Anda di halaman 1dari 25

MATA KULIAH TEKNOLOGI PRODUK DERIVAT

LAPORAN PRAKTIKUM
PEMBUATAN SABUN PADAT AMPAS KOPI DENGAN PERBEDAAN
KONSENTRASI NaOH

Disusun oleh
Kelompok 3:
Ika Wahyuni (141710101034)
Yogi Dwi Anggoro (141710101049)
Dinda Anggraeni H. (141710101052)
Danang Dwi Cahyo (141710101019)
Ambar Sukma Sekarina (141710101067)
THP-A

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JEMBER

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

2016
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia dikenal memiliki hasil-hasil kekayaan alam dengan khasiat yang
tinggi serta menghasilkan bahan kosmetik yang relatif murah. Bahan-bahan alamiah
atau bahan-bahan yang dikiranya telah tidak terpakai lagi dan terdapat disekitar
lingkungan dapat dibuat menjadi berbagai jenis produk perawatan kecantikan tubuh
seperti lulur, masker, sabun dan sebagainya yang dapat mempercantik dan
menyehatkan kulit. Hal ini mungkin tidak didasari atau diketahui oleh orang-orang
sekitar yang mungkin setiap hari mengkonsumsi atau memakai bahan-bahan olahan
dan limbah atau ampas yang dihasilkan dibuang tanpa mengetahui khasiat dalam
limbah atau ampas tersebut.
Tanaman kopi (Coffea sp.) merupakan tanaman tropis yang termasuk familia
Rubiaceae dan banyak diperdagangkan di dunia. Isoflavon mempunyai kemapuan
sebagai antioksidan untuk mencegah penuaan dini dalam pembuatan lulur tradisional
tersebut akan ditambahkan dengan bahan tambahan yang mempunyai fungsi
melembabkan kulit dan antioksidan hampir sama yaitu untuk mencegah kerutan di
kulit yakni ampas kopi. Ampas kopi mengandung antioksidan yang tinggi sehingga
mampu menghambat penuaan dini (Muchtadi 2010 & Dewi 2012).
Ampas kopi dengan tekstur kasar mengandung butiran scrub yang sangat baik
untuk mengangkat sel-sel kulit mati dan melembabkan kulit. Ampas kopi adalah salah
satu bahan yang dapat dimanfaatkan. Dimana ampas kopi banyak ditemukan dan
dibuang menjadi sampah. Hal ini membuat Desa Nogosari Kecamatan Rambipuji
Kabupaten Jember yang banyaknya warung kopi dikarenakan merupakan pemukiman
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao serta banyaknya petani kopi yang juga
mengkonsumsi berbagai jenis kopi di daerah tersebut.
Peningkatan nilai ekonomis dari ampas kopi yaitu dengan diolah kembali
menjadi sabun padat karena mengandung antioksidan untuk menghambat penuaan
dini dan memperbaiki sel-sel kulit yang rusak.Mahasiswa sebagai agent of change
(agen perubahan) berperan penting dalam mewujudkan suatu kreativitas dalam
pembuatan suatu produk yang diharapkan bisa menjadi potensi yang baik untuk
lingkungan dan teknologi masa depan. Maka dari itu untuk mewujudkan hal tersebut,
harus dilakukannya praktikum serta pembuatan mengenai teknologi pengolahan
ampas kopi menjadi sabun.

1.2 Tujuan
Tujuan dari dilakuannya praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui cara pembuatan ampas kopi menjadi sabun padat atau sabun
ampas kopi.
2. Mengetahui konsentrasi bahan-bahan yang berperan penting dalam pembuatan
sabun.
3. Mempraktekkan bahwa ampas kopi dapat ditingkatkan nilai emonomisnya
dengan sedikit sentuhan teknologi.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sabun
Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan
membersihkan.Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebutbatangkarena
sejarah dan bentukumumnya. Sabun adalah senyawa natrium atau kalium dengan
asam lemak dari minyak nabati atau hewani yang berbentuk padat, lunak atau cair,
berbusa digunakan sebagai pembersih, dengan menambahkan zat pewangi, dan bahan
lainnya yang tidak membahayakan kesehatan (SNI, 1994). Kandungan utama
penyusun sabun adalah asam lemak dan alkali. Asam lemak merupakan
monokarboksilat berantai panjang dengan panjang rantai yang berbeda-beda, tetapi
bukan siklik atau bercabang. Pada umumnya monokarboksilat yang ditemukan di
alam tidak bercabang dan memiliki jumlah atom genap (Winarno, 1997).
Sabun yang baik harus memiliki daya bersih yang tinggi dan tetap efektif
walaupun dipakai pada temperatur dan tingkat kesadahan air yang berbeda-beda,
(Shrivastava, 1982). Sabun batang yang baik harus memiliki kekerasan yang cukup
untuk memaksimalkan pemakaian (user cycles) dan ketahanan yang cukup terhadap
penyerapan air (water reabsorption) ketika sedang tidak digunakan, dan pada saat
yang sama juga mampu menghasilkan busa dalam jumlah yang cukup untuk
mendukung daya bersihnya (Hill, 2005).
Sifat-sifat yang dimiliki oleh sabun (Harnawi, 2004) adalah:
1. Sabun bersifat basa.
Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suhu tinggi sehingga akan dihidrolisis
parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa.
2. Sabun menghasilkan buih atau busa.
Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini
tidak akan terjadi pada air sadah (air yang mengandung garam). Dalam hal ini sabun
dapat menghasilkan buih setelah garam Mg atau Ca dalam air mengendap.
3. Sabun mempunyai sifat membersihkan.
Sifat ini disebabkan proses kimia koloid. Sabun (garam natrium dari asam lemak)
digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar. Sabun
mempunyai gugus polar dan non polar. Saat dipakai mencuci sabun berperan sebagai
emulsifier sehingga sabun dikatakan dapat membersihkan lemak dan kotoran.
Molekul sabun mempunyai rantai hidrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor
yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat organik. Sedangkan
COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air.
Struktur molekul sabun dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur molekul sabun


Manfaat sabun adalah sebagai pembersih saat mencuci atau saat mandi.
Kotoran yang menempel pada kulit umumnya adalah minyak, lemak dan keringat.
Zat-zat ini tidak dapat larut dalam air karena sifatnya yang non polar. Sabun
digunakan untuk melarutkan kotoran-kotoran pada kulit tersebut. Sabun memiliki
gugus non polar yaitu gugus (R) yang akan mengikat kotoran, dan gugus (COONa)
yang akan mengikat air karena sama-sama gugus polar. Kotoran dapat lepas karena
terikat pada sabun dan sabun terikat pada air (Cavith, 2001).

2.2 Bahan-Bahan Pembuatan Sabun


Pembuatan sabun ampas kopi SAPI menggunakan bahan baku seperti minyak
kelapa,minyak kelapasawit, NaOH, aquadest dan ampas kopi (Modifikasi Cognis,
2003).
a. Ampas Kopi
Isoflavon adalah senyawa polifenol yang dapat memperlihatkan peranan seperti
esterogen, sehingga seringkali disebut sebagai fitoesterogen, yaitu senyawa yang
mempunyai aktifitas estrogenik tetapi berasal dari tanaman. Isoflavon juga
mempunyai kemapuan sebagai antioksidan untuk mencegah penuaan dini dalam
pembuatan lulur tradisional tersebut akan ditambahkan dengan bahan tambahan yang
mempunyai fungsi melembabkan kulit dan antioksidan hampir sama yaitu untuk
mencegah kerutan di kulit yakni ampas kopi. Ampas kopi dengan tekstur kasar
mengandung butiran scrub yang sangat baik untuk menganggkat sel-sel kulit mati dan
melembabkan kulit. Kafein yang terkandung di dalam ampas kopi sejumlah 1-1,5%
dapat bertindak selaku vasorestrictor yang berarti mengencangkan dan mengecilkan
pembuluh darah. Ampas kopi memiliki aroma yang khas dan tajam, kopi juga
mempunyai banyak khasiat untuk kecantikan kulit dari sejak jaman nenek moyang
telah menggunakan kopi sebagai bahan baku lulur tradisional. Ampas kopi
menghasilkan minyak antioksidan yang bersifat menghaluskan kulit (Dewi, 2012).
Ampas kopi masih dapat dimanfaatkan karena mengandung sejumlah kompenen
bioaktif. Pada konsentrasi atau jumlah dari komponen yang ada sangat bervariasi
tergantung dari beberapa faktor termasuk metode ekstraksi. Ampas kopi kering (kadar
air kurang dari 13%) diperiksa kandungan lignin dan kandungan fitokimianya. Ampas
kopi kering dicampur dengan air destilata dengan rasio 1 : 5 dan campuran diekstrasi
dengan microwave pada beberapa waktu ekstrasi (3, 4, dan 5 menit). Setelah itu,
campuran tersebut disaring dan dievaporasi dibawah tekanan untuk mendapatkan
ekstrak kasar (Adline, 2013).
b. NaOH
Natrium hidroksida (NaOH) juga dikenal sebagai basa kuat atau sodium
hidroksida merupakan jenis basa logam kuat. Natrium hidroksida terbentuk dari
oksida basa natrium oksida yang dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida
membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida
digunakan di dalam berbagai macam bidang industri. Kebanyakan digunakan sebagai
basa dalam proses industri bubur kayu, kertas, tekstil, air minum, sabun, dan deterjen.
Selain itu natrium hidroksida juga merupakan basa yang paling umum digunakan
dalam laboratorium kimia (Williams dan Schmitt, 2011).
Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet,
serpihan, dan butiran. NaOH bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap
karbon dioksida dari udara bebas. NaOH juga sangat larut dalam air dan akan
melepaskan kalor ketika dilarutkan dalam air. Larutan NaOH meninggalkan noda
kuning pada kain dan kertas (Wade dan Weller, 1994). Ion Na+ dari NaOH bereaksi
dengan asam lemak membentuk sabun, seingga NaOH dalam sabun sereh berfungsi
untuk pembuatan stok sabun (Cavith, 2001).
Pada proses pembuatan sabun, penambahan NaOH harus tepat jumlahnya. Apabila
NaOH terlalu pekat atau berlebih maka alkali bebas yaang tidak berikatan dengan
asam lemak akan terlalu tinggi sehingga memberikan pengaruh negatif yaitu iritasi
pada kulit. Sebaliknya apabila NaOH yang ditambahkan terlalu sedikit jumlahnya,
maka sabun yang dihasilkan akan mengandung asam lemak bebas yang tinggi. Asam
lemak yang tinggi dapat menggangu proses emulsi sabun dan kotoran pada saat sabun
digunakan (Kirk dkk., 1952).
c. Minyak Kelapa
Lemak yang dipakai dalam pembuatan sabun adalah lemak yang memiliki rantai
karbon berjumlah 12-20 (C12-C20). Lemak dengan rantai karon kurang dari 12 tidak
memiliki efek sabun (soapy effect) dan dapat menimbulkan iritasi pada kulit, dan
lemak dengan rantai karon lebih dari 20 memiliki kelarutan yang sangat rendah.
Minyak kelapa adalah contoh lemak nabati yang banyak diketahui masyarakat.
Minyak kelapa mengandung asam laurat. Rumus bangun minyak kelapa adalah
C12H24O2 (Corredoira dan Pandolfi, 1996). Minyak kelapa diperoleh melalui ekstraksi
kopra atau daging buah kelapa segar daging buah kelapa segar mengandung 30-35%
minyak dan jika dikeringkan (dijadikan kopra), kadar minyaknya akan meningkat
hingga 63-65% (Woodroof, 1979).
Minyak kelapa memiliki sifat mudah tersaponifikasi (tersabunkan) dan
cenderung menjadi tengik (rancid). Asam lemak yang paling dominan dalam minyak
kelapa adalah asam laurat. Asam-asam lemak yang lain adalah kaproat, kaprilat, dan
kaprat. Semua asam lemak tersebut dapat larut dalam air dan bersifat mudah menguap
jika didistilasi dengan menggunakan air atau uap panas. Didalam pembuatan sabun
sereh minyak kelapa berfungsi untuk bahan pembuatan stok sabun, busa, kekerasan
sabun, dan melembabkan saat dipakai (Shrivastava, 1982). Minyak kelapa memiliki
sekitar 90% asam lemak jenuh (Ketaren, 1986).
d. Minyak Kelapa Sawit
Minyak sawit adalah minyak nabati semi padat.Minyak sawit mengandung asam
lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh dengan persentase yang hampir sama. Asam
lemak yang pada rantai hidrokarbonnya terdapat ikatan rangkap disebut asam lemak
tidak jenuh, dan apabila tidak terdapat ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya
disebut asam lemak jenuh. Asam palmitat dan asam oleat merupakan asam lemak
yang dominan terkandung dalam minyak sawit, sedangkan kandungan asam lemak
linoleat dan asam stearatnya sedikit (Simeh,2004). Asam palmitat merupakan asam
lemak jenuh rantai panjang yang memiliki titik cair (meelting point) yang tinggi yaitu
64C. Kandungan asam palmitat yang tinggi ini membuat minyak sawit lebih tahan
terhadap oksidasi (ketengikan) dibanding jenis minyak lain. Asam oleat merupakan
asam lemak tidak jenuh rantai panjang dengan panjang rantai C18 dan memiliki satu
ikatan rangkap. Titik cair asam oleat lebih rendah dibanding asam palmitat yaitu 14C
(Belitz et all,2004).Warna minyak ditentukan oleh adanya pigmen, yaitu beta karoten
yang merupakan bahan provitamin A. Adapun komponen dalam minyak sawit sebagai
berikut yaitu pada Tabel 1.
Tabel 1. Komponen dalam minyak sawit
Komponen Kuantitas
Asam lemak bebas (%) 3,0 4,0
Karoten (ppm) 500 700
Fosfolipid (ppm) 500 1000
Dipalmito stearin (%) 1,2
Tripalmitin (%) 5,0
Dipalmitolein (%) 37,2
Palmito stearin olein (%) 10,7
Palmito olein (%) 42,8
Triolein linole (%) 3,1
Sumber: Iyung Pahan,2007.
Komposisi asam lemak dari minyak kelapa sawit agak berbeda dengan minyak
inti sawit, baik jumlahnya maupun jenis asam lemak. Komposisi asam lemak kedua
jenis minyak tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi asam lemak minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit
Asam lemak Minyak kelapa sawit (%) Minyak inti sawit (%)
Asam kaprilat (C8) - 34
Asam kaprat (C10) - 37
Asam laurat (C12) - 46 52
Asam miristat (C14) 1,1 2,5 14 17
Asam palmitat (C16) 40 46 6,5 9
Asam stearat (C18) 3,6 4,7 1 2,5
Asam oleat (C18:1) 39 45 13 19
Asam linoleat (C18:2) 7 11 0,5 2

Minyak kelapa sawit (MKS) komponen utamanya adalah gliserida dan hanya
sebagian kecil non gliserida yang jumlahnya bervariasi. Untuk menghasilkan minyak
yang bisa dikonsumsi, komponen non gliserida harus dibuang atau dikurangi.
Komponen non gliserida berupa kotoran yang tak larut dalam minyak seperti sabut,
cangkang dan air, mudah dihilangkan. Sedangkan non gliserida yang larut dlm
minyak, seperti FFA, fosfolipid, trace metal, karotenoid, tocoferol dan tocotrienol,
produk teroksidasi lebih sulit dihilangkan, sehingga MKS harus diproses dengan
berbagai tahapan. Sebagian non gliserida ada yang bermanfaat seperti tocoferol dan
tocotrienol yang juga bernilai gizi dan beta karoten yang merupakan precursor vit A.
Kotoran lain umumnya dapat menurunkan aroma,bau , warna dan daya simpan
minyak.
Asam laurat merupakan asam lemak jenuh yang memiliki sifat pembusaan yang
baik dan sering digunakan dalam formulasi sabun. Penggunaan asam laurat dala
pembuatan sabun akan menghasilkan sabun dengan kelarutan yang tinggi dan
karakteristik busa yang baik (Corredoire dan Pandolfi, 1996). Minyak kelapa yang
belum dimurnikan mengandung komponen bukan minyak, yaitu fosfatida, gum 0,06-
0,08%), tokoferol (0,003%), dan am lemak bebas (<5%). Sterol yang terdapat dalam
minyak nabati disebut phitosterol. Sterol bersifat tidak bewarna, tidak berbau, stabil,
dan berfungsi sebagai penstabil minyak. Tokoferol bersifat tidak dapat disabunkan
dan berfungsi sebagai antioksidan (Ketaren, 1986). Asam laurat yang diliki oleh
minyak kelapa mempengaruhi busa sabun yang dihasilkan (Corredoire dan Pandolfi,
1996).

2.3 Mutu Sabun


Standar mutu sabun menurut Standar Nasional Indonesia dapat dilihat pada Tabel
3.
Tabel 3. Standart Mutu Sabun
Jenis Uji Satuan Standart
Jumlah asam lemak (b/b) % Min 70,00
Kadar tak tersabunkan % Maks 2,50
(b/b)
Kadar alkali bebas % Maks 0,10
dihitung sebagai NaOH
Kadar air dan zat % Maks 15,00
menguap (b/b)
Minyak mineral Negatif
Bahan tak larut dalam % Maks 2,50
alkohol (b/b)
Sumber : SNI,1996
1. Kadar Air
Kadar air merupakan bahan yang menguap pada suhu dan waktu tertentu.
Maksimal kadar air pada sabun adalah 15%, hal ini disebabkan agar sabun yang
dihasilkan cukup keras sehingga lebih efisien dalam pemakaian dan sabun tidak
mudah larut dalam air. Kadar air akan mempengaruhi kekerasan dari sabun.
2. Jumlah Asam Lemak
Jumlah asam lemak merupakan jumlah total seluruh asam lemak pada sabun yang
telah atau pun yang belum bereaksi dengan alkali. Sabun yang berkualitas baik
mempunyai kandungan total asam lemak minimal 70%, hal ini berarti bahan-bahan
yang ditambahkan sebagai bahan pengisi dalam pembuatan sabun kurang dari 30%.
Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi proses pembersihan kotoran berupa minyak
atau lemak pada saat sabun digunakan. Bahan pengisi yang biasa ditambahkan adalah
madu, parfum, gliserol, waterglass, protein susu dan lain sebagainya. Tujuan
penambahan bahan pengisi untuk memberikan bentuk yang kompak dan padat,
melembabkan, menambahkan zat gizi yang diperlukan oleh kulit.
3. Alkali Bebas
Alkali bebas merupakan alkali dalam sabun yang tidak diikat sebagai senyawa.
Kelebihan alkali bebas dalam sabun tidak boleh lebih dari 0,1% untuk sabun Na, dan
0,14% untuk sabun KOH karena alkali mempunyai sifat yang keras dan
menyebabkan iritasi pada kulit. Kelebihan alkali bebas pada sabun dapat disebabkan
karena konsentrasi alkali yang pekat atau berlebih pada proses penyabunan. Sabun
yang mengandung alkali tinggi biasanya digunakan untuk sabun cuci.
4. Asam Lemak Bebas
Asam lemak bebas merupakan asam lemak pada sabun yang tidak terikat sebagai
senyawa natrium atau pun senyawa trigliserida (lemak netral). Tingginya asam lemak
bebas pada sabun akan mengurangi daya membersihkan sabun, karena asam lemak
bebas merupakan komponen yang tidak diinginkan dalam proses pembersihan. Sabun
pada saat digunakan akan menarik komponen asam lemak bebas yang masih terdapat
dalam sabun sehingga secara tidak langsung mengurangi kemampuannya untuk
membesihkan minyak dari bahan yang berminyak.
5. Minyak Mineral
Minyak mineral merupakan zat atau bahan tetap sebagai minyak, namun saat
penambahan air akan terjadi emulsi antara air dan minyak yang ditandai dengan
kekeruhan. Minyak mineral adalah minyak hasil penguraian bahan organik oleh jasad
renik yang terjadi berjuta-juta tahun. Minyak mineral sama dengan minyak bumi
beserta turunannya. Contoh minyak mineral adalah: bensin, minyak tanah, solar, oli,
dan sebagainya. Kekeruhan pada pengujian minyak mineral dapat disebabkan juga
oleh molekul hidrokarbon dalam bahan.

2.4 Mekanisme Pembentukan Sabun


Kata saponifikasi atau saponify berarti membuat sabun, dimana (sapon=sabun
dan fy =membuat). Sabun dibuat dari proses saponifikasi lemak hewan (tallow)
dan dari minyak, reaksi saponifikasi tidak lain adalah hidrolisis basa suatu ester
dengan alkali (NaOH, KOH) (Poedjiadi, 2006). Saponifikasi merupakan salah satu
metode pemurnian secara fisik. Saponifikasi dilakukan dengan menambahkan basa
pada minyak yang akan dimurnikan. Sabun yang terbentuk dari proses ini dapat
dipisahkan dengan 30 sentrifugasi. Penambahan basa pada proses saponifikasi akan
bereaksi dengan asam lemak bebas membentuk sabun yang mengendap dengan
membawa serta lendir, kotoran dan sebagian zat warna. Saponifikasi adalah suatu
proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau lemak dengan cara
mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga
memmbentuk sabun (soap stock) (Ketaren,1986). Reaksi penyabunan (safonifikasi)
dapat dilihat pada Gambar 2.
Lemak Basa Sabun Gliserol
Gambar 2. Struktur Molekul Reaksi Penyabunan
(Sudarmadji dkk., 1997)
Saponifikasi merupakan proses hidrolisis basa terhadap lemak dan minyak,
dan reaksi saponifikasi bukan merupakan reaksi kesetimbangan. Hasil mula-mula dari
penyabunan adalah karboksilat karena campurannya bersifat basa. Setelah campuran
diasamkan, karboksilat berubah menjadi asam karboksilat. Produknya, sabun yang
terdiri dari garam asam-asam lemak. Fungsi sabun dalam keanekaragaman cara
adalah sebagai bahan pembersih. Sabun menurunkan tegangan permukaan air,
sehingga memungkinkan air untuk membasahi bahan yang dicuci dengan lebih
efektif. Sabun bertindak sebagai suatu zat pengemulsi untuk mendispersikan minyak
dan sabun teradsorpsi pada butiran kotoran.
BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
a. Gelas ukur
b. Neraca analitik
c. Baskom
d. Pengaduk
e. Sendok
f. Oven
g. Loyang
h. Beaker glass
i. Cetakan
j. Corong

3.1.2 Bahan
a. Minyak kelapa sawit
b. Minyak kelapa
c. NaOH
d. Ampas kopi
e. Aquades
f. Kertas saring
3.2 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan
3.2.1 Bubuk Ampas Kopi Kering

Bubuk kopi, 50 gr

Air panas, 150 ml Penyeduhan

Pengadukan

Filtrasi
Filtrat

Residu

Pengovenan, 40C 24 jam

Bubuk ampas kopi kering

Gambar 3.1 Diagram alir pembuatan bubuk ampas kopi kering

Pembuatan bubuk ampas kopi kering diawali dengan menyeduh bubuk kopi
menggunakan air panas dengan perbandingan 1:3 ( kopi : air ) kemudian diaduk agar
kopi dapat terekstrak. Setelah itu, larutan kopi dilakukan filtrasi untuk memisahkan
ampas dan filtratnya. Ampas kopi kemudian dioven pada suhu 40C selama 24 jam
untuk menghilangkan kadar airnya hingga akhirnya didapatkan bubuk ampas kopi
kering.
3.2.2 Sabun Ampas Kopi

NaOH

Aquades Pelarutan

Pendinginan
Minyak sawit, 80 ml
Minyak kelapa, 20 ml
Pengadukan

Bubuk ampas kopi, 10 gr kering


Pencampuran

Pencetakan

Pendiaman pada suhu ruang

Sabun ampas kopi

Gambar 3.2 Diagram alir pembuatan sabun ampas kopi

Pembuatan sabun ampas kopi diawali dengan melarutkan NaOH dengan


aquades. Pada pembuatan sabun ampas kopi terdapat tiga perlakuan dengan
perbedaan konsentrasi NaOH, yaitu konsentrasi NaOH 25%, 30%, dan 35%. Untuk
konsentrasi NaOH 25% sebanyak 3,46 gr NaOH dilarutkan dengan 10,40 ml aquades,
untuk konsentrasi NaOH30% senayak 3,46 gr NaOH dilarutkan dengan 8,08 ml
aquades, dan untuk konsentrasi NaOH 35% sebanyak 3,46 gr NaOH dilarutkan
dengan 6,43 ml aquades. Setelah NaOH dilarutkan dengan aquades selanjutnya
larutan NaOH didinginkan dengan cara didiamkan pada suhu ruang untuk
menurunkan suhu larutan NaOH. Jika larutan NaOH sudah dingin selanjutnya
tambahkan 80 ml minyak sawit dan 20 ml minyak kelapa pada masing-masing larutan
NaOH. Bahan-bahan dicampur sambil diaduk agar homogen. Pengadukan dilakukan
hingga terbentuk trace. Trace merupakan suatu kondisi pada saat cairan yang
diaduk mulai mengental. Pada saat itu ditambahkan bubuk ampas kopi kering
sebanyak 10 gr. Setelah itu, cetak dan diamkan campuran pada suhu ruang. Hal ini
dilakukan agar campuran sabun dapat mengeras.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


4.1.1 Uji organoleptik

Parameter Konsentrasi NaOH


25% 30% 35%
Tekstur ++ + +++
Warna +++ ++++ ++
Kenampakan +++ ++ +
Aroma +++ ++ +

4.2 Pembahasan
Praktikum yang dilakukan yaitu mengenai pembuatan sabun padat
menggunakan ampas kopi dengan perbedaan konsentrasi NaOH. Berdasarkan hasil
praktikum dapat diketahui beberapa parameter pengujian antara lain :
a. Tekstur
Tekstur sabun yang dihasilkan tidak menunjukkan kekerasan akibat reaksi
NaOH. Selama penyimpanan 1 minggu tidak ada perubahan tekstur pada hasil sabun
yang dihasilkan. Pada perlakuan konsentrasi 25% memiliki tekstur lunak, konsentrasi
30% tekstur yang dihasilkan terlalu lunak. Pada konsentrasi NaOH 25% tekstur yang
dihasilkan lebih berminyak daripada lainnya, sedangkan pada konsentrasi 35%
tekstur lebih keras tetapi tidak membentuk padatan. Tekstur pada konsentrasi NaOH
35% lebih keras daripada lainnya disebabkan oleh banyaknya ampas tidak ikut larut
bersama air. Air yang digunakan untuk konsentrasi 35% lebih sedikit dibandingkan
konsentrasi lain sehingga padatan ampas tidak larut dalam air.
Sabun yang dihasilkan tidak membentuk padatan disebabkan oleh rendahnya
jumlah NaOH yang dihasilkan tidak seseuai dengan jumlah asam lemak bebas pada
formulasi pembuatan sabun. Menurut Hambali dkk., (2005), banyaknya NaOH yang
digunakan dalam pembuatan sabun dapat mempengaruhi kekerasan sabun. Hal ini
diperkuat oleh Ketaren (2005), bahwa pemakaian larutan kaustik soda (NaOH) pada
konsentrasi tinggi akan bereaksi dengan minyak sehingga mengurangi jumlah asam
lemak bebas dan menambah jumlah sabun yang terbentuk. Asam lemak bebas yang
terlalu tinggi akan mempengaruhi proses emulsi sabun dengan kotoran dan
mengurangi daya ikat sabun terhadap kotoran minyak, lemak ataupun keringat. Asam
lemak bebas ini tidak bisa mengikat kotoran karena bersifa polar, berbeda dengan
minyak, lemak atau pun keringat kotoran yang bersifat non-polar.
Berdasarkan hal tersebut dapat dianalisa bahwa formulasi sabun dan jumlah
asam lemak yang digunakan harus sesuai untuk dapat membuat tekstur sabun menjadi
padat. Menurut SNI (1994) jumlah asam lemak minimal 70%. Dalam suatu formulasi,
asam lemak berperan sebagai pengatur konsistensi. Asam lemak diperoleh secara
alami melalui hidrolisis trigliserida. Asam lemak memiliki kemampuan terbatas untuk
larut dalam air. Hal ini akan membuat sabun menjadi lebih tahan lama pada kondisi
setelah sabun tesebut digunakan. (William dan Schmitt, 2002 dalam Taufik, 2011).
Selain itu, menurut Luis Spitz (1996), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
reaksi penyabunan antara lain:
1. Konsentrasi larutan KOH/NaOH
Konsentrasi basa yang digunakan dihitung berdasarkan stokiometri reaksinya,
dimana penambahan basa harus sedikit berlebih dari minyak agar tersabunnya
sempurna. Jika basa yang digunakan terlalu pekat akan menyebabkan
terpecahnya emulsi pada larutan sehingga fasenya tidak homogen., sedangkan
jika basa yang digunakan terlalu encer, maka reaksi akan membutuhkan waktu
yang lebih lama. Berdasarkan hal tersebut,sabun yang dihasilkan tidak
mengalami proses saponifikasi dengan baik karena formulasi NaOH menjadi
terlalu encer dengan penambahan jumlah asam lemak bebas yang terlalu
banyak.
2. Suhu (T)
Reaksi penyabunan merupakan reaksi eksotermis (H negatif), maka dengan
kenaikan suhu akan dapat memperkecil harga K (konstanta keseimbangan),
tetapi jika ditinjau dari segi kinetika, kenaikan suhu akan menaikan kecepatan
reaksi. kenaikan suhu akan mempercepat reaksi, yang artinya menaikan hasil
dalam waktu yang lebih cepat. Tetapi jika kenaikan suhu telah melebihi suhu
optimumnya maka akan menyebabkan hasilnya menurun. Turunnya harga
konstanta keseimbangan reaksi oleh naiknya suhu merupakan akibat dari
reaksi penyabunan yang bersifat eksotermis. (Levenspiel, 1972). Selama
praktikum tidak dilakukan proses pemanasan terlebih dahulu sehingga tidak
diketahui kecepatan reaksi penyabunan yang terjadi.
3. Pengadukan
Pengadukan dilakukan untuk memperbesar probabilitas tumbukan molekul-
molekul reaktan yang bereaksi. Jika tumbukan antar molekul reaktan semakin
besar, maka kemungkinan terjadinya reaksi semakin besar pula. (Levenspiel,
1987). Selama praktikum pengadukan dilakukan hingga larutan membentuk
trace atau mengental yang menunjukkan proses saponifikasi telah terjadi.
4. Waktu
Semakin lama waktu reaksi menyebabkan semakin banyak pula minyak yang
dapat tersabunkan, berarti hasil yang didapat juga semakin tinggi, tetapi jika
reaksi telah mencapai kondisi setimbangnya, penambahan waktu tidak akan
meningkatkan jumlah minyak yang tersabunkan (Perdana F.K, 2009). Pada
hasil pengamatan sabun padat ampas kopi dilakukan pendiaman hingga 1
minggu dan tidak menunjukkan perubahan tekstur dikarenakan reaksi yang
terjadi telah mencapai kondisi yang setimbang dan jumlah asam lemak bebas
yang tidak tersabunkan lebih banyak sehingga tekstur tidak terbentuk padatan
b. Warna
Warna pada sabun yang dihasilkan selama praktikum menunjukkan hasil
paling baik yaitu pada perlakuan NaOH 25%, sedangkan pada konsentrasi NaOH
30% dihasilkan warna yang terlalu mengkilap dibandingkan lainnya. Hal ini
dipengarhi oleh banyaknya jumlah asam lemak bebas yang tidak tersabunkan. Pada
konsentrasi NaOH 35% dihasilkan warna hitam pekat yang disebabkan oleh ampas
kopi tidak larut lebih banyak daripada lainnya. Warna sabun dipengaruhi oleh warna
bahan baku yang digunakan. Surfaktan yang digunakan sebagai bahan baku diduga
mempengaruhi warna sabun padat yang dihasilkan. Hal ini sejalan dengan Kailaku
(2006), bahwa warna bahan pencampur yang digunakan pada pembuatan sabun
mempengaruhi hasil sabun. Fungsi penambahan ampas kopi pada sabun yaitu untuk
melembabkan kulit karena mengandung senyawa antioksidan. Pada ampas kopi
terkandung isoflavon yaitu senyawa polifenol yang dapat memperlihatkan peranan
seperti esterogen, sehingga seringkali disebut sebagai fitoesterogen, yaitu senyawa
yang mempunyai aktifitas estrogenik tetapi berasal dari tanaman. Isoflavon juga
mempunyai kemapuan sebagai antioksidan untuk mencegah penuaan dini dengan
bahan tambahan yang mempunyai fungsi melembabkan kulit dan antioksidan hampir
sama yaitu untuk mencegah kerutan di kulit yakni ampas kopi (Dewi, 2012)
c. Kenampakan
Ampas kopi dengan tekstur kasar mengandung butiran scrub yang sangat baik
untuk menganggkat sel-sel kulit mati dan melembabkan kulit. Kafein yang
terkandung di dalam ampas kopi sejumlah 1-1,5% dapat bertindak selaku
vasorestrictor yang berarti mengencangkan dan mengecilkan pembuluh darah. (Dewi,
2012). Berdasarkan penambahan ampas kopi, kenampakan sabun paling baik yaitu
pada sabun dengan konsentrasi NaOH 25% memiliki kenampakan yang halus
dibanding lainnya. Pada sabun dengan konsentrasi NaOH 30% memiliki kenampakan
licin dan terlihat berminyak dibanding produk sabun lainnya, sedangkan pada
konsentrasi NaOH 35% menunjukkan kenampakan yang tidak rata dan cenderung
lebih bervolume dibanding produk sabun lainnya. Hal ini disebabkan karena jumlah
air pada konsentrasi 35% lebih sedikit sehingga butiran ampas kopi lebih besar yang
tidak ikut larut bersama air.
d. Aroma
Aroma sabun padat dengan penambahan ampas kopi pada konsentrasi 25%
menunjukkan aroma yang lebih baik dari lainnya yaitu tidak berbau tengik ataupun
dari sumber ampas kopi. Pada konsentrasi 30% menunjukkan aroma sabun yang tidak
terlalu tengik, sedangkan pada konsentrasi 35% menunjukkan aroma sabun yang
tidak enak akibat perpaduan dari aroma tengik dan sabun ampas kopi. Hal tersebut
sesuai dengan pendapat Putri (2009) yaitu berdasarkan SNI 06-3532-1994 kadar asam
lemak bebas maksimal adalah < 2,5%, jika kadar asam lemak tinggi pada sabun
maka, kecenderungan sabun berbau tengik akan semakin besar. Penggunaan
formulasi asam lemak bebas dari minyak kelapa dan minyak sawit yang direaksikan
dengan NaOH tidak seimbang yang menyebabkan reaksi saponifikasi tidak
berlangsung serta kandungan asam lemak bebas yang berlebih menyebabkan aroma
tengik pada sabun yang dihasilkan.
Pada dasarnya, ampas kopi memiliki aroma yang khas dan tajam, kopi juga
mempunyai banyak khasiat untuk kecantikan kulit dari sejak jaman nenek moyang
telah menggunakan kopi sebagai bahan baku lulur tradisional. Ampas kopi
menghasilkan minyak antioksidan yang bersifat menghaluskan kulit (Dewi, 2012).
BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasil praktikum yang telah dilakukan yaitu :
1. Cara pembuatan sabun ampas kopi adalah dengan reaksi saponifikasi atau
penyabunan antara basa kuat (NaOH) dengan asam lemak bebas yang
dihidrolisis menghasilkan sabun dan gliserol. Ampas kopi ditambahkan pada
pembuatan sabun yaitu sebagai pengisi yang menambah fungsional dari sabun
akibat kandungan antioksidan pada ampas kopi
2. Konsentrasi bahan yang berperan penting dalam penbentukan sabun yaitu
formulasi jumlah NaOH dan asam lemak bebas (minyak). Jumlah NaOH yang
terlalu sedikit mempengaruhi tekstur sabun menjadi tidak padat. Pada jumlah
asam lemak bebas yang digunakan apabila tidak seimbang dengan NaOH
maka banyak asam lemak bebas yang tidak tersabunkan dan mempengaruhi
hasil akhir sabun padat
3. Ampas kopi dapat ditingkatkan nilai emonomisnya dengan sedikit sentuhan
teknologi dengan menjadi produk sabun padat karena mengandung butiran
scrub yang dapat mengangkat kulit mati dan mengandung antioksidan untuk
melembabkan kulit agar tidak terjadi penuaan dini

5.2 Saran
Adapun saran pada praktikum pembuatan sabun padat yaitu dengan
mengetahui formulasi pembuatan sabun padat dengan teliti serta mengikuti beberapa
prosedur yang sesuai untuk proses pembuatan sabun.
DAFTAR PUSTAKA

Belitz, H.D., and Grosch W. 2004. Food Chemistry. 3rd ed. New York : Springer
Verlag Berlin Heidebers.

Corredoira R.A. dan Pandolfi A.R., 1996, Raw Materials and Their Pretreatment
for soap Production. Di dalam Spitz, L. (ed). 1996 Soaps and Detergents,
A Theoretical and Practical Review. AOCS Press, Illinois.

Hambali, Erliza dkk. 2007. Penelitian Pembuatan Sabun Transparan.


PenelitianBogor : IPB.

Ketaren, 1986, Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan, 1st Ed., 30-60,
Universitas Indonesia, Jakarta.

Levenspiel, O., 1972. Chemical Reaction Engineering, 2nd Ed. John Wiley &
Sons, Inc., New York, hal. 21-22.

Luis, Spitz. 1996. Soap and Ditergent Theoritical and Practical Review. AOCS Press.
United States of America

Muchtadi, T.R dan Sugiyono. 2010. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Alfabeta :
Bandung.

Perdana, F.K. dan Ibnu Hakim. 2009. Pembuatan Sabun Cair dari Minyak Jarak
dan Soda Q sebagai Upaya MeningkatkanPangsa Pasar Soda Q. Online:
http://eprints.undip.ac.id diakses pada 25 April 2014.
Utami, Putri. 2009. Proses Pembuatan Sabun Cair dari Minyak Goreng Bekas.
Laporan Akhir. Palembang: Polsri.

Simeh, M. A. 2004. Comparative Advantage of The European Rapeseed Industry vs


Other oils and Fats Producers. Oil Palm Industry Economic Journal. 4(2), 14-
22. Malaysian Palm Oil Board.

SNI 06-4085-1996, Standar Mutu Sabun Mandi Cair, Dewan Standarisasi Nasional,
Jakarta.

Shrivastava, S.B., 1982, Soap, Detergent and Perfume Industry, Small Industry
Research Institute, New Delhi.

Sudarmadji S, dkk. 1997. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian.
Liberty. Yogyakarta.

Wade, Ainley, and Paul J. Weller., 1994, Handbook of Pharmaceutical


Recipients, second edition, American Pharmaceutical Association, Washington.

Williams & Wilkins, 2011, Ilmu Gizi Menjadi Sangat Mudah Edisi Kedua,
diterjemah oleh Linda, Aryandhito Widhi Nugroho & Niko Santoso, EGC,
Jakarta.

Winarno, F.G . 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

Woodroof, J.G., 1979, Coconut Production Processing Product, AVI Publ. Company.
INC., Westport, Connecticut.