Anda di halaman 1dari 10

.

1 Latar Belakang

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung.
Perkembangbiakan eceng gondok sangat tinggi dan cepat sehingga tumbuhan ini
dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok
dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya. Perkembangan
tumbuhan air enceng gondok di perairan sangat pesat. Sekilas tanaman enceng gondok
tidak berguna. Bagi masyarakat di sekitar pinggiran sungai, enceng gondok adalah
tanaman parasit yang hanya mengotori sungai dan dapat menyebabkan sungai menjadi
tersumbat atau meluap karena enceng gondok terlalu banyak. Bagi masyarakat yang
tinggal di pinggiran danau, eceng gondok hanya dianggap sebagai tanaman pengganggu
yang menghalangi transportasi di danau tersebut dan menyebabkan danau menjadi
kotor.
Kenyataan tersebut menyebabkan eceng gondok dianggap sebagai tanaman penggangu,
tetapi bila kita jeli mencari peluang, tanaman eceng gondok akan sangat bermanfaat
dan dapat memberikan peluang usaha sebagai bahan dasar kerajinan (handy craft).
Seiring dengan perkembangan iptek, bagian tumbuhan eceng gondok setelah
dikeringkan ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tas wanita yang
cantik, kopor, sandal, keranjang (tempat pakaian bekas), tatakan gelas, tikar, nampan
dan sebagainya. Akhir-akhir tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung
industri mebel den furniture, sebagai pengganti rotan yang harganya sangat mahal.
Banyak daerah yang sudah memanfaatkan eceng gondok sebagai barang-barang
kerajinan, mebel den furniture. Antara lain di Purbalingga, Dl Yogyakarta, sekitar Kota
Solo, Cirebon, Lampung, Surabaya dan Bali. Bahkan sebagian barang-barang kerajinan
eceng gondok dengan model dan kualitas tertentu, banyak diekspor ke Eropa dan
Amerika Serikat yang semakin gandrung dengan barang-barang produksi dari bahan-
bahan alami (back to nature).
Pembuatan handy craft dari bahan eceng gondok ini dibutuhkan proses yang cukup
lama. Eceng gondok terlebih dahulu harus dikeringkan sekitar dua minggu. Setelah
eceng gondok mengering lalu dibentuk kepangan panjang yang dilakukan warga dan
kelompok perajin. Setelah berbentuk kepangan panjang, eceng-eceng tersebut dianyam
menjadi barang yang diinginkan. Untuk lebih meningkatkan daya tarik pembeli, hasil
anyaman tersebut ditambahakan cat pernis. Sehingga, tampilannya lebih mengkilap dan
menarik. Keuntungan dari penjualan eceng gondok ini cukup tinggi sehingga usaha ini
akan sangat menjanjikan untuk kedepannya. Dalam makalah ini, kami akan berusaha
untuk memanfaatkan tanaman eceng gondok agar dapat bernilai ekonomis sehingga
eceng gondok tidal lagi menjadi tanaman merugikan bagi masyarakat.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini yaitu untuk memberikan informasi kepada kita
bahwa enceng gondok yang dianggap sebagai pengganggu itu dapat dimanfaatkan dan
diolah menjadi bahan baku kerajinan tangan yang nantinya akan bernilai ekonomis
tinggi.

II. ECENG GONDOK


2.1 Aspek Biologi Dan Lingkungan
Menurut Sastroutomo (1990) dalam Fahmi (2009) Eceng gondok merupakan
tumbuhan air yang berasal dari brazil. Tumbuhan ini menyebar keseluruh dunia dan
tumbuh pada daerah dengan ketinggian berkisar antara 0-1.600 m diatas permukaan
laut yang beriklim dingin. Penyebaran tumbuhan ini dapat melalui kanal, sungai dan
rawa serta perairan tawar lain dengan aliran lambat. Klasifikasi eceng gondok menurut
Rizk dan Pav (1991) dalam Fahmi (2009) sebagai berikut :
Kingdom : Embryophytasi phonogama
Filum : magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Liliales
Famili : Pontederiaceae
Genus : Eichornia
Spesies : E. crassipes
Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang kadang berakar dalam tanah. Eceng
gondok memiliki tinggi sekitar 0,4-0,8 m dan tidak mempunyai batang. Daun eceng
gondoktunggal dan berbentuk oval, ujung dan pangkalnya meruncing , pangkal dan
tangkai menggembung, permukaan daunya licin dan berwarna hijau. Bunga eceng
gondok termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir kelopaknya berbentuk tabung. Biji
eceng gondok berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan
berwarna hijau serta akarnya merupakan akar serabut (Sutikno 1997 dalam Fahmi
2009).

ECENG GONDOK (Eichornia crassipes)

Gambar 1. Eceng gondok Eichhornia crassipes


Sumber: Anonim1 2010
Eceng gondok diketahui mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan sangat
baik sehingga dapat tumbuh dengan cepat pada keadaan kurang subur serta dapat
memanfaatkan pula kesuburan yang tinggi. Disamping itu eceng gondok memiliki masa
yang besar, tumbuh mengapung diatas permukaan air sehingga mudah dipanen
dibandingkan tanaman air lainya. Eceng gondok merupakan tanaman pengganggu yang
sulit diberantas. Tumbuhan ini hampir hidup di semua perairan daerah tropis maupun
subtropis, selama ini banyak kerugian yang dapat disebabkan eceng gondok, antara lain
mengangu irigasi dan pembangkit listrik tenaga air serta bidang perikanan (Sutikno
1997 dalam Fahmi 2009) .
Eceng gondok memiliki kemampuan tinggi dalam menetralkan senyawa-senyawa toksi
dalam perairan diantaranya seyawa fenol sebesar 160 kg/ha selama 72 jam, fosfat 157
kg/ha, nitrat 693 kg/ha dan ammonium sebanyak 50 mg/liter selama kurang lebih 15
hari. Selain itu, akar tanaman ini menghasilkan zat alleopathy yang mengandung zat
antibiotoka dan juga mampu membunuh bakteri coli. Eceng gondok mempunyai
kemampuan menyerap logam berat. Kemampuan ini telah diteliti di laboratorium
Biokimia, Institut Pertanian Bogor, dengan hasil yang sangat luar biasa yaitu
menetralkan pencemaran, tanaman ini juga mampu menjernihkan/menurunkan
kekeruhan suatu perairan hingga 120 mg/liter silika selama 48 jam sehingga cahaya
matahari dapat menembus perairan dan dapat meningkatkan produktivitas perairan
melalui proses fotosintesis bagi tanaman air lainnya. Selain dapat menyerap logam
berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida, contohnya
residu 2.4-D dan paraquat.
Akar dari tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes) mempunyai sifat biologis
sebai penyaring air yang tercemar oleh berbagai bahan kimia buatan industri (Little
(1968) dan Lawrence dalam Moenandir (1990), Haider (1991) serta Sukman dan Yakup
(1991) dalam Fahmi 2009). Tumbuhan ini mempunyai daya regenerasi yang cepat
karena potongan-potongan vegetatifnya yang terbawa arus akan terus berkembang
menjadi eceng gondok dewasa. Eceng gondok sangat peka terhadap keadaan yang unsur
haranya didalam air kurang mencukupi, tetapi responnya terhadap kadar unsur hara
yang tinggi juga besar. Proses regenerasi yang cepat dan toleransinya terhadap
lingkungan yang cukup besar, menyebabkan eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai
pengendali pencemaran lingkungan. (Soerjani, 1975 dalam Fahmi 2009). Sel-sel akar
tanaman umumnya mengandung ion dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari pada
medium sekitarnya yang biasanya bermuatan negatif. Penyerapan ini melibatkan
energi, sebagai konsekuensi dan keberadaannya, kation memperlihatkan adanya
kemampuan masuk ke dalam sel secara pasif ke dalam gradient elektrokimia,
sedangkan anion harus diangkut secara aktif kedalam sel akar tanaman sesuai dengan
keadaan gradient konsentrasi melawan gradient elektrokimia (Foth 1991 dalam Fahmi
2009). Di dalam akar, tanaman biasa melakukan perubahan pH kemudian membentuk
suatu zat khelat yang disebut fitosiderofor. Zat inilah yang kemudian mengikat logam
kemudian dibawa kedalam sel akar. Agar penyerapan logam meningkat, maka
tumbuhan ini membentuk molekul rediktase di membran akar. Sedangkan model
tranportasi didalam tubuh tumbuhan adalah logam yang dibawa masuk ke sel akar
kemudian ke jaringan pengangkut yaitu xylem dan floem, kebagian tumbuhan lain.
Sedangkan lokalisasi logam pada jaringan bertujuan untuk mencegah keracunan logam
terhadap sel, maka tanaman akan melakukan detoksofikasi, misalyna menimbun logam
kedalam organ tertentu seperti akar.
Menurut Fitter dan Hay (1991) dalam Fahmi 2009, terdapat dua cara penyerapan ion ke
dalam akar tanaman :
1. Aliran massa, ion dalam air bergerak menuju akar gradient potensial yang disebabkan
oleh transpirasi.
2. Difusi, gradient konsentrasi dihasilkan oleh pengambilan ion pada permukaan akar.
Dalam pengambilan ada dua hal penting, yaitu pertama , energi metabolik yang
diperlukan dalam penyerapan unsur hara sehingga apabila respirasi akan dibatasi maka
pengambilan unsur hara sebenarnya sedikit. Dan kedua, proses pengambilan bersifat
selektif, tanaman mempunyai kemampuan menyeleksi penyerapan ion tertentu pada
kondisi lingkungan yang luas. (Foth, 1991 dalam Fahmi 2009).
Disamping memiliki banyak manfaat, enceng gondok juga dapat merugikan bagi
perairan. Eceng gondok ( Eihornia crassipes) merupakan tanaman gulma di wilayah
perairan yang hidup terapung pada air yang dalam atau mengembangkan perakaranya
di dalam lumpur pada air yang dangkal. Eceng gondok berkembang biak dengan sangat
cepat, baik secara vegetatif maupun generatif. Perkembangbiakan dengan cara vegetatif
dapat melipat ganda dua kali dalam waktu 7-10 hari (Pasaribu dan Sahwalita 2006
dalam Fahmi 2009). Eceng gondok dapat tumbuh sangat cepat pada danau maupun
waduk sehingga dalam waktu yang singkat dapat mengurangi oksigen perairan,
mengurangi fitoplankton dan zooplankton serta menyerap air sehingga terjadi proses
pendangkalan, bahkan dapat menghambat kapal yang berlayar pada waduk.
Meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun
tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat.
Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan
menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens). Tumbuhan
eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat
terjadinya proses pendangkalan. Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya
bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman
Kalimantan dan beberapa daerah lainnya. Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit
pada manusia dan menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.
Untuk mengeliminasi gangguan eceng gondok, misalnya, caranya bisa dengan
membatasi populasinya. Pembatasan dapat dilakukan dengan membatasi penutupan
permukaan waduk oleh eceng gondok tidak lebih dari 50 persen permukaannya. Akan
jauh lebih baik lagi bila pembatasan populasi ini dilakukan dengan melibatkan
masyarakat sekitar. Sebab, dahan eceng gondok adalah serat selulosa yang dapat diolah
untuk berbagai keperluan, seperti barang kerajinan maupun bahan bakar pembangkit
tenaga listrik. Namun, masyarakat tidak disarankan untuk memberikan eceng gondok
sebagai pakan pada ternak karena polutan yang diserapnya bisa terakumulasi dalam
dagingnya.

2.2 Aspek Tata Produksi


Pada aspek tata produksi pada eceng gondok ini kita memanfaatkan sumberdaya alam
yang ada sebagai bahan baku yang cukup melimpah ketersediaanya. Karena eceng
gondok sendiri dapat tumbuh dengan cepat sehingga ketersediaanya sebagai bahan
baku

Gambar 2. Diagram alir ( flow chart) tata produksi.


Gambar 3. Proses pembuatan briket (Wahyuni 2008)

2.3 Aspek Pemasaran


Aspek segmen pada pemasaran produk hasil eceng gondok ini dapat dipasarkan ke
semua segmen dan seluruh kalangan dengan pembagian produk yang berbeda-beda
sesuai kebutuhan dan kegunaan masing-masing. Produk hasil pengolahan eceng gondok
sebagai kerajinan tangan dapat dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat.

III. PEMANFAATAN ECENG GONDOK

3.1. Bahan Utama (Batang dan Daun)


Eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas karena mengandung
serat/selulosa (Joedodibroto, 1983 dalam Fahmi 2009). Pulp eceng gondok yang
dihasilkan berwarna coklat namun dapat diputihkan dengan proses pemutihan
(bleaching). Pulp juga dapat menyerap zat pewarna yang diberikan dengan cukup baik,
sehingga berbagai variasi warna kertas dapat dihasilkan melalui proses ini bagian
tumbuhan eceng gondok setelah dikeringkan ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan
baku pembuatan tas wanita yang cantik, kopor, sendal, keranjang (tempat pakaian
bekas), tatakan gelas, tikar, nampan dan sebagainya. Malah belakangan ini banyak
dimanfaatkan untuk mendukung industri mebel den furniture, sebagai pengganti rotan
yang harganya semakin melangit. Hingga saat ini sudah banyak daerah yang mampu
mengembangkan eceng gondok untuk pembuatan barang-barang kerajinan, mebel den
furniture. Antara lain di Purbalingga, Dl Yogyakarta, sekitar Kota Solo, Cirebon,
Lampung, Surabaya dan Bali. Bahkan sebagian barang-barang kerajinan eceng gondok
dengan model dan kualitas tertentu, banyak diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat
yang semakin gandrung dengan barang-barang produksi dari bahan-bahan alami (back
to nature).
Pembuatan handy craft dari bahan eceng gondok ini dibutuhkan proses yang cukup
lama. Eceng gondok terlebih dahulu harus dikeringkan sekitar dua minggu. Setelah
eceng gondok mengering lalu dibentuk kepangan panjang yang dilakukan warga dan
kelompok perajin. Setelah berbentuk kepangan panjang, eceng-eceng tersebut dianyam
menjadi barang yang diinginkan. Mulai dari pot bunga, tempat sampah, box tissue, tas,
topi, perlengakapan dapur hingga furniture. Untuk lebih meningkatkan daya tarik
pembeli, hasil anyaman tersebut ditambahakan cat pernis. Sehingga, tampilannya lebih
mengkilap dan menarik.
Rata-rata kerajinan ini dijual di pasaran dengan harga mulai dari Rp 15 ribu hingga 5
juta. Tergantung dari ukuran barang dan tingkat kesulitan anyaman.

Berikut adalah langkah-langkah dalam pembuatan karya kerajinan tangan dengan


bahan eceng gondok :
Pengumpulan eceng gondok
Pemisahan pangkal tangkai
Pengeringan pangkal tangkai
Penguliran
Pembentukan/penganyaman jadi karya seni (Tas, hiasan dinding, dompet, kursi dll)
skema tata produksi fauzi (2010)

Gambar 4. Kerajinan tangan berbahan dasar eceng gondok


Sumber : Anonim 2010

3.2 Pemanfaatan Limbah


Limbah atau sisa dari pohon eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang sudah tidak
terpakai, jika diolah dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk. Eceng gondok atau
Eichonia crassipes, tanaman hias asal Brazil yang kini sudah menjadi tanaman gulma
itu ternyata dapat diolah menjadi pupuk organik. Sisa-sisa penggunaan pupuk kimia
oleh para petani di areal persawahan dan perkebunanyang kemudian hanyut ke sungai
dan ke danau, menjadikan pertumbuhan dan penyebaran eceng gondok sangat cepat,
sehingga sulit ditangani.
Penelitian menunjukan bahwa tanaman eceng gondok banyak mengandung asam
humat. Senyawa itu menghasilkan fitohormon yang mampu mempercepat
pertumbuhan akar tanaman. Selain itu eceng gondok juga mengandung asam sianida,
triterpenoid, alkaloid dan kaya kalsium.
Secara sederhana, pembuatan pupuk organik berbahan eceng gondok adalah sebagai
berikut :
Eceng gondok dicincang atau digiling halus
Dicampur dengan dedak sebanyak 10%
Diberi campuran bakteri acetobacter untuk mempercepat dekomposisi. Bakteri
acetobacter dicampur dengan molases dengan perbandingan 1:1 selama seminggu.
Master bakteri itu siap digunakan setelah berbentuk kapang.
Campuran bahan tersebut disimpan tertutup selama +/- 4 hari. Bisa dalam bak atau
wadah tertutup beralaskan plastik dan ditutup karung goni.
Kemudian akan terjadi peningkatan suhu campuran bahan tersebut menjadi +/- 50o
celcius.
Dan kemudian proses pembuatan pupuk selesai jika suhu telah turun menjadi +/- 30o
celcius.
pembuatan pupuk eceng gondok (Anonim, 2010)

Gambar 6. Sisa hasil produksi eceng gondok yang dimanfaatkan sebagai pupuk

Sumber : Anonim3 2010

Sisa hasil produksi eceng gondok juga dapat dimanfaatkan sebagai biogas dan bahan
bakar. Prosesnya cukup mudah dan hanya mengandalkan proses fermentasi. Alat dan
cara pembuatannya pun bisa dipraktikkan sendiri baik dalam skala rumah tangga. Pada
dasarnya, rangkaian kerja alat ini terdiri dari tiga macam, yaitu alat fermentasi sebagai
tempat gas diproses dan dihasilkan, penampung gas, dan kompor gas.
Untuk membuat alat fermentasi, sediakan 2 drum isi 200 liter, 1 meter pipa galpanis 3
inci, 5 meter selang karet/plastik, 3 stop keran setengah inci, 50 meter pipa setengah
inci, 6 kleman selang setengah inci, dan gunakan jasa las drum. Sementara untuk alat
penampung gas, bisa menggunakan plastik polyethelin yang tebalnya minimal 0,6
milimeter, berdiameter 60 sentimeter (cm), dan tingginya 1,5-2 meter. Plastik ini biasa
digunakan sebagai tempat ikan. Jika khawatir dapat terjangkau oleh anak-anak,
pembaca juga bisa memanfaatkan drum 100 liter. Selain plastik, yang harus disediakan
adalah PVC 3 inci, 4 kenie setengah inci, drat luar dalam, 2 isolatif besar, 4 baut, karet
ban dalam, 1 T setengah inci, selang plastik saluran gas, PVC tiga perempat inci 2 liter, 3
stop keran setengah inci, 2 lem paralon, lem aibon, dan 2 plat acritik 150 cm persegi.
Untuk kompor bila tidak mempunyai tipe kompor semawar seperti yang biasa
digunakan penjual nasi goreng, pembaca bisa membuatnya sendidapat dibuat dan
dikreasikan sendiri. Caranya, manfaatkan pipa yang ditutup pada bagian atas dan
bawah. Pada tutup atas, bor beberapa titik sebagai tempat keluar gas. Sementara kurang
lebih pada seperempat dari panjang pipa, dekat dengan tutup bawah pasang selang yang
akan dihubungkan dengan alat penampung gas tadi.

Gambar 7. Eceng gondok sebagai bahan baku biogas


Sumber : Anonim1 2010

IV. KELUARAN ECENG GONDOK


4.1 Hambatan terhadap lingkungan
Eceng gondok masuk ke Indonesia dari Brazilia. Tumbuhan ini mempunyai tinggi 0,3-
0,5 m, terapung jika tumbuh di perairan dalam, sedangkan di perairan dangkal akarnya
tumbuh di permukaan tanah. Eceng gondok memperbanyak diri secara vegetatif,
membentuk kelompok mengapung di atas air. Perkembangannya sangat cepat dan
rakus minum air. Eceng gondok mampu menyusutkan air waduk Saguling antara 3
sampai 4 kali lebih cepat dibanding jika tidak ada eceng gondoknya. Dari sifat inilah
eceng gondok cepat menutupi daerah-daerah perairan air tawar, dan menjadi gulma
yang sangat sulit dimusnahkan, menutupi seluruh permukaan air sehingga sinar
matahari tidak bisa masuk ke dalam air, dan juga menyumbat saluran-saluran air.
Perkembangbiakannya yang demikian cepat menyebabkan tanaman eceng gondok telah
berubah menjadi tanaman gulma di beberapa wilayah perairan di Indonesia. Di
kawasan perairan danau, eceng gondok tumbuh pada bibir-bibir pantai sampai sejauh
5-20 m. Perkembangbiakan ini juga dipicu oleh peningkatan kesuburan di wilayah
perairan danau (eutrofikasi), sebagai akibat dari erosi dan sedimentasi lahan, berbagai
aktivitas masyarakat (mandi, cuci, kakus/MCK), budidaya perikanan (keramba jaring
apung), limbah transportasi air, dan limbah pertanian.

BLOOMING eceng gondok mengganggu respirasi organisme perairan ( ikan)

Gambar 8. Eceng gondok yang populasinya meningkat sehingga menutupi perairan


Sumber : Anonim1 2010

Salah satu upaya yang cukup prospektif untuk menanggulangi gulma eceng gondok di
kawasan perairan danau adalah dengan memanfaatkan tanaman eceng gondok untuk
kerajinan kertas seni. Eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas
karena mengandung serat/selulosa (Joedodibroto, 1983). Pulp eceng gondok yang
dihasilkan berwarna coklat namun dapat diputihkan dengan proses pemutihan
(bleaching). Pulp juga dapat menyerap zat pewarna yang diberikan dengan cukup baik,
sehingga berbagai variasi warna kertas dapat dihasilkan melalui proses ini. Kertas seni
yang dihasilkan selanjutnya dapat digunakan untuk pembuatan berbagai barang
kerajinan seperti kartu undangan, figura, tempat tissue dan perhiasan. Pengusahaan
kertas seni seperti halnya di kawasan wisata Danau Singkarak, Sumatera Barat memiliki
beberapa keuntungan. Pertama, upaya tersebut merupakan alternatif yang sangat baik
untuk mengontrol pertumbuhan gulma eceng gondok di kawasan perairan Danau
Singkarak. Pengusahaan ini tentunya akan didukung oleh pemerintah daerah setempat
karena berdampak positif terhadap upaya pelestarian kawasan perairan Danau
Singkarak. Apabila industri kerajinan eceng gondok tersebut berkembang, maka
masyarakat pengrajin akan memanen gulma tersebut dari kawasan perairan danau
sebagai sumber bahan bakunya. Kedua, pengembangan industri kerajinan tersebut juga
akan menyediakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar sehingga akan
meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Terakhir, berkembangnya industri
kerajinan di kawasan wisata Danau Singkarak akan memperkaya khasanah budaya
masyarakat setempat dengan penyediaan berbagai cenderamata yang berdampak positif
terhadap pengembangan sektor wisata di wilayah tersebut.

4.2 Respon Konsumen


Pemanfaaatan eceng gondok dan kertas bekas sebagai kertas seni sudah dilakukan Balai
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera dengan hasil yang cukup
memuaskan. Teknologi pengolahannya sangat sederhana, sehingga sangat mudah
diadopsi oleh masyarakat sekitar danau. Peluang bisnis kertas seni ini cukup potensial
dikembangkan di sekitar Danau Toba sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang
memerlukan berbagai jenis souvenir etnik. Pemanfaatan eceng gondok ini memiliki
fungsi ganda yaitu dalam rangka mengendalikan gulma di perairan dan sebagai bahan
baku souvenir berbahan dasar kertas seni.
Sebenarnya bisnis kertas seni sudah lama digeluti orang-orang yang disebut dengan
produk kertas daur ulang. Bisnis ini sudah mulai dikenal luas dan diminati oleh
masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di perkotaan. Produk ini sudah banyak
ditemui di etalase-etalase toko berupa souvenir cantik dan bernilai seni tinggi. Di
perkotaan bisnis ini banyak dilakukan oleh kaum muda, mahasiswa, dan kelompok
pengrajin lainnya. Bisnis kertas seni berbahan eceng gondok dan kertas bekas ini
sebenarnya suatu inovasi menggabungkan dua kepentingan. Di satu sisi produk
berbahan eceng gondok ini menghasilkan kertas dengan nilai seni yang relatif lebih
indah dan di sisi lain adalah upaya pengendalian gulma eceng gondok di perairan
Danau Toba. Kata kunci dari bisnis ini adalah punya kemauan besar, kreatif, dan ingin
maju. Kerajinan ini sebenarnya merupakan aktivitas sederhana, tapi hasilnya luar biasa
dan bernilai positif. Dengan sedikit sentuhan seni, kegiatan tersebut bias menjadi
sebuah produk karya seni yang laku di pasaran dengan harga tinggi. Produk-produk ini
sudah mulai diusahakan masyarakat dalam skala industri rumah tangga (home
industry) sampai skala menengah. Sebagian besar dari produk kertas daur ulang ini
adalah sebagai barang kerajinan atau cenderamata. Berbagai produk yang biasa
diproduksi dari bahan ini antara lain kartu-kartu ucapan, hiasan dinding, tempat pensil,
amplop, blocknote, figura foto, dan lain sebagainya.
Eceng gondok jika diolah dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk, mulsa, media
semai, pakan ternak, dan pulp/kertas. Di Jawa Tengah dan di Balige sendiri sudah
dikembangkan sebagai bahan baku anyaman. Peluang bisnis ini relative lebih potensial
jika dikembangkan di perkotaan. Merupakan suatu tantangan berbagai stakeholder
untuk mencarikan sasaran target-target pemasarannya (Muladi, 2001 dalam Fahmi
2009).
Dalam rangka mendukung kelestarian danau dan meningkatkan pendapatan
masyarakat sekitarnya, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera telah
melaksanakan kegiatan workshop pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku
kertas seni. Kegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Tobasa
pada tahun 2004. Dari kegiatan ini telah terbentuk kelompokkelompok pengrajin
pemanfaatan eceng gondok di sekitar Danau Toba.

V. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Eceng gondok selain dikenal sebagai tanaman yang merugikan karena dapat
mengakibatkan pendangkalan terhadap perairan, ternyata eceng gondok juga memiliki
berbagai manfaat. Enceng gondok dapat membantu menyerap toksik yang ada di
perairan akibat limbah-limbah buangan. Pertumbuhan eceng gondok di perairan juga
sangat cepat dan terkadang sulit untuk dikendalikan. Untuk mengatasi masalah
tersebut, telah terfikirkan cara untuk memanfaatkan eceng gondok menjadi barang-
barang yang bernilai ekonomis.
Pemanfaatan eceng gondok yang bernilai ekonomis dapat berupa hasil kerajinan tangan
seperti tas, keranjang, dan hiasan-hiasan. Selain itu eceng gondok juga dapat
dimanfaatkan untuk pembuatan kertas. Limbah hasil produksi dari eceng gondok
tersebut masih dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik dan penghasil gas untuk
bahan bakar.
Pemanfaatan eceng gondok tidak akan merugikan, selain dapat membantu menyerap
racun di perairan, dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kerajinan yang nantinya dapat
menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar. Eceng gondok bukan lagi dikenal
sebagai tanaman yang merugikan namun dapat bernilai ekonomis bila pemanfaatannya
tepat guna.

5.2 Saran
Makalah ini sebaiknya disebarluaskan kepada masyarakat sehingga wawasan mereka
menjadi terbuka mengenai eceng gondok dan dapat memanfaatkanya menjadi barang-
barang bernilai ekonomis dan tidak hanya sebagai sampah karena populasinya yang
terus meledak.
Manfaat eceng gondok memang banyak sekali, tetapi butuh penelitian lebih jauh
mengenai kandungan-kandungan penyusun eceng gondok sehingga pemanfaatannya
akan lebih baik dan mungkin saja masih ada manfaat-manfaat lain dari eceng gondok,
misalnya untuk konsumsi, obat-obatan, dan yang lainnya.

https://ahmadfauzibratasena.wordpress.com/2010/06/12/eceng-gondok-eichornia-
crassipes-pemanfaatan-nya-sehingga-ber-nilai-ekonomis/ (( 27 januari 2017 ))