Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP MYASTHENIA GRAVIS

http://cahaya-salim.blogspot.com/2013/04/laporan-pendahuluan-askep-myasthenia.html

I. ANATOMI FISIOLOGI
a. Pembagian Susunan Saraf
Susunan Saraf Pusat (SSP)
1. Medula Spinalis
2. Otak
Otak merupakan suatu alat tubuh yang penting karena meruapan pusat komputer dari semua
alat tubuh. Bagian dari saraf sentral yang terletak didalam rongga tenggkorak (karanium)
yang dibungkus oleh selaput otak yang kuat. Otak terbagi menjadi:
- Otak Besar (Serebrum)
Mengingat pengalaman pengalaman yang lalu
Pusat persyarafan yang menagani, aktifitas mental, akal, intelegensi, keinginan, dan memori
Pusat menangis, buang air besar dan buang air kecil
- Otak Kecil (Serebelum)
Keseimbangan dan rangsangan pendengaran ke otak
Sebagai pusat penerima impuls dari reseptor sensasi umum medula spinalis dan nervus vagus
kelopak mata, rahang atas dan bawah serta otot pengunyah
Menerima informasi tentang gerakan yang sedang dan yang akan dikerjakan dan mengatur
gerakan sisi badan.
- Batang Otak, terdiri dari:
Diensefalon
Mensensepalon
Pons Varoli
Medula Oblongata
Susunan Sarf Perifer (SST)
1. Susunan Saraf Somatik
2. Susunan Saraf Otonom
- Susunan Saraf Impatis
- Susunan Saraf Parasimpatis
b. Jenis Jenis Sel Saraf
Neuron
Akson
Meningen
Durameter
Arakhnoid
Piameter
c. Saraf Otak
Nervus Olfaktorius
Nervus Optikus
Nervus Okulomotoris
Nervus Troklearis
Nervus Trigeminus
- N. Oftalmikus
- N. Maksilaris
- N. Mandibularis
Nervus Abdusen
Nervus Fasialis
Nervus Auditorius
Nervus Glossofaringeus
Nervus Vagus
Nervus Asesorius
Nervus Hipoglosus
(Anatomi Fisiologi Keperawatan)

II. DEFENISI

Myasthenia gravis merupakan gangguan yang mempengaruhi tranmisi neuromuscular


pada otot tubuh yang kerjanya di bawah kesadaran seseorang (volunter).

Myasthenia gravis adalah gangguan autoimun yang merusak komunikasi antara syaraf
dan otot, mengakibatkan peristiwa kelemahan otot.

Myasthenia gravis adalah penyakit autoimun yang diperoleh klinis ditandai dengan
kelemahan otot rangka dan fatigability pada tenaga.
Myasthenia gravis merupakan penyakit yang berpotensi melemahkan yang disertai
dengan risiko.

Myastenia gravis merupakan penyakit neuromuskular yang menyebabkan kelemahan


otot.

Myastenia gravis merupakan gangguan yang mempengaruhi transmisi neuromuskular


pada otot tubuh yang kerjanya dibawah kesadaran seseorang. (Brunner dan Suddarth,
2001)

Myastenia gravis adalah kelemahan otot yang serius adalah salah satu penyakit
neuromuskular yang menggabungkan kelelahan cepat otot otot valuntar dengan
penyembuhan yang sangat lama. (Brunner dan Suddart, 2001)

III. ETIOLOGI
Kelainan primer pada MG dihubungkan dengan gangguan transmisi pada
neuromuscular junction,yaitu penghubung antara unsur saraf dan unsur otot. Pada ujung
akson motor neuron terdapat partikel -partikel globuler yang merupakan penimbunan
asetilkolin (ACh). Jika rangsangan motorik tiba pada ujung akson, partikel globuler pecah
dan ACh dibebaskan yang dapat memindahkan gaya sarafi yang kemudian bereaksi dengan
ACh Reseptor (AChR) pada membran postsinaptik. Reaksi ini membuka saluran ion pada
membran serat otot dan menyebabkan masuknya kation, terutama Na, sehingga dengan
demikian terjadilah kontraksi otot. Penyebab pasti gangguan transmisi neromuskuler pada
MG tidak diketahui. Dulu dikatakan, pada MG terdapat kekurangan ACh atau kelebihan
kolinesterase, tetapi menurut teori terakhir, faktor imunologik yang berperanan.

IV. PATOFISIOLOGI
Otot rangka atau otot lurik dipersarafi oleh nervus besar bermeilin yang
berasal dari sel kornu anterior medulla spinalis dan batang otak. Nervus ini mengirim keluar
aksonnya dalam nervus spinalis atau kranialis menuju perifer. Nervus yang bersangkutan
bercabang berkali kali dan mampu merangsang 2000 serat otot rangka. Kombinasi saraf
motorik dengan serabut otot yang dipersyarafi disebut unit motorik. Walaupun masing
masing neuron motorik mempersarafi banyaj serabut otot, namun masing masing otot
dipersarafi oleh neuron motorik tunggal.
Daerah khusus yang menghubungkan antara saraf motorik dengan serabut otot
disebut sinaps atau taut neuromuskular. Asetilkolin disimpan dan disintesis dalam akson
terminal (bouton). Membran pascasinaps mengandung reseptor asetilkolin yang dapat
membangkitkan lempeng akhir motorik dan sebalikya dapat menghasilkan potensial aksi otot.
Apabila implus saraf mencapai taut neuromuskular, membrana akson parasimpatik terminal
terdepolirisasi, menyebabakan pelepasan asetilkolin kedalam membran parasimpatik.
Asetilkolin menyeberangi celah sinaptik secara difusi dan menyatu dengan bagian reseptor
asetilkolin dalam membran pascasinaptik. Masuknya ion Na secara mendadak dan keluarnya
ion K menyebabkan depolarisasi ujung lempeng
Ketika EPP mencapai puncak EPP akan menghasilkan potensial aksi dalam
membran otot tidak bertaut yang menyebar sepanjang sarkonema. Potensial aksi ini
merangkai serangkaian reaksi yang menyebabkan kontraksi serabut otot. Begitu terjadi
transmisi melalui penghubung neuromuskular, asetilkolin akan dirusak oleh enzin
asetilkonlinetrase. Dalam MG konduksi neuromuskularnya terganggu. Jumlah reseptor
asetilkolin normal menjadi menurun. (Keperawatan medikal bedah, 2001)

V. MANIFESTASI KLINIS
Karakteristik penyakit berupa kelemahan otot ekstrem dan mudah mengalami
kelelahan, yang umumnya memburuk setelah aktivitas dan berkurang setelah istirahat.
Berbagai gejala yang muncul sesuai denagn otot yang terpenagaruh, sebagai berikut:
Apabila otot simetri yang terkena, umumnya dihubungkan dengan saraf kranial. Karena otot
otot okular terkena, maka gejala awal yang muncul diplopia (penglihata ganda) dan ptosis
(jatuhnya kelopak mata). Ekspresi wajah pasien seperti sedang tidur terlihat seperti patung hal ini
dikarenakan otot wajah terkena
Pengaruh terhadapa laring menyebabkan disfonia (gangguan suara) dalam pembentukan bunyi
suara hidung atau kesukaran dalam pengucapan kata kata. Kelemahan pada otot otot bulbar
menyebabkan masalah mengunyah dan menelan dan adanya bahaya tersedak dan aspirasi.
Sekitar 15% sampai 20% keluhan pada tangan dan otot otot lengan, pada otot kaki mengalami
kelemahan yang membuat pasien jatuh.
Kelemahan diafragma dan otot otot interkostal menyebabkan gawat nafas, yang merupakan
keadaan darurat akut. (Keperawatan medikal bedah, 2001)

VI. KOMPLIKASI
Krisis miasthenic merupakan suatu kasus kegawatdaruratan yang terjadi bila otot yang
mengendalikan pernapasan menjadi sangat lemah. Kondisi ini dapat menyebabkan gagal
pernapasan akut dan pasien seringkali membutuhkan respirator untuk membantu pernapasan
selama krisis berlangsung. Komplikasi lain yang dapat timbul termasuk tersedak, aspirasi
makanan, dan pneumonia.
Faktor-faktor yang dapat memicu komplikasi pada pasien termasuk riwayat penyakit
sebelumnya (misal, infeksi virus pada pernapasan), pasca operasi, pemakaian kortikosteroid
yang ditappering secara cepat, aktivitas berlebih (terutama pada cuaca yang panas),
kehamilan, dan stress emosional.
Bisa timbul miastenia crisis atau cholinergic crisis akibat terapi yang tidak diawasi
Bullous death

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1) Tes darah dikerjakan untuk menebtukan kadar antibody tertentu didalam serum(mis,
AChR-binding antibodies, AChR-modulating antibodies, antistriational antibodies).
Tingginya kadar dari antibody dibawah ini dapat mengindikasikan adanya MG.

2) Pemeriksaan Neurologis melibatkan pemeriksaan otot dan reflex. MG dapat


menyebabkan pergerakan mata abnormal, ketidakmampuanuntuk menggerakkan mata
secara normal, dan kelopak mata turun. Untuk memeriksa kekuatan otot lengan dan
tungkai, pasien diminta untuk mempertahankan posisint melawan resistansi selama
beberapa periode. Kelemahan yang terjadi pada pemeriksaan ini disebut fatigabilitas.

3) Foto thorax X-Ray dan CT-Scan dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya
pembesaran thymoma, yang umum terjadi pada MG

4) Pemeriksaan Tensilon sering digunakan untuk mendiagnosis MG. Enzim


acetylcholinesterase memecah acetylcholine setelah otot distimulasi, mencegah
terjadinya perpanjangan respon otot terhadap suatu rangsangan saraf tunggal.
Edrophonium Chloride merupakan obat yang memblokir aksi dari enzim
acetylcholinesterase.

5) Electromyography (EMG) menggunakan elektroda untuk merangsang otot dan


mengevaluasi fungsi otot. Kontraksi otot yang semakin melemah menandakan adanya
MG.

VIII. PENATALAKSANAAN MEDIS


Myasthenia gravis merupakan gangguan neuromuskuler yang paling dapat diatasi.
Pemilihan metode terapi tergantung beberapa faktor seperti umur, kesehatan secara umum,
keparahan penyakit, dan derajat perkembangan penyakit.
Pengobatan
1. Anticholinesterase seperti neostigmine (Prostigmin) dan pyridostigmine (Mestinon)
biasanya diresepkan. Obat ini mencegah destruksi ACh dan meningkatkan akumulasi Ach
pada neuromuscular junctions, memperbaiki kemampuan kontraksi otot. Efek samping
itermasuk liur berlebihan, kontraksi otot involunter (fasciculation), nyeri abdomen, mual, dan
diare. Obat yang disebut kaolin dapat digunakan sebagai anticholinesterase untuk mengurangi
efek samping pada gastrointestinal.
2. Corticosteroids (e.g., prednisone) menekan antibody yang memblokir AChR pada
neuromuscular junction dan dapat digunakan bersamaan dengan anticholinesterase.
Kortikosteroid memperbaiki keadaan dalam beberapa minggu dan jika pemulihan sudah
stabil, dosis sebaiknya dikurangi secara perlahan (tapering off) Dosis rendah dapat digunakan
tidak terbatas untuk mengatasi MG, namun, efek samping seperti, ulkus gaster, osteoporosis,
peningkatan berat badan, gula darah meningkat, dan peningkatan resiko infeksi mungkin
muncul pada pemakaian jangka panjang
3. Immunosuppressants seperti azathioprine (Imuran) dan cyclophosphamide (Neosar)
dapat digunakan untuk menangani MG umum jika pengobatan lain gagal mengurangi gejala.
Efek Samping dapat berat dan termasuk penurunan sel darah putih, disfungsi liver, mual,
muntah, dan rambut gugur. Immunosuppressants tidak digunakan untuk menangani MG
congenital karena kondisi ini bukan terjadi disebabkan oleh disfungsi sistem imun.

Penatalaksanaan Lainnya
1. Plasmapheresis, atau pertukaran plasma, digunakan untuk memodifikasi malfungsi pada
sistem imun. Ini dapat digunakan pada gejala yang memburuk (eksaserbasi) atau persiapan
operasi thymectomy. Biasanya, 2 hinga 3 liter plasma dibuang dan diganti pada setiap
penangananm dimana memerlukan beberapa jam. Kebanyak pasien menjalani beberapa sesi
selama metode plasmapheresis berjalan. Plasmapheresis memperbaiki gejala MG dalam
beberapa hari dan perbaikan bertahan hingga 6-8 minggu. Resiko termasuk tekanan darah
rendah, pusing, penglihatan kabur, dan pembentukan bekuan darah (thrombosis).
2. Thymectomy merupakan operasi pembuangan kelenjar thymus. Biasanya dilakukan pada
pasien dengan tumor pada thymus (thymoma) dan pasien yang lebih muda dari umur 55
tahun dengan MG menyeluruh. Manfaat thymectomy berkembang secara perlahan dan
kebanyakan perbaikan terjadi selama bertahun-tahun setelah prosedur ini dilakukan.
Penatalaksanaan miastenia gravis ditentukan dengan meningkatkan fungsi pengobatan
pada obat antikolinesterase dan menurunkan serta mengeluarkan sirkulasi antibody.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN
Identitas klien : Meliputi nama, alamat, umur, jenis kelamin, status
Keluhan utama : Kelemahan otot
Riwayat kesehatan : Diagnosa miasenia didasarkan pada riwayat dan pesentasi klinis.
Riwayat kelemahan otot setelah aktivitas dan pemulihan kekuatan pasial setelah istirahat
sangatlah menunukkan miastenia gravis, pasien mugkin mengeluh kelemahan setelah
melakukan pekerjaan fisik yang sederhana . riwayat adanya jatuhnya kelopak mata pada
pandangan atas dapat menjadi signifikan, juga bukti tentang kelemahan otot.
B1 (Breathing)
Dispnea, resiko terjadi aspirasi dan gagal pernafasan akut
B2 (Bleeding)
Hipotensi atau hipertensi, takikardi atau bradikardi
B3 (Brain)
Kelemahan otot ektraokular yang menyebabkan palsi ocular, jatuhnya kelopak mata atau
dislopia intermien, bicara klien mungkin disatrik
B4 (Bladder)
Menurunkan fungsi kandung kemih, retensi urine, hilangnya sensasi saat berkemih.
B5 ( Bowel)
Kesulitan menelan-mengunyah, disfagia, kelemahan otot diafragma dan peristaltic usus turun.
B6 (Bone)
Gangguan aktifitas atau mobilitas fisik, kelemahan otot yang berlebihan.

II. RENCANA KEPERAWATAN


Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji frekuensi nafas, kedalaman, dan Manifestasi distres pernafan tergantung
bunyi nafas pada indikasi derajat keterlibatan paru dan
status kesehatan umum
2. Disfungsi pernafasan adalah variabel
2. Catat adanya atau derajat dispnea. yang tergantung pada tahap proses kronis
Misalnya keluhan lapar udara. selain proses akut yang menimbulkan
perawatan di rumah sakit. Misalnya
infeksi, reaksi alergi

3. Memaksimalkan bernafas
3. Berikan oksigen tambahan 4. Untuk memobilisasi sekresi dan
4. Terapi fisik dada (drainase postural) penghisapan untuk mengeluarkan sekret

Kelemahan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kelemahan otot otot volunter

INTERVENSI RASIONAL
Kaji faktor faktor penyebab 1. Untuk menentukan tindakan keperawatan
pada pasien
Kaji derajata mobilitas 0-4 2. Pasien mampu mandiri (nilai 0),
memerlukan bantuan dengan alat (nilai
1), dengan pengawasan dan pengajaran
(nilai 2), memerlukan bantuan peralatan
terus menerus (nilai 3), tergantung
sepenunya dengan asuhan (nilai 4)
3. Memaksimalkan kekuatan otot
3. Penggunaan medikasi 30 menit
sebelum makan 4. Untuk membantu mengurangi ptosis
4. Berikan perawatan mata

Bersih jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sputum, penurunan energi,
keletihan, kerusakan neuromuskular
INTERVENSI RASIONAL
1. Anjurkan pasien untuk mengosongan
1. Menurunkan resiko aspirasi atau
mulut dari benda/zat tertentu jika fase masuknya seseatu benda asing ke faring
aura terjadi dan untuk mengindari
rahang mengatup jika kejang tanpa
ditandai gejala awal
2. Letakkan pasien pada posisi miring,
2. Meningkatkan aliran drainase (sekret),
permukaan datar, miringkan kepala mencegah lidah jatuh dan menyumbat
selama serangan kejang jalan nafas
3. Tanggalkan pakaian pada daerah
leher/dada dan abdomen 3. Ekspansi dada
4. Masukan spatel lidah/jalan napas
buatan atau gulungan benda lunak
4. Untuk membuka rahang, mencegah
sesuai dengan indikasi tergigitnya lidah, memfasilitasi saat
melakukan penghisapan lendir atau
memberi sokongan pada pernafasan jika
diperlukan. Jalan nafas buatan mungkin
diindikasikan setelah meredanya aktifitas
kejang, jika pasien tersebut tidak sadar
dan tidak dapat mempertahankan posisi
lidah yang aman
5. Lakukan penghisapan sesuai indikasi 5. Menurunkan resiko aspirasi atau asfiksia
6. Berikan tambahan oksigen 6. Dapat meneurunkan hipoksia selebral
sebagaian dari sirkulasi yang menurun
atau oksigen sekunder terhadap spasme
vaskuler selama serangan kejang

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan disfagia, intubasi, paralis
otot

INTERVENSI RASIONAL
1. Lakukan perawatan mulut sebelum dan
1. Perawatan mulut dapat meningkatkan
sesudah makan asupan oral
2. Baringkan pasien tegak dengan kepala
2. Posisi ini mengurangi aspirasi
sedikit fleksi mendekati waktu makan
3. Istirahat sebelum makan
3. Untuk menurunkan kelemahan otot
4. Kurangi gangguan pada saat makan 4. Untuk mempertahankan konsentrasi
pasien saat menelan
5. Berikan makanan yang lunak dalam
bentuk kuah atau bentuk saus 5. Untuk memudahkan pasien menelan
6. Berikan penghargaan kecil terhadap
kemampuan yang telah dicapai pasien 6. Penghargaan positif meningkatkan
7. Tingkatkan asupan makanan pada pagi keyakinan dalam menelan
hari 7. Karenan pada pagi hari otot otot
8. Kolaborasi dengan tim gizi menjadi kuat
8. Untuk mengembangkan rencana makan
dan cairan

Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik,


rencana pengobatan, tindakan terhadap ketidak mampuan yang permanen, dan ancaman
kematian

INTERVENSI RASIONAL
1. Berikan informasi tentang: 1. Mengetahui apa yang diharapkan dari
Sifat kondisi tindakan medis dapat mempermudah

Tujuan pengobatan yang diprogramkan penyesuaian pasien dan membantu


menurunkan ansietas yang berhubungan
Pemeriksaan diagnostik
dengan tindakan medis tersebut
2. Mengidentifikasi rasa takut yang
spesifik membantu meminimalkan
2. Bantu pasien untuk mengungkapkan
perasaan berlebihan terhadap suatu
ketakutannya
ancaman

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, E Marilyn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC : Jakarta
Effendi, Christantie, Niluh Gede Yasmin Asih. Keperawatan Medikal Bedak Klien Dengan
Gangguan Sistem Respirasi. 2004. EGC : Jakarta
Egram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol. 1. EGC : Jakarta
Kim, Ja Mi, dkk. 1995. Diagnosa Keperawatan. EGC : Jakarta
Mubarak, Iqbal Wahid, Nurul Chayati. 2008. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. EGC : Jakarta
Smeltzer, C Suzanne, Brenda G Bare. 2001. Keperawatan Mediakl Medah Brunner dan Suddarth
Ed. . EGC : Jakarta
Smeltzer, C Suzanne, Brenda G Bare. 2001. Keperawatan Mediakl Medah Brunner dan Suddarth Ed.
8. EGC : Jakarta
Syaifuddin. Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat Ed. 2. EGC : Jakarta