Anda di halaman 1dari 35

1

DIKTAT PETUNJUK PRAKTIKUM

KIMIA DASAR

Oleh :

Kusnadi, M. Pd (NIDN 0616038701)

Aldi Budi Riyanta, S.Si, MT (NIPY 12.013.167)

LABORATORIUM KIMIA DASAR

PROGRAM STUDI DIII FARMASI

POLITEKNIK HARAPAN BERSAMA TEGAL

2015
2

KATA PENGANTAR

Buku Petunjuk Praktikum Kimia Dasar ini disusun untuk memenuhi


kebutuhan mahasiswa sebagai panduan dalam melaksanakan
praktikum dalam mata kuliah Kimia Dasar, untuk mahasiswa Program
Studi DIII Farmasi PoliTeknik Harapan Bersama Tegal .

Materi yang dipraktikumkan merupakan materi yang telah didapatkan


dalam teori pada saat kuliah Kimia Dasar, sehingga mahasiswa akan
lebih memahami teori yang didapat dalam kelas.

Terima kasih kepada Yayasan PoliTeknik Harapan Bersama Tegal yang


telah memfasilitasi pendanaan, sehingga buku ini penyusunannya
dapat cepat selesai dan semoga bermanfaat. Amin.

Tegal, Agustus
2015

Penyusun
3

DAFTAR ISI

Halaman
Judul.....................................................................................
...........................1

Kata
Pengantar ............................................................................
..................................2

Daftar
Isi ........................................................................................
.................................3

Pendahuluan ........................................................................
.......................................... 4

1. Penentuan Sifat Asam Basa Suatu


Larutan...7
2. Stoikiometri
Reaksi.11
3. Asidi
Alkalimetri.15
4. Penetapan Kadar Ca/Mg Dalam Air Dengan Indikator
EBT18
5. Asidi
Alkalimetri..21
6. Penetapan Kadar Air Dalam Tanah Dengan Metode
Gravimetri..
Sederhana
.23
7. Menentukan Air Hidrat Dalam CuS04.x
H2O.. 25
8. Analisis Kualitatif Senyawa Anorganik Dengan
Beberapa Pereaksi.27
4

9. Standarisasi Larutan Standar HCl 0,1


N..30
10. Standarisasi Larutan NaOH 0,1 m dan Penggunaannya Dalam
penentuan kadar asam cuka Perdagangan.............................................. 32
11. Ekstraksi Pelarut 36

PENDAHULUAN

1. Kehadiran

1. Setiap peserta harus hadir tepat pada waktu yang telah


ditentukan, apabila terlambat lebih dari 10 (sepuluh) menit dari
waktu tersebut, maka dia tidak diperkenankan mengikuti
praktikum pada hari itu.
2. Mahasiswa wajib hadir sesuai dengan jadwal praktikum, apabila
terpaksa tidak dapat hadir harus memberi surat izin/surat
keterangan yang sah.
2. Pelaksanaan Praktikum
1. Sebelum pelaksanaan praktikum, mahasiswa melaksanakan
pretes untuk acara praktikum yang akan dilaksanakan. Pretes
dikerjakan pada selembaran kertas folio bergaris dan tes ini
dinilai.
2. Setiap peserta diwajibkan membuat laporan praktikum, yaitu
laporan sementara (yang ditanda tangani Dosen) dan sebelum
5

mengikuti praktikum berikutnya, peserta harus mengumpulkan


laporan resmi. Jika tidak mengumpulkan maka peserta tidak
diperkenankan mengikuti praktikum pada hari itu.
3. Setiap peserta harus menjaga kebersihan laboratorium, bekerja
dengan tertib, tenang, dan teratur. Selama mengikuti
praktikum, peserta harus bersikap sopan, baik dalam
berpakaian (tidak boleh memakai sandal ataupun kaos oblong),
cara berbicara maupun cara bergaul supaya sopan.
4. Setiap peserta harus mengembalikan botol bahan-bahan kimia
yang tertutup rapat ditempat semula.
5. Setiap peserta harus mengembalikan alat-alat yang telah
dipakai dalam keadaan bersih dan kering, serta mengembalikan
ke tempat semula.
6. Bagi mereka yang tidak mengikuti praktikum pada hari yang
telah terjadwal, dinyatakan inhal (menunda praktikum) dengan
memenuhi persyaratan yang ada.
7. Setiap kali praktikum, semua pengamatan harus dicatat dalam
lembar pengamatan yang tersedia di buku petunjuk Praktikum.
3. Laporan Praktikum
Agar setiap praktikum membuat laporan akhir yang seragam,
maka dibuat format laporan praktikum sebagai berikut:

LAPORAN PRAKTIKUM
Nama :
NIM :
Jurusan/Prodi :
Tanggal Praktikum :
Nama Praktikum :
Kelompok :
A. Tujuan Praktikum
Jelaskan tujuan saudara melakukan praktikum
B. DASAR TEORITIS
Uraian secara singkat teori yang melandasi praktikum yang
saudara lakukan dengan menyebutkan sumber pustakannya.
C. ALAT DAN BAHAN
6

Sebutkan alat praktikum yang saudara gunakan, termasuk alat


gelas atau instrumentasi. Sebutkan bahan praktikum yang
digunakan. Gambarkan skema/gambar alat utama jika ada.
D. CARA KERJA
Sajikan cara kerja dalam bentuk gambar atau diagram.
E. DATA PENGAMATAN
Catat hasil pengamatan dengan mengisi lembar pengamatan
yang telah saudara siapkan. Data yang dicatat adalah semua
data yang dapat diamati selama proses praktikum termasuk
data qualitative dan quantitative.
F. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Bacalah hasil percobaan yang saudara lakukan dengan
mengacu teori yang telah diuraikan pada tujuan pustaka atau
dasar teoritis. Beberapa hal yang perlu dibahas adalah:
penjelasan tentang jalanya percobaan, fungsi penambahan zat,
kesesuaian teori dengan praktik, persamaan reaksi, rendemen,
kemurnian hasil yang ditunjukan oleh sifat fisika dan kimia.
G. Simpulan dan saran
Buatlah simpulan dari percobaan yang telah saudara lakukan

H. Daftar pustaka
Uaraikan nama buku yang telah diacu untuk membuat laporan
praktikum.

Tulis nama pengarang, tahun terbit, Judul Buku, Jilid, edisi,


penerbit, kota penerbit.
Jumlah buku yang diacu minimal 2 buah,

Tegal, tgl bln tahun


Mengetahui
Dosen Praktikum Praktikan

.. .
7

1. PENENTUAN SIFAT ASAM DAN BASA SUATU LARUTAN


A. Tujuan
Setelah melakukan eksperimen ini, diharapkan mahasiswa dapat:
a. Mengetahui cara mengidentifikasi larutan asam dan basa.
b. Mengetahui perubahan yang terjadi pada larutan asam dan basa.
c. Menjelaskan perbedaan asam basa san perubahan yang terjadi.
B. Dasar Teori
Asam secara umum merupaka senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air aka
menghasilkan larutan denan pH lebih kecil dari 7. Asam adaah suatu zat yang data
memberi proton (ion H+) keadaan zat lain yang disebut basa, atau dapat menerima
pasangan electron bebas dari suatu basa,. Suatu bereaks dngan suau basa dalam
reaksi penetralan untuk membentuk gara contoh: asam asetat. secara umum, asam
memiliki sifat seperti berikut;
1. Masam ketika dilautkan dalam air.
2. Asam terasa menyengat bila disentuh, dan dapat merusak kulit, terutama jika
asamnya asam kuat
3. Asam bereaksi sangat hebat dengan kebanakan logam, yaitu korosif terhada
logam.
4. Asam, walaupun tidak selalu ionik, merupakan cairan elektrolit.
Basa adalah zat-zat yang dapat menetralkan asam. Secara umum basa memiliki
sifat sebagai berikut:
1) Kaustik
2) Rasanya pahit.
3) Licin seperti sabun.
8

4) Nilai pH lebih dari air suling.


5) Mengubah warna lakmus merah menjadi biru.
6) Dapat menghantarkan listrik.
Teori menrut para ahli contohnya:
1) Teori Asam Basa menurut Stanve August Arrhenius
Menurutnya asam merupakan senyawa-senyawa yang mengandung hydrogen
yang menghasilkan ion-ion hydrogen (H +) ketika dilarutkan dalam air.
Demikian juga bahwa basa didefinisikan sebagai senyawa-senyawa yang
menghsilkan ion hidroksida (OH-) ketika dilarutkan dalam air.

Asam H+ (aq) + anion (aq)

Basa OH- (aq) + kation (aq)


Sebagai contoh dari reaksi asam ketika dilarutkan dalam air adalah sebagai berikut:

HCl (aq) H+ (aq) + Cl- (aq)

Sedangkan contoh reaksi basa ketika dilarutkan dalam air adalah sebagai berikut:

NaOH (aq) Na+ (aq) + OH- (aq)

2) Menurut Teori Bronsted-Lowry


Menurut teori Bronsted Lowry asam adalah zat yang memberikan ion donor
proton sedangkan basa adalah zat yang menerima acceptor proton dalam suatu
reaksi. Contohnya:

HCl (aq) H+ (aq) + Cl- (aq)

Berdasarkan teori asam basa Bronsted-Lowry, HCl dalam air akan terionisasi
menjadi H+ kedalam molekul air, molekul air adalah basa karena menerima proton
dari HCl. Reaksi ammonium korida menjadi ion ammonium dan ion klorida
ditampilkan sebagai berikut:

NH3 + HCl NH4+ + Cl-

Basa Asam asam konjugasi basa konjugasi

NH3 dalam air adalah basa karena menerima proton dari molekul air, molekul air
adalah asam karena mendonorkan proton ke NH3.

3) Menurut Teory Lewis


Menurut Lewis, asam adalah zat yang menerima pasangan elektron bebas,
sedang basa adalah zat yang mendonorkan pasangan electron bebas. Sebagai
9

contoh, dalam reaksi dari ion H+ dan OH- membentuk H2O kemudian menurut
Lewis H+ adalah asam dan OH- adalah basa. Ini karena H + menerima pasangan
electron bebas dan sepasang electron bebas didonorkan ke OH-
C. Alat dan Bahan
a. Alat : 1. Gelas ukur 5. Pinset
2. Pipet Tetes 6. Kertas Lakmus Merah Biru
3. Spot tetes / Pallet tetes 7. pH universal
4. Gunting
b. Bahan : 1. Air suling 8. Amonium hidroksida
2. Larutan cuka 9. Natrium karbonat
3. NaOH 10. Amonium Klorida
4. Air Sabun 11. Asam Salisilat
5. Air Jeruk 12. Asam Stearat
6. Air kapur sirih
7. Alkohol
D. Cara Kerja
1. Teteskan masing-masing sampel ke dalam pallet tetes yang sudah diberi tanda.
2. Menggunting kertas lakmus merah dan biru manjadi 5 bagian.
3. Memasukan 1 kertas lakmus biru dan kertas lakmus merah ke dalam masing-
masing larutan tersebut.
4. Amati perubahan warna lakmus dan catat.
5. Ukur juga pH larutan dengan pH Universal.
E. Data Pengamatan

Lakmus
Biru Merah
No Sampel pH Univeral Sifat
menjadi menjadi
merah biru
1 Air Suling
2 Larutan Cuka
3 NaOH
4 Air Sabun
5 Air Jeruk
6 Air Kapur sirih
7 Alkohol
Amonium
8
Hidroksida
9 Natrium Karbonat
10 Amonium Klorida
11 Asam Salisilat
12 Asam Stearat
Pertanyaan
1. Apa yang dimaksud asam-basa menurut Teori Bronsted-Lowry ?
2. Berikan contoh larutan asam dan basa menutut percobaan yang diakukan?
10

3. HCl, NaOH, NH4Cl, NH4OH, H2SO4 , dari senyawa berikut, manakah yang
termasuk asam, basa, dan garam?
4. Mengapa pH Larutan asam selalu kurang dari 7, dan pH Larutan Asam selalu
lebih dari 7, dan berapa pH air murni?

2. STOIKIOMETRI REAKSI

A. Tujuan
1 Menentukan koefisien reaksi berdasarkan pembentukan endapan dan
perubahan temperatur
2 Menentukan hasil reaksi berdasarkan konsep mol
B. Dasar Teori
Ilmu kimia adalah ilmu yang dikembangkan berdasarkan eksperimen
melalui pendekatan ilmiah. Ilmu kimia mempelajari perubahan zat baik secara fisik
maupun secara kimia. Perubahan yang mengahasilkan zat baru yang jenis dan
11

sifatnya berbeda dari zat pembentuknya disebut sebagai perubahan kimia atau
reaksi kimia. Perubahan kimia ini dapat diamati dari terbentuknya hasil reaksi
seperti timbulnya gas, endapan, terjadi perubahan warna dan perubahan kalor.
Untuk memudahkan dalam merancang suatu eksperimen, maka perlu
menuliskan persamaan reaksi kimia, yang menunjukkan zat-zat yang bereaksi dan
hasil reaksi, untuk menunjukkan bahwa reaksi setara, diungkapkan dengan
koefisien reaksi. Koefisien reaksi merupakan konversi yang menunjukkan jumlah
atom atau molekul yang terlibat dalam reaksi atau menyatakan pula jumlah mol
senyawa yang bereaksi. Contoh : reaksi antara gas nitrogen dan gas hidrogen
membentuk gas amonia, persamaan reaksinya:
N2 (g) + 3 H2 (g) 2 NH3 (g)
Persamaan ini menyatakan bahwa 1 molekul nitrogen bereaksi dengan 3 molekul
hidrogen membentuk 2 molekul amonia atau konversi ke mol menjadi 1 mol
nitrogen bereaksi dengan 3 mil hidrogen menbentuk 2 mol amonia. Angka 1, 3 dan
2 adalah koefisien reaksi sebagai faktor konversi.
Secara laboratorium, untuk mengetahui koefisien dalam persamaan kimia
diperlukan sederetan data hasil percobaan. Salah satu cara sederhana untuk
menentukan koefisien reaksi dengan metode variasi kontinu. Prinsip dasarnya
dalam sederetan percobaan yang dilakukan, jumlah moler total campuran pereaksi
dibuat tetap sedangkan jumlah molar masing-masing dibuat berubah secara teratur
(diberagamkan secara beraturan dan kontinu). Perubahan yang terjadi akibat adanya
reaksi antara campuran pereaksi seperti massa, volum dan suhu dialurkan terhadap
jumlah molar masing-masing pereaksi dalam suatu grafik, sehingga diperoleh titik
optimum. Titik optimum yang terbentuk menyatakan perbandingan koefisien dari
masing-masing pereaksi.
C. Alat dan Bahan
1. Alat
- gelas beker 50 ml
- mistar ukuran 20 cm
- termometer
2. Bahan
- Perak Nitrat (AgNO3) 0,1 M
12

- NaOH 1,0 M
- HCl 0,1 M
- HCl 1,0 M
D. Cara Kerja
1. Stokiometri Reaksi Pengendapan
a. Sediakan dua buah gelas beker 50 ml. Ke dalam 1 gelas beker masukkan 5 ml HCl
0,1 M. Pada gelas beker yang lain masukkan 25 ml AgNO 3 0,1 M. Campurkan
kedua larutan itu kemudian kocok.
b. Biarkan campuran tersebut agar endapan yang terbentuk berada di dasar gelas
beker.
c. Ukur tinggi endapan yang terbentuk menggunakan mistar (agar akurat terapkan
satuan mili-meter).
d. Lakukan cara yang sama dengan langkah (a-c) untuk percobaan berikut, dengan
mengubah volume pereaksi masing-masing tetapi volume total tetap 30 ml, yaitu:
- 10 ml HCl 0,1 M dan 20 ml AgNO3 0,1 M
- 15 ml HCl 0,1 M dan 15 ml AgNO3 0,1 M
- 20 ml HCl 0,1 M dan 10 ml AgNO3 0,1 M
- 25 ml HCl 0,1 M dan 5 ml AgNO3 0,1 M
e. Buat grafik yang menyatakan hubungan antara tinggi endapan (sumbu y) dan
volume larutan (sumbu x), sehingga diperoleh titik optimum kurva.
f. Dari grafik tentukan koefisien reaksi berdasarkan titik optimum yang diperoleh.
Titik optimum menyatakan perbandingan koefisien reaksi.
g. Bandingkan dengan koefesien reaksi yang diperoleh dari menyetarakan persamaan
reaksi.
h.Tentukan rendemen hasil reaksi dengan menggunakan konsep mol.
2. Stokiometri Sistem Asam-Basa
a. Ke dalam gelas beker 50 ml, masukkan 5 ml NaOH 1,0 M dan ke dalam gelas
beker lainnya masukkan 25 ml HCl 1,0 M. Kemudian ukur temperatur kedua
larutan tersebut (TM ) dan diusahakan agar sama (dapat dilakukan dengan
merendam kedua gelas beker tersebut dalam penangas air.
b. Campurkan kedua larutan tersebut hingga volume total 30 ml, ukur temperatur
campuran dan catat suhu maksimum yang konstan ( TA ).
13

c. Lakukan cara yang sama untuk percobaan berikut dengan mengubah volume
pereaksi masing-masing hingga volume total campuran adalah 30 ml, yaitu:
- 10 ml NaOH 1,0 M dan 20 ml HCl 1,0 M
- 15 ml NaOH 1,0 M dan 15 ml HCl 1,0 M
- 20 ml NaOH 1,0 M dan 10 ml HCl 1,0 M
- 25 ml NaOH 1,0 M dan 5 ml HCl 1,0 M
d. Buat grafik yang menyatakan hubungan antara perubahan temperatur (sumbu y)
dan volume asam/basa (sumbu x).
f. Dari grafik tentukan koefisien reaksi berdasarkan titik optimum yang diperoleh.
Titik optimum menyatakan perbandingan koefisien reaksi.
g. Bandingkan dengan koefesien reaksi yang diperoleh dari menyetarakan persamaan
reaksi.
h. Tentukan rendemen hasil reaksi dengan menggunakan konsep mol.
E. Analisis Data

Pada percobaan D.2 dan D.3, berdasarkan grafik yang diperoleh dari data antara
perubahan temperatur / tinggi endapan terhadap volume masing-masing pereaksi
ditentukan stokiometri reaksi dengan mengubah satuan volume masing-masing
pereaksi pada titik optimum menjadi mol.
mol = molaritas larutan (M) x volume larutan (V)
Sehingga diperoleh perbandingan mol = perbandingan koefisien reaksi.

Pertanyaan
1. Sebutkan 4 ciri-ciri yang terjadi, karena proses reaksi kimia?
2. Tulislah reaksi pengedapan yang terjadi pada percobaan di atas, dan samakan
koefisien reaksinya?
3. Bagaimana rumus konsep mol suatu reaksi, dan hitunglah Molaritas NaOH
sebanyak 2,5 gram yang dilarutkan ke dalam air sebanyak 100 ml?
14

3. ASIDI ALKALIMETRI
A. Tujuan
a. Mahasiswa dapat menjelaskan proses titrasi asidi alkalimetri.
b. Mahasiswa mampu menghitung kadar cuplikan pada titrasi aside alkalimetri.
c. Mahasiswa mampu melakukan analisis dengan metode asidimetri.
B. Landasan Teori
Titrasi asam basa yang disebut asidi alkalimetri, yaitu titrasi yang menyangkut
reaksi dengan asam atau basa, diantaranya asam kuat dan basa kuat, asam kuat dengan
garam lemah, asam lemah dengan basa kuat, asam kuat dengan garam dari dariasam
lemah dan basa kuat dengan garam dari basa lemah.
Asidi Alkalimetri merupakan salah satu metode kimia analisa kuantitatif yang
didasarkan pada prinsip titrasi asam basa. Asidi alkalimetri berfungsi untuk
menentukan kadar asam basa dalam suatu larutan secara analisa volumetric.
15

Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hydrogen
yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk
menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi
antara donot proton (asam) dengan penerima proton (basa).
H+ + OH- => H2O
Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa
senyawa yang bersifat basa dengan memnggunakan baku asam, sebaliknya alkalimetri
adalah penetapan kadar senyawa senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan
baku basa. Menurut Osd Wald indicator adalah asam organik lemah atau obasa organik
lemah yang warna molekulnya berbeda dengan warna ionnya.
Hind H+ + ind-
Ind OH OH- + ind -
(warna molekul) (warna ion)
Setiap indicator asam basa mempunyai daerah trayek pH tertentu, pemilihan
indikator didasarkan pada pH larutan yang berada pada titik ekivalen. Larutan asam
basa direaksikan dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air. Sifat asam dan
sifat basa akan hilang dengan terbentuknya zat baru yang disebut garam yang memiliki
sifat berbeda dengan sifat asalnya karena hasil reaksinya adalah air yang memiliki sifat
netral yang jumlah ion H+ sama dengan jumlah ion OH- maka reaksi itu disebut dengan
reaksi netralisasi atau penetralan. Pada reaksi penetralan, jumlah asam harus ekivalen
dengan jumlah basa. Titik ekivalen adalah keadaan dimana jumlah molekul asam tepat
habis bereaksi dengan jumlah molekul basa.
Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam basa dapat digunakan
indikator asam basa. Pemilihan indicator didasarkan atas PH larutan hasil reaksi atau
garam yang terjadi pada titik ekivalen. Salah satu kegunaan reaksi netralisasi adalah
untuk menentukan konsentrasi asam atau basa yang tidak diketahui. Penentuan
konsentrasi ini dilakukan dengan titrasi asam basa.
C. Alat Dan Bahan
Alat : Beker glass Bahan : HCL 0,1 N
Gelas ukur 10 ml Sampel basa
Erlenmeyer 250 ml Akuades
Pipet volume 25 ml Indikator PP
Pipet tetes
Buret
16

Klem
Statif
D. Cara Kerja
1. Setting buret, klem, statif.
2. Mengambil stempel basa menggunakan pipet volume.
3. Isi erlemenyer dengan stempel sampel basa yang ada di pipet volume.
4. Tambahkan aquadest +_ 10 ml kedalam erlemenyer menggunakan gelas ukur.
5. Tambahkan indikator PP 1- 5 tetes.
6. Titrasi dengan HCL 0,1 N hingga berubah warna.
(ulangi percobaan minimal 3x)
E. Data Pengamatan
No Volume Sampel Volume HCl 0,1 N
1
2
3

No Sampel Akuades Indikator Perubahan HCl 0,1 N Perubahan


PP warna warna
1
2
3

Pertanyaan
1. Apa yang dimaksud dengan asidimetri?
2. Berapa molar konsentrasi larutan natrium bromat jika 5,8 gram, natrium bromat
dilarutkan ke dalam air 150 ml?
3. Berapa konsentrasi lar. HCl yang terjadi jika larutan HCl pekat 40% sebanyak 2
ml dilarutkan hingga 200 ml?
17

4. PENETAPAN KADAR CA / MG DALAM AIR DENGAN INDIKATOR


EBT

A. TUJUAN
a. Mengetahui cara menghitung kadar Ca / Mg dalam air sadah
b. Mengetahui reaksi yang terjadi pada penetapan kadar pada Ca / Mg dalam air
sadah.
c. Mampu melakukan analisis dengan metode titrasi kompleksimetri.
B. LANDASAN TEORI
Pada Analisis volumetri juga dikenal dengan titrasi kompleksimetri. Titrasi
kompleksometri pada umumnya digunakan untuk menitrasi adanya logam atau non
logam dalam suatu sampel / larutan. Titrasi ini biasanya menggunakan pereaksi logam
berupa EDTA (Etilen Diamin Tetra Asetat) atau C2O4 = (polidentat) dan lain lain.
Dapat pula menggunakan monodentat (NH3, H2O, CN, CNS).
Kompleksometri dengan EDTA

Struktur EDTA adalah

H2 H2

HOOC C C COOH

N CH2 CH2 N

HOOC C C COOH

H2 H2

EDTA adalah suatu asam lemah tetraprotik.


18

Indikator dalam kompleksometri EDTA adalah EBT (Erio Chromz Blackt) yang
berwarna ungu.

Penetapan nkadar logam Ca dan Mg dalam air sadan adalah menggunakan titrasi
kompleksometri dengan EDTA dan dengan indicator EBT, yang sebelumnya dilakukan
penambahan larutan buffer (PH sekitar 10). Kadar Ca/mg dalam sampai dapat dihitung
sebagai berikut :

mL titran x N titran x Ar
( b /v )= x 100
mL sampel x 1000 x Val

Kesadahan air adalah kandungan mineralmineral tertentu di dalam air,


umumnya kalsium (ca) dan magnesium (mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah
atau keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi sedangkan air lunak
adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Selain ion kalsium dan magnesium,
penyebab sedahan juga bias merupakan ion logam lain maupun garam garam
bikarbonat dan sulfat. Metode paling sederhana untuk menentukan kesadahan air adalah
dengan sabun. Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang banyak, pada air
sadah sabun tidak akan menghasilkan busa atau menghasilkan sedikit sekali busa. Cara
yang lebih komplek adalah melalui tirtasi. Kesadahan air total dinyatakan dalam satuan
PPM berat per volume dari CaC03 (Anonim, 2012).

C. ALAT DAN BAHAN


Alat: - Pipet volume 2 ml Bahan: - Larutan standar EDTA 0,1 M
- Labu erlemeyer 250 ml - Indikator EBT
- Buret - Larutan Buffer ammonia
- Statif dan Klem - sampel air
- Beker glass
- Gelas ukur 10 ml
D. CARA KERJA
1. Cara Pembuatan EDTA 0,1 M
a. Menimbang EDTA (37 gram)
b. Memasukan EDTA ke dalam labu ukur
c. Menambahkan akuades sampai garis batas, kemudian kocok hingga larutan
EDTA tidak ada yang menggumpal
2. Cara membuat Buffer pH 10
a. Pertama timbang dulu 54 gram ammonium klorida,
19

b. Lalu yang kedua siapkan larutan amoniak (NH4OH) sebanyak 350 ml,
kemudian campurkan kedua-nya ke dalam labu ukur yang beukuran 1000 ml.
3. Menentukan kadar Ca/Mg
a. Seting burret, klem statif
b. Mengambil sampel air sebanyak 2 ml menguakan pipet volume
c. Menambahkan buffer +_ 10 ml
d. Menambahkan indicator EBT sampai berwarna merah anggur
e. Menitrasi dengan larutan EDTA 0,1 M hingga berwarna biru
f. Ulangi percobaan hingga 3 kali.
E. DATA PENGAMATAN
No Volume Sampel Volume EDTA 0,1 N
1
2
3

No Vol Vol. Lar Indikator Perubahan EDTA Perubahan


Sampel Buffer EBT warna warna
1
2
3

Pertanyaan
1. Tuliskan rumus dan nama Struktur EDTA
2. Berapa persen kandungan Ca/Mg jika vulome hasil titrasi sebanyak 10 ml dan
konsentrasi EDTA 0,1 M?
3. Apa yang anda ketahui tentang air sadah?
4. Titrasi dengan menggunakan EDTA termasuk titrasi apa?

5. ASIDI ALKALIMETRI

A. TUJUAN
20

a. Mahasiswa dapat menjelaskan proses titrasi Asidi alkalimatri.


b. Mahasiswa mampu menghitung kadar cuplikan pada titrasi Asidi Alkalimatri.

B. ALAT DAN BAHAN


Alat :
- Bekker glass
- Gelas ukur 10 ml
- Erlenmeyer 250 ml
- Klem dan statif
- Pipet tetes
- Pipet volum
Bahan :
- NaOH
- Asam cuka
- Indikator pp
- Akuades

C. LANDASAN TEORI
Asidi alkalimetri adalah salah satu analisis dengan volumetric. Analisis ini
digunakan untuk menentukan kadar suatu basa atau garam menggunakan larutan
standar asam, sedangkan alkalimetri untuk menentukan kadar suatu asam atau garam
menggunakan larutan standar basa. Titrasi dilakukan dengan cara mengukur volume
penetrasi (titran) yang digunakan untuk bereaksi dengan zat yang dititrasi (titrat).
Jika konsentrasi salah satu diketahui, dan maka konsentrasi/kadar zat lain dapat
dihitung. Dalam titrasi dikenal titik ekivalen dan titik akhir titrasi. Indikator dalam
aside alkalimetri menurut Ostwald adalah asam organik lemah atau basa organik
lemah yang warna molekulnya berbeda dengan warna ionnya.
Hind H+ + ind-
Ind OH OH- + ind -
(warna molekul) (warna ion)
Setiap indikator asam basa mempunyai daerah trayek pH tertentu. Pemilihan
indikator didasarkan pada pH larutan yang berbeda pada titik ekivalen. Alkalimetri
merupakan suatu proses analisis atau penetapan kadar secara volumetric dan jumlah
total suatu asam dalam suatu larutan dengan menggunakan larutan standar basa.
Analisis alkalimetri biasanya digunakan untuk titrasi asam basa, dimana larutan
standar (suatu basa) yang diteteskan melalui buret ke dalam larutan asam dengan
menggunakan suatu indicator tertentu. Misalnya indicator PP (phenolftalein), MO
(methyl orange), MR (methyl Red).
21

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis volumetrik


adalahsebagai berikut:
Reaksinya harus berlangsung sangat cepat.
Reaksinya harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi yang
kuantitatif/stoikiometri.
Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekivalen tercapai, baik secara
kimia maupun fisika.
Harus ada indikator jika reaksi tidak menunjukan perubahan kimia atau fisika.

D. CARA KERJA
1. Menyeting buret, klem, statif.
2. Mengambil sampel asam cuka menggunakan pipet volum dan masukan dalam
Erlenmeyer.
3. Menambahkan akuades 10 ml.
4. Menambahkan indikator PP 3-4 tetes.
5. Titrasi dengan larutan NaOH 0,1 N sampai warna berubah.
6. Ulangi sebanyak 3 kali.
Pertanyaan
1. Apa yang dimaksud dengan alkalimetri?
2. Apa yang dimaksud dengan molaritas?
3. Berapa gram yang dibutuhkan untuk membuat larutan NaOH 0,1 N sebanyak
100 ml?
4. Apa yang dimaksud dengan larutan baku primer dan sekunder?

6. PENETAPAN KADAR AIR DALAM TANAH DENGAN METODE


GRAVIMETRI SEDERHANA

A. TUJUAN
1. Mengetahui kadar air dalam tanah disekitar tempat tinggal.
2. Mahasiswa mampu melakukan analisis dengan metode gravimetric sederhana.

B. LANDASAN TEORI
Tanah pada bidang pertanian memiliki peranan yang sangat penting diantaranya
sebagai tempat penyimpanan air yang nantinya akan dimanfaatkan oleh makhluk
hidup yang ada disekitar tanah tersebut.
Tanah terdiri dari 3 fase : padat, cair dan gas. Fase cair adalah tanah mengisi
sebagian atau keseluruhan ruang kosong diantara bagian padat serta proses kohesi
air. Air yang tertahan dapat dijumpai dalam pori-pori mikro ataupun selaput-selaput
yang ada disekitar bagian padat tanah, sedangkan air yang tidak tertahan mengisi
22

pori-pori makro dan kemudian menyerap kebawah karena adanya gaya gravitasi
bumi.
Untuk mengetahui keadaan air tanah dalam hubungannya dengan pertumbuhan
tanaman maka kita perlu menetapkan kadar air tanah, dan beberapa keadaan seperti:
kadar air total, yaitu kadar air yang diperolehdengan pengeringan tanah kering udara
didalam oven pada suhu 105 C sehingga bobotnya tetap.
Kapasitas lapang, yaitu jumlah air yang ditahan oleh tanah setelah kelebihan air
gravitasi meresap kebawah karena gaya gravitasi.
Titik layu permanen, yaitu kandungan air tanah pada saat tanaman yang ditanam
diatasnya mengalami layu permanen dan sulit disembuhkan kembali walaupun
kemudian diberikan air yang cukup. Selisih antara kapasitas lapang dan titik layu
permanen disebut air tersedia.
Secara Edhapologi, pengertian tanah adalah tubuh alam yang disintesiskan
dalam bentuk penampang (ada horizon-horizon), teori dari berbagai hancurab
mineral dan bahan organic yang meliputi bumi dan dapat member menyediakan
makanan, air, udara, bagi tumbuhan. Tanah mempunyai peranan penting dalam siklus
hidrologi. Kondisi tanah menentukan jumlah air yang masuk kedalam tanah dan
mengalir pada permukaan tanah. Jadi tidak hanya berperan sebagai media
pertumbuhan tetapi juga sebagai media pengatur air.
C. ALAT DAN BAHAN
Alat :
1. Oven.
2. Neraca.
3. Desikator.
4. Krus porselen dan tutupnya.
Bahan : (5 jenis sampai tanah)
1. Tanah liat.
2. Tanah sawah.
3. Tanah pasir.
4. Tanah kapur.
5. Tanah merah.
D. CARA KERJA
a. Menimbang krus porselen kosong (A)
b. Memasukan sampel tanah antara 2-5 gram ke dalam krus.
c. Menimbang krus beserta isinya.
d. Mengeringkan sampel tanah dengan oven pada suhu 105 0C selama 30 menit
e. Menimbang krus beserta isinya setelah dioven.
f. Menghitung presentase kadar air berdasarkan bobot tanah kering oven.
Penetapan Struktur tanah
23

a. Mengambil sedikit dari masing-masing sampel tanah, kemudian dipilih


dengan ibu jari.
b. Menggulung-gulung sambil menekan sampel tanah tersebut.
c. Menentukan tekstur tanah berdasarkan percobaan yang telah dilkukan.
Pertanyaan
1. Apa yang dimaksud dengan gravimetrik?
2. Sebutkan jenis tanah yang anda ketahui..!
3. Prinsip pemeriksaan dengan metode gravimetrik adalah.

7. MENENTUKAN AIR HIDRAT DALAM CUSO4.X H2O

A. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mempelajari analisis kuantitatif melalui metode gravimetri

2. Menentukan jumlah (mol) air hidrat dalam padatan CuSO4.xH2O dan H2C2O4.xH2O

B. DASAR TEORI
Metode analisis gravimetric adalah salah satu metode analisis kuantitatif, yaitu
menentukan/ menetapkan sejumlah zat atau pengukuran berat dari suatu analit yang
telah dipisahkan secara fisik dari semua komponen lainnya. Pengendapan merupakan
teknik yang secara luas digunakan untuk memisahkan analit dari gangguan-gangguan:
Cara-cara penting lainnya untuk pemisahan adalah elektrolisa, ekstraksi solven,
kromatografi dan penguapan.
Suatu cara analisa gravimetric biasanya berdasarkan reaksi kimia:

aA + rR --- > AaRr


Dengan ketentuan a adalah molekul analit A, bereaksi dengan r molekul pereaksi R.
Hasil AaRr biasanya merupakan zat dengan kelarutan yang kecil yang dapat ditimbang
dalam bentuk tang stabil setelah dikeringkan. Padatan murni CuSO4 berwarna putih,
namun seringkali menjadi berwarna biru karena air hidrat yang terikat membentuk
CuSO4.xH2O yang akan larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol. Garam CuSO4
mudah sekali menyerap air apabila berkontak langsung dengan udara lembab. Padatan
ini ditemukan dia alam dalam mineral calcantite.

C. ALAT DAN BAHAN


24

Alat
1. Gelas arloji/ cawan gelas
2. Neraca Analitis
3. Oven
4. Spatula
Bahan
1. Padatan garam CuSO4.xH2O dan H2C2O4.xH2O
2. Aquades
D. CARA KERJA

a. Ditimbang dengan teliti 200,0 mg (0,200 g) padatan CuSO4.x H2O dengan


menggunakan cawan gelas, diperoleh berat awal.
b. Padatan CuSO4.xH2O bersama cawan gelas dimasukan dalam oven yang suhunya
sudah diatur pada 105 C
c. Biarkan padatan CuSO4.x H2O bersama cawan gelas di dalam oven selama 30
menit.
d. Cawan gelas bersama padatan dikeluarkan dari oven, dimasukkan dalam desikator
hingga mencapai suhu kamar.
e. Padatan ditimbang, hingga diperoleh berat konstan, diperoleh berat akhir
E. PENGOLAHAN DATA DAN PERHITUNGAN
Penentuan mol air hidrat dalam padatan CuSO4.xH2O
a. Padatan yang telah dikeluarkan dari oven dan memiliki berat konstan ditentukan
jumlah molnya dengan prinsip stiokiometri penghitungan rumus empiris.
Konversikan semua berat menjadi gram

Mol CuSO4 : Berat yang ditimbang (g)


Berat rumus CuSO4
Mol H2O : Berat awal (g) - berat akhir (g)
Berat molekul H2O
Maka akan diperoleh perbandingan mol H2O terhadap CuSO4

b. Perbandingan mol H2O dengan mol CuSO4 yang didapatkan merupakan harga x
dalam CuSO4.xH2O
c. Bulatkan nilai x ke bilangan bulat terdekat (misalnya jika rasio mol H2O dengan
mol CuSO4 diperoleh 4,800 bulatkan x menjadi 5)
d. Tuliskan rumus kimia lengkap CuSO4.xH2O
25

8. ANALISIN KUALITATIF SENYAWA ANORGANIK


DENGAN BEBERAPA REAKSI
A. TUJUAN
a. Mahasiswa mengetahui cara identifikasi senyawa anorganik dengan pereaksi.
b. Mahasiswa mampu menjelaskan reaksi yang terjadi pada senyawa anorganik.

B. LANDASAN TEORI
Senyawa anorganik didefinisikan sebagai senyawa pada alam yang pada
umumnya menyusun material atau benda tak hidup. Senyawa ini disusun oleh atom
utama logam, banyak kita jumpai pada zat tak hidup, misalnya air, tanah, batu-
batuan, dan lain sebagainya. Senyawa organik dibagi menjadi dua, yaitu senyawa
anorganik kation dan Anion. Kation merupakan ion yang bermuatan positif, dan
anion merupakan ion yang bermuatan negatif.
Banyak senyawa anorganik adalah senyawa ionik yang terdiri dari kation dan
anion bergabung dengan ikatan ionik. Kation dan anion merupakan ion-ion penyusun
unsure atau senyawa sehingga untuk menentukan jenis zat/senyawa tunggal secara
sederhana dapat dilakukan dengan cara menganalisis jenis kation dan anion yang
dikandungnya. Ion satu dengan ion yang lainnya dapat dibedakan karena tiap ionnya
mempunyai reaksi kimia spesifik.
Analisis kualitatif bertujuan menentukan apa zat (kation-anion) yang terkandung
dari suatu sampel berdasarkan reaksi spesifiknya dengan reagen tertentu.
Berdasarkan sifat pembentukannya, kation dibagi menjadi 5 golongan yaitu :
1. Kation golongan I adalah kation yang mengendap dengan adanya ion klorida
dalam suasana asam. Kation-kation golongan ini yaitu : Ag+, Hg2+ dan Pb2+.
2. Kation golongan II adalah kation yang mengendap dengan ion sulfida dalam
suasana sedikit asam. Ion-ion golongan ini adalah merkurium (II), tembaga,
bismuth, kadium, arsenic (V), stibium (III), Stibium (V), timah (II), dan timah
(iii). Keempat ion yang pertama merupakan sub golongan II A, dan keenam yang
terakhir sub golongan.
26

3. Kation golongan III. Kation ini tidak bereaksi dengan asam khlorida encer
ataupun dengan hydrogen sulfide dalam suasana asam mineral encer. Namun
kation ini membentuk endapan dengan ammonium sulfide dalam suasana netral
atau amoniakal, zink, dan mangan (II).
4. Kation golongan IV. Kation golongan ini tidak bereaksi dengan reagensia
golongan I II dan III. Kation-kation ini membentuk endapan dengan ammonium
karbonat dengan adanya ammonium khlorida dalam suasana netral atau sedikit
asam. Kation-kation ini adalah kalsium, stronsium, dan bariu.
5. Kation golongan V. Kation-kation yang umum yang tidak bereaksi dengan
reagensia-reagensia golongan sebelumnya, merupakan golongan kation yang
terakhir, yang meliputi ion-ion magnesium, natrium, kalium, ammonium, litium,
dan hydrogen.

C. ALAT DAN BAHAN


Alat :
- Tabung reaksi.
- Pipet tetes.
- Pembakar spirtus.
- Gelas ukur.
- Corong

Bahan :

- Perak nitrat.
- HCl
- Larutan NaOH
- FeCl3
- CaCl2
- KI 10%

D. CARA KERJA
Mengidentifikasi Kation
1. Larutan 2 ml perak nitrat + 2 ml larutan HCl
a. Mengambil perak nitrat dan HCl kemudian mencampurkannya dalam tabung
reaksi.
b. Endapan dibagi menjadi 2 bagian.
c. Mencampurkan larutan yang kesatu dengan air panas kemudian
mendinginkannya dengan air es.
d. Mencampurkan larutan yang kedua dengan HCl pekat sebanyak 2 ml.
2. Ferri (Fe3+)
e. Mengambil 2 ml sampel fe3+ dan 2 ml NaOH kemudian mencampurkan dalam
tabung reaksi.
27

f. Mengambil 2 ml sampel fe3+ dan meneteskan KI.


Mengidentifikasi Anion
1. Karbonat ( CO32+)
a. Mengambil 2 ml sampel CO32+ dan memasukannya dalam tabung reaksi.
b. Mencampurkan sampel dengan kalsium sebanyak 2 ml dalam tabung reaksi.
2. Asetat ( CH3COO-) (cuka)
a. Mengambil asam cuka sebanyak 2 ml dan dimasukan dalam tabung reaksi.
b. Mencampurkan sampel dengan feCl3. Sebanyak 2 ml.
3. Khlorida (Cl-)
a. Mengambil 2 ml sampai Cl- dan memasukannya kedalam tabung reaksi.
b. Mencampurkan sampel dengan perak nitrat (AgNO3)
4. Iodida (I-)
a. Mengambil 2 ml sampel I- dan memasukan dalam tabung reaksi.
b. Mencampurkan sampel dengan tembaga sulfat.
Pertanyaan
1. Apa yang dimaksud dengan anion dan kation
2. Tuliskan rumus molekul dari perak nitrat, tembaga sulfat, dan kalsium klorida.
3. Tuliskan reaksi antara Pb Asetat dan HCl?
4. Tuliskan reaksi ion klorida dengan perak nitrat!

9. STANDARISASI LARUTAN HCL 0,1 N

A. TUJUAN
1. Membuat larutan standar HCl 0,1 N.
2. Menetapkan konsentrasi larutan standar HCl dengan borax.

B. LANDASAN TEORI
Larutan garam merupakan campuran homogeny antar dua atau lebih zat
berbeda jenis. Dua komponen utama pembentukan larutan yaitu zat terlarut (solution)
dan pelarut.
Dalam pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu sering dihasilkan
konsepsi yang tidak tepat dengan yang diniginkan. Pada praktikum ini adalah
membuat larutan 0,1 N dan standarisasi larutan HCl, serta menentukan kadar Na2CO3
dengan larutan standar HCl 0,1 N yang merupakan standarisasi dengan metode
asidimetri.
28

Standarisasi merupakan peraturan ukuran yang harus diikuti dalam


memprokdusikan sedangkan pembuatan banyaknya macam ukuran barang yang akan
diproduksikan melalui usaha simplikasi standarisasi adalah proses pembentukan
standar teknis, yang bias menjadi standar spesifikasi standar cara uji, standar definisi
prosedur standar.
Standarisasi berasal dari kata standar yang berarti satuan ukuran yang
dipergunakan sebagai dasar pembanding kwantitas, nilai, hasil karya yang ada.
Dalam arti yang luas maka standar meliputi spesifikasi baik produk, bahan, maupun
proses. Larutan pada dasarnya adalah fase yang homogen yang mengandung lebih
dari satu komponen. Komponen yang terdapat dalam jumlah yang besar disebut
pelarut / Solvent, Komponen yang terdapat dalam jumlah kecil disebut Zat terlarut
atau solute. Filtrasi suatu larutan didefinisikan sebagai jumlah solute yang ada dalam
sejumlah larutan atau pelarut. Konsentrasi dapat dinyatakan dalam beberapa cara,
antara lain :
Kualitas, molalitas, normalitas, dan sebagainya. Molalitas yaitu jumlah mol
solute dalam liter larutan. Molalitas yaitu jumlah mol solute per 100 gram pelarut.
Sedangkan normalitas yaitu jumlah gram ekuivalen solute dalam 1 liter larutan.

C. ALAT DAN BAHAN


Alat:
- Erlenmeyer 250 ml
- Pipet volume 2 ml
- Gelas ukur 10 ml
- Pipet Tetes
- Klem dan statif
- Buret 50 ml
Bahan:
- Larutan HCl 0,1 N
- Natrium Borak (Na2B4O710H2O)
- Metil Oranye
- Aquadests

D. CARA KERJA
1. Menyetting buret, Klem, statif
2. Mengambil larutan HCl sebanyak 2 ml menggunakan pipet volum, masukkan
dalam Erlenmeyer
3. Menitrasi dengan Natrium Borax hingga warna berubah.
4. Mengulangi percobaan hingga 3 x
29

10. STANDARISASI LARUTAN NaOH 0,1 M DAN PENGGUNAANNYA


DALAM PENENTUAN KADAR ASAM CUKA PERDAGANGAN

A.Tujuan Percobaan

1. Menentukan molaritas larutan NaOH dengan larutan standar asam oksalat.


2. Menetapkan kadar asam cuka perdagangan

B. Dasar Teori

Asidimetri dan alkalimetri adalah analisis kuantitatif volumetri berdasarkan


reaksi netralisasi. Keduanya dibedakan pada larutan standarnya. Analisis tersebut
dilakukan dengan cara titrasi. Pada titrasi basa terhadap asam cuka, reaksinya adalah :

NaOH(aq) + CH3COOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O

Pada titrasi asam asetat dengan NaOH (sebagai larutan standar) akan dihasilkan garam
yang berasal dari asam lemah dan basa kuat. Garam natrium asetat ini akan terurai
sempurna karena senyawa itu adalah garam, sedang ion asam asetat akan terhidrolisis
oleh air.

CH3COONa CH3COO- + Na+

CH3COO- + H2O CH3COOH + OH-


30

Ion asetat akan terhidrolisis oleh molekul air, menghasilkan molekul asam asetat
dan ion hidroksi. Oleh karena itu larutan garam dari basa kuat dan asam lemah seperti
natrium asetat, akan bersifat basa dalam air (pH>7). Apabila garam tersusun dari basa
lemah dan asam kuat, larutan garamnya akan bersifat asam (pH<7). Sedang garam yang
tersusun dari basa dan asam kuat, larutan dalam air akan bersifat netral (pH=7).
Hidrolisis hanya terhadap asam lemah, basa lemah, ion basa dan ion asam lemah. Titik
ekuivalen pada proses titrasi asam cuka dengan larutan natrium hidroksida akan
diperoleh pada pH>7. Untuk mengetahui titik ekuivalen diperlukan indikator tertentu
sebagai penunjuk selesainya proses titrasi. Warna indikator berubah oleh pH larutan.
Warna pada pH rendah tidak sama dengan warna pada pH tinggi. Dalam titrasi asam
asetat dengan NaOH, dipakai indikator semacam itu.

Pada analisis asam asetat dalam cuka perdagangan akan diperoleh informasi
apakah kadar yang tertulis pada etiket sudah benar dan tidak menipu. Analisis
dilakukan dengan menitrasi larutan asam asetat perdagangan dengan larutan NaOH
standar.

CH3COOH(aq) + NaOH (aq) CH3COONa(aq) + H2O

Gram ekuivalen dari asam asetat dapat dihitung yaitu :

Grek asam asetat = VNaOH MNaOH

Dalam hal ini molaritas NaOH sama dengan normalitas NaOH karena valensi NaOH=1.

VNaOH = volume NaOH yang diperlukan untuk menetralkan semua asam asetat

dalam larutan.

Karena valensi asam asetat = 1, maka 1 grek asam asetat = 1 mol.

Berat asam asetat (gram) = grek asam asetat BM asam asetat.

C. Alat dan Bahan


1. Alat
- Labu ukur 100 ml
- Buret 50 ml
31

- Erlenmeyer
- pipet ukur

2. Bahan
- Asam Oksalat
- Lar. NaOH
- Asam cuka perdagangan
- indikator p.p

D. Cara Kerja
a.Penentuan Molaritas NaOH

1. Ditimbang 1,26 g asam oksalat, dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan
ditambah dengan air suling hingga volume tepat 100 mL.
2. Satu buret disiapkan dan dicuci, diisi larutan asam oksalat yang telah disiapkan.
3. Dituang 10 mL larutan NaOH ke dalam erlenmeyer, ditambah 10 mL air suling
dan 1-2 tetes indikator pp, kemudian dititrasi dengan larutan asam oksalat
hingga warna merah jambu hilang.
4. Titrasi dilakukan 3 kali.
b.Penetapan Kadar Asam Cuka Perdagangan

1. Diambil 10 mL larutan cuka perdagangan dengan pipet ukur, kemudian


dimasukkan dalam labu ukur kapasitas 100 mL dan diencerkan hingga volume
100 mL.
2. Diambil 10 mL larutan encer (1), dimasukkan ke dalam erlenmeyer
ukuran 125 mL dan ditambah 2 tetes indikator pp.
3. Larutan ini dititrasi dengan larutan NaOH standar hingga terjadi
perubahan warna.
4. Titrasi dilakukan 3 kali.
5. Setelah selesai buret harap dicuci dengan asam pencuci (sisa asam asetat
perdagangan).
32

PENGAMATAN 1

Titrasi I Titrasi II Titrasi III Vrata-rata

VNaOH

VH2C2O4.2H2O

PENGAMATAN 2

Merk asam cuka yang dipakai..

Titrasi I Titrasi II Titrasi III

Skala awal buret

Skala akhir buret

Vol. NaOH (mL)

Volume rata-rata NaOH yang digunakan : .

E. Pertanyaan

1. Apakah yang dimaksud dengan larutan standar?


2. Apa itu larutan standar primer dan sekunder?
3. Bila larutan asam kuat dititrasi dengan basa kuat memakai indikator pp, apakah
tepat bila titrasi sebaliknya juga memakai pp? Jelaskan!
33

11. EKSTRAKSI PELARUT


A. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui cara memisahkan dan memurnikan zat
2. Mengetahui cara ekstraksi pelarut dengan menggunakan corong pisah

B. Dasar Teori
Hukum distribusi atau partisi cukup diketahui bahwa zat-zat tertentu lebih
mudah larut dalam pelarut-pelarut tertentu dibandingkan dengan dengan pelarut-
pelarut yang lain. Partisi zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak dapat
bercampur menawarkan banyak kemungkinan yang menarik untuk pemisahan
nalitis. Bahkan dimana tujuan primer bukan analisis namun preparatif. Ekstraksi
pelarut dapat merupakan salah satu langkah penting dalam memurnikan zat.
Singkatnya ekstraksi pelarut adalah cara memisahkan zat terlarut dengan dengan
menggunakan pelarut lain yang mempunyai daya melarutkan yang berbeda dengan
pelarut yang semula. Misalnya, memisahkan iod terlarut dalam air dengan
menggunakan kloroform atau karbon tetraklorida.
Angka banding konsentrasi-konsentrasi itu selalu konstan asal temperatur
konstan, yaitu
C2 konsentrasiiod dalam karbon tetrak lorida
Kd : C 1 : konsentrasi iondalam air

Tetapan Kd dikenal sebagai koefisien distribusi atau partisi. Penting untuk mencatat
bahwa angka banding C2/C1 hanya konstan bila zat yang terlarut mempunyai massa
molekul relative yang sama untuk kedua pelarut itu. Hukum distribusi atau partisi
34

dapat dirumuskan: bila suatu zat terlarut terdistribusi antara dua pelarut yang tak-
dapat-campur, maka pada suatu temperature yang konstan untuk tiap spesi molekul
terdapat angka banding distribusi yang konstan antara kedua pelarut itu, dan angka
banding distribusi ini tak bergantung pada spesi molekul lain apapun yang mungkin
ada. Harga angka banding berubah dengan sifat dasar kedua pelaru, sifat dasar zat
terlarut dan temperature.

C. Alat dan Bahan


A. Alat
Tabung reaksi
Corong pisah 100 ml
Corong penyaring
Gelas ukur 10 ml
Gelas beker 100 ml
Erlenmeyer
Pengaduk
B. Bahan
Iod
CCl4
Akuades

D. Cara Kerja
1. Dimasukan sebutir kecil Iod ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml akuades,
dikocok dan perhatikan warna larutan.
2. Diambil 1 ml CCl4, perhatikan warnanya lalu masukkan ke dalam larutan Iod,
dikocok dan perhatiakan kembali warnanya.
3. Diambil beberapa butir Iod lalu masukkan ke dalam gelas beker berisi 25 ml
akuades dan aduk sampai larut.
4. Larutan Iod dipindahkan ke corong pisah dalam keadaan kran tertutup.
5. Dimasukkan 10 ml CCl4 ke dalam corong pisah yang berisi larutan Iod tadi.
6. Dipasang sumbat corong pisah dan pegang corong dengan posisi ibu jari kanan
menekan tutup dan jari kiri memegang kran.
7. Buka kran sebentar (ujung pipa jangan menghadap muka/ wajah) tutup kran
kembali dan gojoglah.
8. Membuka kran sebentar, tutup kembali lalu gojog.
9. Mengulangi langkah No 8 sampai tak terdengar bunyi gas keluar saat membuka
kran.
35

10. Setelah selesai digojog, segera buka tutup corong lalu pisahkan kedua lapisan
melalui kran dan tampung lapisan bawah dengan Erlenmeyer dan lapisan atas
dengan tempat yang berbeda.

PENGAMATAN

Pengamatan
No. Perlakuan
Sebelum Sesudah

1 Iod + akuades 5 ml

2 Larutan no 1 + CCl4 1 ml

3 Iod + 25 ml akuades

4 Larutan no 2 + CCl4 10 ml
(dalam corong pisah)

Pertanyaan
1. Apakah tujuan dilakukannya ekstraksi pelarut?
2. Apakah yang anda ketahui tentang rendemen?

Anda mungkin juga menyukai