Anda di halaman 1dari 10

1

PRINSIP DAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Pengembangan Bahan Ajar PKn SD
yang dibina oleh Ibu Prof. Dr. Ruminiati, M.Si

Oleh

Indah Puspita Ningrum


142103806884

Irwan Hidayat
142103807042

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR
Februari 2015
BAB II
2

PEMBAHASAN

A. PRINSIP PENGEMBANGAN BAHAN AJAR


Prastowo (2011:60) mengemukakan bahwa materi yang dikembangkan dalam bahan ajar
terdiri dari:
1. Fakta
Segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama objek, peristiwa
sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama komponen suatu benda, dan sebagainya.
Contoh dalam mata pelajaran Sejarah: Peristiwa sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 dan
pembentukan Pemerintahan Indonesia.

2. Konsep
Segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran,
meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti /isi dan sebagainya. Contoh, dalam
mata pelajaran Biologi: Hutan hujan tropis di Indonesia sebagai sumber plasma nutfah,
Usaha-usaha pelestarian keanekargaman hayati Indonesia secara in-situ dan ex-situ, dsb.

3. Prinsip
Berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil, rumus, adagium,
postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antarkonsep yang menggambarkan implikasi
sebab akibat. Contoh, dalam mata pelajaran Fisika: Hukum Newton tentang gerak, Hukum 1
Newton, Hukum 2 Newton, Hukum 3 Newton, Gesekan Statis dan Gesekan Kinetis, dan
sebagainya.

4. Prosedur
Langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi
suatu sistem. Contoh, dalam mata pelajaran TIK: Langkah-langkah mengakses internet, trik
dan strategi penggunaan Web Browser dan Search Engine, dan sebagainya.

5. Sikap atau Nilai


Merupakan hasil belajar aspek sikap, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-
menolong, semangat dan minat belajar dan bekerja, dsb. Contoh, dalam mata pelajaran
Geografi: Pemanfaatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan, yaitu pengertian
lingkungan, komponen ekosistem, lingkungan hidup sebagai sumberdaya, pembangunan
berkelanjutan.
3

Dalam mengembangkan bahan ajar tentu perlu memperhatikan prinsip-prinsip


pembelajaran.Gafur (2004) menjelaskan bahwa beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam
penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran diantaranya meliputi prinsip relevansi,
konsistensi, dan kecukupan. Ketiga penerapan prinsip-prinsip tersebut dipaparkan sebagai
berikut:
1. Prinsip Relevancy/Kesesuaian
Dalam prinsip relevansi terdapat kaitan, hubungan, atau bahkan ada jaminan bahwa bahan
ajar yang dipilih itu menunjang tercapainya kompetensi yang dibelajarkan (KD, SK). Cara
termudah ialah dengan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai
siswa. Dengan prinsip dasar ini, guru akan mengetahui apakah materi yang hendak diajarkan
tersebut materi fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap atau aspek psikomotorik sehingga
pada gilirannya guru terhindar dari kesalahan pemilihan jenis materi yang tidak relevan
dengan pencapaian SK dan KD.

2. Prinsip Konsistency/Keajegan
Dalam prinsip konsistensi terdapat kesesuaian (jumlah/banyaknya) antara kompetensi dan
bahan ajar; jika kompetensi dasar yang ingin dibelajarkan mencakup keempat keterampilan
berbahasa, bahan yang dipilih/dikembangkan juga mencakup keempat hal itu.

3. Prinsip Adequacy/Kecukupan
Dalam prinsip kecukupan bahan ajar yang dipilih/ dikembangkan ada jaminan memadai/
mencukupi untuk mencapai kompetensi yang dibelajarkan; tidak terlalu sedikit sehingga
kurang menjamin tercapainya KD/SK. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh
terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai SK dan KD. Sebaliknya,
jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk
mempelajarinya.
Adapun dalam pengembangan materi pembelajaran guru harus mampu mengidentifikasi
materi pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:

1. potensi peserta didik;


2. relevansi dengan karakteristik daerah;
3. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
4. kebermanfaatan bagi peserta didik;
5. struktur keilmuan;
6. aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
4

7. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan


8. alokasi waktu
Dalam pengembangan bahan ajar hendaklah seorang guru memperhatikan prinsip-prinsip
pembelajaran (Depdiknas, 2008:11). Prinsip pembelajaran tersebut meliputi:

1. Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami
yang abstrak
Siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep tertentu apabila penjelasan dimulai dari
yang mudah atau sesuatu yang kongkret, sesuatu yang nyata ada di lingkungan mereka.
Misalnya untuk menjelaskan konsep pasar, maka mulailah siswa diajak untuk berbicara
tentang pasar yang terdapat di tempat mereka tinggal. Setelah itu, kita bisa membawa mereka
untuk berbicara tentang berbagai jenis pasar lainnya.

2. Pengulangan akan memperkuat pemahaman


Dalam pembelajaran, pengulangan sangat diperlukan agar siswa lebih memahami suatu
konsep. Dalam prinsip ini kita sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa 5 x 2 lebih
baik daripada 2 x 5. Artinya, walaupun maksudnya sama, sesuatu informasi yang diulang-
ulang, akan lebih berbekas pada ingatan siswa. Namun pengulangan dalam penulisan bahan
belajar harus disajikan secara tepat dan bervariasi sehingga tidak membosankan.

3. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa


Seringkali kita menganggap enteng dengan memberikan respond yang sekedarnya atas hasil
kerja siswa. Padahal respond yang diberikan oleh guru terhadap siswa akan menjadi
penguatan pada diri siswa. Perkataan seorang guru seperti ya benar atau ya kamu pintar
atau,itu benar, namun akan lebih baik kalau begini... akan menimbulkan kepercayaan diri
pada siswa bahwa ia telah menjawab atau mengerjakan sesuatu dengan benar. Sebaliknya,
respond negatif akan mematahkan semangat siswa. Untuk itu, jangan lupa berikan umpan
balik yang positif terhadap hasil kerja siswa.

4. Motivasi belajar yang tinggi adalah salah satu faktor penentu keberhasilan belajar
Seorang siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan lebih berhasil dalam belajar. Untuk
itu, maka salah satu tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah memberikan
dorongan (motivasi) agar siswa mau belajar. Banyak cara untuk memberikan motivasi, antara
5

lain dengan memberikan pujian, memberikan harapan, menjelas tujuan dan manfaat, memberi
contoh, ataupun menceritakan sesuatu yang membuat siswa senang belajar.

5. Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian
tertentu
Pembelajaran adalah suatu proses yang bertahap dan berkelanjutan. Untuk mencapai suatu
standard kompetensi yang tinggi, perlu dibuatkan tujuan-tujuan antara. Ibarat anak tangga,
semakin lebar anak tangga semakin sulit kita melangkah, namun juga anak tangga yang
terlalu kecil terlampau mudah melewatinya. Untuk itu, maka guru perlu menyusun anak
tangga tujuan pembelajaran secara pas, sesuai dengan karakteristik siswa. Dalam bahan ajar,
anak tangga tersebut dirumuskan dalam bentuk indikator-indikator kompetensi.

6. Mengetahui hasil yang telah dicapai mendorong siswa untuk terus mencapai tujuan
Ibarat menempuh perjalanan jauh, untuk mencapai kota yang dituju, sepanjang perjalanan kita
akan melewati kota-kota lain. Kita akan senang apabila pemandu perjalanan kita
memberitahukan setiap kota yang dilewati, sehingga kita menjadi tahu sudah sampai di mana
dan berapa jauh lagi kita akan berjalan. Demikian pula dalam proses pembelajaran, guru
ibarat pemandu perjalanan. Pemandu perjalanan yang baik, akan memberitahukan kota tujuan
akhir yang ingin dicapai, bagaimana cara mencapainya, kota-kota apa saja yang akan dilewati,
dan memberitahukan pula sudah sampai di mana dan berapa jauh lagi perjalanan. Dengan
demikian, semua peserta dapat mencapai kota tujuan dengan selamat. Dalam pembelajaran,
setiap anak akan mencapai tujuan tersebut dengan kecepatannya sendiri, namun mereka
semua akan sampai kepada tujuan meskipun dengan waktu yang berbeda-beda. Inilah
sebagian dari prinsip belajar tuntas.

B. PENDEKATAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR


Terdapat beberapa pendekatan dalam desain pengembangan bahan ajar, pendekatan
tersebut meliputi pendekatan kronologis, pendekatan kausal, pendekatan strukural, pendekatan
logis dan psikologi, pendekatan spiral, dan pendekatan hierarkis.
1. Pendekatan Kronologis
Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan materi pembelajaran. Materi
pembelajaran tersebut disusun dalam pokok-pokok bahasan dan sub-sub pokok bahasan, yang
mengandung ide-ide pokok sesuai dengan kompetensi dan tujuan pembelajaran. Pokok-pokok
bahasan dan sub-sub pokok bahasan tersebut harus jelas skope dan sekuensinya. Skope adalah
ruang lingkup dan batasan-batasan keluasan setiap pokok dan sub pokok bahasan, sedangkan
6

sekuensi adalah urutan logis dari setiap pokok dan sub pokok bahasan. Pengembangan skope
dan sekuensi ini bisa dilakukan oleh masing-masing guru mata pelajaran, dan bisa
dikembangkan dalam kelompok kerja guru (KKG) untuk setiap mata pelajaran. (Mulyasa,
2002 :96)
Sebagai pedoman penyusunan sekuensi bahan ajar, Syaodih dalam Mulyasa (2002)
berpendapat bahwa untuk menyusun bahan ajar yang mengandung urutan waktu, dapat
digunakan kronologis. Peristiwa-peristiwa sejarah, perkembangan historis suatu institusi,
penemuan-penemuan ilmiah dan sebagainya dapat disusun berdasarkan sekuens kronologis.
Penyusunan bahan ajar berhubungan erat dengan strategi atau metode pembelajaran. Pada
waktu perancang atau pembelajar menyusun urutan suatu bahan ajar, juga harus memikirkan
strategi pembelajaran mana yang sesuai untuk menyajikan bahan ajar dengan urutan seperti
itu.

2. Pendekatan Kausal
Menurut Syaodih (1997), Sekuens kausal berhubungan dengan sekuens kronologis.
Peserta didik dihadapkan pada peristiwa-peristiwa atau situasi yang menjadi sebab atau
pendahulu dari pada sesuatu peristiwa atau situasi lain. Dengan mempelajari sesuatu yang
menjadi sebab atau pendahulu, para peserta didik akan menemukan akibatnya. Menurut
Rowntree (1974), sekuens kausal cocok untuk menyusun bahan ajar dalam bidang
meteorologi dan geomorfologi. Dalam Modern Epidemiology, Rithman dan Greenland
mengilustrasikan proses pemahaman terhadap penyebab dengan deskripsi dari seorang anak
yang belajar menggerakkan tombol yang menyebabkan lampu menyala. Tetapi apa yang kami
ambil sebagai penyebab tergantung pada tingkat dimana kita mencari pemahaman atau
konstituensi yang kami perlihatkan. Karena itu: Seorang Ibu yang mengganti bola lampu yang
terbakar mungkin akan melihat bahwa tindakannya adalah penyebab dari menyalanya lampu,
bukan karena dia menolak fakta bahwa hal tersebut adalah efek dari dipasangnya tombol
lampu pada posisi menyala, tetapi karena fokus yang diamatinya berbeda.
Untuk sebab-sebab seperti ini, sumber-sumber utama dalam epidemiologi harus
disimpulkan, melalui: mengajukan model-model konseptual (hipotesis konseptual); deduksi
dari spesifik, hipotesis operasional; dan menguji hipotesis operasional tersebut.

3. Pendekatan Struktural
7

Menurut Syaodih dalam Mulyasa (2002) bahwa bagian-bagian bahan ajar sesuatu bidang
studi telah mempunyai struktural tertentu. Penyusunan sekuens bahan ajar bidang studi
tersebut perlu disesuaikan dengan strukturnya. Dalam fisika tidak mungkin mengajarkan alat-
alat optik, tanpa terlebih dahulu diajarkan pemantulan dan pembiasan cahaya, dan pemantulan
dan pembiasan cahaya tidak mungkin diajarkan tanpa terlebih dahulu diajarkan masalah
cahaya. Masalah cahaya, pemantulan, pembiasan, dan alat-alat optik tersusun secara
struktural.
Struktur pesan yaitu susunan pokok-pokok gagasan yang menyatu menjadi satu kesatuan
pesan yang utuh. Untuk merancang struktur pesan harus memperhatikan sikap khalayak
sasaran terhadap pesan dan tujuan komunikator. Ada dua kelompok struktur pesan yang dapat
dibuat, yaitu pro-kontra dengan kontra-pro dan satu sisi dengan dua sisi. Dalam struktur pro-
kontra, komunikator mendahulukan argumen atau gagasan yang selaras dengan pendapat atau
sikap khalayak, selanjutnya gagasan yang bertentangan dengan sikap khalayak disajikan pada
bagian akhir pembicaraan. Sebaliknya dalam struktur kontra-pro, komunikator mengawali
presentasinya dengan mengemukakan gagasan yang berlawanan, selanjutnya presentasi
ditutup dengan argumentasi pro khalayak.
Kemudian struktur satu sisi artinya komunikator hanya menyajikan gagasan pada satu
dimensi saja, misalnya aspek baik atau keuntungan saja yang dibicarakan dari pesan tersebut
tanpa memperhatikan kerugian yang akan diterima. Sedangkan pada struktur dua sisi,
komunikator menyajikan program yang akan dilaksanakan dengan melihat sisi keuntungan
dari kerugian secara proporsional.

4. Pendekatan Logis dan Psikologis


Materi bahan ajar dapat disusun berdasarkan pendekatan logis. Maksud logis ialah
pertama bahwa materi ajar yang disusun cukup logis bagi peserta didik yang menerima pesan
dalam bahan ajar tersebut. Kedua bahwa bahan ajar yang disusun dimulai dari bagian menuju
keseluruhan, sederhana menuju yang komplek, nyata ke abstrak, dan dari bagaimana menjadi
mengapa.
Pendekatan pembelajaran harus menekankan kepada proses dan ketrampilan yang sesuai
dengan materi pembelajaran. Materi pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat
perkembangan belajar peserta didik.
Pendekatan psikologis dalam menyusun bahan ajar dimulai dari keseluruhan kepada
bagian, dari yang kompleks ke sederhana. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip-prinsip
8

psikologi, dimana individu memproses pengatahuan dan memperoleh pemahaman


berdasarkan pertumbuhan dan perkembangan dan pembelajaran.
Materi pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik,
dimana proses penalaran dapat terjadi. Ide-ide serta pengalaman digunakan untuk
mentransformasikan konsep dan pembelajaran kompleks menjadi operasi mental yang sesuai
dengan peserta didik.

5. Pendekatan Spiral
Pendekatan ini dikembangkan oleh Bruner, bahan ajar dipusatkan pada topik atau pokok
bahasan tertentu. Dari topik atau pokok bahasan tersebut bahan diperluas dan diperdalam.
Topik atau bahan ajar tersebut adalah sesuatu yang popular dan sederhana, tetapi kemudian
diperluas dan diperdalam dengan bahan yang lebih kompleks.
Menurut Bruner, belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung secara bersamaan,
yaitu :
a. Memperoleh informasi baru
Informasi baru merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang.
b. Transformasi informasi
Informasi yang diperoleh kemudian dianalisis atau ditransformasikan kedalam bentuk yang
lebih nyata atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih lugas.
c. Evaluasi
Merupakan proses relevansi dan ketepatan pengetahuan. Proses ini dilakukan dengan menilai
apakah cara kita memperlakukan pengetahuan tersebut cocok atau sesuai dengan prosedur
yang ada.
Pendewasaan pertumbuhan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang menurut
Bruner adalah sebagai berikut :
a. Pertumbuhan intelektual ditunjukkan oleh bertambahnya ketidaktergantungan respon dari
sifat stimulus.
b. Pertumbuhan intelektual tergantung pada bagaimana seseorang menginternalisasikan
peristiwa-peristiwa menjadi suatu system penyimpanan (storage system) yang sesuai dengan
lingkungan.
c. Pertumbuhan intelektual yang menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk
berkata pada dirinya sendiri atau pada orang lain, dengan pertolongan kata-kata dan simbol-
simbol apa yang telah dilakukan atau yang akan dilakukan.
Menurut Bruner untuk mengajar sesuatu tidak perlu ditunggu sampai akan mencapai
suatu tahap perkembangan tertentu. Perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan
dengan cara mengatur bahan yang akan diberikan, diatur dengan baik maka anak dapat belajar
9

meskipun dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Penerapan


ini dikenal dengan pendekatan spiral.
Pada pendekatan ini bahan ajar yang dirancang atau disusun berisikan materi yang
berhubungan dengan materi-materi lain yang terkandung didalamnya. Hal ini menyebabkan
materi akan dapat lebih dari satu kali atau bahkan berulangkali disampaikan.
Dengan menggunakan pendekatan spiral, materi yang dituangkan dalam kurikulum
tersebut dimulai dari lingkungan yang dekat dan lebih sempit menuju kepada lingkungan yang
lebih jauh dan luas serta makin lama makin mendalam sehingga materi pelajaran yang telah
diberikan guru kepada siswa benar-benar menjadi milik siswa dan tahan lama dalam benak
anak, karena adanya pengulangan materi dan memiliki kaitan yang logis antara materi
pelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang disajikan. Pendekatan
kurikulum seperti ini sangat mementingkan apresiasi sebelum pembelajaran dimulai, yaitu
mengaitkan yang lalu dengan materi yang akan diberikan.

6. Pendekatan Hierarkis
Pendekatan ini dikembangkan oleh Robert Gagne (1965), dengan prosedur sebagai
berikut : tujuan-tujuan khusus pembelajaran dianalisis, kemudian dicari suatu hierarki urutan
bahan ajar untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Hierarki tersebut menggambarkan urutan
kemampuan bawahan apa yang mula-mula harus dikuasai oleh siswa, berturut-turut sampai
pada kemampuan bawahan terakhir.
Urutan materi pembelajaran secara hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat
berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari
dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.
Contoh : Urutan Hierarkis (berjenjang)
Soal ceritera tentang perhitungan laba rugi dalam jual beli Agar siswa mampu
menghitung laba atau rugi dalam jual beli (penerapan rumus/dalil), siswa terlebih dahulu
harus mempelajari konsep/ pengertian laba, rugi, penjualan, pembelian, modal dasar
(penguasaan konsep). Setelah itu siswa perlu mempelajari rumus/dalil menghitung laba, dan
rugi (penguasaan dalil). Selanjutnya siswa menerapkan dalil atau prinsip jual beli (penguasaan
penerapan dalil).

Materi pembelajaran Urutan Materi


1. Menghitung laba atau rugi dalam 1.1. Konsep/pengertian laba, rugi,
jual beli penjualan, pembelian, modal dasar
1.2. Rumus/dalil menghitung laba,
dan rugi
10

1.3. Penerapkan dalil atau prinsip


jual beli

Contoh lain tentang urutan operasi bilangan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1.Contoh Urutan Materi pembelajaran Secara Hierarkis
Kompetensi dasar Urutan Materi
1. Mengoperasikan bilangan
1.1. Penjumlahan
1.2. Pengurangan
1.3. Perkalian
1.4. Pembagian
Suatu proses pembelajaran dapat berhasil dengan baik kalau proses situ secara nyata
sudah tumbuh dalam diri peserta didik. Oleh karena itu sikap lebih wajar adalah
menempatkan kegiatan belajar itu sendiri sebagai kegiatan sentral (Surakhmad, 1982).
Penguasaan terhadap suatu tahapan atau pengetahuan awal akan membuat proses belajar
mengajar untuk materi selanjutnya akan lebih berarti. Intinya bahwa suatu yang baru haruslah
dipelajari berdasarkan apa yang telah dimiliki oleh peserta didik. Pengalaman-pengalaman
belajar yang baru tersebut harus disajikan dengan cara diorganisasikan terlebih dahulu dengan
cara efektif dan sistematis.

Jadi pendekatan yang tepat dalam menyusun bahan ajar dalam desain pesan pembelajaran
akan membantu pengguna bahan ajar untuk memahami materi yang disampaikan. Pendekatan
desain dalam hal ini pendekatan dalam menyusun bahan ajar dapat diartikan sebagai titik tolak
atau sudut pandang dalam penyusunan bahan ajar.