Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fenotip pada makhluk hidup yang muncul dipengaruhi oleh
gen atau faktor keturunan serta faktor lingkungan. Faktor
lingkungan dapat berupa faktor internal maupun faktor eksternal
seperti suhu, intensitas cahaya, dan nutrisi. Perubahan fenotip pada
makhluk hidup dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti
mutasi dan modifikasi. Perubahan akibat mutasi merupakan
perubahan yang terjadi pada faktor keturunan dan dapat diwariskan
pada keturunan berikutnya. Sedangkan perubahan karena
modifikasi merupakan perubahan yang terjadi karena pengaruh
lingkungan dan sifatnya tidak menurun. Faktor lingkungan yang
dapat mengakibatkan modifikasi merupakan perubahan yang
terjadi karena pengaruh lingkungan dan sifatnya tidak menurun
(Waluyo, 1995).
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang pesat
berdampak pada perubahan gaya hidup masyarakat, termasuk
perubahan pola konsumsi makanan. Masyarakat cenderung
menggemari makanan cepat saji, makanan dalam kemasan, serta
makanan yang diawetkan yang banyak dijual di pasar tradisional
dan swalayan. Mayoritas makanan tersebut mengandung bahan
penyedap makanan untuk merangsang selera makan. Salah satu
penyedap makanan yang sering ditemui masyarakat adalah Garam
Monosodium Glutamat (MSG) dalam beberapa merk dagang.
Berbagai merk dagang MSG yang dikenal oleh masyarakat adalah
Ajinomoto, Miwon, Sasa, Vetsin, dan Micin (Donatus, 1990).
2

MSG merupakan bumbu penyedap ketiga setelah garam dan


lada yang banyak digunakan di dunia. Konsumsi MSG perkapita di
Negara Korea, Jepang, Thailand, Taiwan dan masyarakat perkotaan
Indonesia cukup tinggi. Monosodium Glutamat (MSG) adalah garam
sodium L Glutamic Acid, komponen utama MSG adalah asam
glutamat yang merupakan molekul neurotransmitter eksitabel
dalam otak dan jika dalam jumlah yang berlebihan dapat
menciderai neuron. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
(Edward, 2010) menyatakan bahwa pemberian MSG mengakibatkan
1
gangguan hormonal pada hewan coba, ion glutamat dalam sirkulasi
portal akan mempengaruhi hipotalamus dalam memproduksi GnRH
yang selanjutnya akan mengganggu hipofise anterior dalam
memproduksi FSH dan LH. Fungsi FSH adalah untuk bekerja pada
tubulus seminiferus terutama pada sel sertoli untuk meningkatkan
spermatogenesis, sedangkan LH berfungsi pada sel Leydig untuk
mengatur sekresi testosteron.
Pemakaian MSG dosis besar dan lama akan memberikan efek
samping yang dapat mengakibatkan gangguan hormonal dimana
ion glutamat mempengaruhi produksi GnRH dari hipotalamus dan
kerusakan pada sel neuron hipotalamus. Dari kerja fisiologis
endokrinal inilah diduga bahwa MSG dapat menimbulkan kerusakan
pada sistem dan organ reproduksi serta lebih jauh lagi dapat
menyebabkan infertilitas. Tuntutan kebutuhan terhadap makanan
yang rasanya enak membawa konsekuensi pemakaian bahan
penyedap terutama MSG semakin meningkat dari waktu ke waktu,
sehingga memungkinkan terjadinya akumulasi zat tersebut dalam
tubuh. Percobaan yang dilakukan oleh (Edward, 2010) Bila mencit
betina percobaan dikawinkan dengan mencit jantan normal, maka
jumlah kehamilan dan jumlah anak berkurang secara bermakna.
3

Mencit jantan yang diberi MSG setelah dewasa menunjukkan tanda-


tanda penurunan fertilitas antara lain berkurangnya berat testis,
undens-cended testis dan berat hipofisis berkurang.
Drosophila melanogaster memiliki populasi yang sangat
besar, daur hidupnya cepat dan tingkat kesuburan tinggi, betina
mampu menghasilkan ratusan telur dan jumlah kromosomnya
sedikit. Sedangakan menurut Kimball (1992) populasi Drosophila
yang sangat besar, mempunyai daur hidup yang sangat cepat, lalat
buah mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi, individu betina
dapat menghasilkan ratusan telur. Oleh karena itu, berdasarkan
fenomena dan faktor pendukung tersebut, penulis melakukan
penelitian berjudul Pengaruh Pemberian Monosodium Glutamate
Terhadap fekunditas Persilangan Drosophila Melanogaster Strain
Normal untuk lebih memahami secara detail pengaruh konsumsi
MSG terhadap fekunditas Drosophila Melanogaster serta perbedaan
fekunditas pada setiap generasi.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1. apakah ada perbedaaan fekunditas antara persilangan Drosophila melanogaster
Strain N N yang diberi pengaruh Monosodium glutamate dengan yang tidak
diberi pengaruh Monosodium glutamate?
2. apakah ada perbedaan fekunditas Drosophila melanogaster Strain N N
pada setiap generasi?
3. apakah ada perbedaan interaksi konsentrasi dan generasi terhadap fekunditas
Drosophila melanogaster Strain N N?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian, sebagai berikut:
4

1. untuk mengetahui perbedaaan fekunditas antara persilangan Drosophila


melanogaster Strain N N yang diberi pengaruh penambahan Monosodium
glutamate dengan yang tidak diberi pengaruh Monosodium glutamate.
2. untuk mengetahui perbedaan fekunditas Drosophila melanogaster Strain N
N pada setiap generasi.
3. untuk mengetahui perbedaan interaksi konsentrasi dan generasi terhadap
fekunditas Drosophila melanogaster Strain N N.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian sebagai berikut:
1. melatih mahasiswa melakukan penelitian dan berfikir secara analisis
mengenai suatu permasalahan.
2. membuktikan secara langsung pengaruh pemberian Monosodium Glutamate
pada Drosophila melanogaster.
3. menambah pengetahuan mahasiswa mengenai pengaruh pemberian
Monosodium Glutamate terhadap fekunditas Drosophila melanogaster strain N
N.
4. menambah pengetahuan mahasiswa mengenai pengaruh pemberian
Monosodium Glutamate terhadap generasi Drosophila melanogaster strain N
N.
E. Batasan Penelitian
Batasan masalah dari penelitian sebagai berikut:
1. penelitian ini hanya dilakukan terhadap lalat buah Drosophila
melanogaster strain N (Normal).
2. penelitian hanya mengkaji pengaruh pemberian monosodium glutamate
dengan konsentrasi 2.5% terhadap fekunditas dan nisbah kelamin Drosophila
melanogaster strain N >< N.
3. pengamatan dalam penelitian dibatasi pada keturunan F1 sampai F3 dari
hasil persilangan Drosophila melanogaster strain N >< N.
4. pengambilan data dimulai dari hari menetasnya pupa (hari ke 1) sampai
hari ke tujuh.
5

F. Asumsi Penelitian
Anggapan dasar penelitian sebagai berikut:
1. kondisi nutrisi lalat buah (medium) yang terdapat di dalam botol
ulangan dianggap sama.
2. seluruh kondisi lingkungan seperti suhu, cahaya, kelembapan
selama didalam botol dianggap sama.
3. Semua perlakuan yang dilakukan pada setiap ulangan persilangan
dianggap sama.
4. Seluruh aspek biologis D. melanogaster yang disilangkan
termasuk umur dan kemampuan untuk kawin, selain gen-gen mutan dan jenis
kelamin dianggap sama.
5. Waktu yang digunakan selama penelitian dalam
mengembangbiakan Drosophila melanogaster dianggap sama.

G. Definisi Operasional Variabel


Definisi operasional variabel sebagai berikut:
1. Strain adalah suatu kelompok intra-spesifik yang memiliki satu atau sejumlah
kecil ciri yang berbeda, biasanya dalam keadaan homozigot untuk ciri-ciri
tersebut atau galur murni (Yatim, 1996).
2. Fenotip: menurut Ayala dalam Corebima (1997) adalah karakter-kerakter yang
dapat diamati pada suatu individu (yang merupakan hasil interaksi antara genotip
dan lingkungan tempat hidup dan berkembang).
3. Genotip: menurut Ayala dalam Corebima (1997) adalah keseluruhan jumlah
informasi genetik dari suatu makhluk hidup dalam hubungannya dengan satu
atau beberapa lokus gen yang sedang menjadi perhatian.
4. Monosodium glutamate adalah garam sodium L Glutamic Acid yang
sering ditambahkan untuk lebih menyedapkan makanan.
5. Fekunditas adalah jumlah sel telur yang dihasilkan oleh seekor
hewan betina per-tahun atau pe-satuan berat hewan.
6. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri misalnya
gen/ faktor keturunan.
6

7. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar tubuh Drosophila
melanogaster misalnya penambahan MSG pada nutrisi.

Anda mungkin juga menyukai