Anda di halaman 1dari 6

Gejala Kapilaritas

Kenaikan atau penurunan zat cair pada pipa kapiler disebabkan oleh adanya tegangan
permukaan () yang bekerja pada keliling persentuhan zat cair dengan pipa.

Mengapa permukaan zat cair bisa naik atau turun dalam permukaan pipa kapiler? Gambar
diatas menunjukkan zat cair yang mengalami meniskus cekung. Tegangan permukaan
menarik pipa ke arah bawah karena tidak seimbang oleh gaya tegangan permukaan yang lain.
Sesuai dengan hukum III Newton tentang aksi reaski, pipa akan melakukan gaya yang sama
besar pada zat cair, tetapi dalam arah berlawanan. Gaya inilah yang menyebabkan zat cair
naik. Zat cair berhenti naik ketika berat zat cair dalam kolam yang naik sama dengan gaya ke
atas yang dikerjakan pada zat cair.

w=F

Jika massa jenis zat cair adalah , tegangan permukaan , sudut kontak
, kenaikan zat cair setinggi h, dan jari-jari pipa kapiler adalah r, maka berat zat cair yang
naik dapat ditentukan melalui persamaan berikut.

w=mg
w=Vg
w = r2 h g

Komponen gaya vertikal yang menarik zat cair sehingga naik setinggi h adalah:

F =( cos ) (2 r) = F = 2 r cos
120

100
f(x) = 39.06x - 2.37
80
sabun pembersih lantai f(x) =Linear
37.97x
R - 0.21pembersih lantai)
= 1(sabun
60 R = 1
tegangan muka
40

20
pocari Linear (pocari)
0
1.8 1.9 2 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6
tinggi pipa kapiler

120

100
f(x) = 39.06x - 2.37
80
sabun pembersih lantai R = 1(sabun
f(x) =Linear
37.97x - 0.21pembersih lantai)
60 R = 1
tegangan muka
40

20
pocari Linear (pocari)
0
1.8 1.9 2 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6
tinggi pipa kapiler
120

100
f(x) = 39.06x - 2.37
80
sabun pembersih lantai R = 1(sabun
f(x) =Linear
37.97x - 0.21pembersih lantai)
60 R = 1
tegangan muka
40

20
pocari Linear (pocari)
0
1.8 1.9 2 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6
tinggi pipa kapiler

120

100
f(x) = 39.06x - 2.37
80
sabun pembersih lantai R = 1(sabun
f(x) =Linear
37.97x - 0.21pembersih lantai)
60 R = 1
tegangan muka
40

20
pocari Linear (pocari)
0
1.8 1.9 2 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6
tinggi pipa kapiler
Tegangan permukaan menyebabkan suatu perbedaan tekanan antara gelembung sabun atau
tetesan zat cair bagian dalam dan bagian luar. Suatu gelembung sabun terdiri permukaan film
berbentuk bola yang sangat rapat. Dengan suatu lapisan tipis dan diantara zat cair. Tegangan
permukaan menyebabkan film cenderung untuk melakukan pengusutan, tetapi sebagaimana
gelembung menyusut, sebegitu juga ia menekan udara didalam, menambah tekanan bagian
dalam , ke titik yang mencegah pengusutan lebih lanjut. Kita dapat memperoleh hubungan
antara tekanan jari jari gelembung (Ginting, 2002).
Ada dua macam gaya antar partikel zat tarik-menarik antara dua partikel yaitu adhesi
dan kohesi. Adhesi adalah gaya tarik menarik antara duua partikel atau molekul yang sejenis.
Kohesi antara molekul-molekul zat cair menyebabkan permukaan zat cair seolah-olah
memiliki kulit pembungkus sehingga diperlukan gaya tertentu untuk menembus permukaan
zat cair tersebut. Sebagai contoh, misalnya raksa (Hg), bentuk permukaannya cembung di
dalam pipa, nyamuk dapat hinggap di permukaan air tanpa tercelup kakinya, silet yang masih
baru dapat tertopang dan mengapung di permukaan air dan sebuah pipa dicelupkan ke dalam
larutan sabun dapat terapung di permukaan air jika ditutup menghasilkan sebuah gelembung
seperti balon. Oleh sebab itu, tegangan permukaan merupakan salah satu sifat fisis yang
merupakan ciri khas suatu zat cair dan membedakan dengan zat cair lainnya (Sutrisno, 2011).
Gaya-gaya yang timbul di permukaan zat cair akibat gaya dari luar dimana gaya itu
melawan gaya luar untuk mempertahankan bentuk mula-mula disebut tegangan permukaan
zat cair, contoh peristiwa adanya tegangan permukan: air sabun ditiup dapat berupa balon,
nyamuk dan sebangsanya dapat berdiri di atas permukaaan air, tetesan zat cair cenderung
berbentuk bola bila takk ada gaya adhesi atau gaya lain dari luar, jarum atau silet dapat
diletakkan di atas permukaan air dengan hati-hati (Nasruddin, 2013).
Pengukuran tegangan air tanah secara konvensional dilakuukan mengggunakan
tensiometer keramik yang diawali Gardner tahun 1932. Tensiometer konvensional yang
diaplikasikan di lapangan pada awalnya menggunakan air raksa (Hg) sebagai indicator
manometer. Dengan alasan keamanan lingkungan, teknik ini telah diubah mengggunakan
pressure transcuder model digital (Bowo, 2008).
Jika di setiap titik di dalam fluida ada tegangan singgung, fluida itu akan menghindar
ke samping selama tekanan itu ada. Jadi, di dalam fluida yang diam, tegangan singgung
dimana-mana nol. Tegangan di dalam fluida adalah gaya yang dikerjakan fluida di
sekelilingnya, dan karena tidak punya komponen targensial, gaya ini haruslah normal pada
permukaan gaya-gaya yang bekerja terhadap permukaan fluida (Sears dan Mark, 1962)
Tegangan muka dipengaruhi oleh adanya gaya kohesi antara molekul air. Setiap molekul
cairan dikelilingi oleh molekul-molekul lain di setiap sisinya tetapi di muka cairan. Hanya
ada moleul-molekul cairan di samping dan di bawah, di bagian atas tidak ada molekul cairan
lainnya. Karena molekul cairan saling tarik menarik satu dengan yang lainnya, maka terdapat
gaya total yang besarnya nol pada molekul yang berada di bagian dalam cairan. Sebaliknya,
molekul cairan yang terletak dimuka ditarik oleh molekul cairan yang berada di samping dan
di bawahnya. Akibatnya pada permukaan cairan terdapat gaya total yang berarah ke bawah.
Karena adanya gaya total yang arahnya ke bawah, maka cairan yang terletak di muka
cenderung memperkecil luas mukanya.

Pada zat cair jarak antar partikelnya renggang dan gaarik-menariknya tidak begitu kuat,
sehingga partikel-partikelnya dapat bergerak bebas tetapi gerakannya tidak dapat
menginggalkan kelompoknya. Itulah sebabnya bentuk zat cair selalu berubah-ubah sesuai
dengan tempatnya. Pada gas, jarak antar partikelnya berjauhan dan gaya tarik-menarik antar
partikelnya sangat lemah. Akibatnya gerakan partikel-partikelnya sangat bebas dan tidak
teratur. Itulah sebabnya bentuk dan volume gas selalu berubah sesuai dengan bentuk
wadahnya.

Terdapat beberapa metode penentuan tegangan muka yang banyak digunakan dan semuanya
berdasar fenomena yang berkaitan dengan tegangan muka, antara lain : tekanan maksimum
gelembung, kenaikan pipa kapiler, tetes, cincin.

Pada metode Tekanan Maksimum Gelembung dasarnya adalah bahwa tegangan muka sama
dengan tegangan maksimum dikurangi gaya yang menentukan gas keluar. Sedangkan pada
metode kenaikan pipa kapiler. Ketika pipa kapiler ujungnya dicelupkan dalam zat cair yang
membasahi dinding, maka zat cair akan naik setinggi h. Saat setimbang, gaya ke atas akan
sama dengan gaya ke bawah, sedang untuk gaya ke samping akan saling meniadakan.

Gaya ke bawah adalah dimana h (tinggi permukaan), g (percepatan gravitasi), d (berat jenis)
dan r (jejari kapiler). Sedangkan gaya ke atas adalah dengan adalah tegangan muka dan
adalah sudut kontak. Pada kesimpulannya, gaya ke atas sama dengan gaya ke bawah. ,
sehingga diambil pendekatan (karena umumnya adalah sangat kecil mendekati nol),
didapatkan

Pada metode tetes, jika cairan tepat akan menetes maka gaya tegangan permkaan sama
dengan gaya yang disebabkan oleh gaya berat itu sendiri. Harus diusahakan agar jatuhnya
tetesan hanya disebabkan oleh berat tetesannya sendiri dan bukan oleh sebab yang lain.

Pada metode tetes, gaya berat cairan = mg, gaya tegangan muka , maka . Pada percobaan
ini,cairan juga akan ditentukan dengan membandingkan cairan yang telah diketahui. Diambil
volume tertentu yang sama dan dihitung jumlah tetesan yang terjadi. Misalnya volume (V),
berat jenis (d), massa satu tetes zat cair (m), dan jumlah tetesadalam volume (n) maka,
Zat Aktif Permukaan Positif
Surfaktan merupakan molekul yang memiliki gugus polar yang suka air (hidrofilik)
dan gugus non polar yang suka minyak (lifofilik), sehingga dapat mempersatukan campuran
yang terdiri dari minyak dan air. Surfaktan adalah bahan aktif permukaan, yang bekerja
menurunkan tegangan permukaan cairan, sifat aktif ini diperoleh dari sifat ganda molekulnya.
Bagian polar molekulnya dapat bermuatan positif, negatif ataupun netral, bagian polar
mempunyai gugus hidroksil semetara bagian non polar biasanya merupakan rantai alkil yang
panjang. Surfaktan pada umumnya disintesis dari turunan minyak bumi dan limbahnya dapat
mencemarkan lingkungan, karena sifatnya yang sukar terdegradasi. Penelitian yang telah
dilakukan hanya pada tahap beberapa parameter (tegangan, suhu dan temperatur) untuk
konversi total CO2, masih belum terungkap tentang reaksi yang terjadi dalam sel
elektrokimia dan reaksi oksidasi reduksinya. Belum ada laporan mengenai laju transfer reaksi
kobalt(II) menjadi kobalt (III) maka disini dipelajari penggunaan beberapa elektroda. Belum
pernah dikaji dan ditemukan dalam literatur adalah: Studi voltametri siklik untuk menentukan
kondisi optimum elektroda dan mediator (Mulyani, 2012).
Surfaktan adalah zat yang mengarbsorbsi pada permukaan atau antar muka untuk
menurunkan tegangan antar muka suatu cairan. Karena sifatnya yang menurunkan tegangan
permukaan, surfaktan dapat digunakan sebagai bahan pembasah atau wetting agent. Molekul
surfaktan membentuk misel dalam rentang konsentrasi tertentu disebut denagn critical misel
concentration (Sofyan, 2013.