Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI

ANTI INFLAMASI

Disusun Oleh :
Kelompok 7
Muaadzatul izzah sudarman ( G 701 15 024 )
Hidayat laeto ( G 701 15 061 )
Amalia larasati ( G 701 15 096 )
Cindyah anastasya clarita ( G 701 15 131 )
Sahra sari ( G 701 15 182 )
Nurzamza ( G 701 15 236 )

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul anti inflamasi ini dengan baik meskipun banya kekurangan
didalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usaha demi perbaikan makalah yang telah kami
buat di masa depan yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna
tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun
orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan di masa depan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Obat merupakan bahan kimia yang memungkinkan terjadinya interaksi bila
tercampur dengan bahan kimia lain baik yang berupa makanan, minuman ataupun
obat-obatan. Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat
dengan bahan-bahan lain tersebut termasuk obat tradisional dan senyawa kimia lain.
Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika duaatau lebih obat sekaligus dalam
satu periode (polifarmasi ) digunakan bersama-sama. Interaksi obat berarti saling
pengaruh antarobat sehingga terjadi perubahan efek.
Inflamasi adalah respon dari suatu organisme terhadap pathogen dan alterasi
mekanis dalam jaringan, berupa rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan
yang mengalami cedera, seperti karena terbakar, atau terinfeksi. Radang atau
inflamasi adalah satu dari respon utama system kekebalan terhadap infeksi dan iritasi.
Radang terjadi saat suatu mediator inflamasi (misal terdapat luka) terdeteksi oleh
tubuh kita. Lalu permeabilitas sel di tempat tersebut meningkat diikuti keluarnya
cairan ke tempat inflamasi maka terjadilah pembengkakan
Antiinflamasi didefinisikan sebagai obat-obat atau golongan obat
yang memiliki aktivitas menekan atau mengurangi peradangan. Radang atau
inflamasi dapat disebabkan oleh berbagai rangsangan yang mencakup luka-
luka fisik, infeksi, panas dan interaksi antigen-antibodi

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apakah definisi anti inflamasi?
2. Bagaimana cara kerja anti inflamasi?
3. Bagaimana gejala gejala peradangan?
4. Apa yang dimaksud obat anti inflamasi non steroid?
5. Apa efek samping obat anti inflamasi non steroid?
6. Bagaimana terapi farmakologi antiinflamasi?
7. Bagaimana terapi non farmakologi antiinflamasi?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. DEFINISI ANTI INFLAMASI
Inflamasi adalah respon biologis kompleks dari jaringan vaskuler atas adanya
bahaya, seperti pathogen, kerusakkan sel, atau iritasi. Ini adalah usaha perlindungan
diri tubuh kita untuk menghilangkan rangsangan penyebab luka dan inisiasi proses
penyembuhan jaringan. Jika inflamasi tidak ada, maka luka dan infeksi tidak akan
sembuh dan akan menggalami kerusakkan yang lebih parah. Namun, inflamasi yang
tidak terkontrol juga dapat menyebabkan penyakit, seperti demam, atherosclerosis,
dan reumathoid arthritis.
Inflamasi dapat dibedakan atas inflamasi akut dan kronis. Inflamasi akut adalah
respon awal tubuh oleh benda berbahaya dan terus meningkat sejalan dengan
meningkatnya pergerakkan plasma dan leukosit dari darah ke jaringan luka. Reaksi
biokimia berantai yang mempropagasi dan pematangan respon imun, termasuk
system vaskuler, system imun dan berbagai sel yang ada pada jaringan luka.
Inflamasi kronis merupakan inflamasi yang berpanjangan, memicu peningkatan
pergantian tipe sel yang ada pada tempat inflamasi dan dicirikan dengan kerusakkan
dan penutupan jaringan dari proses inflamasi. (Gard, 2001)

Inflamasi merupakan respon jaringan terhadap rangsangan fisik atau kimiawi yang
merusak sel tubuh. Rangsangan ini menyebabkan lepasnya mediator inflamasi seperti
histamin, serotonin, bradikinin, dan prostaglandin, yang menimbulkan reaksi radang
berupa panas, nyeri, merah, bengkak, dan disertai gangguan fungsi. Kerusakan sel
yang terkait dengan inflamasi berpengaruh pada selaput membran sel yang
menyebabkan leukosit mengeluarkan enzim-enzim lisosomal dan asam arakidonat.,
selanjutnya dilepaskan dari persenyawaan-persenyawaan terdahulu. Jalur
siklooksigenase (COX) dari metabolisme arakidonat menghasilkan prostaglandin
yang mempunyai efek pada pembuluh darah, ujung saraf, dan pada sel-sel yang
terlibat dalam inflamasi. (Katzung, 2004). Itulah mengapa ketika terjadi peradangan
kita merasakan nyeri.
Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan
bukan karena mikroorganisme (non infeksi), namun yang timbul sebagai respon
cedera jaringan dan infeksi. Agen-agen anti-inflamasi mempunyai khasiat tambahan
seperti meredakan rasa nyeri (Analgesik), dan penurun panas (Antipiretik). Setelah
dilakukan riset untuk obat yang efektiftif dan efek samping minimal, maka
dikenalkan obat-obat Anti-inflamasi non steroid atau NSAID (Non Steroidal
Antiinflamatory Drug) yang mempunyai efek-efek Anti-inflamasi kuat. NSAID
memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), dan
antiinflamasi (anti radang). Istilah non steroid digunakan untuk membedakan jenis
obat-obatan ini dengan steroid, yang juga memiliki khasiat serupa. NSAID bukan
tergolong obat-obatan jenis narkotika.

2.2 CARA KERJA OBAT ANTI INFLAMASI

Cara kerja NSAIDs untuk sebagian besar berdasarkan hambatan sintesa


prostaglandin, dimana kedua jenis cyclo-oxygenase diblokir. NSAIDs ideal
hendaknya hanya menghambat COX-2 (peradangan) dan tidak COX-1 (perlindungan
mukosa lambung), lagi pula menghambat lipo-oxygenase (pembentukan leukotrien).
Walaupun dilakukan daya upaya intensif sejak akhir tahun 1980-an hingga kini obat
ideal demikian belum ditemukan. Dewasa ini hanya tersedia tiga obat dengan kerja
agak selektif, artinya lebih kuat menghambat COX-2 daripada COX-1, yakni COX-2
inhibitors agak baru nabumeton dan meloxicam. Dari obat baru celecoxib diklaim
tidak menghambat COX-1 sama sekali pada dosis bias, tetapi efek klinisnya
mengenai iritasi mukosa lambung masih perlu dibuktikan. Banyak riset sedang
dilakukan pula untuk mengembangkan antagonis leukotrien yang dapat digunakan
sebagai obat anti radang pada rema dan asma

2.3 GEJALA GEJALAN PERADANGAN


1. Kemerahan (Rubor)
Kemerahan atau rubor hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami
peradangan. Waktu reaksi peradangan mulai timbul maka arteri yang mensuplai darah
ke daerah tersebut melebar, dengan demikian lebih banyak darah mengalir ke dalam
mikrosirkulasi lokal. Pembuluh-pembuluh darah yang sebelumnya kosong atau
sebagian saja meregang dengan cepat dan terisi penuh oleh darah. Keadaan ini
dinamakan hiperemia atau kongesti menyebabkan warna merah lokal karena
peradangan akut. Timbulnya hiperemia pada permulaan reaksi peradangan diatur oleh
tubuh melalui pengeluaran zat mediator seperti histamin.
2. Panas (kalor)
Panas atau kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi
peradangan. Panas merupakan sifar reaksi peradangan yang hanya terjadi pada
permukaan tubuh yakni kulit. Daerah peradangan pada kulit menjadi lebih panas dari
sekelilingnya, sebab darah dengan suhu 370C yang disalurkan tubuh ke permukaan
daerah yang terkena radang lebih banyak disalurkan daripada ke daerah normal.
3. Rasa sakit (dolor)
Rasa sakit atau dolor dari reaksi peradangan dapat dihasilkan dengan
berbagai cara. Perubahan pH lokal atau konsentrasi ion-ion tertentu dapat merangsang
ujung-ujung saraf, pengeluaran zat kimia tertentu misalnya mediator histamin atau
pembengkakan jaringan yang meradang mengakibatkan peningkatan tekanan lokal
dapat menimbulkan rasa sakit.
4. Pembengkakan (tumor)
Gejala yang paling menyolok dari peradangan akut adalah tumor atau
pembengkakan. Hal ini terjadi akibat adanya peningkatan permeabilitas dinding
kapiler serta pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan yang
cedera. Pada peradangan, dinding kapiler tersebut menjadi lebih permeabel dan lebih
mudah dilalui oleh leukosit dan protein terutama albumin yang diikuti oleh molekul
yang lebih besar sehingga plasma jaringan mengandung lebih banyak protein
daripada biasanya yang kemudian meninggalkan kapiler dan masuk ke dalam
jaringan sehingga menyebabkan jaringan menjadi bengkak.
5. Perubahan fungsi (fungsio laesa)
Gangguan fungsi yang diketahui merupakan konsekuensi dari suatu proses
radang. Gerakan yang terjadi pada daerah radang, baik yang dilakukan secara sadar
ataupun secara reflek akan mengalami hambatan oleh rasa sakit, pembengkakan yang
hebat secara fisik mengakibatkan berkurangnya gerak jaringan.

2.4 OBAT ANTI INFLAMASI NON STEROID


Obat antiinflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan
NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs) adalah suatu golongan obat yang
memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), dan
antiinflamasi (anti radang). Istilah "non steroid" digunakan untuk membedakan jenis
obat-obatan ini dengan steroid, yang juga memiliki khasiat serupa. NSAID bukan
tergolong obat-obatan jenis narkotika.

Mekanisme kerja NSAID didasarkan atas penghambatan isoenzim COX-1


(cyclooxygenase-1) dan COX-2 (cyclooxygenase-2). Enzim cyclooxygenase ini
berperan dalam memacu pembentukan prostaglandin dan tromboksan dari
arachidonic acid. Prostaglandin merupakan molekul pembawa pesan pada proses
inflamasi (radang).

NSAID dibagi lagi menjadi beberapa golongan, yaitu golongan salisilat (diantaranya
aspirin/asam asetilsalisilat, metil salisilat, magnesium salisilat, salisil salisilat, dan
salisilamid), golongan asam arilalkanoat (diantaranya diklofenak, indometasin,
proglumetasin, dan oksametasin), golongan profen/asam 2-arilpropionat (diantaranya
ibuprofen, alminoprofen, fenbufen, indoprofen, naproxen, dan ketorolac), golongan
asam fenamat/asam N-arilantranilat (diantaranya asam mefenamat, asam flufenamat,
dan asam tolfenamat), golongan turunan pirazolidin (diantaranya fenilbutazon,
ampiron, metamizol, dan fenazon), golongan oksikam (diantaranya piroksikam, dan
meloksikam), golongan penghambat COX-2 (celecoxib, lumiracoxib), golongan
sulfonanilida (nimesulide), serta golongan lain (licofelone dan asam lemak omega 3).

Parasetamol (asetaminofen) seringkali dikelompokkan sebagai NSAID, walaupun


sebenarnya parasetamol tidak tergolong jenis obat-obatan ini, dan juga tidak pula
memiliki khasiat anti nyeri yang nyata.

Penggunaan NSAID yaitu untuk penanganan kondisi akut dan kronis dimana terdapat
kehadiran rasa nyeri dan radang. Walaupun demikian berbagai penelitian sedang
dilakukan untuk mengetahui kemungkinan obat-obatan ini dapat digunakan untuk
penanganan penyakit lainnya seperti colorectal cancer, dan penyakit kardiovaskular.

Secara umum, NSAID diindikasikan untuk merawat gejala penyakit berikut:


rheumatoid arthritis, osteoarthritis, encok akut, nyeri haid, migrain dan sakit kepala,
nyeri setelah operasi, nyeri ringan hingga sedang pada luka jaringan, demam, ileus,
dan renal colic.

Sebagian besar NSAID adalah asam lemah, dengan pKa 3-5, diserap baik pada
lambung dan usus halus. NSAID juga terikat dengan baik pada protein plasma (lebih
dari 95%), pada umumnya dengan albumin. Hal ini menyebabkan volume
distribusinya bergantung pada volume plasma. NSAID termetabolisme di hati oleh
proses oksidasi dan konjugasi sehingga menjadi zat metabolit yang tidak aktif, dan
dikeluarkan melalui urin atau cairan empedu.

NSAID merupakan golongan obat yang relatif aman, namun ada 2 macam efek
samping utama yang ditimbulkannya, yaitu efek samping pada saluran pencernaan
(mual, muntah, diare, pendarahan lambung, dan dispepsia) serta efek samping pada
ginjal (penahanan garam dan cairan, dan hipertensi). Efek samping ini tergantung
pada dosis yang digunakan.
Obat ini tidak disarankan untuk digunakan oleh wanita hamil, terutama pada trimester
ketiga. Namun parasetamol dianggap aman digunakan oleh wanita hamil namun
harus diminum sesuai aturan karena dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan hati.

2.5 EFEK SAMPING OBAT ANTI INFLAMASI NON STEROID

Selain menimbulkan efek terapi yang sama, OAINS juga memiliki efek
samping yang serupa. Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak
lambung atau tukak peptik yang kadang-kadang disertai anemia sekunder akibat
perdarahan saluran cerna.15 Mekanisme kerusakan pada lambung oleh OAINS terjadi
melalui berbagai mekanisme. OAINS menimbulkan iritasi yang bersifat lokal yang
mengakibatkan terjadinya difusi kembali asam lambung ke dalam mukosa dan
menyebabkan kerusakan jaringan. Selain itu OAINS juga menghambat sintesa
prostaglandin yang merupakan salah satu aspek pertahanan mukosa lambung
disamping mukus, bikarbonat, resistensi mukosa, dan aliran darah mukosa. Dengan
terhambatnya pembentukan prostaglandin, maka akan terjadi gangguan barier mukosa
lambung, berkurangnya sekresi mukus dan bikarbonat, berkurangnya aliran darah
mukosa, dan terhambatnya proses regenerasi epitel mukosa lambung sehingga tukak
lambung akan mudah terjadi.Indometasin, sulindak, dan natrium mefenamat
mempunyai resirkulasi enterohepatik yang luas, yang menambah pemaparan obat-
obat ini dan meningkatkan toksisitas gastrointestinalnya. Selain itu, indometasin juga
dilaporkan dapat mengakibatkan iritasi setempat langsung yang dapat mengakibatkan
perforasi. Penelitian lain menunjukkan bahwa OAINS yang menyebabkan kerusakan
mukosa paling minimal adalah sulindak, aspirin enteric coated, diflunisal, dan
ibuprofen. Gejala yang diakibatkan oleh OAINS antara lain dispepsia, nyeri
epigastrium, indigesti, heart burn, nausea, vomitus, dan diare (Mutschler, E., 1991).
Prostaglandin E2 (PGE2) dan I2 (PGI2) yang dibentuk dalam glomerulus
mempunyai pengaruh terutama pada aliran darah dan tingkat filtrasi glomerulus.
PGI1 yang diproduksi pada arteriol ginjal juga mengatur aliran darah ginjal.
Penghambatan biosintesis prostaglandin di ginjal, terutama PGE2, oleh OAINS
menyebabkan penurunan aliran darah ginjal. Pada orang normal, dengan hidrasi yang
cukup dan ginjal yang normal, gangguan ini tidak banyak mempengaruhi fungsi
ginjal karena PGE2 dan PGI2 tidak memegang peranan penting dalam pengendalian
fungsi ginjal. Tetapi pada penderita hipovolemia, sirosis hepatis yang disertai asites,
dan penderita gagal jantung, PGE2 dan PGI2 menjadi penting untuk mempertahankan
fungsi ginjal. Sehingga bila OAINS diberikan, akan terjadi penurunan kecepatan
filtrasi glomerulus dan aliran darah ginjal bahkan dapat pula terjadi gagal ginjal.
Penghambatan enzim siklooksigenase dapat menyebabkan terjadinya hiperkalemia.
Hal ini sering sekali terjadi pada penderita diabetes mellitus, insufisiensi ginjal, dan
penderita yang menggunakan -blocker dan ACE-inhibitor atau diuretika yang
menjaga kalium (potassium sparing). Selain itu, penggunaan OAINS dapat
menimbulkan reaksi idiosinkrasi yang disertai proteinuria yang masif dan nefritis
interstitial yang akut (Neal, M.J., 2006).
Efek samping lain adalah gangguan fungsi trombosit dengan akibat
perpanjangan waktu perdarahan. Ketika perdarahan, trombosit yang beredar dalam
sirkulasi darah mengalami adhesi dan agregasi. Trombosit ini kemudian menyumbat
dengan endotel yang rusak dengan cepat sehingga perdarahan terhenti. Agregasi
trombosit disebabkan oleh adanya tromboksan A2 (TXA2). TXA2, sama seperti
prostaglandin, disintesis dari asam arachidonat dengan bantuan enzim
siklooksigenase. OAINS bekerja menghambat enzim siklooksigenase. Aspirin
mengasetilasi Cox I (serin 529) dan Cox II (serin 512) sehingga sintesis prostaglandin
dan TXA2 terhambat. Dengan terhambatnya TXA2, maka proses trombogenesis
terganggu, dan akibatnya agregasi trombosit tidak terjadi. Jadi, efek antikoagulan
trombosit yang memanjang pada penggunaan aspirin atau OAINS lainnya disebabkan
oleh adanya asetilasi siklooksigenase trombosit yang irreversibel (oleh aspirin)
maupun reversibel (oleh OAINS lainnya). Proses ini menetap selama trombosit masih
terpapar OAINS dalam konsentrasi yang cukup tinggi
2.6 TERAPI FARMAKOLOGI ANTIINFLAMASI
1. Asam mefenamat dan Meklofenamat

Asam mefenamat digunakan sebagai analgetika dan anti-inflamasi, asam mefenamat


kurang efektif dibandingkan dengan aspirin. Meklofenamat digunakan sebagai obat
anti-inflamasi pada reumatoid dan osteoartritis. Asam mefenamat dan meklofenamat
merupakan golongan antranilat. Asam mefenamat terikat kuat pada pada protein
plasma. Dengan demikian interaksi dengan oabt antikoagulan harus diperhatikan.

Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia, diare sampai
diare berdarah dan gejala iritasi terhadap mukosa lambung. Dosis asam mefenamat
adalah 2-3 kali 250-500 mg sehari. Sedangakan dosis meklofenamat untuk terapi
penyakit sendi adalah 240-400 mg sehari. Karena efek toksisnya di Amerika Serikat
obat ini tidak dianjurkan kepada anak dibawah 14 tahun dan ibu hamil dan pemberian
tidak melebihi 7 hari.

2. Diklofenak

Diklofenak merupakan derivat asam fenilasetat. Absorpsi obat ini melalui saluran
cerna berlangsung lengkap dan cepat. Obat ini terikat pada protein plasma 99% dan
mengalami efek metabolisma lintas pertama (first-pass) sebesar 40-50%. Walaupun
waktu paruh singkat 1-3 jam, dilklofenakl diakumulasi di cairan sinoval yang
menjelaskan efek terapi di sendi jauh lebih panjang dari waktu paruh obat tersebut.

Efek samping yang lazim ialah mual, gastritis, eritema kulit dan sakit kepala sama
seperti semua AINS, pemakaian obat ini harus berhati-hati pada pasien tukak
lambung. Pemakaian selama kehamilan tidak dianjurkan. Dosis orang dewasa 100-
150 mg sehari terbagi dua atau tiga dosis.

3. Ibuprofen
Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan pertama kali
dibanyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya efek anti-inflamasi yang
tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti aspirin, sedangkan efek anti-
inflamasinya terlihat pada dosis 1200-2400 mg sehari. Absorpsi ibuprofen cepat
melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai dicapai setelah 1-2 jam.
90% ibuprofen terikat dalam protein plasma, ekskresinya berlangsung cepat dan
lengkap.

Pemberian bersama warfarin harus waspada dan pada obat anti hipertensi karena
dapat mengurangi efek antihipertensi, efek ini mungkin akibat hambatan biosintesis
prostaglandin ginjal. Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan
dengan aspirin. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum wanita hamil dan menyusui.
Ibuprofen dijual sebagai obat generik bebas dibeberapa negara yaitu inggris dan
amerika karena tidak menimbulkan efek samping serius pada dosis analgesik dan
relatif lama dikenal.

4. Fenbufen

Berbeda dengan AINS lainnya, fenbufen merupakan suatu pro-drug. Jadi fenbufen
bersifat inaktif dan metabolit aktifnya adalah asam 4-bifenil-asetat. Zat ini memiliki
waktu paruh 10 jam sehingga cukup diberikan 1-2 kali sehari. Absorpsi obat melalui
lambung dan kadar puncak metabolit aktif dicapai dalam 7.5 jam. Efek samping obat
ini sama seperti AINS lainnya, pemakaian pada pasien tukak lambung harus berhati-
hati. Pada gangguan ginjal dosis harus dikurangi. Dosis untuk reumatik sendi adalah
2 kali 300 mg sehari dan dosis pemeliharaan 1 kali 600 mg sebelum tidur.

5. Indometasin

Merupakan derivat indol-asam asetat. Obat ini sudah dikenal sejak 1963 untuk
pengobatan artritis reumatoid dan sejenisnya. Walaupun obat ini efektif tetapi karena
toksik maka penggunaan obat ini dibatasi. Indometasin memiliki efek anti-inflamasi
sebanding dengan aspirin, serta memiliki efek analgesik perifer maupun sentral. In
vitro indometasin menghambat enzim siklooksigenase, seperti kolkisin.

Absorpsi pada pemberian oral cukup baik 92-99%. Indometasin terikat pada protein
plasma dan metabolisme terjadi di hati. Di ekskresi melalui urin dan empedu, waktu
paruh 2- 4 jam. Efek samping pada dosis terapi yaitu pada saluran cerna berupa nyeri
abdomen, diare, perdarahan lambung dan pankreatis. Sakit kepala hebat dialami oleh
kira-kira 20-25% pasien dan disertai pusing. Hiperkalemia dapat terjadi akibat
penghambatan yang kuat terhadap biosintesis prostaglandin di ginjal.

Karena toksisitasnya tidak dianjurka pada anak, wanita hamil, gangguan psikiatrik
dan pada gangguan lambung. Penggunaanya hanya bila AINS lain kurang berhasil.
Dosis lazim indometasin yaitu 2-4 kali 25 mg sehari, untuk mengurangi reumatik di
malam hari 50-100 mg sebelum tidur.

6. Piroksikam dan Meloksikam

Piroksikam merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yaitu oksikam, derivat
asam enolat. Waktu paruh dalam plasma 45 jam sehingga diberikan sekali sehari.
Absorpsi berlangsung cepat di lambung, terikat 99% pada protein plasma. Frekuensi
kejadian efek samping dengan piroksikam mencapai 11-46% dan 4-12%. Efek
samping adalah gangguan saluran cerna, dan efek lainnya adalah pusing, tinitus, nyeri
kepala dan eritema kulit. Piroksikam tidak dianjurkan pada wanita hamil, pasien
tukak lambung dan yang sedang minum antikoagulan. Dosis 10-20 mg sehari.

Meloksikam cenderung menghambat KOKS-2 dari pada KOKS-1. Efek samping


meloksikam terhadap saluran cerna kurang dari piroksikam.

7. Salisilat
Asam asetil salisilat yang lebih dikenal dengan asetosal atau aspirin adalah analgesik
antipiretik dan anti inflamasi yang sangat luas digunakan. Struktur kimia golongan
salisilat.

Asam salisilat sangat iritatif, sehingga hanya digunakan sebagai obat luar. Derivatnya
yang dapat dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dengan substitusi pada gugus
hidroksil, misalnya asetosal. Untuk memperoleh efek anti-inflamasi yang baik dalam
kadar plasma perlu dipertahankan antara 250-300 mg/ml. Pada pemberian oral
sebagian salisilat diabsorpsi dengan cepat dalam bentuk utuh di lambung. Kadar
tertinggi dicapai kira-kira 2 jam setelah pemberian. Setelah diabsorpsi salisilat segera
menyebar ke jaringan tubuh dan cairan transeluler sehingga ditemukan dalam cairan
sinoval. Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak lambung atau
tukak peptik, efek samping lain adalah gangguan fungsi trombosit akibat
penghambatan biosintesa tromboksan.

8. Diflunsial

Obat ini merupakan derivat difluorofenil dari asam salisilat, bersifat analgetik dan
anti inflamasi tetapi hampir tidak bersifat antipiretik. Kadar puncak yang dicapai 2-3
jam. 99% diflunsial terikat albumin plasma dan waktu paruh berkisar 8-12 jam.
Indikasi untuk nyeri sedang sampai ringan dengan dosis awal 250-500 mg tipa 8-12
jam. Untuk osteoartritis dosis awal 2 kali 250-500 mg sehari. Efek samping lebih
ringan dari asetosal.

9. Fenilbutazon dan Oksifenbutazon

Fenilbitazon dan oksifenbutazon merupakan derivat pirazolon. Dengan adanya AINS


yang lebih aman, fenilbutazon dan oksifenbutazon tidak lagi dianjurkan digunakan
sebagai anti-inflamasi kecuali obat lain tidak efektif.
Derivat pirazolon ini memiliki khasiat antiflogistik yang lebih kuat dari pada kerja
analgetiknya jadi golongan ini hanya digunakan sebagai obat rematik. Fenilbutazon
dimasukan secara diam-diam dengan maksud untuk mengobati keadaan lesu dan
letih, otot-otot lemah dan nyeri. Efek samping derivat pirazolon dapat menyebabkan
agranulositosis, anemia aplastik, dan trombositopenia.

2.7 TERAPI NON FARMAKOLOGI ANTI INFLAMASI

Jauhi makanan pedas dan berminyak


Minum air putih yang cukup
Makan makanan yang kandungan gizinya seimbang

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
1. a. Analgesik adalah obat yang mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran.
b. Antipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Jadi analgetik-
antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu
tubuh yang tinggi.
c. Antiinflamasi adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan peradangan
2. Umumnya cara kerja analgetik-antipiretik adalah dengan menghambat sintesa
neurotransmitter tertentu yang dapat menimbulkan rasa nyeri & demam. Dengan
blokade sintesa neurotransmitter tersebut, maka otak tidak lagi mendapatkan "sinyal"
nyeri,sehingga rasa nyerinya berangsur-angsur menghilang.
3. Macam-macam analgesik ada 2 macam, yaitu: Analgesik Narkotik dan Analgesik
Non-Narkotik. Analgesik Narkotik merupakan turunan poium yang berasal dari
tumbuhan Papaver somniferum atau dari senyawa sintetik. Sedangkan Analgesik
Non-Narkotik tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Obat- obat ini
dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi Sistem Saraf Pusat,
tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan ketagihan
4. PenggunaanobatAnalgetikAntipiretikpadasaatmengandungbagiibuhamilharus
diperhatikan.Ibuhamilyangmengkonsumsiobatsecarasembarangandapat
menyebabkancacatpadajanin.JadipenggunaanAnalgesikAntipiretikharusbenar
benarkonsulterlebihdahuludanmenggunakanresepdokter.

5. a. Contoh Obat Analgesik Narkotik sekarang masih digunakan di Indonesia :


- Morfin HCL,
- Kodein (tunggal atau kombinasi dengan parasetamol),
- Fentanil HCL,
- Petinidin, dan
- Tramadol.
b.Obat-obat Analgesik Non-Narkotik disebut juga sebagai obat Analgesik-Antipiretik
(Obat- obat ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi Sistem
Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan ketagihan, Semua
analgetika perifer juga memiliki kerja antipiretik, yaitu menurunkan suhu badan pada
keadaan demam, maka disebut juga analgetik antipiretik. Khasiatnya berdasarkan
rangsangannya terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan
vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai
keluarnya banyak keringat. Obat-obat yang banyak digunakan sebagai analgetik dan
antipiretik adalah golongan salisilat dan asetaminofen (parasetamol).
3.1 SARAN
Untuk obat analgesik-antipiretik , dianjurkan jangan terlalu mengkonsumsi obat
ini secara berlebihan dikarenakan dapat menyebabkan ketergantungan bagi
pemakainya.
Dan untuk obat anti inflamasi pengguna juga di harapkan tidak terlalu berlebihan
atau ketergantungan karena mekanisme kerja obat ini dapat menyebabkan terjadinya
perubahan kerja enzim.

3. Obat-Obat NSID, selain Obat parasetamol tidak disarankan untuk digunakan oleh
wanita hamil, terutama pada trimester ketiga. Namun parasetamol dianggap aman
digunakan oleh wanita hamil namun harus diminum sesuai aturan karena dosis tinggi
dapat menyebabkan keracunan hati.

DAFTAR PUSTAKA

http://myblogdiladini.blogspot.co.id/2016/03/anti-inflamasi.html
https://ranikuggy.wordpress.com/2012/10/15/contoh-obat-ains/
http://www.apoteker.info/Topik%20Khusus/nsaid.htm
http://562e.blogspot.co.id/
http://kelor.weebly.com/anti-inflamasi.html
http://cichojoelz.blogspot.co.id/2014/04/contoh-makalah-anti-inflamasi.html
http://repository.wima.ac.id/1035/2/BAB%201.pdf