Anda di halaman 1dari 6

PEDIATRI

1. Seorang ibu G2P0A0, 27 tahun, UK 38 minggu melahirkan seorang bayi laki-laki dengan
berat 3kg, panjang 49 cm, spontan, ketuban keruh, tidak ada mekoneum. Saat bayi lahir
didapatkan bayi tidak bernafas, tonus otot kurang baik, denyut jantung 102x/menit.
Tatalaksana selanjutnya bila setelah dilakukan rangsangan pada bayi tidak ada respon?
A. Resusitasi dengan pemberian epinefrin
B. Resusitasi dengan pemberian tekanan positif
C. Resusitasi dilanjutkan pemberian antibiotik
D. Resusitasi dilanjutkan pemberian antipiretik
E. Resusitasi dilanjutkan pemberian bronkodilator

2. Bayi perempuan 1 tahun dibawa ke puskesmas karena batuk dan nafas berbunyi seperti
siulan saat mengeluarkan nafas. Keluhan nafas berbunyi pernah dialami 2 bulan yll.
Tatalaksana pertama yang dilakukan dokter umum?
A. Antibiotik
B. Epinefrin
C. Kortikosteroid
D. Bronkodilator kerja cepat
E. Bronkodilator oral untuk 3 hari
Tata laksana serangan asma akut
Serangan Asma Ringan
Jika dengan sekali nebulisasi pasien menunjukkan respons yang baik (complete
response), berarti derajat serangannya ringan.
Pasien diobservasi selama 1-2 jam, jika respons tersebut bertahan, pasien dapat
dipulangkan. Pasien dibekali obat -agonis (hirupan atau oral) yang harus diberikan
tiap 4-6 jam.
Jika pencetus serangannya adalah infeksi virus, dapat ditambahkan steroid oral jangka
pendek (3-5 hari).
Serangan Asma Sedang
Jika dengan pemberian nebulisasi dua atau tiga kali pasien hanya menunjukkan respon
parsial (incomplete response), kemungkinan derajat serangannya sedang. Untuk itu,
derajat serangan harus dinilai ulang sesuai pedoman.
Jika serangannya memang termasuk serangan sedang, pasien perlu diobservasi dan
ditangani di ruang rawat sehari (RRS). Pada serangan asma sedang, diberikan
kortikosteroid sistemik (oral) metilprednisolon dengan dosis 0,5-1 mg/kgBB/hari
selama 3-5 hari.
Serangan Asma Berat
Bila dengan 3 kali nebulisasi berturut-turut pasien tidak menunjukkan respon (poor
response), yaitu gejala dan tanda serangan masih ada (penilaian ulang sesuai
pedoman), pasien harus dirawat di ruang rawat inap.
Oksigen 2-4L/menit diberikan sejak awal termasuk saat nebulisasi.
Kemudian dipasang jalur parenteral dan dilakukan foto toraks.
Steroid intravena diberikan secara bolus, tiap 6-8 jam. Dosis steroid intravena 0,5-1
mg/kg BB/hari.
Nebulisasi -agonis + antikolinergik dengan oksigen dilanjutkan tiap 1-2 jam; jika
dengan 4-6 kali pemberian mulai terjadi perbaikan klinis, jarak pemberian dapat
diperlebar menjadi tiap 4-6 jam.
(Pedoman Pelayanan Medis IDAI halaman 269-272)

3. Anak perempuan 1,5 tahun dibawa ke IGD dengan mencret sejak kemarin, 4x/hari, tinja
cair kekuningan, disertai muntah lebih dari 5x/hari sebanyak gelas aqua berisi makanan
dan minuman. Pasien tampak lemas, cengeng, dan rewel. Pemeriksaan fisik mata cowong,
air mata berkurang, mukosa mulut kering, turgor kembali lambat, HR 110x/menit RR
36x/menit, suhu 37,2 aksila. Tatalaksana awal pada kasus tersebut?
A. Antibiotik
B. Oralit
C. Seng
D. Rehidrasi oral
E. Rehidrasi parenteral
Diare Akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair
dan berlangsung kurang dari 1 minggu.
Tanda utama: keadaan umum gelisah/cengeng atau lemah/letargi/koma, rasa haus, turgor
kulit abdomen menurun
Tanda tambahan: ubun-ubun besar, kelopak mata, air mata, mukosa bibir, mulut, dan lidah
Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai dengan kriteria berikut:
Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan <5% berat badan)
o Tidak ditemukan tanda utama dan tanda tambahan
o Keadaan umum baik, sadar
o Ubun ubun besar tidak cekung, mata tidak cekung, air mata ada , mukosa mulut dan
bibir basah
o Turgor abdomen baik, bising usus normal
o Akral hangat
Dehidrasi ringan sedang/ tidak berat (kehilanagn cairan 5-10% berat badan)
o Apabila didapatkan 2 tanda utama ditambah 2 atau lebih tanda tambahan
o Keadaan umum gelisah atau cengeng
o Ubun ubun besar sedikut cekung, mata sedikit cekung, air mata kurang, mukosa
mulut dan bibir sedikit kering
o Turgor kurang, akral hangat
Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10%berat badan)
o Apabila didapatkan 2 tanda utama ditambah dengan 2 atau lebih tanda tambahan
o Keadaan umum lemah, letargi atau koma
o Ubun-ubun sangat cekung, mata sangat cekung, air mata tidak ada, mukosa mulut
dan bibir sangat kering
o Turgor sangat kurang dan akral dingin
o Pasien harus rawat inap
Tata laksana
Lintas diare : (1) Cairan, (2) Seng, (3) Nutrisi, (4) Antibiotik yang tepat, (5) Edukasi
Tanpa dehidrasi
Cairan rehidrasi oralit dengan menggunakan NEW ORALIT diberikan 5-10 mL/kg BB
setiap diare cair atau berdasarkan usia, yaitu umur < 1 tahun sebanyak 50-100 mL,
umur 1-5 tahun sebanyak 100-200 mL, dan umur di atas 5 tahun semaunya. Dapat
diberikan cairan rumah tangga sesuai kemauan anak. ASI harus terus diberikan. Pasien
dapat dirawat di rumah, kecuali apabila terdapat komplikasi lain (tidak mau minum,
muntah terus menerus, diare frekuen dan profus)
Dehidrasi ringan-sedang
o Cairan rehidrasi oral (CRO) hipoosmolar diberikan sebanyak 75 mL/kgBB dalam 3
jam untuk mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi dan sebanyak 5-10
mL/kgBB setiap diare cair.
o Rehidrasi parenteral (intravena) diberikan bila anak muntah setiap diberi minum
walaupun telah diberikan dengan cara sedikit demi sedikit atau melalui pipa
nasogastrik. Cairan intravena yang diberikan adalah ringer laktat atau KaEN 3B atau
NaCl dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan berat badan. Status hidrasi
dievaluasi secara berkala.
o Pasien dipantau di Puskesmas/Rumah Sakit selama proses rehidrasi sambil memberi
edukasi tentang melakukan rehidrasi kepada orangtua.
Dehidrasi berat
o Diberikan cairan rehidrasi parenteral dengan ringer laktat atau ringer asetat 100
mL/kgBB dengan cara pemberian:
Umur kurang dari 12 bulan: 30 mL/kgBB dalam 1 jam pertama, dilanjutkan 70
mL/kgBB dalam 5 jam berikutnya
Umur di atas 12 bulan: 30 mL/kgBB dalam jam pertama, dilanjutkan 70
mL/kgBB dalam 2,5 jam berikutnya
o Masukan cairan peroral diberikan bila pasien sudah mau dan dapat minum, dimulai
dengan 5 mL/kgBB selama proses rehidrasi
o Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit
(Pedoman Pelayanan Medis IDAI halaman 58-61)
4. Seorang ibu membawa kedua anaknya dengan keluhan panas, diberi paracetamol, berusia 9
tahun, BB 30kg. Berapakah dosis paracetamol yang diberikan ke anak ini jika
menggunakan dalil young?
A. 210mg
B. 212mg
C. 214mg
D. 216mg
E. 218mg
umur anak (tahun) 9 9
x 500 x 500
Dalil young = umur anak ( tahun ) +12 x dosis dewasa = 9+12 = 21 =

214,8

5. Anak 5 tahun dibawa ke puskesmas karena sudah 8 minggu demam subfebril hampir tiap
hari. Nafsu makan menurun, kegiatan anak bermain semakin berkurang. Badannya tampak
semakin kurus. Karena ibunya bekerja di luar kota, sehari-hari diasuh oleh asisten rumah
tangga yang belakangan diketahui batuk sudah 3 bulan. Uji tuberkulin menunjukkan
diameter indurasi 15mm. Rontgen thorax menunjukkan gambaran infiltrat merata dengan
diameter yang sama di seluruh lapang paru. Tindakan yang tepat untuk anak ini?
A. Terapi TB 3 bulan
B. Terapi TB 6 bulan
C. Terapi TB 9 bulan
D. Terapi TB 12 bulan
E. Terapi TB 15 bulan
Gejala umum dari penyakit TB pada anak tidak khas.
Nafsu makan kurang.
Berat badan sulit naik, menetap, atau malah turun (kemungkinan masalah gizi sebagai
penyebab harus disingkirkan dulu dengan tata laksana yang adekuat selama minimal 1
bulan).
Demam subfebris berkepanjangan (etiologi demam kronik yang lain perlu
disingkirkan dahulu, seperti infeksi saluran kemih (ISK), tifus, atau malaria).
Pembesaran kelenjar superfisial di daerah leher, aksila, inguinal, atau tempat lain.
Keluhan respiratorik berupa batuk kronik lebih dari 3 minggu atau nyeri dada.
Gejala gastrointestinal seperti diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan
baku atau perut membesar karena cairan atau teraba massa dalam perut.
Uji tuberkulin: dengan cara Mantoux yaitu penyuntikan 0,1 ml tuberkulin PPD secara
intra kutan di bagian volar lengan dengan arah suntikan memanjang lengan
(longitudinal). Reaksi diukur 48-72 jam setelah penyuntikan. Indurasi 10 mm ke atas
dinyatakan positif. Indurasi <5 mm dinyatakan negatif, sedangkan indurasi 5-9 mm
meragukan dan perlu diulang, dengan jarak waktu minimal 2 minggu. Uji tuberkulin
positif menunjukkan adanya infeksi TB dan kemungkinan TB aktif (sakit TB) pada
anak.
Foto toraks antero-posterior (AP) dan lateral kanan. Gambaran radiologis yang
sugestif TB di antaranya: pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal, konsolidasi
segmen/lobus paru, milier, kavitas, efusi pleura, atelektasis, atau kalsifikasi.
Pemeriksaan mikrobiologik dari bahan bilasan lambung atau sputum, untuk mencari
basil tahan asam (BTA) pada pemeriksaan langsung dan Mycobacterium tuberculosis
dari biakan. Hasil biakan positif merupakan diagnosis pasti TB. Hasil BTA atau
biakan negatif tidak menyingkirkan diagnosis TB.
Terapi TB terdiri dari dua fase, yaitu:
Fase intensif: 3-5 OAT selama 2 bulan awal:
Fase lanjutan dengan paduan 2 OAT (INH-rifampisin) hingga 6-12 bulan.
Pada anak, obat TB diberikan secara harian (daily) baik pada fase intensif maupun fase
lanjutan.
TB paru: INH, rifampisin, dan pirazinamid selama 2 bulan fase intensif, dilanjutkan
INH dan rifampisin hingga genap 6 bulan terapi (2HRZ 4HR).
TB paru berat (milier, destroyed lung) dan TB ekstra paru: 4-5 OAT selama 2 bulan
fase intensif, dilanjutkan dengan INH dan rifampisin hingga genap 9-12 bulan terapi.
TB kelenjar superfisial: terapinya sama denganTB paru.
TB milier dan efusi pleura TB diberikan prednison 1-2 mg/kgBB/hari selama 2
minggu, kemudian dosis diturunkan bertahap (tappering off) selama 2 minggu,
sehingga total waktu pemberian 1 bulan.
(Pedoman Pelayanan Medis IDAI halaman 323-328)

6. Apakah yang akan dialami bayi kurang bulan dan BBLR?


A. Hipotermia, hipoglikemia, aspirasi mekonium
B. Hipotermia, hipoglikemia, respiratory distress syndrome
C. Hipertermia, hipoglikemia, respiratory distress syndrome
D. Hipertermia, hipoglikemia, aspirasi mekonium
E. Hipotermia, hiperglikemia, respiratory distress syndrome
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada BBLR
o Hipotermi
o Hipoglikemia
o Hiperbilirubinemia
o Respiratory distress syndrome (RDS)
o Intracerebral and intraventricular haemorrhage (IVH)
o Periventricular leucomalasia (PVL)
o Infeksi bakteri
o Kesulitan minum
o Penyakit paru kronis (chronic lung disease)
o NEC (necrotizing enterocolitis)
o AOP (apnea of prematurity) terutama terjadi pada bayi <1000 g
o Patent Ductus Arteriosus (PDA) pada bayi dengan berat <1000 g
o Disabilitas mental dan fisik
Keterlambatan perkembangan
CP (cerebral palsy)
Gangguan pendengaran
Gangguan penglihatan seperti ROP (retinopathy of prematurity)
(Pedoman Pelayanan Medis IDAI halaman 27)

7. Manakah pernyataan yang benar mengenai tumbuh kembang?


A. Tes daya dengar harus dilakukan seawal mungkin (3 bulan)
B. Tes daya lihat baru bisa dilakukan setelah usia 5 tahun
C. Skrining perkembangan minimal dilakukan 1 tahun sekali
D. Untuk pertumbuhan hanya diperlukan pengukuran berat dan tinggi badan
E. Perkembangan tidak mempengaruhi pertumbuhan

8. Anak laki-laki 11 tahun demam 3 hari yll, mimisan (+), mual (+), muntah (+) setiap makan
minum. Pemeriksaan fisik BB 30kg, akral hangat, TD 110/60 suhu 39. Uji rumple leed (+),
edem palpebra (-) efusi pleura (-). Diagnosis kerja?
A. Demam dengue dengan perdarahan
B. DHF
C. DSS
D. Demam tifoid
E. Malaria