Anda di halaman 1dari 18

Berita Acara Presentasi Portofolio

Pada hari ini hari Selasa, tanggal 27 oktober 2016 telah dipresentasikan portofolio
oleh:
Nama : dr. Kesowo sujoko
Judul/ topik : Sumbatan jalan nafas bagian atas
et causa tumor laring
No. ID dan Nama Pendamping : dr. Sri Widiyanti
dr. Wido Sutarto
No. ID dan Nama Wahana : RSUD dr. M. Ashari Pemalang

Nama Peserta Presentasi No. ID Peserta Tanda Tangan

1. 1.

2. 2.

3. 3.

4. 4.

5. 5.

6. 6.

7. 7.

8. 8.

9. 9.

10. 10.

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.

Pendamping Pendamping

dr. Wido Sutarto dr. Sri Widiyanti

BAB I
STATUS PASIEN

A. STATUS PASIEN
Nama : Tn. S
Usia : 61 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Bantar Bolang 07/04 desa Bantar Bolang, Pemalang
Agama : Islam
Tanggal Masuk : 08 juli 2016
Tanggal Pemeriksaan : 16 juli 2016
Nomor Rekam Medis : 32-60-73

B. ANAMNESIS (11/07/16)
Anamnesis diperoleh dengan cara autoanamnesis dibantu alloanamnesis dengan
istri pasien dan dilengkapi dengan rekam medis rumah sakit.
1. Keluhan Utama
Sesak
2. Riwayat Penyakit Sekarang
2 bulan SMRS pasien mengeluh sedikit sesak, nyeri
tenggorokan, suara serak, demam (-), mual (-), muntah (-), pilek (-),
batuk (-), bak (+) normal, bab (+) lebih sedikit karena kurang makan,
kemudian pasien berobat ke mantri dekat rumah pasien. Sudah
beberapa kali berobat ke mantri tetapi tidak sembuh.
+ 1 minggu SMRS pasien mengeluh nyeri telan semakin tidak
nyaman, suara serak, sesak, berat badan turun, makan minum sedikit
karena kurang nyaman, demam (-), mual (-) muntah (-), pilek (-),
batuk (-), bak (+) normal, bab (+) sedikit. Karena berobat ke mantri
tidak sembuh pasien berobat ke dokter dan disarankan oleh dokter ke
IGD RSUD Dr M. Ashari Pemalang karena sesak.

2
3. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat darah tinggi : disangkal
b. Riwayat penyakit gula : disangkal
c. Riwayat operasi : disangkal
d. Riwayat jantung : disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga


a. Riwayat Penyakit Serupa : disangkal
b. Riwayat Alergi : disangkal

C. PEMERIKSAAN
a. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum : sakit sedang, kompos mentis, sesak, gizi kurus,
sianosis.
Status generalis:
Tanda Vital :
Tekanan Darah : 120/80 mm Hg
Nadi : 84x/menit
Frekuensi Napas : 28x/menit
Suhu : 37.1oC (aksiler)
2. Status Gizi:
BB sekarang : 46 kg
TB : 165 cm
BMI : 16, 80kg/m3 (underweight)
3. Kulit : Coklat, turgor cukup
4. Kepala : mesocephal, rambut hitam dan sukar dicabut.
5. Mata : reflek cahaya (+/+), pupil isokor (2mm/2mm),
konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
oedema palpebra (-/-)
6. Hidung : Hiperemis (-/-), sekret (-/-), benda asing (-/-)
7. Telinga : sekret (-/-), tragus pain (-)
8. Mulut : mulut perot (-), stridor (+), disfagia (-), disartria (-), faring
hiperemis , terdapat masa di laring dengan laringoscopy direct
9. Leher : terdapat massa di leher kanan kelenjar limfe leher level II
yang berdiameter + 1 cm, bulat, padat.
10. Thoraks :
Pulmo :
Inspeksi : tampak retraksi suprasternal, intercostal, dan epigastrial

3
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor seluruh lapangan paru
Auskultasi : Suara dasar = vesikuler,
Suara tambahan : hantaran -/-, ronki -/-, wheezing -/-
Jantung :
Inspeksi : Iktus cordis tak tampak
Palpasi : Iktus kordis teraba di spatium interkosta V, 2 cm medial
linea midklavikula sinistra
Perkusi : Konfigurasi jantung dalam batas normal
Auskultasi : Suara jantung I-II murni, bising (-), gallop (-)
11. Abdomen :
Inspeksi : datar, gambaran gerak usus (-), venektasi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : timpani, pekak alih (-), pekak sisi (+) normal
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba
12. Genitalia Eksterna: Laki-laki
Pembesaran nn.ll : inguinal (-/-)
Ekstremitas Superior Inferior
Sianosis +/+ +/+
Oedema -/- -/-
Reflek fisiologis + /+ +/+
+/+ +/+
Reflek patologis -/- -/-
-/- -/-

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium 10/07/2016 Nilai Satuan Rujukan

Darah lengkap

Hb 14,2 g/dl 13 16

Leukosit 14,59 ribu/ul 5,0 11

Trombosit 211 ribu/ul 150-400

Eritrosit 4,9 juta/ul 4,0- 6

MCV 87,7 fL 77-95

MCH 31,9 Pg 25-33

MCHC 33,30 g/dl 31- 37

LED 1 jam 24 mm/jam <10

4
HBs Ag - -

Pt 11 10-14

Basofil 0.2 0.0-1.0

Eosinofil 2.1 2.0-4.0

Neutrofil 75.8 50-70

Limfosit 14.1 25-40

Monosit 7.8 28

Hasil patologi anatomi pada tanggal 18 juli 2016 oleh dr Harijadi, Sp. PA (K) pada
laring pasien adalah difuse non hodgkin limphoma tipe sel besar

D. RESUME
Seorang pasien berumur 61 tahun sejak 3 bulan yang lalu mengeluh
sesak, nyeri tenggorokan yang semakin lama tidak nyaman, suara serak ,
sesak, telinga sering berdenging, berat badan turun, makan minum berkurang
karena kurang nyaman untuk makan sehingga lebih nyaman minum.
Pemeriksaan fisik didapatkan nafas cepat 28 x/menit, saturasi
94%mulut perot (-), stridor(+), disfagia (-), faring hiperemis terdapat masa di
laring, leher terdapat masa di leher kanan kelenjar limfe leher level II yang
berdiameter 1 cm, bulat dan padat, retaksi suprasternal, intercostal, dan
epigastrial, dan sianosis pada ujung- ujung ekstrmitas tangan dan kaki.
Pemeriksaan laboratorium meningkat leukosit, LED, dan neutrofil mengalami
peningkatan sedangkan pada leukosit jenis limfosit mengalami penurunan.
Sedangkan pada hemoglobin, hematokrit, eritrosit, trombosit, MCV, MCH,
MCHC, PT, Aptt, basofil, eosinofil, monosit dalam batas normal. Hasil patologi
anatomi pada tanggal 18 juli 2016 oleh dr Harijadi, Sp. PA (K) pada laring pasien
adalah difuse non hodgkin limphoma tipe sel besar

5
E. DAFTAR MASALAH
1. Sesak
2. Nyeri telan
3. Serak
4. Muncul benjolan disebelah kanan
5. Telinga sering berdenging
6. Berat badan menurun
7. Makan minum berkurang
8. Masa di laring
9. Retraksi supraternal, intercostal , dan epigastrial
10. sianosis
11. Leukositosis
12. Led yang meningkat
13. Meningkatya neutrofil
14. Menurunnya limfosit

6
F. DIAGNOSIS BANDING
Sumbatan saluran nafas atas jackson 2-3

G. ASSESMENT:
Sumbatan saluran nafas atas jackson 2-3
Ip ax
Ca laring
Polip laring
Ip Tx :
Pasang oksigen 2 lpm
Laringoscopy direct
Biopsi
Rawat icu
inf futrolit 20 tpm
inj pumpitor 2x1
injeksi ambacin 2x1
IpMx : monitoring ku, ttv, tanda tanda gagal nafas
IpEx : edukasi kepada keluarga sesak dan masa di laring sudah
dilakukan biopsi, menunggu hasil biopsi, kondisi kemungkinan
terburuk pasien setelah biopsi dan keuntungan bila dilakukan biopsi.
b. Leukositosis
IpAx
1. infeksi bakteri
2. infeksi virus
IpTx : inj ambacin

7
IpMx : monitoring ku pasien, TTV, tanda tanda kegawatan
IpEx : menjelaskan kepada pasien bahwa leukosit yang tinggi bisa
disebabkan macam macam infeksi bakteri, infeksi virus atau yang
lainnya

I. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanam : dubia ad malam
Ad fungsionam : dubia ad malam

Follow up pasien (11/7/2016)


S Badan lemas, serak, tenggorokan sakit
Sense compos mentis N 94 kali/menit
O TD 110/70 mmHg RR 28 kali/menit
0
T 37,3 C S O2 98 % terpasang oksigen nasal
Kulit: Kulit : warna sawo matang, kelembaban baik, petechi (-)
Mata : Konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
Mulut Faring hiperemis, tampak masa di laring pada saat
laringoscopy direct
Leher: Pembesaran KGB (+)
Paru-paru: I: retraksi suprasternal, intercostal, dan epigastrial.
P: stem fremitus kanan = kiri
P: sonor di kedua lapangan paru
A: vesikuler (+) N, ronki basah halus(+/+), wheezing (-)
Jantung : I: ictus cordis tidak terlihat
P: ictus cordis tidak teraba
P: batas atas ICS 2, batas kanan LS dextra, batas kiri LMC
sinistra
A: bj1/2 normal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen: I : sejajar dada
A: bising usus (+) normal
P: datar, bising usus (+) normal, supel, nyeri tekan (-), lien
tidak teraba, undulasi (-), pekak alih (-), turgor kembali
cepat
P: timpani, shifting dulness (-)

8
Extremitas: akral dingin sianosis petechie (RL +)

Capillary Refill Time < 2 detik


Arteri Dorsalis Pedis teraba kuat
Pemeriksaan -
Penunjang
Assessment Obstructuction of the upper respiratory tract jackson 2-3
Planning Oksigen 2 lpm
Inf futrolit 20 tpm
Inj ambacin 2x1amp
Inj pumpitor 2x1 amp
Inj ketorolac 3x1 amp
Inj metilprednisolon 2x 125mg
Observasi KU, TTV, dan program
laringoscopy direct dan biopsi
Rencana Darah lengkap, Pt,Aptt, HBSag , Foto thorax,
Pemeriksaan

Follow up pasien (12/7/2016)


S Badan lemas, nyeri post diret laringoscopy, biopsi
Sense compos mentis N 88 kali/menit
O TD 120/70 mmHg RR Sulit dinilai belum ada nafas
spontan dan terpasang ETT
T 37,2 0C
Kulit: Kulit : warna sawo matang, kelembaban baik, petechi (-)
Mata : Konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
Mulut Dalam batas normal
Leher: Pembesaran KGB (+)
Paru-paru: I: statis, dinamis; simetris kanan = kiri, spider naevi (-)
P: stem fremitus kanan = kiri
P: sonor di kedua lapangan paru
A: vesikuler (+) N, ronki basah halus(+/+)), wheezing (-)
Jantung : I: ictus cordis tidak terlihat
P: ictus cordis tidak teraba
P: batas atas ICS 2, batas kanan LS dextra, batas kiri LMC
sinistra
A: HR 80 x/ menit, murmur (-), gallop (-)

9
Abdomen: I : sejajar dada
A: bising usus (+) normal
P: datar, bising usus (+) normal, supel, nyeri tekan (-), lien
tidak teraba, undulasi (-), pekak alih (-), turgor kembali
cepat
P: timpani, shifting dulness (-)
Extremitas: akral dingin sianosis sianosis

Capillary Refill Time < 2 detik


Arteri Dorsalis Pedis teraba kuat
Pemeriksaan -
Penunjang
Assessment Obstruction of the upper respiratory tract jackson 1-2 ec dd
ca laring
polip laring
Planning rawat icu
inf futrolit 20 tpm
inj plasminex 3x1 amp
inj pumpitor 2x1
inj metilprednisolon 2 x 125mg
injeksi ambacin 2x1
Observasi KU, TTV, dan tanda-tanda gagal nafas
Rencana Lab DR/24 jam
Pemeriksaan

Follow up pasien (13/7/2016)


S Badan lemas, nyeri post diret laringoscopy, biops
Sense compos mentis N 84kali/menit
O TD 120/70 mmHg RR Nafas spontan mulai ada
0
T 36,8 C
Kulit: Kulit : warna sawo matang, kelembaban baik, petechi (-)
Mata : Konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
Mulut Dalam batas normal

10
Leher: Pembesaran KGB (+)
Paru-paru: I: statis, dinamis; simetris kanan = kiri, spider naevi (-)
P: stem fremitus kanan = kiri
P: sonor di kedua lapangan paru
A: vesikuler (+) N, ronki basah halus(-/-)), wheezing (-)
Jantung : I: ictus cordis tidak terlihat
P: ictus cordis tidak teraba
P: batas atas ICS 2, batas kanan LS dextra, batas kiri LMC
sinistra
A: HR 84 x/ menit, murmur (-), gallop (-)
Abdomen: I : sejajar dada
A: bising usus (+) normal
P: datar, bising usus (+) normal, supel, nyeri tekan (-), lien
tidak teraba, undulasi (-), pekak alih (-), turgor kembali
cepat
P: timpani, shifting dulness (-)
Extremitas: akral dingin edema sianosis

Capillary Refill Time < 2 detik


Arteri Dorsalis Pedis teraba kuat
Pemeriksaan -
Penunjang
Assessment Obstruction of the upper respiratory tract ec dd
ca laring
polip laring
Planning rawat icu
inf futrolit 20 tpm
inj pumpitor 2x1
inj plasminex 3x 1 amp
inj metilprednisolon 2 x 125mg
injeksi ambacin 2x1
Observasi KU, TTV, dan tanda-tanda gagal nafas, program
tracheostomi
Rencana Lab DR/24 jam
Pemeriksaan

11
Follow up pasien (14/7/2016)

S Badan lemas post diret laringoscopy, biopsi, dan tracheostomi


Sense compos mentis N 88 kali/menit

O TD 120/70 mmHg RR 20 kali/menit nafas spontan


melalui leher post tracheostomi
T 37,1 0C
Kulit: Kulit : warna sawo matang, kelembaban baik, petechi (-)
Mata : Konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
Mulut Dalam batas normal
Leher: Pembesaran KGB (+)
Paru-paru: I: statis, dinamis; simetris kanan = kiri, spider naevi (-)
P: stem fremitus kanan = kiri
P: sonor di kedua lapangan paru
A: vesikuler (+) N, wheezing (-)
Jantung : I: ictus cordis tidak terlihat
P: ictus cordis tidak teraba
P: batas atas ICS 2, batas kanan LS dextra, batas kiri LMC
sinistra
A: HR 80 x/ menit, murmur (-), gallop (-)
Abdomen: I : sejajar dada
A: bising usus (+) normal
P: datar, bising usus (+) normal, supel, nyeri tekan (-), lien
tidak teraba, undulasi (-), pekak alih (-), turgor kembali
cepat
P: timpani, shifting dulness (-)
Extremitas: akral dingin edema sianosis

Capillary Refill Time < 2 detik


Arteri Dorsalis Pedis teraba kuat

12
Pemeriksaan Darah lengkap/ 24 jam
Penunjang
Assessment Post biopsi dan tracheostomi ec tumor laring
Planning Inf futrolit 20 tpm
Inj ambacin 2x1 amp
Inj metilprednisolon 2 x 125mg
Inj pumpitor 2x1 amp
Pindah ruang bangsal
Observasi KU, TTV, dan tanda-tanda perdarahan.

Rencana Cek darah lengkap/24 jam


Pemeriksaan

Follow up pasien (15/7/2016)


S Tidak ada
Sense compos mentis N 88 kali/menit
43 TD 120/70 mmHg RR 20 kali/menit melalui selang post
O tracheostomi pernapasan pasien
T 37 0C
Kulit: Kulit : warna sawo matang, kelembaban baik, petechi (-)
Mata : Konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
Mulut Dalam batas normals
Leher: Pembesaran KGB (+)
Paru-paru: I: statis, dinamis; simetris kanan = kiri, spider naevi (-)
P: stem fremitus kanan = kiri
P: sonor di kedua lapangan paru
A: vesikuler (+) N, wheezing (-)
Jantung : I: ictus cordis tidak terlihat
P: ictus cordis tidak teraba
P: batas atas ICS 2, batas kanan LS dextra, batas kiri LMC
sinistra
A: HR 80 x/ menit, murmur (-), gallop (-)
Abdomen: I : sejajar dada
A: bising usus (+) normal
P: datar, bising usus (+) normal, supel, nyeri tekan (-), lien
tidak teraba, undulasi (-), pekak alih (-), turgor kembali
cepat
P: timpani, shifting dulness (-)

13
Extremitas: akral dingin edema petechie (RL +)

Capillary Refill Time < 2 detik


Pemeriksaan
Penunjang
Assessment Post biopsi dan tracheostomi ec STT laring
Planning Rawat bangsal nuri
Inf futrolit 25 tpm
Inj ambacin
Inj pumpitor
Inj metilprednisolon 2 x 125mg
Observasi KU, TTV, dan tanda-tanda perdarahan spontan

Rencana -
Pemeriksaan

Follow up pasien (16/7/2016)


S -
Sense compos mentis N 88 kali/menit
O TD 120/70 mmHg RR 20 kali/menit melalui lobang
post tracheostomi
T 37 0C
Kulit: Kulit : warna sawo matang, kelembaban baik, petechi (-)
Mata : Konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
Mulut Dalam batas normal
Leher: Pembesaran KGB (+)
Paru-paru: I: statis, dinamis; simetris kanan = kiri, spider naevi (-)
P: stem fremitus kanan = kiri
P: sonor di kedua lapangan paru
A: vesikuler (+) N, wheezing (-)

14
Jantung : I: ictus cordis tidak terlihat
P: ictus cordis tidak teraba
P: batas atas ICS 2, batas kanan LS dextra, batas kiri LMC
sinistra
A: HR 80 x/ menit, murmur (-), gallop (-)
Abdomen: I : sejajar dada
A: bising usus (+) normal
P: datar, bising usus (+) normal, supel, nyeri tekan (-), lien
tidak teraba, undulasi (-), pekak alih (-), turgor kembali
cepat
P: timpani, shifting dulness (-)
Extremitas: akral dingin sianosis

Capillary Refill Time < 2 detik

Pemeriksaan Post biopsi dan tracheostomi et causa stt laring


Penunjang
Assessment -
Planning Boleh pulang
Asam mefenamat 3 x 500 mg
Cefixime 3 x100 mg
Kontrol ulang untuk hasil patologi anatomi

Rencana -
Pemeriksaan

ANALISIS KASUS

15
A. Sumbatan jalan nafas bagian atas

Obstruksi saluran napas atas adalah sumbatan pada saluran napas atas pada
laring yang disebabkan oleh adanya radang, benda asing, trauma, tumor dan
kelumpuhan nervus rekuren bilateral sehingga ventilasi pada saluran
pernapasan terganggu. 1

Gejala dan tanda sumbatan yang tampak pada pasien ini adalah 1 :

Serak (disfoni) sampai afoni


Sesak napas (dispnea)
Stridor (nafas berbunyi) yang terdengar pada waktu inspirasi.
Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal, epigastrium, s
upraklavikuladan interkostal. Cekungan itu terjadi sebagai upaya dari otot-
otot pernapasan untuk mendapatkan oksigenyang adekuat.
Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena hipoksia.
Pada pasien ini mengeluh sesak pada saat diperiksa terdapat pucat, stridor,
retraksi suprasternal, intercostal, dan epigastrial. Juga terdapat sianosis pada
pasien ini.

B. sumbatan jalan nafas bagian atas jackson 1-2 karena difuse NHL laring
Sumbatan jalan napas bagian atas disebabkan oleh trauma, tumor, infeksi
akut, kelainan kongenital hidung atau laring, difteri, paralisis plika vokalis,
pangkal lidah yang jatuh kebelakang papad pasien yang tidak sadar, dan lain lain. 1
Pada pasien ini pada saat dilakukan pemeriksaan dengan laringosopy direct
didapatkan masa, dilakukan biopsi dan tracheostomi. Dari hasil pemeriksaan
histopatologis didapatkan difuse nonhodgkin limfoma di laring. 1
Limfoma adalah kanker darah yang paling umum. Dua bentuk utama dari
limfoma adalah Limfoma Hodgkin dan non Hodgkin-limfoma (NHL). Limfoma
terjadi ketika sel-sel sistem kekebalan yang disebut limfosit, sejenis sel darah
putih, tumbuh dan berkembang biak tak terkendali. limfosit kanker dapat
melakukan perjalanan ke banyak bagian tubuh, termasuk kelenjar getah bening,
limpa, sumsum tulang, darah, atau organ lain, dan membentuk massa yang disebut

16
tumor. Tubuh memiliki dua jenis utama limfosit yang dapat berkembang menjadi
limfoma:-limfosit B (B-sel) dan T-limfosit (T-sel).2,4
Difus limfoma sel B besar (DLBCL) adalah bentuk paling umum dari NHL,
akuntansi hingga 30 persen dari kasus baru didiagnosis di Amerika Serikat.
DLBCL adalah agresif (cepat tumbuh) limfoma. Hal ini dapat timbul di kelenjar
getah bening atau di luar dari sistem limfatik, di saluran pencernaan, testis, tiroid,
kulit, payudara, tulang, atau otak. Meskipun DLBCL adalah bentuk paling umum
dari NHL, ada beberapa subtipe yang dapat mempengaruhi prognosis (seberapa
baik pasien akan melakukan dengan pengobatan standar) dan pengobatan.
Misalnya, DLBCL yang hanya mempengaruhi otak disebut "primary sistem saraf
pusat limfoma" dan diperlakukan berbeda dari DLBCL yang mempengaruhi
daerah di luar otak. Contoh lain adalah "utama limfoma sel B mediastinum" yang
sering terjadi pada pasien yang lebih muda dan tumbuh cepat di dada
(mediastinum).4
Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan
kriteria Jackson. 1
1. Jackson I ditandai dengan sesak, stridor inspirasi ringan, retraksi suprasternal,
tanpa sianosis.
2. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi
supra dan infraklavikula, sianosis ringan, dan pasien tampak mulai gelisah.
3. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal,
epigastrium,dan sianosis lebih jelas.
4. Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak
tegang, dan terkadanggagal napas.
Pada pasien ini mengeluh sesak pemeriksaan fisik didapatkan nafas cuping hidung, stridor ,
retraksi suprasternal, retraksi interkostal, dan retraksi epigastrium serta sianosis dan pucat
sehingga sesuai dengan kriteria sumbatan jalan nafas jackson 2.

Penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui, namun didapatkan


beberapa hal yang berhubungan erat dengan terjadinya keganasan laring yaitu )
rokok, alkohol, sinar radio aktif, polusi udara,dan radiasi leher. -da peningkatan

17
resiko terjadinya tumor ganas laring pada pekerja, pekerja yang terpapar dengan
debu kayu 1,2.
Karsinoma laring banyak dijumpai pada usia lanjut diatas 40 tahun.
Kebanyakan pada laki-laki. hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan merokok,
bekerja dengan debu serbuk kayu, kimia toksik atau serbuk logam berat.
Bagaimana terjadinya belum diketahui secara pasti oleh para ahli. Kanker kepala
dan leher menyebabkan 6 persen dari semua penyakit keganasan. paling banyak
kanker laring adalah karsinoma sel skuamosa. kanker terbatas pada pita suara
(intrinsik) menyebar dengan lambat. pita suara miskin akan pembuluh limfe
sehingga tidak terjadi metastase kearah kelenjar limfe. Bila kanker melibatkan
epiglotis (ekstrinsik) metastase lebih umum terjadi. Tumor supraglotis dan
subglotis harus cukup besar, sebelum mengenai pita suara sehingga
mengakibatkan suara serak. 1,2,3
Tumor leher ditemukan sekitar 3% dari keseluruhan kasus kanker yang ada
di Amerika Serikat (dan sekitar 6% dari semua populasi kanker dunia pada tahun
2002), dan sekitar 45.000 kasus kanker kepala dan leher didiagnosis pada tahun
2004 Perbandingan dalam jenis kelamin wanita lebih banyak dari laki-laki = 3 : 1
dengan umur rata-rata 40-70 tahun. 60% penderita kebanyakan datang dengan
hanya satu keluhan, yaitu benjolan di daerah leher. 2

18