Anda di halaman 1dari 88

Komponen Jalan Rel

Struktur Jalan Rel

Rail Clip Center line


Rail
Sleeper
Ballast
Plants

Drainage

Sub ballast
Rel

Y running surface (rail thread)

kepala (head)

x
badan (web)

dasar (base)

Penamaan rel disesuaikan dengan berat/meter, misalnya :


R-54, adalah rel dengan berat sekitar 54 kg/meter.
R-42, adalah rel dengan berat sekitar 42 kg/meter
Fungsi Rel
Menerima langsung beban-beban dari kereta sebelum didistribusikan
ke komponen lainnya
Mengarahkan jalannya kereta
Unsur pengikat dalam membentuk struktur jalan rel
ARA (American Railways Association) membagi menjadi jenis A dan
jenis B.
Jenis A kepala rel dibuat tipis dengan tujuan momen inersia tinggi, rel ini
dipakai untuk kecepatan tinggi.
Jenis B kepala dibuat tebal dengan momen inersia cukup, untuk menahan
bahaya aus karena beban gandar yang tinggi dan kecepatan sedang.
Pemilihan Jenis Rel
Pemilihan Dimensi
Penentuan dimensi rel didasarkan pada tegangan lentur di dasar rel (S-base),
akibat beban dinamis roda kendaraan rel.
S-base < tegangan ijin baja (Si), dimensi ini dianggap cukup.
Tegangan Ijin
Tegangan ijin sangat tergantung kepada mutu rel, (mutu rel dengan tegangan
'ultimate' di atas 7000 kg/cm).
PT KA berdasar kelas jalan (S-base) lihat tabel.
Penentuan tegangan ijin berdasar pada:
kelas jalan rel; misalnya Jepang dan Jerman
Penggunaan rel, rel pendek atau rel panjang; misalnya Amerika.
Contoh Perhitungan Dimensi Rel
Kelas Daya Kecepatan Beban gandar Beban roda Jenis Rel Tegangan Tegangan ijin
Jalan Angkut Lintas rencana (kpj) (ton) dinamis dasar rel (kg/cm2)
(juta ton/thn) (kg) (kg/cm2)
I > 20 150 18 19940 R-60 1042,3 1325

R-54 1176,8
II 10-20 140 18 16241 R-54 1128,2 1325

R-50 1231,8

III 5-10 125 18 15542 R-54 1097,7 1663

R-50 1178,8

R-42 1476,3

IV 2.5-5 115 18 14843 R-54 1031 1843

R-50 1125,8

R-42 1410
V >2,5 100 18 14144 R-42 1343,5 2000
Umur Rel
Umur rel dipengaruhi oleh:
mutu rel,
keadaan lingkungan dan
beban yang bekerja (daya angkut lintas).
Pada jalan lurus umur rel banyak yang lebih besar dari 40 tahun - bisa
mencapai 60 tahun, tetapi biasanya umur 40 tahun dijadikan sebagai dasar
umur.
Umur rel dapat ditentukan dari :
Kerusakan ujung rel
Keausan baik di lurus maupun di lengkung
Lelah
Jenis Rel
Rel menurut panjangnya dibedakan atas 3 jenis, yaitu
Rel standar, panjang 25 m, sebelumnya 6 - 10 m.
Rel pendek, adalah rel yang panjang maksimal 100 m, atau 4 x 25 m, (dng
pengelasan di Balai Yasa, sebelum diangkut ke lokasi pemasangan).
Rel panjang, adalah rel yang panjang statis (static length) minimal 200 m,
(daerah yang tidak terpengaruh pergerakan sambungan rel).
Sambungan Rel
Untuk meningkatkan kenyamanan, rel dibuat panjang dan menerus
dengan cara disambung menggunakan:
Las termit
Pengelasan menggunakan bahan kimia senyawa besi yang ditempatkan diantara kedua
rel kemudian bahan tersebut direaksikan pada suhu tinggi untuk mencairkan bahan
kimia tersebut dan menyambung rel tersebut
Sambungan baut
Digunakan suatu penyangga yang disebut sebagai fish plate yang dibaut pada kedua rel
yang disambung.
Dengan sambungan yang demikian akan terasa pada saat berjalan dalam kereta api.
Sambungan Rel

Sambungan dengan Las


Sambungan Rel

Sambungan dengan Baut


Kondisi jalan Rel Tertekuk Akibat Gaya Suhu
Tahanan Torsi Penambat (Torsional Fastening Resistance)
Karena suhu, rel akan tertekan dan berdefleksi kearah lateral, sesuai
kekakuan rel dan bantalan.
Defleksi lateral ini, rel berotasi terhadap bantalan, dan rotasi ditahan
oleh kekuatan penambat.
Jenis penambat mempunyai kekuatan torsi yang tergantung
penjepitannya.
Tahanan Torsi Penambat
(Torsional Fastening Resistance)

Jenis penambat antara lain:


Penambat yang memanfaatkan jepitan dari paku
Penambat yang memanfaatkan kekuatan dari baut
Penambat dengan penjepitan kuat (elastis) baik vertikal maupun longitudinal
Nilai tahanan torsi penambat di tes.
Hasil dari test adalah nilai koefisien torsi penambat (C,torsional fastening
coefficient),
Unitnya adalah: ton-inch/rad0,5 atau ton-meter/radial0,5 (tm/rad0,5)
Test Tahanan Torsi penambat
Tahanan Momen Lateral
Ketahanan terhadap defleksi ke arah lateral ditentukan oleh kekakuan
lateral dari kesatuan rel dan bantalan, yang diikat oleh penambat.
Komponen ini adalah komponen utama penentu besarnya gaya lateral
yang terjadi.
Test Tahanan Momen Lateral (Lateral Momen Resistance)
Persyaratan Teknis Penambat (1/2)
Gaya jepit penambat (khususnya elastik)
kuat untuk menjamin bahwa gaya tahan rel pada bantalan lebih besar daripada gaya
tahan merangkak bantalan pada stabilitas dasar balas
dapat bertahan lama, meskipun alat penjepitnya tak dapat dihindarkan terjadi sedikit
kelonggaran dan keausan pada pelat andas maupun angker pada bantalan
Frekuensi getaran alami dari penambat pada dasarnya harus lebih besar
daripada frekuensi getaran alami rel, agar supaya dapat mencegah setiap
kehilangan kontak antara penambat dengan rel selama lalu lintas melalui
jalan rel
Bahan material penambat harus mempunyai kualitas yang baik agar supaya
dapat mempertahankan kekenyalan penambat dalam jangka panjang
setelah waktu pemasangan dan pembongkaran
Persyaratan Teknis Penambat (2/2)
Rel dan pengencangan penambat sebaiknya dilakukan dengan cepat,
baik secara mekanik yang sederhana atau secara manual
Penyetelan penambat sebaiknya dilakukan dengan cepat dan mudah
serta dapat dilakukan oleh bukan tenaga ahli khusus
Penambat cukup mampu dan kuat sebagai penggabungan susunan
isolasi listrik dan mudah diganti bila terjadi kerusakan.
Penambat harus mempunyai alas karet.
Alas karet mampu mencegah merangkak rel, meredam tegangan vertikal,
yang bekerja ke bawah, melindungi permukaan bantalan serta mempunyai
daya tahan listrik yang cukup untuk pemisahan rel dari bantalan
Penambat Rel
Kerusakan yang umum terjadi akibat Gaya Lateral
Terdesak (push out) ke arah lateral, menyebabkan melebarnya lebar sepur
Pergeseran struktur di atas balas
Tercabut (pull out) alat penambat
Jenis kerusakan yang umum terjadi adalah push out dan pergeseran
struktur di atas balas
Tercabutnya alat penambat sangat jarang terjadi, kecuali jika alat penambat,
khususnya paku patah.
Gaya Penahan dari Penambat
Kekuatan terhadap push out, terdesak:
F1 1 2Sn
H 2
11
W
11 F1 * 1
Gaya antara Roda dan Rel Kekuatan terhadap pergeresan struktur di atas balas

F1
H H ' W W ' T
1 1 1 1

6 EI x a 3W * 6 EI y
; ;
Da 3 6 EI y k *a
Gaya-gaya Penahan dari Penambat
Gaya Penahan dari Penambat
Catatan :
EIx = Kekakuan vertikal rel (kg-cm2)
EIy = Kekakuan lateral rel (kg-cm2)
a = jarak bantalan
D = Gaya untuk menekan rel sehingga jalan rel berdefleksi satu satuan
= 20.000 kg/cm
= Konstanta pegas arah lateral dari rel terhadap gaya vertikal
= 4,5 ~ 5 cm-1
W = Tekanan pada roda rata-rata (kg)
W,W = Tahanan roda (kg)
H,H = Tahanan lateral
k* = Konstanta pegas arah lateral dari bantalan (kg/cm)
= 400.000 ~ 1.000.000 kg/cm (biasa dipakai 500.000 kg/cm)
= Koefisien gesekan antara balas dan bantalan
= 0,65 ~ 0,88 (biasa dipakai 0,65)
= Koefisien gesekan antara rel dan bantalan
= 0,6 ~ 0,72 (biasanya dipakai 0,6)
Sn = Gaya untuk mencabut paku = 260 ~ 1700 kg/buah (dipakai 700)
T = Gaya gesekan bantalan dan balas (200 kg/bantalan)
Penambat Kaku
Secara konvensional, rel dipaku langsung pada bantalan kayu
Untuk mengatasi gaya muai diberi celah yang cukup lebar dan
digunakan alat anti creepers yang dipasang pada kaki rel
Tirpon (paku berulir) digunakan untuk mengatasi paku yg terdesak,
kendor dan lepas
Pelat landas digunakan untuk mengatasi tegangan kontak antara kaki
rel dan bantalan
Penambat Kaku

Paku Rel (rail spike)


Penambat Kaku

Contoh Tirpon (Paku rel berulir)


Penambat Kaku
Penambat Kaku

Single Rail Spike Double Rail Spike


Penambat Kaku

Single Rail Spike Tanpa dan dengan Pelat Landas


Penambat Elastis
Akibat tingginya kecepatan kereta, makin besarnya beban gandar yang dipakai,
dan makin panjangnya rel yang digunakan, maka:
gaya-gaya yang bekerja terhadap penambat akan semakin besar
vibrasi yang terjadi semakin tinggi
kecepatan 120 kph vibrasi dapat mencapai 100 g
kecepatan 330 kph 305 g.
Vibrasi tidak dapat diredam oleh tirpon
tirpon terdesak, kendor (tidak bisa menahan gaya suhu, tetapi tetap menahan gaya lateral),
sampai tercabut dari bantalan
mulai terjadi kerusakan rel dan kerusakan geometri jalan rel
Untuk mengurangi pengaruh vibrasi pada rel terhadap bantalan maka dipakailah
penambat elastis
dapat meredam getaran
menghasilkan gaya jepit (clamping force) yang tinggi, sehingga dapat memberikan
perlawanan rangkak (creep resistance) yang baik
Penambat Elastis
Penambat elastik tunggal, biasanya dipasang pada bantalan kayu atau
besi, terdiri dari pelat andas, pelat atau batang jepit elastik, tirpon,
mur dan baut
kekuatan jepitnya pada batang jepit elastik.
Penambat elastik ganda, terdiri dari pelat andas, pelat atau batang
jepit, alas rel, tirpon.
Pada bantalan beton, kekuatan jepitnya terdapat pada batang elastis
tidak mempergunakan pelat andas, tetapi dipakai alas karet (rubber pad),
yang tebalnya disesuaikan dengan kecepatan maksimum.
Penambat DE Clip http://id.wikipedia.org/wiki/Penambat_rel#DE_Clip

Merupakan penambat elastis yang dikembangkan di Belanda dan di Indonesia


dibuat juga oleh PT Pindad
Digunakan secara luas pada jaringan jalan kereta api, khususnya di Jawa
Beberapa keunggulan dari DE Clip
Komponen sedikit dan sederhana
Mudah saat pemasangan dan penggantian di track/lintas
Sangat handal dapat digunakan kembali pada penggantian Rel
Hampir tidak membutuhkan perawatan
Gaya jepit antara 750 ~ 1300 Kgf (sesuai SNI 11-3677-1995)
Mudah dipasang pada berbagai jenis bantalan dan ukuran rel
Dapat digunakan untuk upgrading rel tanpa mengganti bantalan
Tidak mudah dirusak dan tidak memerlukan perawatan khusus
Dapat digunakan pada track lurus, lengkung, persilangan maupun sambungan
Dilengkapi dengan insulator listrik untuk melindungi system sinyal & pelacakan
Ketahanan tinggi dan Resistensi dari ballast section memberikan stabilitas penuh terhadap rel
Mampu mengunci sendiri
Penambat DE Clip
Penambat DE Clip

Dengan Pelat Landas

Tanpa Pelat Landas


Penambat DE Clip

Pada Bantalan Beton

Pada Bantalan Baja


Penambat Pandrol Clip e
Disebut juga sebagai e clip karena bentuknya seperti huruf e kecil dan berbentuk
seperti klip kertas sehingga disebut sebagai klip.
Digunakan di Indonesia sejak penggunaan bantalan rel beton.
Merupakan penambat yang pertama sekali dikembangkan oleh Pandrol sehingga disebut juga
sebagai Pandroll Clip.
Mudah untuk dicuri cukup dengan menggunakan palu
Beberapa keunggulan dari penambat ini:
Komponen sedikit dan sederhana
Tahan lama dan tetap mencengkeram rail walaupun bergetar
Tingkat keselamatan dan keamanan tinggi
Bisa digunakan pada berbagai bantalan maupun trak tanpa balast
Bisa digunakan di Wesel atau persilangan
Dapat dilengkapi dengan mekanisme anti vandal, untuk menghindari pencurian ataupun pencopotan
oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab
Dapat dengan mudah diterapkan di segala bentuk bantalan dan bebas perawatan
Penggunaan mudah seperti pada waktu pergantian rel

http://id.wikipedia.org/wiki/Penambat_rel#Penambat_e
Pandrol Clip e
Pandrol Clip

Tipe PR
Pandrol FastClip
Pandrol Safelock
Pandrol Clip pada Bantalan Kayu
Pandrol Clip pada Bantalan Beton
Pandrol Clip pada Bantalan Beton
Penambat Kupu-kupu
Merupakan penambat yang disebut juga sebagai fastclip, merupakan
perkembangan dari e clip berbentuk seperti kupu-kupu yang waktu
pemasangan cepat, mudah dirawat, dan harga murah. Penambat
seperti ini belum digunakan di Indonesia.

http://id.wikipedia.org/wiki/Penambat_rel#Penambat_kupu-kupu
Penambat Tipe F (Jepang)
Penambat KA Klip
Dikembangkan oleh PT Kereta Api Indonesia, yang mudah dipasang ataupun dibongkar dengan alat yang diciptakan khusus untuk itu. Penambat ini
merupakan pengembangan dari F Type yang banyak digunakan di Jepang dan dibuat oleh PT Pindad
Beberapa Keunggulan KA Klip:
Komponen sedikit dan sederhana
Pemasangan mudah
Efektif untuk penggunaan kembali bila penggantian rel
Hampir tidak membutuhkan perawatan
Gaya jepit 750 sampai dengan 1300 Kgf (sesuai dengan standart : SNI 11-3677-1995)
Dapat mereda getaran karena Clip elastis
Dapat menahan beban longitudinal and lateral
Dapat menahan beban dari axle load
Mengunci sendiri (anti vandal)
Dapat digunakan pada track lurus, lengkung, persilangan maupun sambungan
Dapat digunakan pada bermacam-macam type rel
Dilengkapi dengan insulator listrik untuk melindungi system sinyal & pelacakan.
Dapat digunakan untuk upgrading rel tanpa mengganti bantalan

http://id.wikipedia.org/wiki/Penambat_rel#KA_Klip
Penambat KA Klip
Penambat Vossloh Clip (Jerman)
Penambat Vossloh Clip (Jerman)
Penambat Nabla
Penambat Nabla

Pada Bantalan Kayu


Penambat Nabla

Pada Bantalan Beton Pada Slab Track


Penambat
FIST-BTR
Bantalan Rel
Fungsi Bantalan adalah :
Mengikat rel, sehingga lebar sepur tetap terjaga
Mendistribusikan beban dari rel ke balas (gaya vertikal)
Stabilitas ke arah luar jalan rel, dengan mendistribusikan gaya longitudinal dan lateral
dari rel ke balas
Jenis bantalan yang banyak dipakai perkeretaapian adalah :
Bantalan Kayu
Bantalan Besi
Bantalan Beton
Slab-track
Pemilihan jenis bantalan umumnya ditentukan oleh karakteristik beban,
umur rencana, harga bantalan serta kondisi tanah dasarnya.
Bantalan Kayu
Syarat: utuh, padat, tidak bermata, tidak ada lubang bekas ulat, dan
tidak ada tanda-tanda pelapukan serta kadar air maks. 25%
Jenis Kayu:
Nama Latin Nama Perdagangan Kelas Kuat Kelas Awet
Intsia Spec.div Merbau I-II I-II
Euisderoxylon zwageri T.et B Ulin, borneo, kayu besi I I
Manilkara kauki (L) Sawo kecik I I
Adina minutiflora val Berumbung gerunggang I-II II
Tectona grandis L.f Jati II I-II
Dalbergia Latifolia Roxb Sonokeling II I
Bantalan Kayu
Ukuran Bantalan:
Bantalan kayu Jalan Lurus : Panjang : L = 2.000 (+40, -20) mm
Lebar : b = 220 (+20, -10) mm
Tinggi : t = 130 (+10, -0 ) mm
Bantalan Kayu Jembatan : Panjang : L = 1.800 (+40, -20) mm
Lebar : b = 220 (+20, -10) mm
Tinggi : t = 200 (+10, -0 ) mm
Kelas Awet umur efektif bantalan kayu
Kelas I: 8 tahun
Kelas II: 5 tahun
Pengawetan dilakukan untuk memperpanjang unur terlebih jika jalur jalan rel berada
di daerah basah
Bantalan Kayu
Kelas Kuat:
Kelas Kuat Kelas Kuat
Tegangan izin Contoh Jati
I II
Lentur (lt ; kg/cm2 ) 125 83 108
Tekan Sejajar serat (tk// kg/cm2 ) 108 71 92
Tarik Sejajar serat (tr // kg/cm2 ) 108 71 92
Tekan tegak lurus serat (tk kg/cm2 ) 33 21 25
Geser ( kg/cm2 ) 17 10 12

Momen maksimum (kg-m):


Kelas I: 800
Kelas II: 530
Bantalan Kayu
Bantalan Baja
Digunakan dalam jalan rel karena umurnya yang panjang, dan ringan
sehingga memudahkan pengangkutan dan pemasangan
Karena ukuran penampangnya, maka bantalan besi memiliki stabilitas yang
kurang baik dalam arah vertikal, lateral maupun longitudinal, dibandingkan
bantalan kayu maupun beton
Berat sendirinya yang kecil (dibandingkan bantalan kayu atau beton)
Gesekan antara permukaan bantalan dengan balas relatif lebih kecil, sehingga tidak
dapat dipakai untuk jalan rel dengan kecepatan tinggi dan pemakaian rel panjang
menerus.
Untuk mengurangi timbulnya karat, bantalan besi harus selalu kering,
sehingga struktur dibawahnya harus dapat meloloskan air
Sulit diterapkan pada daerah-daerah yang sulit kering, dan sering terendam
Bantalan Baja
Dimensi pada jalur lurus
Panjang : 2.000 mm
Lebar Atas : 144 mm
Lebar bawah : 232 mm
Tebal baja : minimal 7 mm
Berat : sekitar 45 ~ 50 kg
Syarat Kekuatan
Bagian tengah bantalan maupun pada bagian bawah rel, harus mampu
menahan momen sebesar 650 kg-m.
Tegangan ijin adalah 1600 kg/cm2, sedang momen tahanan minimal 40,6 cm3.
Bantalan Baja untuk R 42
Bantalan Baja untuk R 25 dan R 33
Bantalan Beton
Banyak digunakan karena stabilitas jalan rel lebih baik, umur lebih lama,
pemeliharaan rendah dan komponen-komponennya lebih sedikit.
Berat sendiri cukup besar (160-200 kg), dapat menahan gaya vertikal, lateral dan
longitudinal lebih baik
Kereta api dengan tonase berat atau kecepatan tinggi cocok menggunakan bantalan
beton.
Di Indonesia, pemakaian bantalan beton lebih diutamakan, karena sulitnya
mendapatkan kayu dan industri dalam negeri sudah mampu membuatnya.
Menurut bentuk geometrinya:
Bantalan beton Pratekan blok tunggal (Monoblok), baik dengan proses 'posttension',
maupun 'pretension
Bantalan beton blok ganda (Biblok)
Bantalan Beton
Bantalan Beton
Bantalan Beton, slab