Anda di halaman 1dari 21

Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen

Pemicu
Seorang laki-laki umur 40 tahun datang ke Puskesmas, dengan batuk-batuk : hasil
pemeriksaan tekanan darah 140/80 mmHg, HR 80x/mnt, RR 30 x/mnt, dan hasil pemeriksaan
radiologi maka didiagnosa TBC. Laki-laki tersebut tinggal dengan seorang istri yang sedang
mengandung dan sepasang orang anak usia 1 dan 3 tahun.
Learning Issue :`
1. Mahasiswa mengetahui bagian-bagian IKM yang berkenaan dengan kasus (lebih dari
1, jelaskan)
2. Mahasiswa mengetahui level pencegahan
3. Mahasiswa mengetahui perilaku kesehatan
4. Mahasiswa mengetahui tentang alat untuk penilaian keluarga
5. Mahasiswa mengetahui tentang hubungan dokter-pasien
6. Bila terjadi komplikasi, mahasiswa mengetahui jenis-jenis rujukan.

Pembahasan Learning Issue


1. Bagian bagian IKM yang berkenaan pada kasus TB paru
Epidemiologi
Menerapkan pertanyaan 5W dan 1H dalam menganalisis faktor-faktor yang berkaitan
dengan penyakit TBC. Meliputi apa itu TB, Kapan terjadi penyakit TB, Siapa saja yang
beresiko terkena, Dimana lokasinya, Mengapa penyakit itu dapat menyerang, Bagaimana
penanggulangan dan pencegahannya dll.
Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di
dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 (WHO, 2010) dan
estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB
diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya.

Epidemiologi penyakit TB dapat juga digambarkan menurut Trias Epidemiologi


adalah Agent, Host dan Environment sebagai berikut :
a. Agent
TB disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis, bakteri gram positif, berbentuk
batang halus, mempunyai sifat tahan asam dan aerobic. Karakteristik alami dari
agen TBC hampir bersifat resisten terhadap disifektan kimia atau antibiotika dan
mampu bertahan hidup pada dahak yang kering untuk jangka waktu yang
lama.Pada Host, daya infeksi dan kemampuan tinggal sementara Mycobacterium
Tuberculosis sangat tinggi. Pathogenesis hamper rendah dan daya virulensinya
tergantung dosis infeksi dan kondisi Host. Sifat resistensinya merupakan problem
serius yang sering muncul setelah penggunaan kemoterapi modern, sehingga
menyebabkan keharusan mengembangkan obat baru .Umumnya sumber
infeksinya berasal dari manusia dan ternak (susu) yang terinfeksi. Untuk
transmisinya bisa melalui kontak langsung dan tidak langsung, serta transmisi
congenital yang jarang terjadi .
b. Host
Umur merupakan faktor terpenting dari Host pada TBC. Terdapat 3 puncak
kejadian dan kematian :a).Paling rendah pada awal anak (bayi) dengan orang tua
penderita b) Paling luas pada masa remaja dan dewasa muda sesuai dengan
pertumbuhan, perkembangan fisik-mental dan momen kehamilan pada wanita c).
Puncak sedang pada usia lanjut .Dalam prkembangannya, infeksi pertama
semakin tertunda, walau tetap tidak berlaku pada golongan dewasa, terutama pria
dikarenakan penumpukan grup sampel usia ini atau tidak terlindung dari risiko
infeksi. Pria lebih umum terkena, kecuali pada wanita dewasa muda yang
diakibatkan tekanan psikologis dan kehamilan yang menurunkan resistensi.
Penduduk pribumi memiliki laju lebih tinggi daripada populasi yang mengenal
TBC sejak lama, yang disebabkan rendahnya kondisi sosioekonomi. Aspek
keturunan dan distribusi secara familial sulit terinterprestasikan dalam TBC,
tetapi mungkin mengacu pada kondisi keluarga secara umum dan sugesti tentang
pewarisan sifat resesif dalam keluarga. Kebiasaan sosial dan pribadi turut
memainkan peranan dalam infeksi TBC, sejak timbulnya ketidakpedulian dan
kelalaian Status gizi, kondisi kesehatan secara umum, tekanan fisik-mental dan
tingkah laku sebagai mekanisme pertahanan umum juga berkepentingan besar.
Imunitas spesifik dengan pengobatan infeksi primer memberikan beberapa
resistensi, namun sulit untuk dievaluasi.
c. Environment
Distribusi geografis TBC mencakup seluruh dunia dengan variasi kejadian yang
besar dan prevalensi menurut tingkat perkembangannya. Penularannya pun
berpola sekuler tanpa dipengaruhi musim dan letak geografis .Keadaan sosial-
ekonomi merupakan hal penting pada kasus TBC. Pembelajaran sosiobiologis
menyebutkan adanya korelasi positif antara TBC dengan kelas sosial yang
mencakup pendapatan, perumahan, pelayanan kesehatan, lapangan pekerjaan dan
tekanan ekonomi. Terdapat pula aspek dinamis berupa kemajuan industrialisasi
dan urbanisasi komunitas perdesaan. Selain itu, gaji rendah, eksploitasi tenaga
fisik, pengangguran dan tidak adanya pengalaman sebelumnya tentang TBC dapat
juga menjadi pertimbangan pencetus peningkatan epidemi penyakit ini .Pada
lingkungan biologis dapat berwujud kontak langsung dan berulang-ulang dengan
hewan ternak yang terinfeksi adalah berbahaya

Epidemiologi penyakit TB dapat juga digambarkan menurut Variabel Epidemiologi


adalah Person (orang), Place (tempat) dan Time (waktu) sebagai berikut :
a. Distribusi menurut orang.
Distribusi menurut umur
Penyakit TBC dapat menyerang pada siapa saja tak terkecuali pria, wanita, tua,
muda, anak-anak, kaya dan miskin serta dimana saja. Sebagian besar penderita
TB Paru di Negara berkembang berumur dibawah 50 tahun.Data WHO
menunjukkan bahwa kasus TB di Negara berkembang banyak terdapat pada
umur produktif 15-29 tahun,Sejalan dengan penelitian Rizkiyani (2008) yang
menunjukkan jumlah penderita baru TB Paru positif 87,6% berasal dari usia
produktif (15-54 tahun) sedangkan 12,4 % terjadi pada usia lanjut ( 55
tahun).

Distribusi menurut jenis kelamin.


Penyakit TB Paru menyerang orang dewasa dan anak-anak,laki-laki dan
perempuan.TB Menyerang sebagian besar wanita pada usia produktif. Serupa
dengan WHO yang menunjukkan lebih dari 900 juta wanita di seluruh dunia
tertular oleh kuman TB dan satu juta di antaranya meninggal setiap tahun.

Distribusi menurut etnik


Suku bangsa atau golongan etnik adalah sekelompok manusia dalam suatu
populasi yang memiliki kebiasaan atau sifat biologis yang sama. Walaupun
klasifikasi penyakit berdasarkan suku bangsa sulit dilakukan baik secara
praktis maupun secara konseptual, tetapi karena terdapat perbedaan yang besar
dalam frekuensi dan beratnya penyakit diantara suku bangsa maka dibuat
klasifikasi walaupun kontroversi. Pada umumnya penyakit yang berhubungan
dengan suku bangsa berkaitan dengan faktor genetik atau faktor lingkungan,
misalnya: (Penyakit sickle cell anemia, Hemofilia dan Kelainan biokimia
sperti glukosa 6 fosfatase).

b. Distribusi menurut tempat.


Lingkungan
TB paru merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan yang di tularkan
melalui udara.Keadaan berbagai lingkungan yang dapat mempengaruhi
penyebaran TBC salah satunya adalah lingkungan yang kumuh, kotor.
Penderita TB Paru lebih banyak terdapat pada masyarakat yang menetap pada
lingkungan yang kumuh dan kotor.

Kondisi Sosial Ekonomi


Sebagai Penderita TB Paru adalah dari kalangan miskin. Data WHO yang
menyatakan bahwa angka kematian akibat TB sebagai besar berada di Negara
berkembang yang relative miskin
Wilayah
resiko mendapatkan infeksi dan berkembangnya klinis penyakit TB Paru
bergantung pada keberadaan infeksi dalam masyarakat misalnya Imigran dari
daerah prevalensi tinggi TB, Ras yang beresiko tinggi dan kelompok etnis
minorias(misal Afrika,Amerika,Amerika Indian,Asli Alaska,Asia,Kepulauan
Pasifik dan Hispanik

c. Distribusi menurut waktu.


Penyakit TB Paru dapat menyerang siapa saja, dimana saja dan kapan saja tanpa
mengenal waktu. Apabila kuman telah masuk ke dalam tubuh maka pada saat itu
kuman akan berkembang biak dan berpotensi untuk terjadinya penyakit TB Paru.

Gizi kesehatan
Dilakukan dengan cara meningkatkan asupan gizi, untuk meningkatkan daya tahan
tubuh, agar tidak mudah terserang kuman TB. Dalam hal ini gizi kesehatan sangat diperlukan
karena nutrisi yang baik dan memadai sebagai hasil kemajuan teknologi pertanian dan
pengolahan makanan, serta kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi, mampu
menurunkan angka sakit dan angka kematian. penyakit-penyakit yang disebarkan oleh udara,
TBC misalnya. Penyakit tersebut merupakan penyebab dari 70-90% kematian pada anak-
anak miskin. Selain itu rendah nutrisi yang kronis secara terus-menerus juga mempengaruhi
daya tahan tubuh seseorang terhadap penyakit menular lainnya.

Adsminitrasi Dasar Kesehatan


Dalam pemesanan obat harus sesuai dengan jumlah sasaran, jangan kurang ataupun
lebih, sehingga ketika penderita melonjak di waktu-waktu tertentu obat tersebut sudah
kadaluwarsa. Jika hal ini terjadi, dapat menimbulkan kerugian bagi pemerintah dan
masyarakat, uang yang telah dianggarkan sebenarnya dapat digunakan untuk keperluan yang
lain.
Kemudian pendistribusian obat juga harus merata dan bagi rumah sakit harus
memberkan pelayanan maksimal kepada masyarakat khususnya yang tidak mampu, jangan
sampai ada pasien yang diabaikan meskipun tidak mempunyai dana, hal ini dapat diatasi
dengan kerjasama pemerintah yaitu pemberian ASKES atau bantuan lainnya tentunya juga
harus tepat sasaran.
Selain itu, bisa juga dilakukan dengan adanya penambahan pelayanan kesehatan dan
tenaga ahli atau kader yang berkompeten untuk membantu penanganan masalah TB di
Indonesia, khususnya di daerah terpencil.
Dalam hal ini semakin bertambah kuatnya earing antara puskesmas dan rumah sakit
juga diperlukan. Hal ini dimaksudkan agar penderita TB yang tidak mendapat pelayanan
cukup di puskesmas dapat segera dirujuk ke rumah sakit.

Kesehatan Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang berperan dalam riwayat timbulnya
penyakit. Oleh karena itu pengetahuan mengenai segi-segi penyehatan (sanitasi) lingkungan
sangat berperan dalam tiap upaya kesehatan, baik secara individual maupun kelompok.
Adapun peranan kesling dalam penanggulangan TBC adalah dengan meningkatan
kebersihan di dalam rumah dan lingkungan sekitar tempat tinggal. Hal ini dapat dilakukan
dengan pembangunan rumah sehat bagi masyarakat kurang mampu (tidak terlalu padat
pemukimannya), sehingga sirkulasi udara di rumah bagus dan tidak lembab. Karena
lingkungan rumah merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar terhadap
status kesehatan penghuninya.
Lingkungan rumah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam penyebaran
kuman tuberkulosis. Kuman tuberkulosis dapat hidup selama 1-2 jam bahkan sampai
beberapa hari hingga berminggu-minggu tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet,
ventilasi yang baik, kelembaban, suhu rumah dan kepadatan penghuni rumah.
Pencahayaan Rumah
Untuk memperoleh cahaya cukup pada siang hari, diperlukan luas jendela kaca
minimum 10% luas lantai, dengan durasi pencahayaan minimal 1 jam setiap hari, dimana
pencahayaan efektif dapat diperoleh pada pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00. Jika
peletakan jendela kurang baik atau kurang leluasa maka dapat dipasang genteng kaca.
Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam
rumah, misalnya basil TB, karena itu rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk
cahaya yang cukup (Keman, 2005).
Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda dari segi lamanya proses
mematikan kuman untuk setiap jenisnya. Cahaya yang sama apabila dipancarkan melalui
kaca tidak berwarna dapat membunuh kuman dalam waktu yang lebih cepat dari pada
yang melalui kaca berwama Penularan kuman TB paru relatif tidak tahan pada sinar
matahari. Bila sinar matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi udara diatur maka
resiko penularan antar penghuni akan sangat berkurang (Helmia & Lulu, 2004).
Kepadatan Hunian Rumah
Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam
m2/orang. Luas minimum per orang sangat relatif tergantung dari kualitas bangunan dan
fasilitas yang tersedia. Untuk rumah sederhana luasnya minimum 9 m2/orang. Untuk kamar
tidur diperlukan luas lantai minimum 8 m2/orang. Untuk mencegah penularan penyakit
pernapasan, jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang lainnya minimum 90 cm.
Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari dua orang, kecuali untuk suami istri dan anak
di bawah 2 tahun. Untuk menjamin volume udara yang cukup, di syaratkan juga langit-langit
minimum tingginya 2,8 m (Keman, 2005).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Penggunaan alat pelindung diri yaitu masker bagi pekerja secara individual, artinya
masing-masing hanya boleh memakai maskernya sendiri. Kemudian adanya pengaturan
ventilasi, bagi ruangan yang ber-AC minimal ruangan tersebut harus dibuka 1 jam sehari.
Bagi penderita TBC, tidak diperbolehkan bekerja selama 120 hari. Selain itu di
lingkungan kerja juga harus diberikan pelayanan kesehatan yang memadai bagi para
pekerjanya. Bila penderita telah sembuh dan kembali bekerja, yakinkan pada pekerja lain
bahwa si penderita sudah sembuh, sehingga tidak dikucilkan atau dijauhi.

2. Level-level pencegahan
Peningkatan kesehatan (health promotion)
Pada tingkat ini dilakukan tindakan umum untuk menjaga keseimbangan proses bibit
penyakit-pejamu-lingkungan, sehingga dapat menguntungkan manusia dengan cara
meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki lingkungan. Tindakan ini dilakukan pada
seseorang yang sehat.
Health promotion atau promosi kesehatan merupakan tingkatan pencegahan yang
pertama dan yang paling utama dilakukan, karena ruang lingkup kerja dari promosi kesehatan
adalah menjadikan orang sehat agar meningkat derajat kesehatannya. Jadi di health
promotion, sasarannya adalah orang sehat. Promosi kesehatan dilakukan tidak dengan hanya
memberikan masyarakat informasi tentang kesehatan saja, tetapi berusaha agar mengubah
sikap dan perilaku masyarakat agar mengarah pada kesehatan yang setinggi-tingginya.
Tentunya hal ini dilakukan dengan memberikan pendidikan kesehatan dan intervensi
langsung pada lingkungannya. Contoh sederhana yang dapat kita ambil adalah
memberlakukan budaya cuci tangan kepada siswa sekolah dasar, memberikan pendidikan
seks kepada remaja, mengkampanyekan budaya PHBS di rumah, sekolah, institusi, tempat
umum, dll melalui berbagai media yang dapat digunakan, dan masih banyak contoh lainnya.
Contoh :
Penyediaan makanan sehat dan cukup (kualitas maupun kuantitas)
Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan, misalnya penyediaan air bersih,
pembuangan sampah, pembuangan tinja dan limbah.
Pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Misalnya untuk kalangan menengah ke atas
di negara berkembang terhadap resiko jantung koroner.
Olahraga secara teratur sesuai kemampuan individu.
Kesempatan memperoleh hiburan demi perkembangan mental dan sosial.
Nasihat perkawinan dan pendidikan seks yang bertanggung jawab.
Rekreasi atau hiburan untuk perkembangan mental dan sosial

Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu (general


and specific protection)
Merupakan tindakan yang masih dimaksudkan untuk mencegah penyakit,
menghentikan proses interaksi bibit penyakit-pejamu-lingkungan dalam tahap prepatogenesis,
tetapi sudah terarah pada penyakit tertentu. Tindakan ini dilakukan pada seseorang yang sehat
tetapi memiliki risiko terkena penyakit tertentu.
Spesific protection atau perlindungan khusus merupakan tingkatan pencegahan
penyakit kedua yang dilakukan terhadap host atau penjamu dengan cara meningkatkan daya
tahan tubuhnya serta perlindungan terhadap tubuh (bila diperlukan). Spesific protection
dilakukan oleh individu dengan menyadari bahaya kesehatan yang mengancam di lingkungan
sekitarnya. Contohnya : imunisasi, tidak merokok, perbaikan sanitasi lingkungan,
mengurangi penggunaan bahan makanan yang mengandung kimia, menggunakan APD (alat
pelindung diri) di tempat kerja, dan masih banyak contoh lainnya.
Contoh :
Memberikan immunisasi pada golongan yang rentan untuk mencegah penyakit
dengan adanya kegiatan Pekan Imunisasi Nasional (PIN)
Isolasi terhadap penderita penyakit menular, misalnya yang terkena flu
burung ditempatkan di ruang isolasi.
Pencegahan terjadinya kecelakaan baik di tempat umum maupun tempat kerja dengan
menggunakan alat perlindungan diri.
Perlindungan terhadap bahan-bahan yang bersifat karsinogenik, bahan-bahan racun
maupun alergi.
Pengendalian sumber-sumber pencemaran, misalnya dengan kegiatan jumsih jumat
bersih untuk mebersihkan sungai atau selokan bersama sama.
Penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV/AIDS

Penegakkan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat (early
diagnosis and prompt treatment)
Merupakan tindakan menemukan penyakit sedini mungkin dan melakukan
penatalaksanaan segera dengan terapi yang tepat.
Pada tingkatan early diagnosis and prompt treatment atau diagnosa dini dan
pengobatan segera, dilakukan apabila seseorang sudah terserang penyakit atau setidaknya
mengalami gejala-gejala sebuah penyakit, agar mencegah orang-orang yang masih sehat tidak
tertular penyakit tersebut. Contohnya: melakukan skrining survei penyakit pada daerah-
daerah rawan, case finding, deteksi dini pencemaran, dll. Pada tingkatan ini, pendidikan
tentang kesehatan sangat diperlukan, karena seperti yang kita ketahui, karena rendahnya
pendidikan dan kesadaran masyarakat mengenai penyakit, terkadang susah bagi masyarakat
untul mendeteksi penyakit yang di derita, sehingga penyakit tersebut akan bertambah parah,
karena keterlambatan penanganan.
Contoh :
Pada ibu hamil yang sudah terdapat tanda tanda anemia diberikan tablet Fe dan
dianjurkan untuk makan makanan yang mengandung zat besi
Mencari penderita dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan . Misalnya
pemeriksaan darah, rontgent paru.
Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita penyakit menular
(contact person) untuk diawasi agar bila penyakitnya timbul dapat segera diberikan
pengobatan.
Melaksanakan skrining untuk mendeteksi dini kanker

Pembatasan kecacatan (dissability limitation)


Merupakan tindakan penatalaksanaan terapi yang adekuat pada pasien dengan
penyakit yang telah lanjut untuk mencegah penyakit menjadi lebih berat, menyembuhkan
pasien, serta mengurangi kemungkinan terjadinya kecacatan yang akan timbul.
Disability limitation atau pembatasan kecacatan merupakan tingkatan dimana
seseorang yang telah terserang penyakit dan cenderung mengakibatkan kecacatan di tindak
lanjuti dengan membatasi ruang gerak kecacatan yang dapat dialaminya, serta untuk
menguragi kemungkinan terjadinya kecacatan (apabila belum terlalu parah). Contohnya:
pembatasan terhadap terjadinya komplikasi penyakit di dalam tubuh, amputasi pada salah
satu bagian tubuh pasien dengan tujuan agar penyakitnya tidak menjalar ke bagian tubuh
yang lainnya, dan lain-lain.
Contoh :
Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh dan tak terjadi
komplikasi, misalnya menggunakan tongkat untuk kaki yang cacat
Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan dengan cara tidak melakukan
gerakangerakan yang berat atau gerakan yang dipaksakan pada kaki yang cacat.
Perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk dimungkinkan pengobatan dan
perawatan yang lebih intensif.

Pemulihan kesehatan (rehabilitation)


Merupakan tindakan yang dimaksudkan untuk mengembalikan pasien ke masyarakat
agar mereka dapat hidup dan bekerja secara wajar, atau agar tidak menjadi beban orang lain.
Rehabilitasi merupakan tingkatan dimana seseorang yang baru sembuh dari
penyakitnya, baik itu sembuh sempurna maupun sembuh dengan kecacatan diberikan
motivasi, latihan, dan diberikan keterampilan agar dapat melakukan kegiatan seperti biasanya
dengan keadaan tubuh yang tidak normal misalnya, serta agar lebih produktif dan mandiri,
dan tidak lupa juga agar mengembalikan rasa percaya dirinya yang telah hilang setelah
memiliki tubuh yang abnormal. Rehabilitasi yang dapat dilakukan adalah rehabilitasi fisik,
mental, dan sosialnya. Contohnya: terapi, rehabilitasi narkoba, rehabilitasi PSK, dan
rehabilitasi bagi korban kekerasan.
Contoh :
Mengembangkan lembaga-lembaga rehabilitasi dengan mengikutsertakan masyarakat.
Misalnya, lembaga untuk rehabilitasi mantan PSK, mantan pemakai NAPZA dan lain-
lain.
Menyadarkan masyarakat untuk menerima mereka kembali dengan memberikan
dukungan moral setidaknya bagi yang bersangkutan untuk bertahan. Misalnya
dengan tidak mengucilkan mantan PSK di lingkungan masyarakat tempat ia tinggal.
Mengusahakan perkampungan rehabilitasi sosial sehingga setiap penderita yang telah
cacat mampu mempertahankan diri.
Penyuluhan dan usaha-usaha kelanjutan yang harus tetap dilakukan seseorang setelah
ia sembuh dari suatu penyakit.

Pencegahan yang dapat dilakukan pada pasien yang menderita TB dan keluarganya
(seperti pada pemicu).
a. Pencegahan primer
- Promosi kesehatan dengan pendekatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS).
Perbaikan kondisi keadaan rumah dan lingkungan
Meningkatkan status gizi
Memperbaiki perilaku batuk, misalnya memakai masker (APD)
- Proteksi spesifik : memberikan imunisasi pada anak yang test tuberkulinnya
(-)

b. Pencegahan sekunder
Terapi untuk Pasien
Medikamentosa : OAT selama minimal 6 bulan (untuk katagori I)
Terapi OAT pada pasien dengan isteri sebagai PMO dengan sistem Direcly
Observed Treatment Shortcours (DOTS)
Perbaikan status gizi (diet TKTP) yang disesuaikan dengan berat badan ideal
dan istirahat dirumah agar tidak menular ke orang lain.
Faktor internal : Edukasi memperbaiki pengetahuan tentang TB,
mengajarkan perilaku batuk, penggunaan masker dan menyuruh isteri
sebagai PMO.
Faktor eksternal: memperbaiki ventilasi rumah (dengan membuka pintu dan
jendela khususnya pada pagi hari).
Motivasi keluarga agar mendukung proses pengobatan pasien
Test screening HIV pada pasien

Terapi untuk Keluarga


Terapi INH 10 mg/Kg BB/hari untuk anak dengan test tuberkulin (+) sebagai
profilaksis selama 6 bulan
Terapi INH 5 -10 mg/KgBB/hari selama 6 bulan untuk anak dengan kontak
erat dengan penderita TB dengan BTA (+) setelah selesai imunisasi BCG
Proteksi diri dan edukasi untuk isteri dan keluarga pasien
3. Perilaku Kesehatan
Perilaku Kesehatan
Menurut Notoatmodjo, respons seseorang terhadap rangsangan atau objek-objek yang
berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi sehat-sakit
adalah merupakan suatu perilaku kesehatan (healthy behavior). Ringkasnya perilaku
kesehatan itu adalah semua aktivitas seseorang yang berkaitan dengan pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan baik yang dapat diamati (observable) maupun yang tidak dapat
diamati( unobservable). Pemeliharaan kesehatan ini meliputi pencegahan dan perlindungan
diri dari penyakit dan masalah kesehatan lain, meningkatkan kesehatan, dan mencari
penyenbuhan apabila sakit. Dengan demikian, perilaku kesehatan bisa dibagi dua, yaitu:
1. Perilaku orang sehat agar tetap sehat dan meningkat, sering disebut dengan perilaku
sehat (healthy behavior) yang mencakup perilaku-perilaku dalam mencegah atau
menghindar dari penyakit dan penyebab masalah kesehatan (perilaku preventif), dan
perilaku dalam mengupayakan meningkatnya kesehatan (perilaku promotif).
2. Perilaku orang yang sakit atau telah terkena masalah kesehatan, untuk memperoleh
penyembuhan atau pemecahan masalah. Perilaku ini disebut perilaku pencarian
pelayanan kesehatan (health seeking behavior). Perilaku ini mencakup tindakan-
tindakan yang diambil seseorang untuk memperoleh penyembuhan atau terlepas dari
masalah kesehatan yang dideritanya. Pelayanan kesehatan yang dicari adalah fasilitas
kesehatan moden (rumah sakit, puskesmas, poliklinik dan sebagainya) maupun
tradisional (dukun, sinshe, paranormal).

Menurut Becker dalam Notoatmodjo, beliau membagikan perilaku kesehatan menjadi


tiga, yaitu:
1. Perilaku sehat (healthy behavior)
Perilaku atau kegiatan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan, antara lain:
Makan dengan menu seimbang (appropriate diet)
Kegiatan fisik secara teratur dan cukup.
Tidak merokok serta meminum minuman keras serta menggunakan narkoba.
Istirahat yang cukup.
Pengendalian atau manajemen stress.
Perilaku atau gaya hidup pasitif.

2. Perilaku sakit ( Illness behavior)


Perilaku sakit adalah tindakan atau kegiatan seseorang yang sakit atau terkena
masalah kesehatan pada dirinya atau keluarganya, untuk mencari penyembuhan, atau untuk
mengatasi masalah kesehatan yang lainnya. Tindakan yang muncul pada orang sakit atau
anaknya sakit adalah:
Didiamkan saja, dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.
Mengambil tindakan dengan melakukan pengobatan sendiri (self treatment) melalui
cara tradisional atau cara moden.
Mencari penyembuhan atau pengobatan keluar yakni ke fasilitas pelayanan kesehatan
moden atau tradisional.

3. Perilaku peran orang sakit (the sick role behavior)


Becker mengatakan hak dan kewajiban orang yang sedang sakit adalah merupakan
perilaku peran orang sakit (the sick role behavior). Perilaku peran orang sakit antara lain:
Tindakan untuk memperoleh kesembuhan.
Tindakan untuk mengenal atau mengetahui fasilitas kesehatan yang tepat untuk
memperoleh kesembuhan.
Melakukan kewajibannya sebagai pasien
Tidak melakukan sesuatu yang merugikan bagi proses pnyembuhannya.
Melakukan kewajiban agar tidak kambuh penyakitnya, dan sebagainya.
4. Alat untuk penilaian keluarga
Pengobatan penyakit TB memerlukan waktu selama 6 bulan, dan selama masa
pengobatan tersebut banyak penderita yang menghentikan pengobatan ditengah jalan atau
drop out (defauledt). Kasus drop out ini memberi dampak peningkatan kasus dengan kuman
resistensi terhadap pengobatan standar atau yang disebut dengan multidrug-resistant (MDR).
Banyak faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan TB antara lain
kepatuhan, pendidikan, persepsi, status sosial ekonomi penderita, petugas kesehatan di
puskesmas. Pada salah satu jurnal penelitian menyebutkan bahwa keyakinan dapat sembuh
dari TB, tingkat keparahan penyakit dengan adanya infeksi HIV, dan dukungan dari keluarga
dan tenaga kesehatan juga merupakan faktor dari kepatuhan suatu pengobatan TB.
Dukungan keluarga memegang peran penting dalam keberhasilan pengobatan pasien
TB paru dengan cara selalu mengingatkan penderita untuk selalu makan obat tepat waktu dan
berobat secara teratur, pengertian yang dalam terhadap penderita yang sedang sakit dan
memberi semangat agar tetap rajin berobat. Keluarga juga memilik fungsi dalam perawatan
kesehatan, sehingga keluarga merupakan unit terdekat dalam pemantauan kesehatan tiap
anggotanya.
Untuk menilai persepsi anggota keluarga dari fungsi keluarga dengan memeriksa
kepuasannya terhadap hubungan keluarga dikembangkan instrumen metode penilaian antara
lain yaitu : APGAR Keluarga ( Family APGAR) dan SCREEM.
a. APGAR Keluarga
Dengan metode APGAR ini dapat dilakukan penilaian atau screening fungsi
keluarga secara cepat dan dalam waktu yang singkat.
Alat ini digunakan untuk mengukur level kepuasan hubungan dalam keluarga.
Pada metode ini dilakukan penilaian terhadap lima fungsi pokok keluarga, yaitu :
1. Adaptasi (Adaptation)
Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga
yang lain, serta menerima, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang
lain, dalam hal ini berarti keluarga ikut serta membantu dan memberi
dukungan pasien untuk patuh minum obat.

2. Kemitraan (Partnership)
Yang dinilai adalah tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap
berkomunikasi, musyawarah dalam mengambil suatu keputusan dan atau
menyelesaikan suatu masalah yang sedang dihadapi dengan anggota keluarga
lainnya.
Menggambarkan komunikasi, saling mengisi antara anggota keluarga dalam
segala masalah yang dialami oleh anggota keluarga tersebut, berarti keluarga
membantu pasien untuk ikut berbagi dalam berbagai masalah termasuk
masalah dalam pengobatan, kepatuhan minum obat ataupun penanggulangan
TB paru.

3. Pertumbuhan (Growth)
Yang dinilai adalah tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan
yang diberikan keluarga dalam mematangkan pertumbuhan dan atau
kedewasaan setiap anggota keluarga.
Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan
anggota keluarga. Keluarga mampu menerima dan mendukung kegiatan pasien
untuk selalu minum obat TB.

4. Kasih sayang (Affection)


Yang dinilai adalah tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih sayang
serta interaksi emosional yang berlangsung dalam keluarga.
Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga.
Interaksi dengan keluarga dapat berupa informasi, perhatian, dorongan dan
bantuan dari PMO dapat memunculkan kualitas hubungan yang dapat
mempengaruhi kesembuhan penderita. Pernyataan tersebut dapat disimpulkan
bahwa adanya kasih sayang dan interaksi dari keluarga kepada penderita dapat
meningkatkan kepatuhan pengobatan sehingga pasien bisa sembuh dari
penyakitnya.

5. Kebersamaan (Resolve)
Yang dinilai adalah tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebersamaan
dalam membagi waktu, kekayaan dan ruang antar anggota keluarga.
Keluarga juga mampu menjadi tempat mengungkapkan emosi dan meluangkan
waktu bersama terkait dengan TB paru.

Untuk memudahkan penilaian, APGAR keluarga ini dapat dituangkan dalam satu
formulir isian sebagai berikut :
SERING/ KADANG- JARANG/
NO PERNYATAAN
SELALU KADANG TIDAK
1. Saya puas bahwa saya dapat kembali
kepada keluarga saya, bila saya
menghadapi masalah.

2. Saya puas dengan cara-cara keluarga saya


membahas serta membagi masalah dengan
saya.

3. Saya puas bahwa keluarga saya menerima


dan mendukung keinginan saya
melaksanakan kegiatan dan ataupun arah
hidup yang baru.

4. Saya puas dengan cara-cara keluarga saya


menyatakan rasa kasih sayang dan
menanggapi emosi.

5. Saya puas dengan cara keluarga saya


membagi waktu bersama.

Untuk setiap jawaban sering / selalu diberikan nilai 2, jawaban kadang-kadang diberi
nilai 1, sedangkan jawaban jarang / tidak pernah diberikan nilai 0, kemudian lima nilai
tersebut dijumlah, selanjutnya di nilai debagai berikut :
1. 7 10 berarti keluarga sehat, dalam arti setiap anggota keluarga saling
mendukung satu sama lain.
2. 4 6 berarti keluarga kurang sehat, dalam arti hubungan antar anggota keluarga
masih perlu untuk lebih ditingkatkan.
3. 0 3 berarti keluarga tidak sehat, dalam arti sangat memerlukan banyak
perbaikan untuk lebih meningkatkan hubungan antar anggota keluarga.

b. SCREEM
Alat ukur SCREEM ini penting untuk menilai kapasitas / kemampuan untuk
berpartisipasi dalam pelayanan kesehatan atau mengatasi krisis.
Faktor dibawah ini dapat dipertimbangkan sebagai sumber atau kelainan /
patologi.

SUMBER PATOLOGI KETERANGAN


SOCIAL / SOSIAL
Interaksi sosial yang baik antar Terisolasi dari
anggota keluarga. Anggota lingkungan diluar
keluarga mempunyai hubungan keluarga. Problem
baik dengan lingkungan sosial melebihi tanggung
disekitarnya seperti teman, jawab.
menjadi anggota organisasi atau
kelompok-kelompok yang ada
dalam masyarakat.

CULTURAL / BUDAYA
Kepuasan atau kebanggaan Etnis minoritas
terhadap budayanya.

RELIGIOUS / AGAMA
Agama akan memberikan Dogma yang kaku /
pengalaman spiritual yang baik. ritual ritual

ECONOMY / EKONOMI
Kemantapan / stabilitas ekonomi Kesulitan ekonomi /
yang cukup untuk memberi rencana ekonomi yang
kepuasan yang layak terhadap tidak benar.
status keuangan dan kemampuan
untuk memenuhi tuntutan
kebutuhan / tuntutan ekonomi.

EDUCATION / PENDIDIKAN
Pendidikan anggota keluarga Keterbatasan untuk
yang memadai sehingga mampu mengerti /
memecahkan atau memahami memahami.
sebagian besar dari masalah-
masalah yanga ada dalam
keluarga.
MEDICAL / KESEHATAN
Memiliki jaminan pelayanan Tidak memiliki
kesehatan atau asuransi jaminan pelayanan
kesehatan. kesehatan atau
asuransi kesehatan.

Setiap faktor dinilai positif bila ada masalah dan negatif bila tidak ada masalah
kemudian dihitung berapa yang positif.
Bila jumlah positifnya :
5 6 berarti fungsi keluarga tidak sehat
3 4 berarti fungsi keluarga kurang sehat
0 2 berarti fungsi keluarga sehat

5. Hubungan dokter-pasien
Merujuk pada surat edaran Dirjen Yanmed No. YM.02.04.3.5.2504 tahun 1997
tentang pedoman hak dan kewajiban pasien. Dokter dan rumah sakit pada butir no 9 pasien
berhak mendapat informasi yang meliputi :
1. Penyakit yang diderita
2. Tindakan medis apa yang hendak dilakukan
3. Kemungkinan penyulit sebagai akibat tindakan tersebut dan tindakan untuk
mengatasinya
4. Alternative terapi lainnya
5. Prognosisnya
6. Perkiraan biaya pengobatan
6. Jenis jenis Rujukan
Sistem Kesehatan Nasional membedakannya menjadi dua macam yakni :
1. Rujukan Kesehatan
Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya pencegahan penyakit dan peningkatan
derajat kesehatan. Dengan demikian rujukan kesehatan pada dasarnya berlaku untuk
pelayanan kesehatan masyarakat (public health service). Rujukan kesehatan dibedakan atas
tiga macam yakni rujukan teknologi, sarana, dan operasional (Azwar, 1996).
Rujukan kesehatan yaitu hubungan dalam pengiriman, pemeriksaan bahan atau
specimen ke fasilitas yang lebih mampu dan lengkap. Ini adalah rujukan uang menyangkut
masalah kesehatan yang sifatnya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan kesehatan
(promotif). Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana dan opersional (Syafrudin,
2009).

2. Rujukan Medik
Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya penyembuhan penyakit serta pemulihan
kesehatan. Dengan demikian rujukan medik pada dasarnya berlaku untuk pelayanan
kedokteran (medical service). Sama halnya dengan rujukan kesehatan, rujukan medik ini
dibedakan atas tiga macam yakni rujukan penderita, pengetahuan dan bahan bahan
pemeriksaan (Azwar, 1996). Menurut Syafrudin (2009), rujukan medik yaitu pelimpahan
tanggung jawab secara timbal balik atas satu kasus yang timbul baik secara vertikal maupun
horizontal kepada yang lebih berwenang dan mampu menangani secara rasional. Jenis
rujukan medic antara lain:
Transfer of patient.
Konsultasi penderita untuk keperluan diagnosis, pengobatan, tindakan operatif dan
lain lain.
Transfer of specimen
Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap.
Transfer of knowledge / personal.
Pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk meningkatkan mutu layanan
setempat.

PEMBAHASAN

1. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, pasien


didiagnosa menderita TB Paru.
2. Pasien diberikan penatalaksanaan dengan pemberian obat TB Paru, dengan 2 lini. Yang
dimana lini 1 diberikan selama 2 bulan dan dilanjutkan dengan terapi lini ke 2 selama 4
bulan. OAT pada lini 1 diberikan : INH (Isoniazid), Rifampisin, pirazinamid,
streptomisin, etambutol. OAT pada lini 2 diberikan : Kanamisin, Amikasin, kuinolon.
3. Faktor Predisposisi nya :
a. Pasien aktif merokok
b. Pasien tinggal dan beraktivitas di lingkungan pabrik, yang dimana terkontaminasi dari
asap.
c. Penggunaan OAT yang tidak akurat
4. Pengobatan Non Farmakologi pada TB paru diberikan Tahitian Noni Bioactive Beverage
(TNBB) yang telah dilakukan penelitian secara medis yaitu double blind placebo yang
menghasilkan 14 Human Clinical Trial dan 200 hak paten. (WO/2006/104892) dengan
metode : Morinda Citrifolia Based Antifungal Formultions And Methods
5. Progonis
Baik bila pasien mengkonsumsi OAT secara Efektif
6. Perkiraan Biaya Obat.
Pemberiaan OAT diatur oleh Negara dalam peraturan KEMENKES, yang dimana dapat
diambil secara GRATIS di Puskesmas terdekat atau Rumah Sakit Rujukan regionbal data
domisili pasien dengan program jaminan kesehatan : Jamkesda,jamkesmas,JKN, KIS,
dan BPJS