Anda di halaman 1dari 164

RISIKO KERACUNAN MERKURI (Hg)

PADA PEKERJA PENAMBANGAN EMAS TANPA IZIN (PETI)

DI DESA CISARUA KECAMATAN NANGGUNG KABUPATEN BOGOR

TAHUN 2013

SKRIPSI

Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

Dosen Pembimbing :

OLEH :
NITA RATNA JUNITA
109101000027

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013 M/ 1434 H
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Skripsi, 8 November 2013

Nita Ratna Junita, NIM : 109101000027

Risiko Keracunan Merkuri (Hg) pada Pekerja Penambangan Emas Tanpa Izin
(PETI) di Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor Tahun 2013

xxiii + 112 halaman, 19 tabel, 5 gambar, 3 bagan, 4 lampiran

ABSTRAK
Merkuri merupakan logam berat yang dikelompokkan kedalam golongan yang
memiliki tingkat toksik tinggi (Widowati et. al., 2008). Penggunaan merkuri dalam
proses pengolahan emas dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan yaitu berupa
kejadian keracunan merkuri. Hal tersebut diindikasikan dengan mengacu pada
ketentuan batas normal kadar merkuri total yang telah ditetapkan WHO dengan
menggunakan pengukuran biomarker. Untuk batas normal pada rambut adalah 1-2
ppm. Berdasarkan studi pendahuluan, dari 10 pekerja PETI di Desa Cisarua
Kecamatan Nanggung terdapat 8 pekerja yang mengalami keracunan merkuri.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Cross
Sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 40 orang pekerja PETI di Desa Cisarua
Kecamatan Nanggung. Sampel diambil dengan menggunakan teknik accidental
sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah umur, status gizi, massa kerja,
jam kerja, jenis aktivitas, dan konsumsi ikan. Adapun variabel terikatnya adalah
kejadian keracunan merkuri. Data yang diperoleh diolah dengan mengunakan uji
statistik t independent, mann withey wil. dan chi square pada 5%.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 24 orang pekerja
(60%) terdeteksi mengalami keracunan merkuri, sedangkan yang tidak mengalami
keracunan merkuri adalah sebanyak 16 pekerja (40%). Selanjutnya berdasarkan hasil
analisis bivariat diketahui bahwa terdapat dua variabel independen yang berhubungan
secara signifikan terhadap keracunan merkuri, yaitu variabel massa (p value=0,0005)
dan jam kerja (p value=0,035).
Dari hasil penelitian, disarankan bagi pemerintah dan pihak terkait sebaiknya
memberikan penyuluhan kepada masyarakat terkait merkuri dan dampaknya terhadap
kesehatan dan lingkungan sekitar. Kemudian, untuk mengurangi risiko kejadian

ii
keracunan merkuri pada pekerja sebaiknya dianjurkan untuk menggunakan Alat
Pelindung Diri (APD) yaitu berupa masker, sarung tangan karet, dan baju lengan
panjang selama proses pengolahan emas. Selanjutnya, untuk penelitian berikutnya
diharapkan dapat melakukan pengukuran terhadap faktor lingkungan, yaitu terkait
kadar merkuri yang terdapat baik di air, udara, tanah, maupun makanan.

Kata kunci: Pekerja PETI, Keracunan merkuri, Desa Cisarua, Kecamatan Nanggung
Daftar bacaan: 55 (2000-2013)

iii
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
DEPARTMENT OF PUBLIC HEALTH
MAJOR OF ENVIRONMENTAL HEALTH

Final Test, 8 November 2013

Nita Ratna Junita, NIM : 109101000027

The Risk of Mercury Poisoning (Hg) in the workers of illegal gold mining
(PETI) at Cisarua Village, Nanggung Subdistrict, Bogor District Year 2013

xxiii + 112 pages, 19 tables, 5 pictures, 3 charts, 4 attactments

ABSTRACT
Mercury is a heavy metal which is grouped into categories that have high
level of toxicity (Widowati et. al., 2008). The use of mercury in gold processing can
cause health effect, such as incident of mercury poisoning. That was indicated with
reference of the normal limit of total mercury that was established by WHO. That was
determined by using biomarker measurements. The normal level in hair is 1-2 ppm.
Based on preliminary studies of 10 workers mining at Cisarua Village Nanggung
Subdistrict, there were 8 workers who have mercury poisoning.
This research was a quantitative research with cross sectional approach. The
samples of this study were 40 workers of illegal gold mining at Cisarua Village,
Nanggung Subdistrict. The samples were taken with using accidental sampling
technique. The independent variables in this study were age, nutritional status,
working period per year, working time in a day, working activity, and consumption of
fish. The dependent variable was the incidence of mercury poisoning. The data were
processed by using independent t, mann withey wil. dan chi square test at 5%.
The results of this research indicate that were 24 workers (60%) have mercury
poisoning, while that were 16 workers (40%) havent mercury poisoning. Then, based
on the results of bivariate analysis was known that there were two independent
variables have significant correlation with mercury poisoning. That variables were
working period per year (p value=0,0005) and working time in a day (p
value=0,035).
Based on The results, there is a advisable for the government and relevant
parties, should give the information to the community about mercury and its impacts
for health and environment. Then, the workers should be using personal protective

iv
equipments to reduce the risk of mercury poisoning, such as masks, rubber gloves
and long clothes. Then, for the next study is expected to take measurement of
mercury levels in the environmental (water, air, soil, and food).

Keywords: PETI workers, Mercury poisoning, Cisarua Village, Nanggung Subdistrict


Bibliography: 55 (2000-2013)

v
vi
vii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama : Nita Ratna Junita

Tempat, Tanggal Lahir : Ambon, 07 Juni 1991

Alamat : Jl. Maritim No.2A RT 01/005 Cilandak Barat,

Cilandak, Jaksel. Kode pos: 12430

Agama : Islam

No. Telp : 085697323975

Email : oh.junita@yahoo.com

PENDIDIKAN FORMAL

1997 2003 : SDN 04 Pagi Jakarta

2003 2006 : SMPN 68 Jakarta

2006 2009 : SMAN 70 Jakarta

2009 sekarang : S1 Peminatan Kesehatan Lingkungan

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta

viii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat serta

ridho-Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Shalawat serta salam

kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan ke

zaman yang terang saat ini, serta jalan yang diridhai oleh Allah SWT.

Skripsi ini disusun sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana

Kesehatan Masyarakat (SKM) pada Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas

Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pada proses penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak arahan,

bimbingan, serta masukan dan motivasi/dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena

itu, peneliti ingin mengucapakan terima kasih kepada:

1. Papa dan Mama yang tiada hentinya memberikan kasih sayang, doa serta

semangat kepada penulis agar dapat menjadi individu yang sukses dan

bermanfaat bagi semua orang, bangsa, dan agama. Serta kakakku

(Ismawantini), adikku (Nisrina Nabila), kakak iparku (Wahyu), mbak aan dan

keluarga besar Muhammad serta Yakub yang selalu memberikan motivasi dan

senantiasa membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

dengan baik.

ix
2. Bapak Prof. Dr. (Hc). dr. M.K. Tadjudin, Sp. And, selaku Dekan Fakultas

Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Ir. Febrianti, M. Si, selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat

FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak Dr. Arif Sumantri, SKM, M. Kes, selaku dosen pembimbing I dan

Penanggung Jawab Pemintaan Kesehatan Lingkungan, yang dengan setia dan

tanpa lelah memberikan arahan, masukan, serta bimbingan kepada penulis

baik dalam hal penyusunan skripsi maupun dalam hal pembentukkan

kematangan dan kedewasaan diri penulis dalam menyongsong masa depan.

5. Ibu Ela Laelasari, SKM, M.Kes, selaku dosen pembimbing II, yang dengan

sabar dan setia selalu memberikan arahan, masukan, bimbingan, serta

motivasi dan semangat kepada penulis.

6. Ibu Yuli Amran, SKM, MKM, Bapak Ir. Untung Suryanto, MSc dan Bapak

dr.Yuli P. Satar, MARS selaku dosen penguji pada sidang skripsi yang telah

memberikan kritik dan saran yang membangun untuk menjadikan skripsi ini

lebih baik lagi.

7. Bapak Zulkifli Rangkuti selaku dosen Peminatan Kesehatan Lingkungan yang

menjadi sumber inspirasi penulis, serta seluruh dosen yang telah berbagi

ilmunya kepada penulis sehingga menambah wawasan dan cara pandang

penulis dalam penyusunan skripsi ini.

x
8. Bapak Idris, selaku Kepala Desa Cisarua beserta istri dan keluarganya yang

telah memberikan izin penelitian di Desa Cisarua dan telah menerima penulis

serta membantu penulis dalam penelitian.

9. Agung, Heni, Yudi, dan Rudi yang telah membantu saya pada saat turun

lapangan.

10. Seluruh pekerja penambang emas di Desa Cisarua, selaku responden dalam

penelitian ini, yang telah memberikan kerja sama yang baik terhadap penulis.

11. Teman-teman ENVIHSA UIN Jakarta dan seluruh teman mahasiswa/i

Kesehatan Masyarakat angkatan 2009 (khususnya untuk Malik, Desi, Imah,

Ratna, dan Vita) yang selalu berbagi baik senang maupun duka.

12. Para sahabat karang taruna MBS yang telah memberikan motivasi kepada

penulis.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam skripsi ini. Oleh

sebab itu dibutuhkan saran, kritik serta masukan dari semua pihak demi terciptanya

kebaikan bersama. Semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi penulis serta yang

membacanya. Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan keberakahan dalam

hidup kita. Amin.

Jakarta, Oktober 2013

Nita Ratna Junita

xi
DAFTAR ISI

HALAMAN

LEMBAR PERNYATAAN............................................................... i

ABSTRAK.......................................................................................... ii

ABSTRACT........................................................................................ iv

LEMBAR PERSETUJUAN.............................................................. vi

LEMBAR PENGESAHAN............................................................... vii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP.......................................................... viii

KATA PENGANTAR....................................................................... ix

DAFTAR ISI....................................................................................... xii

DAFTAR TABEL............................................................................... xiv

DAFTAR GAMBAR.......................................................................... xv

DAFTAR BAGAN.......................................................................... xvi

DAFTAR LAMPIRAN....................................................................... xvii

BAB I PENDAHULUAN................................................................... 1

1.1 Latar Belakang.................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah............................................................... 7

1.3 Pertanyaan Penelitian........................................................... 8

xii
1.4 Tujuan Penelitian................................................................. 9

1.4.1 Tujuan Umum............................................................ 9

1.4.2 Tujuan Khusus........................................................... 9

1.5 Manfaat Penelitian............................................................... 9

1.5.1 Bagi Pemerintah daerah............................................. 9

1.5.2 Bagi Pekerja....................................... 10

1.5.3 Bagi Peneliti Lain...................................................... 10

1.6 Ruang Lingkup Penelitian.................................................. 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................ 11

2.1 Merkuri (Hg)...................................................................... 11

2.1.1 Definisi dan Sifat Fisik-Kimia Merkuri..................... 11

2.1.2 Jenis Merkuri............................................................. 11

2.1.3 Penggunaan Merkuri................................................. 12

2.1.4 Merkuri di Lingkungan.............................................. 13

2.1.5 Batas Aman Merkuri................................................. 15

2.1.6 Metabolisme Merkuri di dalam Tubuh...................... 16

2.1.6.1 Absorbsi dan Distribusi ................................ 16

2.1.6.2 Ekskresi ........................................................ 17

2.1.7 Toksisitas Merkuri..................................................... 18

2.1.7.1 Keracunan Merkuri........................................ 19

xiii
2.1.7.1.1 Keracunan Akut........................... 20

2.1.7.1.2 Keracunan Kronis........................ 21

2.2 Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).............................. 22

2.2.1 Definisi PETI............................................................. 22

2.2.2 Kegiatan PETI........................................................... 22

2.2.3 Pencemaran Merkuri dari Kegiatan PETI................. 26

2.2.4 Paparan Merkuri terhadap Pekerja PETI.................. 28

2.2.5 Paradigma Pajanan Merkuri terhadap

Pekerja PETI............................................................. 29

2.2.6 Biomarker Pajanan Merkuri..................................... 31

2.2.7 Metode Analisis........................................................ 34

2.2.8 Upaya Pencegahan dan Penanggulangan.................. 35

2.3 Faktor-faktor Pemaparan Pekerja PETI terhadap

Keracunan Merkuri (Hg) ................................................... 36

2.3.1 Faktor Internal........................................................... 36

2.3.2 Faktor Pekerjaan........................................................ 38

2.3.3 Faktor Perilaku.......................................................... 43

2.3.4 Faktor Lainnya........................................................... 47

2.5 Kerangka Teori................................................................... 48

xiv
BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL,

DAN HIPOTESIS................................................................ 49

3.1 Kerangka Konsep............................................................... 49

3.2 Definisi Operasional........................................................... 51

3.3 Hipotesis............................................................................. 54

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN......................................... 55

4.1 Jenis Penelitian................................................................... 55

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian............................................. 55

4.3 Populasi dan Sampel........................................................... 55

4.4 Metode Pengumpulan Data................................................ 58

4.5 Metode Pengukuran Ikan................................................ 58

4.6 Sampling Rambut............................................................... 59

4.6.1 Alat dan Bahan yang Digunakan............................... 59

4.6.2 Teknik Sampling Rambut.......................................... 60

4.7 Instrumen Penelitian........................................................... 60

4.8 Pengolahan dan Analisis Data............................................ 63

4.8.1 Pengolahan Data....................................................... 63

4.8.2 Analisis Data............................................................. 64

4.8.2.1 Analisis Univariat........................................ 64

4.8.2.2 Analisis Bivariat........................................... 64

xv
BAB V HASIL PENELITIAN........................................................... 66

5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian................................... 66

5.1.1 Geografis................................................................... 66

5.1.2 Profil Penambangan Emas di Desa Cisarua.............. 68

5.2 Analisis Univariat............................................................... 69

5.2.1Gambaran Karakteristik Pekerja Berdasarkan

Tingkat Pendidikan.................................................. 69

5.2.2 Gambaran Keracunan Merkuri (Hg)

pada Pekerja PETI.................................................... 70

5.2.3 Gambaran Umur Pekerja PETI.................................. 71

5.2.4 Gambaran Status Gizi Pekerja PETI........................ 71

5.2.5 Gambaran Masa Kerja Pekerja PETI......................... 72

5.2.6 Gambaran Jam Kerja Pekerja PETI........................... 72

5.2.7 Gambaran Jenis Aktivitas Pekerja PETI................... 73

5.2.8 Gambaran Konsumsi Ikan Pekerja PETI................... 74

5.3 Analisis Bivariat................................................................. 74

5.3.1 Hubungan antara Umur dengan

KeracunanMerkuri..................................................... 74

5.3.2 Hubungan antara Status Gizi dengan

KeracunanMerkuri..................................................... 75

xvi
5.3.3 Hubungan antara Masa Kerja dengan

Keracunan Merkuri.................................................... 76

5.3.4 Hubungan antara Jam Kerja dengan

Keracunan Merkuri.................................................... 77

5.3.5 Hubungan antara Jenis Aktivitas dengan

Keracunan Merkuri.................................................... 77

5.3.6 Hubungan antara Konsumsi Ikan dengan

Keracunan Merkuri.................................................... 79

5.4 Gambaran Gangguan Kesehatan Pekerja .......................... 79

BAB VI PEMBAHASAN................................................................... 81

6.1 Keterbatasan Penelitian...................................................... 81

6.2 Keracunan Merkuri............................................................. 81

6.3 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan

Keracunan Merkuri............................................................. 84

6.3.1 Faktor internal............................................................ 84

6.3.2 Faktor pekerjaan........................................................ 90

6.3.3 Faktor prilaku............................................................ 95

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN.......................................... 100

7.1 Kesimpulan......................................................................... 100

xvii
7.2 Saran................................................................................... 101

7.2.1 Bagi Pemerintah Daerah............................................ 101

7.2.2 Bagi Pekerja............................................................... 101

7.2.3 Bagi Peneliti Lain...................................................... 102

DAFTAR PUSTAKA......................................................................... 103

xviii
DAFTAR TABEL

HALAMAN

2.1 Batasan Kadar Hg di Lingkungan 14

2.2 Konsentrasi Hg pada Beberapa Organ Induk dan Janin 19

2.3 Peristiwa Keracunan Merkuri di Seluruh Dunia (1960-an) 19

2.4 Alur Kontaminasi Merkuri ke Tubuh Penambang 29

2.5 Batas IMT di Indonesia 37

5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pekerja PETI Berdasarkan Tingkat


70
Pendidikan di Desa Cisarua Tahun 2013
5.2 Distribusi Frekuensi Keracunan merkuri (Hg) pada Pekerja PETI di
70
Desa Cisarua Tahun 2013

5.3 Distribusi Frekuensi Umur Pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013 71

5.4 Distribusi Frekuensi IMT Pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013 71

5.5 Distribusi Frekuensi Masa Kerja Pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun
72
2013
5.6 Distribusi Frekuensi Jam Kerja Pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun
73
2013
5.7 Distribusi Frekuensi Jenis Aktivitas Pekerja PETI di Desa Cisarua
73
Tahun 2013
5.8 Distribusi Frekuensi Konsumsi Ikan Pekerja PETI di Desa Cisarua
74
Tahun 2013
5.9 Distribusi Keracunan Merkuri Berdasarkan Umur Pekerja PETI di
74
Desa Cisarua Tahun 2013

xix
HALAMAN

5.10 Distribusi Keracunan Merkuri Berdasarkan IMT Pekerja PETI di


75
Desa Cisarua Tahun 2013
5.11 Distribusi Keracunan Merkuri Berdasarkan Masa Kerja Pekerja PETI
76
di Desa Cisarua Tahun 2013
5.12 Distribusi Keracunan Merkuri Berdasarkan Jam Kerja Pekerja PETI
77
di Desa Cisarua Tahun 2013
5.13 Distribusi Keracunan Merkuri Berdasarkan Jenis Aktivitas Pekerja
78
PETI di Desa Cisarua Tahun 2013
5.14 Distribusi Keracunan Merkuri Berdasarkan Konsumsi Ikan Pekerja
79
PETI di Desa Cisarua Tahun 2013

xx
DAFTAR GAMBAR

HALAMAN

2.1 Penggunaan Merkuri pada Kegiatan Pengolahan Emas 23

2.2 Gelundungan 24

2.3 Tahap Pencucian dan Pemerasan 25

2.4 Alat yang Digunakan pada Tahap Pembakaran 26

5.1 Peta Lokasi Desa Cisarua 67

xxi
DAFTAR BAGAN

HALAMAN

2.1 Paradigma Pajanan Merkuri (Teori Simpul) 48

3.1 Kerangka Konsep 50

4.1 Flowchart Pengukuran dengan metode CV-AAS 61

xxii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Izin Penelitian Skripsi

Lampiran 2 Kuesioner Penelitian

Lampiran 3 Hasil Analisis Data

Lampiran 4 Lembar Pernyataan

xxiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Potensi produksi pertambangan emas di Indonesia termasuk dalam kategori

cukup besar. Total produksi selama tahun 1990-2011 adalah sebesar 2501849,73 kg,

sedangkan produksi tambang emas rata-rata adalah sebesar 113720,4423 kg per tahun

(Sultan, 2011). Hal tersebut sejalan dengan nilai ekspor hasil industri penghasil emas,

yang termasuk cukup besar juga. Menurut data Kementerian Perindustrian RI (2013),

ekspor kelompok hasil industri penghasil emas (khususnya emas dalam batang,

tuangan dan keranjang) memiliki nilai tertinggi diantara industri perhiasaan dan

kerajinan dari logam lainnya, yaitu puncaknya pada tahun 2011 sebesar dalam US$

2.224.205.514 dan nilainya selalu meningkat setiap tahunnya, yaitu dari tahun 2007

sampai tahun 2011. Selain itu, diketahui juga bahwa persentasi peran ekspor dari

kelompok industri penghasil emas terhadap total ekspor hasil industri pada tahun

2011 berada di posisi tertinggi, yaitu sebesar 1,82%.

Sejalan dengan peningkatan yang terjadi pada produksi dan kegiatan ekspor

hasil industri penghasil emas tersebut, terjadi pula peningkatan kegiatan pada sektor

pertambangan emas baik legal maupun non-legal, salah satunya yaitu kegiatan

Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang biasa dilakukan oleh penambang emas

1
2

tradisional. Meningkatnya jumlah penambang emas tradisional ini salah satunya

terjadi di kawasan Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor. Selama kurun waktu 1998-

2000, daerah tambang Pongkor yang luasnya sekitar 4.000 ha ini menjadi lahan mata

pencaharian baru bagi ribuan orang; pada puncaknya diperkirakan mencapai 26.000

orang (McMahon et al., 2000; Kartodihardjo & Suntana, 2010). Selanjutnya,

berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Bogor tahun 1999 jumlah Penambangan

Emas Tanpa Izin (PETI) yang melakukan penambangan di ruas Sungai Cikaniki

diperkirakan berjumlah 6000 orang (Anonim, 2000; Yoyok Sudarso et al., 2009).

Penduduk lokal turut berpartisipasi dalam kegiatan pertambangan rakyat ini, terutama

yang bermukim di tiga desa yang berbatasan langsung dengan Gunung Pongkor, yaitu

Desa Bantar Karet, Cisarua, dan Malasari. Diperkirakan sekitar 30% dari para

penambang adalah penduduk lokal (Zulkarnain et al., 2004; Kartodihardjo & Suntana,

2010).

Bila ditinjau dari segi administratif kegiatan PETI menjadi permasalahan

karena tidak memiliki izin penambangan (Sujatmiko, 2012). Izin penambangan

tersebut dikenal dengan sebutan IPR (Izin Pertambangan Rakyat) seperti yang

tercantum dalam UU No. 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan

Batubara. Begitu pula halnya apabila ditinjau dari segi lingkungan dan kesehatan.

Kegiatan PETI dapat memberikan kontribusi negatif berupa pencemaran lingkungan

karena penggunaan bahan kimia yang bersifat toksik bagi manusia. Salah satu bahan

kimia yang digunakan adalah merkuri.


3

Dari hasil survei pendahuluan diketahui bahwa kegiatan pengolahan emas

yang dilakukan di Desa Cisarua masih secara tradisional dan menggunakan teknik

amalgamasi yang menggunakan merkuri dalam proses pengolahannya, Biji emas

hasil penambangan di kawasan Gunung Pongkor tersebut, digiling dengan alat

gelundungan yang telah ditambahkan merkuri, sampai menjadi serbuk pasir lalu

dicampur dengan merkuri dan diperas dengan menggunakan kain sehingga sebagian

merkuri dan air keluar dari pori-pori kain. Setelah itu, dilakukan pemijaran atau

pembakaran, kemudian ditumbuk.

Apabila ditinjau dari segi lingkungan, sumber pencemaran dapat terjadi dari

setiap tahapan pengolahan emas. Pada tahap penggilingan, unsur merkuri dapat

terlepas dari gelundung sehingga jatuh dan dapat mencemari tanah sekitar dan dapat

pula mencemari sungai (Juliawan, 2006). Pada tahap pencucian dan pemerasan,

limbah cair yang mengandung merkuri dari hasil kegiatan tersebut dapat tercecer di

sekitar area pengolahan emas sehingga dapat mecemari tanah. Selanjutnya, pada

tahap pembakaran,, uap merkuri yang dihasilkan dari kegiatan ini dapat mencemari

udara dan kemudian mengendap di permukaan tanah (Juliawan, 2006).

Dari hasil analisis lingkungan juga mengindikasikan adanya pencemaran oleh

merkuri yang ditimbulkan akibat adanya kegiatan PETI. Hal ini ditunjukkan dengan

adanya hasil analisis terhadap sedimen aktif di lokasi PETI didaerah Pongkor, yaitu

di Pasir Jawa, Ciguha, Cikoret dan beberapa lokasi pengolahan emas, yaitu di Sungai

Cipanas, Cikawung dan Cimarinten, telah mengalami .pencemaran Hg sebesar 10,5-


4

241,6 ppm. Sedangkan pada Sungai Cikaniki yang merupakan hilir, dimana semua

sungai bermuara, konsentrasi Hg berkisar antara 6-18,5 ppm (Juliawan, 2006;

Widowati et al., 2008). Bila dibandingkan dengan baku mutu air sungai golongan B

dalam KepMen LH No 2 Tahun 1998, maka diketahui bahwa Sungai Cipanas,

Cikawung, Cimarinten, dan Cikaniki sudah melewati baku mutu untuk parameter

merkuri, yaitu sebesar 0,001 mg/L (ppm).

Selanjutnya, diketahui juga kandungan Hg pada beras dari sawah, dimana

menggunakan air limbah penambangan emas tradisional sebagai sistem irigasinya di

Nunggul Pongkor mencapai 0,45 ppm dan di Kalongliud Pongkor mencapai 0,25

ppm (Sutono, 2002; Widowati et al., 2008). Jika dibandingkan dengan baku mutu

yang terdapat dalam peraturan KepBPOM No. 3725/B/SK/VII/89 terkait kadar

merkuri dalam bij-bijian, diketahui bahwa kandungan beras yang didapat dari sawah

di Nunggul dan Kalongliud Pongkor yang menggunakan air limbah penambangan

emas tradisional sebagai sistem irigasinya, telah melewati batas aman yang telah

ditetapkan, yaitu 0,05 mg/kg (ppm).

Logam merkuri yang terdapat di lingkungan tersebut dapat memasuki tubuh

melalui beberapa cara, seperti melalui kontak langsung dengan kulit, menghirup uap

merkuri, dan memakan ikan yang telah terkontaminasi merkuri (Lestarisa, 2010).

Paparan terhadap merkuri ini dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan

manusia, khususnya kesehatan pekerja PETI. Dampak negatif tersebut dapat berupa

keracunan merkuri baik bersifat akut maupun kronis. Proses pengolahan emas dimana
5

pekerjanya tidak menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) tersebut dapat

memperbesar risiko terjadinya keracunan merkuri. Keracunan merkuri tersebut dapat

ditandai dengan gejala seperti sakit kepala, sukar menelan, penglihatan menjadi

kabur, daya dengar menurun, merasa tebal di bagian kaki dan tangan, mulut terasa

tersumbat oleh logam, gusi membengkak, serta diare (Wardhana, 2001; Subanri,

2008).

Keracunan oleh merkuri anorganik utamanya dapat mengakibatkan

terganggunya fungsi ginjal, hati, serta sistem enzim. Sedangkan, untuk merkuri

organik, yaitu metil merkuri, dapat menembus plasenta dan merusak janin, serta dapat

mengganggu saluran darah ke otak hingga dapat menyebabkan terjadinya kerusakan

otak (Herman, 2006). Keracunan merkuri juga dapat menyebabkan kelainan psikiatri

berupa insomnia, nervus, pusing, mudah lupa, tremor dan depresi (Sudarmaji et al.,

2006).

Mekanisme keberadaan merkuri hingga dapat menimbulkan efek terhadap

kesehatan manusia, berupa keracunan tersebut dapat ditinjau dari paradigma

kesehatan lingkungan yang disebut dengan teori simpul (Achmadi, 2011). Dalam

paradigma tersebut, besarnya pajanan merkuri pada pekerja PETI dapat dipengaruhi

oleh variabel berupa umur, jenis kelamin, status gizi, lama kerja, masa kerja, jenis

aktivitas PETI, dan konsumsi ikan. Besarnya pajanan tersebut dapat diketahui melalui

pemeriksaan biomonitoring dengan menggunakan biomarker berupa rambut.


6

Menurut WHO (1991) rambut merupakan media indikator yang berguna

untuk menggambarkan orang yang keracunan Hg. Hal tersebut dikarenakan rambut

merupakan salah satu jaringan tubuh yang dapat mengakumulasi berbagai logam

berat, termasuk merkuri, sehingga dapat digunakan untuk menunjukkan tingkat

kontaminasi merkuri di dalam tubuh manusia yang terpapar terus-menerus

(Tritugaswati et al., 1986; Cakrawati, 2002). Indikator keracunan merkuri dapat

dilihat dengan menbandingkan kadar merkuri pada rambut dengan ketetapan dari

WHO (1990), yang menyatakan bahwa kadar normal Hg dalam rambut berkisar

antara 1-2 mg/kg atau 1-2 ppm.

Terdapat beberapa penelitian terkait merkuri yang sebelumnya telah

dilakukan, salah satunya adalah penelitian terkait Status Kontaminasi Merkuri di

Ruas Sungai Cikaniki, Jawa Barat pada tahun 2010 yang disusun oleh Tri Suryono

dkk. Variabel yang diteliti adalah kadar merkuri total yang terdapat di air dan yang

terakumulasi di sedimen. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa kontaminasi

logam khususnya merkuri total pada daerah uji ruas Sungai Cikaniki baik di air

maupun di sedimen menunjukkan sudah tergolong tercemar sedang hingga berat.

Pada penelitian tersebut diketahui pula bahwa kontaminasi merkuri total pada air di

ruas sungai Cikaniki, yaitu Desa Cisarua sudah tergolong tercemar berat pada bulan

Agustus 2008, sedangkan kontaminasi merkuri total pada sedimen tergolong tercemar

berat pada bulan Juni 2008.


7

Selanjutnya, berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada

10 pekerja PETI di Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor, diperoleh

kadar merkuri rata-rata adalah sebesar 16,338 ppm. Dari 10 pekerja yang diteliti

terdapat 8 orang yang mengalami keracunan merkuri. Hal tersebut mengindikasikan

bahwa paparan merkuri akibat dari kegiatan PETI di Desa Cisarua Kecamatan

Nanggung Kabupaten Bogor berada diatas kadar normal yang telah ditetapkan oleh

WHO (1990), yaitu sebesar 1-2mg/kg atau 1-2 ppm.

Dengan pertimbangan berbagai masalah pencemaran merkuri yang terjadi

serta dampak negatif yang ditimbulkan dari pemakaian merkuri dengan adanya

kegiatan PETI tersebut maka sebaiknya dilakukan penelitian mengenai pajanan

merkuri dan dampaknya terhadap kesehatan, yang dalam hal ini adalah berupan risiko

keracunan merkuri terhadap pekerja penambangan emas tanpa izin tersebut. Hal

tersebut juga dipertegas dengan pernyataan dari WHO (2012) yang menyatakan

bahwa merkuri merupakan salah satu dari sepuluh kelompok kimia yang menjadi

perhatian utama bagi kesehatan masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

Kegiatan PETI yang memiliki andil terhadap terjadinya pencemaran merkuri

dapat mempengaruhi kesehatan, seperti keracunan merkuri. Berdasarkan studi

pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada 10 pekerja PETI di Desa Cisarua

Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor, diperoleh kadar merkuri rata-rata adalah


8

sebesar 16,338 ppm. Dari 10 pekerja yang diteliti terdapat 8 orang yang mengalami

keracunan merkuri. Hal tersebut mengindikasikan bahwa paparan merkuri akibat dari

kegiatan PETI di Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor berada diatas

kadar normal yang telah ditetapkan oleh WHO (1990), yaitu untuk kadar pada rambut

sebesar 1-2mg/kg atau 1-2 ppm. Untuk itu perlu dilakukan suatu analisis mengenai

pemaparan terhadap risiko keracunan merkuri pada pekerja PETI sehingga dapat

diketahui besarnya pajanan merkuri pada pekerja dan faktor-faktor yang

mempengaruhinya.

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran keracunan merkuri (Hg) pada pekerja PETI di

Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor tahun 2013?

2. Bagaimana gambaran tingkat pendidikan, umur, status gizi, masa kerja,

jam kerja, jenis aktivitas, konsumsi ikan, dan gangguan kesehatan pada

pekerja PETI di Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor

tahun 2013?

3. Bagaimana hubungan variabel umur, status gizi, massa kerja, jam kerja,

jenis aktivitas dan konsumsi ikan terhadap keracunan merkuri (Hg) pada

pekerja PETI di Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor

tahun 2013?
9

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Menganalisis risiko keracunan merkuri (Hg) pada pekerja PETI di Desa

Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor tahun 2013.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Diketahuinya gambaran keracunan merkuri (Hg) pada pekerja PETI di

Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor tahun 2013.

2. Diketahuinya gambaran tingkat pendidikan, umur, status gizi, masa

kerja, jam kerja, jenis aktivitas, konsumsi ikan dan gangguan kesehatan

pada pekerja PETI di Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten

Bogor tahun 2013.

3. Diketahuinya hubungan antara variabel umur, status gizi, massa kerja,

jam kerja, jenis aktivitas dan konsumsi ikan terhadap keracunan merkuri

(Hg) pada pekerja PETI di Desa Cisarua Kecamatan Nanggung

Kabupaten Bogor tahun 2013.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Bagi Pemerintah Daerah

Sebagai informasi dan masukan bagi pemerintah daerah dan instansi-

instansi yang terkait, seperti BLH Kabupaten Bogor dalam pengambilan

keputusan dan perencanaan lingkungan.


10

1.5.2 Bagi Pekerja

Menambah pengetahuan dan informasi mengenai dampak merkuri yang

dihasilkan dari kegiatan pengolahan emas yang menggunakan merkuri

tersebut.

1.5.3 Bagi Peneliti Lain

1. Sebagai informasi mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan

kadar merkuri pada rambut dan gangguan kesehatan yang terjadi di

masyarakat sekitar area penambangan emas tanpa izin

2. Sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif mengenai risiko keracunan

merkuri (Hg) pada pekerja Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Cisarua

Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor tahun 2013. Objek penelitian ini adalah

rambut dan pemaparan pekerja yang mempengaruhi keracunan merkuri melalui

rambut tersebut. Penelitian dilakukan oleh mahasiswa Peminatan Kesehatan

Lingkungan Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Merkuri (Hg)

2.1.1. Definisi dan Sifat Fisik-Kimia Merkuri

Merkuri atau air raksa (Hg) adalah salah satu jenis logam sebagai senyawa

organic dan anorganik yang banyak dtemukan di alam dan tersebar dalam batu-

batuan, biji tambang, tanah, air, dan udara (BPOM, 2004). Merkuri (Hg) merupakan

logam yang dalam keadaan normal berbentuk cairan dengan warna abu-abu dan tidak

berbau (BPOM, 2004). Merkuri memiliki sifat mudah menguap pada suhu ruangan

dan dapat memadat pada tekanan 7.640 Atm. Merkuri juga dapat larut dalam asam

sulfat atau asam nitrit, tetapi tahan terhadap basa. Sifat kimia dari merkuri yang

lainnya adalah merkuri memiliki nomor atom 80 dengan berat atom 200,59 g/mol.

Selain itu, merkuri mempunyai titik lebur -38,9oC dan titik didih sebesar 356,6oC

Widowati et.al. (2008).

2.1.2. Jenis Merkuri

Merkuri dibagi dalam tiga bentuk, yaitu:

a) Merkuri elemental atau metalik

Merkuri elemental (Hg0) merupakan logam perak-putih, berkilau, dan

berbentuk cairan pada suhu kamar. Merkuri elemental biasa digunakan

11
12

dalam termometer, lampu neon dan beberapa saklar listrik (EPA, 2013).

Merkuri elemental merupakan bentuk merkuri yang paling mudah

menguap (WHO, 2003). Menurut EPA, paparan merkuri elemental dapat

menguap pada suhu kamar dan memiliki sifat tidak terlihat, tidak berbau,

serta beracun.

b) Merkuri inorganik

Senyawa merkuri inorganik (dengan simbol kimia Hg (II) atau Hg2+)

berbentuk garam merkuri dan bubuk yang umumnya berwarna putih atau

kristal, kecuali merkuri sulfida yang berwarna merah. Senyawa merkuri

inorganik biasa digunakan pada fungisida, antiseptik atau disinfektan.

Selain itu, biasa digunakan pula pada beberapa krim pencerah kulit serta

beberapa obat-obatan tradisional (EPA, 2013).

b) Merkuri organik

Senyawa merkuri organik yang paling umum ditemukan di lingkungan

adalah metilmerkuri (dengan rumus kimia MeHg) yang terbentuk pada

saat merkuri bergabung dengan karbon. Organisme renik mengkonversi

merkuri inorganic menjadi metilmerkuri. Metilmerkuri dapat terakumulasi

dalam rantai makanan, seperti pada ikan (EPA, 2013).

2.1.3. Penggunaan Merkuri

Merkuri memiliki manfaat bagi kehidupan manusia, terutama di berbagai

industri. Industri farmasi menghasilkan produk yang mengandung merkuri yang


13

digunakan untuk antiseptic, diuretic, katartik serta penggunaan senyawa merkuri

anorganik dan organik untuk pengobatan sifilis. Industri listrik menggunakan merkuri

pada lampu floresens, saklar lampu tidak berbunyi dan pada lampu jalan. Merkuri

juga digunakan pada industri emas dan perak untuk proses amalgamasi. Untuk alat

kedokteran, merkuri digunakan pada alat tekanan darah, thermometer, dan

pacemaker. Selain itu, merkuri anorganik juga terdapat pada pigmen, cat, bahan

pencelup, bahan tattoo, pembalseman, pengawet kayu, herbisida, insektisida, jeli

spermisidal, cat kuku, germisidal pada sabun, pemadam api, dan baterai merkuri yang

tahan lama (Sari, 2002).

2.1.4 Merkuri di Lingkungan

Merkuri merupakan unsur alami yang dapat ditemukan di udara, air, dan tanah

yang dapat didistribusikan ke seluruh lingkungan baik secara alami maupun karena

adanya kegiatan manusia (antropogenik) (UNEP dan WHO, 2008). Menurut

Widowati et.al. (2008), Hg yang masuk dalam lingkungan perairan dapat dalam

bentuk:

a) Hg anorganik: berasal dari air hujan atau aliran sungai, memiliki sifat stabil

pada pH yang rendah.

b) Hg organik: berasal dari kegiatan pertanian, yaitu penggunaan pestisida

c) Terikat: suspended soil

d) Logam Hg: berasal d ari kegiatan industri (Budiono, 2002)


14

Sebagian besar merkuri yang berada di atmosfer dalam bentuk Hg0 uap, yang

dapa berada/beredar di atmosfer hingga satu tahun, sehingga dapat tersebar ribuan mil

dari sumber emisi. Sebagian besar merkuri dalam air, tanah, sedimen, atau tanaman

dan hewan berada dalam bentuk merkuri ionik (seperti merkuri klorida) (US EPA,

1997; UNEP dan WHO, 2008). Sedangkan untuk metilmerkuri utamanya terdapat

dalam ikan. Merkuri dapat berakumulasi di rantai makanan, sehingga dapat

dinyatakan bahwa semakin tinggi suatu organisme dalam rantai makanan yang secara

otomatis semakin tinggi juga tingkat trofiknya, maka akan menyebabkan semakin

tinggi pula konsentrasi metilmerkuri pada organisme tersebut (Watras et al., 1998;

UNEP dan WHO, 2008).

Terdapat berbagai peraturan mengenai batasan kadar Hg di lingkungan,

begitupun halnya yang berlaku di Indonesia. Peraturan mengenai batasan kadar Hg di

lingkungan yang berlaku di Indonesia dijelaskan pada tabel 2.2 berikut.

Tabel 2.1. Batasan Kadar Hg di Lingkungan

No. Peraturan Kadar Hg yang diperbolehkan

Kadar Hg dalam air minum pada


1. 0,001 mg/l
Permenkes No. 907/ 2002

Kadar Hg dalam air bersih pada


2. 0,001 mg/l
Permenkes No. 416/ 1990

Kadar Hg dalam udara tempat kerja


3. 0,1 mg/l
Kepmenkes No. 261/ 1998
15

No. Peraturan Kadar Hg yang diperbolehkan

Dalam ikan segar: 0,5 mg/kg


Kadar Hg dalam makanan dan
Dalam sayur-sayuran: 0,03 mg/kg
4. minuman pada KepBPOM No.
Dalam biji- bijian: 0,05 mg/kg
3725/B/SK/VII/89

Golongan A (baku mutu air minum):


0,001 mg/l
Golongan B (untuk perikanan): 0,001 mg/l
Kadar Hg dalam air sungai Kepmen
5. Golongan C (untuk pertanian): 0,002 mg/l
LH No. 02/ 1998
Golongan D (yang tidak termasuk
golongan A, B dan C): 0,005 mg/l

Sumber: Inswiasri (2008)

2.1.5. Batas Aman Merkuri

Menurut WHO dan UNEP (2008), kadar merkuri normal dalam darah rata-

rata berkisar antara 5-10 mg/L, untuk rambut berkisar antara 1-2 ppm, sedangkan

untuk urin konsentrasi merkuri maksimum adalah 50 mg/g kreatinin. Kadar merkuri

pada urin orang yang pekerjaannya tidak terpapar merkuri jarang melebihi 5 ug/g

kreatinin.

Batas aman dari segi konsumsi makanan atau minuman yang mengandung

merkuri telah ditetapkan oleh The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food

Additives (JECFA). JECFA menetapkan konsumsi mingguan yang ditoleransi untuk

total merkuri adalah sebesar 5 mg/kg berat badan, sedangkan untuk metilmerkuri
16

sebesar 1,6 mg/kg berat. Sedangkan, menurut US EPA dosis metilmerkuri per-hari

adalah 0,1 mg/kg berat badan dan dosis merkuri klorida per-hari adalah 0,3 mg/kg

berat badan (WHO dan UNEP, 2008).

Menurut EPA (2007), dosis letal akut merkuri inorganik untuk orang dewasa

adalah 1-4 gram atau 14-57 mg/kg berat badan untuk seseorang yang memiliki berat

badan sebesar 70 kg. Sedangkan, dosis letal minimum metilmerkuri untuk seseorang

yang memiliki berat badan sebesar 70 kg adalah berkisar antara 20-60 mg/kg berat

badan.

2.1.6. Metabolisme Merkuri di dalam Tubuh

Kontak yang terjadi antara merkuri dengan individu dapat melalui inhalasi,

kulit, atau saluran cerna (tertelan) yang kemudian diabsorbsi (diserap) untuk

kemudian didistribusikan oleh darah ke seluruh tubuh dan nantinya akan mengalami

proses ekskresi melalui beberapa rute yaitu lewat urin, keringat, air liur, air susu,

feses, kuku dan rambut (W. Hartono, 2003).

2.1.6.1 Absorbsi dan Distribusi

Untuk merkuri elemental (Hg0) tidak diabsorbsi secara signifikan atau diubah

oleh sistem pencernaan manusia. Akan tetapi, untuk paparan melalui inhalasi

penyerapan Hg0 terjadi secara efisien dan cepat melalui paru-paru karena sekitar 80%

dari uap yang terhirup akan diserap oleh jaringan paru-paru (UNEP dan WHO, 2008).

Di dalam darah, merkuri terdapat pada plasma dan sel darah merah. Sebagian masuk
17

ke jaringan otak tanpa teroksidasi, dan sebagian lagi mengalami oksidasi dalam

bentuk ion dan berakumulasi di ginjal. Untuk merkuri elemental dan organik

cenderung berakumulasi di syaraf, sedangkan merkuri anorganik di ginjal (Matsuo et

al., 1989; W. Hartono, 2003). Merkuri elemental memiliki sifat larut dalam lemak

yang tinggi. Karena sifatnya tersebut, maka merkuri elemental dengan mudah dapat

melewati sawar otak dan plasenta (Larry et. al., 2002; BPOM, 2004).

2.1.6.2 Ekskresi

Merkuri ionik utamanya diekskresikan melaui urin dan tinja, tetapi dapat pula

melalui ASI. Sedangkan, untuk metil merkuri, ekskresi utama melalui feses, rambut

dan kurang dari sepertiga dari total ekskresi melalui urin, tetapi dapat pula melalui

ASI dengan kadar yang lebih rendah (UNEP dan WHO, 2008). Pada proses ekskresi

yang terjadi sangat dipengaruhi dengan waktu paruhnya. Adapun pengertian waktu

paruh yang dimaksud adalah waktu yang dibutuhkan untuk ekskresi sehingga

mencapai separuh kadar yang ada di dalam tubuh. Waktu paruh merkuri secara

biologik sekitar 60 hari atau antara 35-90 hari (W. Hartono, 2003). Pengeluaran

merkuri terutama dalam bentuk urine dan feses memiliki waktu paruh 40-60 hari.

Empedu dan feses merupakan jalur utama ekskresi metil merkuri yang memiliki

waktu paruh sekitar 70 hari (Cakrawati, 2002).


18

2.1.7. Toksisitas Merkuri

Pengaruh toksisitas merkuri terhadap manusia tergantung dari bentuk

komposisi merkuri, rute masuknya kedalam tubuh dan lamanya terpajan. Toksisitas

uap merkuri pada tubuh melalui saluran pernafasan biasanya menyerang sistem syaraf

pusat, sedangkan toksisitas kronik dapat menyerang ginjal (Darmono, 2001; Iman .R,

2005). Pekerja yang peka dan terpajan dengan uap merkuri sebesar 0,05 mg/m3 di

udara secara terus-menerus, dapat menimbulkan gejala nonspesifik berupa

neuroasthenia (Idris, 1998). Menurut ATSDR (2011), merkuri dapat menembus

darah-otak dan plasenta. Diketahui pula bahwa pada anak-anak peningkatan risiko

toksisitas pada paru-paru mungkin terjadi dan dapat berkembang menjadi gangguan

dalam pernafasan (sulit bernafas).

Menurut Silalahi (2005), Hg berpengaruh terhadap proses ateroskelorsis

(penyempitan dan penebalan pembuluh darah) karena Hg dapat membentuk radikal

bebas yang dapat merusak sel. Kandungan merkuri tinggi, yaitu sebesar > 2,0 mg/g

pada rambut pria dewasa dapat berkolerasi dengan peningkatan risiko PJK, dan atau

infarksi miokardial 2-3 kali lipat dibandingkan dengan yang memiliki kandungan

merkuri rendah.
19

Tabel 2.2. Konsentrasi Hg pada Beberapa Organ Induk dan Janin

Organ Hg pada induk (g/g) Hg pada janin (g/g)

Ginjal 518 5,8


Paru-paru 77,5 0,6
Hati 8 10,1
Cerebrum 10,9 0,05
Cerebellum 5,8 0,24
Jantung 3,2 0,15
Limpa 5,2 1,8
Darah 15 g/100 ml 2,35 g/100 ml
Sumber: Widowati et.al. (2008)

2.1.7.1 Keracunan Merkuri

Paparan merkuri dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan, yaitu berupa

keracunan merkuri. Peristiwa keracunan merkuri tersebut telah terjadi di berbagai

Negara dan memakan banyak korban, baik yang cidera maupun korban yang

meninggal. Hal ini seperti yang dijelaskan pada table di bawah ini:

Tabel 2.3. Peristiwa Keracunan Merkuri di Seluruh Dunia (1960-an)

Lokasi Tahun Akibat

Minamata-Jepang 1953-1960 111 orang meninggal cidera

Irak 1961 35 orang meninggal 321 orang cidera

Pakistan Barat 1963 4 orang meninggal 34 orang cidera


20

Lokasi Tahun Akibat

Guatemala 1966 20 orang meninggal 45 orang cidera

Nigata-Jepang 1968 5 orang meninggal 25 orang cidera

Sumber: Heryando Palar (1994)

Keracunan oleh logam merkuri tersebut dibagi menjadi dua jenis, yaitu keracunan

merkuri akut dan kronis.

2.1.7.1.1. Keracunan Akut

Keracunan akut terjadi karena adanya pemaparan merkuri secara langsung dan

dalam dosis yang besar (Irwan, 2009). Gejala yang ditimbulkan dari kejadian

keracunan akut adalah pharyngitis (peradangan tekak), dyspaghia, sakit pada bagian

perut, mual-mual dan muntah, murus disertai dengan darah dan shok. Apabila gejala

tersebut tidak diatasi, maka dapat terjadi efek lanjutannya yaitu pembengkakan pada

kelenjaran ludah, radang ginjal (nephritis) dan radang pada hati (hepatitis) (Palar,

1994). Menurut Kamitsuka et al. (1984) dalam W. Hartono (2003), beberapa kasus

Keracunan merkuri akut telah terjadi pada pekerja tambang emas tradisional yang

sedang mengekstraksi emas dan pada neonates yang terinhalasi merkuri dari

thermometer yang pecah, dengan gejala seperti batuk, nyeri dada, sesak nafas,

bahkan dapat menimbulkan bronchitis dan pneumonitis.

Di dalam tubuh, senyawa atau garam-garam merkuri yang merupakan penyebab

dari keracunan akut akan mengalami proses ionisasi. Akibat dari adanya proses
21

ionisasi tersebut adalah daya racun dari senyawa atau garam-garam merkuri tersebut

dapat menjadi berlipat ganda. Adapun proses ionisasi yang terjadi adalah sebagai

berikut (Palar, 1994):

Hg(CN)2 Hg2+ + CN
dalam tubuh

2.1.7.1.2. Keracunan Kronis

Keracunan kronis adalah kejadian keracunan yang terjadi dalam kurun waktu

yang lama dengan kadar merkuri yang sedikit dan terjadi secara perlahan-lahan dan

terus-menerus, sehingga dapat mengendap dalam tubuh dan menimbulakan gejala

keracunan. Keracunan ini dapat terjadi karena menghirup uap atau debu merkuri atau

melakukan kontak dengan merkuri melalui kulit. Tanda-tanda yang ada pada pekerja

yang terpajan merkuri secara kronik meliputi: pengeluaran ludah berlebih

(hipersaliva), sariawan, gigi menjadi tanggal, guratan biru pada gusi, nyeri dan mati

rasa pada bagian kaki dan tangan, nephritis, diare, gelisah, sakit kepala, penurunan

berat badan, anoreksia, jiwa tertekan, halusinasi, dan kemunduran mental secara jelas

(W. Hartono, 2003).

Selain itu, menurut Widowati (2008), toksisitas kronis dapat berupa gangguan

sistem pencernaan, gingivitis (radang gusi), dan sistem syaraf, berupa tremor,

parkinson, gangguan lensa mata berwarna abu-abu sampai abu-abu kemerahan, serta

anemia ringan. Hal tersebut juga sejalan dengan Palar (1994), yang menyatakan
22

bahwa secara umum terdapat dua organ yang akan mengalami gangguan akibat

keracunan kronis tersebut, yaitu sistem pencernaan dan sistem syaraf. Gejala dapat

berupa gingivitis, tremor ringan dan parkinsonisme disertai dengan tremor pada otot

sadar. Gejala tremor dimulai dari ujung jari tangan/ kaki dan menjalar sampai otot

wajah dan pangkal tenggorokan.

2.2. Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

2.2.1. Definisi PETI

PETI (Penambangan Emas Tanpa Izin) adalah kegiatan penambang emas

yang dilakukan oleh para penambang emas atau yang secara lokal biasa disebut

dengan gurandil atau penambang emas tradisional yang tidak memiliki izin

penambangan (Sujatmiko, 2012). Izin penambangan tersebut dikenal dengan sebutan

IPR (Izin Pertambangan Rakyat). Seperti yang tercantum dalam UU No. 4 Tahun

2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara. Izin Pertambangan Rakyat (IPR)

adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah pertambangan

rakyat dengan luas wilayah dan investasi terbatas.

2.2.2. Kegiatan PETI

Kegiatan penambangan di daerah Pongkor, salah satunya di Desa Cisarua,

dilakukan dengan sistem penambangan bawah tanah, yaitu dengan membuat

terowongan yang mempunyai tinggi sekitar 1 meter dan mempunyai kedalaman yang

bervariasi (Juliawan, 2006). Hasil dari penambangan emas berupa batu-batuan yang
23

mengandung emas (bijih) tersebut dibawa untuk dilakukan pengolahan. Dari hasil

studi pendahuluan, secara umum diketahui bahwa pengolahan emas yang terdapat di

Desa Cisarua menggunakan teknik amalgamasi, yaitu dengan menggunakan merkuri.

Gambar 2.1. Penggunaan Merkuri pada Kegiatan Pengolahan Emas

Teknik amalgamasi tersebut memanfaatkan sifat dari merkuri itu sendiri, yang

dapat melarutkan berbagai jenis logam (misalnya: emas) sehingga membentuk

amalgam. Biji emas yang dicampur dengan merkuri akan berfungsi melarutkan emas

dan karena merkuri memiliki massa yang lebih berat, maka batuan dan bahan

pengotor lainnya akan mengapung di permukaan air sehingga dapat dengan mudah

dipisahkan (Silalahi, 2005). Adapun pengolahan yang dilakukan terdiri dari: tahap

penumbukan awal, tahap penggilingan, tahap pencucian dan pemerasan, tahap

pembakaran, serta tahap penumbukan akhir (finishing). Adapun penjelasan dari

masing-masing tahapannya adalah sebagai berikut.


24

a) Tahap penumbukan awal

Batu-batuan yang mengandung emas (bijih) dari hasil penambangan

tersebut, ditumbuk sampai hancur sehingga mempunyai ukuran yang

lebih kecil untuk dimasukkan ke amalgamator atau gelundung.

b) Tahap penggilingan

Proses penggilingan diproses di dalam amalgamator atau gelundung

yang telah diberi merkuri. Pada masing-masing gelundung terdapat

besi atau disebut dengan pelor yang berfungsi untuk menghancurkan

dan mengubah bijih emas tersebut menjadi butiran yang lebih halus

dan membentuk amalgam. Selain itu, proses penggilingan juga

berfungsi untuk memisahkan bijih emas dengan pengotor lainnya.

Tenaga penggerak gelundung terdiri dari 3 jenis, yaitu yang

mennggunakan kincir air, tenaga listrik, dan tenaga generator diesel

(Rohmana, Suharsono Kamal dan Suhandi, 2006). Proses

penggilingan tersebut berlangsung selama sekitar 8 jam.

Gambar 2.2. Gelundungan


25

c) Tahap pencucian dan pemerasan

Amalgam yang dihasilkan dari proses penggilingan, kemudian dicuci

dan diperas dengan menggunakan kain. Hal ini bertujuan untuk

membersihkan dari pengotor lain (seperti tanah dan sebagainya) dan

mengurangi kandungan merkuri yang masih terdapat pada amalgam

basah tersebut. Sisa-sisa merkuri keluar dari pori-pori kain dan jatuh

ke tempat penampungan untuk pencucian tersebut. Merkuri dari hasil

pencucian dan pemerasan yang mengendap di tempat pencucian,

nantinya akan digunakan kembali untuk proses pengolahan emas.

Gambar 2.3. Tahap Pencucian dan Pemerasan

d) Tahap pembakaran atau penggarangan

Proses pembakaran/penggarangan dilakukan untuk menghilangkan

unsur merkuri yang masih tertinggal pada amalgam tersebut.

Pembakaran yang dilakukan pada proses pengolahan emas ini


26

menggunakan alat yang sederhana, seperti yang terdapat pada gambar

dibawah ini.

Gambar 2.4. Alat yang Digunakan pada Tahap Pembakaran

Pada tahap pembakaran ini, merkuri yang ada pada amalgam

menguap keudara. Bola amalgam yang tadinya berwarna perak

berubah menjadi berwarna emas. Setelah proses pembakaran didapat

kadar emas sekitar 30-60%.

e) Tahap penumbukan akhir (finishing)

Pada tahap ini emas hasil dari pembakaran ditumbuk dan dibentuk

sesuai dengan permintaan pasar atau konsumen.

2.2.3. Pencemaran Merkuri dari Kegiatan PETI

Kegiatan pengolahan emas yang dilakukan secara amalgamasi dari kegiatan

PETI ini dapat menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan baik di air, tanah,

maupun udara. Hal tersebut sejalan dengan Herman (2006) dalam Widowati et.al.

(2008) yang menyatakan bahwa salah satu penyebab pencemaran lingkungan oleh Hg
27

adalah berasal dari pengolahan emas secara amalgamasi yang menghasilkan buangan

berupa tailing. Dari hasil proses tersebut sebagian Hg akan membentuk amalgam

dengan logam lain, seperti Au, Ag dan Pt; dan sebagian Hg akan hilang dalam proses

pengolahan emas tersebut.

Pada tahun 2003, diketahui penggunaan merkuri dari kegiatan PETI sebesar

16,2 ton perbulan (Senny Sunanisari, 2008). Diperkirakan 4,8 ton larutan merkuri

dibuang ke Sungai Cikaniki oleh PETI setiap tahunnya (Anonim, 2009; Yoyok

Sudarso dkk, 2009). Sungai Cikaniki, Sub DAS Cisadane yang merupakan sungai

yang alirannya melewati lokasi pertambangan telah tercemar logam merkuri (Hg)

cukup berat, bila dibandingkan batas maksimum Baku Mutu Air dalam PP No. 20

Tahun 1995. Pencemaran oleh merkuri tersebut berasal dari kegiatan pertambangan

emas tanpa izin di Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor (Margaret Bunga A. S.,

2010). Sama halnya dengan Sungai Cikaniki, Status kontaminasi logam merkuri pada

air Sungai Cisadane relatif tinggi hingga mencapai 3,33 ppb (Anonim, 2000) (Yoyok

Sudarso dkk, 2009).

Selain itu, kegiatan PETI tersebut menyebabkan terjadinya pencemaran

lingkungan. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa sedimen aktif di lokasi PETI

didaerah Pongkor, yaitu di Pasir Jawa, Ciguha, Cikoret dan beberapa lokasi

pengolahan emas, yaitu di Sungai Cipanas, Cikawung dan Cimarinten, telah

mengalami .pencemaran Hg sebesar 10,5-241,6 ppm. Selanjutnya, pada Sungai

Cikaniki yang merupakan hilir, dimana semua sungai bermuara, konsentrasi Hg


28

berkisar antara 6-18,5 ppm (Juliawan, 2006; Widowati et al., 2008). Selain itu, dari

hasil penelitian diketahui kandungan Hg pada beras dari sawah, dimana

menggunakan air limbah penambangan emas tradisional sebagai sistem irigasinya di

Nunggul Pongkor mencapai 0,45 ppm dan di Kalongliud Pongkor mencapai 0,25

ppm (Sutono, 2002; Widowati et al., 2008).

2.2.4. Paparan Merkuri terhadap Pekerja PETI

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, seluruh rangkaian kegiatan

pengolahan emas dilakukan pekerja tanpa menggunakan APD (Alat Pelinding Diri).

Sedangkan para pekerja mempunyai risiko untuk terpapar merkuri baik melalui

kontak langsung, yaitu pada tahap pencampuran merkuri baik yang digunakan untuk

amalgamator, maupun yang digunakan untuk proses pemerasan amalgam. Pada tahap

pemerasan juga terjadi kontak langsung antara pekerja dengan merkuri. Dari hasil

observasi dan wawancara diketahui bahwa pekerja tidak menggunakan sarung tangan

pada tahap tersebut. Selanjutnya, paparan juga dapat terjadi pada proses

penggarangan atau pembakaran, dimana uap merkuri hasil pembakaran dapat terhirup

langsung oleh para pekerja, mengingat pekerja tersebut tidak menggunakan masker

pada saat melakukan proses pembakaran.


29

Tabel 2.4. Alur Kontaminasi Merkuri ke Tubuh Penambang

Jalan Masuk Mekanisme

Melalui inhalasi Terhirup melalui hidung kemudian menembus alveoli dengan

cara terdisfusi dan masuk ke dalam peredaran darah

Melalui kulit Senyawa merkuri bersifat lipofilik, karena kulit mengandung

kelenjar sebasea yang dapat melepaskan asam lemak maka

merkuri akan diabsorpsi ke dalam kulit. Setelah itu, masuk

melalui kapiler darah dibawah kulit dan didistribusikan ke

seluruh tubuh

Sumber: Hartono (2003)

2.2.5. Paradigma Pajanan Merkuri terhadap Pekerja PETI

Mekanisme keberadaan merkuri hingga dapat menimbulkan efek terhadap

kesehatan manusia dapat ditinjau dari paradigma kesehatan lingkungan. Paradigma

tersebut menjelaskan hubungan interaksi antara komponen lingkungan yang

berpotensi menimbulkan penyakit terhadap manusia. Hal ini dapat digambarkan

dalam teori simpul, yang terbagi atas lima simpul, yaitu: sumber penyakit, media

transmisi penyakit,perilaku pemajanan, kejadian penyakit dan variabel supra sistem

(Achmadi, 2011).

Pada simpul satu, yaitu sumber penyakit merupakan titik yang mengeluarkan

agent penyakit. Dalam hal ini diketahui agent penyakit berupa merkuri atau air raksa
30

(Hg) yang berada di lingkungan. Keberadaan merkuri ini salah satunya dapat

disebabkan karena adanya kegiatan PETI.

Pada simpul dua, media transmisinya dapat berupa udara, air, tanah

(sedimen), dan pangan. Orang dapat terpajan uap Hg bila bernafas dalam lingkungan

yang terkontaminasi oleh uap merkuri (Hg), menelan/makan makanan atau minum air

yang terkontaminasi oleh merkuri (Hg), dan melalui kulit yang kontak dengan

merkuri (Hg). (ATSDR, 1999; WHO, 2001; Inswiasri, 2008).

Besarnya jumlah kontak yang diterima manusia dari lingkungannya yang

mengandung agent penyakit tergantung dari perilaku pemajan, yaitu pada simpul tiga

(Inswiasri, 2008) (Achmadi, 2011). Dalam hal ini variabel pada simpul ketiga dapat

berupa: umur, jenis kelamin, status gizi, lama kerja, masa kerja, penggunaan APD,

kadar pemakaian merkuri/ hari, jenis aktivitas PETI, konsumsi ikan, kebiasaan mandi

di sungai, konsumsi air yang terkontaminasi merkuri, dan pemakaian kosmetik.

Sebagai contoh keterkaitan variabel tersebut terhadap pemajan merkuri, yaitu adanya

kontak langsung melalui kulit dalam hal ini dapat terjadi ketika seseorang memiliki

kebiasaan mandi di sungai yang telah terkontaminasi dengan merkuri (Hg). Untuk

mengukur atau memperkirakan besarnya pajanan yang diterima dapat diukur melalui

biomarker atau tanda biologi. Biomarker pajanan yang umum dilakukan untuk

pemeriksaan kadar Hg salah satunya adalah rambut (Inswiasri, 2008).


31

Simpul empat merupakan outcome dari adanya hubungan interaktif antara

individu dengan lingkungan yang memiliki potensi bahaya, sehingga menimbulkan

kejadian penyakit (Achmadi, 2011). Kejadian penyakit yang disebabkan oleh merkuri

tersebut, yaitu keracunan merkuri atau tidak. Penetapan kejadian keracunan ini adalah

berdasarkan pengukuran pada biomarker berupa rambut pekerja. Setelah hasil

pengukuran laboratorium didapat, kemudian kadar merkuri pada masing-masing

rambut dibandingkan dengan ketetapan WHO (1990), yang menyatakan bahwa kadar

normal Hg dalam rambut berkisar antara 1-2 mg/kg atau 1-2 ppm.

Simpul lima merupakan variabel supra sistem yang juga harus diperhitungkan

dalam setiap upaya analisis kejadian penyakit (Achmadi, 2011). Dalam lingkup

kejadian keracunan merkuri akibat dari adanya kegiatan PETI, variabel yang juga

harus diperhitungkan dapat berupa kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah

dapat mempengaruhi baik simpul 1, 2, 3, maupun simpul 4.

2.2.6. Biomarker Pajanan Merkuri

Biomarkers atau biologicalmarkers dapat diartikan sebagai penanda biologis

atau jaringan tubuh yang berfungsi untuk mengukur paparan polutan terhadap

manusia. Biomarkers merupakan indeks yang sensitif dari paparan merkuri pada

masing-masing individu (IPCS, 2000; WHO, 2008). Hasil pengukuran merkuri

melalui biomarker yang dilakukan pada pekerja dapat memberikan gambaran pajanan

atau pemaparan dari suatu hazard, yang dalam hal ini adalah merkuri, terhadap
32

kesehatan pekerja tersebut. Pajanan atau pemaparan akibat kerja tersebut

dihubungkan dengan proses kerja yang disebut dengan indeks atau indikator pajanan

(Idris, 1998).

Menurut UNEP dan WHO (2008), biomarkers yang dapat digunakan untuk

mengetahui adanya paparan merkuri terhadap manusia adalah rambut, darah. jaringan

dan darah plasenta, urin, kuku dan air susu manusia (ASI). Kadar merkuri dalam

darah menunjukkan adanya paparan yang baru atau untuk kasus jangka pendek. Hal

ini disebabkan karena waktu paruh merkuri dalam darah hanya 3 hari. Dengan

pertimbangan tersebut maka diperlukan pengambilan sampel sesegera mungkin

setelah terjadinya paparan (IPCS, 2003). Begitupun halnya untuk darah pada plasenta

dan jaringan plasenta yang juga dapat digunakan untuk mengetahui paparan

terakhir/saat ini. Untuk urin, merupakan biomarker yang tepat untuk paparan merkuri

anorganik, tetapi tidak untuk merkuri organic. Hal ini dikarenakan merkuri organik

direpresentatifkan hanya sedikit pada urin (IPCS, 2003). Sedangkan, rambut dapat

digunakan untuk mengetahui paparan jangka panjang, khususnya untuk

methylmercury. Hal tersebut dikarenakan merkuri yang telah berada di rambut tidak

kembali lagi ke darah (UNEP dan WHO, 2008).

Rambut merupakan salah satu jaringan tubuh yang dapat mengakumulasi

berbagai logam berat, termasuk merkuri, sehingga dapat digunakan untuk

menunjukkan tingkat kontaminasi merkuri di dalam tubuh manusia yang terpapar

terus-menerus (Tritugaswati et al., 1986; Cakrawati, 2002). Hal tersebut sejalan


33

dengan Soepanto et al. (1992) dalam Cakrawati (2002) yang menyatakan bahwa

tingkat kandungan merkuri di dalam rambut merupakan salah satu indicator tingkat

kandungan merkuri di tubuh. Selain itu, kandungan merkuri di dalam rambut dapat

digunakan untuk menilai kondisi penduduk yang berkaitan dengan pemaparan

merkuri.

Pada rambut, konsentrasi merkuri dapat meningkat dengan adanya paparan

dari uap merkuri di lingkungan. Hal tersebut dikarenakan adanya adsorbsi langsung.

Selain itu, pemeriksaan rambut sangat penting dilakukan untuk pajanan metil merkuri

dari makanan (IPCS, 1990). Menurut WHO (1991) dalam Warsono. S (2000), rambut

merupakan media indikator yang berguna untuk menggambarkan orang yang

keracunan Hg. Hal tersebut dikarenakan konsentrasi Hg di rambut kepala yang terjadi

pada saat pembentukan rambut, setara dengan konsentrasi Hg di dalam darah. Akan

tetapi belum diketahui hubungan antara konsentrasi rambut, darah, dan urin. Selain

itu, menurut WHO (1996) merkuri juga merupakan indikator spesimen yang sangat

baik pada rambut, dibanding logam-logam lain (W. Hartono, 2003).

Rambut lebih banyak digunakan sebagai indikator akumulasi merkuri. Hal

tesebut berdasarkan kadar merkuri dalam rambut yang relatif lebih tinggi

dibandingkan dengan kadar merkuri dalam urin, keringat, tinja maupun darah. Selain

itu, rambut secara unik juga dapat digunakan untuk membedakan antara kontaminasi

internal dengan eksternal. Untuk mengetahui adanya kontaminasi internal

ditunjukkan dengan rambut bagian dalam yang selalu tertutup rapat oleh pakaian.
34

Sedangkan kontaminasi eksternal ditujukan untuk kontaminasi total, yaitu

kontaminasi internal dan eksternal (Sasmito dan Kamal, 2002).

2.2.7 Metode Analisis

Terdapat banyak metode yang tersedia untuk menganalisis kadar merkuri

dengan menggunakan biomarker yang salah satunya berupa rambut. Beberapa

metode yang digunakan, seperti Atomic Fluorescence Spectrometry (AFS), Neutron

Activation Analysis (NAA), dan Cold Vapour Atomic Absorption Spectrometry

(CVAAS). Akan tetapi, metode yang paling banyak digunakan adalah Cold Vapour

Atomic Absorption Spectrometry (CVAAS) (ATSDR, 1999; IPCS, 2003; UNEP dan

WHO, 2008).

CVAAS ini memiliki sensitivitas yang memadai untuk pengukuran merkuri

pada tingkat sub-ppm, juga ke tingkat sub-ppt dibandingkan dengan Neutron

Activation Analysis (NAA), yang memiliki batas deteksi kurang bagus. Oleh karena

tingginya tingkat sensitivitas yang dimiliki oleh CVAAS, maka sampel berupa

rambut yang dibutuhkan hanya sedikit (beberapa helai) saja. Sedangkan, untuk

metode Atomic Fluorescence Spectrometry (AFS) memiliki kelemahan, yaitu

memerlukan sampel berupa rambut yang cukup banyak. Sampel yang dibutuhkan

untuk dianalisis adalah sekitar 5-10 mg, sedangkan untuk mendapatkan resolusi

spasial (untuk tujuan biomonitoring), dibutuhkan sekitar 100-150 helai rambut.


35

Besarnya jumlah sampel tersebut dapat mengganggu responden (UNEP dan WHO,

2008).

2.2.8. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan

Menurut Widowati et.al. (2008), upaya pencegahan yang harus dilakukan

terhadap pencemaran limbah merkuri sebagai dampak dari kegiatan PETI diantaranya

adalah sebagai berikut:

1. Menerapkan sistem pertambangan tertutup dengan tujuan memperkecil

keluaran Hg dari dalam tanah. Hal ini adalah sebagai bentuk dari

pemilihan teknik penggalian yang ramah lingkungan.

2. Mengganti penggunaan Hg dalam proses pengolahan emas menjadi

menggunakan mikroba, contohnya adalah Thiobacillus feroxidans

(Bapeldada Sulut, 2002).

Adapun cara yang perlu dilakukan sebagai bentuk penanggulangan terhadap

pencemaran limbah merkuri di lingkungan sebagai dampak dari kegiatan PETI adalah

diantaranya adalah sebagai berikut (Widowati et.al., 2008):

1. Memindahkan sedimen yang telah tercemar oleh Hg dan

mengisolasinya dengan membuat bak pengendap yang selain berfungsi

sebagai tempat pengisolasi sedimen, tetapi juga dapat menjadi tempat

isolasi bagi material lainnya yang telah tercemar oleh Hg . Untuk uap
36

merkuri yang dilakukan di ruangan yang tertutup dapat pula dialirkan

masuk kedalam bak pengendap yang tertutup rapat.

2. Melakukan treatment terhadap tanah dan air yang telah tercemar, salah

satunya dengan menerapkan fitoremediasi, yaitu pengolahan bahan

pencemar dengan menggunakan tanaman. Tanaman yang dapat

digunakan seperti Stelaria setacea atau eceng gondok (Siswoyo,

2011), Selain itu, dapat juga menerapkan bioremediasi, yaitu

penggunaan mikroorganisme untuk mengabsorpsi polutan Hg,

contohnya adalah Pseudomonas syringae.

2.3. Faktor-faktor Pemaparan Pekerja PETI terhadap Keracunan Merkuri (Hg)

2.3.1. Faktor Internal

a. Umur

Menurut Hamid (1991) dan Tugaswati (2006) salah satu faktor

yang dapat mempengaruhi kerentanan tubuh terhadap logam berat adalah

umur. Janin, anak yan baru lahir dan masih berusia muda sangat rentan

terhadap paparan merkuri karena sensitivitas dari perkembangan syaraf.

Selain itu, neonatus juga dapat terpapar dari konsumsi ASI yang telah

terkontaminasi merkuri (ATSDR, 1999; UNEP dan WHO, 2008).

Konsentrasi metilmerkuri dalam darah janin adalah sekitar 1,5

sampai 2 kali lipat lebih besar dibandingkan ibunya, karena transport aktif
37

metilmerkuri ke janin melalui plasenta (NRC, 2000; IPCS, 1990; UNEP

dan WHO, 2008). Hal ini sejalan dengan pernyataan dari Eto (1999) dan

Sudarmaji et. al. (2006) bahwa efek keracunan merkuri tergantung dari

kepekaan individu, yakni anak dalam kandungan (prenatal), bayi, anak-

anak, dan orang tua.

b. Status Gizi

Status gizi adalah keadaan tubuh seseorang sebagai akibat dari

konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2009).

Pengukuran status gizi berdasarkan pada rumus:

[ ]

Hasil dari pengukuran IMT tersebut dibandingkan dengan batasan IMT

yang telah ditetapkan untuk mengetahui keadaan/status gizi seseorang.

Batasan IMT yang berlaku di Indonesia adalah sebagai berikut:

Tabel 2.5. Batas IMT di Indonesia

Keadaan Gizi IMT (Kg/m2)

Kurus Sekali < 17,0

Kurus 17,0-18,4

Normal 18,5-25,0

Gemuk 25,1-27,0

Gemuk Sekali > 27,0

Sumber: Depkes RI (2003), Harahap (2005)


38

Pada dasarnya apabila seseorang memiliki status gizi yang kurang

baik maka akan menjadi rentan terhadap penyakit (Inswiasri dan

Sintawati, 2011). Hal tersebut juga sejalan dengan Sumamur (1996), yang

menyatakan bahwa tingkat gizi seorang pekerja memiliki hubungan yang

sangat erat dengan kesehatan dan daya kerja. Selain itu, status gizi juga

dapat mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang terhadap paparan logam

berat ke tubuh. Diketahui kadar Cad dan Fe yang tinggi dalam makanan

yang dikonsumsi oleh seseorang, akan menurunkan penyerapan tubuh

terhadap logam berat (Fergusson, 1991). Kemudian, menurut Silalahi

(2005) diketahui bahwa vitamin E dan antioksidan dapat mengurangi

toksisitas merkuri.

2.3.2. Faktor Pekerjaan

a. Masa Kerja

Pengaruh masa kerja dengan kadar merkuri pada area kerja yang

memiliki risiko tinggi terhadap paparan merkuri, adalah berkaitan dengan

akumulasi merkuri dalam tubuh. Apabila semakin lama orang tersebut

bekerja, maka semakin sering pula orang tersebut terpapar dengan

merkuri. Hal tersebut sejalan dengan Sumamur (1996), yang menyatakan

bahwa semakin lama seseorang bekerja maka semakin banyak paparan

bahaya yang ditimbulkan dari area tempat kerjanya.

Pada umumnya, para penambang terpapar merkuri melalui kontak

langsung dengan kulit dan inhalasi, yaitu dengan menghirup uap merkuri
39

pada saat proses pengolahan emas. Pada paparan melalui inhalasi dengan

saluran pernapasan sebagai jalur utamanya merupakan cara penyerapan

merkuri dalam bentuk unsur di tubuh dengan persentasi akumulasi yang

tinggi, yaitu sekitar 80%. Hal ini dikarenakan sifat merkuri yang dapat

larut dalam lipida (Berlin, 1979; Alfian, 2006; Maywati, 2011)

b. Jam Kerja

Jam kerja dapat menentukan tingkat keterpajanan pekerja terhadap

kontaminasi bahan kimia di lingkungan kerja. Hal ini sejalan dengan

penelitian yang dilakukan oleh Lestarisa pada pekerja PETI di Kecamatan

Kurun tahun 2010, yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan

bermakna antara jam kerja terhadap keracunan merkuri dengan p value

sebesar 0,002. Dinyatakan pula bahwa pekerja dengan jam kerja >8 jam

dalam sehari berisiko tinggi mengalami keracunan merkuri dibandingkan

dengan pekerja dengan jam kerja 8 jam/hari.

Kemudian, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Rianto (2010) pada 60 penambang emas tradisional di Desa Jendi

Kecamatan Selogiri, diketahui pula bahwa terdapat hubungan yang

bermakna antara jam kerja dalam sehari dengan keracunan merkuri

dengan p value sebesar 0,047. Serta, diperoleh hasil dari 7 orang

penambang dengan jam kerja >8 jam, didapat 7 orang (100%) yang

mengalami keracunan. Sedangkan penambang dengan lama kerja 8 jam

dari 53 orang penambang, terdapat 33 orang (62,3%) yang mengalami


40

keracunan merkuri dan 20 orang (37,7%) tidak mengalami keracunan

merkuri.

Jam kerja juga terkait dengan lama keterpaparan pekerja di

lingkungan kerjanya dalam sehari. Hal ini dinyatakan dalam Nilai

Ambang Batas (NAB), dimana menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja

dan Transmigrasi RI No. 13 Tahun 2011, definisi dari NAB adalah standar

faktor bahaya di tempat kerja sebagai kadar/intensitas rata-rata tertimbang

waktu (time weighted average) yang dapat diterima tenaga kerja tanpa

mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan

sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa penentuan lama jam kerja tergantung dari

besarnya paparan/kadar unsur kimia di udara yang berada pada tempat

kerja tersebut.

Terkait merkuri (Hg), berdasarkan lampiran dari Peraturan Menteri

Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. 13 Tahun 2011 diketahui bahwa

NAB di udara lingkungan kerja untuk senyawa merkuri anorganik

ditetapkan sebesar 0,025 mg/m3. Sedangkan untuk Paparan Singkat

Diperkenankan (PSD)/ Kadar Tertinggi Diperkenankan (KTD) dari Hg

adalah 0,03mg/m3. Adapun definisi dari Paparan Singkat Diperkenankan

(PSD) adalah kadar zat kimia di udara di tempat kerja yang tidak boleh

dilampaui agar tenaga kerja yang terpapar pada periode singkat yaitu tidak
41

lebih dari 15 menit masih dapat menerimanya tanpa mengakibatkan iritasi,

kerusakan jaringan tubuh maupun terbius yang tidak boleh dilakukan lebih

dari 4 kali dalam satu hari kerja. Sedangkan, Kadar Tertinggi

Diperkenankan (KTD) adalah kadar bahan kimia di udara tempat kerja

yang tidak boleh dilampaui meskipun dalam waktu sekejap selama tenaga

kerja melakukan pekerjaan.

c. Penggunaan APD

Alat Pelindung Diri yang direkomendasikan untuk pekerja

penambang dan pengolahan emas adalah masker, sarung tangan karet dan

baju lengan panjang. Masker dapat mengurangi paparan Hg lewat

pernafasan. Pada saat uap Hg terhirup, 80% Hg masuk ke aliran darah

melalui paru-paru dan menyebar ke organ tubuh lain, termasuk otak dan

ginjal. Sedangkan, sarung tangan karet dan pakaian lengan panjang

mampu mengurangi paparan Hg lewat kulit. Beberapa senyawa air raksa

(II) organik dan anorganik dapat diabsorpsi melalui kulit (Setiyono dan

Maywati, 2010).

d. Kadar Pemakaian Merkuri/ hari

Menurut Parkhut dan Thaxton (1973) dalam Widiana (2007),

besarnya toksisitas merkuri berbanding lurus dengan konsentrasi. Makin

besar konsentrasinnya maka makin besar tingkat toksisitasnya.


42

e. Jenis Aktivitas PETI

Aktivitas atau jenis kegiatan yang dilakukan oleh PETI terdiri dari

menambang dan mengolah emas hasil dari kegiatan pertambangan.

Pengolahan emas tersebut dibagi lagi menjadi kegiatan mengerakkan

gelundung sehingga menjadi serbuk emas, membuat amalgram dimana

terjadi proses pencampuran merkuri dan pemerasan emas yang telah

dicampur dengan air dan merkuri dengan menggunakan kain, pemijaran

atau pembakaran, dan penumbukkan emas menjadi lempengan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Trilianty Lestarisa

(2010), diketahui bahwa sebagian besar penambang yang mempunyai

aktivitas berupa pencampuran merkuri dan membakar amalgram

mempunyai presentase tertinggi terkena keracunan merkuri. Hal ini

disebabkan karena pada pencampuran merkuri terjadi kontak langsung

dengan penambang melalui kulit. Hal tersebut dapat diperparah apabila

penambang tidak menggunakan sarung tangan. Selain itu, uap hasil dari

pembakaran amalgram dapat langsung terhirup oleh penambang melalui

saluran pernapasan akan masuk kedalam paru-paru. Setelah itu, merkuri

tersebut dapat berikatan dengan darah dan didistribusikan ke seluruh

tubuh (Lestarisa, 2010)


43

2.3.3. Faktor Perilaku

a. Konsumsi Ikan

Konsumsi ikan merupakan salah satu faktor yang dapat

mempengaruhi terjadinya keracunan merkuri pada manusia. Hal tersebut

karena merkuri merupakan logam berat yang tidak dapat didegradasi

sehingga dapat menimbulkan bioakumulasi pada mahluk hidup yang salah

satunya adalah ikan. Menurut Arsentina (2008) dalam Agustina (2010),

definisi dari bioakumulasi yakni peningkatan zat kimia yang terjadi pada

tubuh mahluk hidup dalam waktu yang cukup lama dibandingkan dengan

konsentrasi zat kimia yang berada di alam.

Dalam perairan dan sedimen, merkuri dabat berubah menjadi

bentuk organik, yaitu metilmerkuri (CH3Hg) karena adanya aktivitas

bakteri. Bentuk senyawa metilmerkuri (CH3Hg) dapat dengan mudah

berdifusi dan berikatan dengan protein biota akuatik. Hal tersebut

termasuk pada protein jaringan otot ikan (Bureau of Nutritional Sciences,

Food Directorate, Health Products and Food Branch Canada, 2007;

Athena dan Inswiasri, 2009). Diketahui pula ion metil merkuri yang telah

termakan akan larut dalam lipida dan ditimbun dalam jaringan lemak pada

ikan. Metil merkuri dapat ditimbun dalam jaringan lemak pada ikan

sampai kadar 3000 kali dari kadar yang ada di air, namun ikan tersebut

tidak menunjukkan gangguan merkuri atau menderita sakit (Polii dan


44

Sonya, 2002). Sehingga apabila manusia mengkonsumsi ikan yang

terkontaminasi oleh merkuri maka dapat terjadi peningkatan risiko untuk

terjadinya keracunan merkuri.

Ada berbagai macam faktor yang mempengaruhi kadar merkuri

yang terkandung dalam ikan, salah satunya adalah umur ikan tersebut.

Kandungan merkuri akan meningkat sesuai dengan umur ikan. Hal

tersebut berarti ikan-ikan yang berukuran besar sebagai ujung dari rantai

makanan memiliki konsentrasi merkuri yang paling tinggi (Athena dan

Inswiasri, 2009).

Biomarker berupa rambut dapat digunakan untuk mengetahui

pajanan metilmerkuri (UNEP, 2008). Dari hasil penelitian yang dilakukan

oleh R. Kowalski dan J. Wierciski (2006) yang berjudul Determination

of Total Mercury Concentration in Hair of Lubartw-Area Citizens

(Lublin Region, Poland)., diketahui bahwa konsentrasi merkuri dari

rambut masyarakat tersebut menegaskan adanya pengaruh frekuensi

konsumsi ikan dengan konsentrasi merkuri. Tingginya konsentrasi

merkuri ditemukan pada rambut individu yang banyak mengkonsumsi

ikan.

Selanjutnya, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Andri et.al.

(2011) pada masyarakat sekitar PETI di Kecamatan Mandor, diketahui


45

bahwa variabel konsumsi ikan >3 kali/minggu memiliki hubungan yang

signifikan terhadap kadar merkuri pada rambut masyarakat dengan p value

sebesar 0,007.

b. Kebiasaan Mandi di Sungai

Masuknya merkuri ke dalam tubuh dapat disebabkan karena

melakukan kegiatan yang memiliki risiko untuk terpapar merkuri.

Beberapa masyarakat yang tinggal di desa terkadang memiliki kebiasaan

mandi di sungai. Pada saat mandi, air sungai yang terkontaminasi merkuri

dapat masuk ke tubuh dengan adanya kontak langsung melalui kulit.

Rutinitas menggosok gigi pada saat mandi juga dapat menjadi alur masuk

merkuri ke dalam tubuh . Selain itu, akibat dari adanya reaksi penguapan

merkuri dalam air dapat berisiko untuk masuk ke tubuh melalui saluran

pernafasan (Andri DH et al., 2011).

c. Konsumsi air yang terkontaminasi merkuri

Seperti yang telah dijelaskan bahwa masuknya merkuri ke dalam

tubuh dapat melalui saluran pencernaan. Menurut Andri DH et al. (2011),

masyarakat yang mengkonsumsi air sungai yang telah terkontaminasi oleh

merkuri dengan konsentrasi yang tinggi, cenderung memiliki kadar

merkuri yang tinggi juga dalam tubuhnya.


46

d. Pemakaian Kosmetik

Pemakaian kosmetika yang mengandung merkuri dapat

menyebabkan terjadinya penyerapan merkuri melalui kulit, sehingga dapat

mempengaruhi kadar merkuri pada tubuh. Penambahan bahan merkuri

pada kosmetika tersebut bertujuan untuk memutihkan atau mencerahkan

kulit (W. Hartono, 2003). Produk pencerah kulit termasuk sabun dan krim

memiliki perkiraan kadar merkuri yang berbeda-beda. Untuk sabun,

mengandung sekitar 1-3% iodida merkuri dan mempunyai konsentrasi

merkuri sebesar 31 mg/kg. Sedangkan untuk krim terdiri dari 1-10%

ammonium merkuri dan mempunyai konsentrasi merkuri sebesar 33.000

mg/kg (WHO, 2011).

Walaupun peredaran kosmetik yang mengandung merkuri telah

dilarang peredarannya di Indonesia, tetapi pada peredarannya masih

ditemukan merk tertentu yang mengandung merkuri. Beberapa merk

terdaftar yang mengandung merkuri adalah; chiumien pearl cream, cupid

pearl nourishing cream, albani cream, jeany pearl cream, contra B, ultra

cream dosha, fair check pearl cream, deluxe dosha, dan UE cream. Selain

itu terdapat pula beberapa merk kosmetika yang tidak terdaftar, yaitu: UB

formula 99 AA whitening pearl cream, AQL cream, BQL cream,dan

chiumin bleaching pearl cream (W. Hartono, 2003).


47

2.3.4. Faktor Lainnya

a. Kebijakan Pemerintah

Merkuri yang terdapat di lingkungan, baik di udara, tanah, air,

maupun makanan dapat disebabkan oleh penggunaannya yang tidak

terkendali. Penggunaan merkuri ini dapat berasal dari aktifitas PETI

(Nimitch, 2012). Kebijakan pemerintah terkait merkuri erat kaitannya

dengan peraturan yang menjadi landasan guna mengendalikan pencemaran

serta dampak yang ditimbulkan dari kegiatan PETI tersebut. Aspek yang

dibahas pada peraturan yang berlaku di Indonesia tersebut baik dari segi

peredaran dan penggunaanya, baku mutu pada lingkungan, keterpaparan

terhadap pekerja, maupun batas aman yang diterima tubuh. Peraturan

tersebut diantaranya UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan LH, PP

RI No. 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan

Beracun, Kepmen LH No. 02/ 1998 Tentang Penetapan Pedoman Baku

Mutu Lingkungan, dan sebagainya.


48

2.5. Kerangka Teori

Bagan 2.1. Paradigma Pajanan Merkuri (Teori Simpul)

Faktor internal: umur, Keracunan


status gizi (IMT) Merkuri / tidak
Faktor pekerjaan: masa
(Biomarker:
kerja, jam kerja,
Udara penggunaan APD, rambut, darah.
Merkuri
Air kadar pemakaian
(Hg) jaringan dan
Pangan merkuri/ hari, jenis
Tanah darah plasenta,
aktivitas PETI
urin, kuku dan
Faktor perilaku:
air susu
konsumsi ikan,
kebiasaan mandi di manusia
sungai, konsumsi air, (ASI))
pemakaian kosmetik

Kebijakan Pemerintah

Sumber: Teori Modifikasi dari Achmadi (2011), Lestarisa (2010), Fergusson (1991),
Maywati (2011), Athena dan Inswiasri (2009), R. Kowalski dan J. Wierciski (2006),
Andri DH et al. (2011), W. Hartono (2003), Nimitch (2012).
BAB III

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL, DAN HIPOTESIS

3.1. Kerangka Konsep

Mengacu pada tinjauan pustaka yang telah dijelaskan sebelumnya, diketahui

bahwa terdapat berbagai macam faktor-faktor yang mempengaruhi keracunan

merkuri. Faktor-faktor tersebut terdiri dari faktor internal, faktor pekerjaan, faktor

perilaku dan faktor lainnya. Adapun faktor internal terdiri dari: umur dan status gizi.

Faktor pekerjaan terdiri dari: lama kerja, masa kerja, penggunaan APD, kadar

pemakaian merkuri/ hari, dan jenis aktivitas pekerja. Faktor perilaku terdiri dari:

konsumsi ikan, kebiasaan mandi di sungai, konsumsi air yang terkontaminasi

merkuri, dan pemakaian kosmetik. Sedangkan faktor lainnya yang juga berpengaruh

terhadap keracunan merkuri adalah kemiringan dan jenis aliran sungai, serta jenis

tanah.

Dengan berbagai pertimbangan, maka peneliti menetapkan beberapa variabel

saja yang akan diteliti dari PETI di Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten

Bogor. Variabel yang dimaksud adalah untuk variabel independen berupa: umur,

status gizi, masa kerja, lama kerja, jenis aktivitas, dan konsumsi ikan. Sedangkan

untuk variabel dependen berupa keracunan merkuri. Ada berbagai macam

pertimbangan atau alasan yang mendasari pengambilan keputusan tersebut. Variabel

49
50

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) tidak diteliti karena dari hasil studi

pendahuluan terhadap 10 responden, diketahui bahwa tidak ada pekerja yang

menggunakan APD dalam melakukan aktivitas pengolahan emas. Dari hasil studi

pendahuluan tersebut juga diketahui bahwa tidak ada pekerja yang mandi di sungai.

Sedangkan, alasan variabel konsumsi air tidak diteliti karena dikhawatirkan data yang

didapat bias. Hal tersebut dikarenakan peneliti tidak mengukur sample air minum

yang dikonsumsi pekerja. Variabel pemakaian kosmetik tidak diteliti karena semua

PETI berjenis kelamin laki-laki. Variabel kebijakan pemerintah tidak diteliti tetapi

hanya dijadikan acuan penelitian.

Bagan 3.1. Kerangka Konsep

Faktor internal:

Umur Merkuri Total


Status Gizi (IMT)
Keracunan merkuri :

> 2ppm
Faktor pekerjaan:
Normal:
Masa kerja
Jam Kerja 2ppm
Jenis Aktivitas
(WHO, 1990)

Faktor perilaku:

Konsumsi Ikan
51

3.2. Definisi Operasional

Alat
No Variabel Definisi Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur

Kadar merkuri total Dengan


Flow
responden yang melebihi mengambil Keracunan: > 2ppm
Keracunan Injection
1. batas normal dengan sample Normal: 2ppm Ordinal
merkuri Mercury
biomarker rambut, yaitu rambut (WHO, 1990)
System
>2ppm (WHO, 1990) responden

Usia responden yang tertera


di Kartu Tanda Penduduk
2. Umur dalam hitungan tahun Observasi Kuesioner ..tahun Rasio
sampai dengan waktu
dilakukan wawancara.
52

Alat
No Variabel Definisi Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur

Microtoise
Keadaan gizi responden
dan
yang ditetapkan berdasarkan
3. Status gizi Observasi timbangan Skor Rasio
nilai Indeks Massa Tubuh
berat
(IMT)
badan

Rentang waktu responden


bekerja mulai dari menjadi
pekerja PETI sampai
Masa
4. dengan waktu penelitian Wawancara Kuesioner ..tahun Rasio
kerja
berlangsung yang
dinyatakan dalam hitungan
tahun (Rianto, 2010)
Jumlah jam responden per
hari dalam melakukan
5. Jam kerja Wawancara Kuesioner ..jam Rasio
pekerjaan sebagai PETI
(Lestarisa, 2010)
53

Alat
No Variabel Definisi Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur

0: melakukan salah satu kegiatan


yang kontak langsung dengan
Jenis kegiatan yang merkuri (tahap pencucian/
Jenis dilakukan oleh responden pemerasan, atau pembakaran
6. Wawancara Kuesioner Ordinal
aktivitas yang termasuk dari proses amalgam)
pengolahan emas 1: tidak melakukan kegiatan
yang kontak langsung dengan
merkuri. (Lestarisa, 2010)

Kuesioner
Konsumsi jumlah berat ikan yang dan
7. Wawancara .gram Rasio
ikan dikonsumsi dalam 1 minggu food
model
54

3.3. Hipotesis

1. Risiko keracunan merkuri lebih besar terjadi pada pekerja PETI yang

berusia lebih tua dibandingkan dengan yang muda di Desa Cisarua

Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor tahun 2013.

2. Risiko keracunan merkuri lebih besar terjadi pada pekerja PETI yang

memiliki status gizi tidak normal dibandingkan dengan yang normal di

Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor tahun 2013.

3. Risiko keracunan merkuri lebih besar terjadi pada pekerja PETI yang

memiliki masa kerja lebih lama dibandingkan dengan yang tidak lama di

Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor tahun 2013.

4. Risiko keracunan merkuri lebih besar terjadi pada pekerja PETI yang

memiliki jam kerja lebih lama dibandingkan dengan yang tidak lama di

Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor tahun 2013.

5. Risiko keracunan merkuri lebih besar terjadi pada pekerja PETI yang

memiliki aktivitas kontak langsung terhadap merkuri dibandingkan

dengan yang tidak kontak langsung di Desa Cisarua Kecamatan

Nanggung Kabupaten Bogor tahun 2013.

6. Risiko keracunan merkuri lebih besar terjadi pada pekerja PETI yang

sering mengkonsumsi ikan dibandingkan dengan yang tidak sering di

Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor tahun 2013.


BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional yang bersifat

kuantitatif, dimana peneliti ingin mengetahui keterkaitan antara variabel independen

terhadap variabel dependen melalui uji hipotesis dengan melakukan penyebaran

kuesioner dan uji laboratorium dan menganalisis hasilnya. Cara pendekatan yang

digunakan adalah dengan rancangan cross sectional (potong lintang), dimana variabel

sebab (risiko) dan akibat (kasus) yang terdapat dalam penelitian tersebut diukur atau

dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2010).

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di laboratorium ALS Indonesia dan pengambilan

sampel dilakukan di Desa Cisarua, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa

Barat. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Februari-September 2013.

4.3. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja PETI di Desa Cisarua

Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor. Jumlah pekerja PETI tidak diketahui secara

pasti. Hal ini dikarenakan pekerja bersifat illegal sehingga tidak terdata secara resmi.

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pekerja PETI yang masih aktif

bekerja hingga saat diwawancara dengan masa kerja minimal 1 tahun.

55
56

Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan metode uji beda

satu proporsi dengan rumus sebagai berikut (Lameshow, 1990; Ariawan, 1998):

* ( ) ( ) ( ) +
( )

[( ) ( )]
( )

Keterangan:

n : Jumlah sampel minimal yang diperlukan

P1 : Proporsi pekerja PETI yang mengalami keracunan merkuri diambil

dari penelitian Lestarisa (2010) dengan proporsi 90,6% (lama kerja

> 8 jam per hari)

P2 : Proporsi pekerja PETI yang tidak mengalami keracunan merkuri

Diambil dari penelitian Lestarisa (2010) dengan proporsi 44,4%

(lama kerja = 8 jam per hari)

( )
P : Rata-rata proporsi ( ) = 0,675

Z1- : Nilai Z pada derajat kemaknaan pada one tail, yaitu 5% = 1,64

Z1- : Nilai Z pada kekuatan uji 1- pada one tail, yaitu 90% = 1,28
57

Dari perhitungan diatas diketahui bahwa jumlah sampel minimal dalam

penelitian ini adalah sebesar 16. Untuk menghindari adanya sampel yang tidak

memenuhi syarat, maka sampel penenlitian ini dibulatkan menjadi 40. Pemilihan

sampel tersebut diambil dengan menggunakan teknik accidental sampling, dimana

pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil responden yang kebetulan ada di

lokasi penelitian (Notoatmodjo, 2010). Sampel tersebut ditentukan berdasarkan

kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Adapun kriteria inklusi dan

eksklusi yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. Kriteria Inklusi

Kriteria atau syarat yang harus dipenuhi oleh responden untuk menjadi

sampel dalam penelitian ini. Kriterianya adalah sebagai berikut:

a. Bersedia menjadi responden penelitian

b. Merupakan pekerja PETI yang masih aktif dan berjenis kelamin laki-

laki

c. Masa kerja pekerja minimal 1 tahun

2. Kriteria Eksklusi

Kriteria atau syarat yang tidak terpenuhi oleh responden sehingga tidak

bisa dijadikan sampel. Kriterianya adalah sebagai berikut:

a. Tidak bersedia menjadi responden penelitian

b. Masa kerja pekerja dibawah 1 tahun


58

4.4. Metode Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data primer didapat dengan melakukan wawancara, observasi dan

pengukuran terhadap kadar merkuri pada sampel rambut pekerja PETI di

desa cisarua, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Adapun wawancara

yang dilakukan terhadap pekerja dengan menggunakan kuesioner yang

berisikan tentang masa kerja, jam kerja, jenis aktivitas, dan konsumsi ikan.

Sedangkan yang terkait dengan observasi adalah untuk mengetahui umur

dan status gizi responden. Data lainnya yang diperoleh dari wawancara

adalah tingkat pendidikan dan data kesehatan.

2. Data Sekunder

Data sekunder meliputi pengumpulan data dan informasi terkait

dengan materi kegiatan, antara lain data mengenai kependudukan, profil

daerah dan gambaran demografi yang diperoleh dari data kelurahan Desa

Cisarua, serta terkait pekerja PETI. Selain itu, data sekunder lainnya

berupa informasi dari berbagai literatur dan hasil peneletian terdahulu.

4.5. Metode Pengukuran Ikan

Terkait variabel independen yang akan diteliti pada penelitian ini, yaitu

mengenai konsumsi ikan, maka diperlukan penetapan terhadap jumlah konsumsi

ikan/minggu dalam satuan gram. Hal ini membutuhkan metode untuk penentuan berat
59

konsumsi ikan per porsi seperti yang tercantum pada kuesioner penelitian. Adapun

metode penentuan berat konsumsi ikan per porsi tersebut adalah dengan

membandingkannya terhadap food model. Dimana food model tersebut berupa contoh

ikan dengan ukuran 1 porsi konsumsi, yaitu sebesar 40 gram.

4.6. Sampling Rambut

4.6.1. Alat dan Bahan yang Digunakan

Alat dan bahan yang digunakan pada saat melakukan sampling rambut adalah

sebagai berikut:

1. Gunting stainless steel

2. Alkohol 70%

3. Label

4. Sisir

5. Sarung tangan plastik

6. Pinset

7. Timbangan Digital

8. Amplop

9. Plastik klip

10. Tissue

11. Wadah pencuci

12. Alumunium foil


60

4.6.2. Teknik Sampling Rambut

Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel berupa rambut responden

adalah dengan cara memotong rambut kepala dengan menggunakan gunting steril

yang telah dibilas dan dibersihkan dengan menggunakan alkohol 70%.

Pengguntingan dilakukan pada bagian dalam rambut dengan berat sekitar 0,5-2,0

gram. Pemotongan dilakukan di dekat kulit kepala. Untuk rambut yang sangat pendek

dan tipis, alternatifnya adalah dengan cara memasukkan rambut ke amplop dan

memotongnya sehingga rambut yang terpotong langsung masuk di dalam amplop.

Setelah itu, rambut dibungkus dengan menggunakan alumunium foil, ditutup rapat,

diberi label (berisikan nama responden, nomor sampel dan waktu pengambilan) dan

dimasukkan kedalam plastik klip. Kemudian sampel dikirim ke laboratorium untuk

diukur kadar merkurinya menggunakan alat berupa flow injection mercury system

dengan menggunakan metode CVAAS sesuai dengan referensi dari US EPA 3050 B,

APHA 3112 B.

4.7. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, timbangan

berat badan, microtoise, food model, flow injection mercury system dan form

pengukuran. Kuesioner tersebut berisikan identitas tentang PETI dan terkait dengan

pertanyaan-pertanyaan mengenai variabel independen yang akan diteliti, yaitu umur,

masa kerja, jam kerja, jenis aktivitas, dan konsumsi ikan. Penggunaan timbangan dan
61

microtoise berguna untuk menentukan status gizi responden. Selanjutnya, food model

digunakan untuk menentukan jumlah konsumsi ikan dalam satuan gram. Sedangkan

untuk pengukuran terhadap kadar merkuri dengan biomarker rambut menggunakan

flow injection mercury system dengan menggunakan metode CVAAS. Hasilnya

pengukurannya akan dicatat di form pengukuran. Pengukuran tersebut berfungsi

sebagai indikator keracunan merkuri. Adapun tahapan pengukurannya adalah sebagai

berikut:

Bagan 4.1. Flowchart Pengukuran dengan metode CVAAS

Preparasi sampel rambut

Operasi alat FIM

Standarisasi

Analisis sampel

a) Preparasi sampel rambut

Sampel rambut dipotong untuk kemudian direndam dengan alkohol dan dicuci

dengan larutan asam nitrat, kemudian dibilas dan dilakukan pengeringan

dengan menggunakan oven. Contoh rambut yang telah kering dilarutkan

dengan HNO3 pada masing-masing tabung. Kemudian dilakukan pemanasan


62

kembali dengan hot plate dan dilakukan pengenceran dengan akuades

(Susanna dan Samin, 2007).

b) Operasi alat

Atur panjang gelombang menjadi 253,7 nm, instal absorption cell dan

menyelaraskannya pada cahaya untuk memberikan transmisi yang maksimum.

Hubungkan peralatan terkait ke absorption cell dengan tabung kaca atau

plastik vinyl. Hidupkan dan sesuaikan laju alir udara sampai 2L/menit.

c) Standarisasi

Bagi 100 mL dari masing-masing 1, 2, dan 5 g/L larutan standar Hg dan 100

mL air ke labu Erlenmeyer 250 mL. Tambahkan 5 mL konsentrasi H2SO4 dan

2,5 mL konsentrasi HNO3 ke dalam masing-masing labu. Tambahkan 15 mL

larutan KMnO4 ke dalam masing-masing tabung dan diamkan sekitar 15

menit. Tambahkan 8 mL larutan K2S208 dan panaskan selama 2 jam pada

temperatur 95oC. Tambahkan larutan NaCl-hidroksil-amin dan 5 mL larutan

SnCl2 atau SnSO4, kemudian pasang alat aerasi. Hg yang diuapkan dibawa ke

absorption cell. Keluarkan sumbat penghambat dari labu reaksi dang anti

dengan labu yang berisi air. Lakukan flush system dan jalankan standar

selanjutnya dengan cara yang sama. Kemudian, buat kurva standarnya.

d) Analisis sampel

Masukkan 100 mL larutan sampel ke dalam labu reaksi yang berisi 100 mL

kandungan 5 g Hg/L. Lakukan seperti pada point b.Total Hg pada sampel

akan diserap dan dideteksi kadarnya.


63

4.8. Pengolahan dan Analisis Data

4.8.1. Pengolahan Data

Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan menggunakan alat bantu

komputer dengan program olah data statistik. Langkah-langkah pengolahan

data tersebut meliputi:

1. Editing

Merupakan kegiatan pengecekan data yang berupa kuesioner, untuk

memastikan semua data sudah lengkap terisi.

2. Coding

Merupakan kegiatan yang dilakukan untuk merubah data yang

berbentuk huruf menjadi angka untuk mempermudah dalam meng-

entry data serta menganalisis data tersebut.

3. Entry data

Merupakan kegiatan memasukkan atau meng-entry dengan

menggunakan program (software) olah data statistik.

4. Cleaning

Merupakan kegiatan pemeriksaan kembali terhadap data yang telah di-

entry agar tidak terjadi kesalahan.


64

4.8.2. Analisis Data

Data yang telah diolah tersebut kemudian dianalisis yang juga

menggunakan alat bantu komputer dengan program olah data statistik.

Kegiatan analisis data tersebut dilakukan secara univariat dan bivariat.

4.8.2.1 Analisis Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik

masing-masing variabel yang telah diteliti, baik variabel

independen maupun dependen. Dalam penelitian ini variabel yang

akan dideskripsikan dengan analisis univariat adalah variabel

independen berupa: umur, tingkat pendidikan, status gizi, masa

kerja, lama kerja, jenis aktivitas, dan konsumsi ikan; serta variabel

dependen berupa keracunan merkuri pada pekerja PETI.

4.8.2.2. Analisis Bivariat

Analisis bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel

independen terhadap variabel dependennya. Dalam penelitian ini

untuk mengetahui variabel independen yang berjenis numerik

(umur, status gizi (IMT), masa kerja, jam kerja dan konsumsi ikan)

terhadap variabel dependen berjenis kategorik (keracunan merkuri)

menggunakan uji T independen (uji beda dua mean independen)

apabila didapat distribusi data yang normal setelah uji normalitas


65

pada 5%. Sedangkan, apabila melalui uji normalitas pada 5%

distribusi data tidak normal, maka dilakukan uji mann withey wil.

Selanjutnya, untuk mengetahui hubungan variabel independen yang

berjenis kategorik dengan dua kategorik (jenis aktivitas) terhadap

variabel dependen berjenis dua kategorik juga (keracunan merkuri)

menggunakan uji chi square dengan tabel kontigensi 2x2 dan

dengan odd ratio (OR).


BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

5.1.1. Geografis

Desa Cisarua merupakan salah satu desa yang termasuk dalam kawasan

Gunung Halimun yang terdapat pada Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor

Provinsi Jawa Barat. Desa Cisarua berada pada ketinggian 600 m di atas permukaan

laut, dengan curah hujan 2813 mm/tahun dan suhu rata-rata sebesar 22,8-320C. Batas

administrasi Desa Cisarua meliputi (Data Desa Cisarua, 2011):

Sebelah Utara : Berbatasan dengan Desa Curug Bitung

Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Desa Malasari

Sebelah Barat : Berbatasan dengan Desa Curug Bitung

Sebelah Timur : Berbatasan dengan Desa Bantar Karet

Peta lokasi Desa Cisarua tersebut dapat dilihat pada gambar 5.1.

Bedasarkan data monografi desa tahun 2002, Desa Cisarua memiliki luas

wilayah mencapai 1411 Ha. Wilayah ini dihuni oleh 9741 jiwa, yang terdiri dari 2597

KK dengan komposisi 5138 laki-laki dan 4603 perempuan yang tersebar di

66
67

32 kampung, 6 Rukun Warga (RW) dan 33 Rukun Tetangga (RT). Sebagian besar

warga memiliki mata pencaharian bertani dengan persentasi sebesar 68,01%.

Kemudian sebagian besar warga (75%) juga memiliki tingkat pendidikan sampai SD

(Data Desa Cisarua, 2011).

Gambar 5.1 Peta Lokasi Desa Cisarua

Lokasi
Penelitian

Sumber: Peta Bumi Edisi 1 (1999) dalam Basyir (2008)


68

5.1.2. Profil Penambangan Emas di Desa Cisarua

Kegiatan penambangan emas di Desa Cisarua dilakukan di kawasan Gunung

Pongkor dengan sistem penambangan bawah tanah, yaitu dengan membuat

terowongan yang mempunyai tinggi sekitar 1 meter dan mempunyai kedalaman yang

bervariasi. Penambangan bijih di wilayah Pongkor dilakukan di 4 urat kuarsa, yakni

urat Ciurug-Cikoret, Kubang Cicau, Ciguha, dan Pasir Jawa (Juliawan, 2006).

Kegiatan pertambangan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Cisarua bersifat illegal

karena tidak memiliki izin penambangan dari pemerintah setempat. Kegiatan tersebut

dikenal dengan sebutan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Karena sifatnya yang

illegal, maka tidak terdapat data yang cukup baik terkait pekerja PETI ini.

Kegiatan PETI dilakukan secara berkelompok dengan menggunakan alat yang

sederhana. Tempat pengolahan emas yang terdapat gelundungannya dimiliki oleh

pemilik modal, dimana pemilik modal tersebut membawahi kelompok pekerja.

Kelompok pekerja tersebut memiliki tugas yang terdiri dari menambang dan

mengolah emas. Para pekerja tidak mempunyai jadwal kerjatetap setiap harinya, hal

ini tergantung oleh kegiatan penambangan yang dilakukan. Kegiatan penambangan

umumnya dilakukan 2-4 hari. Kegiatan tersebut menghasilkan batu-batuan hasil

tambang dan ditaruh pada setiap karung. Batu-batuan yang mengandung bijih emas

hasil penambangan tersebut diangkut dan dibawa menuju desa untuk dilakukan

pengolahan.
69

Dari hasil observasi, diketahui bahwa pengolahan emas yang terdapat di Desa

Cisarua menggunakan teknik amalgamasi, yaitu dengan menggunakan merkuri untuk

mengikat emas. Adapun proses pengolahannya terdiri dari tahap penumbukan,

penggilingan, pencucian/pemerasan, dan pembakaran. Batu-batuan yang mengandung

emas (bijih) dari hasil penambangan, ditumbuk sampai hancur sehingga mempunyai

ukuran yang lebih kecil untuk dimasukkan ke gelundung. Proses penggilingan

tersebut berlangsung selama sekitar 8 jam.

Amalgam yang dihasilkan dari proses penggilingan, kemudian dicuci dan

diperas dengan menggunakan kain. Tahap selanjutnya adalah dilakukan pembakaran

dan penumbukkan kembali. Pada setiap kegiatan pengolahan emas umumnya

dilakukan pekerja tanpa menggunakan APD. APD yang terditi dari sepatu boot karet

dan sarung tangan, hanya digunakan pada saat menambang saja.

5.2. Analisis Univariat

5.2.1. Gambaran Karakteristik Pekerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Gambaran karakteristik pekerja PETI berdasarkan tingkat pendidikan di Desa

Cisarua Tahun 2013 dapat dilihat melalui tabel 5.1.


70

Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Pekerja PETI Berdasarkan Tingkat Pendidikan di
Desa Cisarua Tahun 2013
Frekuensi
Tingkat Pendidikan
N %
Tidak sekolah 3 7.5
Tidak tamat SD 2 5.0
SD 19 47.5
SMP 13 32.5
SMA/sederajat 3 7.5
Total 40 100

Berdasarkan tabel 5.1 dari 40 responden yang diteliti, diketahui bahwa sebagian besar

pekerja berpendidikan terakhir lulus SD, yaitu sebesar 19 orang (47,5%).

5.2.2. Gambaran Keracunan Merkuri (Hg) pada Pekerja PETI

Gambaran keracunan merkuri (Hg) pada Pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun

2013 dapat dilihat melalui tabel 5.2 di bawah ini:

Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Keracunan merkuri (Hg) pada Pekerja PETI di Desa Cisarua
Tahun 2013
Frekuensi
Keracunan Merkuri
N %
Ya 24 60
Tidak 16 40
Total 40 100
71

Berdasarkan tabel 5.2 dari 40 responden yang diteliti, diketahui bahwa pekerja yang

mengalami keracunan merkuri (Hg) memiliki jumlah yang lebih besar, yaitu

sebanyak 24 orang (60%), dibandingkan dengan pekerja yang tidak mengalami

keracunan merkuri.

5.2.3. Gambaran Umur Pekerja PETI

Gambaran umur dari pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013 dapat dilihat

melalui tabel 5.3 di bawah ini:

Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Umur Pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013
Variabel Mean Median SD Min-Max

Umur (tahun) 34,05 30,50 11,422 18-68


Berdasarkan tabel 5.3 dari 40 responden yang diteliti, diketahui bahwa rata-

rata pekerja PETI berumur 34,05 tahun dengan median 30,50 dan standar deviasi

11,422. Pekerja termuda berumur 18 tahun, sedangkan yang tertua berumur 68 tahun.

5.2.4. Gambaran Status Gizi Pekerja PETI

Status gizi pekerja dapat diketahui dari skor IMT masing-masing pekerja

tersebut. Gambaran IMT dari pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013 dapat dilihat

melalui tabel 5.4 di bawah ini:

Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi IMT Pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013

Variabel Mean Median SD Min-Max

IMT 21,469 21,390 2,7937 17,3-28,5


72

Berdasarkan tabel 5.4 dari 40 responden yang diteliti, diketahui bahwa rata-

rata pekerja PETI memiliki skor IMT sebesar 21,469; sehingga dapat diketahui

bahwa rata-rata pekerja memiliki status gizi normal sesuai dengan batas IMT menurut

Depkes RI. Diperoleh pula median sebesar 21,390 dan standar deviasi 2,7937. Skor

IMT terendah yang dimiliki oleh pekerja adalah sebesar 17,3 yang termasuk dalam

kelompok kurus; sedangkan yang tertinggi adalah sebesar 28,5 yang termasuk dalam

kelompok gemuk sekali.

5.2.5. Gambaran Masa Kerja Pekerja PETI

Gambaran masa kerja dari pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013 dapat

dilihat melalui tabel 5.5 di bawah ini:

Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Masa Kerja Pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013
Variabel Mean Median SD Min-Max

Masa Kerja (tahun) 8,70 6,50 6,944 2-40

Berdasarkan tabel 5.5 dari 40 responden yang diteliti, diketahui bahwa rata-

rata pekerja PETI memiliki masa kerja sebesar 8,70 tahun dengan median 6,50 dan

standar deviasi 6,944. Masa kerja terendah yang dimiliki oleh pekerja adalah sebesar

2 tahun, sedangkan yang tertinggi sebesar 40 tahun.

5.2.6. Gambaran Jam Kerja Pekerja PETI

Gambaran jam kerja dari pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013 dapat

dilihat melalui tabel 5.6.


73

Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Jam Kerja Pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013

Variabel Mean Median SD Min-Max

Jam Kerja (jam) 8,30 6,00 3,582 3-18

Berdasarkan tabel 5.6 dari 40 responden yang diteliti, diketahui bahwa rata-

rata pekerja PETI bekerja selama 8,30 jam dengan median 6,00 dan standar deviasi

3,582. Jam kerja paling singkat yang dimiliki oleh pekerja, yaitu 3 jam, sedangkan

yang terlama adalah 18 jam.

5.2.7. Gambaran Jenis Aktivitas Pekerja PETI

Gambaran jenis aktivitas dari pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013 dapat

dilihat melalui tabel 5.7 di bawah ini:

Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Jenis Aktivitas Pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013
Frekuensi
Jenis aktivitas
N %
Kontak langsung 14 35
Tidak 26 65
Total 40 100
Berdasarkan tabel 5.7 dari 40 responden yang diteliti, diketahui bahwa pekerja

yang memiliki aktivitas kontak langsung dengan merkuri, yaitu sebanyak 14 orang

(35%). Dari tabel tersebut diketahui juga bahwa lebih banyak pekerja yang tidak

memiliki aktivitas kontak langsung, yaitu sebesar 26 orang (65%).


74

5.2.8. Gambaran Konsumsi Ikan Pekerja PETI

Gambaran konsumsi ikan dari pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013

dapat dilihat melalui tabel 5.8 dibawah ini:

Tabel 5.8
Distribusi Frekuensi Konsumsi Ikan Pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013
Variabel Mean Median SD Min-Max

Konsumsi Ikan (gram) 446 320 3,94 0-1680

Berdasarkan tabel 5.8 dari 40 responden yang diteliti, diketahui bahwa rata-

rata konsumsi ikan dari pekerja PETI adalah sebesar 466 gram dengan median 320

dan standar deviasi 3,94. Konsumsi ikan terkecil adalah 0 gram, sedangkan yang

terbesar adalah 1680 gram.

5.3. Analisis Bivariat

5.3.1. Hubungan antara Umur dengan Keracunan Merkuri

Gambaran hubungan umur terhadap keracunan merkuri dari pekerja PETI di

Desa Cisarua Tahun 2013 dapat dilihat melalui tabel 5.9 di bawah ini:

Tabel 5.9
Distribusi Keracunan Merkuri Berdasarkan Umur Pekerja PETI di Desa Cisarua
Tahun 2013
Umur (tahun) N Mean SD P value
Keracunan Merkuri
- Ya 24 36.04 11.476
0,09
- Tidak 16 31.06 11.018
75

Berdasarkan tabel 5.9 diketahui bahwa pekerja yang mengalami keracunan

merkuri adalah sebanyak 24 orang dengan rata-rata umur sebesar 36.04 tahun dan

standar deviasi sebesar 11,476. Sedangkan, pekerja yang tidak mengalami keracunan

merkuri adalah sebanyak 16 orang dengan rata-rata umur sebesar 31.06 tahun dan

standar deviasi sebesar 11.018. Dari hasil uji statistik t independent tersebut diperoleh

p value sebesar 0,09. Artinya pada 5% tidak terdapat perbedaan yang bermakna

antara umur dengan keracunan merkuri.

5.3.2. Hubungan antara Status Gizi dengan Keracunan Merkuri

Status gizi pekerja dapat diketahui dari skor IMT masing-masing pekerja

tersebut. Gambaran hubungan IMT terhadap keracunan merkuri dari pekerja PETI di

Desa Cisarua Tahun 2013 dapat dilihat melalui tabel 5.10 di bawah ini:

Tabel 5.10
Distribusi Keracunan Merkuri Berdasarkan IMT Pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun
2013
IMT N Mean Rank Sum of Ranks P value
Keracunan Merkuri
- Ya 24 19,81 475,50
- Tidak 16 21,53 344,50 0,325
Total 40
Berdasarkan tabel 5.10 diketahui bahwa pekerja yang mengalami keracunan

merkuri menunjukkan rata-rata peringkat sebesar 19,81 dari total peringkat 475,50.

Sedangkan, pekerja yang tidak mengalami keracunan merkuri menunjukkan rata-rata

peringkat sebesar 21,53 dari total peringkat 344,50. Dari hasil uji statistik mann
76

withey tersebut diperoleh p value sebesar 0,325. Artinya pada 5% tidak terdapat

perbedaan yang bermakna antara status gizi dengan keracunan merkuri.

5.3.3. Hubungan antara Masa Kerja dengan Keracunan Merkuri

Gambaran hubungan antara masa kerja dengan keracunan merkuri dari

pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013 dapat dilihat melalui tabel 5.11 di bawah

ini:

Tabel 5.11
Distribusi Keracunan Merkuri Berdasarkan Masa Kerja Pekerja PETI di Desa Cisarua
Tahun 2013
Masa Kerja (tahun) N Mean Rank Sum of Ranks P value
Keracunan Merkuri
- Ya 24 25,35 608,50
- Tidak 16 13,22 211,50 0,0005
Total 40
Berdasarkan tabel 5.11 diketahui bahwa pekerja yang mengalami keracunan

merkuri menunjukkan rata-rata peringkat sebesar 25,35 dari total peringkat 608,50.

Sedangkan, pekerja yang tidak mengalami keracunan merkuri menunjukkan rata-rata

peringkat sebesar 13,22 dari total peringkat 211,50. Dari hasil uji statistik mann

withey tersebut diperoleh p value sebesar 0,0005. Artinya pada 5% risiko

keracunan merkuri lebih besar terjadi pada pekerja PETI yang memiliki masa kerja

lebih lama dibandingkan dengan yang tidak lama.


77

5.3.4. Hubungan antara Jam Kerja dengan Keracunan Merkuri

Gambaran hubungan antara jam kerja dengan keracunan merkuri dari pekerja

PETI di Desa Cisarua Tahun 2013 dapat dilihat melalui tabel 5.12 di bawah ini:

Tabel 5.12
Distribusi Keracunan Merkuri Berdasarkan Jam Kerja Pekerja PETI di Desa Cisarua
Tahun 2013
Jam Kerja (jam) N Mean Rank Sum of Ranks P value
Keracunan Merkuri
- Ya 24 23,10 554,50
- Tidak 16 16,59 265,50 0,035
Total 40
Berdasarkan tabel 5.12 diketahui bahwa pekerja yang mengalami keracunan

merkuri menunjukkan rata-rata peringkat sebesar 23,10 dari total peringkat 554,50.

Sedangkan, pekerja yang tidak mengalami keracunan merkuri menunjukkan rata-rata

peringkat sebesar 16,59 dari total peringkat 265,50. Dari hasil uji statistik mann

withey tersebut diperoleh p value sebesar 0,035. Artinya pada 5% risiko keracunan

merkuri lebih besar terjadi pada pekerja PETI yang memiliki jam kerja lebih lama

dibandingkan dengan yang tidak lama.

5.3.5. Hubungan antara Jenis Aktivitas dengan Keracunan Merkuri

Gambaran hubungan antara jenis aktivitas dengan keracunan merkuri dari

pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013 dapat dilihat melalui tabel 5.13.
78

Tabel 5.13
Distribusi Keracunan Merkuri Berdasarkan Jenis Aktivitas Pekerja PETI di Desa
Cisarua Tahun 2013
Keracunan Merkuri
Jenis Total PR
Ya Tidak p value
Aktivitas 95% CI
N % N % N %

Kontak
10 71,4 4 28,6 14 100,0
Langsung 1,327
0,2285
Tidak 14 53,8 12 46,2 26 100,0 0,816-2,157

Total 24 60,0 16 40,0 40


Berdasarkan tabel 5.13 diketahui bahwa ada sebanyak 10 dari 24 (71,4 %)

pekerja yang melakukan aktivitas berupa kontak langsung dan mengalami keracunan

merkuri. Sedangkan diantara pekerja yang tidak melakukan aktivitas berupa kontak

langsung, terdapat 14 dari 24 (53,8%) pekerja yang mengalami keracunan merkuri.

Dari hasil uji statistik chi square diperoleh p value sebesar 0,2285. Artinya pada 5%

tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara jenis aktivitas dengan keracunan

merkuri. Dari hasil analisis tersebut diketahui pula nilai rasio prevalensi sebesar 1,327

(CI 95% 0,816-2,157) artinya jenis aktivitas pekerja belum dapat dikatakan sebagai

faktor risiko.untuk terjadinya keracunan merkuri.


79

5.3.6. Hubungan antara Konsumsi Ikan dengan Keracunan Merkuri

Gambaran hubungan antara konsumsi ikan dengan keracunan merkuri dari

pekerja PETI di Desa Cisarua Tahun 2013 dapat dilihat melalui tabel 5.14 di bawah

ini:

Tabel 5.14
Distribusi Keracunan Merkuri Berdasarkan Konsumsi Ikan Pekerja PETI di Desa
Cisarua Tahun 2013
Konsumsi Ikan (gram) N Mean Rank Sum of Ranks P value
Keracunan Merkuri
- Ya 24 21,92 526,00
- Tidak 16 18,38 294,00 0,172
Total 40
Berdasarkan tabel 5.14 diketahui bahwa pekerja yang mengalami keracunan

merkuri menunjukkan rata-rata peringkat sebesar 21,92 dari total peringkat 526,00.

Sedangkan, pekerja yang tidak mengalami keracunan merkuri menunjukkan rata-rata

peringkat sebesar 18,38 dari total peringkat 294,00. Dari hasil uji statistik mann

withey tersebut diperoleh p value sebesar 0,172. Artinya pada 5% tidak terdapat

perbedaan yang bermakna antara konsumsi ikan dengan keracunan merkuri.

5.4. Gambaran Gangguan Kesehatan Pekerja

Berdasarkan hasil wawancara terhadap para pekerja diketahui bahwa beberapa

pekerja mengalami gangguan kesehatan, seperti: tremor, sering kesemutan, otot

wajah kaku, letih, pegal, nyeri di dada, gatal-gatal, iritasi mata, sakit pada pinggang
80

dan tangan, sakit kepala, rasa logam pada mulut, otot terasa sakit dan kejang, kulit

telapak tangan dan kaki menebal, pusing, darah tinggi, flu, batuk, serta magh.

Berdasarkan data tersebut dapat diindikasikan bahwa terdapat beberapa dampak dari

penggunaan merkuri pada proses pengolahan yang dilakukan oleh pekerja. Dampak

tersebut dilihat dari beberapa gangguan kesehatan yang telah dialami yaitu tremor,

sering kesemutan, otot wajah kaku, iritasi mata, rasa logam pada mulut, otot terasa

sakit dan kejang, kulit telapak tangan dan kaki menebal, serta sakit kepala.
BAB VI

PEMBAHASAN

6.1. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu sebagai berikut:

1) Tidak ditelitinya faktor lingkungan, sehingga alternatifnya adalah dengan

menggunakan data sekunder dari berbagai literatur mengenai status

kontaminasi merkuri di lingkungan.

2) Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional, dimana faktor risiko

dan efek diukur dalam waktu yang bersamaan. Dimana pajanan/exposure dan

outcome diukur dalam satu waktu yang sama, sehingga hubungan merupakan

keterkaitan antar variabel bukan sebab akibat.

3) Data mengenai gejala penyakit hanya berdasarkan ingatan dan sepengetahuan

responden saja, tanpa dilakukan pemeriksaan kesehatan yang sesuai standar.

Sehingga, diagnosis terkait efek dari keracunan merkuri belum dapat

dipastikan pada pekerja PETI.

6.2. Keracunan Merkuri

Merkuri merupakan logam berat yang dikelompokkan kedalam golongan yang

memiliki tingkat toksik tinggi (Widowati et. al., 2008). Efek negatif bagi kesehatan

yang dapat ditimbulkan dengan adanya paparan merkuri terhadap para pekerja PETI

81
82

yaitu berupa kejadian keracunan merkuri. Hal tersebut diindikasikan dengan mengacu

pada ketentuan batas normal kadar merkuri total yang telah ditetapkan WHO dengan

menggunakan pengukuran terhadap biomarker. Untuk batas normal pada rambut

adalah sebesar 1-2 ppm.

Dari hasil penelitian mengenai gambaran keracunan merkuri pada pekerja

PETI di Desa Cisarua, diketahui bahwa pekerja yang mengalami keracunan merkuri

(Hg) memiliki jumlah yang lebih besar, yaitu dengan persentasi 60%, dibandingkan

dengan pekerja yang tidak mengalami keracunan merkuri. Hal tersebut menunjukkan

bahwa sebagian besar pekerja sudah terkontaminasi dan menerima paparan merkuri

pada tubuhnya yang melebihi ambang batas yang telah ditetapkan. Diketahui juga

bahwa terdapat responden dengan kadar merkuri tertinggi yaitu sebesar 68 ppm dan

terendah sebesar 0,28 ppm.

Apabila ditelusuri lebih mendalam diketahui bahwa responden yang memiliki

kadar merkuri tertinggi memiliki massa kerja 15 tahun dengan jenis aktivitas kontak

langsung, sehingga memiliki risiko untuk terjadinya keracunan merkuri. Sedangkan,

untuk yang memiliki kadar merkuri terendah salah satu respondennya memiliki massa

kerja 3 tahun dengan jenis aktivitas tidak kontak langsung, sehingga memungkinkan

bahwa kadar merkuri pada tubuhnya masih dalam batas normal merkuri dalam tubuh.

Pada saat dilakukannya wawancara, responden dengan kadar merkuri yang

tinggi tersebut belum menunjukkan adanya gangguan kesehatan yang berarti akibat
83

keracunan merkuri tersebut. Hal ini dapat terjadi karena diduga terdapat faktor lain

yang dapat mempengaruhinya yaitu faktor genetik yang tidak diteliti pada penelitian

ini. Dimana terdapatnya perbedaan genetik dalam metabolisme atau biotransformasi

dari masing-masing individu, sehingga terdapat perbedaan juga terhadap kerentanan

tubuh dalam proses penyerapan dan mempertahankan unsur toksik tersebut yang

salah satunya adalah merkuri (Whitfield et al., 2010).

Kejadian keracunan merkuri pada pekerja PETI dapat diakibatkan dari

penggunaan merkuri dalam proses pengolahan emas. Para pekerja mempunyai risiko

untuk terpapar merkuri secara langsung. Paparan tersebut dapat terjadi pada tahap

pencampuran merkuri yang digunakan untuk amalgamator (gelundungan), dan pada

proses pemerasan amalgam. Dari hasil observasi dan wawancara diketahui bahwa

pekerja tidak menggunakan sarung tangan pada tahap tersebut. Selanjutnya, paparan

juga dapat terjadi pada proses pembakaran, dimana uap merkuri hasil pembakaran

dapat terhirup langsung oleh para pekerja, mengingat pekerja tersebut tidak

menggunakan masker pada saat melakukan proses pembakaran. Selain adanya

paparan langsung, kontaminasi merkuri pada tubuh pekerja dapat berasal dari

konsumsi ikan.

Walaupun diagnosis terkait efek dari keracunan merkuri belum dapat

dipastikan pada pekerja PETI, namun berdasarkan wawancara dan pengisian

kuesioner diketahui beberapa gejala yang dapat mengindikasikan efek toksik dari

merkuri. Gejala tersebut berupa: tremor, sering kesemutan, otot wajah kaku,, iritasi
84

mata, rasa logam pada mulut, otot terasa sakit dan kejang, kulit telapak tangan dan

kaki menebal, serta sakit kepala. Hal ini sejalan dengan pernyataan Wardhana (2001)

dan Subanri (2008) yang menyatakan bahwa keracunan merkuri dapat ditandai

dengan gejala seperti sakit kepala, sukar menelan, penglihatan menjadi kabur, daya

dengar menurun, merasa tebal di bagian kaki dan tangan, mulut terasa tersumbat oleh

logam, gusi membengkak, serta diare.

Kemudian menurut Widowati (2008), toksisitas kronis dapat berupa gangguan

sistem pencernaan, gingivitis (radang gusi), dan sistem syaraf, berupa tremor. Selain

itu, menurut Widowati (2008) dan Palar (1994), toksisitas kronis dapat berupa

gangguan sistem syaraf berupa tremor. Diketahui juga gangguan kesehatan terbesar

yang dialami responden adalah berupa kesemutan. Hal tersebut sejalan dengan

Inswiasri (2008) yang menyatakan bahwa gejala awal dari keracunan kronik salah

satunya adalah rasa kesemutan.

6.3. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keracunan Merkuri

6.3.1. Faktor internal

a. Umur

Menurut Hamid (1991) dan Tugaswati (2006) salah satu faktor yang dapat

mempengaruhi kerentanan tubuh terhadap logam berat adalah umur. Dari hasil uji

bivariat pada tabel 5.9 dapat diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang

bermakna antara umur dengan keracunan merkuri. Hal ini tidak sejalan dengan

penelitian yang dilakukan oleh Hartono (2003) pada 45 orang pekerja


85

laboratorium di Bandar lampung. Diperoleh hasil bahwasanya terdapat hubungan

yang bermakna antara variabel umur pekerja dengan kadar merkuri pada

rambutnya (p value = 0,02). Diketahui pula pekerja dengan umur >35 tahun

mempunyai kemungkinan 5,678 kali memiliki kadar merkuri pada rambutnya

melebihi 2ppm, dibandingkan dengan pekerja dengan umur 35 tahun (95% CI

OR = 1,318-24,536).

Hal ini dapat terjadi karena diduga dipengaruhi oleh faktor lain, yakni

faktor pekerjaan yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan paparan

merkuri ke tubuh. Faktor yang dapat berpengaruh tersebut seperti massa kerja.

Bahwasanya semakin lama seseorang bekerja di area yang memiliki risiko tinggi

terhadap paparan merkuri, maka semakin sering pula orang tersebut terpapar

dengan merkuri. Sehingga semakin meningkat akumulasi merkuri dalam

tubuhnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sumamur (1996) yang menyatakan

bahwa semakin lama seseorang bekerja maka semakin banyak paparan bahaya

yang ditimbulkan dari area tempat kerjanya. Pada umumnya, para penambang

terpapar merkuri melalui kontak langsung dengan kulit dan inhalasi, yaitu dengan

menghirup uap merkuri pada saat proses pengolahan emas (Berlin, 1979; Alfian,

2006; Maywati, 2011).

Dari hasil uji bivariat tersebut juga diketahui bahwa baik pekerja yang

mengalami keracunan merkuri maupun tidak, memiliki rata-rata umur yang masih

tergolong usia produktif. Sedangkan, menurut Eto (1999) dan Sudarmaji et. al.
86

(2006) menyatakan bahwa efek keracunan merkuri tergantung dari kepekaan

individu, yakni anak dalam kandungan (prenatal), bayi, anak-anak, dan orang tua.

Hal ini juga sejalan dengan pernyataan ATSDR (1999), UNEP dan WHO

(2008) yang menyatakan bahwa baik janin, anak yang baru lahir maupun masih

berusia muda sangat rentan terhadap paparan merkuri karena sensitivitas dari

perkembangan syaraf. Selain itu, neonatus juga dapat terpapar dari konsumsi ASI

yang telah terkontaminasi merkuri. Sehingga memungkinkan bahwa usia pekerja

PETI di Desa Cisaruayang tergolong usia produktif, tidak memiliki pengaruh atau

hubungan yang signifikan terhadap kejadian keracunan merkuri pada pekerja

PETI tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa lama bekerja memiliki

pengaruh terhadap paparan merkuri terhadap pekerja. Akan tetapi, lama kerja

tersebut tergantung dari besarnya paparan/kadar unsur kimia di udara yang berada

pada tempat kerja. Seperti yang dikemukakan pada Peraturan Menteri Tenaga

Kerja dan Transmigrasi RI No. 13 Tahun 2011, NAB di udara lingkungan kerja

untuk senyawa merkuri anorganik ditetapkan sebesar 0,025 mg/m3. Sedangkan

untuk Paparan Singkat Diperkenankan (PSD)/ Kadar Tertinggi Diperkenankan

(KTD) dari Hg adalah 0,03 mg/m3. Berdasarkan hal tersebut maka untuk

penelitan selanjutnya, sebaiknya dilakukan pengukuran terhadap variabel

lingkungan, terutama kadar merkuri di udara pada lingkungan kerja.


87

b. Status gizi

Indeks Massa Tubuh (IMT) yang digunakan sebagai indikator penentu

status gizi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kejadian

keracunan merkuri pada pekerja PETI. Berdasarkan hasil analisis bivariat

diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara status gizi

dengan keracunan merkuri dengan p value sebesar 0,325. Hal ini sejalan dengan

hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Andri et.al (2011) yang menyatakan

bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kadar

merkuri pada rambut respoden dengan p value sebesar 0,330.

Berbeda dengan teori yang menyatakan apabila seseorang memiliki status

gizi yang kurang baik maka akan menjadi rentan terhadap penyakit (Inswiasri dan

Sintawati, 2011). Kemudian pernyataan dari Sumamur (1996), yang menyatakan

bahwa tingkat gizi seorang pekerja memiliki hubungan yang sangat erat dengan

kesehatan dan daya kerja.

Berdasarkan teori, merkuri memiliki sifat larut pada lipida (lemak), yakni

merkuri elemental. (Larry et. al., 2002; BPOM, 2004). Merkuri elemental

memiliki sifat larut dalam lemak yang tinggi (U.S. EPA, 1997; BPOM, 2004).

Karena sifatnya tersebut, maka kadar lemak yang tinggi dalam tubuh seseorang

dapat berpengaruh terhadap absorbsi dan ekskresi merkuri dalam tubuhnya. Hal

ini dikarenakan lemak berlebihan dan merkuri yang terlarut didalamnya akan

tersimpan dalam jaringan tubuh (Andri et. al., 2011). Menurut Hartono (2003),
88

kulit mengandung kelenjar sebasea yang dapat melepaskan asam lemak sehingga

merkuri akan diabsorpsi ke dalam kulit. Setelah itu, masuk melalui kapiler darah

dibawah kulit dan didistribusikan ke seluruh tubuh.

Menurut hasil analisis univariat, diketahui bahwa rata-rata pekerja

memiliki IMT sebesar 21,469; sehingga dapat diketahui bahwa rata-rata pekerja

memiliki status gizi normal. Karena rata-rata IMT pekerja masih tergolong pada

batas yang normal, maka kadar lemak masih dalam batasan normal. Sehingga,

dimungkinkan absorbsi merkuri (khususnya merkuri elemental melalui kulit)

dalam lemak masih pada ambang batas simpanan lemak dalam lapisan kulit

(Andri et. al., 2011).

Selanjutnya, apabila dilakukan analisis lebih lanjut, maka dapat diperoleh

hasil yang menyatakan bahwa baik pekerja yang mengalami keracunan, maupun

yang tidak, memiliki status gizi normal dengan masing-masing IMT sebesar

21,217 dan 21,847. Hal ini mengindikasikan bahwa pekerja dengan status gizi

normal pun mengalami keracunan merkuri. Hal ini mungkin terjadi karena

dimungkinkan pekerja tidak hanya terpapar merkuri melalui kontak langsung

lewat kulit saja, tetapi dapat melalui jalur masuk inhalasi serta oral.

Melalui inhalasi, merkuri (khususnya yang berasal dari uap hasil dari

pembakaran amalgram) dapat terhirup melalui hidung kemudian menembus

alveoli dengan cara terdisfusi dan masuk ke dalam peredaran darah (Hartono,
89

2003 dan Lestarisa, 2010). Sedangkan melalui oral, khususnya dapat melalui

konsumsi ikan. Hal ini karena dalam perairan dan sedimen, merkuri dabat

berubah menjadi bentuk organik, yaitu metilmerkuri (CH3Hg) karena adanya

aktivitas bakteri dan dengan mudah berdifusi, sertaberikatan dengan protein biota

akuatik. Hal tersebut termasuk pada protein jaringan otot ikan (Bureau of

Nutritional Sciences, Food Directorate, Health Products and Food Branch

Canada, 2007; Athena dan Inswiasri, 2009).

Diketahui pula ion metil merkuri yang telah termakan akan larut dalam

lipida dan ditimbun dalam jaringan lemak pada ikan. Metil merkuri dapat

ditimbun dalam jaringan lemak pada ikan sampai kadar 3000 kali dari kadar yang

ada di air, namun ikan tersebut tidak menunjukkan gangguan merkuri atau

menderita sakit (Polii dan Sonya, 2002). Sehingga apabila manusia

mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi oleh merkuri maka dapat terjadi

peningkatan risiko untuk terjadinya keracunan merkuri.

Salah satu cara detoksifikasi merkuri pada tubuh adalah dengan

mengonsumsi vitamin E dan antioksidan. Menurut Silalahi (2005) diketahui

bahwa vitamin E dan antioksidan dapat mengurangi toksisitas merkuri. Hal ini

mengarah pada hipotesis bahwa selenium yang juga bersifat sebagai antioksidan

dapat meredam radikal bebas yang dipicu oleh merkuri sehingga dapat

melindungi sel-sel dalam tubuh.


90

6.3.2. Faktor pekerjaan

a. Masa kerja
Masa kerja merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

kejadian keracunan merkuri pada pekerja PETI. Hal ini berkaitan seringnya

pekerja terpapar oleh merkuri di lingkungan kerjanya yang menyebabkan

meningkatnya akumulasi merkuri dalam tubuh. Dari hasil analisis bivariat

menunjukkan bahwa risiko keracunan merkuri lebih besar terjadi pada pekerja

PETI yang memiliki masa kerja lebih lama dibandingkan dengan yang tidak lama

dengan p value sebesar 0,0005.

Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hartono

(2003) pada 45 orang pekerja laboratorium di Bandar lampung. Diperoleh hasil

bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara var masa kerja dengan kadar

merkuri pada rambutnya dengan p value sebesar 0,005. Diketahui pula pekerja

dengan masa kerja >15 tahun mempunyai kemungkinan terpapar Hg sebesar 7,5

kali kadar merkuri pada rambutnya > 2ppm dibandingkan dengan pekerja yang

mempunyai masa kerja < 1-15 tahun (95% CI OR = 1,830-30,728).

Hal tersebut sejalan dengan Sumamur (1996), yang menyatakan bahwa

semakin lama seseorang bekerja maka semakin banyak paparan bahaya yang

ditimbulkan dari area tempat kerjanya. Kemudian, berdasarkan konsep teori yang

dikemukakan oleh magos et, al.(1978) dalam Hartono (2003), bahwa tidak hanya

konsentrasi maksimum yang mempengaruhi efek intoksikasi merkuri, tetapi juga

tergantung lamanya paparan merkuri yang terjadi.


91

Pada umumnya, para penambang terpapar merkuri melalui kontak

langsung dengan kulit dan inhalasi, yaitu dengan menghirup uap merkuri pada

saat proses pengolahan emas. Pada paparan melalui inhalasi dengan saluran

pernapasan sebagai jalur utamanya merupakan cara penyerapan merkuri dalam

bentuk unsur di tubuh dengan persentasi akumulasi yang tinggi, yaitu sekitar

80%. Hal ini dikarenakan sifat merkuri yang dapat larut dalam lipida (Berlin,

1979; Alfian, 2006; Maywati, 2011)

Besarnya risiko keracunan merkuri akibat massa kerja tersebut dapat

semakin besar apabila diikuti dengan tidak menggunakannya APD. Berdasarkan

hasil observasi diketahui bahwa rata-rata pekerja tidak menggunakan APD pada

saat proses pengolahan emas. Sedangkan, diketahui bahwa salah satu cara untuk

mengurangi terjadinya paparan merkuri di lingkungan kerja tersebut adalah

dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) secara benar dan kontinyu.

Adapun APD yang direkomendasikan untuk pekerja penambang dan pengolahan

emas adalah masker, sarung tangan karet dan baju lengan panjang (Setiyono dan

Maywati, 2010).

Masker dapat mengurangi paparan Hg lewat pernafasan. Pada saat uap Hg

terhirup, 80% Hg masuk ke aliran darah melalui paru-paru dan menyebar ke

organ tubuh lain, termasuk otak dan ginjal. Sedangkan, sarung tangan karet dan

pakaian lengan panjang mampu mengurangi paparan Hg lewat kulit. Beberapa


92

senyawa air raksa (II) organik dan anorganik dapat diabsorpsi melalui kulit

(Setiyono dan Maywati, 2010).

b. Jam kerja

Jam kerja merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kejadian

keracunan merkuri pada pekerja PETI. Jam kerja terkait dengan lama

keterpaparan pekerja di lingkungan kerjanya dalam sehari. Dari hasil analisis

bivariat menunjukkan bahwa risiko keracunan merkuri lebih besar terjadi pada

pekerja PETI yang memiliki jam kerja lebih lama dibandingkan dengan yang

tidak lama dengan p value sebesar 0,035. Hal ini sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Lestarisa pada pekerja PETI di Kecamatan Kurun tahun 2010,

yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara jam kerja terhadap

keracunan merkuri dengan p value sebesar 0,002. Dinyatakan pula bahwa pekerja

dengan jam kerja >8 jam dalam sehari berisiko tinggi mengalami keracunan

merkuri dibandingkan dengan pekerja dengan jam kerja 8 jam/hari.

Kemudian, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rianto

(2010) pada 60 penambang emas tradisional di Desa Jendi Kecamatan Selogiri,

diketahui pula bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara jam kerja dalam

sehari dengan keracunan merkuri dengan p value sebesar 0,047. Serta, diperoleh

hasil dari 7 orang penambang dengan jam kerja >8 jam, didapat 7 orang (100%)

yang mengalami keracunan. Sedangkan penambang dengan lama kerja 8 jam dari

53 orang penambang, terdapat 33 orang (62,3%) yang mengalami keracunan

merkuri dan 20 orang (37,7%) tidak mengalami keracunan merkuri.


93

Berdasarkan hasil dari analisis univariat, diketahui bahwa rata-rata jam

kerja yang dimiliki oleh pekerja adalah 8,3 jam. Hal tersebut telah melebihi jam

kerja standar dalam sehari. Menurut Sumamur (1996), pada umumnya lama

bekerja seseorang dalam sehari sebaiknya 6-8 jam. Pekerjaan biasa (tidak terlalu

ringan atau berat) yang dilakukan setelah 4 jam bekerja dapat menurunan

produktivitas kerja dan sejalan dengan menurunnya kadar gula dalam darah. Hal

ini dapat terkait dengan status gizi seseorang. Pada dasarnya apabila seseorang

memiliki status gizi yang kurang baik maka akan menjadi rentan terhadap

penyakit (Inswiasri dan Sintawati, 2011).

Hal tersebut juga sejalan dengan Sumamur (1996), yang menyatakan

bahwa tingkat gizi seorang pekerja memiliki hubungan yang sangat erat dengan

kesehatan dan daya kerja.Sehingga, diperlukannya istirahat setelah 4 jam kerja

secara terus-menerus sekitar setengah jam. Karena tingkat gizi seorang pekerja

(terutama pekerja berat dan kasar), merupakan faktor penentu derajat

produktivitas kerjanya. Sehingga, beban kerja yang berat umumnya disertai

dengan penurunan berat badan.

c. Jenis Aktivitas

Jenis aktivitas yang dilakukan oleh PETI terdiri dari menambang dan

mengolah emas hasil dari kegiatan pertambangan. Pengolahan emas tersebut

dibagi lagi menjadi kegiatan mengerakkan gelundung sehingga menjadi serbuk

emas, membuat amalgram dimana terjadi proses pencampuran merkuri dan


94

pemerasan emas yang telah dicampur dengan air dan merkuri dengan

menggunakan kain, pemijaran atau pembakaran, dan penumbukkan emas menjadi

lempengan.

Dari hasil uji bivariat pada tabel 5.13 dapat diketahui bahwa tidak terdapat

perbedaan yang bermakna antara jenis aktivitas dengan keracunan merkuri

dengan p value sebesar 0,2285. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Setiyono dan Maywati (2010) yang menunjukkan bahwa tidak

terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kegiatan pekerja terhadap kadar

Hg dengan p value sebesar 0,058.

Berbeda dengan Lestarisa (2010) yang menyatakan bahwa sebagian besar

penambang yang mempunyai aktivitas berupa pencampuran merkuri dan

membakar amalgram mempunyai presentase tertinggi terkena keracunan merkuri.

Hal ini disebabkan karena pada pencampuran merkuri terjadi kontak langsung

dengan penambang melalui kulit. Hal tersebut dapat diperparah apabila

penambang tidak menggunakan sarung tangan. Selain itu, uap hasil dari

pembakaran amalgram dapat langsung terhirup oleh penambang melalui saluran

pernapasan akan masuk kedalam paru-paru. Setelah itu, merkuri tersebut dapat

berikatan dengan darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh (Lestarisa, 2010).

Hal ini mugkin dapat terjadi karena berdasarkan hasil analisis univariat,

diketahui bahwa proporsi pekerja yang memiliki aktivitas tidak kontak langsung

lebih banyak dibandingkan dengan pekerja yang memiliki aktivitas kontak

langsung. Hal ini dapat mempengaruhi perhitungan statistik yang dilakukan.


95

Selain itu, diduga pula adanya pengaruh jam kerja. Apabila pekerja yang memiliki

jenis aktivitas tidak kontak langsung namun memiliki jam kerja yang lama maka

mereka memiliki risiko yang besar pula untuk terpapar merkuri di lingkungan

kerjanya, khususnya dari uap merkuri yang mengontaminasi udara di area kerja.

Selain itu, peneliti juga menduga bahwa jalur masuk merkuri dapat terjadi

melalui faktor lainnya selain dari lingkungan kerja, yaitu seperti dari pangan

(khususnya dari konsumsi ikan). Hal tersebut juga sejalan dengan pernyataan dari

R. Kowalski dan J. Wierciski (2006) yang menyatakan bahwa konsentrasi

merkuri dari rambut masyarakat tersebut menegaskan adanya pengaruh frekuensi

konsumsi ikan dengan konsentrasi merkuri.

6.3.3. Faktor prilaku

a. Konsumsi ikan

Salah satu faktor yang diduga dapat mempengaruhi kejadian keracunan

merkuri pada pekerja PETI adalah jumlah konsumsi ikan. Berdasarkan analisis

bivariat diketahui tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara konsumsi ikan

dengan keracunan merkuri. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian dari Andri

et.al. (2011) pada masyarakat sekitar PETI di Kecamatan Mandor, diketahui

bahwa variabel konsumsi ikan yang berasal dari daerah setempat >3 kali/minggu

memiliki hubungan yang signifikan terhadap kadar merkuri pada rambut

masyarakat dengan p value sebesar 0,007.


96

Selanjutnya, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh R. Kowalski dan J.

Wierciski (2006) yang berjudul Determination of Total Mercury Concentration

in Hair of Lubartw-Area Citizens (Lublin Region, Poland), diketahui bahwa

konsentrasi merkuri dari rambut masyarakat tersebut menegaskan adanya

pengaruh frekuensi konsumsi ikan dengan konsentrasi merkuri. Tingginya

konsentrasi merkuri ditemukan pada rambut individu yang banyak mengkonsumsi

ikan.

Hal tersebut dilandasi dengan teori yang menyatakan bahwa merkuri

merupakan logam berat yang tidak dapat didegradasi sehingga dapat

menimbulkan bioakumulasi pada mahluk hidup yang salah satunya adalah ikan.

Dalam perairan dan sedimen, merkuri dabat berubah menjadi bentuk organik,

yaitu metilmerkuri (CH3Hg) karena adanya aktivitas bakteri. Bentuk senyawa

metilmerkuri (CH3Hg) dapat dengan mudah berdifusi dan berikatan dengan

protein biota akuatik. Hal tersebut termasuk pada protein jaringan otot ikan

(Bureau of Nutritional Sciences, Food Directorate, Health Products and Food

Branch Canada, 2007; Athena dan Inswiasri, 2009).

Diketahui pula ion metil merkuri yang telah termakan akan larut dalam

lipida dan ditimbun dalam jaringan lemak pada ikan. Metil merkuri dapat

ditimbun dalam jaringan lemak pada ikan sampai kadar 3000 kali dari kadar yang

ada di air, namun ikan tersebut tidak menunjukkan gangguan merkuri atau

menderita sakit (Polii dan Sonya, 2002). Sehingga apabila manusia


97

mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi oleh merkuri maka dapat terjadi

peningkatan risiko untuk terjadinya keracunan merkuri.

Tidak sejalannya hasil penelitian ini dengan penelitian-penelitian

sebelumnya dan teori yang ada, karena dimungkinkan terjadinya bias pada saat

wawancara terkait konsumsi ikan kepada responden. Hal ini dikarenakan

keterbatasan responden dalam mengingat konsumsi ikan rata-rata dalam

seminggu. Kemudian, berat ikan pun tidak diukur secara rinci, melainkan hanya

berdasarkan asumsi dengan membandingkan terhadap food model.

Hal ini didasari dengan pernyataan Jansen S. (2005) bahwa mengonsumsi

ikan dalam jumlah yang banyak, terutama ikan yang memiliki umur panjang dan

berukuran besar, memiliki kadar merkuri sebesar 400 mikrogram per kg sel darah.

Hal ini juga sejalan dengan Athena dan Inswiasri (2009), yang menyatakan bahwa

salah satu faktor yang mempengaruhi kadar merkuri yang terkandung dalam ikan,

adalah umur ikan tersebut. Kandungan merkuri akan meningkat sesuai dengan

umur ikan. Hal tersebut berarti ikan-ikan yang berukuran besar sebagai ujung dari

rantai makanan memiliki konsentrasi merkuri yang paling tinggi.

Selain itu, peneliti juga menduga bahwa jalur masuk merkuri dapat terjadi

melalui faktor lainnya selain dari pangan, yaitu dapat berasal dari udara. Pada

umumnya, para penambang terpapar merkuri salah satunya melalui inhalasi, yaitu

dengan menghirup uap merkuri pada saat proses pengolahan emas. Pada paparan
98

melalui inhalasi dengan saluran pernapasan sebagai jalur utamanya merupakan

cara penyerapan merkuri dalam bentuk unsur di tubuh dengan persentasi

akumulasi yang tinggi, yaitu sekitar 80% (Berlin, 1979; Alfian, 2006; Maywati,

2011).

Besarnya risiko akibat terpapar merkuri yang salah satunya dapat berasal

dari paparan uap tersebut dapat dipengaruhi oleh lamanya paparan yang terjadi

pada saat proses pengolahan emas. Sehingga, diduga adanya keterkaitan dengan

faktor pekerjaan, yakni masa dan jam kerja. Hal ini sejalan dengan penelitian

yang dilakukan oleh Lestarisa pada pekerja PETI di Kecamatan Kurun tahun

2010, yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara jam kerja

terhadap keracunan merkuri. Dinyatakan pula bahwa pekerja dengan jam kerja >8

jam dalam sehari berisiko tinggi mengalami keracunan merkuri dibandingkan

dengan pekerja dengan jam kerja 8 jam/hari.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwasanya merkuri merupakan

logam berat yang tidak dapat didegradasi sehingga dapat menimbulkan

bioakumulasi pada mahluk hidup yang salah satunya adalah ikan. Sehingga,

pencegahan yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan tidak membuang

limbah hasil pengolahan ke lingkungan sekitar sekitar secara langsung, dengan

membuat penampungan tailing dan melakukan fitoremediasi.


99

Fitoremediasi adalah pengolahan bahan pencemar dengan menggunakan

tanaman. Tanaman yang dapat digunakan seperti Stelaria setacea (Widowati

et.al., 2008). Selain itu, dapat menggunakan eceng gondok untuk air limbah yang

terkontaminasi merkuri (Siswoyo, 2011). Hal ini bertujuan agar tidak terjadinya

pesebaran kontaminasi merkuri di lingkungan sekitar, khususnya pada sungai

sehingga tidak mengontaminasi biota air, khususnya ikan.


BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

1. Gambaran keracunan merkuri pada pekerja PETI di Desa Cisarua tahun

2013 adalah terdapat 24 orang (60%) yang mengalami keracunan merkuri.

2. Gambaran tingkat pendidikan pekerja PETI di Desa Cisarua tahun 2013

adalah rata-rata memiliki pendidikan terakhir lulus SD. Kemudian, rata-rata

pekerja berumur 34,05 tahun, status gizi normal, masa kerja 8,70 tahun; dan

jam kerja 8,30 jam. Pekerja yang tidak memiliki aktivitas kontak langsung

sebesar 26 orang (65%); dan rata-rata konsumsi ikan pada pekerja adalah

sebesar 466 gram. Selanjutnya, gambaran gangguan kesehatan pada pekerja

diantaranya adalah tremor, sering kesemutan, otot wajah kaku, letih, pegal,

nyeri di dada, gatal-gatal, iritasi mata, sakit pada pinggang dan tangan, sakit

kepala, rasa logam pada mulut, otot terasa sakit dan kejang, kulit telapak

tangan dan kaki menebal, pusing, darah tinggi, flu, batuk, serta magh.

3. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara umur dengan keracunan

merkuri (p value = 0,09). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara

status gizi dengan keracunan merkuri (p value = 0,325). Risiko keracunan

merkuri lebih besar terjadi pada pekerja PETI yang memiliki masa kerja

lebih lama dibandingkan dengan yang tidak lama (p value = 0,0005). Risiko

keracunan merkuri lebih besar terjadi pada pekerja PETI yang memiliki jam

100
101

kerja lebih lama dibandingkan dengan yang tidak lama (p value = 0,035). Tidak

terdapat perbedaan yang bermakna antara jenis aktivitas dengan keracunan merkuri

dengan (p value = 0,2285). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara konsumsi

ikan dengan keracunan merkuri (p value = 0,172).

7.2. Saran

7.2.1. Bagi Pemerintah Daerah

1. Sebaiknya mendaftarkan semua pekerja PETI dengan tujuan untuk

memberikan jaminan kesehatan dan proteksi dari timbulnya penyakit

yang disebabkan oleh paparan merkuri (Hg) melalui pemeriksaan

kesehatan berkala.

2. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan terhadap status persebaran

kontaminasi merkuri di lingkungan (air, tanah, udara, dan

makanan/pangan) secara berkala.

3. Sebaiknya menerapkan program budidaya tanaman Stelaria setacea dan

mensosialisasikan ke masyarakat.

7.2.2. Bagi Pekerja

1. Sebaiknya sering mengonsumsi vitamin E dan antioksidan berfungsi

untuk detoksifikasi merkuri pada tubuh.

2. Sebaiknya dapat menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yaitu berupa

masker, sarung tangan karet, dan baju lengan panjang selama proses
102

pengolahan emas yang berfungsi untuk mengurangi paparan merkuri

terhadap tubuh.

3. Sebaiknya pekerja melakukan istirahat sekitar setengah jam, setelah

berkutat selama 4 jam kerja secara terus-menerus.

4. Sebaiknya tidak membuang limbah hasil pengolahan ke lingkungan

sekitar secara langsung, dengan membuat penampungan tailing dan

melakukan fitoremediasi dengan menggunakan tanaman, seperti eceng

gondok.

7.2.3. Bagi Peneliti Lain

1. Sebaiknya dapat melakukan pengukuran terhadap faktor lingkungan,

yaitu terkait kadar merkuri yang terdapat baik di air, udara, tanah,

maupun makanan.

2. Penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan desain penelitian case

control agar dapat diketahui hubungan antara sebab dan akibat pada

penelitian ini.

3. Sebaiknya dapat menggunakan biomarker lainnya dalam menentukan

status keracunan merkuri seperti dengan menggunakan darah, urine dan

sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Umar Fahmi. 2011. Dasar-Dasar Penyakit Berbasis Lingkungan. Jakarta:

Rajawali Pers.

Agency for Toxic Subtances & Disease Registry. 2011. Medical Management

Guidelines for Mercury. Sumber:

http://www.atsdr.cdc.gov/MMG/MMG.asp?id=106&tid=24. Diunduh pada

tanggal 31 Mei 2013.

Ariawan, Iwan. 1998. Besar dan Metode Sampel pada Penelitian Kesehatan. Depok:

FKM UI.

Athena dan Inswiasri. 2009. Analisis Risiko Kesehatan Masyarakat Akibat Konsumsi

Hasil Laut yang Mengandung Merkuri (Hg) di Kabupaten Kepulauan Seribu,

Jakarta. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 8 No. 1, Maret 2009: h. 849-859.

Basyir, Dani Abdurrahman. 2008. Evaluasi Keberlanjutan Masyarakat Desa di

Aliran Sungai Cisadane Menuju Ecovillage. Bogor: Skripsi IPB.

BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia). 2004. Info POM.

Jurnal Vol. 5, No. 4, Juli 2004.

Cakrawati, Cucu. 2002. Analisis Faktor Karakteristik Responden dan Kebiasaan

Makan Ikan terhadap Kadar Merkuri dalam Rambut pada Masyarakat Kota

103
104

Pontianak Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2000. Depok: Tesis Universitas

Indonesia.

DH, Andri; Anies dan Suharyo H. 2011. Kadar Merkuri pada Rambut Masyarakat di

Sekitar Penambangan Emas Tanpa Ijin. Jurnal Media Medika Indonesia, Vol.

45, No. 3, Tahun 2011. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dan

Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Jawa Tengah.

Gibney, Michael .J; Barrie M. Margetts dan John M. Kearney. Public Health

Nutrition (Gizi Kesehatan Masyarakat) diterjemahkan oleh Andry Hartono.

2009. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sumber:

http://books.google.co.id/books?id=1ki_JWJb9wC&pg=PA96&dq=status+giz

i+adalah&hl=en&sa=X&ei=M4p_Ua3QDonOrQex34GICw&redir_esc=y#v=

onepage&q=status%20gizi%20adalah&f=false. Diunduh pada tanggal 30

April 2013.

Harahap, Heryudarini; Yekti Widodo dan Sri Mulyati. 2005. Penggunaan Berbagai

Cut Off Indeks Massa Tubuh sebagai Indikator Obesitas terkait Penyakit

Degeneratif di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan

Makanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Depkes.

Hartono, Budi. 2004. Distribusi Risiko Kesehatan Logam Merkuri di Lokasi

Pertambangan Emas Kabupaten Minahasa Selatan Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2004. Depok: Tesis FKM UI.


105

Hartono, Wahyu. 2003. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kadar Merkuri

dalam Rambut pada Pekerja Laboratorium di Balai Laboratorium Kesehatan

Bandar Lampung Tahun 2003. Depok: Tesis FKM UI.

Hastono, Sutanto Priyo. 2001. Modul: Analisis Data. Depok: Universitas Indonesia

Herman, Danny Zulkifli. 2006. Tinjauan terhadap Tailing Mengandung Unsur

Pencemar Arsen (As), Merkuri (Hg), Timbal (Pb), dan Kadmium (Cd) dari

Sisa Pengolahan Biji Logam. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 1 Maret

2006: h. 31-36.

Idris, Fachmi. 1998. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kadar Merkuri dalam

Urin Perawat Gigi Puskesmas di Wilayah Jakarta Selatan. Depok: Tesis

Universitas Indonesia.

Iman R, Firman. 2005. Tingkat pencemaran Logam Berat Merkuri pada Air Sumur di

Daerah Penambangan Emas Tanpa Izin (Kecamatan Nanggung, Jawa Barat,

Tahun 2005. Depok: Skripsi FKM UI.

Inswiasri. 2008. Paradigma Kejadian Penyakit Pajanan Merkuri (Hg). Jurnal

Ekologi Kesehatan Vol. 7 No. 2, Agustus 2008: h. 775-785.

Inswiasri dan Sintawati, F.X. 2009. Kesehatan Masyarakat Sekitar Lokasi Tambang

di Nusa Tenggara Barat. Artikel Media Litbang Kesehatan Vol. XIX No. 1

Tahun 2009.
106

International Programme Chemical Safety. 1990. Methylmercury. Environmental

Health Criteria 101. http://www.Inchem.org/documents/ehc/ehc/ehc101.htm.

Diunduh pada tanggal 30 April 2013.

International Programme on Chemical Safety. 2003. Elemental Mercury and

Inorganic Mercury Compounds: Human Health Aspects. Geneva.

Irwan, Syaputra. 2009. Toksisitas dan Transformasi Merkuri. Sumber:

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_anorganik1/khelasi-

merkuri/toksisitas-dan-transformasi-merkuri/. Diunduh pada tanggal 1 Mei

2013.

Juliawan, Nixon. 2006. Pendataan Penyebaran Merkuri pada Wilayah

Pertambangan di Daerah Pongkor, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Proceeding Pemaparan Hasil-hasil Kegiatan Lapangan dan Non- Lapangan,

Pusat Sumberdaya Geologi.

Kartodihardjo, H., & Suntana, A. S. 2010. Penataan dan Pengelolaan Sumber Daya

Alam: Gagasan Prof. Emil Salim dan Implementasinya. Pembangunan

berkelanjutan: peran dan kontribusi Emil Salim, 433.

http://www.books.google.com.

Kowalski .R dan J. Wierciski. 2006. Determination of Total Mercury Concentration

in Hair of Lubartw-Area Citizens (Lublin Region, Poland). Polish Journal of

Environmental Study. Vol. 16, No. 1 (2007), 75-79.


107

Lestarisa, Trilianty. 2010. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keracunan

Merkuri (Hg) pada Penambang Emas Tanpa Ijin (PETI) di Kecamatan

Kurun, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Semarang: Tesis

Universitas Diponegoro.

Lubis, Halinda Sari. 2002. Toksisitas Merkuri dan Penanganannya. Fakultas

Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. USU Digital Library.

Nimitch, Mosyan. 2012. Penerapan Unsur Penyalahgunaan dan Peredaran Merkuri

dalam Tindak Pidana Lingkungan Hidup Berdasarkan Undang-Undang

Lingkungan Hidup dan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor

4 Tahun 2007 (Studi Terhadap Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri

Bengkayang Nomor: 26/PTS.Pid.B/2010/PN.BKY). Jurnal Nestor Magister

Hukum. Vol. 2 No. 2 (2012).

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka

Cipta.

Palar, Heryando. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: PT.

Rineka Cipta.

Polii, Bobby J. dan Desmi N. Sonya. 2002. Pendugaan Kandungan Merkuri dan

Sianida di Daerah Aliran Sungai (DAS) Buyat Minahasa. Ekoton Vol.2, No.

1: 31-37, April 2002.


108

Rianto, Sugeng. 2010. Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keracunan

Merkuri pada Penambang Emas Tradisional di Desa Jendi Kecamatan

Selogiri Kabupaten Wonogiri. Semarang: Tesis Universitas Diponegoro.

Rohmana, Suharsono Kamal dan Suhandi. 2006. Pendataan Penyebaran Unsur

Merkuri pada Wilayah Pertambangan Emas Daerah Gunung Gede,

Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Proceeding Pemaparan Hasil-hasil

Kegiatan Lapangan dan Non Lapangan Pusat Sumberdaya Geologi Tahun

2006.http://www.dim.esdm.go.id/kolokium%202006/konservasi/penyebaran

%20 merkuri%20g%20gede.pdf.

S, Warsono. 2000. Pengaruh Bahan Tambal Amalgam Terhadap Kadar Merkuri

pada Darah, Urine, Tinja Dan Rambut Kepala. Jurnal Kedokteran Gigi

Universitas Indonesia Vol. 7 No. 1: h. 23-30 (2000).

Sasmito dan Zainul Kamal. 2002. Hubungan Warna Rambut dan Jenis Kelamin

dengan Penentuan Kadar Merkuri dalam Rambut Manusia dengan Teknik

Aktivasi Neutron. Jurnal Kedokteran Yarsi Vol. 10 No. 2: h. 45-50 (2002).

Setiyono, Andik dan Annisa Djaidah. 2012. Pengaruh Konsumsi Ikan dan Hasil

Pertanian terhadap Kadar Hg Darah. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Vol. 7,

No. 2, Tahun 2012: h. 104-110. Sumber:

http://journal.unnes.ac.id/index.php/kemas. Diunduh pada tanggal 2 Mei

2013.
109

Setiyono, Andik dan Sri Maywati. 2010. Hubungan Jenis Pekerjaan terhadap Kadar

Merkuri Darah pada Masyarakat di Sekitar Penambangan Emas Tanpa Ijin

di Desa Jendi Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri. Jurnal Kesehatan

Komunitas Indonesia, Vol. 6, No. 2, September 2010.

Silalahi, Jansen. Merkuri dan Pencemaran Lingkungan. Jurnal Kedokteran dan

Farmasi Medika, Vol. XXXI, No. 3 Agustus 2005: h. 525-528.

Siswoyo, Eko. 2011. Pengolahan Air Limbah Laboratorium dengan Menggunakan

Sistem Kombinasi Adsorpsi dan Fitoremediasi. Yogyakarta: Tesis Universitas

Gajah Mada.

Subanri. 2008. Kajian Beban Pencemaran Merkuri (Hg) terhadap Air Sungai

Menyuke dan Gangguan Kesehatan pada Penambang sebagai Akibat

Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kecamatan Menyuke Kabupaten

Landak Kalimantan Barat. Semarang: Proposal Tesis Universitas

Diponegoro.

Sudarmaji et.al. 2006. Toksikologi Logam Berat B3 dan Dampaknya Terhadap

Kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.2, No.2, Januari 2006: 129-

142.

Sudarso, Yoyok et. al. 2009. Pengaruh Aktivitas Antropogenik di Sungai Cikaniki

(Jawa Barat) terhadap Komunitas Fauna Makrobentik. Jurnal LIMNOTEK,

2009, Vol. XVI, No. 2, h. 153-166.


110

Sujatmiko, Bambang. 2012. Penambangan Emas Tanpa Izin di Daerah Aliran Sungai

(DAS) Arut Kecamatan Arut Utara Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 4

Tahun 2009. Jurnal Fakultas Hukum Universitas Antakusuma, Februari 2012,

Vol. 4, No. 1.

Sumamur. 1996. Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: PT. Toko

Gunung Agung.

Suryono, Tri et. al. 2010. Status Kontaminasi Merkuri di Ruas Sungai Cikaniki, Jawa

Barat. Jurnal LIMNOTEK, 2010, Vol. 17, No. 1, h. 37-48.

Susanna T.S. dan Samin. 2007. Unjuk Kerja Metode Uji Total Merkuri (Hg) dalam

Contoh Bahan Biologis Menggunakan Alat CV-AAS. Pusat Teknologi

Akselerator dan Proses Bahan BATAN.

Tugaswati, Tri et. al. 1997. Studi Pencemaran Merkuri dan Dampaknya terhadap

Kesehatan Masyarakat di Daerah Mundu Kabupaten Indramayu. Jakarta:

Balitbangkes Vol. 25, No. 2.

UNEP (United Nations Environment Programme) and WHO (World Health

Organization). 2008. Guidance for Identifying Populations at Risk from

Mercury Exposure. UNEP DTIE Chemicals Branch Geneva, Switzerland

diunduh dari

http://www.who.int/foodsafety/publications/chem/mercuryexposure.pdf.
111

U.S. Environmental Protection Agency. 2007. Mercury Compounds. Sumber:

http://www.epa.gov/ttnatw01/hlthef/mercury.html. Diunduh pada tanggal 31

Mei 2013.

Whitfield, John B. et al. 2010. Genetic Effects on Toxic and Essential Elements in

Human: Arsenic, Cadmium, Copper, Lead, Mercury, Selenium, and Zinc in

Erythrocytes. Jurnal EHP (Environmental Health Perspectives), Juni 2010;

118 (6): 776-782.

Widiana, Nina. 2007. Konsentrasi Merkuri di Lingkungan dan Rambut serta

Gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku penambang dan penduduk di

wilayah PETI Pongkor, Kabupaten Bogor Tahun 2007. Depok: Skirpsi

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Widowati, Wahyu, et. al. 2008. Efek Toksik Logam: Pencegahan dan

Penanggulangan Pencemaran. Yogyakarta.

World Health Organization. 2011. Mercury in Skin Lightening Products. Geneva.

Sumber:

http://www.who.int/ipcs/assessment/public_health/mercury_flyer.pdf.

Diunduh pada tanggal 1 Mei 2013.

World Health Organization. Software: Sample Size Determination in Health Studies


112

______, 2012. Peran Ekspor Kelompok Industri Penghasil Emas, Perak, Logam

Mulia, Perhiasan dan lain-lain Terhadap Total Ekspor Hasil Industri.

http://www.kemenperin.go.id/statistik/peran_kelompok.php?kel=6&ekspor=1.

Diunduh pada tanggal 28 April 2013.


KUESIONER PENELITIAN

RISIKO KERACUNAN MERKURI (Hg)


PADA PEKERJA PENAMBANGAN EMAS TANPA IZIN (PETI)
DI DESA CISARUA KECAMATAN NANGGUNG KABUPATEN BOGOR
TAHUN 2013

Assalamualaikum Wr. Wb

Saya mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Islam


Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bermaksud untuk melakukan penelitian mengenai
risiko keracunan merkuri (Hg) pada pekerja Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di
Desa Cisarua Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor tahun 2013. Penelitian yang
akan saya lakukan ini adalah merupakan tugas akhir untuk mendapatkan gelar sarjana
Kesehatan Masyarakat. Untuk itu, saya mengharapkan kesediaan Saudara untuk
menjadi responden dalam penelitian ini. Dimana saudara diminta untuk mengisi
kuesioner ini dengan sebenar-benarnya dan akan diukur kadar merkurinya melalui
pengambilan contoh rambutnya. Adapun identitas saudara akan dirahasiakan. Atas
perhatian dan kerjasama Saudara, saya mengucapkan terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Bogor, Maret 2013

Peneliti Responden

Nita Ratna Junita (.....)


LEMBAR KUESIONER

Nomor Responden:

Pertanyaan Pendahuluan
Apakah Anda masih aktif bekerja sebagai
pekerja PETI / penambang emas tradisional?
Apakah pekerjaan PETI sudah Anda lakukan
selama minimal 1 tahun?

Data Wilayah
Nama Jalan
RT, RW dan Nomor Rumah
Nama Kampung/Dusun

A. Data Responden
A1 Nama/ No Telp.
A2 Umur
. kg
Berat dan Tinggi Badan (diisi
A3 . cm
peneliti)
IMT:
1. Tidak Sekolah
2. Tidak Tamat Sd
3. SD
A4 Pendidikan Formal Terakhir
4. SMP
5. SMA/sederajat
6. Perguruan Tinggi
B. Data Pekerjaan

Sudah berapa lama Anda melakukan pekerjaan


B1 sebagai PETI? . tahun

Berapa jam dalam sehari Anda melakukan


B2 . jam/hari
kegiatan pengolahan emas?
Jenis kegiatan apa yang Anda lakukan pada saat
pengolahan emas? (jawaban boleh lebih dari satu)
1. Pencampuran dan pencucian (pemerasan)
dengan merkuri
B3 2. Pembakaran amalgram [ ][ ]

3. Penumbukan emas
4. Menambang
99. Lainnya, sebutkan

C. Data Konsumsi Ikan

Apakah Anda sering mengkonsumsi ikan?

C1 1. Ya, sebutkan jenis ikan yang dikonsumsi.


2. Tidak (langsung ke D1)

Berapa hari dalam seminggu Anda mengkonsumsi


C2 . hari/minggu
ikan?

Berapa porsi ikan yang sering anda konsumsi


C3 . porsi/hari
dalam sehari?

Berapa jumlah ikan yang dikonsumsi dalam


C4 . porsi/minggu
seminggu? (diisi oleh peneliti)
Berapa berat rata-rata ikan yang dikonsumsi?
C5 . gram
(diisi oleh peneliti)
Darimana Anda memperoleh ikan?
1. Pasar
C6 2. Tambak [ ][ ]
3. Warung
99. Lainnya, sebutkan

E. DATA KESEHATAN

Apakah Anda mengalami gangguan kesehatan


sekarang atau 1 bulan terkahir?
E1 [ ][ ]
1. Ya
2. Tidak (langsung ke E3)
Gangguan kesehatan apa yang dirasakan?
1. Tremor
2. Rasa sakit yang hebat pada syaraf
3. Gatal-gatal
4. Sering kesemutan
5. Iritasi mata

E2 6. Otot wajah kaku [ ][ ]


7. Rasa logam pada mulut
8. Gusi bengkak
9. Kepekaan indera perasa dan pembau turun
10. Otot terasa sakit dan kejang
11. Kulit telapak tangan dan kaki menebal
99. Lainnya, sebutkan
HASIL ANALISIS DATA

Uji Univariat
Krcnnhg

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Ya 24 60.0 60.0 60.0

Tidak 16 40.0 40.0 100.0

Total 40 100.0 100.0

Statistics

umur imt masakrj jamkrj knsmsiikn

N Valid 40 40 40 40 40

Missing 0 0 0 0 0
Mean 34.05 21.469 8.70 8.30 446.0000
Median 30.50 21.390 6.50 6.00 320.0000
Std. Deviation 11.422 2.7937 6.944 3.582 3.93960E2
Minimum 18 17.3 2 3 .00
Maximum 68 28.5 40 18 1680.00

Jnsaktv

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid kntklgsg 14 35.0 35.0 35.0

Tdk 26 65.0 65.0 100.0

Total 40 100.0 100.0


Pddkn

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tdksklh 3 7.5 7.5 7.5

tdktamatsd 2 5.0 5.0 12.5

Sd 19 47.5 47.5 60.0

Smp 13 32.5 32.5 92.5

Sma 3 7.5 7.5 100.0

Total 40 100.0 100.0

Uji Normalitas
Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

umur .139 40 .051 .931 40 .017


imt .146 40 .032 .960 40 .173
masakrj .178 40 .003 .760 40 .000
jamkrj .290 40 .000 .854 40 .000
knsmsiikn .200 40 .000 .860 40 .000

a. Lilliefors Significance Correction


Uji Bivariat
Group Statistics

Krcnnhg N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

umur Ya 24 36.04 11.476 2.342

tidak 16 31.06 11.018 2.754

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence
Interval of the

Sig. (2- Mean Std. Error Difference

F Sig. t df tailed) Difference Difference Lower Upper

umur Equal
variances .135 .715 1.366 38 .180 4.979 3.646 -2.402 12.360
assumed

Equal
33.21
variances not 1.377 .178 4.979 3.616 -2.376 12.334
3
assumed
Ranks
krcnnhg N Mean Rank Sum of Ranks
imt ya 24 19.81 475.50
tidak 16 21.53 344.50
Total 40
masakrj ya 24 25.35 608.50
tidak 16 13.22 211.50
Total 40
jamkrj ya 24 23.10 554.50
tidak 16 16.59 265.50
Total 40
knsmsiikn ya 24 21.92 526.00
tidak 16 18.38 294.00
Total 40

Test Statisticsb

imt masakrj jamkrj knsmsiikn

Mann-Whitney U 175.500 75.500 129.500 158.000


Wilcoxon W 475.500 211.500 265.500 294.000
Z -.456 -3.253 -1.810 -.946
Asymp. Sig. (2-
.649 .001 .070 .344
tailed)
Exact Sig. [2*(1-
.652a .001a .084a .359a
tailed Sig.)]

a. Not corrected for ties.


b. Grouping Variable: krcnnhg
jnsaktv * krcnnhg Crosstabulation

Krcnnhg

ya tidak Total

jnsaktv kntklgsg Count 10 4 14

% within jnsaktv 71.4% 28.6% 100.0%

tdk Count 14 12 26

% within jnsaktv 53.8% 46.2% 100.0%

Total Count 24 16 40

% within jnsaktv 60.0% 40.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)

Pearson Chi-Square 1.172a 1 .279

Continuity Correctionb .554 1 .457

Likelihood Ratio 1.200 1 .273

Fisher's Exact Test .329 .230

Linear-by-Linear
1.143 1 .285
Association

N of Valid Casesb 40

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
5.60.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for jnsaktv (kntklgsg /


2.143 .532 8.625
tdk)

For cohort krcnnhg = ya 1.327 .816 2.157

For cohort krcnnhg = tidak


.619 .245 1.563

N of Valid Cases 40

Beri Nilai