Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH KEWIRAUSAHAAN

BUDIDAYA IKAN KONSUMSI GURAME

DISUSUN OLEH :

Kelompok 1

Afina Razana
Alvinda Apriliatul J
Anindita Abrianti
Devid Tolib Nasir
Dian Yuliawati

Yayasan Pendidikan Tenaga Kesehatan


SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN FARMASI JEMBER

1
Jl.Pangandaran no.42 Antirogo Jember
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, nikmat , dan
taufik serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menghadirkan makalah ini sebagai
penambah wawasan ilmu pengetahuan.
Tidak lupa, pada kesempatan ini kami mengucapakan banyak terima kasih
kepada Bapak / Ibu guru khususnya guru Kewirausahaan yang telah mendidik kami
sehingga dapat membuat makalah ini dengan sebaik-baiknya. Penulis berharap
semoga makalah ini bermanfaat bagi semua orang. AMIN
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami
sebagai penyusun mohon maaf apabila ada kesalahan dan kekurangan. Kami juga
mengharapkan kritik & saran dari bapak atau ibu guru pembina dan teman teman
sekalian.
Sekian dari kami, mohon maaf jika ada salah kata yang kurang berkenan.
Terimakasih.

Jember, 17 Agustus 2014

Penulis

2
DAFTAR ISI

Judul ...................................................................................................................... 1

Kata Pengantar ...................................................................................................... 2

Daftar Isi ................................................................................................................ 3

BAB I : Pendahuluan

1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 4


1.2 Tujuan Penulisan ............................................................................................. 4

BAB II : Pembahasan

2.1 Jenis Ikan Gurame ........................................................................................... 5

2.2 Tahap Proses Budidaya Ikan Gurame ............................................................. 7

- Penyiapan Sarana dan Peralatan .................................................................... 7


- Pembibitan ..................................................................................................... 10
- Pemeliharaan Bibit ......................................................................................... 12
- Pemeliharaan Pembesaran ............................................................................ 13
- Panen ............................................................................................................. 14
- Pasca Panen .................................................................................................. 15

2.3 Manajemen Pakan .......................................................................................... 19

2.4 Manajemen Kualitas Air .................................................................................. 21

2.5 Hama dan Penyakit ......................................................................................... 23

Kesimpulan dan Saran .......................................................................................... 25

Daftar Pustaka ....................................................................................................... 26

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ikan terdapat di daerah perikanan laut dan daerah perikanan darat. Banyak
sekali macam ikan yang terdapat di daerah perikanan darat. Ikan tersebut dapat
dibagi dalam tiga golongan yaitu ikan peliharaan, ikan buas dan ikan liar. Ikan
merupakan salah satu sumber protein bagi manusia, antara lain ikan gurame
(Osphronemus gouramy) merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah
menyebar ke wilayah Asia Tenggara dan Cina. Merupakan salah satu ikan labirinth
dan secara taksonomi termasuk famili Osphronemidae. Ikan gurame adalah salah
satu komoditas yang banyak dikembangkan oleh para petani, hal ini dikarenakan
permintaan pasar cukup tinggi.

Ikan ini merupakan salah satu jenis ikan konsumsi yang sudah cukup dikenal dan
banyak diminati di Indonesia. Hal ini karena ikan gurame memiliki kelebihan yaitu
rasa daging yang enak, pemeliharaan mudah serta harga relatif stabil. Ikan ini sudah
lama dikenal orang dan telah banyak dibudidayakan. Namun usaha-usaha yang
dilakukan untuk menunjang ke arah budi daya yang intensif belum banyak
dilaksanakan.

Seiring dengan perkembangan zaman dan meningkatnya pertambahan


penduduk yang diiringi dengan semakin meningkatnya kebutuhan protein hewani
oleh masyarakat setiap tahunnya maka, perlu adanya peningkatan produksi ikan
gurame, maka perlu adanya perluasan pembudidayaan ikan gurame dengan
peningkatan produksi ikan secara massal, baik secara kuantitas maupun
kualitasnya, sehingga dapat dijadikan sebagai komoditas baru terhadap ikan lain
yang biasa dipasarkan.

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk memenuhi tugas Kewirausahawan ( KWU )


2. Untuk menambah wawasan pelajar tentang jenis jenis ikan gurame
3. Untuk menambah pengetahuan tentang budidaya ikan gurame kepada
pembaca

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Jenis Ikan Gurame

Klasifikasi ikan gurame adalah sebagai berikut:

Klas : Pisces

Sub Kelas : Teleostei

Ordo : Labyrinthici

Sub Ordo : Anabantoidae

Famili : Anabantidae

Genus : Osphronemus

Species : Osphronemus goramy (Lacepede)

Ikan gurame di golongkan ke 3 jenis warna, yaitu gurame hitam, Gurame putih dan
Gurame belang. Gurami putih dikenal sebagai gurami berwarna tubuh terang
Sementara gurami hitam dan belang-belang digolongkan kedalam gurami berwarna
tubuh gelap atau abu-abu, sementara itu berdasarkan bentuk tubuh dan warnanya,
dikenal beberapa jenis gurami sebagai berikut :

1. Gurame angsa
Bagi masyarakat sunda rata-rata menamakan ikan gurame soang, gurami soang
ini relatif panjang, mencapai 65 cm, berat tubuhnya mencapai 7 10 kg per ekor
atau rata-rata 8 kg per ekor, warna tubuhnya abu-abu dengan sisik yang relatif
lebar, produktivitas telur gurami angsa tergolong cukup banyak, di Tasikmalaya
dan sekitarnya,gurami jenis ini juga dikenal sebagai gurami galunggung.

2. Gurame jepang
Bamyak dari kalangan petani menyebut gurame jepun dan ada juga yang jepang,
panjang tubuhnya lebih pendek dibanding dengan gurami angsa atau soang,
warna tubuhnya abu-abu kemerahan, terutama di ujung sirip-siripnya. Bentuk
sisiknya kecil, beratnya mencapai 3 kg dengan panjang sekitar 40 cm

3. gurame Blausafir

5
Ciri fisik gurami ini hampir sama dengan gurami jenis lain, hanya saja warna
tubuhnya merah muda cerah. Berat maksimum mencapai 2 kg per ekor.
Produktifitas telur mencapai 5.000-7.000 butir.

4. Gurame Paris
Tubuh gurami ini berwarna merah muda cerah, tetapi kepalanya berwarna
putih.Terdapat bintik-bintik hitam di sekujur tubuhnya. Berat maksimum mencapai
1,5 kilogram. Produktivitas telurnya mencapai 5.000-6.000 butir.

5. Gurame Porselen
Tubuh gurami ini berwarna, merah muda cerah. Ukuran kepalanya relatif kecil.
Gurami porselin unggul dalam menghasilkan telur, mencapai 10.000 butir setiap
kali pemijahan. Karena itu, gurami ini paling dicari oleh para pembenih sebagai
gurami unggul. Berat induknya mencapai 1,5-2 kg.

6. Gurame Bastar
Tubuh gurami ini berwarna, agak kehitaman, tetapi kepalanya berwarna putih.
Bentuk sisik besar-besar, pertumbuhan Gurame bastar tergolong cepat, tetapi
produktivitas telurnya hanya 2.000-3.000 butir setiap kali pemijahan.

7. Gurame Kapas
Tubuh gurami ini berwarna putih keperakan mirip kapas. Bentuk sisiknya besar.
Benih gurami kapas tergolong cepat tumbuh, beratnya mencapai 1 kg per ekor
dalam waktu sekitar 13 bulan sejalk menetas, produktivitas telur mencapai 3.000
butir setiap kali pemijahan jika budidaya berhasil.

8. Gurame Batu
Gurame jenis batu biasanya memiliki warna hitam, sisiknya kasar,
pertumbuhannya tergolong sangat lambat dibandingkan dengan jenis lain,
beratnya hanya mencapai 0,5 kg dalam waktu 12 bulan.

6
2.2 Tahap Proses Budidaya Ikan Gurame

Penyiapan Sarana dan Peralatan

1. Kolam

Jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan gurame antara lain:

a) Kolam penyimpanan induk

Kolam ini berfungsi untuk menyimpan induk dalam mempersiapkan kematangan


telur dan memelihara kesehatan induk, kolam berupa kolam tanah yang luasnya
sekitar 10 meter persegi, kedalamam minimal 50 cm dan kepadatan kolam
induk 20 ekor betina dan 10 ekor jantan.

b) Kolam pemijahan

Kolam berupa kolam tanah yang luasnya 200/300 meter persegi dan kepadatan
kolam induk 1 ekor memerlukan 2-10 meter persegi (tergantung dari sistim
pemijahan). Adapun syarat kolam pemijahan

adalah suhu air berkisar antara 24-28 derajat C; kedalaman air 75-100 cm;
dasar kolam sebaiknya berpasir. Tempatkan sarana penempel telur berupa injuk
atau ranting-ranting.

c) Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan

Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam antara
30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan
di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan
berukuran 3-5 cm.

d) Kolam pembesaran

Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan


membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam
pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam jaring 1,251,5 cm. Jumlah
penebaran bibit sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.

7
e) Kolam/tempat pemberokan

Merupakan tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan

Adapun cara pembuatan kolam adalah sebagai berikut:

a) Ukurlah tanah 10 x 10 m (100 m2).

b) Buatlah pematangnya dengan ukuran; bagian atas lebarnya 0,5 m,


bagian bawahnya 1 m dan tingginya 1 m.

c) Pasanglah pipa/bambu besar untuk pemasukan dan pengeluaran air.


Aturlah tinggi rendahnya, agar mudah memasukkan dan mengeluarkan air.

d) Cangkullah tanah dasar kolam induk agar gembur, lalu diratakan lagi.
Tanah akan jadi lembut setelah diairi, sehingga lobang-lobang tanah akan
tertutup, dan air tidak keluar akibat bocor dari pori-pori itu. Dasar kolam dibuat
miring ke arah pintu keluar air.

e) Buatlah saluran ditengah-tengah kolam induk, memanjang dari pintu


masuk air ke pintu keluar. Lebar saluran itu 0,5 m dan dalamnya 15 cm.

f) Keringkanlah kolam induk dengan 2 karung pupuk kandang yang


disebarkan merata, kemudian air dimasukkan. Biarkan selama 1 minggu, agar
pupuk hancur dan meresap ke tanah dan membentuk lumut, serta menguji agar
kolam tidask bocor. Tinggi air 0,75-1 m

2. Peralatan

Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan gurame


diantaranya adalah:

Jala

waring (anco)

hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk


maupun benih)

8
seser

ember-ember, baskom berbagai ukuran,

timbangan skala kecil (gram) dan besar (Kg),

cangkul,

arit, pisau

piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan.

Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan


gurame antara lain adalah :

warring/scoopnet yang halus

ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5


cm

tempat menyimpan ikan

keramba kemplung, keramba kupyak

fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat)

kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat)

hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau
kadang-kadang untuk penangkapan benih

ayakan penyabetan dari alumunium/bambu

oblok/delok (untuk pengangkut benih)

sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas)

anco/hanco (untuk menangkap ikan)

lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi)

scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu


keatas)

9
seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar)

jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan


konsumsi).

Pembibitan

1. Pemilihan Induk

Ciri-ciri induk ikan gurame yang baik adalah sebagai berikut:

a) Memiliki sifat pertumbuhan yang cepat.

b) Bentuk badan normal (perbandingan panjang dan berat badan ideal).

c) Ukuran kepala relatif kecil

d) Susunan sisik teratur,licin, warna cerah dan mengkilap serta tidak luka.

e) Gerakan normal dan lincah.

f) Bentuk bibir indah sepertipisang, bermulut kecil dan tidak berjanggut.

g) Berumur antara 2-5 tahun.

Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:

10
a) Betina

- Dahi meninjol.

- Dasar sirip dada terang gelap kehitaman.

- Dagu putih kecoklatan.

- Jika diletakkan pada tempat datar ekor hanya bergerak-gerak.

- Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.

b) Jantan

- Dahi menonjol.

- Dasar sirip dada terang keputihan.

- Dagu kuning.

- Jika diletakkan pada tempat datar ekor akan naik.

- Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.

2. Pemeliharaan Induk

Induk-induk terpilih (20-30 ekor untuk kolam seluas 10 m2) disimpan dalam
kolam penyimpanan induk. Beri makanan selama dalam penampungan. Untuk
setiap induk dengan berat antara 2-3 kg diberi makanan daun-daunan sebanyak
1/3 kg setiap hari pada sore hari. Makanan tambahan berupa dedak halus yang
diseduh air panas diberikan 2 kali seminggu dengan takaran 1/2 blekminyak
tanah setiap kali pemberian.

3. Pembenihan

Bila proses pematangan gonada (kandung telur dan sperma) di kolam


penampungan sudah mencapai puncaknya, induk segera dimasukkan dalam

11
kolam pemijahan. Adapun cara pemijjahan ikan gurame adalah sebagai berikut:

a) Kolam dikeringkan terlebih dahulu selama 5 hari, perbaiki tanggul dan dasar
kolam.

b) Lakukan pengapuran dan pemupukan. Pemupukan dasar dengan pupuk


kandang dosis 7,5 kg/100 meter persegi dan biarkan selama 3 hari.

c) Tanami dasar kolam dengan tanaman ganggang buntut anjng

d) Isikan air yang telah dicampur dengan pupuk buatan TSP sebantak 500
gram/100 meter persegi, biarkan selama 1 minggu kemudian isikan air hingga
kedalaman 75 cm.

e) Untuk kolam seluas 100 meter persegi bisa disebar induk sebanyak 30 ekor
betina dan 10 ekor jantan. Setelah pemijahan berlangsung, 1-2 hari induk betina
akan melepaskan telur-telurnya ke dalam sarang yang kemudian disemproti
sperma oleh si jantan sehingga terjadi pembuahan sel telur. 20-30 hari
kemudian, induk-induk yang terpelihara baik akan berpijah lagi dan beberapa
hari kemudian telur akan menetas.

Pemeliharaan Bibit

Benih-benih yang telah berumur 1-2 bulan sejak menetas dapat dibesarkan
pada kolam pendederan atau disawah sebagai penyelang. Dalam pelaksanaan
pendederan adalah melakukan pengeringan kolam atau sawah, pemupukan,
perbaikan pematang dan pemasangan saringan atau perbaikan pipa-pipa pada
pintu pemasukan atau pengeluaran air.

Setelah persiapan selesai, benih ditebarkan dengan kepadatan 30 ekor/meter


persegi dengan ukuran benih 5-10 cm pada kolam pendederan. Makanan yang
dapat diberikan selama pemeliharaan adalah rayap atau daun-daunan yang
telah dilunakkan dengan dosis 20-30% berat badan ratarata. Makanan
tambahan berupa dedak halus yang diseduh air panas diberikan 1 kali
seminggu dengan takaran 1 blek minyak tanah untuk 100 ekor benih. Lamanya
pendederan sekitar 1-2 bulan.

12
Pemeliharaan Pembesaran

Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun


monokultur.

a) Polikultur

Ikan gurame dipeliharan bersama ikan tawes, ikan mas, nilem, mujair atau
lele. Cara ini lebih menguntungkan karena pertumbuhan ikan gurame yang
cukup lambat.

b) Monokultur

Pada pemeliharaan gurame tersendiri, bibit yang disebar minimal harus


berumur 2 bulan. Penebaran bibit sejumlah 500 ekor (ukuran 10-15 cm)
diperlukan luas kolam sekitar 1500 meter persegi

1. Pemupukan

Pemupukan dapat dilakukan dengan bahan kimia dan pupuk kandang. Pada
umumnya pemupukan hanya dilakukan 1 kali dalam setiap pemeliharaan,
dengan maksud untuk meningkatkan makanan alami bagi hewan peliharaan.

Tahap pertama pemupukan dilakukan pada waktu kolam dikeringkan. Pada


saat ini pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang sebanyak 7,5 kg untuk tiap
100 m2 kolam, air disisakan sedikit demi sedikit sampai mencapai ketinggian 10
cm dan dibiarkan selama 3 hari.

Pada tahap berikutnya pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk


buatan seperti TSP atau pupuk Urea sebanyak 500 gram untuk setiap 100 m2
kolam. Pemberian kedua pupuk tersebut ditebarkan merata ke setiap dasar dan
sudut kolam.

2. Pemberian Pakan

13
Makanan pokok ikan gurame berupa pelet yang dapat diatur gizinya, namun
di daerah yang agak sulit memperoleh pelet, daun-daunan merupakan alternatif
yang sangat baik untuk dijadikan makanan ikan, diantaranya: daun pepaya,
keladi, ketela pohon, genjer, kimpul, kangkung, ubi jalar, ketimun, labu dan
dadap.

Pemberian makanan yang teratur dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi
dapat meningkatkan pertumbuhan tubuh ikan lebih cepat. Induk-induk gurame
yang sehat dan terjamin makanannya dapat dipijahkan dua kali setahun
berturut-turut selama 5 tahun.

3. Pemeliharaan Kolam/Tambak

Setiap habis panen, kolam dibersihkan/kuras. setelah itu dilakukan


pemupukan agar mempengaruhi kesuburan kolam, sehingga bila benih
disebarkan, kesuburan ikan akan terjamin dan pertumbuhan ikan akan cepat.

PANEN

1. Penangkapan

Pemanenan benih dapat dilakukan setelah benih berumur 1 bulan. Caranya


dengan menyurutkan air sedikit demi sedikit sementara saluran air masuk
diperkecil. Pasanglah jaring lembut di pintu pengeluaran untuk menampung
benih atau bisa juga dengan membuat parit di tengah kolam menuju ke lubang
pengeluaran. Bibit yang terawat baik bisa mencapai bobot 0,3 gram/ekor pada
saat dipanen.

Pemanenan hasil pembesaran ikan gurame sangat tersantung dari ukuran yang
diminta konsumen. Umumnya pemanenan dilakukan setelah ikan berumur 2-3
tahun, ikan yang berumur 2 tahun mempunyai panjang sekitar 25 cm dan berat
0,3 kg/ekor, sedangkan untuk ikan yang berumur 3 tahun panjangnya sekitar 35
cm dan berat badan 0,7 kg/ekor. Untuk ikan berumur 4 tahun panjangnya dapat
mencapai 40 cm dan berat 1.5 kg/ekor.

Adapun cara penangkapan: air disurutkan sedikit demi sedikit, penangkapan


dilakukan pada pagi hari. Hindari cara penangkapan yang dapat menyebabkan

14
ikan terluka.

2. Pembersihan

Setelah air kolam surut, benih digiring masuk ke petak kecil. Kemudian diserok
dan dimasukkan ke dalam keranjang panen. Biasanya waktu panen tidak hanya
gurame saja yang tertangkap, sehingga sebelum ikan dimasukkan ke kolam
pemberokan, harus diseleksi dan dibersihkan terlebih dahulu. Pembersihan
benih dilakukan selama 1 hari. tujuannya agar ikan tidak mabuk sewaktu
diangkut ke pasar. Lamanya pembersihan disesuaikan dengan besarnya benih.

PASCA PANEN

1. Penanganan ikan hidup

Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:

a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat C.

b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.

c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.

2. Penanganan ikan segar

Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu

15
diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:

a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.

b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.

c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak


dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan daun
pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan seng atau
fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50
cm.

3.Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat
C.

Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan jumlah


es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian ikan disusun
di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es lagi dan
seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian juga antara
ikan dengan penutup kotak.

Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan pascapanen


benih adalah sebagai berikut:

1. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong plastik
(sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).

2. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama
dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan air
sumur yang telah diaerasi semalam.

3. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa


hari.

Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan
aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m atau
2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat menampung

16
benih ikan mas sejumlah 50006000 ekor dengan ukuran 3-5 cm. Jumlah benih
dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran benihnya.

4. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi


menjadi dua bagian, yaitu:

a. Sistem terbuka

Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan
waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat diisi
air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran
3-5 cm.

b. Sistem tertutup

Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih
dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri
dari air bersih 5 liter yang diberi buffer Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara
pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan
air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan
menekan kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung
dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga
(air:oksigen=1:2); (4) kantong plastik lalu diikat. (5) kantong plastik dimasukkan
ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos yang berukuran
panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong
plastik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan
adalah sebagai berikut:

1. Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam


10 liter air bersih).

2. Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam setempat
sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik terjadi
perlahan-lahan.

3. Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-2
menit.

17
4. Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan
benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan dengan
tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat

juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin
sebanyak 4% selama 3-5 menit.

5. Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.

18
2.3 Manajemen Pakan

Pakan untuk produksi ikan prinsipnya adalah beaya pakan 60-65% dari total
beaya produksi, sehingga dalam pemberian pakan harus diperhitungkan secara
ekonomi dan di sisi lain pakan juga harus diperhatikan dari segi kualitas dan
kuantitasnya supaya diperoleh hasil yang baik secara teknis.
Kriteria pakan berkualitas :

1. Mengandung gizi seimbang


2. Mudah dicerna,menarik bagi ikan dan beraroma/disukai ikan
3. Ukuran sesuai dengan bukaan mulut ikan
4. Stabil dalam air / tidak cepat hancur
5. Tidak mencemari air / ramah lingkungan
6. Aman bagi kesehatan ikan / tidak beracun
7. Memberikan tingkat pertumbuhan
8. Secara ekonomis menguntungkan, sehingga dapat menjamin kelangsungan
usaha budidaya

Tipe pakan dibagi menjadi dua yaitu pakan tenggelam dan pakan terapung. Tipe
pakan ini erat kaitannya dengan kebiasaan cara makan ikan dan tempat ikan itu
dipelihara. Untuk Gurami , lele, bawal, nila,patin,ikan mas dll pakan ikan terapung
yang lebih cocok.

Cara pemberian pakan harus TETAP agar ikan terbiasa dan akan mengetahui
waktu-waktu mana mereka akan berkumpul dan menanti makanan.

Keberhasilan usaha budidaya ikan gurami dbergantung pada keberhasilan melewati


masa awal pemeliharaan larva. Larva Gurami bersifat karnivora sehingga pakan
yang cocok untuk larva gurami adalah plankton yang terdiri dari phytoplankton dan
zooplankton.. Untuk menumbuhkan plankton dalam masa pemeliharaan larva
dibutuhkan probiotik penumbuh plankton seperti SPF ( Super Plankton Fertilizer) ,
NATURE, atau MASTERFISH SIMBA. yang sudah banyak tersedia di poultry shop di
seluruh Indonesia.
Caranya sebelum larva gurami dipindah di media pendederan minimal 3-7 hari
sebelum penebaran dilakukan pengocoran SPF ( Super Plankton Fertilizer ) pada
kolam pendederan dengan dosis 1-2 tutup botol /m2. Dan juga kocorkan
MASTERFISH / NATURE pilih salah satu disesuaikan dengan jenis kolam
budidayanya. dengan cara melarutkan campuran beberapa tutup botol
MASTERFISH/NATURE dengan beberapa sendok makan gula pasir/tetes tebu
dalam beberapa liter air disesuaikan dengan dosis yang tertera dalam botol dan juga
disesuaikan dengan luasan kolam budidaya. Aduk-aduk dan diamkan 0.5-1 jam
kemudian lanjut dikocor ke seluruh permukaan kolam pendederan. Setelah 3-7 hari

19
niscaya plankton akan tumbuh sangat banyak sehingga larva gurami akan
mempunyai stok makanan alami yang sangat berlimpah. Perlakuan di atas bisa
diulang 1-2 minggu sekali atau melihat kondisi kolam. Lebih optimal pemberian
setelah hujan turun karena disamping sebagai penumbuh plankton juga untuk
menetralisir keasaman air hujan

20
2.4 Manajemen Kualitas Air

Air merupakan media paling vital (penting) dalam kehidupan ikan. Selain jumlahnya,
kualitas air juga membutuhkan perhatian yang paling serius agar dapat memenuhi
syarat untuk mencapaiair juga membutuhkan perhatian yang paling serius agar dapat
memenuhi syarat untuk mencapai kondisi air yang optimal sebagai salah satu kunci
keberhasilan budidaya ikan.kondisi air yang optimal sebagai salah satu kunci keberhasilan budidaya
ikan.Definisi :Definisi :

MANAJEMEN KUALITAS AIR : Suatu usaha untuk menjaga kondisi air tetap dalam
kondisi baik untuk budidaya dengan memperhatikan faktor fisik, kimia dan
biologinya.memperhatikan faktor fisik, kimia dan biologinya.
Parameter Kualitas Air :
1. Fisika
Suhu, Cahaya, Kecerahan, Warna air, Kekeruhan, Padatan tersuspensi

2. Kimia
pH, DO (oksigen terlarut), amonia, CO dan Nitrogen

3. Biologi
Plankton dan bakteri

SUHU
Suhu optimum yang baik untuk budidaya ikan air tawar umumnya berkisar 2530

CARA MENGATASI PERUBAHAN SUHU


Melakukan proses penggantian air kolam atau dengan menggunakan sistem sirkulasi

DERAJAT KEASAMAN (pH)

- Faktor yang mempengaruhi pH air :


- Sisa-sisa pakan dan kotoran yang mengendap di dasar kolam.
- Kandungan CO yang tinggi hasil pernafasan (terjadi menjelang fajar sampai pagi hari).

DAMPAK PERUBAHAN pH

a. Terganggunya proses metabolisme ikan.


b. Ikan mudah terserang penyakit.
c. Pertumbuhan menurun, stres.
d. pH tinggi dapat meningkatkan kandungan ammonia sehingga kualitas air terganggu.

CARAMENGATASI pH AIR

a. Sebelum pengisian air, kolam dikeringkan kemudian diberi kapur secara merata.

21
b. Dilakukan pengendapan sebelum air dimasukkan ke dalam kolam.
c. Penggantian air untuk membuang sisa-sisa pakan dan kotoran dari
dasar kolam agar pH kembali normal.

OKSIGEN TERLARUT (DO)


Kandungan oksigen terlarut dalam air agar ikan dapat tumbuh dengan baik minimal 3 ppm
dan optimum 4-7 ppm.

AMMONIA
Ammonia merupakan faktor penting dalam mengatur kesehatan dan pertumbuhan ikan
karena bisa menyebabkan racun bagi kehidupan ikan.

22
2.5 HAMA DAN PENYAKIT

1. Penyakit

Gangguan yang dapat menyebabkan matinya ikan adalah penyakit yang disebut
penyakit non parasiter dan penyakit yang disebabkan parasit. Gangguan-gangguan
non parasiter bisa berupa pencemaran air seperti adanya gas-gas beracun berupa
asam belerang atau amoniak; kerusakan akibat penangkapan atau kelainan tubuh
karena keturunan. Penanggulangannya adalah dengan mendeteksi keadaan kolam
dan perilaku ikan-ikan tersebut.

Memang diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk


mengetahuinya. ikan-ikan yang sakit biasanya menjadi kurus dan lamban
gerakannya.

Gangguan lain yang berupa penyakit parasiter, yang diakibatkan oleh bakteri, virus,
jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. Bila ikan terkena penyakit yang
disebabkan parasit, dapat dikenali sebagai berikut:

1) Penyakit pada kulit; pada bagian-bagian tertentu berwarna merah terutama di


bagian dada, perut dan pangkal sirip.

2) Penyakit pada insang; tutup insang mengembang. Lembaran insang menjadi


pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu

3) Penyakit pada organ dalam; perut ikan membengkak, sisik berdiri.

Pencegahan timbulnya penyakit ini dapat dilakukan dengan mengangkat ikan dan
melakukan penjemuran kolam beberapa hari agar parasit pada segala stadium mati.
Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset.

Pengobatan bagi ikan-ikan yang sudah cukup memprihatikan keadaannya, dapat


dilakukan dengan menggunakan bahan kimia diantaranya:

1) Pengobatan dengan Kalium Permanganat (PK)

a. Sediakan air sumur atau sumber air lainnya yang bersih dalam bak
penampungan sesuai dengan berat ikan yang akan diobati.

23
b. Buat larutan PK sebanyak 2 gram/10 liter atau 1,5 sdt/100 l air.

c. Rendam ikan yang akan diobati dalam larutan tersebut selama 30-60 menit
dengan diawasi terus menerus.

d. Bila belum sembuh betul, pengobatan ulang dapat dilakukan 3 atau 4 hari
kemudian.

2) Pengobatan dengan Neguvon. Ikan direndam pada larutan neguvon dengan 2-


3,5% selama 3 mernit. Untuk pembe-rantasan parasit di kolam, bahan tersebut
dilarutkan dalam air hingga konsentrasi 0,1% Neguvon lalu disiramkan ke dalam
kolam yang telah dikeringkan. Biarkan selama 2 hari.

3) Pengobatan dengan garam dapur. Hal ini dilakukan di pedesaan yang sulit
mendapatkan bahan-bahan kimia. Caranya: (1) siapkan wadah yang diisi air bersih.
setiap 100 cc air bersih dicampurkan 1-2 gram (NaCl), diaduk sampai rata; (2) ikan
yang sakit direndam dalam larutan tersebut. Tetapi karena obat ini berbahaya,
lamanya perendaman cukup 5-10 menit saja. (3) Setelah itu segera ikan
dipindahkan ke wadah yang berisi air bersih untuk selanjutnya dipindahkan kembali
ke dalam kolam; (4) pengobatan ulang dapat dilakukan 3-4 hari kemudian dengan
cara yang sama.

2. Hama

Bagi benih gurame musuh yang paling utama adalah gangguan dari ikan
liar/pemangsa dan beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, gurame dan sepat.
Musuh lainnya adalah biawak, katak, ular dan bermacam-macam burung pemangsa.

24
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Secara teknis pengembangan budidaya ikan gurame adalah dengan tahapan :
Pemilihan Lokasi, Penyiapan Sarana dan Srasarana, Pembibitan, dan Pemeliharaan
Pembesaran.
2. Pemeliharaan ikan gurami cukup sederhana dan tidak membutuhkan teknologi
yang tinggi, demikian juga alat-alat yang dibutuhkan untuk budidaya ikan ini tersedia
di seluruh Indonesia dan mampu dibuat oleh masyarakat.
3. Produk budidaya ikan gurami dapat dijual pada setiap tahap pemeliharaan mulai
dari telur, benih ikan (ukuran 0,5 gram, 1 gram, 5 gram, 20 gram) sampai dengan
ukuran konsumsi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih cepat sesuai dengan
kebutuhan petani.

Saran
1. Untuk mendapatkan hasil yang optimal atas produksi ikan gurami perlu intensifikasi
penggunaan teknologi budidaya sehingga kualitas dan kuantitas produksi dapat
ditingkatkan dan masa waktu panen dapat dipersingkat.
2. Untuk meningkatkan keterampilan pembudidaya, perlu diberikan bimbingan yang
terus menerus dari instansi terkait mengenai teknis dan teknologi budidaya ikan
gurami, terutama dalam rangka penerapan teknologi budidaya yang dapat
meningkatkan produksi gurami.

25
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2002. Informasi Teknik Perikanan. Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Sukabumi.

Asmawi, S. 1983. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. Gramedia, Jakarta.

Departemen Pertanian. 1986. Budidaya Gurami. Balai Informasi Pertanian Jawa Barat.
Bandung.

Heinz, H. R. and Kline. 1973. Fish Panthology. FFA Publication Inc. West Sylvania Aveneu,
Neptune, New Jersey. 512 pp.

Kabata, Z. 1985. Parasit and Diseases Fish Culture in The Tropic. Taylor and Francis,
London.

Radiopoetro. 1983. Zoology Vertebrata. Erlangga, Jakarta. 56 pp.

Rusdi, T. 1988. Usaha Budidaya Gurami. Simplek, Jakarta. 73 pp.

Sitanggang, M. dan Sarwono, B. 2001. Budidaya Gurami (Edisi Revisi). Penebar Swadaya.
Jakarta.

Susanto, Heru. 1989. Budidaya Ikan Gurame. Penebar swadaya. Jakarta.

Tim Lentera. 2002. Cermat dan Tepat Memasarkan Gurami. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Wardoyo, S.T. 1981. Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan. Analisis
Dampak Lingkungan, Bogo

26

Anda mungkin juga menyukai