Anda di halaman 1dari 109

LAPORAN MINI PROJECT

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN PROLANIS

DIABETES DAN HIPERTENSI TERHADAP GIZI SEIMBANG

DI PUSKESMAS MEKARWANGI KOTA BOGOR

Disusun Oleh:

dr. Desy Anggraini


dr. Dimas Febrian Purnomo
dr. Elisa Rizki
dr. Indra Destia
dr. Natanael Parningotan Agung
dr. Patricia Meilroviane
dr. Tiara Ayu Murti

Pendamping:

dr. Osi Pinandita

dr. Yuyung Susanti

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA PERIODE FEBRUARI

2016-2017

PUSKESMAS MEKARWANGI KOTA BOGOR


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................. i

DAFTAR TABEL ......................................................................................... iii

DAFTAR GAMBAR .................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1

1.2 Identifikasi Masalah ................................................................................ 5

1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................... 5

1.3.1 Tujuan Umum ............................................................................... 5

1.3.2 Tujuan Khusus .............................................................................. 5

1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................. 6

1.4.1 Manfaat Teoritis ............................................................................ 6

1.4.2 Manfaat Praktis ............................................................................. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 7

2.1 Pengetahuan ............................................................................................ 7

2.2 Program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) .................................... 13

2.3 Gizi seimbang .......................................................................................... 17

2.4 Diabetes melitus ...................................................................................... 29

2.5 Hipertensi ................................................................................................ 51

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................ 71

3.1 Metode Penelitian .................................................................................... 71

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ................................................................. 71


3.3 Populasi dan Sampel Penelitian .............................................................. 71

3.4 Metode Pengumpulan Data ..................................................................... 72

3.5 Metode Analisis Data .............................................................................. 72

BAB IV HASIL PENELITIAN .................................................................... 73

4.1 Hasil Penelitian ....................................................................................... 73

4.1.1 Karakteristik Responden ............................................................... 73

4.1.2 Hasil kueisioner ............................................................................ 76

BAB V DISKUSI ......................................................................................... 78

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 80

6.1 Kesimpulan ............................................................................................ 80

6.2 Saran ........................................................................................................ 80

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 82

Lampiran ....................................................................................................... 87
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Kategori indeks massa tubuh ........................................................... 27

Tabel 2 Profil obat antihiperglikemia oral di Indonesia ................................ 37

Tabel 3 Farmakokinetik insulin eksogen berdasarkan waktu kerja .............. 38

Tabel 4 Klasifikasi hipertensi ........................................................................ 52

Tabel 5 Jenis obat antihipertensi oral ............................................................. 65


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Tumpeng gizi seimbang ............................................................... 21

Gambar 2 Faktor-faktor terhadap pengendalian tekanan darah .................... 59

Gambar 3 Algoritma penegakkan diagnosis hipertensi ................................ 60

Gambar 4 Algoritma tatalaksana hipertensi .................................................. 64

Gambar 5 Usia responden ............................................................................. 73

Gambar 6 Jenis kelamin ................................................................................ 74

Gambar 7 Tingkat pendidikan ....................................................................... 75

Gambar 8 Pekerjaan ...................................................................................... 75

Gambar 9 Tingkat pengetahuan .................................................................... 76

Gambar 10 Tingkat pengetahuan terhadap pendidikan ................................. 77


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan salah satu masalah kesehatan

yang menjadi perhatian nasional maupun global. Masalah PTM pada akhirnya tidak

hanya menjadi masalah kesehatan saja, namun bila tidak dikendalikan secara tepat,

benar dan kontinyu akan dapat mempengaruhi ketahanan ekonomi nasional, karena

sifatnya yang kronis dan umumnya mengenai usia produktif.

Penyakit Tidak Menular (PTM) juga dikenal sebagai penyakit kronis dan

tidak ditularkan dari satu orang ke orang lainnya. Penyakit-penyakit ini memiliki

durasi panjang dan umumnya berkembang lambat. Laporan dari WHO tahun 2014

menunjukkan bahwa PTM sejauh ini merupakan penyebab kematian utama di

dunia. Terdapat 38 juta kematian dari 56 juta angka kematian dunia pada tahun

2012 disebabkan olhe PTM. Sebanyak tiga-perempat dari kematian yang

disebabkan PTM (28 juta) terjadi di negara miskin dan negara berkembang.

Penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia

adalah hipertensi dan diabetes. Hipertensi didefinisikan sebagai kenaikan tekanan

darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg. Hipertensi

merupakan salah satu penyakit yang paling umum ditemukan dalam praktik

kedokteran primer. Menurut NHLBI (National Heart, Lung, and Blood Institute)

satu dari tiga pasien menderita hipertensi. Hipertensi juga merupakan faktor risiko

infark miokard, stroke, gagal ginjal akut, dan kematian.

1
2

Hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyebutkan bahwa

prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas di Indonesia sebesar 25,8

%. Terjadi penurunan dibandingkan dengan laporan riskesdas tahun 2010, namun

hal ini tetap menjadi permasalahan kesehatan masyarakat karena masih diatas 20%

dari yang sudah ditetapkan WHO.

Salah satu risiko penyebab hipertensi adalah penggunaan garam. Hal ini

diperkirakan asupan garam berlebih bertanggung jawab terhadap 1,7 juta kematian

di dunia pada tahun 2010. Permasalahan ini terjadi karena garam hampir digunakan

sebagai penyedap tambahan pada setiap makanan. Konsumsi garam tertinggi masih

terdapat di negara Asia Tengah dan Asia Tenggara. Hal ini dikarenakan kebutuhan

garam yang meningkat, kebiasaan mengonsumsi garam dalam jumlah banyak sejak

usia dini, dan kurangnya pengetahuan dalam mengelola jumlah garam harian.

Rekomendasi konsumis garam harian adalah sebanyak maksimal 3,5 g/hari. Jika

pengelolaan garam bisa diperbaiki bukan tidak mungkin angka kematian dan

komplikasi yang disebabkan hipertensi menjadi berkurang.

Penyakit tidak menular yang menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia

berikutnya adalah diabetes. Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu penyakit

dikarakteristikkan dengan penurunan tetap kontrol gula darah akibat terganggunya

fungsi sel pankreas, sehingga kontrol level target glikemik mendekati normal

akan menjadi sulit. Salah satu tanda khas pada penyakit DM adalah hiperglikemia,

yaitu adalah kondisi medik berupa peningkatan kadar glukosa dalam darah melebihi

batas normal. Saat ini penelitian epidemiologi menunjukan peningkatan terhadap

penderita Diabetes Melitus tipe 2 di berbagai penjuru dunia. WHO memprediksi


3

kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta di tahun 2000 menjadi

sekitar 21,3 juta di tahun 2030. Laporan ini menunjukkan adanya peningkatan

jumlah penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2035. Sedangkan

International Diabetes Federation (IDF) memprediksi adanya kenaikan jumlah

penyandang DM di Indonesia dari 9,1 juta pada tahun 2014 menjadi 14,1 juta pada

tahun 2035. Laporan WHO di tahun 2014 menunjukkan bahwa obesitas menjadi

salah satu penyumbang angka kejadian diabetes. Tidak terkontrolnya jumlah

asupan kalori serta aktivitas fisik yang rendah mengakibatkan angka kejadian

obesitas semakin meningkat yang tentunya meningkatkan pula angka kejadian DM.

Banyaknya jumlah penderita DM menjadikan perlunya penatalaksanaan

secara komprehensif guna menekan kejadian komplikasi yang dapat timbul.

Tatalaksana non medis dinilai juga berperan penting, selain pemberian obat-obatan.

Salah satu tatalaksana non medis bagi penderita diabetes adalah terapi nutrisi.

Terapi nutrisi medis merupakan bagian penting dari penatalaksanaan DM secara

komprehensif. Kunci keberhasilannya adalah keterlibatan secara menyeluruh dari

anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain serta pasien dan

keluarganya. Penyandang DM perlu diberikan penekanan mengenai pentingnya

keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah kandungan kalori, terutama pada

mereka yang menggunakan obat yang meningkatkan sekresi insulin atau terapi

insulin itu sendiri. Edukasi mengenai terapi nutrisi medis diketahui memberi efek

paling kuat dalam terapi DM, dibandingkan dengan olahraga relaksasi yang

berefek paling lemah. Dalam era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terdapat

pelayanan PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) sebagai salah satu


4

program di Puskesmas. PROLANIS tersebut merupakan suatu sistem pelayanan

kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi dengan

melibatkan peserta, fasilitas kesehatan, dan BPJS kesehatan yang menderita

penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya

pelayanan yang efektif dan efisien. Adanya PROLANIS memberikan wadah untuk

mengelola pasien hipertensi dan DM secara komprehensif.

Dari pemaparan di atas menunjukkan bahwa gizi seimbang

memegang peranan penting dalam menurunkan angka kejadian dan tingkat

keparahan penderita DM dan hipertensi ke arah yang lebih berat. Meningkatkan

pengetahuan masyarakat mengenai gizi seimbang merupakan salah satu upaya yang

bisa dilakukan. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus,

Pedoman Gizi Seimbang, dan Pedoman Penanganan Hipertensi yang diterbitkan

berdasarkan The Joint National Committee (JNC) 8 Guideline merupakan salah satu

langkah yang diambil pemerintah dalam meningkatkan pengetahuan penyakit

diabetes dan hipertensi, baik untuk tenaga medis, orang awam sehat, dan penderita

itu sendiri.

Dengan latar belakang tersebut dan mengingat pentingnya pengetahuan

penderita diabetes dan hipertensi tentang gizi seimbang maka kami memilih judul

Gambaran Tingkat Pengetahuan Pasien Prolanis Diabetes dan Hipertensi Terhadap

Gizi Seimbang di Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti

mengidentifikasi masalah yaitu: Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan


5

masyarakat terhadap gizi seimbang bagi penderita diabetes maupun hipertensi di

Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah: Mengetahui gambaran

tingkat pengetahuan masyarakat terhadap gizi seimbang bagi penderita diabetes

maupun hipertensi di Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan masyarakat tentang gizi

seimbang, meliputi jadwal makan, jenis dan jumlah kandungan kalori pada

penderita diabetes maupun hipertensi di Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor.

2. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan masyarakat terhadap gizi

seimbang dengan melihat faktor yang terkait seperti: usia, tingkat pendidikan, dan

pekerjaan pada penderita diabetes maupun hipertensi di Puskesmas Mekarwangi

Kota Bogor.
6

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai Gambaran

Tingkat Pengetahuan Pasien Prolanis Diabetes dan Hipertensi Terhadap Gizi

Seimbang di Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor.

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan dalam melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai gizi

seimbang sehingga dapat menurunkan angka kejadian dan tingkat keparahan

penderita DM dan hipertensi ke arah yang lebih berat.


7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan

2.1.1 Pengertian

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang

melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan ini terjadi

melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman,

rasa dan perabaan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata

dan telinga.

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui atau kepandaian yang

dimiliki oleh seseorang yang diperoleh dari pengalaman, latihan, atau melalui

proses belajar. Dalam proses belajar seseorang hanya ditentukan memiliki

kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Seseorang dituntut memiliki

kemampuan memecahkan masalah, mengambil keputusan, kemampuan

beradaptasi, kreatif dan inovatif, dari kemampunkemampuan tersebut sangat

diperlukan untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.

Pengetahuan merupakan kemampuan kognitif yang paling rendah namun

sangat penting karena dapat membentuk prilaku seseorang.

2.1.2 Tingkat Pengetahuan

Ada 6 tingkatan pengetahuan menurut Bloom (1956) dalam Notoatmodjo

(2007), yang dicakup dalam domain kognitif, yaitu :


8

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari

keseluruhan bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari

antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan,

dan sebagainya.

b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah

paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan terhadap objek yang

dipelajari.

c. Menerapkan (Application)

Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada kondisi yang sebenarnya. Aplikasi di

sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum,

rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang

lain.
9

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

obyek ke dalam komponen-komponen tetapi, masih di dalam satu

struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.

Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti

dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan,

dan sebagainya.

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan

atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan

yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah kemampuan untuk

menyusun formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun,

dapat merencanakan, dapat meringkaskan, menyesuaikan, dan

sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu obyek atau materi. Penilaian-

penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau

menggunakan kriteria-kriteria yang ada.

2.1.3 Variabel yang mempengaruhi pengetahuan

Menurut Hendra (2008) dalam Notoatmodjo (2003), pengetahuan seseorang

dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :


10

a. Umur

Umur mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir

seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya

tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya

semakin membaik. Semakin tua umur seseorang maka proses-proses

perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur

tertentu, bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat

seperti ketika berumur belasan tahun.

b. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian

dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur

hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi

pendidikan seeorang makin mudah orang tersebut untuk menerima

informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung

untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media

massa.. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana

diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut

akan semakin luas pula pengetahuannya. Namun perlu ditekankan bahwa

seorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan

rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di

pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non

formal.
11

c. Pekerjaan

Menurut Hurlock (1998) bahwa pekerjaan merupakan suatu

kegiatan atau aktivitas seseorang untuk memperoleh penghasilan guna

kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lama bekerja merupakan pengalaman

individu yang akan menentukan pertumbuhan dalam pekerjaan.

d. Sumber Informasi

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non

formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact)

sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.

Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang

dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru.

Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti

televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh

besar terhadap pembentukan opini dan kepercayan orang. Dalam

penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa

pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini

seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan

landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal

tersebut.
12

2.1.4 Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau

responden. Kedalaman pengatahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat

disesuaikan dengan tingkatan domain di atas.

Adapun pertanyaan yang dapat dipergunakan untuk pengukuran

pengetahuan secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu

pertanyaan subjektif misalnya jenis pertanyaan essay dan pertanyaan objektif

misalnya pertanyaan pilihan ganda (multiple choices), betul-salah dan pertanyaan

menjodohkan. Pertanyaan essay disebut pertanyaan subjektif karena penilaian

untuk pertanyaan ini melibatkan faktor subjektif dari nilai, sehingga nilainya akan

berbeda dari seorang penilai yang satu dibandingkan dengan yang lain dan dari satu

waktu ke waktu lainnya.

Pertanyaan pilihan ganda, betul-salah, menjodohkan disebut pertanyaan

objektif, karena pertanyaan-pertanyaan itu dapat dinilai secara pasti oleh penilainya

tanpa melibatkan faktor subjektifitas dari penilai. Pertanyaan objektif khususnya

pertanyaan pilihan ganda lebih disukai dalam pengukuran pengetahuan karena lebih

mudah disesuaikan dengan pengetahuan yang akan diukur dan penilaiannya akan

lebih cepat. Pertanyaan yang dapat dipergunakan untuk pengukuran pengetahuan

secara umum yaitu pertanyaan subjektif dari peneliti.

Proses seseorang menghadapi pengetahuan, menurut Notoatmodjo (2007)

bahwa sebelum orang menghadapi perilaku baru, di dalam diri seseorang terjadi

proses berurutan yakni : Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari


13

dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus. Interest (merasa tertarik)

terhadap objek atau stimulus tersebut bagi dirinya. Trail yaitu subjek mulai

mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya

terhadap stimulus.

2.2 Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS)

2.2.1 Pengertian

PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan

proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan Peserta, Fasilitas

Kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta

BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup

yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien.

2.2.2 Tujuan

Tujuan program ini dalam BPJS adalah untuk mendorong peserta

penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup optimal dengan indikator

75% peserta terdaftar yang berkunjung ke Faskes Tingkat Pertama memiliki hasil

baik pada pemeriksaan spesifik terhadap penyakit DM Tipe 2 dan Hipertensi

sesuai Panduan Klinis terkait sehingga dapat mencegah timbulnya komplikasi

penyakit.
14

2.2.3 Sasaran

Seluruh Peserta BPJS Kesehatan penyandang penyakit kronis (Diabetes

Melitus Tipe 2 dan Hipertensi).

2.2.4 Bentuk Pelaksanaan

Aktifitas dalam Prolanis meliputi aktifitas konsultasi medis/edukasi, Home

Visit, Reminder, aktifitas klub dan pemantauan status kesehatan.

2.2.5 Mekanisme Pelaksanaan

Pelayanan Program Pengelolaan Penyakit Kronis bersifat komprehensif

(menyeluruh) meliputi :

a. Upaya promotif; penyuluhan/informasi berbagai media, konsultasi, dan

reminder aktifitas medis

b. Upaya preventif; imunisasi, penunjang diagnostik, kunjungan rumah (home

visite), konseling

c. Upaya kuratif; pemeriksaan dan pengobatan penyakit pada Rawat Jalan Tingkat

Pertama, Rawat Jalan Lanjutan, Rawat Inap Lanjutan serta pelayanan obat

d. Upaya rehabilitatif; penanganan pemulihan dari penyakit kronis

Pelayanan PROLANIS di fasilitas kesehatan primer lebih fokus pada

pelayanan promotif dan preventif meliputi :

a. Pemberian konsultasi medis, informasi, edukasi terkait penyakit kronis kepada

penderita dan keluarga

b. Kunjungan ke rumah pasien

c. Penyuluhan penyakit kronis


15

d. Pelatihan bagi tata cara perawatan bagi penderita

e. Pemantauan kondisi fisik peserta kronis secara berkesinambungan

f. Pemberian resep obat kronis dan kemudian peserta mengambil obat pada Apotek

yang ditunjuk

g. Pemberian surat rujukan ke Fasilitas yang lebih tinggi untuk kasus-kasus yang

tidak dapat ditanggulangi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama / Primer.

h. Penanganan terapi penyakit kronis dan peresepan obat kronis sesuai Panduan

Klinis penanganan penyakit kronis yang berlaku

i. Membuat dokumentasi status kesehatan per Pasien terhadap setiap pelayanan

yang diberikan kepada tiap pasien

g. Membuat jadwal pemeriksaan rutin yang harus dijalani oleh peserta

2.2.6 Langkah-langkah Pelaksanaan

Sebelum melaksanakan PROLANIS, ada beberapa langkah yang harus

dilakukan sebelum aktivitas PROLANIS itu sendiri:

1. Melakukan identifikasi data peserta sasaran berdasarkan:

a. Hasil Skrining Riwayat Kesehatan dan atau

b. Hasil Diagnosa DM dan HT (pada Faskes Tingkat Pertama maupun

RS)

2. Menentukan target sasaran.

3. Melakukan pemetaan Faskes Dokter Keluarga/ Puskesmas berdasarkan

distribusi target sasaran peserta.

4. Menyelenggarakan sosialisasi Prolanis kepada Faskes Pengelola.

5. Melakukan pemetaan jejaring Faskes Pengelola (Apotek, Laboratorium).


16

6. Permintaan pernyataan kesediaan jejaring Faskes untuk melayani peserta

PROLANIS.

7. Melakukan sosialisasi PROLANIS kepada peserta (instansi, pertemuan

kelompok pasien kronis di RS, dan lain-lain).

8. Penawaran kesediaan terhadap peserta penyandang Diabetes Melitus

Tipe 2 dan Hipertensi untuk bergabung dalam PROLANIS.

9. Melakukan verifikasi terhadap kesesuaian data diagnosa dengan form

kesediaan yang diberikan oleh calon peserta Prolanis

10. Mendistribusikan buku pemantauan status kesehatan kepada peserta

terdaftar.

11 Melakukan rekapitulasi data peserta terdaftar.

12. Melakukan entri data peserta dan pemberian flag peserta PROLANIS.

13. Melakukan distribusi data peserta Prolanis sesuai Faskes Pengelola.

14. Bersama dengan Faskes melakukan rekapitulasi data pemeriksaan status

kesehatan peserta, meliputi pemeriksaan GDP, GDPP, Tekanan Darah,

IMT, HbA1C. Bagi peserta yang belum pernah dilakukan pemeriksaan,

harus segera dilakukan pemeriksaan.

15. Melakukan rekapitulasi data hasil pencatatan status kesehatan awal

peserta per Faskes Pengelola (data merupakan luaran Aplikasi P-Care).

16. Melakukan Monitoring aktifitas PROLANIS pada masing-masing

Faskes Pengelola:

a. Menerima laporan aktifitas PROLANIS dari Faskes Pengelola.

b. Menganalisa data.
17

17. Menyusun umpan balik kinerja Faskes PROLANIS.

18. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/ Kantor Pusat.

2.3 Gizi Seimbang

Gizi adalah ilmu pengetahuan tentang makanan, nutrisi dan zat-zat lain yang

terkandung didalamnya, dan fungsinya di dalam tubuh termasuk proses menelan

(ingestion), mencerna (digestion), penyerapan (absorpsi), transportasi,

metabolisme, dan pengeluaran (excretion). Selain itu, gizi merupakan asupan

makanan dalam kaitannya dengan kebutuhan diet organisme. Gizi yang baik (diet

yang cukup dan seimbang dikombinasikan dengan olahraga teratur) merupakan

dasar untuk kesehatan yang baik. Zat gizi merupakan substansi kimia yang

diperoleh dari makanan dan digunakan oleh tubuh untuk memberikan energi, bahan

pembangun, dan zat pengatur untuk pertumbuhan, pertahanan dan perbaikan

jaringan tubuh.

Zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok menurut fungsinya dalam tubuh,

yaitu:

1. Zat energi, berupa karbohidrat, lemak, dan protein

2. Zat pembangun, berupa protein, mineral dan air

3. Zat pengatur, berupa protein, mineral, air dan vitamin

Zat-zat gizi dapat pula dibagi dalam zat gizi makro, yaitu karbohidrat, lemak

dan protein. Zat gizi mikro yaitu vitamin, mineral dan air. Karbohidrat, lemak dan

protein disebut dengan makronutrisi karena tubuh membutuhkannya dalam jumlah

yang besar (beberapa gram setiap hari). Sedangkan vitamin dan mineral merupakan
18

mikronutrisi, karena dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit (milligram atau

mikrogram setiap hari).

Ciri-ciri dasar zat-zat gizi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Karbohidrat terdiri atas unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan

oksigen (O), yang dibagi dalam dua golongan, yaitu karbohidrat sederhana

atau gula sederhana dan karbohidrat kompleks. Satu gram karbohidrat

menghasilkan 4 kkal energi. Sumber karbohidrat seperti: padi-padian,

gandum, jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan.

2. Lipida (lemak dan minyak) terdiri atas unsur-unsur karbon (C),

hidrogen (H) dan oksigen (O), dengan kandungan oksigen lebih kecil

daripada yang terdapat dalam karbohidrat. Lemak makanan terutama

terdapat dalam bentuk trigliserida. Satu gram lemak menghasilkan 9 kkal

energi. Sumber: minyak tumbuh-tumbuhan, biji-bijian, kacang-kacangan,

sayuran hijau, ikan, minyak kedelai, daging, ayam.

3. Protein terdiri atas unsur-unsur karbon (C ), hidrogen (H), oksigen (O),

nitrogen (N), dan kadang-kadang sulfur (S), yang tersusun atas bentuk

asam-asam amino. Protein di bentuk oleh rantai-rantai asam amino yang

terikat dalam bentuk peptida. Protein terdiri dari protein hewani dan protein

nabati. Sumber: susu, telur, daging, kacang-kacangan.

4. Vitamin merupakan ikatan-ikatan organik yang membantu atau

mengkatalisis berbagai reaksi biokimia dalam tubuh. Vitamin digolongkan

dalam dua golongan menurut kelarutannya, yaitu vitamin larut lemak dan
19

vitamin larut air. Vitamin larut lemak adalah vitamin A, D, E, K, sedangkan

vitamin larut air adalah vitamin B kompleks dan C. Sumber vitamin seperti:

hati, kuning telur, mentega, sayuran berwarna hijau, buah-buahan, sinar

matahari, minyak ikan, minyak nabati.

5. Mineral adalah unsur atau ikatan-ikatan anorganik yang memegang

peranan penting dalam reaksi-reaksi metabolisme dan sebagai bagian

struktural jaringan tubuh, seperti tulang. Sumber mineral: susu dan hasil

olahannya, kuning telur, kacang-kacangan, sayuran daun hijau, daging,

susu, keju, buah-buahan dan sayuran hijau.

6. Air berperan sebagai pelarut dan pelumas dalam tubuh, dan sebagai alat

transport zat-zat serta sisa-sisa pencernaan dan metabolisme. Air diperoleh

dari cairan dan minuman yang diminum sehari-hari, makanan dan yang

diperoleh melalui proses oksidasi yang terjadi di dalam tubuh sebagai hasil

akhir proses metabolisme sel.

Gizi seimbang menjadi kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia.

Bukan hanya untuk orang dewasa namun juga bagi pertumbuhan anak-anak. Semua

membutuhkan tersedianya gizi seimbang dan memadai baik itu protein,

karbohidrat, maupun lemak. Untuk memenuhi tidak harus mengkonsumsi makanan

berharga mahal, yang penting adalah gizi seimbang untuk hidup sehat.

Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat

gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan

memerhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik,

kebersihan, dan berat badan (BB) ideal. Jika seseorang mengalami kekurangan gizi,
20

yang terjadi akibat asupan gizi di bawah kebutuhan, maka ia akan lebih rentan

terkena penyakit dan kurang produktif. Sebaliknya, jika memiliki kelebihan gizi

akibat asupan gizi yang melebihi kebutuhan, serta pola makan yang padat energi

(kalori) maka ia akan beresiko terkena berbagai penyakit seperti diabetes, tekanan

darah tinggi, penyakit jantung dsb. Karena itu, pedoman gizi seimbang disusun

berdasarkan kebutuhan yang berbeda pada setiap golongan usia, status kesehatan

dan aktivitas fisik.

Kegiatan yang bertujuan untuk membantu setiap orang memilih makanan

dengan jenis dan jumlah yang tepat telah lama dilakukan oleh pemerintah melalui

salah satu program yaitu Posyandu, kebutuhan asupan gizi divisualisasikan dalam

bentuk Tumpeng Gizi Seimbang (TGS), yang terdiri atas potongan-potongan

tumpeng. Luasnya potongan menunjukkan porsi yang harus dikonsumsi setiap hari.

TGS dialasi air putih, artinya air putih merupakan bagian terbesar dari zat gizi

esensial bagi kehidupan untuk hidup sehat dan aktif.


21

Gambar 1: Tumpeng Gizi Seimbang

Prinsip Gizi Seimbang terdiri dari 4 (empat) Pilar yang pada dasarnya

merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar

dan zat gizi yang masuk dengan memonitor berat badan secara teratur. Empat Pilar

tesebut adalah (1) mengonsumsi makanan beragam. Mengonsumsi makanan

beragam juga harus memperhatikan porsi dan proporsinya, (2) membiasakan

perilaku hidup bersih, (3) melakukan aktivitas fisik, (4) Mempertahankan dan

memantau Berat Badan (BB) normal.

2.3.1 Gizi Seimbang Untuk Lanjut Usia

Dengan bertambahnya usia, khususnya usia di atas 60 tahun, terjadi

berbagai perubahan dalam tubuh yaitu mulai menurunnya fungsi berbagai

organ dan jaringan tubuh, oleh karenanya berbagai permasalahan gizi dan

kesehatan lebih sering muncul pada kelompok usia ini. Perubahan tersebut meliputi
22

antara lain organ pengindra termasuk fungsi penciuman sehingga dapat

menurunkan nafsu makan; melemahnya sistem organ pencernaan sehingga

saluran pencernaan menjadi lebih sensitif terhadap makanan tertentu dan

mengalami sembelit; gangguan pada gigi sehingga mengganggu fungsi

mengunyah; melemahnya kerja otot jantung; pada wanita memasuki

masamenopause dengan berbagai akibatnya; dan lain-lain. Hal tersebut

menyebabkan kelompok usia lanjut lebih rentan terhadap berbagai penyakit,

termasuk terlalu gemuk, terlalu kurus, penyakit hipertensi, penyakit jantung,

diabetes mellitus, osteoporosis, osteoartritis dll. Oleh karena itu, kebutuhan zat gizi

pada kelompok usia lanjut agak berbeda pada kelompok dewasa, sehingga pola

konsumsi agak berbeda, misalnya membatasi konsumsi gula, garam danminyak,

makanan berlemak dan tinggi purin. Mengonsumsi sayuran dan buah-buahan dalam

jumlah yang cukup.

10 pesan gizi seimbang dari Departemen Kesehatan yaitu :

1. Syukuri dan nikmati anekaragam makanan

Kualitas atau mutu gizi dan kelengkapan zat gizi dipengaruhi oleh

keragaman jenis pangan yang dikonsumsi.Semakin beragam jenis pangan

yang dikonsumsi semakin mudah untuk memenuhi kebutuhan gizi. Bahkan

semakin beragam pangan yang dikonsumsi semakin mudah tubuh

memperoleh berbagai zat lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan. Oleh

karena itu konsumsi anekaragam pangan merupakan salah satu anjuran

penting dalam mewujudkan gizi seimbang. Selain memperhatikan

keanekaragaman makanan dan minuman juga perlu memperhatikan dari


23

segi keamanannya yang berarti makanan dan minuman itu harus bebas dari

kuman penyakit atau bahan berbahaya. Cara menerapkan pesan ini adalah

dengan mengonsumsi lima kelompok pangan setiap hari atau setiap kali

makan. Kelima kelompok pangan tersebut adalah makanan pokok, lauk-

pauk, sayuran, buah-buahan dan minuman. Mengonsumsi lebih dari satu

jenis untuk setiap kelompok makanan (makanan pokok, lauk pauk, sayuran

dan buah-buahan) setiap kali makan akan lebih baik.

2. Banyak makan sayuran dan cukup buah-buahan

Badan Kesehatan Dunia (WHO) secara umum menganjurkan

konsumsi sayuran dan buah-buahan untuk hidup sehat sejumlah 400 g

perorang perhari, yang terdiri dari 250 g sayur (setara dengan 21/2 porsi

atau 21/2 gelas sayur setelah dimasak dan ditiriskan) dan 150 g buah. (setara

dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang atau 11/2 potong pepaya

ukuran sedang atau 3 buah 14 jeruk ukuran sedang). Bagi orang Indonesia

dianjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan 300-400 g perorang perhari

bagi anak balita dan anak usia sekolah, dan 400-600 g perorang perhari bagi

remaja dan orang dewasa. Sekitar dua-pertiga dari jumlah anjuran konsumsi

sayuran dan buah-buahan tersebut adalah porsi sayur.

3. Biasakan mengonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi

Lauk pauk terdiri dari pangan sumber protein hewani dan pangan

sumber protein nabati. Kelompok pangan lauk pauk sumber protein hewani

meliputi daging ruminansia (daging sapi, daging kambing, daging rusa dll),

daging unggas (daging ayam, daging bebek dll), ikan termasuk seafood,
24

telur dan susu serta hasil olahnya. Kelompok Pangan lauk pauk sumber

protein nabati meliputi kacang-kacangan dan hasil olahnya seperti kedele,

tahu, tempe, kacang hijau, kacang tanah, kacang merah, kacang hitam,

kacang tolo dan lain-lain.

4. Biasakan mengonsumsi anekaragam makanan pokok

Cara mewujudkan pola konsumsi makanan pokok yang beragam

adalah dengan mengonsumsi lebih dari satu jenis makanan pokok dalam

sehari atau sekali makan. Salah satu cara mengangkat citra pangan

karbohidrat lokal adalah dengan mencampur makanan karbohidrat lokal

dengan terigu, seperti pengembangan produk boga yang beragam misalnya,

roti atau mie campuran tepung singkong dengan tepung terigu, pembuatan

roti gulung pisang, singkong goreng keju dan lain-lain

5. Batasi konsumsi pangan manis, asin dan berlemak

Peraturan Menteri Kesehatan nomor 30 tahun 2013 tentang

Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam dan Lemak serta Pesan

Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji menyebutkan bahwa

konsumsi gula lebih dari 50 g (4 sendok makan), natrium lebih dari 2000

mg (1 sendok teh) dan lemak/minyak total lebih dari 67 g (5 sendok makan)

per orang per hari akan meningkatkan risiko hipertensi, stroke, diabetes, dan

serangan jantung. Informasi kandungan gula, garam dan lemak serta pesan

kesehatan yang tercantum pada label pangan dan makanan siap saji harus

diketahui dan mudah dibaca dengan jelas oleh konsumen.

6. Biasakan Sarapan
25

Sarapan adalah kegiatan makan dan minum yang dilakukan antara

bangun pagi sampai jam 9 untuk memenuhi sebagian kebutuhan gizi harian

19 (15-30% kebutuhan gizi) dalam rangka mewujudkan hidup sehat, aktif,

dan produktif.

7. Biasakan minum air putih yang cukup dan aman

Air merupakan salah satu zat gizi makro esensial, yang berarti

bahwa air dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang banyak untuk hidup sehat,

dan tubuh tidak dapat memproduksi air untuk memenuhi kebutuhan ini.

Sekitar duapertiga dari berat tubuh kita adalah air. Air diperlukan untuk

pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sehingga keseimbangan air

perlu dipertahankan dengan mengatur jumlah masukan air dan keluaran air

yang seimbang.

8. Biasakan membaca label pada kemasan pangan

Semua keterangan yang rinci pada label makanan yang dikemas

sangat membantu konsumen untuk mengetahui bahan-bahan yang

terkandung dalam makanan tersebut. Selain itu dapat memperkirakan

bahaya yang mungkin terjadi pada konsumen yang berisiko tinggi karena

punya penyakit tertentu. Oleh karena itu dianjurkan untuk membaca label

pangan yang dikemas terutama keterangan tentang informasi kandungan zat

gizi dan tanggal kadaluarsa sebelum membeli atau mengonsumsi makanan

tersebut.

9. Cuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir


26

Penggunaan sabun khusus cuci tangan baik berbentuk batang

maupun cair sangat disarankan untuk kebersihan tangan yang maksimal.

Perilaku hidup bersih harus dilakukan atas dasar kesadaran oleh setiap

anggota keluarga agar terhindar dari penyakit, karena 45% penyakit

diarebisa dicegah dengan mencuci tangan. Kapan saja harus mencuci tangan

dengan air bersih dan sabun, antara lain: 1) Sebelum dan sesudah memegang

makanan 2) Sesudah buang air besar dan menceboki bayi/anak 3) Sebelum

memberikan air susu ibu 4) Sesudah memegang binatang 5) Sesudah

berkebun

10. Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan pertahankan berat badan

normal

Aktivitas fisik dikategorikan cukup apabila seseorang melakukan

latihan fisik atau olah raga selama 30 menit setiap hari atau minimal 3-5

hari dalam seminggu. Beberapa aktivitas fisik yang dapat dilakukan antara

lain aktivitas fisik sehari-hari seperti berjalan kaki, berkebun, menyapu,

mencuci, mengepel, naik turun tangga dan lain-lain. Latihan fisik adalah

semua bentuk aktivitas fisik yang dilakukan secara terstruktur dan

terencana, dengan tujuan untuk meningkatkan kesegaran jasmani. Beberapa

latihan fisik yang dapat dilakukan seperti berlari, joging, bermain bola,

berenang, senam, bersepeda dan lain-lain .

Pentingnya memantau berat badan, untuk orang dewasa digunakan ukuran

indeks massa tubuh (IMT) yaitu ukuran yang berkaitan dengan kekurangan

atau kelebihan berat badan. Mempertahankan berat badan normal


27

memungkinkan seseorang dapat mencegah berbagai penyakit tidak

menular.

Untuk mengetahui nilai IMT, digunakan rumus :

Tabel 1. Kategori Indeks Massa Tubuh

2.3.3 Menghitung Kebutuhan Kalori

Langkah 1 (Hitung Berat Badan Ideal (BBI) )

Untuk Pria dengan Tinggi Badan (TB) < 160 cm dan Wanita dengan

Tinggi Badan (TB) < 150 cm : BBI = ( Tinggi Badan dalam cm 100)

x 1 kg

Untuk Pria dengan Tinggi Badan (TB) >= 160 cm dan Wanita dengan

Tinggi Badan (TB) >= 150 cm : BBI = ((Tinggi Badan dalam cm 100)

x 1 kg) x 90%

Langkah 2 (Hitung Kalori Basal)

Cara Menghitung Kalori Basal (menggunakan BBI) :

Pria : BBI x 30 kkal


28

Wanita : BBI x 25 kkal

Langkah 3 (Tambahkan Faktor Aktivitas)

Langkah 4 (Kurangi perhitungan Kalori Basal pada kondisi Kelebihan

Berat Badan (BB) dan disesuaikan dengan Usia)

Sehingga :

Total Kebutuhan Kalori Harian =

Kebutuhan Kalori Basal + Koreksi Faktor Aktivitas Koreksi Faktor Usia


29

2.4 Diabetes Melitus

2.4.1 Pengertian Diabetes Melitus

Diabetes melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang

yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat

penurunan sekresi insulin yang progresif.1 Diabetes melitus berhubungan dengan

risiko aterosklerosis dan merupakan predisposisi untuk terjadinya kelainan

mikrovaskular seperti retinopati, nefropati dan neuropati.2 Data Riskesdas (2013)

menunjukkan bahwa proporsi diabetes di Indonesia pada tahun 2013 meningkat

hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2007. Proporsi diabetes melitus di

Indonesia sebesar 6,9 %, toleransi glukosa terganggu (TGT) sebesar 29,9% dan

glukosa darah puasa (GDP) terganggu sebesar 36,6%. Proporsi penduduk di

pedesaan yang menderita diabetes melitus hampir sama dengan penduduk di

perkotaan. Prevalensi diabetes melitus meningkat dari 1,1 persen (2007) menjadi

2,1 persen (2013).

Penyakit diabetes melitus jika tidak dikelola dengan baik akan dapat

mengakibatkan terjadinya berbagai penyulit menahun, seperti penyakit

serebrovaskular, penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah tungkai,

gangguan pada mata, ginjal dan syaraf. Penyandang diabetes melitus mempunyai

risiko dua kali lebih besar untuk mengalami penyakit jantung koroner dan penyakit

pembuluh darah otak, lima kali lebih mudah menderita ulkus/gangren, tujuh kali

lebih mudah mengidap gagal ginjal terminal, dan 25 kali lebih mudah mengalami

kebutaan akibat kerusakan retina daripada pasien non diabetes. Usaha untuk

menyembuhkan kembali menjadi normal sangat sulit jika sudah terjadi penyulit,
30

karena kerusakan yang terjadi umumnya akan menetap. Usaha pencegahan

diperlukan lebih dini untuk mengatasi penyulit tersebut dan diharapkan akan sangat

bermanfaat untuk menghindari terjadinya berbagai hal yang tidak menguntungkan.

2.4.2 Diagnosis Diabetes Melitus

Diagnosis diabetes melitus ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar

glukosa darah. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria.

Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara

enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat

dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan

glukometer.

Pemeriksaan glukosa plasma puasa >126 mg/dl. Puasa adalah kondisi tidak ada

asupan kalori minimal 8 jam.

Atau

Pemeriksaan glukosa plasma 200 mg/dl 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa

Oral (TTGO) dengan beban 75 gram. (peringkat bukti B)

Atau

Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu 200 mg/dl dengan keluhan klasik.

Atau

Pemeriksaan HbA1c > 6,5% dengan menggunakan metode High-Performance

Liquid Chromatography (HPLC) yang terstandarisasi oleh National

Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP).


31

Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang DM. Kecurigaan

adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik, seperti:

- Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat

badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.

- Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi

ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.

Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka

dapat digolongkan ke dalam kelompok prediabetes yang meliputi: toleransi glukosa

terganggu (TGT), glukosa darah puasa terganggu (GDPT).

1. Glukosa darah puasa terganggu (GDPT): Hasil pemeriksaan glukosa

plasma puasa antara 100-125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO glukosa

plasma 2 jam <140 mg/dl

2. Toleransi glukosa terganggu (TGT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma

2 jam setelah TTGO antara 140-199 mg/dl Diagnosis prediabetes dapat

juga ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan HbA1c 5,7-6,4%.

2.4.3 Penatalaksanaan Diabetes Melitus

Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup

penyandang diabetes, yang meliputi:

1. Tujuan jangka pendek: menghilangkan keluhan DM, memperbaiki

kualitas hidup, dan mengurangi risiko komplikasi akut

2. Tujuan jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas

penyulit mikroangiopati dan makroangiopati.


32

3. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas

DM.

Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa

darah, tekanan darah, berat badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien

secara komprehensif. Langkah-langkah Penatalaksanaan Umum:

1. Evaluasi medis yang lengkap pada pertemuan pertama:

a. Riwayat Penyakit

- Gejala yang dialami oleh pasien.

- Pengobatan lain yang mungkin berpengaruh terhadap glukosa

darah.

- Faktor risiko: merokok, hipertensi, riwayat penyakit jantung

koroner, obesitas, dan riwayat penyakit keluarga (termasuk

penyakit DM dan endokrin lain).

- Riwayat penyakit dan pengobatan.

- Pola hidup, budaya, psikososial, pendidikan, dan status ekonomi.

b. Pemeriksaan Fisik

- Pengukuran tinggi dan berat badan.

- Pengukuran tekanan darah, nadi, rongga mulut, kelenjar tiroid,

paru dan jantung

- Pemeriksaan kaki secara komprehensif

c. Evaluasi Laboratorium
33

- HbA1c diperiksa paling sedikit 2 kali dalam 1 tahun pada pasien

yang mencapai sasaran terapi dan yang memiliki kendali

glikemik stabil. dan 4 kali dalam 1 tahun pada pasien dengan

perubahan terapi atau yang tidak mencapai sasaran terapi.

- Glukosa darah puasa dan 2 jam setelah makan.

d. Penapisan Komplikasi

Penapisan komplikasi harus dilakukan pada setiap penderita yang baru

terdiagnosis DMT2 melalui pemeriksaan :

- Profil lipid dan kreatinin serum.

- Urinalisis dan albumin urin kuantitatif.

- Elektrokardiogram.

- Foto sinar-X dada

- Funduskopi dilatasi dan pemeriksaan mata secara komprehensif

oleh dokter spesialis mata atau optometris.

- Pemeriksaan kaki secara komprehensif setiap tahun untuk

mengenali faktor risiko prediksi ulkus dan amputasi: inspeksi,

denyut pembuluh darah kaki, tes monofilamen 10 g, dan Ankle

Brachial Index (ABI).

Langkah-langkah Penatalaksanaan Khusus Penatalaksanaan DM dimulai

dengan pola hidup sehat, dan bila perlu dilakukan intervensi farmakologis dengan

obat antihiperglikemia secara oral dan/atau suntikan.


34

1. Edukasi

Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan

sebagai bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang

sangat penting dari pengelolaan DM secara holistik.

2. Terapi Nutrisi Medis (TNM)

Penyandang DM perlu diberikan penekanan mengenai pentingnya

keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada

mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin.

3. Latihan Jasmani Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara

teratur (3-5 hari seminggu selama sekitar 30-45 menit , dengan total 150

menit perminggu, dengan jeda antar latihan tidak lebih dari 2 hari

berturut-turut. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani

yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang (50-70% denyut jantung

maksimal) seperti jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan berenang.

Denyut jantung maksimal dihitung dengan cara = 220-usia pasien.

4. Intervensi Farmakologis Terapi farmakologis diberikan bersama dengan

pengaturan makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi

farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan.

Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan

jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan

bentuk suntikan.

a. Obat Antihiperglikemia Oral


35

Berdasarkan cara kerjanya, obat antihiperglikemia oral dibagi menjadi 5

golongan:

1) Pemacu Sekresi Insulin (Insulin Secretagogue): Sulfonilurea dan Glinid

1. Sulfonilurea

Obat golongan ini mempunyai efek utama memacu sekresi insulin

oleh sel beta pankreas.

2. Glinid

Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan

sulfonilurea, dengan penekanan pada peningkatan sekresi insulin

fase pertama. Obat ini dapat mengatasi hiperglikemia post prandial.

2) Peningkat Sensitivitas terhadap Insulin: Metformin dan Tiazolidindion

(TZD)

1. Metformin mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati

(glukoneogenesis), dan memperbaiki ambilan glukosa perifer.

Metformin merupakan pilihan pertama pada sebagian besar kasus

DMT2.

2. Tiazolidindion (TZD) merupakan agonis dari Peroxisome

Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-), suatu reseptor

inti termasuk di sel otot, lemak, dan hati. Golongan ini mempunyai

efek menurunkan resistensi insulin dengan jumlah protein

pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di

perifer. Obat ini dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal

jantung (NYHA FC III-IV) karena dapat memperberat edema/retensi


36

cairan. Hati-hati pada gangguan faal hati, dan bila diberikan perlu

pemantauan faal hati secara berkala. Obat yang masuk dalam

golongan ini adalah Pioglitazone.

3) Penghambat Absorpsi Glukosa: Penghambat Glukosidase Alfa.

Obat ini bekerja dengan memperlambat absorbsi glukosa dalam usus

halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah

sesudah makan. Penghambat glukosidase alfa tidak digunakan bila GFR

30ml/min/1,73 m2, gangguan faal hati yang berat, irritable bowel

syndrome.

4) Penghambat DPP-IV (Dipeptidyl Peptidase-IV)

Obat golongan penghambat DPP-IV menghambat kerja enzim DPP-IV

sehingga GLP-1 (Glucose Like Peptide-1) tetap dalam konsentrasi yang

tinggi dalam bentuk aktif. Aktivitas GLP-1 untuk meningkatkan sekresi

insulin dan menekan sekresi glukagon bergantung kadar glukosa darah

(glucose dependent).

5) Penghambat SGLT-2 (Sodium Glucose Co-transporter 2)

Obat golongan penghambat SGLT-2 merupakan obat antidiabetes oral

jenis baru yang menghambat reabsorpsi glukosa di tubuli distal ginjal

dengan cara menghambat transporter glukosa SGLT-2. Obat yang

termasuk golongan ini antara lain: Canagliflozin, Empagliflozin,

Dapagliflozin, Ipragliflozin.
37

Tabel 2. Profil obat antihiperglikemia oral di Indonesia

Efek Samping Penurunan

Golongan Obat Cara Kerja Utama

Utama HbA1c

BB naik

Sulfonilurea Meningkatkan sekresi insulin 1,0-2,0%

hipoglikemia

BB naik

Glinid Meningkatkan sekresi insulin 0,5-1,5%

hipoglikemia

Menekan produksi glukosa hati & Dispepsia, diare,

Metformin 1,0-2,0%

menambah sensitifitas terhadap insulin asidosis laktat

Penghambat Flatulen, tinja

Menghambat absorpsi glukosa 0,5-0,8%

Alfa-Glukosidase lembek

Tiazolidindion Menambah sensitifitas terhadap insulin Edema 0,5-1,4%


38

Penghambat Meningkatkan sekresi insulin,

Sebah, muntah 0,5-0,8%

DPP-IV menghambat sekresi glukagon

Penghambat Nenghambat reabsorpsi glukosa di

ISK 0,5-0,9%

SGLT-2 tubuli distal ginjal

b. Obat Antihiperglikemia Suntik

1) Insulin

Tabel 3. Farmakokinetik Insulin Eksogen Berdasarkan Waktu Kerja

Puncak Lama

Jenis Insulin Awitan (onset) Kemasan

Efek Kerja

Kerja Cepat (Rapid-Acting) (Insulin Analog)

Insulin Lispro

(Humalog)

Pen/cartridge

Insulin Aspart

5-15 menit 1-2 jam 4-6 jam Pen, vial

(Novorapid)

Pen

Insulin Glulisin
39

(Apidra)

Kerja Pendek (Short-Acting) (Insulin Manusia, Insulin Reguler )

Humulin R

Vial,

Actrapid 30-60 menit 2-4 jam 6-8 jam

pen/cartridge

Sansulin

Kerja Menengah (Intermediate-Acting) (Insulin Manusia, NPH)

Humulin N

Vial,

Insulatard 1,54 jam 4-10 jam 8-12 jam

pen/cartridge

Insuman Basal

Kerja Panjang (Long-Acting) (Insulin Analog)

Insulin Glargine

(Lantus) 13 jam Hampir tanpa

12-24 jam Pen

Insulin Detemir puncak

(Levemir)
40

Kerja Ultra Panjang (Ultra Long-Acting) (Insulin Analog)

Hampir tanpa Sampai 48

Degludec (Tresiba)* 30-60 menit

puncak jam

Campuran (Premixed) (Insulin Manusia)

70/30 Humulin (70%

NPH, 30% reguler) 30-60 menit 312 jam

70/30 Mixtard (70%

NPH, 30% reguler)

Campuran (Premixed, Insulin Analog)

75/25 Humalogmix

(75% protamin lispro, 12-30 menit 1-4 jam

25% lispro)

70/30 Novomix (70%

NPH:neutral protamine Hagedorn; NPL:neutral protamine lispro. Nama obat

disesuaikan dengan yang tersedia di Indonesia.

2) Agonis GLP-1/Incretin Mimetic


41

Pengobatan dengan dasar peningkatan GLP-1 merupakan

pendekatan baru untuk pengobatan DM. Agonis GLP-1 dapat bekerja

sebagai perangsang pengelepasan insulin yang tidak menimbulkan

hipoglikemia ataupun peningkatan berat badan yang biasanya terjadi

pada pengobatan insulin ataupun sulfonilurea. Agonis GLP-1 bahkan

mungkin menurunkan berat badan. Efek samping yang timbul pada

pemberian obat ini antara lain rasa sebah dan muntah.

c. Terapi Kombinasi

Terapi dengan obat antihiperglikemia oral kombinasi baik secara

terpisah ataupun fixed dose combination dalam bentuk tablet tunggal, harus

menggunakan dua macam obat dengan mekanisme kerja yang berbeda.

Pada keadaan tertentu dapat terjadi sasaran kadar glukosa darah yang

belum tercapai, sehingga perlu diberikan kombinasi tiga obat

antihiperglikemia oral dari kelompok yang berbeda atau kombinasi obat

antihiperglikemia oral dengan insulin. Pada pasien yang disertai dengan

alasan klinis dimana insulin tidak memungkinkan untuk dipakai, terapi

dengan kombinasi tiga obat antihiperglikemia oral dapat menjadi pilihan.

Kombinasi obat antihiperglikemia oral dan insulin yang banyak

dipergunakan adalah kombinasi obat antihiperglikemia oral dan insulin

basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang), yang diberikan

pada malam hari menjelang tidur. Pendekatan terapi tersebut pada

umumnya dapat mencapai kendali glukosa darah yang baik dengan dosis
42

insulin yang cukup kecil. Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10

unit yang diberikan sekitar jam 22.00, kemudian dilakukan evaluasi dosis

tersebut dengan menilai kadar glukosa darah puasa keesokan harinya. Pada

keadaaan dimana kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak

terkendali meskipun sudah mendapat insulin basal, maka perlu diberikan

terapi kombinasi insulin basal dan prandial, serta pemberian obat

antihiperglikemia oral dihentikan.

2.4.4 Rekomendasi Nutrisi pada Diabetes Melitus

Rekomendasi nutrisi pada diabetes mencakup rekomendasi untuk

pencegahan diabetes primer, pengendalian diabetes (pencegahan diabetes

sekunder), pengendalian komplikasi diabetes (pencegahan diabetes tersier),

diabetes dengan komplikasi akut, dan untuk penyandang diabetes dengan

keadaan khusus. Rekomendasi nutrisi untuk pencegahan diabetes primer

pada individu yang berisiko tinggi untuk diabetes tipe 2, program terstruktur yang

menekankan pada perubahan gaya hidup yakni mencakup penurunan berat badan

(7% dari total berat badan) dan aktivitas fisik secara teratur (150 menit / minggu),

dengan strategi diet termasuk mengurangi kalori dan asupan lemak, dapat

mengurangi risiko diabetes.

Individu yang berisiko tinggi untuk dia-betes tipe 2 harus dianjurkan untuk

diet tinggi serat (14 g serat / 1000 kkal) dan makanan biji-bijian yang masih

mengandung kulit utuh (whole grains). Belum terdapat cukup informasi yang
43

konsisten untuk menyimpulkan bahwa ma-kanan dengan indeks glisemik rendah

dapat mengurangi risiko diabetes; namun demiki-an, tetap dianjurkan untuk

mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah yang kaya serat dan nutrisi

penting lainnya.

Beberapa studi observasional melaporkan bahwa konsumsi alkohol dalam

jumlah sedang (14-45 gr alkohol per hari) dapat me-ngurangi risiko untuk diabetes

juga penyakit kardiovaskuler, namun data-data tersebut ti-dak mendukung dalam

menganjurkan kon-sumsi alkohol kepada individu-individu de-ngan risiko

diabetes.

2.4.4.1 Rekomendasi nutrisi untuk pengendalian diabetes (Pencegahan

diabetes sekunder)

1. Pengaturan karbohidrat

Pola diet yang mencakup karbohidrat dari buah-buahan, sayuran, biji-bijian,

kacang-kacangan, dan susu rendah lemak dianjurkan dalam terapi gizi pasien

diabetes. Mengatur jumlah karbohidrat, berupa total kalori, pertukaran jenis

karbohidrat atau estimasi berbasis pengalaman, tetap menjadi strategi utama dalam

mencapai kontrol glikemia.

Pengetahuan tentang penggunaan indeks glisemik dapat memberikan

manfaat tambah-an dalam mengatur jumlah karbohidrat yang akan dikonsumsi.

Makanan yang mengandung sukrosa da-pat menggantikan karbohidrat lain dalam

pengaturan diet, atau jika ditambahkan ke dalam diet maka haruslah disesuaikan

de-ngan jumlah insulin yang akan digunakan atau penggunaan obat anti diabetik
44

lainnya.Hal ini perlu diperhatikan dengan baik guna menghindari kelebihan asupan

energi.

Penyandang diabetes dianjurkan untuk mengkonsumsi berbagai makanan

yang me-ngandung serat; namun, masih kurangnya bukti ilmiah yang

merekomendasikan bahwa penyandang diabetes dianjurkan untuk mengkonsumsi

serat yang lebih banyak dari-pada populasi secara keseluruhan.

Pemanis alkohol non gizi adalah aman jika dikonsumsi dalam tingkat

asupan harian yang ditetapkan oleh FDA.

2. Pengaturan lemak dan kolesterol

Pengaturan diet lemak makanan pada pe-nyandang diabetes adalah dengan

membatasi konsumsi asam lemak jenuh, asam lemak trans, dan asupan kolesterol

sehingga me-ngurangi risiko penyakit kardiovaskuler se-bab ketiganya merupakan

komponen diet yang merupakan penentu kadar kolesterol LDL plasma.

Berdasarkan beberapa penelitian tentang diet asam lemak jenuh dan asam

lemak trans pada penyandang diabetes, disimpulkan bah-wa konsumsi asam lemak

jenuh yang dire-komendasikan adalah < 7% dari energi total, konsumsi asam lemak

trans yang seminimal mungkin, dan asupan kolesterol < 200 mg/hari.

Konsumsi asam lemak omega-3 yang ber-asal dari ikan atau dari suplemen,

terbukti dapat menurunkan risiko kejadian kardio-vaskuler, sehingga dianjurkan

penyandang diabetes untuk mengkonsumsi ikan segar sebanyak dua atau tiga kali

per minggu.
45

Pemberian diet Mediteranian, dimana a-sam lemak tidak jenuh majemuk

(polyunsa-turated fatty acid) diganti dengan asam le-mak tidak jenuh tunggal

(monounsaturated fatty acid), terbukti dapat menurunkan mor-talitas pada

komunitas lanjut usia di Eropa sebesar 7%.

Sterol dan stanol ester yang berasal dari tumbuhan, dapat menghambat

penyerapan kolesterol di intestinal yang berasal dari makanan dan dari empedu.

Dalam masya-rakat umum dan pada penyandang diabetes tipe 2, asupan 2 g / hari

sterol dan stanol telah terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol total plasma dan

kolesterol LDL.

3. Pengaturan protein

Asupan protein bagi penyandang diabetes adalah sama dengan masyarakat

umumnya dan biasanya tidak melebihi 20% dari asupan energi total. Kualitas

sumber protein yang baik adalah sumber protein yang mengan-dung asam-asam

amino esensial yang lengkap yakni mencakup sembilan jenis asam amino esensial.

Diet tinggi protein tidak direkomendasi-kan sebagai metode untuk

menurunkan berat badan pada penyandang diabetes, sebab efek jangka panjang

serta komplikasi dari asupan protein melebihi 20% dari kalori total harian masih

belum diketahui pasti. Penerapan diet tinggi protein yang dikombinasikan dengan

latihan ketahanan (resistance training) dapat menghasilkan penurunan berat badan,

per-baikan profil glukosa darah, lingkar ping-gang dan penanda risiko

kardiovaskuler lain-nya, namun apakah keadaan tersebut akan tetap berlanjut dalam

jangka panjang serta efek samping pada fungsi ginjal masih belum diketahui.
46

2.5. Rekomendasi nutrisi untuk pengendalian komplikasi diabetes

(pencegahan diabetes tersier)

2.5.1 Komplikasi mikrovaskuler

Perkembangan komplikasi dari diabetes dapat dihambat dengan

memperbaiki kontrol glukosa darah, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi

asupan protein.11 Asupan protein normal (15-20% dari kalori total) tidak

berhubungan dengan risiko berkem-bangnya suatu nefropati diabetes, juga efek

jangka panjang terhadap terjadinya nefropati akibat asupan protein diet yang lebih

dari 20% masih belum dapat dipastikan.

Pada penyandang diabetes yang telah mengalami mikro-albuminuria,

pengurangan asupan protein telah terbukti meningkatkan laju filtrasi glomerulus.

dan dapat mengu-rangi ekskresi albumin urin. Pembatasan asupan protein sejumlah

0,8 gr/kg berat ba-dan/hari pada penyandang diabetes dengan makroalbuminuria

menunjukkan adanya per-lambatan dari penurunan laju filtrasi glomerular.

Pembatasan asupan protein harus-lah mempertimbangkan kebutuhan untuk

mempertahankan status gizi yang baik pada individu dengan gagal ginjal kronis.

Pada beberapa studi menunjukkan bahwa pem-berian protein nabati lebih baik

dibanding-kan protein hewani pada individu dengan gagal ginjal.

2.5.2 Penanganan risiko penyakit kardiovaskuler


47

Berdasarkan studi observasional dari The United Kingdom Prospective

Diabetes Study (UKPDS) peningkatan risiko penyakit kar-diovaskuler sebanding

dengan pening-katan kadar HbA1c, sehingga direkomen-dasikan untuk

mempertahankan kadar HbA1c se-normal mungkin tanpa komplikasi hipo-

glikemia yang berarti.

Hipertensi merupakan salah satu prediktor adanya perburukan dari

komplikasi mikro dan makrovaskuler dari diabetes, sehingga hal ini dapat dicegah

dan diatasi dengan penurunan berat badan, aktivitas fisik teratur, mengurangi

konsumsi alkohol, dan pengatur-an diet. Dianjurkan diet yang kaya dengan buah-

buahan, sayuran, dan produk susu ren-dah lemak, termasuk biji-bijian utuh, ikan

dan kacang-kacangan serta mengurangi lemak yang berasal dari daging yang

berwarna merah, permen, dan minuman yang mengan-dung gula. Terapi gizi medis

untuk penge-lolaan hipertensi berfokus pada penurunan berat badan dan

mengurangi asupan natrium sebab pengurangan asupan natrium akan berefek pada

penurunan tekanan darah dan efek yang sama juga didapatkan pada penurunan berat

badan. Beberapa studi meta-analisis menjelaskan hubungan antara asupan natrium

dan tekanan darah dimana dengan pembatasan sedang natrium (sodium 2.400

mg/hari (100 mmol) atau natrium klorida (garam dapur) 6.000 mg/hari) dapat me-

nurunkan tekanan darah sebanyak 5 mmHg untuk sistolik dan 2 mmHg untuk

tekanan darah diastolik pada subyek hipertensi dan pengurangan dari 3 mmHg

untuk sistolik dan 1 mmHg untuk tekanan darah diastolik pada subyek normal.

Terapi gizi medis pada penyandang diabetes dengan dislipidemia adalah

dengan membatasi konsumsi asam lemak jenuh dan asam lemak trans < 7% dari
48

total kalori, dan asupan kolesterol < 200 mg/hari, meningkat-kan konsumsi serat

terlarut (soluble fibre) sejumlah 10-25 gr/hari, stanol/sterol dari tumbuhan 2 gr/hr,

menurunkan berat badan dan melakukan aktivitas fisik. Pemberian suplementasi

dengan minyak ikan yang me-ngandung asam lemak omega-3 dapat dire-

komendasikan.

2.6 Rekomendasi nutrisi pada penyandang diabetes dengan komplikasi

akut dan pada pasien diabetes dengan keadaan khusus.

2.6.1 Hipoglikemia

Pada penyandang diabetes yang meng-gunakan insulin atau insulin

sekretagog, adanya perubahan pada aktivitas fisik atau perubahan pada asupan

makanan dapat me-nyebabkan keadaan hipoglikemia (glukosa plasma < 70 mg/dL)

sehingga dibutuhkan asupan glukosa atau makanan yang me-ngandung glukosa.

Untuk hipoglikemia yang disebabkan pemberian insulin, 10 gr glukosa oral

dapat meningkatkan kadar glukosa plasma 40 mg/dL selama 30 menit, sedangkan

20 gr glukosa oral dapat meningkatkan kadar glu-kosa plasma 60 mg/dL selama

45 menit. Biasanya kadar glukosa plasma akan me-nurun 60 menit setelah

pemberian glukosa, sehingga untuk keadaan hipoglikemia kadar glukosa plasma

harus diperiksa pada 60 menit sesudah pemberian glukosa. Penam-bahan protein

atau lemak tidak mempenga-ruhi respon glisemik dan tidak mencegah hipoglikemia

berulang.
49

2.6.2 Keadaan penyakit akut

Keadaan penyakit akut dapat mencetuskan hiperglikemia juga ketoasidosis

sehingga diperlukan monitoring kadar glukosa plasma dan keton, pemberian cairan

yang adekuat, pemberian insulin atau obat-obatan penurun kadar glukosa serta

asupan karbohidrat. Pada orang dewasa, pemberian 150-200 gr karbohidrat per hari

(45-50 gr setiap 3 - 4 jam) adalah cukup untuk mencegah ketosis akibat kekurangan

asupan kalori.

2.6.3 Penyandang diabetes dalam fasilitas perawatan medis

Hiperglikemia pada pasien dalam pera-watan medis adalah hal yang sering

terjadi. Keadaan ini merupakan salah satu faktor prognostik buruk yang

dihubungkan dengan mortalitas pada pasien dengan atau tanpa diabetes sehingga

dengan mengoptimalkan kontrol glukosa akan memberikan prognosis yang lebih

baik.

Kebutuhan kalori harian pada pasien da-lam perawatan medis adalah 25-30

kkal/kg berat badan per hari, atau 200 gr karbohidrat per hari yang dibagi seimbang

antara makanan pokok dan makanan selingan. Untuk pemberian makanan melalui

pipa lam-bung, jenis formula standar yang mengandung 50% karbohidrat dapat

digunakan. Untuk pasien pasca bedah, makanan haruslah diberikan sesegera

mungkin setelah dapat ditolerir.

2.6.4 Pasien diabetes dengan kehamilan dan laktasi


50

Pada penyandang diabetes dengan keha-milan, pengaturan energi dan

asupan karbo-hidrat adalah berdasarkan respons glukosa plasma dengan tetap

mempertimbangkan kebiasaan makan pasien. Seiring dengan per-kembangan

janin, maka glukosa secara terus-menerus akan diambil dari ibu, sehingga perlu

adanya pengaturan pola makan ibu yang mencakup konsistensi waktu makan serta

jumlah asupan makanan untuk mencegah ri-siko hipoglikemia. Pencatatan

mengenai jumlah dan jenis makanan, serta kadar gula darah harian akan

memberikan informasi berharga dalam menentukan pemberian insulin dan

penyesuaian terhadap perencanaan diet.

Terapi gizi medis pada penyandang dia-betes melitus gestasional harus

dilaksanakan saat pertama kali didiagnosis. Pemberian terapi insulin diperlukan

dalam mengontrol kadar glukosa plasma, serta untuk mengu-rangi risiko

komplikasi perinatal.

Diet rendah kalori pada kehamilan yang obes dengan diabetes melitus

gestasional dapat menyebabkan ketonemia dan keton-uria. Akan tetapi, dengan

pembatasan kalori sedang (30% dari total kebutuhan energi) dapat memperbaiki

kontrol glukosa serta menurunkan pertambahan berat badan tanpa

menyebabkan ketonemia. Jumlah karbohidrat yang digunakan adalah dengan

mempertimbangkan kadar glukosa plasma, rasa lapar, pertambahan berat

badan, dan kadar keton. Pengaturan diet dapat dibagi dalam tiga porsi

makanan pokok dalam jumlah kecil hingga sedang, beserta makanan

selingan sebanyak dua sampai empat kali per hari. Pemberian makanan selingan

pada malam hari dibutuhkan untuk mencegah ketosis pada malam hari.
51

Pada ibu laktasi dengan diabetes, biasa nya kebutuhan insulin

harian lebih rendah dari biasanya, hal ini disebabkan karena sejumlah kalori

yang harus digunakan untuk menyusui dan merawat bayi. Pada ibu dengan laktasi

sering ditemui adanya fluktuasi pada kadar glukosa darah, hal ini berhubungan

dengan waktu merawat bayi, sehinga dibutuhkan makanan selingan yang

mengandung karbohidrat sebelum atau sementara menyusui.

Penatalaksanaan terapi gizi medis pada penyandang diabetes

yang lanjut usia (lan-sia) membutuhkan perhatian khusus. Pembatasan asupan

makanan pada individu lansiatidak dianjurkan mengingat bahaya terjadinya

malnutrisi dan dehidrasi, sehingga untuk kontrol gula darah lebih difokuskan

pada terapi farmakologis. Menurunkan berat badan pada penyandang diabetes

lansia dengan berat badan lebih harus dievaluasi secara hati-hati.

Suplementasi dengan multivitamin harian dapat diberikan, khususnya pada

individu dengan asupan gizi yang kurang.

2.5 Hipertensi

2.5.1 Definisi

Hipertensi merupakan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan

darah terhadap dinding arteri dalam jangka waktu lama. Hal tersebut dapat terjadi

karena jantung bekerja lebih keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan

oksigen dan nutrisi tubuh. Hipertensi ditandai dengan tekanan darah sistolik 140

dan tekanan darah diastolik 90 mmHg. Peningkatan tekanan darah yang

berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan


52

pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak

(menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan

yang memadai.

2.5.2 Epidemiologi

American Heart Association {AHA} menyatakan penduduk Amerika yang

berusia diatas 20 tahun menderita hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5 juta

jiwa, namun hampir sekitar 90-95% kasus tidak diketahui penyebabnya.

Menurut data Riskesdas 2013, prevalensi hipertensi di Indonesia yang

didapat melalui pengukuran oleh tenaga kesehatan pada umur 18 tahun sebesar

25,8 persen, tertinggi di Bangka Belitung (30,9%), diikuti Kalimantan Selatan

(30,8%), Kalimantan Timur (29,6%) dan Jawa Barat (29,4%). Responden yang

mempunyai tekanan darah normal tetapi sedang minum obat hipertensi sebesar 0.7

persen. Jadi prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 26,5 persen (25,8% + 0,7

%). Prevalensi hipertensi cenderung meningkat seiring pertambahan usia.

Perempuan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan laki-laki. Sebanyak

42% kejadian hipertensi terjadi lebih banyak pada masyarakat yang tidak sekolah.

Sebanyak 29,2% penderita hipertensi tidak bekerja. Penderita hipertensi sedikit

lebih banyak tinggal di daerah perkotaan dibandingkan di pedesaan.

2.5.3 Klasifikasi

Berdasarkan etiologinya, hipertensi diklasifikasikan menjadi :

1. Hipertensi primer/esensial : hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya.


53

2. Hipertensi sekunder : akibat suatu penyakit atau kelainan mendasari, seperti

stenosis arteri renalis, penyakit parenkim ginjal, feokromositoma,

hiperaldosteronisme, dan sebagainya.

JNC VII membagi hipertensi menjadi tiga kategori, yaitu pre hipertensi,

hipertensi grade 1, hipertensi grade 2.

Klasifikasi Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolik

(mmHg) (mmHg)

Normal < 120 < 80

Prehipertensi 120-139 80-89

Hipertensi stage I 140-159 90-99

Hipertensi stage II > 160 > 100

Tabel 4. Klasifikasi Hipertensi (JNC VII)

2.5.4. Patogenesis Hipertensi Primer

Hipertensi primer merupakan hasil dari interaksi yang kompleks antara

faktor-faktor risiko tertentu. Faktor-faktor risiko yang mendorong timbulnya

kenaikan tekanan darah tersebut adalah :

1. Faktor risiko : Faktor risiko hipertensi dapat dibagi dua, yaitu faktor yang

tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang dapat dimodifikasi. Faktor-faktor

yang dapat dimodifikasi yaitu usia, jenis kelamin, genetik, dan ras. Faktor-

faktor yang dapat dimodifikasi yaitu diet dan asupan garam, stress, obesitas,

merokok.

Usia
54

Umurnya seseorang yang berisiko menderita hipertensi

adalah usia diatas 45 tahun dan serangan darah tinggi baru muncul

sekitar usia 40 walaupun dapat terjadi pada usia muda.11

Progresifitas hipertensi dimulai dari prehipertensi pada pasien umur

10-30 tahun (dengan meningkatnya curah jantung) kemudian

menjadi hipertensi dini pada pasien umur 20-40 tahun (dimana

tahanan perifer meningkat) kemudian menjadi hipertensi pada umur

30- 50 tahun dan akhirnya menjadi hipertensi dengan komplikasi

pada usia 40-60 tahun.

Jenis kelamin

Data di Amerika menunjukan bahwa sampai usia 45 tahun

tekanan darah laki-laki lebih tinggi sedikit dibandingkan wanita,

antara usia 45 tahun sampai 55 tahun tekanan natara laki-laki dan

wanita relatif sama, dan selepas usia tersebut tekanan darah wanita

meningkat jauh daripada laki-laki. Hal ini kemungkinan diakibatkan

oleh pengaruh hormon. Pada usia 45 tahun, wanita lebih cenderung

mengalami arteriosklerosis, karena salah satu sifat estrogen adalah

menahan garam, selain itu hormon estrogen juga menyebabkan

penumpukan lemak yang mendukung terjadinya arteriosclerosis.

Genetik

Seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk

mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita


55

hipertensi. Pada 70-80 kasus hipertensi esensial didapatkan juga

riwayat hipertensi pada orang tua.

Ras

Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang yang berkulit

hitam daripada orang yang berkulit putih. Sampai saat ini, belum

diketahui secara pasti penyebabnya. Namun, pada orang kulit hitam

ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sensitivitas terhadap

vasopresin lebih besar.

Asupan garam

Garam membantu menahan air di dalam tubuh, the American

Heart Association step II menganjurkan, seseorang rata-rata

mengkonsumsi tidak lebih dari 2400mg garam per hari, terutama

orang yang peka terhadap garam. Diet garam yang berlebihan dapat

menyebabkan baik hipertensi. Karena garam menahan air akan

meningkatkan volume darah yang akan mengakibatkan

bertambahnya tekanan dalam arteri.

Asupan karbohidrat dan lemak

Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi, bahan

pembentuk berbagai senyawa tubuh, bahan pembentuk asam amino

esensial, metabolisme normal lemak, menghemat protein,

meningkatkan pertumbuhan bakteri usus, mempertahankan gerak

usus, meningkatkan konsumsi protein, mineral dan vitamin.


56

Hiperlipidemia adalah keadaan meningkatnya kadar lipid darah

dalam lipoprotein (kolesterol dan trigliserida).

Hal ini berkaitan dengan intake lemak dan karbohidrat dalam

jumlah yang berlebihan dalam tubuh. Keadaan tersebut akan

menimbulkan resiko terjadinya artherosklerosis. Metabolisme

karbohidrat menyebabkan terjadinya hiperlipidemia adalah mulai

dari pencernaan karbohidrat di dalam usus halus berubah menjadi

monosakarida galaktosa dan fruktosa di dalam hati kemudian

dipecah menjadi glikogen dalam hati dan otot. Kemudian glikogen

dipecah menjadi glukosa dirubah dalam bentuk piruvat dipecah

menjadi asetil KoA sehingga akhirnya terbentuk karbondioksida, air

dan energi. Bila energi tidak diperlukan, asetil KoA tidak memasuki

siklus TCA tetapi digunakan untuk membentuk asam lemak,

melakukan esterifikasi dengan gliserol (diproduksi dalam glikolisis)

dan menghasilkan trigliserida. Pembuluh darah koroner yang

menderita artherosklerosis selain menjadi tidak elastis, juga

mengalami penyempitan sehingga tahanan aliran darah dalam

pembuluh koroner juga naik, yang nantinya akan memicu terjadinya

hipertensi.

Hiperlipidemia adalah keadaan meningkatnya kadar lipid

darah dalam lipoprotein (kolesterol dan trigliserida). Metabolisme

lemak sehingga menyebabkan hipertensi adalah Lipoprotein sebagai

alat angkut lipida bersirkulasi dalam tubuh dan dibawa ke sel-sel


57

otot, lemak dan sel-sel lain begitu juga pada trigliserida dalam aliran

darah dipecah menjadi gliserol dan asam lemak bebas oleh enzim

lipoprotein lipase yang berada pada sel-sel endotel kapiler. Reseptor

LDL oleh reseptor yang ada di dalam hati akan mengeluarkan LDL

dari sirkulasi.

Pembentukan LDL oleh reseptor LDL ini penting dalam

pengontrolan kolesterol darah. Di samping itu dalam pembuluh

darah terdapat sel-sel perusak yang dapat merusak LDL, yaitu

melalui jalur sel-sel perusak yang dpat merusak LDL. Melalui jalur

ini (scavenger pathway), molekul LDL dioksidasi, sehingga tidak

dapat masuk kembali ke dalam aliran darah. Kolesterol yang banyak

terdapat dalam LDL akan menumpuk pada dinding pembuluh darah

dan membentuk plak. Plak akan bercampur dengan protein dan

ditutupi oleh sel-sel otot dan kalsium yang akhirnya berkembang

menjadi artherosklerosis. Pembuluh darah koroner yang menderita

artherosklerosis selain menjadi tidak elastis, juga mengalami

penyempitan sehingga tahanan aliran darah dalam pembuluh

koroner juga naik. Naiknya tekanan sistolik karena pembuluh darah

tidak elastis serta naiknya tekanan diastolik akibat penyempitan

pembuluh darah disebut juga tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Kegemukan

Perubahan fisiologis dapat menjelaskan hubungan antara

kelebihan berat badan dengan tekanan darah, yaitu terjadinya


58

resistensi insulin dan hiperinsulinemia, aktivasi saraf simpatis dan

sistem reninangiotensin, dan perubahan fisik pada ginjal.

Peningkatan konsumsi energi juga meningkatkan insulin plasma,

dimana natriuretik potensial menyebabkan terjadinya reabsorpsi

natrium dan peningkatan tekanan darah secara terus menerus.

2. Sistem saraf simpatis

- Tonus simpatis

- Variasi diurnal

3. Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokontriksi: endotel

pembuluh darah berperan utama, tetapi remodelling dari endotel, otot polos,

dan interstisium juga memberikan kontribusi akhir.

4. Pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan pada sistem renin,

angiotensin, dan aldosterone.

Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiostensin

II dari angiostensin I oleh Angiostensin I Converting Enzyme (ACE). ACE

memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah

mengandung angiostensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon,

renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiostensin I. oleh ACE yang

terdapat di paru-paru, angiostensin I diubah manjadi angiostensin II. Angiostensin

II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua

aksi utama.

Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormone antidiuretik (ADH)

dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada
59

ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Meningkatnya ADH, sangat

sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat

dan tinggi osmolaritasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler

akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya,

volume darah meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.

Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal.

Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal.

Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi

NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya

konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume

cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume tekanan

darah.

Gambar 2. Faktor-faktor Terhadap Pengendalian Tekanan Darah.

2.5.5 Diagnosis

1. Anamnesis

Sebagian besar pasien hipertensi tidak menunjukkan gejala, sampai

timbulnya gejala akibat komplikasi target organ. Gejala yang mungkin


60

terjadi adalah nyeri kepala yang terasa seperti berputar, atau penglihatan

kabur. Pasien juga harus ditanyakan mengenai kondisi-kondisi yang dapat

menyebabkan hipertensi sekunder, seperti penggunaan obat-obatan berupa

kontrasepsi hormonal, kortikosteroid, dekongestan, dan NSAID; riwayat

penyakit ginjal sebelumnya.

Selain itu, faktor-faktor risiko kardiovaskular berupa merokok,

aktivitas fisik yang kurang, riwayat dyslipidemia, riwayat diabetes mellitus,

dan riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular dini (laki-laki <55

tahun dan perempuan <65 tahun) juga harus ditanyakan kepada pasien.

2. Pemeriksaan fisik

Pengukuran tekanan darah dilakukan dua kali dalam setiap kali

kunjungan ke dokter. Apabila tekanan darah 140/90 mmHg pada dua atau

lebih kunjungan, maka diagnosis hipertensi dapat ditegakkan.

3. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk menilai komplikasi yang

telah terjadi.

I. Laboratorium : darah lengkap, ureum, kreatinin, gula darah, lemak

darah, elektrolit, kalsium, asam urat, dan urinalisis.

II. Pemeriksaan lainnya : elektrokardiografi, funduskopi, rontgen

thorax, ekokardiografi.
61

Gambar 3. Algoritma penegakkan diagnosis hipertensi

2.5.6 Tatalaksana

Secara umum, tatalaksana hipertensi dapat dibagi menjadi dua, yaitu

modifikasi gaya hidup dan terapi medikamentosa.

1. Modifikasi gaya hidup

Pada pasien yang menderita hipertensi derajat 1, tanpa faktor risiko

kardiovaskular lain, maka strategi pola hidup sehat merupakan tatalaksana

tahap awal, yang harus dijalani setidaknya selama 4 6 bulan. Bila setelah

jangka waktu tersebut, tidak didapatkan penurunan tekanan darah yang

diharapkan atau didapatkan faktor risiko kardiovaskular yang lain, maka

sangat dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi.


62

Penurunan berat badan : Mengganti makanan tidak sehat dengan

memperbanyak asupan sayuran dan buah-buahan dapat memberikan

manfaat yang lebih selain penurunan tekanan darah, seperti

menghindari diabetes dan dislipidemia. Target indeks masa tubuh

dalam rentang normal untuk orang Asia-Pasifik 18.5 22.9 Kg/m2.

Penurunan berat badan per 10 kg akan menurunkan tekanan darah

sebesar 5-20 mmHg.

Diet : Pola diet yang baik untuk hipertensi mencakup konsumsi

buah-buahan, sayur-sayuran, serta produk susu rendah lemak

jenuh/lemak total.

Penurunan asupan garam : Konsumsi NaCl yang disarankan adalah

<6 gram/hari. Tekanan darah dapat menurun 2-8 mmHg bila

membatasi asupan garam.

Aktivitas fisik : Target aktivitas fisik yang disarankan minimal 30

menit/hari, minimal 3x/minggu. Terhadap pasien yang tidak

memiliki waktu untuk berolahraga secara khusus, sebaiknya harus

tetap dianjurkan untuk berjalan kaki, mengendarai sepeda atau

menaiki tangga dalam aktifitas rutin mereka di tempat kerjanya.

Penurunan tekanan darah yang diharapkan sebesar sebesar 4-8

mmHg.

Pembatasan konsumsi alkohol : Konsumsi alcohol dibatasi tidak

lebih dari dua gelas./hari pada pria dan kurang dari satu gelas/hari
63

pada wanita. Penurunan tekanan darah yang diharapkan sebesar 2-4

mmHg.

2. Terapi Medikamentosa

Secara umum, terapi farmakologi pada hipertensi dimulai bila pada

pasien hipertensi derajat 1 yang tidak mengalami penurunan tekanan darah

setelah > 6 bulan menjalani pola hidup sehat dan pada pasien dengan

hipertensi derajat 2. Beberapa prinsip dasar terapi farmakologi yang perlu

diperhatikan untuk menjaga kepatuhan dan meminimalisasi efek samping,

yaitu :disarankan pemberian obat dosis tunggal, pemberian obat generik bila

sesuai dan dapat mengurangi biaya, berikan obat pada pasien usia lanjut (

diatas usia 80 tahun ) seperti pada usia 55 80 tahun dengan memperhatikan

faktor komorbid, jangan mengkombinasikan angiotensin converting enzyme

inhibitor (ACE-i) dengan angiotensin II receptor blockers (ARBs), dan

berikan edukasi yang menyeluruh kepada pasien mengenai terapi

farmakologi Lakukan pemantauan efek samping obat secara teratur.

Sekali terapi antihipertensi dimulai, pasien harus rutin control dan

mendapat pengaturan dosis setiap bulan sampai target tekanan darah

tercapai. Frekuensi kontrol untuk hipertensi derajat 2 harus lebih sering.

Setelah mencapai target dan stabil, frekuensi kunjungan diturunkan hingga

menjadi 3-6 bulan sekali.


64
65

Gambar 4. Algoritma Tatalaksana Hipertensi (JNC 8, 2014)

Tabel 6. Jenis obat antihipertensi oral

2.5.7 Komplikasi

Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara

langsung maupun tidak langsung. Kerusakan organ-organ target yang umum

ditemui pada pasien hipertensi adalah

1. Serebrovaskular : stroke, transient ischemic attack, demensia vascular;

2. Mata : retinopati hipertensif;

3. Kardiovaskular : penyakit jantung hipertensif, disfungsi atau hipertrofi

ventrikel kiri, penyakit jantung koroner;

4. Ginjal : nefropati hipertensif, albuminuria, penyakit ginjal kronis


66

5. Arteri perifer : klaudikasio intermiten.

2.5.8 Penatalaksanaan Diet Penderita Hipertensi

Pada penderita hipertensi dimana tekanan darah tinggi > 160 /gram mmHg,

selain pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietetik dan merubah gaya

hidup. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah untuk membantu menurunkan

tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu,

diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang

berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus

diperhatikan pula penyakit degeneratif lain yang menyertai darah tinggi seperti

jantung, ginjal dan diabetes mellitus.

Prinsip diet pada penderita hipertensi adalah sebagai berikut :

Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang.

Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita.

Jumlah garam dibatasi sesuai dengan kesehatan penderita dan jenis

makanan dalam daftar diet.

Yang dimaksud dengan garam disini adalah garam natrium yang terdapat

dalam hampir semua bahan makanan yang berasal dari hewan dan tumbuh-

tumbuhan. Salah satu sumber utama garam natrium adalah garam dapur. Oleh

karena itu, dianjurkan konsumsi garam dapur tidak lebih dari - sendok teh/hari

atau dapat menggunakan garam lain diluar natrium.


67

2.5.8.1 Mengatur Menu Makanan

Mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi untuk

menghindari dan membatasi makanan yang dpat meningkatkan kadar kolesterol

darah serta meningkatkan tekanan darah, sehingga penderita tidak mengalami

stroke atau infark jantung.

Makanan yang baik dikonsumsi adalah :

1. Makanan yang segar: sumber hidrat arang, protein nabati dan hewani,

sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung serat.

2. Makanan yang diolah tanpa atau sedikit menggunakan garam natrium,

vetsin, kaldu bubuk.

3. Sumber protein hewani: penggunaan daging/ ayam/ ikan paling banyak 100

gram/ hari. Telur ayam/ bebek 1 butir/ hari.

4. Susu segar 200 ml/ hari.

Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah:

1. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak

kelapa, gajih).

2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, craker,

keripik dan makanan kering yang asin).

3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta

buah-buahan dalam kaleng, soft drink).

4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin,

pindang, udang kering, telur asin, selai kacang).


68

5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein

hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning

telur, kulit ayam).

6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco

serta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandung garam natrium.

7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.

Cara mengatur diet untuk penderita hipertensi adalah dengan memperbaiki

rasa tawar dengan menambah gula merah/putih, bawang (merah/putih), jahe,

kencur dan bumbu lain yang tidak asin atau mengandung sedikit garam natrium.

Makanan dapat ditumis untuk memperbaiki rasa. Membubuhkan garam saat diatas

meja makan dapat dilakukan untuk menghindari penggunaan garam yang berlebih.

Dianjurkan untuk selalu menggunakan garam beryodium dan penggunaan garam

jangan lebih dari 1 sendok teh per hari.

Meningkatkan pemasukan kalium (4,5 gram atau 120 175 mEq/hari) dapat

memberikan efek penurunan tekanan darah yang ringan. Selain itu, pemberian

kalium juga membantu untuk mengganti kehilangan kalium akibat dan rendah

natrium. Pada umumnya dapat dipakai ukuran sedang (50 gram) dari apel (159 mg

kalium), jeruk (250 mg kalium), tomat (366 mg kalium), pisang (451 mg kalium)

kentang panggang (503 mg kalium) dan susu skim 1 gelas (406 mg kalium).

Kecukupan kalsium penting untuk mencegah dan mengobati hipertensi: 2-3 gelas

susu skim atau 40 mg/hari, 115 gram keju rendah natrium dapat memenuhi

kebutuhan kalsium 250 mg/hari. Sedangkan kebutuhan kalsium perhari rata-rata

808 mg.
69

2.5.8.2 Suplementasi antioksidan

1. Vitamin dan penurunan homosistein

Asam folat, vitamin B6, vitamin B 12 dan riboflavin merupakan ko-faktor

enzim yang essential untuk metabolisme homosistein. Berbagai penelitian

menunjukkan bahwa peningkatan kadar homosistein dalam darah akan

meningkatkan risiko penyakit arteri koroner. Kadar asam folat yang rendah

berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit koroner dan kadar vitamin yang

rendah juga

berkaitan dengan peningkatan risiko aterosklerosis.

2. Kacang kedelai dan isoflavon

Kedelai banyak mengandung fito estrogen yaitu isoflavon, yang memiliki

aktivitas estrogen lemah. Penelitian meta analisis pada tahun 1995 menyimpulkan

bahwa isoflavon dari protein kedelai lebih bermakna menurunkan kadar kolesterol

total, kolesterol LDL dan trigliserida, tanpa mempengaruhi kadar kolesterol HDL.

Sehingga dianjurkan mengkonsumsi protein kedelai (20 50 gram/hari) dengan

modifikasi diet pada penderita dengan kadar kolesterol (total dan LDL) yang tinggi.

Tempe adalah hasil pengolahan kedelai yang melalui proses fermentasi, dengan

kandungan gizi lebih baik dari kedelai. Sehingga tempe dianjurkan untuk di

konsumsi oleh penderita hipertensi sebagai sumber protein nabati.

3. Tempe
70

Tempe merupakan sumber zat gizi yang baik, terutama bagi penderita

hiperkolesterolemia. Dari berbagai penelitian ternyata tempe dapat menurunkan

kadar kolesterol dalam darah serta mencegah timbulnya penyempitan pembuluh

darah, karena tempe mengandung asam lemak tidak jenuh ganda. Sehingga

penderita hipertensi dianjurkan untuk mengkonsumsi tempe setiap hari, disamping

diet rendah lemak jenuh.

4. Asam lemak omega 3 :

Mengkonsumsi satu porsi ikan yang tinggi lemak (atau minyak ikan ) tiap

hari dapat menjadi asupan asam lemak omega 3 (EPA dan DHA) sekitar 900 mg/dl,

dan dilaporkan dapat menurunkan kadar kolesterol danmencegah penyakit jantung

koroner.

5. Serat :

Walaupun berbagi studi menunjukkan adanya hubungan antara beberapa

jenis serat gengan penurunan kolesterol lDDL dan atau kolesterol total, namun

belum ada bukti langsung yang menunjukkan hubungan antara suplemen serat

dengan penurunan penyakit kardio vaskular.


71

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan desain

penelitian yang digunakan adalah studi potong lintang (cross-sectional study).

Penelitian dilakukan dengan cara pembagian kuesioner kepada seluruh peserta

program Prolanis yang datang ke Puskesmas Mekarwangi.

3.2 Waktu Dan Tempat Penelitian

Waktu penelitian : Oktober 2016 Januari 2017

Tempat penelitian : Penelitian dilakukan di Puskesmas Induk

Mekarwangi.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah semua peserta program Prolanis di Puskesmas

Mekarwangi, dengan metode pengambilan sampel yakni simple random sampling.

Kriteria ekslusi pada penelitian ini adalah: apabila subjek menolak untuk

mengisi kuesioner; apabila subjek tidak mengisi kuesioner dengan lengkap.


72

3.4 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner secara

langsung kepada seluruh peserta program Prolanis yang datang ke Puskesmas

Mekarwangi. Subjek dikumpulkan di ruang aula Puskesmas, lalu bersama-sama

diberikan waktu untuk mengisi kuesioner yang telah dibagikan.

3.5 Metode Analisis Data

Analisa data dilakukan dengan menghitung skor jumlah jawaban benar pada

kuesioner. Skor dikategorikan menjadi tiga kategori: kategori baik jika skor 76-100;

kategori cukup jika skor 56-75; kategori buruk jika skor kurang dari 56. Skala

tesebut merupakan skala kuantitatif yang dapat mengukur tingkat pengetahuan

berdasarkan Arikunto. Analisis data kuesioner dilakukan dengan menggunakan

perangkat lunak SPSS 16.0.


73

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian

Pada penelitian ini kami melakukan pengambilan data dengan


menggunakan kuisioner yang diisi oleh peserta PROLANIS di Puskesmas
Mekarwangi BCV pada periode bulan November-Desember 2016 yang berjumlah
22 orang. Berdasarkan metode penelitian yang digunakan pada Bab III, berikut ini
akan kami sampaikan data hasil penelitian secara deskriptif, berupa tabel dan
grafik.

4.1.1 Karakteristik Responden

Berikut ini adalah gambaran karakteristik peserta PROLANIS di Puskesmas


Mekarwangi BCV berdasarkan usia:

Gambar 5 : Usia Responden

Berdasarkan grafik 4.1, sebanyak 8 orang responden (36%) berada pada


kelompok usia dewasa 30-44 tahun, 11 responden (50%) berada pada kelompok
74

usia 45-60 tahun atau disebut usia pre-lansia., dan sisanya yaitu 3 responden (14%)
berada pada kelompok lansia >60 tahun.

Berikut ini adalah gambaran karakteristik peserta PROLANIS di Puskesmas


Mekarwangi BCV berdasarkan jenis kelamin:

Jenis Kelamin

27%
Laki-laki
Wanita
73%

Gambar 6 : Jenis Kelamin

Berdasarkan grafik 4.2, dari 22 peserta PROLANIS, sebanyak 16 responden


(73%) berjenis kelamin perempuan dan 6 orang (27%) berjenis kelamin laki-laki.

Berikut ini adalah gambaran karakteristik peserta PROLANIS di Puskesmas


Mekarwangi BCV berdasarkan tingkat pendidikan:
75

Tingkat Pendidikan
Tidak Sekolah SD SMP SMA

9%
18%
14%

59%

Gambar 7 : Tingkat Pendidikan

Berdasarkan grafik 4.3, dari 22 responden, terdapat 2 orang (9%) dengan


tingkat pendidikan SMA, 3 orang (14%) berpendidikan SMP, 13 orang (59%)
berpendidikan SD, dan 4 orang (18%) tidak sekolah.

Berikut ini adalah gambaran karakteristik peserta PROLANIS di Puskesmas


Mekarwangi BCV berdasarkan pekerjaan:

Pekerjaan
Wiraswasta Buruh IRT Tidak bekerja

5%
9% 9%

77%

Gambar 8 : Pekerjaan
76

Berdasarkan grafik 4.4, 2 dari 22 responden (9%) bekerja sebagai wiraswasta, 1


orang (5%) bekerja sebagai buruh, 17 orang (77%) bekerja sebagai ibu rumah tangga, dan
2 orang (9%) tidak bekerja.

4.1.2 Hasil Kuesioner

Berdasarkan hasil kuisioner, dari 22 responden terdapat 2 orang (9,1%)


dengan tingkat pengetahuan akan penyakit hipertensi dan diabetes mellitus yang
baik, 9 orang (40,9%) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, dan 11 orang
(50%) memiliki tingkat pengetahuan kurang. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa
sebagian responden memiliki pengetahuan buruh mengenai penyakit hipertensi dan
diabetes mellitus.

Tingkat Pengetahuan
Baik Cukup Kurang

9%

50%
41%

Gambar 9 : Tingkat Pengetahuan


77

100%

90%

80%

70%

60%
Baik
50%
Cukup
40% Kurang
30%

20%

10%

0%
Tidak Sekolah SD SMP SMA

Gambar 10 : Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Berdasarkan grafik 4.6 diketahui bahwa kelompok responden dengan


tingkat pendidikan tidak sekolah, 1 responden memilki pengetahuan baik, dan 3
responden memiliki tingkat pengetahuan kurang. Pada kelompok responden dengan
tingkat pendidikan SD, 8 responden memiliki pengetahuan yang cukup dan 5 orang
memiliki pengetahuan kurang. Pada kelompok dengan tingkat pendidikan SMP,
masing-masing 1 orang memiliki pengetahuan baik, cukup, dan buruk. Pada
kelompok dengan tingkat pendidikan SMA, 2 orang memiliki tingkat pengetahuan
yang cukup.
78

BAB V

DISKUSI

Tingkat pengetahuan adalah bagian dari perilaku yang dipengaruhi oleh

faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari usia, jenis kelamin, tingkat

pendidikan, persepsi, inteligensia, dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal adalah

faktor sosial dan budaya seperti strata sosial, status ekonomi, adat-istiadat,

kepercayaan dan kebiasaan masyarakat. Oleh karena itu perbedaan wilayah juga

dapat memengaruhi tingkat pengetahuan dari masyarakatnya.

Dari penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar dari pasien prolanis

Puskesmas Mekarwangi (50% dari total responden) memiliki tingkat pengetahuan

yang buruk terhadap pengetahuan akan gizi seimbang. Perbedaan tingkat

pengetahuan masyarakat tentang gizi seimbang bisa disebabkan oleh keberagaman

karakteristik masyarakatnya, seperti: usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, adat-

istiadat, pekerjaan, status sosial dan ekonomi. Dalam wilayah kota Bogor sendiri

belum ditemukan penelitian tentang pengetahuan pasien prolanis terhadap gizi

seimbang sehingga tidak dapat dibandingkan.

Tingkat pendidikan merupakan salah satu yang sangat berperan penting

memengaruhi tingkat pengetahuan masyarakat. Menurut Notoatmodjo, semakin

tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya.

Responden dengan latar belakang pendidikan yang tinggi akan lebih mudah untuk

menerima dan memahami informasi yang diberikan oleh petugas kesehatan. Latar

belakang pendidikan pada penelitian ini sebagian besar adalah Sekolah Dasar. Pada
79

penelitian ini kategori tingkat pengetahuan buruk sebagian besar memiliki latar

belakang pendidikan SD/Madrasah (38,5%).

Pada penelitian ini sebagian besar responden sudah mendapatkan edukasi

mengenai gizi seimbang pada saat kunjungan ke klinik prolanis. Namun sebagian

besar tingkat pengetahuan responden terhadap gizi seimbang masih buruk. Hal ini

mungkin disebabkan karena waktu yang singkat pada saat kunjungan ke klinik yang

dikarenakan jumlah pasien yang banyak sehingga menjadi tidak efektif. Oleh

karena itu penting untuk dilakukan penyuluhan tentang gizi seimbang dalam satu

waktu dan tempat agar edukasi gizi seimbang pasien prolanis efektif dan efisien.

Selain edukasi melalui penyuluhan, konseling juga perlu dilakukan terhadap pasien

prolanis mengenai gizi seimbang termasuk membuat daftar menu makanan

berdasarkan kebutuhan kalori idealnya. Metode konseling bisa dilakukan dengan

cara melakukan kunjungan rumah pasien prolanis Puskesmas Mekarwangi secara

berkala.
80

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari mini project yang dilakukan untuk menilai gambaran tingkat

pengetahuan masyarakat terhadap gizi seimbang pada penderita hipertensi dan

diabetes melitus di Puskesmas Mekarwangi Kota Bogor ini dapat disimpulkan

bahwa 50% responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang baik.

Kemudian, bila dinilai dari aspek pendidikan, tampak bahwa responden

dengan tingkat pengetahuan kurang paling banyak dimiliki responden dengan latar

belakang SD/Madrasah dan tidak sekolah sebesar 47%. Sedangkan sebagian besar

(60%) dari responden dengan tingkat pendidikan SMA dan SMP memiliki

pengetahuan yang cukup lebih baik. Responden dengan latar belakang pendidikan

yang tinggi akan lebih mudah untuk menerima dan memahami informasi yang

diberikan oleh petugas kesehatan.

6.2 Saran

Beberapa saran yang dapat penyusun berikan dalam mini project ini yaitu

sebagai berikut:

1. Waktu penelitian yang lebih lama dengan menggunakan desain penelitian

kohort agar lebih valid dalam menilai keberhasilan post-intervensi.

2. Jumlah sampel yang lebih banyak dan lebih merata disemua wilayah agar

lebih representatif dalam menggambarkan hasilnya.


81

3. Aspek penelitian yang lebih banyak dan parameter masing-masing aspek

penelitian yang lebih terukur.

4. Intervensi yang lebih baik, lebih lama, dan lebih variatif.

5. Pengawasan dan follow-up terhadap pasien yang sudah berhasil dilakukan

intervensi.

6. Pemberian edukasi atau penyuluhan tentang gizi seimbang pada pasien

hipertensi dan DM terhadap kader posbindu.

7. Melibatkan kader dalam memberikan informasi tentang pentingnya

penanganan gizi terhadap pasien hipertensi dan DM.


82

DAFTAR PUSTAKA

1. Notoatmodjo, Soekidjo. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta :

Rineka Cipta. 2007

2. Notoatmodjo, Soekidjo. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka

Cipta. 2003

3. Hendra. 2008. Pengetahuan. Di unduh dari

http://ajangberkarya.wordpress.com/

4. Hurlock. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga. 1998

5. Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan, 2014. Program Pengelolaan

Penyakit Kronis (PROLANIS). In: Panduan Praktis. Jakarta: BPJS Kesehatan.

Pengetahuan

6. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Gizi Seimbang. [diakses pada 26

Desember 2016]; Diakses dari:

http://gizi.depkes.go.id/download/Pedoman%20Gizi/PGS%20Ok.pdf.

7. Whitney E, Rolfes SR. Understanding nutrition. 11th ed: Thomson

Wadsworth; 2008.

8. World Health Organization. Nutrition; Diakses dari:

http://www.who.int/topics/nutrition/en/.

9. Almaitsier S, Soetardjo S, Soekarti M. Gizi seimbang dalam daur kehidupan.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2011.

10. American Diabetes Association. 2015. Classification and Diagnosis of

Diabetes. Diabetes Care; Vol 38(Suppl. 1): S8-16


83

11. Boedisantoso, R.A., Soegondo, S., Suyono, S., Waspadji, S., Yulia, Tambunan

dan Gultom. 2009. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta: FKUI.

12. Riset Kesehatan Dasar. 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan

Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

13. Waspadji, S. 2009. Komplikasi Kronik Diabetes: Mekanisme Terjadinya,

Diagnosis dan Strategi Pengelolaan. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,

Ed V, Jilid III. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam

14. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). 2013

15. International Diabetes Federation (IDF). IDF Diabetes Atlas Sixth Edition.

International Diabetes Federation (IDF). 2013.Perkumpulan Endokrinologi

Indonesia. Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2

di Indonesia, PB. PERKENI. Jakarta. 2015

16. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Petunjuk Praktis: Terapi Insulin Pada

Pasien Diabetes Melitus, PB. PERKENI. Jakarta. 2015

17. Bantle JP, Wylie-Rosett J, Albright A, Apovian CM, Clark NG, Franz

MJ, et al. Nutrition recommendations and interventions for diabetes: a

position statement of the American Diabetes Association. Diabetes Care.

2008;31:S61S78.

18. Koppes LL, Dekker JM, Hendriks HF, Bouter LM, Heine RJ. Moderate

alco-

hol consumption lowers the risk of type 2 diabetes: a meta-analysis of prospective

observational studies. Diabetes Care.2005;28:719-25.


84

19. Kris-Etherton PM, Harris WS, Appel LJ. Fish consumption, fish oil, omega-3

fatty acids, and cardiovascular disease. Circulation. 2002;106:2747-57.

20. Raben A, Vasilaras TH, Moller AC, Astrup A. Sucrose compared with

artificial sweeteners: different effects on ad libitum food intake and body

weight after 10 wk of supplementation in overweight subjects. Am J Clin

Nutr. 2002;76:721-9.

21. Trichopoulou A, Orfanos P, Norat T. Mo-dified Mediterranean diet and

survival: EPIC-elderly prospective cohort study.

22. Mayo clinic: high blood pressure (HTN) [Internet]. Mayo Foundation for

Medical Education and Research; c2001-2015. [updated 2014 Sept 5, cited

2016 Dec 26]. Available from:http://www.mayoclinic.org/diseases-

conditions/high- bloodpressure/basics/definition/con-

20019580http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-

pressure/basics/definition/con-20019580?reDate=26122016

23. Riset Kesehatan Dasar Riskesdas. Badan Penelitian dan Pengembangan

Kesehatan Kementerian Kesehatan RI; 2013

24. Chobanian AV et al. 2003. The Seventh Report of the Joint National

Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High

Blood Pressure. U.S. Department of Health and Human Services: NIH

Publication Dec 2003.

25. Hipertensi. InfoDatin Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

26. Tanto C, Hustrini NM. Hipertensi. Kapita Selekta Kedokteran. Ed IV. Media

Aesculapius. Jakarta: 2014.


85

27. Sharma S, et al. 2008. Hypertension. [serial online]

http//:www.emedicine.com

28. National Academy on an Ageing Society. 2000. Hypertension: a common

condition for Older Americans. National Academy on an Ageing Society. 12:

1-6.

29. Gunawan L. 2001. Tekanan Darah Tinggi. Yogyakarta: Kanisius.

30. Armilawaty, Amalia H, Amirudin R. 2007. Hipertensi dan Faktor Risikonya

dalam Kajian Epidemiologi. Bagian Epidemiologi FKM UNHAS.

31. Baliwati, Y.F., Khomsan, A., dan Dwiriani, C.M. 2004. Pengantar Pangan

dan Gizi. Jakarta: Penebar Swadaya.

32. Hull, A. 2001. Penyakit Jantung, Hipertensi, dan Nutrisi. Jakarta: Bumi

Aksara

33. Vilareal, H. 2008. Hypertension. A Wiley Medical Publication. New York.

[serial online] http://MedicineNet.com.

34. Cortas, K. 2008. Hypertension. [serial online]. http://www.emedicine.com

35. Djarwoto B. Hipertensi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Bagian Ilmu

Penyakit Dalam FK UGM. Edisi Revisi Jilid 1. 2015.

36. Vikrant S, SC Tiwari. Essential Hypertension Pathogenesis and

Pathophysiology. Indian Academy of Internal Medicine. 2001

37. Yogiantoro M. Hipertensi Esensial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam

Jilid I Edisi IV. Jakarta: FKUI. 2006

38. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular. Perhimpunan

Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. Edisi I. 2015


86

39. James PA, Oparil S, etc. American Medical Association. 2014 Evidence-Based

Guideline for the Management of High Blood Pressure in Adults. Report From

the Panel Members Appointed to the Eighth Joint National Committee (JNC

8). 2013 http://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/1791497

40. Kumar, V. Abbas, AK., sdan Fausto, N. 2005. Hypertensive Vascular Disease.

Dalam: Robin and Cotran Pathologic Basis of Disease, 7th edition.

Philadelpia: elsevier Saunders.

41. Kurniawan A. Diet Seimbang Untuk Mencegah Hipertensi. 2002

42. Kementerian Kesehatan RI. Diet Hipertensi. Brosur. 2011


87

LAMPIRAN

Lampiran 1: PROFIL PUSKESMAS

1. Data Geografis

Puskesmas Mekar Wangi merupakan salah satu UPTD puskesmas dengan


sertifikat ISO, serta mulai 1 April 2014 merupakan satu dari empat Puskesmas
Perawatan di wilayah Kota Bogor yang terletak di Kelurahan Mekar Wangi
Kecamatan Tanah Sareal. Diresmikan tanggal 8 Maret 2003, wilayah kerja
Puskesmas meliputi tiga Kelurahan yakni : Kelurahan Mekar Wangi, Suka Damai
dan Suka Resmi. Adapun batas wilayah kerja Puskesmas Mekar Wangi sebagai
berikut:

Sebelah Timur : Kelurahan Kedung Halang


Sebelah Barat : Kelurahan Cibadak
Sebelah Utara : Kelurahan Kencana
Sebelah Selatan : Kelurahan Kedung Badak

Tabel : Keterjangkauan Geografis Wilayah Kerja Puskesmas Mekar Wangi


N Keluraha Luas Jarak Kondisi Keterjangkauan Waktu Temouh
o n Wilaya Terjauh Sarana Transportasi ke Puskesmas
88

h Jumlah ke
Roda Roda
(Km2) RT/R Puskesma Roda 2 Roda 4 Jalan
2 4
W s
Mudah
Mekar Muda 30 35
1 2.35 68/14 6,9 km Ojek (Angko
Wangi h menit menit
t)
Mudah
Suka Muda 35 40
2 1.10 52/13 8,4 km Ojek (Angko
Damai h menit menit
t)
Suka Sedan 45 50
3 0.98 31/7 9,5 km Ojek Sedang
Resmi g menit menit
Jumlah 4.43 151/64 8.3 km - - - -
Sumber: Kelurahan Tahun 2015

Berdasarkan tabel diatas kendaraan umum yang paling strategis untuk

mencapai Puskesmas Mekar Wangi berupa ojek yang menyebabkan ongkos

transportasinya menjadi mahal, alternatif transport yang lain adalah angkot tetapi

hanya lewat 20 menit sekali dan rutenya terbatas ( Ps. Anyar-Kencana angkot no.

20). Kelurahan Suka Resmi merupakan wilayah yang terjauh dari Puskesmas

Mekar Wangi dengan kondisi keterjangkauan transportasi sedang, tetapi sudah ada

Pustu Sukaresmi sehingga masyarakat yang ada di wilayah Sukaresmi lebih dekat.

2. Data Monografi Penduduk

a) Komposisi Penduduk

Persentase penduduk laki-laki lebih besar (50.8%) dibanding perempuan

(49,2%). Sedangkan untuk tingkat kepadatan penduduk, yang terpadat adalah

Kelurahan Suka Damai dengan jumlah 13 jiwa/Km2.

Tabel Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin per Kelurahan Tahun 2015


Laki-laki Perempuan Luas
No Kelurahan Total Kepadatan/Jiwa/Km2
Jumlah % Jumlah % (Km2)
Mekar
1 10.254 51,2 9.786 48,8 20.040 2,35 9
Wangi
89

Suka
2 7.237 49,5 7.387 50,5 14.624 1,10 13
Damai
Suka
3 5.663 52 5.227 48 10.890 0,98 11
Resmi
Total 23.154 50,8 22.400 49,2 45.554 4,43 11
Sumber: Kelurahan Tahun 2015

b) Sarana Pendidikan

Tabel Data Sarana Pendidikan di wilayah Puskesmas Mekar Wangi tahun 2015
Kelurahan
No Sarana Pendidikan Jumlah
Mekarwangi Sukadamai Sukaresmi
1 TK 9 5 3 17
2 SD/MI 7 5 5 17
3 SMP/Sederajat 4 1 2 7
4 SMA/Sederajat 3 1 1 5
5 Akademi - - - -
6 Perguruan Tinggi - - - -
Lembaga Pendidikan
7 1 1 - 2
Agama
Jumlah 24 13 11 48
Sumber: Kelurahan Tahun 2015

Dari jumlah sarana pendidikan yang ada, terbanyak adalah terbanyak di

Kelurahan Mekar Wangi, serta jumlah TK dan SD sebanyak 17 instansi (35%) dari

jumlah sarana pendidikan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Mekar Wangi.

c) Sarana Ibadah
Tabel Data Sarana Ibadah di Wilayah Kerja Puskesmas Mekar Wangi Tahun 2015
Sarana Kelurahan
No Jumlah
Ibadah Mekarwangi Sukadamai Sukaresmi
1 Gereja 0 0 0 0
2 Masjid 10 7 5 22
3 Mushola 19 14 18 51
4 Pura/kuil 0 0 0 0
5 Kelenteng 0 0 0 0
6 Wihara 0 0 0 0
Jumlah 29 21 23 73
Sumber: Kelurahan Tahun 2015
90

Sarana ibadah terbanyak adalah mushola dengan 51 sarana dari total 73


sarana ibadah yang ada.

d) Ketenagaan
Dari jumlah keseluruhan 40 pegawai, jumlah terbanyak perawat sebanyak
9 orang. 1 Perawat sebagai tenaga dan jabatan fungsional Promosi Kesehatan.
Tabel Ketersediaan Tenaga PNS dan Non PNS Di Puskesmas Mekar Wangi Tahun
2015
No Profesi Jumlah Ket
1 Dokter Umum Struktural/ Kepala Puskesmas 1 PNS
2 Ka. Sub Bag TU 1 PNS
3 Dokter Umum Fungsional 5 PNS
4 Dokter Gigi 2 PNS
5 Bidan 6 PNS
6 Perawat Umum 8 PNS
7 Perawat Gigi 1 PNS
8 Analis 1 PNS
9 Petugas Gizi 1 PNS
10 Sanitarian 1 PNS
11 S1 Farmasi 1 PNS
12 Tenaga Tata Usaha 1 PNS
13 Promosi Kesehatan (Perawat) 1 PNS
14 Asisten Apoteker 1 PNS
15 Tenaga Sukarelawan 9 Non PNS
JUMLAH 40 40
Sumber: TU Puskesmas Mekarwangi 2015

Tabel Jumlah Tenaga PNS dan Tenaga Sukarelawan di Puskesma Mekar Wangi
menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2015
No Pendidikan Jumlah Persentase (%)
1 SD 3 7,5
2 SMP 1 2,5
3 SMA/SPK 6 15
4 D1 1 2,5
5 D3 14 35
6 S1 13 32,5
7 S2 2 5
Total 40 100
Sumber: TU Puskesmas Mekar Wangi 2015
91

Berdasarkan pendidikan, tenaga di Puskesmas Mekar Wangi setingkat D3


ada 35% ( 14 orang ), lulusan S1 32.5% ( 13 orang), lulusan S2 5% (2 orang),
selebihnya D1, SLTA sederajat, SLTP dan SD sebanyak 32.5% (11 orang).

e) Data Sarana dan Prasarana


Tabel Data Sarana Prasarana Puskesmas Mekar Wangi Tahun 2015
No Sarana-Prasarana Keterangan
1 Gedung LT 1200 m2 dan LB 987 m2
2 Sumber air PAM
3 Listrik Tersambung (PLN)
4 Telepon (0251) 753 5957
5 Alat rumah tangga Tersedia
6 Kendaraan dinas 1 unit mobil ambulance
4 unit sepeda motor kondisi baik
7 Komputer & LCD 6 unit, 3 laptop 1 unit LCD
8 Rumah Dinas 2 di Puskesmas Induk
1 di Pustu Sukaresmi
9 Genset 1 unit
Sumber: TU Puskesmas Mekar Wangi tahun 2015

Dari tabel sarana dan prasarana yang tersedia, pada tahun 2015 karena

Puskesmas Mekar Wangi statusnya Puskesmas Perawatan mulai 1 April 2015

mendapat 1 unit mobil Aambulance.

f) Data Sarana Kesehatan


Tabel Sarana Fisik Tempat Pelayanan Kesehatan di Wilayah Puskesmas Mekar
Wangi Tahun 2015
No Sarana Kesehatan Mekarwangi Sukadamai Sukaresmi Jumlah
1 Rumah Sakit 0 0 0 0
2 Puskesmas 1 0 0 1
3 Pustu 1 0 1 2
4 Polindes 0 0 0 0
5 BP Swasta 2 2 0 4
6 RB Swasta 0 0 0 0
7 Bidan Praktek Swasta 5 3 3 11
92

8 Praktek Dokter Umum 4 2 3 9


9 Praktek Dokter Gigi 0 1 0 1
10 Apotek Swasta 2 0 0 2
11 Laboratorium 0 0 0 0
JUMLAH 15 8 7 30
Sumber: TU Puskesmas Mekar Wangi 2015

g) Data Kunjungan Pasien Puskesmas Mekarwangi Bulan Juni, Juli, dan Agustus
2016
Tabel Data Jumlah Kunjungan Pasien Bulan Juni 2016
No Jenis Pelayanan Umum BPJS GR/SKTM Total
1 BP Umum 2907 1463 0 4370
2 BP Gigi 212 84 0 296
3 BP KIA 166 156 2 324
4 Laboratorium 307 189 0 496
5 KIR 42 15 0 57
6 Persalinan 1 9 0 10
7 Rawat Inap 5 10 0 15
8 IGD 101 42 0 143
TOTAL 3741 1968 2 5711
Sumber: Rekapitulasi Data Kunjungan Pasien Tahun 2016

Tabel Data Jumlah Kunjungan Pasien Bulan Juli 2016

No Jenis Pelayanan Umum BPJS GR/SKTM Total


1 BP Umum 2330 1308 18 3656
2 BP Gigi 276 107 1 384
3 BP KIA 171 122 0 293
4 Laboratorium 239 100 0 339
5 KIR 42 4 0 46
6 Persalinan 0 4 0 4
7 Rawat Inap 2 10 0 12
8 IGD 62 58 2 122
TOTAL 3122 1713 21 4856
Sumber: Rekapitulasi Data Kunjungan Pasien Tahun 2016
93

Tabel Data Jumlah Kunjungan Pasien Bulan Agustus 2016

No Jenis Pelayanan Umum BPJS GR/SKTM Total


1 BP Umum 4155 2444 15 6614
2 BP Gigi 357 186 0 543
3 BP KIA 297 165 0 462
4 Laboratorium 198 40 0 238
5 KIR 77 0 0 77
6 Persalinan 1 4 0 5
7 Rawat Inap 0 21 0 21
8 IGD 111 63 2 176
TOTAL 5196 2923 17 8136
Sumber: Rekapitulasi Data Kunjungan Pasien Tahun 2016
94

Lampiran 2: Kuisioner

IDENTITAS
Nama :
Usia :
Alamat :
Tingkat pendidikan :
Pekerjaan :
Tingkat penghasilan :
No HP :

Prolanis Diabetes

1. Apakah yang anda ketahui tentang Diabetes Mellitus (DM)?


a. Penyakit yang dapat disembuhkan
b. Penyakit kencing manis akibat gangguan insulin
c. Tidak tahu

2. Apakah yang anda ketahui tentang penyebab penyakit DM?


a. Karena keturunan, gaya hidup, dan obat-obatan
b. Karena kurang makan
c. Tidak tahu

3. Apa gejala dari penyakit DM?


a. Sulit tidur dan nafsu makan menurun
b. Banyak makan, banyak minum, dan banyak kencing
c. Tidak tahu

4. Sebutkan komplikasi pada penyakit DM?


a. Rematik, osteoporosis
b. Gagal ginjal, jantung dan stroke
c. Tidak tahu
95

5. Apakah tujuan dari diet DM?


a. Menjaga kondisi kesehatan
b. Menjaga berat badan ideal dan mengkontrol kadar gula darah tetap normal
c. Tidak tahu

7. Zat gizi apa saja yang perlu diperhatikan pada diit DM?
a. Sumber karbohidrat, protein, dan lemak
b. Sumber lemak
c. Tidak tahu

8. Sebutkan salah satu tanda hipoglikemi?


a. Keluar keringat dingin
b. Mudah lelah
c. Tidak tahu

9. Bagaimana cara mengatasi hipoglikemi?


a. Mengkonsumsi gula pasir 1-2 sdm
b. Mengurangi makan
c. Tidak tahu

10. Berapa nilai glukosa darah puasa yang normal?


a. 65-110 mg/dl
b. 115-160 mg/dl
c. Tidak tahu
11. Berapa glukosa darah sewaktu yang normal?
a. 145-179 mg/dl
b. 110-144 mg/dl
c. Tidak tahu

12. Tujuan utama mengurangi konsumsi lemak jenuh dan kolesterol adalah?
a. Menurunkan risiko penyakit jantung
b. Menurunkan berat badan
96

c. Tidak tahu

13. Bahan makanan apa saja yang mengandung sumber Karbohidrat?


a. Nasi, kentang, mie, singkong
b. Ikan, ayam, daging sapi
c. Tidak tahu

14. Susunan menu makanan setiap kali makan yang dianjurkan sehari meliputi?
a. Nasi, sayur, lauk hewani
b. Nasi, sayur, lauk hewani, lauk nabati, buah
c. Tidak tahu

15. Berapa kali sebaiknya mengkonsumsi selingan (snack) dalam sehari?


a. 1 kali
b. 2-3 kali
c. Tidak tahu

16. Berapa banyak jumlah sayur yang sebaiknya dikonsumsi dalam sehari?
a. 2 mangkok/lebih
b. 2 mangkok
c. Tidak tahu

17. Berapa gram satu satuan penukar nasi?


a. 100 gr
b. 150 gr
c. Tidak tahu

18. Berapa gram satu satuan penukar daging sapi?


a. 50 gr
b. 75 gr
c. Tidak tahu

19. Berapa gram satu satuan penukar tahu?


97

a. 50 gr
b. 100 gr
c. Tidak tahu

20. Berapa gram satu satuan penukar pepaya?


a. 100 gr
b. 150 gr
c. Tidak tahu

Prolanis Hipertensi

1. Makanan 4 sehat 5 sempurna terdiri atas:


a. Makanan pokok, lauk pauk, sayuran, buah-buahan, dan kopi
b. Makanan pokok, lauk pauk, sayuran, buah-buahan, dan susu
c. Makanan pokok, lauk pauk, sayuran, buah-buahan, dan teh manis

2. Makanan yang beragam adalah makanan yang mengandung bahan makanan


sumber:
a. Zat tenaga, zat pembangun, dan zat pemelihara
b. Zat tenaga, zat pemelihara, dan zat pengatur
c. Zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur

3. Pangan sumber karbohidrat yaitu:


a. Nasi
b. Ikan
c. Tahu

4. Sumber protein hewani adalah:


a. Ikan, telur, tahu
b. Tempe, kacang tanah, tahu
c. Susu, ikan, telur
98

5. Fungsi zat besi adalah :


a. Supaya tubuh kuat
b. Pembentukan darah
c. Pembentukan tulang dan gigi

6. Makanan yang kita konsumsi harus bergizi dan


a. Mengandung banyak lemak
b. Beraneka ragam
c. Mahal harganya

7. Makanan yang banyak mengandung kalsium adalah:


a. Jeruk
b. Tempe
c. Susu

8. Terlalu banyak mengkonsumsi jeroan dapat menyebabkan penyakit:


a. Diabetes Melitus
b. Paru-paru
c. Jantung

9. Sayur dan buah banyak mengandung serat yang berfungsi untuk:


a. Memperhalus kulit
b. Memperlancar pencernaan
c. Mencerahkan mata

10. Apa akibat bila kekurangan makanan sumber zat besi :


a. Kecerdasan menurun
b. Gangguan mental
c. Anemia
99

11. Apa yang dimaksud dengan hipertensi :


a. Tekanan darah rendah
b. Tekanan darah normal
c. Tekanan darah tinggi

12. Hipertensi yang yang tidak terkontrol akan mengakibatkan :


a. Gagal jantung
b. Diabetes Mellitus
c. Rabun Senja

13. Faktor yang mungkin sebagai penyebab hipertensi adalah :


a. Meningkatnya umur
b. Stress psikologis
c. Semua benar

14. Penderita tekanan darah tinggi boleh mengkonsumsi:


a. Brokoli, semangka, wortel
b. Kecap, vetsin, gula
c. Jeroan, santan, lobster

15. Zat gizi manakah yang dapat membantu melawan hipertensi :


a. Vitamin
b. Kalium
c. Zat besi
16. Penyakit hipertensi akan cepat berkembang jika diikuti oleh faktor-faktor
risiko lain, seperti :
a. Berolahraga
b. Merokok
c. Konsumsi buah dan sayur

17. Makanan yang dapat memicu hipertensi adalah :


a. Makanan berlemak
b. Makanan asin
100

c. Semua benar

18. Makanan yang tidak boleh dikonsumsi penderita hipertensi adalah :


a. Ikan mas, ikan mujair, ikan tongkol
b. Ikan lele, ikan kakap, ikan bawal
c. Ikan asin, corned beef, dendeng

19. Minuman yang dapat memicu hipertensi adalah :


a. Air putih
b. Alkohol
c. Sirup

20. Faktor penyebab hipertensi yang dapat dikontrol yaitu:


a. Gaya hidup
b. Umur
c. Jenis kelamin
101

Lampiran 3: Dokumentasi Intervensi Kegiatan


102
103
104