Anda di halaman 1dari 95

Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten

Boyolali, 2015
BAB 4
KARAKTERISTIK WILAYAH PERENCANAAN

Karakteristik wilayah perencanaan berisi tentang gambaran wilayah perencanaan


Kawasan Andalan Boyolali yang diperoleh dari data-data primer maupun data sekunder.
Karakteristik wilayah perencanaan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali digambarkan
dalam empat aspek, antara lain aspek fisik dan lingkungan, aspek demografi dan sosial
budaya, aspek ekonomi, serta aspek kelembagaan. Karakteristik wilayah ini nantinya akan
digunakan sebagai data masukan untuk dilakukan analisis sektoral. Karakteristik wilayah
perencanaan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali akan dijabarkan secara lebih rinci
sebagai berikut:
4.1 Aspek Fisik dan Lingkungan
Lahan pengembangan kawasan atas penataan ruang kawasan, merupakan sumber daya
alam yang tidak dapat diperbaharui dan memiliki keterbatasan dalam menampung kegiatan
atau budidaya manusia dalam pemanfaatan sumber daya alam tersebut. Sehingga diperlukan
upaya untuk mengetahui karakteristik lahan untuk dapat memperkirakan daya tampung lahan
sehingga dalam pengembangannya tidak mengalami kerugian. Identifikasi karakteristik fisik
suatu wilayah maupun kawasan untuk dikembangkan, baik potensi sumber daya alamnya
maupun kerawanan bencana yang dikandungnya, yang kemudian diterjemahkan sebagai
potensi dan kendala pengembangan kawasan.
Analisis fisik dan lingkungan pengembangan kawasan ini adalah untuk mengenali
karakteristik sumberdaya alam tersebut, dengan menelaah kemampuan dan kesesuaian lahan,
agar pemanfaatan lahan dalam pengembangan kawasan dapat dilakukan secara optimal
dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem. Hasil analisisnya menjadi masukan
dalam penyusunan rencana tata ruang maupun rencana pengambangan kawasan, karena
memberikan gambaran fisik pengembangan kawasan.
4.1.1 Kondisi Geografis Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
Kawasan andalan Kabuapten Boyolali terletak antara 7900-73636 Lintang Selatan
dan 1102324-1105100 Bujur Timur, dengan bentang barat timur sejauh 48 km dan
bentang utara - selatan sejauh 54 km. Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali terdiri dari 3
kecamatan yaitu Kecamatan Bayudono, Kecamatan Sawit dan Kecamatan Teras masing-
masing memiliki 15 Desa, 12 Desa dan 13 Desa, dengan batas wilayah sebagai berikut:
- Sebelah utara : Kecamatan Sambi dan Kecamatan Ngemplak
- Sebelah selatan : Kabupaten Klaten
- Sebelah timur : Kabupaten Sukoharjo
- Sebelah barat : Kecamatan Mojosongo
Luas total kawasan andalan Kabupaten Boyolali adalah 7.253,75 Ha, luas tersebut
kurang lebih 7% dari luas Kabupaten Boyolali, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 4.1: Luas Wilayah per Desa di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-1


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Luas Luas
No Desa Desa Kecamatan Wilayah Prosentase No Desa Desa Kecamatan Wilayah Prosentase
(Ha) (Ha)
1 Dukuh 149,87 2,07 21 Jatirejo 194,47 2,68
2 Jipangan 163,95 2,26 22 Kemasan 125,78 1,73
3 Jembungan 247,57 3,41 23 Tiawong 133,61 1,84
4 Sambon 192,48 2,65 24 Jenengan Sawit 162,83 2,24
5 Kuwiran 192,09 2,65 25 Cepoko Sawit 123,91 1,71
6 Cangkringan 125,08 1,72 26 Guwokajen 156,34 2,16
7 Ngaru-aru 160,45 2,21 27 Karangduren 98,95 1,36
8 Bendan Banyudono 92,80 1,28 28 Kopen 165,7 2,28
9 Ketaon 199,30 2,75 29 Doplang 167,65 2,31
10 Banyudono 137,91 1,90 30 Kadoreso 192,15 2,65
11 Batan 112,48 1,55 31 Nepen 118,65 1,64
12 Denggungan 211,49 2,92 32 Sudimoro 150,49 2,07
13 Bangak 156,56 2,16 33 Bangsalan 177,14 2,44
14 Trayu 191,30 2,64 34 Salakan Teras 268,79 3,71
15 Tanjungsari 203,61 2,81 35 Teras 334,10 4,61
16 Tegalrejo 139,51 1,92 36 Randusari 406,02 5,60
17 Gombang 127,90 1,76 37 Mojolegi 199,74 2,75
18 Manjung Sawit 130,44 1,80 38 Gumukrejo 225,56 3,11
19 Kateguhan 157,82 2,18 39 Tawangsari 231,35 3,19
20 Bendosari 171,63 2,37 40 Krasak 356,27 4,91
Sumber: Kecamatan Banyudono, Sawit, Teras Dalam Angka2013

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-2


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Peta 4.1: Peta Administrasi Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-3


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Kondisi Klimatologi
Wilayah di kawasan studi termasuk kedalam iklim tropis dengan 2 musim yaitu musim
kemarau dan musim penghujan dengan bulan kering 2-4 bulan. Berikut merupakan kondisi
hari hujan dan curah hujan di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali pada tahun 2009-2013:
Berikut adalah kondisi hari hujan dan jumlah curah hujan Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali pada tahun 2013:
Tabel 4.2: Curah Hujan dan Hari Hujan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
Kecamatan Banyudono Kecamatan Sawit Kecamatan Teras
Mm Hh Intensitas Mm Hh Intensitas Mm Hh Intensitas
JANUARI 451 26 17,35 487 19 25,63 178 19 9,37
FEBRUARI 288 21 13,71 387 12 32,25 366 18 20,33
MARET 193 16 12,06 257 10 25,70 366 16 22,88
APRIL 253 17 14,88 343 14 24,50 150 10 15,00
MEI 273 8 34,13 294 7 42,00 112 6 18,67
JUNI 96 4 24,00 275 7 39,29 62 6 10,33
JULY 90 3 30,00 57 6 9,50 0 0 0,00
AGUSTUS 117 6 19,50 0 0 0,00 0 0 0,00
SEPTEMBER 0 0 0,00 0 0 0,00 0 0 0,00
OKTOBER 198 7 28,29 87 7 12,43 35 2 17,50
NOVEMBER 180 7 25,71 99 6 16,50 123 7 17,57
DESEMBER 130 15 8,67 181 12 15,08 87 3 29,00
2269 130 17,45 2467 100 24,67 1479 87 17,00
Sumber: Kecamatan Banyudono, Sawit, Teras Dalam Angka2013
Berdasarkan pada tabel di atas dapat diketahui bahwa Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali memiliki curah hujan sekitar 1.000-3.000 milimeter per tahun dengan hari hujan
yang terjadi rata-rata 105 hari dan intensitas hujan 15-25 dengan klasifikasi rendah hingga
sedang. Curah hujan tertinggi terdapat pada bulan Januari-Mei sedangkan curah hujan
terendah terjadi pada bulan Juli-September. Dengan kondisi klimatologi yang demikian maka
dapat mendukung untuk pengembangan sektor pertanian.
4.1.2 Kondisi Geologi
a. Jenis Tanah
Tanah merupakan akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar planet
bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat dari
pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindaj terhadap bahan induk dalam keadaan relief
tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Jenis tanah ini dibedakan berdasarkan bahan
yang terkandung didalamnya. Jenis tanah di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali terdiri
dari:

Tabel 4.3 : Jenis Tanah Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-4


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Jenis Tanah Desa Keterangan
Terbentuk dari material halus
Grumosol Kelabu Sambon, Guwokajen, Jatirejo,
berlempung, berwarna kelabu
Tua Bendosari, Karangduren
hitam dan bersifat subur.
Dengungan, Bangak, Trayu, Terbentuk dari pelapukan batuan
Mediteran Coklat
Tanjungsari, Gumukrejo, Krasak, batuan kapur keras, berwarna
Tua
Tawangsari, Mojolegi coklat, bersifat kurang subur
Kuwiran, Batan, Bangak, Trayu,
Banyudono, Ketaom, Mojolegi,
Randusari, Teras, Bendan, Ngaru-aru,
Regosol Coklat
Cangkringan, Jembungan, Dukuh, Berwarna kelabu, tekstur tanah
Kelabu
Bangsalan, Jenengan, Sudimoro, biasanya kasar, struktur kersai
Nepen, Tlawong, Kadireso, atau remah, konsistensi lepas
Gombang, Kemasan sampai gembur, belum
Sambon, Kuwiran, Jembungan, membentuk agregat sehingga
Jipangan, Guwokajen, Jatirejo, peka terhadap erosi
Regosol Kelabu Kateguhan, Manjung, Kemasan,
Cepokosawit, Tegalrejo, Doplang,
Kadireso, Kopen, Nepen
Sumber: RTRW Kabupaten Boyolali tahun 2011-2031
Berdasarkan pada data di atas dapat diketahui bahwa jenis tanah di kawasan Andalan
Kabupaten Boyolali beragam, ada yang bersifat subur dan tidak subur. Untuk kawasan
yang memiliki jenis tanah mediteran, tidak cocok untuk pengembangan pertanian karena
bersifat tidak subur.
Struktur tanah di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali pada umumnya adalah tanah
geluh. Tanah geluh bersifat remah, lembab, mudah mengikat air dan nutrisi. Struktur
tanah geluh cocok untuk pengembangan sektor pertanian karena memiliki unsur hara dan
humus.
b. Jenis batuan
Jenis batuan di seluruh Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali termasuk batuan
sedimen. Batuan sedimen adalah batuan dengan suatu akumulasi atau kumpulan material
batuan terlapukkan atau terurai dari batuan induk yang terbentuk di permukaan bumi
kemudian diendapkan pada suatu cekungan dibawah kondisi temperatur dan tekanan
rendah serta mempunyai karakteristik tentang lingkungan pengendapannya.
4.1.3 Kondisi Topografi
Topografi atau kelerengan merupakan suatu kemiringan tanah dimana sudut kemiringan
dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang horozontal. Kondisi topografi berkaitan
dengan bentang alam dan kemiringannya, yang dapat dilihat dari data morfologi dan
kemiringan lereng. Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali terletak antara 75-400 mdpl.
Kondisi morfologi Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali berupa dataran hingga berbukit.

Tabel 4.4 : Kondisi Topografi dan Kelerengan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-5


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Kemiringan
Morfologi Desa Sifat Kesesuaian Lahan
Lereng
Bangak, Bangsalan, Cocok untuk pengembangan permukiman dan pertanian.
Datar 0-2% Banyudono, Batan, Sebagian wilayah dapat berpotensi terhadap bencana banjir
Cangkringan, dsb. dan drainase yang buruk
Bendan, Dukuh, Kopen, Cocok utuk industri berat maupun ringan, perumahan dan
Perbukitan permukiman, bangunan rendah/apartemen
5-15% Nepen, Randusari, Salakan,
Landai
Tawangsari, Teras
Agak curam, dan terjal/curam cocok untuk area rekreasi,
Perbukitan
15-40% Krasak tempat peristirahatan, daerah buffer, tanaman hutan atau
Sedang
padang rumput.
Sumber RTRW Kabupaten Boyolali yang diolah.
Berdasarkan pada data di atas dapat diketahui bahwa secara umum kondisi morfologi di
Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali tergolong datar kecuali pada Desa bendan, Dukuh,
Kopen, Nepen, Randusari, Salakan, Tawangsari, dan Teras. Kondisi morfologi datar cocok
untuk pengembangan sektor-sektor unggulan Kabupaten Boyolali.
4.1.4 Kondisi Hidrologi
Kondisi hidrologi suatu daerah ditentukan oleh kondisi geologi dan iklim, termasuk
banyaknya curah hujan yang terjadi dalam suatu wilayah. Kondisi hidrologi memiliki peran
penting dalam kaitannya dengan pengembangan suatu wilayah, khususnya dalam penentuan
kebutuhan dan kapasitas air yang tersedia dalam suatu wilayah.
Potensi hidrologi yang ada di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali adalaj sumber
daya air yang berupa sumber air dangkal yang dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan
aktivitas masyarakat dan mendukung sektor pertanian dan industri. Debit air berkisar antara
300-800m3 perhari dengan produksi rata-rata lebih dari 10 liter per detik. Kawasan Andalan
Kabupaten Boyolali memiliki keadaan pengairan cukup baik karena terdapat 5 sumber mata
air, dilalui oleh Sungai Pepe dan Sungai Gandul.
a. Air Permukaan
Air permukaan merupakan air yang mengalir di permukaan bumi (daratan) yang
dipengaruhi oleh prestipasi tahunan (curah hujan tahunan), intensitas curah hujan,
kedalaman muka air tanah, permeabilitas tanah, tutupan lahan, kecuraman lereng,
karakteristik sungai, dan aktivitas manusia. Di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali,
kondisi air permukaannya sebagai berikut:
Tabel 4.5 : Sungai / DAS yang melewati Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali

Nama Debit Air


Panjang
No (sungai dan Permasalahan Upaya Konservasi
(km) Min Max
DAS)
1. Pepe / DAS 11,5 11.179 24.346 Penambangan liar (sirtu) Sosialisasi masyarakat
Bengawan Pemetaan tepi-tepi sungai sekitar sungai (dalam
Solo bersedimen kemudian rangkaian pengamanan
2. Gandul / DAS 28.5 6.960 7.128 dimanfaatkan untuk lahan pertanian sungai)
Bengawan Erosi pada tikungan alur Pengamanan sungai
Solo sungai/tebing sehingga rawan (cek dam)
longsor Penghijauan
Lahan gundul di sempadan/sekitar
sungai
Adanya bangunan di atas sungai
Sumber : Buku Putih Sanitasi Kabupaten Boyolali 2010
b. Air Tanah

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-6


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Air tanah yang ada di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali muncul dalam bentuk
mata air. Mata air ini dimanfaatkan untuk keperluan irigasi, PDAM, dan air minum
masyarakat. Daftar sumber mata air yang ada di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.6 : Sumber Mata Air di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali

Lokasi Debit
Nama Sumber Luas Area
No sumber
Mata Air Desa Kecamatan Oncoran
(lt/dt)
1 Kenteng Cepoko Sawit Sawit 25,30 15
2 Cepoko Sawit Cepoko Sawit Sawit 24,60 25
3 Gomban Tan Cepoko Sawit Sawit 4,60 10
4 Nledok Cepoko Sawit Sawit 37,65 20
5 Kebatan Jenengan Sawit 15,20 68
6 Soka Jenengan Sawit 81,10 10
7 Gombang Gombang Sawit 23,00 60
8 Mungup Kemasan Sawit 23,81 15
9 Lajan Kemasan Sawit 118,60 10
10 Langse Nepen Teras 293,20 152
11 Manggis Nepen Teras 429,98 267
12 Rembang Nepen Teras 57,60 493
13 Bon Siji Dukuh Banyudono 55,80 150
14 Dahar Dukuh Banyudono 40,00 45
15 Temanten Dukuh Banyudono 12,20 52
16 Tirtomoyo Dukuh Banyudono 72,10 23
17 Sidomulyo Cangkringan Banyudono 117,10 136
18 Sungsang Bendan Banyudono 14,00 334
Sumber : Buku Putih Sanitasi Kabupaten Boyolali tahun 2010
4.1.5 Bencana Alam
Potensi bencana yang ada di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali adalah bencana
banjir dan hempa bumi. Bencana yang banjir dan gempa bumi yang melanda Kawasan
Andalan Kabupaten Boyolali memiliki intensitas yang sedang sehingga tidak berdampak
besar pada masyarakat kawasan. Daerah yang rawan terhadap bencana di Kawasan Andalan
Kabupaten Boyolali adalah sebagai berikut:
Tabel 4.7 : Potensi Bencana Alam di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
No Potensi Bencana Alam Desa
1. Banjir Guwokajen dan Karangduren
2. Tegalrejo, Cepokosawit, dan
Gempa Bumi
Guwokajen
Sumber : RTRW Kabupaten Boyolali
Bencana banjir yang terjadi di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali terjadi ketika
curah hujan sedang tinggi dan disebabkan karena saluran drainase yang kurang optimal.
Banjir yang terjadi rata-rata 2 jam. Penanganan banjir dilakukan secara insidental karena
dinilai tidak membahayakan.
4.1.6 Sumber Daya Mineral

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-7


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Potensi sumber daya mineral yang ada di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali adalah
bahan galian tanah urug, bahan galian sirtu/pasir, dan bahan galian andesit, dengan perincian
sebagai berikut:
- Bahan galian tanah urug, berada di Desa Guwokajen
- Bahan galian sirtu/pasir, berada di Desa Tanjungsari dan Bangak
- Bahan galian andesit, berada di Desa Krasak

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-8


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Peta 4.2: Peta Topografi Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
Sumber : RTRW Kabupaten Boyolali tahun 2011-2031

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-9


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Peta 4.3: Peta Jenis Tanah Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
Sumber : RTRW Kabupaten Boyolali tahun 2011-2031

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-10


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Peta 4.4: Peta Sebaran Sumber Mata Air Andalan Kabupaten Boyolali
Sumber : RTRW Kabupaten Boyolali tahun 2011-2031

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-11


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Peta 4.5: Peta Daerah Rawan Bencana Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
Sumber : RTRW Kabupaten Boyolali tahun 2011-2031

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-12


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Peta 4.6: Peta Sebaran Sumber Daya Mineral Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
Sumber : RTRW Kabupaten Boyolali tahun 2011-2031

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-13


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Satuan Kemampuan Lahan
a. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Morfologi
SKL morfologi bertujuan untuk memilah bentuk bentang alam/morfologi pada
wilayah dan/atau kawasan perencanaan yang mampu untuk dikembangkan sesuai dengan
fungsinya. Berikut merupakan tabel analisis SKL morfologi:
Tabel 4.8 : Analisis SKL Morfologi
Nilai
Lereng Fisiografi Tinggi Geologi Guna Lahan SKL Morfologi
SKL
KL Morfologi
>45% Bergunung >500m Beku H. Primer 1
Tinggi
KL Morfologi
30-45% Bergunung >500m Beku H. Sekunder 2
Cukup
KL Morfologi
30-45% Berbukit 100-500m Metamorpik H. Pertanian 3
Sedang
KL Morfologi
15-30% Berbukit 100-500m Metamorpik H. Campur 4
Kurang
KL Morfologi
0-15% Datar 0-100m Sedimen T. Kelapa 5
Rendah
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2007

Berdasarkan pada hasil analisis SKL morfologi yang telah dilakukan, dapat diketahui
bahwa di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali, kemampuan lahan morfologinya
tergolong pada kategori morfologi rendah hingga kurang. Perbedaan klasifikasi ini
dipengaruhi salah satunya oleh kelerengan lahan kawasan yang bervariasi. Kemampuan
lahan dengan morfologi rendah berarti memiliki kondisi morfologi yang tidak kompleks,
sehingga mudah dikembangkan sebagai kawasan perkotaan dan budidaya.
b. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kemudahan Dikerjakan
SKL kemudahan dikerjakan digunakan untuk mengetahui tingkat kemudahan lahan di
wilayah dan/atau kawasan untuk digali, ditimbun, dibangun dalam rangka pengembangan
kawasan sesuai dengan fungsi lahan. Berikut merupakan tabel perhitungan SKL
kemudahan dikerjakan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali:
Tabel 4.9 : Analisis SKL Kemudahan Dikerjakan
SKL Kemudahan Nilai
Lereng Fisiografi Tinggi Geologi Guna Lahan
Dikerjakan SKL

>45% Bergunung >500m Beku H. Primer Kemudahan Rendah 1

30-45% Bergunung >500m Beku H. Sekunder Kemudahan Kurang 2

30-45% Berbukit 100-500m Metamorpik H. Pertanian Kemudahan Sedang 3

15-30% Berbukit 100-500m Metamorpik H. Campur Kemudahan Cukup 4

0-15% Datar 0-100m Sedimen T. Kelapa Kemudahan Tinggi 5

Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2007


Berdasarkan pada hasil analisis SKL kemudahan dikerjakan dapat diketahui bahwa
Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali memiliki kemudahan dikerjakan cukup hingga
tinggi. Kemudahan dikerjakan tinggi berarti memiliki kondisi tanah yang mampu digali
untuk keperluan penanaman pondasi Maka dari itu, Kawasan Andalan Kabupaten
STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-14
KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Boyolali mampu untuk dikembangkan menjadi kawasan permukiman maupun budidaya
lainnya dalam rangka pengembangan sektor unggulan.

c. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kestabilan Lereng


Kestabilan lereng artinya wilayah tersebut dapat dikatakan stabil atau tidak kondisi
lahannya dengan melihat kemiringan lereng di lahan tersebut. Kemempuan lahan
kestabilan lereng dipengaruhi oleh karakteristik (sifat fisik) batuan dan tanah penyusun,
dimana faktor-faktor tersebut terkait dan saling mempengaruhi satu dengan laiinnya. SKL
kestabilan lereng bertujuan untuk mengetahui tingkat kestabilan lereng morfologi serta
sifat fisik batuan dan tanah yang ada di kawasan. Berikut merupakan tabel perhitungan
SKL kestabilan lereng Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali:
Tabel 4.10: Analisis SKL Kestabilan Lereng
Guna SKL Kestabilan Nilai
Lereng Fisiografi Tinggi Geologi
Lahan Lereng SKL
Kestabilan
>45% Bergunung >500m Sedimen T. Kelapa 1
Lereng Rendah
Kestabilan
30-45% Bergunung >500m Metamorpik T. Campur 2
Lereng Kurang
100- Kestabilan
30-45% Berbukit Metamorpik T. Pertanian 3
500m Lereng Sedang
100-
15-30% Berbukit Beku H. Sekunder Kestabilan 4
500m
Lereng Tinggi
0-15% Datar 0-100m Beku H. Primer 5
Sumber : Departemen Pekerjaan Umum, 2007

Berdasarkan pada hasil analisis SKL kestabilan lereng dapat diketahui bahwa
kestabilan lereng di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali tergolong tinggi, yang berarti
kondisi wilayah Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali cenderung stabil, tidak rawan
terhadap longsor sehingga cocok untuk bangunan atau permukiman dan budidaya, dan
cocok untuk pengembangan sektor unggulan.
d. Satuan Kemampuan Lahan Kestabilan Pondasi
Perhitungan SKL kestabilan pondasi dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan
lahan dalam mendukung berat dalam pengembangan kawasan, serta jenis-jenis pondasi
yang sesuai untuk masing-masing tingkatan. Berikut merupakan tabel analisis SKL
kestabilan pondasi:
Tabel 4.11 : Analisis SKL Kestabilan Pondasi
SKL Kestabilan SKL Kestabilan Nilai
Tanah Geologi Guna Lahan
Lereng Pondasi SKL
Daya Dukung dan
Kestabilan Lereng Tekstus
Sedimen T. Kelapa Kestabilan Pondasi 1
Rendah Kasar
Rendah
Kestabilan Lereng Tekstur
Metamorpik T. Campur Daya Dukung dan 2
Kurang Kasar
Kestabilan Pondasi
Kestabilan Lereng Tekstur
Metamorpik T. Pertanian Kurang 3
Sedang Sedang
H. Sekunder Daya Dukung dan 4
Kestabilan Lereng Tekstur
Beku Kestabilan Pondasi
Tinggi Halus H. Primer 5
Tinggi
Sumber : Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2007

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-15


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Kestabilan pondasi artinya kondisi lahan/wilayah yang mendukung stabil atau
tidaknya suatu bangunan atau kawasan terbangun. Kondisi kestabilan pondasi di Kawasan
Andalan Kabupaten Boyolali tergolong dalam kategori kestabilan pondasi kurang, yang
berarti wilayah tersebut kurang stabil, namun mungkin untuk jenis pondasi tertentu bisa
lebih stabil.
e. Satuan Kemampuan Lahan Ketersediaan Air
SKL ketersediaan air bertujuan untuk mengetahui tingkat ketersediaan air dan
kemampuan penyediaan air di kawasan studi, baik air permukaan maupun air tanah.
Dengan mengetahui tingkat ketersediaan air di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali,
maka dapat diketahui kemampuan lahan kawasan untuk dikembangkan menjadi
permukiman maupun pertanian kawasan budidaya. Berikut merupakan tabel perhitungan
SKL ketersediaan air Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali:
Tabel 4.12 : Analisis SKL Ketersediaan Air
SKL
Guna Nilai
Lereng Fisiografi Geologi Hidrologi Iklim Ketersediaan
Lahan SKL
Air
Drainase Air Tersedia
>45% Bergunung Beku T. Kelapa CH <500 1
Baik Sangat Rendah
Drainase Air Tersedia
30-45% Bergunung Beku T. Campur CH <1000 2
Baik Rendah
Drainase Ari Tersedia
30-45% Berbukit Metamorpik T. Pertanian CH <2000 3
Sedang Sedang
Drainase
15-30% Berbukit Metamorpik H. Sekunder CH <3000 4
Buruk Air Tersedia
Drainase Tinggi
0-15% Datar Sedimen H. Primer CH >3000 5
Buruk
Sumber : Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2007

Berdasarkan pada hasil analisis SKL ketersedaiaan air dapat diketahui bahwa
Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali memiliki tingkat ketersediaan air yang tinggi
sehingga dapat mendukung kegiatan aktivitas manusia, dan mendukung pengembangan
sektor unggulan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali, yaitu pertanian, perikanan,
industri dan pariwisata.

f. Satuan Kemampuan Lahan Terhadap Erosi


Perhitungan SKL terhadap erosi dilakukan untuk mengetahui tingkat keterkikisan dan
ketahanan tanah terhadap erosi yang ada di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali. Selain
itu dapat diketahui pula mudah atau tidaknya lapisan tanah terbawa air atau angin
sehingga dapat diidentifikasi tingkatan kemampuan lahan terhadap erosi.
Tabel 4.13 : Analisis SKL terhadap Erosi
Jenis Tekstur Curah Guna SKL Nilai
No. Morfologi Kelerengan Hidrogeologi
Tanah Tanah Hujan Lahan Erosi SKL
Semak Erosi
1. Bergunung >45% Regosol > 3000 1
belukar tinggi
Drainse Kasar
Tegalan, Erosi
Rendah (Pasir)
2. Bergunung 30-45% Andosol 1500 3000 tanah cukup 2
kosong tinggi
3. Berbukit 30-45% Mediteran Drainase Sedang 1000 1500 Pertanian, Erosi 3

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-16


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Jenis Tekstur Curah Guna SKL Nilai
No. Morfologi Kelerengan Hidrogeologi
Tanah Tanah Hujan Lahan Erosi SKL
Cukup (lempung) perkebunan sedang
Erosi
4. Berbukit 15-30% Latosol < 1000 Permukiman sangat 4
Drainase Halus
rendah
Tinggi (liat)
Tidak ada
5. Datar 0-15% Alluvial Hutan 5
erosi
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2007
Dari hasil analisis SKL terhadap erosi dapat diketahui bahwa Kawasan Andalan
Kabupaten Boyolali memiliki kemampuan terhadap erosi sangat rendah hingga tidak ada
erosi, yang berarti bahwa lapisan tanah yang ada di Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali tidak mudah atau tidak rentan terhadap erosi. Perbedaan klasifikasi ini terjadi
karena pengaruh jenis tanah di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali.
g. Satuan Kemampuan Lahan Untuk Drainase
SKL untuk drainase bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan drainase dalam
menampung air hujan secara alami, sehingga kemungkinan genangan baik bersifat lokal
ataupun meluas dapat dihindari. Dengan mengetahui kemampuan drainase di Kawasan
Andalan Kabupaten Boyolali, maka dapat diketahui kemampuan lahan kawasan sebagai
wadah aktivitas kawasan andalan. Jika hasil perhitungan menunjukkan drainase tinggi,
maka menunjukkan bahwa air mudah mengalir resiko terjadi genangan kecil. Berikut
adalah tabel perhitungan SKL Kemampuan Drainase Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali:
Tabel 4.14 : Analisis SKL Drainase
Guna SKL Nilai
Lereng Fisiografi Tinggi Geologi Iklim
Lahan Drainase SKL
>45% Bergunung >500m Beku T. Kelapa >3000 Drainase 5
30-45% Bergunung >500m Beku T. Campur <3000 Tinggi 4
100- T. Drainse
30-45% Berbukit
500m
Metamorpik
Pertanian
<2000
Cukup
3
100- H.
15-30% Berbukit
500m
Metamorpik
Sekunder
1000 Drainse 2
Rendah
0-15% Datar 0-100m Sedimen H. Primer <500 1
Sumber : Departemen Pekerjaan Umum, 2007

Berdasarkan pada hasil analisis SKL drainase dapat diketahui bahwa di Kawasan
Andalan Kabupaten Boyolali tergolong pada drainase rendah hingga cukup. Drainase
rendah berarti kawasan memiliki kemampuan menampung dan meresapkan air secara
alami rendah. Hal tersebut karena di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali memiliki
kemiringan lereng yang relatif datar serta curah hujan yang cukup tinggi. Dengan
demikian, air hujan akan sulit mengalir ke sungai/drainase primer, sehingga menyebabkan
kemungkinan munculnya potensi genangan.

h. Satuan Kemampuan Lahan Pembuangan Limbah


Perhitungan terhadap SKL pembuangan limbah digunakan untuk mengetahui daerah-
daerah yang mampu untuk ditempati sebagai lokasi penampungan akhir dan pengolahan
limbah, baik limbah padat maupun limbah cair, sehingga dihasilkan perkiraan prioritas
lokasi pembuangan limbah dan daya tampung lokasi tersebut.
STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-17
KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
Tabel 4.15 : SKL Pembuangan Limbah Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
SKL
Jenis Curah Guna Nilai
No. Morfologi Kelerengan Ketinggian Hidrogeologi Pembuangan
Tanah Hujan Lahan SKL
Limbah
1. Bergunung >45% >3000m Regosol > 3000 Hutan Kemampuan 1
lahan untuk
Drainase
Pertanian, pembuangan
2. Bergunung 30-45% 2000 3000m Andosol Rendah 1500 3000 2
perkebunan limbah
kurang
Kemampuan
lahan untuk
Drainase
3. Berbukit 30-45% 1000 2000m Mediteran 10001500 Permukiman pembuangan 3
Sedang
limbah
sedang
Semak
4. Berbukit 15-30% 500 1000m Latosol < 1000 Kemampuan 4
belukar
Drainase lahan untuk
Tegalan,
Tinggi pembuangan
5. Datar 0-15% 0 500m Alluvial tanah 5
limbah cukup
kosong
Sumber : Departemen Pekerjaan Umum, 2007
Berdasarkan pada hasil analisis SKL pembuangan limbah, dapat diketahui bahwa
kemampuan lahan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali untuk pembuangan limbah
tergolong cukup, sehingga cocok sebagai lokasi pembuangan limbah.
i. Satuan Kemampuan Lahan Bencana Alam
SKL bencana alam bertujuan untuk mengetahui potensi dan tingkat kerawanan
terhadap bencana alam yang terdapat di kawasan Andalan Kabupaten Boyolali. Dengan
mengetahui potensi dan tingkat kerawanan bencana, maka dapat diketahui lokasi yang
kerawanannya memiliki akibat langsung terhadap aktivitas penduduk. Selain itu dengan
mengetahui tingkat kerawanan terhadap bencana alam maka dapat menjadi pertimbangan
antisipasi rawan bencana terhadap kawasan studi. Berikut merupakan tabel perhitungan
SKL Kerawanan Bencana Alam:

Tabel 4.16 : SKL Bencana Alam Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali


SKL
Jenis Guna Curah Tekstur Peta Nilai
No. Morfologi Kelerengan Ketinggian Benc.
Tanah Lahan Hujan Tanah Bencana SKL
Alam
Tegalan, Zona I
Potensi
1. Bergunung > 45 % >3000m Regosol tanah > 3000 (sangat 1
Kasar bencana
kosong rawan)
(Pasir) alam
Semak Zona II
2. Berbukit 25 45 % 20003000m Andosol 1500 3000 tinggi 2
belukar (rawan)
Potensi
Zona III
Sedang bencana
3. Bergelombang 15 25 % 10002000m Mediteran Hutan 1000 1500 (agak 3
(lempung) alam
rawan)
cukup
Pertanian, Zona IV Potensi
4. Berombak 2 15 % 5001000m Latosol < 1000 4
perkebunan Halus (aman) bencana
(liat) alam
5. Landai 02% 0500m Alluvial Permukiman 5
kurang
Sumber : Tim Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali, 2015

Berdasarkan hasil analisis pada SKL bencana alam dapat diketahui bahwa di Kawasan
Andalan Kabupaten Boyolali tergolong dalam klasifikasi potensi bencana alam cukup
hingga kurang, sehingga dapat disimpulkan bahwa di Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali relatif aman dari bencana alam.

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-18


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-19


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
PETA 4.7 SKL MORFOLOGI

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-20


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
PETA 4.8 SKL KEMUDAHAN DIKERJAKAN

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-21


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
PETA 4.9 SKL KESTABILAN LERENG

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-22


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
PETA 4.10 SKL KESTABILAN PONDASI

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-23


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
PETA 4.11 SKL KETERSEDIAAN AIR

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-24


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
PETA 4.12 SKL TERHADAP EROSI

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-25


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
PETA 4.13 SKL UNTUK DRAINASE

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-26


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
PETA 4.14 SKL PEMBUANGAN LIMBAH

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-27


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015
PETA 4.15 SKL BENCANA ALAM

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-28


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

4.1.7 Penggunaan Lahan


Penggunaan lahan merupakan suatu bentuk pemanfaatan atau fungsi dari perwujudan
suatu bentuk penutup lahan. Istilah penggunaan lahan didasari pada fungsi kenampakan
penutup lahan bagi kehidupan, baik itu kenampakan alami atau buatan manusia. Terdapat
beberapa pengunaan lahan dalam kawasan andalan kabupaten boyolali yang sangat
berpengaruh dalam pengembangan kawasan andalan. Penggunaan lahan tersebut meliputi
lahan sawah, tegalan/perkebunan, industri, wisata serta kolam yang masing-masing
penggunaan lahan tersebut memiliki fungsi tersendiri. Berikut merupakan peta penggunaan
lahan di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali:

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-29


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Peta 4.16 : Penggunaan lahan

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-30


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Dari peta penggunaan lahan di atas berikut merupakan uraian masing-masing


penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap pengembangan Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali:
a. Sawah
Sawah adalah lahan usaha pertanian yang dapat ditanami tanaman budidaya seperti
padi, palawija dan sebagainya. Lahan sawah pada umumnya merupakan areal pertanaman
yang selalu dalam kondisi tergenang. Lahan sawah di Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali berfungsi untuk mendukung pengembangan sektor pertanian. Berdasarkan
sumber air untuk menggenangi sawah, terdapat dua jenis lahan sawah yakni sawah irigasi
dan sawah tadah hujan. Sawah irigasi adalah sawah yang pengairannya menggunakan
sistem irigasi yang sumber airnya bisa berasal dari mata air, waduk, sungai atau
bendungan. Sawah irigasi di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali terdiri dari sistem
irigasi teknis, irigasi setengah teknis dan irigasi sederhana. Sedangkan sawah tadah hujan
adalah sawah yang pengairannya memanfaatkan tempat penampungan air hujan sebagai
sumber pengairan. Berikut merupakan tabal luas penggunaan lahan sawah di Kawasan
Andalan Kabupaten Boyolali:
Tabel 4.17 : Luas Penggunaan Lahan Sawah

Penggunaan Lahan Luas (Ha)


Sawah irigasi 4.149,0678
Sawah tadah hujan 59,2916
Total luas sawah 4.208,3594
Luas Kawasan Studi 7.254,7494
Sumber : Kabupaten Boyolali Dalam Angka, 2013
Dari tabel di atas, diketahui bahwa penggunaan lahan sawah di Kawasan Andalan
Kabupaten Boyolali didominasi sawah irigasi yaitu sekitar 58% dari total luas kawasan
studi. Dengan demikian, penggunaan lahan sawah hampir seluruhnya telah menggunakan
sistem irigasi. Penggunaan lahan sawah juga perlu ditinjau dari persebaran penggunaan
lahannya dilihat dari peta penggunaan lahan di atas dapat diketahui bahwa penggunaan
lahan sawah irigasi tersebar di seluruh kelurahan/desa di kawasan studi, sedangkan sawah
tadah hujan hanya terdapat di beberapa kelurahan/desa saja, yakni di Desa Teras, Desa
Mojolegi, Desa Bangsalan, Desa Banyudono, Desa Nepen dan Desa Tegalrejo.
b. Tegalan/Kebun
Tegalan adalah suatu daerah dengan lahan kering yang bergantung pada pengairan air
hujan dan terpisah dari lingkungan dalam sekitar rumah. Lahan tegalan/kebun di Kawasan
Andalan Kabupaten Boyolali ditanami oleh tanaman tahunan atau semusim seperti
tanaman palawija pepaya dan sebagainya. Lahan tegalan di Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali berfungsi untuk mendukung pengembangan sektor pertanian. Berikut merupakan
luas lahan tegalan di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali:
Tabel 4.18 : Luas Penggunaan Lahan tegalan

Penggunaan Lahan Luas (Ha)


Tegalan 669,0371
Luas Kawasan Studi 7.254,7494
Sumber : Kabupaten Boyolali Dalam Angka, 2013
Dari tabel di atas, diketahui bahwa penggunaan lahan tegalan di Kawasan Andalan
Kabupaten Boyolali memiliki luas sekitar 9% dari luas kawasan studi. Penggunaan lahan

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-31


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

tegalan juga perlu ditinjau dari persebaran penggunaan lahannya, dilihat dari peta
penggunaan lahan di atas dapat diketahui bahwa penggunaan lahan tegalan di kawasan
studi kebanyakan tersebar di bagian utara kawasan studi dan di beberapa desa di bagian
selatan kawasan seperti Desa Bendan, Desa Randusari dan Desa Sambon.
c. Industri
Industri disini diartikan sebagai lahan yang fungsinya untuk mewadahi aktivitas
ekonomi sekunder yakni mengolah barang mentah, atau setengah jadi agar dapat
dimanfaatkan dengan nilai jual yang tinggi. Industri di kawasan andalan Kabupaten
Boyolali terdiri dari industri kecil, menengah dan besar. Berikut merupakan luas lahan
industri di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali:
Tabel 4.19 : Luas Penggunaan Lahan Industri

Penggunaan Lahan Luas (Ha)


Industri 503,4756
Luas Kawasan Studi 7.254,7494
Sumber : Kabupaten Boyolali Dalam Angka, 2013
Dari tabel di atas, diketahui penggunaan lahan industri di Kawasan Andalan
Kabupaten Boyolali memiliki luas sekitar 6.9% Dari luas kawasan studi. Penggunaan
lahan industri juga perlu ditinjau dari persebaran penggunaan lahannya, dilihat dari peta
penggunaan lahan di atas, dapat diketahui bahwa penggunaan lahan industri di kawasan
studi tersebar di jalan arteri dan beberapa jalan kolektor di Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali. Keberadaan industri di dekat jalan arteri maupun kolektor mendukung
kemudahan aksesibilitas pergerakan barang dan jasa yang dilakukan industri baik ke
tempat pengambilan bahan produksi maupun tempat pemasaran baran hasil produksi.
d. Kolam
Kolam merupakan lahan yang dibuat untuk menampung air dalam jumlah tertentu
sehingga dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan dan atau hewan air lainnya.
Keberadaan kolam di kawasan andalan kabupaten boyolali tersebar di bagian selatan
kawasan khususnya Desa Tegalrejo Kecamatan Sawit. Berikut merupakan luas lahan
kolam di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali:
Tabel 4.20 : Luas Penggunaan Lahan Kolam

Penggunaan Lahan Luas (Ha)


Kolam 29,6055
Luas Kawasan Studi 7.254,7494
Sumber : Kabupaten Boyolali Dalam Angka, 2013
Dari tabel di atas, dapat diketahui luas penggunaan kolam di Kawasan Andalan
Kabupaten Boyolali memiliki luas sekitar 0.3% dari keseluruhan luas kawasan studi. Luas
lahan kolam tersebut masih sangat sedikit karena pengembangan penggunaan lahan kolam
ini hanya terdapat di beberapa desa di kawasan studi seperti dapat dilihat pada peta
penggunaan lahan di atas. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat, penggunaan
lahan yang tersebar hanya beberapa desa tersebut dikarenakan ikan yang
dikembangbiakkan memiliki karakteristik tertentu dan hanya dapat hidup di kondisi kimia
maupun biologis tertentu.
e. Wisata
Kegiatan wisata di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali terdiri dari wisata potensial
yakni kawasan wisata pengging dan kawasan wisata penyangga yakni kawasan wisata di

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-32


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

dalam lingkungan desa, misalnya wisata cagar budaya meliputi makam tokoh-tokoh dan
pengembangan wisata minapolitan. Berikut merupakan luas lahan wisata di kawasan
andalan kabupaten boyolali:
Tabel 4.21 : Luas Penggunaan Lahan Wisata

Penggunaan Lahan Luas (Ha)


Wisata 108,8943
Luas Kawasan Studi 7.254,7494
Sumber : Kabupaten Boyolali Dalam Angka, 2013
Dari tabel di atas, diketahui luas penggunaan lahan wisata di kawasan andalan
kabupaten boyolali memiliki luas sekitar 1,5% Dari keseluruhan luas kawasan studi.
Sedangkan dari persebaran wisata yang dapat dilihat pada peta penggunaan lahan di atas
dapat diketahui bahwa persebaran wisara di kawasan studi tersebar di beberapa desa
seperti Desa Dukuh, Sudimoro, Bangsalan, Krasak dan Jenengan.

4.1.8 Arahan Pemanfaatan Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya


Berdasarkan RTRW alokasi penggunaan ruang dibagi menjadi 2 kawasan yaitu
kawasan lindung dan kawasan budidaya, untuk Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
memiliki dominan lahan untuk kawasan budidaya dibandingkan dengan kawasan lindung.
a. Kawasan Lindung
Kawasan lindung yang ada hanya kawasan perlindungan setempat yaitu sempadan
sungai dan kawasan sekitar mata air serta kawasan rawan bencana alam terdiri dari
kawasan rawan bencana banjir dan kawasan rawan bencana gempa. Kawasan sempadan
sungai di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali dilewati oleh sungai besar yaitu hanya
Sungai Pepe yang lainnya hanya sungai-sungai kecil, untuk sempadan sungai besar daerah
perlindungannya meliputi kawasan sepanjang kanan-kiri sungai sekurang-kurangnya 100
m. Sedangkan sempadan sungai-sungai kecil sekurang-kurangnya 5m. Sedangkan
kawasan rawan bencana berdasarkan arahan pengelolaan kawasan lindung di RTRW Kab.
Boyolali, kawasan rawan gempa bumi dan rawan banjir berada di Kecamatan Sawit.
b. Kawasan Budidaya
Berdasarkan RTRW Kabupaten Boyolali arahan pengelolaan kawasan budidaya yang
ada di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali terdiri dari kawasan peruntukan pertanian,
kawasan peruntukan perikanan, kawasan peruntukan industri, kawasan peruntukan
perkebunan, kawasan peruntukan pariwisata dan kawasan peruntukan permukiman.
kawasan peruntukan budidaya pertanian dibagi menjadi tiga yaitu kawasan pertanian
lahan basah, kering dan hortikultura. Untuk kawasan peruntukan pertanian lahan basah
seluas 4.205 Ha, serta adanya pertanian lahan basah yang berkelanjutan. Selanjutnya
kawasan peruntukan perkebunan memiliki seluas 768 Ha yang didominasi oleh
perkebunan kelapa, tembakau dan kenanga. Untuk kawasan peruntukan perikanan di
kawasan andalan kabupaten boyolali merupakan kawasan inti minapolitan seluas 2.500
Ha. Kawasan peruntukan industri untuk industri besar hanya di Kecamatan Teras,
sedangkan industri menengah dan kecil berada di Kecamatan Teras, Sawit dan
Banyudono. Untuk kawasan peruntukan permukiman kota mencakup wilayah
pengembangan kota untuk Ibukota Kecamatan.

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-33


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Peta 4.17 : Arahan pola ruang

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-34


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

4.2 Aspek Ekonomi


Dalam sektor Ekonomi dan Kegiatan Usaha ini akan membahas mengenai produk
domestik regional bruto (PDRB), sektor-sektor kegiatan usaha, sektor industri pengolahan,
sektor pariwisata, sektor minapolitan, sektor agropolitan atau pertanian serta sarana prasarana
penunjang kegiatan ekonomi.
4.2.1 Produk Domestik Regional Bruto
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator atau penentu
untuk mengetahui maupun mengukur laju pertumbuhan ekonomi di suatu daerah dengan
melihat kontribusi sektor-sektor perekonomian di suatu wilayah maupun kota. PDRB yang
dipakai berupa PDRB Atas Dasar Harga Konstan, karena metode perhitungan PDRB Atas
Dasar Harga Berlaku dapat memberikan informasi yang kurang akurat apabila tidak hati-hati
melihatnya. Maka untuk memperoleh kondisi yang lebih akurat digunakanlah PDRB dengan
menggunakan harga konstan di mana kita harus menentukan dahulu tahun dasar dari
perhitungan, yaitu tahun dimana perekonomian dalam keadaan stabil. Di Kawasan Andalan
Kabupaten Boyolali sendiri tahun tersebut adalah tahun 2000. Dengan demikian perhitungan
PDRB terlepas dari pengaruh faktor inflasi.
a. PDRB Kabupaten Boyolali
Berikut merupakan tabel nilai PDRB Kabupaten Boyolali berdasarkan atas harga
konstan 2000 selama kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2009 hingga 2013.
Tabel 4.22 : Nilai PDRB Kabupaten Boyolali Atas Dasar Harga Konstan 2000 (dalam juta rupiah)
Sektor Usaha 2009 2010 2011 2012 2013
Pertanian 1.374.078 1.372.706 1.393.456 1.430.876 1.461.684
Pertambangan 39.326 46.205 48.591 50.447 52.953
Industri Pengolahan 666.424 691.493 733.294 777.201 836.400
Listrik, Gas, dan Air Bersih 53.381 58.091 60.888 63.399 67.935
Bangunan/Konstruksi 115.073 127.108 136.227 144.967 154.002
Perdagangan, Hotel, dan
1.008.895 1.032.517 1.113.896 1.203.141 1.287.650
Restoran
Angkutan dan Komunikasi 113.006 117.079 127.982 139.555 147.590
Keuangan, Persewaan, dan
264.622 270.962 286.277 306.488 334.566
Jasa Prusahaan
Jasa-jasa 456.716 521.888 571.606 609.484 639.285
JUMLAH PDRB 4.100.521 4.238.049 4.472.217 4.725.558 4.982.065
Sumber : Kabupaten Boyolali Dalam Angka, 2009-2013
Dari tabel dapat dilihtat bahwa perumbuhan PDRB Kabupaten Boyolali mengalami
peningkatan setiap tahunnya. Hal ini merupakan suatu hal yang positif dan menunjukkan
bahwa Kabupaten Boyolali memiliki laju pertumbuhan yang baik meskipun nilai
perubahannya tidak terlalu signifikan. Dari tabel tersebut dapat pula disajikan persentase
masing-masing sektor usaha setiap tahunnya pada Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
sebagai berikut:

Tabel 4.23 : Persentase Nilai PDRB Kabupaten Boyolali Atas Dasar Harga Konstan 2000 (dalam juta
rupiah)

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-35


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Sektor Usaha 2009 2010 2011 2012 2013


Pertanian 33.51 32.39 31.16 30.28 29.34
Pertambangan 0.96 1.09 1.09 1.07 1.06
Industri Pengolahan 16.25 16.32 16.40 16.45 16.79
Listrik, Gas, dan Air Bersih 1.30 1.37 1.36 1.34 1.36
Bangunan/Konstruksi 2.81 3.00 3.05 3.07 3.09
Perdagangan, Hotel, dan
24.60 24.36 24.91 25.46 25.85
Restoran
Angkutan dan Komunikasi 2.76 2.76 2.86 2.95 2.96
Keuangan, Persewaan, dan Jasa
6.45 6.39 6.40 6.49 6.72
Prusahaan
Jasa-jasa 11.36 12.31 12.78 12.90 12.83
JUMLAH PDRB 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00
Sumber : Kabupaten Boyolali Dalam Angka, 2009-2013

Dapat dilihat dalam tabel bahwa masing-masing sektor usaha mengalami perubahan
persentase yang fluktuatif dan perubahannya tidak terpantau cukup besar pada setiap
tahunnya. Sektor pertanian mengalami penurunan persentase secara terus menerus
meskipun jumlahnya dalam PDRB terus mengalami kenaikan. Sedangkan sektor jasa-jasa,
bangunan dan konstruksi, serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran mengalami
peningkatan persentase dari tahun ke tahun. Berikut disajikan grafik yang menunjukkan
laju perubahan PDRB pada Kabupaten Boyolali:

Gambar 4.1 : Grafik Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Boyolali


Sumber: Boyolali Dalam Angka, 2009-2013

Grafik tersebut menunjukkan bahwa setiap sektor usaha pada Kabupaten Boyolali
menunjukkan prtumbuhan yang positif yaitu mengalami peningkatan pada setiap
tahunnya. Peningkatan yang paling terlihat adalah pada sektor perdagangan dan sektor
industri pengolahan. Sedangkan sektor-sektor lain juga mengalami peningkatan dan tidak
ada sektor yang menunjukkan perkembangan negatif atau penurunan. Hal ini
menunjukkan bahwa perekonomian Kabupaten Boyolali sudah cukup baik dalam
pengembangan kawasannya. Sedangkan persentase kegiatan usaha pada Kabupaten
Boyolali dapat dilihat proporsinya dalam diagram sebagai berikut:

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-36


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Gambar 4.2 : Proporsi Sektor Usaha Kabupaten Boyolali


Sumber: Kabupaten Boyolali Dalam Angka, 2013

Dari diagram tersebut dapat dilihat bahwa sektor yang paling mendominasi
perekonomian Kabupaten Boyolali adalah Sektor Pertanian, Sektor Perdagangan, serta
Sektor Industri Pengolahan. Sektor yang memiliki proporsi paling sedikit adalah Sektor
Listrik, Gas, dan Air Bersih serta Sektor Pertambangan. Tidak mengherankan karena luas
lahan sawah yang dimiliki oleh Kabupaten Boyolali adalah cukup besar dan menjadi mata
pencaharian utama bagi masyarakat Kabupaten Boyolali.
b. PDRB Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali mencakup 3 kecamatan yang terdilinasi yaitu
Kecamatan Banyudono, Teras, dan Sawit. Namun dari data pada Badan Pusat Statistik
Kabupaten Boyolali, hanya terdapat 2 rentang tahun data mengenai data PDRB kecamatan
ini yaitu pada tahun 2007 dan tahun 2011 seperti yang disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4.24 : Nilai PDRB Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali Atas Dasar Harga Konstan 2000 (dalam
juta rupiah)
PDRB Persentase % Laju
Sektor Usaha
2007 2011 2007 2011 Pertumbuhan
Pertanian 152.388 173.975 18,43 17,77 2,61
Pertambangan 2.411 3.417 0,29 0,35 0,12
Industri Pengolahan 391.992 441.590 47,42 45,10 6,00
Listrik, Gas, dan Air Bersih 9.729 12.676 1,18 1,29 0,36
Bangunan/Konstruksi 16.105 20.268 1,95 2,07 0,50
Perdagangan, Hotel, dan
141.531 167.641 17,12 17,12 3,16
Restoran
Angkutan dan Komunikasi 13.548 17.201 1,64 1,76 0,44
Keuangan, Persewaan, dan Jasa
32.464 39.048 3,93 3,99 0,80
Prusahaan
Jasa-jasa 66.477 103.403 8,04 10,56 4,47
JUMLAH PDRB 826.645 979.219 100,00 100,00 18,46
Sumber: Kecamatan Dalam Angka, 2007 dan 2011

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pada PDRB Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali juga mengalami peningkatan nilai pada setiap sektor usahanya. Peningkatan
paling tinggi terjadi pada Sektor Industri Pengolahan, Sektor Jasa-jasa, dan Sektor
Pertanian. Sedangkan perubahan paling sedikit terdapat pada Sektor Pertambangan namun
tidak ada sektor yang pertumbuhannya negatif atau dengan kata lain semua sektor usaha
STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-37
KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

pada Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali memiliki perkembangan positif meskipun


kecepatannya berbeda-beda. Sedangkan berikut merupakan tabel nilai PDRB pada
Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali yang dirinci berdasar kecamatan:
Tabel 4.25 : Nilai PDRB Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali Atas Dasar Harga Konstan 2000 per
Kecamatan (dalam juta rupiah)
PDRB Kecamatan
Sektor Usaha
Banyudono Teras Sawit
Pertanian 65.771 58.246 44.173
Pertambangan 909 1.672 836
Industri Pengolahan 199.823 201.289 40.478
Listrik, Gas, dan Air Bersih 5.796 5.011 1.869
Bangunan/Konstruksi 10.776 5.078 4.414
Perdagangan, Hotel, dan Restoran 75.968 50.682 40.991
Angkutan dan Komunikasi 7.641 6.015 3.545
Keuangan, Persewaan, dan Jasa Prusahaan 15.974 13.083 9.991
Jasa-jasa 48.129 28.123 27.151
JUMLAH PDRB 430.787 369.199 173.448
Sumber: Kecamatan Dalam Angka, 2007 dan 2011
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kecamatan yang memiliki jumlah PDRB paling
tinggi adalah Kecamatan Banyudono, disusul Kecamatan Teras, dan Kecamatan Sawit.
Hal ini dikarenakan potensi di Kecamatan Banyudono memang lebih tinggi dibandingkan
dengan kedua kecamatan lain yaitu dalam Sektor Pertanian, dan Jasa-jasa. Berdasarkan
PDRB Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali tersebut dapat dilihat pula struktur
perekomian kawasan dengan melihat proporsi paling besar pada PDRB kawasan seprti
dapat dilihat dalam diagram berikut:

Gambar 4.3 : Proporsi Sektor Usaha Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali


Sumber: Kecamatan Dalam Angka, 2007 dan 2011
Berbeda dengan proporsi sektor usaha pada cakupan Kabupaten Boyolali, persentase
tertinggi untuk sektor usaha pada Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali dimiliki oleh
Sektor Industri Pengolahan, disusul Sektor Pertanian dan Sektor Perdagangan. Hal ini
dikarenakan pada Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali terdapat banyak industri besar,
sedang, dan kecil yang menjadi mata pencaharaian utama penduduk di samping bekerja
sebagai petani. Keberadaan tempat wisata yang banyak tersebar pada kawasan ini juga
turut mengembangkan Sektor Perdagangan dan Jasa-jasa. Sektor yang persentasenya

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-38


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

paling minim adalah Sektor Pertambangan karena memang pada Kawasan Andalan
Kabupaten Boyolali, kegiatan usaha pertambangan tidak terlalu memiliki prospek untuk
dikembangkan.

4.2.2 Sumber Daya Alam


Sumber daya alam meliputi data hasil produksi pertanian, data populasi ternak, data
produksi hasil ikan yang ada di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali.untuk data hasil
produksi pertanian merupakan data time series, hasil pertanian di Kawasan Andalan
Kabupaten Boyolali seperti pertanian lahan basah (padi) dan pertanian lahan kering (buah-
buahan, sayur-sayuran, perkebunan). Berikut hasil pertanian di Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali.

Gambar 4.4 : Grafik Produksi Hasil Pertanian Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
Sumber : BDA Pertanian, BPS tahun 2010-2014

Berdasarkan grafik produksi hasil pertanian dapat diketahui bahwa yang mendominasi
adalah hasil pertanian tanaman padi dari tahun ketahun menjadi yang tertinggi walaupun hasil
produksi nya fluktuatif. Hasil produksi untuk tanaman jagung dan tanaman umbi-umbian
hasilnya berbeda jauh dengan tanaman padi.

Tabel 4.26 : Produksi Pertanian tahun 2013


Jenis Produksi Luas Panen (Ha) Produksi (ton)
Tanaman Padi 7236 44966
Tanaman Jagung 869 5639
Tanaman Umbi-umbian 68 696
Sayur-sayuran 82 14540
Sumber : Boyolali dalam Angka, 2014

Selanjutnya adalah produksi hasil perkebunan, meliputi sayur-sayuran dan buah-buahan,


juga merupakan data time series dari tahun 2009-2013. Berikut untuk grafik dari masing-
masing hasil produksi perkebunan.

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-39


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Gambar 4.5 : Grafik Hasil Produksi Perkebunan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
Sumber : BDA Pertanian, BPS tahun 2010-2014

Berdasarkan grafik dapat diketahui bahwa produksi hasil perkebunan didominasi oleh
produksi hasil buah-buahan, dimana kedua-duanya memiliki hasil yang fluktualif dan
mengalami perbedaan peningkatan hasil produksi. Selanjutnya adalah hasil produksi
perikanan, berupa asal pakan ikan unggulan yang berasal dari Comfeed (Sidoarjo),
Pokokhand (Karawang), Matahari Sakti (Mojokerto). Sedangkan untuk pakan sendiri
disesuaikan dengan populasi ikan yang ada untuk mencapai target produksi dan juga ditambah
untuk nutrisi dalam pakan sendiri.
Hasil produksi ikan sendiri berupa hasil produksi ikan mentah dan olahan menjadi
camilan, nuget, otak-otak dan lain-lain). Hasil produksi yang dipasarkan hanya hasil produksi
mentah yang dipasarkan antar wilayah/provinsi. Untuk hasil produksi olahan pabrik rumah
tangga dilakukan oleh kegiatan masyarakat setempat yang mengolah hasil ikan lele.

Gambar 4.6 : Grafik Produksi Benih Ikan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
Sumber : Disnakkan Kabupaten Boyolali, 2015

4.2.3 Sumber Daya Buatan


Keberadaan dan Kondisi sarana menjadi salah satu tingkat pelayanan sarana Kawasan
Andalan, berdasar survey primer yang dilakukan di lapangan, daftar sarana beserta tingkat
pelayanannya sebagai berikut:
a. Tingkat Pelayanan Sarana Penunjang Sektor Unggulan
Tabel 4.27 : Tingkat Pelayanan Sarana Penunjang Sektor Unggulan

No Sarana Tingkat Pelayanan


1. Lembaga Perbankan (Swasta-Pemerintahan) Kurang
2. Koperasi Cukup
3. Pasar Cukup

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-40


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

4. Perusahaan Jasa Ekspedisi Kurang


5. Industri (IRT-Sedang-Besar) Cukup
6. Penginapan-Hotel Sangat Kurang
7. Rumah Makan-Restoran Kurang
8. Tourist Information Center Kurang
9. Kesehatan (Klinik-Posyandu-Pustu-Puskesmas- Kurang
Rumah Sakit)
10. Pusat Oleh-oleh Sangat Kurang
11. Toko Perlengkapan Pertanian-Peternakan- Cukup
Perikanan
12. Penggilingan Padi Cukup
13. Kolam Ikan Cukup
Sumber: Survey Primer Tim Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali, 2015

b. Prasarana
Untuk menilai tingkat pelayanan sarana prasarana Kawasan Andalan, ditentukan juga
dengan jumlah penduduk di Kawasan Andalan, untuk lebih jelasnya sebagai berikut,

Tabel 4.28 : Jumlah Penduduk Kawasan andalan 2013

No Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa)


1 Banyudono 45.021
2 Sawit 32.969
3 Teras 46.895
Sumber: Boyolali Dalam Angka, 2014

Untuk menentukan tingkat pelayanan sarana prasarana Kawasan Andalan, mengikuti


standar tingkat pelayanan yang berlaku yaitu Keputusan Menteri Permukiman dan
Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001 dan SNI Nomor 2003-1733 Tahun 2004.
Sedangkan untuk mengukur tingkat pelayanan prasarana terutama jalan dapat
menggunakan rumus sebagai berikut,

VCR=V/C,

Dimana V: Volume Kendaraan; C: Kapasitas Ruas Jalan, dan koefisien-koefisien untuk


menghitung rumusnya adalah sebagai berikut:

Tabel 4.29 : Nilai Ekivalen Mobil Penumpang (EMP)

Faktor EMP
Tipe Jalan Lebar Jalur (m) Tot Arus (Km/Jam)
HV MC
4/2 UD > 3.700 1,3 0,40
4/2 UD 3.700 1,2 0,25
> 1.800 1,3 0,40
2/2 UD >6
1.800 1,2 0,25
> 1.800 1,3 0,5
2/2 UD 6
1.800 1,2 0,35
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997
Tabel 4.30 : Nilai Faktor EMP

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-41


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Faktor EMP Untuk Tipe Pendekat


Jenis Kendaraan
Terlindung Terlawan
Kendaraan Ringan (LV) 1,0 1,0
Kendaraan Berat (HV) 1,3 1,3
Sepeda Motor (MC) 0,2 0,4
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997

Menurut MKJI (1997), kinerja ruas jalan dapat diukur berdasarkan beberapa
parameter, diantaranya :
- Derajad Kejenuhan (DS), yakni rasio arus lalu-lintas (smp/jam) terhadap kapasitas
(smp/jam) pada bagian jalan tertentu.
- Kecepatan tempuh (V), yakni kecepatan rata-rata (km/jam) arus lalu-lintas dihitung
dari panjang jalan dibagi waktu tempuh rata-rata yang melalui segmen.
Berdasarkan hal tersebut maka karakteristik lalu-lintas dapat dihitung dengan
pendekatan sebagai berikut :
1) Kecepatan Arus Bebas
Dalam MKJI (1997) kecepatan arus bebas kendaraan ringan (FV) dinyatakan dengan
persamaan,
FV = (FVo+ FVw) X FFVST X FFVcs
Dimana : FVo = Kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan (km/jam)
FVW = Penyesuaian lebar jalur lalu-lintas efektif (km/jam)
FFVST = Faktor penyesuaian kondisi hambatan samping
FFVCS = Faktor penyesuaian ukuran kota
2) Kapasitas jalan perkotaan
Kapasitas jalan perkotaan dihitung dari kapasitas dasar. Kapasitas dasar adalah jumlah
kendaraan maksimum yang dapat melintasi suatu penampang pada suatu jalur atau jalan
selama 1 (satu) jam, Dalam keadaan jalan dan lalu-lintas yang mendekati ideal dapat
dicapai. Besarnya kapasitas jalan dapat dijabarkan sebagai berikut :
C = Co x FCw x FCsp x FCsf x FCcs
dimana : C = kapasitas ruas jalan (SMP/Jam)
Co = kapasitas dasar
FCw = faktor penyesuaian kapasitas untuk lebar jalur lalu-lintas
FCsp = faktor penyesuaian kapasitas untuk pemisahan arah
FCsf = faktor penyesuaian kapasitas untuk hambatan samping
FCcs = faktor penyesuaian kapasitas untuk ukuran kota.
3) Kapasitas Dasar
Besarnya kapasitas dasar jalan kota yang dijadikan acuan adalah sebagai Berikut :
Tabel 4.31 : Kapasitas Dasar
Tipe Jalan Kapasitas Dasar (SMP/Jam) Keterangan
4 Jalur dipisah atau jalan satu arah 1.650 Tiap Lajur
4 Lajur tidak dipisah 1.500 Tiap Lajur
2 lajur tidak dipisah 2.900 Kedua Lajur
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997
4) Faktor penyesuaian lebar jalur (FCw)
Faktor penyesuaian lebar jalan seperti ditunjukkan pada tabel berikut:

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-42


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Tabel 4.32 : Faktor Peneysuaian Lebar Jalan


Tipe Jalan Lebar Jalan Efektif Cw Keterangan
3,00 0,92
3,25 0,96
4 Jalur dipisah atau jalan satu
3,50 1,00 Tiap Lajur
arah
3,75 1,04
4,00 1,08
3,00 0,91
3,25 0,95
4 Lajur tidak dipisah 3,50 1,00 Tiap Lajur
3,75 1,05
4,00 1,09
5,00 0,56
6,00 0,87
7,00 1,00
2 lajur tidak dipisah 8,00 1,14 Kedua Arah
9,00 1,25
10,00 1,29
11,00 1,34
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997

5) Faktor penyesuaian arah lalu-lintas ( FCsp )


Besarnya faktor penyesuaian pada jalan tanpa menggunakan pemisah tergantung
kepada besarnya split kedua arah seperti tabel berikut :
Tabel 4.33 : Faktor Penyesuaian Arah Lalu-Lintas
Split Arah % - % 50 - 50 55 - 45 60 - 40 65 - 35 70 - 30
2/2 1,00 0,97 0,94 0,91 0,88
Fsp
4/2 Tidak Dipisah 1,00 0,985 0,97 0,955 0,94
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997
6) Faktor penyesuaian kerb dan bahu jalan ( FCsf )
Faktor penyesuaian kapasitas jalan antar kota terhadap lebar jalan dihitung dengan
menggunakan tabel berikut :

Tabel 4.34 : Faktor Penyesuaian Kerb dan Bahu Jalan


Faktor Penyesuaian Untuk Hambatan Samping
Kelas Hambatandan Lebar Bahu
Tipe Jalan
Samping Lebar Bahu Efektif (Ws)
0,5 1,0 1,5 2,0
VL 0,96 0,98 1,01 1,03
L 0,94 0,97 1,00 1,02
4/2 D M 0,92 0,95 0,98 1,00
H 0,88 0,92 0,95 0,98
VH 0,84 0,88 0,92 0,96
VL 0,96 0,99 1,01 1,03
L 0,94 0,97 1,00 1,02
4/2 UD M 0,92 0,95 0,98 1,00
H 0,87 0,91 0,94 0,98
VH 0,80 0,86 0,90 0,96
2/2 UD atau VL 0,94 0,96 0,99 1,01
Jalan Satu L 0,92 0,94 0,97 1,00

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-43


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

M 0,89 0,92 0,95 0,98


Arah H 0,82 0,86 0,90 0,95
VH 0,73 0,79 0,85 0,91
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997
Catatan :
- Tabel tersebut di atas menganggap bahwa lebar bahu di kiri dan kanan jalan sama,
bila lebar bahu kiri dan kanan berbeda maka digunakan nilai rata-ratanya.
- Lebar efektif bahu adalah lebar yang bebas dari segala rintangan, bila di tengah
terdapat pohon, maka lebar efektifnya adalah setengahnya.
7) Faktor Ukuran Kota ( Fcs )
Berdasarkan hasil penelitian ternyata ukuran kota mempengaruhi kapasitas seperti
ditunjukkan dalam tabel berikut :
Tabel 4.35: Faktor Ukuran Kota
Ukuran Kota (Juta Orang) Factor Ukuran Kota (Fcs)
< 0,1 0,86
0,1 0,5 0,90
0,5 1,0 0,94
1,0 3,0 1,00
3,0 1,01
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997
8) Ekivalen mobil Penumpang
Tabel 4.36 : Ekivalen Mobil Penumpang
emp
Arus lalu lintas
Tipe Jalan : MC
Total dua Arah
Jalan Tak Terbagi HV Lebar Jalur Lalu Lintas
(Kend/ jam)
<6 >6
Dua Lajur tak terbagi 0 1,3 0,5 0,4
(2/2 UD) > 1.800 1,2 0,35 0,25
Empat lajur tak terbagi 0 1,3 0,4
(4/2 UD) > 3.700 1,2 0,25
Sumber : Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997

Di bawah ini menunjukkan beberapa batas lingkup V/C Ratio untuk masing-masing
tingkat pelayanan beserta karakteristik-karakteristiknya.
Tabel 4.37 : Besaran VCR dan Keterangannya
Tingkat Batas Lingkup
Factor Ukuran Kota (Fcs)
Pelayanan V/C
Kondisi arus lalu lintas bebas dengan kecepatan tinggi dan
A 0,00 0,20
volume lalu lintas rendah
Arus stabil, tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh
B 0,20 0,44
kondisi lalu lintas
Arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak kendaraan
C 0,45 0,74
dikendalikan
Arus mendekati stabil, kecepatan masih dapat dikendalikan.
D 0,75 0,84
V/C masih dapat ditolerir
Arus tidak stabil kecepatan terkadang terhenti, permintaan
E 0,85 1,00
sudah mendekati kapasitas
Arus dipaksakan, kecepatan rendah, volume diatas
F 1,00
kapasitas, antrian panjang (macet)
Sumber : Traffic Planning and Engineering, snd Edition Pergamon Press Oxword, 1979

4.2.4 Sumber Daya Manusia


STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-44
KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Jika dilihat dari mata pencaharian maka Jenis mata pencaharian penduduk di kawasan
andalan Boyolali sangat beragam, mulai dari petani, pedagang, buruh industri, peternak dan
bekerja di jasa-jasa lainnya, berikut ini merupakan tabel jumlah Jenis mata pencaarian
penduduk kawasan andalan Boyolali.
Tabel 4.38 : Jenis Mata Pencaharian Kawasan Andalan tahun 2014
Jenis Mata Pencaharian
Kecamatan Tanaman Pertanian Industri
Perkebunan Perikanan Peternakan Perdagangan Jasa Angkutan Lainnya
Pangan lainnya pengolahan
Sawit 6458 892 283 3037 0 533 4615 844 310 11372
Teras 9578 71 96 893 911 11315 4902 4697 355 21828
Banyudono 3665 498 63 704 4275 3762 4076 5657 822 14074
Jumlah 19701 1461 442 4634 5186 15610 13593 11198 1487 47274
Sumber : Kabupaten Boyolali Dalam Angka 2014
Dari tabel diatas menunjukan bahwa mata pencaharian penduduk di kawasan andalan
Boyolali terbesar ada pada 4 sektor yaitu yang pertama sektor pertanian yang meliputi petani
tanaman pangan dengan jumlah 19.701 orang, pertanian lainnya 5.186 orang. Kedua disektor
industri pengolahan dengan jumlah 15.610, ketiga sektor perdagangan dan jasa dengan jumlah
24.791 orang dan 47.274 orang lainnya bekerja disektor lainnya. Berikut merupakan diagram
Jenis mata pencaharian penduduk kawasan andalan Boyolali tahun 2014 :

Gambar 4.7 : Grafik Jenis Mata Pencaharian Penduduk Kawasan Andalan Boyolali Tahun 2014
Sumber : Hasil Kompilasi Kelompok Kawasan Andalan Boyolali

4.2.5 Potensi Industri


Kawasan andalan Boyolali memiliki 3 jenis Industri yang berkembang antara lain
Industri besar, Industri kecil dan Industri besar. Berikut ini merupakan Industri Jenis Industri
di kawasan Andalan Boyolali :
Tabel 4.39: Jenis Industri Berdasarkan Jenisnya
Industri Kecil Industri Sedang Industri Besar
- Industri Makanan dan - Industri Makanan dan - Industri Tekstil &
Minuman Minuman Konveksi
- Industri Bahan Bangunan - Industri Tekstil & - Industri Jasa &
- Industri Tekstil & Konveksi Konveksi Lainnya
- Industri Mebel & - Industri Jasa &
Pengolahan Kayu Lainnya
- Industri Kimia
- Industri Kerajinan &

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-45


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Anyaman
- Industri Jasa & Lainnya
Sumber : Data perindustrian, Disperindag 2014

Tabel 4.40 : Tabel Investasi Industri


Investasi
Investasi Industri Industri Investasi
Jenis Industri Kecil Menengah Industri Besar
Makanan & Minuman 3,814,163,400 644,750,000 0
Bahan Bangunan 299,760,000 0 0
Tekstil & Konveksi 766,700,000 1,750,000,000 7,000,000,000
Mebel & Pengolahan Kayu 1,258,650,000 0 0
Logam & Tembaga 180,750,000 0 0
Kimia 209,500,000 200,000,000 0
Kerajinan & Anyaman 468,900,000 0 0
Jasa & Lainnya 7,485,900,000 4,475,000,000 4,000,000,000
Sumber : Disperindag, 2014

Dari tabel di atas menunjukan bahwa investasi di industri kecil lebih besar kemudian
disusul oleh inustri besar dan kemudian industri besar dan industri menengah, hal ini
dikarenakan jumlah industri kecil di kawasan andalan Boyolali lebih banyak dibandingkan
dengan industri besar dan industri menengah. Berikut ini merupakan diagram investasi
industri di kawasan andalan Boyolali Tahun 2014:

Gambar 4.8 : Investasi industri di kawasan andalan Boyolali Tahun 2014


Sumber : Disperindag , 2014

4.2.6 Potensi pariwisata


Keberadaan dan Kondisi sarana menjadi salah satu tingkat pelayanan sarana Kawasan
Andalan, berdasar survey primer yang dilakukan di lapangan, daftar sarana penunjang
pariwisata beserta tingkat pelayanannya sebagai berikut:

Tabel 4.41: Tingkat Pelayanan Sarana Penunjang Sektor Unggulan

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-46


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

No Sarana Tingkat Pelayanan


1. Penginapan-Hotel Sangat Kurang
2. Rumah Makan-Restoran Kurang
3. Tourist Information Center Kurang
4. Pusat Oleh-oleh Sangat Kurang
Sumber: Survey Primer Tim Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali, 2015

Minimnya sarana penunjang pariwisata di Kawasan Andalan, dikarenakan minimnya


kegiatan wisata budaya di Kawasan Andalan, berikut daftar event wisata budaya yang ada di
Kawasan Andalan,
Tabel 4.42 : Event Wisata Budaya Kawasan Andalan
No Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Tempat
1. 29 & 30 Syaban (Kalender Hijriah) / Padusan Desa Pengging, Kecamatan Banyudono dan
29 & 30 Ruwah (Kalender Jawa) Tlatar, Desa Kebonbimo, Kecamatan Boyolali
2. 30 Agustus 2015 (Akhir bulan Pengging Fair Desa Pengging, Kecamatan Banyudono
Agustus)
3. 4 Desember 2015 Sebaran Apem Desa Pengging, Kecamatan Banyudono
Keong Mas
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kabupaten Boyolali, 2015

Sebagai salah satu sektor yang menjadi unggulan di Kawasan Andalan, namun sektor
pariwisata di Kawasan Andalan sendiri dalam kontribusi ke PDRB masih ikut bergabung
dengan sektor lainnya seperti jasa-jasa, perdagangan, pertanian. Untuk PDRB Kawasan
Andalan dapat lebih jelas sebagai berikut,

Tabel 4.43 : PDRB Kawasan Andalan


No Sektor 2011
1 Pertanian 173,975
2 Pertambangan 3,417
3 Industri Pengolahan 441,590
4 Listrik, Gas, dan Air Bersih 12,676
5 Bangunan/Konstruksi 20,268
6 Perdagangan 167,641
7 Angkutan dan Komunikasi 17,201
8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Prusahaan 39,048
9 Jasa-jasa 103,403
Sumber: Kecamatan Banyudono, Teras, Sawit Dalam Angka 2012

4.2.7 Pasar Unggulan dan Pola Aliran Komoditas Unggulan


Untuk menganalisis pasar unggulan di Kawasan Andalan, pertama-tama perlu
mengetahui kuantitas komoditi unggulan di kawasan andalan yang laku dan diterima di
pasaran diantaranya, jarak antara Kabupaten Boyolali dan sekitarnya, serta harga jual
komoditi unggulannya, untuk lebih jelasnya adalah sebagai berikut
Tabel 4.44 : Kuantitas Komoditi Unggulan Kawasan Andalan Tahun 2013-2014

No Kecamatan Jenis Komoditi Kuantitas per Prioritas Daerah


Tahun (Ton) Pemasaran
1 Banyudono Agropo 35.256 Internal-Eksternal
Perikanan 5035 Internal-Eksternal
Industri >1.000.000 Eksternal (Luar Negeri)
2 Sawit Agropolitan 13.518 Internal-Eksternal
Perikanan 7420 Internal-Eksternal

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-47


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Industri >1.000.000 Eksternal (Luar Negeri)


3 Teras Agropolitan 33.698 Ton Internal-Eksternal
Perikanan 3296 Ton Internal-Eksternal
Industri >1.000.000 Eksternal (Luar Negeri)
Sumber: Disperindag Kab. Boyolali, 2015; Disnakkan Kab. Boyolali, 2015; BPS Kab. Boyolali,2015

Tabel 4.45 : Jarak Antara Boyolali Dengan Wilayah Sekitarnya

Jarak Dengan
No Pasar Induk Terdekat
Kawasan Andalan
1 Surakarta 30km
2 Sukoharjo 20km
3 Karanganyar 45km
4 Wonogiri 65km
5 Sragen 55km
6 Klaten 20km
Sumber: Tim Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali, 2015

Tabel 4.46 : Harga Jual Komoditi Unggulan


No Jenis Komoditi Kota/Kabupaten Harga
1 Agropolitan Surakarta Rp 12.000/kg
Boyolali Rp 11.000/kg
Sukoharjo Rp 11.500/kg
Karanganyar Rp 11.000/kg
Wonogiri Rp 11.000/kg
Sragen Rp 11.000/kg
Klaten Rp 11.000/kg
2 Perikanan Surakarta Rp 19.000/kg
Boyolali Rp 18.000/kg
Sukoharjo Rp 18.500/kg
Karanganyar Rp 18.000/kg
Wonogiri Rp 18.000/kg
Sragen Rp 18.000/kg
Klaten Rp 18.000/kg
3 Industri Luar Negeri $ 54/Ton/pcs
Sumber: Tim Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali, 2015

Untuk menganalisis pola aliran komoditas unggulan di Kawasan Andalan, pertama-


tama perlu mengetahui sistem aliran kegiatan di Kawasan Andalan untuk tiap sektor
unggulannya, sistem ini dapat dilihat di lapangan dan perlu adanya tindakan untuk
keberlangsungannya dan makin lancarnya sistem tersbut untuk ke depannya nanti.

4.2.8 Sarana Prasarana Penunjang Kawasan Andalan Boyolali


a. Sarana Penunjang Aktifitas Agropolitan, Minapolitan, Pariwisata dan Industri
1) Sarana Perdagangan (Pasar Tradisonal)
Pasar merupakan sarana yang sangat penting untuk menunjang aktifitas perdagangan
sektor unggulan Boyolali seperti Agropolitan dan Minapolitan. Kabupaten Boyolali
memiliki 45 pasar tradisonal yang dibangun oleh pemerintah Daerah Kabupaten
Boyolali, 10 pasar tradisonal diantaranya merupakan pasar besar dengan komoditas
utamanya adalah Hasil bumi, sembako, sayuran dan hasil ternak seperti sapi dan
kambing dengan total transaksi rata-rata diatas 1 Miliar Rupiah.

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-48


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Berikut ini merupakan Tabel Persebaran Pasar yang memiliki potensi dalam
pemasaran hasil Pertanian dan Perikanan kawasan andalan Boyolali:
Tabel 4.47 : Persebaran Pasar yang Berpotensi dalam Pemasaran Produk Unggulan Kawasan Andalan
boyolali Tahun 2014
PERSEBARAN PASAR DI DALAM KAWASAN ANDALAN BOYOLALI
Kecamatan Nama Kondisi Jumlah Operasional Total Komoditi
Pasar Bangunan Pedagang Pasar Transaksi/ Utama
Hari
Banyudono Pengging Permanen 739 Harian 1.350.000.000 Sembako
/sayuran
Ngacar Permanen 97 Harian 145.500.000 Hasil bumi
,sembako,
Sayuran
Bangak Permanen 10 Harian 15.000.000 Hasil bumi
,sembako,
Sayuran
Pundung Permanen 85 Harian 127.500.000 Hasil bumi
,sembako,
Sayuran
Sawit Kemasan Semi 0 Harian 0 -
Permanen
Teras Teras Semi 0 Harian 0 -
Permanen
PERSEBARAN PASAR DI LUAR KAWASAN ANDALAN BOYOLALI
Kecamatan Nama Kondisi Jumlah Operasional Total Komoditi
Pasar Bangunan Pedagang Pasar Transaksi / Utama
Hari
Boyolali Permanenm Harian
Boyolali 1.486 3.300.000.000 Sembako
anen
Harian
Singkil Permanen 365 2.152.500.000 Sapi/Kambing
Ampel Harian
Ampel Permanen 1.249 1.500.000.000 Sembako
Harian
H. Ampel Permanen 205 1.170.000.000 Sapi/Kambing
Karanggede Harian
Karanggede Permanen 1.317 1.500.000.000 Sembako
Nogosari Harian
Purworejo Permanen 152 6.000.000.000 Sapi
Cepogo Harian Klontong/
Cepogo Permanen 958 1.087.750.000
Sembko
Harian
Sayur Cepogo Permanen 235 9.000.000.000 Sayur
Sumber : Hasil Kompilasi Tim Kawasan Andalan Boyolali, 2015
Dari tebel diatas menunjukan bahwa terdapat 6 pasar yang tersebar di Kawasan
andalan Boyolali yang diaman terdapat 4 pasar yang masih aktif dengan jumlah
pedagang 80 740 orang dan komoditas utama dari pasar pasar tersebut adalah Hasil
bumi, sembako dan sayur-sayuran dan terdapat 2 pasar yang sudah tidak beroperasi,
karena kondisi bangunan pasar yang tidak memungkinkan untuk melakuakan proses jual
beli.
Kawasan andalan Boyolali juga mempunyai potensi penjualan hasil dari produk
unggulan yaitu terdapat 8 pasar tradisional diluar kawasan studi dengan total transaksi 1
miliar sampai - 9 Miliar perhari.

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-49


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Untuk produk unggulan minapolitan, Kabupaten Boyolali belum memiliki pasar


dengan komoditas unggulan khusus perikanan. Berikut merupakan alur penjualan hasil
dari perikanan lele :

Gambar 4.9 : Alur Pemasaran Hasil Produksi Perikanan Kawasan Andalan Boyolali
Dalam pembudidayaan ikan khususnya lele dikawasan andalan Boyolali difasilitasi
kolam-kolam lele dengan jumlah 138 kolam. Lele yang siap dipanen kemudian
dipasarkan diluar kawasan dan dalam kawasan andalan, pemasaran lele baru
menjangkau 3 Kota yaitu Jogjakarta dengan jumlah 7 15 ton perhari dan sebagian
kecil didistribusikan ke Solo dan Semarang. Sedangkan untuk pemasaran dalam
kawasan andalan dijual langsung di kampung lele (kecamatan sawit), sebgaian besar
hasil produksi lele didistribusikani ke industri rumah tangga yang ada yang ada
dikawasan andalan untuk diolah menjadi abon ikan dan kripik ikan lele, sedangkan
sebagian didistribusikan di pasar-pasar yang tersebar di kabupaten Boyolali.

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-50


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

PETA 4.17 : PERSEBARAN PASAR TRADISIONAL

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-51


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Sarana Penunjang Pertanian


Sarana penunjang aktifitas pertanian di kawasan andalan Boyolali terdiri atas
Penggilingan Padi, Koperasi (pertanian dan simpan pinjam) dan toko pupuk. Berikut ini
merupakan tabel jumlah sarana penunjang aktivitas Pertanian :
Tabel 4.48 : Sarana Pertanian Kawasan Andalan Boyolali

Kecamatan Penggilingan KUD Toko Toko


Padi Pertanian Simpan Pinjam Pupuk Alat
Khusus
Teras 8 1 3 1 0
Sawit 9 1 0 1 0
Banyudono 8 3 4 2 0
Jumlah 25 5 7 4 0
Sumber : Hasil Survey Primer Tim Kawasan Andalan Boyolali

Berdasarkan tabel diatas terdapat 25 penggilingan padi, 5 KUD Pertanian, 7 KUD


simpan pinjam dan 4 toko pupuk, sedangkan untuk toko khusus alat pertanian belum
tersedia.
Berdasarkan hasil wawancara yang diambil dari 30 narasumber mengenai
ketersediaan pupuk yang didapatkan di toko pupuk dan proses pengolahan padi yang
dilakukan oleh petani di kawasan Andalan Kabupaten Boyolali :

Gambar 4.10 : Diagram Ketersediaan Pupuk (Toko Pupuk)


Sumber : Hasil Wawancara Tim kawasan Andalan Boyolali

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-52


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Gambar 4.11 : Diagram Pengolahan Padi


Sumber : Hasil Wawancara Tim kawasan Andalan Boyolali

Berdasarkan Diagram diatas menunjukan bahwa sebagian besar hasil pertanian tidak
diolah melainkan langsung dijual dalam bentuk gabah dan para petani masih merasa
kesulitan dalam mendapatkan pupuk untuk pertanian. Untuk mendapatkan pupuk para
petani biasa membelinya di toko pupuk terdekat dan di Koperasi khusus petani, yang
dimana toko pupuk yang disediakan oleh KUD khusus pertanian ini merupakan pupuk
subsidi pemerintah yang didistribusikan dari Kabupaten Demak.

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-53


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

PETA 4.18 : PERSEBARAN PENGGILINGAN PADI

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-54


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

PETA 4.19 : PERSEBARAN TOKO PUPUK DAN KUD

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-55


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

2) Sarana Penunjang Pariwisata


- Hotel Penginapan
Hotel atau penginapan merupakan salah satu sarana penunjang aktifitas pariwisata
di kawasan andalan Boyolali, yang dimana kawasan Boyolali mempunyai banyak
objek wisata yang terdiri dari Pemandian Umbul Pengging, Masjid cipto mulyo,
Masjid tirto Marto, Pengging Fair, Makam Prabu, Makam ki Ageng Kebo Kenaga
dan Makam Prabu Handayaningrat. Dengan total jumlah pengunjung tahun 2013
adalah 49.317. Yang diaman pengunjung rata-rata pada hari biasa mencapai 200-500
orang dan 1000-1500 orang pengunjung pada hari libur.

Berdasarkan kompilasi dari 30 responden pengunjung tempat wisata di kawasan


andalan Boyolali, menyatakan bahwa 87% pengunjung tempat wisata tidak menginap
di hotel/penginapan (pergi-pulang) dan 13% lainnya merupakan wisatawan dari luar
daerah yang menginap di hotel/penginapan yang terletak di pusat kota kabupaten
yaitu kecamatan Boyolali.

Gambar 4.12 : Kunjungan Wisatawan yang Menginap dan Pulang-Pergi Pada hari Biasa
Sumber : Hasil Rekap Kuisioner Tim Kawasan Andalan Boyolali

Tabel 4.49 : Banyaknya Hotel/Penginapan di Kawasan Andalan Boyolali Tahun 2013

Kecamatan Jenis
Hotel Losmen Homestay
Teras 2 0 0
Sawit 0 0 0
Banyudono 1 0 0
Jumlah 3 0 0
Sumber : Kabupaten Boyolali Dalam Angka 2014

Berdasarkan tabel diatas menunjakan bahwa sarana penginapan di kawasan


andalan Boyolali berjumlah 3 buah Hotel tipe melati 1.2 dengan jumlah kamar
minimal 5 10 kamar. Sedangkan untuk hotel bintang 1.2.3.4.5 belum tersedia di
Kawasan studi maupun luar kawasan studi.

- Rumah Makan
STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-56
KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Rumah makan dan Restorant merupakan salah satu sarana pendukung kegiatan
pariwisata selain Hotel atau penginapan. Rumah makan di kawasan andalan Boyolali
terdiri dari warung makan, catering dan restorant kelas A, B, C. Berikut ini
merupakan Tabel jenis rumah makan dan persebarannya :
Tabel 4.50 : Jenis dan Jumlah Rumah makan di Kawasan Andalan Boyolali Tahun 2013.
Rumah Makan
Kecamatan Jenis
Rumah Warung Catering
Makan makan
Teras 9 2 4
Sawit 2 2 2
Banyudono 2 8 3
Restorant
Kecamatan Kelas
A B C
Teras 6 2 3
Sawit 1 2 1
Banyudono 2 6 2
Sumber : Kabupaten Boyolali dalam Angka, 2014
b. Prasarana Penunjang Aktifitas Agropolitan, Minapolitan, Pariwisata dan Industri
1) Jaringan Air Bersih untuk Perikanan, Industri dan Pariwisata

Jaringan Air bersih merupakan salah satu pendukung jalannya aktifitas unggulan di
kawasan andalan Boyolali. Sumber air untuk kawasan andalan boyolali ini di dapatkan
dari aliran sungai dan air tanah. Air tanah di kawasan andalan Boyolali muncul dalam
bentuk mata air. Di kawasan andalan Boyolali ditemukan banyak mata air , mata air ini
dimanfaatkan untuk keperluan irigasi, perikanan,air minum masyarakat dan PDAM.
Brikut ini merupakan tabel sumber air yang ada di kawasan studi :
Tabel 4.51 : Sumber Air Kawasan Andalan Boyolali Tahun 2014
No Kecamatan Desa Nama Sumber Mata Air Jumlah Mata
Air
1 Sawit Cepoko Sawit Kenten, cepoko sawit, Gomban 4
tan,dan Nledok
Jenengan Kebatan, Soka 2
Gombang Gogbang 1
Mungup Mungup, Lajan 2
2 Teras Napen Langse, Manggis, Rembang 3
3 Banyudono Dukuh Bon sijji, Dahar, Temanten, 4
Tirtomoyo.
Cangkringan Sidomulyo 1
Bendan Sungsang 1
Jumlah : 18
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Boyolali, tahun 2014
Dari tabel diatas secara keseluruhan jaringan air bersih di kawasan andalan Boyolali
di kelola oleh PDAM. Berikut ini merupakan Peta sebaran sumber air baku PDAM di
Kawasan andalan Boyolali :
Berikut ini merupakan tabel hasil pemeriksaan air bersih yang dilakukan oleh
Bantek Pengelolaan Air Limbah Kabupaten Boyolali :
Tabel 4.52 : Hasil Pemeriksaan Air bersih, Air badan air , air minum di Kawasan Andalan Boyolali Tahun 2014
No Lokasi MPN/10 MPN/100 Kadar maksimum PH Kesimpulan Ket
0ml ml Coli. yang

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-57


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

Gol.Coli Tinja diperbolehkan


1 Mata air 1100 - 50 7,1 Air
Guyangan Bersih
Pengging
Banyudono
2 Sungai Tempuran 46.000 - 1000 7 Tidak memenuhi Air
Pengging syarat badan
Banyudono baktereologis air
3 Sumur warga 23 - 50 7 Memenuhi Air
pengging syarat Bersih
Banyudono Baktereologi
4 IKK Teras, Teras 16 16 0 7,2 Tidak memenuhi Air
syarat minum
baktereologis
5 SR PAM Warga 0 0 0 7 Memenuhi Air
Teras syarat Minu
Baktereologi m
Sumber : Hasil Laboratorium, Laporan Bantek Pengelolaan Air Limbah Kabupaten Boyolali 2014

Keterangan:
- MPN : Most Propable Number
- Satuan : Jumlah Per 100 ml Sampel
- SAB : Sarana Air Bersih
- SR : Sambungan Rumah
Dari tabel diatas menunjukan bahwa hanya 3 dari 5 sumber air di kawasan andalan
Boyolali tidak memenuhi syarat Baktereologi karena konsentrasi coli yang
tinggi, hal ini diakibatkan oleh limbah domestic seperti :
- Terdapat kelompok masyarakat yang tidak memiliki septic tank sehingga limbah
tinja mencemari air tanah.
- Masih adanya masyarakat yang belum memiliki kesadaran akan pentingnya
pengelolaan limbah domestiknya.
- Terdapat kebocoran sistem perpipaan sehingga bakteri coli yang bersumber dari
limbah domestik mampu mengkontaminasi air dari PDAM
- Terdapat sumber pencemaran limbah domestik pada sekitar sistem penyediaan
air bersih.
- Perilaku Masyarakat Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada sekitar sumber air
bersih belum baik.
- Terdapat sumber pencemar dari kegiatan domestik yang membuang limbahnya
dan telah mencemari sungai-sungai tersebut.
- Terdapat kegiatan yang belum melakukan pengelolaan limbah domestik dan non
domestik dengan baik dan benar karena langsung membuang limbahnya ke
sungai-sungai tersebut.

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-58


KABUPATEN BOYOLALI
Laporan Antara Rencana Tata Ruang Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali, 2015

PETA 4.20 JARINGAN AIR BERSIH

STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 4-59


KABUPATEN BOYOLALI
2) Jaringan IPAL untuk Industri
Limbah industri adalah air limbah bersumber dari pabrik atau industri rumah tangga
yang biasanya banyak menggunakan air dalam sistem prosesnya. Di samping itu ada
pula bahan baku mengandung air sehingga dalam proses pengolahannya air harus
dibuang.
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Boyolali melalui Bidang Pengendalian
Pencemaran Lingkungan beserta DPUPPK dan Dinas Peternakan dan Perikanan dari
tahun 2000 sampai pada tahun 2010 telah membangun beberapa IPAL Biogas Ternak,
IPAL Biogas Industri Kecil Tahu, dan IPAL Domestik Komunal. Berikut adalah
beberapa IPAL yang pernah dibangun di kawasan andalan Boyolali .
Tabel 4.53 : IPAL Industri Kecil Tahu Di Kawasan Andalan Boyolali
No Kecamatan Kapasitas Kebutuhan Jml Kebutuhan Limbah IPAL
produk bahan Tenaga Air/hari/liter Volume Limbah
kg/hari pokok Kerja air padat
kh/hari limbah (Kg/hari)
(Ltr/hari)
1 Banyudono 500 500 3 22.500 7.425 350 Biogas
400 400 3 18.000 5.950 280 Biogas
400 400 3 18.000 5.950 280 Biogas
600 600 4 27.000 8.940 420 Biogas
400 400 3 20.200 6.683 315 Biogas
300 300 3 13.500 4.455 210 Biogas
1500 1500 3 67.500 22.275 1.050 Biogas
400 400 3 18.000 5.940 280 Penampungan
biasa
300 300 3 13.500 4.455 210 Penampungan
biasa
400 400 3 18.000 5.940 280 Penampungan
biasa
2 Teras 300 300 3 13.500 4.455 280 Penampungan
biasa
300 300 3 13.500 4.455 280 Penampungan
biasa
3 Sawit 400 400 3 18.000 5.000 1.050 Penampungan
biasa
300 300 3 13.500 4.455 280 Penampungan
biasa
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Boyolali, 2011

Berdasarkan dari tabel diatas menunjukan bahwa rata-rata industri kecil yang
menghasilkan air limbah salah satunya industri tahu yang menggunakan teknik biogas
hanya 7 industri sedangkan 7 industri tahu lainnya hanya menggunakan penampungan
yang dibuat seperti kolam-kolam dan kemudian dialirkan kesungai. Berikut merupakan
alur pengolahan air limbah tahu dengan menggunakan sistem biogas :
Gambar 4.13 : Alur Pengolahan Biogas

Sistem pengolahan Limbah cair khususnya industri tahu ini dibangun oleh
pemerintah daerah untuk mengatasi pencemaran lingkungan akibat dari limbah yang
dihasilkan oleh industri, Sistem biogas ini dilakukan dengan cara menampung air
limbah dari tahu di kolam penampungan disaring dan diolah menjadi gas kemudian sisa
dari air limbah dialirlan lagi ke kolam penampungan ke 2 untuk dibuang ke suangai,
sungai yang menjadi tempat pembuangan akhir adalah sungai Pepe dan sungai Gandul.
Tabel 4.54 : Data Air Limbah Kawasan Andalan Boyolali

Kecamatan Limbah Ternak (m3/day) Limbah Industri Sungai


(ltr/detik)
Kambing Babi Ayam Ayam Sapi Debit Debit
Daging telur limbah Limbah
karyawan Perusahaan
perusahaan
Banyudono 15,27 24,14 5,09 0,30 10,92 3,00 431.400,00 S.Pepe
Teras 13,54 18,29 0 78,0 79,50 0,66 380.000,00 S.Gandul
Sawit 8,38 24,14 3,07 0 35,78 0,04 11.600.000 S. Gandul
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Boyolali, 2011

Selain Industri kecil kawasan andalan boyolali juga mempunyai industri besar
dan industri kecil, dari tabel diatas menunjukan bahwa total limbah industri / perusahaan
adalah 12.411.400 liter/detik, dengan sistem pengolahan air limbah menggunakan IPAL
yang dikelola oleh masing-masing industri dan kemudian dasaring dan dibuang ke
sungai.

3) Jaringan Listrik Untuk Pariwisata dan Industri


Kawasan andalan Boyolali pada umumnya sudah terlayani oleh jaringan listrik oleh
PLN , ada beberapa kawasan yang dilalui SUTET 500 KV dan SUTT 150 KV di Gardu
Induk (GI) mojosongo Gardu induk (GI) Banyudono yang melayani kecamatan Teras,
Sawit dan Kecamatan Banyudono. Berikut ini merupakan kebutuhan listrik tahun 2014
di Kawasan Andalan Boyolali :
Tabel 4.55 : Kebutuhan Listrik Kawasan Andalan Boyolali 2014
Jumlah Penduduk Kebutuhan Penerangan Umum Industri fasilitas
(KWH) Sosial
34305 3087 309 617
45913 5510 551 1102
49698 8966 596 1193
Sumber : DPU Kabupaten Boyolali, 2014
Jaringan listrik dikawasan studi disesuaikan dengan kriteria jalan. Jaringan listrik
tegangan menengah akan ditempatkan pada jalan-jalan utama, sedangkan jaringan
listrik tegangan rendah (jaringan ditribusi) akan dikembangkan di setiap ruas jalan.
Berikut ini merupakan Peta Jaringan listrik Kawasan andalan Boyolali:
PETA 4.21 : JARINGAN LISTRIK
4) Jaringan Irigasi Untuk Pertanian
Saluran irigasi di kawasan andalan Boyolali diarahkan pada wilayah-wilayah
penghasil budidaya tanaman pertanian dengan memanfaatkan saluran irigasi DAS pepe
dan Gandul. Jaringan irigasi Boyolali di kawasan andalan Boyolali terdiri dari jaringan
irigasi teknis dan jaringan irigasi non teknis/sederhana. Kedua jaringan irigasi ini hampir
tersebar merata di kawasan andalan Boyolali. Berdasarkan peta area irigasi, kawasan
yang dilalui irigasi teknis atau bangunan irigasi permanen adalah :
- Kecamatan Teras : Desa Bangsalan, Kopen, doplang, Krasak dan Desa
Gomukerjo.
- Kecamatan Sawit : Desa Dukuh, Tlwong, Tegalrejo, Gombang, Cepokosawit dan
Desa Gowokajen.
- Kecamatan Banyudono : Desa Tanjungsari, Trayu, Bangak, Denggungan dan
Desa Banyudono
Jaringan Irigasi teknis dikawasan andalan Boyolali mempunyai bangunan sadap
yang permanen. Bangunan sadap ini mampu mengatur dan mengukur debit air yang
mengalir ke lahan pertanian. Disamping itu terdapat pemisahan antara saluran pemberi
dan pembuang. Sedangkan lahan pertanian lainnya menggunakan Jaringan irigasi
sederhana. Jaringan irigasi sederhana berbeda dengan jarinagn irigasi teknis karena
biasanya kebutuhan air untuk pertanian diusahakan secara mandiri oleh suatu kelompok
petani pemakai air, sehingga kelengkapan maupun kemampuan dalam mengukur dan
mengatur masih sangat terbatas.
PETA 4.22 : AREA IRIGASI TEKNIS
4.3 Aspek Demografi dan Sosial Budaya
Sektor demografi dan sosial kependudukan merupakan salah satu sektor terpenting dalam
semua perencanaan. Data demografi dan sosial budaya merupakan salah satu data yang digunakan
untuk mengetahui mengenai analisis perencanaan yang bertujuan untuk mengetahui kondisi
kawasan andalan Kabupaten Boyolali dalam segi demografi, sosial dan budaya. Data demografi ini
termasuk data demografi pada tahun-tahun sebelumnya. Data demografi pada tahun-tahun
sebelumnya ini akan digunakan sebagai masukan untuk analasis pada sektor demografi, termasuk
pula mengetahun kondisi demografi, sosial dan budaya di masa yang akan datang.
Dalam hal perencanan kawasan anadalan sektor demografi ikut berperan menentukan
seberapa besar suatu kawasan dapat dianggap sebagai kawasan andalan melalui keadaan
penduduknya. Penduduk sebagai subjek utama yang akan mengembangkan suatu kawasan. Dari
data demografi ini akan diketahui potensi-potensi beserta kelamahan dari sektor demografi dalam
rangka mengembangkan suatu kawasan. Dalam pengembangan kawasan andalan keadaan penduduk
yang snagat potensial akan sanagat bengaruh pada pengembaangn kawasan andalan dalam hal
meningkatkan ekonomi. Pada sektor semografi ini akan terlihat kondisi ketenaagkerjaan penduduk
dan dapat dilihat potensi penduduk yang ada dari analisis ketenagakerjaan.
Data kependudukan yang lengkap dan akurat akan mempengaruhi analisis terkait sektor
demografi dan sosial budaya dalam merencanakan pengembangan kawasan agar diperoleh
pembangunan yang efektif, efiesien dan berkesimbungan. Kelengkapan data kependudukan ini
sangat didikung oleh berbagai sumber, dan data yang dibutuhkan seperti: data jumlah penduduk,
data kepadatan penduduk, data laju pertumbuhan penduduk, data jumlah penduduk berdasarkan
jenis kelamin, berdasarkan usia, berdasarkan mata pencaharian, berdasarkan tingkat pendidikan dan
berdasarkan tingkat kesejahteraan, dll. Informasi di sta merupakan data yang selanjutnya digunakan
sebagain input dalam ananlisis demografi dan sosial budaya.
4.3.1 Komposisi Penduduk Menurut Jumlah Penduduk
Secara umum, jumlah peneduduk kawasan andalan Kabupaten Boyolali mengalami trend
perkembangan penduduk yang tergolong fluktuatif. Jumlah penduduk yang mengalami flutuasi
adalah pada Kecamatan Banyudono. Pada Tahun 2009 jumlah penduduk Kecamatan Banyudono
mencapai 3012 jiwa dan pada tahun-tahun selanjutnya mengalami flutuasi dan pada tahun 2013
jumlah penduduk mengalami penurunan dan jumlah penduduk Kecamatan Banyudono apada tahun
103 sekitar 3001jiwa. Namun hal lain terajdi pada Kecamatan Teras yang secara konsisiten
mangelami peningkatan menskipun tidak secara konstan. Pada tahun 2009, jumlah penduduk pada
Kecamatan Teras sekitar 3510 jiwa dan terus mengalami peningkatan jumlah penduduk pada
tahun-tahun berikutnya. Dan pada tahun 2013, jumlah penduduk Kecamatan Teras mecapain 3607
jiwa. Kecamatan Teras juga merupakan Kecamatan yang memiliki hasil signifikan dalam
peningkatan jumlah penduduk. Dan berikut merupakan diagram dan tabel jumah penduduk
kawasan andalan Boyolali tahun 2009-2013.
Gambar 4.14 : Diagram Jumlah Penduduk Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali Tahun 2009-2013
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Tabel 4.56 : Jumlah Penduduk Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali Tahun 2009-2013
Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa)
2009 2010 2011 2012 2013
Banyudono 45184 45078 45078 45922 45021
Teras 45628 46235 46236 46535 46895
Sawit 32996 32993 32945 32931 32969
Jumlah 123808 124306 124259 125388 124885
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Tabel 4.57 : Laju Pertumbuhan Penduduk Rata-rata Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali Tahun 2009-2013
Tahun Selisih Jumlah Penduduk r
2009-2010 498 0,0040
2010-2011 -47 -0,0004
2011-2012 1129 0,0090
2012-2013 -503 -0,0040
Rata-rata 269,25 0,0022
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Berdasarkan angka laju pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun yang terdapat di kawasan
andalan Kabupaten Boyolali dapat diketahui bahwa pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 0,22,
dan dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan terbesar terjadi pada tahun 2011-2012 yaitu sebesar
0,9 % dan laju pertumbuhan terendah terdapat pada tahun 2012-2013 yaitu sebesar -0,4%. Berikut
merupakan tabel laju pertumbuhan penduduk rata-rata kawasan andaalan Kabupaten Boyolali

Dan berikut merupakan rincian jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk yang
terdapat di kawasan andalan Kabupaten Boyolali tahun 2009-2013:
Tabel 4.58 : Laju Pertumbuhan Penduduk Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali Tahun 2009-2013
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Desa
2009 2010 2011 2012 2013 r persentase(%)
Banyudono 45184 45078 45078 45922 45021 -0,0008 -0,08
Teras 45628 46235 46236 46535 46895 0,0059 0,59
Sawit 32996 32993 32945 32931 32969 -0,0002 -0,02
Jumlah 123808 124306 124259 125388 124885 0,0016 0,16
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Berdasarkan data rinci per kecmatan yang telah disajikan diatas dapat diketahui laju
pertumbuhan selama 5 tahun terakhir, dapat dilihat pada tabel sebelumnya rata-rata laju
pertumbuhan penduduk. Dan pada tabel ini dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan penduduk
terbesar terdapat pada Kecmatan Teras yaitu sebesar 0,59%. Hal ini terjadi karena desa/kelurahan
ini selama 5 tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan berbeda dengan
desa/kelurahan lain yang cemderung mengalami fluktuasi. Sedangkan laju pertumbuhan terendah
dapat diketahui terdapat pada Kecamatan Banyudono yaitu sebesar -0,o8%. Hal ini terjadi karean
desa/kelurahan ini selama 5 tahun terakhir mengalami penurunan secara konsisten meskipun angka
penurunan tidak konstan/tetap. Salah satu penyebab rendahnya angka laju pertumbuhan penduduk
ini karena rendahnya angka kelahiran atau tinggi angka kematian penduduk yang terdapat di
desa/kelurahan ini.

4.3.2 Kepadatan Penduduk


Kepadatan penduduk merupakan angka perbandingan jumlah penduduk di kawasan andalan
dengan lus wilayah. Kepadatan penduduk ini mempengaruhi perubahan kebutuhan kebutuhan
lahan, baik lahan untuk tempat tinggal, sarana penunjang aktivitas penduduk, industi, pertanian dan
sebagainya. Kepadatan penduduk ini akan mmepengaruho banyak hal tidak hanya dalam segi
kebutuhan lahan. Berikut akan disjaikan tabel kepadatan penduduk yang terdapat di kawasan
andalan Kabupaten Boyolali:

Tabel 4.59 : Tabel Kepadatan Penduduk Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali Tahun 2009-2013
Luas Kepadatan Penduduk (Jiwa)
Kecamatan Lahan
(km2) 2009 2010 2011 2012 2013
Banyudono 25,38 1780 1776 1776 1809 1774
Teras 29,94 1524 1544 1544 1554 1566
Sawit 17,81 1853 1853 1850 1849 1852
Jumlah 73,12 1719 1725 1724 1738 1731
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Dan berikut merupakan diagram perubahan jumlah kepadatan penduduk yang terdapat di
kawasan andalan Kabupaten Boyolali:
Gambar 4.15. Diagram Kepadatan Penduduk Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali Tahun 2009-2013
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Berdasarkan diagram dan tabel yang disajikan diatas tingkat kepadatan penduduk yang
terdapat pada kawasan andalan kabupaten Boyolali mengalami fluktuasi. Terlihat pada diagram
diatas kepadatan penduduk selama 5 tahun terakhir mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun
pada tahun 2013 kepadatan penduduk mengalami penurunan. Yaitu dari 1.738 jiwa/ km2 menjadi
1.731 jiwa/ km2. Meskipun peneurunan ini tidak terlalu signifikan tetap penurunan ini akan
memepengaruhi proyeksi penduduk nantinya. Hal ini dapat disebabakan oleh banyak faktor
termasuk angka kelahiran dan kematian maupun angka perpindahan pendduk. Kepadatan penduduk
yang terdapat pada kawasan andalan Kabupaten Boyolali tergolong tinggi karena > 1.000 jiwa/km2.

4.3.3 Migrasi
Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempta ke
tempat lain yang melampaui batas politik/negara ataupun batas administrasi/batas bagian suatu
negara. Pindahnya penduduk ke suatu daerah tujuan disebut dengan migrasi masuk. Sedangkan
perpindahan penduduk keluar dari suatu daerah asal disebut dengan migrasi keluar. Berikut akan
disajikan tabel migrasi yang terdapat di kawasan andalan Kabupaten Boyolali:

Tabel 4.60 Tabel Migrasi Penduduk Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Jumlah Migrasi
Penduduk
Kecamatan Masuk Keluar Netto
(Jiwa)
Banyudono 45021 399 470 -71
Teras 46895 591 481 110
Sawit 32969 338 392 -54
124885 1328 1343 -15
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2013
Dan berikut merupakan diagram perubahan jumlah kepadatan penduduk yang terdapat di
kawasan andalan Kabupaten Boyolali:

Gambar 4.16 Diagram Migrasi Penduduk Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali Tahun 2013
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2013

Berdasarkan tabel dan diagram migrasi penduduk yang terdapat di kawasan andalan
Kabupaten Boyolali pada tahun 2013, angka migrasi masuk besar pada Kecamatan Teras,
sedangkan untuk Kecamatan Banyudono dan Sawit angka migrasi keluar lebih besar. Besarnya
angka migrasi masuk ke Kecamatan Teras ini salah satunya disebabkan karena adanya kesempatan
kerja yang terdapat disana melihat banyak industri pengolahan yang sedang berkembangan dam
membutuhkan banyak pekerja.
4.3.4 Komposisi Penduduk
Komposisi Penduduk merupakan data mengenai komponen-komponen penyusun data
kependudukan atau merupakan kategori dalam pengelompokkan penduduk. Komposisi penduduk
dapat berupa data keendudukan berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur, tingkat pendidikan,
mata pencaharian, tingkat kesejahteraan, usia produktif dll. Komposisi penduduk kawasan andalan
Kabupaten Boyolali dibedakan atas bebrpa kategori/kelompok yaitu berdasarkan jenis kelamin,
kelompok umur, mata pencaharian, tingkat pendidikan, tingkat kesejahteraan dan usia produktif.
Berikut akan dijabarkan masing-masing komposisi penduduk tersebut.
a. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Secara umum, komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin yang terdapat di kawasan
andalan Kabupaten Boyolali pada tahun 2009-2013 didominasi oleh perempuan. Berikut
merupakan tabel komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin:

Tabel 4.61 : Tabel Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali Tahun 2009-2013
Laki-laki Perempuan
Banyudono 21844 23168
Teras 22.685 22.069
Sawit 16332 16547
2013 60861 61784
2012 61317 63071
2011 61110 63149
2010 60945 63077
2009 58942 61279
Total 303175 312360
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Berdasarkan tabel diatas, dapat terlihat perbedaan jumlah penduduk berdasarkan jenis
kelamin dari tahun ke tahun. Terlihat pula pada tabel diatas bahwa pertumbuhan penduduk
peremouan lebih signifikan dari tahun 2009-2013, namun pada tahun 2013 jumlah penduduk
perempuan mengalami penurunan menjadi 61.784 jiwa. Meskipun pada tahun 2013 pula jumlah
penduduk laki-laki juga mengalami penurunan hingga menjadi 60.861, tetap dominasi
penduduk oleh penduduk perempuan. Peresntase penduduk perempuan yaitu sekitar 50,75% dan
perentase penduduk laki-laki sebesar 49,25%. Berikut merupakan diagram penduduk
berdasarkan jenis kelamin:

Gambar 4.17 : Diagram Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2009-2013
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

b. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur


Secara umum, komposisi penduduk berdasarkan kelompok yang terdapat di kawasan
andalan Kabupaten Boyolali pada tahun 2008-2013 didominasi oleh usia sekolah dan manula.
Berikut merupakan tabel komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur:
Tabel 4.61 : Tabel Komposisi Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
Tahun 2009-2013
2009 2010 2011 2012 2013
USIA
L P L P L P L P L P
0-4 4815 4174 6303 5867 5642 5230 4914 4346 3765 3425
5-9 5027 4824 4286 4042 4986 4684 5125 4918 5109 4773
10-14 5854 5283 5232 4892 5272 4907 5139 4736 5254 4721
15-19 4979 4538 4771 4581 4773 4597 5075 4662 5235 4870
20-24 5131 4834 3802 4077 3660 3944 3790 3912 4124 4026
25-29 5173 5030 4746 4866 4702 5734 4214 4523 4019 4365
30-34 4803 5508 4770 5037 4760 5016 5279 4779 4790 4861
35-39 3934 4450 4622 4988 4619 4968 4367 4797 4398 4690
40-44 4079 5117 5010 5328 5034 5324 4934 5198 5008 5314
45-49 4073 4150 4242 4632 4255 4640 4429 4819 4571 4920
50-54 3168 3195 3679 3677 3705 3705 2839 2935 4140 4297
55-59 2462 3032 2865 2785 2843 2807 3074 3034 3311 3239
60-64 2766 2874 1833 2197 1863 2238 2153 2354 2411 2486
65-69 4036 5544 4784 6108 4845 6217 5484 6968 5519 7059
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013
Berdasarkan data komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur di atas dapat pula
diketahui jumlah penduduk per rentang usia dan dapat dilihat dominasi penduduk terdapat pada
usia angkatan kerja. Dari tabel jumlah penduduk berdasarkan keompok umur dapat diperoleh
piramida penduduk kawasan anadalan Kabupaten Boyolali sepeti berikut:

Gambar
4.18 :
Diagram Piramida Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin & Kelompok Umur Tahun 2009-2013
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Berdasarkan piramida penduduk diatas dapat dilihat komposisi penduduk, dapat diketahui
bahwa penduduk pada kawasaan andalan Kabupaten Boyolali tahun 2009 cukup besar pada usia
kerja yaitu usia 10-14 tahun, dengan jumlah laki-laki sebanyak 5854 jiwa dan jumlah
perempuan sebanyak 5283 jiwa. Kemudian disusul oleh penduduk usia 30-34, dengan jumlah
penduduk laki-laki sebanyak 4803 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 5508 jiwa.
Sedangkan kelompok umur paling rendah adalah pada usia 55-59, dengan jumlah penduduk
laki-lakui sebanyak 2462 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 2486 jiwa.
c.

Gambar 4.19 Diagram Piramida Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin & Kelompok Umur Tahun 2009-2013
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Berdasarkan piramida penduduk diatas dapat dilihat komposisi penduduk, dapat diketahui
bahwa penduduk pada kawasaan andalan Kabupaten Boyolali tahun 2013 cukup besar pada usia
kerja yaitu usia 65-69 tahun, dengan jumlah laki-laki sebanyak 5519 jiwa dan jumlah
perempuan sebanyak 7079 jiwa. Kemudian disusul oleh penduduk usia 40-44, dengan jumlah
penduduk laki-laki sebanyak 5008 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 5314 jiwa.
Sedangkan kelompok umur paling rendah adalah pada usia 60-64, dengan jumlah penduduk
laki-lakui sebanyak 2411 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 303 jiwa.
c. Komposisi Penduduk Menurut Usia Produktif dan Nonproduktif
Setelah diketahui jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur dan piramida penduduk
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penduduk kelompok umur juga dapat dikelompokkan
menjadi usia produktif dan non produktif. Usia produktif merupakan usia yang merupakan
angkatan kerja yang telah berusia 15-59 tahun. Sedangkan usia nonproduktif terdiri dari
penduduk bukan angakatan kerja dan msaih berusia sekolah yaitu yang berusia 0-14 tahun dan
59 - >64 tahun. Berikut merupakan tabel dan diagram penduduk beRdasarkan usia produkif dan
nonproduktif.

Tabel 4.62 : Tabel Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia Produktif & Nonproduktif Kawasan Andalan Kabupaten
Boyolali Tahun 2009-2013
USIA 2009 2010 2011 2012 2013
USIA PRODUKTIF 97619 90223 79086 78525 90112
USIA NON PRODUKTIF 40949 42127 45884 45807 42874
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Gambar 4.19 : Diagram Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia Produktif & Nonproduktif Tahun 2009-2013
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Berdasakan tabel dan diagram diatas, dapat diketahui bahwa kawasan andalan Kabupaten
Bayolali ini didominasi oleh penduduk usia produktif sebanyak 435.565 jiwa dan penduduk usis
nonproduktif sebnayaj 217.641 jiwa. Dengan persentase usia produktif sebesar 67% dan usia
nonproduktif sebesar 33%. Banyaknya usia produktif dibanding dengan usia nonproduktif akan
mempengaruhi banyaknya jumlah lapangan kerja yang harus disediakan dan berpengaruh pada
beban tanggungan usia produktif terhadap usia nonproduktif. Berikut merupakan diagram
persentase perbandingan usia produktif dan non produktif.
Gambar 4.20 : Diagram Persentase Penduduk Berdasarkan Usia Produktif & Nonproduktif Tahun 2009 - 2013
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

d. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian


Mata Pencaharian yang terdapat di kawasan andalan Kabupaten Boyolali diperoleh dari data
BPS Kabupaten Boyolali dalam Kecamatan Dalam Angka dikelompokkan men jadi 10
kelompok, yaitu pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan, pertanian
lainnya, industri pengolahan, perdagangan, jasa, angkutan, dan lainnya. Berikut merupakan
tabel dan diagram mata pencaharian penduduk yang terdapa di kawasan andalan Kabupaten
Boyolali.
Tabel 4.63 : Tabel Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2009-2013
Mata Pencaharian 2009 2010 2011 2012 2013 Jumlah
Pertanian Tanaman Pangan 20308 20281 20179 20109 19701 100578
Perkebunan 1488 1488 1429 1450 1470 7325
Perikanan 257 316 350 426 442 1791
Peternakan 4757 4728 4680 4604 4634 23403
Pertanian Lainnya 5061 5238 5238 5157 5186 25880
Industri Pengolahan 9635 9631 9687 9996 15610 54559
Perdagangan 12799 12820 12838 13014 13593 65064
Jasa 10907 10822 10877 10840 11198 54644
Angkutan 1349 1369 1373 1403 1487 6981
Lainnya 37753 37057 37132 36339 37076 185357
Sumber : Kecamatan Banyudono, Sawit dan Teras dalam angka 2009-2013
Gambar 4.21 : Diagram Mata Pencaharian Penduduk Tahun 2009-2013
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Berdasarkan tabel dan diagram diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk di
kawasan andalan Kabupaten Boyolali tahun 2009-2013 adalah lainnya, yang mungkin saja
termasuk yang bekerjan sebagai PNS ataupun Swasta lainnya. Selain itu penduduk yang bekerja
di sektor pertanian tanaman pangan karena memang komoditas unggulan yang cuku potensial
adalah pada segi pertanian yaitu sekitar 19,14%. Sektor mata pencaharian lain yang juga
potensial adalah pada bidang industri pengolahan yaitu sekitar 10,38%.
e. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan dari penduduk di suatu wilayah/kawasaan akan mempengaruhi tingkat
kesejahteraan bagi wilayah/kawasan tersebut. Selain itu, tingkat pendidikan juga menentukan
potensi sumberdaya manusia yang etrdapat di suatu kawasan yang akan dikembangkan. Berikut
merupakan tabel dan diagram komposisi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di kawasan
andalan Kabupaten Boyoliali.
Tabel 4.64 : Tabel Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2009-2013
Tidak/belum
Desa PT/D IV Akademi/Diploma SLTA SLTP SD
Tamat SD
Banyudono 902 514 7545 8650 12465 12116
Teras 8313 7049 9097 6506 8905 7034
Sawit 736 794 6355 5909 9044 7980
2013 9951 8357 22997 21065 30414 27130
2012 9482 8276 22614 21063 30333 27128
2011 9746 8197 22663 21195 31223 28312
2010 9688 8515 22618 21157 31008 101525
2009 12294 12294 11200 24116 23614 31812
Total 51161 45639 102092 108596 146592 215907
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-213
Gambar 4.22 : Diagram Tingkat Pendidikan Penduduk Tahun 2009-2013
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Berdasarkan data penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di kawasan andalan Kabupaten


Boyolali, dapat diketahui bahwa sebagia besar penduduk belum sekolah atau masih berada pada
usia dibawah 10 tahun yaitu sekitar 27130 jiwa pada tahun 2013 dengan persentase sekitar 37%.
Kemudian disusul dengan tamatan SD sebesar 30414 jiwa juga pada tahun 2013 atau sekitar
21%. Namun tidak sedikit pula jumlah penduduk tamatan SLTA yang sudah siap menjadi
angakatan kerja sekitar 22997 jiwa pada tahun 2013 dengan peresentase sebesar 15%. Terlihat
pula dari tabel diatas bahwa jumlah penduduk dengan tamatan SLTA semakin meningkat
jumlahnya dan akan mempengaruhi banyaknya angkatan kerja.
f. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Kesejahteraan

Komposisi jumlah penduduk selanjutanya dapat dikategorikan/dikelompokkan berdasarkan


pentahapan keluarga sejatera yang meliputi keluarga pra sejahter, sejahter I, sejahtera II,
sejahtera III, dan sejahtera III+. Berikut meruapakan tabel dan diagram jumlah penduduk
berdasarkan tingkat kesejateraan di kawasan andalan Kabupaten Boyolali.
Tabel 4.65 : Tabel Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Kesejahteraan Tahun 2009-2013
Desa Prasejahtera Sejahtera I Sejahtera II Sejahtera III Sejahtera III+
Banyudono 2888 3936 2742 4183 1282
Teras 2972 1214 2302 6922 369
Sawit 1263 2375 2742 2720 499
2013 7123 7525 7786 13825 2150
2012 7763 8101 8154 12424 1988
2011 7854 7839 8107 12464 2015
2010 8124 7871 8014 12286 1947
2009 8398 7521 8686 11538 1932
Total 39262 38857 40747 62537 10032
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013
Gambar 4.23 : Diagram Tingkat Kesejateraan Penduduk Tahun 2009-2013
Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS Kabupaten Boyolali, 2009-2013

Berdasarkan tabel dan diagram jumlah penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan, dapat
diketahui bahwa mayoritas penduduk di kawasan andalan ini mencapai tingkat kesejahteraan III
yaitu sebesar 13825 jiwa pasa tahun 2013 dengan persentase yang cuku besar sekita 33%.
Berdasarkan data desa/kelurahan, yang memiliki tingkat kesejahteraan III paling tinggi adalah
Desa/Kelurahan Randusari di Kecamatan Teras sebesar 1358 jiwa. Kemudian selanjutnya pada
tingkat kesejateraan II juga cukup tinggi yaitu sebesar 7786 jiwa pada tahun 2013 dengan
persentase sebesar 21%. Sedangkan penduduk yang mencapai tingkat sejahtera III+ masih
sedikit hanya sebesar 2150 jiwa atau dengan persentase sebesar 5% dari total keseluruhan.
4.3.5 Indeks Pembangunan Manusia
Menurut UNDP, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan
manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM
dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan
sehat; pengetahuan, dan kehidupan yang layak. Ketiga dimensi tersebut memiliki pengertian sangat
luas karena terkait banyak faktor. Untuk mengukur dimensi kesehatan, digunakan angka harapan
hidup waktu lahir. Selanjutnya untuk mengukur dimensi pengetahuan digunakan gabungan
indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Adapun untuk mengukur dimensi hidup
layak digunakan indikator kemampuan daya beli (Purchasing Power Parity). Kemampuan daya beli
masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per
kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak.
Berikut perhitungan dimensi-dimensi yang digunakan untuk menghitung angka IPM:
a. Angka Harapan Hidup
Angka harapan hidup merupakan perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi
tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur. Angka Harapan Hidup (AHH) merupakan
rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang selama hidup. Jenis data
yang digunakan adalah Anak Lahir Hidup (ALH) dan Anak Masih Hidup (AMH). Angka
harapan hidup ini merupakan salah satu komponen dalam perhitungan indeks pembangunan
manusia.

Dari data yang diperoleh, berikut hasil perhitungan angka harapan hidup di kawasan andalan
Kabupaten Boyolali.

Tabel. 4.66 : Tabel Angka Harapan Hidup tahun 2013 Kecamatan Banyudono
KECAMATAN 2013 Angka Harapan
No
BAYUDONO Kelahiran Kematian Jumlah Hidup
1 Dukuh 30 32 62 48.38709677
2 Jipangan 27 27 54 50
3 Jempungan 51 31 82 62.19512195
4 Sambon 60 41 101 59.40594059
5 Kuwiran 26 22 48 54.16666667
6 Cangkringan 25 27 52 48.07692308
7 Ngaru-aru 40 37 77 51.94805195
8 Bendan 69 35 104 66.34615385
9 Ketaon 45 39 84 53.57142857
10 Banyudono 63 40 103 61.16504854
11 Batan 42 34 76 55.26315789
12 Denggungan 50 34 84 59.52380952
13 Bangak 44 33 77 57.14285714
14 Trayu 36 13 49 73.46938776
15 Tanjungsari 24 27 51 47.05882353
Rata-Rata 56.51469785
Sumber: Tim Kawasan Andalan Kab. Boyolali 2015

Dari table di atas dapat diketahui bahwa angka harapan hidup tertinggi di Kecamatan
Banyudono berada di Desa Trayu, yaitu sebesar 73,46938776 dan disusul Desa Bendan sebesar
66.34615385. Dan angka harapan hidup terendah di Kecamatan Banyudono adalah di Desa
Tanjungsari, yaitu sebesar 47.05882353, hal ini menunjukkan bahwa di Desa Tanjungsari ini
memiliki angka kematian yang lebih tinggi. Dan rata-rata angka harapan hidup di Kecamatan
Banyudono ini adalah sebesar 56.51469785.

Tabel. 4.67 : Tabel Angka Harapan Hidup tahun 2013 Kecamatan Teras
KECAMATAN 2013 Angka Harapan
No
TERAS Kelahiran Kematian Jumlah Hidup
1 Kopen 51 32 83 61.44578313
2 Doplang 51 27 78 65.38461538
3 Kadireso 58 11 69 84.05797101
4 Nepen 41 20 61 67.21311475
5 Sudimoro 35 32 67 52.23880597
6 Bangsalan 24 12 36 66.66666667
7 Salakan 42 35 77 54.54545455
8 Teras 83 60 143 58.04195804
9 Randusari 116 54 170 68.23529412
10 Mojolegi 49 27 76 64.47368421
11 Gumukrejo 28 27 55 50.90909091
12 Tawangsari 36 31 67 53.73134328
13 Krasak 32 28 60 53.33333333
Rata-rata 61.5597781
Sumber: Tim Kawasan Andalan Kab. Boyolali 2015

Dari table di atas dapat diketahui bahwa angka harapan hidup tertinggi di Kecamatan Teras
berada di Desa Kadireso, yaitu sebesar 84,06 dan disusul Desa Randusari sebesar 68,23. Dan
angka harapan hidup terendah di Kecamatan Teras adalah di Desa Gumukrejo, yaitu sebesar
50,91. Dan rata-rata angka harapan hidup di Kecamatan Banyudono ini adalah sebesar 61.56.

Tabel. 4.68 : Tabel Angka Harapan Hidup tahun 2013 Kecamatan Sawit
KECAMATAN 2013 Angka Harapan
No
SAWIT Kelahiran Kematian Jumlah Hidup
1 Tegalrejo 13 19 32 40.625
2 Gombang 27 14 41 65.85365854
3 Manjung 17 27 44 38.63636364
4 Keteguhan 43 31 74 58.10810811
5 Bendosari 57 38 95 60
6 Jatirejo 33 22 55 60
7 Kemasan 23 22 45 51.11111111
8 Tlawong 37 25 62 59.67741935
9 Jenengan 5 14 19 26.31578947
10 Cepoko Sawit 27 15 42 64.28571429
11 Guwokajen 63 30 93 67.74193548
12 Karangduren 17 13 30 56.66666667
Rata-rata 54.08514722
Sumber: Tim Kawasan Andalan Kab. Boyolali 2015
Dari table di atas dapat diketahui bahwa angka harapan hidup tertinggi di Kecamatan Sawit
berada di Desa Guwokajen, yaitu sebesar 67,74 dan disusul Desa Gombang sebesar 65,85. Dan
angka harapan hidup terendah di Kecamatan Sawit adalah di Desa Jenengan, yaitu sebesar
26,31. Dan rata-rata angka harapan hidup di Kecamatan Sawit ini adalah sebesar 54,08.
Dari ketiga tabel di atas, Kecamatan Sawit memiliki angka harapan hidup terendah
dibandingkan dengan dua kecamatan yang lain yaitu Kecamatan Banyudono sebesar 56,51 dan
Kecamatan Teras sebesar 61,56.

b. Angka Melek Huruf


Angka melek huruf adalah persentase penduduk usia 15 tahun keatas yang dapat membaca
dan menulis huruf latin dan atau huruf lainnya. Seperti halnya rata-rata lama sekolah, angka
melek huruf juga menggunakan batasan yang dipakai sesuai kesepakatan beberapa negara.
Batas maksimum untuk angka melek huruf adalah 100, sedangkan batas minimumnya 0 (nol).
Nilai 100 menggambarkan kondisi 100 persen atau semua masyarakat mampu membaca dan
menulis, sedangkan nilai 0 mencerminkan kondisi sebaliknya. Angka ini merupakan salah satu
komponen dalam penghitungan IPM. Dari data yang diperoleh, berikut hasil perhitungan angka
melek huruf di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali.

Tabel 4.69 : Angka Melek Huruf di Kecamatan Banyudono


KECAMATAN Angka Melek Huruf
No
BAYUDONO 2013 2012 2011 2010 2009
1 Dukuh 72.557377 71.68285 65.79727 72.03475 66.19263
2 Jipangan 57.856094 57.6474 75.67869 58.79989 75.79592
3 Jempungan 90.2798233 89.59369 90.54201 91.07143 90.62036
4 Sambon 73.1114809 72.40356 70.66388 74.74211 70.90969
5 Kuwiran 67.7928639 67.46007 64.62546 69.15634 64.79049
6 Cangkringan 88.4754991 86.88306 83.36869 88.75609 83.65562
7 Ngaru-aru 55.94949 55.95581 59.17293 63.5743 59.29752
8 Bendan 58.956743 58.38384 68.31972 59.5638 52.6908
9 Ketaon 47.2297297 46.90739 43.36719 47.88121 43.83838
10 Banyudono 97.7657414 95.85269 94.54545 97.8268 94.66292
11 Batan 67.3728814 67.11693 62.50485 67.7959 62.63315
12 Denggungan 63.688554 63.59414 62.98633 64.0625 63.10717
13 Bangak 72.6559093 72.32297 66.58869 73.29642 66.75225
14 Trayu 76.7638361 76.41391 71.5114 77.21624 71.68292
15 Tanjungsari 85.5939716 84.42124 76.50273 86.78325 76.78571
Rata-Rata 71.7366663 71.1093 70.41169 72.8374 69.56104
Sumber: Tim Kawasan Andalan Kab. Boyolali 2015

Dari table di atas dapat diketahui bahwa tahun 2010 di Kecamatan Banyudono memiliki
angka melek huruf yang paling tinggi. Dari 15 desa di 5 tahun terakhir, angka melek huruf
tertinggi di Kecamatan Banyudono berada di Desa Banyudono, disusul Desa Jempungan,
Cangkringan dan Desa Tanjungsari.
Tabel. 4.70 :Angka Melek Huruf di Kecamatan Teras
No KECAMATAN Angka Melek Huruf
TERAS 2013 2012 2011 2010 2009
1 Kopen 83.1918971 83.12723 82.99338 82.99338 86.74649
2 Doplang 85.3755994 85.19817 85.02962 85.02962 86.77302
3 Kadireso 87.6020408 87.38318 87.21746 87.21746 87.26927
4 Nepen 86.7521368 86.61133 86.51197 86.51197 86.45366
5 Sudimoro 86.9580925 86.95338 86.77596 86.77596 86.73469
6 Bangsalan 88.5506003 88.70899 88.75054 88.75054 88.70816
7 Salakan 82.7586207 82.5793 82.38666 82.38666 82.47611
8 Teras 82.0306657 82.06085 81.94471 81.94471 81.91613
9 Randusari 80.3798415 79.60557 79.34834 79.34834 79.38434
10 Mojolegi 82.252072 82.04683 81.9078 81.9078 79.74359
11 Gumukrejo 91.4079422 91.42551 91.03891 91.03891 92.23228
12 Tawangsari 88.9791938 88.9141 88.74431 88.74431 88.70692
13 Krasak 89.9326032 90.20921 89.99159 89.99159 91.95334
Rata-rata 85.8593312 85.75567 85.58779 85.58779 86.08446
Sumber: Tim Kawasan Andalan Kab. Boyolali 2015
Dari table di atas dapat diketahui bahwa tahun 2009 di Kecamatan Teras memiliki angka
melek huruf yang paling tinggi.dan di 5 tahun ini angka melek huruf di Kecamatan Teras relatif
stabil tidak ada perubahan yang signifikan. Dari 13 desa di 5 tahun terakhir, angka melek huruf
tertinggi di Kecamatan Teras berada di Desa Gumukrejo, disusul Desa Krasak.
Tabel 4.71 : Angka Melek Huruf di Kecamatan Sawit
KECAMATAN Angka Melek Huruf
No
SAWIT 2013 2012 2011 2010 2009
1 Tegalrejo 74.1184083 74.06928 73.50512 73.26007 72.02729
2 Gombang 74.7577093 74.55437 74.25522 73.91501 71.95604
3 Manjung 74.0818911 73.87426 73.57204 73.86609 72.12838
4 Keteguhan 74.2244129 73.99942 73.90415 73.94387 72.56792
5 Bendosari 71.9810576 71.78671 71.28752 72.3969 71.65072
6 Jatirejo 75.1798561 74.91809 74.83419 74.64579 73.66286
7 Kemasan 72.6630008 72.28628 72.09116 74.67213 73.1029
8 Tlawong 74.4897959 74.45676 74.11236 73.88535 73.03017
9 Jenengan 74.1659538 73.69565 73.45868 73.63718 72.71934
10 Cepoko Sawit 73.0750124 72.96242 72.82717 72.32863 73.4
11 Guwokajen 74.4105141 74.09286 73.69852 74.40476 73.44414
12 Karangduren 75.8407422 75.44274 75.20891 75.36232 72.99843
Rata-rata 74.0823629 73.8449 73.56292 73.85984 72.72402
Sumber: Tim Kawasan Andalan Kab. Boyolali 2015

Dari table di atas dapat diketahui bahwa tahun 2013 di Kecamatan Teras memiliki angka
melek huruf yang paling tinggi. Dan di 5 tahun ini angka melek huruf di Kecamatan Teras relatif
stabil tidak ada perubahan yang signifikan akan tetapi selalu mengalami kenaikan kecuali di tahun
2010 ke 2011 yang mengalami penurunan angka melek huruf. Dari 12 desa di 5 tahun terakhir,
angka melek huruf di Kecamatan Teras di semua desa hampir setara tidak ada perbedaan yang
mencolok seperti di Kecamatan Banyudono.

Dari ketiga tabel di atas, yang memiliki angka melek huruf terendah adalah Kecamatan
Banyudono yaitu sekitar 71,13, disusul Kecamatan Sawit dengan angka 73,61, dan angka melek
huruf tertinggi berada di Kecamatan Teras yaitu sebesar 85,77.
4.3.6 Sosial dan Kebudayaan
Data sosial dan kebudayaan merupakan data yang digunakan untuk mnegtahui potensi
keadaan sosial budaya masyarakat dalam rangka pengembangan kawasan andan di Kabupaten
Boyolali. Berikut merupakan tabel event budaya yang terdapat di kawasan andalan Kabupaten
Boyolali.

Tabel 4.72 : Event- event Kebudayaan di Kabupaten Boyolali

No Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Tempat


1. Malam tanggal 1 Suro Sedekah Gunung Desa Lencoh, Kecamatan
(Kalender Jawa) Selo
2. Malam tanggal 20 Buka Luwur Pantaran, desa Candisari,
Suro (Kalender Jawa) Kecamatan Ampel
3. 28 Maret s.d. Agustus Musik Malam Minggu Tidak Tetap
4. 2 Mei Fashion Show Tidak Tetap
5. 16-17 Mei Fetival Kuliner Tidak Tetap
6. 16-17 Mei Boyolali Fok Lor Festival Tidak Tetap
7. 23 Mei Tembang Kenangan Tidak Tetap
8. 3 Juni Niti Talas Ki Ageng Pandanaran Kali Pepe, Kp.
Sumberlerak, Kelurahan
Siswodipuran, Kecamatan
Boyolali
9. 5 Juni Pentas Musik Tidak Tetap
10. 6 Juni Pagelaran Wayang Kulit Tidak Tetap
11. 6-7 Juni Festival Mobil VW Tidak Tetap
12. 29 & 30 Syaban Padusan Desa Pengging,
(Kalender Hijriah) / 29 Kecamtana Banyudono
& 30 Ruwah dan Tlatar, Desa
(Kalender Jawa) Kebonbimo, Kecamatan
Boyolali
13. 1-7 Syawal 1436 H Gebyar Syawalan Tidak Tetap
14. 17 Agustus 2015 Parade Kesenian Selo Kecamatan Selo
15. 30 Agustus 2015 Pengging Fair Desa Pengging,
(Akhir bulan Agustus) Kecamatan Banyudono
16. 4 Desember 2015 Sebaran Apem Keong Mas Desa Pengging,
Kecamatan Banyudono
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kabupaten Boyolali, 2015

Kabupaten Boyolali banyak memiliki kebudayaan khas yang diselenggarakan rutin setiap
tahunnya. Selain itu tradisi lain yang masih dilestarikan adalah kebudayaan sadranan atau
merupakan tradisi pembersihan makam leluhuryang dilaksanakan setiap tanggal 15 pada bulan
Ruwah. Kebudayaan ini juga didukung dengna adanya berbagai paguyuban atau perkumpulan
kesenian yang mendukung terlaksananya setiap acara yang diselenggarakan di Kabupaten Boyolali
khususnya event kesenian. Tradisi budaya yang terdapat di Kabupaten Boyolali juga banyak yang
diselenggrakan di Kecamatam Banyudono sepeti event Sebaran Apem Keong Mas yang
diselenggarakan Desa Pengging.
Selain event-event kebudayaan di Kawasan Andalan seperti yang telah didapatkan datanya
seperti tabel di atas, ada juga kegiatan-kegiatan sosial masyarakat terkait sektor pertanian,
perikanan, pariwisata, dan industri
Dan data dari hasil wawancara diperoleh data kegiatan masyarakat, sebagai berikut.
1. Sektor pertanian
a) Penggilingan padi yang dikhususkan untuk padi jenis Mentik Wangi Susu untuk
menjaga jaminan varietas agar tidak bercampur dengan padi jenis lain.
b) Pengelolaan peternakan sapi oleh kelompok tani yang digunakan dalam pembuatan
pupuk kompos untuk pertanian lokal yang berbasis pertanian organik guna
meningkatkan hasil produksi pertanian.
c) Di salah satu desa di kawasan studi juga bekerja sama dengan Nestle dalam kelanjutan
pengolahan hasil pertanian beras merah.
d) Banyak industri rumah tangga yang dikelola masyarakat, salah satunya adalah
pengolahan hasil pertanian menjadi bentuk lain seperti karak beras untuk menambah
e) Pembersihan saluran irigasi tiap sebulan sekali.
f) Pemberantasan hama pertanian (tikus, wereng) secara berkala.
2. Sektor Perikanan
a) Dengan potensi besarnya di sektor perikanan lele pembudidayaan ikan lele di kawasan
studi sangatlah berskala besar, tidak hanya membesarkan bibit, akan tetapi juga
pembenihan dan pembudidayaan cacing untuk pakan bibitnya.
b) Tidak hanya lele yang siap panen saja yang didistribusikan ke luar daerah, akan tetapi
bibit dan cacingnya pun juga didistribusikan ke luar daerah.
c) Masyarakat mendirikan wisata pemancingan untuk menambah penghasilan mereka.
d) Masyarakat membentuk suatu kelompok ukm yang kegiatannya adalah mengolah hasil
perikanan lokal menjadi makanan berbahan dasar ikan untuk meningkatkan ekonomi.
3. Sektor Industri
a) Di kawasan studi banyak terdapat industri-industri besar, oleh karena itu banyak
masyarakat yang berprofesi sebagai pegawai di industei pengolahan.
b) Tidak kalah banyak pula masyarakat yang mendirikan industri rumah tangga untuk
menghidupi kesehariannya dari berbagai hasil produksi sektor pertanian dan
perikanannya.
4. Sektor Pariwisata
a) Mengelola potensi alam untuk dijadikan kawasan wisata.
b) Mengembangkan kesenian daerah untuk menambah atraksi wisata, seperti perdayangan,
wayang, karawitan, daln lainnya yang dapat menarik perhatian pengunjung.
Dari data mata pencaharian dan data kegiatan masyarakat dapat diketahui bahwa
banyaknya mata pencaharian penduduk mempengaruhi kegiatan yang dilakukan masyarakat.

4.4 Aspek Kelembagaan


4.4.1 Analisis Kebijakan Pengembangan Kawasan
Dalam pengembangan suatu kawasan, ada regulasi yang mengaturnya. Baik itu yang bersifat
dari pemerintah pusat, provinsi ataupun tingkat kabupaten. Kebijakan yang berasal dari pemerintah
pusat salah satunya adalah PP No.26 Tahun 2008 Tentang RTRW Nasional yang menerangkan
bahwa kawasan andalan adalah bagian dari kawasan budidaya, baik di ruang darat maupun ruang
laut yang pengembangan nydiarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan
tersebut dan kawasan disekitarnya.
Perkembangan kawasan andalan ditetapkan dengan beberapa kriteria sesuai dengan jenis
kawasan andalan tersebut. Kawasan andalan berkembang ditetapkan dengan kriteria:
1 Memiliki paling sedikit 3 (tiga) kawasan perkotaan;
2 Memiliki kontribusi terhadap produk domestik bruto paling sedikit 0,25% (nol koma dua
lima persen);
3 Memiliki jumlah penduduk paling sedikit 3% (tiga persen) dari jumlah penduduk provinsi;
4 Memiliki prasarana berupa jaringan jalan, pelabuhan laut dan/atau bandar udara, prasarana
listrik, telekomunikasi, dan air baku, serta fasilitas penunjang kegiatan ekonomi kawasan;
dan memiliki sektor unggulan yang sudah berkembang dan/atau sudah ada minat investasi.
Kawasan andalan prospektif berkembang ditetapkan dengan kriteria:
1 Memiliki paling sedikit 1 (satu) kawasan perkotaan;
2 Memiliki kontribusi terhadap produk domestik bruto paling sedikit 0,05% (nol koma nol
lima persen);
3 Memiliki laju pertumbuhan ekonomi paling sedikit 4% (empat persen) per tahun;
4 Memiliki jumlah penduduk paling sedikit 0,5% (nol koma lima persen) dari jumlah
penduduk provinsi;
5 Memiliki prasarana berupa jaringan jalan, pelabuhan laut, dan prasarana lainnya yang belum
memadai; dan memiliki sektor unggulan yang potensial untuk dikembangkan.
Kawasan andalan laut ditetapkan dengan kriteria:
1 Memiliki sumber daya kelautan;
2 Memiliki pusat pengolahan hasil laut; dan
3 Memiliki akses menuju pasar nasional atau internasional.
Selain itu, dalam lampiran PP No.26 Tahun 2008 Tentang RTRW Nasional juga telah
disebutkan tentang arahan kawasan andalan yang ada. Salah satunya yaitu untuk kawasan andalan
SUBOSUKOWONOSRATEN yang terletak di Jawa Tengah diarahkan untuk sektor unggulan
industri, parwisata, dan pertanian.
Dalam Perda Jawa Tengah No. 6 Tahun 2010 Tentang RTRW Provinsi Jawa Tengah 2009-
2029 juga disebutkan bahwa untuk kawasan andalan SUBOSUKOWONOSRATEN diarahkan
untuk sektor unggulan industri, parwisata, dan pertanian.
Kebijakan lain yang berlaku untuk pengembangan kawasan adalah RTRW Kabupaten
Boyolali tahun 2011-2031. Didalam RTRW Kabupaten Boyolali tahun 2011-2031 ini memuat
tentang tujuan Mewujudkan Pemerataan Pembangunan Yang Terintegrasi di Seluruh Wilayah
Kabupaten Boyolali yang Berbasis Pertanian dan Pengembangan Kawasan. Yang didalamnya juga
terdapat kebijakan penataan ruang berdasarkan tujuan penataan ruang yaitu :
1 Pengendalian dan pengembangan pemanfaatan lahan pertanian;
2 Pengembangan wilayah industri;
3 Pengoptimalan produktivitas kawasan peruntukan perikanan;
4 Pengembangan pusat-pusat pelayanan;
5 Pengembangan mutu dan jangkauan sarana dan prasarana penunjang kegiatan;
6 Pengembangan sistem jaringan transportasi darat dan udara;
7 Pengendalian dan pelestarian kawasan lindung;
8 Pengembangan kawasan strategis sesuai kepentingan fungsi daya dukung lingkungan;
9 Pengembangan kawasan strategis sesuai kepentingan pertumbuhan ekonomi; dan
10 Peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan negara.
Dalam pengembangan kabupaten Boyolali ini dicatumkan adanya kawasan strategis
kabupaten. Kawasan strategis kabupaten adalah kawasan yang penataan ruangnya diprioritaskan
karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten terhadap pertahanan
kemanan, ekonomi, sosial dan budaya, lingkungan hidup dan pendayagunaan sumber daya alam
serta teknologi tinggi. Kawasan strategis ini memiliki beberapa jenis, antara lain kawasan strategis
untuk pertumbuhan ekonomi.
Kawasan strategis untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi mencakup kawasan unggulan
pengembangan ekonomi kabupaten maupun kawasan stimulasi ketertinggalan wilayah. Kawasan
strategis pertumbuhan ekonomi ini dapat berupa kawasan andalan/ unggulan berkembang. Kawasan
andalan/unggulan prospektif berkembang, kawasan ekonomi khusus (KPE), KAPET, kawasan
berikat, kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas, kawasan pusat perdagangan skala wilayah/
kabupaten, kawasan pengembangan potensi khusus, dan kawasan tertinggal di dalam wilayah
kabupaten serta kawasan lainnya yang sesuai dengan kepentingan Kabupaten Boyolali.
Kriteria suatu kawasan dapat dikategorikan dalam kawasan strategis pertumbuhan ekonomi
adalah sebagai berikut:
1 Memiliki potensi ekonomi cepat tumbuh;
2 Memiliki sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional;
3 Didukung jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi;
4 Memiliki kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi; serta
5 Ditetapkan untuk mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal.
Di Kabupaten Boyolali kawasan yang merupakan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi
antara lain:
1 Koridor kawasan strategis Subosukawonosraten (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo,
Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Klaten);
2 Jalur kawasan SSB (Solo-Selo-Borobudur);
3 Kawasan minapolitan : Kecamatan Teras, Sawit dan Banyudono;
4 Kawasan agropolitan : Kecamatan Selo, Ampel, Cepogo, Sawit dan Banyudono;
5 Kawasan perdagangan dan jasa di sepanjang jalan arteri, kolektor dan lokal;
6 Wilayah perbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo (Kecamatan Gatak dan Kecamatan
Kartasura) yang berbatasan dengan Kecamatan Sawit (Kabupaten Boyolali) dikembangkan
sebagai kawasan perdagangan dan jasa pada sepanjang main road (jalan arteri);
7 Wilayah perbatasan dengan Kabupaten Karanganyar (Kecamatan Gondangrejo) yang
berbatasan dengan Kecamatan Ngemplak dan Nogosari (Kabupaten Boyolali)
dikembangkan sebagai kawasan industri;
8 Kawasan wisata meliputi :
- Kawasan wisata alam Selo di Kecamatan Selo;
- Kawasan wisata Tlatar di Kecamatan Boyolali;
- Kawasan wisata Pengging di Kecamatan Banyudono;
- Kawasan wisata Waduk Cengklik di Kecamatan Ngemplak;
- Kawasan wisata Waduk Kedung Ombo di Kecamatan Kemusu.
Sedangkan beberapa pengertian untuk masing-masing kawasan sektor unggulan adalah
sebagai berikut :
1 Kawasan agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada
wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam
tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hirarki keruangan satuan
sistem permukiman dan sistem agrobisnis.
2 Kawasan minapolitan adalah kawasan yang membentuk kota perikanan, yang memudahkan
masyarakat untuk bisa membudidayakan ikan darat, dengan kemudahan memperoleh benih
melalui unit pembenihan rakyat, pengolahan ikan, pasar ikan dan mudah mendapatkan
pakan ikan, yang dikelola oleh salah satu kelompok yang dipercaya oleh pemerintah.
3 Kawasan strategis pariwisata adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau
memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting dalam
satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan
sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahankan dan keamanan.
4.4.2 Analisis Peraturan dan Kebijakan Tupoksi SKPD Terkait
Kelembagaan merupakan sektor yang perlu dikaji dalam proses penyusunan Rencana
Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali Kabupaten Boyolali Kabupaten Boyolali. Aspek
kelembagaan mengkaji berbagai perangkat organisasi yang diperlukan agar fungsi pemerintahan
dalam suatu daerah dapat terlaksana, selain itu dengan mengetahui lembaga-lembaga yang
berwenang dalam menangani kebencanaan pada suatu daerah maka akan memudahkan pemerintah
untuk mengkoordinasikan tugas antara satu lembaga dengan lembaga lainnya. Sehingga dapat
mewujudkan upaya penanggulangan bencana yang efektif dan efisien. Berbagai perangkat
organisasi yang terdapat pada kelembagaan memiliki peran berbeda namun saling terintegrasi untuk
menunjang terlaksananya pembangunan wilayah secara umum, ataupun untuk menunjang
terlaksananya sistem penanggulangan bencana alam secara terpadu.
Kelembagaan internal di Kabupaten Boyolali dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu
kelembagaan formal dan kelembagaan non formal. Kelembagaan formal yang terdapat di
Kabupaten Boyolali dikepalai oleh Bupati Kabupaten Boyolali yang dibantu dengan seperangkat
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Kelembagaan formal yang memiliki peran di Kabupaten
Boyolali diantaranya:
1. Sekretariat Daerah
2. Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
3. Inspektorat
4. Bappeda
5. Satpol PP
6. Dinas Daerah:
Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga
Dinas Kesehatan
Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Sumber Daya Mineral
Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan
Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
Dinas Peternakan dan Perikanan
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika
7. Lembaga Teknis Daerah (lemtekda):
Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan
Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana
Badan Kepegawaian Daerah
Badan Lingkungan Hidup
Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu
Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik
Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi
Rumah Sakit Umum Daerah
8. Lembaga Lain Daerah:
Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Unit Layanan Pengadaan
9. Kecamatan
10. Kelurahan
Masing-masing SKPD tersebut memiliki kedudukan tertentu untuk menjalankan peran sesuai
tugas masing-masing. Oleh karenanya, pembagian tugas antar SKPD di Kabupaten Boyolali telah
diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan. Berikut merupakan peran, kedudukan serta
dasar hukum yang mengatur pembagian tugas tiap SKPD di Kabupaten Boyolali. Selanjutnya
SKPD yang terkait dengan kawasan andalan kabupaten boyolali adalah Dinas Perindustrian dan
Perdagangan, Dinas Pertanian, Perkebunan,dan Kehutanan, Dinas Peternakan dan Perikanan, serta
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Berikut merupakan peran dan kedudukan SKPD dan dasar
hokum SKPD terkait pengembangan kawasan andalan kabupaten boyolali.

Tabel 4.73 : Peran dan Kedudukan SKPD


No. SKPD Terkait Peran dan Kedudukan
1 Sekretariat Daerah Merupakan unsur staf, dipimpin oleh seorang Sekretaris
Daerah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab
kepada Bupati
2 Sekretaris DPRD Merupakan unsur pelayanan terhadap DPRD yang
dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang
berkedudukan secara teknis operasional berada di bawah
dan bertanggungjawab kepada pimpinan DPRD dan
secara adminsitratif bertanggungjawab kepada Bupati
melalui Sekretaris Daerah
3 Inspektorat Merupakan unsur pengawas penyelenggaraan
pemerintahan daerah yang berkedudukan di bawah dan
bertanggungjawab langsung kepada Bupati dan secara
teknis administratif mendapat pembinaan dari Sekretaris
Daerah.
4 Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Merupakan unsur pelaksana otonomi daerah dibidang
5 Dinas Perindustrian dan tertentu sebagai pembantu Bupati dalam melaksanakan
Perdagangan urusan tertentu sesuai fungsi dinas, berkedudukan di
6 Dinas Pertanian, Perkebunan, bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui
dan Kehutanan Sekretaris Daerah, dipimpin oleh seorang Kepala.
7 Dinas Peternakan dan
Perikanan
Sumber: Berbagai Perda dan Perbup Kabupaten Boyolali

Tabel 4.74 : Dasar Hukum SKPD


No SKPD Regulasi
1 Setda Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 16 Tahun 2011 Tentang
Organisasi Dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Boyolali
Perbup No 27 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Perbup No.29 Tahun 2011
tentang Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi Setda Kabupaten Boyolali
2 Sekretariat Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 16 Tahun 2011 Tentang
DPRD Organisasi Dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Boyolali
Perbup No 30 Tahun 2011 tentang Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi
Sekretariat DPRD Kabupaten Boyolali
3 Inspektorat Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 16 Tahun 2011 Tentang
Organisasi Dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Boyolali
Perbup No 31 Tahun 2011 tentang Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi
Inspektorat Kabupaten Boyolali
4 Dinas Daerah Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 16 Tahun 2011 Tentang
Organisasi Dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Boyolali
Perbup No 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 39, 40, 41 Tahun 2012 tentang
Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kabupaten Boyolali
Sumber: Berbagai Perda dan Perbup Kabupaten Boyolali

Dari SKPD yang terdapat di kabupaten Boyolali, SKPD. SKPD tersebut akan
bertanggungjawab kepada Sekda.

4.4.3 Analisis Program dan Kebijakan Pengembangan Kawasan Andalan


Dalam upaya untuk mengembangkan kawasan andalan Kabupaten Boyolali yang memiliki
sektor unggulan agropolitan, minapolitan, industri dan wisata maka ada beberapa sasaran pokok
pembangunan pada masing-masing sektor yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Kabupaten Boyolali yang tujuan dan sasaran untuk masing-masing sektor adalah sebagai
berikut :
Tujuan penataan ruang spesifik sektor agropolitan dan minapolitan :
1 Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan
masyarakat serta pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.
2 Mempercepat proses pemulihan ekonomi serta
peningkatan investasi bagi pembangunan ekonomi.
3 Meningkatkan kegiatan perekonomian di segala
bidang, meningkatkan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi.
4 Meningkatkan kemampuan daya saing dan kualitas
hasil-hasil produksi pertanian dalam mengisi pasar domestik maupun ekspor.
5 Mengoptimalkan potensi-potensi unggulan di sektor
pertanian, kehutanan dan perkebunan yang menjadi andalan daerah.
6 Menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha yang
meningkat dan kondusif.
7 Peningkatan kegiatan peternakan dan perikanan.
Tujuan penataan ruang spesifik sektor industri:
1 Mempercepat proses industrialisasi yang memiliki keunggulan komparatif dan
kompetitif.
2 Meningkatkan kegiatan perdagangan.
3 Efisiensi produk dengan memanfaatkan bahan baku lokal.
Sasaran penataan ruang spesifik sektor industri :
1 Pemanfaatan SDA untuk mendukung sektor industri dan penggalian secara
profesional dan yang berwawasan lingkungan.
2 Perluasan lapangan kerja bagi masyarakat.
3 Meningkatnya kegiatan sektor industri bagi peningkatan pendapatan masyarakat.
4 Menciptakan iklim investasi yang kondusif dan pemberian insentif dalam rangka
menarik investasi di daerah.
5 Meningkatkan sarana dan prasarana untuk mendukung berkembangnya investasi dan
memberikan pelayanan penanaman modal yang mudah dan cepat.
6 Perbaikan dan penambahan jalur transportasi yang dapat menumbuhkembangkan
sektor perdagangan guna pengangkutan barang dan jasa yang ada bisa lancar.
7 Debirokratisasi dan penyederhanaan sistem perijinan usaha dan pengajuan kredit
kepada instansi yang terkait.
8 Tersedianya fasilitas perdagangan sehingga terpenuhinya kebutuhan masyarakat.
Tujuan penataan ruang spesifik sektor wisata :
1 Pengembangan pemasaran daerah tujuan pariwisata
2 Pengembangan kemitraan bidang pariwisata
3 Peningkatan iklim yang kondusif bagi investor bidang pariwisata
4 Pengembangan SDM pariwisata
Sasaran penataan ruang spesifik sektor wisata :
1 Meningkatkan pendapatan masyarakat dari sektor pariwisata
2 Meningkatkan kegiatan promosi pariwisata secara terpadu dan konseptual
3 Meningkatkan sarana dan prasarana wisata dan pengembangan obyek wisata baru
4 Meningkatkan kerjasama dengan investor bidang kepariwisataan
5 Meningkatkan SDM pelaku wisata yang profesional
6 Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pariwisata
Sedangkan untuk rencana pengembangan detail pada masing-masing kecamatan adalah
sebagai berikut :
Tabel 4.75 : Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya di Kecamatan Teras
No. Jenis Kawasan Jenis Pemanfaatan
1. Kawasan Peruntukan Hutan Rakyat -
2. Kawasan Peruntukan Pertanian Kawasan Pertanian Tanaman Pangan lahan basah
Kawasan Pertanian Lahan Kering
Kawasan Pertanian Holtikultural
Kawasan Perkebunan berupa perkebunan kelapa
Kawasan Peternakan meliputi ternak kerbau, ternak kuda,
ternak kambing, ternak domba, ternak unggas
3. Kawasan Lahan Pertanian Tanaman -
Pangan Berkelanjutan
4. Kawasan Peruntukan Perikanan Usaha pembenihan lele
usaha penangkapan ikan sungai
Pengembangan Kawasan Mina Politan
5. Kawasan Peruntukan Industri Kawasan industri sedang sampai besar
Kawasan peruntukan industri kecil atau mikro terdiri atas jenis
industri makanan, minuman dan kerajinan
6. Kawasan Peruntukan Pariwisata Kawasan Wisata Alam berupa Umbul Nepen
7. Kawasan Peruntukan Permukiman Permukiman Perkotaan
Permukiman Perdesaan
8. Kawasan Peruntukan Lainnya Kawasan Perdagangan dan Jasa
Sumber : RDTR Kecamatan Teras
Dalam kawasan strategis Kabupaten Boyolali, BWP Banyudono sebagai :
1. Kawasan strategis sesuai kepentingan pertumbuhan ekonomi
- kawasan minapolitan.
- kawasan agropolitan.
- kawasan Perdagangan dan jasa di sepanjang jalan arteri, kolektor dan lokal; wilayah
perbatasan dikembangkan sebagai kawasan Perdagangan dan jasa pada sepanjang jalan
arteri.
- kawasan wisata (kawasan wisata Pengging).
2. Kawasan strategis sosial budaya berupa kawasan makam.
3. Kawasan strategis sesuai kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan berupa kawasan
sekitar mata air.
4.4.4 Analisis Kebijakan dan Program Partisipasi Masyarakat
Kebijakan dan program parstisipasi masyarakat merupakan kebijakan-kebijakan yang dibuat
oleh masyarakat sendiri melaui lembaga-lembaga terkait. Lembaga tersebut berupa LSM, lembaga
perkumpulan kampong, dan lembaga-lembaga lainnya yang mengelola asset strategis daerah
tersebut. Dalam survey primer disebutkan bahwa banyak masyarakat Kabupaten Boyolali yang
menganut budaya gotong royong. Budaya ini sudah meningkat dan membentuk lembaga-lembaga
kecil yang menghasilkan karya ekonomis yang dapat dipasarkan. Brikut merupakan daftar lembaga
yang berada dimasyarakat

Tabel 4.76 : Paguyuban di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali


No Nama Lembaga/Kegiatan Bentuk
1 Paguyuban Ikan Lele Sawit Swadaya Masyarakat
2 Paguyuban Industri Kripik Swadaya Masyarakat
3 Paguyuban Rebana Pesantren
4 Gapoktan Kelompok Tani Dimasing-Masing Desa
5 Pagutuban Seni Swadaya Masyarakat
6 Kerja Bakti Swadaya Masyarakat
Sumber : Wawancara kelurahan dan desa

Pada umumnya tidak ada aturan yang terlalu mengikat yang dibuat oleh paguyuban karena
mereka masih menggunakan cara-cara tradisional dan dibangun atas kebersamaan. Hanya satu
peraturan penting yang mereka gunakan yaitu kejujuran. Kejujuranlah yang membuat kepercayaan
antar masyarakat tinggi dan dapat membentuk paguyuban secara swadaya.

4.4.5 Analisis Kinerja LSM Dalam Pemberdayaan Masyarakat


Dalam pengembangan suatu kawasan maka diperlukan berbagai pihak yang terlibat
didalamnya. Baik dari lembaga formal pemerintah, lembaga fungsional, lembaga masyarakat, serta
masyarakat itu sendiri. Dalam kawasan andalan Kabupaten Boyolali ini, lembaga yang sesuai
tupoksinya untuk meningkatkan dalam pemberdayaan masyarakat adalah Lembaga Swadaya
Masyarakat, yang mana pada kawasan terdapat LSM sebagai berikut :

Tabel 4.77 : Nama LSM yang ada Di Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali
No Nama Ormas
1 LSM Ampera
2 LSM Duta Bangsa
3 LSM Forum Masyarakat Adil Sentosa
4 Perkumpulan Pergerakan Indonesia
5 Barisan Muda Indonesia
6 LSM Kesatuan Masyarakat Indonesia Raya
7 LSM Pamungkas
8 LSM Moro Makmur
9 LSM Kesejahteraan Bangsa
10 Himpunan Kerukunan Tani Indonesia
11 Paguyuban Budaya Jawa (Hirup Mahema)
12 Pasraman Lokasamgraha
Sumber : Kesbangpol Kabupaten Boyolali

Selain itu pada kawasan, untuk menunjang kinerja dan fungsi dari LSM juga terdapat Koerasi
Unit Desa baik untuk simpan pinjam atapun menjual bahan pertanian. Untuk KUD simpan pinjam
terdapat tujuh buah, dan untuk pertanian terdapat 5 buah. Selain itu juga terdapat Gapoktan yang
merupukan kumpulan dari kelompok petani, serta beberapa paguyuban kesenian. Semua lembaga
yang ada di atas memeiliki tujuan yang sama untuk mesejahterakan masyarakat yang ada. Kinerja
nya sendiri untuk KUD, Gapoktan dan Paguyuban sudah baik dan efektif, sehingga masyarakat
merasakan menfaatnya. Sedangkan untuk LSM sendiri walaupun menurut data sekunder jumlahnya
terdapat banyak, namun masyarakat pun tidak merasakan keberadaannya dan manfaatnya.

4.4.6 Analisis Alokasi APBD Untuk Infrastruktur


Sektor lain yang tidak kalah pentingnya dalam menunjang pelaksanaan pemerintahan dan
pembangunan Kabupaten Boyolali adalah sektor pembiayaan pembangunan. Pembiayaan
pembangunana mengkaji berbagai sumber keuangan untuk melaksanakan program-program
pembangunan yang telah diusulkan, serta alokasi dana untuk belanjanya. Dengan mengetahui
kondisi keungan daerah, diharapkan pemerintah dapat menentukan tindakan yang sesuai untuk
menunjang penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunannya.
Sumber keuangan untuk menunjang penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan
Kabupaten Boyolali dapat berasal dari beberapa komponen diantaranya: APBN, APBD Provinsi
Jawa Tengah, APBD Kabupaten Boyolali, Pihak Swasta dan Masyarakat. Dari beberapa komponen
sumber keuangan tersebut, untuk dapat mengetahui kondisi keuangan Kabupaten Boyolali sendiri,
maka perlu melihat APBD Kabupaten Boyolali.
Dalam APBD terdapat beberapa komponen penting, antara lain: pendapatan daerah, belanja
daerah dan pembiayaan daerah. Berikut merupakan penjelasan dari masing-masing komponen
tersebut:

a. Pendapatan
Pendapatan merupakan semua penerimaan pada rekening kas umum daerah yang menjadi
hak pemerintah daerah dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah daerah. Sumber
penerimaan APBD dalam pendapatan daerah Kabupaten Boyolali menurut jenisnya dibedakan
menjadi:
1 Pendapatan Asli Daerah (PAD). Merupakan penerimaan yang bersumber dari pajak
daerah, retribusi daerah, bagian laba Perusahaan Daerah/Badan Usaha Milik Daerah atau
kekayaan daerah yang dipisahkan, serta lain-lain PAD yang sah.
2 Pendapatan Transfer (Dana Perimbangan). Merupakan penerimaan daerah yang berasal
dari Pemerintah Pusat, meliputi Bagi Hasil Pajak, Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber
Daya Alam), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan bantuan
lainnya dari Pemerintah Pusat, serta Bagi Hasil Pajak dari Pemerintah Provinsi.
3 Lain-lain Pendapatan yang Sah. Merupakan penerimaan daerah baik berasal dari
Pemerintah Pusat berupa dana otonomi khusus dan bantuan lainnya, maupun dari
Pemerintah Provinsi berupa bagi hasil bukan pajak dan bantuan keuangan lainnya,
sepertihalnya dana darurat.
b. Belanja
Belanja merupakan semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang tidak akan
diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah. Penyajian belanja daerah dapat
diklasifikasikan atas dasar: belanja operasi, belanja modal, belanja tak terduga dan belanja
transfer yang merupakan gabungan dari belanja tidak langsung dan belanja langsung. Berikut
merupakan penjelasan dari masing-masing komponen tersebut:
1 Belanja Operasi, merupakan belanja yang memberikan manfaat atau akan terpakai habis
dalam menjalankan kegiatan operasional pemerintahan selama tahun anggaran berjalan.
Jenis belanja ini terdiri dari:
- Belanja pegawai merupakan belanja kompensasi, baik dalam bentuk uang maupun
barang yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan, yang diberikan
kepada pejabat negara, Pegawai Negeri Sipil dan pegawai yang dipekerjakan oleh
pemerintah yang belum berstatus PNS sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah
dilaksanakan kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal.
- Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa
yang bersifat pakai habis, untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan
maupun tidak dipasarkan dan pengadaan barang yang dimaksudkan untuk
diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan.
- Belanja Bunga adalah pengeluaran pemerintah untuk pembayaran bunga (interest)
atas kewajiban penggunaan pokok utang (principal out standing) yang dihitung
berdasarkan posisi pinjaman jangka pendek atau jangka panjang.
- Belanja Subsidi digunakan untuk bantuan biaya produksi kepada
perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat
terjangkau oleh masyarakat banyak.
- Belanja Hibah adalah pengeluaran pemerintah dalam bentuk uang/barang atau jasa
kepada pemerintah atau pemerintah lainnya, perusahaan daerah, masyarakat dan
organisasi kemasyarakatan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya
bersifat tidak wajib dan tidak mengikat serta tidak secara terus menerus.
- Belanja Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan kepada
masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial; Bantuan
Sosial dapat langsung diberikan kepada masyarakat termasuk didalamnya bantuan
untuk lembaga Non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan.
- Belanja Bantuan Keuangan
2. Belanja modal merupakan pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan asset
lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Belanja modal dapat
terdiri atas: Belanja Tanah, Belanja Peralatan dan Mesin, Belanja Gedung dan
Bangunan, Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan, Belanja Aset Tetap Lainnya.
3. Belanja tidak terduga merupakan pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang sifatnya
tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam,
bencana sosial dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam
rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah pusat/daerah.
4. Belanja transfer merupakan bagi hasil pajak daerah kepada pemerintah desa
c. Pembiayaan
Pembiayaan merupakan transaksi keuangan daerah yang dimaksudkan untuk menutup
selisih kurang (defisit) atau memanfaatkan selisih lebih (surplus) antara pendapatan dan belanja
daerah. Pembiayaan daerah meliputi: penerimaan dan pengeluaran pembiayaan. Penerimaan
pembiayaan adalah penerimaan daerah yang harus dibayar kembali di kemudian hari dan
pengeluaran pembiayaan merupakan pengeluaran yang akan diterima kembali di kemudian hari.
Berikut merupakan realisasi APBD Kabupaten Boyolali dari tahun 2010-2014.
Tabel 4.78 Realisasi APBD Kabupaten Boyolali 2010 2014 (Rupiah)
TAHUN
URAIAN
2010 2011 2012 2013 2014
PENDAPATAN 912,315,052,0 1,038,988,492,0 1,172,995,364,0 1,355,583,505,0 1,569,313,584,0
00 00 00 00 00
TAHUN
URAIAN
2010 2011 2012 2013 2014
PENDAPATAN 80,020,241,0 81,390,500, 108,796,100, 142,676,533, 181,450,406,0
ASLI DAERAH 00 000 000 000 00
DANA 682,044,836,0 751,306,751, 881,489,853, 967,113,761,0 1,059,244,080,0
PERIMBANGAN 00 000 000 00 00
LAIN-LAIN 150,249,975,0 206,291,241, 182,709,411,0 245,793,211,0 328,619,098,0
PENDAPATAN 00 000 00 00 00
DAERAH YANG
SAH
BELANJA 964,590,278,0 1,103,339,242,0 1,232,583,650,0 1,422,890,307,0 1,624,300,906,0
00 00 00 00 00
BELANJA TIDAK 817,276,648,0 813,572,355, 873,673,040, 965,968,878, 1,076,090,646,0
LANGSUNG 00 000 000 000 00
BELANJA 147,313,630,0 289,766,887, 358,910,610, 456,921,429, 548,210,260,0
LANGSUNG 00 000 000 000 00
SURPLUS / (DEFISIT) (52,275,226,00 (64,350,750,0 (59,588,286,0 (67,306,802,0 (54,987,322,0
0) 00) 00) 00) 00)
PEMBIAYAAN
DAERAH
PENERIMAAN 59,569,226,0 75,842,300, 67,699,596, 73,721,802, 66,725,322,0
PEMBIAYAAN 00 000 000 000 00
DAERAH
PENGELUARAN 7,294,000,0 11,491,550,0 8,111,310,0 6,415,000, 11,738,000,0
PEMBIAYAAN 00 00 00 000 00
DAERAH
PEMBIAYAAN 52,275,226,0 64,350,750, 59,588,286, 67,306,802, 54,987,322,0
NETTO 00 000 000 000 00
Sumber: APBD Kabupaten Boyolali Tahun 2010-2014

Berdasarkan tabel diatas maka perkembangan realisasi pendapatan berupa: PAD, dana
perimbangan maupun lain-lain pendapatan daerah yang sah, dapat dilihat dari grafik dibawah ini:

Gambar 4.24 Grafik Realisasi Anggaran Pendapatan Kab.Boyolali


Sumber: APBD Kabupaten Boyolali Tahun 2010-2014

Pada umumnya sumber pendapatan daerah Kabupaten Boyolali tertinggi berasal dari dana
perimbangan, dari tahun ke tahun dana perimbangan terus mengalami peningkatan, peningkatan
yang cukup signifikan terlihat dari tahun 2010. Komponen sumber pendapatan lainnya yang juga
cenderung selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun adalah lain-lain pendapatan daerah
yang sah, komponen sumber pendapatan ini memang tidak memiliki kontribusi bagi pendapatan
sebesar dana perimbangan. Sedangkan penyumbang pendapatan paling rendah berasal dari PAD.
Sedangkan untuk mengetahui perkembangan realisasi belanja daerah dapat dilihat dari grafik
dibawah ini:

Gambar 4.25 Grafik Realisasi Anggaran Pendapatan Kab.Boyolali


Sumber: APBD Kabupaten Boyolali Tahun 2010-2014

Belanja tidak langsung memiliki proporsi paling besar dalam belanja daerah dan dari tahun ke
tahunnya cenderung mengalami kenaikan. Terkait aspek pendanaan bagi penanggulangan bencana
alam di Kabupaten Boyolali, maka sumber dana berasal dari APBD Kabupaten Boyolali, hal ini
dapat dilihat dari komponen APBD berupa: komponen Belanja Tidak Terduga. Selain berasal dari
dalam Kabupaten, sumber dana berasal dari APBN, APBD Jawa Tengah, maupun bersumber dari:
individu, lembaga tingkat lokal.
Setiap tahun APBD Boyolali mengalami defisit. Anggaran Belanja Kabupaten Boyolali lebih
besar dari Pendapatan Daerah Boyolali.