Anda di halaman 1dari 11

PEMERIKSAAN CAIRAN SENDI

I. TUJUAN
a. Tujuan Instruksional Umum
Mahasiswa mampu mengetahui cara pemeriksaan cairan sendi
b. Tujuan Instruksional Khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan cairan sendi
2. Mahasiswa dapat menginterpretasikan hasil pemeriksaan cairan sendi secara
makroskopis dan mikroskopis

II. METODE
Metode yang digunakan adalah metode makroskopis dan mikroskopis

III. PRINSIP
Sampel cairan sendi di homogenkan lalu diperiksa secara makroskopis, cairan sendi
sebanyak 3 ml disentrifuge dan diambil bagian pellet/endapannya dan diteteskan pada
objek glass dan ditutup menggunakan cover glass kemudian diamati pada mikroskop
dengan pembesaran objektif 40x.
IV. DASAR TEORI
Sendi merupakan engsel penghubung antara ruas suatu tulang dengan tulang lainnya,
yang dapat menggerakkan tubuh dengan baik. Beberapa komponen penunjang sendi
antara lain kapsula sendi, ligamen (ligamentum), tulang rawan hialin (kartilago
hialin), cairan sinovial atau cairan sendi. Cairan sendi adalah cairan pelumas yang
terdapat pada sendi yang dihasilkan dari ultrafiltrasi plasma dan mengandung asam
hialuronat. Asam hialuronat menyebabkan cairan sendi bersifat kental, sehingga
cairan sendi dapat berfungsi sebagai pelumas.
Cairan synovial akan memberikan nutrisi bagi tulang rawan sehingga tidak terjadi
gesekan dalam pergerakan sendi. Pemeriksaan cairan sendi dilakukan untuk
membantu mendiagnosis penyebab peradangan, nyeri, dan pembengkakan pada sendi.
Cairan sendi diambil menggunakan jarum yang ditusuk kedalam cairan itu berada
diarea antara tulang pada sendi tersebut. Indikasi memeriksa cairan sendi diberikan
oleh bertambah banyaknya cairan itu dan pemeriksaan laboratorium membantu
diagnosis kelainan.
Dengan melakukan analisis cairan sendi, dapat diperoleh informasi yang tepat tentang
kelainan sendi. Pada beberapa kelainan sendi dengan efusi seperti yang terjadi pada
artritis kristal, artritis septik, "systemic lupus erythematosus" serta beberapa kelainan
sendi lainnya, diagnosis dan etiologi kelainan sendi dapat ditegakkan dengan analisis
cairan sendi. Analisis cairan sendi dapat digunakan untuk membedakan suatu
kelainan sendi degeneratif dari berbagai kelainan sendi inflamatif. Dengan memeriksa
cairan sendi, beberapa kemungkinan diagnosis lain dapat dibandingkan dengan
kelainan sendi, sehingga arah pemeriksaan dapat ditentukan dengan lebih seksama.
(Rizasjah Daud, 2013).
Pemeriksaan ini dikenal dengan nama formal yaitu: analisis cairan sinovial, tetapi
mempunyai nama lain berupa analisis cairan sendi. Analisis cairan sendi terdiri dari
serangkaian uji yang dilakukan untuk mendeteksi perubahan yang terjadi akibat dari
penyakit tertentu. Beberapa karakteristik cairan sendi yang dapat diamati antara lain,
karakteristik fisik, karakteristik kimia, karakteristik mikroskopis, karakteristik
infeksius, dan uji bekuan musin terhadapcairan synovial.
Gout dan rheumatoid artritis, merupakan tanda adanya inflamasi pada cairan sendi.
Dapat diamati secara mikroskopis. Akan ditemukan kristal asam urat berbentuk jarum
pada inflamasi gout, dan kristal asam urat berbentuk pecahan kaca pada arthritis.
Cairan sendi diperiksa menggunakan mikroskop cahaya untuk melihat adanya kristal
birefringen negatif (asam urat) atau birefringen positif (kalsium pirofosfat dihidrat)
untuk menyingkirkan adanya penyakit kristal pada sendi. (I Wayan Darya, dkk. 2009)

V. ALAT DAN BAHAN


a. Alat
1. Centrifuge
2. Objek glass
3. Cover glass
4. Pipet tetes
5. Mikroskop
6. Tabung centrifuge
b. Bahan
1. Sampel cairan sendi
2. Ph stick
3. Tissue
4. Aguadest
5. Giemsa

VI. CARA KERJA


1. Alat dan bahan disiapkan
2. Cairan sendi diperiksa secara mikroskopis meliputi :
a. Warna
b. pH
c. Bekuan
d. Viskositas
3. Sampel cairan sendi sebanyak 3 ml dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge
4. Disentrifuge dengan kecepatan 1600 rpm selama 5 menit
5. Supernatant dibuang dan diambil endapan
6. Diteteskan pada objek glass lalu ditutup dengan cover glass
7. Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran lensa objektif 10x untuk mencari
lapang pandang, kemudian diganti keperbesaran obektif 40x
8. Dibaca hasilnya
Pewarnaan
1. Diteteskan pewarnaan giemsa pada endapan sebanyak 1 tetes
2. Diteteskan pada objek glass dan ditutup dengan cover glass
3. Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran objektif 40x
4. Hasil diinterpretasikan
VII. HASIL PENGAMATAN

No Foto Keterangan

1. Sampel cairan sendi

Pengambilan sampel cairan


sendi dengan pipet Pasteur dan
dimasukkan ke dalam tabung
2.
centrifuge

Tabung centrifuge yang sudah


3.
diisi dengan cairan sendi
Centrifuge yang digunakan
dalam pemeriksaan kali ini
4.

Mikroskop binokuler yang


digunakan dalam mengamati
cairan sendi secara mikroskopis
5.

Cairan sendi yang sudah


6. dicentrifugasi

7.

Cairan sendi yang diteteskan


pada objek glass
8.
Cairan sendi yang sudah
ditambahkan dengan eosin 0,5
%

9.

Hasil pengamatan secara


mikroskopis ,tampak Kristal
bebrbentuk pecahan kaca

10. Hasil pengamatan secara


mikroskopis setelah
ditambahkan eosin , tampak
objek berwarna merah dan
terdapat Kristal berbentuk
pecahan kaca

VIII. PEMBAHASAN

Cairan sendi adalah cairan pelumas yang terdapat dalam sendi-sendi.Cairan itu
merupakan ultrafiltrat plasma yang mengandung asam hialuronat yang disekresikan oleh lapisan
synovia sendi,Asam hialuronat itu menyebabkan cairan sendi bersifat kental sehingga cairan itu
dapat berfungsi sebagai pelumas.

Pemeriksaan cairan sendi dikenal dengan nama formal yaitu: cairan synovial, tetapi
mempunyai nama lain berupa analisis cairan sendi. Pemeriksaan cairan sendi dilakukan untuk
membantu mendiagnosis penyebab peradangan, nyeri, dan pembengkakan pada sendi. Cairan
sendi diambil menggunakan jarum yang ditusuk kedalam cairan itu berada( area diantara tulang
pada sendi tersebut). Cairan synovial menjadi pelumas dalam sendi. Cairan synovial akan
memberikan nutrisi bagi tulang rawan sehingga tidak dapat arus selama penggunaan ( gesekan
dalam pergerakan sendi). Analisis cairan sendi terdiri dari serangkaian uji yang dilakukan untuk
mendeteksi perubahan yang terjadi akibat dari penyakit tertentu. Analisis cairan sendi dilakukan
jika menemukan sesuatu yang mencurigakan di daerah persendian, berupa; 1) Nyeri didaerah
persendian 2) Eritema meliputi daerah persendian dan sekitarnya 3) Inflamasi di daerah
persendian, dan 4) Akumulasi cairan sinovial

Pada pratikum kali ini, dilakukan pemeriksaan cairan sendi dengan sampel yang telah
disediakan. Pemeriksaan dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Pemeriksaan
makroskopis dilakukan dengan melihat secara kasat mata, berupa warna, kekentalan, Ph.
Sedangkan pemeriksaan mikroskopis dilakukan dibawah mikroskop setelah sampel disentrifuge.
Sentrifuge merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan organel pada sampel berdasarkan
massa jenisnya melalui proses pengendapan. Dalam prosesnya, sentrifus menggunakan prinsip
rotasi atau perputaran tabung yang berisi larutan agar dapat dipisahkan berdasarkan massa
jenisnya. Hasilnya , sampel setelah disentrifuge terbagi menjadi dua fase yaitu supernatant yang
berupa cairan dan pellet atau organel yang mengendap. Yang digunakan dalam pemeriksaan
mikroskopis ini adalah bagian pellet pada sampel.

Dalam pemeriksaan makroskopis, didapatkan bahwa warna cairan sendi bening agak
sedikit kekuningan. Berikut beberapa warna cairan sendi yang memiliki indikasi suatu penyakit.

Kuning jernih : artritis traumatik, osteoartritis dan artritis rematoid ringan.


Kuning keruh : inflamasi spesifik dan non spesifik, karena bertambahnya lekosit.
Seperti susu (chyloid) : artritis rematoid dengan efusi kronik, pirai dengan efusi akut dan
obstruksi limfatik dengan efusi.
Seperti nanah atau purulent : artritis septik yang lanjut.
Seperti darah : pada trauma, hemofilia dan sinovisitis vilonodularis hemoragik.
Bila darah terjadi karena trauma pada waktu aspirasi maka warna merahnya akan
berkurang bila aspirasi diteruskan, sedangkan jika bukan oleh trauma maka warna merah
akan menetap.
Kuning kecoklatan : pada perdarahan yang telah lama.

Ini berarti warna cairan sendi yang dijadikan sampel masih dalam batas normal. Karna cairan
sendi yang normal itu tidak berwarna dan jernih. Namun, interpretasi warna tidak mutlak
dijadikan sebagai patokan dalam pemeriksaan cairan sendi. Untuk meyakinkan apakah sampel
yang diuji benar benar normal atau tidak, maka wajib dilakukan pemeriksaan lebih lanjut berupa
pemeriksaan mikroskopis.

Sedangkan untuk PH sampel cairan sendi adalah 6. PH ini masih dalam batas normal
karna PH cairan sendi yang seharusnya memang < 7. Hal ini karna cairan sendi bersifat asam
yang disebabkan adanya kandungan asam hialuronat didalamnya. Asam hialuronat ini juga dapat
mempengaruhi viskositas cairan sendi. Pada pratikum kali viskositas cairan sendi tidak kental
melainkan cair seperti air. Hal ini menandakan kandungan asam hialuronat pada sampel tersebut
rendah.

Pemeriksaan mikroskopis pada sampel, ditemukan adanya Kristal asam urat berbentuk
seperti pecahan kaca. Ini berarti sampel tersebut terindikasi adanya arthritis. Arthritis adalah
penyakit bersifat kronis dan terjadi seumur hidup dan biasanya menyerang pria dan wanita yang
berusia di atas 55 tahun. Radang sendi diklasifikasikan sebagai salah satu penyakit reumatik. Ini
adalah keadaan dimana penyakit itu berbeda pada setiap individu, dengan rawatan, komplikasi,
dan prognosis dengan ciri-ciri yang berbeda. Penyakit ini bisa menjejaskan sendi, otot, ligamen,
rawan, dan tendon, dan mempunyai potensi untuk memberi kesan kepada kawasan-kawasan
badan dalaman yang lain. Pasien dengan arthritis menderita pembengkakan dan kekakuan pada
sendi sehingga menyebabkan gerakan tubuh menjadi sulit dan menyakitkan. Jika dibiarkan tanpa
dirawat atau ditangani, penyakit ini biasanya akan menyebabkan kerusakan jaringan. Terdapat
beberapa jenis arthritis, tetapi jenis arthritis yang paling umum ditemui antara lain adalah:

1. Osteoarthritis (OA) - Osteoarthritis adalah jenis arthritis yang paling banyak ditemukan
pada saat proses diagnosis. Penyakit ini disebabkan oleh hancurnya tulang rawan pada
bagian sendi. Saat tulang rawan hancur, otot (ligamen) dan bagian lain dari sendi akan
tertarik saat tubuh bergerak sehingga menyebabkan rasa sakit. Sendi akan menjadi
regang, terutama pada waktu pagi. Penderita mungkin mendapati ia lebih sukar untuk
digunakan dan kehilangan fleksibiliti . Dalam beberapa kasus, sendi mungkin
membengkak. Biasanya sendi yang terlibat adalah di bahian pinggang , tangan, lutut dan
tulang belakang.
2. Rheumatoid Arthritis (RA) - RA adalah jenis radang arthritis dimana sinovium (lapisan
cairan pelindung sendi) meradang sehingga menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit.
Jika dibiarkan tanpa perawatan, RA akan menyebabkan kelainan bentuk pada sendi.
Penderita sering mendapati sendi yang sama dalam setiap bahagian badan membengkak
dan sengal. Jari, tangan, kaki dan pergelangan tangan adalah yang paling biasa terjejas.
Gejala biasanya paling terlihat pada waktu pagi setelah bangun dari tidur dan kesakitan
berlangsung selama 30 menit. Tangan bisa menjadi merah dan bengkak. Mungkin ada
nodul rheumatoid (lebam tisu di bawah kulit lengan).

3. Juvenile Rheumatoid Arthritis (JRA) - Jenis arthritis ini adalah jenis yang menyerang
pasien muda berusia enam belas tahun ke bawah. JRA terbagi menjadi tiga jenis: JRA
pauciartikular yaitu ketika empat sendi atau kurang yang terserang; JRA poliartikular
ketika lebih dari empat sendi terserang dan keadaannya akan terus memburuk; dan JRA
sistemis yang menyerang seluruh tubuh.

Arthritis dapat terjadi karena cedera, kurangnya cairan, autoimunitas, infeksi, atau kombinasi
dari banyak faktor. Beberapa hal yang menjadi penyebab radang sendi / arthritis antara lain:

1. Faktor genetic
Usia
Tulang rawan menjadi lebih rapuh dengan semakin bertambahnya usia sehingga orang
tua tumbuh mereka lebih mungkin mengalami arthritis.

Berat Badan
Kerusakan sendi sebagian tergantung pada beban sendi yang harus didukung. Kelebihan
berat badan dapat menyebabkan radang sendi. Hal ini terutama berlaku dari pinggul dan
lutut.
Riwayat Cedera Sebelumnya
Kerusakan sendi dapat menyebabkan penyimpangan dalam permukaan sendi yang
normal dan halus. Cedera sebelumnya dapat menjadi bagian dari penyebab radang sendi.
Contoh dari cedera yang mengarah ke arthritis adalah patah tulang memasuki tulang
rawan sendi lutut.
Kerja Berat
Pada beberapa pekerjaan tertentu tampaknya memiliki risiko lebih tinggi terkena arthritis
dibandingkan pekerjaan lain terutama pekerjaan berat seperti pekerja perakitan dan
konstruksi berat.
Olahraga Berat
Sulit untuk menentukan berapa banyak olahraga yang menyebabkan arthritis. Tentu saja,
olahraga berat dapat menyebabkan cedera sendi dan arthritis. Namun, olahraga memiliki
kemungkinan manfaat lebih besar daripada risiko arthritis.
Penyakit atau Infeksi
Orang yang mengalami infeksi sendi, asam urat, atau kondisi medis lainnya, dapat
menyebabkan radang sendi.

Selain ditemukannya Kristal asam urat berbentuk pecahan kaca, didalam


pengamatan dibawah mikroskop dapat juga terlihat sel darah merah (eritrosit) dan
juga sel darah putih (leukosit) yang bentuknya sudah tidak utuh kagi. Hal ini
disebabkan karna kondisi sampel yang sudah didiamkan cukup lama sehingga sel
darah putih (leukosit) yang ada didalamnya mengkerut karena waktunya .

IX. KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa cara


pemeriksaan cairan sendi adalah dengan cara makroskopis dan mikroskopis. Cara
pemeriksaan makroskopis dengan cara mengamati warna cairan sendi, menentukan
pH, mengamati bekuan cairan sendi dan viskositas cairan sendi. Berdasarkan
pemeriksaan makroskopis didapatkan warna sampel cairan urin bening
kekuningan, pH 6, cairan sendi yang tidak beku, dan viskositas yang tidak kental.
Dari pemeriksaan mikroskopis ditemukan Kristal bentuk pecahan kaca ,eritrosit
dan leukosit yang sudah rusak (bentuknya tidak utuh) akibat dari dimakan bakteri,
karena sampelnya sudah lama (lebih dari seminggu).

X. DAFTAR PUSTAKA
I Wayan Darya., dkk. 2009. Diagnosis dan Penatalaksanaan Artritis Septik.
Universitas Udayana.
http://ojs.unud.ac.id/index.php/jim/article/viewFile/3880/2875. Diakses tanggal,
26 September 2016.
Daud, Rizasjah. 2013. Nilai Diagnostik Analisis Cairan Sendi Pada Kelainan
Sendi Inflamatif dan Degenerative. Universitas Indonesia.
http://lib.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id=83026&lokasi=lokal. Diakses tanggal, 26
September 2016.
Putri, Sarita. TT. Pemeriksaan Cairan Sendi.
https://www.academia.edu/10701654/PEMERIKSAAN_CAIRAN_SENDI?
auto=download. Diakses tanggal, 26 September 2016.