Anda di halaman 1dari 36
-efeis MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KP 190 TAHUN 2016 TENTANG PENGESAHAN DOKUMEN PRA STUDI KELAYAKAN {PRA FS) PEMBANGUNAN PELABUHAN BARU DI PANTAI UTARA JAWA BARAT DAN STUDI KELAYAKAN (FS) PEMBANGUNAN PELABUHAN PATIMBAN DI KABUPATEN SUBANG PROVINSI JAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 31 Tahun 2006 tentang Pedoman Dan Proses Perencanaan Di Lingkungan Departemen Perhubungan, setiap unit kerja dan mitra kerja yang melaksanakan tugas perencane n wajib menggunakan sebagai acuan; bahwa mengacu hasil kajian dan pembahasan dokumen Pra-Studi Kelayakan Pengembangan Pelabuhan Baru di Pantai Utara Jawa Barat diusulkan lokasi Patimban Kabupaten Subang sebagai lokasi pengganti Pelabuhan Cilamaya; bahwa mengacu hasil studi dan pembahasan Studi Kelayakan Pengembangan Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat dinyatakan layak sebagai lokasi pengganti Pelabuhan Cilamaya; Mengingat 1. ny bahwa berdasarkan —_pertimbangan _sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c, serta untuk memberikan pedoman dan proses perencanaan Di lingkungan Kementerian Perhubungan perlu menetapkan Keputusan Menteri Perhubungan tentang Pengesahan Dokumen Pra Studi Kelayakan Pengembangan Pelabuhan Baru di Pantai Utara Jawa Barat dan Dokumen Studi Kelayakan Pengembangan Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat; Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahwn2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4849); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059); Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5070} sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 193, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5731); Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5093); 10. ll. 12, 13. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5108) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5208); Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2010 tentang Perlindungan Lingkungan Maritim (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5109); Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8); Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2015 tentang Kementerian Perhubungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 75); Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 31 Tahun 2006 tentang Pedoman dan Proses Perencanaan di Lingkungan Departemen Perhubungan; Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 68 Tahun 2011 tentang Alur Pelayaran di Laut (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 380); Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM Nomor 74 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 52 Tahun 2011 tentang Pengerukan dan Reklamasi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1880); Peraturan Menteri Perhubungan PM Nomor KM 51 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 311); Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 189 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1844); Menetapkan : PERTAMA KEDUA KETIGA KEEMPAT 14. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 414 Tahun 2013 tentang Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Nasional sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 725 Tahun 2014. MEMUTUSKAN : KEPUTUSAN MENTERI =PERHUBUNGAN — TENTANG PENGESAHAN DOKUMEN KAJIAN PRA STUDI KELAYAKAN {PRA FS) PEMBANGUNAN PELABUHAN BARU DI PANTAL UTARA JAWA BARAT DAN STUDI KELAYAKAN (FS) PEMBANGUNAN PELABUHAN PATIMBAN DI KABUPATEN SUBANG PROVINSI JAWA BARAT Mengesahkan Dokumen Pra Studi Kelayakan (Pra FS) Pengembangan Pelabuhan Baru di Pantai Utara Jawa Barat sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Keputusan ini. Dokumen Pra Studi Kelayakan dimaksud pada Diktum PERTAMA merupakan, preliminary appraisal/ site reconnaissance dari kawasan Pantai Utara Provinsi Jawa Barat terhadap potensi permintaan jasa pelabuhan guna mengetahui secara indikatif kelayakan dilakukannya kajian lebihlanjut (studi kelayakan) dengan masa berlaku penggunaan paling lama 5 (lima) tahun. Mengesahkan Dokumen Studi Kelayakan (FS) Pengembangan Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat sebagaimana tercantum dalam Lampiran ll Keputusan ini. Dokumen Studi Kelayakan (FS) dimaksud pada Diktum KETIGA merupakan appraisal/study guna _mengetahui kelayakan lokasi Patimban Kabupaten Subang untuk dibangun sebagai Pelabuhan Utama pengganti Pelabuhan Cilamaya dengan masa berlaku penggunaan maksimum 5 (lima) tahun. KELIMA —: _ Direktur Jenderal Perhubungan Laut melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Keputusan Menteri ini. KEENAM : Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 Maret 2016 MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd IGNASIUS JONAN Selinan Keputusan Menteri ini disampaikan kepada: 1. ONanaon 10. rT 12, 13, Gubernur Jawa Barat; Bupati Subang; Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan; Direktur Jenderal Perhubungan Laut; Kepala Biro Perencanaan Kementerian Perhubungan; Kepala Biro Hukum Kementerian Perhubungan; Kepala Biro Keuangan dan Perlengkapan Kement jan Perhubungan; Kepala Pusat Kajian Kemitraan dan Pelayanan Jasa Transportasi Kementerian Perhubungan; Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut; Direktur Pelabuhan dan Pengerukan; Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok; Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Pamanukan; Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Indramayu. Salinan sesuai dengan aslinya Pere SRLLESTARI RAHAYU Pembina Utama Muda (IV/c) NIP. 19620620 198903 2 001 LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KP 190 TAHUN 2016 TANGGAL — : 28 Maret 2016 GB KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT Pre-Feasibility Study Pengembangan Pelabuhan Baru di Pantai Utara Jawa Barat 2 Pekerjaan Pra-Studi Kelayakan Pengembangan Pelabuhan Baru di Pantai Utara Jawa Barat ini mempunyai maksud untuk menindaklanjuti arahan Wakil Presiden dalam rapat pembahasan Pelabuhan Cilamaya tanggal 2 April 2015 di Karawang. Pelaksanaan studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi pelabuhan baru di Pantai Utara Jawa Barat. Ada 6 lokasi pelabuhan yang dicalonkan sebagai pengganti Pelabuhan Cilamaya, yaitu Tarumanegara (Bekasi), Pusakajaya (Karawang), Patimban (Subang), Eretan (Indramayu), Balongan (Indramayu) dan Cirebon. Hasil studi Pra-FS ini akan menghasilkan satu pelabuhan yang terpilih sebagai pengganti Pelabuhan Cilamaya. Ada ¢ aspekx yang menjadi parameter penilaian, yaitu aspek hukum dan kelembagaan, aspek transportasi, aspek teknis dan aspek keselamatan pelayaran. Pada analisis aspek transportasi, dilakukan dua analisis demand (sama seperti metode JICA pada studi Cilamaya). Analisis demand tahap pertama adalah tahapan untuk memprediksi demand dari Pelabuhan Tanjung Priok. Analisis demand Tg. Analisis demand tahap kedua adalah tahapan untuk memprediksi besar demand yang ditangkap oleh pelabuhan rencana dengan menggunakan parameter probabilitas peralihan. Faktor-faktor yang menentukan nilai probabilitas peralihan adalah waktu tempuh dan biaya perjalanan antara pusat industri dengan pelabuhan rencana. Metode yang dilakukan untuk menentukan nilai probabilitas peralihan adalah stated preference, moving car observer dan traffic counting. Pada Gambar 1 disajikan hasil peralihan demand yang terjadi untuk tiap rencana lokasi pengganti Pelabuhan Cilamaya. Tarumanegara, Bekasi = Karawang Pusakajaya, Terletak di daerah muara gembok, lokasi ini menjadi salah satu lokasi yang ditinjsu pada studi JICA (greater Jakarta Masterplan. Status Ighan edalah lahan permukiman ‘Sebagal Lokaci yang sangat berdekatan dengan Lokasi Cilamaya, perubahan status pada RIPN ‘akan lebih mudah untuk lokas! ini. Karena. pelabuhan Cilamaya sudah ditetapkan sebagai pelabuhan Utama. Nemun tetap periu Memasukken dalam perubahan Tata rang, Patimban, Subang Karena pada Iokasi exisiting sudah terdapat pelabuhan saat ini ne dalam proses konstruksi trestle, maka perubahan status pada RIPN [= akan lebih mudah untuk lokasi ini Gambar 3 Potensi Peralihan Demand Tanjung Priok (Sumber: Analisis Kansuttan, 205) Pada analisis aspek teknis, yang akan ditinjau adalah besarnya biaya pengerukan dan reklamasi untuk tiap rencana lokasi pengganti Pelabuhan Cilamaya. Untuk target kapal maksimum yang dapat masuk ke pelabuhan rencana adalah kapal Maersk B Class yang memiliki spesifikasi seperti ditampilkan pada Tabel 1. Tabel 1 Spesifikasi Kapat Rencana Maksimum (Sumber: mww.AicerskLine.com) i yas af Sone She z No{ a wr Son eo Z Se Ree on) te em a Meersk€Cless «165,000 15800 398 | s9 | a5 Untuk dapat beroperasi dengan aman, menurut standar tekmis dari OCDI diperlukan alur pelayaran dengan kriteria lebar sama dengan LOA kapal atau sekitar 400m, kedalaman perairan 17m, dan radius tikungan 10 kali LOA kapal atau sekitar 4km, Berdasarkan kriteria diatas, didapatkan alur pelayaran seperti pada Gambar 2. Gambar 2 Kriteria Alur Pelayaran Untuk Tigo Pelabuhan Rencana (Sumber: Analisis Konsuitan, 2015) Volume Pengerskan dan Rektamas! dalam Jute #3) 38.04 74.18 Pereentase Perbandingan PEX Terhadap Cilamaya Berdasarkan kriteria alur seperti disebutkan sebelumnya dan dengan asumsi layout pelabuhan sama dengan layout Pelabuhan Cilamaya (berdasarkan studi JICA), dapat diketahui kebutuhan pengerukan dan reklamasi untuk tiap pelabuhan rencana. [EB votume Pengerukan . ee : fa e i HEE Volume Retiamasi Rersantage Perbandingan PEX Terhadap Cliamnaya Gambar 3Perbandingan Volume KerukdanReWamasisertaterbandinganBiaya CAPEX . Tabel 2 Rincion Pengerukan dan Reklomasi Tiop Pelabuhan Rencana dalam Rupiah (Sumber: Analisis Konsultan, 2015) ai|Pengerakan Seen ae a [Volume 28,935,962) 38,049,995] 25,316,164] 25,656,358) 74,183,203] 126,869,446 ’ [Biaya Lokal_[Miliar 689) sail isa7|—1,365| «3,947 | 6,745) [Baya Asing [Millar 2,735} 3465| 2,403| 2,422] 6,609] 11,084 2|ReKlamast Cees ZI See ee e [Volume m 19,202,649 28,814,809] 24,196,661| 26,860,364] 21,025,847 24,042,809 [Biaya Lokal_|Miliar 4,317| 6,478] 5,439] 6,038] 4,727| 5,405} Biaya Asing_[Miliar 21] 32| 27] 30) 23| 26| glTotalBiaya [Millar | 11,543] 7,740.22| 10,884.06] 9,189.39] 9,824.74] 15,281.84] 23,238.42] Berdasarkan standar internasional IMO, instalasi migas memiliki batas area terlarang dan terbatas yaitu 1,7 km dari instalasi migas (Gambar 3). Namun berdasarkan rekomendasi konsultan yang di-hirePertamina (DNV GL dan Mott MacDonald), untuk faktor keamanan diperiukan area terlarang dan terbatas kurang lebth S Nautical Mile atau sekitar 10 km dari instalasi migas (Gambar 4’ Dengan memperiuas ara restneted IMO Artieie 60(5) UNCLES) > Resctticed area = 500 + “1200 = 1700 m Gambar 4 Alur Pelayaran vs Restricted Area Berdasarkan IMO Dengan wesiciod area mmengisuti standare PHE ONWS Gambar § Alur Pelayoran vs Restricted Area Berdasarkan Rekomendasi Pertamina 2 Pada Gambar 5, dijelaskan kondisi jalur pipa yang berada di sekitar alur pelayaran tiap rencana lokasi pelabuhan. 4 dalur Pipa dt ~Suelur Pig pawsh 7m UNS [LVS ako ce (peda 12.5 m) Gambar 6 Alur Pelayaran vs Jalur Pisa 3 Pada Tabel 3 diberikan matriks rekapitulasi hasil analisis aspek keselematan pelayaran. Be-dasarkan penilaian analisis aspek keselamatan pelayaran, alur pelayaran di rencana Pelabuhan Patimban adalah lokasi yang paling aman dari instalas! migas. tabel 3 Matriks Penilaian Aspek Keselamatan Pelayaran (Surber: Analisis Konsultan, 2015) ‘Aspe feral HEISE ules erie tet Teta one Ee oar) Vee ars foe Geren cit ‘Charen area 500 m ‘Standard IMO aries 8:21 platform Oplatorm 0 plattorm platioom Opssttorm ‘Opletiorm platorm platform © plattorm platform O platform platform Gemansanvctranya nator Oplattorm Opisvorm Sen ce dremor ia im one 4 alur Pipa di kedalaman -23m dan 2 lu ppa kedalaman 20 m ‘ioe pipe Ibubin tert keaelarsion peavey pases vege Mrmmee Boe me ane a, pnanganan untuk MO dengan Fortamrine 3 ipa ini ee Dari seluruh aspek yang telah dijabarkan diatas, hasil analisis yang telah cilakukan dirangkum pada Tabel 4 dan 5. “4 Tabel 4 Matriks Kesimputan Pr Rie Lee Feasibility Study (Sumber: Analisis Konsultan, 2015) Layak Layak Tete dosh ruse, Sebngs Loesiyangsargst__Karera po oes exsitg sth onto, loki merad salah betdelatan dengan Losi terdopa pabban saat in clan proses satulciesi yang isu pada Clamaya,perdatan sas pada bors tele, mle pentstan ‘tut JCA [geste Joata—RIPNakanlebh mush rk status pada RIPN ane muse Masteien Stats ian atlah leas ir Keren pasta ut ost lstangemueran lemayacuish dttahen -sebogs pelatten ia Namun ttn pt memesiAken Las! Paina seit lebih jain cet Loksi ean sedi lth aun dan = loksiClanayakeserreseis rusts las lamaya he sertzesea ust Cac (Csiieurn Puke i netctnal GREE rei) | tertutdak teal oun befoada dengan demand tent tidak tedaly aun befosda | Wlayrtusai ee =e il recarapeatutan Clamaye, Cengan dengan encana pelabuhan Clamaya. | teraCMENe eae if deyaserayargbeik, Ickes peibuban Oergen days seinayara tak okesi | inte aly -—Wicken mendapatien cemandyarg —_pelabetanini den mendapalian a sesvai ensere Sehiggeplexhan demand yang sesusiencana, Sehngza ‘yang dtencanakan sebagai ater _pelabunan yang drencanekan sebege) ale dai haste d Kararan Gkarg stem ode geatt kat dapat : denkeravane fenund ‘eevasan Chang an Karavang. diesen Catan da Kerang 8 Lay otal yeh tiamaren aan ngietsesveresiyana saat thas - ‘Sareea ara eatamnce Sere eee Se Plee S Srettee aeertaacs! Gelso eset: ee = : pecguaanyaasim semgemsh (eH ea\l ts Dey ob F : EN Eaibage pute presen Haran pa dwnanaasiiaese Ge paiaial gacmeuaescs usin Gu carat oars SEUSS) Tercsoat 2crosana pina pa ee eee 2 mah 30m “pps, nanan traps? ‘Spindanan nam per yang jtainya hurang ea Bien eave eer rs Vystlah dearenoe ate Ses ces pete Brcard mo dengan pera Dari hasi! penilaian di Tabel 4 dan 5, didapatkan kesimpuian bahwa Patimban merupakan satu-satunya lokasi yang layak. MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA ta an sesuai dengan aslinya IGNASIUS JONAN “PRE BIRO HUKUM NIP. 19620620 198903 2 001 LAMPIRAN I] KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KP 190 TAHUN 2016 TANGGAL — : 28 Maret 2016 ee KEMENTERIAN PERHUBUNGAN La DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT JL. MEDAN MERDEKA BARAT NO.8 JAKARTA Fecabty Std PERgerbengan Plaouhon Gar Rant tore ewe Berdasarkan hasil studi Pra-FS, lokasi yang paling layak untuk menjadi pengganti Pelabuhan Cilamaya adatah Patimban. Petaksanaan studi FS ini bert untuk melakukan kajian kelayakan Pelabuhan Patimban sebagai Pelabuhan Internasional berdasarkan aspek teknis, ekonomi, finansial, operasional lingkungan, serta untuk mengidentifikasi kebijakan dan bentuk Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) yang dapat diterapkan. Pada Tabel 1 hasilforecast demand untuk Pelabuhan Patimban. Tabel 1 Forecast Demand Pelabuhan (Sumber: Analisis Konsultan, 2015) vl | i = cS “nll PESEERSGLEESSEETE ¢ ri aa Dari data demand di atas, dapat diketahui kebutuhan fasilitas dan peraiaten bongker v1uat yang dibutuhkan pelsbuhan untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang (dijabarkan pada Tabel 2,3 dan 4). Executive Sum ostty 0 PRigembongon Pelbuban Bors 4 Porto Ur Sowa Tabel 2Kebutuhan Fasilitas dan Peralatan Bongkar Muat Terminal Peti Kemas (Sumber: Analisis Konsuftan, 2015) Executive Sun Feostitty SGiéfPBAgembangon Plobuhon Boru Panto! Utere ows Tobe! 3Kebutuhan Fasilitas dan Peralotan Bongkar Muat Car Terminal (Sumber: Analisis Konsultan, 2015) Executive Sum -Feasibitty Sl PBigembangon Pelobuhon Boru dl Pont Ure owe Tabel 4 Tahapon Pembangunan Pelabuhan (Sumber: Analisis Konsultan, 2015) Tahapl (Phase 1) Tahapl(Phase2) fTahap 4 (Phase 1) 16.49 Tahap 1 (Phase 2) 14.25 RINCIAN Tahap2 8.13 BIAYA Tahap 3 4.20. TOTAL 43.07. _/Triliun Rupiah. 3,076.43 | BillionsUSS HasilAnatisisTerhadapkeberadaanPipaPertamina Tusiraa Port Trenching (PanguburanPipa yang, sidahaigetor Berdasarkan perhitungan matrix resiko terhadap Pipa Pertamina maka diusulkan untuk dilakukan tindakan-tindakan berikut 1. Menimbun pipa dengan metode Post Trenching atau menguburkan pipa yang sudah digelar dengan menggunakan mesin. 2. Membuat perlindungan dengan metode Reck Dumping (Rockberm). Sehingge pipa pertamina masih dapat terlindungi oleh serta jangkar 3. Melakukan proteksi additional Executive Sur: -eosiilty SRiBiP=Agembongan Felabuhan Boru dl Portal Ure ows Rock Berm Type B ae Rock Ber iy TlustraciPerindunganPipadengan Rock Berm TMustrasimekanismeperindunganPipadengan rock berm saattersereto ehlangkar. Pipamasihterlindungiolehseretanjangkar Catatan: Dalam studt ini belum ada usulan mengenai pihak yang bertanggungjawab untuk melakukan perlindungan pipa ini. Berdasarkan hasil analisis resiko secara kuantitatif, didapatkan hasil bahwa terdapat 3 pipa milik pertamina yang crossing dengan alur pelayaran. Ketige ini perlu dilakukan perlindungan dengan rekomendasi sebagaimana diberikan pada Tabel 5. Selain metode perlindungan pip, diperlukan juga sarana | pefayaran karena alur pelayaran cukup dekat dengan instalasi migas. Lokasi rencane sarana bantu navigasi pelayaran diberikan pada Gambar 1. Tabel 5 Rekomendasi Perlindungen Pipa (Sumber: Hosil Analisis Konsultan, 2015) Trenched & Buried YES ‘Additional Protection ves ‘Additional Protection Depth VES Gambar 1 Sorane Booty Haviges! Peloyaran (Sumber: Hosi Analisis Konsulton, 2015) Executive Sum Feosibity Si’ Pégembongon Pelobuhon Boru di Ponto Utora Sowa Barat Parameter/kriteriakelayakankajiankeuanganpadapembangunanPelabuhenPatimban, yaitu: Equity IRR harus lebih besar atau minimum sama dengan Cost of Capital Project NPV harus lebih besar atau minimum sama dengan nol; Equity NPV harus lebih besar atau minimum sama dengan nol; Average Debt Service Coverage Ratio (DSCR) minimal 1,4 kali; Minimum Debt Service Coverage Ratio (DSCR) minimal 1,0 kali vvvvvy Asumsi yang digunakandalamkajiankelayakankeuangan Suku bunga pinjaman ODA Loan 0,1% per tahun J ctu pengembalian pinje Jangka pembayaran pinjaman (grace i0tahun period) Ekuitas Swasta 30% (Untuk Skema KPBU) Government support (Infrastruktur 19% dari Capex dasar) Tingkat inflasi 5% per tahun Kenaikan tarif 5% per tigs tahun 1USdollar Rp. 14.000 Discount factor 10% Concessionfee ~ 25% dari pendapatan oa Direct cost-FCL 20% dari Pendapatan FCL Direct cost-Transhipment 20% dari Pendapatan Transhipment 30% dari Jasa Handling & stoage 30% dari Jasa Refer containe (65% dari Jasa CFS Overhead Cost-Administration expenses _ 15,0% dari biaya gaji dan tunjangan Project IRR harus lebih besar atau minimum sama dengan Weighted Average Cost of Capital (WACC); Executive Summary Overhead Cost-Direct Manpower (UMR) Cash in from sale Cash in from Account Receivable Pembangunan Dermaga Breakwater Pengerukan & Maintenance dredging ‘Acces Road Rambu Navigasi Taxrate Riskefree rate Beta (8) ‘Market return (Rm) Gaji dan tunjangan Director Gaji dan tunjangan General Manager Gaji dan tunjangan Manager Gaji dan tunjangan Supervisor Gajidantunjangan Foreman Gaji dan tunjangan Stat ) 3,0% dari tahun sebelumnya 35% dari total pendapatan 5% dai total pendapatan 30 tahun : 30 tahun 10 tahun 10 tahun 20 tahun “Stahun 30 tahun 10 tahun 35 9, 1,30 15% Rp. 60 juta per bulan Rp. 45 juta per bulan Rp. 30 juta per bulan Rp. 20 juta per bulan 9.15 juta perbulan Rp. 7 juta per bulan Feosibtty Sti@hgembangon Pelabuhon Baru ol Ponto! Utara Jowe Borat executive Summary ‘SkemaPerbandinganPendanaanPemerintahdanSwasta ‘Feasibility SRB_PS}gembangan Pelabuhor Bory a Ponto Utara owe Ne Darin fee [eee [SE | ee sear [osnemeratne] Piped est epee oEay [ia OF reee A. |Reklamasi 4741 1.941 4.530 11.212] ‘5. |Pembangunan Dermag: 225, S25 750} 2017, 1.863, 1,031 2.405 €[Brestouater aires 708 2008 Tise3 Las a.a0s [seawall taf 2 en 2019 284 Taz a6 © [Persian Fob Seg os 7. [Pengerkan af 36137 Foat_[ eave | saa Rabo Nava Sole 68 fv ioe Tae Taso TOTAL aaiof sass} ors} arse TANAP p, 2019-2001 oe Ne Deseriton cou | taee | seer [Amana e (million rphy Bepaity- tom fas || a3] a8 1 [Pembargunan DEAmaaa miz[—Lser] 2373 2 ca Ta] 3394 €-[Brcalouatr 2020 383 120] 2954 3 [Seavall 3021 ir test] 3.829 fF [Pengerakan : zez[sis[ mat Feat [ nae | ase 6a G|acees Road a Hi [Ramba Navgaal soL ef 165 1 [Wat iobe a8 lenin 300] 700 | 1.000 rOTAL Tae ase] aaa | 8.060 evecutve Sum TAHAP tl, 2023-2025 Feosiblity Sid PEgembongen Pelobuton Bors d Pont! Utara Jowa Fae | Re] DEER] ae pesctlision porton | "mit | “iose | Peta eer fomennt sine] "Yoon aon ay aie 70M: | ‘mittion con) | __ Paver oem. [Reklama Ta?) 2.653 | 3.791 @_[Pembanguran Dermaga | 378| 883] 1.261 | 2055 155 as Ta59 © [Breakwater 2024 190 25 1859 , [Seawalls aeaEaa Ea 2005 254 #33 1.945 E_ [Peralatan Pelabukan 365 | ear ws F[Pengerukan "Tora es zosa | a2 ["c.|Acees Road H [Rambu Navigasi 1 [VAT 10%. @5 as 1 [Contingene iso) 0 00 TOTAL GE z.0se | 4802 | 7.580 TANAP i, 2025-2027 sotam mir rpion Fake] Fate | ve SRT No. Description fom |Buy | te mestnient Yeon Amatreate =e 70%. (mittion eph) [Reklama asi [1.123 | 1.608 seal) B._[Pembangunan Derma 461 1.075 |___ 1.535, 2025 | us 389, 908 € 3026 118 389) 908 DB. [Seawals | 2027 157 s19[ 1310 E [Peralatan io | 3a 36] F_ [Pengerukan zi BL | 306 “38 Total 353 1297 | 3.038 [Acces Road fae S | 1H [Rambu Navigi =I TWAT 109% 3S 305 T [Contingene: 1a | __380 soo TOTAL 39a [1397 | 3.028 | a4 Executive Sum Feasibitty Stil Péagembongon Pelabuhn Bors di Ponte! Utero awa Barat ‘Skema Pinjaman: Sesuai dengan jumlah Capex 43.07 miliar rupiah, dengan local cost sebesar 15% (8.515 miliar rupiah) untuk membiayai pembebasan lahan (back up area} dan pajek pertambahan nilai (VAT). Sedangkan porsi pinjaman sebessr85% dari Capex, dimana setiap pencairan pinjaman disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan (Capex) dan tingkat suku bunga ODA Loan sebesar 0,1% p.a., diatur sebagai berikut: Tabel 6SkemaPinjaman Pembangunan PelabhanPatimban(Sumber: Analisis Konsultan, 2015) Tahap, tahun | 2umahPinjaman |. PencalranPinjaman_ | JumlehAngsuran | BungaPinjaman | Total Angs, Gmitetap) (mitiar rupiah)_[Th-1 [Th-2 | Th-3 | Thket Thke 1 Thke 1-30 4, 2017-2019, 8.015 | 2.405 | 2.405 | 3.206 263,33, 8,01 271,34 2, 2020-2021 9.647 | 2.894 | 2.894 | 3.859 316,93, 9,65 326,58, 3, 2023-2024 4.862 | 1.459 | 1.459 | 1.945 159,73 4,86 164,59 4, 2026-2027 3.025| 908 | 908 | 2.210 99,39 3,02 102,41 Jumiah 25.550 | 7.666 | 7.666 | 10.220 Beecutve Summary ProyeksiPendapatandansiaya ‘Feastty S8385PZigembangan Pelobuhon Bory Ponta Utara foo cebenptig soe | emo | aan zon ozs 3. Onura Torino Sonic Re ts [Re 203/Rp2i2|Rp200/ Rp 2a Bi. Diect cect rp caress |p enone |p craze [np resara np saace B11 Trovahpatanding FCO) Rp reves [Rp aoaeo |p coset |mp ze0262| Rp 3ntSHE 812 Handing ny de) Rp aseasr [Rp arieea |p sorace| Rp aes0a| Re 460708 B13 Mondig » Sorge tp trate [re sa703| Rp tusze|ep z2aos| mp aaa S14 fenrCenaner e-Pasgmesereget Se ‘zim |re ‘221 |np '2a0e|mp 2500/2 815 tay Comer Sage nese fp sae [pat pa | pee 817 Shwe Now Conve ecpentes Rp ‘tae fre ‘ssea|np avoe|mpease| mp 108 B21 Rertonponne Rp ‘teas: [Rp ‘roece |p aoea|np “zoao| apa ae 822 irencecrponces Sp cz [mp ‘som |np saor|mp resn[mp ase 823 tinagorentonenses Rp 1925 [Re 2acer [Rp asa0t| Rp 25az0| mp asst B26 parenteduneneeaes fe ea [ap_azei {np sam |np eas [ap ase Tova. OPERATIONAL EXPENSES () Re_7a03m |p _traezs | np _sorees |p _szzao| mp sseazz © netorenamonat income (3) Apiisnaset [Rp Ton2a0a | Rp ia70.008 | ap sss see] Rp 3a 95 © omens micone @xreNses) Dr Oucrmcone ap _set|Rp 20s lip ata Jp _—_ss0| mp nat 82. Smarsanganoe fp ts9| Rp ep Teal] Rp Tia pe) 03 Prenson ond Bos wirmaoton pee or i ape an) rovat OMENS INCOMBEXPENSES (0) Re tare] Re |p ae |p| ew © EamINCBEFONE DEPRECIATION. INTEREST AND TAX(CO) | RpiTaaew [Rp V88z3«2 | np_ia70Ie | np _Aaeaae| mp Ft ae0 F pemnecianon exrenses p_votean[np seen) Rp (raw son] ky Wane son| Re sai or © EXWINGDEFOREINTEREST AO TAXE-F Ro io#a.et [Rei Tse [np seas [np vera [Rp torre h inrenesr ecenece Res [Rp = [Re Re ise tra 1 gaan BEFORE TAK (oH) please [Rp 1775881 | Rp 6208 | Rp HFT] Rp aot sso, 4 oewoen aon{ Rp azr tail Rp 82 6] Rp ees ear] Rp Gas 26) Rp Gs as x tas 2si[ Rp em] we osn| ep "cell ap asl ep" 739] LEARNING AFTER CEVOEN, INTEREST AND TAK 9 iy tibsins [Rp Tir vas [Rp 0.123 [Ro Gear [Rp as 350, Executive Sur -Feosiblty Sal Phgembangen Pelabuhon Bory a Penta Urara sews ProyeksiAruskasBtU (Skema Loan) DEscReTION zoar | acre | zor | azo | 20m | 2m2 | ames ESR TPOUTGW FOR OAT ORATACTIATIS 1D cahrecene 2 cathfion sales auceiso] 2s2nes6) 2002005| soissss| sasiom 1 cothteom eccuntrecenable oerse|"aszaie| asaese| adams 3. Pavmentfor 2 Operational actos (raasie] o7eaza|eorses) ez2esn)case2sa] Comereaaiates (a7ea] ‘2 “ 7) (sen 2. Taesandoevidend payment | tes) cosarea) _ossera) 250.700] css 03] (ASH FROM OeERAONAL ACIUMIES(A) siaoos | ~isn1.as7| a7aracy | —ase0.700| 23077 6 sn OuTTLoW Fon RevesraeNT ACUI “nuezmentexpeneues Saget 2A (220220) (S820) (70%0.207] frvesimentespendures Stages 12 {asizs0q] (4sazsea) (eorssso] frees enpendtwes Stages 2 (aareas) i freesiment enpenderes-Stgee 3 NercastoUtriow roxiNvesiMeuTactmes (a) | (25699) (E5a.80]) GLSEaan| (aSazaDa) ona] ca] | cssninvournowron runoine aerivmes eSeeament Benbow reoeear| ote} caonzes| 2eoeiis| aesaaie sesusne 2 htcresenpenceator investment (e009 - =) |B. tntallent or restr | 7 Equity: Public Funding: 1.858.008 | 1.553.008 (2.857.509 3ua485 51260) sa s%e (8 eauty. private funding rososss | ios05ss| 2e1acos] 1 200335| 1652780 esi | 8 Dever | NETCASI OUTFLOW FORFUNOING ACHES (c) | S35SaI|_EmaT| —aaseaao | saz aon | paz 2a] |p casneatance 1 / pO Neca wfouatow (eee) sarezos] sesse7] izaraer)tse2720| 20mm | 2 Gatraeg mina idence =| ieee)" (ason| sseaa0s| aesoear| cesraco| cone 13 Shenae tsione cg) — (aan) Tass [dassam | aee7e0 | eetmess | e7ate cutive Sur ‘Feosiilty Stil Peigembargan Pelabuban Bore a Pantol Utara Jowo ‘abel 7 Host Anais Kevongan (Sumber Anais Karzuton, 2055) Proectin EauiyiRR ProjeotNP in bition) Equity NPV bilion) |nerage DSCR 0) Mirimum DSCR () Inergae ROE Financial Projection Analysis Result Tho 19,99 Rp 25253 224 1269 631% 2 Rp 8.46 2 > 2 > DECISSION Parameter Decision dork Aopoed 1089% — Agpoed Ro Approved Reprod 1A Anpoed 10 Approved ‘ACCEPTED | Selanjutnya konsultan juga membust analisis sensitivitas dengan asumsi,jika capex nik 10%, jika revenue turun 10% dan situasi terburuk jika capex natk dan revenue turun 10%.Hasilnya adalah sebagai berikut: Tabel 8AnalisisSensitivitaskeuangan(Sumber: Hosil Analisis Konsultan, 2015) Sensivity Analysis Project IRR | Project NPV’) | Equity IRR| Equity NPV) Business Case Thom] Rp _860B| —_2000%]Rp 25.258 if Capex 10% 150%] Rp 7.715] 17,75%| Rp 22860 ifRevenue 0% T143%[Rp 6662| 17,64%| Rp 20.434 IF Capex 110% & Rev-10% 10.77% Rp 3847 | 16.67%| Rp 19.125 *)in billion rupiah executive Su ‘eosibtty StalPagembargan Pelabuhon Boruc Ponta Utero Lowe Tobet 8 Perhtungan Value For Maney (Sumser:Anatise Konstan, 2035) Iititisar Kelangsungan Arus Kas (Cash Flow Viability -NPC Summary) (dalam millar rusiah) Estimasi Nilai Invetast Nivel Diskonta: (Initial Project Estimate) Nii Pembeancing | AISLES | 0.00% sere layaan P| args, (PPP Bi) L orgusran (Con) Saye Kors Gorencien C8) ‘parma | Boe Biya Operas & Pereira (8H) 20.604 | ann 004 Biaya Proyek Lairnya (Onher Projact Cost) |Pendopatan & Pendanean (Revenues & Funding) eee ee paanasee Perboveng re Lyeren aol ow a cies rire Sarigan Karson peat fase on (Nila Kini-Biaya Dampak Risiko (NPC Risk Impact) T 16,956,658 | I 868,393 | 14,686,478 | 1,413,786 NDP Jasa Layanan Publik Neto (Net Project Cost) [ 81,143,618 71,227,651 Sathana Pavers ieee eon oe ae RDS ase anon Poi roi ret Con nce a eens sat Kags Pui Nar on HEE oo bxecutive Sum Feasibility SiliBéhgembongen Pelabuhan Baru d Ponti tara Jowo Borat Berdasarkan Hasil Kajian Keuangen diatas, maka Proyek Pembangunan Pelabuhan Patimban, “Layak” untuk dibangun. Hal ini ditunjukkan dengan masih fieksibelnya tingkat imbal hasil ekonomi dan keuangan sesuai kriteria yang ditetapkan berdasarkan Peraturan dan Perundangan yang terkait, khususnya Keputusan Menteri Perhubungan nomor 83 tahun 2010, tentang Panduan Pelaksanaan Kerjasama Pemetintah dengan Swasta untuk infrastruktur Pelabuhan, Saran dan rekomendasi konsultan atas kajian ekonomi dan keuangan Pelabuhan Panimban terkait dengan beberapa risiko yang terkait langsung terhadap proyek , adalah sebagai berikut: a. Perlu studi yang lanjutan terkait dengan rencana pembangunan jalan akses dan jalur Kereta api untuk mendukung proyek ini. Studi lanjutan yang dimaksud antara lain adalah studi trase jalan akses, DED, dan ANDAL Lalin, Selain daripada itu, perlu ditetapkan regulasi terkait dengan penetapan jalan akses tol ini; b. Risiko peningkatan biaya Capex dapat dikurangi apabila ada kontrol yang ketat terhadap setiap tahapan pekerjaan konstruksi (SDM, Material dan Pelatalan}, sehingga ka terjadi gap, maka dapat langsung ditindaklajuti. Namun jika tidak dapat dihindari, maka risikonya harus ditanggung bersama oleh kontraktor atau Asuransi (Penjamin); Cc. Risiko tertundanya atau mundurnya jadwal proyek, dapat dikurangi dengan membuat detail rencana konstruksi yang sudah mempertimbangkan faktor keterlambatan akibat cuaca datam setiap tahapan pekerjaan proyek; 4. Risiko peningkatan biaya operasi dan pemeliharaan, dapat dikurangi melalui studi yang mendalam mengenai rencana proteksi pipa baik itu dengan post trenching maupun rack dumping atau kombinasi keduanya. MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA ud IGNASIUS JONAN Salinan sesuai dengan aslinya i HUKYM SRILESTARI RAHAYU Pembina Utama Muda (IV/c) NIP. 19620620 198903 2 001 Executive Summary