Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH ETIKA PROFESI

PELANGGARAN ETIKA
YANG DILAKUKAN DOKTER

DISUSUN OLEH
KELOMPOK III :

1. ALFREDI STIRA BATOLU


2. HUSNUL HOTIMAH
3. MEGA MUSTIKA
4. PIPID CIPTANINGRUM
5. RANTIKA

PEMBIMBING :
LISTIANA, Ssi. Apt.

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI


ISTI EKATANA UPAWEDA
YOGYAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. Kode Etik Kedokteran


Dokter adalah pihak yang mempunyai keahlian di bidang kedokteran. Pada
kedudukan ini, dokter adalah orang yang dianggap pakar dalam bidang kedokteran.
Dokter adalah orang yang memiliki kewenangan dan izin sebagaimana mestinya untuk
melakukan pelayanan kesehatan, khususnya memeriksa dan mengobati penyakit dan
dilakukan menurut hukum dalam pelayanan kesehatan. Dokter dan dokter gigi adalah
dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter gigi spesialis lulusan pendidikan
kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh
Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kedokteran (Inggris: medicine) adalah suatu ilmu dan seni yang mempelajari tentang
penyakit dan cara-cara penyembuhannya. Ilmu kedokteran adalah cabang ilmu kesehatan
yang mempelajari tentang cara mempertahankan kesehatan manusia dan mengembalikan
manusia pada keadaan sehat dengan memberikan pengobatan pada penyakit dan cedera.
Ilmu ini meliputi pengetahuan tentang sistem tubuh manusia dan penyakit serta
pengobatannya, dan penerapan dari pengetahuan tersebut.
Etika kedokteran merupakan seperangkat perilaku anggota profesi kedokteran dalam
hubungannya dengan klien/pasien, teman sejawat dan masyarakat umumnya serta
merupakan bagian dari keseluruhan proses pengambilan keputusan dan tindakan medic
ditinjau dari segi norma-norma/nilai-nilai moral. Kode etik kedokteran Indonesia terdiri
atas empat kelompok, yaitu:

1. Kewajiban Umum
Pasal 1
Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah
dokter.
Pasal 2
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan
standar profesi yang tertinggi.
Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi
oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
Pasal 4
Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.
Pasal 5

1
Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun
fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh
persetujuan pasien.
Pasal 6
Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan
setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan
hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
Pasal 7
Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa
sendiri kebenarannya.
Pasal 7a
Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis
yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih
sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.
Pasal 7b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan
sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui
memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan
penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien.
Pasal 7c
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak
tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien.
Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup
makhluk insani.
Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan
masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh
(promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta
berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.

Pasal 9
Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan
bidang lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.

2. Kewajiban Dokter Terhadap Pasien


Pasal 10
Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan
keterampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia

2
wajib menujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit
tersebut.
Pasal 11
Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam
masalah lainnya.
Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
Pasal 13
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas
perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu
memberikannya.

3. Kewajiban Dokter Terhadap Teman Sejawat


Pasal 14
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin
diperlakukan.
Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.

4. Kewajiban Dokter Terhadap Diri Sendiri


Pasal 16
Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.
Pasal 17
Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi kedokteran/kesehatan.

B. Undang-undang Kedokteran
Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran yang
selanjutnya disebut dengan UUPK merupakan dasar hukum bagi profesi dokter dan
penyelenggaraan praktik kedokteran selain Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
Tentang Kesehatan (UUK). Adapun tujuan dari UUPK tersebut ialah untuk memberikan
perlindungan hukum bagi para dokter dalam melakukan pekerjaannya dan juga bagi
masyarakat/pasien yang menggunakan jasa dari para dokter. Dokter merupakan tenaga
medis yang menjadi pusat dalam upaya melakukan pelayanan kesehatan. Melihat begitu
besarnya peran dokter dalam bidang kesehatan, sudah seharusnya profesi dokter
mendapatkan perlindungan hukum dalam menjalankan pekerjaannya. Sepanjang
melakukan perkerjaannya sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur

3
operasional, berdasarkan ketentuan Pasal 50 UUPK dokter berhak mendapatkan
perlindungan hukum dari adanya tuntutan hukum terhadap dirinya.
Perjanjian antara dokter dengan pasien dalam pelayanan medis yang sering disebut
dengan perjanjian terapeutik melahirkan hubungan hukum yang menimbulkan hak dan
kewajiban bagi kedua pihak. Perjanjian terapeutik memiliki sifat atau ciri yang khusus
dari perjanjian pada umumnya. Salah satu kekhususan perjanjian ini ialah berupa upaya
penyembuhan oleh dokter dengan mencari terapi yang tepat untuk penyembuhan
pasiennya.
Pasal 45 UUPK menentukan sebelum terjadinya kesepakatan antara dokter dengan
pasien terkait tindakan medis yang akan dilakukan, dokter harus memperoleh persetujuan
tindakan medis dari pasien melalui proses komunikasi yang disebut informed consent.
Informed consent merupakan persetujuan yang diberikan oleh pasien dan/atau
keluarganya atas dasar informasi dan penjelasan mengenai tindakan medis yang akan
dilakukan terhadap pasien tersebut. Informed consent dalam ketentuan Pasal 45 ayat (3)
UUPK berisi informasi atau penjelasan yang berupa diagnosis dan tata cara tindakan
medis, tujuan tindakan medis yang dilakukan, alternatif tindakan lain dan risikonya,
risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dan prognosis terhadap tindakan yang
dilakukan. Seorang dokter tidak boleh memaksakan kehendaknya terhadap pasien,
walaupun itu sesuai dengan keilmuannya maupun demi kepentingan si pasien itu sendiri.
C. Tugas Dokter
Dokter adalah seorang tenaga kesehatan (dokter) yang menjadi tempat kontak
pertama pasien dengan dokternya untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan yang
dihadapi tanpa memandang jenis penyakit, organologi, golongan usia, dan jenis kelamin,
sedini dan sedapat mungkin, secara menyeluruh, paripurna, bersinambung, dan dalam
koordinasi serta kolaborasi dengan profesional kesehatan lainnya, dengan menggunakan
prinsip pelayanan yang efektif dan efisien serta menjunjung tinggi tanggung jawab
profesional, hukum, etika dan moral. Tugas seorang dokter adalah meliputi hal-hal
sebagai berikut:
a. Melakukan pemeriksaan pada pasien untuk mendiagnosa penyakit pasien secara
cepat dan memberikan terapi secara cepat dan tepat.
b. Memberikan terapi untuk kesembuhan penyakit pasien.
c. Memberikan pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat sehat dan
sakit.
d. Menangani penyakit akut dan kronik.
e. Menyelenggarakan rekam medis yang memenuhi standar.
f. Melakukan tindakan tahap awal kasus berat agar siap dikirim ke RS.

4
g. Tetap bertanggungjawab atas pasien yang dirujukan ke Dokter Spesialis atau dirawat
di RS dan memantau pasien yang telah dirujuk atau di konsultasikan.
h. Bertindak sebagai mitra, penasihat dan konsultan bagi pasiennya.
i. Memberikan nasihat untuk perawatan dan pemeliharaan sebagai pencegahan sakit.
j. Seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran, pengobatan pasien sekarang harus
komprehensif, mencakup promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Dokter berhak
dan juga berkewajiban melakukan tindakan tersebut untuk kesehatan pasien.
Tindakan promotif misalnya memberikan ceramah, preventif misalnya melakukan
vaksinasi, kuratif memberikan obat/tindakan operasi, rehabilitatif misalnya
rehabilitasi medis.
k. Membina keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam upaya peningkatan taraf
kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan rehabilitasi.
l. Mawas diri dan mengembangkan diri/belajar sepanjang hayat dan melakukan
penelitian untuk mengembangkan ilmu kedokteran.
m. Tugas dan hak eksklusif dokter untuk memberikan Surat Keterangan Sakit dan Surat
Keterangan Berbadan Sehat setelah melakukan pemeriksaan pada pasien.

D. Hak dan Kewajiban Dokter


Sesuai dengan Undang-undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal
50, dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak:
a. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur operasional;
b. memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur
operasional;
c. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan
d. menerima imbalan jasa.

Sedangkan dalam Undang-undang yang sama pada pasal 51, dokter atau dokter gigi
dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban:
a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional serta kebutuhan medis pasien;
b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan
atau pengobatan;
c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah
pasien itu meninggal dunia;
d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada
orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan
e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau
kedokteran gigi.

5
E. Pelanggaran Kode Etik Dokter
1. Pengertian Pelanggaran Kode Etik Profesi
Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara
tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik
bagi profesional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah,
perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari dan sekaligus
menjamin mutu profesi itu di mata masyarakat. Jadi kalau pelanggaran kode etik
profesi berarti pelanggaran atau penyelewengan terhadap sistem norma, nilai dan
aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik,
dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi suatu profesi dalam masyarakat.

2. Penyebab Pelanggaran Kode Etik Profesi


a. Pengaruh Sifat Kekeluargaan. Misalnya, yang melakukan pelanggaran adalah
keluarga atau dekat hubungan kekerabatannya dengan pihak yang berwenang
memberikan sanksi terhadap pelanggaran kode etik pada suatu profesi, maka ia
akan cenderung untuk tidak memberikan sanksi kepada kerabatnya yang telah
melakukan pelanggaran kode etik tersebut.
b. Pengaruh Jabatan. Misalnya yang melaukan pelanggaran kode etik profesi itu
adalah pimpinan atau orang yang memiliki kekuasaan yang tinggi pada profesi
tersebut, maka bisa jadi orang lain yang posisi dan kedudukannya berada di
bawah orang tersebut, akan enggan untuk melaporkan kepada pihak yang
berwenang memberikan sanksi, karena kekhawatiran akan berpengaruh kepada
jabatan dan posisinya pada profesi tersebut.
c. Lemahnya Penegakan Hukum. Pengaruh masih lemahnya penegakan hukum di
Indonesia, sehingga menyebabkan pelaku pelanggaran kode etik profesi tidak
merasa khawatir melakukan pelanggaran.
d. Tidak berjalannya kontrol dan pengawasan dari masyarakat.
e. Organisasi profesi tidak dilengkapi dengan sarana dan mekanisme bagi
masyarakat untuk menyampaikan keluhan.
f. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai substansi kode etik profesi,
karena buruknya pelayanan sosialisasi dari pihak profesi sendiri.
g. Belum terbentuknya kultur dan kesadaran dari para pengemban profesi untuk
menjaga martabat luhur profesinya.
h. Tidak adanya kesadaran etis dan moralitas diantara para pengemban profesi
untuk menjaga martabat luhur profesinya.

3. Upaya Mencegah Pelanggaran Kode Etik Profesi

6
a. Klausul Penundukan pada Undang-undang
1) Setiap undang-undang mencantumkan dengan tegas sanksi yang
diancamkan kepada pelanggarnya. Dengan demikian, menjadi
pertimbangan bagi warga, tidak ada jalan lain kecuali taat, jika terjadi
pelanggaran berarti warga yang bersangkutan bersedia dikenai sanksi yang
cukup memberatkan atau merepotkan baginya. Ketegasan sanksi undang-
undang ini lalu diproyeksikan dalam rumusan kode etik profesi yang
memberlakukan sanksi undang-undang kepada pelanggarnya.
2) Dalam kode etik profesi dicantumkan ketentuan: "Pelanggar kode etik dapat
dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku".

b. Legalisasi Kode Etik Profesi


1) Dalam rumusan kode etik dinyatakan, apabila terjadi pelanggaran,
kewajiban mana yang cukup diselesaikan oleh Dewan Kehormatan, dan
kewajiban mana yang harus diselesaikan oleh pengadilan.
2) Untuk memperoleh legalisasi, ketua kelompok profesi yang bersangkutan
mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat agar
kode etik itu disahkan dengan akta penetapan pengadilan yang berisi
perintah penghukuman kepada setiap anggota untuk mematuhi kode etik
itu.
3) Jadi, kekuatan berlaku dan mengikat kode etik mirip dengan akta
perdamaian yang dibuat oleh hakim. Apabila ada yang melanggar kode etik,
maka dengan surat perintah, pengadilan memaksakan pemulihan itu.

7
BAB II
PEMBAHASAN

A. Contoh Kasus Pelanggaran Kode Etik Kedokteran


Inilah Kronologi Kasus Penangkapan Dokter Ayu
helath.liputan6.com/read/749395/inilah-kronologi-kasus-penangkapan-dokter-ayu

Mencuatnya kasus dipidanakannya dokter spesialis kebidanan dan kandungan, Dewa


Ayu Sasiary Prawani dalam kasus malapraktik terhadap korban Julia Fransiska Makatey
(25), masih belum menemukan titik terang. Untuk mengetahui lebih jelas kronologi
kasusnya, berikut ulasan yang diuraikan Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan
Ginekologi Indonesia (POGI), Dr Nurdadi Saleh, SpOG beberapa waktu lalu:

10 April 2010
Korban, Julia Fransiska Makatey (25) merupakan wanita yang sedang hamil anak
keduanya. Ia masuk ke RS Dr Kandau Manado atas rujukan puskesmas. Pada waktu itu,
ia didiagnosis sudah dalam tahap persalinan pembukaan dua.
Namun setelah delapan jam masuk tahap persalinan, tidak ada kemajuan dan justru
malah muncul tanda-tanda gawat janin, sehingga ketika itu diputuskan untuk dilakukan
operasi caesar darurat.
"Saat itu terlihat tanda tanda gawat janin, terjadi mekonium atau bayi mengeluarkan
feses saat persalinan sehingga diputuskan melakukan bedah sesar," ujarnya.
Tapi yang terjadi menurut dr Nurdadi, pada waktu sayatan pertama dimulai, pasien
mengeluarkan darah yang berwarna kehitaman. Dokter menyatakan, itu adalah tanda
bahwa pasien kurang oksigen.
"Tapi setelah itu bayi berhasil dikeluarkan, namun pasca operasi kondisi pasien
semakin memburuk dan sekitar 20 menit kemudian, ia dinyatakan meninggal dunia,"
ungkap Nurdadi, seperti ditulis Senin (18/11/2013).

15 September 2011
Atas kasus ini, tim dokter yang terdiri atas dr Ayu, dr Hendi Siagian dan dr Hendry
Simanjuntak, dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) hukuman 10 bulan penjara karena
laporan malpraktik keluarga korban. Namun Pengadilan Negeri (PN) Manado
menyatakan ketiga terdakwa tidak bersalah dan bebas murni.
"Dari hasil otopsi ditemukan bahwa sebab kematiannya adalah karena adanya
emboli udara, sehingga mengganggu peredaran darah yang sebelumnya tidak diketahui
oleh dokter. Emboli udara atau gelembung udara ini ada pada bilik kanan jantung pasien.
Dengan bukti ini PN Manado memutuskan bebas murni," tutur dr Nurdadi.

8
Tapi ternyata kasus ini masih bergulir karena jaksa mengajukan kasasi ke Mahkamah
Agung yang kemudian dikabulkan.

18 September 2012
Dr. Dewa Ayu dan dua dokter lainnya yakni dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy
Siagian akhirnya masuk daftar pencarian orang (DPO).

11 Februari 2013
Keberatan atas keputusan tersebut, PB POGI melayangkan surat ke Mahkamah
Agung dan dinyatakan akan diajukan upaya Peninjauan Kembali (PK).
Dalam surat keberatan tersebut, POGI menyatakan bahwa putusan PN Manado
menyebutkan ketiga terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan kalau ketiga
dokter tidak bersalah melakukan tindak pidana. Sementara itu, Majelis Kehormatan dan
Etika Profesi Kedokteran (MKEK) menyatakan tidak ditemukan adanya kesalahan atau
kelalaian para terdakwa dalam melakukan operasi pada pasien.

8 November 2013
Dr Dewa Ayu Sasiary Prawan (38), satu diantara terpidana kasus malapraktik
akhirnya diputuskan bersalah oleh Mahkamah Agung dengan putusan 10 bulan penjara.
Ia diciduk di tempat praktiknya di Rumah Sakit Ibu dan Anak Permata Hati, Balikpapan
Kalimantan Timur (Kaltim) oleh tim dari Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Kejari
Manado sekitar pukul 11.04 Wita.
Sementara kedua dokter lainnya yakni dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy Siagian
masih dicari. Menurut keterangan nurdadi, kedua dokter tersebut sedang melakukan
pelatihan.

B. Penyelesaian Kasus
Secara hukum terdapat beberapa sanksi yang akan diberikan kepada pelaku
malpraktek:

1. Sanksi Pidana

9
Dalam Kitab-Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) kelalaian yang
mengakibatkan celaka atau bahkan hilangnya nyawa orang lain. Pasal 359 KUHP
misalnya menyebutkan, "Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan matinya
orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan
paling lama satu tahun". Sedangkan kelalaian yang mengakibatkan terancamnya
keselamatan jiwa seseorang dapat diancam dengan sanksi pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 360 Kitab-Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP):
(1) Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka
berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan
paling lama satu tahun.
(2) Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian
rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan
atau pencaharian selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan bulan atau kurungan paling lama enam bulan atau denda paling
tinggi tiga ratus rupiah.

2. Sanksi Perdata
Tindakan malpraktik juga dapat berimplikasi pada gugatan perdata oleh
seseorang (pasien) terhadap dokter yang dengan sengaja (dolus) telah menimbulkan
kerugian kepada pihak korban, sehingga mewajibkan pihak yang menimbulkan
kerugian (dokter) untuk mengganti kerugian yang dialami kepada korban,
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1365 Kitab-Undang-Undang Hukum Perdata
(KUHPerdata): "Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian pada
seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu,
mengganti kerugian tersebut." Sedangkan kerugian yang diakibatkan oleh kelalaian
(culpa) diatur oleh Pasal 1366 KUHPdt yang berbunyi: "Setiap orang bertanggung
jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk
kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya." KUH Perdata 1370:
Dalam hal pembunuhan (menyebabkan matinya orang lain) dengan sengaja atau
kurang hati-hatinya seseorang, maka suami dan istri yang ditinggalkan, anak atau
orang tua korban yang biasanya mendapat nafkah dari pekerjaan korban, mempunyai
hak untuk menuntut suatu ganti rugi, yang harus dinilai menurut kedudukannya dan
kekayaan kedua belah pihak serta menurut keadaan.

3. Sanksi Administrasi

10
Undang-Undang RI No. 29 Tahun 2004 Pasal 66:
(1) Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan
dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat
mengadukan secara tertulis kepada Ketua Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia.
(2) Pengaduan sekurang-kurangnya harus memuat:
a. Identitas pengadu
b. Nama dan alamat tempat praktik dokter atau dokter gigi dan waktu tindakan
dilakukan.
c. Alasan pengaduan.
(3) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 tidak menghilangkan
hak setiap orang untuk melaporkan adanya dugaan tindak pidana kepada pihak
yang berwenang dan atau menggugat kerugian perdata ke pengadilan.

Pasal 69:
(1) Keputusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia mengikat dokter,
dokter gigi dan Konsil Kedokteran Indonesia.
(2) Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa dinyatakan tidak
bersalah atau pemberian sanksi disiplin.
(3) Sanksi disiplin sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 dapat berupa:
a. Pemberian peringatan tertulis.
b. Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik.
c. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan
kedokteran atau kedokteran gigi.

Kelalaian dokter tersebut terbukti merupakan malpraktik yang mengakibatkan


terancamnya keselamatan jiwa dan atau hilangnya nyawa orang lain maka
pencabutan hak menjalankan pencaharian (pencabutan izin praktik) dapat dilakukan
sebagai sanksi administrasi.
Tiga dokter yang diduga melakukan malpraktek terhadap korban Siska Makatey
diputus bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Manado, Jumat (23/9).
Majelis Hakim PN Manado dalam putusannya menyatakan bahwa Dewa Ayu
Sasiary Prawani, Hendry Simanjuntak, dan Hendy Siagian tidak terbukti secara sah
dan meyakinkan melakukan malpraktek seperti yang didakwakan oleh Jaksa
Penuntut Umum (JPU) Theodorus Rumampuk dan Maryanti Lesar. Majelis Hakim
dalam pertimbangan hukum menyebutkan bahwa JPU tidak dapat membuktikan
dalil dakwaan resiko terburuk akibat operasi. Ketiga terdakwa juga tidak ditemukan
melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan operasi terhadap korban

11
alm. Siska Makatey. Menurut Majelis Hakim, baik dakwaan primair maupun
dakwaan subsidair yang diajukan JPU terhadap ketiga terdakwa tidak dapat
dibuktikan, karena itu ketiga terdakwa harus dibebaskan. Selain itu, dakwaan
subsidair dan dakwaan alternatif juga tidak dapat dibuktikan sehingga para terdakwa
dibebaskan dari segala tuntutan hukum.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan bahasan dan hasil keputusan persidangan bahwa dugaan malpraktek
yang dilakukan tiga dokter ,yakni dokter dewa Ayu Sasiary Prawani , Dr. Hendry
Simanjutak, dan Dr. Hendy Siagian yang dilakukan kepada Siska Makatey diputus tidak
bersalah oleh hakim PN Manado, karena tidak terbukti secara sah dan meyakinkan
melakukan malpraktek.

B. Saran
Menurut pendapat kami supaya kejadian tersebut tidak terjadi lagi, diharapkan
supaya:
1. Seorang Dokter itu harus bersikap hati-hati, bersikap sewajarnya dalam melakukan
tugasnya dan harus teliti dalam melakukan observasi terhadap pasien supaya tidak
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti contoh kasus malpraktek di atas.
2. Semua tenaga kesehatan, baik dokter, bidan ataupun yang lainnya harus memahami
betul apa-apa yang menjadi kewenangannya dan apa-apa pula yang bukan menjadi
kewenangan dari profesinya. Peraturan Perundang-undangan yang telah disusun
sedemikian rupa dan diadakan pembaharuan, janganlah hanya dianggap sebagai
peraturan tertulis semata, namun harus di patuhi dan dilaksanakan dengan sebaik-
baiknya.
3. Selain itu kasus malpraktek ini dapat dicegah apabila pihak pasien, dokter dan
rumah sakit saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing. Realisasi
perlindungan hak pasien dapat dilakukan antara lain dengan cara mewajibkan dokter
memberikan informasi yang jelas dan lengkap kepada pasien, serta memberi
kesempatan kepada pasien untuk memilih melalui hak persetujuan atau penolakan
atas tindakan medis.
4. Upaya pencegahan terjadinya malpraktik tersebut dapat juga dilakukan melalui
pembenahan majemen rumah sakit, meningkatkan ketelitian dalam menjalankan
profesi kedokteran serta memperdalam segala macam pengetahuan tentang berbagai
macam tindakan pelayanan kesehatan.

13
DAFTAR PUSTAKA

KODE ETIK PROFESI DOKTER


https://batambest.files.wordpress.com/2012/05/etika-profesi-dokter-isi-presentasi2.pdf

KODE ETIK KEDOKTERAN


luk.staff.ugm.ac.id/atur/sehat/Kode-Etik-Kedokteran.pdf

MASALAH PENYELESAIAN KASUS PENGADUAN PASIEN


Pustaka.unpad.ac.id/wp.content/uploads/2009/08/masalah_penyelesaian_kasus_pengaduan_p
asien.pdf

UU NO. 29 TAHUN 2004


ropeg.kemkes.go.id/documents/uu_29_2004.pdf

PENGERTIAN DOKTER DAN TUGAS DOKTER


http://somelus.wordpress.com/2008/11/26/pengertian-dokter-dan-tugas-dokter/

14