Anda di halaman 1dari 5

Penegakan Diagnosis

1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik


Tanda klinis dan gejala tergantung pada lokasi dan ukuran neoplasma. Dapat
berupa sakit kepala dan kejang yang lebih sering, mual, muntah, papiledema,
ataupun gejala-gejala yang lain (Agarwal, 2012).
2. Pemeriksaan penunjang
a. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Pada pemeriksaan MRI akan ditemukan masa yang besar dengan
hiperintensitas, letaknya di perifer dan supratentorial, berupa masa solid dan
kistik yang berhubungan dengan edema vasogenik dan infiltrasi tumor (Port
et al, 2002).

Gambar 1. Gambaran MRI pada pasien astroblastoma (Port et al, 2002).


b. Pemeriksaan histopatologi
Gambaran histopatologi pada astroblastoma memiliki bentuk papil dengan
dikelilingi oleh sel sitoplasmik unipolar yang di tengahnya terdapat stroma
pembuluh darah (pseudorosette perivaskular). Pembuluh darah mudah
mengalami hyalinisasi dan penebalan kolagen. Dan pada stadium lanjut
dapat menyebabkan hilangnya fibrosa pada jaringan neoplastik (Sarwar dan
ul-Haque, 2004).

Patogenesis
Pada analisis molekular ditemukan hilangnya heterozigositas lokus
D19S412 pada lengan panjang kromosom 19 dan kromosom 9p (Shuangs hoti et
al, 2000 dan Hata, 2006).

Patofisiologi
Tumor glia ini berlokasi di hemisfer serebri. Invasi tumor dapat sampai ke corpus
callosum, serebelum, batang otak, dan nervus optikus (Agarwal, 2012). Adapun
gangguan neurologi yang dapat terjadi adalah sebagai berikut (Price, 2006):
1. Sakit kepala
Rasa sakit kepala pada tumor otak dapat digambarkan bersifat dalam dan terus
menerus, tumpul, dan kadang-kadang hebat sekali. Nyeri ini paling hebat pada
pagi hari dan lebih menjadi lebih hebat oleh aktivitas yang biasanya
meningkatkan TIK seperti membungkuk, batuk, mengejan pada waktu BAB.
2. Mual dan muntah
Terjadi sebagai akibat rangsangan pusat muntah pada medulla oblongata.
Muntah paling sering terjadi pada anak-anak berhubungan dengan peningkatan
TIK diserta pergeseran batang otak. Muntah dapat terjadi tanpa didahului mual
dan dapat proyektif.
3. Papiledema
Disebabkan oleh statis vena yang menimbulkan pembengkakan papilla nervus
optikus. Bila terlihat pada pemeriksaan funduskopi akan mengingatkan pada
peningkatan TIK. Seringkali sulit untuk menggunakan tanda ini sebagai
diagnosis tumor otak oleh karena pada beberapa individu fundus tidak
memperlihatkan edema meskipun TIK tidak amat tinggi. Dalam hubungannya
dengan papiledema mungkin terjadi beberapa gangguan penglihatan. Ini
termasuk pembesaran bintik buta dan amaurosis fugax (perasaan berkurangnya
penglihatan).
4. Gejala fokal
Tanda-tanda dan gejala-gejala tumor otak antara lainnya juga terjadi, tetapi ini
lebih cenderung mempunyai nilai melokalisasi:
a. Tumor korteks motorik, memanifestasikan diri dengan menyebabkan
gerakan seperti kejang yang terletak pada satu sisi tubuh.
b. Tumor lobus oksipital menimbulkan gejala visual, hemianopsia homonimus
kontralateral (hilangnya penglihatan pada setengah lapang pandang, pada
sisi yang berlawanan dari tumor) dan halusinasi penglihatan.
c. Tumor serebelum menyebabkan pusing, ataksia (kehilangan keseimbangan)
atau gaya berjalan yang sempoyongan dengan kecenderungan jatuh ke sisi
yang lesi, otot-otot tidak terkoordinasi, dan nistagmus (gerakan mata
berirama tidak disengaja) biasanya menunjukkan gerakan horizontal.
d. Tumor lobus frontal sering menyebabkan gangguan kepribadian perubahan
status emosional dan tingkah laku, dan disintegrasi perilaku mental. Pasien
sering menjadi ekstrem yang tidak teratur dan kurang merawat diri dan
menggunakan bahasa cabul.
e. Tumor sudut serebropontin biasanya diawali memberi rangkaian gejala yang
timbul dengan semua karakteriatik gejala pada tumor otak:
1) Pertama, tinnitus dan vertigo, diikuti terjadinya tuli (N. VIII)
2) Berikutnya kesemutan dan rasa gatal pada wajah dan lidah (N. V)
3) Selanjutnya, terjadi kelemahan atau paralisis (N. VII)
4) Akhirnya, karena pembesaran tumor menekan serebelum, mungkin ada
abnormalitas pada fungsi motorik.
f. Tumor ventrikel dan hipotalamus mengakibatkan somnolensia, diabetes
insipidus, obesitas, dan gangguan pengaturan suhu. Tumor intrakranial dapat
menghasilkan gangguan kepribadian, konfusi, gangguan fungsi bicara dan
gangguan gaya berjalan.

Gambaran Histopatologi
Gambar 2. Gambaran papillary pada Gambar 3. Pseudorosette perivaskular
tumor (Sarwar dan ul-Haque, 2004). dan pembuluh darah yang mengalami
hyalinisasi (Sarwar dan ul-Haque,
2004).

Gambar 4. Sel sitoplasmik unipolar Gambar 5. Hilangnya fibrosa pada


yang membentuk pseudorosette jaringan neoplastik (Sarwar dan ul-
(Sarwar dan ul-Haque, 2004). Haque, 2004).
DAFPUS
Agarwal, V., Mally, R., Palande, D., dan Velho, V. 2012. Cerebral Astroblastoma:
A Case Report and Review of Literature. Asian J. Neurosurg., 7(2).
Hata, N., Shono, T., Yoshimoto, K., Mizoquchi, M., Kawamura, T., Naqata, S.
2006. An Astroblastoma Case Associated With Loss of Heterozygosity on
Chromosome 9p. J. Neurooncol, 80(1).
Sarwar, Ayesha dan ul-Haque, Anwar. 2004. Astroblastoma: A Rare Glial Tumor.
International Journal of Pathoogy, 2(2): 100-102.
Shuangshoti, S., Mitphraphan, W., Kanvisetsri, S., Griffiths, L., Navalitloha, Y.,
Pornthanakasem, W. et al. 2000. Astroblastoma: Report of A Case With
Microsatellite Analysis. Neuropathology, 20 (3).
Port, John D., Brat, Daniel J., Burger, Peter C. 2002. Astroblastoma: Radiologic-
Pathologic Correlation and Distinction From Ependymoma. AJNR Am J
Neuroradiol, 23: 243-247.
Price, Sylvia A. dan Lorainne M. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.