Anda di halaman 1dari 17

C.

Sistem Pangan Dan Gizi


1. Sistem dan Subsistem Dalam Pangan dan Gizi
Sistem pangan dan gizi adalah suatu rangkaian masukan, proses, dan keluaran sejak
pangan masih dalam tahap produksi (berupa bahan produk primer maupun olahan)
sampai dengan tahap akhir, yaitu pemanfaatannya dalam tubuh manusia yang diwujdkan
oleh status gizi. Hal ini berarti dalam sistem tersebut terdapat serangkaian komponen atau
subsistem, yaitu produksi, ketersediaan pangan, distribusi, konsumsi, dan gizi.
Tujuan dari Sistem Pangan dan Gizi adalah tersedia pangan yg cukup baik jumlah &
mutunya aman, merata & terjangkau semua orang pd setiap saat agar hidup sehat &
produktif .
Dasar hukum pelaksanaan pembangunan pangan dan gizi :
a. UU.NO 17 TAHUN 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional tahun 2005-2025. Pembangunan pangan dan gizi dilaksanakan secaa
lintas sektor meliputi, produksi, pengolahan, distribusi, hingga koonsumsi pangan
dengan kandungan gizi yang cukup, seimbnag, serta terjamin keamanannya.
b. UU NO 18 TAHUN 2008 tentang Pangan. Penyelenggaraan pangan dilakukan
unuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil,
merata, dan berkelanjutan berdasarkan Kedaulatan Pangan, Kemandirian Pangan,
dan Ketahanan Pangan
c. UU NO 36 TAHUN 2009 tentang Kesehatan. Arah perbaikan gizi adalah
meningkatnya mutu gizi perorangan dan masyarakat, pemerintah, pemerintah
daerah, dan atau masyarakat bersama-sama menjamin tersedianya bahan makanan
yang bergizi secara merata dan terjangkau.
2. Pendekatan Sistem Dalam Pangan Dan Gizi
Pendekatan sistem pangan dan gizi menggunakan pendekatan Holistik, bukan parsial.
Maksudnya, memandang komponen-komponen dalam sistem pangan dan gizi tidak
sendiri-sendiri melainkan secara terintegrasi sebagai komponen dalam suatu sistem.
Pembangunan pangan dan gizi melibatkan banyak pelaku, meliputi berbagai aspek
dan mencakup interaksi antar wilayah. Oleh sebab itu, pemantapan pembangunan pangan
dan gizi hanya dapat diwujudkan melalui suatu kerjasama kolektif dari seluruh pihak
yang terkait (Stakebolders), khususnya masyarakat produsen, pengolah, pemasar, dan
konsumen pangan. Kinerja para pihak tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi
sosial, politik dan keamanan, pelayanan prasarana publik sidang transportasi,
perhubungan, telekomunikasi, dan pemodalan, pelayanan kesehatan dan pendidikan,
pengembangan teknologi, perlindungan serta kelestarian sunberdaya alam dan
lingkungan. Dengan demikian, pangan merupakan resultan dari potensi sumberdaya alam
dan sistem sosial yang mencakup jumlah penduduk, manajemen, iptek, dan kelembagaan.
Mengingat luasnya substansi, faktor-faktor yang berpengaruh serta banyaknya pelaku
yang terlibat dalam pembangunan pangan dan gizi maka diperlukan pendekatan sistem.
Pendekatan tersebut dikenal sebagai sistem pangan dan gizi.
3. Subsistem Dalam Pangan Dan Gizi
a) Sub Sistem Ketersediaan (Produksi)
Ketersediaan pangan merupakan kondisi penyediaan pangan yang mencakup makanan
dan minuman yang berasal dari tanaman, ternak dan ikan serta turunannya bagi penduduk
suatu wilayah dalam suatu kurun tertentu. Ketersediaan pangan merupakan suatu sistem
yang berjenjang mulai dari nasional, provinsi (regional), lokal (kabupaten/kota), dan
rumah tangga.
Komponen ketersediaan pangan meliputi kemampuan produksi, cadangan maupun
impor pangan setelah dikoreksi dengan ekspor dan berbagai penggunaan seperti untuk
bibit, pakan industri makanan/nonpangan dan tercecer. Komponen produksi pangan dapat
dipenuhi dari produksi pertanian dan atau industri pangan.
Dengan jumlah penduduk cukup besar dan kemampuan ekonomi relatif lemah, maka
kemauan untuk menjadi bangsa yang mandiri di bidang pangan harus terus diupayakan.
Karena itu, bangsa Indonesia mempunyai komitmen tinggi untuk memenuhi kebutuhan
pangannya dari produksi dalam negeri. Impor pangan merupakan pilihan akhir, apabila
terjadi kelangkaan produksi pangan dalam negeri. Hal ini sangat penting untuk
menghindari ketergantungan pangan terhadap negara lain, yang dapat berdampak pada
kerentanan oleh campur tangan asing baik secara ekonomi maupun politik. Hal yang
perlu disadari adalah, bahwa kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dari produksi
sendiri, khususnya bahan pangan pokok, juga menyangkut harkat martabat dan kelanjutan
eksistensi bangsa.
Sebagai negara agraris yang besar, indonesia mempunyai peluang untuk
meningkatkan produksi dan ketersediaan pangan nasional. Peluang tersebut meliputi
a. Teknologi lokal spesifik dan ramah lingkungan dapat dikembangkan untuk
mendayagunakan potensi sumberdaya alam (lahan, air, perairan, sumber hayati)
b. Teknologi agribisnis yang menganut konsep produksi bersih (clean production)
sehingga limbah dapat diminilisasi dengan cara memanfaatkan limbah dari suatu
usaha sebagai input bagi usaha terkait, untuk memaksimalkan diversifikasi usaha
dibidang pangan. Pemanfaatan limbah pertanian misalnya dapat dilakukan untuk
memproduksi pupuk kompos, bahan pakan, dan bahan bakar.
Peluang tersebut juga harus memperhatikan beberapa hal yang penting :
1) Tingkat produksi
Tingkat produksi pangan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu a) cara bertani
yang lebih produktif, b) mutu dan luas lahan, c) pola penguasaan lahan, d) pola
pertanaman, e) tempat tinggal, f) perangsang berproduksi, g) peranan sosial, dan h)
tingkat pendapatan.
2) Dinamika industry
Petani yang berorientasi pada pasar akan terpengaruh oleh dinamika industri. Petani
akan meningkatkan suatu produksi pangan yang sedang banyak dibutuhkan oleh
industri, seperti tomat sebagai bahan dasar pembuatan saos tomat, kentang sebagai
bahan dasar pembuatan makanan ringan seperti potato chips, dan lain
sebagainya.disisi lain, berkembangnya industi memberi dampak pada berkurangnya
lahan produktif. Oleh karena itu, untuk meningkatkan produksi pangan perlu
didukung program intensifikasi maupun pembukaan lahan pertanian
3) Penanganan pasca panen
Dalam usaha tani kecil yang hanya untuk mencukupi pangan sendiri (subsistence
farming) masalah teknologi pascapanen tidak terlalu penting karena bahan makanan
yang dipenen langsung dikonsumsi sendiri. Akan tetapi, pada masa kini, biasanya
produksi pangan terlebih dahulu melewati proses penanganan pasca panen. Banyak
faktor yang mempengaruhi jalur pasca panen, antara lain a) mutu produk yang terkait
dengan kondisi pascapanen, b) timbulnya penyusutan dan kerusakan selama
penyimpanan dan perjalanan dari produsen ke konsumen. Kedua faktor tersebut
berpengaruh terhadap mutu dan nilai gizi pangan.
4) Ekspor-impor
Peningkatan produksi dalam negri tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri
saja, tetapi juga untuk meningkatkan pertumbuhan ekspor-impor. Ekspor-impor
merangsang pertumbuhan ekonomi dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan
perorangan, terutama petani, ekspor dapat dilakukan pada saat harga diluar negeri
tinggi dan persediaan pangan dalam negeri mencukupi.
b) Subsistem Distribusi
Subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien,
sebagai prasyarat untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan
dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu, dengan harga yang terjangkau.
Bervariasinya kemampuan produksi pangan antar wilayah dan antar musim menuntut
kecermatan dalam mengelola sistem distribusi, sehingga pangan tersedia sepanjang waktu
di seluruh wilayah. Kinerja subsistem distribusi dipengaruhi oleh kondisi prasarana dan
sarana, kelembagaan dan peraturan perundangan.
Sebagai negara kepulauan, selain memerlukan prasarana dan sarana distribusi darat
dan antar pulau yang memadai untuk mendistribusikan pangan, juga input produksi
pangan ke seluruh pelosok wilayah yang membutuhkan. Untuk itu penyediaan prasarana
dan sarana distribusi pangan merupakan bagian dari fungsi fasilitasi pemerintah, yang
pelaksanaannya harus mempertimbangkan aspek efektivitas distribusi pangan sekaligus
aspek efisiensi secara ekonomi. Biaya distribusi yang paling efisien harus menjadi acuan
utama, agar tidak membebani produsen maupun konsumen secara berlebihan.
Lembaga pemasaran berperan menjaga kestabilan distribusi dan harga pangan.
Lembaga ini menggerakkan aliran produk pangan dari sentra-sentra produksi ke sentra-
sentra konsumsi, sehingga tercapai keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan. Apabila
lembaga pemasaran bekerja dengan baik, maka tidak akan terjadi fluktuasi harga terlalu
besar pada musim panen maupun paceklik, pada saat banjir maupun sungai (sebagai jalur
distribusi) mengering, ketika ombak normal maupun ombak ganas, saat normal maupun
saat bencana.
Peraturan-peraturan pemerintah daerah, seperti biaya retribusi dan pungutan lainnya
dapat mengakibatkan biaya tinggi yang mengurangi efisiensi kinerja subsistem distribusi.
Di samping itu, keamanan di sepanjang jalur distribusi, di lokasi pemasaran maupun pada
proses transaksi sangat mempengaruhi besarnya biaya distribusi. Untuk itu, iklim
perdagangan yang adil, khususnya dalam penentuan harga dan cara pembayaran perlu
diwujudkan, sehingga tidak terjadi eksploitasi oleh salah satu pihak terhadap pihak lain
(pihak yang kuat terhadap yang lemah). Dalam hal ini, penjagaan keamanan, pengaturan
perdagangan yang kondusif dan penegakan hukum menjadi kunci keberhasilan kinerja
subsistem distribusi.
Stabilitas pasokan dan harga merupakan indikator penting yang menunjukkan kinerja
subsistem distribusi. Harga yang terlalu berfluktuasi dapat merugikan petani produsen,
pengolah, pedagang hingga konsumen, sehingga berpotensi menimbulkan keresahan
sosial. Oleh sebab itu hampir semua negara melakukan intervensi kebijakan untuk
menjaga stabilitas harga pangan pokok yang mempengaruhi kehidupan sebagian besar
masyarakat. Dalam kaitan ini Pemerintah telah menerapkan kebijakan stabilitasi harga
pangan, melalui pembelian maupun penyaluran bahan pangan (beras) oleh Perum Bulog.
c) Subsitem Konsumsi
Subsistem konsumsi berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara
nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, keamanan dan kehalalan,
Di samping juga efisiensi untuk mencegah pemborosan.
Subsistem konsumsi juga mengarahkan agar pemanfaatan pangan dalam tubuh (food
utility) dapat optimal, dengan peningkatan kesadaran atas pentingnya pola konsumsi
beragam dengan gizi seimbang mencakup energi, protein, vitamin dan mineral,
pemeliharaan sanitasi dan higiene serta pencegahan penyakit infeksi dalam lingkungan
rumah tangga. Hal ini dilakukan melalui pendidikan dan penyadaran masyarakat untuk
meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemauan menerapkan kaidah kaidah
tersebut dalam pengelolaan konsumsi.
Jumlah jenis pangan dan jenis serta banyaknya bahan pangan dalam pola makanan
disuatu negara atau daerah tertentu, biasannya berkembang dari pangan setempat atau dari
pangan yang telah ditanam ditempat tersebut untuk jangka waktu yang panjang.
Disamping itu, kelangkaan pangan dan kebiasaan bekerja dari keluarga juga berpengaruh
terhadap pola makan.
Kinerja subsistem konsumsi tercermin dalam pola konsumsi masyarakat di tingkat
rumah tangga. Pola konsumsi dalam rumah tangga dipengaruhi oleh berbagai faktor
antara lain kondisi ekonomi, sosial dan budaya setempat. Untuk itu, penanaman
kesadaran pola konsumsi yang sehat perlu dilakukan sejak dini melalui pendidikan formal
dan non-formal. Dengan kesadaran gizi yang baik, masyarakat dapat menentukan pilihan
pangan sesuai kemampuannya dengan tetap memperhatikan kuantitas, kualitas,
keragaman dan keseimbangan gizi. Dengan kesadaran gizi yang baik, masyarakat dapat
meninggalkan kebiasaan serta budaya konsumsi yang kurang sesuai dengan kaidah gizi
dan kesehatan. Kesadaran yang baik ini lebih menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi
masing-masing anggota keluarga sesuai dengan tingkatan usia dan aktivitasnya.
d) Subsistem Gizi
Subsistem gizi merupakan resultante dari subsistem sebelumnya, subsistem ini
dicerminkan oleh status gizi yang berkaitan dengan penyerapan dan penggunaan zat gizi
oleh tubuh. Dalam hal ini, pangan akan mengalami berbagai tahapan, yaitu pencernaan
yang terjadi dari mulut sampai usu, penyerapan (proses zat gizi masuk kedalam darah dan
diangkut kesel-sel), pemecahan dan sintesis dalam sel dan pembuangan bahan-bahan
yang tidak diperlukan.
Mulai proses pencernaan dalam tubuh, makanan dipecah menjadi zat gizi, kemudian
diserap kedalam aliran darah yang mengangkutnya ke berbagai bagian tubuh. Zat gizi
yang tidak diperlukan setelah diserap segera disimpan dalam tubuh untuk penggunaan
dikemudian hari. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan
proses penggunaan zat gizi oleh tubuh.
a) Kelebihan makan melampaui kebutuhan tubuh akan menyebabkan kegemukan.
b) Kekurangan energi didalam makanan akan menyebabkan protein makanan (jika perlu
juga protein jaringan) dipergunakan sebagai sumber tenaga. Ini sangat merugikan
karena pangan sumber protein sangat mahal dan pengurangan jaringan protein akan
melemahkan tubuh.
c) Semua zat gizi sangat penting dalam proses pemecahan dan sintesis zat gizi. Jika
makanan tersusun secara seimbang maka akan dihasilkan kesehatan yang sempurna.
D. Permasalahan Pangan dan Gizi.
1. Jenis Permasalahan Pangan
Permasalahan pangan didefinisikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan untuk
memperoleh pangan yang cukup dan sesuai untuk hidup sehat dan beraktivitas dengan
baik untuk sementara waktu dalam jangka panjang. Ada dua jenis permasalahan pangan,
yaitu yang bersifat kronis dan bersifat sementara.
Permasalahan pangan kronis merupakan kondisi kurang pangan (untuk tingkat rumah
tangga berarti kepemilikan pangan lebih sedikit daripada kebutuhan dan untuk tingkat
individu konsumsi pangan lebih rendah dari pada kebutuhan biologis) yang terjadi
sepanjang waktu. Sedangkan permasalahan pangan kronis mencakup permasalahan
pangan musiman. Permasalahan ini terjadi karena adanya keterbatasan ketersediaan
pangan oleh rumah tangga, terutama masyarakat yang berada di pedesaan.
2. Jenis-Jenis Masalah Gizi Makro Dan Mikro
Secara umum di Indonesia terdapat dua masalah gizi utama yaitu kurang gizi makro
dan kurang gizi mikro. Kurang gizi makro pada dasarnya merupakan gangguan kesehatan
yang disebabkan oleh kekurangan asupan energi dan protein. Masalaha gizi makro adalah
masalah gizi yang utamanya disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan
energi dan protein. Kekurangan zat gizi makro (kekurangan atau ketidak seimbangan
asupan energi dan protein) umumnya disertai dengan kekurangan zat gizi mikro (vitamin
dan mineral).
Sumber daya manusia merupakan syarat mutlak menuju pembangunan disegala
bidang. Status gizi merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada kualitas
sumber daya manusia terutama terkait dengan kecerdasan, produktivitas, dan kreativitas
sumber daya manusia. Sementara itu, di Indonesia masih menghadapi empat masalah gizi
utama yaitu kurang kalori protein dan obesitas (masalah gizi ganda), kurang Vitamin A,
gangguan akibat kurang iodium (GAKI), anemia zat besi.
Kurang kalori protein adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya
konsumsi zat energi dan zat protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi
Angka Kecukupan Gizi (AKG). (Supriasa, 2001). Sedangkan obesitas adalah Keadaan
patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan daripada yang
diperlukan untuk fungsi tubuh.
Kurang Vitamin A disebabkan oleh kurangnya asupan vitamin A dari makanan,
rendahnya kualitas makanan (vit A), penyakit Infeksi dan Parasit, serta rendahnya vitamin
A dalam ASI (Bayi).
GAKY adalah sekumpulan gejala yang timbul karena tubuh seseorang kekurangan
unsur yodium secara terus menerus dalam jangka waktu lama.
Defisiensi Fe merupakan akibat dari rendahnya biovailabilitas intake Fe, peningkatan
kebutuhan Fe selama periode kehamilan dan mnyusui, dan peningkatan kehilangan darah
karena penyakit cacingan atau schistosomiasis. Anemia defisiensi Fe terjadi pada tahap
anemia tingkat berat (severe) yang berakibat pada rendahnya kemampuan tubuh
memelihara suhu, bahkan dapat mengancam kematian.
3. Determinan Masalah Pangan
Permasalahan pangan terjadi jika suatu rumah tangga, masyarakat atau daerah tertentu
mengalami ketidak-cukupan pangan untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi
pertumbuhan dan kesehatan seluruh individu anggota keluarganya.
Ada tiga hal penting yang mempengaruhi tingkat permasalahan pangan, yaitu :
a. Kemampuan penyediaan pangan kepada individu/rumah;
b. Kemampuan individu / rumah tangga untuk mendapatkan pangan;
c. Proses distribusi dan pertukaran pangan yang tersedia dengan sumber daya yang
dimiliki oleh individu/rumah tangga.
Ketiga hal tersebut, pada kondisi terjadinya permasalahan pangan yang akut atau
kronis dapat muncul secara stimultan dan bersifat relatif permanen. Sedangkan pada
kasus permasalahan pangan musiman dan sementara, faktor yang berpengaruh hanya
salah satu atau dua faktor yang tidak permanen.
Permasalahan pangan yang muncul tidak hanya persoalan produksi pangan semata,
namun juga merupakan masalah multidimensional, yakni juga mencakup masalah
pendidikan, tenaga kerja, kesehatan, kebutuhan dan prasarana fisik. Permasalahan
pangan tidak hanya ditentukan oleh tiga pilar tersebut namun oleh sejumlah faktor
berikut:
a. Sumber Daya Lahan
Menurut staf khusus dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) (Herman Siregar), lahan
sawah terancam semakin cepat berkurang, walaupun sebenarnya lahan yang secara
potensial dapat digunakan, belum digunakan masih banyak. Alasannya, pencetakan sawah
baru menemui banyak kendala, termasuk biayanya yang mahal, sehingga tambahan lahan
pertanian setiap tahun tidak signifikan dibandingkan dengan luas areal yang terkonversi
untuk keperluan non-pertanian.
Ironisnya, laju konversi lahan pertanian tidak bisa dikurangi, bahkan terus meningkat
dari tahun ke tahun, sejalan dengan pesatnya urbanisasi (yang didorong oleh peningkatan
pendapatan per kapita dan imigrasi dari perdesaan ke perkotaan), dan industrialisasi.
b. Infrastruktur
Menurut analisis Khomsan (2008), lambannya pembangunan infrastruktur ikut
berperan menentukan pangsa sektor pertanian dalam mendukung ketahanan pangan.
Pembangunan infrastruktur pertanian sangat penting dalam mendukung produksi pangan
yang mantap. Perbaikan infrastruktur pertanian sebaiknya terus dilakukan sehingga tidak
menjadi kendala penyaluran produk pertanian dan tidak mengganggu arus pendapatan ke
petani.
Sistem dan jaringan Irigasi (termasuk bendungan dan waduk) merupakan bagian
penting dari infrastruktur pertanian. Ketersediaan jaringan irigasi yang baik, diharapkan
dapat meningkatkan volume produksi dan kualitas komoditas pertanian, terutama tanaman
pangan.
c. Teknologi dan Sumber Daya Manusia
Teknologi dan SDM merupakan dua faktor produksi yang sifatnya komplementer, dan
ini berlaku di semua sektor, termasuk pertanian. Kualitas SDM di sektor pertanian sangat
rendah jika dibandingkan di sektor-sektor ekonomi lainnya seperti industri manufaktur,
keuangan, dan jasa. Berdasarkan Sensus Pertanian 2003, lebih dari 50% dari jumlah petani
adalah dari kategori berpendidikan rendah, kebanyakan hanya sekolah dasar (SD).
Rendahnya pendidikan formal ini tentu sangat berpengaruh terhadap kemampuan petani
Indonesia mengadopsi teknologi-teknologi baru, termasuk menggunakan traktor dan mesin
pertanian lainnya secara efisien.
d. Energi
Energi sangat penting untuk kegiatan pertanian lewat dua jalur, yakni langsung dan
tidak langsung. Jalur langsung adalah energi seperti listrik atau bahan bakar minyak
(BBM) yang digunakan oleh petani dalam kegiatan bertaninya, misalnya dalam
menggunakan traktor. Sedangkan lewat jalur tidak langsung adalah energi yang digunakan
oleh pabrik pupuk dan pabrik yang membuat input-input lainnya dan alat-alat transportasi
dan komunikasi
e. Modal
Keterbatasan modal menjadi salah satu penyebab rapuhnya ketahanan pangan di
Indonesia. Diantara sektor-sektor ekonomi, pertanian yang selalu paling sedikit mendapat
kredit dari perbankan (dan juga dana investasi) di Indonesia. Kekurangan modal juga
menjadi penyebab banyak petani tidak mempunyai mesin giling sendiri. Padahal jika
petani mempunyai mesin sendiri, artinya rantai distribusi bertambah pendek sehingga
kesempatan lebih besar bagi petani untuk mendapatkan lebih banyak penghasilan.
Berdasarkan SP 2003, tercatat hanya sekitar 3,06% dari jumlah petani yang pernah
mendapatkan kredit bank, sedangkan sisanya membiayai kegiatan bertani dengan
menggunakan uang sendiri.
f. Lingkungan Fisik/Iklim
Dampak pemanasan global diduga juga berperan dalam menyebabkan krisis pangan
dunia, termasuk di Indonesia, karena pemanasan global menimbulkan periode musim
hujan dan musim kemarau yang semakin tidak menentu.
Pola tanam dan estimasi produksi pertanian serta persediaan stok pangan menjadi sulit
diprediksi dengan akurat. Pertanian pertanian pangan, merupakan sektor yang paling
rentan terhadap dampak perubahan iklim, khususnya yang mengakibatkan musim kering
berkepanjangan; hal ini karena pertanian pangan di Indonesia masih sangat mengandalkan
pada pertanian sawah yang memerlukan banyak air.
Dampak langsung dari pemanasan global terhadap pertanian di Indonesia adalah
penurunan produktivitas dan tingkat produksi sebagai akibat terganggunya siklus air
karena perubahan pola hujan dan meningkatnya frekuensi anomali cuaca ekstrim, dapat
mengakibatkan pergeseran waktu, musim, dan pola tanam.
4. Determinan Masalah Gizi
Terdapat 6 faktor yang mempengaruhi masalah gizi, yaitu:
1) Faktor manusia
Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi tubuh manusia, yaitu Usia, Jenis kelamin,
Ras, Sosial ekonomi, Penyakit-penyakit terdahulu, Cara Hidup, Hereditas, Nutrisi,
Imunitas.
2) Faktor sumber/ Agent
Kondisi pejamu yang mengalami kekurangan ataupun kelebihan nutrisi dapat
mengganggu keseimbangan tubuh sehingga menyebabkan munculnya penyakit.
3) Faktor lingkungan/environment (fisik, biologis, ekonomi, bencana alam
Terdiri dari Lingkungan biologis, Fisik, Sosial, Ekonomi. Mempunyai pengaruh &
peranan yang penting dalam interaksi antara manusia. Hubungan dengan
permasalahan gizi, yaitu: Daerah dimana buah-buahan & sayur mayur tidak selalu
tersedia, Tumbuh-tumbuhan yang mengandung zat gizi sebagai tempat bermukim
vector, Penduduk yang padat, Perang,menyebabkan kemiskinan dan perpindahan
penduduk, dan Bencana alam.
4) Ketersediaan bahan makanan yang kurang dipasaran: Krisis Ekonomi yang
berkepanjangan dan Kegagalan produksi pertanian, Ketersediaan bahan makanan
yang kurang ditingkat rumah tangga/individu: Keadaan sosial ekonomi kurang
memadai, Daya beli yang kurang/menurun, Tingkat pengetahuan yang kurang, dan
Kebiasaan/budaya yang merugikan
5) Penyakit Infeksi
Telah lama diketahui adanya interaksi sinergistis antara malnutrisi dan infeksi. Infeksi
derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Malnutrisi, walaupun masih ringan,
mempunyai pengaruh negatif pada daya tahan tubuh terhadap infeksi. Hubungan ini
sinergistis, sebab malnutrisi disertai infeksi pada umumnya mempunyai konsekuensi
yang lebih besar daripada sendiri-sendiri.
E. Ketahanan Pangan
1. Defenisi
Di Indonesia sesuai dengan Undang-undang No. 7 Tahun 1996, pengertian ketahanan
pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari: (1)
tersedianya pangan secara cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya; (2) aman; (3)
merata; dan (4) terjangkau. Dengan pengertian tersebut, mewujudkan ketahanan pangan
dapat lebih dipahami sebagai berikut:
a. Terpenuhinya pangan dengan kondisi ketersediaan yang cukup, diartikan
ketersediaan pangan dalam arti luas, mencakup pangan yang berasal dari tanaman,
ternak, dan ikan untuk memenuhi kebutuhan atas karbohidrat, protein, lemak,
vitamin dan mineral serta turunannya, yang bermanfaat bagi pertumbuhan
kesehatan manusia.
b. Terpenuhinya pangan dengan kondisi yang aman, diartikan bebas dari cemaran
biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan
membahayakan kesehatan manusia, serta aman dari kaidah agama.
c. Terpenuhinya pangan dengan kondisi yang merata, diartikan pangan yang harus
tersedia setiap saat dan merata di seluruh tanah air.
d. Terpenuhinya pangan dengan kondisi terjangkau, diartikan pangan mudah
diperoleh rumah tangga dengan harga yang terjangkau.
2. Tujuan Pembangunan Ketahanan Pangan
Tujuan pembangunan ketahanan pangan adalah mencapai ketahanan dalam bidang
pangan dalam kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga dari produksi
pangan nasional yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, jumlah dan mutu,
aman, merata dan terjangkau seperti diamanatkan dalam UU pangan.
3. Strategi dalam Upaya Pembangunan Ketahanan Pangan
Strategi yang dikembangkan dalam upaya pembangunan ketahanan pangan adalah
sebagai berikut :
a. Peningkatan kapasitas produksi pangan nasional secara berkelanjutan (minimum
setara dengan laju pertumbuhan penduduk) melalui intensifikasi, ekstensifikasi dan
diversifikasi.
b. Revitalisasi industri hulu produksi pangan (benih, pupuk, pestisida dan alat dan mesin
pertanian) .
c. Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan.
d. Revitalisasi dan restrukturisasi kelembagaan pangan yang ada ; koperasi, UKM dan
lumbung desa.
e. Pengembangan kebijakan yang kondusif untuk terciptanya kemandirian pangan yang
melindungi pelaku bisnis pangan dari hulu hingga hilir meliput penerapan technical
barrier for Trade (TBT) pada produk pangan, insentif, alokasi kredit , dan harmonisasi
tarif bea masuk, pajak resmi dan tak resmi.
Ketahanan pangan diwujudkan oleh hasil kerja sistem ekonomi pangan yang terdiri
dari subsistem ketersediaan meliput produksi , pasca panen dan pengolahan, subsistem
distribusi dan subsistem konsumsi yang saling berinteraksi secara berkesinambungan.
Ketiga subsistem tersebut merupakan satu kesatuan yang didukung oleh adanya berbagai
input sumberdaya alam, kelembagaan, budaya, dan teknologi. Proses ini akan hanya akan
berjalan dengan efisien oleh adanya partisipasi masyarakat dan fasilitasi pemerintah.
Partisipasi masyarakat ( petani, nelayan dll) dimulai dari proses produksi, pengolahan,
distribusi dan pemasaran serta jasa pelayanan di bidang pangan. Fasilitasi pemerintah
diimplementasikan dalam bentuk kebijakan ekonomi makro dan mikro di bidang
perdagangan, pelayanan dan pengaturan serta intervensi untuk mendorong terciptanya
kemandirian pangan. Output dari pengembangan kemandirian pangan adalah
terpenuhinya pangan, SDM berkualitas, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi dan
ketahanan nasional.
4. Subsistem ketahanan pangan
Sub sistem ketahanan pangan terdiri dari tiga sub sistem utama yaitu ketersediaan,
akses, dan penyerapan pangan, sedangkan status gizi merupakan outcome dari ketahanan
pangan. Ketersediaan, akses, dan penyerapan pangan merupakan sub sistem yang harus
dipenuhi secara utuh. Salah satu subsistem tersebut tidak dipenuhi maka suatu negara
belum dapat dikatakan mempunyai ketahanan pangan yang baik. Walaupun pangan
tersedia cukup di tingkat nasional dan regional, tetapi jika akses individu untuk
memenuhi kebutuhan pangannya tidak merata, maka ketahanan pangan masih dikatakan
rapuh.
a. Sub sistem ketersediaan (food availability)
Yaitu ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup aman dan bergizi untuk semua
orang dalam suatu negara baik yang berasal dari produksi sendiri, impor, cadangan
pangan maupun bantuan pangan. Ketersediaan pangan ini harus mampu mencukupi
pangan yang didefinisikan sebagai jumlah kalori yang dibutuhkan untuk kehidupan
yang aktif dan sehat.
b. Akses pangan (food access)
Yaitu kemampuan semua rumah tangga dan individu dengan sumberdaya yang
dimilikinya untuk memperoleh pangan yang cukup untuk kebutuhan gizinya yang
dapat diperoleh dari produksi pangannya sendiri, pembelian ataupun melalui bantuan
pangan. Akses rumah tangga dan individu terdiri dari akses ekonomi, fisik dan sosial.
Akses ekonomi tergantung pada pendapatan, kesempatan kerja dan harga. Akses fisik
menyangkut tingkat isolasi daerah (sarana dan prasarana distribusi), sedangkan akses
sosial menyangkut tentang preferensi pangan.
c. Penyerapan pangan (food utilization)
Yaitu penggunaan pangan untuk kebutuhan hidup sehat yang meliputi kebutuhan
energi dan gizi, air dan kesehatan lingkungan. Efektifitas dari penyerapan pangan
tergantung pada pengetahuan rumahtangga/individu, sanitasi dan ketersediaan air,
fasilitas dan layanan kesehatan, serta penyuluhan gisi dan pemeliharaan balita. (Riely
et.al , 1999).
5. Aspek-aspek tentang permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam
mencapai ketahanan pangan
a. Aspek Ketersediaan Pangan
Dalam aspek ketersediaan pangan, masalah pokok adalah semakin terbatas dan
menurunnya kapasitas produksi dan daya saing pangan nasional. Hal ini disebabkan
oleh faktor faktor teknis dan sosial - ekonomi;
1) Teknis
a) Berkurangnya areal lahan pertanian karena derasnya alih lahan pertanian ke non
pertanian seperti industri dan perumahan (laju 1%/tahun).
b) Produktifitas pertanian yang relatif rendah dan tidak meningkat.
c) Teknologi produksi yang belum efektif dan efisien.
d) Infrastruktur pertanian (irigasi) yang tidak bertambah selama krisis dan
kemampuannya semakin menurun.
e) Masih tingginya proporsi kehilangan hasil pada penanganan pasca panen (10-
15%).
f) Kegagalan produksi karena faktor iklim seperti El-Nino yang berdampak pada
musim kering yang panjang di wilayah Indonesia dan banjir .
2) Sosial- ekonomi
a) Penyediaan sarana produksi yang belum sepenuhnya terjamin oleh pemerintah.
b) Sulitnya mencapai tingkat efisiensi yang tinggi dalam produksi pangan karena
besarnya jumlah petani (21 juta rumah tangga petani) dengan lahan produksi yang
semakin sempit dan terfragmentasi (laju 0,5%/tahun).
c) Tidak adanya jaminan dan pengaturan harga produk pangan yang wajar dari
pemerintah kecuali beras.
d) Tata niaga produk pangan yang belum pro petani termasuk kebijakan tarif impor
yang melindungi kepentingan petani.
e) Terbatasnya devisa untuk impor pangan sebagai alternatif terakhir bagi
penyediaan pangan.
b. Aspek Distribusi Pangan
1) Teknis
a) Belum memadainya infrastruktur, prasarana distribusi darat dan antar pulau yang
dapat menjangkau seluruh wilayah konsumen.
b) Belum merata dan memadainya infrastruktur pengumpulan, penyimpanan dan
distribusi pangan , kecuali beras.
c) Sistem distribusi pangan yang belum efisien.
d) Bervariasinya kemampuan produksi pangan antar wilayah dan antar musim
menuntut kecermatan dalam mengelola sistem distribusi pangan agar pangan
tersedia sepanjang waktu diseluruh wilayah konsumen.
2) Sosial-ekonomi
a) Belum berperannya kelembagaan pemasaran hasil pangan secara baik dalam
menyangga kestabilan distribusi dan harga pangan.
b) Masalah keamanan jalur distribusi dan pungutan resmi pemerintah pusat dan
daerah serta berbagai pungutan lainnya sepanjang jalur distribusi dan pemasaran
telah menghasilkan biaya distribusi yang mahal dan meningkatkan harga produk
pangan.
c. Aspek Konsumsi Pangan
1) Teknis
a) Belum berkembangnya teknologi dan industri pangan berbasis sumber daya
pangan local.
b) Belum berkembangnya produk pangan alternatif berbasis sumber daya pangan
lokal.
2) Sosial-ekonomi
a) Tingginya konsumsi beras per kapita per tahun (tertinggi di dunia > 100 kg,
Thailand 60 kg, Jepang 50 kg).
b) Kendala budaya dan kebiasaan makan pada sebagian daerah dan etnis sehingga
tidak mendukung terciptanya pola konsumsi pangan dan gizi seimbang serta
pemerataan konsumsi pangan yang bergizi bagi anggota rumah tangga.
c) Rendahnya kesadaran masyarakat, konsumen maupun produsen atas perlunya
pangan yang sehat dan aman.
d) Ketidakmampuan bagi penduduk miskin untuk mencukupi pangan dalam jumlah
yang memadai sehingga aspek gizi dan keamanan pangan belum menjadi
perhatian utama.
d. Aspek Pemberdayaan Masyarakat
a) Keterbatasan prasarana dan belum adanya mekanisme kerja yang efektif di
masyarakat dalam merespon adanya kerawanan pangan, terutama dalam
penyaluran pangan kepada masyarakat yang membutuhkan.
b) Keterbatasan keterampilan dan akses masyarakat miskin terhadap sumber daya
usaha seperti permodalan, teknologi, informasi pasar dan sarana pemasaran
meyebabkan mereka kesulitan untuk memasuki lapangan kerja dan menumbuhkan
usaha.
c) Kurang efektifnya program pemberdayaan masyarkat yang selama ini bersifat top-
down karena tidak memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan kemampuan
masyarakat yang bersangkutan.
d) Belum berkembangnya sistem pemantauan kewaspadaan pangan dan gizi secara
dini dan akurat dalam mendeteksi kerawanan panagan dan gizi pada tingkat
masyarakat.
e. Aspek Manajemen
Keberhasilan pembangunan ketahanan dan kemandirian pangan dipengaruhi
oleh efektifitas penyelenggaraan fungsi-fungsi manajemen pembangunan yang
meliputi aspek perencanan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian serta
koordinasi berbagai kebijakan dan program. Masalah yang dihadapi dalam aspek
manajemen adalah:
a) Terbatasnya ketersediaan data yang akurat, konsisten , dipercaya dan mudah
diakses yang diperlukan untuk perencanaan pengembangan kemandirian dan
ketahanan pangan.
b) Belum adanya jaminan perlindungan bagi pelaku usaha dan konsumen kecil di
bidang pangan.
c) Lemahnya koordinasi dan masih adanya iklim egosentris dalam lingkup instansi
dan antar instansi, subsektor.
F. Program Dalam Upaya Ketahanan Pangan
Dengan memperhatikan pedoman dan ketentuan hukum, serta tujuan dan strategi
untuk mewujudkan ketahanan pangan, maka kebijakan dan program yang akan ditempuh
dikelompokkan dalam:
a. Program jangka pendek (sampai dengan 5 tahun)
Program jangka pendek ditujukan untuk peningkatan kapasitas produksi pangan nasional
dengan menggunakan sumberdaya yang telah ada dan teknologi yang telah teruji.
Komponen utama program ini adalah:
1) Ekstensifikasi atau perluasan lahan pertanian (140.000 Ha/tahun)
Ekstensifikasi lahan pertanian ditujukan untuk memperluas lahan produksi pertanian,
sehingga produksi pangan secara nasional yang sekarang dapat
ditingkatkan. Ekstensifikasi dilakukan terutama untuk kedelai, gula dan garam karena
rasio impor terhadap produksi besar (30-70%). Lahan yang diperluas diperuntukkan bagi
petani miskin dan tunakisma (< 0.1 Ha), tetapi memiliki keahlian/pengalaman bertani.
Lahan kering yang potensial seluas 31 juta Ha dapat dimanfaatkan menjadi lahan
usahatani.
2) Intensifikasi
Program ini diarahkan untuk peningkatan produksi melalui peningkatan produktifitas
pertanian. Intensifikasi ditujukan pada lahan-lahan pertanian subur dan produktif yang
sudah merupakan daerah lumbung pangan seperti Kerawang, Subang dan daerah pantura
lainya di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan propinsi lainnya.
3) Diversifikasi
Kegiatan diversifikasi ditujukan untuk meningkatkan produksi pangan pokok
alternatif selain beras, penurunan konsumsi beras dan peningkatan konsumsi pangan
pokok alternatif yang berimbang dan bergizi serta berbasis pada pangan lokal.
Diversifikasi dilakukan dengan mempercepat implementasi teknologi pasca panen dan
pengolahan pangan lokal yang telah diteliti ke dalam industri.
4) Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan
Revitalisasi/restrukturisasi industri pasca panen dan pengolahan pangan diarahkan
pada 1) penekanan kehilangan hasil dan penurunan mutu karena teknologi penanganan
pasca panen yang kurang baik, 2) pencegahan bahan baku dari kerusakan dan 3)
pengolahan bahan baku menjadi bahan setengah jadi dan produk pangan.
5) Revitalisasi dan Restrukturisasi Kelembagaan Pangan
Keberadaan, peran dan fungsi lembaga pangan seperti kelompok tani, UKM, Koperasi
perlu direvitalisasi dan restrukturisasi untuk mendukung pembangunan kemandirian
pangan. Kemitraan antara lembaga perlu didorong untuk tumbuhnya usaha dalam bidang
pangan. Koordinator kegiatan ini adalah Meneg Koperasi dan UKM dan Deptan dibantu
oleh Depperindag. Alokasi dana untuk kegiatan ini berupa koordinasi antar departemen
dan instansi untuk melahirkan kebijakan baru untuk kelembagaan pangan. Kebutuhan
dana dibebankan pada anggaran masing-masing departemen.
6) Kebijakan Makro
Kebijakan dalam bidang pangan perlu ditelaah dan dikaji kembali khususnya yang
mendorong tercapainya ketahanan pangan dalam waktu 1-5 tahun. Beberapa hal yang
perlu dikaji seperti pajak produk pangan, retribusi, tarif bea masuk, iklim investasi, dan
penggunaan produksi dalam negeri serta kredit usaha.
b. Program jangka menengah (5-10 tahun)
Program jangka menengah ditujukan pada pemantapan pembangunan ketahanan pangan
yang lebih efisien dan efektip dan berdaya saing tinggi. Beberapa program yang relevan
untuk dilakukan adalah:
1) Perbaikan undang-undang tanah pertanian termasuk didalamnya pengaturan luasan
lahan pertanian yang dimiliki petani, pemilikan lahan pertanian oleh bukan petani.
Sistem bawon atau pembagian keuntungan pemilik dan penggarap, dsb.
2) Modernisasi pertanian dengan lebih mendekatkan pada pada peningkatan efisiensi dan
produktivitas lahan pertanian, penggunaan bibit unggul, alat dan mesin pertanian dan
pengendalian hama terpadu dan pasca panen dan pengolahan pangan.
3) Pengembangan jaringan dan sistem informasi antar instansi, lembaga yang terkait
dalam bidang pangan serta pola kemitraan bisnis pangan yang berkeadilan.
4) Pengembangan prasarana dan sarana jalan di pertanian agar aktivitas kegiatan
pertanian lebih dinamis.
c. Program jangka panjang (> 10 tahun)
1) Konsolidasi lahan agar lahan pertanian dapat dikelola lebih efisien dan efektip, karena
masuknya peralatan dan mesin dan menggiatkan aktivitas ekonomi dan pedesaan.
2) Perluasan pemilikan lahan pertanian oleh petani.

Daftar Pustaka

https://www.scribd.com/doc/178718000/Tugas1-Tulis-Tangan-Sistem-Pangan-Dan-Gizi-
Ketahanan-Pangan di akses tanggal 28 januari 2017, pukul 20.03 WIB

https://www.scribd.com/doc/283048846/Sub-Sistem-Pangan-Dan-Gizi di akses tanggal 28


januari 2017, pukul 20.10 WIB

http://bkp.pertanian.go.id/tinymcpuk/gambar/file/PENGANTARSKPG.pdf di akses tanggal


28 januari 2017, pukul 20.10 WIB

http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=2136 di akses tanggal 28 januari 2017, pukul 20.15 WIB

http://dokumen.tips/documents/permasalahan-dalam-bidang-pangan-dan-gizi.html di akses
tanggal 28 januari 2017, pukul 20.20 WIB

http://www.litbang.pertanian.go.id/buku/swasembada/BAB-IV-2.pdf di akses tanggal 28


januari 2017, pukul 20.020 WIB

http://file.persagi.org/share/39%20Ketahanan%20Pangan%20&%20Gizi.pdf di akses tanggal


30 januari 2017, pukul 07.13WIB