Anda di halaman 1dari 7

SEDIAAN BASAH MIKROSKOPIK TUMBUHAN DENGAN UJI MIKROKIMIA

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Mikroteknik
yang dibina oleh Drs. Sulisetijono, M.Si dan Dra. Nursasi Handayani M.Si

Oleh :

Kelompok 2

Isfatun Chasanah 140342603465


Maulidan Asyrofil Anam 140342604964

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2017
A. Latar Belakang
Semua organisme yang hidup terdiri atas sel, baik uniselular maupun multiselular.
Setiap sel merupakan unit fungsional dan struktural terkecil dari makhluk hidup. Sel
tumbuhan memliki bentuk, ukuran dan struktur yang bervariasi. Sel tumbuhan dibatasi
oleh dinding sel yang didalamnya terdapat tempat berlangsungnya reaksi kimia yang
diperlukan untuk kehidupan sel. Pengamatan tentang sel hanya dapat dilihat
menggunakan mikroskop. Dalam hal ini, mempelajari ukuran, dan bentuk sel merupakan
hal penting, namun tanpa memahami isi dari sel (unit sel) serta hubungannya dengan sel-
sel lain yang melapisinya tidak akan mendapat pengetahuan yang mendalam tentang sel
itu sendiri (Sumardi, 1993)
Mikrokimia adalah salah satu cabang dalam mikroteknik yang digunakan dalam
pengamatan bahan yang terkandung dalam suatu sel maupun jaringan tumbuhan
(Margen, 1982). Pada uji mikrokimia memerlukan beberapa reagensia untuk
memperjelas pengamatan sehingga obyek yang diamati dapat terlihat. Reagen yang
sering digunakan yaitu IKI, kroral hidrat, asam asetat glasial, HCl, floroglusin, reagen
millon, sudan III atau IV, asam pikrat, reagen mayer ataupun biru metilen yang masing-
masing komponen zat kimia tersebut memiliki peranan yang berbeda dalam mendeteksi
keberadaan suatu zat pada sel dan jaringan tumbuhan (Wahidah, 2016)
Pada tumbuhan setiap organnya tersusun atas berbagai macam jaringan. Di dalam
jaringan tersebut terdapat berbagai senyawa ataupun zat yang mendukung atau menjadi
ciri dari organ tersebut. Untuk mengetahui dan memahami secara jelas dan pasti zat-zat
yang menyusun organ-organ tumbuhan, diperlukan praktikum pengamatan berbagai
organ tumbuhan dan uji mikrokimia terhadap preparat organ tersebut. Praktikum ini
dapat dilakukan dengan menggunakan daun, batang, bunga, ataupun akar sebagai objek
penelitian.

B. Tujuan
Praktikum dilakukan untuk mengetahui keberadaan zat penyusun bagian sel-sel
tumbuhan (amilum, llignin, protein, suberin dan minyak) dengan penambahan berbagai
larutan zat kimia

C. Prinsip
Uji Keberadaan Amilum

Uji Keberadaan Lignin

Uji Keberadaan Protein


Uji Millon digunakan untuk mengidentifikasi protein yang mengandung tirosin dalam
suatu sampel yang ditandai dengan terbentuknya kompleks berwarna merah pada sampel
protein. Tirosin merupakan asam amino yang mengandung gugus fenol pada rantai
samping-nya (gugus R-nya). Pereaksi millon mengandung merkuri dan ion merkuro
dalam asam nitrit dan asam nitrat. Gugus fenol pada tirosin ini akan ternitrasi
membentuk garam merkuri dengan pereaksi millon yang akan membentuk kompleks
berwarna merah. (Poedjiadi, 2007)

Uji Keberadaan Suberin


Sudan III dalam alkohol akan memberikan warna merah pada dinding sel yang
mengandung suberin. Pada uji keberadaan suberin setelah ditetesi sudan III juga diberi
alkohol 50%, hal ini menyebabkan suberin larut di dalam alkohol sehingga warna merah
dari sudan III dapat mewarnai dinding sel yang mengandung suberin (Wahidah, 2016)

Uji Keberadaan Minyak


Zat yang mengandung lemak dapat dideteksi dengan menggunakan larutan sudan III.
Larutan sudan III berwarna kemerahan, zat ini larut di dalam lemak, sehingga
penambahan sudan III pada zat yang mengandung lemak akan akan menimbulkan
perubahan warna menjadi merah pada sampel yang diuji (Wahidah, 2016)

D. Alat dan Bahan

E. Metode Pengamatan
Pengamatan sediaan basah (segar) tumbuhan secara mikroskopik dengan uji
mikrokimia dilakukan secara langsung, bagian tumbuhan yang dijadikan sampel
dipotong secara melintang, diletakkan pada kaca benda kemudian diberi larutan uji (uji
amilum, lignin, protein, suberin maupun minyak), lalu ditutup dengan kaca penutup.
Setelahnya diamati dibawah mikroskop binokuler dan dilakukan identifikasi preparat.

F. Prosedur

G. Data

No Hasil Keterangan

2
Uji Keberadaan Protein
Irisan melintang batang seledri
menunjukkan perubahan warna
menjadi kemerahan (merah)

Uji Keberadaan Suberin


Irisan melintang batang seledri
tidak menunjukkan perubahan
warna

5 Uji Keberadaan Minyak Irisan melintang batang seledri


menunjukkan perubahan warna
kuning-kemerahan
H. Analisis Data
Pada uji mikrokimia preparat tumbuhan segar digunakan batang tumbuhan seledri
(Apium graveolens L.). Uji mikrokimia yang dilakukan terdiri dari uji keberadaan
amilum, lignin, protein, suberin dan minyak. Langkah awal, batang seledri disayat
melintang kemudian diletakkan di kaca preparat yang telah ditetesi air lalu ditutup kaca
penutup. Pada uji protein digunakan reagens millon, kemudian dihangatkan di atas lampu
spiritus. Dari hasil uji menunjukkan hasil positif adanya protein yang ditandai dengan
adanya perubahan warna sel-sel preparat batang menjadi kemerahan. Kemudian uji
selanjutnya, yaitu uji keberadaan suberin menggunakan larutan sudan III yang kemudian
dipanaskan kurang lebih 1 menit, lalu dicuci dengan alkohol 50%. Uji positif ditandai
dengan adanya warna merah pada bagian sel yang menagandung suberin. Dari hasil uji
menunjukkan nilai negatif, karena hasil yang diperoleh tidak adanya perubahan warna.
Pada uji keberadaan minyak, preparat awalnya diberi florouglucin dan HCl kemudian
difiksasi selama kurang lebih 1 menit, setelahnya diberi larutan sudan III. Dari hasil
menunjukkan adanya keberadaan minyak yang terlihat dari warna sel-sel preparat batang
yang berubah menjadi kuning- kemerahan.

I. Pembahasan
Mikrokimia adalah salah satu cabang dalam mikroteknik yang digunakan dalam
pengamatan bahan yang terkandung dalam suatu jaringan tanaman (Margen, 1982). Pada
praktikum uji mikrokimia digunakan tanaman seledri (Apium graveolens L). Tanaman
seledri termasuk divisi spermatophyta, sub-divisi angiospermae, kelas dicotyledone,
famili apiaceae dan memiliki marga apium. Tanaman ini merupakan salah satu jenis
tumbuhan yang mempunyai khasiat sebagai obat (Pinem, 2007). Pada uji yang dilakukan
terdiri dari 5 jenis uji yaitu uji keberadaan amilum, lignin, protein, suberin dan minyak
dengan hanya menggunakan sampel dari batang seledri.
Pada uji protein menunjukkan hasil positif dikarenakan adanya perubahan warna sel
menjadi kemerahan (merah) setelah diberikan regens millon. Hal ini sesuai dengan
literatur, Wahidah (2016) menyebutkan larutan millon dapat digunakan untuk mendeteksi
adanya butir aleuron dalam preparat sel tumbuhan. Protein akan berwarna kuning atau
merah-merah bata apabila bereaksi dengan reagen ini. Adanya perubahan warna reeaksi
dkarenakan millon mengandung merkuri dan ion merkuro dalam asam nitrit dan asam
nitrat. Gugus fenol pada tirosin ini akan ternitrasi membentuk garam merkuri dengan
pereaksi millon yang akan membentuk kompleks berwarna merah (Poedjiadi,2007).
Menurut Permadi (2006), pada seledri mengandung 0,9 gr protein dalam 100 gr berat
tanaman. Protein merupakan bahan utama yang menyusun protoplasma yang hidup.
Protein diketahui sebagai bahan cadangan dalam bentuk amorf atau kristal. Pada
beberapa macam biji tumbuhan, protein terdapat sebagai aleuron dan tersebar didalam
sel. Adapula aleuron yang terdapat didalam sel, dan sel tersebut menyusun suatu lapisan
yang disebut lapisan aleuron (Sumardi,1993).
Kemudian pada uji keberadaan suberin menunjukkan hasil negatif dikarenakan tidak
adanya perubahan warna setelah diberi larutan sudan III. Menurut Wahidah (2016),
Larutan sudan III digunakan untuk mendeteksi minyak dan suberin atau kutin yang
terdapat pada preparat. Suberin dan kutin akan berwarna merah, meskipun dipanaskan
warna merah tetap ada. Keberadaan suberin yang tidak ada di batang seledri, sesuai
dengan literatur. Menurut Mahardika (2009), Suberin merupakan zat gabus atau zat yang
melapisi dinding jaringan gabus, sejenis selulosa yang berlemak. Jaringan gabus atau
periderma adalah jaringan pelindung yang dibentuk secara sekunder, menggantikan
epidermis batang dan akar yang telah menebal akibat pertumbuhan sekunder. Fungsi
utamanya adalah untuk melindungi jaringan dibawahnya ataupun untuk melindungi
organ tubuh agar tidak kehilangan air terlalu banyak. Tanaman seledri merupakan
tanaman herba (Pinem, 2007), pada batangnya tidak terjadi pertumbuhan sekunder,
sehingga tidak adanya pembentukan jaringan gabus yang mengandung suberin.
Selanjutnya, pada uji keberadaan minyak digunakan larutan flouroglucin dan HCl
kemudian difiksasi dan diberi larutan sudan III. Hasil uji positif mengandung minyak
karena adanyaperubahan warna sel menjadi kemerahan. Menurut Wahidah (2016),
larutan sudan III digunakan untuk mendeteksi minyak pada peparat. Minyak dan minyak
atsiri akan berwarna merah. Hal ini sesuai dengan literatur yang ada, Al-Snafi dalam
Arisandi (2016) menyebutkan di dalam batang dan daun seledri 2,5-3,5% mengandung
minyak atsiri. Minyak atsiri merupajan salah satu hasil akhir metabolisme sekunder pada
tumbuhan. Zat inilah penyebab wangi, harum atau bau yang khas pada banyak
tumbuhan. Minyak atsiri dapat diperoleh melalui ekstraksi tumbuh-tumbuhan yakni dari
daun, bunga, akar, dan kulit kayu (Wilson, 1993).

J. Kesimpulan
Dari praktikum sediaan basah mikroskopik tumbuhan dengan uji mikrokimia yaitu uji
keberadaan amilum, lignin, protein, suberin dan minyak atsiri, hasil positif menunjukkan
pada batang tanaman seledri (Apium graveolens L) mengandung protein, minyak atsiri . .
.
K. Daftar Rujukan

Arisandi R. dan Sukohar, A. 2016. Seledri (Apium graveolens L) sebagai Agen


Kemopreventif bagi Kanker. Majority, 5(2) : 95-100

Mahardika, M.A. 2009. Jaringan Pada Tumbuhan. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma

Margen, 1982. Dasar-Dasar Kimia Organik. Jakarta : Depdikbud

Permadi, A. Tanaman Obat Pelancar Air Seni. Depok : Penebar Swadayana. Hal 5-15, 23-24

Pinem, L.J. 2007. Perbedaan Lingkungan dan Masa Tanam Seledri (Apium Graveolens L.)
terhadap Senyawa Bioaktif Apigenin. Bogor : Institut pertanian Bogor

Poedjiadi. 2007. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : UI Press

Salisbury, Frank B. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung : Penerbit ITB.

Sumardi, I. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta : UGM Press

Wahidah, B.F. 2016. Penuntun Praktikum Botani Dasar. Makassar : Universitas Islam Negeri
Alauddin Makassar

\Wilson, E.M., 1993. Hidrologi Teknik. Penerbit ITB Bandung, Bandung.

Anda mungkin juga menyukai