Anda di halaman 1dari 11

1.

Di negara-negara maju belajar Filsafat secara formal sudah dimulai dari


tingkat SMA, sedangkan di Indonesia belum ada wacana, hanya pada tingkat S2
Filsafat Ilmu atau Filsafat Sains menjadi mata kuliah wajib. Jelaskanlah apa
pentingnya belajar Filsafat, dan apa rencana anda mengembangkan dunia pendidikan
setelah belajar filsafat.
Jawab :
Pentingnya Belajar filsafat dalam filsafat kita dapat menjumpai pandangan-
pandangan tentang apa saja (kompleksitas, mendiskusikan dan menguji kesahihan dan
akuntabilitas pemikiran serta gagasan-gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan
secara ilmiah dan intelektual (Bagir, 2005). Dengan belajar filsafat ilmu kita dapat
membedakan pengetahuan ilmiah dan yang tidak ilmiah. pengetahuan ilmiah
diperoleh secara sadar, aktif, sistematis, jelas prosesnya secara prosedural, metodis
dan teknis, tidak bersifat acak, kemudian diakhiri dengan verifikasi atau diuji
kebenaran (validitas) ilmiahnya. Sedangkan pengetahuan yang prailmiah, walaupun
sesungguhnya diperoleh secara sadar dan aktif, namun bersifat acak, yaitu tanpa
metode, apalagi yang berupa intuisi, sehingga tidak dimasukkan dalam ilmu. Dengan
demikian, pengetahuan pra-ilmiah karena tidak diperoleh secara sistematis-
metodologis ada yang cenderung menyebutnya sebagai pengetahuan naluriah.
Dalam sejarah perkembangannya, di zaman dahulu yang lazim disebut tahapmistik,
tidak terdapat perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan yang berlaku juga untuk
obyek-obyeknya. Pada tahap mistik ini, sikap manusia seperti dikepung oleh
kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, sehingga semua obyek tampil dalam
kesemestaan dalam artian satu sama lain berdifusi menjadi tidak jelas batas-batasnya.
Yang akan saya lakukan setelah mempelajari filsafat ilmu dalam
memajukan pendidikan di indonesia adalah sebagai seorang guru saya
berterimakasih sekali kepada bapak Dr. Daulat saragih, M. Hum yang telah
membimbing kami mempelajari filsafat. Saya seperti diajak keliling dunia dalam
dimensi waktu yang berbeda setiap perkuliahan. Saya diperkenalkan oleh tokoh-tokoh
dunia seperti Plato, Aristoteles, Imanuel Kant, Descartes dan lain-lain.
Filsafat ilmu bagi saya menjadi landasan dalam berkarya dan
mengembangkan kompetensi. Filsafat ilmu sangat membantu saya dalam
menyampaikan materi pelajaran GEOGRAFI. Geografi sebagai suatu ilmu

1
mempelajari fenomena fisik dan sosial yang terjadi dipermukaan bumi. Saya selalu
menghubungkan konsep teori-teori yang ada dengan pengalaman nyata yang terjadi di
permukaan bumi. Setelah mempelajari filsafat saya dapat mengkaitkan setiap materi
pelajaran dengan pandangan-pandangan filsafat yang berkembang seperti dalam
menjelaskan tentang Pembentukan alam semesta saya selalu mengajak siswa untuk
mengetahui bahwa pada abad ke -19 manusia sudah berfilsafat, menduga-duga
(bertanya) bagaimana alam semesta ini diciptakan, mulai muncul aliran-aliran filsafat
seperti materialis. Selanjutnya dalam materi sejarah perkembangan bentuk
permukaan bumi banyak sekali teori-teori yang muncul terhadap bentuk
perkembangan permukaan bumi saya selalu mengkaitkan filsafat dalam menjelaskan
kenapa teori yang satu bisa berbeda dengan teori yang lain dan teori mana yang paling
dianggap benar saat ini dan ilmu pengetahuan terbuka untuk salah maka muncul teori-
teori baru. Dalam ruang lingkup sosialpun filsafat saya kaitkan dengan munculnya
aliran-aliran Neo Maltusian, yang sebelumnya Robert Thomas Malthus Menjelaskan
bahwa pertumbuhan penduduk sesuai deret ukur (2,4,8,16,32.......) sedangkan bahan
makanan bertambah sesuai deret hitung (1,2,3,4........) sehingga akan terjadi
kemiskinan dan kemelaratan apabila jumlahnya tidak dibatasi.
Begitu pentingnya filsafat ilmu dalam menjelaskan setiap konsep dalam
disiplin ilmu geografi maka Pemerintah Wajib memasukkan filsafat ilmu dalam
kurikulum. Saya sangat meyakini adanya keterkaitan filsafat ilmu dengan ilmu-ilmu
lain. Oleh karena itu filsafat harus dimasukkan menjadi pelajaran wajib di jenjang
SMA. Dengan belajar filsafat sejak dini siswa akan mampu melihat masalah dari
berbagai sisi, berfikir kreatif dan kritis dengan independen, mampu mengatur
waktu dan diri, serta menata hidup lebih baik lagi sebagai bekal mereka menuju
jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Filsafat mengajarkan kita untuk melakukan analisis, dan mengemukakan ide
dengan jelas serta rasional. Dengan belajar berfikir secara logis, seimbang, kritis ,
sistematis dan komunikatif, mereka kelak akan menjadi seorang pemimpin yang ideal.

2
2. Sejak Munculnya pemikiran Rasionalisme oleh Rene Descartes,
perkembangan ilmu pengetahuan sangat pesat, Jelaskan dasar pemikiran Rasionalisme
tersebut, dan berikan contohnya
Jawab : Rene descartes (1596-1650) Ahli ilmu pasti dan bapak Filsafat Modern.
Rasionalisme lahir untuk menggali kembali khazanah intelektual Yunani kuno yang
mengedepankan rasionalitas dan kebebasan berfikir. Setelah hampir sepuluh abad
Eropa diselimuti kabut Teologis yang memanipulasi kebenaran, sejak kezaliman
intelektual dilakukan oleh gereja dan tidak sedikit pula filsuf yang dikekang
kebebasan berfikirnya. Rasionalis muncul ketika filsafat skolastik mempunyai peran
yang otoritas atas pemikiran yang berlangsung lama (400-1500 M). Descartes ingin
meyakinkan para filosof skolastik bahwa yang menjadi dasar filsafat adalah akal.
Sementara mereka beranggapan pada pandangan dasar filsafat adalah iman. Kemudian
Descartes menyusun argumentasi yang dikenal dengan Cogito Ergo Sum yang
artinya saya berfikir maka saya ada.
Segala sesuatu kebenaran harus diragukan. Yang tidak ia ragukan adalah
bahwa ia sendiri ragu-ragu. Manusia memperoleh pengetahuannya berdasarkan pada
metode diduksi dari yang bersifat umum menjadi suatu kesimpulan yang bersifat
khusus. Dalam hal ini Descartes menggunakan dua pengoperasian mental, Pertama
Intuisi. Intusi merupakan pemahaman kita atas prinsip bukti diri, atau suatu konsep
yang muncul dengan cepat dan tepat didalam akal budi yang jernih, sehingga
pemikiran tersebut terbebas dari keraguan. Misalnya Persamaan aritmatika bahwa
2 + 3 = 5. Pembuktian persamaan ini menggunakan akal. Kebenarannya mutlak
dan sudah diakui dalam akal. Tidak ada lagi yang dapat meragukannya. Kedua
Deduksi, Deduksi adalah kesimpulan logis yang diturunkan dari kesimpulan umum
kedalam kesimpulan khusus.
Jadi, intuisi dan deduksi inilah yang ada dalam metode matematika.
Ketika sebuah metode pengetahuan mampu beroperasi seperti itu, maka bagi
kalangan rasionalis pasti akan menghasilkan pengetahuan yang tidak bisa
diragukan lagi.
Metode keraguan ini digunakan sebagai sistem mencari kebenaran. Descartes
meletakan filsafat sebagai dasar pemikiran dalam meragukan sesuatu. Sementara jalan

3
mencari kebenaran adalah ilmu pengetahuan melalui akal pikiran. Descartes mewarisi
suatu metode berfikir sebagai berikut :
Tidak menerima apapun sebagai hal yang benar, kecuali kalau diyakini sendiri bahwa
hal itu benar. Artinya Jangan pernah menerima baik apa saja sebagai benar, jika tidak
mempunyai pengetahuan yang jelas. Kebenaran tidak mungkin berdiri sendiri jika
tidak ditopang dengan dasar-dasar penunjangnya, baik pernyataan, teori, keterkaitan,
konsistensi, keterukuran , dapat dibuktikan, berfungsi, dan bersifat netral atau tidak
netral. Untuk mencapai sebuah kebenaran ada beberapa tahapan yang harus dilalui,
baik itu rasional, hipotesa, kausalitas, anggapan sementara, teori, atau sudah menjadi
hukum kebenaran.
Memilah-milah masalah menjadi bagian-bagian terkecil untuk mempermudah
penyelesaian. Artinya Pecahkan tiap kesulitan anda menjadi sebanyak mungkin
bagian dan sebanyak yang dapat dilakukan untuk mempermudah penyelesaiannya
secara lebih baik. Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan, masalah terjadi
karena ada kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan yang sesungguhnya.
Maka masalah harus dipilah menjadi bagian terkecil agar mudah diselesaikan dan
tidak saling tumpang tindih. Selanjutnya mengumpulkan keterangan-keterangan dari
kajian teori dan merumuskan thesa, mengujinya dan membuat kesimpulan.
Berfikir runtut dengan mulai dari hal yang sederhana sedikit demi sedikit sampai
kehal yang paling rumit. Artinya Arahkan pemikiran anda secara tertib dari objek
yang paling sederhana dan paling mudah diketahui lalu meningkat sedikit demi sedikit
ke pengetahuan yang paling kompleks.
Perincian yang lengkap dan pemeriksaan menyeluruh diperlukan supaya tidak ada
yang terlupakan. Artinya Setiap permasalahan ditinjau secara menyeluruh sehingga
tidak ada yang dilalaikan. Buatlah penomoran untuk seluruh permasalahan selengkap
mungkin, dan tinjau ulang secara menyeluruh sehingga anda dapat merasa pasti tidak
satupun yang ketinggalan.

3. Jelaskan apakah perkembangan ilmu harus bebas nilai atau harus terikat
dengan nilai, berikan contohnya dari sisi positif dan negatifnya.

4
Jawab : Pendapat saya mengenai perkembangan ilmu apakah harus bebas nilai atau
terikat nilai adalah Ilmu harus bebas nilai. Bebas nilai adalah tuntutan yang
ditujukan kepada ilmu pengetahuan agar ilmu pengetahuan dikembangkan dengan
tidak memperhatikan nilai-nilai lain di luar pengetahuan. Tuntutan dasarnya adalah
agar ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan, dan ilmu
pengetahuan tidak boleh dikembangkan dengan didasarkan pada pertimbangan lain di
luar seperti faktor ideologis, religious, cultural, dan social. Ilmu pengetahuan harus
dikembangkan hanya semata-mata berdasarkan pertimbangan ilmiah murni
Dalam pandangan ilmu yang bebas nilai, eksplorasi alam tanpa batas dapat
dibenarkan. Contoh untuk hal ini adalah teknologi air condition (AC) dapat
membawa dampak positif yaitu mendinginkan ruangan juga membawa dampak
negatif yaitu pemansan global (Perubahan iklim). ilmu pembuatan alat pendingin
ruangan ini semata untuk pengembangan teknologi dengan tanpa memperdulikan
dampak yang ditimbulakan pada lingkungan sekitar. Dalam bidang kedokteran dengan
ditemukannya Anabolic steroid (hormon sintesis) yang dapat digunakan untuk
memperbesar otot dengan cepat, namun dapat mengakibatkan kematian karena
pemakaian dalam dosis yang berlebihan dan tidak dikontrol penggunaannya. Sekarang
ini terjadi krisis kemanusiaan diberbagai belahan dunia tampak dari betapa banyaknya
rezim suatu negara mempergunakan perangkat teknologi senjata perang modern,
yang semula diniatkan untuk menjaga ketentraman warga negara, dan membela
diri dari kemungkinan serangan pihak asing, tetapi justru diselewengkan untuk
menindas kelompok minoritas (etnis/agama) di negerinya. Misalnya Etnis
Rohingya di Myanmar.
Maksud dasar dari tuntutan ini adalah selama ilmu pengetahuan tunduk pada
pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan, baik itu pertimbangan politik, religius,
maupun moral, ilmu pengetahuan tidak bisa berkembang secara otonom. Dengan kata
lain, ilmu pengetahuan kalah terhadap pertimbangan lain dan dengan demikian ilmu
pengetahuan menjadi tidak murni sama sekali. Yang mau diwujudkan dengan
tuntutan bebas nilai adalah tuntutan agar ilmu pengetahuan dikembangkan
hanya demi kebenaran saja, dan tidak perlu tunduk kepada nilai dan
pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan.

5
Kalau ilmu pengetahuan harus tunduk kepada kekuasaan
pemerintah, hanya demi menjaga keutuhan masyarakat
misalnya, ada bahaya bahwa kebenaran dikorbankan. Ada
bahaya bahwa kita terpaksa berbohong demi menjaga keutuhan
masyarakat. Demikian pula, kalau ilmu pengetahuan harus tunduk
kepada nilai-nilai religius dan moral, ada bahaya yang sangat
besar bahwa kebenaran dikalahkan demi menjaga keluhuran
nilai religius dan moral itu. Akibatnya, kita tidak pernah sampai
pada kebenaran ilmiah yang objektif dan rasional. Ilmu
pengetahuan lalu berubah menjadi ideologi yang hanya berfungsi
untuk melayani pihak tertentu dan demi itu rela mengorbankan
kebenaran.

6
4. Habermas mengatakan, Ilmu pengetahuan alam terbentuk karena kepentingan-
kepentingan praktis, dengan demikian tidak ada sesuatu yang benar secara sungguh,
Jelaskanlah maksud dari tokoh tersebut!
Jawab :
Kritik Habermas terhadap Sains :
Teori ini berkembang tahun 30-an di Jerman yakni di Institut Sosial
forschung di Frankfurt, sehingga sering juga disebut aliran Frankfurt. Tokoh-tokoh
terkemuka dari teori ini adalah Horkheimer, Adorno, dan Marcuse. Sebenarnya teori
ini berasal dari Teori Kritik Masyarakat yang intinya adalah bermaksud
membebaskan masyarakat dari manipulasi ilmuwan modern.
Salah satu unsur utama dari teori kritis adalah keyakinan bahwa di balik
selubung objektivitas sains tersembunyi kepentingan kekuasaan. Kepentingan
ini diyakini bersifat ekonomis, kapitalis, dan dehumanis. Karena itu, penganut
teori kritis ingin membuat semacam pencerahan (enlightenment/aufklarung)
dengan mengungkap tabir yang menutupi maksud yang tidak manusiawai dari
perkembangan sains. Perihal selubung kepentingan dalam sains sebenarnya
sudah dikemukakan sejak lama oleh filsuf Yunani Francis Bacon.
Teori kritis mencapai kejayaan pada tahun 60-an di Eropa dan menjadi
inspirasi sebuah gerakan masyarakat dan mahasiswa. Sayangnya, gerakan ini
berkembang menjadi gerakan anti masyarakat industri dan kapitalis, sehingga sering
disebut Neo Marxisme. Sejalan dengan gagalnya Marxisme paham teori kritis juga
memudar. Perkembangan dunia ternyata tidak sesuai dengan pengandaian (presumsi)
Marx bahwa manusia adalah makhluk berkebutuhan, dan hal ini merupakan peluang
untuk dimanipulasi oleh kapitalisme dengan kedok perkembangan sains.
Salah satu pandangan penting dari hasil penelitian Habermas adalah bahwa
tidak masuk akal untuk menyimpulkan secara umum tentang kepentingan di belakang
setiap ilmu (sains). Hal inilah yang membedakan Habermas dengan tokoh-tokoh teori
kritis. Habermas membagi ilmu pengetahuan ke dalam tiga kelompok dengan
masing-masing kelompok kepentingan, objek, dan ciri yang khas. Dari sini
terlihat bahwa Habermas juga meninggalkan teori tradisional yang menganggap
bahwa sains bebas dari semua kepentingan.

7
Kelompok ilmu pertama adalah ilmu ilmu empiris-analitis seperti ilmu
alam. Tujuan ilmu-ilmu ini adalah penguasaan alam untuk pemenuhan
kebutuhan manusia, jadi tetap memiliki kepentingan.
Kelompok kedua adalah ilmu-ilmu historis- hermeneutis seperti ilmu sejarah.
Tujuan kelompok ilmu ini adalah pengungkapan makna, pengorganisasian
objek untuk kepentingan perluasan intersebjektivitas sehingga diperoleh
peningkatan saling pengertian untuk tujuan tindakan bersama.
Kelompok ketiga adalah ilmu-ilmu tindakan seperti ilmu ekonomi, sosiologi,
politik, serta ilmu-ilmu reflektif seperti ideologi, psikoanalitik dan filsafat.
Jurgen Habermas dengan Teori Kritisnya menawarkan pemahaman baru yang
dikembangkan lewat masyarakat kritis emansipatoris. Semua pemikiran-pemikirannya
sangat terlihat mengerucut pada keinginannya untuk menempatkan modernitas sebagai
realitas empiris yang harusnya dapat memberdayakan kehidupan masyarakat, dan
bukan sebaliknya. Untuk mencapai tujuannya membentuk masyarakat yang merdeka,
independent, dan bebas dalam menentukan tujuan hidupnya sendiri, masyarakat harus
melakukan komunikasi-komunikasi baik verbal maupun non-verbal (communication
action) agar dicapai apa yang sebenarnya disebut kesadaran kolektif, yaitu dalam
bentuk kesepakatan atau konsensus. Dengan demikian masyarakat tersadar bahwa
sebenarnya mereka hidup diatas dunia yang penuh kepalsuan dengan menerima segala
bentuk situasi sebagai keadaan yang tidak bisa diubah, padahal jika masyarakat
menyadarinya maka dengan sendirinya masyarakat akan menjadi entitas yang bebas
untuk memperjuangkan emansipasinya sendiri seperti yang diinginkannya serta tidak
terjebak dalam kepura-puraan modernisasi yang hanya berpihak pada satu sisi ansich.
Pada ahirnya kebenaran yang sejati memang tidak ada, karena kebenaran ilmu
pengetahuan ilmiah tidak bersifat absolut tidak bebas dari kekeliruan atau selalu
terbuka terhadap kritik dan perbaikan. Kebenaran ilmu pengetahuan dapat diterima
selama tidak ada fakta yang menolak kebenarannya. Kebenaran ilmu pengetahuan
bersifat pragmatis. Ilmu pengetahuan dipandang benar dan dianggap sebagai
pengetahuan yang sahih sepanjang tidak ditolak kebenarannya dan bermanfaat bagi
manusia. Ilmu pengetahuan juga tidak selalu memberikan jawaban yang memuaskan
terhadap masalah-masalah manusia. Ilmu pengetahuan mempunyai berbagai
keterbatasan dan keterbatasan inilah yang memerlukan bantuan filsafat dalam

memberikan jawaban.

8
5. Perkembangan ilmu agama selalu terlambat dari pada perkembangan ilmu
pengetahuan, sehingga agama selalu mencurigai ilmu pengetahuan, dan kadang
menghukumnya dengan dalil-dalil yang tidak dapat diterima ilmuan/secara ilmiah,
jelaskan tanggapan anda dan berikan contoh konkret!
Jawab :
Perkembangan sains yang selalu bertentangan dengan ilmu agama sudah
terjadi sejak abad pertengahan, dimana posisi gereja cukup mendominasi seluruh
aspek kehidupan. Hal ini diperkuat pula oleh berkembangnya teosentrisme di dalam
khazanah filsafat Barat. Buah hasil dari perkembangan itu adalah terkekanganya
rasionalitas dan terkuburnya intelektualitas. Nicoulas Copernicus merupakan salah
seorang korban kekerasan intelektual yang dimotori oleh kalangan gereja.
Sampai akhir hayatnya, hak-hak intelektual Copernicus untuk mempublikasikan hasil
penelitiannya tidak kesampaian karena tertutupnya pintu bagi mereka yang berbeda
dengan gereja. Tragedi intelektual ini semakin buruk terutama setelah gereja
mengadili Galileo pada tahun 1633. Pengadilan tersebut berawal dari keberanian
Galileo untuk mendukung teori Copernicus yang menyatakan bahwa bumi dan
planet-planet berputar dalam orbitnya mengelilingi matahari (heliosentris), dan
menolak teori Ptolemeus yang menyatakan bahwa matahari dan planet-planet
berputar mengelilingi bumi (geosentris). Dengan pendapat itu, berarti Galileo
secara tegas menolak otoritas ilmiah Aristoteles yang mendukung astronomi
Ptolemeus yang telah tersebar luas di Eropa sejak abad ke-12. Di samping itu, Galileo
juga menentang otoritas kitab suci yang meyakini bumi sebagai pusat alam semesta.
Dan yang lebih tidak populer lagi adalah tantangan terbuka Galileo terhadap otoritas
gereja.
Di abad ke-19, perseteruan antara sains dan agama belum mereda. Pada tahun
1859 Charles Darwin, seorang biolog asal Inggris, menerbitkan sebuah buku yang
berjudul The Origin of Natural Selection, or The Preservation of Favoured Race in
the Struggle for Life (Asal-usul Makhluk Melalui Seleksi Alam, atau Kelestarian Ras
unggul dalam Perjuangan Hidup). Penerbitan karya itu tidak lepas dari dorongan dua
orang teman dekatnya yaitu Alfred Russel Wallace, dan Thomas Robert Malthus,
Terbitnya buku tersebut dianggap sebagai tonggak berdirinya teori Evolusi dan secara
resmi gelar Bapak teori evolusi diberikan kepada Darwin. Dalam buku tersebut
Darwin menguraikan gagasannya mengenai evolusi dan seleksi alam. Yang dimaksud

9
dengan seleksi alam adalah bahwa alam mengadakan seleksi terhadap individu yang
hidup di dalamnya. Hanya individu yang dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya yang akan hidup terus, sedangkan yang tidak akan musnah. Dengan
teori tersebut dapat disimpulkan bahwa teori evolusi berlaku kepada seluruh makhluk
hidup, bukan hanya kepada manusia saja.
Seleksi alam dan teori evolusi yang dikemukakan pada buku pertama
Darwin belum menimbulkan reaksi keras dari kelompok agamawan. Baru
setelah buku kedua yang berjudul The Descent of Man and Selection to
Sex diterbitkan pada tahun 1859 reaksi keras datang dari kalangan Gereja.
Reaksi keras itu muncul setelah pengikut teori Darwin mengekstrapolasikan
pengertian evolusi sedemikian rupa, seolah-olah manusia berasal dari kera.
Selain teori evolusi, masih terdapat sejumlah penemuan ilmiah lainnya yang
merangsang pecahnya hubungan sains dan agama. Di antara penemuan ilmiah yang
dapat disebut antara lain bidang astronomi, implikasi fisika kuantum, dan neurosains.
Sementara itu, rekayasa genetika dan kloning merupakan isu terakhir yang
sempat mengusik dan menyita perhatian kelompok agamawan. Dengan
demikian, saat ini relasi sains dan agama masih meninggalkan sejumlah problem
yang perlu diselesaikan.
Dari latar belakang masalah diatas saya berkesimpulan bahwa ilmu
pengetahuan dan ilmu agama serta kebenaran filsafat tentunya memiliki kajian yang
tidak serupa. Kebenaran ilmu pengetahuan bersifat pragmatis. Ilmu pengetahuan
dipandang benar dan dianggap sebagai pengetahuan yang sahih sepanjang tidak
ditolak kebenarannya dan bermanfaat bagi manusia. Ilmu pengetahuan juga tidak
selalu memberikan jawaban yang memuaskan terhadap masalah-masalah manusia.
Ilmu pengetahuan mempunyai berbagai keterbatasan dan keterbatasan inilah yang
memerlukan bantuan filsafat dalam memberikan jawaban.
Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak karena berasal dari sesuatu yang
mutlak dan memberi penyelesaian yang memuaskan bagi banyak pihak. Agama
memberi kepastian yang mantap terhadap suatu bentuk kebenaran karena kebenaran
agama didasarkan pada suatu kepercayaan. Agama mengandung sistem credo atau tata
kepercayaan tentang sesuatu yang mutlak di luar manusia. Dengan mempelajari tiga
kajian kebenaran ini (Ilmiah, Agama, Filsafat), setiap insan diharapkan mampu
menerapkan pola pikir yang elegan. Karena tidak dapat kita pungkiri bahwa salah

10
satu faktor penyebab kemorosotan moral yang menjangkit hidup manusia yaitu
karena kurang mengenalnya kebenaran yang mampu mengarahkan pola pikirnya
dalam bertindak. Harapannya, dengan menaklukkan kebenaran ilmiah, agama, dan
juga kebenaran filsafat, idelanya manusia sebagai mahluk pembelajar dapat tertuntun
dalam mengenal Tuhannya serta dapat mengawinkan tiga kajian kebenaran tersebut
dengan piawai dalam meraih tatanan hidup yang sesuai

11