Anda di halaman 1dari 2

Nama : Fajar Faozathul Khikmah

NIM : 14304241003
Kelas : Pendidikan Biologi Internasional 2014

RESUME METODE PENELITIAN BIOLOGI


TOPIK 5: PENELITIAN BIOLOGI MENGGUNAKAN DESAIN EKSPOSFAKTO,
PELAKSANAAN, BESERTA PELAPORANNYA DALAM POLA PROSPEKTIF

A. Tujuan
Mendeskripsikan prinsip penelitian biologi menggunakan desain eksposfakto, pelaksanaan,
beserta pelaporannya (pengolahan data, interpretasi, penyimpulan) dalam pola prospektif
secara sensus dan sampling

B. Pengertian dan Tujuan Penelitian Eksposfakto Prospektif


Penelitian eksposfakto termasuk dalam penelitian deskriptif, yang ditandai tidak adanya
manipulasi variabel bebas oleh peneliti. Suatu penelitian biologi dikategorikan sebagai
penelitian eks-pos-fakto karena faktanya diduga telah berubah akibat adanya ekshibisi
(exhibition) atau pertunjukan/paparan peristiwa yang menyolok yang dialami oleh populasi
organsime yang diduga dapat mempengaruhi kehidupannya, baik secara alami maupun
buatan.
Penelitian eksposfakto prospektif/proaktif merupakan studi eksposfakto dengan tujuan
ingin melihat apa yang akan terjadi ke depan setelah sekelompok subjek terekshibisi oleh
suatu keadaan tertentu yang lain dengan sebelumnya.
Penelitian eksposfakto disebut pula penelitian kausal komparatif karena tujuan utamanya
adalah ingin membandingkan apa yang terjadi pada variabel tergayut kelompok ketika
terekshibisi oleh variabel bebas. Caranya dengan membandingkan keadaan sebelum dan
sesudahnya ataupun dengan cara membandingkannya dengan kelompok yang tidak terkena
ekshibisi.

C. Macam Rancangan Penelitian Eksposfakto Prospektif


a. Pembandingan Kelompok antara Keadaan Sebelum dan Sesudah Terekshibisi
Syarat: suatu populasi dapat dibandingkan keadaan sebelum dan sesudah terekshibisi
adalah pada keadaan/fenomena yang statis (fenomena yang dari dulu hingga sekarang tetap
sama, dapat berbeda jika terkena ekshibisi).
Contoh: peneliti menyelidiki efek penggunaan topeng yang digigit oleh penari topeng
terhadap kemiringan gigi seri para penari. Dipastikan bahwa para penari memiliki rongga
gigi seri tegak, sehingga gigi seri akan tumbuh tegak (before exhibition). Setelah menari
selama 2 tahun, kemiringan gigi dilihat kembali (after exhibition). Lama waktu menari
mempengaruhi derajat kemiringan gigi seri.

b. Pembandingan Kelompok antara Case Group (mengalami ekshibisi) dan Control


Group (tidak mengalami ekshibisi)
Syarat: suatu populasi dapat dibandingkan antara kelompok yang terekshibisi (case group)
dan kelompok yang tidak terekshibisi (control group) adalah pada keadaan/fenomena yang
dinamis.
Contoh: peneliti menyelidiki banyaknya kejadian atau penyakit ISPA pada penduduk yang
tinggal di daerah sekitar tempat kebakaran hutan (sebagai case group) dan pada penduduk
yang tinggal jauh dari tempat kebakaran hutan (sebagai control group).

D. Pengambilan Data untuk Penelitian Eksposfakto Prospektif


Teknik analisis penelitian eksposfakto prospekstif didasarkan pada cara pengambilan datanya
adalah sebagai berikut.
a. Jenis penelitian eksposfakto prospektif dengan data kuantitatif, dilakukan dengan metode
sensus (jika anggota populasi terbatas), maka hasil analisis data hanya berlaku pada
tingkat populasi.
b. Jenis penelitian eksposfakto prospektif dengan data kuantitatif, dilakukan dengan metode
sampling tidak acak (nonrandom sampling), maka hasil analisis data hanya berlaku pada
tingkat sampel. Jika penelitian eksposfakto prospektif dilakukan dengan metode sampling
acak (random sampling), maka hasil analisis data berlaku pada tingkat populasi. Penelitian
eksposfakto prospektif dilakukan dengan sampling jika anggota populasi tidak terbatas,
sehingga perlu dibuat sample frame, yaitu anggota populasi yang akan diambil sampelnya.

E. Tantangan Penelitian Eksposfakto Prospektif


a. Waktu. Untuk melihat perubahan respon (pada before-after comparation) dan perbedaan
respon (pada case group-control group) membutuhkan waktu yang lama.
b. Unit penelitian ada di lapangan, sehingga tidak dapat didesain dengan mudah. Upaya
untuk mengatasinya adalah mencari kasus yang terjadi pada satu tempat. Misalnya
meneliti berat badan dan panjang badan bayi akibat pengaruh dari kesehatan ibu (sehat
dan mengidap penyakit tertentu) di Desa Bumireja, maka untuk mendapatkan data
kesehatan ibu dan berat badan serta panjang badan bayi dapat diperoleh dari Posyandu di
desa tersebut.
c. Fenomena belum tentu ada (tingkat visibilitas rendah). Misalnya: peneliti ingin
menyelidiki berat badan dan panjang badan bayi akibat dari asupan pemberian ASI dari
ibu, yaitu ASI eksklusif, susu formula, dan air tajin. Maka kemungkinan peneliti sulit
menemukan ibu yang hanya memberikan ASI eksklusif saja pada bayi, atau memberikan
susu formula saja pada bayi. Kemungkinan yang ditemukan adalah pemberian ASI
eksklusif dan susu formula untuk bayi.