Anda di halaman 1dari 14

REAKSI PASAR MODAL AKIBAT PENGUNDURAN

MENTERI KEUANGAN 5 MEI 2010


DI BURSA EFEK INDONESIA

Djuraidin Ismail
Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh
e-mail: djuraidin_ismail@yahoo.com

Heri Samhudi Zakaria


Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh
e-mail: samhudi_heri@yahoo.com

ABSTRAK

Sri Mulyani Indrawati merupakan Menteri Keuangan Republik Indonesia


dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II yang dilantik pada
tanggal 21 Oktober 2010. Ia terpilih untuk keduakalinya memimpin Kementrian
Keuangan dengan masa tugas 2009-2014. Setelah bertugas selama hampir enam
bulan, menteri yang pernah mendapat predikat sebagai menteri keuangan terbaik
se-Asia mengundurkan diri pada tanggal 5 Mei 2010. Pada hari pengunduran
dirinya, saham-saham di Bursa Efek Indonesia harganya melemah sehingga
IHSG ditutup jatuh 112,776 poin atau 3,81 persen ke posisi 2.946,239. Penelitian
ini bertujuan untuk melihat reaksi pasar modal Indonesia terhadap peristiwa
pengunduran diri tersebut. Sampel dalam penelitian ini adalah saham-saham
yang termasuk dalam Indeks LQ45. Indikator yang digunanakan untuk
menjelaskan permasalahan penelitian adalah abnormal return masing-masing
saham. Hasil penelitian menujukkan bahwa pada hari peristiwa, yakni tanggal 5
Mei 2010 abnormal return rata-rata saham yang terdaftar dalam indeks LQ45
adalah -0,043293 dan merupakan return negatif terbesar selama event period.
Diikuti oleh hari pertama setelah pengumuman sebesar -0,0107, hari ke-2 setelah
peristiwa rata-rata abnormal return sebesar -0,0317 dan pada hari ke-3
abnormal return mejadi positif yakni sebesar 0,048323. Degan demikian,
peristiwa pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani telah berpengaruh
terhadap return saham hanya selama dua hari setelah peristiwa itu terjadi. Rata-
rata abnormal return saham-saham yang terdaftar dalam indeks LQ45 dua hari
sebelum peristiwa adalah -0,004565 dan minus tersebut semakin besar satu hari
sebelum peristiwa, yakni -0,008116. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
sebelum peristiwa pengunduran diri menteri keuangan diumumkan, informasi
tersebut telah diperkirankan oleh para investor di Bursa Efek Indonesia, sehingga
kalangan investor telah membatasi aktivitasnya di bursa.

Kata Kunci: Abnormal return, IHSH, Indeks LQ45, Menteri Keuangan Republik
Indonesia, periode peristiwa

1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II resmi dilantik pada tanggal 21 Oktober
2009. Salah satu menteri yang terpilih untuk keduakalinya masuk dalam jajaran
kabinet KIB II tersebut adalah Sri Mulyani Indrawati. Dia terpilih untuk
memimpin Kementrian Keuangan Republik Indonesia periode 2009-2014. Sri
Mulyani merupakan salah satu mentri terbaik dalam jajaran kabinet KIB pertama
yang mampu menghindari krisis keuangan global, sehingga Indonesia luput dari
krisis tersebut seperti yang dialami oleh banyak negara termasuk Amerika Serikat.
Setelah bertugas selama hampir enam bulan, Menteri Keuangan Sri Mulyani
mengeluarkan sebuah keputusan yang cukup menggemparkan Indonesia bahkan
kawasan Asia. Menteri yang pernah mendapat predikat sebagai menteri keuangan
terbaik se-Asia secara resmi menyatakan pengunduran dirinya sebagai menteri
keuangan pada tanggal 5 Mei 2010.
Pengunduran diri Sri Mulyani diinterprestasikan dengan berbagai persepsi
oleh berbagai pihak, dari persepsi konspirasi politik hingga kegagalannya
mempertanggungjawabkan dana bailout Bank Century yang menghabiskan
keuangan negara mencapai sebesar 6,7 triliun rupiah. Pada hari pengunduran diri
menter keuangan tersebut, saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak pagi
harganya mengalami penurunan, hingga hari Rabu (sore hari) harga terus semakin
tertekan setelah laporan bahwa Sri Mulyani akan menerima jabatan baru di Bank
Dunia. Melemahnya sebagian besar saham di BEI membuat Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) ditutup turun sebesar 112,776 poin atau 3,81 persen ke posisi
2.946,239. Hal ini merupakan penurunan terbesar pertama dalam tahun 2010.
Sementara indeks LQ45 terkoreksi 23,920 poin atau 4,18 persen ke posisi
548,295.
Pengunduran diri Sri Mulyani dari Kabinet Indonesia Bersatu II berdampak
negatif terhadap perdagangan saham di BEI. Namun pasar mengharapkan
keberadaan Sri Mulyani di Bank Dunia membawa dampak positif bagi negara-
negara berkembang khususnya Indonesia. Selain dari respon negatif terhadap
pengunduran diri Sri Mulyani, secara tehnikal saham-saham di BEI juga sudah

2
dalam area jenuh beli (overbought). Sepanjang perdagangan saham, terjadi
145,516 kali transaksi dengan volume 6,679 miliar lembar saham senilai Rp 6,183
triliun. Hanya 32 saham yang harganya naik, 234 saham turun, dan 32 saham
tidak bergerak (Antara News, 05/05/2010).
Mundurnya Sri Mulyani Indrawati dari jabatan menteri keuangan telah
berakibat buruk terhadap Indeks Harga Saham Gabung (IHSG). Peristiwa tersebut
menyebabkan nilai kapitalisasi pasar (market capitalization) di Bursa Efek
Indonesia (BEI) dalam tempo satu minggu merosot hingga Rp 190,12 triliun.
Seminggu sebelum peristiwa pengunduran Sri Mulyani, tepatnya pada Jumat
tanggal 30 April 2010, nilai kapitalisasi pasar bursa tercatat sebesar Rp 2.422,903
triliun. Namun, akibat sentimen tersebut, seminggu kemudian, Jumat tanggal 7
April 2010, nilai kapitalisasi bursa turun drastis hingga Rp 190,12 triliun atau
turun 7,84% menjadi Rp 2.232,783 triliun. Hari Jumat tanggal 7 Mei 2010 indeks
ditutup dibawah level 2.800. IHSG anjlok 71,283 poin (2,53%) ke level
2.739,333. Indeks LQ45 juga turun 15,521 poin (2,86%) ke level 525,370.
Investor asing terus melakukan penarikan dana tunai yang juga menjadi salah satu
pemicu aksi jual di lantai bursa. Kekhawatiran tentang situasi perekonomian
Indonesia dan perekonomian global membuat investor asing memilih memegang
dana tunai. Investor asing tercatat melakukan pembelian sebesar Rp1,507 triliun
dan penjualan sebesar Rp 2,181 triliun. Dengan demikian, transaksi jual bersih
asing (foreign net sell) mencapai Rp 674,801 miliar. Tidak hanya IHSG, nilai
tukar rupiah pun melemah ke level 9.215 per dolar AS, dibandingkan penutupan
sebelumnya di level 9.190 per dolar AS. Rupiah sempat menyentuh titik
terendahnya di level 9.370 per dolar AS (Media Indonesia, 07/05/2010).
Dari kejadian pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani, maka
tertarik untuk meneliti reaksi pasar modal Indonesia. Penelitian dilakukan dengan
event study (Studi peristiwa).
Studi peristiwa merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap
suatu peristiwa yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Event study
dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (information contents) dari
suatu pengumuman yang selanjutnya dapat digunakan sebagai alat untuk menguji

3
pasar modal efisien dalam bentuk lemah. Jika pengumuman mengandung
informasi, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada saat pengumuman tersebut
diterima pasar. Reakasi pasar ditunjukan dengan adanya perubahan harga
sekuritas-sekuritas yang bersangkutan. Reaksi ini dapat diukur dengan
menggunakan return sebagai nilai perubahan harga atau dengan menggunakan
abnormal return. Pengujian kandungan informasi hanya menguji reaksi pasar
terhadap suatu pengumuman tertentu. Pasar dikatakan efisien dalam bentuk lemah
jika tidak ada investor yang memperoleh abnormal return dari informasi yang
diumumkan. Atau jika ada abnormal return, pasar harus bereaksi dengan cepat
untuk menyerap abnormal return tersebut menuju harga keseimbangan baru.
Indeks harga saham merupakan indikator yang menunjukkan pergerakan
harga saham di pasar modal. Indeks berfungsi sebagai indikator trend pasar,
artinya pergerakan indeks menggambarkan kondisi pasar modal pada saat tertentu,
misalnya kondisi bullish (mengalami peningkatan), bearish (mengalami
kelesuan), atau kondisi normal. Dengan adanya indeks tersebut, para pelaku pasar
modal dapat mengetahui trend pergerakan harga yang bertujuan untuk membuat
keputusan, baik keputusan untuk menjual, menahan, ataupun keputusan untuk
membeli saham-saham tertentu. Indeks LQ45 merupakan indeks yang terdiri dari
empat puluh lima saham pilihan yang mengacu pada dua variabel, yaitu likuiditas
perdagangan dan kapitalisasi pasar yang dievaluasi setiap enam bulan. Sebagai
indeks yang memuat saham-saham blueship, indeks LQ45 diduga terkoreksi
akibat munculnya bad news dan kekhawatiran investor terhadap perekonomian
Indonesia akibat pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Apakah pasar modal Indonesia bereaksi terhadap peristiwa pengunduran

diri Menteri Keuangan Sri Mulyani tanggal 5 Mei 2010?

2. Apakah investor merespon negatif bad news pengunduran diri Menteri


Keuangan Sri Mulyani?

4
3. Apakah investor memperoleh abnormal return sebelelum dan setelah
peristiwa pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani?

1.3 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara empiris reaksi pasar
modal Indonesia terhadap peristiwa pengunduran diri Menteri Keuangan Sri
Mulyani khususnya saham-saham yang terdaftar dalam Indeks LQ45 di Bursa
Efek Indonesia.

LANDASAN TEORITIS
Menurut Jogiayanto (2008) Studi peristiwa (event study) merupakan studi
yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya
dipublikasikan sebagai suatu pengumuman.
Samsul (273:2006) menyatakan bahwa studi peristiwa diartikan sebagai
studi yang mempelajari pengaruh suatu peristiwa terhadap harga saham pasar,
baik pada saat peristiwa itu terjadi maupun beberapa saat setelah peristiwa itu
tejadi.
Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi dari suatu
pengumuman dan dapat juga digunakan untuk menguji efisiensi pasar bentuk
setengah kuat. Pengujian kandungan informasi dan pengujian efisiensi pasar
bentuk setengah kuat merupakan dua pengujian yang berbeda. Pengujian
kandungan informasi dimaksudkan untuk melihat reaksi dari suatu pengumuman.
Jika pengumuman mengandung informasi, maka diharapakan pasar akan bereaksi
pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Reaksi pasar ditunjukkan
dengan adanya perubahan harga dari sekuritas bersangkutan. Reaksi ini dapat
diukur dengan menggunakan return sebagai nilai perubahan harga atau dengan
menggunakan abnormal return. Jika digunakan abnormal return, maka dapat
dikatakan bahwa suatu pengumuman yang mempunyai kandungan informasi akan
memberikan abnormal return kepada pasar.
Event study merupakan penelitian untuk mengamati reaksi pasar modal
terhadap peristiwa tertentu. Penelitian yang dilakukan Cochran dan Froiro (dalam

5
Surya Wijaya dan Sitiawan, 1998) mengenai reaksi pasar modal terhadap
peristiwa pelarangan penerbangan pada saham-saham penerbangan di Amerika
Serikat. Hasilnya menunjukan bahwa saham perusahaan penerbangan yang
terdaftar di New York Stock Exchange (NYSE) merespon negatif peristiwa
pelarangan penerbangan tersebut. Aferdian (2003) melakukan penelitan untuk
melihat reaksi pasar modal Indonesia terhadap peristiwa peledakan gedung WTC
tanggal 21 September 2001. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pasar modal
Indonesia bereaksi negatif terhadap peristiwa peledakan tersebut. Penelitian
lainnya dilakukan oleh Christian Wulff (1999) tentang reaksi pasar modal
terhadap kebijakan aksi korporasi berupa stock split. Dari penelitiannya Wulff
menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan setelah
peristiwa stock split. Setyawan (2001) menggunakan peristiwa peledakan bom di
Bursa Efek Indonesia tanggal 13 September 2000 sebagai objek penelitiannya.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tedapat perbedaan yang signifikan
harga saham sebelum dan setelah peristiwa peledakan tersebut.
Berdasarkan masalah penelitian dikaitkan dengan landasan teori
sebagaimana dikemukan sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai hipotesi
penelitian bahwa Abnormal return saham di Bursa Efek Indonesia sebelum
pengunduran diri Menteri Keuangan berbeda secara signifikan dengan abnormal
return sesudah pengunduran diri.

METODE PENELITIAN
3.1 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh saham yang telah listing di
Bursa Efek Indonesia. Sedangkan sampel penelitian adalah saham-saham yang
termasuk dalam perhitungan Indeks LQ45 pada periode peristiwa penguduran diri
Menteri Keuangan. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah metode
purposive sampling, dengan kriteria sebagai berikut:
1. Saham-saham tersebut merupakan saham yang terdaftar dalam
perhitungan Indeks LQ45.
2. Selama periode pengamatan, saham-saham tersebut aktif
diperdagangkan.

6
3. Data harga saham historis saham-saham yang menjadi sampel penelitian
selama periode pengamatan tersedia secara lengkap di situs-situs
keuangan.

3.2 Teknik Pengumpulan Data


Data yang digunakan merupakan data sekunder yang dipublikasikan oleh
Bursa Efek Indonesia melalui situs websitenya. Dalam penelitian ini, penulis
melakukan pengamatan terhadap pergerakan harga saham harian perusahaan-
perusahaan yang termasuk dalam perhitungan indeks LQ45. Secara keseluruhan
data tersebut diperoleh penulis dengan cara mengunjungi situs keuangan dan pasar
modal modal di Indonesia seperti: www.idx.co.id dan www.finance.yahaoo.com.

3.3 Teknik Analisis Data


Indikator yang digunakan untuk melihat reaksi pasar modal Indonesia
terhadap peristiwa pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
tanggal 5 Mei 2010 adalah harga saham penutupan selama 15 hari bursa yang
akan dihitung return masing-masing. Data kemudian dibagi menjadi dua periode,
yaitu periode estimasi (estimation period) selama 9 hari bursa yang dimulai
tanggal 22 April hingga 4 Mei 2010 dan periode peristiwa (event period) selama 6
hari, yaitu: 3 hari sebelum peristiwa yakni tanggal 30 April, 3 dan 4 Mei 2010 dan
3 hari setelah peristiwa terjadi yakni tanggal 6, 7, 10 Mei 2010.

Periode Estimasi Periode Peristiwa

7
t-9 t-3 t0 t+3

Untuk memperoleh return harian masing-masing saham digunakan


persamaan berikut:
Pt Pt 1
Rt =
Pt 1

Dimana :
Rt : Return saham i harian pada hari t
Pt : Harga penutupan i saham hari t
Pt-1 : Harga penutupan saham i pada hari sebelumnya

Untuk memperoleh return pasar, maka digunakan data Indeks Harga


Saham Gabungan (IHSG). Adapun persamaaan yang digunakan adalah sebagai
berikut:
IHSGt IHSGt 1
Rmt
IHSGt 1

Dimana:
Rmt : Return IHSG pada hari t
IHSGt : IHSG pada hari ke t
IHSGt-1 : IHSG pada hari sebelumnya

Perhitungan Abnormal Return masing-masing saham digunakan persamaan


begai berikut (Jogianto, 2008: 550):

RTNi,t = Ri,t E[Ri,t]

Dimana :
RTNi,t : Abnormal return saham i pada hari ke -t
Ri,t : Actual return saham i pada hari ke -t
E[Ri,t] : Expected return saham i pada hari ke t

Pengujian abnormal return untuk setiap sekuritas dilakukan secara


keseluruhan dengan menguji rata-rata abnormal return dengan persamaan sebagai
berikut Jogianto, 2008: 561):

8
k

RTN it
RRTN t i 1

Dimana:
RRTNt : Rata-rata abnormal return pada hari ke-t
RTNi,t : Abnormal return sekuritas i pada hari ke-t
K : Jumlah sekuritas

Untuk melihat perbedaan rata-rata abnormal return sebelum dan setelah


peristiwa pengunduran diri Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulayani,
dilkukan pengujian menggunakan uji beda rata-rata paired samples t test.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dengan menggunakan model analisis tersebut diatas, perhitungan


abnormal return dan rata-rata abnormal return masing-masing saham yang
terdaftar dalam indeks LQ45 sebelum dan setelah peristiwa dapat dilihat pada
tabel 1.
Tabel 1 Abnormal Return dan Rata-Rata Abnormal Return
Rata-Rata
Abnormal
Hari Abnormal
Return
Return
-3 0,666469 0,014810
-2 -0,205428 -0,004565
-1 -0,365240 -0,008116
0 -1,948195 -0,043293
1 -0,481562 -0,010701
2 -1,427987 -0,031733
3 2,174521 0,048323
Sumber: Data Sekunder yang Diolah (2010)
Berdasarkan abnormal return seperti yang terlihat pada tabel 1 pada hari
peristiwa, yakni tanggal 5 Mei 2010 return rata-rata saham yang terdaftar dalam
indeks LQ45 adalah -0,043293 dan merupakan return negatif terbesar selama
event period. Diikuti oleh hari pertama setelah pengumuman sebesar -0,010701
dan hari berikutnya (hari ke-2 setelah peristiwa) dengan rata-rata abnormal return
sebesar -0,031733. Sedangkan pada hari ke-3 setelah peristiwa diumumkan,

9
abnormal return mejadi positif yakni sebesar 0,048323. Ini berarti bahwa para
pemegang saham di pasar modal tidak ingin berlarut-larut dengan berita buruk
yang mengkhawatirkan kondisi ekonomi Indonesia. Degan demikian, peristiwa
pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani tanggal 5 Mei 2010 merupakan
informasi buruk bagi para pemegang saham di pasar modal, tetapi peristiwa
tersebut hanya direspon sebagai bad news sealam dua hari setelah peristiwa terjadi
yaitu hari ke-2 dan hari ke-3.
Sebelum peristiwa pengunduran diri menteri keuangan diumumkan pada
tanggal 5 Mei 2010, informasi tersebut diduga telah tercium oleh para investor di
Bursa Efek Indonesia. Hal ini dapat diamati berdasarkan rata-rata abnormal
return sebelum peristiwa itu terjadi. Misalnya dua hari sebelum peristiwa, rata-
rata abnormal return saham-saham yang terdaftar dalam indeks LQ45 adalah
-0,004565 dan minus tersebut semakin besar satu hari sebelum peristiwa, yakni
-0,008116. Ini membuktikan bahwa investor benar-benar khawatir akan bad news
yang masuk ke pasar, sehingga pada hari berikutnya (H-1) mereka semakin cemas
jika peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Alasan lain negatifnya return saham
pada hari-hari sebelum pengumuman peristiwa disebabkan karena kekhawatiran
investor terhadap krisis keuangan di negara-negara bagian Eropa khususnya kasus
utang yang membelit Yunani. Kedua informasi buruk tersebut telah bercampur
yang berimplikasi anjloknya IHSG dan indeks LQ45.
Pada hari peristiwa tanggal 5 Mei 2010 investor panik terhadap
pengumuman pengunduran diri menteri keuangan dan terjadi panic selling berupa
aksi jual secara besar-besaran. Aksi jual ini ditengarai oleh investor-investor asing
yang memilih memegang dana tunai akibat kekhawatiran akan perekonomian
Indonesia.
Untuk melihat perbedaan rata-rata abnormal return sebelum dan setelah
peristiwa pengunduran diri Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulayani,
dilkukan pengujian menggunakan uji beda rata-rata paired samples t test. Hasil
pengujian tersebut dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2 Hasil Pengujian Paired Samples T Test
Sig. (2-
Paired Differences t df
tailed)

10
95% Confidence
Std.
Std. Interval of the
Mean Error
Deviation Difference
Mean
Lower Upper
Pair 1
-0,00038 0,05195 0,00774 -0,01937 0, 01185 -0,486 44 0,630
Sblm - Stlh

Sumber: Data Sekunder yang Diolah (2010)

Berdasarkan hasil pengujian uji-t sampel berpasangan atau paired sampel t


terst pada tabel di atas diperoleh nilai signifikan sebesar 0,630. Nilai signifikan
tersebut dibandingakan dengan tingkat signifikan yang ditetapkan sebesar 0,05.
Perbandingan nilai tersebut adalah 0,630 > 0,05 sehingga dapat diisimpukan
bahwa Ha ditolak dan menerima H0. Ini berati bahwa tidak terdapat perbedaan
yang signifikan antara rata-rata abnormal return sebelum dan setelah peristiwa
pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dari Kabinet
Indonesia Bersatu Jilid II. Tidak signifikannya rata-rata abnormal return tersebut
dapat dipengaruhi oleh isu-isu lain yang masuk ke pasar modal, sehingga
peristiwa pengunduran diri telah bercampur dengan isu-isu tersebut. Sebagai
contoh adalah masuknya informasi buruk tentang krisis hutang yang melanda
Yunani dimana pengumumannya hampir bersamaan dengan peristiwa
pengunduran diri menteri keungan tersebut. Selain itu terdapat juga kekhawatiran
pasar terhadap isu penggelapan pajak yang dilakukan oleh beberapa perusahaan
atau emiten yang sahamnya terdaftar dalam indeks LQ45, misalnya penggelapan
pajak yang dilakukan oleh Group Bakrie. Adapun anak perusahaan Group Bakrie
yang diduga melakukan skandal pajak antara lain: PT Bakrie & Brothers Tbk
(BNBR), PT Bakrie Telekom Tbk (BTEL), PT Bakrieland Development Tbk.
(ELTY), dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk dengan kode emiten UNSP.
Semua anak perusahaan Group Bakrie tersebut merupakan saham-saham blue
chip yang terdaftar dalam indeks LQ45. Sehingga secara teknikal bad news
skandal pajak yang masuk ke pasar mempengaruhi harga saham di pasar modal
dengan dampak penurunan harga saham.

PENUTUP

11
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas sebelumnya dapat
disimpulkan:
1. Pada hari peristiwa pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani tanggal 5
Mei 2010, rata-rata abnormal return emiten yang terdaftar dalam indeks LQ45
adalah sebesar -0,043293. Dengan kata lain pada hari peristiwa tersebut harga
saham emiten yang terdaftar dalam indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia
anjlok secara drastis.
2. Pada hari pertama dan kedua setelah peristiwa terjadi, harga saham harga
saham masih mengalami penurunan akibat berita buruk yang masuk ke pasar.
Hal ini dapat dilihat dari rata-rata abnormal return masing-masing yaitu,
-0,010701 pada H+1 dan -1,427987 pada H+2.
3. Pada hari ketiga setelah peristiwa, rata-rata abnormal return adalah 0,048323.
Ini menunjukkan bahwa investor di pasar modal Indonesia tidak ingin berlarut
dengan pengumuman informasi tersebut. Sehingga kepercayaan mereka
terhadap pasar kembali pulih dan menepis kekhawatiran terhadap merosotnya
perekonomian Indonesia seperti yang diduga oleh para analis.
4. Sebelum peristiwa pengunduran diri menteri keuangan diumumkan seperti
pada hari ke-2 sebelum peristiwa rata-rata abnormal return saham-saham yang
terdaftar dalam indeks LQ45 adalah -0,004565.
5. Pada hari pertama sebelum peristiwa (H-1) minus tersebut semakin besar yakni
-0,008116. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Informasi tersebut
diduga telah tercium oleh para investor di Bursa Efek Indonesia. Ini
membuktikan bahwa investor benar-benar khawatir akan bad news yang masuk
ke pasar, sehingga pada hari berikutnya (H-1) mereka semakin cemas jika
peristiwa tersebut benar-benar terjadi.

5.2 Saran
Beberapa hal yang disarankan berdasarkan hasil penelitian ini yang telah
dibahas sebelumnya antara lain:

12
1. Kepada para pelaku pasar modal disarankan untuk menyusun strategi tertentu
guna menyesuaikan diri terhadap peristiwa tertentu yang berdampak terhadap
pasar modal.
2. Kepada para investor diharapkan tidak ridak panik menghadapi peristiwa
tertentu, karena efek yang ditimbulkan oleh peristiwa tersebut hanya bersifat
sementara.
3. Penelitian ini terbatas hanya menggunakan indeks LQ45 sebagai acuan untuk
melihat reaski pasar terhadap peristiwa pengunduran Menteri Keuangan Sri
Mulyani, sehingga bagi para peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan
jumlah sampel yang lebih besar untuk melihat reaksi pasar terhadap peristiwa-
peristiwa lainnya.

Referensi

Anoraga, Pandji dan Piji Pikarti. (2001). Pengantar Pasar Modal. Jakarta: Rineka
Cipta.

13
Anwar, Chairul. (2004). Studi Peristiwa Reaksi Pasar Terhadap Pemilihan Umum
Tanggal 5 April 2004 pada Bursa Efek Jakarta. Jurnal Ekonomi dan
Bisnis. No 2. Jilid 9.

Arifin, Zaenal (2005) Teori Keuangan dan Pasar Modal. Yogyakarta: Ekonisia.
Budileksmana, Antariksa (2005) Fenomena the Monday Effect di Bursa Efek
Jakarta. Jurnal Simposium Nasional Akuntansi.Vol.III.
Darmadji, Tjiptono dan Hendy M. Fakhruddin. (2001) Pasar Modal Indonesia :
Pendekatan Tanya Jawab. Jakarta: Salemba Empat.

Fakhruddin, M dan Sopian, M. (2001) Perangkat dan Model Analisis Investasi


dipasar Modal. Buku Kesatu. Jakarta: Gramedia.

Hartono, Jogiyanto. (2008). Teori Portofolio Dan Analisis Investasi. Edisi Kelima.
Yogyakarta: BPFE.

Husnan, Suad (2005) Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi
keempat.Yogyakarta: (UPP) AMP YKPN.

Iramani dan Ansyori Mahdi (2006) Studi Pengaruh Hari Perdagangan Terhadap
Return Saham pada Bursa Efek Jakarta. Jurnal Ekonomi Akuntansi
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi PERBANAS Surabaya.

Nachrowi, Djalal Nachrowi dan Hardius Usman (2002) Penggunaan Teknik


Ekonometri: Pendekatan Populer dan Prektis dilengkapi Teknik Analisis
dan Pengolahan Data dengan Menggunakan Paket Program SPSS.
Jakarta: Rajawali Pers.

Metallica, Chandy. (2004). Reaksi Pasar Modal Indonesia Terhadap Peristiwa


Peledakan Hotel JW Marriott Jakarta 5 Agustus 2003. Skripsi
Universitas Syiah Kuala.

Porman, Andy Tambunan. (2007) Menilai Harga Wajar Saham. Jakarta: Elex
Media Komputindo.

Samsul, Mohammad. (2006). Pasar Modal Dan Manajemen Portofolio. Edisi


Pertama. Jakarta: Erlangga.
Siamat, Dahlan. (2005) Manajemen Lembaga Keuangan: Kebijakan Moneter dan
Perbankan. Edisi Kelima. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.

Sunariyah. (2006) Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Edisi ketiga.


Yogyakarta: (UPP) AMP YKPN.

14