Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang
Pesatnya perkembangan industri kayu, maraknya penebangan ilegal dan
perambahan hutan menyebabkan pasokan kayu dari hutan alam produksi semakin
berkurang. Di satu sisi, perkembangan hutan tanaman industri (HTI) dan hutan
rakyat masih jauh dari yang diharapkan terutama untuk memasok kebutuhan
industri kayu pertukangan. Untuk dapat memenuhi kebutuhan kayu konstruksi dan
bahan baku mebel perlu dicari sumber bahan baku alternatif seperti dari
perkebunan (Iswanto, 2010).
Berbanding terbalik dengan luas area hutan yang semakin terbatas, luas
areal perkebunan kelapa sawit dari tahun ke tahun semakin meningkat. Menurut
data Badan Pusat Statistik (2015), luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia
selama tiga tahun terakhir cenderung menunjukkan peningkatan, naik sekitar 3,16
sampai dengan 4,48 persen per tahunnya.
Perkembangan industri kelapa sawit tak terlepas dari sisa produksi dan
limbah, baik itu limbah industri maupun limbah pertanian. Pelepah kelapa sawit
merupakan salah satu limbah pertanian yang dihasilkan. Badan Pusat Statistik
Indonesia (2016) memperkirakan, dalam satu pohon kelapa sawit bisa dihasilkan
22 pelepah, dan dalam satu hektar akan dihasilkan sekitar 6,3 ton pelepah setiap
tahunnya.
Komponen utama penyusun pelepah kelapa sawit adalah selulosa.
Menurut Padil dan Yelmida (2009), ditinjau dari komposisinya limbah pelepah
kelapa sawit mengandung Selulosa- 34,89 %, Hemiselulosa 27,14 %, dan Lignin
19,87 %. Limbah pelepah sawit saat ini belum dimanfaatkan secara optimal dan
bahkan menimbulkan permasalahan baru.
Febrianto (2005) mengatakan, biomassa limbah pelepah kelapa sawit
berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pengisi untuk produk komposit
kayu plastik atau yang dikenal dengan istilah Wood Plastic Composite (WPC).

1
2

Keunggulan produk WPC antara lain adalah biaya produksi lebih murah, bahan
bakunya melimpah, fleksibel dalam proses pembuatannya, kerapatannya lebih
rendah, lebih mudah terurai dibanding plastik, memiliki sifat-sifat yang lebih baik
dibandingkan bahan baku asalnya, dapat diaplikasikan untuk berbagai keperluan,
serta produknya dapat di daur ulang.
WPC merupakan jenis kelompok material terbaru yang dapat mengurangi
penggunaan kayu secara langsung dengan cara mencampurkan fiber/filler dengan
termoplastik (Najafi, dkk., 2007). Pada tahun 2000, WPC mulai berkembang
terutama untuk penggunaan sebagai komponen pintu dan jendela, interior mobil,
terali, pagar, kayu taman, bangku papan, papan hias, tembok, dan mebel. Dalam
industri manufaktur dibutuhkan material-material yang memiliki sifat-sifat
istimewa yang sulit didapatkan dari logam. WPC merupakan material alternatif
yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Penelitian tentang produk WPC sudah berkembang sejak dekade ini.
Fokus penelitian tersebut terutama terkait dengan kajian tentang pembusukan,
ketahanan terhadap serapan air, peningkatan luas kontak antara komponen kayu
dan plastik dalam produk WPC, dan kajian-kajian lain yang masih dalam tahap
penelitian (Parsaulin, dkk., 2014).
Berdasarkan uraian di atas, maka pembuatan WPC berbasis limbah
pelepah sawit memungkinkan untuk dikembangkan, maka pada penelitian ini akan
dikaji mengenai pengaruh jenis dan suhu pelarut pada preparasi pelepah sawit
untuk pembuatan WPC.

1.2 PerumusanMasalah
Penelitian mengenai pengaruh preparasi terhadap sifat dan morfologi WPC
telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Li dkk (2011) melakukan
penelitian dengan menggunakan potongan kayu yang telah dipreparasi
menggunakan air dan asam oksalat 0,33% pada suhu 100OC, 120OC, dan 140OC.
Hasil yang diperoleh bahwa pengurangan masa kayu setelah dilakukan preparasi
asam oksalat pada masing-masing variabel suhu adalah 6,6%, 6,8%, dan 10%
sedangkan dengan preparasi menggunakan air sebagai kontrol adalah 5,6%.
3

Pengurangan massa karena terjadi degradasi hemiselulosa dan lignin. Kuat tarik
dan kuat lentur juga meningkat seiring dengan peningkatan suhu.
Parsaulin (2014) melakukan penelitian menggunakan serbuk pelepah
kelapa sawit berukuran 100-200 mesh sebagai filler dan polipropilen sebagai
matriks dimana rasio pencampuran 30:70 dengan campuran bahan aditif parafin
2% dan MAPP 5%. Pelepah kelapa sawit dipreparasi menggunakan asam oksalat
0,05 M dan air pada suhu kamar, 100OC, 120OC, dan 140OC dengan waktu
perendaman 15 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis preparasi
memiliki pengaruh yang relatif signifikan sedangkan suhu preparasi relatif tidak
berpengaruh. Material WPC terbaik menggunakan preparasi asam oksalat pada
suhu 120OC.
Putra (2015) melakukan penelitian menggunakan serbuk batang kelapa
sawit berukuran 100-200 mesh yang dipreparasi menggunakan air panas dan asam
oksalat konsentrasi 0,05 M dan 0,1 M pada suhu 100OC dan 140OC dengan variasi
waktu 5 menit dan 15 menit. Hasil penelitian menunjukkan terjadi pengurangan
kadar zat ekstraktif dan hemiselulosa pada serbuk batang sawit setelah dilakukan
preparasi. Pengurangan tertinggi diperoleh pada preparasi menggunakan asam
oksalat 0,1 M, suhu 140OC, dan lama perendaman 15 menit. Preparasi yang
dilakukan berpengaruh signifikan terhadap sifat dan morfologi WPC yang
dihasilkan.
Pada penelitian ini akan dikaji pengaruh jenis dan suhu pelarut pada
preparasi pelepah kelapa sawit untuk pembuatan Wood Plastic Composite. Dari
penelitian di atas, secara umum dapat digambarkan bahwa preparasi yang
dilakukan berpengaruh terhadap kualitas wood plastic composite yang dihasilkan.

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh jenis dan
suhu pelarut pada preparasi pelepah kelapa sawit yang akan digunakan sebagai
bahan baku pembuatan wood plastic composite.
4

1.4 Manfaat Penelitian


1. Mengembangkan teknologi untuk menghasilkan material WPC dari limbah
pelepah kelapa sawit sebagi alternatif kayu alam.
2. Mengembangkan pengetahuan peneliti dalam teknologi material dan
komposit polimer.
3. Meningkatkan daya guna pelepah kelapa sawit yang merupakan limbah
dari perkebunan sawit.

1.5 Metode Penelitian


Penelitian ini dimulai dengan pengkajian pustaka dari berbagai sumber
seperti jurnal, buku, artikel ilmiah, skripsi, maupun internet mengenai komponen
kimia kayu, Wood Plastic Composite dan preparasi. Berdasarkan informasi
maupun data yang diperoleh serta melalui diskusi dengan dosen pembimbing,
ditentukan rumusan masalah yang akan ditinjau dan dibahas. Kemudian dilakukan
penelitian dan pengolahan data.

1.6 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan proposal penelitian ini terdiri dari tiga bab yaitu Bab
I Pendahuluan, Bab II Tinjauan Pustaka, Bab III Metode Penelitian, Bab IV Hasil
dan Pembahasan, dan Bab V Kesimpulan dan Saran. Bab I Pendahuluan
membahas latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, metode penelitian, dan sitematika penulisan. Bab II Tinjauan Pustaka
berisi tentang kajian pustaka yang menjelaskan uraian singkat teori hasil
penelitian terdahulu. Bab III Metode Penelitian membahas bahan dan alat yang
digunakan, prosedur penelitian dan pengujian, dan jadwal penelitian. Bab IV Hasil
dan Pembahasan berisi tentang analisis terhadap hasil penelitian, gagasan, dan
ulasan hasil penelitian yang mengacu pada penelitian sebelumnya. Bab V
Kesimpulan dan Saran berisi tentang rangkuman penelitian yang sesuai dengan
tujuan penelitian, serta saran yang dapat digunakan dalam pengembangan
penelitian selanjutnya.