravitasi yang telah dikoreksi melalui


koreksi udara bebas karena adanya perbedaan ketinggian. Pada peta G FAC
lintasan 1 terdapat memiliki gradasi warna orange yang dominan. Pada bagian
utara dan timur peta terlihat memiliki nilai G FAC rendah hingga sedang dengan
warna biru hingga hijau. Pada koordinat Y sekitar 916900 hingga 9169500 dan
koordinat X sekitar 353000 hingga 356500 didominasi dengan G FAC yang
sedang dan rendah dengan nilai -75 hingga -95. Pada bagian timur, selatan, barat
didominasi G FAC sedang hingga tinggi dengan nilai -20 hingga -45.

4.3.4 Peta Anomali Bouguer Sederhana

19
Gambar 4.3.4 Peta ABS

Anomali bouger sederhana merupakan anomali medan gravitasi yang telah


dikoreksi menggunakan koreksi bouguer. Koreksi Bouguer sendiri merupakan
koreksi yang dilakukan untuk menghilangkan perbedaan ketinggian dengan tidak
mengabaikan massa di bawahnya. Pada peta Anomali Bouguer Sederhana (ABS)
lintasan 1 terdapat berbagai macam gradasi warna yang menandakan nilai
percepatan gravitasi pada lintasan tersebut. Warna hijau percepatan gravitasinya
sedang, warna kuning-merah percepatan gravitasinya tinggi, warna biru
percepatan gravitasinya rendah. Peta G ABS didominasi dengan nilai gravitasi
sedang hingga paling tinggi, sedangkan nilai gravitasi rendah sangat jarang
ditemukan. Pada lintasan 1 G ABS memiliki gradiasi warna orange, ini
menandakan bahwa nilai gravitasi yang cukup tinggi pada lintasan 1. Nilai G ABS
pada lintasan 1 didominasi dengan nilai 80 dan hanya 1 titik yang bernilai 85.
BAB V

20
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Pada peta G Teoritis lintasan 1 didominasi dengan nilai gravitasi rendah


yang memiliki gradasi warna biru dan 1 titik yang memiliki nilai gravitasi
sedang
Peta Gravitasi Lintang lintasan 1 memiliki nilai yang rendah dengan
gradasi warna biru dan 1 titik yang bernilai gravitasi sedang dengan
gradasi warna hijau.
Pada peta G FAC lintasan 1 memiliki nilai gravitasi yang rendah dengan
gradasi warna biru dan hijau dan 1 titik yang memiliki nilai gravitasi tinggi
dengan gradasi warna orange
Pada Peta ABS, lintasan 1 didominasi dengan nilai gravitasi yang tinggi
dan 1 titik gravitasi yang sangat tinggi.
G FAC, Gravitasi Lintang, G Teoritis, G ABS memiliki nilai berbanding
lurus.

5.1 Saran

Dalam Perhitungan gravitasi observasi diperlukan ketelitian yang sangat tinggi


dalam mengolah data di excel,sehingga tidak ada kesalahan dalam perhitungan
data. Untuk penggambaran gravitasi observasi dan elevasi diperlukan kesabaran.

21