Anda di halaman 1dari 19

NurseLine Journal

Vol. 1 No. 1 Mei 2016 ISSN 2540-7937

KAJIAN PUSTAKA:
APLIKASI TERAPEUTIK GERANIIN DARI EKSTRAK KULIT RAMBUTAN (Nephelium
lappaceum) SEBAGAI ANTIHIPERGLIKEMIK MELALUI AKTIVITASNYA SEBAGAI
ANTIOKSIDAN PADA DIABETES MELITUS TIPE 2

(LITERATURE REVIEW:
THERAPEUTIC APPLICATION OF GERANIIN FROM RAMBUTAN (Nephelium lappaceum)
PEEL EXTRACT AS ANTIHYPERGLYCEMIC THROUGH ITS ANTIOXCIDANT ACTIVITY IN
TYPE 2 DIABETES MELLITUS)

Desie Dwi Wisudanti


Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Jember
Jl. Kalimantan No. 37 Jember 68121
e-mail: desie.fk@unej.ac.id

ABSTRAK

Kata kunci: Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan pada metabolisme karbohidrat, lipid, dan
Antioksidan protein, yang ditandai dengan adanya hiperglikemia. Prevalensi di dunia semakin meningkat
Diabetes khususnya DM tipe 2 yang menyebabkan peningkatan insiden kesakitan dan kematian di
Geraniin seluruh dunia akibat komplikasi hiperglikemia. Hiperglikemia merangsang pelepasan
Hiperglikemia superoksida (O2-) di tingkat mitokondria yang merupakan pemicu awal timbulnya stres
Rambutan oksidatif pada penderita DM tipe 2. Maka salah satu modalitas terapi yang bisa
dikembangkan pada DM tipe 2 adalah zat yang bersifat antioksidan poten. Geraniin dari
ekstrak kulit rambutan diketahui memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan radical
scavenging poten, sehingga dimungkinkan untuk menjadi kandidat utama antidiabetes
pada DM tipe 2. Kajian pustaka ini menggunakan data base Cochrane Library, Google
Scholar, Medline dan PubMed, dari 2006 sampai 2016 dan diperoleh 17 artikel yang
sesuai dengan kriteria inklusi. Pada kulit rambutan (Nephelium lappaceum), geraniin
merupakan senyawa fenolik utama yang memiliki kemampuan potensial sebagai antioksidan
dan antihiperglikemik melalui hambatan terhadap alfa-glucosidase dan alfa-amylase,
mencegah poliol (aldol reductase inhibition) dan mencegah pembentukan advanced
glicosilation product (AGEs). Terdapat korelasi sangat kuat antara kemampuan sebagai
antioksidan dengan kemampuan dalam menghambat alfa-glucosidase dan alfa-amylase,
sehingga geraniin dari ekstrak kulit rambutan (Nephelium lappaceum) dinyatakan sebagai
kandidat ideal untuk manajemen hiperglikemia pada individu dengan diabetes.

ABSTRACT

Keywords: Diabetes mellitus is a disorder in the metabolism of carbohydrates, lipids and proteins,
Antioxidant which is characterized by hyperglycemia. Its prevalence in the world is increasing, espe-
Diabetes cially type 2 diabetes, causes an increased incidence of morbidity and mortality throughout
Geraniin the world due to complications of hyperglycemia. Hyperglycemia stimulates the release
Hyperglycemia of superoxide (O2-) at the level of mitochondria which is the trigger early onset of
Rambutan oxidative stress in patients with diabetes mellitus type 2. Therefore one of the therapeu-
Kajian Pustaka: Aplikasi Terapeutik Geraniin Dari 121

tic modalities that can be developed in type 2 diabetes mellitus is a substance as potent
antioxidant. Geraniin of rambutan peel extract is known to have the ability as a potent
antioxidant and radical scavenging, so it is possible to be a prime candidate antidiabetes
in the ype 2 diabetes melitus. We searched Cochrane Library data bases, Google Scholar,
Medline and PubMed, from 2006 to 2016, to assess the effect of rambutan peel extract
for type 2 diabetes melitus. We obtained 17 articles in accordance with the inclusion
criteria. In the peel of rambutan (Nephelium lappaceum), geraniin is the main phenolic
compounds that have the potential ability as an antioxidant and antihyperglycemic through
inhibition of alfa-glucosidase and alfa-amylase, preventing the polyol (aldol reductase
inhibition) and prevents the formation of advanced glicosilation products (AGEs). There
is a very strong correlation between the ability as an antioxidant with the ability to
inhibit alfa-glucosidase and alfa-amylase, so geraniin of rambutan peel extract
(Nephelium lappaceum) expressed as the ideal candidate for the management of hyper-
glycemia in individuals with diabetes.

PENDAHULUAN juta pada tahun 2030 (pdpersi, 2011).


Diabetes mellitus menyebabkan peningkatan
Diabetes melitus (DM) adalah suatu insiden kesakitan dan kematian di seluruh dunia akibat
gangguan pada metabolisme karbohidrat, lipid, dan komplikasi hiperglikemia. Hiperglikemia merangsang
protein dengan berbagai penyebab dan merupakan pelepasan superoksida (O2-) di tingkat mitokondria
suatu penyakit yang kronik. Seseorang dengan DM yang merupakan pemicu awal timbulnya stres
memiliki kadar glukosa darah yang tinggi atau disebut oksidatif pada penderita DM tipe 2. Komplikasi
hiperglikemia (National Instititues of Health, 2014). hiperglikemia jangka panjang berhubungan dengan
Diabetes melitus terbagi menjadi 2 tipe utama, yaitu risiko trombosis, aterosklerosis, dan penyakit
DM tipe 1 dan DM tipe 2. Diabetes melitus tipe 1 kardiovaskuler. Tujuh puluh sampai delapan puluh
dikarakterisasi dengan ketidakmampuan produksi in- persen penderita DM meninggal karena penyakit
sulin karena kerusakan sel pankreas akibat reaksi vaskuler (Wahyuni, 2011). Komplikasi DM dapat
autoimun (Diabetes UK, 2014), sedangkan DM tipe mengenai beberapa organ, oleh karena itu penelitian
2 merupakan penyakit yang melibatkan beberapa mengenai mekanisme penyakit ini dan terapinya terus
patofisiologi, termasuk gangguan fungsi pulau Langer- dikembangkan, salah satunya melalui pengembangan
hans dan resistensi insulin yang menghasilkan obat-obatan yang berasal dari alam (herbal)
gangguan toleransi glukosa dan produksi glukosa dihubungkan dengan kemampuannya sebagai
hepatik puasa yang tinggi (World Health Organiza- antioksidan yang dapat mengatasi stres oksidatif pada
tion, 2010). pasien DM tipe 2.
Prevalensi DM diperkirakan pada orang Rambutan dengan nama latin Nephelium
dewasa berusia antara 20 sampai 79 tahun. Jumlah lappaceum merupakan jenis tanaman yang banyak
penderita DM pada tahun 2012 di seluruh dunia ditemukan di daerah Asia Tenggara seperti Indone-
mencapai 371 juta jiwa, dimana proporsi kejadian DM sia, Malaysia, Thailand, dan Filipina, juga merupakan
tipe 2 adalah 95% dan hanya 5% dari jumlah tersebut komoditi ekspor, baik dalam bentuk buah segar
yang menderita DM tipe 1 (Diabetes UK, 2014). In- maupun kalengan. Bagian dari rambutan yang dapat
donesia kini telah menduduki rangking keempat dikonsumsi dan memiliki rasa manis adalah daging
jumlah penyandang DM terbanyak setelah Amerika buahnya, sedangkan bagian kulit dan bijinya akan
Serikat, China, dan India. Berdasarkan data dari dibuang bahkan menjadi sampah produksi pada
Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penyadang DM industri buah rambutan kaleng. Telah banyak
di Indonesia pada tahun 2003 sebanyak 13,7 juta or- dilakukan penelitian mengenai sampah dari hasil
ang dan berdasarkan pola pertambahan penduduk pertanian, seperti terhadap biji dan kulit buah-buahan,
diperkirakan pada 2030 akan ada 20,1 juta yang ternyata memberikan manfaat bagi kehidupan
penyandang DM dengan tingkat prevalensi 14,7% manusia, termasuk juga kulit buah rambutan
untuk daerah urban dan 7,2% daerah rural. Sementara (Nephelium lappaceum) (Perera et al, 2012).
itu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi Ekstrak kulit Nephelium lappaceum diketahui
kenaikan jumlah penyandang diabetes DM di Indone- memiliki sitotoksisitas yang rendah terhadap sel
sia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 manusia dan tikus, memiliki kemampuan sebagai
122 NurseLine Journal Vol. 1 No. 1 Mei 2016: 120-138

antioksidan kuat dan aktivitas free radical scaveng- insulin, atau keduanya dan meyebabkan komplikasi
ing (Manaharan et al, 2012; Ling et al, 2012), kronis mikrovaskular, makrovaskular, dan neuropati
antihiperglikemia dan anti infeksi (Bhat and Al-daihan, (Sukandar et al, 2009). Tiga tipe utama dari diabetes
2014). Oleh karena itu diperlukan studi lebih lanjut adalah diabetes tipe 1, diabetes tipe 2 dan diabetes
untuk memahami mekanisme molekuler geraniin dari gestasional yang terjadi ketika tubuh tidak cukup
ekstrak kulit rambutan (Nephelium lappaceum) memproduksi hormon insulin atau tidak dapat
sebagai antidiabetik, terutama karena kemampuannya menggunakan insulin secara efektif. Insulin bertindak
sebagai antioksidan poten. Tujuan dari studi ini adalah sebagai kunci yang memungkinkan sel-sel tubuh
untuk melakukan kajian pustaka (literature review) mengambil glukosa dan menggunakannya sebagai
mengenai potensi terapeutik geraniin dari ekstrak kulit energi (International Diabetes Federation, 2013).
rambutan (Nephelium lappaceum) sebagai salah satu Orang dengan DM tipe 1 merupakan hasil
modalitas terapi pasien DM tipe 2 melalui aktivitasnya dari proses autoimun dengan onset yang sangat
sebagai antioksidan sehingga dapat menurunkan mendadak, membutuhkan terapi insulin untuk
komplikasi hiperglikemia pada organ tubuh pasien DM bertahan hidup. Sebaliknya pada DM tipe 2 dapat
tipe 2 dan terjadi perbaikan kualitas hidup serta tidak diketahui dan terdiagnosis selama beberapa
penurunan angka mortalitas pasien DM tipe 2. tahun. Diabetes gestasional adalah diabetes yang
terjadi selama kehamilan dapat menjadi resiko
METODE kesehatan yang serius pada ibu dan janinnya dan
meningkatkan resiko berkembangnya DM tipe 2
Strategi pencarian studi berbahasa Inggris dikemudian hari (International Diabetes Federation,
yang relevan dengan topik dilakukan dengan 2013). Diperkirakan 366 juta orang menderita DM
menggunakan data base Cochrane Library, Google pada tahun 2011, pada tahun 2030 hal ini akan
Scholar, Medline dan PubMed, dibatasi dari Januari meningkat menjadi 552 juta. Jumlah penderita DM
tahun 2006 sampai Agustus 2016. Keyword yang tipe 2 meningkat di setiap negara dengan 80% dari
digunakan adalah "geraniin and diabetes", "rambu- penderita DM yang hidup di negara-negara
tan peel extract and diabetes,"geraniin rambutan peel berpenghasilan rendah dan menengah. Diabetes
extract", "rambutan and antihyperglycemia", "anti- Melitus menyebabkan 4,6 juta kematian pada tahun
oxidant rambutan". Artikel fulltext dan abstrak di-re- 2011. Diperkirakan 439.000.000 orang akan
view untuk memilih studi yang sesuai dengan kriteria. menderita DM tipe 2 pada tahun 2030. Kejadian DM
Kriteria inklusi dalam kajian ini adalah geraniin ram- tipe 2 bervariasi secara substansial dari satu wilayah
butan sebagai antihiperglikemik, rambutan sebagai geografis ke yang lain, sebagai akibat dari faktor
antioksidan, geraniin dari ekstrak kulit rambutan lingkungan dan resiko gaya hidup. Diperkirakan
sebagai antidiabetes pada DM tipe 2, baik berupa studi bahwa prevalensi DM pada orang dewasa dari jenis
in vitro, in vivo maupun uji klinis pada DM tipe 2 DM tipe 2 akan meningkat dalam dua dekade
dan komplikasinya. Pencarian menggunakan keyword berikutnya dan banyak dari kenaikan tersebut akan
di atas diperoleh 17 artikel yang sesuai dengan kriteria terjadi di negara berkembang di mana sebagian besar
inklusi. Artikel yang digunakan sebagai sampel pasien yang berusia antara 45 dan 64 tahun (Olokoba
selanjutnya diidentifikasi dan disajikan dalam tabel et al, 2012).
2. Dari 17 artikel tersebut, artikel yang membahas Diabetes melitus tipe 2 disebabkan oleh
potensi ekstrak kulit rambutan sebagi antioksidan kombinasi lingkungan dan faktor genetik yang terkait
sebanyak 9 artikel, membuktikan potensi ekstrak kulit dengan gangguan sekresi insulin dan resistensi insu-
rambutan sebagai antioksidan dan antihiperglikemia lin. Faktor-faktor seperti obesitas, makan yang
sebanyak 6 artikel dan 2 artikel membuktikan efek berlebihan, kurang olahraga, stres, serta penuaan. Hal
ektrak kulit rambutan sebagai antihiperglikemia. ini biasanya karena penyakit multifaktorial yang
melibatkan beberapa gen dan faktor lingkungan untuk
HASIL berbagai taraf. Jumlah pasien diabetes yang meningkat
pesat mencerminkan perubahan gaya hidup. Baru-
Diabetes Melitus baru ini, sebuah Genomewide Association Study
Diabetes melitus adalah gangguan (GWAS) telah mengidentifikasi terdapat mutasi pada
metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia yang gen KCNQ1 terkait kelainan sekresi insulin yang
berhubungan dengan abnormalitas metabolisme berhubungan dengan patogenesis diabetes pada
karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh kelompok etnis Asia (Kaku, 2010).
penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas Sekitar 25% pasien dengan DM tipe 2 telah
Kajian Pustaka: Aplikasi Terapeutik Geraniin Dari 123

memiliki komplikasi mikrovaskuler di saat diagnosis beta (Mitchell et al, 2008). Sebagai contoh, semua
yang menunjukkan bahwa pasien telah memiliki individu kelebihan berat badan memiliki resistensi in-
penyakit ini selama lebih dari 5 tahun pada saat diag- sulin, tetapi diabetes hanya berkembang pada mereka
nosis. Hal ini masih berdasarkan pada pedoman yang tidak dapat meningkatkan sekresi insulin yang
American Diabetic Association (ADA) tahun 1997 cukup untuk mengimbangi resistensi insulinnya
atau World Health Organization (WHO) National (Medscape, 2014).
diabetic group criteria tahun 2006, yang dibuat untuk Resistensi insulin merupakan keadaan
pembacaan tunggal naiknya glukosa dengan gejala berkurangnya kemampuan jaringan perifer untuk
(poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat merespons hormon insulin. Sejumlah penelitian
badan) dan nilai yang meningkat baik glukosa plasma fungsional pada orang-orang dengan resistensi insu-
puasa atau fasting plasma glucose (FPG) >=7,0 lin memperlihatkan sejumlah kelainan kuantitatif dan
mmol/L (126 mg/dL) ataupun dengan tes toleransi kualitatif pada lintasan penyampaian sinyal insulin
glukosa oral (TTGO), dua jam setelah dosis oral yang meliputi penurunan jumlah reseptor insulin,
glukosa plasma dengan kadar >=11,1 mmol/L (200 penurunan fosforilasi reseptor insulin serta aktivitas
mg/dL). Pada tahun 1997 rekomendasi ADA untuk tirosin kinase, dan berkurangnya kadar zat-zat antara
diagnosis DM fokus pada FPG, sementara WHO yang aktif dalam lintasan penyampaian sinyal insu-
berfokus pada oral glucose tolerence test (OGTT). lin. Resistensi insulin diakui sebagai fenomena yang
Hemoglobin terglikasi (HbA1c) dan fruktosamin juga kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor genetik
masih berguna untuk menentukan kontrol gula darah serta lingkungan. Sebagian besar faktor genetik yang
dari waktu ke waktu. Pada bulan Juli 2009, Interna- berkaitan dengan resistensi insulin masih menjadi
tional Expert Committee (IEC) merekomendasikan misteri karena mutasi pada reseptor insulin itu sendiri
kriteria diagnostik tambahan hasil HbA1c >=6,5% sangat sedikit menyebabkan seseorang mengidap DM
untuk DM. Komite ini menyarankan bahwa tipe 2 (Mitchell et al, 2008).
penggunaan istilah pra-diabetes dapat dihapus tetapi Pada individual yang mengalami resisten in-
mengidentifikasi berbagai tingkat HbA1c >=6,0% dan sulin terjadi gangguan pada kadar IRS-1 yang
<6,5% untuk mengidentifikasi mereka yang berisiko menyebabkan menurunnya transpor glukosa atau
tinggi berkembang DM (Olokoba, 2012). fosforilasi atau metabolisme dan gangguan aktivasi
Diabetes melitus tipe 2 atau Non-Isulin De- sintase nitrit oksida dan fungsi endotel. Meningkatnya
pendent Diabetes Mellitus (NIDDM) terjadi pada intramioselular lemak dan jumlah metabolit
90% dari semua kasus diabetes dan biasanya ditandai asamlemak dan disfungsi mitokondrial juga terdapat
dengan resistensi insulin perifer dan defisiensi insulin pada otot skeletal pada individu dengan resistensi in-
relatif oleh sel beta pankreas. Resistensi insulin sulin (Abdul-Ghani dan DeFronzo, 2010). Disfungsi
dikaitkan dengan peningkatan kadar asam lemak bebas sel beta bermanifestasi sebagai sekresi insulin yang
dan sitokin pro-inflamasi dalam plasma, menyebabkan tidak cukup dalam menghadapi resistensi insulin dan
penurunan transpor glukosa ke dalam sel otot, hiperglikemia. Disfungsi sel beta bersifat kualitatif
meningkatnya produksi glukosa hepatik dan (hilangnya pola sekresi insulin normal) serta
peningkatan pemecahan lemak. Peran kelebihan pelemahan fase pertama sekresi insulin cepat yang
glukagon tidak dapat dikesampingkan, pada DM tipe dipicu oleh peningkatan glukosa plasma, ataupun
2 terjadi parakrinopati pada pulau Langerhans dimana bersifat kuantitatif (berkurangnya massa sel beta,
hubungan timbal balik antara sel alfa yang mensekresi degenerasi pulau Langerhans, dan pengendapan
glukagon dan sel beta tidak mensekresi insulin, amiloid dalam pulau Langerhans) (Mitchell et al,
menyebabkan hiperglukagonemia (Abdul Ghani et al, 2008). Kerusakan sel beta dapat diakibatkan oleh
2010). inflamasi yang diinduksi sitokin, obesitas dan resistensi
Diabetes melitus tipe 2 sejauh ini merupakan insulin, dan juga berlebihnya konsumsi lemak jenuh
tipe yang lebih sering ditemukan dengan peranan dan asam lemak bebas. Penurunan secara progresif
kerentanan genetik yang lebih besar lagi. Penyakit fungsi sel beta menyebabkan kepayahan sel beta yang
tersebut tampaknya terjadi karena sekumpulan cacat mendahului kematian sel beta. Hilangnya massa sel
genetik yang masing-masing menimbulkan risiko beta dan fungsinya menyebabkan berkembangnya baik
predisposisinya sendiri dan dimodifikasi oleh faktor- DM tipe 1 dan tipe 2 (Cerf, 2013).
faktor lingkungan. Berbeda dengan tipe 1, pada DM Gangguan sekresi insulin umumnya progresif
tipe 2 tidak ada bukti yang menunjukkan dasar dan perkembangannya melibatkan toksisitas glukosa
autoimun. Dua defek metabolik utama yang menandai dan lipotoksisitas. Perkembangan pada kerusakan
DM tipe 2 adalah resistensi insulin dan disfungsi sel- fungsi sel pankreas sangat mempengaruhi jangka
124 NurseLine Journal Vol. 1 No. 1 Mei 2016: 120-138

Gambar 1. Struktur kimia geraniin (Sumber: Ling et al, 2011)

panjang kontrol glukosa darah. Sementara pasien kelompok elagitanin yang menjadi komponen utama
dalam tahap awal setelah onset penyakit menunjukkan pada ekstrak kulit rambutan (Perera et al, 2012).
peningkatan glukosa darah posprandial sebagai hasil Geraniin sebagai senyawa kimia telah lama
dari peningkatan resistensi insulin dan penurunan digunakan di Jepang sebagai obat herbal tradisional
sekresi fase awal, berkembanganya kerusakan fungsi (traditional Japanese medicine) (Hatano et al, 2012).
sel pankreas kemudian menyebabkan peningkatan Konsentrasi geraniin tinggi di bagian kulit dan biji
glukosa darah yang permanen (Kaku, 2010). rambutan, tetapi pada bijinya tidak tersedia sumber
antioksidan, sedangkan di kulit menunjukkan potensi
Geraniin dari Ekstrak Kulit Rambutan (Nephelium sebagai antioksidan kuat, sehingga penelitian lebih
lappaceum) dikembangkan pada bagian kulit (Thitilertdecha et al,
Rambutan dengan nama latin Nephelium 2010). Ekstrak kulit rambutan (N. lappaceum)
lappaceum (N. lappaceum) merupakan jenis tanaman diketahui memiliki sitotoksisitas yang rendah terhadap
yang banyak ditemukan di daerah Asia Tenggara sel manusia dan tikus, memiliki kemampuan sebagai
seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina antioksidan kuat, dan aktivitas free radical scaveng-
(Menzel, 2003). Bagian dari rambutan yang dapat ing (Manaharan et al, 2012; Ling et al, 2012),
dikonsumsi dan memiliki rasa manis adalah daging antihiperglikemia dan anti infeksi (Bhat and Al-daihan,
buahnya sedangkan bagian kulit dan bijinya dibuang. 2014). Dari beberapa penelitian telah membuktikan
Namun di beberapa negara telah dimanfaatkan sebagai geraniin memiliki kemampuan sebagai antioksidan
sumber antioksidan alamiah dan dijadikan sebagai tinggi dan kapasitas scavenging terhadap NO juga
komponen bioaktif dalam makanan, obat, kosmetik, tinggi, sehingga dapat dimungkinkan menjadi senyawa
dan fungsinya tersebut dikaitkan dengan kandungan potensial untuk mencegah terjadinya kanker
metabolit aktifnya yaitu geraniin (Gambar 1) (Wongnoppavich, 2009). Kemampuannya sebagai free
Kajian Pustaka: Aplikasi Terapeutik Geraniin Dari 125

Gambar 2. Kromatogram HPLC dari ekstrak metanol kulit N. lappaceum. 1. Ellagic acid; 2. Corilagin; 3.
Geraniin (Sumber: Thitilertdecha et al, 2010)

radical scavenging menunjukkan bahwa geraniin Dengan menggunakan ultrasound-assisted extraction


dapat bereaksi dengan radikal bebas, menurunkan (UAE) yang merupakan metode ekstraksi ideal yang
jumlah radikal bebas yang dapat menginduksi mampu menghasilkan jumlah besar komponen bioaktif
kerusakan sel, dan melindungi sel dari efek tidak dengan waktu ekstraksi yang pendek, didapatkan hasil
lagsung radikal bebas yang dihasilkan oleh radiasi bahwa dalam kulit rambutan terutama berisi senyawa
pengion serta berpotensi sebagai zat pencegah kanker fenolik dibandingkan dengan total antosianin dan fla-
(Perera, 2012). Juga ditemukan bukti bahwa geraniin vonoid (Maran et al, 2013). Aktivitas free radical
efektif digunakan sebagai antiviral melawan virus-vi- scavenging pada ekstrak kulit rambutan (N.
rus seperti HIV-1, HSV dan hepatitis B (Yang et al, lappaceum) berhubungan dengan komponen
2007; Jassim et al, 2003). Aktivitas biologik lainnya fenoliknya (Thitilertdecha et al, 2011), tiga komponen
yaitu sebagai antihipertensi (Lin et al, 2008), fenolik utama yaitu geraniin, corilagin dan ellagic
melindungi sel hati (Nakanishi et al, 1999), anti-ulkus, acid (Gambar 3). Geraniin merupakan senyawa
menstimulasi fibroblas dan keratinosit pada lapisan metabolit utama dalam rambutan merupakan kristal
dermal kulit dan memiliki aktivitas antihiperglikemik tanin dengan astringen rendah pada lidah manusia dan
secara in vitro (Palanisamy et al, 2011a). Penelitian memiliki kemampuan poten untuk berikatan dengan
secara in vivo membuktikan bahwa geraniin memiliki protein (Perera et al, 2012).
efek menghambat perkembangan tumor dan Mengetahui potensi geraniin yang besar dan
dimetabolisme dengan aman pada tikus untuk untuk medapatkan pengetahuan yang lengkap
menghasilkan asam galat, asam elagik, dan corilagin mengenai potensinya dalam industri termasuk dalam
(Ito et al, 2008). bidang kesehatan, dibutuhkan geraniin dalam jumlah
besar dan dengan kemurnian yang tinggi mencapai
Karakteristik Biokimiawi dan Farmakokinetik >90%. Geraniin yang dipurifikasi dari jenis
Geraniin dari Ekstrak Kulit Rambutan (Nephelium Phyllanthus telah tersedia komersial dengan harga
lappaceum) mahal (Perera, 2012). Oleh karena itu dikembangkan
Geraniin dengan rumus kimia C41H28O27 metode isolasi dan pemurnian geraniin dalam skala
adalah kelompok elagitanin yang menjadi komponen besar dari ekstrak kulit rambutan dengan
utama pada ekstrak kulit rambutan, kadarnya sekitar menggunakan kromatografi reverse-phase C18
37,9 mg/g dari ekstrak kasar (crude extract) atau sebagai metode tunggal untuk menghasilkan geraniin
3,79% dari berat kering (Palanisamy et al, 2008). dalam jumlah banyak dan dengan kemurnian tinggi.
126 NurseLine Journal Vol. 1 No. 1 Mei 2016: 120-138

Gambar 3. Kromatogram HPLC dari ekstrak methanol kulit N. lappaceum. 1. Ellagic acid; 2. Corilagin; 3.
Geraniin (Sumber: Thitilertdecha et al, 2010)

Ekstraksi bisa menggunakan pelarut metanol atau air mortalitas 12,5%. Pada studi baik toksisitis akut
(Palanisamy et al, 2011a; Thitilertdecha & maupun sub kronik menunjukkan penurunan
Rakariyatham, 2011) atau menggunakan etanol (Ling signifikan kenaikan berat badan dan penurunan
et al, 2010; Palanisamy et al, 2011b; Subramaniam konsumsi makanan. Pada studi toksisitas akut, semua
et al, 2015). dosis ekstrak yang diberikan tidak mengubah kadar
Langkah dengan metode kristalisasi dapat serum trigliserida, SGOT dan SGPT. Pada studi
menghasilkan geraniin dengan kemurnian lebih tinggi toksisitas sub kronik, semua dosis menunjukkan
(mencapai 98%) jika dibandingkan dengan pemurnian penurunan signifikan kadar plasma trigliserida dan
tanpa kristalisasi. Geraniin terkristalisasi juga berisi blood urea nitrogen, tetapi tidak mengubah kadar
hanya satu senyawa pengotor yaitu corilagin, plasama SGOT dan SGPT. Kadar total kolesterol tidak
sedangkan geraniin tanpa tahap kristalisasi menujukkan perubahan signifikan di kedua studi. Hasil
menghasilkan corilagin, elaeocarpusin dan senyawa tersebut memberikan informasi dasar melalui
pengotor lainnya. Akan tetapi, jumlah geraniin yang penelitian in vivo potensi farmakologik ekstrak kulit
didapatkan lebih rendah dengan kristalisasi (Perera, rambutan (Thinkratok et al, 2013).
2012).
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh PEMBAHASAN
Thinkratok et al (2013) didapatkan bahwa pada tikus
jenis wistar jantan, bertujuan untuk menilai keamanan Keadaan hiperglikemia kronik menyebabkan
dan toksisitas ekstrak kulit rambutan (geraniin). terjadinya resistensi insulin sehingga memicu
Toksisitas akut dievaluasi dengan cara memberikan peningkatan kadar glukosa darah. Hiperglikemia dapat
dosis tunggal pada tikus (1000, 2000, 3000, 4000, memicu terjadinya stres oksidatif dengan
dan 5000 mg/kg) dan toksisitas subkronik diobservasi meningkatkan produksi reactive oxygen species
pada tikus yang diberikan secara per oral dengan (ROS). Hiperglikemia menyebabkan autooksidasi
ekstrak kulit rambutan (geraniin) sebanyak masing- glukosa, glikasi protein, dan aktivasi jalur metabolisme
masing (500, 1000, dan 2000 mg/kg) setiap hari poliol yang selanjutnya mempercepat pembentukan
selama 30 hari. Pada studi toksisitas akut, LD50 senyawa oksigen reaktif. Pembentukan senyawa
didapatkan lebih dari 1000 mg/kg/hari ekstrak kulit oksigen reaktif tersebut dapat meningkatkan
rambutan. Pada dosis 2000 mg/kg/hari, tingkat modifikasi lipid, DNA, dan protein pada berbagai
Kajian Pustaka: Aplikasi Terapeutik Geraniin Dari 127

Gambar 4. Proses hiperglikemia pada DM dan komplikasinya (Sumber: Wahyuni, 2011)

jaringan (Ueno et al, 2002). Modifikasi molekuler pada Beberapa penelitian terdahulu membuktikan bahwa
berbagai jaringan tersebut mengakibatkan antioksidan fenol teh hijau mampu mengurangi stres
ketidakseimbangan antara antioksidan protektif oksidatif dengan cara mencegah terjadinya reaksi
(pertahanan antioksidan) dan peningkatan produksi berantai pengubahan superoksida menjadi hidrogen
radikal bebas. Hal itu merupakan awal kerusakan superoksida dengan mendonorkan atom hidrogen dari
oksidatif yang dikenal sebagai stres oksidatif kelompok aromatik hidroksil (-OH) fenol untuk
(Setiawan dan Suhartono, 2005). Peran fenol sebagai mengikat radikal bebas dan membuangnya dari dalam
antioksidan diduga mampu melindungi sel beta tubuh melalui sistem ekskresi (Sabu et al, 2002). Stres
pankreas dari efek toksik radikal bebas yang oksidatif secara langsung mempengaruhi dinding
diproduksi di bawah kondisi hiperglikemia kronis. vaskular, sehingga berperan penting dalam
Antioksidan fenol dalam ekstrak etanol kulit buah ram- patofisiologi terjadinya komplikasi DM tipe 2.
butan berperan dalam menurunkan kadar glukosa Peningkatan suplai antioksidan yang cukup akan
darah dengan cara mencegah terjadinya oksidasi yang membantu pencegahan komplikasi klinis diabetes
berlebihan sehingga kerusakan pada sel beta pankreas melitus.
dapat dicegah dan menjaga kandungan insulin di Penelitian terkini menunjukkan bahwa
dalamnya. Antioksidan adalah substansi yang hiperglikemia merangsang pelepasan superoksida (O2-
diperlukan tubuh untuk menetralisir radikal bebas dan ) di tingkat mitokondria yang merupakan pemicu awal
mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal timbulnya stres oksidatif pada penderita DM dengan
bebas terhadap sel normal, protein dan lemak. mengaktifkan nuclear factor kappa B cells (NF-KB),
128 NurseLine Journal Vol. 1 No. 1 Mei 2016: 120-138

p38 mitogen-activated protein kinase (MAPK), jalur (Palanisamy et al, 2008; Ling et al, 2010b). Ekstrak
poliol (sorbitol), heksosamin, protein kinase C (PKC) etanol yang berasal dari kulit rambutan (Nephelium
dan advanced glicosilation product (AGEs) (gambar lappaceum) terbukti memiliki aktivitas antioksidan
2). Peningkatan PKC dan AGEs menyebabkan umpan yang tinggi (Palanisamy et al, 2008; Ling et al, 2010a).
balik positif sintesis ROS dan reactive nitrogen spe- Diketahui bahwa geraniin merupakan komponen
cies (RNS) yang akan menimbulkan kelainan vaskuler bioaktif utama dan memiliki aktivitas sebagai free
pada DM (Ueno et al, 2002). radical scavenging, sehingga dinyatakan sebagai
Sumber penyebab stres oksidatif pada antioksidan poten (Palanisamy et al, 2011a;
penderita DM dapat melalui jalur nonenzimatis, Thitilertdecha et al, 2010; Ling e t al, 2010b; Sun et
enzimatis dan jalur mitokondria. Sumber enzimatis al, 2012).
dari stres oksidatif berasal dari enzimatis glukosa. Pada penelitian Manaharan et al (2012) yang
Glukosa dapat mengalami autooksidasi dan radikal meneliti sejumlah 14 ekstrak tanaman, salah satunya
OH. Selain itu, glukosa juga bereaksi dengan protein adalah Nephelium lappaceum. Penelitian tersebut
nonenzimatik yang menghasilkan produk Amadori menunjukkan bahwa salah satu pendekatan terapi
yang diikuti pembentukan AGEs. Jalur poliol pada untuk menurunkan hiperglikemia pada post prandial
hiperglikemia juga menghasilkan radikal O2-. Adanya pada diabetes melitus adalah dengan cara
proses autooksidasi pada hiperglikemia dan reaksi memperlambat absorpsi glukosa melalui hambatan
glikasi akan memicu pembentukan radikal bebas terhadap enzim penghidrolisis karbohidrat yaitu alfa-
khususnya radikal superoksida dan hidroksi peroksida glucosidase dan alfa-amylase yang terdapat pada
melalui reaksi Haber-Weis dan Fenton akan saluran pencernaan. Pada penelitian tersebut selain
membentuk radikal hidroksil. Radikal bebas yang meneliti kemampuan antioksidan (DPPH radical scav-
terbentuk dapat merusak membran sel menjadi enging activity), aktivitas antihiperglikemik (alfa-glu-
peroksidasi lipid atau MDA (malondialdehid) (Ueno cosidase dan alfa-amylase inhibitor), dan total fenolik
et al, 2002). yang terkandung dalam ekstrak, juga meneliti atau
Implikasi dari stres oksidatif pada patogenesis menilai korelasi antara kemampuannya sebagai
diabetes melitus kemungkinan diduga bukan hanya antioksidan dan aktivitasnya sebagai antihiperglikemik
akibat generasi radikal bebas oksigen akan tetapi juga melalui hambatan terhadap alfa-glucosidase dan alfa-
oleh karena akibat glikosilasi protein nonenzimatik, amylase. Hal yang menarik dari penelitian tersebut
autooksidasi glukosa, gangguan metabolisme adalah bahwa ekstrak-ekstrak yang diteliti memiliki
glutation, perubahan pada enzim antioksidan, senyawa aktivitas yang sebanding dan lebih tinggi daripada
peroksidasi lipid, dan penurunan asam askorbat. antihiperglikemik komersial seperti acarbose dan
Reaksi oksidasi seringkali menyebabkan kerusakan ekstrak biji anggur komersial (Manaharan et al, 2012).
oksidatif. Akibatnya terjadi kerusakan atau kematian Di antara ekstrak tanaman yang diteliti bahwa
sel. Senyawa radikal bebas yang ada mengoksidasi Nephelium lappaceum memiliki aktivitas inhibitor
dan menyerang komponen lipid membran sel. Namun, alfa-glucosidase dan alfa-amylase tertinggi setelah
perlu dipahami bahwa reaksi oksidasi tidak hanya Peltophorum pterocarpum. Peltophorum
menyerang komponen-komponen lipid melainkan juga pterocarpum (daun, kulit, dan bunganya), Nephelium
menyerang komponen penyusun sel-sel lainnya antara lappaceum (kulit dan daunnya) dan Syzygium aqueum
lain seperti protein, lipoprotein, maupun DNA (daunnya) menunjukkan kemampuan yang menonjol
(Wahyuni, 2011). sebagai antioksidan dan inhibitor alfa-glucosidase dan
alfa-amylase yang merupakan inhibitor yang lebih baik
Efek Geraniin sebagai Antioksidan dibanding dengan Garcinia mangostana (kulitnya),
Antioksidan merupakan zat yang melindungi sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut secara
bahan kimia lainnya di dalam tubuh terhadap in vivo mengenai hal tersebut (Manaharan et al, 2012).
kerusakan-kerusakan reaksi oksidasi dengan cara Hasil penelitian yang dilakukan oleh Manaharan
bereaksi dengan radikal bebas dan reactive oxygen menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang sangat
species (ROS), sehingga dapat menghambat proses kuat antara kemampuan ekstrak-ekstrak tersebut
oksidasi (Halliwell et al, 1995). Ekstrak kulit rambu- dalam menghambat alfa-glucosidase dengan
tan (Nephelium lappaceum) mengandung fenolik to- kemampuannya sebagai antioksidan (0,9734) dan
tal yang tinggi dan kapasitas antioksidan yang lebih korelasi yang sangat kuat antara kemampuan ekstrak-
tinggi jika dibandingkan dengan antioksidan alami ekstrak tersebut sebagai inhibitor alfa-glucosidase
lainnya yang telah kita kenal sebelumnya seperti vita- dengan kemampuannya sebagai antioksidan (0,9469)
min C, alfa-tocopherol, biji anggur, dan teh hijau (Manaharan et al, 2012).
Kajian Pustaka: Aplikasi Terapeutik Geraniin Dari 129

Efek Geraniin sebagai Antidiabetes melalui


Akti`vitasnya Sebagai Antioksidan
Penelitian mengenai geraniin menunjukkan
bahwa senyawa ini memiliki kemampuan sebagai
antioksidan tinggi dan kapasitas scavenging terhadap
NO juga tinggi. Kemampuannya sebagai free radical
scavenging menunjukkan bahwa geraniin dapat
bereaksi dengan radikal bebas, menurunkan jumlah
radikal bebas yang dapat menginduksi kerusakan sel,
dan melindungi sel dari efek tidak lagsung radikal
bebas yang dihasilkan oleh radiasi pengion
(Palanisamy et al, 2008). Penambahan geraniin pada
media kultur memberikan efek sitoprotektif melawan
(A)
kerusakan yang diinduksi oleh peroxynitrite genera-
tor 3-morpholinosydnonomine (SIN-1) dan peroxyl
radical generator 2,2'-azobis (2-amidinopropane)
dihydrochloride (AAPH). Geraniin menunjukkan
aktivitas antioksidan poten melawan ROS seperti ni-
tric oxide (NO), superoxide anion (O2-) dan
peroxynitrite yang disintesis secara kimia (Ling et al,
2011). Umumnya aktivitas radical scavenging
polifenol bergantung pada struktur molekulnya.
Adanya struktur katekol (grup orthodihidroxyl),
diketahui sebagai target radikal bebas. Geraniin terdiri
atas grup galloyl yang merupakan struktur hidroksil
(B) tambahan yang penting dihubungkan dengan
kemampuan sebagai scavenging NO. Peningkatan
jumlah grup galloyl memperkuat kapasitas
antioksidan. Dari penelitian tersebut menunjukkan
bahwa geraniin sebagai komponen utama pada kulit
Nephelium lappaceum juga memiliki efikasi paling
tinggi sebagai antioksidan. Sedangkan corilagin, juga
memiliki grup galloyl dan menunjukkan aktivitas
antioksidan lebih poten dibandingkan ellagic acid
(Ling et al, 2011).
Hasil penelitian Palanisamy et al (2011)
melaporkan bahwa kemampuan geraniin sebagai free
radical scavenging dan aktivitas hipoglikemik secara
in vitro. Efek potensiasi didapatkan dari kemampuan
geraniin sebagai antioksidan poten dan kapasitas scav-
enging terhadap NO yang juga tinggi, serta aktivitas
antioksidan poten geraniin melawan ROS seperti ni-
tric oxide (NO), superoxide anion (O2-) dan
peroxynitrite yang disintesis secara kimia (Ling et al,
2011). Sedangkan corilagin, juga menunjukkan
aktivitas antioksidan lebih poten dibandingkan ellagic
acid (Ling et al, 2011).
(C)
Efek antihiperglikemik geraniin selain
melalui kemampuannya sebagai antioksidan poten,
Gambar 5. Struktur kimia senyawa utama pada kulit juga sebagai inhibitor poten enzim penghidrolisis
N. lappaceum: A. Ellagic acid, B. karbohidrat (alfa-glucosidase dan alfa-amylase)
Corilagin, C. Geraniin (Sumber: Ling et melebihi akarbose (carbohydrate hydrolysis inhibitor)
al, 2011) sebagai kontrol positif. Geraniin lebih efektif
130 NurseLine Journal Vol. 1 No. 1 Mei 2016: 120-138

Tabel 1. Artikel yang digunakan sebagai sampel

No. Penulis, th Perlakuan Kontrol Sampel (n) Metode Random Hasil


Yang diukur Temuan
1. Ling et al, In vitro study Grape seed N. Antioxidant assays:
2010(a) extract lappaceum 1. DPPH (1,1- Free radical Perlakuan > kontrol
peel extracts diphenyl-2- scavenging activity
picrylhydrazyl) (IC50)
2. Galvinoxyl Perlakuan > kontrol
3. ABTS (2,2-azino- Perlakuan > kontrol
bis-3-
ethylbenzothiazol
ine 6-sulfonate)
free radicals
4. Lipid Perlakuan > kontrol
peroxidation
2. Sun et al, In vitro study Vc (ascorbic Free 1. Reducing power EC50 Perlakuan > Vc
2012 acid). phenolic assay
BHT (Butylated compounds 2. 1, 1-diphenyl-2- IC50 Perlakuan > BHT
hydroxyl of peel of picrylhydrazyl
toluene). rambutan radicals (DPPH)-
scavenging
activity assay
Vc 3. Hydroxyl radical IC50 Perlakuan > Vc
(OH)-scavenging
activity assay
BHT 4. Lipid IC50 Perlakuan < BHT
peroxidation
inhibition ability
assay
Vc 5. Nitrite- IC50 Perlakuan < Vc
scavenging
ability assay
Kajian Pustaka: Aplikasi Terapeutik Geraniin Dari 131

3. Ling et al, In vitro study 1. Commercial N. Scavenging activity IC50 Perlakuan > kontrol
2010(b) antioxidant lappaceum on DPPH (1,1-
on the peel extracts diphenyl-2-picrylh
market ydrazyl) free radicals
extracted
from
Phyllanthus
emblica
2. L-ascorbic
acid (vitamin
C)
3. Green tea
4. Grape seed
4. Palanisamy In vitro study Acarbose Rambutan 1. The carbohydrate IC50 Perlakuan > kontrol
et al, 2011 peel extract hydrolyzing
(a) enzymes
2. Alpha
glucosidase and
alpha amylase
inhibition
3. Advanced
glycation end-
products (AGE)
inhibition
5. Muhtadi et Ethnaolic Tikus diabetes 40 Male True experimental ya Kadar glukosa darah 1. Rambutan peel
al, 2015 extract diberi albino rats of with pre and post test extract
of rambutan glibenklamid Wistar menurunkan
peel in strain kadar glukosa
variant darah pada semua
concentration konsentrasi
2. Rambutan >
kontrol
132 NurseLine Journal Vol. 1 No. 1 Mei 2016: 120-138

6. Samuagam Peel extracts Ada Blood and Comparative study, ya 1. Blood enzyme Perlakuan > kontrol
et al, 2015 of rambutan liver from true experimental marker levels
(Nephelium rats 2. Superoxide Perlakuan > kontrol,
lappaceum), experimental dismutase, Rambutan > ekstrak
mangosteen glutathione lainnya
(Garcinia reductase, catalase,
mangostana), and lipid
and langsat peroxidation levels
(Lansium
domesticum)
7. Thinkratok In vitro study Tidak ada Rambutan 1. DPPH (1,1- IC50 Menghambat, tetapi
et al, 2014 rind diphenyl-2- perlakuan < kontrol
extract picrylhydrazyl
radical) method
Acarbose 2. Alpha-Amylase IC50 Perlakuan > kontrol
Enzyme
3. Alpha- IC50 Perlakuan > kontrol
glucosidase
activity was
determined by
measuring
8. Widowati In vitro study Geraniin Rambutan 1. DPPH method IC50 Perlakuan > kontrol
et al,2015 peel extract 2. -glucosidase IC50 Perlakuan > kontrol
inhibitory activity
test
9. Nethaji et In vitro study Ascorbic acid Rambutan DPPH IC50 Perlakuan > kontrol
al, 2015 peel extract
10. Palanisamy In vitro study 1. Vitamin C Rambutan 1. Pro-oxidant Pro-oxidant Perlakuan < kontrol
et al, 2008 2. - peel extract capabilities capabilities
tocopherol 2. DPPH IC50 Perlakuan = kontrol
3. Grape seed
4. Green tea
Kajian Pustaka: Aplikasi Terapeutik Geraniin Dari 133

11. Thitilertdec In vitro study BHT Rambutan 1. A lipid IC50 Perlakuan > kontrol
ha et al, peel extract peroxidation
2008 inhibition assay
2. DPPH assay IC50 Perlakuan > kontrol
12. Khonkarn In vitro study BHT dan Rambutan 1. BTS assay (based 1. Trolox equivalent Perlakuan = BHT >
et al, 2010 Vitamin E peel extract on the antioxidant Vitamin E
decolorization of capacity (TEAC)
ABTS free value.
radical
2. FRAP assay 2. Equivalent Perlakuan > BHT
(based on the capacity (EC) dan Vitamin E
reduction of the
ferric ion)
13. Suhendi et Tikus diberi Tikus diabetes 25 tikus Kadar glukosa darah Ya Kadar glukosa darah Perlakuan > kontrol
al, 2015 dosis ekstrak diberi
kulit glibenklamid
rambutan
dengan
beberapa
konsentrasi
14. Manaharan In vitro study Acarbose and The 14 local 1. Alpha-amylase % inhibition and Perlakuan (ekstrak
et al, 2012 grape fruit plant parts and alpha- EC50 kulit rambutan) >
(rind, bark, glucosidase kontrol
leaf, seed, colorimetric
pod, and assays
flower) 2. The DPPH free EC50 Perlakuan (ekstrak
radicals kulit rambutan) >
scavenging kontrol
activity
134 NurseLine Journal Vol. 1 No. 1 Mei 2016: 120-138

15. Palanisamy In vitro study 1. Without Geraniin dan 1. Galvinoxyl and 1. IC50 1. Geraniin has
et al, 2011 control Ekstrak ABTS assay similar anti-
(b) etanol kulit oxidant activity
rambutan in both the assays
studied.
2. Vitamin C 2. Pro-oxidant assay 2. Pro-oxidant assay 2. Perlakuan <
and kontrol
Emblica
(a
commercial
anti-oxidant
with very
low pro-
oxidant
activity)
3. Acarbose 3.5 3. Alpha 3. IC50 3. Perlakuan >
mg/ml glucosidase kontrol
inhibitory activity
4. Acarbose 12 4. Alpha-amylase 4. IC50 4. Perlakuan >
lg/ml inhibitory activity kontrol
5. Quercetin 5. Aldose reductase 5. IC50 5. Geraniin > 40x
(AR) inhibitory dari kontrol
activity Ekstrak > 15x
kontrol
6. Green tea 6. Advanced 6. IC50 6. Perlakuan >
glycation end kontrol
products (AGE)
formation
inhibitory activity
16 Thitilertdec In vitro study Seed, peel and Seed, peel DPPH scavenger test IC50 Peel > seed and pulp
ha & (comparative pulp of and pulp of
Rakhariyat study) Rambutan Rambutan
am, 2011 extract extract
Kajian Pustaka: Aplikasi Terapeutik Geraniin Dari 135

17. Soeng et al, In vitro study Rambutan 1. DPPH scavenger IC50 IC50 rendah
2015 peel extract test
(methanol 2. Superoxide IC50 Fraksinasi air >
extract) Dismutase (SOD) ekstrak
test
3. -glucosidase IC50 High -glucosidase
inhibitor test inhibitor activity

mencegah poliol (aldol reductase inhibition) dan SIMPULAN


pembentukan hasil akhir dari glikasi lanjut
dibandingkan dengan quercetin, dan teh hijau, sebagai Pada kulit rambutan (N. lappaceum) geraniin
kontrol positif. Penelitian lainnya yang sejenis dengan merupakan senyawa fenolik utama yang memiliki
cara menilai kemampuan dari ekstrak kulit rambutan kemampuan potensial sebagai antioksidan dan
(Nephelium lappaceum) dalam menghambat enzim antihiperglikemik melalui hambatan terhadap alfa-glu-
alfa-glucosidase dan alfa-amylase jika dibandingkan cosidase dan alfa-amylase, mencegah poliol (aldol re-
dengan akarbose menunjukkan potensi ekstrak tersebut ductase inhibition) dan pembentukan hasil akhir dari
sebagai antihiperglikemia (Palanisamy et al, 2011a; glikasi lanjut (AGEs). Terdapat korelasi sangat kuat
Palanisamy et al, 2011b; Manaharan et al, 2012; antara kemampuan sebagai antioksidan dengan
Thinkratok et al, 2014; Soeng et al, 2015). Sehingga kemampuan dalam menghambat alfa-glucosidase dan
geraniin kemudian dinyatakan sebagai kandidat ideal alfa-amylase, sehingga geraniin dan juga ekstrak kulit
untuk manajemen penatalaksanaan hiperglikemia pada rambutan (N. lappaceum) dinyatakan sebagai
individu yang mengidap diabetes melitus (Palanisamy, kandidat ideal untuk manajemen hiperglikemia pada
2011). individu diabetes.
Namun di kemudian hari dapat dikembangkan
potensi yang berasal dari geraniin ekstrak kulit ram- SARAN
butan (Nephelium lappaceum) pada diabetes melitus
tipe 2 melalui mekanisme lainnya, salah satunya Pemanfaatan lebih luas kulit rambutan
melalui mekanisme inhibitor DPP-4. Dipeptidyl pep- (Nephelium lappaceum) sebagai solusi terapi bagi
tidase-4 (DPP-4) inhibitor memperbaiki kondisi pasien DM tipe 2.
hiperglikemik dengan cara menstabilkan kadar post- Uji lebih lanjut aktifitas geraniin sebagi terapi
prandial glukosa darah dengan cara meningkatkan DM tipe 2, dari berbagai mekanisme salah satunya
kadar GLP-1 dan GIP pada pasien dengan diabetes sebagai inhibitor DPP-4 untuk mendapatkan evidence
melitus tipe 2 dan telah disetujui dan direkomendasikan based medicine (EBM) sehingga penggunaan geraniin
sebagai target untuk pengobatan diabetes melitus tipe dapat semakin memberikan manfaat.
2 (Bak et al, 2011). Menghambat enzim DPP-IV Pengidentifikasian dosis yang aman dan tepat
adalah pilihan terapi alternatif, dimana hambatan pada dari penggunaan geraniin ekstrak kulit rambutan bagi
enzim tersebut akan menghasilkan peningkatan kadar pasien DM tipe 2.
sirkulasi biologis aktif GLP-1. DPP-IV inhibitor
secara oral berbeda dengan inkretin mimetik. Selain KEPUSTAKAAN
itu, DPP-IV inhibitor menghambat degradasi GIP, dan
peptide lainnya yang berpotensi terlibat dalam Abdul-Ghani, M.A., & DeFronzo R.A. 2010. Review
pengaturan homeostatis glukosa. DPP-IV inhibitor Article Pathogenesis of Insulin Resistance in
dapat menginduksi sekresi insulin, menurunkan Skeletal Muscle. Hindawi Publishing Corpo-
glukosa darah, menurunkan kadar HbA1c, ration Journal of Biomedicine and Biotech-
mengurangi apoptosis dan meningkatkan proliferasi nology. 1-19.
sel beta (Liu et al, 2014). Bak E-J., Park H-G., Lee C-H., Lee T-I., Woo G-H.,
136 NurseLine Journal Vol. 1 No. 1 Mei 2016: 120-138

Na Y-H., et al. 2011. Effects of novel chal- totoxicity of Selected Malaysian Plants. Mol-
cone derivatives on ?-glucosidase, dipeptidyl ecules. 15: 2135-2151.
peptidase-4, and adipocyte differentiation in Ling, L.T., Palanisamy, U.D., & Cheng, H.M. 2010b.
vitro. BMB reports. 44(6):410-414. Prooxidant/ Antioxidant Ratio (ProAntidex)
Bhat, R.S., & Al-daihan, S. 2014. Antimicrobial Ac- as A Better Index of Net Free Radical Scav-
tivity of Litchi chinensis and Nephelium enging Potential. Molecules. 15: 7884-7892.
lappaceum Aqueous Seed Extracts Against Ling, L.T., Saito, Y., Palanisamy, U.D., Cheng, H.M.,
Some Pathogenic Bacterial Strains. Journal & Noguchi, N. 2012. Cytoprotective Effects
of king Saud University-Science; 26: p. 79- of Geraniin Against Peroxynitrite- and
82. Peroxyl Radical- Induced Cell Death Via Free
Cerf, M.E. 2013. Review Article: Beta cell dysfunc- Radical Scavenging Activity. Food Chemis-
tion and insulin resistance. Frontiers in En- try. 132: p. 1899-1907.
docrinology. [Internet]. 2013 [cited 2015 Jun Liu, J., Huan, Y., Li, C., Liu, M., & Shen, Z. 2014.
28];4. Available from: http:// Establishment of a selective evaluation
journal.frontiersin.org/article/10.3389/ method for DPP4 inhibitors based on recom-
fendo.2013.00037/abstract. binant human DPP8 and DPP9 proteins. Acta
Diabetes UK Care. 2014. http://www.diabetes.org.uk/ Pharmaceutica Sinica B. 4(2):135-140.
Documents/About%20Us/Statistics/ Diabe- Manaharan, T., Palanisamy, U.D., & Ming, C.H.
tes-key-stats-guidelines-April2014.pdf. 2012. Tropical Plant Extracts as Potential
Halliwell, B., & Gutteridge, J.M.C. 1995. The defi- antihyperglycemic Agents. Molecule; 17: p.
nition and measurement of antioxidants in 5915-5923.
biological systems. Free Radical Biol. Med. Menzel, C.M. 2003. Fruits of tropical climates, fruits
1995, 18, 125-126. of the sapindaceae, in: B. Caballero, P.
Hatano, T. 2012. Herbal Drugs in Traditional Japa- Finglas, L. Trugo (Eds.), Encyclopedia of
nese Medicine. Alternative Medicine, Prof. Food Sciences and Nutrition, Second ed.,
Hiroshi Sakagami (Ed.), InTech. Elsevier Science Ltd., Oxford, p. 2786-2790.
International Diabetes Federation. 2013. Diabetes at- Mitchell, R., Kumar, V., Fausto, N., Abbas, A.K., &
las, sixth edition: www.idf.org/diabetesatlas. Aster, J. 2008. Pocket Companion to Robbins
Ito, H., Iguchi, A., & Hatano, T. 2008. Identification and Cotran Pathologic Basis of Disease.
of urinary and intestinal bacterial metabolites Copyright by Elsevier (Singapore).
of ellagitannin geraniin in rats, J. Agric. Food Muhtadi, M., Primarianti, A.U., & Sujono, T.A. 2015.
Chem. 56:393-400. Antidiabetic Activity of Durian (Durio
Jassim, S.A.A., & Naji, M.A. 2003. Novel antiviral zibethinus Murr.) and Rambutan (Nepelium
agents: a medicinal plant perspective, J.Appl. lappaceum L.) Fruit Peels in Alloxan Dia-
Microbiol. 95: 412-427. betic Rats. Procedia Food Science. 3: 255-
Kaku, K. 2010. Research and Reviews: Pathophysi- 261.
ology of Type 2 Diabetes and Its Treatment Muhtadi, M., Haryoto, H., Sujono, T.A., & Suhendi,
Policy. JMAJ. 53(1):41-46 A. 2016. Antidiabetic and
Khonkarn, R., Okonogi, S., Ampasavate, C., & Antihypercholesterolemia Activities of Ram-
Anuchapreeda, S. 2010. Investigation of Fruit butan (Nephelium lappaceum L.) and Durian
Peel Extract as Source for Compounds With (Durio zibethinus Murr.) Fruit Peel Extracts.
Antioxidant and Antiproliferative Activities Journal of Applied Pharmaceutical Science.
Against Human Cell Lines. Food and Chemi- 6 (04): 190-194.
cal Toxicology. 48: 2122-2129. National Instititues of Health Publication. 2014.
Lin, S.I., Wang, C.C., Lu, Y.L., Wu, W.C., & Hou, www.diabetes.niddk.nih.gov. Sukandar, E.Y.,
W.C. 2008. Antioxidant, antisemicarbazide- Andrajati, R., Sigit, J.I., Adnyana, I.K.,
sensitive amine oxidase, and anti-hyperten- Setiadi, A.A.P., Kusnandar. 2009. ISO
sive activities of geraniin isolated from Farmakoterapi. PT. ISFI, Jakarta Barat.
Phyllanthus urinaria, Food Chem. Toxicol. Nakanishi, Y., Okuda, T., & Abe, H. 1999. Effects of
46: 2485-2492. geraniin on the liver in rats III. Correlation
Ling, L.T., Radhakrishnan, A.K., Subramaniam, T., between lipid accumulations and liver dam-
Cheng, H.M., & Palanisamy, U.D. 2010a. age in CC14-treated rats, Nat. Med. 53: 22-
Assessment of Antioxidant Capacity and Cy- 26.
Kajian Pustaka: Aplikasi Terapeutik Geraniin Dari 137

Nethaji, R., Thooyavan, G., Mullai, N.K., & Ashok, Activities of Extract and Fractions of Ram-
K. 2015. Phytochemical Profiling, Antioxi- butan Seeds (Nephelium lappaceum L.). Bio-
dant and Antimicrobial Activity of Methanol medical Engineering. 1(1): 13-17.
Extract in Rambutan Fruit (Nephelium Sun, L., Zang, H., & Yongliang, Z. 2012. Prepara-
lappaceum) Epicarp Against The Human tion of Free, Soluble Conjugate, and In-
Patogen. International Journal of Current In- soluble-Bound Phenolic Compounds from
novation Research. 1 (9): 201-206. Peels of Rambutan (Nephelium lappaceum)
Olokoba, A.B., Obateru, O.A., & Olokoba, L.B. 2012. and Evaluation of Antioxidant Activities in
Type 2 Diabetes Mellitus: A Review of Cur- vitro. Journal of Food Science. 77(2): 198-
rent Trends. Oman Med J. 27(4):269-273. 204.
Palanisamy, U.D., Ming, C.H., Masilamani, T., Thinkratok, a., Supkamonseni, N., & Srisawat, R.
Subramaniam, T., Teng, L.L., & 2014. Inhibitory Potential of The Rambutan
Radhakrishnan, A. 2008. Rind of the rambu- Rind Extract and Tannin Against Alpha-
tan, Nephelium lappaceum, a potential source Amyase and Alpha-Gucosidase Activities in
of natural antioxidants, Food Chem. 109: 54- vitro. International Conference on Food, Bio-
63. logical and Medical Science.
Palanisamy, U.D., Manaharan, T., Teng, L.L., Thitilertdecha, N., Teerawutgulrag, A., &
Radhakrishnan, A.K.C., Subramaniam, T., & Rakariyatham, N. 2008. Antioxidant and An-
Masilamani, T. 2011a. Rambutan Rind in The tibacterial Activities of Nephelium lappaceum
Management of Hyperglycemia. Food Re- L. Extracts. LWT-Food Science and Tech-
search International; 44: p. 2278-2282. nology; 41: p. 2029-2035.
Palanisamy, U.D., Ling, L., Manaharan, T., & Thitilertdecha, N., Teerawutgulrag, A., Kilburn, J.D.,
Appleton, D. 2011b. Rapid Isolation of & Rajakariyatham, N. 2010. Identification
Geraniin from Nephelium lappaceum Rind of major phenolic compounds from
Waste and Its Anti-hyperglycemic Activity. Nephelium lappaceum L. and their antioxi-
Food Chem; 127: p. 21-27. dant activities, Molecules. 15:1453-1465.
Perera, A., Appleton, D., Ying, L.H., Elendran, S., & Thitilertdecha, N., & Rakariyatham, M. 2011. Phe-
Palanisamy, U.D. 2012. Large Scale Purifi- nolic Content and Free Radical Scavenging
cation of Geraniin From Nephelium Activities in Rambutan during Fruit Matu-
lappaceum Rind Waste Using Reverse-Phase ration. Scientia Horticulturae; 129: p. 247-
Chromatography. Separation and Purification 252.
Technology: 98: p. 145-149. Ueno, Y., Kizaki, M., Nakagiri, R., Kamiya, T., Sumi,
Pusat Data & Informasi Persatuan Rumah Sakit H., & Osawa, T. 2002. Dietary gluthatione
Seluruh Indonesia. 2011. RI Ranking protects rats from diabetic nephropathy and
Keempat Jumlah Penderita Diabetes neuropathy. Journal of Nutrition.132: 897-
Terbanyak Dunia. www.pdpersi.co.id. 900.
Sabu, M.C., Smitha,K., & Ramadasan, K. 2002. World Health Organization. "About Diabetes. http://
Antidiabetic Activity of Green Tea Polyphe- www.who.int/diabetes/action_ online/basics/
nols and Their Role In Reducing Oxidative en/. Diakses pada tanggal 14 Juni 2015.
Stress In Experimental Diabetes. Journal of Wongnoppavich, A., Jaijoi, K., & Sireeratawong, S.
Ethnopharmacol. 83: 109-116. 2009. Triphala: the Thai traditional formula-
Samuagam, L., Sia, C.M., Akowuah, G.A., tion for cancer treatment, Songklanakarin J.
Okechukwu, P.N., & Yim, H.P. 2015. In Vivo Sci. Technol. 31:139-149.
Antioxidant Potentials of Rambutan, Man- Yang, C.M., Cheng, H.Y., Lin, T.C., Chiang, L.C., &
gosteen and Langsat Peel Extract and Effects Lin, C.C. 2007. The in vitro activity of
on Liver Enzymes in Experimental Rats. Food geraniin and 1,3,4,6-tetra-O-galloyl-b-D-glu-
Science Biotechnol. 24:191. cose isolated from Phyllanthus urinaria
Setiawan, B., & Suhartono, E. 2005. Stres Oksidatif against herpes simplex virus type 1 and type
dan Peran Antioksidan pada Diabetes 2 infection, J. Ethnopharmacol. 110 (2007)
Melitus. Majalah Kedokteran Indonesia. 55 555-558.
(2): 86-89. Wahyuni, E. 2011. Pengaruh Pemberian Folat
Soeng, S., Evacuasiany, E., Widowati, W., & Fauziah, Terhadap Kadar Homosistein Serum dan
N. 2015. Antioxidant and Hypoglycemic Malondialdehid Plasma Studi Eksperimental
138 NurseLine Journal Vol. 1 No. 1 Mei 2016: 120-138

pada Tikus Sprague Dawley yang Diinduksi


Streptozotocin. http://eprints.undip.ac.id/
29184/. diakses pada tanggal 25 April 2014
Widowati, W., Maesaroh, Fauziah, N., Erawijantari,
P.P., & Sandra, F. 2015. Free Radical Scav-
enging and ?/?-glucosidase Inhibitory Activi-
ties of Rambutan (Nephelium lappcaeu L.)
Peel Extract. The Indonesian Biomedical
Journal. 7 (3): 157-162.
World Health Organization. "About Diabetes. http://
www.who.int/diabetes/action_ online/basics/
en/. Diakses pada tanggal 14 Juni 2015.