Anda di halaman 1dari 63

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan media yang sangat berperan penting untuk

menciptakan manusia yang berkualitas dan berpotensi dalam arti yang seluas-

luasnya. Melalui pendidikan, akan terjadi proses pendewasaan diri sehingga

di dalam proses pengambilan keputusan terhadap suatu masalah yang

dihadapi, selalu disertai rasa tanggung jawab yang besar. Mengingat peran

pendidikan tersebut, maka sudah seharusnya aspek ini menjadi perhatian

pemerintah dalam rangka meningkatkan sumber daya masyarakat indonesia

yang berkualitas.

Pada umumnya ilmu matematika dikalangan masyarakat khususnya

peserta didik kurang diminati, artinya matematika merupakan pelajaran yang

menakutkan. Padahal kalau ditinjau lebih jauh lagi matematika merupakan

ilmu yang mengasyikkan, karena didalamnya mengandung teka-teki yang

perlu kita pecahkan. Sikap tidak menyukai matematika merupakan salah satu

hambatan untuk belajar matematika yang tidak efektif.

Dalam belajar matematika,(Agus Suprijono:2009) diperlukan

pemahaman dan penguasaan materi terutama dalam membaca simbol, tabel

dan diagram yang sering digunakan dalam matematika serta struktur

matematika yang kompleks, dari yang konkret sampai yang abstrak, apalagi

jika yang diberikan adalah soal dalam bentuk cerita yang memerlukan
2

kemampuan penerjemahan soal ke dalam kalimat matematika dengan

memperhatikan maksud dari pertanyaan soal tersebut. Namun dalam

melaksanakan kegiatan pembelajaran khususnya yang herhubungan dengan

matematika, ternyata masih banyak mengalami hambatan-hambatan, baik

yang dialami siswa maupun guru. Salah satu hambatan yang terjadi adalah
1
kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika.

Prestasi belajar merupakan tolak ukur yang utama untuk mengetahui

keberhasilan belajar seseorang. Seorang yang prestasinya tinggi dapat

dikatakan bahwa ia telah berhasil dalam belajar. Prestasi belajar adalah

tingkat pengetahuan sejauh mana anak terhadap materi yang diterima.


Hasil belajar yang dicapai siswa dapat dipengaruhi oleh dua faktor

yaitu faktor internal dan eksternal (Slameto:2003). Penyebab utama kesulitan

belajar (Learning disabilities) adalah faktor internal yaitu diantaranya minat,

bakat, motivasi, tingkat intelegensi, sedangkan penyebab utama problema

belajar (learning problems) adalah faktor eksternal antara lain berupa strategi

pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak

membangkitkan minat belajar anak, maupun faktor lingkungan yang sangat

berpengaruh pada prestasi belajar yang dicapai oleh siswa.


Selama ini suasana pembelajaran didominasi oleh guru sementara siswa

tidak dilibatkan secara aktif untuk mengkonstruksi atau merancang sendiri

pemahamannya terhadap konsep operasi bentuk aljabar. Akibatnya, siswa

cenderung belajar secara mekanistik, meniru apa yang dikatakan atau

dilakukan guru, selanjutnya menghafal tanpa memahami makna yang

sebenarnya.
3

Rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep Operasi Bentuk Aljabar

akan menimbulkan siswa tidak bisa menyerap materi yang diberikan guru

dengan baik, sehingga siswa akan malas dalam mempelajari materi tersebut

dan akan memberi dampak buruk pada materi selanjutnya. Rendahnya

pemahaman siswa dapat diatasi dengan melibatkan siswa secara aktif dalam

proses belajar mengajar. Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh

siswa. Jadi kegiatan berpusat pada siswa, guru sebagai motivator dan

fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup. Salah satu tipe

pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif adalah pembelajaran

kooperatif.
Penerapan tipe pembelajaran kooperatif merupakan satu bentuk

perubahan pola pikir dalam proses belajar mengajar di sekolah. Dengan

menggunakan pembelajaran kooperatif, siswa akan lebih mudah menemukan

dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusi

konsep-konsep dengan temannya(slavin:1989). Dengan menemukan dan

memahami konsep yang sulit tersebut nantinya diharapkan pembelajaran

kooperatif dapat meningkatkan pemahaman siswa.


Ada banyak tipe pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan dalam

kegiatan belajar mengajar, salah satu di antaranya adalah tipe Numbered

Head Together (NHT). Tipe NHT merupakan varian dari diskusi kelompok.

Teknis pelaksanaannya hampir sama dengan diskusi kelompok. Pertama

tama guru meminta siswa untuk duduk berkelompok. Masing- masing

anggota kelompok diberi nomor. Setelah selesai, guru memanggil nomor


4

(baca anggota) untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Guru tidak

memberitahukan nomor berapa yang akan mempersentasekan selanjutnya.

Begitu seterusnya hingga semua nomor terpanggil. Pemanggilan secara acak

ini memastikan semua siswa benar- benar terlibat dalam diskusi tersebut

(slavin:1995).
Pertimbangan memilih SMP Negeri 2 Ende sebagai lokasi penelitian

karena berdasarkan pengalaman peneliti selama mengajar di SMP Negeri 2

Ende didapatkan latar belakang siswa yang sangat bervariasi dalam dukungan

atau motivasi belajarnya. Kebanyakan guru khususnya guru matematika,

dalam mengajar masih menggunakan metode ceramah. Pembelajaran

kooperatif pada sekolah ini jarang dilakukan dalam proses belajar mengajar

termasuk dalam pembelajaran matematika. Hal ini terjadi karena

pembelajaran kooperatif masih belum banyak dikenal guru.


Berkaitan dengan masalah konkrit ini, peneliti akan melakukan suatu

pembelajaran yang tujuannya untuk meningkatkan hasil belajar matematika

siswa di SMP Negeri 2 Ende yaitu dengan menggunakan pembelajaran tipe

Number Head Together (NHT). Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu

oleh : 1) Leonsi (2013) menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe

NHT efektif untuk materi bentuk aljabar pada siswa kelas VII SMPN 1

Maurole. Dilihat dari analisis kovarian dimana F = 5.170632, dengan dk

pembilang 2 dan dk penyebut 32. 2) Lusia (2011) menyimpulkan bahwa

pembelajaran kooperatif tipe NHT efektif untuk materi operasi pada bentuk

aljabar pada siswa kelas VII SMPN 2 Maumere. Diliha dari statistik hitung

yaitu F=13,73104 dengan dk pembilang 1 dan dk penyebut 17. 3) Wolfram


5

(2011) menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe NHT efektif untuk

materi operasi pada bentuk aljabar pada siswa kelas VII SMPK Emanuel

Mautenda. Dilihat dari statistik F = 11.15576 dengan dk pembilang = 1 dan

dk penyebut 47, memberikan nilai yang signifikan ( F tabel = 3,12).

Dari uraian di atas sekiranya perlu adanya suatu tindakan guru untuk mencari

dan menerapkan suatu model pembelajaran yang mampu meningkatkan

pemahaman siswa tentang konsep-konsep matematika khususnya pada materi

operasi bentuk aljabar. Oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian dengan

judul : "Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Untuk Materi Operasi Bentuk Aljabar

pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Ende Tahun Pelajaran 2014/ 2015".

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakan di atas, maka rumusan masalahnya

adalah sebagai berikut :


1. Bagaimanakah pengembangan perangkat pembelajaran kooperatif tipe

Numbered Head Together (NHT) materi Operasi Bentuk Aljabar pada

siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Ende Tahun Pelajaran 2014/2015?


2. Apakah pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT)

dapat meningkatkan hasil belajar materi Operasi Bentuk Aljabar bagi

siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Ende Tahun Pelajaran 2014/2015?


C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk menghasilkan perangkat pembelajaran kooperatif tipe Numbered

Head Together (NHT) materi Operasi Bentuk Aljabar pada siswa kelas VII

SMP Negeri 2 Ende Tahun Pelajaran 2014/2015.


2. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dengan pembelajaran

kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) materi Operasi Bentuk


6

Aljabar pada siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Ende Tahun Pelajaran

2014/2015.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Bagi peneliti, kegiatan penelitian ini diharapkan peneliti dapat menerapkan

ilmu yang telah diperolehnya, selain itu diharapkan peneliti akan

memahami dan belajar tentang keadaan yang sesungguhnya dari dunia

pengajaran, karena hal ini dapat menjadi bekal bagi peneliti bila nanti akan

berkecimpung dalam dunia pendidikan yang sesungguhnya di sekolah.


2. Bagi siswa, diharapkan penelitian ini dapat menambah daya tarik siswa

terhadap matematika sehingga timbul motivasi dalam diri siswa untuk

belajar lebih giat dan meningkatkan pemahaman terhadap konsep-konsep

matematika sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.


3. Bagi guru, diharapkan penelitian ini dapat memberi gambaran tentang

pembelajaran kooperatif tipe NHT yang dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan untuk memilih metode mengajar yang tepat.


E. Defenisi Operasional Judul
Untuk menghindari kesalahan penafsiran terhadap istilah-istilah yang

dipakai dalam judul proposal ini, maka penulis merasa perlu untuk

menjelaskan istilah berikut :


1. Pengembangan perangkat adalah serangkaian proses atau kegiatan yang

dilakukan untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan

teori pengembangan yang telah ada.


2. Pembelajaran Kooperatif adalah suatu pembelajaran yang didasarkan atas

kerja kelompok yang dilakukan untuk mencapai tujuan khusus.


3. Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) adalah

salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur


7

khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan

memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik.


4. Operasi bentuk aljabar adalah suatu bentuk operasi yang melibatkan

konstanta, variabel, dan koefisien tertentu. Misalnya bentuk aljabarnya

adalah 3 p+ 2 maka, 3 adalah koefisien dari p, dan p adalah variabel

atau peubah dan 2 adalah konstanta atau tetapan.


5. Perangkat pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan dalam

pembelajaran seperti : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar

Kerja Siswa (LKS), Tes Hasil Belajar.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Pengertian Belajar

Witherington (dalam Dalyono, 2000:211) mengemukakan

bahwa belajar merupakan salah satu perubahan didalam

kepribadian yang mengatakan diri diri sebagai suatu pola baru dari

reaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, dan suatu

pengertian.

2. Teori Piaget
Menurut Piaget (dalam Muntaha 2013:9-10) menyarankan agar

pembelajaran matematika lebih menekankan pada aktivitas,

pengalaman, dan penggunaan metode aktif, serta mulai dari yang

konkret dan perlahan-lahan menjadi abstrak.


8

Implikasi Piaget dalam pembelajaran menurut Slavin, sebagai

berikut :
1. Memusatkan perhatian pada proses berpikir peserta didik, bukan

sekedar pada hasilnya.


2. Menekankan pada pentingnya peran aktif siswa dalam berinisiatif

sendiri dan keterlibatannya secara aktif dalam pembelajaran.


3. Memaklumi adanya perbedaan individu dalam hal kemajuan

perkembangan, sehingga guru harus melakukan upaya khusus untuk

mengatur kegiatan kelas dalam


8
bentuk individu-individu atau

kelompok kecil.
3. Teori Konstruktivisme

Teori ini memahami belajar sebagai proses pembentukan

(konstruksi) pengetahuan oleh si belajar itu sendiri. Pengetahuan ada

di dalam diri seorang yang sedang mengetahui dan tidak dapat

dipindahkan begitu saja dari otak seseorang (guru) kepada orang lain

(peserta didik). Dengan kata lain peserta didik sendiri yang harus

mengartikan apa yang telah diajarkan dengan konstruksi yang telah

dibangun sebelumnya.

4. Teori Vygotsky
Tokoh konstruktivis lain adalah Vygotsky. Sumbangan penting

teori Vygostky adalah penekanan pada hakekatnya pembelajaran

sosiokultural.Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara

aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekananya

pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, fungsi

kognitif berasal dari intraksi sosial masing-masing individu dalam


9

konsep budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat

siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun

tugas-tugas ini berada dalam zone of proximal development mareka.

Zone of proximal development adalah jarak antara tingkat

perkembangan sesungguhnya yang ditunjukan dalam kemampuan

pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat kemampuan

perkembangan potensial yang ditunjukkan dalam kemampaun

pemecahan masalah dibawah bimbingan orang dewasa atau teman

sebaya yang lebih mampu.


Teori vygostky yang lain adalah scaffolding. Scaffoldingadalah

memberikan kepada seseorang anak sejumlah besar bantuan selama

tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan

tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil

ahli tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu

mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa

petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah kedalam bentuk

lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri. Vygotsky menjabarkan

implikasi utama teori pembelajaran yaitu :


1. Menghendaki setting kelas kooperatif, sehingga siswa dapat saling

berintaraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan

masalah yang efektif dalam masing-masing zone of proximal

development mareka.
2. Pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran menekankan scaffolding.

Jadi teori belajar Vygotsky adalah salah satu teori belajar sosial

sehingga sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif terjadi


10

interaktif sosial yaitu interaksi antara siswa dengan siswa dan antara

siswa dan guru dalam usaha menemukan konsep-konsep dan

pemecahan masalah.

B. Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) merupakan

sistem pengajaran yang memberi kesempatan untuk bekerja sama

dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran

kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Tetapi

belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok karena dalam

belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat

kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka

dan hubungan yang bersifat interpendensi efektif diantara anggota

kelompok (Sugandi dalam Purworedjo, 2009:2).


Menurut pendapat Lie, A. (2008:29) bahwa model pembelajaran

kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok, ada


unsur-unsur dasar pembelajaran cooperative learning yang

membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-

asalan. Pelaksanaan prosedur model cooperative learning dengan

benar-benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan

efektif.
Pada dasarnya cooperative learning mengandung pengertian

sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau

membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur


11

dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih di mana

keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap

anggota kelompok itu sendiri.cooperative learning juga dapat diartikan

sebagai suatu struktur tugas bersama dalam suasana kebersamaan

diantara sesama anggota kelompok (Solihatin E. dan Rahardjo,

2007:4).
Dari pendapat beberapa para ahli diatas, penulis menyimpulkan

bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang

mengutamakan adanya kelompok-kelompok kerja sama dalam

menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan

keterampilan dalam mencapai tujuan pembelajaran di bawah

bimbingan orang dewasa, dalam hal ini guru.

2. Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif


Strategi pembelajaran kooperatif merupakan serangkaian kegiatan

pembelajaran yang dilakukan oleh siswa di dalam kelompok, untuk

mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Terdapat

empat hal penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yakni:

(l) adanya peserta didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main

(rule) dalam kelompok, (3) adanya upaya belajar dalam kelompok,

(4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.

Berkenaan dengan pengelompokan siswa dapat ditentukan

berdasarkan atas: (1) minat dan bakat siswa, (2) latar belakang

kemampuan siswa, (3) perpaduan antara minat dan bakat siswa dan

latar kemampuan siswa (Rusman, 2012:203).


3. CiriCiri Pembelajaran Kooperatif
12

1. Pembelajaran Secara Tim


Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena

itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Setiap anggota

tim hurus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.


2. Didasarkan pada Manajemen Kooperatif
Manajemen mempunyai tiga fungsi, yaitu: (a) fungsi

manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan menunjukkan bahwa

pembelajaran kooperatif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan,

dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan. Misalnya

tujuan apa yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa

yang harus digunakan untuk mencapai tujuan, dan lain sebagainya,

(b) fungsi manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa

pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar

proses berjalan dengan efektif, (c) fungsi manajemen sebagai

kontrol, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu

ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui bentuk tes maupun

nontes.
3. Kemauan Untuk Bekerja Sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh

keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan

atau kerja sama perlu ditentukan dalam pembelajaran kooperatif.

Tanpa kerja sama yang baik, pembejaran kooperatif tidak akan

mencapai hasil yang optimal.


4. Keterampilan Bekerja Sama
Kemampuan bekerja sama itu dipraktikkan melalui aktivitas

dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan demikian,

siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan


13

berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan

pembelajaran yang telah ditetapkan.

4. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif


Unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1) Peserta didik dalam kelompok haruslah beranggapan bahwa

sehidup, sepenanggungan bersama.


2) Peserta didik bertanggungjawab atas segala sesuatu di dalam

kelompok.
3) Peserta didik haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam

kelompoknya memiliki tujuan yang sama.


4) Peserta didik haruslah membagi tugas dan tanggungjawab yang

sama diantara anggota kelompoknya.


5) Peserta didik akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan

yang juga akan dikenakan untuk semua anggota keluarga.


6) Peserta didik berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan

keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.


7) Peserta didik diminta mempertanggungjawabkan secara individual

yang ditangani dalam kelompok kooperatif (Ibrahim, 2010)

5. Tujuan Pembelajaran Kooperatif


Tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di

mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh

keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994:50).


Menurut Depdiknas tujuan pembelajaran kooperatif, yaitu:
1) Meningkatkan hasil akadmik dengan meningkatkan kinerja peserta

didik dalam tugas-tugas akademiknya.


2) Pembelajaran kooperatif memberi peluang agar peserta didik dapat

menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai perbedaan

latar belakang.
3) Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengembangkan

keterampilan sosial peserta didik. Keterampilan sosial yang


14

dimaksud antara lain; berbagai tugas, aktif bertanya, menghargai

pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau

menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan

sebagainya.
Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi

pengajaran yang melibatkan siswa bekerja scara berkolaborasi

untuk mencapai tujuan bersama (Eggen & Kuachak, 1996:279).

Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk

meningkatkan partisipasi siswa untuk berinteraksi dan belajar

bersama sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Tujuan-

tujuan pembelajaran ini mencakup tiga jenis tujuan penting, yaitu

hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan

pengembangan keterampilan sosial (Ibrahim, dkk 2000:7).

C. Pendekatan Pembelajaran Kooperatif


1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe

pembelajaran yang menekankan pada struktur khusus dirancang untuk

mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk

meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh

Kiage (dalam Ibrahim, 2000:28) dengan melibatkan para siswa dalam

menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran, mengecek

pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Ibrahim

mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran

kooperatif NHT yaitu :


15

1. Hasil belajar akademik bertujuan meningkatkan kinerja siswa dalam

tugastugas akademik.

2. Pengakuan adanya keragaman, bertujuan agar siswa dapat menerima

teman-temannya yang mempunyai latar belakang.

3. Pengembangan keterampilan sosial. Bertujuan untuk

mengembangkan keterampilan bekerja sama dan kolaborasi.

2. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT


Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT menurut Ibrahim

(2000) ada tiga langkah yaitu : 1) Pembentukan kelompok, 2) Diskusi

masalah, 3) Tukar jawaban antar kelompok. Langkah-langkah tersebut

kemudian dikembangkan menjadi enam langkah sesuai dengan

kebutuhan pelaksanaan penelitian. Enam langkah tersebut adalah

sebagai berikut :
1. Persiapan
Rencana dalam tahap ini yaitu mempersiapkan rancangan pelajaran

dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar

Kerja Siswa (LKS), dan Tes Hasil Belajar (THB) yang sesuai dengan

metode pembelajaran kooperatif tipe NHT.


2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan metode

pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi siswa menjadi

beberapa kelompok yang beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa.

Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan

nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan

pencampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, jenis kelamin,

dan kemampuan belajar. Sebelum pembelajaran dimulai, guru


16

memperkenalkan keterampilan kooperatif dan menjelaskan tiga

acuan dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu :


a. Tetap berada dalam kelompok
b. Mengajukan pertanyaan kepada kelompak sebelum mengajukan

pertanyaan kepada guru.


c. Memberikan umpan balik terhadap ide-ide serta menghindari

saling mengkritik sesama siswa dalam kelompok.


3. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepada setiap siswa

bahan yang akan dipelajari.


4. Memanggil nomor anggota
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap

kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan

menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.


5. Menarik kesimpulan
Guru memberi kesimpulan atau jawaban akhir dari semua

pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.


6. Memberi penghargaan tahap ini, guru memberi kata-kata pujian

kepada siswa dan memberi nilai yang lebih tinggi kepada kelompok

yang hasil belajarnya lebih baik. Ada beberapa manfaat pada

pendekatan pembelajaran tipe NHT terhadap siswa yang hasil

belajarnya rendah yang dikemukakan Lundgren (dalam ibrahim,

2000:18) adalah : a) Rasa harga diri menjadi lebih tinggi, b)

Memperbaiki kehadiran, c) Penerimaan terhadap individu menjadi

lebih besar.

3. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif tipe NHT


3.1. Keunggulan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
17

1. Siswa tidak terlalu menggantung terhadap guru, akan tetapi

menambah kemampuan berpikir sendiri, menemukan

informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa lain.

2. Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide

atau gagasan.

3. Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide

dan memahami sendiri, menerima umpan balik.

4. Dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan

untuk berpikir.

3.2. Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT


1. Untuk siswa yang dianggap memiliki kemampuan yang lebih,

maka mereka akan merasa terhambat oleh siswa lain yang

dianggap kurang memiliki kemampuan. Penilaian yang

diberikan berdasarkan hasil kerja kelompok, namun guru

perlu menyadari bahwa hasil atau prestasi yang diharapkan

adalah prestasi setiap individu siswa.


2. Walaupaun kemampuan kerja sama merupakan kemampuan

yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas

dalam kehidupannya hanya didasarkan secara individual.

Oleh karena itu idealnya melalui pembelajaran kooperatif

selain siswa belajar bersama-sama, maka siswa juga belajar

bagaimana membangun kepercayaan diri.

D. Hasil Belajar
18

Bukti bahwa sesorang telah belajar ialah terjadinya perubahan

tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu,

dari tidak mengerti menjadi mengerti. Tingkah laku memiliki unsur

subjektif dan unsur motoris. Unsur subjektif adalah unsur rohaniah

sedangkan unsur motoris adalah unsur jasmaniah. Bahwa sesorang sedang

berpikir dapat dilihat dari raut mukanya, sikap dalam rohaniahnya tidak

bisa kita lihat.

(Hamalik, 2009) bahwa tingkah laku manusia terdiri dari sejumlah

aspek. Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada aspek-aspek

tersebut. Adapun aspek-aspek itu adalah:

1. Pengetahuan,
2. Pengertian,
3. Kebiasaan,
4. Keterampilan,
5. Apresiasi
6. Emosional,
7. Hubungan social dan jasmani
8. Etis atau budi pekerti, dan sikap

E. Operasi Hitung Bentuk Aljabar


1. Pengertian Bentuk Aljabar
Bentuk aljabar adalah suatu bentuk yang melibatkan konstanta,

variabel dan koefisien tertentu disertai dengan operasi aljabar. Bentuk

aljabar dapat berupa suatu konstanta atau peubah saja (Irianto, dkk,

2005:57). Dari definisi bentuk aljabar di atas maka bentuk aljabar

terdiri dari beberapa unsur yaitu:


1. Konstanta (tetapan) adalah lambang suatu ide tertentu.
19

2. Variabel (peubah) adalah lambang pengganti suatu konstanta yang

belum diketahui.
3. Koefisien adalah faktor konstanta pada suatu variabel.

Misalkan bentuk aljabarnya adalah 3 q+1 maka, 3 adalah

koefisien dari q, dan q adalah variabel atau peubah dan 1 adalah

konstanta atau tetapan.

Bentuk aljabar 3 q+1 terdiri dari dua suku, yaitu 3q dan

1 . Oleh karena itu disebut bentuk aljabar suku dua atau binom. Bentuk

aljabar seperti 6 x+ 5 y 5 disebut bentuk aljabar suku tiga atau trinom.

Sedangkan bentuk aljabar yang memiliki beberapa suku seperti suku dua,

suku tiga, suku empat, dan seterusnya disebut suku banyak atau polinom.

Contoh :

1) Tentukan koefisien x dan banyak suku pada bentuk aljabar

2
berikut ini 7 x x 10
Jawab :
2
Koefisien x dari 7 x x 10 adalah 1 .

Banyaknya suku 7 , yaitu 7x2 , x dan 10.

2. Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Aljabar


Dalam sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan atau

perkalian terhadap pengurangan, akan berlaku sifat-sifat berikut :


1. ab+ ac=a ( b+ c ) atau ab+ac=( b +c ) a
20

2. ab ac=a(b c )atau ab ac =(b c)a

Sifat-sifat di atas dapat digunakan untuk menjumlahkan atau

mengurangkan suku-suku sejenis pada bentuk aljabar sehingga

bentuknya menjadi lebih sederhana.

Contoh :

2 2
1) Sederhanakan bentuk aljabar berikut: 4 ( 2 x +3 x ) 12 x
Jawab:
4 (2 x2 +3 x) 12 x 2=8 x 2+12 x 12 x 2 Kumpulkan
2 2 suku-suku
8 x 12 x +12 x
yang sejenis

(812)x 2+ 12 x

4 x 2+12 x

3. Mensubstitusikan Bilangan pada Bentuk Aljabar


Dalam suku banyak bentuk aljabar, misalnya 3 x2 5 x +9 y +9 ,

variabel x dan y dapat diganti dengan bilangan-bilangan yang

ditentukan, sehingga bentuk aljabar tersebut meniliki nilai tertentu.

Mengganti variabel dengan bilangan yang ditentukan disebut substitusi.

Pengerjaan substitusi sangat bermanfaat dalam perhitungan-perhitungan

yang menggunakan rumus, baik dalam matematika sendiri maupun

dalam mata pelajaran lain.


Contoh :
21

Jika a 5, b=3 dan c=4 , tentukan nilai dari

2 ab+bc 5 ac

Jawab :

2 ab+bc5 ac=[2 ( 5 ) (3)]+[(3)(4)][5( 5)( 4)]

30+12+100

82

4. KPK dan FPB Bentuk Aljabar suku Tunggal


Berikut ini adalah pembahasan tentang huhungan antara KPK

maupun FPB dari bentuk aljabar suku tunggal terhadap faktor-

faktornya.

2 ab=2 a b

15 b=3 5 b

KPK dari 2 ab dan 10 b=10 ab

Hasil kali faktor (prima)


2 5 a b dan variabel yang berbeda

FPB dari 2 ab dan 10 b=2 b

2 b
22

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa : KPK

merupakan hasil perkalian dari semua.faktor-faktor (prima) dan variabel

yang berbeda dengan mengambil pangkat tertinggi. FPB merupakan

hasil perkalian dari faktor-faktor (prima) dan variabel yang sama

dengan mengambil pangkat terendah.

5. Pecahan Bentuk Aljabar


Pecahan bentuk aljabar adalah pecahan yang pembilang dan

penyebut atau kedua-duanya memuat bentuk aljabar.


p 3 2 a m+2 x
, , , ,
Misalnya : 5 q bc n dan x y

Pada bahasan ini akan dipelajari pecahan-pecahan bentuk aljabar yang

p 2a m+2
,
penyebutnya merupakan suku tunggal seperti : 5 bc dan n

1. Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Bentuk Aljabar


Pecahan-pecahan yang penyebutnya sama dapat dijumlahkan atau

dikurangkan dengan cara menjumlahkan atau mengurangkan

pembilang-pembilangnya. Hal ini berlaku untuk pecahan-pecahan

bentuk aljabar. Jika pecahan-pecahan yang akan dijumlahkan atau

dikurangkan memiliki penyebut yang berbeda, maka penyebut-

penyebut pecahan tersebut harus disamakan terlebih dahulu dengan

cara menentukan KPK dari penyebut-penyebut pecahan tersebut

kemudian masing-masing pecahan diubah menjadi pecahan yang

penyebutnya merupakan KPK yang sudah ditentukan.


23

Contoh :

p p+4

Sederhanakan penjumlahan dan pengurangan pecahan : 2 3

Jawab:

p p+4 p 3 2( p+ 4)
= .. KPK dari 2 dan3 adala h 6
2 3 2 3 2 3

3 p 2 p+ 8

6 6

3 p(2 p +8)

6

3 p2 p8

6

p8

6

2. Perkalian dan Pembagian Pecahan Bentuk Aljabar


Hasil perkalian dua pecahan dapat diperoleh dengan mengalikan

pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut.

Contoh :

4 y 15 x 4 y 15 x
=
5 z 16 y 5 z 16 y
24

60 xy

80 yz

3x

4z

Pembagian dua bilangan pecahan yaitu mengalikan terhadap

kebalikan pecahan tersebut.

Contoh:

3k 9 3k 8n
=
4n 8n 4 n 9

24 kn

36 n

2k

3

3. Pemangkatan Pecahan Bentuk Aljabar


Untuk menentukan hasil pemangkatan pada pecahan bentuk aljabar,

perlu diingat kembali arti pemangkatan suatu bilangan dan sifat

perkalian berikut ini :


an =a a a . a . sebanyak n faktor
a c a c
=
b d b d

Kedua sifat di atas kita gunakan secara bersama-sama untuk

menentukan hasil pemangkatan dari pecahan bentuk aljabar.


25

2 ab 4 2 4 a4 b 4 16 b4
Contoh : ( ) 3 a2 n
= =
34 a8 c 4 81 a 4 c 4

6. Penggunaan Aljabar dalam Kehidupan


Untuk menyelesaikan soal-soal dalam kehidupan sehari-hari yang

berbentuk cerita, langkah-langkah berikut dapat membantu

mempermudah penyelesaiannya.

1. Jika memerlukan sketsa, misalnya untuk soal yang berhubungan

dengan geometri, buatlah sketsa dari soal cerita tersebut.

2. Menerjemahkan soal cerita menjadi bentuk kalimat matematika

(bentuk aljabar).

Contoh : Panjang sebuah papan adalah (3x +4 ) cm. Papan itu

dipotong (x 2) cm dan sisanya p cm.

a. Nyatakan p dalam x dengan bentuk paling sederhan.

b. Bila x = 15, berapa panjang sisa papan?

Jawab :

(x 2)

(3x + 4)

a. p = (3x + 4) (x 2)
= 3x + 4 x + 2
26

= 3x x + 4 + 2
= 2x + 6
b. p = 2x +6=2 x 15+6=30+6=36

( sumber : Adinawan, M. Cholik, dkk, 2006 :86 109 )

F.Kerangka Berpikir
Secara umum, hasil belajar metematika siswa masih berada dalam

kategori atau tataran rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar

matematika siswa, guru diharapkan mampu berkreasi dengan

menerapkan model ataupun pendekatan dalam pembelajaran matematika

yang cocok dengan karakteristik materi yang akan diajarkan. Salah satu

model pembelajaran yang memberi rangsangan pemikiran siswa ke

dalam suasana aksi dan melibatkan siswa secara aktif adalah melalui

model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT).

Pembelajaran tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran

kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk

mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk

meningkatkan penguasaan akademik


Model pembelajaran kooperatif tipe NHT ini lebih menekankan

pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-

pola interaksi siswa dengan dalam memiliki tujuan untuk meningkatkan

penguasaan isi akademik. Dengan model ini, siswa tidak hanya mudah

menguasai konsep dan materi pelajaran namun juga siswa dapat lebih aktif

dalam kelas. Dengan meningkatnya hasil belajar, maka model

pembelajaran ini dapat dikatakan efektif. Dengan kata lain proses belajar
27

matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe

NHT lebih efektif daripada pembelajaran tanpa menggunakan model

pembelajaran kooperatif tipe NHT. Secara umum digambarkan dalam

bagan seperti pada gambar berikut :

GURU

OPERASI BENTUK ALJABAR

Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

Siswa

Hasil Belajar

G. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu penelitian yang harus

diuji kebenarannya dengan jelas (Kartono dalam Sare, 2005:4). Berdasarkan

latar belakang dan permasalahan yang diuraikan oleh peneliti, maka yang

menjadi hipotesis penelitian ini adalah :

1. Pengembangan perangkat pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head

Together (NHT) dihasilkan perangkat pembelajaran yang baik untuk


28

materi Operasi Bentuk Aljabar pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2

Ende, Tahun Pelajaran 2014/2015.


2. Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar

siswa untuk materi Operasi Bentuk Aljabar pada siswa kelas VII SMP

Negeri 2 Ende, Tahun Pelajaran 2014/2015.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah

eksperimen karena data akan diolah dengan menggunakan analisis

deskriptif dan analisis kovarian.

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan

kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui dan mendeskripsikan

secara jelas tentang kegiatan yang berhubungan dengan penerapan


29

pembelajaran kooperatif tipe NHT ini. Penelitian kuantitatif adalah suatu

penelitian guna mengumpulkan, mengolah, menyajikan, menganalisis,

dan menginterpretasikan data yang berupa angka-angka.

B. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer di peroleh dari

tes hasil belajar pre-test dan post-test pada materi perbandingan.


C. Variabel Penelitian

Adapun identifikasi variable dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

1. Variable predictor (X) : dalam penelitian ini adalah nilai pre-test.


2. Variable Respon (Y) : variable respon adalah perubahan hasil belajar

siswa sebelum dan sesudah di beri perlakuan.


3. Variabel konkomitan (penggiring ): dalam penelitian ini yang

menjadi variabel konkomitan adalah skor pre-test siswa yang harus

31
direduksi dan analisis kovarian.

D. Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruan obyek yang diteliti, baik berupa

orang, benda, kejadian,nilai maupun hal-hal yang terjadi. Apabila

seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah

penelitian, maka penelitianya merupakan penelitian populasi

(Arikunto, 2006 : 130).

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua

siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Ende, Tahun pelajaran 2014/2015.


30

2. Sampel Dan Teknik Pengambilan Sampel


1. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang akan di

teliti.dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk

meneralisasikan rasa penelitan sampel (Arinkunto 2006 : 131).

Berdasarkan populasi, sampel yang diambil dalam penelitian

adalah siswa siswi kelas VII B sebanyak 25 orang.

2. Teknik pengumpulan sampel

Dalam pengambilan sampel ini teknik yang di gunakan

adalah random sampling (acak) dimana dalam pengambilan

sampelnya peneliti mencampur subyek-subyek didalam populasi

sehingga semua subyek di anggap sama (Arikunto, 2006 : 134).

E. Rancangan Penelitian

1. Waktu dan Tempat Penelitian

a. Waktu
Penelitian ini dilaksanakan selama dua minggu yaitu pada bulan Mei

2015.
b. Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Ende.
2. Prosedur Penelitian
1. Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan dalam penelitian eksperimen ini diawali

dengan pengembangan perangkat pembelajaran berupa Rencana


31

Pelaksanaan Pembelajaran(RPP),Lembar Kerja Siswa (LKS),dan Tes

Hasil Belajar (THB).

a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP)

Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan panduan

kegiatan guru dalam kegiatan pembelajaran sekaligus uraian

kegiatan siswa yang berhubungan dengan kegiatan yang dimaksud.

RPP ini disusun berdasarkan indikator-indikator yang telah disusun

mengacu pada prinsip dan karakteristik pembelajaran yang dipilih,

berisi tujuan pembelajaran, materi pembelajaran,pendekatan

pembelajaran, sumber belajar dan penilaian hasil belajar. RPP yang

disusun mencakup alokasi waktu 2 x 40 menit (khususnya SMP)

untuk setiap pertemuan (tatap muka).

Kompone-komponen penting yang ada dalam rencana

pelaksaan pembelajaran meliputi:

1. Standar Kompetensi (SK)


2. Kompetensi Dasar (KD)
3. Indikator pencapaian hasil belajar
4. Strategi pembelajaran
5. Sumber pembelajaran
6. Alata dan bahan
7. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran
8. Penilaian
b. Membuat Lembar Kerja (LKS)
Perangkat pembelajaran menjadi pendukung buku dalam

pencapaian kompetensi belajar siswa adalah Lembar Kerja Siswa

(LKS).Lembara ini diperlukan guna mengarahkan proses belajar

siswa, dimana pembelajaran yang berorientasi pada siswa, maka


32

dalam serangkaian langka aktivitas siswa harus berkenaan

dengantugas-tugas pembentukan konsep matematika.


Dengan adanya lembar kegiatan siswa ini maka partisipasi

akatif siswa sangat diharapkan, sehingga dapat memberikan

kesempatan yang lebih luas dalam proses konstruksi pengetahuan

dalam dirinya.
c. Membuat Tes Hasil Belajar
Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar

dapat dikatakan berhasil,setiapa guru memiliki pandangan

masing-masing.Namun untuk menyamakan presepsi sebaiknya

kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini,antara laian

bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan

pengajaran dikatakan berhasil apabila Kompetensi Dasar yang

dapat dicapai.
Untuk mengetahui tercapai tidaknya KD, guru melakukan

tes, setelah melakukan tes,guru menyajikan satu pokok bahasan

kepada siswa.Fungsi penilaian ini memberikan umpan balik

kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar

dan melaksanakan program berikutnya bagi siswa yang belum

berhasil.
THB (Trianto, 2007 : 76) adalah butir tes yang digunakan

untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti proses

pembelajaran. Tes ini dibuat mengacu pada kompetensi dasar yang

ingin dicapai, dijabarkan ke dalam indikator pencapaian hasil

belajar dan disusun berdasarkan kisi-kisi penulisan soal lengkap


33

dengan kunci jawaban serta lembar observasi penilaian psikimotor

kinerja siswa.
Selain itu, peneliti juga menyusun soal-soal tes prestasi

belajar matematika.Soal-soal tes prestasi belajar ini sebelumnya

akan diuji cobakan terlebih dahulu.Analisis yang digunakan

terhadap soal-soal uji coba adalah sebagai berikut:


1) Validitas Butir Soal
Validitas item (butir soal) dihitung untuk mengetahui

seberapa jauh hubungan antara jawaban suatu butir soal dengan skor

total yang telah ditetapkan.Secara umum,suatu butir soal dikatakan

valid jika memiliki hubungan yang besar terhadap skor total.

Dengan kata lain sebuah item tes memiliki validitas tinggi jika skor

pada item itu mempunyai kesejajaran dengan skor total.Kesejajaran

ini dapat diartikan sebagai korelasi, sehingga untuk mengetahui

validitas item ini digunakan rumus korelasi product moment berikut :

N xy ( x )( y )
r xy =
{N x ( x ) }{N y ( y ) }
2 2 2 2

Dengan
x : Skor butir soal
y : Skor total
rxy : Koefisien korelasi antara skor butir dengan skor total.
N : Banyaknya siswa yang mengikuti tes
Nilai rxy diinterprestasikan sebagai berikut :

0,800 rxy 1,000 : Validitas butir tes sangat tinggi

0,600 rxy < 0,800 : Validitas butir tes tinggi


34

0,400 rxy < 0,600 : Validitas butir tes cukup

0,200 rxy < 0,400 : Validitas butir tes rendah

0,000 rxy <0,200 :Validitas butir tes sangat rendah.

Butir tes memenuhi kriteria valid pada penelitian ini,jika

mempunyai validitas yang cukup,tinggi atau sangat sangat

tinggi.sedangkan jika butir tes yang memiliki validitas rendah atau

sangat rendah akan direvisi.


2) Reliabilitas Tes

Grounlund (1985) menyatakan bahwa tes yang reliable adalah

tes yang memberikan hasil tetap walaupun dilakukan oleh orang

lain, pada waktu dan di tempat yang berbeda.Koefisien reliabilitas

suatu tes bentuk uraian dapat ditaksir dengan menggunakan rumus

alpha sebagai berikut (Arikunto,1999):

)[ ]
2
n
r 11 =
(
( n1 )
1 2 1
1

Dengan
r 11 : Koefisien reliabilitas perangkat tes
n : Banyaknya item tes
21 : Jumlah varians skorsetiap item tes
2
1 : Varian total
Interprestasi koefisien reliabilitas perangkat tes ini menggunakan

kategori berikut ini.

0,800 r11 1,000 : Reliabilitas tes sangat tinggi


35

0,600 r11< 0,800 : Reliabilitas butir tes tinggi

0,400 r11< 0,600 : Reliabilitas butir tes cukup

0,200 r11< 0,400 : Reliabilitas butir tes rendah

0,000 r11<0,200 : Reliabilitas butir tes sangatrendah

Dalam penelitian ini,butir soal tes prestasi belajar dikatakan

reliable apabila mempunyai reabilitas cukup,tinggi dan sangat tinggi.

3) Sensitivitas Butir

Sensitivitas butir dihitung untuk mengetahui efek

(pengaruh),dari suatu pembelajaran.Indeks sensitivitas dari suatu butir

soal pada dasarnya merupakan ukuran seberapa baik butir soal itu

membedakan antara siswa yang telah menerima dengan siswa yang

belum menerima pelajaran.Untuk menentukan sensitivitas,butir soal

yang digunakan pada tes awal dan tes akhir adalah sama.Untuk

menghitung sensitivitas butir soal ini digunakan rumus sebagai

berikut:

S=
Ses Seb
N ( Skor maxSkor min )

Dengan :

S : Indeks sensitivitas butir soal


N : Banyaknya objek
36

Seb : Jumlah skor subyek sebelum berlangsungnya proses

pembelajaran
Ses : Jumlah skor subyek sesudah berlangsungnya proses

pembelajaran.
Skor max : Skor maksimum yang dapat dicapai oleh subyek.

Skor min : Skor minimum yang dapat dicapai oleh subyek

Suatu butir soal dikatakan baik apabila sensitivitas butir soal

berada antara 0 dan 1 Grounlund (Taga, 2009) dan butir soal

dikategorikan peka terhadap pembelajaran jika s 0,30

Aiken (Taga, 2009). Pada penelitian instrument tes dikatakan baik

jika memenuhi kriteria valid,reliable,dan sensitif.

2. Tahap Pelaksanaan
Kegiatan pada tahap ini adalah :
a. Memberikan pretes pada kelas eksperimen.
b. Melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan perangkat

yang telah disiapkan pada kelas eksperimen.


c. Materi pelajaran yang disajikan selama perlakuan berlangsung

adalah materi perbandingan.


d. Setelah selesai seluruh bahan kajian, barulah siswa diberikan tes

prestasi belajar matematik.


3. Tahap Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan peneliti adalah data yang diperoleh dari

nilai tes awal yang digunakan untuk menguji kemampuan awal siswa dan

data diperoleh dari nilai tes prestasi belajar matematika setelah perlakuan

yang digunakan untuk menguji hipotesis.


37

3. Desain Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan one group pretest dan

posttes design seperti pada tabel di bawah ini:


Tabel 3.1
Desain Penelitian

Kelas Tes Awal Perlakuan Tes Akhir

Uji Coba T1 X T2

Keterangan:

T1 : Tes awal
T2 : Tes akhir
T1 = T2
X : Perlakuan pembelajaran kooperatif tipe NHT

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan

peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan

hasilnya lebih baik ,dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga

mudah diolah (Arikunto, 2006 : 160). Instrumen yang digunakan dalam

penelitian ini adalah butir-butir soal tes prestasi belajar matematika siswa

pada materi pokok perbandingan. Soal-soal tes prestasi belajar ini diberikan

dalam bentuk tes uraian sebanyak 5 nomor.

G. Teknik Analisis Data


38

Untuk menjawab pertanyaan penelitian dan menguji hipotesis yang

diajukan maka data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Deskriptif

dan Analisis Kovarian.

1. Analisis Deskriptif

Data yang diolah dengan analisis deskriptif adalah data yang

berkaitan dengan pertanyaan penelitian.Analisis deskriptif digunakan untuk

mendeskripsikan ketuntasan belajar siswa .Setiap siswa dikatakan tuntas

belajarnya (ketuntasan individu) jika skor yang diperoleh siswa lebih dari

atau sama dengan 50% skor total sedangkan ketuntasan

kelompok( ketuntasan klasikal ), jika dalam kelompok tersebut terdapat

lebih dari atau sama dengan 85% siswa tuntas belajarnya.Pembelajaran

kooperatif ini dikatakan efektif jika aspek hasil belajar secara klasikal tuntas

2. Analisis Kovarian

Analisis Kovarian dalam desain eksperimen merupakan perkawinan

antara analisis regresi dan analisis varians.

Dengan model :

Y ij =+r i + ij i=1,2, , k

j=1,2, , n k
39

Dengan :

Y ij : Variabel yang akan dianalisis, dan diasumsikan berdistribusi

normal.
: Rata- rata umum atau rata- rata sebenarnya
r i : Efek perlakukan ke

ij : kekeliruan (galat berupa efek acak yang berasal dari unit

eksperimen ke - j karena perlakukan ke i

Karena variabel respon Y berubah- ubah seiring dengan perubahan

variabel X. Jadi X merupakan variabel konkomitan ( variabel iringan )

untuk Y. Sehingga anatara variabel X dan Y ada suatu regresi yang dapat

ditulis dengan model :

Y ij =+ ( X ij X ) + ij (2)

Dengan :
: Koefisien regresi Y atas X

X : rata rata untuk variabel X

Dengan menggabungkan kedua model di atas diperoleh model untuk

analisis Kovarians ( ANAKOVA) :


Y ij =+ (X ij X) + r i + ij i=1,2, , k

j=1,2, , n k

Skema data untuk mencatat hasil pengamatan adalah sebagai berikut :


40

Tabel 3.2
Tabel Skema Data Untuk Hasil Pengamatan

Perlakuan
Jumlah
1 2 A
X Y X Y X Y X Y
Data Hasil X 11 Y 11 X 21 Y 21 Xa1 Y a1

Pengamatan X 12 Y 11 X 22 Y 22 Xa2 Y ay

. . . . . .
. . . . . .
. . . . . .
X1n 1
Y 1n 1
X2n Y 2n
1 2
X an a
Y an a

Jumlah Jx1 JY1 Jx2 JY 2 J xa J Ya J X J Y

Pengamatan :

a n1

X = X 2ij
2

i=1 j=1

a n1
2 2
XY = Y ij
i=1 j=1

a n1

XY = X ij Y ij
i=1 j=1

Total :

J 2x
T XX = X
2
dengan N= ni
N
41

2 J 2Y
T XX = Y
N

TXY XY J X N.. JY ..

Perlakuan Kelompok :

J Xi2 . J X2 ..
PXX
ni N

J Yi2 . J Y2..
PYY
ni N

J Xi2 . JYi. J X .. J Y ..
PXY
ni N

Kekeliruan atau Galat :

E XX TXX PXX

EYY TYY PYY

E XY TXY PXY

Dengan menggunakan metode kuadrat terkecil diperoleh :

E XY
b
E XX
Koefisien regresi ditaksir oleh:
42

J Y ..
N
ditaksir oleh:

J Yi. J J
b Xi. X ..
i ni ni N
ditaksir oleh:

Selanjutnya galat ( atau kekelituan ) eksperimen untuk model adalah :

( E XY ) 2
J E EYY
E XX N a 1
dengan derajat kebebasan ( ) sehingga

JE
S E2
N a 1
varians galat eksperimen ditaksir oleh :

(TXY ) 2
J E1 TYY
TXX
Jumlah kuadrat galat eksperimen adalah

( J 1E J E
a 1
F
i JE
N a 1
bila = 0 sehingga diperoleh nilai

H. Pemeriksaan Asumsi Residual


Salah satu hal penting dalam analisis regresi adalah pemeriksaan

residual, hal ini terkait dengan kelayakan model regresi. Asumsi-


43

asumsi residual dalam analisis regresi adalah asumsi IIDN yaitu

residual identik, independen dan berdistribusi Normal (0,2).


a. Uji Identik

H 0 : 12 22 K n2 2

i2 2 , i 1, 2,K , n
H1 : minimal ada satu

Keputusan menolak H0 jika nilai Fhitung> F;(m-1,n-m) artinya terdapat

i2
minimal satu yang tidak sama atau terjadi heteroskedastisitas.

b. Uji Independen
Untuk mengetahui korelasi antar residual apakah sama dengan nol

(tidak ada korelasi) atau tidak maka dilakukan pengujian independensi

residual. Korelasi antar residual dapat dideteksi menggunakan uji Durbin

Watson (Gujarati, 1992) dengan menggunakan hipotesis berikut :

H 0 : i 0 atau residual tidak berkorelasi


H1 : i 0 residual berkorelasi

Interpretasi statistik Durbin-Watson diatas adalah :


Jika residual tidak berkorelasi maka d 2
Jika residual berkorelasi negatif maka d , 2 dan jika korelasinya sangat

kuat maka d 0.
Jika residual berkorelasi positif d > 2 dan jika korelasinya sangat kuat

maka d 4.
Salah satu asumsi residual yang penting dalam analisis regresi adalah

asumsi normal (0, 2). Jika residual tidak memenuhi asumsi normal
44

(0, 2), maka pengujian parameter baik secara simultan maupun secara

parsial menjadi tidak valid. Pada penelitian ini pengujian kenormalan

residual menggunakan uji kolmogorov Smirnov. Uji Kolmogorov

Smirnov biasa disebut sebagai uji kesesuaian model ( Goodness of Fit

test) dengan hipotesis sebagai berikut :

H 0 : Residual berdistribusi normal


H1 : Residual tidak berdistribusi normal

Daerah penolakan H0 jika P-value < (5%)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran


45

Berdasarkan rumusan masalah penelitian pada bab satu, maka

langkah pertama yang dilakukan adalah peneliti merancang perangkat

pembelajaran yang berdasarkan pada sintaks pembelajaran kooperatif

tipe NHT. Perangkat pembelajaran yang dimaksud adalah (1) Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), (2) Lembar Kerja Siswa (LKS), dan

(3) Tes Hasil Belajar (THB). Setelah selesai merancang perangkat

pembelajaran, selanjutnya perangkat pembelajaran tersebut divalidasi

oleh validator dalam hal ini yang menjadi validator adalah dguru pamong

mata pelajaran matematika.


Pada tahap validasi pertama, validator menemukan kekeliruan

dalam merancang perangkat pembelajaran, yaitu (1) langkah-langkah

pembelajaran pembelajaran dalam RPP yang peneliti susun belum sesuai

dengan sintaks pembelajaran kooperatif tipe NHT, (2) jumlah masalah

atau soal yang terdapat pada LKS tidak ideal dengan waktu yang

tersedia, (3) Soal yang dirancang pada THB terlalu banyak dan tidak

sesuai dengan indikator yang ingin dicapai, serta soal untuk setiap nomor

tidak disertakan dengan kunci jawaban dan bobot. Karena itu

berdasarkan masukan serta arahan dari validator maka peneliti

merancang ulang RPP, LKS, dan THB.


Setelah peneliti merevisi perangkat pembelajaran, langkah kedua

peneliti melakukan validasi ulang pada validator, dan hasil validasi ini
48
validator mengatakan bahwa RPP, LKS, dan THB yang telah dirancang

sudah sesuai dengan yang diharapkan, dan validator merekomendasikan

untuk dilakukan uji coba perangkat pada kelasa uji coba.


46

B. Uji Coba Perangkat Pembelajaran


Sebelum dilaksanakan penelitian sebenarnya, peneliti melakukan

uji coba perangkat pembelajaran pada kelas uji coba, dimana kelas uji

coba ini karakteristiknya sama dengan kelas ekperimen atau kelas

penelitian sebenarnya. Pada kelas uji coba diberikan perlakuan yaitu

melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe NHT, yang diawali dengan

pemberian pre-test, melaksanakan pemebelajaran sesuai dengan

perangkat yang telah disusun, dan diakhir pembelajaran diberikan post-

test.
Tujuan dari uji coba perangkat ini dilakukan untuk mengetahui jika

ada kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran berdasarkan perangkat

yang sudah divalidasi, diharapkan agar kesulitan yang sama pada saat uji

coba tidak terulang lagi pada saat dilakukan eksperimen pada kelas

eksperimen, tujuan lainya adalah untuk menghitung secara statistik

tentang validitas butir, reliabilitas, serta sensitifitas butir soal.


Dalam penelitian ini, uji coba dilakukan pada 25 siswa- siswi

sebanyak 4 pertemuan, sedangkan penelitian sebenarnya dilaksanakan

pada 25 siswa- siswi kelas VII B sebanyak 4 pertemuan. Pada saat

pelaksanaan uji coba perangkat, peneliti meminta bantuan kepada guru

mata pelajaran matematika di sekolah untuk mengamati pelaksanaan

pembelajaran yang peneliti lakukan. Setelah selesai melaksanakan

pemebelajaran, peneliti dan pengamat berdiskusi tentang pelaksanaan

pembelajaran yang telah dilakukan, hasil diskusi menurut pengamat

mengatakan bahwa tidak terdapat kekeliruan dalam melaksanakan

pembelajaran. Semuanya berjalan sesuai rencana, namun catatan kecil


47

diberikan pengamat kepada peneliti yaitu kalau menyampaikan materi

pelajaran jangan terlalu cepat, karena tingkat pemahaman setaiap siswa

berbeda.
Setelah selesai melaksanakan uji coba perangkat, peneliti

menganalisis hasil pre-test dan post-test untuk mengetahui validitas dan

reliabilitas, dan sensitifitas butir adalah sebagai berikut :


1. Validitas
Hasil perhitungan validitas setiap butir tes dengan

menggunakan rumus korelasi product moment disajikan pada tabel

berikut :

Tabel 4.1
Validitas Butir THB
No. Soal 1 2 3 4
r xy
0.77 0.52 0.70 0.75

Validitas Tinggi Cukup Tinggi Tinggi

Berdasarkan kriteria kelayakan butir tes sebagaimana diuraikan

pada bab III, maka setiap butir tes dikategorikan valid dan layak

digunakan dalam penelitian.


2. Reliabilitas
Berdasarkan hasil perhitungan reliabilitas tes diperoleh

koefisien reliabilitas sebesar 0.62, kriteria cukup, selengkapnya

dapat dilihat pada lampiran. Jadi instrumen penelitian ini memunuhi

kriteria reliabel dan dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya.


3. Sensitivitas
Hasil perhitungan sensitivitas setiap butir disajikan dalam

tabel berikut :
48

Tabel 4.2

Perhitungan Sensitivitas Setiap Butir

No. Soal 1 2 3 4

Sensitivitas 0.70 0.61 0.63 0.83

Interpretasi Peka Peka Peka Peka

Hal ini berarti semua butir tes memenuhi kriteria sensitif sehingga

layak digunakan dalam penelitian eksperimen.

Berdasarkan hasil validasi dari validator, uji coba perangkat

pembelajaran, dan analisis statistik menunjukan bahwa:


1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mempunyai kategori baik

dan dapat digunakan dengan tanpa revisi.


2. Lembar Kerja Siswa (LKS) mempunyai kategori baik dan dapat

digunakan tanpa revisi.


3. Tes Hasil Belajar (THB) yang telah disusun mempunyai kategori baik

C. Deskripsi Eksperimen Perangkat Pembelajaran


Setelah selesai melaksanakan uji coba perangkat, langkah

selanjutnya peneliti melaksanakan penelitian sebenarnya pada kelas

Eksperimen dengan perangkat yang sama pada kelas uji coba. Langkah-

langkah yang dilakukan sama seperti yang dilakukan pada kelas uji coba

antara lain :
1. Pemberian pre-test kepada siswa
49

Pada pertemuan pertama peneliti memberikan pre-test kepada siswa

sebanyak 25 siswa sesuai dengan sampel penelitian yang diambil.

Adapun soal pre-test yang diberikan adalah soal yang ada pada THB.
2. Pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Pelaksanan pembelajaran dilaksanakan dalam dua (2) pertemuan

didasarkan pada RPP, LKS dan THB yang sudah baik. Adapun langkah-

langkah yang dilalui adalah sebagai berikut :

a. Pendahuluan
1) Apersepsi
a) Guru mengabsen siswa.
b) Memberitahukan tujuan yang akan dicapai dan

mengarahkan siswa untuk mengikuti kegiatan

pembelajaran.
2) Motivasi
a) Penjelasan lingkup materi yang dipelajari
b) Mengingatkan kembali materi yang telah diajarkan.
c) Pembagian kelompok : Membimbing siswa membentuk

kelompok.
b. Kegiatan Inti
1) Eksplorasi, meliputi :
a) Guru materi pembelajaran sesuai dengan indikator.
b) Peserta didik dapat menjelaskan pengertian operasi bentuk

aljabar, koefisien, variabel, dan konstanta.


c) Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan.
2) Elaborasi Meliputi :
a) Membentuk kelompok sebanyak 4 orang yang mempunyai

tingkat kemampuann berbeda dan setiap anggota diberi

nomor 1 4.
b) Memberikan LKS.
c) Membimbing siswa dalam menyelesaikan soalsoal dalam

LKS.
3) Konfirmasi meliputi :
50

a) Sebagai fasilitator, kegiatan siswa melaporkan hasil kerja

kelompok.
b) Guru memberikan penilaian terhadap hasil kerja siswa baik

kelompok maupun individu.


c) Guru menjelaskan tentang halhal yang belum diketahui.

c. Penutup
a) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang

memperoleh skor tertinggi.


b) Guru membimbing siswa membuat rangkuman.
3. Pemberian post-test
Pelaksanaan post-test diadakan pada pertemuan terakhir

(pertemuan ke-4) untuk kelas eksperimen. Adapun soal pre-test yang

diberikan adalah soal yang ada pada THB dan merupakan soal yang

sama pada pre-test sebelumnya. Perangkat pembelajaran yang

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

D. Analisis Data Hasil Penelitian


Setelah selesai melaksanakan penelitian sebenarnya, selanjutnya

peneliti memeriksa hasil pre-test dan post-tes yang kemudian dianalisis

dengan statistik Anakova. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa

besar efek dari perlakuan dalam hal ini adalah pemberian pembelajaran

kooperatif tipe NHT yang diberikan kepada siswa. Hasil analisinya

adalah sebagai berikut :


Tabel 4.3

Hasil pretest dan Posttest

Perubahan Perubahan
Pre (X) Post Pre (X) Post
(Y) (Y)
14 74 60 26 80 54
51

18 82 64 28 76 48
20 90 70 18 70 52
20 100 80 24 80 56
15 72 57 16 70 54
18 92 74 28 90 62
15 84 69 12 70 58
16 90 74 16 80 64
22 92 70 14 70 56
15 72 57 16 80 64
18 90 72 12 70 58
12 86 74 18 76 58
22 88 66 16 80 64
18 84 66 22 90 68
16 82 66 18 76 58
18 86 68 14 70 56
17 74 57 16 82 66
19 90 71 12 70 58
12 70 58 24 76 52
33 94 61 32 90 58
26 76 50 22 80 58
38 100 62 34 92 58
22 90 68 20 80 60
14 70 56 18 70 52
22 84 62 18 72 54
480 1632 494 1446
19.2 65.28 19.76 0 57.84

Tabel 4.4

Hasil Reduksi Variabel x dan variabel y

X Y Tot X Tot Y Tot(XY) Xi*Yi


52

14 26 60 54
18 28 64 48
20 18 70 52
20 24 80 56
15 16 57 54
18 28 74 62
15 12 69 58
16 16 74 64
22 14 70 56
15 16 57 64
18 12 72 58
12 18 74 58
22 16 66 64
18 22 66 68
16 18 66 58
18 14 68 56
17 16 57 66
19 12 71 58
12 24 58 52
33 32 61 58
26 22 50 58
38 34 62 58
22 20 68 60
14 18 56 52
22 18 62 54
480 494 1632 1446 974 3078 2997972 1497684
19.2 19.76 65.28 57.84 948676 9474084
266342 189481. 59959.4
230400 244036 2090916 18973.52 59907.36
4 7 4
83636.6
9216 9761.44 106537 19.48 61.56
4
474436 4754340
190173.
18977.44
6
53

( X 1 ) 2 (Y1 ) 2
230400 = 2663424

( X 2 ) 2 (Y2 ) 2
244036 = 2090916

(X 1 ) 2 (X 2 ) 2
(X 1 ) 2
( X 2 ) 2
25 18977.44
+ = 474436

(Y1 )2 (Y2 ) 2
(Y1 ) 2 (Y2 )2
25 190173.6
+ = 4754340

X 1Y1 X 2Y2
X 1Y1 X 2Y2 1497684
25 59907.36

( X ) 2 (Y ) 2
=948676 = 9474084

(X ) 2
50
= ( Y ) 2 ( x * y ) 2
50 50
18973.52 = 189481.7 = 59959.44

Karena adanya korelasi antara variabel X dan variabel Y, maka langkah

pertama adalah memurnikan variabel Y dari variabel konkomitan (pengiring)

X, atau memperoleh Y yang disesuaikan atau dikoreksi.


54

Tabel 4.5

Koreksi Variabel x dan Variabel y

Tot Tot Tot


X^2 Y^2 XY
(X^2) (Y^2) (XY)
196 676 3600 2916 840 1404
324 784 4096 2304 1152 1344
400 324 4900 2704 1400 936
400 576 6400 3136 1600 1344
225 256 3249 2916 855 864
324 784 5476 3844 1332 1736
225 144 4761 3364 1035 696
256 256 5476 4096 1184 1024
484 196 4900 3136 1540 784
225 256 3249 4096 855 1024
324 144 5184 3364 1296 696
144 324 5476 3364 888 1044
484 256 4356 4096 1452 1024
324 484 4356 4624 1188 1496
256 324 4356 3364 1056 1044
324 196 4624 3136 1224 784
289 256 3249 4356 969 1056
361 144 5041 3364 1349 696
144 576 3364 2704 696 1248
1089 1024 3721 3364 2013 1856
55

676 484 2500 3364 1300 1276


1444 1156 3844 3364 2356 1972
484 400 4624 3600 1496 1200
196 324 3136 2704 784 936
484 324 3844 2916 1364 972
1008 2075 19197
10668 107782 84196 31224 28456 59680
2 0 8

1. Jumlah Total

( X ) 2
TXX X i 2

n
= 1776.48

( Y ) 2
TYY Yi 2
n
= 2496.32

( X )(Y )
TXY X iYi
n
= -279.44

(TXY ) 2
78086.71

(TXY )2

TXX
43.95586

2. Perlakuan

{( x1 ) 2 ( x2 ) 2 } (xi ) 2

25 50
PXX = = 3.92
56

{( y1 ) 2 ( y2 ) 2 } (yi ) 2

25 50
PYY = = 691.92

{( x1 )( y1 ) ( x2 )( y2 )} (xi )(yi )

25 50
PXY = = -52.08

3. Kekeliruan (Dalam Kelompok)

E XX TXX PXX
= 1772.56

EYY TYY PYY


= 1804.4

E XY TXY PXY
= -227.36

2
E XY
=51692.57

2
E XY
E XX
=29.16266

Kareksi atau penyesuaian karena adanya regresi Y atas X terhadap jumlah kuadrat

variabel Y dapat dihitung dengan:

4. Jumlah Total

(TXY ) 2
T
J E1 JK (Y dikoreksi) YY TXX
= 2452.364
57

5. Dalam Perlakuan Kelompok:

( E XY )2
E
J E1 JK (Y dikoreksi) YY E XX 1775.237337

6. Antar Kelompok

J E1 JK (Y dikoreksi ) 677.1267986

Dari hasil perhitungan ini selanjutnya disajikan dalam tabel ANAKOVA berikut:

Tabel 4.6

DAFTAR ANAKOVA METODE PEMBELAJARAN

JK dan Produk silang Dikoreksi


D
Sumber Variasi d
k Y XY X Y KT F
k
Antar
1 691.92 -52.08 3.92
Kelompok
Dalam 1772.5 4
48 1804.4 -227.36 1775.237 37.77101
Kelompok 6 7
2496.3 1776.4 4
Jumlah 49 -279.44 2452.364
2 8 8
Antar 17.9271
677.1268 1 677.1268
Kelompok 6

Dari tabel ANAKOVA di atas, untuk menguji efek pembelajaran dalam

kelompok eksperimen terhadap respon Y setelah dimurnikan dari variabel


58

konkomitan X, diperoleh statistik F = 17.92716 dengan dk pembilang = 1 dan dk

penyebut 47, memberikan nilai yang signifikan ( F tabel = 4,05).

7. REGRESI DALAM PERLAKUAN

Dengan memperhatikan model ANAKOVA yaitu:

Yij ( X ij X ) i ij i 1, 2,K , k
j 1, 2, K , nk
,

Nilai parameter yang diduga dengan metode kuadrat terkecil:

E XY
b
E XX
1. Koefisien regresi ditaksir oleh:
b -0.13

J Y ..
N
2. ditaksir oleh:
y
61.56
n

J Yi . J J
b Xi. X ..
i ni ni N
3. ditaksir oleh:

A
Perlakuan A ( ) = 65.24409

B
Perlakuan B ( ) = 57.87591
59

Tabel 4.7

Nilai Rata-Rata Koreksi Kelompok

Perlakuan Kelompok Rata-rata dikoreksi Rata-rata tidak dikoreksi


A 65.24 65.28
B 57.88 57.84
Dari tabel tersebut di atas tampak bahwa perbedaan rata-rata yang

dikoreksi atau disesuaikan harga-harganya lebih kecil perbedaannya dari

yang satu dengan yang lainnya jika dibandingkan dengan rata-rata yang

tidak dikoreksi.

Model yang diperoleh dalam eksperimen adalah:

YA 61,56 0,13x 65,24


YB 61,56 0,13x 57,88

E. Pemeriksaan Residual

Setelah diperoleh nilai estimasi parameter, maka langkah selanjutnya adalah

melakukan uji normalitas residual.Pengujian kenormalan residual menggunakan

ujiKolmogorov-Smirnov dengan hipotesis sebagai berikut:

H0 : Residual berdistribusi normal

H1 : Residual tidak berdistribusi normal


60

Regression Analysis: Mutlak Residual versus x

The regression equation is

Mutres = 6.59 - 0.0228 y

Analysis of Variance

Source DF SS MS F P

Regression 1 1.69 1.69 0.13 0.723

Residual Error 48 636.86 13.27

Total 49 638.55

Durbin-Watson statistic = 2.08736

a. Uji identik dengan hipotesis sebagai berikut.

H 0 : 12 22 K n2 2

i2 2 , i 1, 2,K , n
: minimal ada satu
H1

Pada tingkat signifikansi 5%.Nilai F-hitung= 0.13<F-tabel = 4.18 atau dapat

dilihat nilai P-value 0.723> = 0,05yang menyimpulkan bahwa dalam

kasus ini varians telah homogen.

b. Uji independen

Uji independen dapat dilakukan dengan hipotesis sebagai berikut.

H 0 : i 0 atau residual tidak berkorelasi


H1 : i 0 residual berkorelasi
61

0, 05

Durbin-Watson statistic = 2.08736

0, 05
Pada tingkat signifikansi 5%.Nilai P-value = 0.723> yang

menyimpulkan bahwa dalam kasus ini residual tidak berkorelasi atau gagal

d 2.08736 : 2
tolak H0. Dengan kriteria Durbin Watson tes tidak ada

korelasi antar residual.

c. Uji normalitas

Pengujian normalitas dapat dilakukan dengan hipotesis sebagai berikut.

H0 : Residual berdistribusi normal

H1 : Residual tidak berdistribusi normal

Normal Probability Plot of the Residuals


(response is y)
99

95

90

80
70
Percent

60
50
40
30
20

10

1
-20 -15 -10 -5 0 5 10 15
Residual
62

Plot normalitas residual menunjukkan tidak ada penyimpangan terhadap distribusi

normal. Hal ini diperkuat dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov yang

memberikan P-value = 0,723> 0,05 sehingga gagal tolak H 0 atau residual

berdistribusi normal.

BAB V

PENUTUP

1. Simpulan
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya maka dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut :


1. Dari hasil pengembangan perangkat pembelajaran dengan pembelajaran

kooperatif tipe NHT, telah dihasilkan perangkat pembelajaran yang baik

(memenuhi syarat validitas, reliabilitas dan sensitivitas). Perangkat

pembelajaran yang dihasilkan meliputi : Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) dan Tes Hasil Belajar

(THB).
2. Dari hasil analisis kovarians menunjukan bahwa Pembelajaran kooperatif

tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa untuk materi pokok

operasi bentuk aljabar pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ende tahun

pelajaran 2014/2015. Hal ini dibuktikan dengan nilai statistik F hitung =

17,92716 > F tabel = 4,05 dengan dk pembilang = 1 dan dk penyebut 47,

memberikan nilai yang signifikan.

68
63

2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian diatas maka peneliti mengemukakan

beberapa saran sebagai berikut :

1. Bagi Peneliti, perangkat pembelajaran kooperatif tipe NHT yang

dihasilkan masih perlu diujicobakan di sekolah lain dengan berbagai

kondisi yang berbeda.

2. Bagi sekolah, hendaknya pembelajaran kooperatif tipe NHT ini

digunakan sebagai salah satu alternatif dalam menunjang prestasi

belajar siswa sehingga dapat meningkatkan kualitas pengajaran.

3. Bagi Guru, dalam proses pembelajaran hendaknya memilih

metode mengajar yang tepat sehingga siswa dapat mencapai

prestasi yang maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan.

4. Bagi siswa, diharapkan untuk selalu berinteraksi antar satu

dengan yang lain dan terus memotivasi diri untuk berusaha

menemukan dan mencari tahu sendiri terkait materi yang akan

dipelajari.