Anda di halaman 1dari 38

ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN

DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT TAHUN ANGGARAN 2009-2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam rangka menyelenggarakan pemerintah daerah sesuai dengan yang diamanatkan

dalam undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah, pemerintah daerah

diberi kewenangan yang luas dalam menyelenggarakan semua urusan pemerintah mulai dari

perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian dan evaluasi kecuali kewenangan

bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan keuangan, agama dan

kewenangan lain yang ditetapkan peraturan pemerintah. Berdasarkan undang-undang tersebut,

pemerintah daerah melalui otonomi daerah diberikan kewenangan yang lebih luas, lebih nyata

dan bertanggung jawab, terutama dalam mengatur, memanfaatkan dan menggali sumber-

sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing. Ini merupakan kesempatan yang sangat

baik bagi pemerintah daerah untuk membuktikan kemampuannya dalam melaksanakan

kewenangan yang menjadi hak daerah. Pemerintah daerah bebas berkreasi dan berekspresi

dalam rangka membangun daerahnya, tentu saja dengan tidak melanggar ketentuan hukum

yaitu perundang-undangan.
Halim (2007:253) menjelaskan bahwa ciri utama suatu daerah yang dapat melaksanakan

otonomi yaitu kemampuan keuangan daerah, artinya daerah harus memiliki kewenangan

untuk dapat menggali sumber keuangan yang ada di daerah, mengelola dan menggunakan

keuangan sendiri untuk membiayai kegiatan pemerintahan, dan ketergantungan terhadap dana

dari pemerintah pusat harus seminimal mungkin agar pendapatan asli daerah menjadi sumber

keuangan terbesar.
Lebih lanjut dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, mengemukakan bahwa

tujuan pemberian otonomi daerah, berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan

masyarakat yang semakin baik, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan dan


pemerataan serta pemeliharaan hubungan antara pemerintah pusat dan daerah serta antar

daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memberikan

otonomi kepada daerah, khususnya kabupaten/kota, ditempuh dalam rangka mengembalikan

harkat dan martabat masyarakat di daerah, memberikan peluang pendidikan politik dalam

rangka peningkatan kualitas demokrasi di daerah, peningkatan efisiensi pelayanan publik di

daerah, dan pada akhirnya diharapkan pula penciptaan cara berpemerintahan yang baik (good

government).
Pemberian hak otonomi kepada pemerintah daerah untuk menentukan anggaran

pendapatan dan belanja daerah (APBD) sendiri sesuai dengan kebutuhan dan potensi daerah.

Menurut Halim (2007: 230), mengungkapkan bahwa kemampuan pemerintah daerah dalam

mengelola keuangan daerah dituangkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

(APBD) yang langsung maupun tidak langsung mencerminkan kemampuan pemerintah

daerah dalam membiayai pelaksanaan tugas - tugas pemerintahan, pembangunan dan

pelayanan sosial masyarakat. Evaluasi terhadap pengelolaan keuangan daerah dan pembiayaan

keuangan daerah akan sangat menentukan kedudukan suatu pemerintah daerah dalam rangka

melaksanakan otonomi daerah.


Keuangan daerah secara sederhana dapat diartikan sebagai semua hak dan kewajiban

yang dapat dinilai dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun

barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki/dikuasai oleh negara

atau daerah yang lebih tinggi serta pihak- pihak lain sesuai dengan ketentuan/peraturan

perundangan yang berlaku menurut Mamesah (1995: 16).


Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005, tentang

Pengelolaan Keuangan Daerah dalam ketentuan umumnya menyatakan bahwa keuangan

daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah

daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan daerah

tersebut. Kebijakan keuangan daerah senantiasa diarahkan pada tercapainya sasaran

pembangunan, terciptanya perekonomian daerah yang mandiri sebagai usaha bersama atas
asas kekeluargaan berdasarkan demokrasi ekonomi yang berlandaskan Pancasila dan Undang-

Undang Dasar 1945 dengan peningkatan kemakmuran rakyat yang merata.


Menurut Peraturan Pemerintah Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, Pengelolaan

keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan,

penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah. Asas

umum pengelolaan keuangan daerah berdasarkan peraturan menteri ini yaitu bahwa keuangan

daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien,

ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan,

kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Pengelolaan keuangan daerah pada dasarnya

dimaksudkan untuk menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau kemampuan keuangan

daerah dalam mendanai penyelenggaraan pembangunan daerah, sehingga analisis pengelolaan

keuangan daerah menjelaskan tentang aspek kebijakan keuangan daerah, yang berkaitan

dengan pendapatan, belanja dan pembiayaan daerah guna mewujudkan visi dan misi daerah.
Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan oleh pemerintah daerah adalah untuk

menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan

akuntabilitas (pertanggungjawaban) pemerintah daerah atas sumber yang dipercayakan.

Pemerintah daerah sebagai pihak yang diserahi tugas untuk menjalankan roda pemerintahan,

pembangunan, dan pelayanan masyarakat wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban

keuangan daerahnya untuk dinilai apakah ia berhasil menjalankan tugasnya dengan baik atau

tidak.
Laporan keuangan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat selama 5 (lima) tahun terakhir

dari tahun 2009 s/d 2013 ditunjukkan dalam tabel perkembangan APBD Kab. Lombok Barat

sebagai berikut:

Tabel 1. Struktur APBD Kabupaten Lombok Barat Tahun Anggaran 2009-2013


sumber: www.djpk.depkeu.go.id/

Dari gambaran struktur APBD Kabupaten Lombok Barat selama 5 (lima) tahun

anggaran, pada sisi pendapatan menunjukkan bahwa Dana Perimbangan masih mendominasi

penerimaan daerah dibandingkan dengan PAD. Hal ini mengindikasikan masih tingginya

ketergantungan fiskal Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat terhadap Pemerintah

Pusat selama kurun waktu 2009-2013 kendati paket otonomi daerah telah digulirkan. Pada sisi

belanja kebutuhan belanja daerah terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, hal ini

merupakan dampak dari kewenangan otonomi daerah dimana pemerintah daerah secara aktif

dan lebih leluasa melakukan pembiayaan dalam upaya pengembangan segala bentuk aktifitas

progam-program pembangunan di daerah.


Dalam suatu sistem pengelolaan keuangan daerah di era otonomi daerah yaitu terkait

dengan pengelolaan APBD, perlu ditetapkan standar atau acuan kapan suatu daerah dikatakan

mandiri, efektif dan efisien serta akuntabel. Untuk itu diperlukan suatu pengukuran kinerja

keuangan pemerintah daerah sebagai tolak ukur dalam penetapan kebijakan keuangan pada

tahun anggaran selanjutnya. Pengukuran kinerja sangat penting untuk menilai akuntabilitas

pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan keuangan daerah. Akuntabilitas bukan

sekedar kemampuan menunjukan bagaimana uang publik dibelanjakan, akan tetapi meliputi
kemampuan yang menunjukan bahwa uang publik tersebut telah dibelanjakan secara

ekonomis, efektif dan efisien. Dalam sistem manajemen strategi, pengukuran kinerja berfungsi

sebagai alat penilai apakah strategi yang sudah ditetapkan telah berhasil dicapai. Dari hasil

pengukuran kinerja dilakukan feedback sehingga tercipta sistem pengukuran kinerja yang

mampu memperbaiki kinerja organisasi secara berkelanjutan (continuous improvement).

Berdasarkan feedback (umpan balik) hasil pengukuran kinerja bisa memperbaiki kinerja pada

periode berikutnya baik dalam perencanaan maupun dalam implementasi (Mahsun, 2006:145).
Mardiasmo (2002:121) menyatakan bahwa pengukuran kinerja dilakukan untuk

memenuhi tiga maksud. Pertama, untuk membantu memperbaiki kinerja pemerintah. Kedua,

untuk mengalokasikan sumber daya dan pembuatan keputusan. Ketiga, untuk mewujudkan

pertanggungjawaban publik dan memperbaiki komunikasi kelembagaan. Menurut Mardiasmo

(2002:139) inti dari pengukuran kinerja organisasi pemerintah adalah value for money. Value

for money merupakan konsep pendekatan pengukuran kinerja biasanya dinyatakan dengan

tingkat ekonomis, efisiensi dan efektifitas. Ekonomis merupakan pengelolaan hati-hati tanpa

ada pemborosan, sementara efisiensi adalah membandingkan antara jumlah output yang

dihasilkan terhadap input yang digunakan, serta efektifitas merupakan hubungan antara

keluaran dengan tujuan yang harus dicapai.


Salah satu alat untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah dalam mengelola keuangan

daerahnya adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan terhadap APBD yang telah

ditetapkan dan dilaksanakannya (Halim, 2007:230). Analisis rasio dilakukan dengan

membandingkan hasil yang dicapai dari suatu periode dibandingkan dengan periode

sebelumnya sehingga dapat diketahui bagaimana kecenderungan yang terjadi. Selain itu dapat

pula dilakukan dengan cara membandingkan dengan rasio keuangan pemerintah daerah

tertentu dengan rasio keuangan daerah lain yang terdekat ataupun potensi daerahnya relatif

sama untuk dilihat bagaimana posisi keuangan pemerintah daerah tersebut terhadap

pemerintah daerah lainnya.


Pengukuran kinerja keuangan pemerintah daerah dapat menggunakan beberapa rasio,

yaitu rasio kemandirian merupakan kemampuan pemerintah daerah untuk mendanai kegiatan
pemerintah, pembangunan, serta pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak

dan retribusi (Halim, 2007:232). Bila PAD yang diperoleh oleh daerah tinggi maka persentase

PAD dalam membiayai pelayanan pembangun juga tinggi, begitu pula sebaliknya. Menurut

Usman (2011) kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang rendah dengan rasio di bawah

100% mengakibatkan dana pemerintah pusat masih dominan dalam pembiayaan

pemerintahan. Rasio efektivitas merupakan kemampuan pemerintahan daerah dalam

merealisasikan PAD yang telah direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan

berdasarkan potensi riil daerah (Halim, 2007:234). Rasio efisiensi adalah rasio yang

menggambarkan perbandingan realisasi pengeluaran (belanja) dengan realisasi penerimaan

daerah (Halim, 2007:234), dan rasio pertumbuhan pendapatan berfungsi dalam mengukur

sejauh mana kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan serta meningkatkan

keberhasilannya dari tahun ke tahun (Halim, 2007 : 241).


Penelitian yang dilakukan Oesi Agustina (2013) tentang Analisis Kinerja Pengelolaan

Keuangan Daerah dan Tingkat Kemandirian Daerah Kota Malang menunjukkan bahwa secara

umum kinerja pengelolaan keuangan daerah dan tingkat kemandirian daerah kota Malang

terus membaik, hal tersebut dapat terlihat dari beberapa rasio kinerja keuangan daerah yaitu

rasio kemandirian keuangan daerah, rasio efektivitas, dan rasio efisiensi yang terus meningkat

dan berpengaruh baik terhadap kemandirian daerahnya meskipun ada beberapa rasio kinerja

keuangan daerah yang terus menurun atau memiliki trend negatif seperti rasio aktivitas dan

rasio pertumbuhan.
Menurut Mardiasmo, (2002: 169) Penggunaan analisis rasio keuangan sebagai alat

analisis kinerja keuangan secara luas telah diterapkan pada lembaga perusahaan yang bersifat

komersial, sedangkan pada lembaga publik khususnya pemerintah kabupaten masih sangat

terbatas sehingga secara teoritis belum ada kesepakatan yang bulat mengenai nama dan kaidah

pengukurannya. Dalam rangka pengelolaan keuangan daerah yang transparan, jujur,

demokratis, efektif, efisien, dan akuntabel, maka analisis rasio keuangan terhadap pendapatan

belanja daerah perlu dilaksanakan meskipun kaidah pengakuntansian dalam APBD berbeda
dengan laporan keuangan yang dimiliki perusahaan swasta. Hal tersebut di atas mendorong

penulis untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan Analisis Rasio Untuk

Mengukur Kinerja Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Lombok Barat.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah penelitian ini adalah:
Bagaimana kinerja pengelolaan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat tahun

2009 s/d 2013 berdasarkan analisis Rasio Keuangan terhadap APBD Kabupaten Lombok

Barat?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja pengelolaan keuangan Pemerintah

Daerah Kabupaten Lombok Barat tahun 2009 s/d 2013 berdasarkan analisis Rasio Keuangan

terhadap APBD Kabupaten Lombok Barat

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritis
1.4.1.1 Memberikan sumbangan wawasan terhadap penelitian akuntansi yang

berhubungan dengan kinerja keuangan sektor publik.


1.4.1.2 Memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu Akuntansi Pemerintahan

tentang indikator kinerja pemerintah daerah.


1.4.1.3 Memperkaya penelitian-penelitian sejenis yang telah ada yang dapat dijadikan

perbandingan dengan penelitian-penelitian selanjutnya.

1.4.2 Manfaat Praktis


1.4.2.1 Memberikan informasi data empiris mengenai ada tidaknya perbedaan antara

kinerja keuangan pemerintahan daerah


1.4.2.2 Bagi penulis, penelitian ini merupakan pelatihan intelektual yang diharapkan

mampu meningkatkan pemahaman terkait dengan akuntansi sektor publik

dewasa ini.

1.4.3 Manfaat Kebijakan


1.4.3.1 Sebagai bahan informasi, acuan baru dan masukan bagi pemerintah daerah

dalam rangka mewujudkan kemandirian daerah.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan teori dan Penelitian Terdahulu

2.1.1 Otonomi Daerah


Undang-Undang No 32 Tahun 2004 menjelaskan definisi otonomi daerah, yaitu

hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri

urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan

perundang-undangan.
Adapun tujuan otonomi daerah menurut UU No. 32 Tahun 2004 adalah untuk

memacu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, meningkatkan kesejahteraan

rakyat, menggalakkan prakarsa dan peran serta aktif masyarakat serta peningkatan

potensi daerah secara optimal dan terpadu secara nyata dan bertanggungjawab sehingga

sehingga memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, mengurangi beban Pemerintah

Pusat campur tangan di daerah yang akan memberikan peluang untuk koordinasi tingkat

lokal.
Sistem kewenangan pemerintahan dalam otonomi daerah diatur melalui pola

hubungan antara pemerintah pusat dan daerah. Sistem hubungan antara Pemerintah

Pusat dan Pemerintah Daerah menurut UU No. 32 Tahun 2004 (telah mengalami

perubahan sebanyak dua kali yang terakhir UU No. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah

Daerah), meliputi, Desentralisasi, Dekonsentrasi Tugas pembantuan


Desentralisasi menurut Undang-Undang nomor 32 Tahun 2004 pasal 1 adalah

penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk

mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik

Indonesia. Sedangkan Desentralisasi fiskal secara singkat dapat diartikan sebagai suatu
proses distribusi anggaran dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi kepada

pemerintahan yang lebih rendah, untuk mendukung fungsi atau tugas pemerintahan dan

pelayanan publik sesuai dengan banyaknya kewenangan bidang pemerintahan yang

dilimpahkan (Saragih, 2003 : 83).


Dekonsentrasi Menurut Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2008 tentang

Dekonsentrasi dan tugas Pembantuan pasal 1 bahwa Dekonsentrasi adalah pelimpahan

wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah

dan atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Dana yang berasal dari APBN

yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua

penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi, tidak termasuk

dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat didaerah.


Tugas pembantuan ( PP 07/2008 ps 1) adalah penugasan dari Pemerintah kepada

daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa

serta dari pemerintah kabupaten kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.

Penyelenggaraan asas tugas pembantuan adalah cerminan dari sistem dan prosedur

penugasan Pemerintah kepada daerah dan/atau desa, dari pemerintah provinsi kepada

kabupaten/kota dan/atau desa, serta dari pemerintah kabupaten/ kota kepada desa untuk

menyelenggarakan urusan pemerintahan dan pembangunan yang disertai dengan

kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggung jawabkannya kepada

yang memberi penugasan. Tugas pembantuan diselenggarakan karena tidak semua

wewenang dan tugas pemerintahan dapat dilakukan dengan menggunakan asas

desentralisasi dan asas dekonsentrasi. Pemberian tugas pembantuan dimaksudkan untuk

meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, pengelolaan

pembangunan, dan pelayanan umum. Tujuan pemberian tugas pembantuan adalah

memperlancar pelaksanaan tugas dan penyelesaian permasalahan, serta membantu

penyelenggaraan pemerintahan, dan pengembangan pembangunan bagi daerah dan desa


Otonomi daerah akan memberikan dampak positif di bidang ekonomi bagi

perekonomian daerah. Beberapa indikator ekonomi atas keberhasilan suatu daerah


dalam melaksanakan otonomi daerah adalah: (1) Terjadi peningkatan pertumbuhan

ekonomi daerah (PDRB) riel, sehingga pendapatan per kapita akan terdorong. (2)

Terjadinya kecenderungan peningkatan investasi, baik investasi asing maupun

domestik. (3) Kecenderungan semakin berkembangnya prospek bisnis/usaha di daerah.

(4) Adanya kecenderungan meningkatnya kreativitas pemda dan masyarakatnya.

2.1.2 New Public Management (NPM)


Pemerintah daerah dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan

dan pelayanan publik, harus pula diiringi dengan penerapan prinsip good governance

(kepemerintahan atau tata pemerintahan yang baik). Good governance merupakan

proses penyelenggaraan kekuasaan dalam menyediakan barang dan jasa publik (public

goods dan services). Prinsip-prinsip good governance antara lain adalah prinsip

efektifitas (effectiveness), keadilan, (equity), Partisipasi (participation), Akuntabilitas

(accountability) dan transparansi (transparency).Untuk mewujudkan good governance

diperlukan reformasi kelembagaan dan reformasi manajemen publik. Reformasi

manajemen sektor publik terkait dengan penggunaa model manajemen pemerintahan

yang baru yaitu New Public Management yang berfokus pada manajemen keuangan

sektor publik yang berorientasi pada kinerja (Mardiasmo, 2002: 26).


kemunculan NPM sebagai sebuah proses dialektika dari kritik terhadap model

manajemen public klasik yang kemudian memunculkan suatu model manajemen publik

yang mengadopsi spirit dan teknik-teknik dari sektor bisnis, inilah yang selanjutnya

disebut sebagai New Public Management. Jadi, ini merupakan hasil evaluasi terhadap

kinerja birokrasi publik klasik yang memiliki kinerja lemah, lamban, kaku, boros,

orientasi prosedural, tidak peka terhadap kepentingan publik, melayani diri sendiri dan

lainnya-- lalu ditransformasikan melalui semangat dan teknik-teknik manajemen dan

pengorganisasian di sektor bisnis sehingga diharapkan mampu meningkatkan

kinerjanya. Atau dibahasakan oleh Eko Prasodjo (2007), NPM merupakan reformasi

paradigma administrasi publik lama yang berbasiskan traditional ruled based, authority
driven process dengan pendekatan baru yang berbasiskan pada market (mekanisme

pasar) dan competetion-drivenbased


Sedangkan, prinsip-prinsip NPM menurut Hood sebagaimana dikemukakan oleh

Yeremias T. Keban (2004) terdiri dari tujuh doktrin. Pertama, menggunakan manajemen

profesional dalam sektor publik. Kedua, menggunakan indikator kinerja. Ketiga, lebih

fokus pada kontrol output. Keempat, perhatian lebih diarahkan pada unit-unti kecil dari

organisasi sektor publik. Kelima, menggunakan prinsip kompetisi. Keenam,

menggunakan gaya manajemen sektor swasta dalam praktek manajemen publik.

Ketujuh, menekankan disiplin dan efisiensi resources. Akhirnya, secara umum

paradigma NPM merupakan pendekatan dalam manajemen publik, termasuk birokrasi

publik didalamnya, yang menggunakan pengetahuan dan pengalaman sektor swasta

dalam rangka reformasi manajemen publik.

2.1.3 Pengelolaan Keuangan Daerah


Halim (2007: 330) mengungkapkan pengelolaan keuangan daerah adalah

keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, penatausahaan, pelaporan,

pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah. Dalam Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2005, pengelolaan keuangan daerah adalah semua

hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerinah daerah yang dapat

dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan

dengan hak dan kewajiban daerah tersebut, dalam kerangka Anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005, tentang

Pengelolaan Keuangan Daerah dalam ketentuan umumnya menyatakan bahwa

keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka

penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk

didalamnya segala bentuk kekayaan daerah tersebut. Kebijakan keuangan daerah

senantiasa diarahkan pada tercapainya sasaran pembangunan, terciptanya perekonomian

daerah yang mandiri sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan berdasarkan
demokrasi ekonomi yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945

dengan peningkatan kemakmuran rakyat yang merata.


Menurut Peraturan Pemerintah Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, Pengelolaan

keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan,

penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah.

Asas umum pengelolaan keuangan daerah berdasarkan peraturan menteri ini yaitu

bahwa keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan,

efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan

azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Pengelolaan keuangan daerah

pada dasarnya dimaksudkan untuk menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau

kemampuan keuangan daerah dalam mendanai penyelenggaraan pembangunan daerah,

sehingga analisis pengelolaan keuangan daerah menjelaskan tentang aspek kebijakan

keuangan daerah, yang berkaitan dengan pendapatan, belanja dan pembiayaan daerah

guna mewujudkan visi dan misi daerah.


Dengan dikeluarkannya Undang-undang Otonomi daerah, membawa konsekuensi

bagi daerah yang akan menimbulkan perbedaan antar daerah satu dengan lainnya,

terutama dalam hal kemampuan keuangan daerah, Suatu daerah mampu melaksanakan

otonomi daerah apabila memiliki kemampuan sebagai berikut (Nataluddin, 2001: 167):
a. Kemampuan keuangan daerah, artinya daerah harus memiliki kewenangan dan

kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan, mengelola dan

menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai

penyelenggaraan pemerintahannya.
b. Ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin agar

Pendapatan Asli Daerah (PAD) harus menjadi bagian sumber keuangan

terbesar, yang didukung oleh kebijakan perimbangan keuangan pusat dan

daerah, sehingga peranan pemerintah daerah menjadi lebih besar.


Kemampuan daerah dibidang keuangan dapat diketahui dari Anggaran Pendapatan

dan Belanja Daerah

2.1.4 Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD)


Menurut Mamesah (1995 : 20), APBD dapat didefinisikan sebagai rencana

operasional keuangan Pemerintah Daerah, dimana di satu pihak menggambarkan

perkiraan pengeluaran setinggi-tingginya guna membiayai kegiatan-kegiatan dan

proyek-proyek daerah dalam 1 tahun anggaran tertentu, dan pihak lain menggambarkan

perkiraan penerimaan dan sumber-sumber penerimaan daerah guna menutupi

pengeluaran-pengeluaran dimaksud.
. Menurut Halim (2002: 245), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah adalah

merupakan rencana kerja pemerintah daerah yang diwujudkan dalam bentuk uang

(rupiah) selama periode tertentu (satu tahun) serta merupakan salah satu instrumen

utama kebijakan dalam upaya penyelenggaraan otonomi daerah untuk meningkatkan

pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat daerah. Anggaran berisi estimasi

mengenai apa yang akan dilakukan pemerintah di masa yang akan datang (Ekawarna,

Sam, Rahayu, 2009).


Berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004 Pasal 1 ayat 17 Tentang Perimbangan

Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

selanjutnya disebut APBD adalah rencana keuangan tahunan Pemerintah Daerah yang

dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat

Daerah, dan ditetapkan dengan peraturan daerah.


Fungsi Anggaran yang merupakan instrumen kebijakan yang utama pemerintah

daerah menurut Permendagri no.13 tahun 2006 ps. 16 APBD, adalah sebagai berikut :
a. Fungsi otoritas yaitu merupakan dasar untuk melaksanakan pendapatan dan

belanja pada tahun yang bersangkutan.


b. Fungsi perencanaan yaitu merupakan pedoman bagi manajemen dalam

merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.


c. Fungsi pengawasan yaitu merupakan pedoman untuk menilai apakah

kegiatan penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan ketentuan yang

telah ditetapkan.
d. Fungsi alokasi yaitu harus diarahkan untuk menciptakan lapangan

kerja/mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta

meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.


e. Fungsi distribusi yaitu merupakan kebijakan yang harus memperhatikan rasa

keadilan dan kepatutan.


f. Fungsi stabilisasi yaitu merupakan alat untuk memelihara dan mengupayakan

keseimbangan fundamental perekonomian daerah


APBD harus disusun sedemikian rupa untuk dapat dioperasionalkan sesuai dengan

fungsi-fungsi diatas. Adapun Struktur ABPB terdiri dari Penerimaan Daerah dan

Belanja Daerah . Penerimaan Daerah dalam pelaksanaan Desentralisasi terdiri atas

Pendapatan Daerah dan Pembiayaan. Bentuk dan struktur APBD menurut permendagri

No.13 Tahun 2006 dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Tabel 2.1. Bentuk Dan Struktur Anggaran Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota

No. Uraian Anggaran Realisasi


(Rp) (Rp)
1 PENDAPATAN
Pendapatan Asli Daerah xxx xxx
Pajak Daerah
Retribusi Daerah
Bagian Laba Usaha Daerah
Lain-lain Pendapatan Asli xxx xxx
Daerah
Dana Perimbangan
Bagi Hasil Pajak dan Bukan
Pajak
Dana Alokasi Umum xxx xxx
Dana Alokasi Khusus
Dana Perimbangan dari Propinsi xxx xxx
Lain-lain Pendapatan yang Sah

Jumlah Pendapatan
2 BELANJA
Belanja Tidak Langsung xxx xxx
Belanja Pegawai
Belanja Bunga
Belanja Subsidi
Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bantuan Keuangan
Belanja Langsung xxx xxx
Belanja Pegawai
Belanja Barang dan Jasa
Belanja Modal
Jumlah Belanja xxx xxx
Surplus/(Defisit) xxx xxx
3 PEMBIAYAAN
Penerimaan Pembiayaan xxx xxx
Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran Tahun Lalu
Pencairan Dana Cadangan
Hasil Penjualan Kekayaan
Daerah yg Dipisahkan
Penerimaan Pinjaman Daerah
Penerimaan Kembali Pemberian
Pinjaman
Penerimaan Piutang Daerah
Pengeluaran Pembiayaan xxx xxx
Pembentukan Dana Cadangan
Investasi Pemda
Pembayaran Pokok Utang
Pemberian Pinjaman Daerah
xxx xxx
Jumlah Pembiayaan

2.1.5 Laporan pertanggungjawaban APBD


Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan

Kinerja Instansi Pemerintah menegaskan bahwa laporan yang harus disusun dalam

rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD tidak hanya laporan keuangan

tetapi juga laporan kinerja.


Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD, kepala daerah

menyampaikan laporan keuangan tahunan kepada DPRD yang terlebih dahulu diperiksa

oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Laporan pertanggungjawaban tersebut harus

disampaikan oleh kepala daerah kepada DPRD selambat-lambatnya enam bulan setelah

tahun anggaran berkenaan berakhir.


Laporan keuangan yang disampaikan setidak-tidaknya meliputi :
a. Laporan Realisasi APBD
b. Neraca
c. Laporan Arus Kas
d. Catatan atas laporan keuangan.

2.1.6 Pengukuran Kinerja


Mardiasmo (2002:121) menyatakan bahwa pengukuran kinerja dilakukan untuk

memenuhi tiga maksud. Pertama, untuk membantu memperbaiki kinerja pemerintah.

Kedua, untuk mengalokasikan sumber daya dan pembuatan keputusan. Ketiga, untuk
mewujudkan pertanggungjawaban publik dan memperbaiki komunikasi kelembagaan.

Menurut Mardiasmo (2002:139) inti dari pengukuran kinerja organisasi pemerintah

adalah value for money. Value for money merupakan konsep pendekatan pengukuran

kinerja biasanya dinyatakan dengan tingkat ekonomis, efisiensi dan efektifitas.

Ekonomis merupakan pengelolaan hati-hati tanpa ada pemborosan, sementara efisiensi

adalah membandingkan antara jumlah output yang dihasilkan terhadap input yang

digunakan, serta efektifitas merupakan hubungan antara keluaran dengan tujuan yang

harus dicapai.
Sistem Pengukuran kinerja anggaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk

penyusunan program dan tolak ukur kinerja sebagai instrumen untuk mencapai tujuan

dan sasaran program dan kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan

atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan

kualitas yang terukur (Permendagri No.13 Tahun 2006 Pasal 1 ayat 37). Sedangkan

kinerja anggaran adalah teknik penyusunan anggaran berdasarkan pertimbangan beban

kerja (work load) dan unit cost dari setiap kegiatan yang terstruktur (Ekawarna, Sam

dan Rahayu, 2009).


Pengukuran kinerja dimaksudkan untuk menilai prestasi manajer dan unit organisasi

yang dipimpinnya. Pengukuran kinerja sangat penting untuk menilai akuntabilitas

organisasi dan manajer dalam menghasilkan pelayanan publik yang lebih baik.

Akuntabilitas bukan hanya kemampuan menunjukkan bagaimana uang publik

dibelanjakan, akan tetapi kemampuan menunjukkan bahwa uang publik tersebut telah

dibelanjakan secara ekonomis, efisien dan efektif. Pusat pertanggungjawaban berperan

untuk menciptakan indikator kinerja sebagai dasar untuk menilai kinerja.


Berdasarkan PP nomor 8 Tahun 2006, indikator kinerja yang digunakan adalah

keluaran (output) dan hasil (outcome). Indikator Kinerja adalah sesuatu yang akan

dihasilkan dari suatu kegiatan berupa barang atau jasa. Keberhasilan suatu kegiatan

diukur dengan output, sedangkan program diukur dengan outcome. Output adalah
sesuatu yang diperoleh baik berupa barang atau jasa setelah dilaksanakannya suatu

kegiatan.

2.1.7 Analisis Rasio Keuangan


Pemerintah daerah sebagai pihak yang diberikan tugas menjalankan pemerintahan,

pembangunan dan pelayanan masyarakat wajib melaporkan pertanggungjawaban

keuangan daerah sebagai dasar penilaian kinerja keuangannya. Salah satu alat ukur

kinerja adalah analisis rasio keuangan yang digunakan sebagai konsep pengelolaan

organisasi pemerintah untuk menjamin pertanggungjawaban publik oleh lembaga-

lembaga pemerintah kepada masyarakat luas.


Analisis rasio keuangan pada APBD dilakukan dengan membandingkan hasil yang

dicapai dari satu periode dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga dapat

diketahui bagaimana kecenderungan yang terjadi (Halim, 2007:232). Selain itu, dapat

dilakukan dengan cara membandingkan dengan rasio keuangan yang dimiliki suatu

pemerintah daerah tertentu dengan rasio keuangan daerah lain yang terdekat ataupun

potensi daerah relatif sama untuk dilihat bagaimana posisi keuangan pemerintah daerah

tersebut terhadap pemerintah daerah lainnya.


Analisis rasio keuangan adalah suatu proses yang mengidentifikasikan ciri-ciri

yang penting tentang keadaan keuangan dan kegiatan perusahaan berdasarkan laporan

keuangan yang tersedia.


Menurut Halim (2007: 126) menyebutkan bahwa hasil analisis rasio keuangan

dapat digunakan untuk:


a. Menilai kemandirian keuangan daerah dalam membiayai penyelenggaraan

otonomi daerah.
b. Mengukur efisiensi dan efektivitas dalam merealisasikan pendapatan daerah.
c. Mengukur sejauh mana aktivitas pemerintah daerah dalam membelanjakan

pendapatan daerahnya.
d. Mengukur kontribusi masing-masing sumber pendapatan dalam pembentukan

pendapatan daerah.
e. Melihat pertumbuhan atau perkembangan perolehan pendapatan dan

pengeluaran yang dilakukan selama periode waktu tertentu.


Adapun pihak-pihak yang berkepentingan dengan rasio keuangan pada APBD ini

adalah sebagai berikut.


a. DPRD sebagai wakil dari pemilik daerah (masyarakat).
b. Pihak eksekutif sebagai landasan dalam menyusun APBD berikutnya.
c. Pemerintah pusat/provinsi sebagai saran masukan dalam pembinaan pelaksanaan

pengelolaan keuangan daerah.


d. Masyarakat dan kreditor sebagai pihak yang akan turut memiliki saran

pemerintah daerah, bersedia memberi pinjaman atau membeli obligasi.


Beberapa analisis rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Rasio Kemandirian Daerah
Rasio kemandirian keuangan daerah atau yang sering disebut sebagai

otonomi fiskal menunjukkan kemampuan pemerintah daerah membiayai

sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada

masyarakat yang telah membayar pajak retribusi sebagai sumber pendapatan

yang diperlukan daerah. Kemandirian keuangan daerah ditunjukkan oleh

besar kecilnya pendapatan asli daerah dibandingkan dengan pendapatan

daerah yang berasal dari sumber yang lain, misalnya bantuan pemerintah

pusat ataupun dari pinjaman (Halim 2007: 232).


b. Rasio ketergantungan Keuangan Daerah
Menurut Mahmudi (2010 : 142) rasio ketergantungan keuangan daerah

dihitung dengan cara membandingkan jumlah pendapatan transfer yang

diterima oleh penerimaan daerah dengan total penerimaan daerah. Semakin

tinggi rasio ini maka semakin besar tingkat ketergantungan pemerintah

daerah terhadap pemerintah pusat dan / atau pemerintah provinsi.

c. Rasio Efektifitas Pendapatan Asli Daerah


Pengertian efektifitas berhubungan dengan derajat keberhasilan suatu

operasi pada sektor publik sehingga suatu kegiatan dikatakan efektif jika

kegiatan tersebut mempunyai pengaruh besar terhadap kemampuan

menyediakan pelayanan masyarakat yang merupakan sasaran yang telah

ditetapkan sebelumnya. Rasio efektifitas menggambarkan kemampuan

pemerintah daerah dalam merealisasikan PAD yang direncanakan


dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi rill daerah

(Halim 2007:234).
d. Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah
Menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan

untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima.

Kinerja pemerintahan daerah dalam melakukan pemungutan pendapatan

dikategorikan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau

dibawah 100%. Semakin kecil rasio efisiensi berarti kinerja pemerintahan

semakin baik. Untuk itu pemerintah daerah perlu menghitung secara cermat

berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan seluruh

pendapatan yang diterimanya sehingga dapat diketahui apakah kegiatan

pemungutan pendapatannya tersebut efisien atau tidak. Hal itu perlu

dilakukan karena meskipun pemerintah daerah berhasil merealisasikan target

penerimaan pendapatan sesuai dengan target yang ditetapkan, namun

keberhasilan itu kurang memiliki arti apabila ternyata biaya yang dikeluarkan

untuk merealisasikan target penerimaan pendapatannya itu lebih besar

daripada realisasi pendapatan yang diterimanya (Halim 2007:234).

e. Rasio Aktivitas (Rasio Keserasian)


Rasio ini menggambarkan bagaimana pemerintahan daerah

memprioritaskan alokasi dananya pada belanja rutin dan belanja

pembangunan secara optimal. Semakin tinggi presentase dana yang

dialokasikan untuk belanja rutin berarti presentase belanja investasi (belanja

pembangunan) yang digunakan untuk menyediakan sarana prasarana

ekonomi masyarakat cenderung semakin kecil (Halim 2007:236).


f. Debt Service Coverage Ratio (DSCR)
Dalam rangka melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana didaerah,

selain menggunakan pendapatan asli daerah, pemerintah daerah dapat

menggunakan alternatif sumber dana lain, yaitu dengan melakukan pinjaman,


sepanjang prosedur dan pelaksanaannya sesuai dengan peraturan yang

berlaku. Ketentuan yang menyangkut persyaratan adalah (Halim 2007: 238):


1. Jumlah kumulatif pinjaman daerah yang wajib dibayar maksimal 75%

dari penerimaan APBD tahun sebelumnya.


2. DSCR minimal 2,5%.
g. Rasio Pengelolaan Belanja
Rasio pengelolaan belanja menunjukkan bahwa kegiatan belanja yang

dilakukan oleh pemerintah daerah memiliki ekuitas antara periode yang

positif, yaitu belanja yang dilakukan tidak lebih besar dari total pendapatan

yang diterima pemerintah daerah. Rasio ini menunjukkan adanya surplus dan

defisit anggaran. Surplus atau defisit yaitu selisih lebih/ kurang antara

pendapatan dan belanja selama satu periode laporan. Rasio pengelolaan

belanja dapat dirumuskan sebagai berikut:

h. Rasio Pertumbuhan
Analisis pertumbuhan dilakukan untuk mengetahui perkembangan kinerja

keuangan serta kecenderungan baik berupa kenaikan atau penurunan kinerja

selama kurun waktu tertentu. Rasio pertumbuhan (growth ratio) mengukur

seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan

meningkatkan keberhasilannya yang telah dicapai dari periode ke periode

berikutnya. Dengan diketahuinya pertumbuhan untuk masing-masing

komponen sumber pendapatan dan pengeluaran, dapat digunakan untuk

mengevaluasi potensi-potensi mana yang perlu mendapat perhatian (Halim,

2007:241).

2.1.8 Penelitian terdahulu


Usman (2011) meneliti tentang Analisis Perkembangan Kinerja Keuangan Pada

Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo ditinjau dari rasio kemandirian, efektivitas

dan pertumbuhan, kontribusi Pendapatan Asli Daerah menuju kemandirian keuangan

pemerintah Kabupaten Gorontalo masih sangat rendah dengan rasio di bawah 100 % ,

sehingga dana pemerintah pusat masih dominan dalam pembiayaan pemerintahan.


Anastasia (2012) meneliti tentang Evaluasi Kinerja Keuangan Daerah Kabupaten

Bulukumba ditinjau dari rasio kemandirian, efektivitas dan efisiensi, aktivitas, dan

DSCR menunjukkan Kinerja keuangan Kab. Bulukumba selama periode penelitian

(2008-2010) kurang baik karena hampir semua perhitungan rasio mengalami penurunan

kinerja.
Wahyuni (2007) meneliti tentang Analisis Rasio Untuk Mengukur Kinerja

Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Malang .Berdasarkan hasil analisis, rata-rata

kinerja pengelolaan keuangan Kota Malang berdasarkan analisis rasio keuangan adalah

baik karena pemerintah kota Malang mampu meningkatkan pertumbuhan pendapatan

yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Rata-rata relaisasi PAD diatas 100%

yaitu sebesar 100, 97%. Defisiit anggaran dari tahun ke tahun juga semakin turun

bahkan pada tahun 2006 kota Malang mengalami surplus anggaran yakni sebesar Rp

35.721.565.841,45. Namun ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki oleh pemerintah

kota Malang seperti kemandirian keuangan kota Malang yang masih rendah dan

aktifitas pemerintah kota Malang dalam membelanjakan dana yang sebagian besar

untuk belanja rutin.


Oesi Agustina (2013) meneliti tentang Analisis Kinerja Pengelolaan Keuangan

Daerah dan Tingkat Kemandirian Daerah Di Era Otonomi Daerah: Studi Kasus Kota

Malang (Tahun Anggaran 2007-2011) ditinjau dari rasio kemandirian, efektivitas dan

efisiensi, aktivitas, dan pertumbuhan menunjukkan tingkat rasio kemandirian keuangan

daerah Kota Malang bersifat instruktif karena memiliki rata-rata 18,76% (<25%), rasio

efektivitas prosentase rata-ratanya sebesar 105,4% yang berarti pemungutan pendapatan

asli daerah cenderung stabil atau sangat efektif, rasio efisiensi Kota Malang prosentase

rata-ratanya e dalam memberikan biaya insentif untuk memungut PAD secara

maksimal, dan rasio aktivitas Pemerintah Kota Malang di era otonomi daerah

menunjukkan pemerintah masih memprioritaskan belanja daerahnya untuk belanja rutin

dibandingkan untuk belanja pembangunan, serta rasio pertumbuhan Kota Malang


menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Malang mampu mempertahankan kinerjanya

dalam mengelola keuangan daerahnya terlihat dari rasio pertumbuhan yang mengalami

trend positif (PAD dan Pendapatan Daerah), meskipun ada juga yang mengalami trend

negatif (Belanja Daerah).


Emanuel be haukilo (2011) meneliti tentang evaluasi kinerja keuangan pemerintah

daerah kabupaten timor tengah utara menunjukkan Derajat Desentralisasi fiskal

(tingkat kemandirian daerah) yang ditinjau dari persentase Pendapatan Asli Daerah

(PAD) terhadap Total Penerimaan Daerah dengan rata-rata persentase 3,40 % sebelum

otonomi daerah dan 3,14 % sesudah otonomi daerah. Persentase Bagi hasil Pajak dan

Bukan Pajak (BHPBP) terhadap Total Penerimaan Daerah (TPD) menunjukkan bahwa

pada masa sebelum otonomi daerah lebih tinggi dengan rata-rata persentase sebesar

10,07 % dari pada sesudah otonomi daerah yakni dengan rata-rata persentase sebesar

5,65 %. Persentase Sumbangan daerah (SB) terhadap Total penerimaan daerah (TPD)

derajat desentralisasi fiskal (tingkat kemandirian daerah) pada masa sebelum otonomi

daerah lebih tinggi dengan rata-rata persentase sebesar 76,63 % di bandingan setelah

otonomi daerah diberlakukan yakni rata-rata persentase sebesar 70,80. Kebutuhan fiskal

sebelum otonomi daerah lebih rendah dengan rata-rata persentase sebesar 4,16 % dari

pada sesudah otonomi daerah diberlakukan dengan ratarata persentase sebesar 4,69 %.

Kapasitas fiskal sebelum kebijakan otonomi daerah lebih rendah dengan rata-rata

persentase sebesar 3,59 % dari pada sesudah kebijakan otonomi daerah diberlakukan

dengan rata-rata persentase sebesar 4,51 %. Dan upaya fiskal pada masa setelah

kebijakan otonomi daerah diberlakukan lebih baik dengan rata-rata persentase

elastisitasnya sebesar 2,11 % dari pada sebelum otonomi daerah dengan ratarata

persentase elastisitasnya sebesar 0,81 %.


Fidelius (2013) meneliti tentang analisis rasio untuk mengukur kinerja

pengelolaan keuangan daerah kota Manado. Hasil penelitian menunjukkan bahwa,

rasio kemandirian kota Manado masih sangat rendah, rasio efektiftivitas cukup efektif.
Pada rasio aktivitas pemerintah kota Manado memperioritaskan dananya pada belanja

operasi. Rasio pengelolaan belanja sudah sangat baik karena melebihi 100% yang

berarti mengalami surplus anggaran. PAD dan Pendapatan mengalami pertumbuhan

setiap tahunnya, sedangkan rasio pertumbuhan belanja operasi masih sangat tinggi

dibandingkan rasio pertumbuhan belanja modal. Dengan demikian, kinerja pengelolaan

keuangan daerah kota Manado berdasarkan analisis rasio keuangan cukup baik.

Nama Judul Metode Hasil penelitian perbedaan


peneliti/tahu penelitia
n n
Usman /2011 Analisis deskriptif kontribusi Pendapatan Perbedaannya
Perkembangan Asli Daerah menuju adalah pada
Kinerja Keuangan kemandirian objek, periode
Pada Pemerintah keuangan pemerintah penelitian, serta
Daerah Kabupaten Kabupaten Gorontalo beberapa rasio
Gorontalo masih sangat rendah keuangan yang
dengan rasio di digunakan.
bawah 100 %
Anastasia / Evaluasi Kinerja deskriptif Kinerja keuangan Perbedaannya
2012 Keuangan Daerah Kab. Bulukumba adalah pada
Kabupaten selama periode objek, periode
Bulukumba penelitian (2008- penelitian, serta
2010) kurang baik beberapa rasio
karena hampir semua keuangan yang
perhitungan rasio digunakan.
mengalami penurunan
kinerja.
Wahyuni / Analisis Rasio Untuk deskriptif Berdasarkan hasil Perbedaannya
2007 Mengukur Kinerja analisis, rata-rata adalah pada
Pengelolaan kinerja pengelolaan objek, periode
Keuangan Daerah keuangan Kota penelitian, serta
Kota Malang Malang berdasarkan beberapa rasio
analisis rasio keuangan yang
keuangan adalah baik. digunakan.
Oesi Analisis Kinerja deskriptif rata-rata kinerja Perbedaannya
Agustina/2013 Pengelolaan pengelolaan keuangan adalah pada
Keuangan Daerah dan tingkat objek, periode
dan Tingkat kemandirian daerah penelitian, serta
Kemandirian Daerah kota Malang di era beberapa rasio
Di Era Otonomi otonomi daerah keuangan yang
Daerah: Studi Kasus berdasarkan analisis digunakan.
Kota Malang ratio keuangan adalah
(Tahun Anggaran baik
2007-2011)
Emanuel be evaluasi kinerja Deskriptif rata-rata kinerja Perbedaannya
haukilo/2011 keuangan pemerintah pengelolaan keuangan adalah pada
daerah kabupaten timor objek, periode
kabupaten timor tengah utara setelah penelitian, serta
tengah utara otonomi daerah dari beberapa rasio
aspek derajat keuangan yang
desentralisasi fiskal digunakan.
(tingkat kemandirian
daerah),
kebutuhan fiskal
daerah, kapasitas
fiskal daerah dan
upaya fiskal daerah
adalah baik
Fidelius/2013 analisis rasio untuk Deskriptif Hasil penelitian Perbedaannya
mengukur kinerja menunjukkan bahwa, adalah pada
pengelolaan rata-rata kinerja objek, periode
keuangan daerah pengelolaan keuangan penelitian, serta
kota manado kota Manado beberapa rasio
berdasarkan analisis keuangan yang
rasio keuangan cukup digunakan.
baik.

2.2 Rerangka konseptual dan Pengembangan Hipotesis


2.2.1 Rerangka Konseptual
Dalam suatu sistem pengelolaan keuangan daerah di era otonomi daerah yaitu

terkait dengan pengelolaan APBD, perlu ditetapkan standar atau acuan kapan suatu

daerah dikatakan mandiri, efektif dan efisien serta akuntabel. Untuk itu diperlukan

suatu pengukuran kinerja keuangan pemerintah daerah sebagai tolak ukur dalam

penetapan kebijakan keuangan pada tahun anggaran selanjutnya. Pengukuran kinerja

sangat penting untuk menilai akuntabilitas pemerintah daerah dalam melakukan

pengelolaan keuangan daerah. Akuntabilitas bukan sekedar kemampuan menunjukan

bagaimana uang publik dibelanjakan, akan tetapi meliputi kemampuan yang

menunjukan bahwa uang publik tersebut telah dibelanjakan secara ekonomis, efektif

dan efisien. Dalam sistem manajemen strategi, pengukuran kinerja berfungsi sebagai
alat penilai apakah strategi yang sudah ditetapkan telah berhasil dicapai. Dari hasil

pengukuran kinerja dilakukan feedback sehingga tercipta sistem pengukuran kinerja

yang mampu memperbaiki kinerja organisasi secara berkelanjutan (continuous

improvement). Berdasarkan feedback (umpan balik) hasil pengukuran kinerja bisa

memperbaiki kinerja pada periode berikutnya baik dalam perencanaan maupun dalam

implementasi (Mahsun, 2006:145).


Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis kinerja keuangan Kabupaten Lombok

Barat pada tahun 2009 s/d 2013 dengan membandingkan indikator kinerja keuangan

yang meliputi Rasio kemandirian daerah, ketergantungan keuangan daerah, efektifitas,

efisiensi , aktivitas Debt Service Coverage Ratio (DSCR), pengelolaan belanja, dan

pertumbuhan. Dari tujuh indikator ini akan dilakukan pemeringkatan kinerja keuangan

apakah semakin meningkat, menurun, stabil atau berfluktuasi dan membandingkan

kinerja tahun 2009 s/d 2013.


Berdasarkan uraian diatas maka dapat digambarkan kerangka konseptual penelitian

seperti Gambar 2.1 sebagai berikut:

Rasio Kemandirian Daerah

Rasio Ketergantungan
Keuangan Daerah
Rasio Efektifitas PAD

Rasio Efisiensi PAD


Kinerja Keuangan
Rasio Aktivitas Daerah

Debt Service Coverage Ratio


(DSCR)
Rasio Pengelolaan Belanja

Rasio Pertumbuhan

2.2.2 Hipotesis Penelitian


Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan sebelumnya, maka hipotesis pada penelitian

ini adalah sebagai berikut.


H0: Diduga kinerja pengelolaan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok

Barat tahun 2009 s/d 2013 berdasarkan analisis Rasio Keuangan terhadap APBD

Kabupaten Lombok Barat adalah rata-rata baik


H1: Diduga kinerja pengelolaan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok

Barat tahun 2009 s/d 2013 berdasarkan analisis Rasio Keuangan terhadap APBD

Kabupaten Lombok Barat adalah rata-rata kurang baik

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Komparatif yang dilakukan terhadap

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Lombok Barat

dilihat dari rasio keuangan. Analisis rasio keuangan dilakukan dengan membandingkan hasil

yang dicapai dari satu periode dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga dapat

diketahui bagaimana kecenderungan yang terjadi (Halim, 2007:230).

3.2 Lokasi dan waktu penelitian


Penelitian ini dilakukan di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat

yang beralamat di Jln. Soekarno-Hatta. Gerung. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan

november 2014.

3.3 Populasi dan sampel penelitian


Populasi penelitian ini adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat. Penulis

dalam penelitian mengambil seluruh populasi (metode sensus) dikarenakan tersedianya

seluruh data berupa Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

tahun 2009 s/d 2013.

3.4 Variabel penelitian meliputi klasifikasi variabel dan definisi operasional variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan pemerintah

daerah yang mencakup beberapa parameter berupa rasio menurut Abdul Halim (2007) dan

Mahmudi (2010) yaitu:

3.4.1. Rasio Kemandirian Daerah


Rasio kemandirian keuangan daerah atau yang sering disebut sebagai otonomi

fiskal menunjukkan kemampuan pemerintah daerah membiayai sendiri kegiatan

pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah

membayar pajak retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah.

Kemandirian keuangan daerah ditunjukkan oleh besar kecilnya pendapatan asli

daerah dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber yang lain,

misalnya bantuan pemerintah pusat ataupun dari pinjaman (Halim 2007: 232).
3.4.2. Rasio ketergantungan Keuangan Daerah
Menurut Mahmudi (2010 : 142) rasio ketergantungan keuangan daerah dihitung

dengan cara membandingkan jumlah pendapatan transfer yang diterima oleh

penerimaan daerah dengan total penerimaan daerah. Semakin tinggi rasio ini maka

semakin besar tingkat ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat

dan / atau pemerintah provinsi.


3.4.3. Rasio Efektifitas Pendapatan Asli Daerah
Pengertian efektifitas berhubungan dengan derajat keberhasilan suatu operasi

pada sektor publik sehingga suatu kegiatan dikatakan efektif jika kegiatan tersebut

mempunyai pengaruh besar terhadap kemampuan menyediakan pelayanan

masyarakat yang merupakan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Rasio

efektifitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan

PAD yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan

potensi rill daerah (Halim 2007:234).


3.4.4. Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah
Menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk

memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Kinerja

pemerintahan daerah dalam melakukan pemungutan pendapatan dikategorikan

efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau dibawah 100%. Semakin

kecil rasio efisiensi berarti kinerja pemerintahan semakin baik. Untuk itu

pemerintah daerah perlu menghitung secara cermat berapa besar biaya yang

dikeluarkan untuk merealisasikan seluruh pendapatan yang diterimanya sehingga


dapat diketahui apakah kegiatan pemungutan pendapatannya tersebut efisien atau

tidak. Hal itu perlu dilakukan karena meskipun pemerintah daerah berhasil

merealisasikan target penerimaan pendapatan sesuai dengan target yang ditetapkan,

namun keberhasilan itu kurang memiliki arti apabila ternyata biaya yang dikeluarkan

untuk merealisasikan target penerimaan pendapatannya itu lebih besar daripada

realisasi pendapatan yang diterimanya (Halim 2007:234).


3.4.5. Rasio Aktivitas (Rasio Keserasian)
Rasio ini menggambarkan bagaimana pemerintahan daerah memprioritaskan

alokasi dananya pada belanja rutin dan belanja pembangunan secara optimal.

Semakin tinggi presentase dana yang dialokasikan untuk belanja rutin berarti

presentase belanja investasi (belanja pembangunan) yang digunakan untuk

menyediakan sarana prasarana ekonomi masyarakat cenderung semakin kecil (Halim

2007:236)
3.4.6. Debt Service Coverage Ratio (DSCR)
Dalam rangka melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana didaerah,

selain menggunakan pendapatan asli daerah, pemerintah daerah dapat menggunakan

alternatif sumber dana lain, yaitu dengan melakukan pinjaman, sepanjang prosedur

dan pelaksanaannya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Ketentuan yang

menyangkut persyaratan adalah (Halim 2007: 238):


1. Jumlah kumulatif pinjaman daerah yang wajib dibayar maksimal 75%

dari penerimaan APBD tahun sebelumnya.


2. DSCR minimal 2, 5%.

3.4.7. Rasio Pengelolaan Belanja


Rasio pengelolaan belanja menunjukkan bahwa kegiatan belanja yang dilakukan

oleh pemerintah daerah memiliki equitas antara periode yang positif, yaitu belanja

yang dilakukan tidak lebih besar dari total pendapatan yang diterima pemerintah

daerah. Rasio ini menunjukkan adanya surplus dan defisit anggaran. Surplus atau

defisit yaitu selisih lebih/ kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode

laporan.
3.4.8. Rasio Pertumbuhan
Analisis pertumbuhan dilakukan untuk mengetahui perkembangan kinerja

keuangan serta kecenderungan baik berupa kenaikan atau penurunan kinerja selama

kurun waktu tertentu. Rasio pertumbuhan (growth ratio) mengukur seberapa besar

kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan

keberhasilannya yang telah dicapai dari periode ke periode berikutnya. Dengan

diketahuinya pertumbuhan untuk masing-masing komponen sumber pendapatan dan

pengeluaran, dapat digunakan untuk mengevaluasi potensi-potensi mana yang perlu

mendapat perhatian (Halim, 2007:241).

3.5 Prosedur pengambilan atau pengumpulan data


Jenis data dalam penelitian ini adalah: data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif

berupa gambaran umum Kabupaten Lombok Barat dan data kuantitatif berupa Laporan

Realisasi APBD Kabupaten Lombok Barat tahun anggaran 2009-2013. Dilihat dari

sumbernya maka pengumpulan data dapat menggunakan: sumber primer adalah sumber data

yang langsung memberikan data kepada pengumpul data dan sumber sekunder merupakan

sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data misalnya lewat orang

lain atau lewat dokumen (Sugiyono, 2010:193). Dalam penelitian ini menggunakan sumber

data sekunder yaitu berupa catatan-catatan, laporan keuangan, dan berbagai publikasi yang

terkait dengan masalah yang diangkat. Data penelitian ini diperoleh dari Direktorat Jenderal

Perimbangan Keuangan berupa Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja

Daerah tahun 2009 s/d 2013 yang dipublikasikan (www.djpk.depkeu.go.id/) dengan format

menurut Permendagri no. 13 Tahun 2006. Data tersebut kemudian diklasifikasikan

berdasarkan kriteria dan kebutuhan rumus dari masing-masing rasio yang dikemukakan oleh

Abdul Halim, kemudian diolah secara manual dan kemudian dianalisis dan diinterpretasikan

dengan membandingkan data Tahun 2009 s/d 2013.


Teknik yang digunakan penulis dalam mengumpulkan data adalah:
3.5.1 Tinjauan Kepustakaan (library research), yaitu teknik untuk mendapatkan

informasi melalui penelaahan pada teori-teori yang dipelajari lewat buku, literatur,
dan jurnal untuk digunakan sebagai dasar teori yang melengkapi proses penyusunan

tesis ini.
3.5.2 Dokumentasi yaitu dengan mengumpulkan data yang akan diteliti berupa Laporan

Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Lombok Barat tahun

anggaran 2019 s/d 2013.

3.6 Prosedur analisis data


3.6.1 Analisis Kinerja Keuangan Daerah
Analisis kinerja keuangan diukur melalui penghitungan rasio-rasio keuangan yang

merupakan alat ukur kinerja keuangan. Rumus yang digunakan dalam mengukur

kinerja keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota/Provinsi menurut Halim (2007:232)

dan Mahmudi (2010) adalah sebagai berikut :


1. Rasio Kemandirian Daerah
Rasio kemandirian keuangan daerah atau yang sering disebut sebagai

otonomi fiskal menunjukkan kemampuan pemerintah daerah membiayai sendiri

kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang

telah membayar pajak retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan

daerah. Kemandirian keuangan daerah ditunjukkan oleh besar kecilnya

pendapatan asli daerah dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari

sumber yang lain, misalnya bantuan pemerintah pusat ataupun dari pinjaman

(Halim 2007: 232). Rasio kemandirian dapat dirumuskan sebagai berikut:

Pendapatan Asli Daerah


Rasio Kemandirian Daerah= x 100
Total Pendapatan Daerah

Rasio kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber

data ekstern. Semakin tinggi rasio kemandirian mengandung arti bahwa tingkat

ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak ekstern (terutama pemerintah

pusat dan propinsi) semakin rendah, dan demikian pula sebaliknya. Rasio

Kemandirian juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam

membayar pajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen utama

pendapatan asli daerah. Semakin tinggi masyarakat membayar pajak dan retribusi
daerah akan menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin

tinggi.

Tabel 3.1 Tingkat Kemandirian dan Kemampuan Keuangan Daerah

Kemampuan Keuangan Kemandirian (%)


Rendah Sekali 0% - 25%
Rendah 25% - 50%
Sedang 50% - 75%
Tinggi 75% - 100%
Sumber :Kepmendagri No.690.900.327 tahun 1996

2. Rasio ketergantungan Keuangan Daerah


Menurut Mahmudi (2010 : 142) rasio ketergantungan keuangan daerah dihitung

dengan cara membandingkan jumlah pendapatan transfer yang diterima oleh

penerimaan daerah dengan total penerimaan daerah. Semakin tinggi rasio ini

maka semakin besar tingkat ketergantungan pemerintah daerah terhadap

pemerintah pusat dan / atau pemerintah provinsi. Rasio ini dirumuskan sebagai

berikut:
PendapatanTransfer
Rasio ketergantungan Keuangan Daerah= x 100
Total Penerimaan D a erah(TPD)

3. Rasio Efektifitas Pendapatan Asli Daerah


Pengertian efektifitas berhubungan dengan derajat keberhasilan suatu operasi

pada sektor publik sehingga suatu kegiatan dikatakan efektif jika kegiatan

tersebut mempunyai pengaruh besar terhadap kemampuan menyediakan

pelayanan masyarakat yang merupakan sasaran yang telah ditetapkan

sebelumnya. Rasio efektifitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah

dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan dengan target yang

ditetapkan berdasarkan potensi rill daerah (Halim 2007:234). Rasio efektivitas

dapat dirumuskan sebagai berikut:

Realisasi PAD
Rasio Efektifitas PAD= x 100
Target PAD yang Ditetapkan

Kemampuan daerah dalam menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila

rasio yang dicapai minimal sebesar 1 (satu) atau 100%. Namun demikian semakin
tinggi rasio efektifitas, menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.

Guna memperoleh ukuran yang lebih baik,rasio efektifitas tersebut perlu

dipersandingkan dengan rasio efisiensi yang dicapai pemerintah.

Tabel 3.2 Kriteria Efektivitas Keuangan Daerah

Kriteria Efektivitas Persentase Efektifitas (%)


Sangat Efektif >100
Efektif >90 100
Cukup Efektif >80 90
Kurang Efektif >60 80
Tidak Efektif 60
Sumber :Kepmendagri No.690.900.327 tahun 1996

4. Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah


Menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk

memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Kinerja

pemerintahan daerah dalam melakukan pemungutan pendapatan dikategorikan

efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau dibawah 100%.

Semakin kecil rasio efisiensi berarti kinerja pemerintahan semakin baik. Untuk

itu pemerintah daerah perlu menghitung secara cermat berapa besar biaya yang

dikeluarkan untuk merealisasikan seluruh pendapatan yang diterimanya sehingga

dapat diketahui apakah kegiatan pemungutan pendapatannya tersebut efisien atau

tidak. Hal itu perlu dilakukan karena meskipun pemerintah daerah berhasil

merealisasikan target penerimaan pendapatan sesuai dengan target yang

ditetapkan, namun keberhasilan itu kurang memiliki arti apabila ternyata biaya

yang dikeluarkan untuk merealisasikan target penerimaan pendapatannya itu lebih

besar daripada realisasi pendapatan yang diterimanya (Halim 2007:234). Rasio

efisiensi dapat dirumuskan sebagai berikut:

Biaya Yang Dikeluarkan Untuk Memungut PAD


Rasio Efisiensi= x 100
Realisasi Penerimaan PAD
Tabel 3.3 Kriteria Efisiensi Kinerja Keuangan

Kriteria Efisiensi Persentase Efisiensi

100% keatas Tidak Efisien

90%-100% Kurang Efisien

80%-90% Cukup Efisien

60%-80% Efisien

Kurang dari 60% Sangat Efisien

Sumber :Kepmendagri No.690.900.327 tahun 1996

5. Rasio Aktivitas (Rasio Keserasian)


Rasio ini menggambarkan bagaimana pemerintahan daerah memprioritaskan

alokasi dananya pada belanja rutin dan belanja pembangunan secara optimal.

Semakin tinggi presentase dana yang dialokasikan untuk belanja rutin berarti

presentase belanja investasi (belanja pembangunan) yang digunakan untuk

menyediakan sarana prasarana ekonomi masyarakat cenderung semakin kecil.

Secara sederhana, rasio keserasian itu dapat diformulasikan sebagai berikut

(Halim 2007:236):

Total Belanja Rutin


Rasio Belanja RutinTerhadap APBD= x 100
Total APBD

Total Belanja Pembangunan


Rasio Belanja Pembangunan terhadap APBD= x 100
Total APBD

Belum ada patokan yang pasti berapa besarnya rasio belanja rutin maupun

pembangunan terhadap APBD yang ideal, karena sangat dipengaruhi oleh

dinamisasi kegiatan pembangunan dan besarnya kebutuhan investasi yang

diperlukan untuk mencapai pertumbuhan yang ditargetkan. Namun demikian,

sebagai daerah di negara berkembang peranan pemerintah daerah untuk memacu


pelaksanaan pembangunan masih relatif besar. Oleh karena itu, rasio belanja

pembangunan yang relative masih kecil perlu ditingkatkan sesuai dengan

kebutuhan pembangunan didaerah.


Nama akun belanja rutin adalah sama dengan belanja operasi sedangkan

belanja pembangunan sendiri adalah belanja modal. Dan nama akun belanja

operasi dan belanja modal tercantum pada PP Nomor 24 tahun 2005.

6. Debt Service Coverage Ratio (DSCR)


Dalam rangka melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana didaerah,

selain menggunakan pendapatan asli daerah, pemerintah daerah dapat

menggunakan alternatif sumber dana lain, yaitu dengan melakukan pinjaman,

sepanjang prosedur dan pelaksanaannya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Ketentuan yang menyangkut persyaratan adalah (Halim 2007: 238):


1. Jumlah kumulatif pinjaman daerah yang wajib dibayar maksimal 75%

dari penerimaan APBD tahun sebelumnya.


2. DSCR minimal 2, 5%.
DSCR merupakan perbandingan antara Pendapatan Asli Daerah (PAD),

Bagian Daerah (BD) dari Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas

Tanah dan Bangunan (BPHTB). Penerimaan Sumber Daya Alam dan Bagian

Daerah lainnya serta Dana Alokasi Umum setelah dikurangi Belanja Wajib,

dengan penjumlahan Angsuran Pokok, Bunga dan Pinjaman lainnya yang jatuh

tempo. DSCR merupakan rasio untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah

dalam membayar kembali pinjaman daerah (Mahmudi, 2010 : 145). Rumusan

untuk menghitung DSCR adalah sebagai berikut:

( PAD+ BD + DAU ) BW
DSCR= x 100
Total ( AP+BP+ BL)

PAD = Pendapatan Asli Daerah


BD = Bagian Daerah (PBB, BPHTB, Penerimaan SDA dan
Bagian Daerah Lainnya seperti PPh Perseorangan)
DAU = Dana Alokasi Umum
BW = Belanja Wajib (Belanja Pegawai/Belanja Tidak
Langsung ditambah Belanja Langsung khusus Belanja
Operasi dan Pemeliharaan)
AP = Angsuran Pokok Pinjaman yang jatuh tempo pada
tahun anggaran yang bersangkutan
BP = Bunga Pinjaman yang jatuh tempo pada tahun
anggaran yang bersangkutan
BL = Biaya Lainnya (Biaya Komitmen, Biaya Bank, dll)
yang jatuh tempo

7. Rasio Pengelolaan Belanja


Rasio pengelolaan belanja menunjukkan bahwa kegiatan belanja yang

dilakukan oleh pemerintah daerah memiliki ekuitas antara periode yang positif,

yaitu belanja yang dilakukan tidak lebih besar dari total pendapatan yang diterima

pemerintah daerah. Rasio ini menunjukkan adanya surplus dan defisit anggaran.

Surplus atau defisit yaitu selisih lebih/ kurang antara pendapatan dan belanja

selama satu periode laporan. Rasio pengelolaan belanja dapat dirumuskan sebagai

berikut:
Total Pendapatan
Rasio Pengelolaan Belanja= x 100
Total Belanja

8. Rasio Pertumbuhan
Analisis pertumbuhan dilakukan untuk mengetahui perkembangan kinerja

keuangan serta kecenderungan baik berupa kenaikan atau penurunan kinerja selama

kurun waktu tertentu. Rasio pertumbuhan (growth ratio) mengukur seberapa besar

kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan

keberhasilannya yang telah dicapai dari periode ke periode berikutnya. Dengan

diketahuinya pertumbuhan untuk masing-masing komponen sumber pendapatan dan

pengeluaran, dapat digunakan untuk mengevaluasi potensi-potensi mana yang perlu

mendapat perhatian (Halim, 2007:241). Rasio pertumbuhan dapat dirumuskan

sebagai berikut:

PAD tahun pPAD tahun p1


Rasio pertumbuhan PAD= x 100
PAD tahun p1
Pendapatan tahun pPendapatan tahun p1
Rasio pertumbuhanTotal Pendapatan= x 100
Pendapatan tahun p1

Belanja tahun pBelanjatahun p1


Rasio pertumbuhan belanja= x 100
Belanja tahun p1

(Keterangan: p = tahun yang dihitung, p-1 = tahun sebelumnya)

DAFTAR PUSTAKA

Anastasia, Melisa. 2012. Evaluasi Kinerja Keuangan Daerah Kabupaten Bulukumba. Universitas
Hasanuddin. Makassar.

Ekawarna, Shita Unjaswati, Iskandar Sam, dan Sri Rahayu. 2009. Pengukuran Kinerja Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Daerah Kbupaten Muaro Jambi.
Jurnal Cakrawala Akuntansi. Vol 1, No. 1. Februari.
Emanuel be haukilo. 2011. Evaluasi Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Timor
Tengah Utara (studi kasus sebelum dan sesudah otonomi daerah). Universitas Negeri
Sebelas Maret Surakarta

Fidelius. 2013. Analisis Rasio Untuk Mengukur Kinerja Pengelolaan Keuangan Daerah Kota
Manado. Universitas Sam Ratulangi Manado

Halim, Abdul. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Salemba Empat. Jakarta.

Halim, Abdul. 2007. Akuntansi Keuangan Daerah. Edisi ke 3. Salemba Empat. Jakarta.

Keban, Yeremias. T. 2004. Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik, Konsep, Teori, dan Isu.
Yogyakarta. Gava Media.

Kuncoro, Mudrajad, 2009. Metode Riset Untuk Bisnis dan Ekonomi. Edisi 3. Erlangga. Jakarta.

Mahmudi. 2010. Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. UPP STIM YKPN. Yogyakarta

Mamesah, D.J. 1995. Sistem Administrasi Keuangan Daerah. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Mahsun, Mohamad, 2006. Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Penerbit BPFE,Yogyakarta.

Mardiasmo, 2002. Akuntansi Sektor Publik. Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Nataluddin. 2001. Potensi Dana Perimbangan Pada Pemerintahan Daerah di Propinsi Jambi,
Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta : UPP YKPN

Oesi Agustina. 2013. Analisis Kinerja Pengelolaan Keuangan Daerah dan Tingkat Kemandirian
Daerah Kota Malang. Universitas Brawijaya Malang

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan
Kinerja Instansi Pemerintah

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah.

Prasojo, Eko, 2007. Partisipasi Masyarakat dalam Pemerintahan Daerah: inputs untuk Revisi
UU No. 32/ 2004, Paper. USAID-LGSP

Saragih, Juli Panglima. 2003. Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah dalam Otonomi.
Cetakan Pertama. Penerbit Ghalia Indonesia: Jakarta

Usman, 2011, Analisis Perkembangan Kinerja Keuangan Pada Pemerintah Daerah Kabupaten
Gorontalo, Gorontalo, UG

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan
Pusat dan Daerah.

Wahyuni. 2007. Analisis Rasio Untuk Mengukur Kinerja Pengelolaan Keuangan Daerah Kota
Malang. UIN MALIKI Malang