Anda di halaman 1dari 2

Nasional

Penambahan Wakil Menteri Keuangan


Dipertanyakan
Monday, 17 October 2011
Kembali

JAKARTA -- Anggota Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat, Dolfie Othniel Fredric
Palit, mempertanyakan penunjukan Mahendra Siregar sebagai Wakil Menteri Keuangan
mendampingi Wakil Menteri Keuangan sebelumnya, Anny Ratnawati. Ia berpendapat,
penambahan pos baru mengesankan buruknya koordinasi di tingkat eselon I ke bawah di
Kementerian Keuangan. Itulah sebabnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa perlu
menambah mata rantai sebelum Menteri Keuangan mengambil keputusan.

"Akibatnya bisa memperlambat proses pengambilan keputusan," kata Dolfie ketika dihubungi
kemarin. Menurut anggota Fraksi PDI Perjuangan ini, walaupun pemerintah berhak menambah
wakil menteri dan tidak diatur jumlahnya, pemerintahan yang baik adalah yang efektif dan
efisien.

Ahli hukum tata negara dari Universitas Gadjah Mada, Fadjroel Falaakh, sependapat dengan
Dolfie. Dia memandang adanya dua wakil menteri membuktikan kinerja menteri-menteri kabinet
tidak sesuai dengan keinginan Presiden. Indikasi ketidakmampuan semakin tampak tatkala orang
yang menjabat menteri tak dicopot, sedangkan posisi wakil menteri justru ditambah menjadi dua
orang.

Juru bicara kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, sebelumnya menyebutkan bahwa Mahendra, yang
saat ini menjabat Wakil Menteri Perdagangan, dipilih lantaran pernah bergabung dengan
Kementerian Keuangan. "Penambahan dua kursi wakil menteri untuk membantu kinerja
mengingat pentingnya kementerian tersebut," ujar dia. Julian memastikan tidak akan terjadi
tumpang-tindih tugas di antara kedua wakil menteri tersebut.

Dihubungi terpisah, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Ahmad Mubarok,


mengungkapkan, penambahan dua wakil menteri di kementerian yang bidang tugasnya luas
diperlukan untuk mengangkat kinerja kabinet dari sebelumnya hanya 65 persen menjadi 85
persen.

Pelaksana tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan, Kiagus Ahmad Badarudin,


menegaskan, penambahan jumlah Wakil Menteri Keuangan tidak bakal merusak struktur
penggajian atau postur belanja pegawai dalam anggaran pendapatan dan belanja negara.
Alasannya, anggaran gaji dan operasional wakil menteri akan diambil dari anggaran transito.
Anggaran transito adalah anggaran yang masuk dalam belanja pegawai dengan tujuan
mengamankan kebijakan presiden.
"Kami tinggal membuat dasar hukumnya saja," ujarnya. Namun Badarudin enggan menyebutkan
besaran gaji Wakil Menteri Keuangan. "Yang pasti di atas eselon I," ujarnya. l ALWAN RIDHA |
NUR ROCHMI | AKBAR | EFRI

JAKARTA -- Anggota Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat, Dolfie Othniel Fredric
Palit, mempertanyakan penunjukan Mahendra Siregar sebagai Wakil Menteri Keuangan
mendampingi Wakil Menteri Keuangan sebelumnya, Anny Ratnawati. Ia berpendapat,
penambahan pos baru mengesankan buruknya koordinasi di tingkat eselon I ke bawah di
Kementerian Keuangan. Itulah sebabnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa perlu
menambah mata rantai sebelum Menteri Keuangan mengambil keputusan.

"Akibatnya bisa memperlambat proses pengambilan keputusan," kata Dolfie ketika dihubungi
kemarin. Menurut anggota Fraksi PDI Perjuangan ini, walaupun pemerintah berhak menambah
wakil menteri dan tidak diatur jumlahnya, pemerintahan yang baik adalah yang efektif dan
efisien.

Ahli hukum tata negara dari Universitas Gadjah Mada, Fadjroel Falaakh, sependapat dengan
Dolfie. Dia memandang adanya dua wakil menteri membuktikan kinerja menteri-menteri kabinet
tidak sesuai dengan keinginan Presiden. Indikasi ketidakmampuan semakin tampak tatkala orang
yang menjabat menteri tak dicopot, sedangkan posisi wakil menteri justru ditambah menjadi dua
orang.

Juru bicara kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, sebelumnya menyebutkan bahwa Mahendra, yang
saat ini menjabat Wakil Menteri Perdagangan, dipilih lantaran pernah bergabung dengan
Kementerian Keuangan. "Penambahan dua kursi wakil menteri untuk membantu kinerja
mengingat pentingnya kementerian tersebut," ujar dia. Julian memastikan tidak akan terjadi
tumpang-tindih tugas di antara kedua wakil menteri tersebut.

Dihubungi terpisah, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Ahmad Mubarok,


mengungkapkan, penambahan dua wakil menteri di kementerian yang bidang tugasnya luas
diperlukan untuk mengangkat kinerja kabinet dari sebelumnya hanya 65 persen menjadi 85
persen.

Pelaksana tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan, Kiagus Ahmad Badarudin,


menegaskan, penambahan jumlah Wakil Menteri Keuangan tidak bakal merusak struktur
penggajian atau postur belanja pegawai dalam anggaran pendapatan dan belanja negara.
Alasannya, anggaran gaji dan operasional wakil menteri akan diambil dari anggaran transito.
Anggaran transito adalah anggaran yang masuk dalam belanja pegawai dengan tujuan
mengamankan kebijakan presiden.

"Kami tinggal membuat dasar hukumnya saja," ujarnya. Namun Badarudin enggan menyebutkan
besaran gaji Wakil Menteri Keuangan. "Yang pasti di atas eselon I," ujarnya. l ALWAN RIDHA |
NUR ROCHMI | AKBAR | EFRI