Anda di halaman 1dari 22

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

KATA PENGATAR

Alhamdulilah, segala puji dan rasa syukur senantiasa kami berikan kepada
Allah SWT, yang telah memberikan kemampuan, kekuatan, dan kemudahan bagi
penulis untuk melaksanakan tugas sekaligus membuat Laporan Kerja Praktikum
yang telah kami lakukan.

Sebagai prasyarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Fisiologi Tumbuhan,


maka penulis melakukan praktikum dengan judul Pengaruh Kadar Enzim
Terhadap Kecepatan Reaksi Pengubahan Amilum Menjadi Glukosa. Kegiatan ini
dilakukan pada tanggal 18 Maret 2014, sebagai waktu yang ditentukan oleh dosen
mata kuliah terkait yaitu Ibu Yuni Sri Rahayu dan Bu Yuliani.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan yang sengaja maupun tak
disengaja kami lakukan, baik dari segi tinjauan teori maupun prakteknya sehingga
kritik dan saran pembaca selalu kami tunggu demi perbaikan Laporan Kerja
Praktikum ini.

Terakhir, semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca dan terutama bagi
kami sebagai penulis. Kurang lebih kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Surabaya, 25 Maret 2014

Penulis

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 1


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ 1


DAFTAR ISI ....................................................................................................... 2
BAB I
PENDAHULUAN ......................................................................................... 3
A. Latar Belakang ........................................................................................ 3
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 3
C. Tujuan ...................................................................................................... 3
D. Hipotesis ................................................................................................... 3
BAB II
KAJIAN TEORI .......................................................................................... 4
BAB III
METODE PENELITIAN ........................................................................... 9
A. Jenis Penelitian ......................................................................................... 9
B. Variabel Penelitian .................................................................................... 9
C. Alat dan bahan .......................................................................................... 9
D. Langkah Kerja .......................................................................................... 10
E. Alur Kerja ................................................................................................. 10
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN .............................................................. 13
A. Hasil ......................................................................................................... 13
B. Analisis ..................................................................................................... 14
C. Pembahasan .............................................................................................. 16
D. Diskusi ...................................................................................................... 18
BAB V
PENUTUP ............................................................................................................ 19
A. Kesimpulan ............................................................................................... 19
B. Saran .......................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 20
LAMPIRAN ........................................................................................................ 21

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 2


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu proses penting yang terjadi di dalam tubuh tumbuhan yaitu
metabolisme. Proses tersebut berupa pemecahan molekul menjadi molekul
yang lebih kecil (katabolisme) dan penyusunan molekul dari molekul-
molekul yang lebih kecil (anabolisme). Dalam tubuh tumbuhan terjadi banyak
reaksi kimia yang kompleks dengan banyak tipe yang berbeda. Namun tidak
pernah terjadi kekacauan, hal ini disebabkan karena adanya suatu protein
khusus yang mengontrol metabolisme yang disebut enzim (Widarmayanti, P
Ratih. 2012).
Enzim merupakan biokatalisator yang sangat efektif yang akan
meningkatkan kecepatan reaksi kimia spesifik secara nyata, dimana reaksi ini
tanpa enzim akan berlangsung lambat (Lehninger, 1995). Kebanyakan enzim-
enzim yang terdapat di tubuh organisme tidak bekerja secara sendiri-sendiri
tetapi saling bekerja sambung-menyambung satu dengan yang lain
membentuk sistem enzim (Isnawati, 2009). Pemanfaatan enzim amilase dari
kecambah biji di bidang industri masih belum banyak dilakukan. Bila hal ini
dilakukan tentunya merupakan salah satu cara yang dapat meningkatkan nilai
ekonomis dari jagung tersebut (Bahri, Syaiful dkk. 2012).
Berdasarkan uraian diatas maka kami melakukan suatu percobaan dengan
judul Pengaruh Kadar Enzim Terhadap Kecepatan Rekasi Pengubahan
Amilum.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh kadar enzim terhadap kecepatan reaksi pengubahan
amilum menjasi glukosa?
C. Tujuan
Untuk mengamati pengaruh kadar enzim terhadap kecepatan reaksi
pengubahan amilum menjadi glukosa.
D. Hipotesis
H0: Semakin tinggi kadar enzim, maka semakin cepat reaksi pengubahan
amilum menjadi glukosa.

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 3


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

BAB II
KAJIAN TEORI

Enzim
Enzim merupakan katalisator biologi, sehingga dapat mengkatalis reaksi
kimia pada kondisi yang tidak ekstrim (suhu tubuh dan pH netral). Sebagian besar
enzim-enzim tubuh organisme tersusun atas protein yang mempunyai struktur
tersier (konformasi tiga dimesi). Protein penyusun enzim adalah makromolekul
yang sangat besar. Dengan demikian ukuran enzim jauh lebih besar dibandingkan
substratnya. Enzim fungsional disebut holoenzim (Isnawati, 2009).

Penggolongan enzim secara internasional telah dilakukan secara sistematis.


Sistem ini menempatkan semua enzim ke dalam enam kelas utama, masing-
masing dengan sub kelas, berdasarkan atas jenis reaksi yang dikatalisa (Tabel 2).

Tabel 2. Klasifikasi enzim secara internasional, berdasarkan reaksi yang


dikatalisis.

No. Kelas Jenis reaksi yang dikatalisis


Pemindahan elektron
1 Oksidoreduktase

2 Transferase Reaksi pemindahan gugus fungsional


Reaksi hidrolisis (pemindahan gugus fungsional
3 Hidrolase ke air)

Penambahan gugus ke ikatan ganda atau


4 Liase sebaliknya

Pemindahan gugus di dalam molekul


5 Isomerase menghasilkan bentuk isomer

Ligase Pembentukan ikatan C-C, C-S, C-O, dan C-N oleh


6 reaksi kondensasi yang berkaitan dengan
penguraian ATP

Sumber : Lehninger
Laboratorium (1995)
Fisiologi Biologi - UNESA 4
Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Enzim mempercepat suatu reaksi kimia dengan cara menurunkan energi


aktivasi. Energi aktivasi adalah energi yang diperlukan supaya molekul-molekul
substrat berada pada puncak transisi/ puncak ketidakstabilan. Pada grafik dibawah
ini dapat dilihat bahwa dengan adanya enzim energi aktivasi akan semakin kecil
(Isnawati, 2009).

Struktur enzim

Suatu enzim (holoenzim) tersusun atas bagian protein dan bukan protein. Bagian
protein disebut apoenzim, dan bagian non protein disebut kofaktor. Kofaktor
dapat berupa ion logam (Cu, Mg, K, Fe, Na), atau koenzim yang berupa bahan
organik, misalkan vitamin B (B1, B2) (biologimediacentre.com, 2012).

Sifat-sifat enzim

Sebagai suatu bahan yang penting dalam metabolisme, enzim memiliki sifat-
sebagai berikut (biologimediacentre.com, 2012):
kerja enzim bersifat spesifik/khusus, artinya bahwa satu enzim hanya
dapat bekerja pada satu substrat
enzim bekerja pada suhu tertentu
enzim berkerja pada derajat keasaman (pH) tertentu
kerja enzim dapat bolak-balik, artinya selain dapat memecah substrat juga
dapat membentuk substrat dari penyusunnya

Hal-hal yang dapat mempengaruhi kerja enzim di antaranya adalah:

suhu
derajat keasaman (pH)
konsentrasi enzim
jenis substrat
penimbunan hasil akhir
pengaruh aktivator/penggiat
konsentrasi inhibitor

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 5


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Suatu enzim hanya dapat bekerja spesifik pada suatu substrat untuk suatu
perubahan tertentu. Misalnya, sukrase akan menguraikan rafinosa menjadi
melibiosa dan fruktosa, sedangkan oleh emulsin, rafinosa tersebut akan terurai
menjadi sukrosa dan galaktosa (Salisbury, 1995).
Apabila suhu terlalu tinggi, struktur tiga dimensi enzim akan rusak, sehingga
substrat tidak lagi dapat terikat dengannya. Dengan demikian enzim tersebut tidak
akan dapat menjalankan fungsinya lagi sebagai biokatalisator. Pada umumnya
denaturasi ini bersifat tidak terbalikan atau permanen (Salisbury, 1995).

Kompetitif
Dapat balik/
reversible
hambatan kerja
Non kompetitif
enzim Tidak dapat
balik/irreversi
ble

Enzim dihambat oleh molekul-molekul tertentu pada proses katalisisnya.


Adapun beberapa hambatan kerja enzim secara skematis seperti bagan dibawah
ini (Isnawati, 2009):

a. Hambatan dapat balik kompetitif terjadi pada enzim yang molekul


penghambatnya secara struktural mirip dengan struktur molekul substrat.
Molekul penghambat menempel pada sis aktif enzim, dengan demikian
substrat tidak bisa melekat pada sisi aktif enzim dan tidak bisa diubah
menjadi produk.
b. Hambatan dapat balik non kompetitif terjadi dengan cara molekul
penghambat pada enzim tetapi tidak pada sisi aktif. Pelekatan molekul
penghambat pada enzim menyebabkan perubahan konformasi tiga dimensi
pada sisi aktif enzim, dengan demikian substrat tidak dapat melekat pada
sisi aktif enzim.
c. Hambatan tidak dapat balik pada kerja enzim akan gugus fungsional enzim
secara permanen dan mengakibatkan kerusakan pada enzim itu, sehingga
enzim tidak dapat bekerja lagi.

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 6


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Amilase

Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase.


Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati, glikogen
dan polisakarida yang lain. Tumbuhan mengandung dan amilase, hewan
memiliki hanya amilase, dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada
manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. Amilase memotong rantai
polisakarida yang panjang, menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. Amilosa
merupakan polisakarida yang terdiri dari 100-1000 molekul glukosa yang saling
berikatan membentuk rantai lurus. Dalam air, amilosa bereaksi dengan iodin
memberikan warna biru yang khas (Fox, 1991).

Amilase merupakan enzim yang penting dalam bidang pangan dan


bioteknologi. Amilase merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi hidrolisis pati
menjadi gula sederhana. Amilase mengubah karbohidrat yang merupakan
polisakarida menjadi maltosa (alfa dan beta) ataupun glukosa (gluko amilase).

Pertumbuhan tanaman yang berasal dari biji diawali dari proses


perkecambahan. Dalam pertumbuhannya memerlukan energi, dan energi tersebut
berasal dari perombakan bahan-bahan organik seperti karbohidrat, lemak, dan
protein. Enzim yang digunakan untuk merombak protein adalah enzim protease,
perombakan lemak adalah enzim lipase dan pati memerlukan enzim amilase.
Enzim-enzim tersebut secara bersamaan dihasilkan tumbuhan selama proses
perkecambahan (Bahri, Syaiful dkk., 2012).

Larutan Buffer

Larutan buffer adalah larutan yang tahan terhadap perubahan pH dengan


penambahan asam atau basa. Larutan seperti itu digunakan dalam berbagai
percobaan biokimia dimana dibutuhkan pH yang terkontrol dan tepat ( Fardiaz,
1992 ). Larutan buffer bermanfaat untuk melarutkan kotoran yang masih terikut di
dalam endapan enzim tersebut sekaligus bisa mencegah enzim dari denaturasi dan
kehilangan fungsi biologisnya ( Fox, 1991 ). Buffer dapat mempertahankan
kondisi enzim presipitat agar tidak terjadi perubahan pH dan mencegah agar
enzim tidak mengalami inaktivasi (Winarno, 1995 ).

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 7


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Sedangka larutan penyangga berfungsi untuk menjaga pH tanaman. Setiap


tanaman memiliki pH tertentu agar dapat tumbuh dengan baik. Oleh karena itu
dibutuhkan larutan penyangga agar pH dapat dijaga.

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 8


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah eksperimental, karena dilakukan percobaan
untuk menjawab rumusan masalah, dan terdapat variabel-variabel dalam
penelitian yang dilakukan.
B. Variabel Penelitian
1. Variabel manipulasi : kadar enzim
2. Variabel kontrol : waktu, jenis kecambah, kadar amilum, volume
amilum, dan volume KI-I2
3. Variabel respon : kecepatan perubahan warna (sebagai indikator
pengubahan amilum mejadi glukosa)
C. Bahan dan Alat
Alat
1. Mortar dan penumbuk porselin 1 buah
2. Tabung reaksi 4 buah
3. Rak tabung reaksi 1 buah
4. Timbangan 1 buah
5. Tabung centrifuge 4 buah
6. Gelas ukur 10 mL 1 buah
7. Centrifuge
8. Cawan tetes/kaca arloji 1 / 12 buah
9. Pipet tetes 5 buah
10. Lampu spirtus 1 buah
11. Penjepit tabung reaksi 1 buah
Bahan
1. Kecambah kacang hijau berumur dua hari 30 gr
2. Larutan amilum 4% 2 ml
3. Aquades
4. Larutan KI-I2 1 tetes
5. Larutan Fosfat sitrat buffer pH= 5,6 10 ml

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 9


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

D. Langkah Kerja
1. Menyiapkan bahan dan alat yang diperlukan.
2. Membuang kulit biji kecambah.
3. Tambahkan 30 ml larutan buffer fosfat sitrat pada kecambah hijau,
kemudian gerus 30 gram kecambah kacang hijau sampai semua
kecambah hancur.
4. Memasukkan ke dalam tabung reaksi centrifuge dan memusingnya
selama 5 menit dengan kecepatan 250 rpm.
5. Mengambil cairan bagian atas (supernatan) dengan bantuan pipet tetes
dan memasukkkannya ke dalam tabung reaksi. Cairan ini dianggap
sebagai larutan enzim amilase 100%.
6. Membuat enzim dengan kadar 0% ,25% ,50% ,dari enzim yang berkadar
100% dengan cara sebagai berikut: kadar enzim 50% diperoleh cara
mengambil 5 ml enzim 100% dan ditambahkan aquades sampai
volemenya menjadi 10 ml, kadar enzim 25% diperoleh dengan cara
mengambil 5 ml enzim 50% dan ditambahkan aquades sampai
volumenya menjadi 10 ml, kadar enzim 0% diperoleh dengan cara
memanaskan 5 ml enzim 100% sampai mendidih.
7. Menyediakan tabung reaksi dan isilah dengan 5 ml larutan enzim 100%,
tambahkan 2 ml larutan amilum 1%. Mencatat waktunya.kemudian
mengocok perlahan sampai larutan tercampur benar. Saat mencampur
larutan amilum + enzim ditetapkan sebagai saat nol.
8. Mengambil 1 tetes campuran setiap 2 menit lalu mengujinya dengan 1
tetes larutan KI-I2 pada lempeng penguji (cawan tetes).
9. Mencatat waktu tiap perubahan warna yang terjadi pada lempeng
penguji.
10. Mengulangi langkah ke 6 sampai 8, masing-masing untuk kadar enzim
50% , 25%, dan 0%.
E. Alur Kerja

Membuang kulit biji kecambah

Ambil 30 gr biji kecambah yang sudah dikuliti

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 10


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Tambahkan 30 mL larutan buffer


fosfat sitrat dan gerus 30 gram
kecambah kacang hijau

Masukkan mL gerusan kecambah


kacang hijau ke dalam 3 tabung
reaksi, masing-masing 10 mL.

Ambil cairan bagian


atas (supernatan) Masukkan tabung reaksi ke
cair
dan masukkan ke dalam centrifuge selama 5
dalam tabung reaksi. menit, dengan kecepatan 250
rpm.

Tambahkan aquades pada


supernatan 5mL sampai
volumenya 10mL, sbg larutan
enzim 50%

5 mL 100%- 10 mL
10 mL
Untuk Larutan enzim 25%,
ambil 5mL dr enzim 50% dan
Untuk Larutan Aquades 5mL tambahkan aquades sampai
enzim 0%, volume nya 10mL
panaskan 10mL 50%-
supernatan 5mL

sampai mendidih.
25%

2mL Amilum 4%
Tambahkan 2mL larutan
amilum 4%. Saat mencampur
ailum+enzim ditetapkan sbg
saat 0.

100% 50% 25% 0%

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 11


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Satu tetes KI-I2 setiap dua


menit

100% 50% 25% 0%

Setiap 2 menit diambil 1 tetes Lakukan langkah diatas setiap


dari setiap larutan campuran, dua menit sampai terjadi
dan diuji dengan 1 tetes KI-I2 perubahan warna menjadi
pada cawan tetes. kuning/coklat muda.

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 12


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Dua Perubahan Warna Pada Konsentrasi Enzim
menit
0% 25% 50% 100%
ke-
1 +++++ +++++ +++++ +++++
2 +++++ +++++ +++++ +++++
3 +++++ +++++ +++++ ++++
4 +++++ +++++ +++++ +++
5 +++++ +++++ ++++ +++
6 +++++ +++++ ++++ ++
7 +++++ ++++ ++++ ++
8 +++++ ++++ +++ ++
9 +++++ ++++ +++ ++
10 +++++ ++++ +++ +
11 +++++ ++++ ++ +
12 +++++ +++ ++ +
13 +++++ +++ ++ 0
14 +++++ +++ ++ 0
15 +++++ +++ ++ 0
16 +++++ ++ + 0
17 +++++ ++ + 0
18 +++++ ++ + 0
19 +++++ ++ + 0
20 +++++ ++ + 0
21 +++++ ++ + 0
22 +++++ ++ + 0
23 +++++ ++ + 0
24 +++++ ++ + 0
25 +++++ ++ + 0

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 13


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Dua Perubahan Warna Pada Konsentrasi Enzim


menit
0% 25% 50% 100%
ke-
26 +++++ ++ + 0
27 +++++ ++ 0 0
28 +++++ ++ 0 0
29 ++++ + 0 0
30 ++++ + 0 0
31 ++++ 0 0 0
32 ++++ 0 0 0
33 ++++ 0 0 0
Tabel 1. Tabel Pengaruh Enzim Amilase Terhadap Kecepatan Reaksi
Pengubahan Amilum Menjadi Glukosa

Keterangan:
+++++ : biru tua
++++ : biru keunguan
+++ : ungu
++ : coklat tua
+ : coklat kekuningan
0 : kuning
B. Analisis Data
Berdasarkan hasil praktikum maka dapat diketahui pada konsentrasi
larutan enzim 0% tidak terjadi perubahan warna yang menonjol sampai pada
2 menit ke-29. Pada konsentrasi larutan enzim 0%, semula berwarna biru tua-
kehitaman pekat, ketika diuji dengan KI-I2 satu tetes pada dua menit ke-29
terjadi perubahan warna dari biru tua kehitaman yang pekat menjadi biru tua
dengan kepekatan berkurang satu tingkat. hal ini dapat terjadi karena
konsentrasi enzim sama dengan nol%.
Sedangkan pada larutan konsentrasi enzim 25%, yang semula berwarna
sama yaitu biru tua-kehitaman pekat pada dua menit ke 7, 12, 16 dan 29
terjadi perubahan warna secara berturut-turut dari biru tua-kehitaman menjadi

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 14


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

lebih terang dan kepekatan turun satu tingkat. sehingga pada dua menit ke 31
warna larutan merubah menjadi kuning.
Kemudian pada konsentrasi enzim 50% perubahan warna pertama terjadi
pada dua menit ke-5, lebih cepat dibandingkan dengan kedua konsentrasi
enzim sebelumnya. Pada dua menit ke-29 larutan konsentrasi enzim 50%
sudah mengalami perubahan warna menjadi kuning sampai pada dua menit
ke-33.
Pada konsentrasi larutan enzim 100% perubahan warna terjadi lebih cepat
dibandingkan ketiga larutan sebelumnya, yaitu perubahan warna pertama
pada dua menit ke-3 yang semula berwarna biru tua pekat menjadi biru
keunguan dengan kepekatan warna dari +++++ menjadi ++++. Semua uji
pada larutan enzim dengan KI-I2 dihentikan pada dua menit ke-33 hal tersebut
dikarenakan semua larutan sudah berubah warna menjadi kuning kecuali pada
konsentrasi enzim 0%.
Dari analisis hasil data di atas dapat dibuat grafik pengaruh kadar enzim
terhadap kecepatan reaksi pengubahan amilum menjadi glukosa.

Grafik 1. Pengaruh Kadar Enzim Terhadap Kecepatan Reaksi Pengubahan


Amilum Menjadi Glukosa.

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 15


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

C. Pembahasan
Pertumbuhan tanaman yang berasal dari biji diawali dari proses
perkecambahan. Dalam pertumbuhannya memerlukan energi, dan energi
tersebut berasal dari perombakan bahan-bahan organik. Enzim yang
digunakan untuk merombak protein adalah enzim protease, perombakan
lemak adalah enzim lipase dan pati memerlukan enzim amilase. Enzim-enzim
tersebut secara bersamaan dihasilkan tumbuhan selama proses
perkecambahan (Bahri, Syaiful dkk., 2012). Sehingga pada praktikum ini
kecambah kacang hijau yang masih berumur 2 hari mempunyai banyak sekali
enzim yang diproduksi oleh tumbuhan untuk membentuk energi dalam
perkecambahan.
Dari analisis hasil data di atas pada konsentrasi enzim 0% yang didapatkan
dari 10 mL konsentrasi enzim 100% yang telah dipanaskan sampai mendidih.
Pada saat dipanaskan suhu larutan enzim semakin meningkat mengakibatkan
enzim di dalam mengalami denaturasi.
Apabila suhu terlalu tinggi, struktur tiga dimensi enzim akan rusak,
sehingga substrat tidak lagi dapat terikat dengannya. Dengan demikian enzim
tersebut tidak akan dapat menjalankan fungsinya lagi sebagai biokatalisator.
Pada umumnya denaturasi ini bersifat tidak terbalikan atau permanen
(Salisbury, 1995). Sehingga pada konsentrasi enzim 0% enzim sudah
mengalami denaturasi sehingga tidak dapat berikatan dengan substrat
menyebabkan tidak adanya enzim yang dapat mengubah amilum menjadi
glukosa. Dengan demikian pada konsentrasi enzim 0% tidak terjadi
perubahan warna sampai pada dua menit ke -33. Menurut beberapa teori
enzim akan mengalami denaturasi pada suhu 50C.
Sedangkan pada larutan konsentrasi enzim 25% terjadi perubahan warna
yang pertama pada dua menit ke-7 dari biru tua-kehitaman menjadi biru
keunguan. Munculnya warna biru gelap pada saat ditetesi satu tetes KI-I2 atau
lugol menunjukkan adanya amilum. Uji iodine adalah uji yang dilakukan
untuk mengecek adanya amilum. Larutan iodine, yang terurai dalam larutan
kalium iodida (KI), bereaksi dengan amilum menghasilkan produk berwarna
biru kehitaman. Reaksi ini adalah hasil pembentukan rantai polipeptida dari

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 16


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

iodine dan amilum. Amilopektin, yaitu bagian amilum yang bercabang,


membentuk heliks yang lebih pendek sehingga molekul iodine tidak dapat
mengikatnya. Akibatnya, apabila dilakukan uji iodine, warna yang terbentuk
adalah oranye atau kuning. Pada konsentrasi enzim 25% perubahan warna
menjadi kuning terjadi pasa dua menit ke-31. Begitupula pada konsentrasi
enzim 50% terjadi perubahan warna yang pertama lebih cepat yaitu pada dua
menit ke-5 dari +++++ menjadi ++++. Dan pada dua menit ke-27 terjadi
perubahan warna menjadi 0 yaitu warna kuning. Hal ini menunjukkan adanya
reaksi enzim amilase yang membentuk glukosa.
Pada konsentrasi enzim 100% menunjukkan perubahan warna yang
pertama sangat cepat, yaitu pada dua menit ke-3 dan berubah menjadi warna
kuning pada dua menit ke-13. Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa
semakin tinggi kadar enzim yang ditambahkan pada larutan amilum maka
semakin cepat reaksi enzim amilase dalam mengubah amilum menjadi
glukosa. Hal ini sesuai dengan fungsi enzim sebagai katalisator biologi yaitu
dapat mempercepat suatu reaksi kimia dengan cara menurunkan energi
aktivasi. Energi aktivasi adalah energi yang diperlukan supaya molekul-
molekul substrat berada pada puncak transisi/ puncak ketidakstabilan
(Isnawati, 2009).
Penambahan larutan buffer yaitu larutan yang tahan terhadap perubahan
pH dengan penambahan asam atau basa. Larutan seperti itu digunakan dalam
berbagai percobaan biokimia dimana dibutuhkan pH yang terkontrol dan tepat
( Fardiaz, 1992 ). Kemudian penambahan KI-I2 satu tetes sebagai uji iodine
untuk menunjukkan ada/tidaknya amilum pada suatu larutan dan untuk
menunjukkan perubahan warna menjadi kuning sebagai indikator adanya
reaksi kimia antara enzim amilase dengan amilum dalam membentuk
glukosa.

D. Diskusi
1. Dari tes KI-I2 pada larutan amilum + enzim 100%, warna larutan yang
diperoleh ialah putih keruh. Warna ini merupakan indikator bahwa dalam
larutan tersebut telah terbentuk glukosa. Glukosa ini merupakan hasil
penguraian amilum (polisakarida) menjadi maltosa (disakarida) oleh

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 17


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

bantuan enzim amilase, dan penguraian maltosa menjadi glukosa dibantu


oleh enzim maltase.
2. Fosfat sitrat buffer berfungsi mempertahankan harga pH dari larutan
enzim. Sehingga ketika ada penambahan zat KI-I2 ataupun saat terjadi
pengenceran, nilai pH larutan enzim tidak berubah (tetap). Hal ini
penting karena enzim dapat mengalami perubahan konformasi bila nilai
ph berubah-ubah.
3. Hal-hal yang dapat mempengaruhi kerja enzim di antaranya adalah
(Isnawati, 2009):
suhu
derajat keasaman (pH)
konsentrasi enzim
jenis substrat
penimbunan hasil akhir
pengaruh aktivator/penggiat
konsentrasi inhibitor

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 18


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
5. Kadar enzim berpengaruh terhadap kecepatan reaksi pengubahan amilum
menjadi glukosa.
6. Semakin tinggi kadar/konsentrasi enzim, maka semakin cepat kecepatan
reaksi dalam mengubah amilum menjadiglukosa. Sebaliknya, pada reaksi
dengan konsentrasi sedikit atau tanpa adanya enzim, maka kecepatan
reaksi pengubahan amilum menjadi glukosa membutuhkan waktu yang
lebih lama.
B. Saran
1. Pastikan bahwa dalam membuat larutan konsentrasi enzim tidak
tercampur dengan konsentrasi lain.
2. Pada saat memanaskan larutan enzim untuk konsentrasi 0%, pastikan
larutan mendidih dengan sempurna.

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 19


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

DAFTAR PUSTAKA

Rahayu, Sri Rahayu., dan Yuliani, dkk. 2014. Petunjuk Praktikum Mata kuliah
Fisiologi Tumbuhan. Surabaya : Laboratorium Fisiologi Tumbuhan-Biologi-
UNESA
Salisbury, Frank B., dan Ross, C.W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2 Edisi
Keempat alih bahasa Lukman dan Sumaryono. Bandung: ITB.
Isnawati. 2009. Biokimia. Surabaya: UNESA University Press.

Anam, Khairul. 2010. Sekolah Pascasarjana Institute Pertanian Bogor: Produksi


Enzim Amilase (online),
(http://khairulanam.files.wordpress.com/2010/08/enzim-amilase.pdf,
diakses pada 22 Maret 2014).

Bahri, Syaiful., Moh, Mirzan., dan Moh, Hasan. 2012. Karakterisasi Enzim
Amilase Dari Kecambah Biji Jagung Ketan (Zea mays ceratina L.). Journal
Natural Sciencies, 1:132-143.

BMC. 2012. Enzim. (http://biologimediacentre.com/enzim/, diakses pada tanggal


22 Maret 2014).

Miladi, D Sahri. 2010. Fungsi Larutan Penyangga. (http://sahri.ohlog.com/fungsi-


larutan-penyangga.oh81641.html, diakses pada tanggal 22 Maret 2014).

Widarmayanti, Ratih. 2012. Pengaruh Kadar Enzim Terhadap Kecepatan Reaksi.


(http://id.scribd.com/doc/109719857/Pengaruh-Kadar-Enzim-Terhadap-
Kecepatan-Reaksi, diakses pada tanggal 22 Maret 2014).

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 20


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

LAMPIRAN

Pengupasan kulit Kecambah Kacang Hijau Penimbangan Kacang Hijau dengan


Neraca Ohauss

Penghancuran Kecambah Kacang Hijau Setelah Pemberian Larutan Buffer

Supernatan Larutan Enzim 100% setelah Supernatan Pada Larutan Enzim 0%


dicentrifuge setelah dicentrifuge

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 21


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Supernatan Larutan Enzim 25% setelah Supernatan Larutan Enzim 50% setelah
dicentrifuge dicentrifuge

Uji Iodine Pertama pada larutan enzim


Pembakaran larutan Enzim Konsentrasi 0%
0% dan 25%

Uji Iodine Pada Dua Menit ke-25

Laboratorium Fisiologi Biologi - UNESA 22