Anda di halaman 1dari 19

TINJAUAN PUSTAKA

Teh

Senyawa utama yang dikandung teh adalah katekin, yaitu suatu turunan

tanin yang terkondensasi yang juga dikenal sebagai senyawa polifenol karena

banyaknya gugus fungsi hidroksil yang dimilikinya. Selain itu teh juga

mengandung alkaloid kafein yang bersama sama dengan polifenol teh akan

membentuk rasa yang menyegarkan. Beberapa vitamin yang dikandung teh

diantaranya adalah vitamin C, vitamin B, dan vitamin A yang walaupun diduga

keras akan menurun aktivitasnya akibat pengolahan, namun masih dapat

dimanfaatkan oleh peminumnya. Beberapa jenis mineral juga terkandung dalam

teh, terutama fluorida yang dapat memperkuat struktur gigi (Kustamiyati, 2006).

Unsur unsur utama dalam teh adalah kafein, tanin dan minyak esensial.

Unsur pertama memberikan rasa segar yang dapat mendorong dan meningkatkan

kerja jantung manusia, tidak berbahaya karena kemurniannya rendah. Unsur

kedua adalah sebagai pemberi cita rasa dan warna. Unsur ketiga memberi rasa dan

bau harum yang merupakan faktor faktor pokok dalam menentukan nilai tiap

cangkir teh untuk dijual dan diperdagangkan (Spilane, 1992).

Di Indonesia, sebagaian besar tanamannya berupa Camelia sinensis

varietas Assamica. Salah satu kelebihan dari varietas Assamica ini adalah

kandungan polifenolnya yang tinggi. Sehingga sangatlah beralasan bila teh

Indonesia lebih berpotensi dalam hal kesehatan dibandingkan teh Jepang maupun

teh China yang mengandalkan varietas sinensis sebagai bahan bakunya.

(Unpad, 2010).

Universitas Sumatera Utara


5

Komponen bioaktif utama dalam teh berperan dalam memberikan efek

fisiologis disebut katekin. Katekin ini terdiri dari 4 jenis yaitu epicathecin (EC),

epigallocathecin (EGC), epicathecin gallate (ECG), dan epigallocathecin gallate

(EGCG). Komponen katekin ini lebih banyak terdapat dalam teh hijau

dibandingkan teh hitam. Dalam teh hitam, sebagian besar katekin dioksidasi

menjadi teaflavin dan tearubigin (Hartoyo,2009).

Teh mempunyai manfaat antara lain adalah sebagai antioksidan,

memperbaiki sel-sel yang rusak, menghaluskan kulit, melangsingkan tubuh,

mencegah kanker, mencegah penyakit jantung, mengurangi kolesterol dalam

darah, dan melancarkan sirkulasi darah. Maka tidak heran bila minuman ini

disebut sebut sebagai minuman kaya manfaat. Selain manfaat teh, ada juga zat

yang terkandung dalam teh yang berakibat kurang baik untuk tubuh yaitu kafein.

Batas aman untuk mengkonsumsi kafein dalam sehari adalah 750 mg/hari atau

setara dengan 5 cangkir teh berukuran 200 ml. Kafein yang dikonsumsi diatas

batas aman dapat mengganggu sistem metabolisme di dalam tubuh.

(http://kesehatan.kompasiana.com, 2012).

Dalam perdagangan teh Internasional dikenal tiga golongan teh yang

pengolahannya berbeda dari segi bentuk serta cita rasanya yaitu Black Tea

(teh hitam), Green Tea (teh hijau) dan Oolong Tea (teh oolong). Perbedaan pokok

antara teh hitam dan teh hijau adalah bahwa teh hitam mengalami proses

fermentasi (proses pemeraman) yang merupakan ciri khasnya sedangkan teh hijau

tidak mengenal fermentasi dalam proses pengolahannya. Sedangkan teh oolong

adalah semacam pencampuran antara teh hitam dan teh hijau, takni mengalai

setengah fermentasi (1-5 jam). Disamping itu teh hitam tidak mengandung unsur-

Universitas Sumatera Utara


6

unsur lain di luar pucuk teh, sedangkan teh hijau karena bau daunnya tidak hilang

(karena tidak mengalami proses fermentasi itu) harus dikompensasi dengan

wangi-wangian dari bahan-bahan non teh (Radiana, 1985).

Komposisi Kimia Teh

Komposisi kimia daun teh segar dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi kimia daun teh segar


Komponen Satuan (%)
Protein 16,0
Lemak 8,0
Klorofil dan Pigmen 1,5
Pektin 4,0
Pati 0,5
Polifenol yang dapat difermentasi 20,0
Polifenol lain 10,0
Kafein 4,0
Gum dan Gula gula 3,0
Asam Amino 7,0
Mineral (Abu) 4,0
Sumber. Departemen Kesehatan RI, 1996

Berikut ini adalah standar mutu dari teh hitam celup

Tabel 2. SNI Teh Hitam Celup


Kriteria Uji Persyaratan Kadar (%bb)
Ekstrak dalam air Min. 32
Kadar Air Maks. 10
Serat Kasar Maks. 16,5
Abu 4-8
Abu larut dalam air Min. 45
Abu tidak larut dalam air Maks. 1
Sumber. BSN, 2010

Bahan-bahan kimia dalam daun teh yaitu sebagai berikut :

Substansi fenol

Substansi fenol/ polifenol tersusun atas katekin dan flavonol.

a. Katekin/tannin

Senyawa fenol yang paling utama dalam teh adalah tanin/katekin. Tanin

disebut juga sebagai asam tanat atau asam galotanat. Tanin sebagaian besar

Universitas Sumatera Utara


7

tersusun atas : katekin, epikatekin, epikatekin galat, epigalo katekin, epigalo

katekin galat. Dari seluruh berat kering daun teh terdapat katekin sekitar 20-30%.

(Danang, 2011)

Senyawa ini tidak berwarna dan paling penting pada daun teh karena dapat

menentukan kualitas daun teh dimana dalam pengolahannya, perubahannya selalu

dihubungkan dengan semua sifat teh kering yaitu rasa, warna dan aroma.

Tanin teh merupakan flavonoid yang termasuk dalam kelas flavanol.

Jumlah atau kandungan katekin ini bervariasi untuk masing-masing jenis teh.

Adapun katekin teh yang utama adalah epicatehcin (EC), Epicatehcin galat

(ECG), Epigalochatechin dan Epichatecin gallate (EGCG). Katekin teh memiliki

sifat tidak berwarna, larut dalam air, serta membawa sifat pahit dan sepat pada

seduhan teh.

Gambar 1. Struktur kimia katekin, epikatekin, epigalokatekin galat epigalokatekin


(Ramayanti, 2003).

Universitas Sumatera Utara


8

b. Flavanol

Flavonol memiliki rumus kimia hampir serupa dengan katekin tetapi

berbeda pada tingkatan oksidasi dari inti difenilpropan primernya. Pada

pengolahan teh hitam, sekitar 90-95% flavonol dalam daun teh mengalami

oksidasi enzimatik membentuk produk oksidasi yaitu theaflavin (TF) dan

thearubigin (TR).

Theaflavin merupakan senyawa yang menentukan mutu teh hitam yang

dihasilkan. Senyawa ini berperan untuk membuat warna seduhan teh menjadi

kuning dan karakter briskness dan brightness. Dan thearubigin membuat

warna seduhan teh warna kecoklatan, membentuk kemantapan seduhan body

dan strength (Harler, 1996).

Berikut ini adalah gambar stuktur kimia theaflavin (TF) dan thearubigin

(TR)

Gambar 2. Stuktur kimia theaflavin dan thearubigin (www.rumahteh.com)

2. Substansi bukan fenol

Substansi teh bukan fenol tersusun atas

a. Karbohidrat

Seperti tanaman lain, daun teh mengandung karbohidrat mulai dari gula

sederhana sampai yang kompleks. Yang berperan penting adalah glukosa, sukrosa

Universitas Sumatera Utara


9

dan fruktosa. Kandungan karbohidrat secara keseluruhan yaitu sebesar 0,75% dari

berat kering daun.

b. Substansi pektin

Kandungan substansi pektin sebesar 4,9-7,6 % berat kering yang terdiri

atas pektin dan asam pektat. Substansi ini dianggap menentukan sifat baik dari teh

hitam karena pektin akan terurai menjadi asam pektat dan metil alkohol akibat

adanya enzim pektin metil esterase. Metil alkohol ini akan menguap ke udara,

tetapi sebagian yang kembali akan berubah menjadi ester-ester dengan asam

organik yang ada. Seperti pada bahan makanan lain ester menyusun aroma.

c. Alkaloid

Alkaloid merupakan senyawa kimia dalam daun teh yang dapat

memberikan rasa segar. Komposisi alkaloid dalam daun teh sebesar 3-4% berat

kering. Alkaloid yang utama dalam daun teh adalah kafein, theobromin, dan

theofilin. Kafein tidak mengalami perubahan, selama pengolahan teh hitam tetapi

akan bereaksi dengan katekin membentuk senyawa yang menentukan briskness

dari seduhan teh. Kadar kafein yang tinggi merupakan petunjuk pucuk teh dapat

menghasilkan kualitas teh yang baik. Berikut ini adalah gambar struktur kimia

kafein.

Gambar 3. Struktur kimia kafein (Ramayanti, 2003)

Universitas Sumatera Utara


10

Gambar 4. Pembentukan kafein pada tanaman teh (www.rumahteh).

d. Protein dan asam-asam amino

Protein (1,4-5% dari berat kering daun) memiliki peranan dalam

pembentukan aroma pada teh hitam. Selama proses pelayuan, terjadi

pembongkaran protein menjadi asam-asam amino. Asam amino bersama

karbohidrat dan katekin akan membentuk senyawa aromatis asam amino.

e. Klorofil dan zat warna lain

Selama proses pengolahan, klorofil akan mengalami pembongkaran

menjadi foefitin yang berwarna hitam dan feoforbida (coklat). Karotenoid (zat

warna jingga) dalam daun teh juga menentukan aroma teh karena oksidasinya

menghasilkan substansi yang mudah menguap yang terdiri atas aldehid dan keton

tidak jenuh.

Universitas Sumatera Utara


11

f. Asam organik

Dalam proses metabolise terutama respirasi, asam organik berperanan

penting sebagai pengatur proses oksidasi dan reduksi. Selain itu asam organik

juga merupakan bahan untuk membentuk karbohidrat, asam amino dan lemak

untuk tanaman. Asam organik dengan metil alkohol akan bereaksi membentuk

ester yang memberi aroma sedap.

Proses pengolahan teh

Pelayuan Teh

Di dalam praktek, pelayuan dilakukan dengan menggunakan kotak layuan

(withering trough) atau dengan menggunakan rak-rak kayu yang ditumpuk.

Di ujung kotak atau rak terdapat kipas yang berfungsi untuk menarik hawa

panas yang dihasilkan dari mesin pengeringan yang terletak disebelah bawah

kamar pelayuan (PTM, 2011).

Tujuan Pelayuan adalah untuk mengurangi kadar air daun teh hingga 70%

(persentase ini bervariasi dari satu wilayah dengan yang lain). Daun teh

ditempatkan diatas loyang logam (wire mesh) dalam ruangan (semacam oven).

Kemudian udara dialirkan untuk mengeringkannya secara keseluruhan. Proses ini

memakan waktu 12 hingga 17 jam. Pada akhir pemprosesan daun teh menjadi

layu dan lunak hingga mudah untuk dipilin (Foodinfo, 2009).

Persyaratan pelaksanaan pelayuan antara lain :

1. Kadar air harus diturunkan sedemikian rupa sehingga mempermudah

proses fermentasi.

Universitas Sumatera Utara


12

2. Suhu udara panas harus sedemikian rupa sehingga reaksi-reaksi kimia

yang menjadi dasar untuk fermentasi dapat berlangsung dengan baik,

umumnya temperatur yang baik 28-30oC.

3. Pembalikan daun sebanyak 2-3 kali.

4. Waktu untuk melayukan harus cukup lama, sehingga reaksi-reaksi kimia

dapat berlangsung dengan leluasa yaitu antara 16-18 jam dalam keadaan

normal.

5. Umumnya persentase daun layu berkisar antara 47-49%, kondisi dan mutu

dari daun sangat menentukan lama pelayuannya dan kadar air daun setelah

pelayuan

(Hamdani et al, 2009).

Selama proses pelayuan, daun teh akan mengalami dua perubahan yaitu

perubahan senyawa-senyawa kimia yang terdapat dalam daun serta menurunnya

kandungan air sehingga daun teh menjadi lemas. Proses ini dilakukan pada alat

withering trough selama 14-18 jam tergantung kondisi pabrik yang bersangkutan.

Hasil pelayuan yang baik ditandai dengan pucuk layu yang berwarna hijau

kekuningan, tidak mengering, tangkai muda menjadi lentur, bila digengam terasa

lembut dan bila dilemparkan tidak akan buyar serta timbul aroma yang khas

seperti buah masak (Andrianis, 2009).

Untuk mencapai kadar air yang diinginkan maka dilakukan proses

pembalikan. Langkah ini juga supaya pucuk teh tidak terbang tertiup blower.

Kemudian hamparan pucuk teh dibongkar untuk dimasukkan ke dalam

conveyor (semacam corong yang dihubungkan dengan alat penggiling)

(http://www.google.co.id., 2011).

Universitas Sumatera Utara


13

Perubahan fisik yang jelas adalah melemasnya daun akibat menurunnya

kandungan air. Keadaan melemasnya daun ini memberikan kondisi

mudah digiling pada daun. Selain itu, pengurangan air dalam daun akan

memekatkan bahan-bahan yang dikandung sampai pada suatu kondisi yang

tepat untuk terjadinya peristiwa oksidasi pada tahap pengolahan berikutnya

(Situmorang, 2010).

Penggilingan teh

Secara kimia, proses penggilingan merupakan awal proses terjadinya

oksidasi enzimatis yaitu enzim polifenol oksidasi dengan bantuan oksigen. Pada

proses tahap kedua ini mengakibatkan dinding sel pada daun teh menjadi rusak

(Widhia, 2010).

Penggilingan akan mengakibatkan memar dan dinding sel pada daun teh

menjadi rusak. Cairan sel akan keluar di permukaan daun secara rata. Proses ini

merupakan dasar terbentuknya mutu teh (Andrianis, 2009).

Tujuan utama penggilingan dalam pengolahan teh hitam adalah :

Seluruh bagian pucuk dimemarkan dan digiling agar sebanyak mungkin

sel-sel daun mengalami kerusakan sehingga proses fermentasi dapat berlangsung

secara merata

1. Daun diperkecil agar tercapai ukuran yang sesuai dengan ukuran

grade-grade teh yang diharapkan oleh pemasaran

2. Cairan sel daun diperas keluar sehingga menempel pada seluruh

permukaan partikel partikel teh (PTM, 2011).

Universitas Sumatera Utara


14

Fermentasi Teh

Ketika proses penggilingan telah sempurna, daun teh ditempatkan dalam

bak-bak atau diletakkan diatas meja, sehingga enzim-enzim yang ada di dalam

daun teh bersentuhan dengan udara dan mulai teroksidasi. Hal inilah yang

menghasilkan bau, warna dan mutu dari teh. Pada proses ini daun teh berubah

warna hijau, menjadi coklat muda, lalu coklat tua dan perubahan warna daun ini

terjadi pada temperatur 28-29oC. Tahap ini merupakan tahap kritis dalam

menentukan rasa teh, jika oksidasi dibiarkan terlalu lama, rasa akan berubah

menjadi seperti busuk. Proses oksidasi memakan waktu kurang lebih 1,5-2 jam

(Foodinfo, 2009).

Selama fermentasi, warna daun berubah dan menjadi warna tembaga

gelap.Waktu fermentasi dihitung dari waktu penggulungan dimulai dan itu

seharusnya sesingkat mungkin dilakukan. Setelah 4 jam terjadi kehilangan

kualitas yang cukup besar. Dari ilustrasi reaksi ini, pada 3 jam fermentasi ekstrak

bahan larut air mungkin turun dari 50% menjadi 42% yang dihitung dari bahan

daun kering, pada waktu yang bersamaan bahan oksidasi menurun dari

330 menjadi 240 unit ( Eden, 1982).

Teh hitam, diperoleh melalui proses fermentasi oleh enzim yang terdapat

di dalam daun teh itu sendiri (enzim polifenol oksidase). Prosesnya dimulai

dengan melayukan daun teh tersebut pada palung pelayu, kemudian digulung

sehingga sel-sel daunnya rusak.Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu antara

22-28oC, dengan kelembaban sekitar 90%. Lamanya fermentasi sangat

menentukan kualitas hasil akhir, biasanya dilakukan 2-4 jam (Fitriyanti, 2004).

Universitas Sumatera Utara


15

Pemberhentian proses fermentasi yang terlalu awal akan menghasilkan teh

yang warnanya terlalu muda, mutu rendah dan cita rasanya belum terbentuk

sempurna. Sebaliknya waktu fermentasi yang terlalu lama akan menghasilkan teh

yang berwarna gelap, cita rasa kurang dan aromanya mulai menurun. Hubungan

antara waktu fermentasi dan karakteristik yang dihasilkan pada seduhan teh

terlihat pada Gambar 5

Fermentasi optimum
(warna dan mutu seduhan baik)
Warna dan mutu belum
sempurna Warna dan mutu sudah
menurun

Kurang Fermentasi Lewat Fermentasi


Waktu Fermentasi

Gambar 5. Hubungan antara lama fermentasi dan mutu seduhan teh


(Kamal, 1985).

Pengeringan Teh

Proses ini bertujuan untuk menghentikan proses oksidasi enzimatis pada

saat seluruh komponen kimia penting dalam daun teh telah secara optimal

terbentuk. Proses ini menyebabkan kadar air daun teh turun menjadi 2,5-4%.

Keadaan ini akan memudahkan proses penyimpanan dan transportasi. Mesin yang

digunakan dapat berupa ECPD (Endless Chain Pressure Dryer) maupun FBD

(Fluid Bed Dryer) pada suhu 90-95oC selama 20-22 menit (Andrianis, 2009).

Universitas Sumatera Utara


16

Pengeringan akan menghentikan proses oksidasi pada saat jumlah zat-zat

bernilai yang terkumpul mencapai kadar yang tepat. Suhu 95-98oC yang dipakai

pada pengeringan akan mengurangi kandungan air teh menjadi 2-3% membuat

tahan lama disimpan. Beberapa perubahan kimia lain selain aktivitas enzim adalah

pembentukan rasa, warna dan bau spesifik (karena pembentukan karamel dari

karbohidrat), walaupun minyak essensial yang sudah terbentuk 75-80% akan

hilang (Alf, 2004).

Makin muda daun pucuk teh, makin tinggi kandungan bahan kimianya,

yang tertinggi terdapat pada daun peko. Zat zat/senyawa senyawa tersebut antara

lain adalah :

1. Katekin tidak berwarna tetapi mempengaruhi sifat teh jadi (bubuk teh) baik

rasa, warna maupun aromanya. Tanin yang terkandung 20-30% dari berat

kering daun. Pada peko kandungan kimianya 30% dari berat kering, pada

daun 2, 3 dan 4, masing-masing 21%, 18% dan 14% sedangkan pada tangkai

6-10% dari berat kering.

2. Karbohidrat : antara lain sukrosa, glukosa dan fruktosa, kandungan karbohidrat

pada teh terkandung 0,75% dari berat kering.

3. Pektin : antara lain sifatnya membentuk lapisan yang mengkilat, beratnya

4,9-7,7% dari berat kering daun.

4. Kafein : Kafein akan menyusun 3-4% dari berat kering daun dan peko

mengandung 3-4% dari berat kering, daun lainnya 1,5% dan tangkai 0,5%.

5. Protein : Seluruh protein dan asam amino berkisar antara 1,4%-5% dari berat

kering daun.

6. Vitamin : antara lain, Vit P, Vit K, Vit A, Vit B1, dan Vit B2

Universitas Sumatera Utara


17

7. Mineral dalam daun teh + 4-5% dari berat kering daun

8. Enzim-enzim : amilase, glukosidase, oksimetialase, protease dan peroksidase

Tanaman Sirsak

Buah sirsak berukuran cukup besar, bentuknya tidak teratur. Kulit buahnya

berwarna hijau tua agak kekuningan setelah tua. Banyak terdapat duri lunak yang

pendek pada kulit buah ini. Daging buahnya berwarna putih, lunak, berserat, dan

mengandung banyak air. Didalam buah sirsak terdapat banyak biji berukuran kecil

berwarna hitam kecoklatan. Buah sirsak yang matang mengeluarkan aroma harum

yang khas. Soursop, guanabana, graviola, dan zuurzak adalah beberapa nama lain

sirsak di beberapa negara. Di Indonesia, sirsak disebut juga nangka belanda atau

durian belanda. Tambahan nama belanda diberikan karena buah ini didatangkan

ke Indonesia oleh Pemerintahan Kolonial Belanda pada abad ke-19. Nama sirsak

juga berasal dari bahasa Belanda zuurzak yang berarti kantung yang asam.Rasa

buah sirsak memang asam-manis menyegarkan sehingga buah ini sering dijadikan

jus, es krim, es buah, sari buah, selai buah, atau sirop (Haryadi, 2011).

Tinggi pohon sirsak bisa mencapai 9 meter dan batang utamanya

berukuran antara 10-13 cm. Tanaman sirsak memiliki daun yang agak tebal,

berbentuk bulat telur, permukaan bagian atas licin berwarna hijau tua, permukaan

bagian bawah berwarna lebih muda. Bunga sirsak berbentuk seperti kerucut,

berwarna kuning muda, dasar bunga cekung, benang sari dan bakal buahnya

banyak. Bunga ini ini muncul dari ketiak daun, ranting atau cabang

(Haryadi, 2011)

Buah sirsak memiliki rasa yang manis asam dan memiliki kandungan gizi

yang baik sehingga menimbulkan sensasi bagi penggemarnya. Buah sirsak rendah

Universitas Sumatera Utara


18

lemak (0,3 g/100g) sehingga cocok untuk diet. Kandungan mineral seperti fosfor

dan kalsium yang berguna untuk pembentukan massa tulang serta mencegah

osteoporosis alias rapuh tulang (Haryadi, 2011).

Daun sirsak mengandung alkaloid, tanin, dan beberapa kandungan kimia

lainnya termasuk annonaceous acetogenins. Annonaceous acetogenins merupakan

senyawa yang terdapat dalam familia Annonaceae yang diduga memiliki potensi

sitotoksik. Senyawa sitotoksik adalah senyawa yang dapat bersifat toksik untuk

menghambat dan menghentikan pertumbuhan sel kanker (Zuhud,2011).

Alkaloid merupakan senyawa yang bersifat basa dan mengandung nitrogen

heterosiklik. Alkaloid umumnya bersifat toksik dan dapat mempengaruhi sistem

saraf pusat. Tanin termasuk senyawa fenol yang mempunyai aktivitas antioksidan,

memiliki rasa sepat dan dapat menyamakkan kulit (Robinson, 1995).

Annonaceous acetogenins terdapat dalam famili Annonaceae.

Annonaceous acetogenins mempunyai fungsi yaitu dapat menghambat trasfer

elektron pada mitokondria (Colman, 2009).

Acetogenins menghambat ATP (adenosinetrifosfat). ATP merupakan

sumber energi didalam tubuh. Sel kanker membutuhkan banyak energi sehingga

membutuhkan banyak ATP. Acetogenins yang merupakan kumpulan senyawa

aktif seperti muricatosin A, muricatosin B, annomuricin E, muricapentocin,

annopencotin A, annopencotin B, annopencotin C masuk dan menempel di

reseptor dinding sel dan merusak ATP di dinding mitokondria. Dampaknya

produksi energi didalam sel kanker pun berhenti dan akhirnya sel kanker mati

(Trubus, 2011).

Universitas Sumatera Utara


19

Sel kanker memiliki kemampuan untuk membelah cepat, bahkan dalam

hitungan jam yakni setiap 2-5 jam. Sedangkan sel normal biasanya 7-14 hari.

Pembelahan yang cepat itu memerlukan energi yang cukup besar berasal dari

ATP. Jika pasokan energi berkurang, aktivitas sel kanker melamban dan akhirnya

terjadi apoptosis. Hebatnya acetogenins sangat selektif, hanya menyerang sel

kanker yang memiliki kelebihan ATP. Senyawa itu tak menyerang sel sel lain

yang normal didalam tubuh. Mitokondia atau kondriosom merupakan oraganel

tempat berlangsungnya antara lain respirasi sel, metabolisme lemak, dan penghasil

energi adenosine trifosfat (ATP) (Trubus, 2011).

Manfaat Daun Sirsak

Salah satu tanaman yang digunakan dalam pengobatan herbal yakni

tanaman sirsak yang termasukdalam famili Annonaceae. Diperkirakan sejak

tahun 1940 tanaman sirsak telah digunakan sebagai pengobatan herbal.

Masyarakat Brasil merupakan masyarakat yang pertama kali memanfaatkan

tanaman sirsak untuk dijadikan obat baik bagian daun, biji, buah, batang, dan

akar. Daun sirsak dikatakan dapat berkhasiat untuk pengobatan kanker, yakni

dengan mengkonsumsi air rebusan daun sirsak.Selain itu, tanaman sirsak juga

dimanfaatkan untuk pengobatan diare, anti kejang, anti jamur, gatal-gatal dan lain-

lain (Taylor, 2002).

Hampir semua bagian dari tanaman sirsak dapat dimanfaatkan sebagai

obat. Suku Indian di Amerika Selatan menggunakan mulai dari akar, kulit kayu,

daun, daging buah, dan biji sirsak untuk mengobati beberapa macam penyakit.

Untuk mengobati kanker, bagian tanaman yang digunakan adalah daun dan

buahnya. Bagian tanaman tersebut mengandung senyawa saponin, polifenol, dan

Universitas Sumatera Utara


20

bioflavonoid yang berkhasiat sebagai antioksidan. Daun yang baik untuk

digunakan sebagai obat kanker adalah daun yang tidak terlalu muda dan daun

yang tidak terlalu tua. Hal ini berkaitan dengan kandungan senyawa acetoginin,

senyawa yang bersifat anti kanker. Pada daun yang terlalu muda, acetoginin

belum terbentuk, sedangkan pada daun yang terlalu tua, kandungan senyawa

acetoginin sudah berkurang. Berdasarkan kriteria tersebut, daun keempat sampai

keenam dari ujung ranting sangat baik digunakan (Haryadi, 2011).

Daun sirsak telah digunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia untuk

mengobati beberapa penyakit, diantaranya sebagai obat sakit pinggang,

mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, reumatik, obat bisul, dan penurun panas.

Bahkan dikatakan dapat mengobati penyakit kanker, beberapa pasien yang

mengidap penyakit kanker sembuh dengan mengkonsumsi air rebusan daun

sirsak. Masyarakat juga memanfaatkan daun sirsak untuk mengusir serangga dan

sebagai pestisida (Mardiana, 2011).

Tanaman sirsak dapat menyembuhkan 12 jenis kanker sekaligus.Beberapa

diantaranya adalah kanker paru-paru, kanker payudara, kanker hati, kanker

prostat, kanker usus besar. Dan juga dapat mengobati darah tinggi, asam urat,

ambeien, sakit pinggang, bisul, penyakit kandungn kemih, keputihan.

Mengkonsumsi daun dan buah sirsak tidak hanya baik untuk penderita kanker,

tetapi juga untuk orang yang sehat. Kandungan Vitamin C yang tinggi pada sirsak

merupakan antioksidan yang sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh

sehingga tidak mudah sakit dan memperlambat penuaan sehingga terlihat awet

muda. Kandungan serat yang tinggi bermanfaat untuk memperlancar sistem

pencernaan sehingga bisa mencegah dan mengobati sembelit atau susah buang air

Universitas Sumatera Utara


21

besar. Selain itu, mengkonsumsi daun dan buah sirsak dipercaya bisa

meningkatkan nafsu makan.

Bagian sirsak yang bermanfaat antara lain adalah :

Buah sirsak

Bagian terbesar dari buah adalah kandungan air yang mencapai 82% dari seluruh

bagian daging buah. Kandungan karbohidrat sekitar 16% yang terdiri dari

glukosa dan fruktosa. Buah sirsak juga mengandung zat besi, fosfor dan kalium.

Sedangkan vitamin yang terkandung adalah vitamin A, B1, B2 dan C. Vitamin

paling dominan adalah vitamin C. Vitamin C dalam sirsak berperan sebagai

antioksidan yang berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, memperlambat

proses penuaan, menjadi awet muda. Senyawa-senyawa fitokimia yang

terkandung di dalam buah sirsak :

annonain, acetaldehyde, muricine, muricinine, tannin, ananol, anomurine.

Buah sirsak juga mengandung serat yang tinggi, sangat baik untuk membantu

proses pencernaan

Daun sirsak

Seperti juga buahnya, daun sirsak mengandung berbagai zat aktif yang berkhasiat

untuk penobatan atau penyembuhan beragam penyakit. Senyawa yang

dimilikinya adalah: Annocatilin, annohexocin, annonacin, annomiricin.

Penyakit yang dapat disembuhkan dari daun sirsak antara lain: lever (penyakit

hati), kejang, batuk, rematik, radang sendi, dan rasa nyeri pada sel saraf

(neuralgia).

Universitas Sumatera Utara


22

Khasiat bijih sirsak

Senyawa bioaktif yang terdapat pada biji sirsak adalah senyawa alkaloid yang

terdiri dari annonaine dan acetogenins. Di Indonesia senyawa bioaktif ini biasa

digunakan sebagai pestisida nabati. Bijih sirsak oleh sebagian masyarakat awam

dimanfaatkan sebagai anti cacing (vermifuges) dan untuk membunuh kecoa.

Akar sirsak.

Akar sirsak mengandung senyawa aktif annonain, tannin dan alkaloid. Sebagai

bahan yang digunakan untuk obat, akar pohon sirsak biasanya dikonsumsi dalam

bentuk teh. Akar ini digunakan sebagai obat penenang, antikejang, antidiabetes,

dan menurunkan tekanan darah

Kulit batang pohon sirsak

Kulit batang pohon sirsak mengandung senyawa tannin, fitosterol, caoksalat,

murisine, dan alkaloid. Kulit batang biasa dikonsumsi setelah direbus dengan air.

Air rebusannya digunakan untuk pengobatan penyakit asma, batuk, penenang dan

darah tinggi (hipertensi).

Universitas Sumatera Utara