Anda di halaman 1dari 22

FORMULASI DAN EVALUASI SABUN TRANSPARAN

EKSTRAK DAUN SIRIH(Piper betle L) DENGAN


MENGGUNAKAN BASA NaOH DAN KOH

Karya Tulis Ilmiah

Diajukan Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Farmasi

Pada Program Studi DIII Farmasi

Oleh

FERA RAMDANIATI

NIM. 13DF277018

PROGRAM STUDI D3 FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH

CIAMIS

2016
FORMULASI DAN EVALUASI SABUN TRANSPARAN EKSTRAK DAUN
SIRIH (Piper betle L) DENGAN MENGGUNAKAN BASA NaOH DAN KOH1

Fera Ramdaniati 2 Siti Rahmah K.R3 Anna L Yusuf4

INTISARI

Daun sirih terbukti efektif sebagai antiseptik atau antibakteri yang


memiliki daya mematikan kuman dan anti jamur. Sabun merupakan kosmetik
pembersih yang digunakan untuk membersihkan kulit, pengotor, lemak dan
keringat serta membuat kulit menjadi lebih segar. Sabun transparan
merupakan sabun yang memiliki berbagai bentuk yang menarik serta
memiliki tampilan yang lebih anggun.
Dalam penelitian ini akan dibuat pembuatan formulasi sabun
transparan ekstrak daun sirih dengan menggunakan basa NaOH dan basa
KOH. Metode maserasi digunakan dalam pembuatan ekstrak yaitu cara
penarikan simplisia dengan merendam simplisia tersebut dalam cairan
penyari pada suhu biasa ataupun memakai pemanasan. Pelarut yang
digunakan untuk maserasi daun sirih adalah alkohol 70%, karena alkohol
70% merupakan pelarut serbaguna yang baik untuk at yang terkandung
didalam daun sirih. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental.
Pembuatan sabun transparan dari ekstrak daun sirih dengan menggunakan
basa NaOH, NaOH dan KOH (50%:50%) dan KOH. Metode yang digunakan
dalam pembuatan sabun transparan adalah metode semi panas dengan
suhu 70 80oC. Pembuatan sabun transparan dan evaluasi yang meliputi uji
pH, kekerasan, organoleptik, Kadar Air dan tinggi busa
Hasil penelitian menunjukan bahwa dari formulasi I, II dan III pada
umumnya di bawah nilai kontrol positif (produk jadi), dan nilai formulasi pada
formulasi III (evaluasi pH) menghasilkan nilai 8,6 hal ini berarti nilai pH yang
dihasilkan oleh formulasi III kurang dari standar (9-10,8).

Kata kunci : daun sirih, sabun transparan, metode maserasi, evaluasi


sabun transparan.
Keterangan : 1 judul, 2 nama mahasiswa, 3 nama pembimbing I, 4 nama
pembimbing II.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya dengan spesies
tanaman yang berkhasiat sebagai obat tradisional. Banyak tanaman
yang dianggap sebagai rumput, tetapi memiliki khasiat sebagai obat.
Salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat adalah Daun Sirih,
selain mudah didapatkan Daun Sirih juga telah banyak dibudidayakan
oleh masyarakat.
Allah SWT befirman dalam Q.S Shad ayat 27 :




Wamaa khalaqnassama'a wal'ardla wamaa baynahumaa baathilan
dzalika dhannulladziina kafaruu fawaylullilladziina kafaruu minannar(i)

Artinya:
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada
antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan
orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena
mereka. (Q.S Shad : 27)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT tidak menciptakan


segala sesuatu yang ada di bumi dengan sia-sia, semua yang ada di
bumi pasti memiliki manfaat seperti Daun Sirih.
Sabun merupakan kosmetik pembersih yang digunakan untuk
membersihkan kulit, pengotor, lemak dan keringat serta membuat kulit
menjadi lebih segar. Seiring dengan perkembangan zaman dan
teknologi banyak bermunculan inovasi baru khususnya dalam
pembuatan sabun. Salah satu yang banyak di gemari oleh masyarakat
adalah sabun transparan karena memiliki berbagai bentuk yang
menarik serta memiliki tampilan yang lebih anggun (Anonim. 2009).

1
2

Pemanfaatan kembali bahan alam banyak di gemari oleh


masyarakat karena dinilai lebih aman, praktis dan ekonomis serta
memiliki efek samping yang lebih sedikit di banding dengan
menggunakan bahan kimia. Salah satu tanaman yang berkhasiat
untuk kecantikan dan kesehatan kulit adalah daun sirih.
Daun Sirih merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh
merambat atau bersandar pada batang pohon lain. Sebagai budaya
daun dan buahnya biasa dimakan dengan cara mengunyah bersama
gambir, pinang dan kapur. Sirih digunakan sebagai tanaman obat
(fitofarmaka), sangat berperan dalam kehidupan dan berbagai upacara
adat rumpun Melayu. Ada beberapa jenis sirih yang dikenal di
masyarakat. Misalnya, sirih jawa (daun lebih lembut, kurang tajam,
hijau rumput), sirih belanda (daun besar, hijau tuam rasa dan bau
tajam dan pedas), sirih cengkeh (kecil, daun kuning, rasa seperti
cengkeh), sirih kuning, dan sirih hitam, Namun mengunyah sirih telah
dikaitkan dengan penyakit kanker mulut dan pembentukan squamous
cell carcinoma yang bersifat malignan (Desmiaty, Y, dkk. 2002).
Fase minyak dalam formulasi sabun transparan ekstrak daun
sirih ini akan menggunakan minyak kelapa dan juga menggunakan 2
jenis basa yaitu NaOH (natrium sodium hidroksida) dan KOH (kalium
potasium hidroksida). Reaksi penyabunan merupakan reaksi hidrolisi
lemak/minyak dengan menggunakan basa kuat seperti NaOH dan
KOH sehingga menghasilkan gliserol dan asam lemak atau sabun.
Untuk menghasilkan sabun yang keras digunakan NaOH, sedangkan
untuk menghasilkan sabun lunak digunakan KOH (Mursito, 2002).
Asam lemak yang berikatan dengan natrium atau kalium inilah
yang kemudian dinamakan sabun. Larutan alkali yang digunakan
dalam pembuatan sabun bergantung pada jenis sabun
tersebut.Larutan alkali yang biasa yang digunakan pada sabun keras
adalah Natrium Hidroksida (NaOH). Selain berperan dalam reaksi
saponifikasi NaOH juga berfungsi untuk menetralkan sifat asam dari
3

asam stearat dan asam sitrat. Bahan ini berwujud butiran putih dan
mudah didapatkan di toko bahan kimia. Dalam pembuatan sabun ini
digunakan NaOH dan alkali yang biasa digunakan pada sabun lunak
adalah Kalium Hidroksida (KOH). Perbedaan antara sabun keras dan
lunak jika dilihat dari kelarutannya dalam air yaitu sabun keras bersifat
kurang larut dalam air jika dibandingkan dengan sabun lunak. Sabun
berfungsi untuk mengemulsi kotoran-kotoran berupa minyak ataupun
zat pengotor lainnya (Mursito, 2002).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana formulasi sedian sabun transparan ekstrak daun sirih
dengan basa NaOH, NaOH dan KOH (50%:50%) dan KOH?
2. Apakah sediaan sabun transparan eksrak daun sirih dengan basa
NaOH, NaOH+KOH (50%:50%) dan KOH memenuhi syarat sabun
yang baik (organoleptik, kekerasan, Kadar Air, pH dan busa) ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui formulasi sabun transparan ekstrak daun sirih dengan
menggunakan basa NaOH, NaOH dan KOH (50%:50%) dan KOH.
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui hasil evaluasi pH, kekerasan, organoleptik,
kadar air, dan tinggi busa pada formulasi sabun transparan ekstrak
daun sirih dengan basa NaOH, NaOH dan KOH (50%:50%) dan
KOH.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Dapat menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya untuk
mengembangkan sediaan sabun transparan ekstrak daun sirih
dengan basa NaOH dan KOH.
4

2. Manfaat Praktis
Diharapkan dapat memberikan informasi penting pada
masyarakat khususnya tentang manfaat sabun transparan ekstrak
daun sirih.

E. Keaslian Penelitian
Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian penelitian
sebelumnya tetapi terdapat juga perbedaan.

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian


Nama Judul Penelitian Tahun Tempat Kesamaan Perbedaan
Peneliti Penelitian
Masyitah Pembuatan dan 2008 Universitas Sama-sama Perbedaan
Rike. M Karakterisasi Andalas membuat dengan jurnal
Sabun Padat Formulasi Masyitah Rike.
Transparan Sabun M adalah bahan
dengan Transparan pembuatan
penambahan menggunakan sabun
ekstrak Daun ekstrak Daun trasnparan yaitu
Sirih (Piper betle Sirih minyak kelapa
L. sawit
Fera Formulasi dan 2016 STIKes Sama-sma Perbedaan
Ramdaniati Evaluasi Sabun Muhammadiya membuat dengan jurnal
Transparan h Ciamis sabun Masyita Rike. M
Ekstrak Daun Transparan adalah bahan
Sirih (Piper betle pembuatan
L.) dengan Sabun
menggunakan Transparan
basa NaOH dan yaitu ekstrak
KOH daun sirih
dengan
menggunakan
basa NaOH dan
KOH
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
Dalam penelitian ini akan dibuat pembuatan formulasi sabun
transparan ekstrak daun sirih dengan menggunakan basa NaOH dan
basa KOH. Daun sirih mengandung minyak terbang (betIephenol),
seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan kavikol yang
memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida, anti
jamur. Sirih berkhasiat menghilangkan bau badan yang ditimbulkan
bakteri dan cendawan. Daun sirih juga bersifat menahan perdarahan,
menyembuhkan luka pada kulit, dan gangguan saluran
pencernaan.Selain itu juga bersifat mengerutkan, mengeluarkan
dahak, meluruhkan ludah, hemostatik, dan menghentikan perdarahan.
Biasanya untuk obat hidung berdarah, dipakai 2 lembar daun sirih
segar dicuci, digulung kemudian dimasukkan ke dalam lubang hidung.
Selain itu, kandungan bahan aktif fenol dan kavikol daun sirih hutan
juga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk
mengendalikan hama penghisap (kurnia, 2016).
Metode yang digunakan adalah metode maserasi yaitu cara
penarikan simplisia dengan merendam simplisia tersebut dalam cairan
penyari pada suhu biasa ataupun memakai pemanasan. Ekstraksi
maserasi dipilih karena unit alat yang dipakai sederhana, hanya
dibutuhkan bejana perendam, biaya operasionalnya relatif rendah,
prosesnya relatif hemat penyari dan tanpa pemanasan (Syamsuni,
2006). Pelarut yang digunakan untuk maserasi daun sirih adalah
alkohol 70%, karena alkohol 70% merupakan pelarut serbaguna yang
baik untuk ekstraksi pendahuluan dan bersifat universal (Harborne
1996),
Sabun didefinisikan sebagai garam dari logam alkali, biasanya
Natrium dan Kalium, dari asam lemak rantai panjang. Ketika asam

5
6

lemak disaponifikasi oleh logam Natrium maupun Kalium maka akan


berbentuk garam yang disebut sabun dengan gliserol sebagai produk
sampingan (Barel dkk, 2009).
Dalam penelitian ini metode yang digunakan dalam pembuatan
sabun transparan adalah metode semi panas. Metode ini dipilih
karena pada proses ini tidak dilakukan pemisahan gliserol, seperti
pada metode panas. Gliserol disini dibutuhkan dalam sabun
transparan sebagai pembentuk efek transparan dan dapat
melembabkan kulit.
Sabun yang dibuat akan di evaluasi, yang meliputi uji pH,
kekerasan, organoleptik, kadar air dan tinggi busa untuk memperoleh
sediaan sabun transparan yang paling baik sesuai dengan standar
pengujian sabun transparan.

B. Landasan Teori
1. Daun Sirih
a. Klasifikasi daun sirih

Gambar 2.1 Daun Sirih (Piper betle. L.)

Klasifikasi ilmiah tanaman daun sirih


Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta
7

Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Magnoliidae
Ordo : Piperales
Familia : Piperaceae
Genus : Piper
Spesies : Piper betle L

b. Morfologi
Daun sirih yang merupakan tanaman merambat ini bisa
mencapai tinggi 15 m. Batang sirih berwarna coklat
kehijauan,berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya
akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung, berujung runcing,
tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang
sedap bila diremas.Panjangnya sekitar 5 8 cm dan lebar 2 5 cm.
Bunganya majemuk berbentuk bulir dan terdapat daun pelindung 1
mm berbentuk bulat panjang. Pada bulir jantan panjangnya sekitar
1,5 3 cm dan terdapat dua benang sari yang pendek sedang pada
bulir betina panjangnya sekitar 1,5 6 cm dimana terdapat kepala
putik tiga sampai lima buah berwarna putih dan hijau kekuningan.
Buahnya buah buni berbentuk bulat berwarna hijau keabu-
abuan.Akarnya tunggang, bulat dan berwarna coklat kekuningan
(Rukmana, 2010).
1) Kandungan kimia daun sirih
Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak
terbang (betIephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan
zat samak dan kavikol yang memiliki daya mematikan
kuman, antioksidasi dan fungisida, anti jamur.Sirih
berkhasiat menghilangkan bau badan yang ditimbulkan
bakteri dan cendawan.Didalam tumbuhan daun sirih
terkandung juga zat antiseptic, zat ini memiliki fungsi
sebagai zat pembunuh bakteri.Sifat antiseptik yang terdapat
8

pada tumbuhan satu ini disebabkan karna adanya turunan


fenol yang bernama kavikol, sifat antiseptic kavikol ini
mempunyai manfaat 5 kali lebih baik ketimbang manfaat
fenol biasa. Daun sirih sendiri mengandung antiseftik dan
kandungan fenol dalam antiseftif tersebut lima kali lebih
efektif daripada fenol biasa. Daun sirih dapat digunakan
sebagai antibakteri karena mengandung 4,2% minyak atsiri
yang sebagian besar terdiri dari betephenol yang
merupakan isomer Euganol allypyrocatechine, Cineol methil
euganol, Caryophyllen (siskuiterpen), kavikol, kavibekol,
estragol dan terpinen(Kurnia, 2016).
2) Manfaat daun sirih
Daun Sirih merupakan tanaman asli Indonesia yang
tumbuh merambat atau bersandar pada batang pohon lain.
Sebagai budaya daun dan buahnya biasa dimakan dengan
cara mengunyah bersama gambir, pinang dan kapur. Sirih
digunakan sebagai tanaman obat (fitofarmaka).Daun sirih
dapat digunakan untuk pengobatan berbagai macam
penyakit diantaranya obat sakit gigi dan mulut, sariawan,
abses rongga mulut, luka bekas cabut gigi, penghilang bau
mulut, batuk dan serak, hidung berdarah, keputihan, wasir,
tetes mata, gangguan lambung, gatal-gatal, kepala pusing,
jantung berdebar dan trachoma. Hasil uji farmakologi
menunjukkan bahwa infusa daun sirih dapat menghambat
pertumbuhan bakteri penyebab pneumonia dan Gaseus
gangrene. Air rebusan daun sirih dapat digunakan untuk
mengobati batuk maupun berfungsi sebagai bakteriosid
terutama terhadap Haemophylus influenzae,
Staphylococcus aureus dan Streptococcus haemoliticus
Hasil uji farmakologi menunjukkan bahwa infusa daun sirih
dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab
pneumonia dan Gaseus gangrene.Air rebusan daun sirih
9

dapat digunakan untuk mengobati batuk maupun berfungsi


sebagai bakteriosid terutama terhadap Haemophylus
influenzae, Staphylococcus aureus dan Streptococcus
haemoliticus (Mursito, 2002).
Karvakol bersifat sebagai desinfektan dan antijamur
sehingga bisa digunakan sebagai antiseptik, euganol dan
methyl-euganol dapat digunakan untuk mengurangi sakit
gigi (Syukur dan Hernani, 1997).Selain itu didalam daun
sirih juga terdapat flavanoid, saponin, dan tannin.Menurut
Mursito (2002) saponin dan tannin bersifat sebagai
antiseptik pada luka permukaan, bekerja sebagai
bakteriostatik yang biasanya digunakan untuk infeksi pada
kulit, mukosa dan melawan infeksi pada luka.Flavanoid
selain berfungsi sebagai bakteriostatik juga berfungsi
sebagai anti inflamasi. Kartasapoetra (1992) menyatakan
daun sirih antara lain mengandung kavikol dan kavibetol
yang merupakan turunan dari fenol yang mempunyai daya
antibakteri lima kali lipat dari fenol biasa terhadap
Staphylococcus aureus (Mursito, 2002).

2. Ekstraksi
a. Maserasi
Maserasi adalah cara penarikan simplisia dengan
merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu
biasa ataupun memakai pemanasan (Syamsuni, 2006).
Prinsip maserasi adalah pengambilan zat aktif yang
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam
cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur
kamar terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke
dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya
perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di
luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak
10

keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi


rendah. Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi
keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di
dalam sel. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan
penggantian cairan penyari setiap hari. Endapan yang
diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan (Sembiring dkk,
2006).
Keuntungan dari metode maserasi adalah unit alat yang
dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam, biaya
operasionalnya relatif rendah, prosesnya relatif hemat penyari,
tanpa pemanasan.
b. Perkolasi
Perkolasi adalah suatu cara penarikan memakai alat
yang disebut perkolator yang simplisianya terendam dalam
cairan penyari, zat-zat akan terlarut dan larutan tersebut akan
menetes secara beraturan sampai memenuhi syarat yang telah
ditetapkan (Syamsuni, 2006).Keuntungan dari perkolasi adalah
aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan
yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah
sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.
Kerugiannya adalah serbuk yang mengadung sejumlah besar
zat aktif yang larut, tidak baik bila diperkolasi dengan alat
perkolasi yang sempit, sebab perkolat akan segera menjadi
pekat dan berhenti mengalir (Ditjen POM, 1986).
c. Refluks
Refluks adalah termasuk metode berkesinambungan
dimana cairan penyari secara kontinyu menyari komponen
kimia dalam simplisia cairan penyari dipanaskan sehingga
menguap dan uap tersebut dikondensasikan oleh pendingin
balik, sehingga mengalami kondensasi menjadi molekul
molekul cairan dan jatuh kembali ke labu alas bulat sambil
11

menyari simplisia. Proses ini berlangsung secara


berkesinambungan dan biasanya dilakukan 3 kali dalam waktu
4 jam (Ditjen POM, 1986).
Keuntungan dari metode refluks adalah dapat mencegah
kehilangan pelarut oleh penguapan selama proses pemanasan
jika digunakan pelarut yang mudah menguap atau dilakukan
ekstraksi jangka panjang. Kerugiannya adalah prosesnya
sangat lama dan diperlukan alat alat yang tahan terhadap
pemanasan (Ditjen POM, 1986).
d. Soxhlet
Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara
berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan sehingga
menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul
molekul air oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia
dalam klongsong dan selanjutnya masuk kembali ke dalam
labu alas bulat setelah melewati pipa sifon. Proses ini
berlangsung hingga penyarian zat aktif sempurna yang ditandai
dengan beningnya cairan penyari yang melalui pipa sifon
(Ditjen POM, 1986).
Keuntungan dari proses soxhletasi ini adalah cara ini
lebih menguntungkan karena uap panas tidak melalui serbuk
simplisia, tetapi melalui pipa samping. Kerugiannya adalah
jumlah ekstrak yang diperoleh lebih sedikit dibandingkan
dengan metode maserasi (Ditjen POM, 1986).
Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi
karena unit alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan
bejana perendam, biaya operasionalnya relatif rendah,
prosesnya relatif hemat penyari, tanpa pemanasan.
12

3. Sabun Transparan
a. Definisi Sabun Transparan
Sabun didefinisikan sebagai garam dari logam alkali, biasanya
natrium atau kalium, dari asam lemak rantai panjang. Ketika
asam lemak disaponifikasi oleh logam natrium maupun kalium
maka akan berbentuk garam yang disebut sabun dengan
gliserol sebagai produk sampingan (Barel dkk, 2009).
Sabun transparan merupakan sabun yang memiliki tingkat
transparansi paling tinggi dan menghasilkan busa lebih lembut
dikulit serta dapat memancarkan cahaya yang menyebar dalam
bentuk partikel-partikel yang kecil, sehinga objek yang berada
di luar sabun akan kelihatan jelas. Objek dapat terlihat hingga
berjarak sampai panjang 6 cm (Cavitch, 2001).
b. Reaksi Penyabunan
Pada umumnya metode pembuatan sabun dapat dibagi
menjadi dua, yaitu reaksi penyabunan (saponifikasi) dan reaksi
netralisasi. Pada reaksi saponifikasi, prinsipnya yaitu
tersabunkannya asam lemak dengan alkali, baik asam lemak
yang terdapat dalam keadaan bebas atau asam lemak yang
terikat sebagai minyak atau lemak (gliserida) dengan cara
minyak dan lemak direaksikan dengan alkali menghasilkan
sabun dan gliserin. Pada reaksi netralisasi, sabun dihasilkan
oleh reaksi asam lemak langsung dengan alkali (Mitsui,1997).
1) Metode Pembuatan Sabun
a) Metode Panas (full boiled)
Secara umum proses ini melibatkan reaksi
saponifikasi dengan menggunakan panas yang
menghasilkan sabun dan membebaskan gliserol. Tahap
selanjutnya dilakukan pemisahan dengan penambahan
garam, kemudian akan terbentuk 2 lapisan yaitu bagian
atas merupakan lapisan sabun yang tidak larut didalam
13

air garam dan lapisan bawah mengandung gliserol,


sedikit alkali dan pengotor-pengotor dalam fase air
(Anonim, 2008).
b) Metode Dingin
Cara ini merupakan cara yang paling mudah
untuk dilakukan dan tanpa disertai pemanasan. Namun
cara ini hanya dapat dilakukan terhadap minyak yang
pada suhu kamar yang sudah berbentuk cair. Minyak
dicampurkan dengan larutan alkali disertai pengadukan
terus menerus hingga reaksi saponifikasi selesai.
Larutan akan menjadi sangat menebal dan kental.
Selanjutnya dapat ditambahkan pewarna, pewangi dan
zat tambahan lain (Srivasta, 1974).
c) Metode Semi-Panas (semi boiled)
Teknik ini merupakan modifikasi dari cara dingin.
Perbedaannya hanya terletak pada pengggunaan panas
pada temperatur 70 80oC.Cara ini memungkinkan
pembuatan sabun dengan menggunakan lemak bertitik
leleh lebih tinggi (Anonim, 2008).
2) Formula Dasar Sabun Transparan
Sabun transparan mempunyai nilai tambah yang jadi
pemikat karena memiliki permukaan yang halus, penampilan
yang bewarna dan ketransparanannya dapat membuat kulit
menjadi lembut karena didalamnya mengandung gliserin
dan sukrosa yang berfungsi sebagai humektan dan emolient
serta sebagai komponen pembentuk transparan
(Wasiaatmadja, 1997).
Sabun batangan dikategorikan sebagai transparan
apabila memungkinkan seseorang untuk membaca tulisan
dengan font tipe 14 melalui sabun dengan ketebalan
inchi.Sabun transparan dibuat dengan menggunakan
14

alkohol dan juga ditambah gliserin (5 25 %) serta sirup (10


25 %). Sirop gula yang digunakan merupakan bahan yang
bertanggung jawab terhadap warna transparan yang akan
terbentuk (Anonim, 2009).
3) Komponen Sabun Padat Transparan
Spesifikasi bahan pembentuk sabun transparan antara lain :
a) Minyak Kelapa
Minyak kelapa merupakan minyak lemak yang
diperoleh dengan pemerasan bagian padat endosperm
Cocos nucifera L (palmae) yang dikeringkan.Berupa
cairan jernih, tidak berwarna atau kunig pucat, bau khas
tidak tengik. Sangat mudah larut dalam eter P dan
kloroform P. Pada suhu 60C, mudah larut dalam etanol
(95%) P, kurang larut pada suhu yang lebih rendah
(Hambali dkk, 2005).

Minyak kelapa memiliki kandungan yaitu asam


laurat, asam miristat dan asam palmitat (Chupa dkk,
2012).Minyak kelapa dengan kandungan asam laurat
mampu memberikan sifat pembusaan yang sangat baik
untuk produk sabun (Ketaren, 1986).
b) Asam Stearat
Asam stearat adalah campuran asam organik
padat yang diperoleh dari lemak dan minyak yang
sebagian besar terdiri atas asam oktadekonat dan asam
heksadekonat, berupa zat padat keras mengkilat
menunjukkan susunan hablur putih atau kuning pucat,
mirip lemak lilin, praktis tidak larut dalam air, larut dalam
bagian etanol (95%) P, dalam 2 bagian klorofrm P dan
dalam 3 bagian eter P, suhu lebur tidak kurang dari
15

54oC.Digunakan untuk mengeraskan sabun dan


menstabilkan busa (Hambali dkk, 2005).
c) Natrium Hidroksida (NaOH)
Natrium Hidroksida (NaOH) berupa kristal putih,
dengan sifat cepat menyerap kelembaban, bentuk
batang, butiran, masa hablur kering, keras, rapuh dan
menujukkan susunan hablur putih, mudah meleleh
basah, cepat menyerap kelembaban, sangat alkalis,
segera menyerap karbondioksida, sangat mudah larut
dalam air dan dalam etanol (95%) P (Hambali dkk,
2005).
d) Kalium Hidroksida (KOH)
KOH atau Kalium Hidroksida adalah basa
kuat yang terbuat dari logam alkali kalium yang
bernomor atom 19 pada tabel periodik.Kalium Hidroksida
adalah senyawa berbentuk Kristal dengan warna putih
yang higroskopis.Untuk mendapatkan larutan KOH 10%,
Kristal KOH atau Kalium Hidroksida harus di larutakan
terlebih dahulu.
e) Sukrosa
Sukrosa adalah gula yang diperoleh dari tanaman
Saccharum Officinalum L. (graminae), Beta vulgaris L.
(Chenopodiaceae) dan sumber lain. Berupa hablur,
massa atau gumpalan hablur bewarna putih, tidak
berbau, rasa manis, stabil diudara. Sangat mudah larut
dalam air, terlebih lagi air mendidih, sukar larut dalam
etanol (95%), praktis tidak larut dalam kloroform P, eter
P. digunakan sebagai humektan, perawatan kulit dan
membantu terbentuknya transparansi sabun (Hambali
dkk, 2005).
16

f) Gliseril
merupakan cairan kental, jernih, tidak berwarna,
hanya berbau khas lemah, bukan bau yang keras atau
tidak enak, rasa manis, higroskopis. Dapat bercampur
dengan air, etanol (95%) P, tidak larut dalam kloroform
P, eter P, dan minyak atsiri. Digunakan sebagai
humektan dengan konsentrasi kurang dari 30%,
emollient dengan konsentrasi kurang dari 30%, selain itu
sebagai pelarut, perawat kulit, penambah viskositas
(Hambali dkk, 2005).
g) Alkohol
Berupa cairan jernih, mudah menguap dan mudah
bergerak, tidak berwarna, bau khas, rasa panas pada
lidah, mudah terbakar, mendidih pada suhu 78C mudah
bercampur dengan air, eter P dan kloroform P,
digunakan sebagai pelarut, pembuat transparan pada
sabun (Hambali dkk, 2005).
h) Triethanolamine (TEA)
TEA adalah zat yang digunakan pada kosmetik
untuk menyeimbangkan kadar asam pH dan juga
sebagai pembersih. Pada pembuatan sabun transparan
TEA berfungsi sebagai bahan pembantu pembeningan.
TEA merupakan cairan kental yang berwarna coklat.
i) Natrium Klorida
NaCl berbentuk serbuk hablur berwarna putih dan
berasa asin. Garam ini mudah larut dalam air, sedikit
lebih mudah larut dalam air mendidih, larut dalam gliserin
dan sukar larut dalam etanol (Ditjen POM, 1995). Pada
formulasi sabun transparan, NaCl berfungsi sebagai
elektrolit (Anonymous, 2003).
17

j) Pewangi
Pewangi atau pengaroma adalah suatu zat tambahan
yang ditujukan untuk memberikan aroma wangi pada
suatu sediaan agar konsumen lebih tertarik.
k) Metil Paraben
Metil paraben digunakan untuk mengontrol pertumbuhan
jamur pada obat-obatan, kosmetik dan beberapa produk
makanan.
18

C. Kerangka Konsep

Daun Sirih

Determinasi

Maserasi

Formulasi Sabun Transparan


ekstrak daun sirih dengan basa
NaOH dan KOH

Uji evaluasi sabun


transparan

Organoleptik Kekerasan pH Kadar Air Tinggi Busa

Gambar 2.2 Kerangka Konsep


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2009) Soap Making Methods. Tersedia dalam


http://www.teachsoap.com/soapmakingmethods.html. [Diakses
Tanggal 17 Juni 2014]

Barel, A. O., Paye, M& Maibach, H.I. (2009) Handbook of Cosmetic


Science and Technology, 3rd edition. New York : Informa Healtcare
USA, Inc.

Cavitch, S. M. (2001)Choosing Yours Oil, Oil Propeties of Fatty Acid.


Tersedia dalam http://users.siloverlink.net/~timer/soapdesign.html.
[Diakses tanggal 29 Januari 2015].

Desmiaty, Y, Kosasih P, Asep G,S. (2002)Clear Bar Soap, FormulationNo


: GWH 96/25. Jakarta : Care Chemical Division PT. Cognis
Indonesia.

Ditjen POM. (1986) Sediaan Galenik, Jilid II. Departemen Kesehatan RI.
Jakarta.

Ditjen POM. (1995) Farmakope Indonesia Edisi IV.Jakarta : Departemen


Kesehatan RI.

Hambali, E., Ani, S&Mira, R. (2005) Membuat Sabun Transparan untuk


Gift dan Kecantikan. Jakarta : Penebar Plus +.

Harborne, J.B. (1996)Metode Fitokimia Penuntun Cara modern


Menganalisis Tumbuhan. Bandung : ITB.

Hernani., Bunasor, T. K&Fitriati. (2010) Formula Sabun Transparan


Antijamur dengan Bahan Aktif Ekstrak Lengkuas (Apinia galanga
L.Swartz. Bogor : IPB Bogor.

Jellinek, S. (1970)Formulation and Function of Cosmetics. Translated.


New York : Wiley-Interscience.

Ketaren. (1986)Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan, 1st Ed.,


30 60. Jakarta : Universitas Indonesia

Kurnia. 2016. Tolak Operasi pilih Daun Sirsak. Trubus edisi 495 hal 101.

Masyitah, Rike M. (2008). Pembuatan dan Karakteristik Sabun Padat


Transparan dengan penambahan ekstrak Daun Sirih (Piper Batle L).
Jurnal Program Studi Farmasi Universitas Andalas
Mitsui, T. (1997)New Cosmetic Science.Netherlands: Elsevier Science
B.V.

Mursito. (2002) Membuat Sabun Transparan untuk Gift dan Kecantikan.


Jakarta : Penebar Plus +.

Rukmana. (2010). Sayur Dan Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta: Rineka


Cipta: 60-61

Sembiring, Bagem B. R., Ma'mun&Ginting, E. I. (2006) Pengaruh


Kehalusan Bahan dan Lama Ekstraksi terhadap Mutu Ekstrak
Temulawak (Curcuma Xanthorriza Roxb). Buletin Penelitian
Tanaman Rempah dan Obat.

Srivasta, S.B. (1974)Soap, Detergent and Perfume and Industry (Soap


and Detergent Manufacturing Guide) 43rd Publication on Small Scale
Industries. New Delhi : Small Industry Research Institute.

Standar Nasional Indonesia. Sabun mandi: No. 01-3532-1994. Badan


Standar Nasional. Jakarta.

Standar Nasional Indonesia. Sabun Mandi: No. 01-3532-1994. Badan


Standar Nasional. Jakarta.

Syamsuni. (2006) Farmakope Indonesia EdisiIV.Jakarta


:DepartemenKesehatan RI.

Syukur, Hernani. (1997)Potential Use of FTIR-ATR Spectroscopic Method


for Determination of Virgin Coconut Oil and Extra Virgin Olive Oil in
Ternary Mixture Systems. Journal of FoodAnalyze Method, 4, 155-
162.

Wasiaatmadja, S. M. (1997) Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta :


Universitas Indonesia.

Wibowo.(2009)Potential Use of FTIR-ATR Spectroscopic Method for


Determination of Virgin Coconut Oil and Extra Virgin Olive Oil in
Ternary Mixture Systems. Journal of FoodAnalyze Method, 4, 155-
162.