Anda di halaman 1dari 7

69

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN LANJUT USIA DENGAN


DEMENSIA PADA HOME CARE

Kushariyadi

Program Studi Diploma III Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Bendungan Sutami 188A Malang 65145
e-mail: kushariadi@gmail.com blog: kushariadi.blogspot.com

ABSTRAK care in ready service of treatment home care.


That along with progressively continue age him,
bouncing and also efficiency of tardy physical
Perawatan klien lanjut usia (lansia) dianggap sebagai
until some storey levels, so that distigmatisasi
area berteknologi rendah, bukan salah satu area
elderly as underside in social group and special
praktik keperawatan bergengsi. Terdapat keraguan
requirement of them less recognize, so that treat-
bahwa klien lansia dengan demensia merupakan
ment of care home not maximal. This case study
kekhawatiran utama dalam penyediaan pelayanan
aim to to give treatment to elderly in the form of
asuhan keperawatan lanjut (home care). Bahwa
care home to maintain enableness and
seiring dengan semakin lanjutnya usia, mental serta
individualitas by using treatment process (study,
kecakapan fisik melambat sampai beberapa tingkat,
treatment diagnosa, plan, action, and evaluation)
sehingga lansia distigmatisasi sebagai bagian bawah
what isn't it to measure damage effect in ability to
dalam kelompok sosial dan kebutuhan khusus mereka
communicate, mobilization, and got mixed up with
kurang dikenali, sehingga perawatan home care tidak
social activity. Treatment action here in after
maksimal. Studi kasus ini bertujuan untuk memberikan
focus at individual adaptation facility to return
perawatan terhadap lansia berupa home care untuk
independence and prosperity. Suggestion able to
mempertahankan individualitas dan pemberdayaan
be given to prepare and support needed to re-
dengan menggunakan metode proses keperawatan
quirement all elderly with demensia. Possibility of
(pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana, tindakan,
strategy for more effective support cover treat-
dan evaluasi) yang dikonsentrasikan untuk mengukur
ment upbringing in taking care of lansia with
efek kerusakan dalam kemampuan untuk
demensia, and improve same job between nurse
berkomunikasi, mobilisasi, dan terlibat dalam aktivitas
of elderly.
sosial. Tindakan keperawatan selanjutnya berfokus
pada memfasilitasi adaptasi individu guna
mengembalikan kesejahteraan dan kemandirian. Sa- Keywords: gerontology nursing care, dementia,
ran yang dapat diberikan adalah menyiapkan dan home care
mendukung kebutuhan yang diperlukan untuk para
lansia dengan demensia. Kemungkinan strategi untuk
LATAR BELAKANG
dukungan yang lebih efektif meliputi asuhan
keperawatan dalam merawat lansia dengan demensia,
dan meningkatkan kerja sama antar perawat lansia. Fakta di masa lalu, merawat klien lanjut usia
(lansia) dianggap sebagai area berteknologi rendah,
dijelaskan sebagai area yang bukan salah satu area
Kata kunci: asuhan keperawatan lansia, demensia,
praktik keperawatan bergengsi (Basford, 2006).
home care
Terdapat keraguan bahwa klien lansia dengan
demensia merupakan kekhawatiran utama dalam
ABSTRACT penyediaan pelayanan asuhan keperawatan lanjut
(home care). Bahwa seiring dengan semakin lanjutnya
usia, mental serta kecakapan fisik melambat sampai
Treatment of client elderly considered to be tech-
beberapa tingkat, sehingga lansia distigmatisasi sebagai
nological area lower, is not one the area of
bagian bawah dalam kelompok sosial dan kebutuhan
practice prestigious treatment. There are doubt
khusus mereka kurang dikenali, sehingga perawatan
that client of elderly with demensia is especial
home care tidak maksimal (Larsson, 2007).
70 VOLUME 1, NOMOR 1, JANUARI 2010 ISSN: 2086-3071

Sensus penduduk tahun 1901, menemukan kurang terburu-buru.


dari dua juta masyarakat Inggris berusia lebih dari 65 4. Bantah klien secara perlahan tentang kesalahan
tahun. Pada 1989, diperkirakan jumlah penduduk persepsinya setelah terjalin hubungan saling
lansia sekitar sembilan juta. Walaupun lansia yang percaya.
lebih muda (65-75 tahun) secara statistik menunjukkan
5. Gunakan sentuhan yang bijaksana, dan minta ijin
sikap yang tetap mandiri, terdapat peningkatan
sebelum menyentuh klien.
signifikan pada lansia yang lebih tua (75 tahun ke
atas) yang menyebabkan kesulitan tertentu bagi 6. Perinci setiap perintah menjadi langkah-langkah
penyedia perencana kesehatan dan perawatan sosial. sederhana yang dapat dicapai.
Pada 1991, bahwa 44% penduduk lansia berusia 7. Perhatikan saat klien menggunakan konfabulasi
lebih dari 75 tahun. Diperkirakan pada 2041 proporsi (suka mengarang hal-hal yang tak bisa diingatnya/
penduduk lansia yang lebih tua akan melebihi 50%. membual).
Dalam istilah lain, diprediksi bahwa antara 1991 dan 8. Buat pernyataan yang spesifik dan terfokus (misal:
2011 jumlah lansia akan meningkat sampai sekitar "Anda perlu menggunakan jaket Anda"), jangan
700.000 dan sekitar 75% terdiri dari lansia yang diberikan secara abstrak.
berusia lebih dari 75 tahun (OPCS, 1991). Antara 9. Berkomunikasi secara nonverbal jika klien sudah
60% dan 75% lansia penghuni panti jompo menderita kehilangan penggunaan bahasa.
beberapa bentuk demensia (Stockslager, 2007).
Bahwa tingkat kerusakan jaringan otak meningkat
Diagnosa keperawatan: risiko terhadap trauma/cedera.
melalui kombinasi dari pengurangan sejumlah darah
teroksigenasi yang mencapai daerah otak, dan efek
proses penuaan pada organ lain dan pada sistem Tujuan khusus 1: klien dan anggota keluarga akan
tubuh. Efek kondisi yang dapat dipantau ini adalah mengamankan segala bentuk bahaya yang mungkin
kehilangan keterampilan sehari-hari seperti mandi, terjadi di dalam lingkungan rumah.
makan dan minum, berpakaian, dan eliminasi, serta
rasa frustasi akibat kehilangan kepercayaan diri dan Kriteria hasil (nursing out come):
harga diri yang dapat digabungkan dengan cara
perawat memperlakukan klien lansia (Kitson, 1990). 1. Dapat beradaptasi dengan lingkungan untuk
mengurangi risiko trauma/cedera.
Salah satu upaya perawatan terhadap lansia
berupa home care untuk mempertahankan 2. Tidak mengalami trauma/cedera.
individualitas dan pemberdayaan karena perawatan
tersebut adalah tentang pemberian asuhan spesial Intervensi:
untuk memenuhi kebutuhan spesial. Sehingga 1. Ciptakan agar lingkungan aman dengan cara
ketergantungan permanen pada lansia dapat dikurangi. menyimpan semua benda yang berpotensi
Pengkajian keperawatan untuk kelompok klien ini berbahaya.
perlu dikonsentrasikan pada mengukur efek kerusakan
Rasional: penatalaksanaan lingkungan merupakan
dalam kemampuan untuk berkomunikasi, mobilisasi,
prioritas utama jika klien berada di lingkungan
dan terlibat dalam aktivitas sosial. Intervensi
komunitas dalam waktu yang lama.
keperawatan selanjutnya harus berfokus pada
memfasilitasi adaptasi individu guna mengembalikan 2. Identifikasi tempat yang aman bagi klien di dalam
kesejahteraan dan kemandirian (Basford, 2006). rumah, dan pertahankan supaya tempat tersebut
tetap aman bebas dari bahaya.
Rasional: keamanan ditingkatkan dengan cara
METODE
menyimpan benda-benda yang dapat menimbulkan
bahaya yang ada di lingkungan rumah.
Asuhan Keperawatan 3. Simpan semua benda yang berbahaya ke dalam
Strategi komunikasi: tempat yang aman, terkunci dan diberi label.
1. Dekati klien dari depan, jangan dari belakang Rasional: tindakan ini mencegah klien supaya tidak
untuk mencegah respons terkejut. menggunakan atau kontak dengan benda berbahaya
2. Orientasi dan perkenalkan diri kepada klien dengan tersebut, misalnya zat toksik.
tepat. 4. Simpan semua obat-obatan yang tidak diresepkan,
3. Berbicara dengan perlahan, tenang, dan tidak seperti aspirin, obat batuk, dan semua obat yang
sudah kadaluarsa atau potensial berbahaya,
Asuhan Keperawatan Klien Lanjut Usia dengan Demensia pada Home Care 71

misalnya obat tidur dan narkotik. Rasional: karena terdapat gangguan daya nilai, klien
Rasional: tindakan ini mencegah klien supaya tidak dapat melukai dirinya sendiri jika diijinkan untuk
memiliki akses dengan obat-obatan yang berpotensi menggunakan benda-benda tajam dan perlengkapan
berbahaya, mengkonsumsinya secara sembarangan memasak.
dan tidak benar, serta menggunakannya untuk bunuh
diri. Diagnosa keperawatan: defisit perawatan diri.
5. Beri label pada ruangan dan pintu, dengan
menggunakan nama atau sebuah gambar benda.
Tujuan khusus 1: klien memaksimalkan partisipasi
Rasional: hal ini memberikan suatu panduan ke dalam aktivitas personal hygiene, ke toilet, dan aktivitas
lingkungan untuk klien yang mengalami gangguan perawatan diri.
kognitif.
6. Pasang pagar pengaman, dan perlengkapan Kriteria hasil (nursing out come):
pengaman lain, di tempat tidur, kursi dan pintu.
1. Mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai
Rasional: perlengkapan pengaman dapat mencegah dengan tingkat kemampuan.
terjatuh, dan memungkinkan intervensi yang sesuai.
2. Mampu melakukan aktivitas personal hygiene sesuai
dengan tingkat kemampuan.
Tujuan khusus 2: klien berpartisipasi dalam aktivitas
3. Mampu melakukan aktivitas ke toilet sesuai dengan
kegiatan sehari-hari (ADL) yang menyenangkan
tingkat kemampuan.
dengan pengawasan yang ketat.

Intervensi:
Kriteria hasil (nursing out come):
1. Identifikasi kesulitan dalam melakukan aktivitas
1. Meningkatkan tingkat aktivitas.
perawatan diri (perawatan rambut/kuku/kulit,
2. Keluarga mengenali potensial di lingkungan dan berpakaian, berdandan), personal hygiene (mandi
mengidentifikasi tahap-tahap untuk dan menggosok gigi), dan toileting (eliminasi urin
memperbaikinya. dan alvi), seperti keterbatasan gerak fisik, apatis/
depresi, dan penurunan kognitif.
Intervensi: Rasional: memahami penyebab yang memengaruhi
1. Dampingi klien selama ambulasi, dan bawa klien intervensi. Masalah dapat diminimalkan dengan
ke luar ruangan untuk olah raga jika menyesuaikan atau memerlukan konsultasi dari ahli
memungkinkan. lain.
Rasional: ambulasi dan olah raga meningkatkan 2. Identifikasi kebutuhan perawatan diri (perawatan
sirkulasi dan kesejateraan seluruh kondisi fisik. rambut/kuku/kulit, berpakaian, berdandan), per-
2. Beritahu tempat lain (kantor polisi, rumah sakit, sonal hygiene (mandi dan menggosok gigi), dan
lingkungan rumah sekitar) yang tepat yang mungkin toileting (eliminasi urin dan alvi), dan berikan
akan klien datangi ketika berjalan-jalan. bantuan sesuai kebutuhan.
Rasional: Seiring perkembangan penyakit, kebutuhan
Rasional: terbentuknya kesadaran masyarakat
perawatan diri, personal hygiene, dan toileting
mengenai kecenderungan klien untuk berjalan-jalan
dilupakan. Panas (misal infeksi, penyakit gusi, dan
akan membantu meningkatkan keamanan klien untuk
penampilan kusut) terjadi saat klien/perawat
kembali.
terintimidasi dengan memelihara masalah yang ada.
3. Minta klien untuk mengenakan tanda pengenal
3. Dorong klien untuk melaksanakan aktivitas
medis, jika memungkinkan.
perawatan diri (perawatan rambut/kuku/kulit,
Rasional: identifikasi yang mudah dikenal sangat berpakaian, berdandan) dan personal hygiene
penting untuk keamanan klien. (mandi dan menggosok gigi), dan toileting
4. Jika klien merokok, awasi secara ketat dan larang (eliminasi urin dan alvi) yang dapat dilakukan
klien untuk memiliki korek api. dengan aman, mandiri dan tanpa mengeluarkan
Rasional: hal ini menghilangkan kemungkinan timbulnya banyak energi.
luka bakar atau kebakaran. Rasional: partisipasi dalam aktivitas perawatan diri
5. Minimalkan dan awasi secara ketat setiap dan personal hygiene akan meningkatkan harga diri
pengolahan makanan atau minuman. dan mempertahankan tonus kelompok-kelompok otot.
72 VOLUME 1, NOMOR 1, JANUARI 2010 ISSN: 2086-3071

4. Miliki perlengkapan khusus, seperti tempat duduk asupan makan klien pada malam hari terbukti
toilet yang dapat ditinggikan atau pagar pengaman. mengganggu tidur.
Rasional: ketersediaan perlengkapan khusus 4. Memberikan lingkungan yang nyaman untuk
meningkatkan performansi aktivitas mandi dan ke meningkatkan tidur, seperti mematikan lampu,
toilet. ventilasi ruang adekuat, suhu yang sesuai, dan
5. Dorong klien untuk mengenakan pakaian yang rapi menghindari kebisingan.
dan nyaman. Rasional: hambatan kortikal pada formasi retikular
Rasional: klien perlu mempertahankan sensasi diri akan berkurang selama tidur, meningkatkan respon
yang positif. otomatik, karenanya respons kardiovaskular terhadap
suara meningkat selama tidur.
6. Bantu klien mengenakan pakaian yang rapi dan
indah. 5. Pantau toleransi aktivitas klien dengan memberikan
kegiatan sesuai kemampuan, jika mungkin buat
Rasional: meningkatkan kepercayaan untuk hidup.
program olahraga harian.
7. Sediakan pakaian yang mudah digunakan, misalnya
pakaian dengan karet pinggang dan perekat Rasional: olahraga mempunyai efek kardiovaskular
(velkro). yang positif dan meningkatkan kesehatan emosi.
Rasional: pakaian yang mudah digunakan memfasilitasi 6. Beri kesempatan pada klien untuk ikut serta dalam
kemandirian dalam berpakaian. aktivitas sosial yang sederhana dan sudah dikenal
serta aktivitas yang berorientasi pada tugas, seperti
8. Gabungkan kegiatan harian ke dalam jadual saling membantu dalam melakukan tugas dalam
aktivitas. Ubah waktu untuk berpakaian atau keluarga.
kebersihan klien jika masalah meningkat.
Rasional: partisipasi dalam aktivitas meningkatkan
Rasional: mempertahankan kebutuhan rutin, mencegah sosialisasi, orientasi, dan kesenangan.
kebingungan yang semakin memburuk dan
7. Tentukan bagaimana pengaruh olahraga, jam
meningkatkan partisipasi klien.
istirahat, dan aktivitas terhadap kemampuan tidur
klien.
Tujuan khusus 2: klien mempertahankan jadual tidur, Rasional: dengan memantau pola istirahat tidur,
istirahat dan aktivitas yang cukup. perawat dapat menentukan kondisi terbaik untuk
meningkatkan tidur.
Kriteria hasil (nursing out come): 8. Anjurkan klien tidur menggunakan kaos kaki atau
1. Memahami faktor penyebab gangguan tidur. pakain tertentu.
2. Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat. Rasional: memberikan keamanan, mengubah,
3. Tampak atau melaporkan dapat beristirahat yang mengurangi pemberontakan dan memudahkan
cukup. beristirahat.
9. Buat jadual tidur secara teratur.
Intervensi: Rasional: penguatan bahwa saatnya tidur dan
mempertahankan kestabilan lingkungan.
1. Buat jadual aktivitas yang mencakup periode
istirahat setelah melaksanakan aktivitas.
Rasional: hal ini penting untuk mencegah klien dari Diagnosa keperawatan: ketegangan pemberi asuhan.
keletihan.
2. Jangan menganjurkan klien tidur siang apabila Tujuan khusus 1: anggota keluarga mendiskusikan
berakibat efek negative terhadap tidur pada malam perasaan konflik dan perasaan ambivalen tentang
hari. klien.
Rasional: irama sirkadian (siklus tidur-bangun) yang
tersinkronisasi disebabkan oleh tidur siang yang Kriteria hasil (nursing out come):
singkat. 1. Mampu mengungkapkan perasaan konflik tentang
3. Tentukan kebiasaan dan rutinitas waktu tidur klien.
malam dengan kebiasaan klien (misalnya dengan 2. Mampu menggunakan mekanisme koping yang
memberi susu hangat). adaptif.
Rasional: mengubah pola yang sudah terbiasa dari
Asuhan Keperawatan Klien Lanjut Usia dengan Demensia pada Home Care 73

Intervensi: 2. Rumuskan suatu rencana untuk memperoleh


1. Bantu anggota keluarga untuk mengidentifikasi bantuan dari anggota keluarga yang lain, tetangga,
dan mendiskusikan perasaan mereka mengenai dan teman-teman jika diperlukan.
situasi. Rasional: pendelegasian tugas dan tanggung jawab
Rasional: hal ini wajar bagi orang untuk merasa mengurangi energi yang dikeluarkan oleh perawat
bingung, takut, merasa bersalah, dan berduka cita klien serta mengurangi tingkat ansietas.
jika salah satu anggota keluarga didiagnosis menderita 3. Bicarakan dengan pemberi perawatan klien
penyakit Alzheimer. mengenai kebutuhan untuk membuat sebuah
2. Diskusikan situasi yang secara khusus membuat rencana guna mempertahankan kesejahteraan
stres orang yang merawat klien, misalnya klien, termasuk waktu istirahat, olahraga, dan
mengatasi sikap kecurigaan, kecemasan, dan rekreasi.
perilaku bermusuhan dari klien. Rasional: pemberi perawatan perlu mengetahui bahwa
Rasional: mengajarkan pada keluarga cara menangani stresor dan tekanan-tekanan yang terjadi setiap hari
perilaku yang membuat stres ini akan meningkatkan meningkatkan kerentanan mereka terhadap penyakit.
pengendalian situasi. 4. Ajarkan pemberi perawatan tentang cara
3. Didik anggota keluarga tentang cara mengatasi menghindari stres dan demontrasikan keterampilan
penurunan kemampuan pada klien. menangani stres.
Rasional: pengetahuan dan kemampuan mengatasi Rasional: pemberi perawatan harus tahu cara
situasi, mengurangi rasa kecemasan dan perasaan mengelola stresor dan mencegah agar mereka tidak
tidak berdaya. mengalami keletihan akibat pekerjaan dan tanggung
4. Atur pelaksanaan terapi keluarga untuk menghindari jawab yang berlebihan.
situasi stres yang akan berkembang menjadi sebuah 5. Buat rencana perawatan alternatif untuk klien.
krisis. Rasional: rencana pendukung darurat harus tersedia
Rasional: sebuah keluarga yang berada dalam krisis di tempat sehingga mereka dapat dimobilisasi jika
atau sedang di ambang krisis memerlukan bantuan kebutuhan terjadi.
yang akan memprakarsai perilaku koping. 6. Dapatkan sebuah daftar referensi pelayanan medis
5. Diskusikan dengan keluarga tentang kebutuhan yang tersedia, khususnya perawatan kesehatan di
untuk memperoleh konsultasi pelayanan kesehatan rumah dan respite care.
jika kondisi klien semakin menurun. Rasional: kemampuan keluarga untuk mengakses
Rasional: perencanaan akan memberi waktu bagi pelayanan yang penting akan memampukan klien
keluarga untuk mendiskusikan serangkaian tindakan tetap berada dalam komunitas dan menunda kebutuhan
terbaik yang harus dilaksanakan karena kebutuhan akan pelembagaan.
klien akan perawatan semakin meningkat.
Terapi:
Tujuan khusus 2: keluarga mengembangkan jaringan Penangan medis untuk demensia bersifat paliatif
sumber dan mengetahui cara mengakses sumber- dan suportif. Pengobatan diberikan untuk membantu
sumber komunitas untuk memperoleh dukungan dan mengatasi kecemasan, depresi, perilaku agresif, dan
bimbingan. perilaku paranoid, juga untuk menggantikan neurokimia
di otak. Terapi kelompok didasarkan bahwa perawatan
harus meningkatkan tingkat fungsi tertinggi yang
Kriteria hasil (nursing out come):
mungkin dapat dicapai klien. Tujuan utama terapi
1. Keluarga mendapatkan sumber-sumber pendukung adalah perawatan diri dan hubungan dengan
dan bimbingan pelayanan kesehatan. lingkungan sosial dan keluarga.

Intervensi: Terapi medis:


1. Diskusikan sumber-sumber yang diperlukan untuk 1. Lakukan pemeriksaan fisik dan uji diagnostik
menyediakan perawatan yang aman dan cukup. untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab
Rasional: sumber daya manusia dan dana harus demensia.
dianggarkan dan disediakan sebelum perawatan yang 2. Tangani semua masalah fisiologis secara medis.
efektif dapat dimulai.
3. Berdasarkan gejalanya, tangani depresi, ansietas,
74 VOLUME 1, NOMOR 1, JANUARI 2010 ISSN: 2086-3071

dan insomnia. keamanan.


4. Pertahankan kesehatan fisik dan dukung tingkat 6. Dorong anggota keluarga untuk menyatakan secara
fungsi yang optimal. verbal perasaan, kekhawatiran, dan rasa frustasi
5. Antidepresan trisiklik dapat digunakan untuk mereka berkenaan dengan situasi yang mereka
mengobati depresi. hadapi.
6. Antipsikotik, seperti haloperidol (Haldol) dan 7. Bantu anggota keluarga untuk mengantisipasi rasa
risperidon (Resperdal), dapat digunakan dalam berduka karena kehilangan orang yang mereka
dosis rendah untuk mengobati ansietas dan agitasi. cintai.
7. Vasodilator sering digunakan untuk meningkatkan
sirkulasi otak dan meningkatkan kognisi. KESIMPULAN DAN SARAN
8. Takrin (Cognex) dan donepezil (Aricept)
menghalangi penguraian asetilkolin dan berguna Asuhan keperawatan yang diberikan kepada lansia
dalam memperlambat progresi gejala pada klien berupa home care untuk mempertahankan
yang memiliki penyakit Alzheimer tahap awal individualitas dan pemberdayaan dengan menggunakan
atau sedang. proses keperawatan (pengkajian, diagnosa
9. Pengobatan yang merangsang kerja neurotrans- keperawatan, rencana, tindakan, dan evaluasi) yang
mitter sedang diteliti. dikonsentrasikan untuk mengukur efek kerusakan
dalam kemampuan untuk berkomunikasi, mobilisasi,
dan terlibat dalam aktivitas sosial. Tindakan
Terapi kelompok:
keperawatan selanjutnya berfokus pada memfasilitasi
1. Tingkatkan orientasi ke lingkungan, dan diskusikan adaptasi individu guna mengembalikan kesejahteraan
secara singkat peristiwa-peristiwa terkait yang dan kemandirian
baru saja terjadi.
Saran yang dapat diberikan adalah menyiapkan
2. Diskusikan keadaan di sini dan saat ini untuk dan mendukung kebutuhan yang diperlukan untuk
periode waktu yang singkat. para lansia dengan demensia. Kemungkinan strategi
3. Dorong terapi mengenang, yang berfokus pada untuk dukungan yang lebih efektif meliputi asuhan
berbagai pengalaman tentang memori masa lalu. keperawatan dalam merawat lansia dengan demensia,
4. Batasi pembicaraan pada hal-hal yang sudah dan meningkatkan kerja sama antar perawat lansia.
dikenal dan bermakna untuk meberi penguatan
pada realita dan mendorong klien untuk DAFTAR PUSTAKA
berpartisipasi.
5. Bantu para partisipan untuk berbicara mengenai
Basford, L. 2006. Teori dan Praktik Keperawatan:
masa lalu mereka sebagai cara untuk meningkatkan
Pendekatan Integral pada Asuhan
harga diri.
Pasien. Jakarta: EGC.
6. Dorong klien untuk berbicara dengan orang lain.
Carpenito, L.J. 1997. Diagnosa Keperawatan. Buku
Saku. Edisi 6. Jakarta: EGC.
Terapi di keluarga: Carpenito, L.J. 1999. Rencana Asuhan &
1. Sediakan informasi dan dukungan emosional untuk Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2.
keluarga selama tiga fase demensia. Jakarta: EGC.
2. Bantu keluarga untuk membentuk jaringan Copel, L.C. 2007. Kesehatan Jiwa dan Psikiatri.
pendukung sosial. Edisi 2. Jakarta: EGC.
3. Ajarkan kepada keluarga cara menangani atau Doenges, M.E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan:
memperjuangkan kebutuhan perawatan diri klien. Pedoman untuk Perencanaan dan
4. Identifikasikan sumber-sumber komunitas, layanan Pendokumentasian Perawatan Pasien.
keperawatan dan layanan pembantu rumah tangga Edisi 3. Jakarta: EGC.
yang terampil, serta kelompok pendukung untuk Kim, M.J. 1994. Diagnosa Keperawatan. Edisi 5.
pemberi perawatan dan anggota keluarga yang Jakarta: EGC.
lain. Kitson, A. 1990. The Dialetics of Dementia, With
5. Evaluasi lingkungan rumah, dan bantu keluarga Particular Reference to Alzheimer's Dis-
untuk menciptakan perubahan yang penting bagi ease. Ageing and Society. 10.
Asuhan Keperawatan Klien Lanjut Usia dengan Demensia pada Home Care 75

Kushariyadi. 2010. Asuhan Keperawatan pada Klien


Lanjut Usia. Jakarta: Salemba Medika.
Larsson, I.E., Sahlstein, M.J.M., Sjostrom, B.,
Lindencrona, C.S.C., & plos, K.A.E.
2007. Patient Participation in Nursing
Care From a Patient Perspective: a
Grounded Theory Study. Scandinavian
Journal of Caring Sciences, 21.
Nursalam., Pariani, S. 2001. Pendekatan Praktis
Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta:
Sagung Seto.
Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi
Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman
Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Office of Population Censuses and Surveys (OPCS).
1991. 1989 Base National Populations
Projections. Series 2. No. 17. London,
HMSO.
Reichman, W., Carosella, N. 1997. Residen Bagian
Psikiatri (UCLA). Buku Saku Psikiatri.
Jakarta: EGC.
Stockslager, J.L., Schaeffer, L. 2007. Buku Saku
Asuhan Keperawatan Geriatrik. Edisi 2.
Jakarta: EGC.
Stuart, G.W., Sundeen, S.J. 1998. Buku Saku
Keperawatan Jiwa. Edisi 3. Jakarta:
EGC.