Anda di halaman 1dari 12

TUGAS KULIAH GEOLOGI BATUBARA

GEJALA SYN-DEPOSIT DAN POST-DEPOSIT


BATUBARA DAN CIRI DI LAPANGAN

Disusun Oleh :

NIZAR DWI PRABAWA

111.140.025

Kelas B

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Geologi Batubara 2016

Batubara adalah batuan sedimen (padatan) yang dapat terbakar, berasal


dari tumbuhan, berwarna coklat sampai hitam. Sejak pengendapannya mengalami
terkena proses fisika dan kimia yang mengakibatkan pengkayaan kandungan
karbon.
Berdasarkan klasifikasi tentang batubara,pengertian endapan batubara
adalah : Endapan yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang
telah mengalami kompaksi, ubahan kimia dan hampir proses metamorfosis oleh
Untuk menjadi batubara, ada beberapa tahapan yang harus di lewati oleh
bahan dasar pembentuknya. Pada tiap tahapan ada proses yang terjadi dan proses-
proses tersebut tergantung kepada banyak faktor. Faktor-faktor tersebut
diantaranya adalah :
Syn Depositional
Post Depositional

BAB II
PEMBAHASAN

A. Syn Depositional

Nama : NIZAR DWI PRABAWA


NIM : 111.140.025
Kelas :B 2
Geologi Batubara 2016

Merupakan proses-proses geologi yang terjadi sebelum hingga yang terjadi


bersamaan dengan pengendapan batubara pada suatu cekungan. Proses syn
depositional diantaranya adalah :

1. Perbedaan kecepatan sedimentasi


lingkungan pembentukan batubara terdapat pada lingkungan yang tenang
yang memungkinkan terjadi pembusukan oleh mikroba secara perlahan dan tidak
terganggu oleh material lain yang dapat diendapkan bersamaan proses
pengendapan batubara. Hal ini dikarenakan material lempung atau pasir yang
berlebih dapat meningkatkan kadar abu pada batubara yang dapat mengurangi
kualitas batubara.Hasil dari perbedaan kecepatan sedimentasi antara lain seperti:
a) Bands

Merupakan lapisan yang terdiri dari material yang bukan batubara, terjadi
karena suplai akumulasi sedimen klastik telah melebihi akumulasi gambut.
Sedimen klastik ini mungkin menunjukkan endapan over bank atau dataran
banjir yang berasal dari sungai yang terdekat atau dari debu vulkanik yang
berasal dari sumber di luar lingkungan rawa.

b) Splits

Nama : NIZAR DWI PRABAWA


NIM : 111.140.025
Kelas :B 3
Geologi Batubara 2016

Splitting (Larry Thomas, Coal Geology)

Kemenerusan lateral lapisan batubara di lapangan sering terbelah pada


jarak yang relatif dekat oleh sedimen bukan batubara yang membaji kemudian
membentuk dua lapisan batubara yang terpisah dan disebut
autosedimentational split. Macam-macam bentuk spilt :

Simple splitting, merupakan split sederhana yang terjadi akibat kehadiran


tubuh lentikuler yang besar darisedimen bukan batubara.
Proggresif splitting, merupakan split yang apabila terdiri dari beberapa lensa,
maka splitting dapat berkembang secara terus menerus.
Zig zag splitting, merupakan split yang terjadi pada suatu lapisan batubara
yang terbelah dan kemudian bergabung dengan lapisan batubara lain.
2. Penurunan dasar cekungan (subsidence)
Kecepatan penurunan yang lebh cepat dari kecepatan akumulasi tumbuhan
akan mengakibatkan air menggenangi rawa-rawa dan hutan sekelilingnya,
sehingga kehidupan tumbuhan terganggu. Jika penurunan lebih lambat dari
kecepatan akumulasi tumbuhan, maka akan menyebabkan akumulasi tumbuhan di
permukaan. Akibatnya permukaan airtanah akan turun dan tumbuhan membusuk
oleh udara.
3. Bentuk morfologi dasar cekungan

Nama : NIZAR DWI PRABAWA


NIM : 111.140.025
Kelas :B 4
Geologi Batubara 2016

Bentuk morfologi dasar cekungan rawa dan perubahan muka air, sangat
berpengaruh terhadap penebalan dan penipisan lapisan batubara yang berdampak
kepada besaran dan luasan dari geometri lapisan batubara.

B. Post Depositional

Merupakan proses-proses geologi yang terjadi setelah pengendapan


batubara pada suatu cekungan. Proses post depositional diantaranya adalah :

1. Washout

Washout merupakan tubuh lentikuler sedimen, biasanya batupasir, yang


menonjol ke bawah dan menggantikan sebagian atau seluruh lapisan batubara
yang ada. Umumnya memanjang atau berbelok-belok, dan menggambarkan
struktur scour and fill dibentuk oleh aktivitas channel berasosiasi dengan
akumulasi gambut.

Washout dan roof rolls merupakan masalah utama dalam operasi


penambangan. Ketebalan lapisan dan ketidakmenerusan lapisan batubara akibat
terisi channel, sehingga itu tentu memerlukan kebijaksanaan. Demikian juga
dengan peralatan yang digunakan untuk menggali batubara sering menemui
kesulitan untuk menembus material bukan batubara yang telah menggantikan
posisi lapisan batubara, terutama pada tambang bawah tanah.(Ward, C.R., 1984)

Nama : NIZAR DWI PRABAWA


NIM : 111.140.025
Kelas :B 5
Geologi Batubara 2016

2. Lingkungan pengendapan setelah pembentukan batubara


Pengaruh lingkungan pengendapan setelah pembentukan batubara yaitu
apabila diatas lapisan batubara diendapkan sedimen marine yang memiliki kadar
sulfat yang tinggi. Hal ini akan mempengaruhi kadar sulfida pada lapisan batubara
dibawahnya, sehingga akan membentuk mineral sulfida seperti pirit yang dapat
mengurangi kualitas batubara tersebut.

3. Struktur geologi
Struktur geologi yang dihasilkan dari post-depositional adalah kekar,
sesar, dan lipatan. Kehadiran mineral presipitasi seperti gypsum juga merupakan
hasil post-depositional.

a. Sesar

Sesar normal sebagai produk tegasan utama vertikal hasil gaya


gravitasi,sesar normal umum dijumpai di lapisan batubara yaitu di bagian sayap-
sayap lipatan,pergeserannya dapat mencapai beberapa meter, dip bidang sesar
normal mulai 60 70. Sesar dapat membentuk kekar-kekar atau Cleat yang
merupakan Pengkekaran dalam batubara, khususnya batubara bituminous.

Hal ini ditunjukkan oleh serangkaian retakan yang sejajar, biasanya


berorientasi tegak lurus perlapisan. Satu rangkaian retakan disebut face cleat,
biasanya dominan dengan bidang individu yang lurus dan kokoh sepanjang
beberapa meter.

Bidang cleat sering diisi oleh unsure mineral atau karbonat, lempung, jenis
sulfida, atau sulfat dapat secara umum nampak pada permukaan batubara yang

Nama : NIZAR DWI PRABAWA


NIM : 111.140.025
Kelas :B 6
Geologi Batubara 2016

mengelupas yang dapat mengurangi kualitas batubara karena meningkatnya kadar


abu. Orientasi face cleat merupakan salah satu faktor penting di dalam
pengontrolan perencanaan penambangan bawah tanah. Demikian juga untuk
operasi penambangan yang menggunakan alat bajak atau hidrolik, maka arah
penbambangan dan hubunganny adengan pola cleat sangat mempengaruhi dalam
kemudahan penggalian batubara.

b. Lipatan

Batubara dalam susunan runtunan lapisan umumnya terlipat menjadi


beberapa jenis lipatan. Seperti halnya sesar, pada lipatan akan membentuk rekahan
atau cleat. Bidang cleat sering diisi oleh unsur mineral atau karbonat, lempung,
jenis sulfida, atau sulfat dapat secara umum nampak pada permukaan batubara
yang mengelupas yang dapat mengurangi kualitas batubara karena meningkatnya
kadar abu.

c. Kekar
Kekar apabila mengenai lapisan batubara terutama pada kekar bukaan atau
gash fracture akan diisi oleh unsur mineral atau karbonat, lempung, jenis sulfida
yang dapat meningkatkan kadar abu pada lapisan batubara sehingga berdampak
pada menurunnya kualitas dan harga jual batubara.
4. Intrusi
Penambahan temperatur menghasilkan peninggian DOM sekitar intrusi
(contoh kasus batubara Gondwana di Afrika Selatan, dimana batubara sekitar
intrusi cendrung teraltrasi membentuk anthracite).

Nama : NIZAR DWI PRABAWA


NIM : 111.140.025
Kelas :B 7
Geologi Batubara 2016

C. Geometri Batubara

Lapisan batubara umumnya dicirikan mempunyai koefisien variasi rendah


dengan geometri dan distribusi kadar sederhana, unsur-unsur utamanya mudah
dievaluasi, sedangkan unsur-unsur minor sulit dievaluasi, dilusi internal dan dilusi
tepi seringkali menimbulkan masalah.

Tetapi kenyataan di lapangan, selain ditemukan sebagai lapisan yang


melampar luas dengan ketebalan menerus dan dalam urutan yang teratur, juga
dijumpai lapisan batubara yang tersebar tidak teratur, tidak menerus, menebal,
menipis, terpisah dan melengkung dengan geometri yang bervariasi. Maka
geometri menjadi perlu dipelajari dan dipahami secara baik karena merupakan
salah satu aspek penting di dalam usaha mengembangkan industri pertambangan
batubara.

Adapun parameter geometri lapisan batubara harus dikatikan dengan


kondisi penambangannya, karena hasil pemetaan mengenai geometri lapisan
batubara akan menjadi dasar untuk tahap berikutnya, yaitu tahap penambangan.
Pembagian parameter geometri lapisan batubara, meliputi :

a. Ketebalan lapisan batubara : (a) sangat tipis, apabila tebalnya < 0,5 m, (b)
tipis 0,5 1,5 m, (c) sedang 1,5 3,5 m, (d) tebal 3,5 25 m dan (e)
sangat tebal apabila > 25m

Nama : NIZAR DWI PRABAWA


NIM : 111.140.025
Kelas :B 8
Geologi Batubara 2016

b. Kemiringan lapisan batubara : (a) lapisan horisontal (b) lapisan landai, bila
kemiringannya kurang dari 25o (c) lapisan miring, kemiringannya berkisar
25o 45o (d) lapisan miring curam, kemiringannya berkisar 45 o 75o dan
(e) vertikal
c. Pola kedudukan lapisan batubara atau sebarannya : (a) teratur dan (b) tidak
teratur
d. Kemenerusan lapisan batubara : (a) ratusan meter (b) ribuan meter 5-10
km dan menerus sampai lebih dari 200 km

Selanjutnya agar geometri lapisan batubara menjadi berarti dan menunjang


untuk perhitungan cadangan, bahkan sampai pada tahap perencanaan tambang,
penambangan, pencucian, pengangkutan, penumpukan, maupun pemasaran,
parameternya adalah :

Ketebalan. Ketebalan lapisan batubara adalah unsur penting yang langsung


berhubungan dengan perhitungan cadangan, perencanaan produksi, sistem
penambangan dan umur tambang. Oleh karena itu perlu diketahui
faktor pengendal terjadinya kecenderungan arah perubahan
ketebalan, penipisan, pembajuan, splitting, dan kapan terjadinya.
Apakah terjadi selama proses pengendapan, antara lain akibat
perubahan kecepatan akumulasi batubara, perbedaan morfologi
dasar cekungan, hadirnya channel, sesar dan proses karst atau terjadi
setelah pengendapan, antara lain karena sesar atau erosi permukaan.
Kemiringan. Besarnya kemiringan lapisan batubara berpengaruh terhadap
perhitungan cadangan ekonomis, dan sistem penambangan. Besarnya
kemiringan harus berdasarkan hasil pengukuran dengan akurasi tinggi.
Dianjurkan pengukuruan lapisan batubara menggunakan kompas dengan
metode dip direction sekaligus harus mempertimbangkan kedudukan
lapisan batuan yang mengapitnya.
Pola sebaran lapisan batubara. Pola sebaran lapisan batubara akan
berpengaruh pada penentuan batas perhitungan cadangan dan pembagian
blok penambangan. Oleh karena itu, faktor pengendalinya harus
diketahui, apakah dikendalikan oleh struktur tertentu dengan
pensesaran yang kuat.

Nama : NIZAR DWI PRABAWA


NIM : 111.140.025
Kelas :B 9
Geologi Batubara 2016

Kemenerusan lapisan batubara. Selain jarak kemenerusan, maka faktor


pengendalinya juga perlu diketahui, yaitu apakah kemenerusannya
dibatasi oleh proses pengendapan, split, sesar, intrusi atau erosi.
Keteraturan lapisan batubara. Keteraturan lapisan batubara ditentukan oleh
pola kedudukan lapisan batubara (jurus dan kemiringan)
Bentuk lapisan batubara. Merupakan perbandingan antara tebal lapisan
batubara dan kemenerusannya, apakah melembar, membaji, melensa atau
bongkah. Bentuk melembar merupakan bentuk yang umum dijumpai, oleh
karena itu selain bentuk melembar, maka perlu dijelaskan faktor-faktor
pengendalinya.
Roof dan Floor. Kondisi roof dan floor, meliputi jenis batuannya,
kekerasan, jenis kontak, kandungan karbonnya, bahkan sampai tingkat
keretakannya dalam kondisi kering ataupun basah. Kontak batubara
dengan roof merupakan fungsi dari proses pengendapannya. Pada kontak
yang tegas menunjukkan pros yang tiba-tiba, sebaliknya pada proses yang
berlangsung lambat diperlihatkan oleh kontak yang berangsur kandungan
karbonnya. Roof banyak mengandung fosil sehingga baik untuk korelasi.
Cleat. Cleat adalah kekar di dalam lapisan batubara, khusunya pada
batubara bituminous yang ditunjukkan oleh serangkaian kekar yang
sejajar, umumnya mempunyai orientasi yang berbeda dengan kedudukan
lapisan batubara. Adanya cleat dapat disebabkan oleh beberapa faktor,
yaitu : mekanisme pengendapan, petrografi batubara, derajat
batubara, tektonik (struktur geologi) dan aktivitas penambangan.

Cleat (Larry Thomas dalam Coal Geology)

Pelapukan. Tingkat pelapukan batubara penting ditentukan karena


berhubungan dengan dimensi lapisan batubara, kualitas, perhitungan

Nama : NIZAR DWI PRABAWA


NIM : 111.140.025
Kelas :B 10
Geologi Batubara 2016

cadangan dan penambangannya. Oleh karena itu karakteristik pelapukan


dan batas pelapukan harus ditentukan. Pada batubara lapuk selain harus
ditentukan batasnya dengan batubara segar, juga berpengaruh pada
pengukuran tebalnya. Kondisi ini umumnya dijumpai pada batubara
dengan kandungan abu dan moisture tinggi.

D. Kualitas Batubara

kualitas batubara ditentukan dari derajat batubara itu sendiri (Murchinson, 1968
dalam Oliver & Boyd, 1968), sedang Orheim (1979) memberikan penjelasan
bahwa kriteria untuk menilai kualitas batubara sangat tergantung dari kebutuhan
konsumen terhadap fungsi atau kegunaan dari batubara yang dimaksud.

Penentuan kualitas batubara di lapangan dapat dilihat di lapangan maupun analisa


di laboratorium.

1. Di Lapangan

Penentuan kualitas batubara di lapangan dapat dilakukan dengan melihat kondisi


fisik dari batubara, dengan memperhatikan beberapa parameter, yaitu :

- Warna. Warna batubara bervariasi dari coklat hingga hitam legam. Warna
batubara yang hitam mengkilap penyusunnya terdirai dari vitrain (kaya
akan maseral vitrinite yang berasal dari kayu dan serat kayu) berupa
bituminous-antracite (high rank) dan clarain (kaya akan maserak vitrinite
dan lipnite berasal dari spora, kutikula, serbuk sari dan getah) berupa lignit
(low rank).
- Kilap. Kilap batubara yang kusam umumnya berderajat rendah (low rank),
batubara berderajat tinggi (high rank) umumnya mengkilap.
- Gores. Warna yang timbul pada batubara saat digores, merupakan warna
sebenarnya dari batubara. Lignit mempunyai gores coklat, sedang
bituminous goresnya hitam sampai hitam kecoklatan.
- Kekerasan. Berhubungan dengan struktur batubara, yaitu komposisi dan
jenisnya. Batubara kusam dan berkualitas rendah umumnya keras,
sedangkan batubara cerah dan berkualitas baik umumnya mudah pecah
- Cleat. Merupakan rekahan di dalam lapisan batubara khususnya batubara
bituminous yang umumnya paralel dan tegak lurus terhadap lapisan
Nama : NIZAR DWI PRABAWA
NIM : 111.140.025
Kelas :B 11
Geologi Batubara 2016

batubaranya. Cleat sering terisi material klastik yang menyebabkan


meningkatnya kandungan mineral matter, volatile matter, dan abu
sehingga nilai kalorinya rendah.
- Damar. Merupakan hasil dari metabolisme tumbuhan, damar dalam
batubara tidak hanya berasal dari tumbuhan, tetapi juga berasal dari
pengeluaran minyak pada kelopak daun.
- Parting, berupa batupasir, batulanau, batulempung pada lapisan batubara,
tebalnya bervariasi mulai dari beberapa milimeter sampai beberapa
centimeter
- Plant remaining, merupakan sisa tumbuhan yang terdapat pada lapisan
roof danfloor batubara.
- Roof dan floor, floor umumnya berupa seatearth sedangkan roof
litologinya lebih bervariasi daripa floor. Batas batubara dengan roof
adalah tegas atau berangsur yang merupakan fungsi dari proses
pengendapannya. Pada batas yang tegas, apabila penutupan atau
pengendapan berlangsung secara tiba-tiba. Pada kontak yang
berangsur, bila pengendapannya berlangsung secara lambat.

DAFTAR PUSTAKA

Rita, 2006, Skripsi Geologi dan Kualitas Batubara Seam C Berdasarkan Analisis
Abu, Kelembaban, Sulfur dan Nilai Kalori Daerah Blok Gabus Kecamatan
Bengalon Kabupaten Kutai Timur Kalimantan Timur, Yogyakarta : UPN
Veteran Yogyakarta

Kuncoro Bambang,1996, Perencanaan Eksplorasi Batubara, Bandung : Institut


Teknologi Bandung

Thomas, L.2002.Coal Geology. Inggris: John Wiley & Sons Ltd.

Ward, C.R., 1984, Coal Geology and Coal Technology, Singapore : Blackwell Inc.

Nama : NIZAR DWI PRABAWA


NIM : 111.140.025
Kelas :B 12