Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

HAKIKAT MANUSIA
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pendidikan Agama Islam

Di susun oleh :

Afifah Nur Harery

Difa Dwi Astari

Farah Khairunnisa Luthfiyah

Novia Desi Lestari

Rizka Widya Isnaeni

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG

JURUSAN GIZI
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas


rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah
yang berjudul Hakikat Manusia. Penulisan makalah ini merupakan
salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Pendidikan Agama
Islam di Politeknik Kesehatan Bandung.
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak
kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua
pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah
ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang
membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen
kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.

Bandung, 29 September 2015

Tim Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbicara tentang manusia dan agama dalam Islam adalah


membicarakan sesuatu yang sangat klasik namun senantiasa aktual.
Berbicara tentang kedua hal tersebut sama saja dengan berbicara
tentang kita sendiri dan keyakinan asasi kita sebagai makhluk Tuhan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, manusia diartikan
sebagai makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain);
insan; orang (1989:558). Menurut pengertian ini manusia adalah
makhluk Tuhan yang diberi potensi akal dan budi, nalar dan moral untuk
dapat menguasai makhluk lainnya demi kemakmuran dan
kemaslahatannya. Dalam bahasa Arab, kata manusia ini bersepadan
dengan kata-kata ns, basyar, insn, maru, ins dan lain-lain. Meskipun
bersinonim, namun kata-kata tersebut memiliki perbedaan dalam hal
makna spesifiknya. Kata ns misalnya lebih merujuk pada makna
manusia sebagai makhluk sosial. Sedangkan kata basyar lebih
menunjuk pada makna manusia sebagai makhluk biologis. Begitu juga
dengan kata-kata lainnya.

B. Rumusan Masalah

1) Apa pengertian hakikat dan manusia itu ?


2) Apa saja tujuan penciptaan manusia serta fungsi dan peran
manusia ?
3) Bagaimana tanggung jawab manusia sebagai hamba dan khalifah
Allah SWT ?
4) Apa saja hakikat manusia itu ?

C. Tujuan Penulisan
1) Untuk mengetahui pengertian hakikat dan manusia.
2) Untuk mengetahui tujuan penciptaan manusia serta fungsi dan peran
manusia
3) Untuk mengetahui tanggung jawab manusia sebagai hamba dan
khalifah Allah SWT
4) Untuk mengetahui Apa saja hakikat manusia itu.

BAB II
PEMBAHASAN
HAKIKAT MANUSIA MENURUT ISLAM

A. Pengertian Hakikat

Menurut bahasa hakikat berarti kebenaran atau seesuatu yang


sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan
hakikat itu adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa
sesuatu. Karena itu dapat dikatakan hakikat syariat adalah inti dan jiwa
dari suatu syariat itu sendiri. Dikalangan tasauf orang mencari hakikat
diri manusia yang sebenarnya karena itu muncul kata-kata diri mencari
sebenar-benar diri. Sama dengan pengertian itu mencari hakikat jasad,
hati, roh, nyawa, dan rahasia.

B. Pengertian Manusia

Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan


oleh Allah swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu
konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka dumi ini.
Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah.
Membicarakan tentang manusia dalam pandangan ilmu
pengetahuan sangat bergantung metodologi yang digunakan dan
terhadap filosofis yang mendasari.
Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai
homo volens (makhluk berkeinginan). Menurut aliran ini, manusia
adalah makhluk yang memiliki perilaku interaksi antara komponen
biologis (id), psikologis (ego), dan social (superego). Di dalam diri
manusia tedapat unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral
(nilai).
Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai
homo mehanibcus (manusia mesin). Behavior lahir sebagai reaksi
terhadap introspeksionisme (aliran yang menganalisa jiwa manusia
berdasarkan laporan subjektif dan psikoanalisis (aliran yang berbicara
tentang alam bawa sadar yang tidak nampak). Behavior yang
menganalisis prilaku yang Nampak saja. Menurut aliran ini segala
tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran
terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek.
Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai homo
sapiens (manusia berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak di pandang
lagi sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya,
makhluk yang selalu berfikir. Penganut teori kognitif mengecam
pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu tidak nyata karena
tampak tidak mempengaruhi peristiwa. Padahal berpikir , memutuskan,
menyatakan, memahami, dan sebagainya adalah fakta kehidupan
manusia.
Dalam al-quran istilah manusia ditemukan 3 kosa kata yang
berbeda dengan makna manusia, akan tetapi memilki substansi yang
berbeda yaitu kata basyar, insan dan al-nas. Kata basyar dalam al-
quran disebutkan 37 kali salah satunya al-kahfi : innama anaa basyarun
mitlukum (sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu).
Kata basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis, seperti asalnya
dari tanah liat, atau lempung kering (al-hijr : 33 ; ar-ruum : 20), manusia
makan dan minum (al-muminuun : 33).
Kata insan disebutkan dalam al-quran sebanyak 65 kali,
diantaranya (al-alaq : 5), yaitu allamal insaana maa lam ya (dia
mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Konsep islam
selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai
makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dfan memikul amanah (al-ahzar :
72). Insan adalah makhluk yang menjadi dan terus bergerak maju ke
arah kesempurnaan.
Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti az-zumar : 27
walakad dlarabna linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal
(sesungguhnya telah kami buatkan bagi manusia dalam al-quran ini
setiap macam perumpamaan). Konsep al-nas menunjuk pada semua
manusia sebagai makhluk social atau secara kolektif.
Dengan demikian Al-Quran memandang manusia sebagai
makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar,
diartikan sebagai makhluk social yang tidak biasa hidup tanpa bantuan
orang lain dan atau makhluk lain.

> Asal Mula Manusia berdasarkan Al-Qur'an (Nabi Adam a.s)

Saat Allah Swt. merencanakan penciptaan manusia, ketika Allah


mulai membuat cerita tentang asal-usul manusia, Malaikat Jibril
seolah khawatir karena takut manusia akan berbuat kerusakan di muka
bumi. Di dalam Al-Quran, kejadian itu diabadikan.
"...Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat, 'Sesungguhnya, Aku akan menciptakan seorang manusia dari
tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah
meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu
kepadanya dengan bersujud" (QS. Al Hijr: 28-29).
Firman inilah yang membuat malaikat bersujud kepada manusia,
sementara iblis tetap dalam kesombongannya dengan tidak
melaksanakan firman Allah. Inilah dosa yang pertama kali dilakukan
oleh makhluk Allah yaitu kesombongan. Karena kesombongan tersebut
Iblis menjadi makhluk paling celaka dan sudah dipastikan masuk
neraka. Kemudian Allah menciptakan Hawa sebagi teman hidup Adam.
Allah berpesan pada Adam dan Hawa untuk tidak mendekati salah satu
buah di surga, namun Iblis menggoda mereka sehingga terjebaklah
Adam dan Hawa dalam kondisi yang menakutkan. Allah menghukum
Adam dan Hawa sehingga diturunkan kebumi dan pada akhirnya Adam
dan Hawa bertaubat. Taubat mereka diterima oleh Allah, namun Adam
dan Hawa menetap dibumi. Baca Surat Al-Baqarah Ayat 33-39.
Adam adalah ciptaan Allah yang memiliki akal sehingga memiliki
kecerdasan, bisa menerima ilmu pengetahuan dan bisa mengatur
kehidupan sendiri. Inilah keunikan manusia yang Allah ciptakan untuk
menjadi penguasa didunia, untuk menghuni dan memelihara bumi yang
Allah ciptakan. Dari Adam inilah cikal bakal manusia diseluruh
permukaan bumi. Melalui pernikahannya dengan Hawa, Adam
melahirkan keturunan yang menyebar ke berbagai benua diseluruh
penjuru bumi; menempati lembah, gunung, gurun pasir dan wilayah
lainnya diseluruh penjuru bumi. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah
SWT yang berbunyi:
"...Dan sesungguhnya Kami muliakan anak-anak Adam; Kami
angkut mereka didaratan dan di lautan; Kami berikan mereka rezeki dari
yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyak makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. al-
Isra' [17]: 70)

C. Tujuan Penciptaan Manusia

Tujuan penciptaan manusia adalah menyembah kepada


penciptanya yaitu Allah. Pengertian penyembahan kepada Allah tidak
bisa di artikan secara sempit, dengan hanya membayangkan aspek
ritual yang tercermin dalam shalat saja. Penyembahan berarti
ketundukan manusia dalam hokum Allah dalam menjalankan kehidupan
di muka bumi, baik yamg menyangkut hubungan manusia dengan
tuhan maupun manusia dengan manusia.
Oleh kerena penyembahan harus dilakukan secara suka rela,
karena Allah tidak membutuhkan sedikitpun pada manusia karena
termasuk ritual-ritual penyembahannya.
Penyembahan yang sempurna dari seorang manusia adalah akan
menjadikan dirinya sebagai khalifah Allah di muka bumi dalam
mengelolah alam semesta. Keseimbangan pada kehidupan manusia
dapat terjaga dengan hukum-hukum kemanusiaan yang telah Allah
ciptakan.
D. Fungsi dan Peran Manusia

Berpedoman pada Al-Quran surah al-baqarah ayat 30-36, status


dasar manusia yang mempelopori oleh adam AS adalah sebagai
khalifah. Jika khalifah diartikan sebagai penerus ajaran Allah maka
peran yang dilakukan adalah penerus pelaku ajaran Allah dan sekaligus
menjadi pelopor membudayakan ajaran Allah Swt.
Peran yang hendaknya dilakukan seorang khalifah sebagaimana yang
ditetapkan oleh Allah di antaranya adalah:
1. Belajar
2. Mengajarkan ilmu
3. Membudayakan ilmu
Oleh karena itu semua yang dilakukan harus untuk kebersamaan
sesama umat manusia dan hamba Allah, serta pertanggung jawabannya
pada 3 instansi yaitu pada diri sendiri, pada masyarakat, pada Allah
SWT.

E. Tanggung Jawab Manusia sebagai Hamba dan Khalifah Allah SWT

1) Tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah SWT


Makna yang esensial dari kata hamba adalah ketaatan,
ketundukan, dan kepatuhan manusia hanya layak diberikan kepada
Allah SWT yang dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan dan
ketundukan pada kebenaran dan keadilan.
Oleh karena itu, dalam al-quran dinyatakan dengan quu
anfusakun waahlikun naran (jagalah dirimu dan keluargamu dengan
iman dari api neraka).
2) Tanggung Jawab Manusia sebagai Khalifah Allah SWT
Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat dan harus
dipertanggungjawabkan dihadapannya. Tugas hidup yang di muka bumi
ini adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di
muka bumi, serta pengolaan dan pemeliharaan alam.
Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan.
Manusia menjadi khalifah memegang mandat tuhan untuk mewujud
kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan manusia bersifat
kreatif yang memungkinkan dirinya mengolah serta mendayagunakan
apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidpnya.
Oleh karena itu hidup manusia, hidup seorang muslim akan
dipenuhi dengan amaliah. Kerja keras yang tiada henti sebab bekerja
sebagai seorang muslim adalah membentuk amal saleh.

F. Hakikat Manusia

Hakikat manusia adalah sebagai berikut :


1) Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan
hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
2) Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas
tingkah laku intelektual dan sosial.
3) Seseorang yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif
mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan
nasibnya.
4) Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus
berkembang tidak pernah selesai selama hidupnya.
5) Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha
untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat
dunia lebih baik untuk ditempati.
6) Individu yang mudah terpengaruh oleh lingkungan terutama dalam
bidang sosial.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Jadi manusia merupakan makhluk yang luar biasa kompleks.


Sedemikian sempurna manusia diciptakan oleh Sang Pencipta dan
manusia tidak selalu diam karena dalam setiap kehidupan manusia
selalu ambil bagian. Kita sebagai manusia harus menjadi individu yang
berguna untuk diri sendiri dan orang lain.
Manusia itu tidak sepenuhnya sempurna, dalam kehidupan yang
kita jalani pasti selalu ada masalah yang tidak bisa kita selesaikan, oleh
karena itu juga membutuhkan bantuan dari orang lain, karena manusia
adalah makhluk sosial sama seperti yang lain karena manusia tidak bisa
berdiri sendiri, dalam hal agama kita juga mempunyai banyak maka
dari itu kita harus saling menghargai dan mengasihi karena kita sama-
sama makhluk yang diciptakan tidak ada bedanya , selain itu dalam
hidup manusia juga terdapat banyak aturan yang harus kita patuhi
sebagai umat manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, AL-Quran dan Hadits (Dirasah Islamiyah, Jakarta : PT.


Raja Grafindo Persada, 1998

Departemen Agama RI, Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi


Umum, Jakarta : Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2001

Hamdan Mansoer, dkk, Materi Instruksional Pendidikan Agama Islam,


Jakarta : Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam, 2004
Murthada Muthahhari, Perspektif Al-Quran Tentang Manusia dan
Agama, Bandung : Mizan, 1990

Nanih Machendrawaty & Agus Ahmad Safei, Pengembangan Masyarakat


Islam, Jakarta : Rineka Cipta, 2004

Muhammadong. 2009. Pendidikan Agama Islam. Makassar : Tim Dosen


Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Makassar.

Abdullah, Abd. Malik. 2009. Pendidikan Agama Islam. Makassar : Tim


Dosen Penididikan Agama Islam Universitas Negeri Makassar.