Anda di halaman 1dari 3

Pengelolaan Kualitas dan Etika

Bagi manajer operasional, pekerjaan yang paling penting adalah untuk memberikan
kesehatan, keamanan, dan barang atau jasa yang berkualitas kepada pelanggan.
Pengembangan produk dengan kualitas buruk, di sebabkan rancangan dan proses
produksi yang tidak memadai, mengakibatkan tidak hanya biaya produksi yang lebih
tinggi, tetapi juga menyebabkan kecelakaan, perkara hukum, dan meningkatkan peraturan
pemerintah.
Jika perusahaan percaya telah memperkenalkan produk yang di pertanyakan, tindakan
yang etis adalah harus dapat menentukan tindakan tanggung jawab. Banyak pihak yang
terlibat dalam proses produksi dan pemasaran produk yang berkualitas buruk, termasuk
pemegang saham, karyawan, pelanggan, pemasok, debitur dan kreditur. Setiap perusahaan
butuh untuk mengembangkan nilai inti yang menjadi petunjuk sehari-hari bagi semuanya
mulai dari CEO sampai karyawan lini produksi.
Manajemen Kualitas Total (Total Quality Management- TQM)
Mengacu pada penekanan kualitas yang meliputi organisasi secara keseluruhan mulai
dari pemasok sampai ke pelanggan. TQM menekankan pada komitmen oleh manajemen
untuk memiliki terus menerus menuju keunggulan dalam segala aspek barang dan jasa
yang penting bagi pelanggan. Masing-masingdari 10 keputusan yang dibuat oleh manajer
operasional berkaitan dengan beberapa aspek dari mengidentifikasi dan memenuhi
ekspektasi pelanggan. Memenuhi ekspektasi tersebut membutuhkan penekanan pada
TQM jika perusahaan akan bersaing sebagai pemimpin di pasar dunia.
Ahli kualitas W.Edwards Deming menggunakan 14 poin untuk mengidentifikasi
bagaimana dia mengimplementasikan TQM. Kami mengembangkan ini menjadi tujuh
konsep untuk program TQM yang efektif: (1) perbaikan berkelanjutan, (2) Six sigma, (3)
pemberdayaan karyawan, (4) tolak ukur, (5) tepat waktu, (6) konsep taguchi, dan (7)
pemahaman alat TQM.
1. Perbaikan Berkelanjutan
Manajemen Kualitas Total mengharuskan proses perbaikan yang tidak pernah
berhenti yang mencakup orang, peralatan, pemasok, material, dan prosedur. Dasar
falsafahnya adalah setiap aspek operasional dapat diperbaiki. Tujuan akhir adalah
kesempurnaan, yang tidak akan pernah tercapai, namun selalu di cari.
Perencanaan-Pelaksanaan-Pengecekan Tindakan
Walter Shewhart, Pelopor lain dalam pengelolaan kualitas, mengembangkan
model melingkar yang di kenal sebagai PDCA Plan (perencanaan), do (pelaksanaan),
check (pengecekan), act (tindakan) sebagai versinya dari perbaikan berkelanjutan.
Deming kemudian mengambil konsep ini ke Jepang selama masa kerjanya di sana
setelah perang dunia II. Siklus PDCA ini (juga dikenal lingkaran deming atau
lingkaran shewring) terlihat pada gambar sebagai lingkaran untuk menekankan sifat
kontinuitas dari proses perbaikan.
Orang Jepang menggunakan kata kaizen untuk menggambarkan proses yang
sedang berjalan dari perbaikan yang tiada akhir-perencanaan dan pencapaian tujuan
yang lebih tinggi. Di Amerika Serikat, TQM dan nol kerusakan atau zero defect juga
digunakan untuk menggambarkan usaha perbaikan yang berkelanjutan. Namun,
apakah itu PDCA, kaizen, TQM atau nol kerusakan manajer operasional adalah
pemain kunci dalam membangun budaya kerja yang mendukung perbaikan
berkelanjutan.
2. Six Sigma/ Sigma Enam
Dalam arti statistik, menggambarkan proses, barang atau jasa dengan kapabilitas yang
sangat tinggi (99,9997%). Definisi six sigma yang lainnya adalah program yang
direncanakan untuk mengurangi cacat untuk mengurangi biaya , menghemat waktu
dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Six sigma adalah sistem komprehensif
sebuah strategi, sebuah disiplin, dan seperangkat alat untuk meraih dan
mempertahankan kesuksesan bisnis.

Merupakan strategi karena berfokus pada kepuasan pelanggan secara


keseluruhan.
Merupakan disiplin karena mengikuti model perbaikan six sigma yang dikenal
dengan DMAIC. Lima langkah model proses perbaikan, (1) Menentukan
(Defines) tujuan rencana, cakupan, dan hasil lalu menentukan informasi proses
yang dibutuhkan, mengingat definisi kualitas dari pelanggan; (2) Mengukur
(Measure) proses dan pengumpulan data; (3) Menganalisis (Analyzes) data,
memastikan berulang kali (hasil terdapat duplikasi) dan reprodusibilitas (yang
lain mendapatkan hasil yang sama); (4) Perbaikan (Improves), dengan
memodifikasi atau merancang ulang, prosedur dan proses yang ada, dan (5)
Mengendalikan (Control) proses yang baru untuk memastikan tingkat kinerja
dipertahankan.

3. Pemberdayaan Pekerja
Pemberdayaan pekerja (employee empowerment) berarti melibatkan pekerja pada
setiap langkah dari proses produksi. Secara konsisten, penelitian menunjukkan bahwa
sebesar 85% permasalahan kualitas terletak pada bahan dan proses,
bukan pada kinerja pekerja. Oleh karena itu, tugas yang diperlukan adalah merancang
peralatan dan proses yang dapat memproduksi kualitas yang diinginkan. Akan baik
dilakukan dengan tingkat keterlibatan yang tinggi oleh mereka yang memahami
kekurangan dari sistem. Mereka yang berhubungan dengan sistem sehari-hari
memahami lebih baik dari siapapun. Sebuah studi mengindikasikan bahwa program
TQM yang mendelegasikantanggung jawab atas kualitas kepada karyawan shop-floor
cenderung dua kali lebih berhasil dari yang mengimplementasikan dengan arahan top-
down.
Saat terjadi ketidakcocokan kualitas, kesalahannya jarang terletak pada para
pekerja. Entah produknya dirancang dengan salah atau pekerjanya tidak dilatih
dengan benar. Walaupun pekerja dapat membantu menyelesaikan masalah, jarang
terjadi kasus dimana pekerja yang menyebabkan masalah tersebut.Teknik untuk
memberdayakan pekerja yaitu :

Membina jaringan komunikasi yang melibatkan pekerja


Membentuk para penyelia yang bersikap terbuka dan mendukung
Memindahkan tanggung jawab dari manajer dan staf kepada para
pekerja di bagian produksi
Membangun organisasi yang memiliki moral yang tinggi
Menciptakan struktur organisasi yang formal sebagai tim dan siklus kualitas.

Tim dapat dibentuk untuk mengatasi bermacam-macam isu. perhatian utama tim
adalah kualitas. Sebuah tim yang biasa dikenal sebagai lingkaran kualitas. Lingkaran
kualitas(quality circle)adalah sekelompok karyawan yang bertemu secara reguler
untuk memecahkan masalah pekerjaan. Anggota menerima pelatihan dalam
perencanaan group, penyelesaian masalah, dan pegendalian kualitas secara statistik.
Mereka biasanya bertemu sekali seminggu (biasanya setelah kerja, namun kadang-
kadang saat kerja). Meskipun anggota-anggota tersebut tidak di beri penghargaan
secara finansial, mereka menerima pengakuan dari perusahaan. Anggota tim yang
terlatih, disebut sebagai fasilitator, biasanya membantu untuk melatih anggota dan
membuat petemuan berjalan dengan lancar. Tim dengan fokus yang bagus telah
membuktikan menjadi cara yang efektif biaya untuk meningkatkan produktivitas dan
juga kualitas.