Anda di halaman 1dari 14

MODIFIKASI SISTEM KABEL UTAMA JEMBATAN GANTUNG

DENGAN KLEM UNTUK MENINGKATKAN KEKAKUAN


STRUKTURAL
(MODIFICATION OF MAIN CABLE SYSTEM OF SUSPENSION
BRIDGES BY CLAMP TO INCREASE STRUCTURAL STIFFNESS)
Lanneke Tristanto1), Gatot Sukmara2)
Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan
Jl. A.H. Nasution 264, Bandung 40294
e-mail: 1) lanneketristanto@gmail.com, 2)gatot.sukmara@pusjatan.pu.go.id
Diterima: 27 Mei 2016; direvisi: 30 Mei 2016; disetujui: 22 Juni 2016

ABSTRAK

Jembatan gantung terdiri atas elemen utama mendasar: kabel utama, gelagar pengaku, menara dan blok angkur.
Sistem kabel utama memikul beban terbagi rata simetris melalui bentuk parabolik klasik sehingga tidak terjadi
defleksi, sedangkan fleksibilitas lentur akibat beban hidup asimetris dipikulkan pada gelagar pengaku. Makalah ini
menjelaskan cara modifikasi sistem kabel utama untuk mengurangi fleksibilitas lentur dan defleksi akibat beban
hidup asimetris dan meningkatkan kekakuan struktural. Cara pertama adalah sistem klem kabel utama tunggal di
tengah bentang yang mengikat kabel utama pada gelagar pengaku, yang me-reduksi defleksi maksimum sekitar 30%
pada dimensi kabel utama dan gelagar pengaku yang dipertahankan sama. Sistem klem kabel utama tunggal lazim
digunakan pada jembatan gantung bentang sangat panjang. Cara ke dua adalah sistem klem kabel utama ganda
yang meningkatkan kekuatan kabel dan dengan demikian mereduksi defleksi maksimum sekitar 60%. Sistem klem
kabel ganda telah digunakan pada jembatan bentang panjang seperti jembatan Barito di Kalimantan. Dengan
menggunakan prinsip statika sederhana yang mengawali inovasi klem, akan ditunjukkan bagaimana peningkatan
kekakuan struktural terwujud, dengan syarat klem bekerja efektif.

Kata kunci: jembatan gantung, sistem klem kabel utama tunggal, sistem klem kabel utama ganda, defleksi,
kekakuan struktural

ABSTRACT

A suspension bridge comprises of principal main elements, i.e. main cable, stiffening girder, tower and anchorage
block. The main cable system carries symmetrical uniform distributed load through the classical parabolic shape
resulting zero deflection, while the stiffening deck girder carries the bending flexibility caused by unsymmetrical live
load. This paper describes the modification methods for the main cable system in order to reduce bending flexibility
and deflection caused by anti symmetrical live load and thereby increasing structural stiffness. The first method is
clamped single main cable system that ties the main cable to the stiffening girder at center span, reducing maximum
deflection around 30% while enhancing main cable and stiffening girder dimensions. This clamped single main
cable system is generally used in super long span suspension bridging. The second method is the clamped twin main
cable system that increases cable strength and thereby reducing bending flexibility and deflection around 60%. The
clamped twin cable system is used in long span suspension bridging, like the Barito bridge Kalimantan. Using
simple principles of statics that initiated the clamp innovation, it is shown how structural stiffness increase is
obtained, providing the clamp is working effectively.

Keywords: suspension bridge, clamped main cable system, clamped twin cable system, deflection, structural
stiffness

Modifikasi Sistem Kabel Utama Jembatan Gantung Dengan Klem Untuk Meningkatkan Kekakuan Struktural
(Lanneke Tristanto, Gatot Sukmara) 43
PENDAHULUAN Walaupun kabel ganda memerlukan lebih
banyak bahan kabel dibanding kabel
Jembatan gantung memikul beban parabolik klasik, tetapi kinerja terhadap
terbagi rata simetris seperti berat sendiri lewat beban hidup sangat baik, dan keperluan
bentuk parabolik kabel utama tanpa dimensi gelagar pengaku menurun sehingga
menimbulkan defleksi, tetapi bersifat fleksibel
beban mati (bm) berkurang. Bila beban
terhadap beban antisimetris akibat beban hidup
(bh). Defleksi maksimum terjadi bila beban hidup ditempatkan pada setengah bentang
hidup antisimetris berada pada setengah bentang utama, maka profil funikuler langsung
utama, karena kabel utama mengalami defleksi menerima beban tambahan dan defleksi
arah memanjang di tengah bentang yang seesaw lebih kecil (Irvine 1989).
meningkatkan defleksi vertikal pada kedua Manfaat peningkatan kekakuan
bagian setengah bentang utama lantai yang struktural dengan modifikasi sistem kabel
dikenal sebagai defleksi seesaw yaitu ke bawah ganda telah diterapkan pada jembatan Barito
dalam setengah bentang dengan beban lalu di Kalimantan Selatan yang merupakan
lintas dan ke atas dalam setengah bentang tanpa rangkaian dua jembatan gantung dengan
beban lalu lintas. panjang total 1.080 m.
Karakteristik deformasi dapat diperbaiki
Sistem klem pada asal mulanya
bila kabel utama tertahan oleh gelagar
pengaku/lantai terhadap perpindahan diketemukan berdasarkan perhitungan
memanjang di tengah bentang. Sistem jembatan statika sederhana dan digunakan sebagai
gantung dengan klem tengah bentang akan perlengkapan untuk memperkaku jembatan
mengikat kabel utama ke lantai di tengah gantung pejalan kaki (Irvine 1988).
bentang. Bentang gelagar pengaku dapat Perkembangan teknologi sedemikian pesat
dianggap setengah bentang utama () dalam dan sekarang sistem klem lazim digunakan
perhitungan reduksi defleksi seesaw yaitu ke pada jembatan gantung bentang panjang
bawah dalam seperempat bentang dengan beban (Gimsing and Georgakis 2012).
lalu lintas dan keatas dalam seperempat bentang
tanpa beban lalu lintas Dalam hal ini lantai KAJIAN PUSTAKA
menerus didukung oleh perletakan tetap pada
sisi menara/blok angkur kiri dan oleh perletakan Klasifikasi
bergerak dalam arah memanjang pada sisi Klasifikasi jembatan gantung dilakukan
menara/blok angkur kanan. sesuai jumlah bentang apakah bentang tunggal,
Cara modifikasi dengan kabel ganda tiga bentang dengan dua menara, bentang
(twin cable) lebih bermanfaat dalam majemuk dengan tiga atau lebih banyak menara
meningkatkan kekakuan terhadap beban sesuai Gambar 1. Jembatan gantung dengan tiga
hidup asimetris. Bentang utama terbagi bentang adalah yang paling umum digunakan.
dalam bagian-bagian akibat peningkatan Pada jembatan gantung bentang majemuk,
jumlah kabel sehingga diperoleh kombinasi perpindahan horizontal dari puncak menara
antara kabel gantung murni dan kabel beruji dapat meningkat akibat kondisi pembebanan
murni yang diklem bersama di tengah sehingga perpindahan tersebut perlu
bentang. Hasilnya merupakan peningkatan dikendalikan.
gaya horizontal dan kekakuan kabel.

44 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 33 No. 1 Januari-Juni 2016: 43-56


Bentang tunggal Tiga bentang Bentang majemuk

Gambar 1. Klasifikasi sesuai jumlah bentang

Prinsip sistem klem kabel utama tunggal pendek. Klem tengah tertahan dalam arah
Dalam hal ini lantai menerus didukung memanjang pada kondisi beban hidup bervariasi,
oleh perletakan tetap pada sisi menara/blok tetapi gerakan memanjang klem tengah terjadi
angkur kiri dan oleh perletakan bergerak dalam akibat perubahan temperatur mengingat lantai
arah memanjang pada sisi menara/blok angkur memanjang dan memendek terhadap perletakan
kanan. Karena klem di tengah mengikat kabel tetap. Gerakan termal proporsional dengan
utama ke lantai, terjadi gaya aksial T dalam panjang muai sehingga reduksi gerakan
bagian lantai kiri dan bagian lantai ini harus diperoleh bila perletakan tetap berada pada salah
dianggap sebagai bagian sistem kabel sesuai satu sisi menara. Kelayakan solusi ini tergantung
Gambar 2. Efisiensi meningkat bila klem tengah pada intensitas gaya horizontal yang disalurkan
berada dalam sistem dengan puncak menara oleh lantai, mengingat akan terjadi lentur dalam
tertahan terhadap perpindahan memanjang. kaki menara dan bangunan bawah/pilar yang
Dengan demikian klem lebih efisien pada mendukungnya (Gimsing, and Georgakis 2012).
jembatan gantung dengan bentang samping

Gambar 2. Sistem klem kabel utama tunggal, perletakan tetap : kiri, perletakan bergerak :
kanan

Prinsip sistem klem kabel utama ganda Dengan demikian diperoleh jembatan yang
Cara modifikasi dengan penambahan ringan dan kaku dengan karakteristik
kabel, membuat kombinasi antara kabel dinamik yang baik. Bila beban hidup
gantung murni dan kabel beruji murni. ditempatkan pada setengah bentang utama,
Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan maka profil funikuler langsung menerima
gaya horizontal (H) dan kekakuan kabel beban tambahan tanpa terjadi defleksi besar
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3. (Irvine 1989).

Gambar 3. Sistem klem kabel utama ganda

Modifikasi Sistem Kabel Utama Jembatan Gantung Dengan Klem Untuk Meningkatkan Kekakuan Struktural
(Lanneke Tristanto, Gatot Sukmara) 45
Penerapan Sistem klem kabel utama tunggal
Dengan perkembangan teknologi, kabel utama ke gelagar pengaku yang
sistem klem telah disempurnakan dan mewujudkan efek kabel beruji dalam
digunakan pada jembatan gantung super mereduksi bentang lentur dan defleksi
panjang dengan bentang utama yang maksimum sehingga diperoleh peningkatan
mencapai 1.000 m (Gambar 4(a)). Sistem ini kekakuan struktural. Konsekuensi
memberikan dua keuntungan yaitu pelimpahan gaya akibat interaksi gelagar
peningkatan kekakuan dan dapat pengaku dan kabel utama harus diakomodasi
mempertahankan desain orisinal untuk kabel melalui perletakan gelagar pengaku
dan gelagar pengaku. Perlu diingat bahwa (perletakan bergerak dan tetap) dan melalui
dimensi kabel utama dengan penampang puncak menara ke kerangka atau fondasi
besar seperti pada Gambar 4(b) tidak mudah menara. Sistem klem ini telah diterapkan
dan tidak layak untuk digabung dalam suatu pada Jembatan Lillebaelt di Denmark
sistem kabel ganda. Sistem klem di tengah dengan bentang utama 700 m, Bisan Seto di
bentang utama sangat berperan dan Jepang dengan bentang utama 990 m, 25th
memerlukan pendetailan struktural yang April di Portugal dengan bentang total 2.277
cermat untuk mengikat dan mempersatukan m, dan Storebaelt di Denmark dengan
kabel utama pada gelagar pengaku dengan bentang utama 1624 m (Chen and Lian
modifikasi setempat (Gambar 4(a) dan 2013; Khaled 2006).
Gambar 5) agar terjadi pelimpahan gaya dari

Gambar 4. (a) Sistem klem kabel utama tunggal dengan bentang utama 1.145 m pada Halogaland
Suspension Bridge di Norwegia (Jensen 2013), (b) Penampang kabel utama Kammon
Bridge dengan bentang total 1.082 m (Mitsui 1978)

Gambar 5. Klem arah memanjang antara gelagar pengaku dan kabel utama dengan beruji
(Okukawa, Suzuki and L. Harazaki 2000)

46 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 33 No. 1 Januari-Juni 2016: 43-56


Penerapan sistem klem kabel utama
majemuk Detail klem
Kasus pertama dengan Detail klem merupakan hubungan
H*=(1/8).wl2/d adalah jembatan gantung terikat (tied connection) agar klem dapat
konvensional. Kasus kedua adalah kabel berfungsi efektif dalam modifikasi sistem
utama ganda dengan H=9H*/8 yang pernah kabel. Program perangkat lunak memiliki
diterapkan di Kalimantan (Jembatan Barito, fasilitas tie untuk simulasi klem yang tidak
Gambar 6). Kasus ketiga dengan H=1,17H* merupakan titik simpul (nodal point) biasa
pernah diterapkan di Australia. Kasus dalam model elemen hingga. Efektivitas
keempat dengan H=4H*/3 merupakan klem pada Gambar 4(a) mencapai sekitar
double fan cable-stayed bridge (paten 80% (Gimsing and Georgakis 2012).
Bollman truss 1855 Gambar 7). Sistem Sehingga desain teoritis perlu penyesuaian
kabel ganda majemuk layak untuk bentang12 cm

2 cm
8 cm

3 cm ke keadaan aktual.
3 cm

0.5 cm
2 cm

3 cm

panjang dengan bentang utama 350T 3m, yang


2 cm 3 cm 2 cm
T4
3 cm

memiliki penampang kabel tidak terlalu 12 cm 8 cm 3 cm 2 cm

besar.

tebal marking = 2.5 cm

Tampak atas Tampak samping

Gambar 6. Sistem twin cable Jembatan Barito (Kalimantan Selatan), bentang total 1.080m
(Indonesia 2013)

Modifikasi Sistem Kabel Utama Jembatan Gantung Dengan Klem Untuk Meningkatkan Kekakuan Struktural
(Lanneke Tristanto, Gatot Sukmara) 47
Gambar 7. Modifikasi profil kabel utama yang bertambah kaku (Irvine 1989)

Teori elastis vs teori defleksi


Keterangan :
Perbedaan antara kedua teori tersebut Mo(x) = Momen lentur akibat beban hidup
adalah bila lendutan kabel utama akibat beban yang bekerja pada baloksederhana
hidup dipertimbangkan (OConnor 1970). dengan bentang sama seperti gelagar
Dalam Gambar 8 ditunjukkan gaya dan lendutan pengaku
y(x) = Ledudukan kabel
akibat beban pada jembatan gantung. Beban
(x) = Lendutan kabel dan gelagar pengaku
hidup p dipikul bersama oleh kabel utama dan akibat beban hidup
gelagar pengaku. Momen lentur gelagar pengaku Hw = Tegangan tarik horizontal kabel
M(x) akibat pembebanan beban hidup berkurang akibat beban mati w
oleh pengaruh gaya horizontal kabel Hp dalam Hp = Tegangan tarik horizontal kabel
persamaan (1), sedangkan beban mati terbagi akibat beban hidup p
rata (w) dipikul kabel utama. M(x) berkurang
oleh pengaruh Hp dan Hw akibat defleksi (x)
dalam persamaan (2) (Okukawa, Suzuki, and L.
Harazaki 2000).
Teori elastis:
M(x) = Mo (x) Hp y(x) ................................. (1)
Teori defleksi :
M(x) = Mo (x) - Hp y(x) - (Hw + Hp) (x) ... (2)
Gambar 8. Deformasi dan gaya dari jembatan
gantung (Okukawa, Suzuki and
L.Harazaki 2000)

48 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 33 No. 1 Januari-Juni 2016: 43-56


HIPOTESIS bentang l kanan (defleksi seesaw) pada
Gambar 9 yang dipikul oleh gelagar pengaku
Memodifikasi sistem klem kabel utama sebesar (1-)(p) dan kabel utama sebesar
pada jembatan gantung akan mereduksi defleksi (p).
seesaw serta meningkatkan kekakuan struktural Nilai dapat dihitung berdasarkan kekakuan
jembatan gantung. gelagar utama (EI) sebagai berikut:
Beban p simetris dan berat sendiri w dipikul
METODOLOGI kabel dengan gaya horizontal
H* ~ {(w+p/2) l 2}/8d
Analisis defleksi seesaw akibat beban
asimetris yang sama dilakukan pada bentang yang merupakan pendekatan dengan
tipikal 100 m untuk sistem kabel utama dengan l.H* ~ M.
atau tanpa klem. Analisis kasus jembatan Pada seperempat bentang
gantung dengan bentang utama 100 m meliputi M= {p/2 (l /2)2}/8
tiga tipe, yaitu tipe 1 berupa kabel utama tunggal dan defleksi kabel
tanpa klem, tipe 2 berupa kabel utama tunggal l = [{p/2 (l /2)2}/8] H* = (p/8)d/(w+p/2)
dengan klem, dan tipe 3 berupa kabel utama
ganda dengan klem. yang direduksi dengan menjadi
Selanjutnya analisis defleksi seesaw maksimum l = (p/8)d/(w +p/2),
dilakukan dengan analisis statika dan serta defleksi gelagar sebesar
membandingkan persentase reduksi antara tipe l = (5/384)p(l /2)4/EI= 5pl 4/(12.288 EI)
1, tipe 2, dan tipe 3. direduksi dengan (1-) menjadi
l = 5(1-)pl 4/(12.288 EI).
Berdasarkan teori kompatibilitas titik pertemuan,
HASIL DAN ANALISIS defleksi kabel l sama dengan defleksi gelagar
l atau dengan persamaan
Pendekatan analisis beban hidup asimetris
(p/8)d/(w +p/2) = 5(1-)pl 4/(12.288 EI)
untuk kabel konvensional
Pada jembatan gantung yang diperkaku, akan diperoleh nilai . Maka momen maksimum
beban hidup simetris dipikul oleh kabel utama, dalam l gelagar adalah
sedangkan beban hidup asimetris dipikul = (1-)(p/2)(l /2)2/8 = (1/64)(1-)pl 2
bersama oleh kabel utama dan gelagar pengaku
sesuai teori kompatibilitas defleksi yang dan gaya kabel menjadi
dijelaskan dalam uraian berikut (Irvine, 1989). H = (w + p/2) l 2/(8d)
Beban hidup asimetris p pada bentang l kiri Manipulasi rumus statika sederhana di atas
diperhitungkan sebagai beban simetris p pada berdasarkan teori elastik dan teori defleksi
seluruh bentang l (yang dipikul kabel utama), (persamaan 1 dan persamaan 2) digunakan untuk
perhitungan praktis atau disebut conceptual
ditambah p pada bentang l kiri dan -p pada design (Grigorjeva and Juozapaitis 2013).

Modifikasi Sistem Kabel Utama Jembatan Gantung Dengan Klem Untuk Meningkatkan Kekakuan Struktural
(Lanneke Tristanto, Gatot Sukmara) 49
Gambar 9. Beban asimetris pada jembatan gantung dengan kabel konvensional

Kabel utama tunggal konvensional pada anggapan balok sederhana yang


Kabel utama tunggal konvensional dipikul oleh kabel utama dengan komponen
dengan fokus d pada tengah (l) bentang gaya horizontal kabel
horizontal, bila dibebani beban terbagi rata H * = (w l2 )/8d
w akan menghasilkan momen maksimum seperti ditunjukkan pada Gambar 10.
sebesar
M 0 =(1/8) w l2

Gambar 10. Kabel utama tunggal konvensional

Modifikasi kabel utama ganda pada potongan 3l /8, sehingga momen kiri
Kabel utama ganda dengan dan kanan menjadi
kedalaman focus d pada 3l/8, dengan = (9/8) w l 2 /8
klem tengah bentang yang membagi Sehingga meningkatkan gaya horizontal
bentang l dalam 3 bagian (3l /8+2l /8+3 sebesar
l/8), pada beban terbagi rata w H = 9/8H *
menghasilkan momen maksimum sebesar seperti ditunjukkan pada Gambar 11.
= (9/8) w l 2 /16

50 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 33 No. 1 Januari-Juni 2016: 43-56


Gambar 11. Kabel utama ganda (diklem tengah bentang l )

Dengan rumus statika sederhana sebesar (9/8) wl 2 /16. Serta akibat klem di
modifikasi kabel utama ganda dibuktikan
tengah bentang l maka tidak ada pengaruh
sebagai berikut pada Gambar 12. Beban
merata wl pada bentang l yang terbagi kiri dari momen 6wl 2/128 pada besaran H (ITB
dan kanan sebesar wl menghasilkan and UNSW 1989).
momen di potongan (3l/8) kiri dan kanan

Gambar 12. Distribusi beban terbagi rata w l pada modifikasi kabel utama ganda

Defleksi maksimum kabel tunggal dengan l ditambah p positif pada l dan p


modifikasi klem
negative pada l yang menghasilkan defleksi
Perkakuan dengan klem di tengah bentang seesaw maksimum 1/8l sebesar momen M= p
menyebabkan defleksi maksimum di 1/8l
(l/4)2/8 dibagi
(Gambar 13) akibat beban asimetris l pada
H* ~ (w+p)l 2/8d ~ (1/32) p d/(w+p).
kasus 2. Sedangkan tanpa klem terjadi defleksi
maksimum di l (Gambar 9) akibat beban Defleksi pada sistem kabel konvensional sebesar
(l/4)= (p/8)d/(w +p/2)
asimetris l. Beban p asimetris pada l pada
terreduksi dan lebih jelas bila ditunjukkan
kasus 1 tidak menyebabkan defleksi pada
dengan contoh numerik, mengingat nilai
modifikasi klem. Gaya T kabel dipikul oleh
gelagar ke perletakan bergerak. Beban asimetris untuk pembagian beban ke kabel dan
l (kasus 2) dapat dibuat superposisi p pada gelagar digunakan pada sistem kabel tanpa

Modifikasi Sistem Kabel Utama Jembatan Gantung Dengan Klem Untuk Meningkatkan Kekakuan Struktural
(Lanneke Tristanto, Gatot Sukmara) 51
klem. Dengan p asimetris 3,6 kN/m pada 10% (Indonesia 2009) seperti ditunjukkan
l, EI gelagar =200.000 MPa x 88310 cm4 pada Tabel 1. Dalam kasus ini diperoleh
dan dengan = 0,41 untuk bentang l = 100 persentase = 0,24 yang dipikul kabel
sedangkan (1-) = 0,76 dipikul gelagar.
m dan fokus d = 8,5 m serta w berat sendiri Dengan demikian
merata = 2,5 kN/m diperoleh (l/4) = (p/8)d/(w +p/2) = 0,312 m
(l/4) = (p/8)d/(w +p/2) = 0,48 m
dibanding (l/8) = 0,22 m, sehingga reduksi
(defleksi kabel konvensional tanpa klem)
dibanding dengan klem mencapai 30%. Dengan
(l/8) = (1/32) p d/(w+ p) = 0,22 m demikian terdapat dua cara untuk mereduksi
defleksi, yaitu pertama dengan memperkaku
(defleksi modifikasi kabel dengan klem), gelagar, seperti Kammon bridge yang selesai
sehingga reduksi sekitar 50 %. Gelagar dibangun dalam tahun 1973 sebagaimana
pengaku dengan inersia lebih besar ditunjukkan pada Gambar 4(b), dan kedua
(I = 186.055 cm4 > 88.310 cm4) untuk dengan klem kabel utama yang diterapkan
bentang yang sama, memikul beban pada Halogaland bridge yang selesai
asimetris lebih besar dengan defleksi lebih dibangun dalam tahun 2013 sebagaimana
kecil menurut perhitungan manual yang ditunjukkan pada Gambar 4(a). Dalam
diperbandingkan dengan model elemen praktek dipilih cara paling ekonomis.
hingga dalam program analisis struktur
dengan perbedaan hasil cukup baik sekitar

Gambar 13. Defleksi maksimum pada klem kabel tunggal

Tabel 1. Perhitungan manual vs elemen hingga pada kabel konvensional

Perhitungan Program analisis Perbedaan


Bagian jembatan
manual struktur hasil %
Kabel backstay 949,160 kN 860,190 kN 9,374

52 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 33 No. 1 Januari-Juni 2016: 43-56


Kabel utama 809,206 kN 746 kN 7,811
Defleksi maksimum 0,312 m 0,314 m 0,641
Momen gelagar 427,500 kNm 376 kNm 12,050
Gaya aksial menara 820,800 kN 740,970 kN 9,630

Kabel ganda dengan modifikasi klem (.p/2). Dimensi gelagar diasumsikan


Dengan asumsi bentang l = 100 m mempunyai I = 2,92x 10 -4 m 4 untuk gelagar
I universal dengan tinggi 400 mm, lebar
dengan fokus kabel ganda d = 8,5 m pada 3/8 l
flens 155 mm, tebal badan 14,4 mm, tebal
(= 37,5 m) seperti pada Gambar 11 dengan berat flens 21,6 mm dan berat 0,93 kN/m.
sendiri w = 2,5 kN/m dan beban hidup p = 3,6 Diperoleh persamaan kompatibilitas
kN/m (dipikul kabel ganda satu sisi), sehingga sebagai berikut :
diperoleh H total dalam satu kabel sebesar defleksi gelagar=defleksi kabel di potongan
9/8H* = (9/8) (w+p)/2.l 2 /8d) yang sama :
= {1,25x (2,5+3,6)/2 x100 2 }/(8x8,5) 5.p/2.(l/4) 4 /384EI ~
= 560 kN. [{(1-)(p/2)(l/4) 2 }/8H bh ], dan
Bila tempat penjangkaran cukup maka H bh = H bm (1+ (1-)p/2w) (5 x 1,8 x
sebaiknya dibuat backstay pada sudut 12 m 25 4 )/(384 x 200x 10 6 x 2,92.10 -4 )
= {(1-)1,8(25) 2 }/8(2,5/6,1)560 [(1 +
horizontal terhadap fokus 8,5 m, sehingga
(1-) (3,6/5)]
gaya dalam backstay yang ekonomis = 2 - 7,82 + 5,43 = 0
1,24x560 = 694 kN. Dengan kuat tarik ijin memberikan = 0,775 untuk gelagar.
kabel 750 MPa (untuk jembatan pejalan kaki Sehingga
dapat diambil faktor keamanan lebih kecil H bh = H bm (1 + (1-)p/2w)
dari 3 yang umum digunakan, yaitu sebesar = (2,5/6,1)560[(1+(1-)(3,6/5)]
2 terhadap kuat putus 150 MPa), dan faktor = 266,7 kN
densitas kabel 0,67 mengingat lilitan strand Defleksi kabel akibat beban hidup =
memiliki diameter D bersih lebih kecil dari [{(1-)(p/2)(l /4) 2 }/8H bh ]= 0,12 m
diameter penuh, sehingga diperoleh dengan performa jembatan sangat baik
diameter kabel terhadap beban hidup asimetris l. Untuk
D= {(694.000 x 4) / (750 x x 0,67)} = 43mm contoh tipikal =0,12 m vs 0,312 m (kabel
dengan demikian diperlukan dua kabel tunggal konvensional) memberikan reduksi
masing-masing berdiameter 43 mm per sisi sekitar 60%
jembatan.
Pengecekan defleksi akibat beban Ketahanan aerodinamik pada tipe klem
hidup asimetris dihitung sebagai berikut: kabel ganda
Akibat beban hidup asimetris p pada l Hasil pemeriksaan kondisi
diperoleh defleksi mendekati nol, akibat Jembatan Barito (Indonesia 2013)
beban terpusat di tengah jembatan juga menunjukkan kinerja aerodinamik yang
dengan defleksi nol. Kemudian terhadap memadai persyaratan dengan penjelasan
beban hidup p pada l (=25m) yang dipikul hasil uji getar lapangan sebagaimana
ditunjukkan pada Tabel 2.
bersama oleh kabel (1-)p/2 dan gelagar

Tabel 2. Hasil pengukuran respon struktur uji dinamis : nilai frekuensi stuktur (Indonesia 2013)
Bentang Data Frekuensi (Hz)
Peak 1 Peak 2 Peak 3 Peak 4 Peak 5 Peak 6
B2 I - - - 1.95 2.56 -

Modifikasi Sistem Kabel Utama Jembatan Gantung Dengan Klem Untuk Meningkatkan Kekakuan Struktural
(Lanneke Tristanto, Gatot Sukmara) 53
(Suspension 1) II - 1.46 - 1.95 - 2.69
III 1.34 - - - 2.56 -
I 1.34 - 1.89 - - 2.75
B5
II - 1.40 - 1.95 - -
(Suspension 2)
III 1.34 - 1.89 - 2.62 -

Rasio frekuensi mendukung ketahanan terhadap klem kabel tunggal dan kabel ganda
angin flutter dengan nilai frekuensi torsi disajikan dalam bentuk matriks seperti
terhadap frekuensi lentur sebesar ditunjukkan pada Tabel 3. Untuk bentang
ft/fl = 1,89/1,34 =1,4 > 1, sehingga menenuhi jembatan l = 100 m diperoleh reduksi
persyaratan ketahanan aerodinamik (Indonesia
defleksi paling besar untuk tipe klem kabel
2011).
ganda walaupun volume kabel bertambah,
Pada jembatan gantung nilai rasio ft/fl berkisar
tetapi meningkatnya gaya kabel H
antara: 1 sampai 2, dengan nilai yang lazim mengurangi keperluan dimensi gelagar.
sebesar 1,7 (Gimsing and Christos 2012), Untuk mengetahui efisiensi kegunaan klem
dengan rasio semakin besar maka ketahanan
diperlukan cara perhitungan manual untuk
aerodinamik semakin baik.
berbagai tipe kabel pada struktur jembatan
PEMBAHASAN yang sama sebagai dasar perbandingan.

Kabel konvensional vs modifikasi klem


Perbandingan defleksi antara kabel
tunggal konvensional terhadap modifikasi

Tabel 3. Defleksi kabel tunggal konvensional vs klem kabel tunggal vs klem kabel ganda

Tipe kabel Beban asimetris p.(l ) Beban asimetris p. (l )


utama
Konvensional Dipikul kabel (p) & Gelagar (1-)
( p)
Dengan defleksi maksimum l sebesar
(p/8)d/(w +p/2) utk kabel yang
sama dengan 5(1-)p l 4/(12.288 EI) utk
gelagar
Klem kabel Dengan defleksi maksimum ( l /8) sebesar
tunggal Dengan defleksi nol
(1/32) p d/(w+ p) sekitar 30% {(p/8)d/(w
+p/2)}
Dengan tergantung kekakuan gelagar :
( (l /8) dengan klem) sekitar 30% ( l tanpa
klem)
Klem kabel Dipikul gelagar (p) & kabel (1-) (p)
ganda Dengan defleksi nol dengan tergantung kekakuan gelagar :
Defleksi maksimum ( l /8) sebesar :
= {(1-)(p/2)( l /4) 2 }/8H bh dan
H bh = H bm (1 + (1-)p/2w)
untuk contoh tipikal = 0,12 m vs 0,312
m (kabel tunggal konvensional), reduksi

54 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 33 No. 1 Januari-Juni 2016: 43-56


sekitar 60%

sela dalam lantai jembatan darimana angin dapat


menghembus. Cara grating disarankan
dilakukan pada jembatan gantung bentang
panjang dan sangat panjang dan lebih murah
serta praktis dibanding perlengkapan deflector
atau peredam terhadap angin.
Verifikasi dengan program analisis
struktur masih diperlukan untuk sistem
KESIMPULAN DAN SARAN modifikasi kabel tunggal dengan klem dan
modifikasi kabel ganda dengan klem agar model
Kesimpulan elemen hingga mewakili tingkat efektivitas klem
dalam struktur aktual.
Reduksi defleksi yang diperoleh dengan
UCAPAN TERIMA KASIH
memodifikasi kabel utama berlaku untuk tipe
jembatan gantung yang diperkaku oleh gelagar.
Penulis menyampaikan ucapan terima
Terdapat dua cara untuk mereduksi defleksi
kasih kepada Balai Jembatan dan Bangunan
yaitu dengan perkakuan gelagar (momen inersia
Pelengkap Jalan, Puslitbang Jalan dan Jembatan,
gelagar diperbesar) atau dengan memodifikasi
Badan Penelitian dan Pengembangan
kabel utama dengan klem.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Memodifikasi kabel utama dengan klem
Rakyat atas dukungan dan fasilitas dalam
ampuh terhadap beban asimetris setengah
penyusunan makalah ini.
bentang jembatan dengan defleksi nol. Defleksi
maksimum terjadi akibat beban asimetris pada
DAFTAR PUSTAKA
seperempat bentang.
Pada modifikasi kabel tunggal dengan
Chen W.F. and Duan Lian. 2013. Bridge
klem diperoleh reduksi defleksi sekitar 30%
Engineering in Denmark. In Handbook
dengan mempertahankan dimensi gelagar dan
of International Bridge Engineering.
kabel sesuai desain orisinal, sehingga sesuai
Edited by Niels Jorgen Gimsing. Boca
untuk bentang sangat panjang. Jembatan bentang
Raton: CRC Press
panjang memiliki dimensi gelagar dan diameter
(http://books.google.com/books?isbn=1
kabel yang cukup besar, dan tidak ekonomis bila
439810303)
dimensinya ditingkatkan lagi. Disamping itu
Indonesia. Departemen Pekerjaan Umu m.
juga tidak layak untuk membuat klem kabel
2009. Pedoman Perancangan dan
ganda pada diameter kabel besar.
Pelaksanaan Teknik Jembatan
Pada modifikasi kabel ganda dengan
Gantung untuk Pejalan Kaki.
klem diperoleh reduksi defleksi paling besar
Jakarta: DPU.
sekitar 60%, sehingga sesuai untuk bentang
Gimsing Niels J. and Christos T.Georgakis
panjang. Reduksi defleksi dengan rentang
2012. Cable-Stayed, Cable Supported
30%-60% meningkatkan kekakuan jembatan
Bridges. New Jersey: John Wiley &
gantung secara keseluruhan dan juga
Sons.
mendukung ketahanan aerodinamik.
Grigorjeva T. and A. Juozapaitis 2013,
Revised Engineering Method for
Saran
analysis of behavior of Suspension
Untuk memperoleh ketahanan
Bridge with Rigid Cables and Some
aerodinamik disarankan untuk membuat sela-
Aspects of Numerical Modelling.In

Modifikasi Sistem Kabel Utama Jembatan Gantung Dengan Klem Untuk Meningkatkan Kekakuan Struktural
(Lanneke Tristanto, Gatot Sukmara) 55
Procedia Engineering 11 th Khaled, Mahmoud. 2006. Advances in
International Conference on Cable -Supported Bridges. In
Modern Building Materials, Selected papers 5 th International
Structures and Techniques. Cable-Supported Bridge Operators
Amsterdam:Elsevier Conference. New York: Taylor
(www.sciencedirect.com) and Francis,
Irvine, H.Max. 1988, Cable Structures, (https://books.google.com/books?isb
Bandung: ITB. n=0415419824)
http://twitpic.com/bll54e. Mitsui. 1978. Highway Construction
_________. 1989, Notes on Structural Form Course. Tokyo: JICA
in Cable-Stayed Bridges. New South OConner Colin. 1970. Stiffened Suspension
Wales: University of New South Wales. Bridges, Design of Bridge
Indonesia. Kementerian PU, Balitbang Superstructures. Hoboken: Wiley
Pusjatan, 2011, Naskah ilmiah: Interscience. https://openlibrary
Kajian Aerodinamik Jembatan. .org.
Bandung: Pusjatan. Okukawa, A. ,Suzuki S., and L. Harazaki. 2000.
_________. Kementerian PU. Balitbang. "Suspension Bridges". In Bridge
Pusjatan. 2013. Laporan Pemeriksaan Engineering Handbook, ed. Wai-Fah
Jembatan Barito. Bandung: Pusjatan. Chen and Lian Duan. Boca Raton: CRC
ITB and University of New South Wales. Press
1989. Course on cable structures.
New South Wales : UNSW
Jensen, Lars. 2013. Halogaland Suspension
Bridge, Norway. IABSE Denmark
Mini-Seminar . Kopenhagen: IABSE.

56 Jurnal Jalan-Jembatan, Volume 33 No. 1 Januari-Juni 2016: 43-56

Beri Nilai