Anda di halaman 1dari 8

A.

BUDHA DI KALIMANTAN

Keberadaan masyarakat pemeluk agama Buddha di Kalimantan dapat diketahui dari


ditemukannya sebuah prasasti batu dari Batu Pait, Kalimantan Barat. Prasasti yang
berukuran tinggi lebih dari 4 meter dan lebar 7 meter ini berisi tentang mantra-mantra
Buddha yang dipahatkan dalam aksara Pallawa di antara relief 7 buah stupa.

Berdasarkan bentuk tulisannya, diduga prasasti ini berasal dari sekitar abad VI-VII
Masehi. Prasasti ini membuktikan bahwa di wilayah Kalimantan Barat pada sekitar abad VI-
VII telah tinggal kelompok masyarakat beragama Buddha.

Jauh di sebelah utara, di wilayah Kabupaten Sambas pada sekitar tahun 40-an
ditemukan dua arca Buddha berdiri (dibuat dari emas dan perak), dua arca Buddha duduk
dan empat arca Bodhisattwa Padmapani. Arca-arca ini kini menjadi koleksi The British
Museum, London.

Seorang ahli arkeologi, Quaritch Wales, menempatkan arca-arca tersebut dari


sekitar abad VIII-IX Masehi. Ukuran dari arca-arca tersebut bervariasi antara 6-20 cm
dan sebuah berukuran 30 cm.

Keberadaan arca-arca ini membuktikan kepada kita bahwa pada masa lampau di
Sambas telah ada kelompok masyarakat yang memeluk agama Buddha. Arca Bodhisattwa
Padmapani mengindikasikan bahwa agama Buddha yang berkembang di Sambas adalah
Buddha Mahayana. Agama ini mencapai puncak perkembangannya pada sekitar abad VII-IX
Masehi di Sumatera dan Jawa.

Koleksi arca-arca Buddha dari Sambas di British Museum menunjukkan pada kita
bahwa Sambas kaya akan tinggalan budaya masa lampau. Dengan adanya arca yang akan
dilelang itu menunjukkan bahwa hingga saat ini dari Kalimantan Barat telah ditemukan 21
buah arca logam emas, perak, dan perunggu.

B. HINDU DI KALIMANTAN

Berikut ini akan kami uraikan beberapa kerajaan kerajaan yang ada di Kalimantan
Barat yang pernah mendapatkan pengaruh Hindu

1.KERAJAAN TANJUNGPURA
Berdasarkan penyelidikan etynologi Prof. Dr. Poebatjaraka memberi penjelasan
tentang Kalimantan. Pendapat ini diambil dari cerita Negarakertagama yang bercerita
sedikit tentang Tanjungpura. Di dalam kitab Pararaton Borneo disebut juga dengan
Tanjungpura.

Tanjungpura merupakan kota penting pusat pemerintahan seluruh Kalimantan. Dari


zaman dahulu Kalimantan sangat terkenal akan perdagangan permatanya. Orang Jawa sangat
mengenal Pulau Kalimantan karena hasil Permata dan Intannya.

Pada masa pemerintahan Panembahan Kalahirang, dia telah berusaha mengejar


kemakmuran rakyat dan memeperluas daerah kerajaannya.

Wilayah kerajaan Tanjungpura meliputi; sebelah utara berbatasan dengan Tanjung


Datuk, di selatan sampai ke tanjung Putting, sebelah timur sampai ke Sintang dan sebelah
barat sampai ke pulau tujuh dan karimata. Melihat bukti tersebut, luas daerah
pemerintahan Kerajaan Tanjungpura hamper meliputi seluruh wilayah Kalimantan Barat.

Hubungan dagang dengan kerajaan Majapahit dan Malaka pun terjalin dengan sangat baik.
Dengan demikian agama Hindu dan Budha mulai masuk. Menurut cerita rakyat, Panembahan
Mandala yang telah naik tahta menggantikan PAnembahan Kalahirang mengalihkan potensi
rakyak menjadi maritime. Kerajaan Tanjungpura berubah menjadi kerajaan maritime yang
sangat kuat. Di bawah pimpinan raja yang baru, Kerajaan Tanjungpura berlayar dengan
perlengkapan yang dilengkapi dengan persenjataan yang lengkap.

Dengan semua persiapan perang ini, ia berani menyerang pulai Karimata. Kerajaan Karimata
akhirnya tunduk dalam pemerintahannya. Untuk menghindari serangan ulang, beliau
mensiasati dengan mengawini rakyatnya dengan rakyat setempat.

2.KERAJAAN SUKADANA

Kota Sukadana kurang lebih telah ditinggalkan 100 tahun lamanya. Sehingga menjadi
sarang bajak laut. Dalam hal ini berarti kerajaan Sukadana tetap ada. Perkembangan
selanjutnya dari SUkadana tak kurang dapat delepaskan hubungan dengan jatuhnya
kerajaan islam Makassar. Tradisi monopoli perdagangan International dalam hal rempah-
rempah yang telah tiga abad dipegang oleh Makassar yang diakhiri dengan perjanjian
Bongaya pada tahun 1669.

Sukadana merupakan saingan dagang yang perlu Pontianak lumpuhkan. Pada tahun
1876, perang Sukadana dengan Pontianak sudak tidak dapat di cegah. Dalm perang ini
sukadana kalah.
Mengutip dari ECCYCLOPAEDIE van NEDERLAND Indie ll Druk 1919 menguraikan
tentang kerjaan Sukadana, mengatakan bahwa matan dan simpang masuk Swapraja
Sukadana. Kerajaan Sukadana dibentuk oleh Brawijaya dai Majapahit. Anaknya Pangeran
Prabu tinggal di Sukadana sesudah Prabu Sriwijaya meninggal dunia, anaknya yang lain
tinggal di Tayan. Pada tahun 1550 barulah agama Islam masuk di kerjaan ini. Sebelumnya
kerajaan ini menganut agam Budha.

3.KERAJAAN SAMBAS

Kerajaan sambas didirikan oleh Raden Sulaiman yang merupakan putra dari Sultan
Raja Tengah. Beliau mendirikan sebuah kerajaan Islam. Akan tetapi jauh sebelum Sultan
Raja Tengah datang dari Brunai ke Sambas, di Sambas telah berdiri sebuah kerajaan Hindu
yang diperintah oleh seorang ratu yang bernama Ratu Sepundak.Ratu Sepundak ini adalah
keturunan dari kerajaan Majapahit di Pulau Jawa.

Pada saat Ratu sepundak berkuasa, pusat pemerintahannya terletak di kota Lama
(kira kira 36 km dari Kota Sambas sekarang) tepatnya di Kecamatan Telok Keramat.
Ketika Ratu Sepundak ini memerintah, datanglah Raja Tengah beserta rombongan di
Sambas. Mereka diterima dengan baik oleh Ratu Sepundak dan rakyatnya. Sejak saat itu
pula banyak rakyat Sambas yang memeluk agama Islam. Tidak lama kemudian Ratu Sepundak
wafat dan digantikan oleh menantunya yang bernama Raden Prabu Kencana dengan gelar
Ratu Anom Kesuma Yudha.

Pada saat Ratu Anom Kesuma Yudha memerintah, beliau mengangkat pejabat
pejabat kerajaan untuk membantu Raja dalam menjalankan roda pemerintahan. Beliau
mengangkat Pangeran Mangkurat sebagai wasir utama dan Raden Sulaiman sebagai wasir
kedua. Dengan diangkatnya Raden Sulaiman sebagai wasir kedua , pengaruhnya dalam
mengembangkan agama Islam semakin meningkat dan semakin banyak yang memeluk agama
Islam. Hal ini membuat Pangeran Mangkurat iri hati.

Suatu ketika, Pangeran Mangkurat beserta prajuritnya yang beragama Hindu


membuat huru hara. Mereka membunuh orang orang yang beragama Islam dan membakar
masjid masjid. Pangeran Mangkurat juga memaksa istri Raden Sulaiman yang sudah
beragama Islam berbalik ke agama Hindu.Tetapi paksaan itu tidak berhasil
mempengaruhinya. Karena Pangeran Mangkurat merasa belum puas, beliau menghadap
kepada Ratu Anom Kesuma Yudha untuk memilih antara dirinya dan Raden Sulaiman.
Akhirnya Raden sulaiman mengundurkan diri. Raden Sulaiman beserta istri dan keluarganya
meninggalkan kota Lama dan menuju ke daerah baru yang diberi nama Kota Bangun.
Perpindahan Raden Sulaiman ini diikuti oleh para pengikutnya sehingga keadaan Kota Lama
terasa lenggang dan sunyi.

Beberapa waktu kemudian Raden Sulaiman beserta pengikutnya pindah lagi ke kota
Bandir. Sementara itu, Ratu Anom Kesuma Yudha sendiri berangkat meninggalkan Kota
Lama menuju Sungai Selakau. Di daerah inilah mereka mendirikan sebuah kerajaan yang
ibukota pemerintahannya diberi nama Kota Balai Pinang.

Tidak lama kemudian Ratu Anom Kesuma Yudha wafat, begitu pula dengan pangeran
Mangkurat. Ratu Anom digantikan oleh putranya yang bernama Raden Bekut. Beliau memakai
gelar Panembahan Kota Balai.

Setelah Raden Bekut wafat, tahta kerajaan digantikan oleh Putra Mahkota yang
bernama Raden Mas Dungun. Raden Mas Dungun inilah yang merupakan Panembahan terakhir
Kota Balai Pinang. Kerajaan ini berakhir karena utusan Raden Sulaiman menjemput mereka
kembali ke Sambas.

4.KERAJAAN LANDAK

Keraton Ismahayana Landak memiliki kronik sejarah yang relatif panjang, meskipun
sumber-sumber tertulis yang membuktikan sejarah kerajaan ini bisa dikatakan sangat
terbatas. Sama halnya dengan sumber dari cerita-cerita rakyat yang muncul di Kabupaten
Ngabang, Kalimantan Barat, tempat di mana kerajaan ini berada.

Kisah itu berawal pada tahun 1275 M, ketika Raja Kertanegara dari Kerajaan
Singasari, Pulau Jawa (Jawadwipa), mengirim bala tentara untuk memperluas kekuasaannya
hingga ke kawasan Sumatra Tengah. Invasi ini dikenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu
yang berlangsung hingga tahun 1292 M. Ketika para punggawa dan prajurit ekspedisi ini
harus kembali ke tanah Jawa lantaran Raja Kertanegara wafat, Ratu Sang Nata Pulang Pali
I, pemimpin salah satu rombongan, justru membelokkan armada pasukannya menuju Nusa
Tanjungpura, yang kini dikenal sebagai Borneo atau Pulau Kalimantan (Usman, 2002: 3;
2007: 1-2).

Di pulau yang terkenal sebagai salah satu paru-paru dunia itu, perjalanan rombongan
Ratu Sang Nata Pulang Pali I diawali ketika mereka singgah di daerah Padang Tikar,
kemudian diteruskan menyusuri Sungai Tenganap yang kala itu dikisahkan sedang meluap,
hingga akhirnya berlabuh di daerah Sekilap atau yang kini disebut Sepatah (Usman, 2002:
3). Sementara, terdapat sumber lain yang menyebutkan bahwa beliau bersama rombongan
berjalan melewati Ketapang dan menyusuri Sungai Kapuas hingga berbelok melalui Sungai
Landak Kecil dan berhenti di Kuala Mandor (kini merupakan sebuah daerah di Kabupanten
Landak, Kalimantan Barat) (Tim Penulis Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak,
1995: 37). Di tempat inilah Ratu Sang Nata Pulang Pali I mendirikan Kerajaan Landak, dan
nama daerah Sekilap kemudian diganti menjadi Ningrat Batur atau Angrat (Anggerat)
Batur.

Konon, untuk membangun sebuah kerajaan, Ratu Sang Nata Pulang Pali I
menaklukkan masyarakat setempat dengan cara membagi-bagikan garam. Pembagian garam
inilah yang membuat masyarakat setempat respek pada kedatangan Ratu Sang Nata Pulang
Pali I beserta rombongannya. Masyarakat lantas bersedia membantu beliau mendirikan
sebuah bangunan yang dalam perkembangannya kemudian menjadi istana Kerajaan Landak
(Tim Penulis Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak, 1995: 3738). Sayangnya,
tidak terdapat satupun sumber yang menjelaskan mengapa pendekatan membagikan garam
secara cuma-cuma tersebut dipilih.

Dalam buku Lontar Kerajaan Landak disebutkan bahwa setelah Kerajaan Landak
berdiri di Ningrat Batur (yang kini dikenal dengan nama Tembawang Ambator), periode
pertama pemerintahan kerajaan ini bergulir cukup lama, yakni selama 180 tahun (1292
1472 M). Pada periode pertama pemerintahan Landak, negeri ini dipimpin oleh tujuh raja,
yaitu Ratu Sang Nata Pulang Pali I hingga Raden Kusuma Sumantri Indera Ningrat dengan
gelar kebangsawan Abhiseka Ratu Brawijaya Angkawijaya Ratu Sang Nata Pulang Pali VII.
Selama masa kepemimpinan Ratu Sang Nata Pulang Pali I hingga VI, kerajaan ini tidak
memiliki istana selayaknya sebuah kerajaan. Sampai pada akhinya tiba masa pemerintahan
Ratu Sang Nata Pulang Pali VII di mana Kerajaan Landak memiliki kompleks istana terpadu
untuk kali pertama.

Sebagaimana disebutkan dalam Indoek Lontar Keradjaan Landak (1942, dalam


Usman, 2007: 5) Ratu Sang Nata Pulang Pali VII menikahi Putri Dara Hitam, putri dari Patih
Tegak Temula, yang kemudian menjadi permaisuri kerajaan. Dari perkawinan tersebut, Ratu
Sang Nata Pulang Pali VII memiliki keturunan bernama Abhiseka Sultan Dipati Karang
Tanjung yang sekaligus merupakan putera mahkota. Setelah raja Landak terakhir di Ningrat
Batur tersebut mangkat, sang putera mahkota kemudian naik tahta dengan gelar Pangeran
Ismahayana. Berikut kutipan dari tulisan Gusti Sulung Lelanang di dalam Indoek Lontar
Keradjaan Landak mengenai proses ini: ... adapun sebagai pangkal sejarah Kerajaan
Landak, yaitu dari Raden Kusuma Sumantri Indra Ningrat (Ratu Bra Wijaya Angka Wijaya)
yang mendirikan kerajaan Hindu di Angrat Batur (Ningrat Batur atau Batu Ningrat
[Tembawang Ambator]) dan bergelar (Ratu) Sang Nata Pulang Pali (I). Beliau memiliki tujuh
keturunan (hingga Pulang Pali terakhir atau Ratu Sang Nata Pulang Pali VII). Ratu Sang
Nata Pulang Pali VII beristrikan Dara Hitam (putri dari Patih Tegak Temula dari Kurnia
Sepangok tanjung Selimpat) dan berputrakan Raden Ismahayana (Iswarahayana). Apapun
Raden Ismahayana, adalah raja (pertama) Kerajaan Landak yang memeluk agama Islam pada
akhir abad XIV dan mendirikan ibunegeri (pusat pemerintahan) Kerajaan Landak di Munggu
(Ayu).

5.KERAJAAN MEMPAWAH

Masa Kerajaan Mempawah Dayak Hindu

Letak geografis Kesultanan Mempawah sekarang ini--yang masih kita nikmati


peninggalan-peninggalan bersejarahnya--berbeda dengan ketika Kerajaan Mempawah
pertama kali berdiri. Pada masa itu, Mempawah merupakan kerajaan Suku Dayak yang
berkedudukan di dekat pegunungan Sidiniang, Sangkling, Mempawah Hulu. Kerajaan ini
berdiri sekitar tahun 1380 M, dipimpin oleh seorang patih bernama Patih Gumantar.
Menurut sejumlah sumber, pada saat yang bersamaan, telah berdiri kerajaan Dayak lainnya,
yaitu Kerajaan Bangkule Rajakng dengan rajanya NeRumaga. Namun, menurut sumber lain,
Kerajaan Bangkule Rajakng tiada lain merupakan Kerajaan Mempawah Dayak itu sendiri dan
dipimpin oleh Patih Gumantar. Ada lagi sumber lain yang menyebutkan bahwa kerajaan
pimpinan Patih Gumantar itu merupakan pecahan dari Kerajaan Matan/Tanjungpura.

Patih Gumantar pernah berkomunikasi dengan Patih Gajahmada dari Kerajaan


Majapahit. Patih Gumantar mengajak Patih Gajahmada untuk berkunjung ke Mempawah
dengan tujuan bersama, yaitu menyatukan Nusantara. Diperkirakan, Patih Gajahmada
berkunjung ke Mempawah setelah lawatannya ke Kerajaan Muang Thai dalam rangka
membendung serangan Kerajaan Mongol. Sebagai bukti kunjungan Gajahmada ke Mempawah
adalah Keris Susuhan yang hingga kini masih tersimpan rapi di kawasan Istana Mempawah.

Kerajaan Suku Biaju (Bidayuh) di Sungkung merasa iri dengan kejayaan Mempawah
saat itu. Pada sekitar tahun 1400-an M, terjadilah perang kayau-mengayau, yaitu tradisi
pemenggalan kepala manusia bagi orang Dayak. Patih Gumantar yang dikenal gagah berani
dapat dikalahkan karena diserang secara mendadak. Kepalanya di-kayau oleh orang-orang
Suku Bidayuh. Patih Gumantar memiliki tiga anak, yaitu Patih Nyabakng, Patih Janakng, dan
Putri Dara Hitam. Sejak sepeninggalan Patih Gumantar, Mempawah mengalami masa
kemunduran.
Sekitar dua ratus tahun kemudian (tahun 1610 M), Mempawah kembali bangkit.
Tampil sebagai pemimpin baru adalah Panembahan Kudong/Kudung atau juga disebut
Panembahan Yang Tidak Berpusat. Raja Kudong memindahkan pusat ibu kota Mempawah ke
Pekana (Karangan).

Setelah Raja Kudong meninggal pada tahun 1680 M, tahta kekuasaan kemudian
dipegang oleh Panembahan Senggauk. Pada masa pemerintahan ini, pusat ibu kota
dipindahkan dari Pekana ke Senggauk, hulu Sungai Mempawah. Panembahan Senggauk
menikah dengan putri Raja Qahar dari Kerajaan Baturizal Indragiri Sumatra, yang bernama
Putri Cermin. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan, Mas Indrawati. Ketika usia Mas
Indrawati telah beranjak dewasa, ia dinikahkan dengan Panembahan Muhammad Zainuddin
dari Kerajaan Matan (Ketapang). Dari hasil perkawinan ini, lahirlah seorang putri cantik
bernama Putri Kesumba. Ketika dewasa, Putri Kesumba dinikahkan dengan Opu Daeng
Menambun.

Sebagai informasi, Opu Daeng Menambun merupakan keturunan (cucu) dari Raja La
Madusalat yang memerintah Kerajaan Luwu (kini terletak di Provinsi Sulawesi Selatan) pada
awal abad ke-18. Raja La Madusalat memiliki tiga putra, yaitu: Pajung (pernah memerintah
di Kerajaan Luwuk). Opu Daeng Biasa (pernah menjadi pemimpin Suku Bugis di Betawi). Opu
Daeng Rilekke, yang dikenal sebagai pelaut pemberani dan suka mengembara ke berbagai
daerah dengan mengikutsertakan putra-putrinya. Ia mempunyai lima orang anak, yaitu: Opu
Daeng Kemasih, Opu Daeng Perani, Opu Daeng Menambun, Opu Daeng Celak, dan Opu Daeng
Melewa.

Dengan demikian, Opu Daeng Menambun sebenarnya bukan orang Kalimantan asli,
namun sebagai perantau dari Sulawesi Selatan dan keturunan Suku Bugis. Sejak dulu
keturunan La Madusalat dikenal sebagai pelaut-pelaut yang sangat ulung dan pemberani.
Mereka merantau ke berbagai penjuru Nusantara dengan mengarungi laut-laut yang begitu
luas, dengan tujuan Banjarmasin, Betawi, Johor, Riau, Semenanjung Melayu, hingga akhirnya
tiba di Tanjungputa (Matan).

Ketika dalam masa perantauannya, kelima anak Opu Daeng Rilekke dikenal banyak
membantu kerajaan-kerajaan kecil yang sedang dalam kesulitan. Hal itu terbukti ketika
terjadi perang saudara di dalam Kesultanan Matan/Tanjungpura, di mana Panembahan
Muhammad Zainuddin dibuang ke Banjar oleh adiknya, Pangeran Agung. Kelima bersaudara
tersebut membantu Panembahan Muhammad Zainuddin untuk mengambilalih kekuasaan yang
sempat jatuh. Sebagai hadiahnya, Opu Daeng Menambun dinikahkan dengan Putri Kesumba.
Mereka berdua kemudian dikaruniai sepuluh orang putra-putri, dua di antaranya adalah
Gusti Jamiril dan Utin Candramidi.