Anda di halaman 1dari 22

3.

Tuberculosis Paru Post Primer

Definisi : Peradangan paru oleh Mycobacterium Tuberculosis pada tubuh yang mendapatkan
kekebalan spesifik

Gambaran klinis

a. Gejala sistemik
1. Demam
2. Malaise
3. Keringat malam
4. Anoreksia
5. Berat badan menurun
b. Gejala respiratorik
1. Batuk lebih dari 3 minggu
2. Batuk darah
3. Sesak napas Bila proses infeksi telah meluas ke seluruh paru
4. Nyeri dada terutama bila batuk
c. Pemeriksaan fisik
Kelainan umumnya di puncak paru dimana dapat ditemukan
1. Suara pernapasan bronchial
2. Amforik, stem fremitus mengeras pada palpasi
3. Suara pernapasan melemah (Sonor memendek pada perkusi)
4. Romki basah
5. Tanda-tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum
d. Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi TB aktif
1. Bayangan berawan/noduler di segmen apikal dan posterior Lobus atas paru dan segmen
superior lobus bawah paru
2. Kavitas (+) terutama bila lebih dari satu dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau
noduler
3. Bayangan bercak milier
4. Efusi pleura unilateral

Apabila klinis dan pemeriksaan laboratorium mendukung Suspect TB dan apabila


klinis, laboratorium dan radiologis mendukung Dx: TB Paru

Pengobatan TB Paru berdasarkan kategori

Kategor Penderita TB Paduan obat alternatif


i
a. Kasus baru dengan dahak positif Fase Intensif Fase Lanjutan
I b. Kasus baru dahak (-) dengan 4 RH
kelainan parenkim paru yang
luas 2RH2E(S) 6 HE
c. Kasus baru TB di luar paru yang
berat 4 R3H3
II a. Dahak (+) 2RHZ ES/ 6 RHE
b. Kambuh 1 RHZE 5 R3H3E3
c. Gagal
d. Putus berobat
III a. Kasus baru ddahak (+) 6 HE
dahak (-) 2RHZ 4 RH
b. Kasus TB diluar paru 4 R3H3
( Diluar kategori I )
IV Rujuk ke spesialis
Kasus kronik untuk mendapatkan
obat sekunder

Bila hanya menunjukkan perubahan pada gambaran radiologik sehingga dicurigai lesi aktif
kembali maka harus dikatakan kemungkinan terjadinya :

a. Sekunder infeksi
b. Infeksi oleh jamur
c. TB paru kambuh

Catatan :

1. 2RHZE Obat diberikan setiap hari selama 2 bulan


2. 7R3H3 Obat diberikan 3 kali seminggu selama 7 bulan
3. 4R3H7 Rifampisin diberikan 3 kali dalam seminggu dan INH diberikan setiap hari
( 7 kali dalam seminggu ) selama 4 bulan.

Macam-Macam Jenis TB dan Pengobatan

1. TB paru BTA (-) dengan lesi tidak luas


Regimen Pengobatan : 2RHZ/4RH
Alternatif Pengobatan : - 2RHZ/4R3H3
- 6RHE

2. TB paru kasus kambuh TB paru yang telah dinyatakan sembuh tetapi bakteriologik
baik makroskopik dan atau biakan kembali (+)
Bila dilakukan uji resistensi : 3 RHZE/6 RH
Bila tidak dilakukan uji resistensi : 2 RHZE5/1 RHZE/5 R3H3E3

3. TB paru kasus gagal pengobatan


TB paru dengan sputum BTA yang tidak mengalami konversi setelah pengobatan
selama 5-6 bulan atau (+) kembali pada bulan k 5 atau 6 pengobatan
Bla tidak ada uji resistensi : 2 RHZE5/1 RHZE/5 R3H3E3

4. TB paru dengan kasus putus berobat


a. Berobat < 4 bulan , BTA (+)
Pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang sama
b. Berobat < 4 bulan, BTA (-), berhenti berobat selama 2-4 minggu
Pengobatan diteruskan sesuai jadual dengan paduan obat yang sama
c. Berobat < 4 bulan, BTA (-) berhenti berobat > 1 bulan dengan klinis dan atau
radiologis (+)
Pengobatan dimulai dari awal dengan dengan paduan obat yang sama
d. Berobat > 4 bulan, BTA (+), putus berobat > 2 minggu
Pengobatan dimulai dari awal dengan paduam obat yang lebih kuat dan jangka
waktu lebih lama (dianggap gagal)
e. Berobat > 4 bulan, BTA (-) ,klinis dan radiologis (-), berhenti berobat > 2 minggu
Pengobatan OAT stop
f. Penderita yang menghentikan pengobatan < 2 minggu
Pengobatan OAT dilanjutkan sesuai jadual.

5. TB paru kronik
TB paru dengan sputum BTA (+) setelah menjalani pengobatan ulang dengan
pengawasan yang baik

Pengobatan sesuai hasil uji resistensi, dimana periode fase intensif dengan 4-5 malam
OAT dengan minimal mengandung 2 OAT ditambah dengan obat lain. Mis:
Quinolon,Betalaktam dan makrolida dan jika tidak mempandapat diberikan INH
seumur hidup

6. Multi Drug Resistens TB (MDR-TB)


TB paru dengan menunjukkan resistensi terhadap rifampisin dan INH dengan atau
tanpa resistensi terhadap OAT lain.

Pengobatan dilanjutkan minimal 2-3 malam OAT yang masih sensitif ditambah obat
baru misalkan cefrofloxacin 2x500 mg atau ofloxacin 1x400 mg umumnya
pengobatan selama 12 bulan
Dosis OAT
a. Rifampisin : 10 mg/kgBB single dose (maksimal 600 mg/hari)
Untuk BB <40 kg : 300 mg
Untuk BB 40-60 kg : 450 mg
Untuk BB >60 kg : 600 mg
Dosis intermitten : 600 mg/dosis

b. Isoniazid (INH) : 5 mg/kgBB single dose


Dosis untuk dewasa : 300 mg/hari
Dosis Intermitten : 600 mg/dosis

c. Pirazinamid : 15-30 mg/kgBB /hari dibagi dalam 1-4 dosis


Untuk BB <40 kg : 750 mg
BB 40-60 kg : 1000 mg
BB >60 kg : 1500 mg

d. Ethambutol : 15 mg/kg/BB /single dose (maksimal 2500 mg/hari)


Untuk BB <40 kg : 750 mg
BB 40-60 kg : 1000 mg
BB >60 kg : 1500 mg
Dosis Intermitten : 40 mg/kg/BB/dosis

e. Streptomicin : 15mg/kgBB single dose secara IM (maksimal 150/hari)


Untuk BB <40 kg : sesuai dengan berat badan
BB 40-60 kg : 750 mg
BB >60 kg : 1000 mg

Dosis Obat Anti Tuberkulosis

BB Rifampicin INH Pirazinamid ETH Strept


BB <50 kg 450 mg 400 mg 1000 mg 1000 mg 750 mg
BB >50 kg 600 mg 400 mg 1500 mg 1000 mg 750 mg

Pengobatan TBC pada keadaan khusus


1. TB Milier
Paduan obat : 2RHZE/4RH
Bila sakit berat maka pengobatan lanjutan dapat diperpanjang sampai 7 bulan
2RHZE/7RH
Bila ditemukan keadaan
a. Gejala meningitis
b. Sesak napas
c. Gejala toksik
d. Demam tinggi
Prednison 30-40 mg/hari. Kemudian setiap 5-7 hari dosis diturunkan 5-10 mg.
Total pemberian 3-4 minggu

2. Pleuritis eksuditif TB (Efusi Pleura)


Paduan obat : 2RHZE/4RH
Dengan catatan evakuasi cairan dilakukan sekali dengan seoptimal mungkin dengan
keadaan tertentu penderita. Bila perlu dapat diulang kortikosteroid diindikasikan bila :
a. Demam tinggi
b. Produksi cairan meningkat
c. Sesak progresif

3. TB paru dengan Diabetes mellitus


Paduan obat : 2RHZ (E atau S)/4RH bila perlu 7RH
Dengan catatan DM harus terkontrol dan hati-hati pemakaian Ethambutol mengingat
pasien DM sering mengalami komplikasi ke mata serta dosis OAD Gol. Sulfonil urea
harus ditingkatkan dosis pemakaian rifampicin karena akan menurunkan efektivitas
obat oral

4. TB paru dengan kelainan Hati Pirazinamid tidak boleh diberikan


Paduan obat : 2RHES/6RH atau 2HES/10HE
Pada penderita hepatitis akut dan atau klinik ikterik sebaiknya OAT ditunda sampai
proses akutnya mengalami penyembuihan. Pada keadaan sangat diperlukan dapat
diberi paduan ES maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh6RH

Dosis Rekomendasi Obat Anti TBC

Nama obat aksi Range dosis mg/kgBB


Harian 3xperminggu
1. Isoniazid Bakteriocidal 5 (4-6) 10 (8-12)
2. Rifampicin Bakteriocidal 10 (8-12) 10 (8-12)
3. Pirazinamide Bakteriocidal 25 (20-30) 35 (30-40)
4. Ethambutol Bakteriocidal 15 (15-20) 30 (25-35)
5. Streptomicin Bakteriocidal 15 (12-18) 15 (12-18)
4.Pneumothoraks
Definisi
Pneumothoraks adalah adanya udara dalam rongga pleura

Patofisiologi dan Etiologi


1. Spontan pneumothoraks disebabkan oleh robeknya bullae yang terletak superfisial
yang didahului oleh peningkatan tekanan intrapulmonal oleh batuk keras, meniup
alat musik dengan tekanan,bersin, mengedan.
Bullae dapat timbul oleh karena : kongenital, TB paru pneumokoniosis dan
obstruksi bronkial
2. Traumatik pneumothoraks : adanya tekanan/benturan pada dinding thoraks yang
kuat dimana dapat terjadi fraktur iga, atau dapat timbul dengan hanya adanya
benturan kuat dinding thoraks
3. Artifisial pneumothoraks, oleh karena diagnostik injury
4. Tension pneumothoraks disebabkan adanya check valve mekanisme udara
masuk tetapi tidak dapat keluar dari kavum pleura, akibat dorongan mediastinum
ke sisi yg sehat.

Gejala Klinis

Nyeri dada yang mendadak


Sesak napas yang mendadak
Kegagalan pernapasan dan sianosis

Pemeriksaan Klinis

1. Sianosis
2. Perkusi : hypersonor
3. Auskultasi : Suara pernapasan melemah-menghilang

Foto Thoraks

Terlihat gambaran kolaps paru

Penatalaksanaan

1. Pada pneumothoraks spontan ringan/partial pneumothoraks tanpa penyulit


(PPOM) terapi konservatif istirahat, dimana biasanya udara akan terabsorpsi
sendiri.
2. Pada total pneumothoraks, Tension pneumothoraks, partial pneumothoraks yang
disertai PPOM, dimana gejala klinis sangat berat harus dilakukan pemasangan
WSD ( Water Sealed Drainage ) dengan aktif suction pump
3. Oksigen
4. Terapi penyakit/penyebab pneumothoraks.

Tindakan Gawat Darurat Pada Pneumothoraks


1. Penentuan jenis Luka apakah menembus dinding thorax :
a. Bersihkan dan tutup luka dengan pembalut untuk menghentikan
kebocoran udara dengan memakai kasa steril yang diolesi vaselin
steril dan diplaster hanya di tiga sudut
b. Pemberian antibiotik pada luka menembus dinding thorax

2. Bila penderita tidak sesak dan keadaan tetap baik dan 6-8 jam penderita
diobservasi dan diistirahatkan saja. Bila penderita semakin sesak maka
dilakukan dilakukan pemasangan penyalur sekat air pada sela iga II linea
midclavicularis (tepat dibawah clavicula) . Bila udara yang keluar
banyak, tidak cenderung berkurang dan berlangsung lebih dari 1 minggu
maka merupakan indikasi pembedahan (Bulektomi)
3. Foto rontgen thorax dan lab juga (+) hemothorax maka penyalur sekat air
pada sela iga 5 atau 6.
4. Pemberian analgesik dan atau anestesi blok intercostal untuk mengatasi
nyeri

5. Bronkitis akut

Bronkopneumonia ringan

Gambaran Klinis

1. Batuk yang mula-mula kering menjadi berdahak kental dan mukopurulen, semakin
lama semakin banyak
2. Mungkin terdapat demam yang berlangsung 3-5 hari
3. Sesak nafas, nyeri otot dan sakit dada
4. Pemeriksaan fisik : ronki kasar pada auskultasi
5. Laboratorium : leukositosis

Laboratorium

1. Bedrest dan dianjurkan banyak minum dan berhenti merokok


2. Medikamentosa
a. Simtomatis
1. Bronkodilator
a. Salbutamol 3x2-4 mg
b. Aminophilin 3x120 mg
c. Topilin 3x1 tablet
2. Simptomimetika (nasal decongestan)
Contoh : ephedrine 3x10 mg perhari
b. Antibiotika bila demam > 1 minggu
1. Amoksisilin 3x500 mg
2. Ampisilin 4x500 mg
3. Eritromisin 4x250-500 mg
4. Tetracycline 4x250-500 mg

6.Influenza

Definisi : Common cold yang disertai faringitis dengan tanda demam dan lesu yang lebih
nyata

Gambaran klinis :

1. Gejala sistemik infeksi virus akut


a. Demam
b. Sakit kepala
c. Nyeri otot dan nyeri sendi
d. Nafsu makan hilang
e. Disertai gejala lokal berupa rasa menggelitik sampai nyeri tenggorokkan, kadang
batuk kering, hidung tersumbat, bersin dan ingus encer Gejala Common Cold
2. Gejala Objektif
a. Tenggorokkan hiperemis
b. Konka di rongga hidung Oedem dan hiperemis
c. Sekret dapat bersifat serous, seromucus, atau mukopurulen bila terdapat infeksi
sekunder oleh bakteri coccus.

Penatalaksanaan :

1. Bed rest
2. Hidrasi yang cukup
3. Pengobatan Simtomatis
a. Parasetamol dan asetosal dosis 3x500 mg perhari untuk menghilangkan nyeri dan
demam
b. Nasal decongestan
1. Efedrin dosis 3x10 mg perhari (0,5 mg/kgBB/dosis)
2. Pseadoefedrin dosis3x30 mg perhari (1mg/kgBB/dosis)
3. Fenilproparalamine dosis 6x25 mg atau 3x50 mg perhari
c. Anti tasine untuk batuk non produktive
1.Codein HCL dosis 3x8 mg (1 mg/kgBB/dosis)
2. Dextromethrophan HBr dosis 3x10-15 mg (1 mg/kgBB/dosis)
d. AntibiotikaBila infeksi sekunder (+)
Drug Of Choice :
1. Eritromicin dosis 4x500 mg (30-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis)
2. Amoxicillin dosis 3x500 mg (30-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis)

7. Hemoptisis

Etiologi :

1. Carcinoma bronchus
2. Corpus alineum
3. Blunt thoracal injury
4. Kelainan endobronchial

Kriteria Hemoptisis Massive

a. Batuk darah > 600cc/24 jam dan dalam pengamatan batuk darah tak berhenti
b. Batuk darah < 600cc/24 jam tapi > 250cc/24 jam, kadar hb < 10 gr% dan batuk darah
berlangsung terus
c. Batuk darah < 600cc/24 jam tapi > 250 cc/24 jam, Hb > 10 gr% tetapi dalam 48 jam belum
berhenti

Pemeriksaan

1. Bronkoskopi dengan indikasi :


- Hemoptysis ringan pada perokok
- Penderita hemoptysis ringan tidak perokok dg abnormal pada foto rontgen
- Penderita hemoptysis sedang dan berat
2. Laboratorium terdiri dari
- Darah rutin
- Sel darah
- Haemorragic sceening test (actor pembekuan dan lama perdarahan)
3. Foto rontgen thorax diindikasikan pada penderita hemoptysis ringan yg tak merokok

Penatalaksanaan

1. Hentikan perdarahan dengan medikamentosa


- secara parenteral
1. cyclokapron 1 amp pada setiap fls cairan 10-14 tetes permenit
2. cyclokapron 1 amp secara IV tiap 6-8 jam
3. vitamin K 1-2 amp secara IV tiap 6-8 jam
- secara peroral : cyclokapron atau vitamin K dosis 3x1 tablet perhari
2. Pengobatan terhadap infeksi dan pengobatan supportive
3. Intubasi pada perdarahan massive untuk melindungi alian udara pada paru yang tidak terlibat
8. Efusi Pleura
Definisi
Adanya cairan dalam kavum pleura dalam jumlah yang abnormal berupa cairan eksudat, transudate
maupun hemoragis

Patofisiologi dan Etiologi


- Eksudat meruakan cairan yang biasanya disebabkan oleh penyakit infeksi atau
neoplasma dimana kadar protein lebih tinggi. Berwarna kuning atau orange dengan atau
tanpa sel dan bacterial
- Transudat merupakan cairan ekstraseluler yang menumpuk dalam kavum pleura secara
pasif. Berat jenis kurang dari 1,015. Protein dlm cairan kurang dari 2-3 gr/dl
- Haemoragis cairan dalam kavum pleura yang berwarna kemerahan atau merah yang
merupakan substansia darah sebagai akibat dari berbagai keadaan paling sering akibat
neoplasma

Gejala Klinis
- Sesak nafas dan perasaan tidak enak pada dada
- Nyeri pleura
- Sulit untuk tidur kearah yang sehat

Phisik Diagnostic
- Inspeksi : ketinggalan bernafas pada daerah efusi
- Perkusi redup sesuai dgn luasnya efusi pleura
- Auskultasi suara pernafasan melemah sampai menghilang

Thorak Photo
- Terlihat gambaran perselubungan cairan dgn permukaan cairan pleura cembung ataupun
cekung cairan minimal 300cc
- Foto lateral sesuai PA untuk menentukan tinggi serta lokasi cairan atau tinggi cairan
secara lateral

Laboratorium
- Aspirasi cairan pleura untuk diagnostic dgn pemeriksaan
- Rivalta test
- Citologi
- Darah rutin
- Elektrolit
- SPE (protein)

Penatalaksanaan
1. Aspirasi cairan sebanyak mungkin hingga pasien merasa pernafasan longgar pada sela iga
5 atau 6 bagian atas dengan abbocath no 16
2. Bila timbul massive efusi pleura perlu pemasangan WSD
3. Pengobatan penyakit utama
4. Pada efusi pleura akibat TB paru dapat diberikan steroid
5. Perbaiki keadaan umum penderita
Pencabutan WSD
1. Bila secara PD tidak lagi didapat tanda efusi pleura
2. Foto toraks PA tidak terlihat lagi level cairan dimana sinus terlihat jelas
Derajat Hemotoraks dan Efusi Pleura

Besarnya
Penanganan
Ukuran Bayangan Foto rontgen Pemeriksaan fisik

Kecil 0-15 % Perkusi pekak sampai iga IX Gerakan active (fisioterapi)

Sedang 15.35 Perkusi pekak sampai iga VI Respirasi dan transfuse

Besar >35 % Perkusi pekak sampai iga IV Penyalir sekat air diruang
antara iga, Transfusi

Tampilan Cairan Efusi Pleura


1. Jernih, Kekuningan (tanpa darah)
a. Tumor jinak dan ganas
b. TBC
2. Seperti susu
a. Tidak berbau (klinis) pasca trauma
b. Berbau (nanah) empiema
3. Hemoragic : keganasan, trauma, TBC, infark paru

4 Hal yang Perlu di Follow pada Pemasangan WSD


1. Inisial buble
Merupakan pertanda bahwa terdapat udara di dalam cavum pleura
2. Undulasi merupakan pertanda bahwa thorac tube sudah berada didalam cavum pleura dimana
cairan akan naik saat inspirasi dan akan turun saat ekspirasi
Bila undulasi (+) tapi ekspiratori buble (-)
Paru tak mengembang sempurna (atelektasis)
Dapat dilakukan massive fisioterapi dengan batuk sekuatnya
3. Ekspiratori buble
Pertanda adanya pleura insceralis yang robek (bronkopleural fistel)

4. Inisial bleeding
Salah satu fungsi thorax train ada hemotorak adalah untuk monitor perdarahan
selanjutnya
Indikasi Thoracotomi Emergency
a. Volume darah > 800cc 1000cc
b. Perdarahan 3-5cc/kgBB/jam selama 3 jam pertama
c. Perdarahan > 5cc (5,5 6cc)/kgBB dalam 1 jam pertama
9. Empiema
Definisi
Adanya pus atau nanah dalam kavum pleura

Etiologi
1. Berasal dari paru
- Pneumonia
- Abses paru
- Fistel bronko pleura
- Bronkiektasis
- TB paru
- Jamur paru
2. Dari luar paru
- Trauma thorax
- Teracositesis
- Subrenik abses
- Abses hati

Gejala dan tanda klinis


a. Gejala subjektif
- Batuk yg tidak produktif setelah suatu infeksi paru atau bronkopneumonia
- Bila cairan belum banyak, pasien megeluh nyeri dada
- Penderita tampak sakit berat, pucat, sesak napas dan mungkin terdapat pernafasan cuping
hidung
b. Gejala objektif
- Palpasi premitus vokal lemah
- Perkusi pekak yang memberikan gambaran garis melengkung
- Auskultasi krepitasi, bising nafas yang hilang atau rhonki yang menghilang dibatas cairan
c. Diagnosa pasti foto rontgen dan fungsi pus
Phisik Diagnostic
- Inspeksi : pergerakan pada thorax berkurang didaerah yg ada cairannya
- Perkusi : redup
- Auskultasi : suara nafas melemah-menghilang

Foto Thorax
terlihat gambaran perselubungan cairan empiema dengan permukaan cairan agak cembung, disertai
pergeseran organ mediastinum ke arah yang sehat

Laboratorium
- Prof pungksi cairan pleura : kultur dan sitologi
- Pemeriksaan darah rutin
- Pemeriksaan fungsi hati
- USG abdomen

Penatalaksanaan
1. Keluarkan atau kosongkan kavum pleura : aspirasi dan WSD
2. Terapi kausal yang adekuat
3. Antibiotika yang adekuat mencegah sepsis
4. Perbaiki keadaan umum

Pencabutan WSD
Sama seperti efusi pleura
10. Asthma Bronchiale
Diagnosa
1. Klinis
- Sesak nafas disertai mengi yang timbul mendadak dan kumat-kumatan
- Batuk dengan dahak kental
2. Pemeriksaan fisik
- Hiperventilasi
- Takikardi
- Dada tampak hiperinflasi
- Hipertrofi otot bantu pernafasan
- Wheezing atau mengi pada saat inspirasi maupun eksiprasi yang bersifat menyeluruh
- Ekspirasi memnjang
3. Laboratorium
- Kadar serum IgE, IgA, IgM meningkat, IgG dapat menurun
- Eosinofilia meningkat
- AGD pada saat serangan mulai PO2 masih dalam keadaan normal PCO2 mulai meninggi.
Pada saat serangan memasuki ritme kedua PO2 menurun disertai peningkatan PCO2 pH
normal atau sedikit menurun
4. Foto thorax
- Tampak paru hiperinflasi
- Perlu diperhatikan apakah ada gambaran pneumothorax, atelektasis, pneumomediastinum
serta gambaran lainnya.
5. Tes provakasi
- Penurunan PEFR lebih dari 20%
6. Tes alergi kulit
- Positif terhadap beberapa alergen
7. Tes faal paru
- FEVI/FVC kurang dari 75% reversibel terhadap bronkodilator
- PEFR kurang dari 150 1/m
Klasifikasi
1. Asma dalam serangan
Derajat serangan berdasarkan indeks Fischl dibagi :
a. Asma ringan :<3
b. Asma sedang : score 3
c. Asma berat : 4 atau lebih

Penilaian Derajat ASMA BRONKIAL


Proses Penatalaksanaan Serangan Asma
Asma serangan berat

Dengan 3 kali nebulasi respon jelek (poor response)

Rawat diruang rawat inap dengan penatalaksanaan sebagai berikut :


a. Pemberian oksigen diteruskan (tiap 1-2 jam)
b. Bila dehidrasi dan asidosis (+) wh beri IVFD dan koreksi cairan
c. Steroid IV diberikan perbolus tiap 6-8 jam
d. Nebulasi agonis dan antikolinergic dgn oksigen dilanjutkan tiap 1-2 jam jika dalam 4-6
kali pemberian perbaikan klinis (+) maka jarak pemberian dapat diberikan menjadi tiap 4-6
jam
e. Aminopilin dapat diberikan IV
1. Bila belum mendapat aminopilin sebelumnya dapat diberikan dengan dosis awal 4-6
mg/kgBB dilarutkan dalam dextrose atau garam fisiologis 20cc diberikan dalam 20-30
menit
2. Bila telah memperoleh sebelumnya (<4 jam) maka dosis diberikan setengahnya
selanjutnya aminopilin dosis numatan diberikan 0,5-1 mg/kgBB/jam

Perbaikan klinis (+)


a. Nebulasi diteruskan tiap 6 jam hingga 24 jam
b. Steroid dan aminopilin diganti secara peroral

Pasien dapat dipulangkan jika dalam 24 jam tetap stabil


1. Obat dan agonist (oral atau hirupan) diberi tiap 4-6 jam selama 24-48 jam
2. Steroid oral dilanjutkan sampai penderita kontrol rawat jalan dalam 24-48 jam
11.Kor-Pulmonal Kronikum
Definisi
Menunjukan adanya hipertrofi ventrikel kanan akibat penyakit yang mengenai fungsi atau sruktur
paru, tidak termasuk didalamnya kelainan jantung kanan akibat kelainan jantung kiri atau PJB. Paling
sering disebabkan PPOM dan penyakit paru restriktive

Gambaran Klinik
a. Gejala penyakit paru primer
1. Sesak nafas terjadi pada waktu melakukan aktivtas atau saat istirahat, kadang diperberat
dengan sikap tidur
2. Batuk kronik yang produktif
3. Sianosis dan plektora akibat desaturasi arteri maupun polisitemia sekunder
4. Hiperkapnia menyebabkan penderita mungkin gelisan dan kesadaran terganggu
b. Gejala kegagalan fungsi jantung kanan
1. Peningkatan JVP
2. Pembesaran hati dan ascites
3. Edema tungkai
Patofisiologi
Pengurangan jaringan pembuluh darah paru (>50 %)
Hipoksia dan Asidosis (hiperkapnia) vasokonstriksi arteri pulmonal
Polisitemia (viskositas darah meningkat)

Resistensi paru meningkat

Hipertensi pulmonal

Hipertofi ventrikel kanan

Pengobatan
1. Bed rest
2. Pemberian oksigen terus menerus dalam dosis kecil 1-3 L/menit biasanya oksien aliran
rendah diteruskan beberapa minggu-bulan
3. Pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi saluran nafas misal bronkitis atau pneumonia yg
memperberat hipoksemia
4. Bronkodilator untuk memperbaiki drainase sekret dan ventilasi
5. Hidrasi dan nutrisi yang baik
6. Diuretika pada penderita CPC dengan dekompensasi cardio dextra
7. Digitalis diberikan harus sangat hati-hati dan diberi hanya apabila ada indikasi