Anda di halaman 1dari 29

LIMBAH PADAT ORGANIK

MAKALAH

Makalah ini dikerjakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu
Lingkungan pada program studi D3 Jurusan Teknik Mesin

Oleh :

Faishal Ridhwan 141211014

Andy Setiawan 141211036

Slamet Abadi 141211061

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


2017
II-3

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena
berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah dengan judul Limbah Padat
Organik dapat disusun dan diselesaikan tepat pada waktunya.
Rasa syukur sebenarnya atas selesainya makalah ini dengan kerendahan hati
penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu, mengarahkan dan memotivasi dalam pembuatan
tulisan ini.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih terdapat kekurangan dalam
penyusunannya, oleh karena itu penulis memohon maaf jika dalam
penyampaiannya nanti tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya. Kritik dan saran
yang konstruktif dari pembaca dapat bermanfaat bagi kesempurnaan penulisan
untuk kedepannya.

Penyusun

2
II-21

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................I-1

1.1 Latar Belakang............................................................................................I-1

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................I-1

1.3 Tujuan..........................................................................................................I-1

1.4 Manfaat........................................................................................................I-2

BAB II pembahasan..................................................................................................II-1

2.1 Pengertian Limbah.....................................................................................II-1

2.2 Pengelompokan Limbah............................................................................II-1

2.3 Berdasarkan Jenis Senyawanya.................................................................II-2

2.3.1 Limbah Organik..................................................................................II-2

2.3.2 Limbah Anorganik..............................................................................II-3

2.4 Definisi Limbah Padat...............................................................................II-4

2.4.1 Klasifikasi Limbah Padat....................................................................II-4

2.4.2 Karakteristik Limbah..........................................................................II-6

2.5 Pengolahan Limbah Padat..........................................................................II-7

2.5.1 Pengolaan Sampah Dengan Konsep 3R.............................................II-8

2.5.2 Teknik Pengolaan Sampah..................................................................II-9

2.5.3 Material material yang dapat didaur ulang......................................II-9

2.6 Proses Pengolahan Limbah Padat...........................................................III-12

2.7 Dampak Pencemaran Limbah Padat.......................................................III-14

2.8 Sumber dan Jenis Limbah Padat..............................................................II-16

P-1
II-21

2.8.1 Sumber Terjadinya Limbah Padat.....................................................II-16

2.8.2 Jenis Limbah Padat...........................................................................II-16

2.9 Penanganan Limbah Padat.......................................................................II-17

2.9.1 Penanganan Limbah Padat................................................................II-18

2.9.2 Dampak Pengolahan Limbah Terhadap Lingkungan........................II-20

BAB III kesimpulan................................................................................................III-1

3.1 Kesimpulan...............................................................................................III-1

3.2 Saran.........................................................................................................III-1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Seiring dengan bertambahnya kebutuhan manusia, banyak juga diciptakan
pemuas / pemenuhan kebutuhan manusia. Untuk itu muncullah pabrik-pabrik
industry sebagai pengolah bahan mentah untuk kemudian diolah dengan sedemikian
rupa menjadi barang setengah jadi maupun barang siap pakai, untuk selanjutnya akan
dikonsumsi masyarakat. Dalam jumlah produksi yang sagat besar tiap harinya akan
menghasilkan sisa-sisa hasil dari proses pengolahan yang tidak terpakai. Sisa-sisa
inilah (limbah) bila terakumulasi dalam jangka waktu yang lama dapat mencemari
lingkungan bila tidak ada penanganan khusus.
Kemudian, masyarakat yang sebagai pelaku konsumsi pun akan mengeluarkan
limbah-limbah sebagai hasil penggunaan hasil barang produksi tersebut. Limbah ini
dinamakan limbah rumah tangga. Meskipun sedikit lebih aman, bukan berarti
dapat seenaknya saja membiarkan limbah ini dibuang begitu saja. Karena limbah
sekecil apapun bila dalam jumlah yang besar dapat memberikan konstribusi besar
dalam hal pengrusakan terhadap lingkungan. Untuk itulah diperlukan penanganan
yang tepat dalam pengolahan limbah-limbah industry maupun limbah rumah tangga.

P-1
II-21

I.2 Rumusan Masalah


Dalam penulisan makalah ini kami akan memaparkan masalah mengenai:
1. Bagaimana terjadinya limbah padat di lingkungan kita?

2. Apa penyebab terjadinya limbah padat?

3. Bagaimana proses terjadinya?

4. Dampak yang terjadi?

5. Bagaimana cara penanggulangan limbah padat?

I.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah agar diketahui pengelompokkan
limbah beserta penyebabnya, wujudnya dan dampak bagi kehidupan masyarakat dan
lingkungan yang semakin sehat.
Pembuatan makalah ilmiah ini bertujuan untuk :
1. Mengurangi pengrusakan lingkungan oleh limbah padat.
2. Memberikan salah satu solusi cerdas pengolahan limbah padat secara tegas.

I.4 Manfaat
1. Dapat mengetahui jumlah pengelopokkan limbah yang ada di lingkungan
masyarakat.
2. Dapat mengetahui teori-teori asal mulanya limbah berasal.
3. Dapat mengetahui persebaran pengelompokkan limbah yang berdasarkan
jenisnya

P-1
II-21

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Limbah

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.18/1999 Jo. PP 85/199 , Limbah


didefinisikan sebagai sisa/buangan dari suatu usaha dan/atau kegiatan manusia.
Hampir semua kegiatan manusia akan menghasilkan limbah. Limbah tersebut sering
dibuang manusia ke lingkungan. Jumlah limbah yang dihasilkan manusia terus
meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan kemajuan teknologi serta
perekonomian manusia. Ketika limbah mencapai jumlah atau konsentrasi tertentu ,
limbah yang dibuang ke lingkungan dapat menimbulkan dampak negatif bagi
lingkungan[1]. Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, sampah adalah sisa
kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.
Pengelolaan sampah dimaksudkan adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

II.2 Pengelompokan Limbah


Limbah pada intinya adalah hasil samping dari aktivitas manusia atau alam, yang
mengganggu keseimbangan lingkungan hidup. Sumber limbah dari proses-proses
alam, antara lain pembusukan bahan organic secara alami, aktivitas gunung berapi,
banjir, tanah longsor dan berbagai aktivitas alam lainnya.
Sumber limbah dari aktivitas manusia , misalnya :

P-1
II-21

1. Hasil pembakaran bahan bakar yang terjadi pada industry dan kendaraan
bermotor.
2. Pengelolahan bahan tambang mineral dan minyak bumi.
3. Proses pembakaran hutan untuk membuka lahan baru.

Diantara kedua sumber pencemaran lingkungan tersebut, yang relatif dapat


dikendalikan adalah limbah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia.
Faktor-faktor pendorong aktivitas manusia yang menghasilkan limbah antara lain :

1. Industrialisasi (Limbah pabrik , pertambangan , transportasi).


2. Modernlisasi dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
3. Urbanisasi (pembukaan hutan untuk pemungkiman , sarana transportasi
dan penimbunan sampah).
4. Pertambahan penduduk yang pesat (meningkatkan kebutuhan tempat
tinggal).

Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan manusia di alam dapat dibedakan menjadi
limbah organik dan limbah aroganik (berdasarkan jenis senyawa). Setiap limbah
mempunyai karakter yang berbeda. Berdasarkan bentuk atau wujudnya, limbah dapat
dibedakan menjadi limbah padat , cair dan gas[1].

II.3 Berdasarkan Jenis Senyawanya


II.3.1Limbah Organik
Limbah organik merupakan limbah yang memiliki unsur hidrokarbon
(hidrogen dan karbon) yang mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Limbah
organik mudah membusuk, seperti sisa makanan, sayuran, daun-daunan kering,
potongan-potongan kayu, dan sebagainya. Limbah organik terdiri atas bahan-bahan
yang besifat organik seperti dari kegiatan rumah tangga maupun kegiatan industri.
Limbah ini juga bisa dengan mudah diuraikan melalui proses yang alami. Limbah
ini mempunyai sifat kimia yang stabil sehingga zat tersebut akan mengendap
kedalam tanah, dasar sungai, danau, serta laut dan selanjutnya akan mempengaruhi
organisme yang hidup didalamnya.
Limbah organik dapat mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai
menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau (sering disebut dengan

P-1
II-21

kompos). Komposmerupakan hasil pelapukan bahan-bahan organik seperti daun-


daunan, jerami, alang-alang, sampah, rumput, dan bahan lain yang sejenis yang
proses pelapukannya dipercepat oleh bantuan manusia. Sampah pasar khusus
seperti pasar sayur mayur, pasar buah, atau pasar ikan, jenisnya relatifseragam,
sebagian besar (95%) berupa sampah organik sehingga lebih mudah ditangani.
Sampah yang berasal dari pemukiman umumnya sangat beragam, tetapi secara
umum minimal 75% terdiri dari sampah organik dan sisanya anorganik.

Limbah organic dibagi menjadi dua, yaitu:


1. Limbah organik basah
Limbah ini memiliki kandungan air yang cukup tinggi. Contohnya kulit
buah dan sisa sayuran.
2. Limbah organik kering
Limbah ini memiliki kandungan air yang relative sedikit. Contohnya kayu,
ranting pohon, dedaunan kering, dan lain lain.

Limbah organik yang mudah membusuk dapat dimanfaatkan kembali dengan cara
dijadikan kompos. Kompos dapat dimanfatkan sebagai pupuk/penyubur tanaman.
Pembuatan kompos dari limbah organik dapat menjadi salah satu solusi untuk
menangani limbah organik[2].

II.3.2Limbah Anorganik
Limbah organik merupakan limbah yang tidak memiliki unsur hidrokarbon
(hidrogen dan karbon) yang mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Limbah ini
tidak dapat diuraikan oleh organisme detrivor atau dapat diuraikan tetapi dalam
jangka waktu yang lama. Limbah ini tidak dapat membusuk, oleh karena itu dapat
dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk
lainnya.
Limbah anorganik yang dapat di daur ulang, antara lain adalah plastik, logam,
dan kaca. Namun, limbah yang dapat didaur ulang tersebut harus diolah terlebih
dahulu dengan cara sanitary landfill, pembakaran (incineration), atau penghancuran
(pulverisation). Akibat dari limbah seperti ini (plastik,styrofoam, dll) adalah

P-1
II-21

menumpuk semakin banyak dan menjadi polutan pada tanah misalnya, selain
menggangu pemandangan.
Air limbah industri dapat mengandung berbagai jenis bahan anorganik, zat-
zat tersebut adalah :
Garam anorganik seperti magnesium sulfat, magnesium klorida yang
berasal dari kegiatan pertambangan dan industri.
Asam anorganik seperti asam sulfat yang berasal dari industri
pengolahan biji logam dan bahan bakar fosil.
Adapula limbah anorganik yang berasal dari kegiatan rumah tangga seperti botol
plastik, botol kaca, tas plastik, kaleng dan aluminium[2].
II.4 Definisi Limbah Padat
Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah domestik
pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan
perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari tempat-tempat umum.
Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal,
gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur, dll.
Limbah padat adalah hasil buangan industri berupa padatan, lumpur, bubur yang
berasal dari sisa proses pengolahan. Limbah ini dapat dikategorikan menjadi dua
bagian, yaitu limbah padat yaitu dapat didaur ulang, seperti plastik, tekstil, potongan
logam dan kedua limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis. Bagi limbah padat
yang tidak punya nilai ekonomis dapat ditangani dengan berbagai cara antara lain
ditimbun pada suatu tempat, diolah kembali kemudian dibuang dan dibakar[3].
Sumber-sumber dari limbah padat sendiri meliputi seperti pabrik gula, pulp,
kertas, rayon, plywood, limbah nuklir, pengawetan buah, ikan, atau daging.
Secara garis besar limbah padat terdiri dari :
1) Limbah padat yang mudah terbakar.
2) Limbah padat yang sukar terbakar.
3) Limbah padat yang mudah membusuk.
4) Limbah yang dapat di daur ulang.
5) Limbah radioaktif.
6) Bongkaran bangunan.
7) Lumpur.

P-1
II-21

II.4.1Klasifikasi Limbah Padat


Penggolongan jenis limbah padat dapat didasarkan pada komposisi kimia, sifat
mengurai, mudah tidaknya terbakar, berbahaya dan karakteristik. Berdasarkan
karakteristiknya limbah padat dibedakan:
1) Garbage (sampah basah)
Garbage adalah jenis sampah yang terdiri dari sisa-sisa potongan hewan atau
sayur-sayuran hasil dari pengolahan, pembuatan dan penyediaan makanan yang
sebagian besar terdiri dari zat-zat yang mudah membusuk.
2) Rubbish (sampah kering)
Rubbish adalah sampah yang dapat terbakar dan tidak dapat terbakar yang
berasal dari rumah-rumah, pusat-pusat perdagangan, kantor-kantor. Sampah
yang mudah terbakar umumnya terdiri dari zat-zat organik seperti kertas, kardus,
plastik dan lain-lain. Sedangkan sampah yang tidak dapat/ sukar terbakar
sebagian besar mengandung zat-zat inorganik seperti logam-logam, kaleng-
kaleng dan sisa pembakaran.

3) Abu (Ashes)
Sampah jenis ini adalah sampah yang berasal dari sisa pembakaran dari jenis zat
yang mudah terbakar seperti di rumah, kantor maupun di pabrik-pabrik industri.

4) Street cleaning (sampah dari jalan)


Sampah jenis ini berasal dari pembersihan jalan dan trotoar baik dengan tenaga
manusia maupun dengan tenaga mesin yang terdiri dari kertas-kertas, daun-
daunan dan lain-lain.

5) Industrial wastes (sampah industri)


Merupakan sampah yang berasal dari industri-industri pengolahan hasil bumi/
tumbuhan dan industri lain[6].
Sampah industri dapat berupa:
a) Bahan kimia beracun
b) Bahan berbahaya
c) Bahan kimia
d) Mineral
e) Residu dan Organik

P-1
II-21

f) Residu patologi radiologi


g) Kayu dan kertas
h) Demolition wastes (sampah bangunan)
i) Hazardous wastes (sampah berbahaya)
j) Water treatment residu

II.4.2Karakteristik Limbah
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik
industri maupun domestik (rumah tangga).
Limbah yang mempunyai karakteristik secara umum sebagai berikut:
a. Berukuran mikro
b. Dinamis
c. Penyebarannya berdampak luas
d. Berdampak jangka panjang (antar generasi)
Kualitas limbah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang
mempengaruhi kualitas limbah adalah sebagai berikut :
a. Volume limbah, banyak sedikitnya limbah memengaruhi kualitas
limbah.
b. Kandungan limbah, kualitas limbah dipengaruhi oleh kandungan
bahan pencemar.
c. Frekuensi pembuangan limbah, pembuangan limbah dengan frekuensi
yang sering akan menimbulkan masalah.
1. Karakteristik fisik
a. Zat padat
b. Bau
c. Suhu
d. Warna
e. Kekeruhan
2. Karakteristik kimia
a. Bahan organik
b. BOD (Biologycal Oxygen Demand)
c. DO (Dessolved Oxygen)
d. COD (Chemicial Oxygen Demand)
e. pH (Puissance d'Hydrogen Scale)
f. Logam berat
3. Karakteristik biologi
Karakteristik biologi digunakan untuk mengukur kualitas air terutama
air yang dikonsumsi sebagai air minum dan air bersih[7].

P-1
II-21

II.5 Pengolahan Limbah Padat


Pengolahan limbah padat dapat dilakukan dengan berbagai cara yang
tentunya dapat menjadikan limbah tersebut tidak berdampak buruk bagi
lingkungan ataupun kesehatan. Menurut sifatnya pengolahan limbah padat
dapat dibagi menjadi dua cara yaitu pengolahan limbah padat tanpa
pengolahan dan pengolahan limbah padat dengan pengolahan.
Limbah padat tanpa pengolahan: Limbah padat yang tidak mengandung
unsur kimia yang beracun dan berbahaya dapat langsung dibuang ke tempat
tertentu sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Limbah padat dengan
pengolahan : Limbah padat yang mengandung unsur kimia beracun dan
berbahaya harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat-tempat
tertentu.
Pengolahan limbah juga dapat dilakukan dengan cara-cara yang sedehana
lainnya misalnya, dengan cara mendaur ulang, Dijual kepasar loakatau tukang
rongsokan yang biasa lewat di depan rumah rumah. Cara ini bisa
menjadikan limbah atau sampah yang semula bukan apa-apa sehingga bisa
menjadi barang yang ekonomis dan bisa menghasilkan uang. Dapat juga
dijual kepada tetangga kita yang menjadi tukang loak ataupun pemulung.
Barang-barang yang dapat dijual antara lain kertas-kertas bekas, koran bekas,
majalah bekas, botol bekas, ban bekas, radio tua, TV tua dan sepeda yang
usang.
Dapat juga dengan cara pembakaran. Cara ini adalah cara yang paling
mudah untuk dilakukan karena tidak membutuhkan usaha keras. Cara ini bisa
dilakukan dengan cara membakar limbah-limbah padat misalnya kertas-kertas
dengan menggunakan minyak tanah lalu dinyalakan apinya. Kelebihan cara
membakar ini adalah mudah dan tidak membutuhkan usaha keras,
membutuhkan tempat atau lokasi yang cukup kecil dan dapat digunakan
sebagai sumber energi baik untuk pembangkit
uap air panas, listrik dan pencairan logam[3].
Faktor - faktor yang perlu kita perhatikan sebelum kita mengolah limbah padat
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Jumlah Limbah

P-1
II-21

Sedikit dapat dengan mudah kita tangani sendiri.


Banyak dapat membutuhkan penanganan khusus tempat dan sarana
pembuangan.
2. Sifat fisik dan kimia limbah
Sifat fisik: mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana
penggankutan dan pilihan pengolahannya.
Sifat kimia dari limbah padat akan merusak dan mencemari lingkungan
dengan cara membentuk senyawa-senyawa baru.
3. Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan
Karena lingkungan ada yang peka atau tidak peka terhadap pencemaran, maka
perlu kita perhatikan:
1. Tempat pembuangan akhir (TPA)
2. Unsur yang akan terkena
3. Tingkat pencemaran yang akan timbul.
4. Tujuan akhir dari pengolahan
Adapun tujuan akhirnya, yang terdiri atas dua yaitu: Bersifat ekonomis dan
Bersifat non-ekonomis.
1. Tujuan pengolahan yang bersifat ekonomis adalah dengan meningkatkan
efisiensi pabrik secara menyeluruh dan mengambil kembali bahan yang masih
berguna untuk di daur ulang atau di manfaat lain.
2. Sedangkan tujuan pengolahan yang bersifat non-ekonomis adalah untuk
mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan mekanisme pengolaan
limbah[4].

II.5.1Pengolaan Sampah Dengan Konsep 3R


Menurut Departemen Pekerjaan Umum Kota Semarang (2008), pengertian
pengelolaan sampah 3R secara umum adalah upaya pengurangan pembuangan
sampah, melalui program menggunakan kembali (Reuse), mengurangi (Reduce),
dan mendaur ulang (Recycle).
1. Reuse (menggunakan kembali) yaitu penggunaan kembali sampah secara
langsung,baik untuk fungsi yang sama maupun fungsi lain.
2. Reduce (mengurangi) yaitu mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan
timbulnya sampah.

P-1
II-21

3. Recycle (mendaur ulang) yaitu memanfaatkan kembali sampah setelah


mengalami proses pengolahan.
Mengurangi sampah dari sumber timbulan, di perlukan upaya untukmengurangi
sampah mulai dari hulu sampai hilir, upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam
mengurangi sampah dari sumber sampah (darihulu) adalah menerapkan prinsip
3R[5].

II.5.2Teknik Pengolaan Sampah


Sampah adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau
sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan
oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan biologis (karena human
waste tidak termasuk didalamnya) dan umumnya bersifat padat.
Sumber sampah bisa bermacam-macam, diantaranya adalah : dari rumah tangga,
pasar, warung, kantor, bangunan umum, industri, dan jalan. Berdasarkan komposisi
kimianya, maka sampah dibagi menjadi sampah organik dan sampah anorganik.
Penelitian mengenai sampah padat di Indonesia menunjukkan bahwa 80%
merupakan sampah organik, dan diperkirakan 78% dari sampah tersebut dapat
digunakan kembali.
Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani
sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Secara garis besar,
kegiatan di dalam pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulan sampah,
pengumpulan sampah, transfer dan transport, pengolahan dan pembuangan
akhir[5].

II.5.3Material material yang dapat didaur ulang


Material-material yang dapat didaur ulang dan prosesnya diantaranya adalah:
1. Bahan bangunan
Material bangunan bekas yang telah dikumpulkan dihancurkan dengan mesin
penghancur, kadang-kadang bersamaan dengan aspal, batu bata, tanah, dan batu.
Hasil yang lebih kasar bisa dipakai menjadi pelapis jalan semacam aspal dan
hasil yang lebih halus bisa dipakai untuk membuat bahan bangunan baru
semacam bata.

P-1
II-21

2. Baterai
Banyaknya variasi dan ukuran baterai membuat proses daur ulang bahan ini
relatif sulit. Mereka harus disortir terlebih dahulu, dan tiap jenis memiliki
perhatian khusus dalam pemrosesannya. Misalnya, baterai jenis lama masih
mengandung merkuri dan kadmium, harus ditangani secara lebih serius demi
mencegah kerusakan lingkungan dan kesehatan manusia. Baterai mobil
umumnya jauh lebih mudah dan lebih murah untuk didaur ulang.

3. Barang Elektronik
Barang elektronik yang populer seperti komputer dan handphone umumnya
tidak didaur ulang karena belum jelas perhitungan manfaat ekonominya.
Material yang dapat didaur ulang dari barang elektronik misalnya adalah logam
yang terdapat pada barang elektronik tersebut (emas, besi, baja, silikon, dll)
ataupun bagian-bagian yang masih dapat dipakai (microchip, processor, kabel,
resistor, plastik, dll). Namun tujuan utama dari proses daur ulang, yaitu
kelestarian lingkungan, sudah jelas dapat menjadi tujuan diterapkannya proses
daur ulang pada bahan ini meski manfaat ekonominya masih belum jelas.

4. Logam
Besi dan baja adalah jenis logam yang paling banyak didaur ulang di dunia.
Termasuk salah satu yang termudah karena mereka dapat dipisahkan dari
sampah lainnya dengan magnet. Daur ulang meliputi proses logam pada
umumnya; peleburan dan pencetakan kembali. Hasil yang didapat tidak
mengurangi kualitas logam tersebut. Contoh lainnya adalah alumunium, yang
merupakan bahan daur ulang paling efisien di dunia. Namun pada umumnya,
semua jenis logam dapat didaur ulang tanpa mengurangi kualitas logam tersebut,
menjadikan logam sebagai bahan yang dapat didaur ulang dengan tidak terbatas.
5. Kaca
Kaca dapat juga didaur ulang. Kaca yang didapat dari botol dan lain sebagainya
dibersihkan dair bahan kontaminan, lalu dilelehkan bersama-sama dengan
material kaca baru. Dapat juga dipakai sebagai bahan bangunan dan jalan. Sudah

P-1
II-21

ada Glassphalt, yaitu bahan pelapis jalan dengan menggunakan 30% material
kaca daur ulang.

6. Kertas
Kertas juga dapat didaur ulang dengan mencampurkan kertas bekas yang telah
dijadikan pulp dengan material kertas baru. Namun kertas akan selalu
mengalami penurunan kualitas jika terus didaur ulang. Hal ini menjadikan kertas
harus didaur ulang dengan mencampurkannya dengan material baru, atau
mendaur ulangnya menjadi bahan yang berkualitas lebih rendah.

7. Plastik
Plastic dapat didaur ulang sama halnya seperti mendaur ulang logam. Hanya
saja, terdapat berbagai jenis plastik di dunia ini. Saat ini di berbagai produk
plastik terdapat kode mengenai jenis plastik yang membentuk material tersebut
sehingga mempermudah untuk mendaur ulang. Suatu kode di kemasan yang
berbentuk segitiga 3R dengan kode angka di tengah-tengahnya adalah
contohnya. Suatu angka tertentu menunjukkan jenis plastik tertentu, dan kadang-
kadang diikuti dengan singkatan, misalnya LDPE untuk Low Density Poly
Etilene, PS untuk Polistirena, dan lain-lain, sehingga mempermudah proses daur
ulang[6].

P-1
II-21

II.6 Proses Pengolahan Limbah Padat


Dalam memproses pengolahan limbah padat terdapat empat proses yaitu pemisahan,
penyusunan ukuran, pengomposan, dan pembuangan limbah[3].
1. Pemisahan
Karena limbah padat terdiri dari ukuran yang berbedan dan kandungan bahan
yang berbeda juga maka harus dipisahkan terlebih dahulu, supaya peralatan
pengolahan menjadi awet. Sistem pemisahan ada tiga yaitu diantaranya :
1. Sistem Balistik. Adalah sistem pemisahan untuk mendapatkan
keseragaman ukuran / berat / volume.
2. Sistem Gravitasi. Adalah sistem pemisahan berdasarkan gaya berat
misalnya barang yang ringan / terapung dan barang yang berat /
tenggelam.
3. Sistem Magnetis. Adalah sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet
yang bersifat magnet, akan langsung menempel. Misalnya untuk
memisahkan campuran logam dan non logam.

P-1
II-21

2. Penyusunan Ukuran
Penyusunan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil agar
pengolahannya menjadi mudah.

3. Pengomposan
Pengomposan dilakukan terhadap buangan / limbah yang mudah membusuk,
sampah kota, buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik.
Supaya hasil pengomposan baik, limbah padat harus dipisahkan dan disamakan
ukurannya atau volumenya.

4. Pembuangan Limbah
Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah pembuangan limbah yang
dibagi menjadi dua yaitu :
a) Pembuangan Di Laut
Pembuangan limbah padat di laut, tidak boleh dilakukan pada sembarang tempat
dan perlu diketahui bahwa tidak semua limbah padat dapat dibuang ke laut. Hal
ini disebabkan :
1. Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan.
2. Laut sebagai tempat rekreasi dan lalu lintas kapal.
3. Laut menjadi dangkal.
4. Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya
dapat membunuh biota laut.
b) Pembuangan Di Darat Atau Tanah
Untuk pembuangan di darat perlu dilakukan pemilihan lokasi yang harus
dipertimbangkan sebagai berikut :
1. Pengaruh iklim, temperatur dan angin.
2. Struktur tanah.
3. Jaraknya jauh dengan permukiman.
4. Pengaruh terhadat sumber lain, perkebunan, perikanan, peternakan, flora
atau fauna.
Jadi, Pilih lokasi yang benar-benar tidak ekonomis lagi untuk kepentingan
apapun[3].

P-1
II-21

Adapun Pembuangan limbah di darat/tanah di bagi menjadi 3 , yaitu :


1. Penebaran diatas tanah.
2. Penimbunan/penumpukan.
3. Pengisian tanah yang cekung (Landfill).

II.7 Dampak Pencemaran Limbah Padat


Limbah pasti akan berdampak negatif pada lingkungan hidup jika tidak ada
pengolahan yang baik dan benar, dengan adanya limbah padat didalam linkungan
hidup maka dapat menimbulkan pencemaran seperti :
1) Timbulnya gas beracun, seperti asam sulfida (H2S), amoniak (NH3), methan
(CH4), C02 dan sebagainya. Gas ini akan timbul jika limbah padat ditimbun
dan membusuk dikarena adanya mikroorganisme. Adanya musim hujan dan
kemarau, terjadi proses pemecahan bahan organik oleh bakteri penghancur
dalam suasana aerob/anaerob.
2) Dapat menimbulkan penurunan kualitas udara, dalam sampah yang ditumpuk,
akan terjadi reaksi kimia seperti gas H2S, NH3 dan methane yang jika melebihi
NAB (Nilai Ambang Batas) akan merugikan manusia. Gas H2S 50 ppm dapat
mengakibatkan mabuk dan pusing.
3) Penurunan kualitas air, karena limbah padat biasanya langsung dibuang dalam
perairan atau bersama-sama air limbah. Maka akan dapat menyebabkan air
menjadi keruh dan rasa dari air pun berubah.
4) Kerusakan permukaan tanah.

Dari sebagian dampak-dampak limbah padat diatas, ada beberapa dampak limbah
yang lainnya yang ditinjau dari aspek yang berbeda secara umum. Dampak limbah
secara umum di tinjau dari dampak terhadap kesehatan dan terhadap lingkungan
adalah sebgai berikut :
1. Dampak Terhadap Kesehatan
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah
yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme
dan menarik bagi berbagai binatang seperti, lalat dan anjing yang dapat
menjangkitkan penyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah
sebagai berikut:

P-1
II-21

Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal
dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum.
Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan
cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.
Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).
Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salahsatu contohnya
adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita(taenia). Cacing ini
sebelumnya masuk kedalam pencernakan binatang ternak melalui
makanannya yang berupa sisa makanan/sampah[3].

2. Dampak Terhadap Lingkungan


Cairan dari limbah limbah yang masuk ke sungai akan mencemarkan
airnya sehingga mengandung virus-virus penyakit. Berbagai ikan dapat mati
sehingga mungkin lama kelamaan akan punah. Tidak jarang manusia juga
mengkonsumsi atau menggunakan air untuk kegiatan sehari-hari, sehingga
menusia akan terkena dampak limbah baik secara langsung maupun tidak
langsung. Selain mencemari, air lingkungan juga menimbulkan banjir karena
banyak orang-orang yang membuang limbah rumah tanggake sungai, sehingga
pintu air mampet dan pada waktu musim hujan air tidak dapat mengalir dan air
naik menggenangi rumah-rumah penduduk, sehingga dapat meresahkan para
penduduk[3].

3. Dampak Terhadap Keadaan Sosial dan Ekonomi


Dampak-dampak tersebut adalah sebagai berikut :
Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat
kesehatan masyarakat. Hal penting disini adalah meningkatnya
pembiayaan (untuk mengobati kerumah sakit).
Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang
tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan
air. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang
akan cenderung membuang sampahnya dijalan. Hal ini mengakibatkan
jalan perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki[5]

P-1
II-21

II.8 Sumber dan Jenis Limbah Padat


II.8.1Sumber Terjadinya Limbah Padat
Sumber terjadinya limbah padat diantaranya :
1. Pemukiman
2. Perdagangan
3. Industri
4. Institusi (kantor, sekolah)
5. Rumah sakit
6. Pertanian, peternakan, perkebunan
7. Tempat umum (tempat rekreasi, jalan, taman, dll)
8. Lap. Uadara, pelabuhan laut
9. Water and waste water treatment plant

II.8.2Jenis Limbah Padat


Berikut adalah jenis kategori limbah padat berdasarkan hasil dari J. Cornelius dan
L.A. Burch (1968) :

Perkotaan: Limbah yang berasal dari rumah tangga , limbah yang berasal dari
areal bisnis dan perdagangan , limbah yang berasal dari areal khusus.

Industri: Limbah yang berasal dari pertambangan dan pemprosesan mineral ,


limbah yang berasal dari manufaktur , limbah yang berasal dari industry
petrokimia dan pengilangan minyak bumi , limbah yang berasal dari
pemprosesan makanan (pengemasan daging , buah-buah dan sebagainya)

Pertanian: Limbah yang berasal dari peternakan , limbah tanaman buah-


buahan dan kacang-kacangan , limbah yang berasal dari hasil panen tanaman.

Jenis-jenis lampah :

1. Limbah domestik (rumah tangga) Limbah domestik adalah limbah


yang berasal dari kegiatan pemukiman penduduk (rumah tangga) dan
kegiatan usaha seperti pasar, restoran, dan gedung perkantoran.

P-1
II-21

2. Limbah industri

Limbah industri merupakan sisa atau buangan dari hasil proses


industri.

3. Limbah pertanian Limbah pertanian berasal dari daerah atau kegiatan


pertanian maupun perkebunan.

4. Limbah pertambangan

Limbah pertambangan berasal dari kegiatan pertambangan. Jenis


limbah yang dihasilkan terutama berupa material tambang, seperti
logam dan batuan.

5. Limbah pariwisata

Kegiatan wisata menimbulkan limbah yang berasal dari sarana


transportasi yang membuang limbahnya ke udara, dan adanya
tumpahan minyak dan oli yang dibuang oleh kapal atau perahu motor
di daerah wisata bahari.

6. Limbah medis

Limbah yang bersal dari dunia kesehatan atau libah medis mirip
dengan sampah domestik pada umumnya. Obat-obatan dan beberapa
zat kimia adalah contoh limbah medis.

II.9 Penanganan Limbah Padat


Penanganan limbah yang baik akan menjamin kenyamanan bagi semua orang.
Dipandang dari sudut sanitasi, penanganan limbah yang baik akan :

1. Menjamin tempat tinggal / tempat kerja yang bersih


2. Mencegah timbulnya pencemaran lingkungan
3. Mencegah berkembangbiaknya hama penyakit dan vektor penyakit

P-1
II-21

Usaha untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran lingkungan meliputi 2


cara pokok, yaitu :

1. Pengendalian non teknis, yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran


lingkungan dengan cara menciptakan peraturan perundang-undangan yang

dapat merencanakan, mengatur, mengawasi segala bentuk kegiatan industri


dan bersifat mengikat sehingga dapat memberi sanksi hukum pagi
pelanggarnya.
2. Pengendalian teknis, yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran
lingkungan dengan cara-cara yang berkaitan dengan proses produksi seperti
perlu tidaknya mengganti proses, mengganti sumber energi/bahan bakar,
instalasi pengolah limbah atau menambah alat yang lebih modern /canggih.
Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah :
1. Mengutamakan keselamatan manusia.
2. Teknologinya harus sudah dikuasai dengan baik.
3. Secara teknis dan ekonomis dapat dipertanggung jawabkan.

II.9.1Penanganan Limbah Padat


Limbah padat dapat dihasilkan dari industri, rumah tangga, rumah sakit, hotel,
pusat perdagangan/restoran maupun pertanian/peternakan. Penanganan limbah
padat melalui beberapa tahapan, yaitu :

1. Penampungan dalam bak sampah


2. Pengumpulan sampah
3. Pengangkutan
4. Pembuangan di TPA.
Sampah yang sudah berada di TPA akan mengalami berbagai macam perlakuan,
seperti menjadi bahan makanan bagi sapi / ternak yang digembala di TPA, di sortir
oleh pemulung, atau diolah menjadi pupuk kompos.
A. Berikut ini beberapa metode penanganan limbah organik padat :

P-1
II-21

1. Composting, yaitu penanganan limbah organik menjadi kompos yang bisa


dimanfaatkan sebagai pupuk melalui proses fermentasi. Bahan baku untuk
membuat kompos adalah sampah kering maupun hijau dari sisa tanaman, sisa
makanan, kotoran hewan, sisa bahan makanan dll. Dalam proses pembuatan
kompos ini bahan baku akan mengalami dekomposisi / penguraian oleh
mikroorganisme.

Proses sederhana pengomposan berlangsung secara anaerob yang sering


menimbulkan gas. Sedangkan proses pengomposan secara aerob membutuhkan

P-1
4-19

oksigen yang cukup dan tidak menghasilkan gas. Faktor lingkungan yang dapat
mempengaruhi proses pengomposan yaitu :

1. Ukuran bahan, semakin kecil ukuran bahan semakin cepat proses


pengomposan
2. Kandungan air, tumpukan bahan yang kurang mengandung air akan berjamur
sehingga proses penguraiannya lambat dan tidak sempurna. Tetapi jika
kelebihan air berubah menjadi anaerob dan tidak menguntungkan bagi
organisme pengurai.
3. Aerasi, aerasi yang baik akan mempercepat proses pengomposan sehingga
perlu pembalikan atau pengadukan kompos.
4. pH (derajat keasaman), supaya proses pengomposan berlangsung cepat, pH
kompos jangan terlalu asam maka perlu penambahan kapur atau abu dapur
5. suhu, suhu optimal pengomposan berlangsung pada 30 450 C
6. perbandingan C dan N, proses pengomposan dapat dihentikan bila komposisi
C/N mendekati perbandingan C/N tanah yaitu 10 12
7. kandungan bahan sampah seperti lignin, wax (malam) damar, selulosa yang
tinggi akan memperlambat proses pengomposan.
Cara pembuatan kompos, memalui cara :

1. menggunakan komposter
2. tumpukan terbuka (open windrow)
3. cascing (menggunakan cacing)
3-19

Di dalam kompos terdapat unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman,


sehingga digunakan sebagai pupuk tanaman dan disebut pupuk organik. Dalam
proses pengomposan, bahan baku kompos mengalami perubahan kimiawi oleh
mikroorganisme / bakteri yang membutuhkan nitrogen untuk hidupnya. Tetapi
tidak selalu bahan baku kompos mengandung nitrogen yang cukup untuk
kebutuhan bakteri pengurai tersebut sehingga diperlukan pemberian tambahan
nitrogen, salah satunya adalah EM 4 (effective microorganism 4) yang berfungsi
sebagai aktivator. Hal ini akan membantu bakteri hidup berkembang dengan baik
sehingga proses penguraian bahan baku kompos menjadi lebih cepat dan proses .
pengomposan berlangsung lebih cepat pula. Jika aerasi kurang, maka yang
terjadi adalah proses pembusukan dan akan mengasilkan bau busuk akibat
terbentuknya amoniak (NH3) dan asam sulfida (H2S).
Kompos dari bahan baku organik memiliki beberapa kegunaan antara lain :

1. memperbaiki kualitas tanah.


2. meningkatkan kemampuan tanah dalam melakukan pertukaran ion.
3. membantu pengolahan sampah.
4. mengurangi pencemaran lingkungan.
5. membantu melestarikan sumber daya alam.
6. membuka lapangan kerja baru.
7. mengurangi biaya operasional bagi petani atau pecinta tanaman.

2. Gas Bio, yaitu pengubahan sampah organik yang berasal dari tinja manusia
maupun kotoran hewan menjadi gas yang dapat berfungsi sebagai bahan bakar
alternatif. Kandungan gas bio antara lain metana ( CH4) dalam komposisi yang
terbanyak, karbondioksida ( CO2 ), Nitrogen ( N2 ), Karbonmonoksida ( CO ),
Oksigen (O2), dan hidrogen sulfida (H2S). Gas metana murni adalah gas tidak
berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Supaya efektif, proses pengubahan ini
harus pada tingkat kelembaban yang sesuai, suhu tetap dan pH netral.
3-19

3. Makanan ternak ( Hog Feeding ), adalah pengolahan sampah organik


menjadi makanan ternak. Agar sampah organik dapat dimanfaatkan untuk
pakan ternak harus dipilih dan dibersihkan terlebih dulu agar tidak tercampur
dengan sampah yang mengandung logam berat atau bahan-bahan yang
membahayakan kesehatan ternak.

II.9.2Dampak Pengolahan Limbah Terhadap Lingkungan


Pengolahan limbah yang baik dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan
lingkungan, akan tetapi bila tidak dikelola dengan baik dapat memberi dampak
negatif bagi lingkungan.
A. Dampak positif pengolahan limbah
Pengolahan limbah yang benar akan memberikan dampak positif, yaitu :
1. Limbah dapat digunakan untuk menimbun lahan / dataran rendah.
2. Limbah dapat digunakan untuk pupuk.
3. Limbah dapat digunakan sebagai pakan ternak , baik langsung maupun
mengalami proses pengolahan lebih dulu.
4. Mengurangi tempat perkembangbiakan penyakit / vektor penyakit
5. Mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit menular.
6. Menghemat biaya pemeliharaan kesehatan karena masyarakat yang sehat

B. Dampak negatif bila limbah tidak dikelola dengan baik


Pengolahan limbah yang kurang baik akan memberikan dampak negatif,
seperti :
1. Menjadi tempat berkembangbiaknya kuman penyakit / vektor penyakit.
2. Menyebabkan gangguan kesehatan seperti sesak nafas, insomnia maupun
stress.
3. Lingkungan menjadi kotor, bau, saluran air tersumbat, banjir.
4. Lingkungan menjadi tidak indah dipandang.
5. Menurunkan minat orang datang ketempat tersebut.
6. Menaikkan angka kesakitan bagi masyarakat.
7. Membutuhkan dana besar untuk membersihkan lingkungan.
4-19

8. Menurunkan pemasukan pendapatan daerah karena kurangnya wisatawan


yang berkunjung[8].
9.
BAB III
KESIMPULAN

III.1 Kesimpulan
Pada dasarnya limbah adalah sejenis kotoran yang berasal dari hasil pembuangan dan
itu mengakibatkan dampak bagi lingkungan di sekitar tetapi sekarang banyak
ditemukan cara atau solusi untuk menangani dampak-dampak yang dihasilkan oleh
limbah, meskipun demikian pada kenyataannya cara atau solusi tersebut tidak ada
hasilnya karena masih banyak pula kita jumpai limbah atau sampah disungai dan
didarat yang dapat pula menimbulkan banjir serta kerusakan lingkungan lainnya
Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan
merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran
limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida;
masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan;
kecelakaan kendaraan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari
tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah
secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).
Ada beberapa cara metode penanganan limbah organik, diantaranya:
a. Composting
b. Bio gas
c. Makanan ternak ( Hog Feeding )

III.2 Saran
Untuk lebih memahami semua tentang limbah padat organik, disarankan para
pembaca mencari referensi lain yang berkaitan dengan materi pada makalah ini.
Selain itu, diharapkan para pembaca setelah membaca makalah ini mampu
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari hari dalam menjaga kelestarian tanah
beserta penyusun yang ada di dalamnya.
4-19

DAFTAR PUSTAKA

1. Adilindhy, Makalah IPA - Limbah padat,


https://indrikurniamaryani.wordpress.com/2014/04/16/makalah-ipa-
limbah-padat , diakses pada 19 Februari 2017
2. Vera, Wati, Pengelompokan Limbah,
siverawati.blogspot.co.id/2013/08/contoh-makalah-pengelompokkan-
limbah_26.html, diakses pada 19 februari 2017
3. Fajar, Pamungkas, Tentang Limbah Padat,
http://dokumen.tips/documents/makalah-limbah-padat.html , diakses pada
19 Februari 2017
4. NN, Limbah Padat, http://morelaz.blogspot.co.id/2013/09/makalah-ipa-
limbah-padat.html , diakses pada 19 Februari 2017
5. Muchlisin, Riadi, Pengertian, Jenis dan Dampak sampah,
http://www.kajianpustaka.com/2015/02/pengertian-jenis-dan-dampak-
sampah.html , diakses pada 19 Februari
6. Imam, Evaluasi Dampak Lingkungan Limbah Padat,
http://maulimam.blogspot.co.id/2014/10/evaluasi-dampak-lingkungan-
limbah-padat_41.html , diakses pada 19 Februari 2017
7. NN, Pengertian, Karakteristik, Dan Jenis-Jenis Limbah,
infokamiterkini.blogspot.co.id/2013/10/pengertian-karakteristik-dan-
jenis.html , diakses pada 19 Februari 2017
8. Utami, Sibardo,
https://utamisubardo.wordpress.com/2013/04/21/pengolahan-dan-
penanganan-limbah/ , diakses pada 19 Februari 2017