Anda di halaman 1dari 8

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

PENYULUHAN KESEHATAN TB PARU

Cabang Ilmu : Keperawatan Komunitas


Topik : TB Paru
Hari/Tanggal : Selasa, 14 Maret 2017
Waktu : 30 menit
Tempat : Kampus 3 Universitas Negeri Gorontalo
Sasaran : Mahasiswa Keperawatan Fakultah Olahraga dan Kesehatan
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan diskusi
Media : Leaflet, Power Point
Materi : Terlampir

I. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan ini diharapkan mahasiswa dapat
mengetahui tentang penyakit TB Paru serta mampu melakukan pencegahan secara
dini.
II. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan ini diharapkan mahasiswa dapat :
1. Menyebutkan pengertian TB Paru
2. Menyebutkan penyebab TB Paru
3. Menyebutkan tanda dan gejala TB Paru
4. Menyebutkan penularan TB Paru
5. Menyebutkan cara pencegahan TB Paru
6. Menyebutkan cara pengobatan penyakit TB Paru
III. Metode
a. Ceramah
b. Tanya Jawab
c. Diskusi
IV. Media
a. Leaflet
b. Power Point

1
V. Kegiatan Penyuluhan
No. Tahap Kegiatan waktu
1. Pendahuluan Memberi salam terapeutik 5 menit
Menjelaskan tujuan
Kontrak waktu

2. Penyajian Menyebutkan pengertian TB Paru 15 menit

Menyebutkan penyebab TB Paru


Menyebutkan tanda dan gejala TB
Paru
Menyebutkan penularan TB Paru
Menyebutkan cara pencegahan TB
Paru
Menyebutkan cara pengobatan
penyakit TB Paru

3. Penutup 10 menit
Memberikan kesempatan kepada
sasaran untuk bertanya
Menjelaskan kembali hal yang belum
dimengerti oleh sasaran.
Menanyakan kembali materi yang
telah diberikan
Salam terapeutik

2
VI. Evaluasi.
1. Menyebutkan pengertian TB Paru
Baik : Dapat menyebutkan pengertian TB Paru secara lengkap
Cukup : Dapat menyebutkan sebagian dari pengertian TB Paru
Kurang : Tidak dapat menyebutkan pengertian dari TB Paru
2. Menyebutkan penyebab TB Paru
Baik : Dapat menyebutkan penyebab TB Paru secara lengkap
Kurang : Tidak dapat menyebutkan penyebab TB Paru
3. Menyebutkan tanda dan gejala TB Paru
Baik : Dapat menyebutkan secara lengkap tanda dan gejala TB Paru
Cukup : Dapat menyebutkan 4 dari 7 tanda dan gejala TB Paru
Kurang : Hanya menyebutkan < 4 tanda dan gejala TB paru
4. Menyebutkan cara penularan TB Paru
Baik : Dapat menyebutkan secara lengkap cara penularan TB Paru
Kurang : Tidak dapat menyebutkan cara penularan TB Paru
5. Menyebutkan tentang cara pencegahan TB Paru
Baik : Dapat menyebutkan pencegahan TB Paru secara lengkap.
Cukup : Dapat menyebutkan 2 dari 5 cara pencegahan TB Paru
Kurang : Hanya menyebutkan < 2 cara pencegahan TB Paru
6. Menyebutkan cara pengobatan penyakit TB Paru
Baik : Dapat menyebutkan pengobatan penyakit TB Paru
Cukup : Dapat menyebutkan sebagian pengobatan penyakit TB Paru
Kurang : Tidak dapat menyebutkan pengobatan penyakit TB paru

3
TB PARU
1. Pengertian TB Paru
Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit yang diketahui banyak menginfeksi
manusia yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis kompleks. Penyakit ini
biasanya menginfeksi paru. Transmisi penyakit biasanya melalaui saluran nafas
yaitu melalui droplet yang dihasilkan oleh pasien yang terinfeksi TB paru.
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim)
paru, tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus
2. Penyebab
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
infeksi kuman (basil) Mycobacterium tuberculosis. Organisme ini termasuk ordo
Actinomycetalis, familia Mycobacteriaceae dan genus Mycobacterium. Genus
Mycobacterium memiliki beberapa spesies diantaranya Mycobacterium tuberculosis
yang menyebabkan infeksi pada manusia. Basil tuberculosis berbentuk batang
ramping lurus, tapi kadang-kadang agak melengkung, dengan ukuran panjang 2 m-
4 m dan lebar 0,2 m0,5 m. Organisme ini tidak bergerak, tidak membentuk
spora, dan tidak berkapsul, bila diwarnai akan terlihat berbentuk manik-manik atau
granuler.
3. Tanda dan Gejala
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau
lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah,
batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun,
malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu
bulan. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain
TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain.
Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang
datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka
(suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis
langsung
Gejala klinis TB dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal dan
gejala sistemik. Bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala
respiratori.

4
a) Gejala respiratori
Gejala respiratori sangat bervariasi dari mulai tidak bergejala sampai gejala yang
cukup berat bergantung dari luas lesi. Gejala respiratorik terdiri dari :
- Batuk produktif = 2 minggu.
- Batuk darah.
- Sesak nafas.
- Nyeri dada.
b) Gejala sistemik
Gejala sistemik yang timbul dapat berupa :
- Demam.
- Keringat malam
- Anoreksia.
- Berat badan menurun
4. Penularan TBC
Sumber penularan TB paru adalah penderita TB paru BTA positif. Penularan
terjadi pada waktu penderita TB paru batuk atau bersin, penderita menyebarkan
kuman bakteri ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang
mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam,
orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam pernapasan. Setelah
kuman TB paru masuk kebagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah,
sistem saluran limfe, saluran napas, atau penyebaran langsung kebagian-bagian
tubuh lainnya
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman
yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan
dahak, makin menular penderita TB paru tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak
negatif maka penderita tersebut tidak menularkan. Kemungkinan seorang terinfeksi
TB paru di tentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup
udara tersebut.

5
5. Cara Pencegahan TB Paru
Cara pencegahan terhadap penularan pasien TB Paru adalah :
a) Bagi penderita harus menutup mulut saat batuk dan bersin dengan sapu tangan
atau tissue.
b) Tidak membuang dahak sembarangan. Cara membuang dahak yang
benar yaitu:
- Membuang dahak didalam lubang tanah dan menimbunnya dengan pasir.
- Membuang dahak dalam wadah seperti kaleng yang berisi lysol, air
sabun, spiritus.
c) Memeriksakan anggota keluarga yang lain ke fasilitas layanan kesehatan
d) Makan-makanan bergizi (cukup karbohidrat, protein, dan vitamin )
Kekurangan gizi pada seseorang akan berpengaruh terhadap kekuatan daya
tahan tubuh dan respon immunologik terhadap penyakit. Status gizi, ini
merupakan faktor yang penting dalam timbulnya penyakit tuberculosis
e) Istirahat yang cukup.
f) Memperhatikan keadaan rumah yakni harus terdapat ventilasi atau dengan
membuka jendela pada pagi hari agar rumah dapat udara bersih dan cahaya
matahari yang cukup. Cahaya matahari selain berguna untuk menerangi ruang
juga sangat baik bagi kesehatan karena dapat membunuh bibit penyakit seperti
kuman TB
g) Hindari rokok
Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan meningkatkan resiko untuk
mendapatkan kanker paru-paru, penyakit jantung koroner, bronchitis kronik
dan kanker kandung kemih. Dengan adanya kebiasaan merokok akan
mempermudah untuk terjadinya infeksi TB Paru.
h) Berikan Imunisasi BCG pada bayi
6) Cara Pengobatan TBC
Tujuan pemberian pengobatan menurut adalah : menyembuhkan,
mempertahankan kualitas hidup dan produktivitas pasien, mencegah kematian
akibat TBC aktif atau efek lanjutan, mencegah kekambuhan TBC, menurunkan
tingkat penularan TBC kepada orang lain, mencegah perkembangan dan penularan
resisten obat anti tuberkulosis (OAT).

6
Jenis OAT terdiri dari Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z),
Etambutol (E) dan Streptomisin (S). Pengobatan TBC diberikan dalam dua tahap,
yaitu tahap intensif dan lanjutan. Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat
setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi
obat. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya
penderita menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu dua minggu. Sebagian
besar penderita TBC BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam dua bulan.
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam
jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman
persisten sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

7
Daftar Pustaka

Aditama, T.Y. (2002). Tuberkulosis Paru, Diagnosis, Terapi dan Masalahnya, Edisi 4.
Jakarta: IDI.
Amin, Z., Bahar, A., 2007. Tuberkulosis Paru. Dalam :Sudoyo, A., W., dkk. Buku Ajar
Ilmu penyakit Dalam Jilid III. Ed 5. Jakarta : FKUI; 2230-2239.
Asril Bahar. Tuberkulosis Paru dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi kelima
Jilid III. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
UniversitasIndonesia, 2009; h. 2230-472.
Darmanto, Djojodibroto, 2007, Respirologi, penerbit buku kedokteran Jakarta
Depkes. (2002). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis. Jakarta, 2007. Edisi 2. Cetakan pertama
Isselbacher dkk. 2012. Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Alih bahasa
Asdie Ahmad H., Edisi 13, Jakarta: EGC
Mario, C.R.& Richard, J.O., 2005. Tuberculosis. Dalam : Kasper, D., L., et al. Harrison
Principles of Internal Medikine. Ed 16. Mc Graw-Hill.