Anda di halaman 1dari 9

PEMBUATAN FURFURAL DARI CAMPURAN BIOMASSA

AMPAS TEBU (SACCHARUM OFFICINARUM L.) DAN TEMPURUNG KELAPA


(COCOS NUCIFERA L.)
Pamilia Coniwanti*, Gusti Siska H, Eni Handayani
(*)
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya
Jl. Raya Inderalaya Prabumulih KM. 32 Inderalaya 30662
Email: pamiliaconiwanti@ft.unsri.ac.id

Abstrak
Kebutuhan furfural yang semakin tinggi untuk setiap tahunnya merupakan salah satu keuntungan dalam
negeri. Furfural adalah senyawa aromatik aldehid yang dapat diproduksi dari bahan baku yang
mengandung pentosan. Limbah pertanian seperti ampas tebu dan tempurung kelapa merupakan bahan
baku potensial yang dapat diolah menjadi furfural, karena kandungan pentosannya yang cukup tinggi.
Hidrolisa campuran ampas tebu dan tempurung kelapa dengan katalis H2SO4 12% dengan memvariasikan
perbandingan komposisi bahan baku, suhu reaksi, dan waktu reaksi. Hasil penelitian didapatkan bahwa
kadar pentosan untuk kedua bahan baku adalah sebesar 36,25%. Perbandingan bahan baku yang
menghasilkan kadar furfural tertinggi adalah 1 : 4 ( 1 gram ampas tebu dan 4 gram tempurung kelapa).
Untuk suhu optimal adalah pada suhu 100 C dan waktu optimal 5 jam. Uji warna dengan larutan anilin-
asetat menunjukkan perubahan warna merah tua yang membuktikan warna furfural secara teoritis.
Analisa titrasi untuk menentukan kadar furfural (%yield) didapatkan furfural dengan kadar tertinggi
sebesar 7,74%.
Kata Kunci: aldehid, ampas tebu, anilin, aromatik, asetat, furfural, hidrolisa, pentosan, tempurung kelapa.
Abstract
Furfural needs are increasing every year is one of the advantages in domestic. Furfural is a aldehyde
aromatic compounds that can be produced from raw materials containing pentosan. Agricultural wastes
such as bagasse and coconut shells are raw materials that can potentially be processed into furfural,
because the pentosan content is high enough. Hydrolysis mixture of bagasse and coconut shell with 12%
H2SO4 catalyst by varying the composition ratio of raw materials, the reaction temperature, and reaction
time. The result showed that the content of pentosan for both raw materials amounted to 36.25%.
Comparison of raw materials that generate the highest levels of furfural is 1: 4 (1 gram bagasse and 4
grams of coconut shell). For optimum temperature is at a temperature of 100C and the optimum time of
5 hours. Test of the color with aniline-acetate solution showed discoloration deep red color proved
theoretically furfural. Titration analysis to determine the levels of furfural (% yield) furfural obtained with
the highest level of 7.74%.
Keywords: aldehydes, bagasse, aniline, aromatic, acetate, furfural, hydrolysis, pentosan, coconut shell.

1. PENDAHULUAN industri pembuatan gula. Dalam pengolahan


Agroindustri di Indonesia merupakan salah tebu menjadi gula jumlah ampas tebu yang
satu sektor yang memiliki peran penting dalam dihasilkan mencapai hingga 90% dari setiap
perkembangan perindustrian nasional. Akan tebu yang diolah, sedangkan kandungan gula
tetapi pengolahan hasil pertanian seperti yang dimanfaatkan hanya berkisar 5%.
pemanfaatan produk samping dan sisa Pemanfaatan ampas tebu (sugar cane
pengolahan produk utama masih kurang baggase) yang dihasilkan selama ini
maksimal pemanfaatannya seperti contohnya dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk kompos,
limbah ampas tebu dan limbah tempurung makanan ternak, pulp, dan bahan bakar boiler
kelapa. pada pabrik gula. Untuk pengolahan buah
Pada umumnya tanaman tebu lebih kelapa masih berfokus kepada daging buah
diketahui sebagai bahan utama pengolahan pada kelapa itu sendiri. Sedangkan untuk pengolahan

Jurnal Teknik Kimia No.3, Vol.22, Agustus 2016 Page 17


hasil sampingnya hanya diolah dengan skala industri lainnya. Salah satu polisakarida yang
kecil. ada dalam ampas tebu ialah pentosan dengan
Seperti biomassa pada umumnya, ampas persentase kandungan sebesar 20-27%.
tebu dan tempurung kelapa memiliki kandungan Kandungan pentosan yang cukup tinggi tersebut
polisakarida yang dapat dikonversi menjadi memungkinkan ampas tebu untuk diolah
produk senyawa kimia yang dapat digunakan menjadi furfural.
untuk mendukung produksi sektor industri
B. Tempurung Kelapa
lainnya. Pemanfaatan limbah tersebut bisa
Tanaman Pohon kelapa biasanya banyak
menjadi produk bernilai tinggi. Salah satu
tumbuh didaerah pantai ini dapat juga tumbuh
alternatifnya yaitu pengolahan menjadi bahan
dengan baik pada daerah dengan curah hujan
baku kimia yaitu furfural. Bahan-bahan tersebut
1300-2300 mm/tahun atau bahkan lebih, pada
dapat diolah menjadi furfural dikarenakan
daerah dengan ketinggian 600 m diatas
kandungan utama pembentukan furfural yaitu
permukaan air laut, serta daerah dengan
kandungan pentosan. Pada ampas tebu memiliki
intensitas sinar matahari yang cukup. Tanaman
kadar pentosan sebesar 20%-27% sedangkan
yang bisa beradaptasi dengan baik di area
untuk tempurung kelapa memiliki 27,7%
berpasir seperti pantai ini memiliki ciri-ciri
kandungan pentosan.
umum yang mudah dikenali, antara lain:
A. Ampas Tebu Pohon terdiri dari batang tunggal , akar
Tanaman tebu merupakan tanaman jenis berbentuk serabut, dengan struktur yang tebal
rumput-rumputan, tanaman tebu termasuk kelas dan berkayu, berkerumun membentuk
Monocotyledone, ordo Glumiflorae, keluarga bonggol.
Graminiae dengan nama ilmiah Saccharum Batang pohon beruas dan apabila pohon
officinarum L. Terdapat lima spesies tebu, yaitu sudah tua, ruas-ruas tersebut akan berkurang.
Saccharum spontaneum (glagah), Saccharum Batang kelapa merupakan jenis kayu yangg
sinensis (tebu Cina), Saccharum barberry (tebu cukup kuat, tapi sayangnya kurang baik untuk
India), Saccharum robustum (tebu Irian) dan dimanfaatkan pada bangunan.
Saccharum officinarum (tebu kunyah) Daun kelapa merupakan daun tunggal dengan
(Sastrowijoyo, 1998). Ampas tebu sebagian pertulangan menyirip.
besar mengandung ligno-cellulose. Panjang Bunga majemuk dan terletak pada rangkaian
seratnya antara 1,7 sampai 2 mm dengan yang dilindungi oleh bractea, bunga terdiri
diameter sekitar 20 m, sehingga ampas tebu ini dari bunga jantan dan betina. Bunga betina
dapat memenuhi persyaratan untuk diolah terletak di pangkal karangan, sedangkan
menjadi papan-papan buatan (Husin, 2007). bunga jantan di bagian yang jauh dari
Husin (2007) menambahkan bahwa bagas pangkal.
mengandung air 48-52%, gula rata-rata 3,3% Buah kelapa umumnya besar, dengan
dan serat rata-rata 47,7%. Serat bagas tidak diameter sekitar 10cm-20cm bahkan bisa
dapat larut dalam air dan sebagian besar terdiri lebih. Warna buah kelapa terrgantung dari
dari selulosa, pentosan, dan lignin. jenis pohonnya (bisa berwarna kuning atau
Ampas tebu atau lazimnya disebut hijau), untuk buah yang sudah tua akan
bagas, adalah hasil samping dari proses berubah warna menjadi coklat.
ekstraksi (pemerahan) cairan tebu. Dari satu Tanaman kelapa disebut juga tanaman
pabrik pembuatan gula biasanya dihasilkan serbaguna, karena dari akar sampai ke daun
ampas tebu sekitar 3540% dari berat tebu yang kelapa bermanfaat. Buah kelapa terdiri dari
digiling (Penebar Swadaya, 1992). Berdasarkan beberapa komponen yaitu sabut kelapa,
data dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula tempurung kelapa, daging buah kelapa dan air
Indonesia (P3GI) ampas tebu yang dihasilkan kelapa. Daging buah adalah komponen utama
sebanyak 32% dari berat tebu giling. Namun, yang dapat diolah menjadi berbagai produk
sebanyak 60% dari ampas tebu tersebut bernilai ekonomi tinggi. Sedangkan air,
dimanfaatkan oleh pabrik pembuatan gula tempurung, dan sabut sebagai hasil samping (by
sebagai bahan bakar, bahan baku untuk kertas, product) dari buah kelapa juga dapat diolah
bahan baku industri kan vas rem, industri jamur, menjadi berbagai produk yang nilai ekonominya
dan lain-lain. Oleh karena itu diperkirakan tidak kalah dengan daging buah (Lay dan
sebanyak 45% dari ampas tebu tersebut belum Pasang, 2003; Maurits, 2003; Nur et al., 2003).
dimanfaatkan (Husin, 2007). Berat dan tebal tempurung sangat
Ampas tebu mengandung polisakarida yang ditentukan oleh jenis tanaman kelapa.
dapat dikonversi menjadi produk atau senyawa Tempurung beratnya sekitar 15-19% bobot buah
kimia untuk mendukung proses produksi sektor kelapa dengan ketebalan 3-5 mm. Komposisi

Jurnal Teknik Kimia No.3, Vol.22, Agustus 2016 Page 18


kimia tempurung terdiri atas; Selulosa 26,60%, klorida, asam nitrat dan lain-lain. Secara
Pentosan 27,70%, Lignin 29,40%, Abu 0,60%, komersial, pembuatan furfural dapat
Solvent ekstraktif 4,20%, Uronat anhidrat berlangsung dalam siklus batch maupun
3,50%, Nitrogen 0,11%, dan air 8,00% kontinyu. Kegunaan furfural dalam industri
(Ibnusantoso, 2001). antara lain sebagai:
Tempurung kelapa yang dulunya hanya
1. Bahan kimia intermediet (chemical
digunakan sebagai bahan bakar, tetapi sekarang
intermediate), misalnya untuk bahan baku
tempurung kelapa sudah merupakan bahan baku
adiponitril (CN(CN2)4CH), furfuril alkohol,
industri cukup penting. Produk yang dihasilkan
metil furan, pirrole, pidin, asam furoat, hidro
dari pengolahan tempurung kelapa adalah arang,
furamid, dan tetrahidrofurfuril alkohol.
arang aktif, tepung tempurung dan barang
2. Selective solvent dalam pemurnian minyak
kerajinan. Arang aktif dari tempurung kelapa
bumi maupun minyak nabati.
memiliki daya saing yang kuat karena mutunya
3. Pembuatan resin, misalnya fenol-aldehid
tinggi dan tergolong sumber daya yang
(fenol-furfural).
terbarukan. Selain digunakan dalam industri
4. Zat penghilang warna untuk wood resin pada
farmasi, pertambangan, dan penjernihan, arang
industri sabun, vernish, dan kertas.
aktif juga digunakan untuk penyaring atau
5. Resin pelarut dan agensia pembasah dalam
penjernih ruangan untuk menyerap polusi dan
industri pembuatan roda pengasah dan lapisan
bau tidak sedap di dalam ruangan. Berdasarkan
rem dan untuk medium distilasi ekstraksif
data ekspor tahun 2003, Indonesia ternyata lebih
sebagai salah satu proses utama dalam
banyak mengekspor dalam bentuk arang
pembuatan butadiena dari petroleum (Suharto,
tempurung sebanyak 56%, sedangkan negara
2006).
lain dalam bentuk arang aktif.
Beberapa faktor penting yang berpengaruh
C. Proses Hidrolisa Pentosan menjadi terhadap pembuatan furfural adalah:
Senyawa Furfural 1) Konsentrasi katalisator,
2) Suhu reaksi,
Pentosan merupakan senyawa yang
3) Waktu reaksi,
tergolong sebagai polisakarida yang apabila
4) Kecepatan pengadukan,
dihidrolisis pentosan akan pecah menjadi
5) Pengaruh rasio larutan dengan padatan,
monosakarida yang mengandung 5 atom karbon
6) Pengaruh kehalusan bahan.
yang disebut pentosa. Bila hidrolisis dilanjutkan
dengan pemanasan dalam asam sulfat atau asam
klorida encer dalam waktu 2-4 jam maka akan
2. METODOLOGI PENELITIAN
terjadi dihidrasi dan siklisasi membentuk
A. Alat yang digunakan
senyawa heterosiklik yang disebut furfural.
1) Ball Mill
Furfural merupakan zat cair tak berwarna,
2) Rangkaian alat hidolisis
yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan
3) Rangkaian alat distilasi
senyawa-senyawa furan, tetrahidro furan, pural,
4) Rangkaian alat titrasi
pembuatan plastik, sebagai bahan pembantu
5) Oven
dalam industri karet sintetik dan lain-lain.
6) Timbangan Elektrik
Furfural secara kimianya memiliki nama
7) Saringan Hisap
furfuraldehyde dengan formula C5H4O2. Rumus
8) Buret
struktur furfural dapat dilihat pada gambar
9) Gelas Beker
berikut.
10) Gelas Arloji
11) Gelas Ukur
12) Erlenmeyer
13) Labu Ukur
14) Pipet Tetes
15) Corong pemisah
16) Spatula
17) Kertas saring
Gambar. 1. Rumus Struktur Furfural
B. Bahan Penelitian
Furfural didapat dari 2 tahap reaksi, yaitu Bahan-bahan pada penelitian ini
hidrolisis dan dehidrasi. Untuk itu, biasanya menggunakan bahan baku, yaitu ampas tebu dan
pada pembuatan furfural digunakan bantuan tempurung kelapa. Ampas tebu dan tempurung
katalis asam, misalnya asam sulfat, asam kelapa berasal dari sampah organik. Ampas tebu

Jurnal Teknik Kimia No.3, Vol.22, Agustus 2016 Page 19


dan tempurung kelapa didapat dari penjual es berulang-ulang sampai didapatkan berat
tebu dan es kelapa di sekitaran wilayah gelas arloji yang konstan.
Inderalaya, Sumatera Selatan. 3) Lima gram ampas tebu dimasukkan ke
dalam botol timbang lalu dipanaskan di
C. Prosedur Penelitian
dalam oven pada suhu 105-110oC selama 3-
Pengeringan
5 jam.
Bahan baku 4) Kemudian bahan dimasukkan ke dalam
eksikator. Setelah itu sampel ditimbang.
5) Pengeringan dan penimbangan diulangi
Analisa
Penggilingan, Penghalusan, dan pengayakan 60
bahan baku
sampai didapatkan berat sampel yang
mesh
konstan. Perhitungan kadar air mengacu
pada metode Sudarmadji dkk. (1997).
Pencampuran Bahan Baku (150ml Larutan H2SO412%)
Prosedur Analisa Kadar Pentosan
1) Ampas tebu sebanyak 5 gram dimasukkan
Proses Hidrolisa dengan Varisai Waktu X Jam kedalam tabung distilasi 500 mL, lalu
ditambahkan larutan asam khlorida 12%
sebanyak 100 mL, kemudian dipanaskan.
Penyaringan (Furfural + Ampas 2) Pemanasan mula-mula dijalankan secara
Bahan Baku) + Kloroform
perlahan. Setelah itu diambil hasil sulingan
sebanyak 30 mL, lalu ke dalam tabung
distilasi dimasukkan larutan asam khlorida
Lapisan Bawah (Air)
12% sebanyak 30 mL dan proses dijalankan
Lapisan Atas kembali.
(Furfural+Kloroform)
3) Bila larutan di dalam tabung distilasi sudah
Penambahan 5ml Kloroform banyak teruapkan maka ditambahkan
larutan asam khlorida 12% sebanyak 30 mL
lagi dan proses dijalankan hingga
Terbentuk Dua Lapisan:
(Furfural + Kloroform dan Air)
didapatkan volume distilat sebanyak
360mL.
4) Distilat yang terkumpul ditambahkan 1
Lapisan Atas Lapisan
gram phloroglucinol dan ditambahkan asam
(Furfural +Klorofrm) Bawah (Air) khlorida 12% hingga volumenya menjadi
400 mL. Larutan tersebut dibiarkan selama
1 malam hingga didapatkan endapan
Penambahan 0,5 gram Na2SO4 berwarna hitam (furfural phloroglucid).
5) Kemudian dilakukan penyaringan dengan
saringan hisap dan dicuci dengan 150 mL
Destilasi Pada Suhu 60oC 70oC aquadest.
6) Endapan yang terdapat di kertas saring
dikeringkan dalam oven selama 4 jam pada
Filtrat (Furfural) Distilat (Kloroform) suhu 100oC. Setelah kering, lalu bahan
didinginkan dan ditimbang.
7) Pengeringan dan penimbangan dilakukan
Analisa Furfural berulang-ulang hingga didapatkan berat
konstan (misal w gram).
Menurut Griffin (1927) perhitungan berat
Kualitatif (Uji Warna) Kualitatif (Titrasi)
pentosan dilakukan dengan menggunakan
rumus yang diberikan oleh Horber:
Gambar 2. Prosedur peneitian Bila berat phloroglucid, w lebih kecil dari
0,030 gram maka berat pentosan = (w +
0,0052) 0,8949 gram,
Prosedur Analisa Kadar Air Bila berat phloroglucid, w lebih besar dari
1) Gelas arloji dimasukkan ke dalam oven 0,300 gram maka berat pentosan = (w +
selama 30 menit pada suhu 110oC. 0,0052) 0,8824 gram,
2) Kemudian dimasukkan ke dalam eksikator Bila berat phloroglucid, w antara 0,030 -
selama 20 menit lalu dilakukan 0,300 gram maka berat pentosan = (w +
penimbangan. Pekerjaan ini dilakukan 0,0052) 0,8866 gram.

Jurnal Teknik Kimia No.3, Vol.22, Agustus 2016 Page 20


Persentase berat pentosan dalam bahan baku menjadi filtrat karena titik didih kloroform
(ampas tebu dan tempurung kelapa) dapat lebih rendah daripada furfural.
dihitung dengan persamaan sebagai berikut: 8) Furfural yang diperoleh kemudian dianalisa
secara kualitatif dan kuantitatif untuk
Kadar Pentosan mendapatkan yield furfural.
berat pentosan (g) 9) Untuk hidrolisa berikutnya digunakan
= x100% komposisi campuran bahan baku yang
berat bahan baku (g) menghasilkan yield terbesar, kemudian
dihidrolisa dengan variasi suhu (80C,
Prosedur Proses Hidrolisa 85C, 90C, 95C, dan 100C). Dari hasil
1) Kedalam labu trineck dimasukkan 5 gram hidrolisa tahap kedua ini didapatkan yield
serbuk ampas tebu dan tempurung kelapa terbesar dan akan digunakan pada hidrolisa
yang telah dikeringkan dan 150 ml Asam berikutnya dengan variasi waktu
Sulfat 12%. Campuran diaduk sampai pemanasan (1jam, 2jam, 3jam, 4jam, dan
diperoleh campuran yang homogen. 5jam). Maka akan didapat komposisi
Dengan perbandingan komposisi berat campuran bahan baku, suhu, dan waktu
campuran ampas tebu dan tempurung kelapa: pemanasan yang akan menghasilkan %yield
PA : Ampas Tebu : Tempurung Kelapa (1 : 1) terbesar.
PB : Ampas Tebu : Tempurung Kelapa (1 : 4)
PC : Ampas Tebu : Tempurung Kelapa (2 : 3)
PD : Ampas Tebu : Tempurung Kelapa (3 : 2) 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
PE : Ampas Tebu : Tempurung Kelapa (4 : 1) A. Analisa Bahan Baku
Tabel 1. Pebandingan Komposisi Bahan Baku Pada analisa ini sebelum digunakan pada
proses hidrolisa, bahan baku akan dinalisa kadar
Rasio Berat 1 pentosan dan analisa kadar air. Hal ini
1: 2: 3: 4:
Campuran Bahan : dilakukan untuk menentukan persentase kadar
1 3 2 1
Baku 4 furfural dan air pada bahan baku yang
Ampas Tebu digunakan. Berdasarkan data analisa yang
2,5 1 2 3 4 diperoleh kadar air yang ada cukup besar
(gram)
dimana ampas tebu 9,55% dan tempurung
Tempurung Kelapa
2,5 4 3 2 1 kelapa 6,18%. Sedangkan untuk kadar
(gram)
pentosannya, ampas teb sebesar 20,51% dan
tempurung kelapa 24,44%
2) Campuran kemudian dihidrolisa dengan Selanjutnya dari masing-masing bhan baku,
rangkaian alat refluks. Dengan waktu dan didapat kadar furfural yang tertinggi melalui
suhu konstan, yaitu 1 jam dan 80C. proses hidrolisa yaitu pada perbandingan
3) Hasil hidrolisa didinginkan, kemudian komposisi 1:4 (1gram ampas tebu : 4gram
disaring menggunakan saringan hisap. tempurung kelapa).
4) Tambahkan 25 ml Kloroform ke dalam
B. Pembuatan Furfural dari Ampas Tebu
hasil saringan (campuran furfural dan air).
dan Tempurung Kelapa
Kemudian masukkan kedalam corong
Pada pembuatan furfural ini tahap pertama
pemisah. Akan terbentuk dua lapisan:
yang digunakan yaitu proses hidrolisa yang di
lapisan atas berupa campuran furfural dan
bagi menjadi tiga tahap dengan 5 sampel tiap
kloroform, dan lapian bawah berupa air.
tahapnya. Untuk tahap pertama dilakukan
5) Air pada lapisan bawah ditampung dan
variasi komposisi bahan baku dengan suhu dan
ditambahkan kloroform sebanyak 5ml.
waktu pemanasan konstan. Setelah didapat
Kemudian dipisahkan dengan
komposisi bahan baku dengan kadar furfural
menggunakan corong pemisah. Hasil
terbesar kemudian masuk ke tahap kedua, lima
campuran furfural dan kloroform
sampel berikutnya dengan variasi suhu
ditambahkan kedalam hasil pada pemisahan
pemanasan, sedangkan komposisi bahan baku
pertama.
dan waktu pemanasan konstan. Setelah didapat
6) Campuran kloroform furfural ditambahkan
kadar furfural terbesar, kemudian masuk ke
Na2SO4 anhidrat sebanyak 0,5gram untuk
tahap ketiga dengan variasi waktu pemanasan,
mengikat sisa air. Kemudian hasil disaring
sedangkan komposisi bahan baku dan suhu
menggunakan kertas saring.
pemanasan konstan. Jadi terdapat tiga variabel
7) Furfural yang larut dalam kloroform
dalam penelitian ini, yaitu perbandingan
dipisahkan dengan distilasi sederhana pada
suhu 60-70C. Kloroform akan menetes

Jurnal Teknik Kimia No.3, Vol.22, Agustus 2016 Page 21


komposisi bahan baku, suhu pemanasan, dan bahwa perbandingan komposisi bahan baku
waktu pemanasan. untuk mendapatkan kadar furfural terbesar
Setelah dari proses hidrolisa sampel adalah 1 : 4. Ini berarti kandungan pentosan
disaring dan ditambahkan larutan kloroform pada bahan baku sangat mempengaruhi
sebanyak 10ml. Ini bertujuan agar kloroform besarnya kadar furfural yang didapat. Untuk
dapat memisahkan furfural dan air. Selanjutnya sampel 3 mengalami penurunan, yaitu kadar
ditambahkan Na2SO4 anhidrat 0,5gram ini furfural sebesar 5,13%, dan merupakan yang
bertujuan untuk mengikat sisa air yang terdapat terendah dari kelima sampel. Untuk sampel 4
pada furfural. Untuk pemisahan furfural dengan mengalami kenaikan kadar furfural, yaitu
kloroform dilakukan dengan cara distilasi sebesar 5,77%. Akan tetapi, pada sampel 5
sederhana. Kloroform akan menguap mengalami penurunan kadar furfural, yaitu
dikarenakan titik didih lebih kecil dari furfural sebesar 5,07. Adanya fluktuasi dalam hasil
yaitu 61oC sedangkan furfural 161,7oC. Dari kadar furfural ini bisa disebabkan karena
distilasi tersebut didapatkan furfural yang pengaruh perbandingan komposisi dalam setiap
berwarna kuning jernih. bahan baku. Perbedaan komposisi ini
Kemudian dilakukan analisa terhadap menyebabkan kandungan pentosan yang akan
furfral yang sudah diperoleh. Pada penelitian ini dikonversi menjadi furfural juga berbeda.
dilakukan dua analisa, yaitu analisa kualiatif
D. Pengaruh Suhu Reaksi terhadapan
dan analisa kuantitatif. Analisa kualitatif berupa
Kadar Furfural
uji warna untuk mengidentifikasi furfural
Pada proses hidrolisa tahap kedua ini
dengan menggunakan larutan anilin asetat.
menggunakan variasi suhu pemanasan, yaitu
Analisa kuantitatif berupa analisa titrasi dengan
80C, 85C, 90C, 95C, dan 100C. Dilakukan
menggunakan larutan iodium untuk
pada lima sampel berikutnya (sampel 6-10),
mendapatkan kadar furfural.
dengan perbandingan komposisi bahan baku dan
C. Pengaruh Perbandingan Komposisi waktu pemanasan konstan, yaitu perbadingan
Bahan Baku terhadap Kadar Furfural 1:4 dan waktu 1 jam. Diperoleh pengaruh suhu
Setelah dilakukan proses hidrolisa pada pemanasan terhadap kadar furfural dapat dilihat
ampas tebu dan tempurung kelapa dengan pada Gambar 4.
variabel perbandingan komposisi, diperoleh
hubungan antara perbandingan komposisi 8
bahan baku terhadap kadar furfural yang dapat
dilihat Gambar 3.
Furfural
Kadar

(%)

6
10
80
Furfural
Kadar

85
(%)

4
80 85 90 95 100 90
1 Suhu Pemanasan (C)
Gambar 4. Pengaruh Suhu Pemanasan terhadap
0 2 Kadar Furfural
1 2Sampel
3 4 5 3 Dari Gambar 4. dapat dilihat bahwa
Furfura perolehan kadar furfural naik untuk setiap
Gambar 3. Pengaruh
l Perbandingan Komposisi sampel. Perolehan kadar furfural pada sampel 6
Bahan Baku terhadap Kadar Furfural sebesar 6,36%. Kadar furfural ini sama dengan
Kadar furfural pada sampel 1 sebesar hasil pada sampel 2, karena berada pada kondisi
6,29% dan mengalami kenaikan pada sampel 2. variabel yang sama. Perolehan kadar furfural
Kadar furfural tertinggi terdapat pada sampel 2 pada sampel 7, 8, 9, pada suhu 85-95C
dengan perbadingan 1 : 4 (1 gram ampas tebu mengalami kenaikan, yaitu sebesar 6,49%,
dan 4 gram tempurung kelapa), yaitu sebesar 68,40%, dan 7,04%. Perolehan kadar furfural
6,36%. Hal ini bisa disebabkan karena tertinggi adalah pada sampel 10 dengan suhu
kandungan pentosan yang terdapat pada pemanasan 100C, yaitu sebesar 7,29%. Dari
tempurung kelapa lebih besar dari pada grafik juga dapat dilihat kadar furfural akan
kandungan pentosan yang terdapat pada ampas tinggi seiring dengan kenaikan suhu. Dengan
tebu sehingga kadar furfuralnya paling besar demikian dapat disimpulkan bahwa semakin
dibandingkan dengan sampel lain. Dari hasil tinggi suhu pemanasan, maka kadar furfural
analisa pada penelitian ini dapat disimpulkan akan semakin besar. Suhu pemanasan dengan

Jurnal Teknik Kimia No.3, Vol.22, Agustus 2016 Page 22


kadar furfural tertinggi ini akan dipakai dalam Menurut Setyadji (2007), semakin lama
proses hidrolisa berikutnya. waktu pemanasan maka hasil reaksi akan
Pada penelitian ini suhu pemanasan dibatasi semakin bertambah besar. Hal ini disebabkan
hingga batas maksimum 100C, dikarenakan karena adanya kontak antara zat-zat yang
titik didih larutan hanya mencapai titik bereaksi, yaitu senyawa pentosan dengan asam
maksimum pada suhu 102-103C pada tekanan sulfat, akan lebih lama sehingga waktu untuk
atmosferik (Ganjar, 2011). Suhu reaksi ini juga menguraikan pentosan menjadi pentosa terjadi
harus disesuaikan dengan ketahanan alat yang secara optimum.
digunakan pada proses ini. Pada penelitian ini,
F. Analisa Furfural
pada awalnya penagduk yang digunakan adalah
Pada penelitian ini dilakukan dua analisa,
pengaduk mekanik. Akan tetapi, karena
yaitu analisa kualitatif dan analisa kuantitatif.
tingginya suhu menyebabkan batang pengaduk
Analisa kualitatif berupa uji warna untuk
mudah rusak (korosi). Jadi penelitian ini
mengidentifikasi furfural dengan menggunakan
menggunakan pengaduk magnetik dalam proses
larutan anilin asetat. Analisa kuantitatif berupa
hidrolisa.
analisa titrasi dengan menggunakan larutan
E. Pengaruh Waktu Pemanasan terhadap iodium untuk mendapatkan kadar furfural.
Kadar Furfural Uji warna merupakan uji sifat kimia dari
Pada hidrolisa tahap ketiga ini furfural. Larutan anilin asetat dibuat dengan
menggunakan variasi waktu pemanasan. mencampurkan anilin dan asam asetat 0,1 N
Dilakukan terhadap lima sampel berikutnya dengan perbandingan sama, yaitu 1 ml.
(sampel 11-sampel 15), dengan perbandingan Kemudian diteteskan pada pada furfural dengan
bahan baku dan suhu reaksi konstan, yaitu volume yang sama. Secara teoritis, penambahan
perbandingan 1:4 dan suhu 100oC. Setelah furfural dengan larutan anilin asetat
dilakukan proses hidrolisa didapat pengaruh menyebabkan warna furfural berubah dari
waktu reaksi terhadap kadar furfural yang dapat kuning menjadi merah tua. Perubahan warna ini
dilihat pada gambar 5. sesuai dengan hasil yang didapat pada
penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, uji
8 warna furfural menunjukkan bahwa warna yang
dihasilkan pada uji furfural secara teoritis. Hal
Furfural

ini menunjukkan senyawa yang diuji merupakan


Kadar

(%)

furfural. Dapat dilihat pada Gambar 7.

1
7 2
1 2 3 4 5
Waktu 3
Pemanasan (Jam)
Gambar 5. Pengaruh Waktu Pemanasan
terhadapan Kadar furfural
Dari Gambar 5. dapat dilihat bahwa kadar
furfural juga naik untuk setiap sampel.
Perolehan kadar furfural pada sampel 11 adalah
sebesar 7,29C . Perolehan ini sama dengan
sampel 10, karena pada kondisi variabel yang Gambar 6. Furfural sebelum ditetesi anilin-
sama. Perolehan kadar furfural naik pada asetat
sampel 12 dan sampel 13, yaitu sebesar 7,30%
dan 7,31% dengan hasil yang hampir mendekati
sama untuk kedua sampel. Perolehan kadar
furfural naik cukup besar pada sampel 14
sebesar 7,51%. Perolehan Kadar furfural
tertinggi terdapat pada waktu pemanasan 5 jam,
yaitu sebesar 7,74%. Dari grafik juga dapat
dilihat kadar furfural naik seiring dengan
penambahan waktu pemanasan. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa semakin
lama waktu pemanasan maka kadar furfural
akan semakin besar.

Jurnal Teknik Kimia No.3, Vol.22, Agustus 2016 Page 23


3)Berdasarkan hasil analisa, waktu reaksi
optimal yang menghasilkan kadar
Gambar 7. Furfural setelah ditetesi anilin-asetat
furfural terbesar adalah 5 jam.
Perubahan warna dari kuning menjadi
5. Saran
merah tua ini dengan penambahan pereaksi
anilin-asetat ini ini disebabkan karena terjadi Untuk penelitian selanjutnya, perlu
kondensasi antara furfural dan dengan ailin dilakukan dengan bahan baku lain seperti
membentuk senyawa dianil hidroksiglukoat cangkang kemiri, kayu jati, dan lain-lain yang
dialdehida yang berlangsung menjadi dua tahap. mengandung pentosan yang bisa dijadikan
Tahap pertama yaitu pembentukan warna furfural.
kuning selanjutnya bereaksi dengan anilin
kedua, sehingga terjadi pemecahan cincin
DAFTAR PUSTAKA
furfural dan pembentukan dialdehida. Reaksi
dapat dilihat pada Gambar 8. Andaka, Ganjar, 2011. Hidrolisis Ampas Tebu
menjadi Furfural dengan Katalisator
Asam Sulfat. Jurnal Teknologi, Volume 4
Nomor 2, 180-188.
Dunlop, A. P., 1948, Furfural Formation and
Behavior, Ind. Eng. Chem.Vol. 40, pp.
204 209, The Quaker Oats Company,
Chicago.
Eka, Helmi, dan Ulfi Y., 2012. Furfural
Berbasis Tandan Kosong Kelapa Sawit.
Jurnal Teknik Kimia Politeknik Negeri
Gambar 8. Reaksi anilin-asetat dengan furfual Lhokseumawe Vol. 10 No. 2, Desember
pada uji warna furfural 2012 ISSN 1693-248X.
Griffin, R. C. 1927. Technical Methods Of
Pada analisa kuantitatif dilakukan Analysis, 2nd ed., pp. 491-494, McGraw-
perhitungan kadar furfural (%) perhitungan Hill Book Company, New York.
yield furfural menggunakan rumus sebagai Husin. 2007. Analisa Serat Bagas.
berikut (Dunlop (1984) dan Dunlop and (online).http://www.free.vlsm.org/
Trymble (1939)): diakses tanggal 18 Agustus 2015.
Hidajati, Nurul. 2006. Pengolahan Tongkol
Yield furfural Jagung sebagai Bahan Pembuatan
m
x (V V ) x N x 48,04 Furfural. Jurnal Ilmu Dasar, Vol. 8 No.1
= n x 100% 2006:45-53.
berat ampas tebu (mg) Ibnusantoso, G. 2001. Prospek dan Potensi
Kelapa Rakyat dalam Meningkatkan
Dimana: Ekonomi Petani Indonesia. Dirjen
48,04 = berat setara furfural (mg/mgrek) Industri Agro dan Hasil Hutan.
V1 = volume iodium hasil titrasi sampel (mL) Departemen Perindustrian dan
V2 = volume iodium hasil titrasi blangko (mL) Perdagangan, Jakarta.
N = normalitas iodium (mgrek/mL) Ibrahim, Imanuel dan Bibiana. 2015. Penentuan
n = volume sampel (mL) Hasil Hidrolisis Furfural Optimum dari
m = volume hasil reaksi keseluruhan (mL) Tumbuhan Alang-alang (Imperata
Cylindrica) Berdasarkan Variasi
4. Kesimpulan
Perbandingan Substrat dan H2SO4.
1)Perbandingan komposisi yang Jurnal Kimia FST UNDANA 2015.
menghasilkan kadar furfural terbesar Lay, A. dan P.M. Pasang, 2003. Alat penyerat
adalah perbandingan 1 : 4, yaitu 1 gram sabut kelapa tipe balitka. Kelembagaan
ampas tebu dan 4 gram tempurung Perkelapaan di Era Otonomi Daerah.
kelapa. Semakin besar kandungan Prosiding Konferensi Nasional Kelapa V.
pentosan, maka akan semakin besar pula Tembilahan 22-24 Oktober 2002. Pp.154-
kadar furfural yang didapat. 159.
2)Berdasarkan hasil analisa, suhu optimal Mahmud, Zainal dan Yulius Ferry. Prospek
yang menghasilkan kadar furfural Pengolahan Hasil Samping Buah Kelapa.
terbesar adalah 100C. Pusat Penelitian dan Pengembangan

Jurnal Teknik Kimia No.3, Vol.22, Agustus 2016 Page 24


Perkebunan, Indonesia Center for Estate ebu-sugarcane/, diakses tanggal 18
Crops and Development. Bogor. Agustus 2015).
Mitarlis, Ismono, dan Tukiran. 2011. Setyadji, Moch. 2007. Hidrolisa Pentosan
Pengembangan Metode Sintesis Furfural menjadi Furfural dengan Katalisator
Berbahan Dasar Campuran Limbah Asam Sulfat untuk Meningkatkan Pusat
Pertanian Dalam Rangka Mewujudkan Teknologi Akselerator dan Proses Bahan.
Prinsip Green (Development of Synthesis Prospiding PPI-PDIPTN, Yogyakarta.
Method of Furfural from Compast Heap Sudarmadji S., Haryono, B., dan Suhardi, 1997,
Mixture to Reach Out Green Chemistry Prosedur Analisis untuk Bahan Makanan
Principles). Jurnal Manusia dan dan Petanian, edisi 4, Fakultas Teknologi
Lingkungn, Vol. 18, N0.3 Nov. 2011: Pertanian, Universitas Gadja Mada,
191-1. Yogyakarta.
Penebar Swadayan. 192. Pembudidayaan Tebu Suharto. 2006. Pemanfaatan Limbah Tandan
di Lahan Sawah dan Tegalan, Penerbit Kosong Sawit untuk Produksi
Penebar Swadayan. Jakarta. Commercial Grade Furfural. Laporan
Rinna, Lailan, dan Abubakar . 2012. Pengaruh Akhir Kumulatif Program Peneliatian
Jenis dan Konsentrasi Katalisator Asam dan Pengembangan IPTEK, LIPI.
terhadap Sintesis Furfural dari Sekam Suharto dan Susanto, H., 2006. Pengaruh
Padi. Konversi, Volume 1 No. 1, Oktober Konsentrasi Katalis terhadap Perolehan
2012. Furfural pada Hidrolisis Tongkol
Saifur, Sumardi, Rini Y. 2013. Pengaruh Jagung, Seminar Nasional IPTEK Solusi
Konsentrasi Natrium Bisulfit dan Suhu Kemandirian Bangsa, Yogyakarta.
Pengeringan Terhadap Sifat Fisik-Kimia
Tepung Biji Nangka (Artocarpus
Heterophyllus). Jurnal Bioproses
Komoditas Tropis Vol. 1 No. 2, Agustus
2013.
Sastrowijoyo, 1998, Klasifikasi Tebu,
(http://arluki.wordpress.com/2008/10/14/t

Jurnal Teknik Kimia No.3, Vol.22, Agustus 2016 Page 25