Anda di halaman 1dari 68

ISSN 0215-1243

WARTA IHP
WARTA INDUSTRI HASIL PERTANIAN

Bogor, ISSN
Warta IHP Vol. 33 No.1 Hal 1 - 48
Juli 2016 0215-1243
Terakreditasi LIPI Nomor : 723/Akred/P2MI-LIPI/04/2016
Halaman | i
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48

Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)


(Journal of Agro-based Industry)
Warta Industri Hasil Pertanian (IHP) adalah wadah informasi bidang riset teknologi industri hasil pertanian
yang meliputi makalah penelitian dan ulasan/ review dibidang industri agro (sains dan teknologi pangan,
teknologi industri pertanian, kemurgi dan minyak asiri, rekayasa peralatan, mikrobiologi pangan, energi
terbarukan, analisis kimia, dan teknik pangan (food engineering)). Terbitan pertama dimulai pada tahun 1984
dan selanjutnya terbit dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Juli dan Desember pada tahun berjalan.

Penanggungjawab Kepala Balai Besar Industri Agro


Officially incharge Head of Center for Agro-based Industry
Ketua Dewan Redaksi Dr. Ir. Rizal Alamsyah, M.Sc. (Teknologi Pertanian, Bioenergy dan
Chief Editor Food Engineering) Balai Besar Industri Agro, Jl. Ir. H. Juanda No. 11 Bogor 16122;
rizalams@yahoo.com
Anggota Dewan Redaksi Dr. Ir. Y. Aris Purwanto, M.Sc (Postharvest Technology)
Editorial board Department of Mechanical and Biosystem Engineering, Faculty of Agricultural Engineering
and Technology, Bogor Agricultural University, Gedung Fateta Lantai 2, Kampus IPB
Darmaga, Bogor 16680
Dr. Ir. Tania Surya Utami, M.T. (Bioseparation) Departemen Teknik Kimia,
Universitas Indonesia; nana@che.ui.ac.id
Dr. Ir. Lamhot Parulian Manalu, M.Si. (Teknologi Pertanian)
BPPT Gd. 2 Lt 15 Jl. MH. Thamrin 8 Jakarta 10340; lpmanalu@yahoo.com,
lamhot.parulian@bppt.go.id
Dr. Hendra Wijaya, S.Si., M.Si. (Kimia Pangan, Pangan Fungsional)
Balai Besar Industri Agro, Jl. Ir. H. Juanda No. 11 Bogor 16122; faizawijaya@gmail.com
Ir. Agus Sudibyo, M.P. (Rekayasa dan Teknologi Pangan)
Balai Besar Industri Agro, Jl. Ir. H. Juanda No. 11 Bogor 16122; asdibyo_as@yahoo.co.id
Ning Ima Arie Wardayanie, S.T.P., M.PharmSc. (Kimia Pangan, Analisis Kimia,
Pangan Fungsional) Balai Besar Industri Agro, Jl. Ir. H. Juanda No. 11 Bogor 16122;
ni_arie@yahoo.com
Mitra Bestari Prof. Dr. Ono Suparno, S.T.P, M.T. (Teknologi Proses Industri Pertanian)
Peer Reviewer Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian
Bogor, Kampus IPB Darmaga, PO Box 220, Bogor 16002; ono.suparno@ipb.ac.id
Prof. Dr. Ing. Misri Gozan, M.Tech. (Environmental (Bio)Process Engineering)
Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia; mgozan@che.ui.ac.id
Prof. Dr. Ir. Sutrisno Mardjan, M.Agr. (Teknik Biosistem dan Teknik Pasca
Panen) Department of Mechanical and Bio-System Engineering, Fakultas Teknologi
Pertanian, Institut Pertanian Bogor; kensutrisno@yahoo.com
Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc. (Food Processing and Engineering,
Food Process and Engineering Laboratory)
Department of Food Science and Technology, Faculty of Agricultural Engineering and
Technology, Bogor Agricultural University. PO Box 220 Bogor 16110; hariyadi@seafast.org,
phariyadi@ipb.ac.id
Prof. (Riset) Dr. Ir. Bambang Hariyanto, M.Si. (Teknik Pertanian Pengolahan
Pangan) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Gedung BPPT II Lt. 15, Jl. MH.
Thamrin No. 8 Jakarta Pusat
Dr. Ir. Inggrid S. Surono, M.Sc. (Mikrobiologi Pangan dan Bioteknologi
Pangan) Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik, Universitas Bina
Nusantara; gridsw@yahoo.com
Redaksi Pelaksana Santi Ariningsih, M.Si
Copyeditor Rina Septi Agnisari, S.T
Anggraeni, S.A.P.
Desain Grafis Rika Sumarteliani, S.T.
Graphic Design
Sekretariat Meity Suryeti
Secretariat
ALAMAT:
Balai Besar Industri Agro (BBIA),
Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Kementerian Perindustrian
Jl. Ir. H. Juanda No. 11, Bogor 16122 Tel.: 0251 8324068; Fax.: 0251 8323339 e-mail : warta.ihp@gmail.com
Halaman | ii
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48

Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)


(Journal of Agro-based Industry)

DAFTAR ISI
Halaman

Halaman Judul........................................................................................................................................................... i
Daftar Isi ...................................................................................................................................................................... ii
Kata Pengantar ......................................................................................................................................................... iii
Lembar Abstrak ....................................................................................................................................................... iv

Karakteristik Minuman Sari Tempe dengan Penambahan Rasa Vanila


Karim Abdullah dan Dyah Wuri Asriati ........................................................................................................ 1-8

Aplikasi Penggunaan Surimi Berbahan Ikan Kurisi (Nemipterus sp) untuk


Pembuatan Aneka Produk Olahan Ikan
Nami Lestari, Yuniarti, dan Tatik Purwanti ................................................................................................ 9-16

Peningkatan Nilai Kalor Pellet Biomassa Cocopeat sebagai Bahan Bakar


Terbarukan dengan Aplikasi Torefaksi
Rizal Alamsyah, Nobel Christian Siregar dan Fitri Hasanah............................................................... 17-23

Kajian Proses dan Ekonomi Pabrik Bioetanol dari Tandan Kosong Kelapa Sawit
(TKKS)
Abdurachman dan Misri Gozan ........................................................................................................................ 24-31

Penyimpanan Dingin Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Varietas Bima Brebes, Tajuk,
dan Bali Karet
Eko Priyantono, Yohanes Aris Purwanto, dan Sobir ....................................................................... 32-38

Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Terhadap Warna Jeruk Siam Pontianak
Setelah Degreening
Nuzlul Musdalifah, Y. Aris Purwanto, dan Roedhy Poerwanto ......................................................... 39-47

Pedoman Penulisan Warta IHP ........................................................................................................................ x


Ucapan Terima Kasih ............................................................................................................................................ xvii
Halaman | iii
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48

Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)


(Journal of Agro-based Industry)
KATA PENGANTAR

Warta IHP adalah majalah ilmiah Balai Besar Industri Agro (BBIA), Badan Penelitian dan
Pengembangan Industri (BPPI), Kementerian Perindustrian, yang diterbitkan dua kali dalam
setahun.

Warta IHP mempublikasikan hasil penelitian dan ulasan/ review dibidang industri agro (sains dan
teknologi pangan, teknologi industri pertanian, kemurgi dan minyak asiri, rekayasa peralatan,
mikrobiologi pangan, energi terbarukan, analisis kimia, dan teknik pangan (food engineering)).

Dalam penerbitan Warta IHP Volume 33 No. 1 Juli 2016 ini menyajikan 5 (lima) karya tulis ilmiah
yang merupakan hasil litbang, yaitu: (1) Karakteristik Minuman Sari Tempe dengan Penambahan
Rasa Vanila; (2) Aplikasi Penggunaan Surimi Berbahan Ikan Kurisi (Nemipterus sp) untuk
Pembuatan Aneka Produk Olahan Ikan; (3) Peningkatan Nilai Kalor Pellet Biomassa Cocopeat
sebagai Bahan Bakar Terbarukan dengan Aplikasi Torefaksi; (4) Kajian Proses dan Ekonomi
Pabrik Bioetanol dari Tandan Kosong KelapaSawit (TKKS) (5) Penyimpanan Dingin Bawang
Merah (Allium ascalonicum L.) Varietas Bima Brebes, Tajuk, dan Bali Karet; dan(6) Pengaruh Suhu
dan Lama Penyimpanan Terhadap Warna Jeruk Siam Pontianak Setelah Degreening.

Kami mengharapkan kritik dan saran para pembaca agar dapat meningkatkan kualitas majalah
ilmiah ini.

Demikian semoga majalah ilmiah ini menjadi sumber informasi dan pengetahuan yang bermanfaat
bagi pembaca dan pelaku industri.

Dewan Redaksi
Halaman | iv
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48

Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)


(Journal of Agro-based Industry)

LEMBAR ABSTRAK

Karakteristik Minuman Sari Tempe


dengan Penambahan Rasa Vanila
Karim Abdullaha dan Dyah Wuri Asriatib
aBalai Riset dan Standardisasi Industri Bandar Lampung

Jl by Pass Soekarno Hatta KM 1 Rajabasa Bandar Lampung

Balai Besar Industri Hasil Perkebunan Makasar


2

Jl Prof Abdurahman Basalamah no 28 Makasar

karim.abdullah@yahoo.com

ABSTRAK : Tempe merupakan makanan khas Indonesia yang digemari oleh seluruh lapisan masyarakat.
Berbagai macam variasi produk olahan tempe telah banyak di jual di pasaran Indonesia, namun masih jarang
ditemukan produk olahan tempe dalam bentuk minuman. Salah satu penyebab kurang berkembangnya
minuman berbahan baku tempe adalah bau langu yang kurang disukai oleh masyarakat. Tujuan dari
penelitian ini adalah membuat minuman berbahan baku tempe dengan penambahan perasa Vanila.
Karakteristik Kimia yang diamati adalah stabilitas pH, kandungan lemak, karbohidrat, dan kelarutan
isoflavon, dan uji kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein sebesar 0,3%, Gula pereduksi 0,48%,
lemak 0,18%. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa nilai pH dan kandungan protein terlarut dalam
minuman sari tempe tetap stabil setelah penyimpanan selama satu minggu pada suhu 4C. Uji hedonik
menunjukkan penambahan gula 7% (w/v) dan 8% (w/v) memiliki nilai rasa berturut 2,35 (tidak suka) dan
3.15 (biasa), Sedangkan Penambahan vanila sebesar 0,25 % (v/v) dan 0,5 % (v/v) memiliki nilai aroma
berturut-turut 2,35 (tidak suka) dan 3,5 (antara biasa dan suka). Dari hasil uji ANOVA didapatkan bahwa
tidak ada perbedaan nyata antara aroma susu kedelai komersial dengan aroma minuman sari tempe dengan
penambahan vanila sebesar 0,5%.

Kata kunci : tempe, protein, vanila, uji hedonik

Aplikasi Penggunaan Surimi Berbahan Ikan Kurisi


(Nemipterus sp) untuk Pembuatan Aneka Produk Olahan Ikan
Nami Lestari1), Yuniarti1), dan Tatik Purwanti2)
1) Balai Besar Industri Agro (BBIA),
Jl Ir. H. Juanda No.11 Bogor 16122

2) Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda,


Jl. Banggeris No. 1 Samarinda

namilestari65@gmail.com

ABSTRAK: Secara teknis, semua jenis ikan dapat dijadikan surimi, biasanya dipilih yang volume produksi
(hasil tangkapannya) melimpah dengan nilai ekonomis rendah. Ikan kurisi (Nemipterus sp.) tergolong ikan
berdaging putih dan ekonomis. Tujuan penelitian adalah melakukan aplikasi penggunaan surimi berbahan
ikan kurisi dibandingkan dengan ikan kurisi lumat untuk pembuatan aneka produk olahan ikan (bakso, sosis
dan nugget). Rendemen surimi ikan kurisi yang dihasilkan dari penelitian sebesar 29,1%, warnanya krem
muda, tidak berbau amis serta teksturnya lembut dan elastis. Kadar air surimi ikan kurisi sebesar 75,6 %,
kekuatan gel 2452,10 g/cm2 dan derajat putih 80,51. Kandungan gizi (kadar protein dan kadar lemak)
produk olahan (bakso, sosis dan nugget) berbahan surimi ikan kurisi lebih tinggi dari produk berbahan ikan
kurisi lumat, sedangkan kadar air dan kadar abunya lebih rendah. Tekstur produk berbasis surimi ikan kurisi
mempunyai nilai uji TPA yang lebih tinggi dibandingkan produk berbahan ikan kurisi lumat. Dari hasil uji
Halaman | v
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48

Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)


(Journal of Agro-based Industry)
organoleptik, panelis lebih menyukai semua produk (bakso, sosis dan nugget) yang menggunakan surimi dari
ikan kurisi sebagai bahan bakunya daripada produk berbahan baku ikan lumat kurisi.

Kata kunci: aneka produk olahan ikan, ikan kurisi, ikan lumat, surimi

Peningkatan Nilai Kalor Pellet Biomassa Cocopeat sebagai


Bahan Bakar Terbarukan dengan Aplikasi Torefaksi
Rizal Alamsyah, Nobel Christian Siregar, dan Fitri Hasanah
Balai Besar Industri Agro (BBIA)
Jl. Ir. H. Juanda No, 11 Bogor 16122

rizalams@yahoo.com

ABSTRAK: Torefaksi adalah suatu proses termokimia yang dilakukan pada temperatur 200-300C dengan
kondisi tanpa udara. Proses ini berfungsi untuk mengubah biomassa menjadi bahan bakar padat yang relatif
mempunyai kandungan energi yang lebih tinggi dari sebelumnya. Torefaksi dapat meningkatkan kerapatan
energi, tahan air, memudahkan penggilingan, membuatnya aman dari degradasi biologis, memudahkan
transportasi dan penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan karakteristik pellet biomassa
cocopeat (yang merupakan hasil samping pengolahan sabut kelapa) menjadi bahan bakar padat dengan
penerapan proses torefaksi Biomassa cocopeat dibuat menjadi bentuk pellet dengan proses pengeringan,
pengayakan, pengadukan, dan pemelletan. Pellet yang dihasilkan selanjutnya ditorefaksi pada suhu 300oC
selama 1,5 jam dan hasilnya dibandingkan cocopeat dengan tanpa perlakuan torefaksi untuk melihat
kandungan energinya pellet. Hasil kedua perlakuan pellet cocopeat tersebut selanjutnya juga dibandingkan
untuk melihat kandungan kualitas emisi udara yang dihasilkan saat pembakaran. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kandungan energi dari pellet cocopeat dengan perlakuan torefikasi menunjukkan
peningkatkan energi sebesar 36%. Sementara emisi udara yang dihasilkan dari pembakaran memenuhi
persyaratan standard emisi udara sesuai peraturan yang berlaku

Kata kunci: torefaksi, cocopeat, pellet, emisi, pembakaran

Kajian Proses dan Ekonomi Pabrik Bioetanol dari Tandan


Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
Abdurachmana dan Misri Gozanb
aBalai Besar Teknologi Pati (B2TP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (B2TP-BPPT)
Lampung Tengah, Lampung, Indonesia.

bLab Biorefinery, Program Studi Teknik Bioproses, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
Depok 16424, Indonesia.

mgozan@che.ui.ac.id

ABSTRAK: Salah satu tahap yang penting dalam perancangan pabrik adalah perhitungan keekonomian yang
biasanya dilakukan dengan menggunakan aplikasi simulasi proses. Beberapa penelitian terdahulu,
memanfaatkan SuperPro Designer sebagai simulasi proses, dan belum banyak yang menggunakannya pada
proses produksi bioetanol khususnya yang berbahan baku tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Pada simulasi
ini, dilakukan empat skenario proses: (1) SHF-Adsorpsi; (2) SHF-Permeasi Uap; (3) SSF-Adsorpsi; dan SSF-
Permeasi Uap, dimodelkan menggunakan SuperPro Designer yang memfasilitasi komposisi bahan baku dan
produk, ukuran unit operasi, konsumsi utilitas, estimasi modal dan biaya operasional serta pendapatan dari
produk dan co-product. Permodelan didasarkan pada data yang diperoleh dari produsen etanol, penyedia jasa
teknologi, manufaktur peralatan dan jasa engineering untuk industri. Dari hasil analisis ekonomi hasil
Halaman | vi
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48

Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)


(Journal of Agro-based Industry)
simulasi, skenario SSF-Permeasi Uap yang paling rendah biaya produksinya dan dapat dikembangkan di
Indonesia dengan Payback period 4,07 tahun; ROI 24,55%; dan IRR 18,98%. Konversi bioetanol standar
bahan bakar yang dihasilkan pada skenario SSF-Permeasi Uap adalah 29,58%. Berdasarkan analisis
sensitivitas pada skenario tersebut, fluktuasi harga jual bioetanol, harga tepung TKKS dan harga enzim sangat
mempengaruhi nilai keekonomian pabrik bioetanol.

Kata kunci: bioetanol, tandan kosong sawit, simulasi proses, rancang pabrik, analisis sensitivitas

Penyimpanan Dingin Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)


Varietas Bima Brebes, Tajuk, dan Bali Karet
Eko Priyantonoa, Yohanes Aris Purwantob, dan Sobirc
Program Studi Teknologi Pascapanen, Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor
a

Jln. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680
bDepartemen Teknik Mesin dan Biosistem, Institut Pertanian Bogor

Jln. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680
cDepartemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor

Jln. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

arispurwanto@gmail.com

ABSTRAK: Bawang merah sebagai komoditas hortikultura memiliki permintaan yang cukup tinggi diketahui
sebagai bahan segar yang cepat mengalami penurunan mutu secara fisik maupun kimia. Teknik penyimpanan
suhu rendah merupakan salah satu metode penanganan pascapanen bawang merah untuk mempertahankan
mutunya hingga ketangan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh suhu
penyimpanan terhadap perubahan mutu bawang merah serta mengetahui respon beberapa varietas bawang
merah terhadap penyimpanan pada suhu rendah. Bawang merah yang digunakan dalam penelitian ini adalah
varietas Bima Brebes, Tajuk dan Bali Karet. Sampel bawang merah dikemas ke dalam plastik net masing-
masing sebanyak 2 kg dan disimpan di suhu 0 dan 5oC RH 65-70% dan suhu ruang 25-32 oC dengan RH 50-
88% selama 3 bulan. Hasil pengukuran menunjukkan suhu penyimpanan 0oC dapat mempertahankan
kualitas bawang merah hingga akhir penyimpanan tanpa ditemukan kerusakan umbi untuk semua varietas.
Kerusakan tertinggi yaitu 35.81%,ditemukan untuk varietas Bima Brebes yang disimpan pada suhu 5oC.

Kata kunci: bawang merah, penyimpanan suhu rendah, kualitas, kerusakan


Halaman | vii
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48

Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)


(Journal of Agro-based Industry)
Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Terhadap Warna Jeruk
Siam Pontianak Setelah Degreening
Nuzlul Musdalifaha, Yohanes Aris Purwantob,d, dan Roedhy Poerwantoc,d
aProgram Studi Teknologi Pascapanen, Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor
Jl. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

bDepartemen Teknik Mesin dan Biosistem, Institut Pertanian Bogor

Jl. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

cDepartemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor

Jl. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

dPusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor


Jl. Raya Pajajaran, Kampus IPB Baranangsiang Bogor 16141

arispurwanto@gmail.com

ABSTRAK: Warna kulit merupakan salah satu faktor pendukung utama yang secara komersial menentukan
pilihan konsumen untuk membeli jeruk. Degreening merupakan proses perubahan kulit jeruk dari warna
hijau menjadi warna kuning atau jingga tanpa mempengaruhi kualitas internal buah. Tujuan penelitian ini
adalah untuk menentukan suhu dan lama penyimpanan yang optimum untuk buah jeruk setelah proses
degreening serta menganalisis perubahan fisiologi buah selama penyimpanan. Perlakuan cold dan non cold
storage merupakan perlakuan awal pascapanen sebelum proses degreening. Perlakuan degreening dilakukan
dengan pemaparan gas etilen 200 ppm, suhu 20 oC selama 48 jam. Selanjutnya, jeruk hasil degreening
disimpan pada suhu 10, 15, 20, dan 27 oC (suhu ruang). Analisis perubahan warna kulit jeruk dilakukan setiap
tiga hari untuk semua kondisi penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan indeks
warna jeruk citrus color indeks (CCI) dari nilai 0.16 menjadi 10.14 pada suhu 10 oC dan menghasilkan warna
jeruk dengan warna kulit optimum jingga cerah.
Kata kunci: citrus color chart, cold dan non cold storage, degreening, jeruk siam, penyimpanan.
Halaman | viii
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48

Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)


(Journal of Agro-based Industry)

Characteristics of Tempeh Drink with Vanilla Flavour

Karim Abdullaha dan Dyah Wuri Asriatib


aBalai Riset dan Standardisasi Industri Bandar Lampung

Jl by Pass Soekarno Hatta KM 1 Rajabasa Bandar Lampung

Balai Besar Industri Hasil Perkebunan Makasar


2

Jl Prof Abdurahman Basalamah no 28 Makasar

karim.abdullah@yahoo.com

ABSTRACT: Tempe is one of Indonesian traditional fermented foods. A wide variety of processed temph have
been widely sold in the Indonesian market, but still rarely found in the form of drinks. Tempe drink is less
preferred by the public due to unpleasant smell of beany flavour. The purpose of this study is to make a
tempe drink with the addition of Vanilla. Chemicalcharacteristics observed are pH stability, fatand
carbohydrates content, and the solubility of isoflavones, and sensory evaluation. The results showed that the
protein is 0.3%, carbohydrates is 0.48%, and fat content are 0.3 %, 0.48 % and 0.18%, respectively. The
results also showed that the pH value and the content of soluble protein in tempeh juice drinks remained
stable after one week at 4C. The addition of sugars 7% (w / v) and 8% (w / v) has a value of 2.35 (dislike
Moderately) and 3,15 (netral) rapidly. The addition of 0.25% (v / v) and 0.5 % (v / v) vanilla has value of
2,35 (dislike moderately) and 3,5 (between Netral dan Like moderately. ANOVA showed that there was no
difference in flavour between a commercial soy milk and tempe drink with the addition of 0.5 % vanilla.

Keywords: tempeh, protein, vanilla, hedonic tes

The Usage of Surimi Based Kurisi Fish (Nemipterus sp) for Various Processed Fish
Products

Nami Lestari1), Yuniarti1), dan Tatik Purwanti2)

1) Balai Besar Industri Agro (BBIA,


Jl Ir. H. Juanda No.11 Bogor 16122

2) Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda,


Jl. Banggeris No. 1 Samarinda

namilestari65@gmail.com

ABSTRACT: Technically, all kinds of fish can be used as surimi, especially those that have abundant production
with low economics value. Kurisi fish (Nemipterus sp) classified as economical white fish. The aim of this
research was to analyze the difference between the usage of surimi made from kurisi fish with pulverized
kurisi fish as the raw material for making various processed fish products (meatballs, sausages and nuggets).
The result of surimi based kurisi fish was 29.1%, the colour was light cream, odourless, soft, and elastic. It had
2452,10 g/cm2 gel strength value, 80,51 whiteness value and 75,6 % moisture content. Nutritional content
(protein and fat content) of processed products (meatballs, sausages and nuggets) of surimi were higher than
processed produtcs with pulverized fish, while the moisture and ash content were lower. TPA test for surimis
texture product was higher than kurisi pulverized products. The results of organoleptic test showed that all
products using surimi of kurisi fish more selected by panelists than pulverized kurisi fish products.

Keywords: kurisi fish, pulverized fish, surimi, various processed fish products
Halaman | ix
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48

Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)


(Journal of Agro-based Industry)
Improvement of Caloric Value of Cocopeat Biomass Pellet as Renewable Energy Fuel by
Torrefaction Application

Rizal Alamsyah, Nobel Christian Siregar, dan Fitri Hasanah


Balai Besar Industri Agro (BBIA)
Jl. Ir. H. Juanda No, 11 Bogor 16122

rizalams@yahoo.com

ABSTRACT: Torrefaction is a thermochemical pretreatment process at 200300C in an inert condition which


transforms biomass into a solid biofuel with relatively high energy. This increases the energy density, water
resistance and grindability of biomass and makes it safe from biological degradation which ultimately makes
easy and economical on transportation and storing of the torrefied products. The research was aimed to
improve cocopeat pellet characteristics (cocopeat is by product of cocofiber processing) as solid fuel by the
application of biomass energy torrefaction process and to test emissions quality resulted from pellets
combustion. In this work cocopeat was formed to cocopeat pellet by drying, shifting, mixing, and pelletizing.
Cocopeat pellet were then treated for both with torrefaction (300 oC without air for 1.5 hours) and without
torrefaction process. After burning, these pellet were compared in term of energy content and emmision
quality. The result shows that energy content of torrefied cocopeat pellet have increased energy by 36%.
Meanwhile emission air resulted from its combustion were met with Indonesian emission regulation
standard

Keywords: torrefaction, cocopeat, pellet, emission, combustion

Process and Economic Study of Bioethanol Plant from Oil Palm Empty Fruit Bunch
(OPEFB)

Abdurachmana dan Misri Gozanb


aBalai Besar Teknologi Pati (B2TP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (B2TP-BPPT)
Lampung Tengah, Lampung, Indonesia.

bLab Biorefinery, Program Studi Teknik Bioproses, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
Depok 16424, Indonesia.

mgozan@che.ui.ac.id

ABSTRACT: One of the important steps in plant design is economic analysis that usually done by using
process simulation application. Many researches have used SuperPro Designer as simulator, andonly a few
used it in bioethanol production simulation process especially for Empty Fruit Bunches (EFB) as feedstock. In
this simulation, four scenario process models: (1) SHF-Adsorption; (2) SHF-Vapor Permeation; (3) SSF-
Adsorpstion; and (4) SSF-Vapor Permeation for ethanol production from EFB were developed using SuperPro
Designer software that handle the composition of raw materials and product, sizing of unit operations, utility
consumption, estimation of capital and operating costs and the revenues from products and coproducts. The
models were based on data gathered from etanol producers, technology suppliers, equipment manufacturers,
and engineering working in the industry. Based on economic analysis, scenario model SSF-Vapor Permeation
provided cost effective and can be developed in Indonesia with Payback period of 4.07 years; ROI 24.55%;
and IRR 18.98%. Converting standard bioethanol fuel produced in SSF-case scenario is 29.58% Vapor
Permeation. Sensitivity analysis shows deviation in bioethanol selling price, EFB powder price and enzime
procesignificanty influence the bioethanol plant economic value.
Keywords: bioethanol, empty fruit bunches, process simulation, plant design, sensitivity analysis
Halaman | x
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48

Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)


(Journal of Agro-based Industry)

Low Temperature Storage of Shallot (Allium ascalonicum L.)


Variety of Bima Brebes, Tajuk, and Bali Karet

Eko Priyantonoa, Yohanes Aris Purwantob, dan Sobirc


aProgram Studi Teknologi Pascapanen, Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor
Jln. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680
bDepartemen Teknik Mesin dan Biosistem, Institut Pertanian Bogor

Jln. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680
cDepartemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor

Jln. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

arispurwanto@gmail.com

ABSTRACT: Shallot can be classified as perishable horticultural product. Low temperature storage is common
method in extending self life and maintaining freshness of perishable horticultural products. The objectives of
this study were to determine optimum temperature storage of shallot and to analyze the effect of different
temperature storage conditions on the quality of shallot variety of Bima Brebes, Tajuk and Bali Karet. Sample
of shallots were packed into plastic net. Each packaging contained 2kg of shallots. Storage temperature was
set at 0 and 5oC with RH 65-70% and room temperature (25-32oC) with RH 50-88 %. The period of storage
was set for 3 months. The experiments were carried out in triplicate. The results showed that temperature of
0oC could maintain the quality of shallot up to 3 months with no disorder shallot bulb was found for all
varieties. The highest disorder bulb i.e. 35.81% was found for shallots variety of Bima stored at 5oC.

Keywords: shallot,bulb disorder, low temperature storage, quality change.

Effect of Temperature and Storage Period on the Change in Color of Siam Pontianak
Citrus After Degreening
Nuzlul Musdalifah , Yohanes Aris Purwantob,d, dan Roedhy Poerwantoc,d
a

aProgram Studi Teknologi Pascapanen, Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor
Jl. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

bDepartemen Teknik Mesin dan Biosistem, Institut Pertanian Bogor

Jl. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

cDepartemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor

Jl. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

dPusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor


Jl. Raya Pajajaran, Kampus IPB Baranangsiang Bogor 16141

arispurwanto@gmail.com

ABSTRACT: Orange color is one of the main contributing factors for consumers in choosing citrus. Degreening
is common method in developing orange color in citrus without affecting its internal quality. The objectives of
this study were to determine the optimum temperature and storage time for citrus after degreening and to
analyze the physiological changes of fruit during storage. Cold storage and non cold storage treatment were
set as pretreatment of postharvest handling before degreening process. Degreening process was done by
exposing the fruits with ethylene gas of 200 ppm, temperature of 20oC for 48 hours. After degreening, the
samples were placed at 10, 15, 20, and 27oC (room temperature). During storage period, the change in color
was measured every 3 days. The results showed that the value of citrus color index (CCI) increased from 0.16
to 10.04 for those citrus samples placed at 10oC and the optimum color was bright orange.
Keywords: citrus color chart, cold and non cold storage, degreening, siam citrus, storage.
Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 1-8
Halaman | 1

Karakteristik Minuman Sari Tempe


dengan Penambahan Rasa Vanila
Characteristics of Tempeh Drink with Vanilla Flavour

Karim Abdullaha dan Dyah Wuri Asriatib


aBalai Riset dan Standardisasi Industri Bandar Lampung

Jl by Pass Soekarno Hatta KM 1 Rajabasa Bandar Lampung

2Balai Besar Industri Hasil Perkebunan Makasar


Jl Prof Abdurahman Basalamah no 28 Makasar

karim.abdullah@yahoo.com

Riwayat Naskah: ABSTRAK : Tempe merupakan makanan khas Indonesia yang digemari oleh seluruh
lapisan masyarakat. Berbagai macam variasi produk olahan tempe telah banyak di
Diterima 06, 2016
Direvisi 07, 2016 jual di pasaran Indonesia, namun masih jarang ditemukan produk olahan tempe
Disetujui 07, 2016 dalam bentuk minuman. Salah satu penyebab kurang berkembangnya minuman
berbahan baku tempe adalah bau langu yang kurang disukai oleh masyarakat. Tujuan
dari penelitian ini adalah membuat minuman berbahan baku tempe dengan
penambahan perasa Vanila. Karakteristik Kimia yang diamati adalah stabilitas pH,
kandungan lemak, karbohidrat, dan kelarutan isoflavon, dan uji kesukaan. Hasil
penelitian menunjukkan kadar protein sebesar 0,3%, Gula pereduksi 0,48%, lemak
0,18%. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa nilai pH dan kandungan protein
terlarut dalam minuman sari tempe tetap stabil setelah penyimpanan selama satu
minggu pada suhu 4C. Uji hedonik menunjukkan penambahan gula 7% (w/v) dan
8% (w/v) memiliki nilai rasa berturut 2,35 (tidak suka) dan 3.15 (biasa), Sedangkan
Penambahan vanila sebesar 0,25 % (v/v) dan 0,5 % (v/v) memiliki nilai aroma
berturut-turut 2,35 (tidak suka) dan 3,5 (antara biasa dan suka). Dari hasil uji ANOVA
didapatkan bahwa tidak ada perbedaan nyata antara aroma susu kedelai komersial
dengan aroma minuman sari tempe dengan penambahan vanila sebesar 0,5%.

Kata kunci : tempe, protein, vanila, uji hedonik

ABSTRACT: Tempe is one of Indonesian traditional fermented foods. A wide variety


of processed temph have been widely sold in the Indonesian market, but still rarely
found in the form of drinks. Tempe drink is less preferred by the public due to
unpleasant smell of beany flavour. The purpose of this study is to make a tempe drink
with the addition of Vanilla. Chemicalcharacteristics observed are pH stability, fatand
carbohydrates content, and the solubility of isoflavones, and sensory evaluation. The
results showed that the protein is 0.3%, carbohydrates is 0.48%, and fat content are
0.3 %, 0.48 % and 0.18%, respectively. The results also showed that the pH value and
the content of soluble protein in tempeh juice drinks remained stable after one week
at 4C. The addition of sugars 7% (w / v) and 8% (w / v) has a value of 2.35 (dislike
Moderately) and 3,15 (netral) rapidly. The addition of 0.25% (v / v) and 0.5 % (v / v)
vanilla has value of 2,35 (dislike moderately) and 3,5 (between Netral dan Like
moderately. ANOVA showed that there was no difference in flavour between a
commercial soy milk and tempe drink with the addition of 0.5 % vanilla.

Keywords: tempeh, protein, vanilla, hedonic test

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Abdullah, K, Asriati, D. W., (2016) Karakteristik Minuman Sari Tempe dengan Penambahan Rasa Vanila. Warta IHP, 33(1),1-8
Halaman | 2

1. Pendahuluan 2.2 Alat

Tempe adalah salah satu makanan fermentasi Alat-alat yang digunakan adalah untuk
berbahan baku kedelai. Proses fermentasi yang pembuatan minuman tempe adalah; gelas Kimia (50
terjadi mereduksi kandungan makromolekul mL, 100mL, 250 mL, 400 mL, 600mL, 1000mL)
menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana, (Pyrex), erlenmeyer 250 mL (Pyrex), corong,
seperti protein akan terdegradasi menjadi asam pengaduk, bunsen, kain saring, neraca analitik,
amino dan juga peptida yang memiliki berat blender, autoklaf, lemari pendingin, botol wadah 50
molekul lebih kecil (Handoyo & Morita, 2006). mL.
Selama ini produk olahan tempe masih sangat Alat-alat yang digunakan untuk analisis, yaitu:
terbatas, sehingga penelitian tentang pengolahan oven, pesawat Kjeldahl, corong pisah (Pyrex), buret
tempe, untuk diversifikasi pengolahan seperti (Pyrex), Erlenmeyer (Pyrex), cawan Petri (Iwaki),
menjadi minuman sangat diperlukan untuk lebih neraca analitik (Explorer, Ohous corporation, USA),
memperkaya bentuk olahan tempe (Nurhidajah, botol wadah, pengaduk. Lemari steril UV Laminar
2010). Beberapa penelitian telah dilakukan untuk Flow (Oliphant, VLF4 LUS no 344),
mengolah tempe menjadi minuman seperti yang spectrofotometer UV-120-02 merk Shimadz,
dilakuan oleh Jauhari dkk pada tahun (2014) yang seperangkat alat KLT, autoklaf (electric pressure
memanfaatkan minuman tempe sebagai minuman steam sterilizer model 25x Wisconsin), alat-alat
olahraga yang berguna untuk memulihkan gelas lain yang umum digunakan.
kerusakan otot. Menurut Kusmanto dan Hidayati
(2011) minuman sari tempe murni memiliki nilai 2.3. Pembuatan minuman sari tempe
kesukaan yang netral yaitu skor kesukaan 3 dari
skala 5 yang berarti bahwa minuman sari tempe Sebanyak 100 gram tempe ditimbang lalu dicuci
tempe perlu ditingkatkan kualitasnya agar lebih dengan air dingin, dipotong-potong. Selanjutnya
disukai oleh konsumen. direndam di dalam larutan NaHCO3 2% (w/v)
Beberapa penelitian melaporkan pengolahan selama 2 jam. Kemudian, tempe dihaluskan dengan
tempe menjadi eskrim dengan menambahkan beras menggunakan blender sambil ditambah dengan air
kencur (Hendrianto & Rukmi, 2015). Selain itu sebanyak 200 ml. Bubur tempe yang diperoleh
pembuatan yogurt dari sari tempe dan dimasukkan ke dalam gelas kimia 1 liter kemudian
menambahkan ekstrak buah durian yang mampu dilakukan pemanasan selama 15 menit dengan
meningkatkan cita rasa yogurt yang dibuat (Yuliani, variasi suhu 60, 70, 80, 90C sambil diaduk agar
Jekti, & Rasmi 2013). proses pemanasan merata. Larutan kemudian
Dari penelitian-penelitian tersebut dapat dilihat disaring menggunakan kain untuk mendapatkan
bahwa tempe dapat diolah menjadi berbagai macam larutan minuman sari tempe. Diagram proses dapat
jenis produk baik minuman sari tempe, yogurt, dan dilihat pada Gambar 1. Untuk meningkatkan cita
juga es krim dengan penambahan berbagai macam rasa dan mengurangi bau langu, ke dalam larutan
flavour untuk memperbaiki citarasa dan minuman sari tempe ditambahkan gula dan vanilla.
meningkatkan penerimaan konsumen. Pada Pada penelitian ini digunakan variasi gula antara
penelitian ini minuman sari tempe diberi perasa 7% dan 8% (w/v) dan variasi vanilla sebesar 0,25
vanila untuk memperbaiki rasa dan aromanya. dan 0,5% (v/v).
Suhu pemanasan dengan kandungan protein
2. Bahan dan Metode tertinggi selanjutnya digunakan untuk pembuatan
Minuman sari tempe lebih lanjut. Minuman sari
2.1 Bahan tempe di tuangkan ke dalam wadah botol dan
ditutup dan siap untuk proses pasteurisasi. Proses
Tempe yang digunakan sebagai bahan baku pasteurisasi dilakukan selama 5 menit pada suhu 80
berasal dari pasar lokal. Bahan Kimia yang C. Botol kemudian didinginkan secara spontan
digunakan yaitu: NaCl (Merck), metanol, K2SO4 dengan memasukkan wadah minuman sari tempe
(Merck), CuSO4 (Merck), H2SO4 pekat, H3BO3 ke wadah yang berisi es hingga mencapai suhu 4C.
(Merck), heksana (Merck), indikator metil merah,
tashiro (Merck), aquades, acetonitril, larutan Luff 2.4 Pengukuran pH larutan
School, KI (Merck), Bovine Serum Albumin (BSA)
(Merck) Sebanyak 20 mL sampel dimasukkan ke dalam
gelas kimia 100 mL, diukur pH nya dengan pH meter
yang telah dikalibrasi.
Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 1-8
Halaman | 3

2.5 Analisa kadar lemak 2.7 Analisa kadar protein

Sebanyak 5 gram sampel, dibungkus dengan Kadar protein terlarut ditentukan dengan
kertas saring. Sampel yang telah siap dimasukkan ke menggunakan Metode Bradford (Ausubel et al.,
dalam soxhlet. Selanjutnya ditambahkan larutan 2003). Dipipet 10 l larutan sampel,ditambahkan
heksana sebanyak 20 mL. Ekstraksi kontinu 490 l air destilata dan 500 l larutan Bradford.
menggunakan soxhlet dilakukan selama 1 jam, dan (Larutan Bradford disiapkan dengan cara
larutan heksan yang berisi Lemak diuapkan dengan melarutkan 0,025 g Coomasi briliant Blue ke dalam
menggunakan alat evaporator. Labu yang berisi 12,5 ml larutan etanol 95% kemudian ditambahkan
lemak kemudian dipanaskan dalam oven 105C 25 ml asam fosfor 85%, kemudian larutan
selama 1 jam, didinginkan dalam desikator lalu diencerkan dengan akuades hingga mencapai
ditimbang. Pemanasan dan penimbangan diulang volume 250 ml dan dihomogenkan). Selanjutnya
hingga diperoleh berat konstan. (acuan metodenya) disaring dengan kertas saring dan disimpan dalam
botol gelap dan suhu rendah. Sebelum digunakan
reagen bradford diencerkan sebanyak 5 kali hingga
diperoleh larutan 1 kali pekat).
Campuran larutan dikocok dengan alat vortex
hingga larutan bercampur dengan sempurna, maka
akan dihasilkan larutan berwarna biru. Dibiarkan
selama 10 menit untuk menyempurnakan reaksi.
Larutan sampel diukur dengan menggunakan
spectrofotometer pada panjang gelombang 595 nm.
Sebelum mengukur sampel, absorban alat
spectrofotometer dinolkan terlebih dahulu dengan
larutan blanko yang berisi 500 L air dan 500 L
larutan Bradford. Setiap larutan sampel diukur
sebanyak 3 kali. Sebagai standar digunakan larutan
Bovine Serum Albumin (BSA) dengan konsentrasi
antara 1 hingga 50 g/mL yang dibuat dari larutan
standar BSA 1000 g/mL. Untuk menghitung kadar
protein dalam larutan digunakan persamaan
dibawah ini :
Didapatkan persamaan garis lurus untuk standar
BSA:

Gambar 1. Proses pembuatan minuman sari tempe Untuk menentukan kadar Protein digunakan
rumus
Kadar lemak diperhitungkan melalui persaman:

Keterangan :
Y = Konsentrasi Protein
Keterangan: a = Slope
A : Berat residu (gram) X = Absorban
B : Berat sampel (gram) C = Intercept

2.8 Analisa kadar gula pereduksi


2.6 Analisa kadar protein total
Dipipet 10 ml sampel kemudian ditambah
Metode yang digunakan untuk analisis protein dengan 10 ml HCl 10% (v/v) lalu dipanaskan selama
dalam penelitian ini adalah menggunakan metoda 10 menit. Larutan didinginkan kemudian ditambah
Kjedahl semi mikro yang terdiri dari 3 tahap utama dengan 25 ml larutan Luff Schoorl (Ditimbang 25
yaitu destruksi, destilasi dan titrasi (AOAC 1995). gram CuSO4.5H2O, dilarutkan dalam 100 ml air.

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Abdullah, K, Asriati, D. W., (2016) Karakteristik Minuman Sari Tempe dengan Penambahan Rasa Vanila. Warta IHP, 33(1),1-8
Halaman | 4

Ditimbang 50 gram asam sitrat dilarutkan dalam 50 panelis. Sampel disimpan pada wadah yang tidak
ml air. Di timbang 388 gram Na2CO3.10H20 transparan untuk menghindari bias penilaian yang
dilarutkan dalam 300-400 ml air mendidih. Lalu berasal dari perbedaan warna larutan
larutan asam sitrat dituangkan ke dalam larutan Sampel dan pembanding disajikan acak dengan
Natrium carbonat lalu ditambahkan dengan larutan memberikan kode tertentu kepada 10 orang panelis.
CuSO4, lalu didinginkan sampai 1 Liter). Untuk Hasil penilaian dinyatakan skala hedonik yang
mempercepat reaksi, dilakukan pemanasan selama dimulai dari nilai 1 (tidak suka), 2 (agak tidak suka),
10 menit. Larutan didinginkan kembali, selanjutnya 3 (biasa/agak suka), 4 (suka) dan 5 (sangat suka).
ditambah 10 ml H2SO4 10% (v/v) dan 10 ml KI 10% Setiap panelis diberi lembaran daftar penilaian yang
(w/v) dan dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 N hingga dapat diisi sesuai dengan penilaiannya. Skala
larutan berwarna kuning, kemudian ditambah hedonik hasil penilaian panelis selanjutnya
dengan 5 tetes larutan kanji, proses titrasi ditransformasikan menjadi skala numerik dengan
dilanjutkan hingga warna biru hilang. Sebagai angka naik menurut tingkat kesukaan dan
blanko digunakan larutan yang sama tetapi tidak selanjutnya dilakukan analisis statistik terhadap
menggunakan larutan sampel skala numerik tersebut.
Data hasil uji organoleptik dianalisa dengan
x 100% (4) statistik one way anova. Metode ini dilakukan untuk
mencari pengaruh perbedaan sifat organoleptik
Keterangan
antara minuman sari tempe dengan berbagai variasi
A : Berat Glukosa perlakukan serta perbandingannya dengan
B : Berat Sampel minuman sari kedelai komersil.
Analisa anova dilakukan dengan
2.9 Isolasi dan identifikasi isoflavon membandingkan variansi masing-masing kelompok
data hingga akan di dapatkan nilai F hitung yang
Isolasi isoflavon dari tempe dilakukan dengan selanjutnya dibandingkan dengan nlai F tabel. Bila
menggunakan metode Murakami (1984). Dipipet 10 hasil F hitung lebih kecil dari pada F tabel berarti
mL sampel kemudian ditambah dengan metanol tidak ada perbedaan nyata antara perlakuan,
sebanyak 2 mL. Larutan dipekatkan pada suhu 60 oC sedangkan bila F hitung lebih besar dari F tabel
sampai diperoleh ekstrak kental. maka ada perbedaan nyata antara perlakuan
Ekstrak kental diekstraksi kembali dengan tersebut.
petroleum eter kemudian diekstrak lagi dengan 5x7
mL etil asetat. Fase etil asetat dibagian atas diambil 3. Hasil dan Pembahasan
dan dibebaskan dari air dengan Na2SO4 anhidrat lalu
disaring. Ekstrak tersebut dipekatkan pada suhu 3.1 Minuman sari tempe
40C sampai diperoleh isolat isoflavon.
Identifikasi isoflavon dilakukan dengan Warna minuman sari tempe adalah kuning cerah
menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). dengan wangi dan rasa khas tempe. Warna kuning
Isolate isoflavon yang dihasilkan dilarutkan dalam larutan pada minuman dapat dijadikan sebagai
metanol dan dilakukan proses KLT dengan indikator awal keberadaan senyawa isoflavon. Hal
menggunkan fasa diam Silika gel GF 254 ukuran 6x5 tersebut karena penamaan senyawa Flavon berasal
cm, fase gerak kloroform : methanol (8:1) dan dari kata flavus yang artinya adalah yellow (kuning),
penampak nodanya adalah lampu UV pada panjang dimana penamaan tersebut dikarenakan warna
gelombang 254 nm. dasar senyawa flavon yang berwarna kuning. Lebih
lanjut, variasi suhu pemanasan dan lama waktu
pemanasan (15 menit) pada saat pembuatan
2.10 Uji organoleptik minuman sari tempe tidak mempengaruhi warna
dari larutannya.
Analisis Organoleptik dalam penelitian ini Warna minuman sari tempe berbeda dengan
menggunakan uji pembanding metode Hedonic susu kedelai yang berwarna putih. Hal tersebut
Scale Scoring (uji kesukaan menggunakan skala karena pada susu kedelai mengandung emulsi
penilaian) dengan kriteria pengujian organoleptik antara protein, lemak dan air (Yasumatsu et al.,
meliputi aroma dan rasa. Pada penilaian 1972). Sedangkan pada minuman sari tempe, proses
organoleptik ini sampel minuman sari tempe pemanasan mengakibatkan terjadinya denaturasi
dibandingkan dengan susu kedelai komersial di protein sehingga emulsi protein tidak lagi
pasaran. Sampel disajikan secara acak kepada para terbentuk.
Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 1-8
Halaman | 5

Gambar 3. Pengaruh suhu pemanasan terhadap kelarutan


protein tempe

Gambar 2. Minuman sari tempe Lebih lanjut, kandungan protein dalam minuman
sari tempe lebih rendah bila dibandingkan dengan
susu kedelai walaupun bahan baku kedua produk
tersebut sama. Kadar protein pada susu kedelai
mencapai 1.84% (Wardani, 2013), sedangkan kadar
protein pada minuman sari tempe yang dibuat pada
3.2 pH minuman sari tempe penelitian ini hanya 0,3%. Hal tersebut disebabkan
karena pada proses pembuatan minuman sari
Minuman sari tempe yang dibuat memiliki nilai tempe terjadi dua kali pemanasan terhadap kedelai
pH berkisar antara 7,00 hingga 7,05 sesuai dengan yaitu pada saat pembuatan tempe dan pada saat
pH awal air yang digunakan untuk mengekstrak. Hal pengekstrakan sarinya. Hal tersebut menyebabkan
tersebut menunjukkan bahwa ekstrak tempe tidak kelarutan protein menjadi berkurang (Cuq, Boutrot,
memberikan pengaruh pada nilai pH air. Redl, & Lullien-Pellerin 2010).

3.3 Kandungan protein tempe 3.4 Kestabilan protein tempe

Variasi berbagai suhu pemanasan pada proses Kandungan protein pada minuman sari tempe
pembuatan minuman sari tempe bertujuan untuk relative stabil pada kadar sekitar 0,23% (w/v)
mengetahui kelarutan optimum dari protein tempe. selama 7 hari di simpan pada suhu 4oC. Hal tersebut
Pada suhu yang sangat tinggi terjadi denaturasi menunjukkan tidak adanya proses dekomposisi
protein sehingga menyebabkan jumlah protein protein. Analisis kestabilan kadar protein
terlarut menjadi berkurang. Sedangkan pada suhu menggunakan metode Bradford karena teknik ini
yang rendah kelarutan protein di dalam air tidak hanya mengukur protein yang memiliki gugus
optimal. hidroksi siklik. Pengujian ini dapat digunakan
Gambar 3 memperlihatkan protein tempe untuk melihat apakah ada aktivitas mikroba di
memiliki kelarutan optimum pada suhu 70C. Pada dalam minuman atau tidak. Bila terdapat aktivitas
suhu di atas 70C, kelarutan protein tempe terus mikroba maka kadar protein dengan cara bradford
berkurang, hal tersebut sesuai dengan penelitian akan berkurang.
yang dilakukan oleh (Gago & Krochta, 2001) yang
menunjukkan bahwa protein memiliki kelarutan
optimum pada suhu 70C. Sedangkan pada
penelitian yang dilakukan oleh (Cuq, Boutrot, Redl,
& Lullien-Pellerin 2010), dimana protein dalam
bentuk gluten pada gandum kelarutannya akan
berkurang dengan bertambah tingginya suhu
pemanasan. Pada suhu 80C kelarutannya mencapai
65%, namun pada suhu 90% berkurang menjadi
60%, dan kelarutannya terus berkurang dengan
bertambahnya suhu pemanasan.
Gambar 4. Kadar protein berbanding waktu

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Abdullah, K, Asriati, D. W., (2016) Karakteristik Minuman Sari Tempe dengan Penambahan Rasa Vanila. Warta IHP, 33(1),1-8
Halaman | 6

Untuk mengetahui adanya kerusakan dalam yang menyatakan bahwa suhu optimum untuk
minuman dapat juga digunakan cara uji sederhana mengekstrak isoflavon pada suhu 80C.
yaitu dengan mencium bau minuman sari tempe,
bila tercium bau amoniak berarti minuman telah 3.6 Kadar lemak
rusak.
Kadar lemak dalam minuman sari tempe hanya
3.5 Kelarutan isoflavon sebesar 0,18%, dibandingkan dengan susu kedelai
sekitar 2,5% (Pramitasari, 2010). Hal tersebut
Proses fermentasi kacang kedelai menyebabkan disebabkan karena pada proses penyaringan
pembentukan senyawa antioksidan yang lebih kuat pembuatan minuman sari tempe, partikel partikel
dibandingkan dengan senyawa isoflavon pada besar tidak ikut tersaring sehingga lemak tertahan
kedelai. Pada kacang kedelai, isoflavon yang ada pada bagian yang tidak tersaring tersebut.
masuk ke dalam golongan glikosida sedangkan pada
hasil fermentasi isoflavon yang terbentuk adalah 3.7 Kadar gula pereduksi
golongan aglikon. Antioksdan yang termasuk
golongan aglikon adalah daidzein, genestein dan Karbohidrat merupakan polimer dari glukosa,
faktor-2. Senyawa golongan aglikon ditemukan lebih semakin panjang rantainya maka kelarutan dalam
banyak pada tempe dibandingkan pada kedelai air akan semakin kecil dan kebalikannya.
(Purwoko 2001; Ferreira et al. 2011; Watanabe et al. Karbohidrat dalam kedelai akan tergedradasi oleh
2007). enzim amilase yang dikeluarkan oleh Rhizopus
oligosporus selama proses fermentasi menghasilkan
karbohidrat yang memiliki rantai lebih pendek. Dari
penelitian yang telah dilakukan, didapatkan kadar
gula pereduksi adalah 0,48% (w/v). Kadar Gula
pereduksi yang kecil bisa disebabkan karena
karbohidrat masih dalam bentuk senyawa yang
tidak larut dalam air (non polar) sehingga
kelarutannya kecil.
Kadar gula pereduksi ditentukan pada saat
minuam sari tempe baru dibuat dan belum
ditambah dengan perasa dan pemanis. Hal tersebut
bertujuan untuk mengetahui jumlah gula pereduksi
yang dihasilkan dari tempe.

3.7 Uji organoleptik

3.7.1 Rasa
Gambar 5. Kromatografi lapis tipis isoflavon pada tempe dan
minuman sari tempe Pada konsentrasi gula sebesar 7% (w/v) rasa
Gambar 5 menunjukkan kandungan senyawa dari minuman sari tempe tidak disukai (2.35)
isoflavon secara kualitatif. Variasi suhu pemanasan sedangkan pada konsentrasi gula sebesar 8% (w/v)
pada saat pembuatan minuman sari tempe rasa minuman sari tempe biasa/agak suka (3.15),
menghasilkan kandungan senyawa isoflavon yang Sebagai pembanding adalah minuman susu kedelai
berbeda pula. Sebagai pembanding digunakan yang memiliki rasa suka (4.4). Hasil tersebut
tempe dan kedelai. Isoflavon yang diekstrak dari menunjukkan bahwa penambahan gula mampu
minuman sari tempe yang diperoleh pada meningkatkan cita rasa dari minuman sari tempe
pemanasan suhu 60C hanya terlihat sedikit yang dibuat namun belum mampu menyaingi cita
sedangkan pada suhu 90C tidak ditemukan totolan rasa dari susu kedelai. Bila dianalisa lebih lanjut
pada lempeng KLT. Hal tersebut menunjukkan dengan menggunakan ANOVA, didapatkan nilai F
bahwa proses pemanasan pada suhu 90oC hitung sebesar 23.15 lebih besar dari F tabel 3.35.
menyebabkan isoflavon pada minuman sari tempe Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat
menjadi hilang/ rusak. Hal ini sejalan dengan kesukaan responden terhadap minuman sari kedelai
penelitian yang dilakukan oleh (Guo, Yao, & Li 2008) berbeda nyata dengan minuman sari tempe baik
dengan penambahan gula sebanyak 7% maupun
8%.
Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 1-8
Halaman | 7

3.7.2 Aroma terima kasih juga diberikan kepada pihak-pihak lain


yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Dari hasil uji yang dilakukan, diperoleh hasil
bahwa penambahan vanila sebesar 0,25 % (v/v) Daftar Pustaka
memiliki nilai aroma sebesar 2,35, yaitu tidak
disukai sedangkan penambahan sebesar 5% mampu Ausubel, F. M., Brent, R., Kingston, R. E. Moore, D. D., Seidman, J.
G., Smith, J. A., & Struhl, K. (2003). Current Protocols in
meningkatkan nilai kesukaan menjadi 3.5
Molecular Biology. Cambridge: John Willey & Sons Inc.
biasa/agak suka - suka. Sedangkan aroma susu Cuq, B., Boutrot, F., Redl, A., & Lullien-Pellerin, V. (2000). Study of
kedelai komersil diskuai panelis dengan nilai 4.1. the temperature effect on the formation of wheat gluten
Selanjutnya dari analisis ANOVA didapatkan nilai network: influence on mechanical properties and protein
solubility. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 48(7),
F hitung adalah 2.84 lebih kecil dari nilai F tabel
29549. Retrieved from
4.41. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11032485
perbedaan nyata antara aroma susu kedelai Ferreira, M. P., Oliveira, M. C. N. de, Mandarino, J. M. G., Silva, J. B.
komersial dengan minuman sari tempe dengan da, Ida, E. I., & Carro-Panizzi, M. C. (2011). Changes in the
isoflavone profile and in the chemical composition of
penambahan vanila 0,5%.
tempeh during processing and refrigeration. Pesquisa
Dari data yang didapatkan di atas dapat terlihat Agropecuria Brasileira, 46(11), 15551561.
bahwa aroma khas bau langu dari tempe kurang http://doi.org/10.1590/S0100-204X2011001100018
disukai oleh responden, namun dengan Handoyo, T., & Morita, N. (2006). Structural and Functional
Properties of Fermented Soybean (Tempeh) by Using
penambahan vanila sebesar 0,5% sudah mampu
Rhizopus Oligosporus. International Journal of Food
menutupi bau langu tempe sehingga minuman sari Properties, 9(2), 347-355.
tempe menjadi lebih disukai. Hendrianto, E. & Rukmi, W. D. (2015). Pengaruh Penambahan
Beras Kencur Pada Es Krim Sari Tempe Terhadap Kualitas
Fisik dan Kimia. Jurnal Pangan dan Agroindustri, 3(02),
4. Kesimpulan 353-361
Jauhari, M., Sulaeman, A., Riyadi, H., Ekayanti. I. (2014).
Dari percobaan ini diperoleh bahwa suhu Pengembangan Formula Minuman Olahraga Berbasis
optimum untuk pembuatan minuman sari tempe Tempe Untuk Pemulihan Kerusakan Otot. Jurnal Agritech,
34(3).
adalah 70C dipanaskan selama 15 menit. Minuman Kusmanto, & Hidyati, M. H. (2011). Total Bakteri dan Sifat
sari tempe yang diperoleh memiliki kadar protein Organoleptik Minuman sari Tempe dengan Variasi Waktu
sebesar 0,3%, gula pereduksi 0,48%, lemak 0,18%. penyimpanan. Jurnal pangan dan Gizi, 2(03)
Hasil penelitian juga menunjukan bahwa nilai pH Murakami, H., Asakawa, T., Terao, J., & Matsushita, S. (1984).
Antioxidative Stability of Tempeh and Liberation of
dan kandungan protein terlarut dalam minuman Isoflavones by Fermentation. Agricultural and Biological
sari tempe tetap stabil setelah penyimpanan selama Chemistry, 48(12), 29712975.
satu minggu pada suhu 4C Uji organoleptik http://doi.org/10.1080/00021369.1984.10866635
menunjukkan penambahan gula 7% (w/v) dan 8% Nurhidajah. (2010). Aktivitas Antibakteri Minuman Fungsional
Sari Tempe Kedelai Hitam dengan Penambahan Ekstrak
(w/v) memiliki nilai rasa berturut 2,35 (tidak suka) Jahe. Jurnal Pangan dan Gizi, 1(02)
dan 3.15 (biasa), Sedangkan Penambahan vanila Perez-gago, M. B., & Krochta, J. M. (2001). Denaturation Time and
sebesar 0,25 % (v/v) dan 0,5 % (v/v) memiliki nilai Temperature Effects on Solubility, Tensile Properties, and
aroma berturut-turut 2,35 (tidak suka) dan 3,5 Oxygen Permeability of Whey Protein Edible Films. Journal
of Food Science, 66(5), 705710.
(antara biasa dan suka). Dari hasil uji ANOVA http://doi.org/10.1111/j.1365-2621.2001.tb04625.x
didapatkan bahwa tidak ada perbedaan nyata Pramitasari, D. (2010). Penambahan Ekstrak Jahe (Zingiber
antara aroma susu kedelai komersial dengan aroma officinale rose.) Dalam Pembuatan Susu Kedelai Bubuk
minuman sari tempe dengan penambahan vanila Instan Dengan Metode Spray Drying: Komposisi Kimia,
Sifat Sensoris dan Aktivitas Antioksidan. Skripsi, Solo:
sebesar 0,5%. Universitas Sebelas maret
Purwoko, T., & Pawiroharsono, S. (2004). Biotransformasi
Ucapan Terima Kasih Isoflavon oleh Rhizopus oryzae UICC 524. Jurnal BioSmart,
03(2), 7-12
Wardani, I. M., Sumardi & Hermanto, M. B. (2013). Pengaruh
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Ibu Penambahan Lidah Buaya (Aloevera sp) Terhadap Sifat
Fida Madayanti atas segala bantuan yang telah Fisik dan Kimia Susu Sapi Segar dan Susu Kedelai. Jurnal
diberikan, juga kepada saudari Elviera yang telah Bioproses Komoditas Tropis, 1(1)
banyak membantu penelitian ini. Tidak lupa ucapan Watanabe, N., Fujimoto, K., & Aoki, H. (2007). Antioxidant
Activities of The water Soulble Fraction in Tempeh-Like
terima kasih disampaikan kepada Ibu Marlena Fermented Soybean (GABA-Tempeh). International Journal
selaku Kasie Teknologi Industri Baristand Bandar of Food Sciences and Nutrition, 58(8), 577-587.
Lampung yang telah memberikan dukungan kepada Yasumatsu, K., Sawada, K., Moritaka, S., Misaki, M., Toda, J., Wada,
penulis untuk menyelesaikan karya tulis ini. Ucapan T., & Ishii, K. (1972). Whipping and Emulsifying Properties

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Abdullah, K, Asriati, D. W., (2016) Karakteristik Minuman Sari Tempe dengan Penambahan Rasa Vanila. Warta IHP, 33(1),1-8
Halaman | 8

of Soybean Product. Journal Agricultural and Bilogical


Chemistry, 36(05), 719-727.
Yuliani, H., Jekti, D. S. D., & Rasmi, D. A. (2013). Pengaruh
Penambahan Ekstrak Buah Durian (Durio Ziberthinus
Murr.) Terhadap Daya Terima Yogurt Tempe. Jurnal Biologi
Tropis, 13(02)
Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 9-16
Halaman | 9

Aplikasi Penggunaan Surimi Berbahan Ikan Kurisi


(Nemipterus sp) untuk Pembuatan Aneka Produk Olahan Ikan
The Usage Of Surimi Based Kurisi Fish (Nemipterus sp) for Various Processed Fish
Products

Nami Lestari1), Yuniarti1), dan Tatik Purwanti2)

1) Balai Besar Industri Agro (BBIA),


Jl Ir. H. Juanda No.11 Bogor 16122

2) Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda,


Jl. Banggeris No. 1 Samarinda

namilestari65@gmail.com

Riwayat Naskah: ABSTRAK: Secara teknis, semua jenis ikan dapat dijadikan surimi, biasanya dipilih
Diterima 06,2016 yang volume produksi (hasil tangkapannya) melimpah dengan nilai ekonomis
Direvisi 07, 2016
Disetujui 07, 2016
rendah. Ikan kurisi (Nemipterus sp.) tergolong ikan berdaging putih dan ekonomis.
Tujuan penelitian adalah melakukan aplikasi penggunaan surimi berbahan ikan
kurisi dibandingkan dengan ikan kurisi lumat untuk pembuatan aneka produk
olahan ikan (bakso, sosis dan nugget). Rendemen surimi ikan kurisi yang
dihasilkan dari penelitian sebesar 29,1%, warnanya krem muda, tidak berbau
amis serta teksturnya lembut dan elastis. Kadar air surimi ikan kurisi sebesar 75,6
%, kekuatan gel 2452,10 g/cm2 dan derajat putih 80,51. Kandungan gizi (kadar
protein dan kadar lemak) produk olahan (bakso, sosis dan nugget) berbahan
surimi ikan kurisi lebih tinggi dari produk berbahan ikan kurisi lumat, sedangkan
kadar air dan kadar abunya lebih rendah. Tekstur produk berbasis surimi ikan
kurisi mempunyai nilai uji TPA yang lebih tinggi dibandingkan produk berbahan
ikan kurisi lumat. Dari hasil uji organoleptik, panelis lebih menyukai semua
produk (bakso, sosis dan nugget) yang menggunakan surimi dari ikan kurisi
sebagai bahan bakunya daripada produk berbahan baku ikan lumat kurisi.

Kata kunci: aneka produk olahan ikan, ikan kurisi, ikan lumat, surimi

ABSTRACT: Technically, all kinds of fish can be used as surimi, especially those
that have abundant production with low economics value. Kurisi fish (Nemipterus
sp) classified as economical white fish. The aim of this research was to analyze the
difference between the usage of surimi made from kurisi fish with pulverized
kurisi fish as the raw material for making various processed fish products
(meatballs, sausages and nuggets). The result of surimi based kurisi fish was
29.1%, the colour was light cream, odourless, soft, and elastic. It had 2452,10
g/cm2 gel strength value, 80,51 whiteness value and 75,6 % moisture content.
Nutritional content (protein and fat content) of processed products (meatballs,
sausages and nuggets) of surimi were higher than processed produtcs with
pulverized fish, while the moisture and ash content were lower. TPA test for
surimis texture product was higher than kurisi pulverized products. The results of
organoleptic test showed that all products using surimi of kurisi fish more
selected by panelists than pulverized kurisi fish products.

Keywords: kurisi fish, pulverized fish, surimi, various processed fish products

1. Pendahuluan pembuatan surimi. Di Indonesia, produk surimi


masih tergolong baru sehingga orang sering keliru
Salah satu cara pemanfaatan atau pengolahan mengartikan istilah surimi dengan ikan lumat. Ikan
ikan yang akhir-akhir ini makin populer adalah lumat adalah daging ikan yang telah mengalami

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Lestari, N., Yuniarti; & Purwanti, T. (2016) Aplikasi penggunaan Surimi Berbahan Ikan Kurisi (Nemipterus sp.)untuk Pembuatan Aneka
Produk Olahan Ikan. Warta IHP, 33(1), 9-16
Halaman | 10

pemisahan dari kulit, tulang dan isi perut kemudian negara lain di Asia Tenggara, ikan kurisi adalah ikan
dilumatkan. Sedangkan surimi adalah lumatan yang umum digunakan untuk bahan baku
daging ikan yang telah mengalami pencucian dan pembuatan surimi. Berdasarkan hal itu, penelitian
penambahan bahan pembantu (garam/NaCl) dan yang telah dilakukan adalah aplikasi penggunaan
ditambah bahan-bahan lain (misalnya Poliphosfat) surimi berbahan ikan kurisi dibandingkan dengan
untuk mendapatkan mutu yang dikehendaki ikan kurisi lumat untuk pembuatan aneka produk
sehingga berwarna putih, lentur dan baunya tidak olahan ikan (bakso, sosis dan nugget).
amis (Park, 2004).
Surimi merupakan salah satu jenis produk 2. Bahan dan Metode
perikanan yang telah dikenal di dunia dan sangat
potensial untuk dikembangkan. Surimi adalah 2.1. Bahan
istilah Jepang yaitu produk setengah jadi berupa
daging lumat yang telah dicuci dengan air dingin, Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian
berulang-ulang, sehingga protein larut air, lemak, ini terdiri dari bahan baku ikan kurisi, yang dapat
darah, pigmen dan baunya hilang, tapi konsentrasi dilihat pada Gambar 1 dan bahan penolong untuk
protein miofibril yang berpengaruh terhadap pembuatan surimi dan bahan untuk pembuatan
kemampuan dalam pembentukan gelnya aneka olahan ikan seperti garam (NaCl), STPP
meningkat. Surimi merupakan bahan baku bagi (sodium tripolifosfat), sorbitol, air es batu, telur,
berbagai macam produk analog serta aneka produk tapioka, bawang putih, lada bubuk, garam, minyak
berbasis surimi seperti crab stick, udang analog, goreng, tepung terigu, tepung maizena, tepung
cumi-cumi analog, bakso, sosis, nugget, agemono, panir, susu bubuk, margarin, baking powder,
happen, datemaki, kamaboko dan lain-lain selonsong sosis, dan plastik.
(Anggawati, 2002).
Surimi dibuat dengan memanfaatkan sifat
protein, antara lain kapasitas mengemulsi, sehingga
mempunyai tekstur yang unik, tidak mempunyai
bau dan rasa, sehingga dapat dijadikan produk
tiruan makanan laut dengan mencampurkan
essence (perasa) aroma dan rasa makanan laut itu
ke dalam surimi. Produksi surimi dapat dilakukan
dengan skala industri kecil dengan peralatan Gambar 1. Ikan kurisi
sederhana atau dalam skala besar dengan
menggunakan alat serba otomatis. Surimi dapat 2.2. Alat
disimpan lama, ongkos penyimpanan dan
transportasi lebih rendah, menghemat tenaga kerja Peralatan yang digunakan terdiri dari peralatan
karena penanganannya lebih mudah dan masalah pembuatan surimi dan peralatan untuk pembuatan
pembuangan limbah kecil (Anggawati, 2002). aneka olahan ikan, yaitu pisau, talenan, timbangan,
Secara teknis, semua jenis ikan dapat dijadikan meat separator, kain saring, alat sentrifugasi, bak
surimi, biasanya dipilih yang volume produksi pengaduk, baskom, lemari pembeku/freezer. food
(hasil tangkapannya) melimpah dengan nilai processor (alat giling), panci, kompor, sendok,
ekonomis rendah. Pemilihan jenis ikan dan serokan, alat pengukus, loyang, wajan, sealer plastik
kesegaran ikan harus diperhatikan, karena jenis dan alat-alat untuk analisa.
ikan dan ikan yang segar akan menghasilkan gel
yang tinggi. Bahan mentah ikan yang digunakan 2.3. Metode
dapat terdiri dari satu jenis ikan atau campuran
beberapa jenis ikan. Penggunaan ikan yang Penelitian dilakukan dengan cara pembuatan
berdaging merah akan menghasilkan surimi yang surimi berbahan ikan kurisi lalu diaplikasikan
lebih gelap dan berbau lebih amis sehingga hanya sebagai bahan untuk pembuatan aneka produk
dapat digunakan untuk membuat produk yang olahan ikan (bakso, sosis dan nugget.). Ikan kurisi
warnanya tidak harus putih. Daging merah sebagai bahan baku harus dalam keadaan segar dan
mengandung lemak yang lebih banyak diusahakan langsung dibuat surimi pada hari itu
dibandingkan daging putih sehingga surimi yang juga. Pada penelitian ini juga dibuat aneka produk
dihasilkan lebih cepat tengik (Peranginangin et al., olahan ikan (bakso, sosis dan nugget) berbahan
1999). ikan kurisi lumat. Selanjutnya produk olahan ikan
Ikan kurisi (Nemipterus sp.) tergolong ikan (bakso, sosis dan nugget) berbahan surimi tersebut
berdaging putih dan ekonomis. Ikan kurisi dibandingkan dengan olahan ikan (bakso, sosis dan
termasuk ke dalam jenis ikan demersial. nugget) berbahan ikan lumat dengan cara
(Sulistyawati, 2011). Di Malaysia dan negara- melakukan perhitungan rendemen, analisa kadar

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 9-16
Halaman | 11

kotoran, kekuatan gel, derajat putih dan analisa duri, kemudian digiling atau ditumbuk dan
proksimat (kadar air, kadar abu, kadar protein dan selanjutnya daging ikan disimpan beku.
kadar lemak). Selanjutnya surimi dan ikan lumat berbasis ikan
Proses pengolahan surimi berbahan ikan kurisi kurisi diaplikasikan dalam pembuatan aneka
adalah ikan kurisi dibersihkan dan dibuang bagian
kepala, sisik dan isi perutnya. Daging ikan yang ikan
diperoleh, lalu dicuci dan dimasukkan ke dalam alat lumat/surimi Telur,bawang putih,
meat separator untuk memisahkan tulang, sisa sisik lada, pala, garam,
gula, margarin, air
dan serat ikan dan menghancurkan daging ikan
es
sehingga diperoleh daging ikan lumat atau pasta Penggilingan
ikan. Pasta ikan dicuci dengan air dingin (suhu
kurang dari 5oC) di dalam bak pencucian sambil
diaduk selama 10 menit dan disaring dengan kain
Adonan halus
saring untuk menghilangkan air sisa pencucian.
Proses pencucian dan penyaringan ini dilakukan Tapioka
sebanyak 3 kali. Hasil penyaringan berupa pasta
ikan dimasukkan ke dalam air garam konsentrasi Pengadukan
0,2 0,3 %, kemudian diaduk, dibiarkan selama 10
menit, disaring dan dipisahkan dari air garam.
Terakhir pasta ikan digiling dengan alat penggiling Adonan
lalu dicampur dengan bahan krioprotektan, yaitu kalis
sorbitol sebanyak 5% dan sodium tripolifosfat
(STPP) sebanyak 0,2% kemudian dicetak menjadi
blok dalam papan pembekuan, dikemas dalam Pencetakan
plastik, dibekukan dalam freezer (suhu 25oC
sampai -30oC) dan surimi blok dalam kemasan
plastik disimpan di dalam freezer suhu 20oC. Pemasakan

Ikan lumat/surimi
Telur,bawang putih,
lada, garam, minyak Sosis
goreng, air es
Penggilingan
Gambar 3. Diagram alir pembuatan sosis

Adonan halus produk olahan ikan, yaitu bakso, sosis dan nugget.
Diagram alir pembuatan bakso, sosis dan nugget
Tapioka
ditunjukkan dalam Gambar 2, Gambar 3 dan
Pengadukan Gambar 4.

2.4. Pengamatan dan analisa produk


Adonan kalis

Pengamatan dan analisa yang dilakukan pada


Pencetakan penelitian ini terdiri dari perhitungan rendemen,
analisa mutu ikan kurisi lumat dan surimi berbahan
ikan kurisi meliputi analisa kadar kotoran,
Pemasakan deformasi gel dan kekuatan gel menggunakan alat
Texture Analyzer, derajat putih dengan
Bakso menggunakan alat whiteness meter, analisa
proksimat meliputi analisa kadar air, kadar abu,
Gambar 2. Diagram alir pembuatan bakso kadar protein dan kadar lemak. Analisa aneka
produk olahan ikan (bakso, sosis dan nugget) dari
Untuk pembanding, dilakukan juga pembuatan surimi ikan kurisi dan ikan kurisi lumat meliputi
daging ikan kurisi lumat. Proses pembuatan daging uji organoleptik (warna, rasa, aroma dan tekstur),
ikan kurisi lumat yaitu dengan cara mengambil analisa proksimat (kadar air, kadar abu, kadar
daging ikan yang sudah dipisahkan dari tulang dan lemak dan kadar protein).

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Lestari, N., Yuniarti; & Purwanti, T. (2016) Aplikasi penggunaan Surimi Berbahan Ikan Kurisi (Nemipterus sp.)untuk Pembuatan Aneka
Produk Olahan Ikan. Warta IHP, 33(1), 9-16
Halaman | 12

ikan lumat/surimi
Telur,lada, garam, bawang
putih
Penggilingan

Pencetakan Terigu, maizena, susu bubuk, telur,


Maizena, tepung panir, margarin, baking powder, garam, air
susu bubuk, garam
Pengukusan

Pencampuran Pencampuran
Pemotongan

Bahan pelapis kering Pelapisan Bahan pelapis basah

Pendinginan

Penggorengan

Nugget

Gambar 4. Diagram alir pembuatan nugget

Uji organoleptik dilakukan oleh 20 orang panelis Surimi dengan mutu yang paling bagus adalah
terlatih dengan menggunakan uji kesukaan dalam surimi dengan derajat putih yang paling tinggi,
skala hedonik yang meliputi warna, rasa, aroma, paling bersih dan kekuatan gelnya paling tinggi
dan tekstur bakso, sosis dan nugget. (Michell, 1986 dalam Rostini 2013) Dari hasil
Sedangkan analisa kadar air menggunakan pengukuran derajat putih, didapat nilai derajat
Metode SNI 01-2354.2-2006, kadar abu putih surimi 81,5, lebih tinggi dari derajat putih
menggunakan Metode SNI 01-2354.1-2006, kadar ikan lumat, sebesar 80,9. Nilai tersebut
protein menggunakan metode IKU.A.5.4 - menunjukkan bahwa warna produk surimi ikan
01.04/Kjeldahl) dan kadar lemak menggunakan kurisi yang dihasilkan mendekati nilai standar 110.
metode SNI 01-2354.3-2006. Untuk mendapatkan surimi berkualitas tinggi
harus digunakan ikan mentah yang masih segar,
3. Hasil dan Pembahasan karena pembekuan ikan akan menurunkan kualitas
surimi. Hal tersebut dapat tercapai, dengan cara
3.1. Surimi dan Ikan Lumat Berbahan Ikan Kurisi pembuatan surimi sebaiknya dilakukan langsung
pada hari itu juga setelah penangkapan. Untuk
Hasil pembuatan surimi dari ikan kurisi segar dapat melakukan proses pengolahan setelah
dengan warna daging yang putih, adalah produk ditangkap, di sarankan didirikan pabrik pengolahan
surimi berwarna krem muda (mendekati warna surimi yang tdak jauh dari lokasi penangkapan. Jika
putih), mempunyai tekstur yang lembut dan tidak surimi dibuat dari ikan berdaging merah seperti
berbau amis sedangkan ikan lumat kurisi warnanya ikan layang, kembung atau sardin, warnanya akan
merah muda. lebih gelap, bau dan warnanya khas serta
Ikan kurisi lumat dan surimi berbahan ikan kemampuan gelnya lebih rendah dari ikan
kurisi dapat dilihat pada Gambar 5. berdaging putih. Secara umum, ikan air tawar dan
ikan berdaging merah mempunyai kekuatan gel
yang lebih rendah daripada ikan laut dan ikan
berdaging putih (Anggawati et al., 2007).
Hasil perhitungan rendemen dan analisa mutu
ikan lumat dan surimi berbahan ikan kurisi dapat
(A) (B) dilihat pada Tabel 1. Sebagai pembanding
Gambar 5. A (Ikan Kurisi Lumat) dan B (Surimi Berbahan digunakan Tingkatan Mutu (Grade) Surimi dalam
Ikan Kurisi)

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 9-16
Halaman | 13

Perdagangan menurut Suryaningrum (2014), yang (2337,61g/cm2), dan masih memenuhi salah satu
dapat dilihat pada Tabel 2. Sedangkan analisa grade dalam Standar Perdagangan yang
proksimatnya dapat dilihat pada Tabel 3. mensyaratkan kekuatan gel di atas 680 g/cm2.
Dari Tabel 1 terlihat bahwa kadar air surimi Menurut Suryaningrum (2014), kemampuan
lebih kecil dari kadar air ikan lumat dan nilainya pembentukan gel pada surimi dipengaruhi oleh
mendekati standar mutu kadar air surimi dalam jenis ikan, aktivitas enzim proteolitik, aktivitas
perdagangan nilai kadar air ini lebih rendah protein oksidasi serta konsentrasi protein myofibril
dibandingkan nilai kadar air yang tercantum dalam dan garam yang digunakan. Berdasarkan hal itu
SNI 01-2694.1-2006 yang mencantumkan antara 80 kekuatan gel surimi lebih baik dari ikan lumat,
sampai 82 persen. Hal ini dapat disebabkan proses karena adanya pencucian dan perendaman dalam
pengurangan air yang cukup optimal setelah larutan garam. Faktor lain yang mempengaruhi
pencucian surimi. Menurut Park dan Lin (2005), kekuatan gel selain dari bahan bakunya adalah
kadar air surimi komersial mempunyai nilai yang kadar air akibat proses pencucian. Menurut Park
bervariasi, antara 72 sampai 77 persen atau secara dan Lin (2005), kelembaban surimi akan
umum antara 73 sampai 76 persen. Sedangkan, bila meningkatkan linearitas kekuatan gelnya. Kadar
dibandingkan dengan nilai kadar air pada lemak juga merupakan salah satu faktor yang
Tingkatan Mutu Surimi dalam Standar Perdagangan berpengaruh pada kekuatan gel surimi. Surimi yang
yang tercantum pada Tabel 2, produk surimi yang berkualitas baik mempunyai kadar lemak rendah,
dihasilkan masuk dalam Grade 6. Kadar air surimi kurang dari 1%.
mempunyai pengaruh terhadap kekuatan gel yaitu Selain kekuatan gel, mutu surimi yang baik juga
jumlah air yang berikatan dengan protein dalam ditentukan oleh warnanya yaitu berwarna putih.
surimi. Derajat putih surimi mempunyai nilai lebih baik
derajat putih ikan lumat. Suryaningrum (2014)
Tabel 1 menyatakan bahwa nilai derajat putih surimi
Hasil analisa mutu surimi dan ikan lumat dari ikan kurisi
cenderung mengalami penurunan selama
Parameter Satuan Ikan Lumat Surimi
Ikan Kurisi Ikan penyimpanan beku, perubahan nilai derajat putih
Kurisi pada surimi disebabkan karena terjadinya reaksi
Rendemen % 35 29 pencoklatan atau reaksi Maillard. Faktor-faktor
Kadar Air % 78,6 75,6 yang mempercepat laju reaksi pencoklatan adalah
Kadar Kotoran % 15 13
Kekuatan Gel g/cm2 2337,61 2452,10 sifat asam amino, sifat karbohidrat, pH, suhu serta
Derajat Putih 80,9 81,5 aktivitas air (Aw).
Menurut Ullyna (2014), faktor-faktor yang
Tabel 2 mempengaruhi mutu surimi adalah spesies (jenis)
Tingkatan mutu surimi dalam perdagangan ikan, kesegaran ikan, metode pengolahan dan
Tingkatan Kadar pH Kotoran Kekuatan
Mutu Surimi Air (%) (score) Gel
pengawasan kandungan air serta kondisi
(Grade) (gr/cm2) penanganan dan distribusi. Sedangkan Anggawati
1 75 0,5 >7 10 >680 (2007) menyatakan tahap-tahap proses pengolahan
2 75 0,5 7 >9 >680 yang harus diperhatikan agar produk surimi yang
3 75 0,5 7 >8 >640
dihasilkan mempunyai mutu yang baik adalah pada
4 75 0,1 7 >6 >520
5 75 0,1 7 >5 >440 pemilihan bahan baku, penyiangan kepala,
6 76 0,1 7 >4 >320 pemisahan daging dari tulang dan kulit, pencucian,
pemerasan/pemisahan air pencucian, perendaman
Tabel 3 dalam garam dan suhu penyimpanan. Anggawati
Analisa proksimat surimi dan ikan lumat dari ikan kurisi (2007) menyatakan pada pemilihan bahan baku
Parameter Satuan Ikan Kurisi Surimi Ikan
Lumat Kurisi sebaiknya dipilih ikan laut, dagingnya berwarna
Kadar Air % 78,6 75,6 putih dan bernilai ekonomis, ikan harus segera
Kadar Abu % 0,77 1,69 diproses setelah ditangkap, jika tidak mungkin, ikan
Kadar Protein % 18, 01 19,94 segera dibekukan dan harus dipertahankan atau
Kadar lemak % 1,16 1,05
disimpan pada suhu rendah selama proses
pengolahan surimi. Untuk dapat melakukan proses
Berdasarkan Tabel 1 terlihat pula kekuatan gel pengolahan setelah ditangkap, di sarankan
surimi ikan kurisi lebih baik dari ikan lumat. didirikan pabrik pengolahan surimi yang tdak jauh
Apabila dipanaskan surimi membentuk gel yang dari lokasi penangkapan. Jika digunakan ikan beku
elastis dan kuat dengan perlakuan panas. Kekuatan maka ikan harus dilelehkan dalam air terlebih
gel surimi berbanding lurus dengan kandungan dahulu atau dapat lebih cepat dengan microwave
protein larut garam yaitu protein miofibril, dari dan ikan yang telah dilelehkan tersebut harus
hasil analisa pada Tabel 1 terlihat bahwa kekuatan segera diolah. Tahap selanjutnya pada tahap
gel surimi (2452,10 g/cm2) dibandingkan ikan penyiangan, Kepala dan isi perut harus dibuang
lumat lebih tinggi dari kekuatan gel ikan lumat

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Lestari, N., Yuniarti; & Purwanti, T. (2016) Aplikasi penggunaan Surimi Berbahan Ikan Kurisi (Nemipterus sp.)untuk Pembuatan Aneka
Produk Olahan Ikan. Warta IHP, 33(1), 9-16
Halaman | 14

sebelum pemisahan daging, jika bagian itu tekstur bakso berbahan surimi lebih disukai dari
tercampur dengan daging maka kualitas surimi pada bakso ikan lumat. Menurut Tazwir (2007),
akan menurun, karena kepala dan isi perut ikan salah satu diversifikasi produk olahan ikan yang
mengandung lemak dan protease yang dapat sangat populer di Indonesia adalah bakso.
menurunkan kemampuan membentuk gel, Walaupun bakso umumnya diolah dari daging sapi,
sedangkan isi perut akan menggelapkan warna tapi bakso ikan saat ini juga mulai disukai
surimi dan sumber mikroba. Ikan yang telah konsumen di Indonesia. Untuk menghasilkan bakso
disiangi harus segera dicuci bersih dengan hati-hati baik mutunya, tergantung dari formula yang
agar tidak merusak daging, yang bertujuan untuk digunakan, kesegaran bahan dan proses
menghilangkan sisa-sisa isi perut, darah, sisik dan pengolahan. Dari hasil penelitian, bakso berbahan
lain-lain. Tahap penting lainnya adalah pemisahan surimi mempunyai tekstur yang lebih lembut
daging dari kulit dan tulang dengan alat meat dibandingkan bakso berbahan ikan lumat. Hal ini
separator harus dipertahankan pada suhu rendah. disebabkan karena salah satu tahap pengolahan
Sedangkan pencucian dengan air es merupakan surimi adalah pencacahan dan pelumatan daging
tahap paling penting dalam pembuatan surimi dan yang telah dicuci berkali-kali, dengan pencucian
membedakan dengan pengolahan ikan lumat. Pada berkali-kali dan penyaringan, pada saat
proses ini komponen nitrogen terlarut, darah, penggilingan, daging sudah sangat lunak dan
pigmen dan juga lemak yang ada pada daging ikan mudah hancur. Dari aroma juga bakso berbahan
lumat terbuang, sedangkan protein miofibrillar surimi tidak berbau amis, hal itu juga disebabkan
menjadi pekat, sehingga kemampuan gel karena pencucian berkali-kali dapat menghilangkan
meningkat. Konsentrat protein yang tercuci ini bau amis ikan.
memiliki kekuatan tarik dan elastisitas yang baik.
Pencucian juga menghilangkan bau dan warna. Tabel 4
Hasil uji organoleptik aneka produk olahan (bakso, sosis dan
Tahap selanjutnya setelah pencucian yang dapat nugget) berbahan ikan lumat dan surimi dari ikan kurisi, dengan
menghasilkan surimi berkualitas tinggi adalah skor 1 = sangat tidak suka, 2 = suka, 3 = netral , 4 = suka dan 5
pemisahan air dengan menggunakan kain saring = sangat suka
dan alat pengepres. Pada pemisahan ini, kandungan
Produk Warna Aroma Rasa Tekstur
air diturunkan sampai 85%, dan suhu daging ikan Bakso Surimi 4,0 4,0 3.2 4,0
diusahakan tidak naik, sehingga denaturasi protein Bakso Ikan 3,4 3,4 2,9 3,2
dapat dihindari. Setelah penyaringan, dilakukan Lumat
pencucian dengan perendaman dalam larutan Sosis Surimi 4,0 3,3 3,0 4,0
Sosis Ikan 3,4 3,5 3,0 3,0
garam (0.5% dari air) pada suhu 4 5 0C selama 15 Lumat
menit, dan disaring kembali untuk menghilangkan Nugget Surimi 4,0 4,0 3,4 3,0
air dengan menggunakan kain , selanjutnya air yang Nugget Ikan 3,2 3,2 3,2 3,3
masih ada pada daging yang telah disari, Lumat
dihilangkan dengan menggunakan alat screw
dehidration sehingga diperoleh daging kering dan 3.2.2. Hasil analisa proksimat aneka olahan ikan
halus (Anggawati, 2007). berbahan ikan lumat dan surimi dari ikan
kurisi
3.2. Aneka produk olahan ikan berbahan ikan lumat
dan surimi dari ikan kurisi Berdasarkan Tabel 4 sosis yang berbahan surimi
lebih disukai dari sosis berbahan ikan lumat.
3.2.1. Hasil uji organoleptik aneka produk olahan Menurut Taswir (2007), sosis merupakan produk
ikan berbahan ikan lumat dan surimi dari daging giling, baik dari daging sapi, ayam atau ikan
ikan kurisi dengan bentuk seperti silinder berukuran seragam
dengan menggunakan selongsong. Dari uji
Untuk mengetahui aneka produk olahan (bakso, organoleptik, tekstur sosis berbahan surimi lebih
sosis dan nugget) berbahan surimi dan ikan lumat disukai, yaitu lebih halus dan lebih kenyal dari sosis
dari ikan kurisi yang masih dapat diterima panelis, berbahan ikan lumat.
dilakukan uji organoleptik. Panelis yang digunakan Dari hasil uji organoleptik, nugget berbahan
pada penelitian ini adalah panelis terlatih sebanyak surimi lebih disukai dari pada nugget berbahan
20 orang dengan menggunakan uji kesukaan ikan lumat, nugget yang baik adalah mempunyai
dalam skala hedonik yang meliputi warna, rasa, tekstur yang kenyal dan lembut. Dengan proses
aroma, dan tekstur bakso, sosis dan nugget. Hasil pencucian berkali-kali pada pembuatan surimi, jaga
uji organoleptik (nilai rata-rata dari 2 kali ulangan) akan membuat nugget yang dihasilkan mempunyai
dapat dilihat pada Tabel 4. tekstur yang lembut dan penambahan sodium
Berdasarkan Tabel 4, terlihat bahwa untuk poliphosfat dapat memperbaiki elastisitas surimi
produk bakso, baik dari warna, aroma, rasa dan dan produk olahannya. Aroma nugget berbahan

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 9-16
Halaman | 15

surimi juga tidak berbau amis, hal ini disebabkan sensoris (organoleptik), sifat yang berhubungan
karena pencucian berkali-kali dengan air es dan dengan struktur makanan dan sifat multidimensi
garam dapat menghilangkan bau amis dan yang menggambarkan sejumlah karakteristik
warnanya akan lebih putih. (kekerasan, kerenyahan, dll) (Taub & Singh, 1998).
Hasil analisa proksimat aneka olahan berbahan Kekerasan pada produk makanan dapat
ikan lumat dan surimi dari ikan kurisi, dapat dilihat ditentukan dengan cara menghitung gaya
pada Tabel 5, 6 dan 7. maksimum (nilai puncak) pada tekanan per
kompresi pertama. Sedangkan nilai kohesive
Tabel 5 dihitung dari luasan di bawah kurva pada tekanan
Hasil analisa proksimat bakso berbahan ikan lumat dan surimi
kedua (A2) dibagi dengan luasan di bawah kurva
ikan kurisi
Parameter Satuan Ikan Lumat Surimi pada tekanan pertama (A1) atau A2/A1. Pengujian
Kadar Air % 71,9 68,3 tekstur makanan dapat dilakukan dengan berbagai
Kadar Abu % 1,64 1,96 cara, seperti pengujian kekerasan, kerapuhan,
Protein % 10,6 14,6 elastisitas, daya kohesif, kelengketan dan daya
Lemak % 2,37 3,26 kunyah. Menurut Rosenthal (1999), pengujian
tersebut termasuk kedalam kelompok Texture
Tabel 6 Profile Analizer (TPA) sebagai uji imitatif yang
Hasil analisa sosis berbahan surimi dan ikan lumat memberikan nilai standar tekstur makanan. Kurva
Parameter Satuan Ikan Lumat Surimi
uji TPA dapat dilihat pada Gambar 6.
Kadar Air % 72,4 70,3
Kadar Abu % 2,37 2,82
Protein % 12,2 15,2
Lemak % 5,29 6,05

Tabel 7
Hasil analisa nugget berbahan ikan lumat dan surimi ikan kurisi
Parameter Satuan Ikan Lumat Surimi
Kadar Air % 72,4 70,3
Kadar Abu % 2,37 2,82
Protein % 12,2 15,2
Lemak % 5,29 6,05

Gambar 6. Kurva TPA


Berdasarkan Tabel 5, 6 dan 7, terlihat bahwa
baik produk bakso, sosis maupun nugget, kadar air
Berdasarkan hasil pengujian TPA pada Tabel 8,
produk berbahan surimi lebih rendah dibandingkan
produk berbasis surimi mempunyai nilai kekerasan
produk berbahan ikan lumat. Dengan kadar air
yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk
yang lebih rendah, produk akan lebih awet. berbasis ikan lumat. Hal ini dapat dipengaruhi oleh
Sedangkan untuk kandungan gizi seperti kadar
kekuatan gel yang dimiliki surimi lebih tinggi
protein dan kadar lemak produk berbahan surimi
dibandingkan ikan lumat. Jika nilai kekerasan
lebih tinggi dari produk berbahan ikan lumat. dikalikan dengan nilai kohesif, untuk produk
Penambahan kriopektan pada pembuatan surimi
berbasis surimi masih menunjukkan nilai yang
adalah menghambat proses denaturasi dan agregasi
lebih tinggi dibandingkan dengan produk ikan
protein, sehingga kadar protein pada produk
lumat.
olahan berbahan surimi akan lebih tinggi dari
produk olahan berbahan ikan lumat.
4. Kesimpulan dan Saran
Tabel 8
Hasil analisa texture profile anaysis 4.1. Kesimpulan
No. Jenis Contoh Kekerasan (gf) Kohesive
1 Baso Ikan Ikan Lumat 6011,667 0,751 Surimi yang baik dibuat dari ikan laut, berdaging
2 Baso Ikan Surimi 7187,200 0,761 putih dan bernilai ekonomis seperti ikan kurisi.
3 Nugget Surimi 3853,500 0,664 Rendemen surimi ikan kurisi yang dihasilkan dari
4 Nugget Ikan Lumat 1584,100 0,677 penelitian sebesar 29,1%, warnanya krem muda,
tidak berbau amis serta teksturnya lembut dan
Tekstur merupakan salah satu penilaian mutu elastis. Kadar air surimi sebesar 75,6 %, kekuatan
makanan yang berhubungan dengan sifat fisik gel 2452,10 g/cm2) dan derajat putih 80,51.
makanan. Tekstur didefinisikan sebagai kelompok Kandungan gizi (kadar protein dan kadar lemak)
karakteristik fisik yang timbul dari elemen struktur produk olahan (bakso, sosis dan nugget) berbahan
makanan yang dirasakan oleh indera perasa. surimi lebih tinggi dari ikan lumat, sedangkan
Terdapat tiga dimensi dari tekstur, yaitu sifat kadar air dan kadar abu produk olahan (bakso,

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Lestari, N., Yuniarti; & Purwanti, T. (2016) Aplikasi penggunaan Surimi Berbahan Ikan Kurisi (Nemipterus sp.)untuk Pembuatan Aneka
Produk Olahan Ikan. Warta IHP, 33(1), 9-16
Halaman | 16

sosis dan nugget) lebih rendah berbahan surimi Badan Riset Kelautan dan Perikanan. (2003). Pengolahan Ikan
dan Hasil Laut. Jakarta: Badan Riset Kelautan dan Perikanan
dari ikan lumat. Tekstur produk berbasis surimi Badan Standardisasi Nasional. (2006). Standar Nasional
mempunyai nilai uji TPA yang lebih tinggi Indonesia 01-2694.1-2006 Surimi bekuSpesifikasi. Jakarta:
dibandingkan produk ikan lumat. Badan Standardisasi Nasional.
Dari hasil uji organoleptik, panelis menyukai Departemen Kelautan dan Perikanan. (2008). Bantuan Teknis
Untuk Industri Ikan dan Udang Skala Kecil dan Menengah di
semua produk (bakso, sosis dan nugget) yang Indonesia (Teknik Pasca Panen dan Produk Perikanan).
menggunakan surimi dari ikan kurisi sebagai bahan Kerjasama Departemen Kelautan dan Perikanan dengan
bakunya. Nilai kesukaan bakso surimi ikan kurisi Japan International Cooperation Agency, Jakarta.
untuk parameter warna, aroma dan tekstur adalah Dewi, E. N. & Riyadi, P. H. (2007). Penanganan Ikan Segar
Menjadi Lumatan Daging Ikan (Surimi). Semarang: Univ.
4,0, sosis surimi untuk parameter warna dan Diponegoro.
tekstur masing-masing 4,0, sedangkan untuk Hardin, C., Pogorelov, T. V, & Luthey-Schulten, Z. (2002). Ab
nugget surimi untuk paramater warna dan aroma initio protein structure prediction. Current Opinion in
masing-masing 4,0 dan 5,0. Structural Biology, 12(2), 17681. Retrieved from
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11959494
Huda, N., Leng, O. H., & Nopianti, R. (2011). Cryoprotective
4.2. Saran Effects of Different Levels of Polydextrose in Threadfin
Bream Surimi During Frozen Storage. Journal of Fisheries
Disarankan dilakukan penelitian lanjutan untuk and Aquatic Science, 6(4), 404416.
http://doi.org/10.3923/jfas.2011.404.416
pembuatan produk-produk seafood analog lain Irianto, H. E. & I. Soesilo. (2007). Dukungan Teknologi
berbahan surimi ikan kurisi dan dilakukan Penyediaan Produk Perikanan. Badan Riset Kelautan dan
perhitungan teknoekonomi untuk masing-masing Perikanan. Makalah disampaikan pada SEMINAR NASIONAL
produk. HARI PANGAN SEDUNIA 2007 di Auditorium II Kampus
Penelitian Pertanian Cimanggu, Bogor, 21 Nopember 2007.
Mitchell, C. (1986). Surimi The American Experince Technology
Ucapan terima kasih of Surimi Manufacturing. Info Fish Marketing Digest, 20-24.
Park, J. W. (2004). Surimi and Surimi Seafood. London: CRC Press.
Kami mengucapkan terimakasih kepada : Peranginangin, R., Wibowo, S. & Fawzya, Y. N. (1999). Teknologi
Pengolahan Surimi. Jakarta: Instalasi Penelitian Perikanan
1. Bapak Kepala Balai Besar Penelitian dan Laut Slipi, Balai Penelitian Perikanan Laut Pusat Penelitian
Pengembangan Pengolahan Produk dan dan Pengembangan Perikanan,.
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan atas izin Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. (1993).
yang diberikan kepada kami untuk Kumpulan Hasil-hasil Penelitian Pasca Panen Perikanan.
Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan
menggunakan fasilitas ruangan dan peralatan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
untuk melaksanakan penelitian di Balai Besar Rostini, I. (2013). Pemanfaatan daging Limbah Filet Ikan Kakap
Penelitian dan pengembangan Pengolahan Merah sebagai Bahan Baku Surimi untuk Produk Perikanan.
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Jurnal Akuatika, 4(2),141-148).
Suryaningrum, T. D. (2014). Teknologi Pengolahan Surimi.
Perikanan. Jakarta: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
2. Ibu Karyati Sugesti dan Bapak Yaya Suryaseca Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan Perikanan.
yang telah membantu sehingga penelitian ini Tazwir. (2007). Sosis dan Bakso Ikan. Jakarta: Kumpulan Hasil-
dapat terlaksana dengan baik. Hasil Penelitian Pascapanen Perikanan. Balai Besar dan
Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan
Perikanan.
Daftar Pustaka Ullyna, P. N. (2014). Pengolahan Surimi Beku dari Ikan Kurisi
(Nemipterus sp) di PT Bintang Karya Laut, Rembang.
Anggawati, A. M. & Indriawati, N. (2007). Surimi. Kumpulan Semarang: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univ
Hasil-Hasil Penelitian Pascapanen Perikanan. Jakarta: Balai Diponegoro.
Besar dan Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi
Kelautan dan Perikanan.

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 17-23
Halaman | 17

Peningkatan Nilai Kalor Pellet Biomassa Cocopeat sebagai


Bahan Bakar Terbarukan dengan Aplikasi Torefaksi
Improvement of Caloric Value of Cocopeat Biomass Pellet as Renewable Energy Fuel
by Torrefaction Application

Rizal Alamsyah, Nobel Christian Siregar, dan Fitri Hasanah


Balai Besar Industri Agro (BBIA)
Jl. Ir. H. Juanda No, 11 Bogor 16122

rizalams@yahoo.com

Riwayat Naskah: ABSTRAK: Torefaksi adalah suatu proses termokimia yang dilakukan pada
temperatur 200-300C dengan kondisi tanpa udara. Proses ini berfungsi untuk
Diterima 06, 2016
Direvisi 07, 2016 mengubah biomassa menjadi bahan bakar padat yang relatif mempunyai
Disetujui 07, 2016 kandungan energi yang lebih tinggi dari sebelumnya. Torefaksi dapat
meningkatkan kerapatan energi, tahan air, memudahkan penggilingan,
membuatnya aman dari degradasi biologis, memudahkan transportasi dan
penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan karakteristik pellet
biomassa cocopeat (yang merupakan hasil samping pengolahan sabut kelapa)
menjadi bahan bakar padat dengan penerapan proses torefaksi Biomassa cocopeat
dibuat menjadi bentuk pellet dengan proses pengeringan, pengayakan,
pengadukan, dan pemelletan. Pellet yang dihasilkan selanjutnya ditorefaksi pada
suhu 300oC selama 1,5 jam dan hasilnya dibandingkan cocopeat dengan tanpa
perlakuan torefaksi untuk melihat kandungan energinya pellet. Hasil kedua
perlakuan pellet cocopeat tersebut selanjutnya juga dibandingkan untuk melihat
kandungan kualitas emisi udara yang dihasilkan saat pembakaran. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kandungan energi dari pellet cocopeat dengan perlakuan
torefikasi menunjukkan peningkatkan energi sebesar 36%. Sementara emisi udara
yang dihasilkan dari pembakaran memenuhi persyaratan standard emisi udara
sesuai peraturan yang berlaku.

Kata kunci: torefaksi, cocopeat, pellet, emisi, pembakaran

ABSTRACT: Torrefaction is a thermochemical pretreatment process at 200300C


in an inert condition which transforms biomass into a solid biofuel with relatively
high energy. This increases the energy density, water resistance and grindability of
biomass and makes it safe from biological degradation which ultimately makes
easy and economical on transportation and storing of the torrefied products. The
research was aimed to improve cocopeat pellet characteristics (cocopeat is by
product of cocofiber processing) as solid fuel by the application of biomass energy
torrefaction process and to test emissions quality resulted from pellets
combustion. In this work cocopeat was formed to cocopeat pellet by drying,
shifting, mixing, and pelletizing. Cocopeat pellet were then treated for both with
torrefaction (300 oC without air for 1.5 hours) and without torrefaction process.
After burning, these pellet were compared in term of energy content and
emmision quality. The result shows that energy content of torrefied cocopeat
pellet have increased energy by 36%. Meanwhile emission air resulted from its
combustion were met with Indonesian emission regulation standard.

Keywords: torrefaction, cocopeat, pellet, emission, combustion

1. Pendahuluan minyak bumi menjadi kendala bagi pembangunan


industri (DEN, 2010; Alamsyah et al., 2013).
Ketergantungan sektor industri pada energi fosil Ketergantungan tersebut akan berdampak kepada
atau minyak bumi, serta fluktuasi harga energi kebutuhan energi untuk sektor transportasi, energi

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Alamsyah, R., Siregar, N.C., & Hasanah, F. (2016) Peningkatan Nilai Kalor Pellet Biomassa Cocopeat Sebagai Bahan Bakar Terbarukan Dengan Aplikasi
Torefaksi. Warta IHP, 33(1),17-23
Halaman |18

rumah tangga, serta kebutuhan listrik alat mesin Beberapa industri besar telah mampu menciptakan
pengolahan hasil pertanian (Liew et al., 2014; energi listrik dari biomassa limbah dan digunakan
Ridha, 2014). Salah satu cara untuk mengurangi untuk operasional perusahaan.
ketergantungan akan energi fosil adalah dengan Oleh karena itu pembangunan industri biofuel
cara pengembangan energi terbarukan (non-fosil) haruslah merupakan kegiatan prioritas dalam
yang berbasis bahan biomassa yang bisa menunjang substitusi kebutuhan energi nasional
diperbaharui (Demirbas, 2009). Peluang dan pembangunan ekonomi yang hasil atau nilai
pengembangan energi non-fosil terbarukan cukup tambahnya bisa dirasakan oleh masyarakat dan
besar hal ini dikarenakan antara lain 1) tersedianya industri dalam negeri (Kemenristek, 2014). Untuk
beragam sumber daya energi baru serta itu penguasaan teknik pemrosesan biomassa
terbarukan, 2) pertumbuhan ekonomi yang menjadi biofuel di Indonesia mutlak dikuasai dan
semakin baik akan meningkatkan kebutuhan dalam diimplementasikan di dalm negeri (Hikam, 2014)
energi dan kemampuan/daya beli masyarakat serta Salah satu cara untuk memodifikasi biomassa
yang akan menjadi investasi swasta dalam menjadi biofuel atau bahan bakar padat adalah
pembangunan sektor industri, dan 3) potensi pasar dengan cara torefaksi. Torefaksi (torrefaction)
energi nasional, regional dan internasional yang merupakan proses degradasi termal dengan laju
masih terbuka (Belonio, 2012; Hambali, 2010; pemanasan rendah pada temperature 200300C
Abdullah, 2009) dengan kondisi tanpa udara (Acharya et al., 2012,
Di sisi lain, untuk mengantisipasi kelangkaan Chen et al., 2012).
energi di Indonesia, pemerintah telah mendorong Torefaksi juga bisa diartikan sebagai perlakuan
penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) termal biomassa (terutama kayu) tanpa adanya
yang potensinya sangat melimpah di Indonesia, oksigen selama 15-60 menit pada temperatur
tetapi penggunaannya belum optimal (Ariyati, 200-300oC dan tekanan atmosferik. Hasilnya,
2007). Biomassa yang digunakan sebagai sumber biomassa akan berubah menjadi produk yang mirip
energi (bahan bakar) di Indonesia pada umumnya, kokas atau arang. Tranformasi torefaksi adalah
memiliki nilai ekonomis rendah, atau merupakan proses dengan efisiensi tinggi (konversi 85-95%)
limbah yang telah diambil produk primernya (Chew, 2011).
(Putra, 2011). Biomassa tersebut dapat berasal dari Torefaksi adalah suatu proses konversi
limbah perkebunan, limbah pertanian, limbah (pengubahan) biomassa menjadi bahan bakar padat
hutan, hasil samping pengolahan produk pertanian, yang lebih bersih. Dalam proses ini, biomassa
dan kotoran ternak (Tohan, 2016). Biomassa secara perlahan diberi kalor (dipanaskan) pada
sebagai sebagai hasil samping pertanian atau kisaran temperatur 200-300oC dengan waktu
perkebunan harus mengambil peran yang lebih tertentu (Basu, 2013). Nama lain dari proses
besar di Indonesia ke depan. Potensi energi torefaksi adalah roasting, slow-mild pyrolysis, wood
biomassa Indonesia adalah 49.807 Mwe dan baru cooking, atau high temperature drying (Tumurulu,
0,36 % termanfaatkan (Surawidjaja, 2010). Untuk 2011). Torefaksi digunakan sebagai langkah
kawasan ASEAN, Indonesia merupakan produsen pengkondisian awal untuk metode konversi
terbesar dari biomassa, akan tetapi Indonesia biomassa seperti gasifikasi dan co-firing. Perlakuan
merupakan pemanfaat terkecil karena belum panas tidak hanya mengubah struktur serat, tetapi
dikelola secara ekonomis sehinnga terdapat gap juga struktur molekul dari biomassa (Felfi et al.,
antara potensi dengan pemanfaatannya (Alamsyah, 2005). Selama proses torefaksi, biomassa akan
2013). mengalami devolatisasi yang menyebabkan
Di antara potensi besar biomassa yang bisa penurunan berat, tetapi kandungan energi awal
dimanfaatkan sebagai energi atau bahan bakar dari biomassa yang telah ditorefaksi tersebut tetap
padat adalah limbah hasil pengolahan sabut kelapa terjaga dalam produk padatnya sehingga densitas
atau cocopeat (Alamsyah & Kamil, 2013). Limbah energy dari biomassa menjadi lebih tinggi
biomassa cocopeat ini memiliki jumlah yang cukup dibanding biomassa awal (Bregman et al., 2008;
besar, terutama di daerah penghasil kelapa yang Tumuluru et al., 2012).
mana limbah sabutnya diolah untuk diambil Proses torefaksi juga meningkatkan
sabutnya (coco fiber), akan tetapi hampir sebagian karakteristik fisik dari biomassa sehingga
besar tidak dimanfaatkan dan hanya sebagai pemanfaatannya sebagai bahan bakar bernilai
sampah atau limbah bioamssa (Alamsyah & Siregar, ekonomis. Selain itu, proses torefaksi mengubah
2014). Sebenarnya limbah ini bisa digunakan susunan kimia dari hidrokarbon biomassa dengan
sebagai bahan bakar padat rumah tangga atau tujuan untuk meningkatkan kandungan karbon dan
bahan bakar pada industri pengolahan atau mengurangi kadar oksigennya. (Dutta & Leon,
keperluan lainya (pengeringan bahan pertanian). Di 2011).
lain pihak beberapa perusahaan melakukan ekspor Pengaplikasian torefaksi ini dilakukan untuk
limbah perkebunan seperti cangkang sawit. mengatasi beberapa kendala karakteristik

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 17-23
Halaman | 19

biomassa yang akan digunakan sebagai bahan b. Pengeringan dan penimbangan


bakar. Salah satu contoh kendala pada biomassa
yang belum ditorefaksi pada biomassa kayu, adalah Pengeringan bahan dilakukan guna
nilai kalori yang rendah, kandungan air tinggi, mendapatkan tingkat kekeringan yang seragam
densitas energi yang rendah, ukuran yang relatif maksimum 14 % (basis basah) sehingga diperoleh
besar dan tidak ekonomis dalam hal transportasi, mutu struktur pellet yang optimal sehingga
higroskopis, efisiensi pembakaran yang rendah dan menghasilkan emisi yang rendah (low emission)
banyaknya asap selama pembakaran (Paoluccio et (Lee et al., 2000; Amin et al., 2014; Hroncova et a.,
al., 2006). Tujuan penelitian ini adalah untuk 2014)
meningkatkan energi pellet biomassa cocopeat
dengan penerapan proses torefaksi, dan c. Pengayakan dan mixing
membandingkan hasil pembakaran (emisi) pellet
cocopeat biomassa yang mengalami torefaksi Pengayakan dilakukan untuk memperoleh
dengan pellet biomassa non-torefaksi. ukuran yang seragam sehingga memudahkan
pembentukan pellet. Ukuran saringan ayakan yang
2. Bahan dan Metode digunakan adalah mesh 60. Pengadukan atau
mixing dilakukan untuk homogenisasi bahan
2.1. Bahan biomas dalam pellet sehingga pellet mempunyai
kandungan energy yang seragam pada saat
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini dibakar (gasifikasi). Mixing dilakukan dengan cara
adalah limbah cocopeat atau produk samping dari pencampuran bertahap dimulai dengan biomassa
hasil pengolahan serat sabut kelapa (cocofiber). cocopeat, minyak jelantah dan pati untuk
Bahan-bahan lain yang digunakan adalah minyak homogenisasi seluruh bahan baku yang digunakan.
jelantah, dan pati untuk perekat pembuatan pellet Waktu mixing seluruh bahan dilakukan selama 10
cocopeat . menit

2.2. Alat d. Pelletizing

Alat-alat proses yang digunakan dalam Pelletizing dimaksudkan untuk membentuk


penelitian ini terdiri dari alat-alat untuk proses bahan bakar biomas dalam bentuk pellet dengan
pembuatan pellet biomassa, alat untuk proses ukuran (dimensi) panjang 2 cm dengan diameter 6
torefaksi, dan alat ukur. Alat-alat untuk proses mm - 8 mm. Pembuatan pellet dilakukan dengan
pellet biomassa terdiri dari alat penyaring (shifter), mesin pelletizer.
alat pengering (dryer) alat pengaduk (mixer), dan
mesin pellet (pelletizer) kapasitas 200 kg/jam. 2,3.2 Penelitian pendahuluan
Sedangkan alat torefaksi yang digunakan adalah
alat torefaksi dengan kapasitas 5 kg. Untuk alat- Penelitian pendahuluan adalah untuk
alat pendukung untuk proses pembuatan pellet dan melakukan proses poses torefikasi dari biomassa
torefaksi terdiri dari termometer (skala 500oC), pellet cocopeat. Pada tahap ini dilakukan
timbangan, panci dan wadah stainless steel. pengamatan waktu optimum proses torefaksi dari
biomassa cocopeat dalam selang waktu 0 hingga
2.3. Metode 120 menit.

Metode penelitian yang digunakan dalam 2.3.3 Perlakuan torefaksi dan non torefaksi
penelitian ini terdiri dari pendahuluan, pembuatan
pellet, perlakuan torefaksi, pembakaran pellet Penelitian torefaksi dilakukan di Laboratorium
cocopeat (dengan torefikasi dan tanpa torefikasi) Proses Balai Besar Industri Agro, Cikaret-Bogor.
dan analisis proksimat. Penelitian dengan perlakuan proses torefaksi pada
pellet biomassa cocopeat ini didasarkan dengan
2.3.1 Pembuatan pellet cocopeat hipotesis bahwa biomassa yang ditorefaksi akan
menghasilkan gas buang yang lebih bersih atau
a. Sortasi ramah lingkungan (eco-friendly) daripada gas
buang biomassa yang tidak ditorefaksi.
Sortasi dilakukan untuk pembersihan benda Di dalam penelitian ini bahan cocopeat terlebih
asing yang akan tercampur terhadap biomassa dahulu dibentuk menjadi bentuk pellet dengan
cocopeat dan untuk menghasilkan bahan baku atau tujuan untuk mendapatkan atau menjadikan bahan
mutu pellet yang seragam. bakar padat yang mudah dalam pengemasan dan
penggunaannya. Secara garis besar proses

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Alamsyah, R., Siregar, N.C., & Hasanah, F. (2016) Peningkatan Nilai Kalor Pellet Biomassa Cocopeat Sebagai Bahan Bakar Terbarukan Dengan Aplikasi
Torefaksi. Warta IHP, 33(1),17-23
Halaman |20

biomassa baik yang yang ditorefaksi maupun 3. Hasil dan Pembahasan


biomassa yang tidak ditorefikasi dilakukan dengan
tahapan proses seperti terlihat pada Gambar 1 di 3.1 Analisis proksimat dan nilai kalor
bawah ini.
Analisis proksimat dan nilai kalor dilakukan
untuk mengetahui komponen awal biomassa
sebelum cocopeat seperti kadar abu, kadar air, dan
karbon terikat (fixed carbon) serta nilai kalor. Nilai
kalor biomassa cocopeat pada Tabel 1
menunjukkan bahwa biomassa cukup potensial
untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Kadar
air cocopeat cukup tinggi sehingga perlu dilakukan
pengeringan. Peranan torefaksi terhadap biomassa
adalah dalam pengubahan struktur molekul dari
biomassa menjadi karbon meningkatkan nilai kalor.
Hasil analisis nilai kalor dan proksimat selanjutnya
dibandingkan dengan hasil analisis nilai kalor pellet
yang sudah ditorefikasi.
Tabel 1
Analisis proksimat dan nilai kalor cocopeat
Parameter Biomassa cocopeat
Kadar air (%) 83,490
Zat terbang (%) -
Kadar abu (%) 0,785
Fixed carbon (%) -
Densitas 0,182
Nilai kalori (kal/g) 4083

3.2 Penelitian pendahuluan

Dalam penelitian pendahuluan diperoleh hasil


waktu optimum lama proses torefikasi adalah 1,5
jam. Hasil ini didasarkan atas pengamatan setiap
selang waktu pengamatan yaitu 30 menit, 45 menit,
60 menit, 75 menit, dan 90 menit. Indikator
kualitas biomassa adalah warna biomassa yang
menkilap (Pelheat, 2010). Hasil pengamatan
Gambar 1. Alur proses pembuatan pellet biomassa torefaksi biomassa yang diamati terlihat mengkilap adalah
biomassa dengan waktu torefaksi 90 menit.
Perlakuan terhadap biomassa dengan waktu lebih
2.4 Parameter yang diamati dari 90 menit akan menyebabkan biomassa
tersebut membentuk bara sehingga menyimpang
Parameter yang diukur dan diamati dalam dari tujuan semula. Dengan demikian, lamanya
penelitian ini adalah kadar proksimat, analisis nilai proses torefaksi yang dilakukan adalah selama 90
kalor biomassa sebelum torefaksi dan setelah menit yaitu waktu maksimal untuk torefaksi
torefaksi, lama pembakaran pellet biomassa biomassa Dalam penelitian pendahuluan ini diamati
sebelum torefaksi dan setelah torefaksi, dan emisi indikator warna yang dijadikan sebagai inikator
gas buang hasil pembakaran pellet biomassa visual yaktu warna biomassa yang menkilap dan
cocopeat hasil torefaksi. tidak mengukur nilai kalor dahulu. Selang waktu
pengamatan adalah 15 menit. Hasil yang terbaik
2.5 Analisis nilai kalor dan proksimat yaitu pengukuran yang dilakukan setelah proses
torefaksi yang maksimal yaitu setelah 90 menit
Analisis nilai kalor dan proksimat dilakukan atau 1,5 jam.
untuk mengetahui komposisi komponen awal dan
peningkatan nilai kalor pellet biomassa cocopeat. 3.3 Proses torefaksi

Prinsip dalam proses torefaksi adalah


menghindari keberadaan oksigen ketika dilakukan

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 17-23
Halaman | 21

pemberian panas terhadap biomassa. Di dalam Tabel 2


Hasil analisis parameter pellet biomassa cocopeat biomassa
percobaan ini terbukti bahwa apabila oksigen hadir sebelum dan setelah torefaksi
ketika panas (kalor) diberikan kepada biomassa, Parameter Sebelum Sesudah
maka pellet biomassa cocopeat akan terbakar dan torrefaksi torefaksi
menjadi abu. Hal ini berbahaya pada peralatan Kadar air (%) 83,490 6,745
(reaktor torefaksi) yang digunakan jika dibiarkan Zat terbang (%) - 48,996
Kadar abu (%) 0,785 13,996
tanpa kontrol, dan juga menyimpang dari tujuan Fixed carbon (%) - 37,966
semula yaitu peningkatan kapasitas kalor dari Densitas 0,182 -
biomassa yang akan digunakan sebagai bahan Nilai kalori (kal/g) 4083 5565
bakar padat. Berbeda dengan pengarangan Dari hasil pada Tabel 2 diatas terlihat bahwa
(karbonisasi) yang masih mengijinkan udara terdapat peningkatan nilai kalor untuk ketiga jenis
dengan jumlah tertentu masuk dalam prosesnya, biomassa setelah ditorefaksi. Peningkatannya
proses torefaksi tidak demikian, melainkan harus adalah sebesar rata-rata 36 % dari 3 kali ulangan
benar-benar dilakukan tanpa kehadiran udara. untuk cocopeat. Peningkatan ini cukup signifikan,
Proses torefaksi menghasilkan pellet biomassa sehingga proses torefaksi diharapkan dapat
cocopeat berwarna hitam mengkilat yang menjadi salah satu alternatif menjanjikan dalam
menunjukkan bahwa biomassa mengalami torefaksi peningkatan nilai tambah biomassa sebagai energi
maksimal. Biomass tertorefaksi diamati berwarna terbarukan.
coklat jika torefaksi dilakukan dibawah 90 menit,
namun untuk mendapatkan hasil yang maksimal 3.4 Uji Emisi
sesuai penelitian ini, torefaksi terhadap biomassa
dilanjutkan sampai waktu 90 menit atau 1,5 jam. Uji emisi dilakukan melalui pembakaran untuk
Hasil biomassa sebelum dan sesudah torefaksi mengetahui apakah gas buang yang dihasilkan dari
ditampilkan pada Gambar 2. proses pembakaran biomassa hasil torefaksi telah
memenuhi persyaratan sesuai peraturan yang
ditetapkan. Hasil pembakaran biomassa tersebut
juga sekaligus untuk mengetahui lamanya
pembakaran untuk memanaskan 1 liter air sampai
mendidih dan lamanya bara yang terbentuk setelah
pembakaran. Hasil pembakaran pellet cocopeat
baik yang ditorefikasi maupun tanpa torefikasi
disajikan dalam Tabel 3.
Tabel 3
Perbandingan hasil pengamatan pembakaran pellet biomassa
cocopeat non- torefaksi dan torefaksi
Parameter Cocopeat non- Cocopeat
Torefaksi Torefaksi
Berat (kg) 0,5 0,5

(a) (b) Waktu antara pemicu


api dan pemasakan air
Gambar 2. Produk cocopeat pellet sebelum (a) dan sesudah (b) 5 2
(menit)
torefaksi

Pada penelitian ini, diamati juga bahwa tidak Waktu pemasakan 1


liter air (menit) 17 15
terbentuk tar seperti pada proses pengarangan
(karbonisasi) dan pirolisis. Hal ini didasarkan pada Lama nyala api stlh
pengamatan bahwa hasil samping yang muncul pemasakan air (menit) 25 37
adalah hanya asap jika oksigen dalam jumlah Waktu nyala bara
sedikit dibiarkan masuk. Jadi pada torefaksi zat 20 240
(menit)
yang muncul adalah zat-zat yang terkondensasi dan
tidak terkondensasi. Setelah ditorefaksi, biomassa Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa pellet
tersebut dianalisis untuk mengetahui nilai cocopeat yang mengalami torefaksi mempunyai
kandungan air, abu, karbon terikat, dan terutama densitas energi yang lebih besar ditunjukkan
adalah nilai kalornya. Hasil analisis biomassa lamanya waktu nyala bara setelah pembakaran
setelah ditorefaksi dan dibandingkan dengan yang berarti energi yang tersimpan dalam pellet
biomassa sebelum torefaksi ditampilkan pada Tabel biomassa yang mengalami torefaksi lebih besar.
2. Hal ini menunjukkan bahwa densitas energi dari
pellet biomassa yang mengalami torefaksi lebih
besar daripada pellet biomassa yang tidak
ditorefaksi.

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Alamsyah, R., Siregar, N.C., & Hasanah, F. (2016) Peningkatan Nilai Kalor Pellet Biomassa Cocopeat Sebagai Bahan Bakar Terbarukan Dengan Aplikasi
Torefaksi. Warta IHP, 33(1),17-23
Halaman |22

Pengujian emisi selanjutnya dilakukan di Pada pellet cocopeat yang tertorefikasi maka
Laboratorium Proses BBIA, Cikaret dan dilakukan terjadi perubahan struktur internal dengan
dengan peralatan dan tim dari Dinas Angkutan berubahnya senyawa hidro karbon (HC) menjadi
Jalan Raya, Kota Bogor. Uji emisi ini untuk karbon dan mengakibatkan peningkatan densitas
mengukur gas buang dari pembakaran biomassa energi pellet. Keuntungannya adalah tidak ada
sebelum dan sesudah torefaksi dan bahan organic atau biomassa yang terbuang
membandingkannya dengan persyaratan yang percuma dengan indikasi bahwa konsentrasi HC
berlaku. Gas-gas yang timbul dari pembakaran (hidrokarbon) yang dihasilkan pada gas buang
biomassa diukur dengan peralatan uji emisi. Hasil dalam jumlah kecil. Peran torefaksi
uji emisi adalah data konsentrasi gas buang yang menguntungkan jika ditinjau pemanfaatan energi
dihasilkan dari pembakaran pellet biomassa bukan hanya untuk pembakaran namun juga untuk
sebelum dan sesudah torefaksi (Tabel 4 dan 5). pemanasan (pengeringan) dengan memanfaatkan
energi yang terkandung di dalamnya yang
Tabel 4.
dibuktikan dengan lamanya bara yang terbentuk
Hasil uji emisi gas buang pellet cocopeat non- torefaksi
Waktu HC CO2 setelah pembakaran.
CO (%) O2 (%) Hal yang menguntungkan lainnya adalah
(ppm) (%)
t1 (awal) 0.42 300 2.32 17.55 bahwa konsentrasi CO yang merupakan senyawa
t2 0.47 327 1.33 19.81 yang sangat berbahaya dan mempunyai afinitas
t3 0.2 20 4.29 15.9
t4 0.45 10 0.94 19.39
sangat tinggi pada darah manusia adalah sangat
t5 0.51 8 0.89 19.44 rendah pada gas buang hasil pellet biomassa
t6 (selesai) 0.53 5 0.97 19.38 tertorefaksi (0%) dibanding pellet biomassa non-
Standard gas 4.5 1200 20 torefaksi (0,42%). Walaupun konsentrasi relative
limit*)
kecil (0,42%), hal ini sangat berbahaya pada
*) Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. KEP-13/ lingkungan jika biomassa yang dibakar berada pada
MENLH3/1965, tanggal 7 Maret 1995 tentang baku mutu emisi
sumber tidak bergerak. jumlah yang sangat besar.
Berdasarkan persyaratan gas buang yang
Tabel 5. ditentukan dalam Keputusan Menteri Lingkungan
Hasil uji emisi gas buang pellet cocopeat perlakuan torefaksi Hidup No. KEP-13/ MENLH3/1965, semua hasil
Waktu HC CO2
CO (%)
(ppm) (%)
O2 (%) parameter mutu gas buang cocopeat memenuhi
t1 (awal) 0 7 2.09 18.4 persyaratan. Dengan demikian, perlakuan torefaksi
t2 0.01 0 4.72 15.4 dari aspek emisi gas buang lebih baik dan unggul
t3 0 0 4.98 15.24 dibandingkan biomassa non-torefaksi.
t4 0.3 0 1.06 19.04
t5 0.18 0 1.09 19.17
t6 0.27 0 0.48 19.03 4. Kesimpulan
t7 0.23 0 0.42 20.08
t8 (selesai) 0.11 0 0.35 20.3 Pellet biomassa cocopeat yang diperoleh dari
Standard gas 4.5 1200 20
limit*)
proses torefaksi mempunyai densitas energi yang
lebih besar. Hal ini menguntungkan karena energi
yang disimpan menjadi lebih besar daripada
Berdasarkan data dalam Tabel 4 dan Tabel 5
biomassa yang tidak ditorefaksi. Peningkatan nilai
yaitu perbandingan konsentrasi gas buang antara
kalori pada pross torefaksi pada pada pellet
pellet cocopeat non-torefaksi (Tabel 5) pellet
cocopeat hasil torefaksi mengalami peningkatan
cocopeat yang mengalami torefaksi terlihat
energi sebesar 36%.
perbedaan konsentrasi HC yang begitu tinggi pada
Pellet cocopeat yang mengalami torefaksi
waktu awal pada pembakaran pellet sebelum
menunjukan waktu nyala bara yang lebih lama
torefaksi (300 ppm) dan sangat rendah pada gas
setelah pembakaran yang berarti energi yang
buang hasil pembakaran pellet tertorefaksi (7
tersimpan dalam pellet biomassa yang mengalami
ppm).
torefaksi lebih besar.
Pada pengukuran gas buang hasil pembakaran
Walaupun emisi gas buang pada pembakaran
pelet biomassa non-torefaksi sebagai bahan bakar
biomass yang jumlahnya kecil (0,5 kg) pada semua
padat, perlu diperhatikan bahwa HC yang muncul
jenis biomassa baik itu biomassa hasil torefaksi dan
sebagai gas buang selain menunjukkan adanya
non-torefaksi masih dalam batas aman, namun
kemungkinan indikasi pembakaran yang tidak
emisi gas berbahaya pada pembakaran pellet hasil
sempurna (disebabkan udara terlalu berlebihan)
torefaksi menghasilkan gas buang berbahaya
juga disebabkan bahwa HC yang terbentuk
(terutama CO) dengan konsentrasi (kadar) yang
merupakan zat biomassa yang tidak terbakar
jauh lebih kecil daripada biomassa non-torefaksi.
(dalam perspektif penggunaan biomassa sebagai
bahan bakar).

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 17-23
Halaman | 23

Ucapan terima kasih DEN. (2014). Bauran Energi Nasional Sampai Dengan 2050.
Dewan Energi Nasional.
Felfli, F. F., Luengo, C. A., Surez, J. A., & Beatn, P. A. (2005).
Ucapan terima kasih yang tak terhingga Wood briquette torrefaction, Energy for Sustainable
disampaikan kepada Laboratorium Uji Emisi Gas Development, 9(3),20-23.
Buang Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya Hambali, A., Thahar, A., & Komarudin. (2010). The Potential Of
Oil Palm and Rice Biomass as Bioenergy Feedstock,
(DLLAJR), Kota Bogor atas bantuan alat pengujian Makalah disajikan dalam 7th Biomass Asia Workshop,
emisi pembakaran pellet cocopeat sehingga November 29 December 01, 2010, Jakarta, Indonesia.
penelitian berjalan dengan baik. Hikam, M.A.S. (2014). Menyongsong 2014-2019
Memperkuat Indonesia dalam Dunia yang Berubah, Jakarta,
CV. Rumah Buku, ISBN: 978-602-70221-0-2, 2014.
Hroncova, E., Ladomerska, J., & Puskajlerb, J. (2014). Emission
Daftar Pustaka of pollutants from torrefaction of wood. European Journal
of Environmental and Safety Sciences, 2(1),19-22
Abdullah, K. (2009). Sustainable Parameters in Introducing Kemenristek. (2014). 106 INOVASI INDONESIA. Business
Renewable Energy Technology. ISESCO Science and Innovation Center (BIC)-Kemenristek Indonesia.
Technology Vision, 5(8),7-10. Kep. MNLH. (1995). Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.
Acharya, B., Sule, I., & Dutta, A. (2012). A review on advances of KEP-13/ MENLH3/1965, tentang baku mutu emisi
torrefaction technologies for biomass processing. Biomass sumber tidak bergerak.
Conversion and Biorefinery, 2(4), 349369. Lee, E. Y., Lim, K. I., Jae-kag Lim, & Seung-Taik Lim. (2000).
http://doi.org/10.1007/s13399-012-0058-y Effects of Gelatinization and Moisture Content of Extruded
Alamsyah, R., Siregar, N. C., Lubis, E. H., & Susanti, I. (2013). Starch Pellets on Morphology and Physical Properties of
Secure And Utilization Technology For Indonesian Microwave-Expanded Products. Cereal Chemistry.
Biomass Aimed to Cope With RPS (Renewable Portfolio 77(6),769 773.
Standard), Joint research report BBIA Kitech, South Korea Leon, M., & Dutta, A. (2011). Pros and cons of torrefaction of
, BBIA. woody biomass, University of Guelph, School of
Alamsyah, R., & Kamil, A. F. (2013). Increasing The Added Value Engineering, Canada.
Of Coco Peat Waste Into Solid Fuel. Cocoinfo International Liew, W. H., Hassim, M. H., & Ng, D. K. S. (2014). Review of
(International Coconut Review) APCC, 20(2),1-7. Evolution, Technology and Sustainability Assessments of
Alamsyah, R., & Siregar, N. C. (2013). Study For Production Of Biofuel Production. Journal of Cleaner Production, (17): 11-
Low Emission Pellet From Coco Peat Waste. Jakarta: 29.
International Journal on Coconut R & D - CORD APCC, Paoluccio, A. J., Smith, R. S., & Modesto, C. A. (2006). U.S. patent
29(2),1-12. application for Method and apparatus for biomass
Belonio, A. (2012). Cocopeat Pellet Gas Stove, http://biomass- torrefaction, manufacturing a storable fuel from biomass
events.com/promo-pellet_ characteristics. html (diakses and producing offsets for the combustion products of
29 November 2012). fossil fuels and combustible article of manufacture,
Sarvaraminia, A., Assimaa, G. P., Beaudoina, G., & Larachib, F. Docket no. 60/747,803.
(2014). Biomass Torrefaction and CO2 Capture Using Pelheat, Biomass pellet production guide. (2010). accessed on
Mining Wastes A New Approach For Reducing April 27, 2016 from http://www.PelHeat.com
Greenhouse Gas Emissions of Co-Firing Plants. Elsevier, Putra, S. M. (2015). Biomassa Sumber Energi Masa Depan
Fuel, (115), 749757. Indonesia. http://blog.unsri.ac.id/ sodikin/ karya-ilmiah/
Ariyati, R. (2007). National Policy on Biofuel Development. Paper biomassasumber- energi-masa-depan-
presented in the Workshop Mini Scale Biodiesel Plant indonesia/mrdetail/31052 (diakses 11 September 2015).
Design, BRDST (BPPT), Research and Technology, DJLPE Mulyana, R. (2014). New, Renewable Energy and Energy
(EMR), and PT. Astra Agro Lestari Tbk, Serpong November Conservation (Nreec): Existing Program & Breakthrough
13-15, 2007. Policies Toward Achieving National Energy Policy Target.
Basu, P. (2013). Biomass Gasification, Pyrolysis and Torrefaction. Makalah disajikan dalam The 3rd Indonesia EBTKEConEx,
Pactical Design and Theory, 2nd ed. Academic Press, JCC, Jakarta 4 Juni 2014.
Elsevier. London,UK. Soerawidjaja, T. H. (2010). Peran Bioenergi Dan Arah-Arah
Bergman, P. C. A., Boersma, A. R., & Kiel, J. H. A. (2005). Utama Litbangrapnya di Indonesia. Makalah disajikan
Torrefaction for Biomass Co-Firing in Existing Coal-Fired dalam Lokakarya Gasifikasi Biomassa, ITB, Bandung 2010.
Power Stations Biocoal Report ECN-C- 05-013; Petten. Tohan, M. A. (2016). Peningkatan Nilai Tambah dan Daya Saing
Belanda : ECN. Produk Pertanian. Sofianomic rakyat. Blogspot.co (Unduh
Chen, W. H., & Kuo, P. G. (2011). Torrefaction and Co- 12 Maret 2016).
Torrefaction Characterization of Hemicelluloses, Cellulose, Tumuluru, J. S., Sokhansanj, S., Hess, J. R, Wright, C. T, &
and Lignin as Well as Torrefaction of Some Basic Boardman, R. D. (2011). A review on biomass torrefaction
Constituents in Biomass. Energy, 36(2),803-11. process and product properties for energy applications.
Chew, J. J., & Doshi, V. (2011). Recent advances in biomass Ind Biotechnol, 7,384401.
pretreatment torrefaction fundamentals and technology. Tumuluru, J. S., Boardman, R. D., Christopher, T., Wright, C. T. &
Renew Sustainable Energ Rev, (15), 42124222 Hess, J. R. (2012). Some Chemical Compositional Changes
Demirbas, A. (2009). Biofuels securing the planets future energy in Miscanthus and White Oak Sawdust Samples during
needs. Energy Conversion and Management, 50(9), 2239 Torrefaction, Energies, (5), 3928-3947.
2249. http://doi.org/10.1016/j.enconman.2009.05.010

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Abdurachman, Gozan, M (2016) Kajian Proses dan Ekonomi Pabrik Bioetanol dari Tandan Kosong Kelapa Sawit Warta IHP, 33(1),24-31
Halaman |24

Kajian Proses dan Ekonomi Pabrik Bioetanol dari Tandan


Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
Process and Economic Study of Bioethanol Plant from Oil Palm Empty Fruit
Bunch (OPEFB)

Abdurachmana, dan Misri Gozanb


aBalai Besar Teknologi Pati (B2TP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (B2TP-BPPT)
Lampung Tengah, Lampung, Indonesia.

bLab Biorefinery, Program Studi Teknik Bioproses, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
Depok 16424, Indonesia.

mgozan@che.ui.ac.id

Riwayat Naskah: ABSTRAK: Salah satu tahap yang penting dalam perancangan pabrik adalah
perhitungan keekonomian yang biasanya dilakukan dengan menggunakan aplikasi
Diterima 06, 2016
Direvisi 07, 2016 simulasi proses. Beberapa penelitian terdahulu, memanfaatkan SuperPro Designer
Disetujui 07, 2016 sebagai simulasi proses, dan belum banyak yang menggunakannya pada proses
produksi bioetanol khususnya yang berbahan baku tandan kosong kelapa sawit
(TKKS). Pada simulasi ini, dilakukan empat skenario proses: (1) SHF-Adsorpsi; (2)
SHF-Permeasi Uap; (3) SSF-Adsorpsi; dan SSF-Permeasi Uap, dimodelkan
menggunakan SuperPro Designer yang memfasilitasi komposisi bahan baku dan
produk, ukuran unit operasi, konsumsi utilitas, estimasi modal dan biaya
operasional serta pendapatan dari produk dan co-product. Permodelan didasarkan
pada data yang diperoleh dari produsen etanol, penyedia jasa teknologi,
manufaktur peralatan dan jasa engineering untuk industri. Dari hasil analisis
ekonomi hasil simulasi, skenario SSF-Permeasi Uap yang paling rendah biaya
produksinya dan dapat dikembangkan di Indonesia dengan Payback period 4,07
tahun; ROI 24,55%; dan IRR 18,98%. Konversi bioetanol standar bahan bakar yang
dihasilkan pada skenario SSF-Permeasi Uap adalah 29,58%. Berdasarkan analisis
sensitivitas pada skenario tersebut, fluktuasi harga jual bioetanol, harga tepung
TKKS dan harga enzim sangat mempengaruhi nilai keekonomian pabrik bioetanol.

Kata kunci: bioetanol, tandan kosong sawit, simulasi proses, rancang pabrik, analisis sensitivitas

ABSTRACT: One of the important steps in plant design is economic analysis that
usually done by using process simulation application. Many researches have used
SuperPro Designer as simulator, andonly a few used it in bioethanol production
simulation process especially for Empty Fruit Bunches (EFB) as feedstock. In this
simulation, four scenario process models: (1) SHF-Adsorption; (2) SHF-Vapor
Permeation; (3) SSF-Adsorpstion; and (4) SSF-Vapor Permeation for ethanol
production from EFB were developed using SuperPro Designer software that
handle the composition of raw materials and product, sizing of unit operations,
utility consumption, estimation of capital and operating costs and the revenues
from products and coproducts. The models were based on data gathered from
etanol producers, technology suppliers, equipment manufacturers, and
engineering working in the industry. Based on economic analysis, scenario model
SSF-Vapor Permeation provided cost effective and can be developed in Indonesia
with Payback period of 4.07 years; ROI 24.55%; and IRR 18.98%. Converting
standard bioethanol fuel produced in SSF-case scenario is 29.58% Vapor
Permeation. Sensitivity analysis shows deviation in bioethanol selling price, EFB
powder price and enzime procesignificanty influence the bioethanol plant
economic value.
Keywords: bioethanol, empty fruit bunches, process simulation, plant design, sensitivity analysis

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 24-31
Halaman |25

1. Pendahuluan yield produk dan variabel keekonomian


berdasarkan hasil penelitian yang telah
Piranti lunak simulasi sangat bermanfaat untuk
dipublikasikan, sehingga Software SuperPro
mendesain, menganalisis dan melakukan
Designer dapat mengkalkulasi setiap tahap
penyesuaian serta perubahan suatu proses
prosedur dan simulasi dapat berjalan dengan baik.
(retrofit). Penggunaan piranti lunak simulasi juga
Beberapa data berasal dari penelitian sebelumnya
membuka peluang untuk melakukan analisis
yang dilakukan oleh riset grup Teknologi Bioproses
sensitivitas dan menggabungkannya dengan kajian
Industri, Departemen Teknik Kimia, Fakultas
optimasi, perkiraan keekonomian dan detail desain
Teknik Universitas Indonesia sejak tahun 2005.
suatu teknologi proses (Batidas et al., 2010). Salah
satu simulator proses yang biasa digunakan dalam
industri hayati adalah SuperPro Designer yang Mulai
menyediakan fasilitas untuk menyusun simulasi
proses jenis batch dan continous dan dilengkapi
dengan fasilitas analisis tekno ekonomi (Berg et al., Menentukan lokasi,
2010). ketersediaan bahan baku,
Indonesia merupakan produsen minyak sawit tahap praperlakuan, Studi literatur
kapasitas produksi, dan
terbesar di Asia Tenggara, luas perkebunan sawit di biaya produksi
seluruh Indonesia saat ini sekitar 8 juta hektar
dengan produksi rata-rata 18,03 ton tandan buah
segar (TBS) dihasilkan per hektar. Dari 144,24 ton
TBS yang dihasilkan, diperkirakan sekitar 11,38
juta ton tandan kosong kelapa sawit (TKKS)
Menyusun diagram alir
tersedia di lokasi pabrik sawit (Indonesia- berdasarkan bagian
Investments 2015). TKKS adalah material
lignoselulosa terdiri dari selulosa, hemisellosa dan
lignin.
Menyusun diagram alir proses
Sakarifikasi atau hidrolisis enzimatis dilakukan
berdasarkan unit
untuk mengkonversi selulosa dan hemiselulosa
yang tersisa menjadi gula. Ketika tahap hidrolisis
enzimatis dan tahap fermentasi dilakukan secara
Input parameter bahan baku dan bahan
berurutan, disebut hidrolisis dan fermentasi penunjang proses konversi bahan baku
terpisah (Separate Hidrolysis and Fermentation menjadi produk samping dan limbah, serta
(SFT). Kedua tahap tersebut juga dapat dilakukan analisis biaya dan kebutuhan peralatan
secara serentak yang disebut simultaneous
saccharification and fermentation (SFS) (Shen et al.,
2011).
Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan Prosedur menjalankan program
kajian disain proses dan analisis ekonomi dengan simulator
model simulasi proses produksi bioetanol berbahan
baku TKKS. Simulator Aspen Tech dan Icarus
Process Evaluatordigunakan pada bahan baku Hasil analisis keekonomian
tanaman kayu lunak dengan komposisi yang jauh
berbeda terhadap TKKS (kandungan air 50%) dan
kapasitas pabrik 24,6 ton berat kering per jam
serta operasional 8.000 jam pertahun (Wingren et
Tidak
al., 2003). Grup riset lainnya menggunakan TKKS IRR > 25%
dan melakukan simulasi dengan piranti simulator
Aspen Tech dan Icarus Process Evaluator (Erdei et
al., 2015) namun tidak melakukan perbandingan Ya
SFS dan SFT.
SuperPro
Designer Analisis sensitivitas
2. Bahan dan Metode

Penelitian ini menggunakan data-data yang


Selesai
diperoleh dari data studi literatur terutama
mengenai mengenai kapasitas pabrik, ketersediaan
Gambar 1. Diagram alir penelitian untuk perbandingan skenario
bahan baku, komposisi bahan baku, jenis unit simulasi proses produksi bioetanol
operasi, kondisi operasi di setiap unit prosedur,

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Abdurachman, Gozan, M (2016) Kajian Proses dan Ekonomi Pabrik Bioetanol dari Tandan Kosong Kelapa Sawit Warta IHP, 33(1),24-31
Halaman |26

2.1. Bahan manajemen pengiriman dan biaya penyimpanan


tidak dianalisis pada simulasi ini karena berasal
Tepung TKKS yang digunakan berasal dari hasil
dari dalam pabrik sendiri. Penambahan air 20%
riset Kassim et al., (2011) yang mengandung
dari bahan baku pada saat feeding, dimaksudkan
selulosa, hemiselulosa, lignin, mineral dan kadar air
untuk mengatasi potensi dihasilkannya debu dan
secara berurutan yaitu 48,8; 26,2; 13,5; 1,5; dan
evakuasi udara (karena udara akan menghambat
10,0 % berat kering.
transfer panas) selama proses pemindahan
bahanbaku tepung biomassa TKKS ke screw
2.2. Alat
conveyor.
Alat simulasi yang digunakan adalah SuperPro Waktu tinggal (residence time) untuk
Designer versi 9 (Academic License, Intelligent. Co.) praperlakuan steam explosion pada simulasi ini
milik Departemen Teknik Kimia, Universitas adalah 10,5 menit. Kandungan bahan yang tidak
Indonesia. larut dalam air ditentukan 25%. Nilai konversi
ditargetkan sama dengan data literatur, yaitu 15%
2.3. Metode untuk konversi selulosa menjadi glukosa dan 84%
untuk konversi hemiselulosa menjadi xylosa
Ada 4 skenario pabrik yang disimulasikan yang dengan rendemen padatan (solid yield) setelah
merupakan kombinasi dari (1) SFT-Adsorpsi; (2) praperlakuan 51,1% (Ying et al.,. 2014).
SFS-Adsorpsi; (3) SFT-Permeasi uap; dan (4) SFS-
Permeasi uap, menggunakan SuperPro Designer, 3.1. Penentuan rasio
untuk kondisi operasi untuk tiap prosedur di tiap
unit operasi, dilakukan studi literatur mengenai: Perhitungan kebutuhan enzim dilakukan
kebutuhan, komposisi dan biaya untuk bahan baku, berdasarkan komposisi selulosa pada aliran ke
bahan penunjang, bahan habis pakai (consumables); hidrolisis enzimatis dan ditampilkan pada tabel 1.
ukuran dan biaya peralatan untuk setiap unit Asumsi pemakaian enzim adalah 15 filter paper unit
operasi; biaya dan pemakaian utilitas; dan harga per gram (FPU/g) selulosa; produksi enzim
jual produk dan co-product. Berdasarkan hasil dilakukan secara on-site dengan aktifitas enzim 600
simulasi diperoleh nilai keekonomian untuk PBP, FPU/g (Kumar & Murthy, 2011).
IRR dan NPV dari setiap skenario model simulasi.
Analisis sensitivitas untuk fluktuasi harga jual Tabel 1
Menentukan ratio broth enzim/substrat
bioetanol , harga bahan baku, biaya listrik, gaji
operator dan biaya produksi enzim dilakukan Aktifitas enzim (FPU/Kg) 6.0 x 105
untuk skenario model simulasi yang dapat Dosis enzim per ton sellulosa (FPU/ton
1.5 x 107
dikembangkan di Indonesia. selulosa)
Diagram alir yang disusun pada simulator Selullose input (ton/jam) 16.575
SuperPro untuk skenario desain proses SFT terdiri Total dosis enzim yang dibutuhkan
2.48625 x 108
dari tahap: penanganan bahan baku, pra-perlakuan (FPU/jam)
steam explosion, sakarifikasi, pembiakan yeast, Kebutuhan enzim (ton/jam) 0,414
fermentasi, distilasi dan dehidrasi. Sedangkan pada Total broth enzim (ton/jam) 2,76
skenario desain proses SFS terdiri dari tahap:
Rasio broth enzim /substrat 0,1665
penanganan bahan baku, pra-perlakuan steam
explosion, pengkondisian sebelum inokulasi,
pembiakkan yeast, fermentasi, destilasi dan 3.2. Pembiakkan yeast
dehidrasi. Pembiakkan recombinant strainxylose
fermenting yeast Sacharomyces cerevisiae TMB
3. Hasil dan Pembahasan 3400 dilakukan dengan kultivasi aerobik dalam
media glukosa, dilanjutkan dengan kultivasi
Sampel TKKS yang digunakan berasal dari dua aerobik kontinyu di cairan hidrolisat TKKS untuk
buah perkebunan Badan Usaha Milik Negara adaptasi sehingga toleransi terhadap inhibitor
berlokasi di Provinsi Sumatera Utara yang bergerak meningkat. Persentase inokulum tergantung pada
di bidang usaha agro industri, terutama komoditas waktu saat mencapai fase log/eksponensial,
sawit dengan kapasitas masing-masing 555 dan dibutuhkan inokulum sebanyak 5% - 10%
575 ton tandan buah segar perjam. Potensi tepung (Olofsson et al., 2008). Mikroba anaerobik fakultatif
sawit yang tersedia adalah 108,8 ton/jam dengan tidak memerlukan oksigen untuk metabolisme tapi
kandungan air 10%). dapat tumbuh dengan adanya oksigen. Pada
Bahan baku yang digunakan pada simulasi keadaan kekurangan oksigen, mikroba jenis ini
proses produksi bioetanol adalah 40 ton/jam (37% mengalami respirasi anaerobik atau fermentasi.
dari estimasi potensi tepung TKKS yang tersedia,
dengan asumsi biaya transportasi, biaya

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 24-31
Halaman |27

3.3. Proses Sakarifikasi dan Fermentasi Terpisah berada dalam siklus dehidrasi, maka yang lain
(SFT) berada dalam siklus regenerasi. Pada unggun
pertama dilewatkan uap bioetanol azeotropic dari
Pada simulasi SFT proses dibagi menjadi dua tahap
rectifying column melalui heater, untuk
terpisah yaitu hidrolisis enzimatis dan fermentasi.
meningkatkan tekanan hingga 25 psig. Regenerasi
Pada tahap pertama, haloselulosa dihidrolisis
dilakukan dengan mensirkulasi 15% dari uap
selama 48 jam pada suhu 50 oC. Pada tahap kedua,
etanol anhidrous kondisi superheated untuk unggun
hasil hidrolisis diinokulasi setelah terlebih dahulu
kedua, bertujuan untuk memisahkan kadar air yang
diturunkan suhunya menjadi 32 oC. (tabel 2)
terakumulasi pada siklus dehidrasi sebelumnya.
(Kassim et al., 2011).
Bioetanol yang dihasilkan memiliki kadar 99,5%
Tabel 2 (w/w) (Batidas et al., 2010).
Kondisi dan hasil untuk sakarifikasi dan fermentasi terpisah
Sakarifikasi 3.6. Estimasi biaya modal dan biaya operasional
Suhu (oC) 50
Pada penentuan biaya unit prosedur membran,
Residence time (jam) 48 diasumsikan bahwa total capital investment dari
Konversi Selulosa menjadi Glukosa (%) 0,90 unit prosedur membran secara linear sesuai
Konversi hemiseluosa menjadi xilosa (%) 0,60 dengan seluruh permukaan membran yang
Fermentasi digunakan, dan konstanta yang digunakan adalah
Rp 21.817.350/m2, yang sudah termasuk biaya
Suhu (oC) 32
pompa, tangki vakum, peralatan kontrol dan
Residence time (jam) 48 lainnya (Kunnakorn et al., 2013).
Konversi glukosa menjadi etanol (%) 0,95 Berdasarkan informasi penggunaan membran
Konversi xilosa menjadi etanol (%) 0,40 NaA zeolite jenis tubular, dibutuhkan 45 m2
membran jenis tersebut untuk kapasitas produksi
3.4. Proses Sakarifikasi dan Fermentasi Serentak 465 kg/jam etil alkohol 99,5% dengan jumlah
(SFS) permeasi air sebanyak 49,3 kg/jam (Kita et al.,
2003). Dari hasil simulasi, untuk permeasi air
Pada simulasi SFS proses terjadi dua tahap sebanyak 716 kg/jam untuk SFT dan 766 kg/jam
seperti pada SFT namun berlangsung serentak untuk SFS, maka dibutuhkan luas membran 653
dalam satu reaktor yaitu sakarifikasi dan dan 698 m2 untuk SFT dan SFS, secara berurutan.
fermentasi. Pengkondisian sebelum inokulasi Analisis modal di simulator SuperPro Designer di
selama 4 jam dilakukan pada suhu 50 oC, bertujuan sebut Direct Fixed Capital Cost (DFC) yang
untuk memastikan jumlah konsentrasi glukosa merupakan gabungan dari biaya keseluruhan
cukup tinggi untuk mengaktifasi fermentasi yeast pembangunan pabrik (Total Plant Cost (TPC)) dan
dan biomass liquefaction yang lebih baik sehingga biaya tambahan (Contractors Fee & Contigency
transfer massa lebih efisien. Kemudian (CFC) yang ditunjukkan di tabel 4, biaya
SFSdijalankan selama 62 jam pada suhu 37 oC (tabel operasional pabrik per tahun (tabel 5) dan analisis
3) (Shen et al., 2011). keuntungan (tabel 6) untuk setiap skenario.
Analisis keekonomian didasarkan pada
Tabel 3
Kondisi proses sakarifikasi dan fermentasi serentak (SFS) parameter waktu tahun analisis dan konstruksi
Pra Inokulasi awal di tahun 2014, operasional pabrik 350 hari
oC per tahun, konstruksi selama 24 bulan dan periode
Suhu 50
startup adalah 4 bulan dan waktu proyek selama 15
Residence time 4 jam tahun; pemakaian modal investasi di tahun pertama
Sakarifikasi dan Fermentasi sebanyak 30%, tahun kedua sebanyak 40% dan
Suhu 37 oC tahun ketiga sebanyak 30%; pada depresiasi
Residence time 62 jam peralatan, perhitungan menggunakan metoda
Konversi selulosa menjadi glukosa 0,85 % straight line, untuk periode 10 tahun dengan
Konversi hemiseluosa menjadi % salvage value 5% dari DFC; dan pajak pendapatan
0,50
xilosa 40%. Analisis biaya untuk peralatan di setiap unit
Konversi glukosa menjadi etanol 0,90 % operasi akan diestimasi berdasarkan data publikasi
Konversi xilosa menjadi etanol 0,70 % dari produsen etanol, penyedia jasa teknologi,
manufaktur peralatan industri dan penyedia jasa
3.5. Pressure Swing Dehidration (PSD) engineering di bidang industri. Jika dilakukan
perubahan ukuran peralatan, biaya peralatan akan
Proses dehidrasi PSD menggunakan molecular ditentukan oleh exponential scaling expression.
sieve beroperasi dengan siklus Penyesuaian harga peralatan untuk tahun analisis
dehidrasi/regenerasi. Saat salah satu unggun menggunakan Chemical Engineering Plant Cost

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Abdurachman, Gozan, M (2016) Kajian Proses dan Ekonomi Pabrik Bioetanol dari Tandan Kosong Kelapa Sawit Warta IHP, 33(1),24-31
Halaman |28

Tabel 4
Estimasi modal untuk setiap skenario

Biaya Fisik (Total Plant Direct Cost (TPDC)) SHF-Adsorpsi SHF-VP SSF-Adsorpsi SSF-VP
(Juta Rupiah) (Juta Rupiah) (Juta Rupiah) (Juta Rupiah)
Biaya Pembelian Peralatan (Purchase Cost (PC)) 375.368 298.458 327.497 261.158
Pemasangan 104.747 83.309 90.707 71.618
Pemipaan 73.697 58.658 66.272 54.905
Instrumentasi 36.666 29.160 31.752 25.070

Insulasi 41.891 33.318 36.275 28.647

Jaringan listrik dan fasilitasnya 3.146 2.498 2.727 2.147

Bangunan 10.476 8.330 9.072 7.155


Biaya penggalian, jalan, pagar, fasilitas pemadam
47.129 37.490 40.811 32.225
kebakaran dan parkir dan lain-lainnya.
15.714 12.501 13.608 10.746

Fasilitas tambahan 41.891 33.318 36.275 28.647

Biaya tidak langsung (Total Plant Indirect Cost (TPIC)) 225.221 179.078 196.493 156.695

Biaya Engineering (penyiapan dokumen desain seluruh


proses (lembar desain dan spesifikasi untuk peralatan,
93.839 74.615 81.878 65.286
instrumentasi dan pendukung, desain software komputer
untuk kontrol))
Biaya konstruksi seluruhnya 131.382 104.463 114.629 91.409

Biaya Pabrik (Total Plant Cost (TPC)) 600.575 477.536 523.989 417.852
Biaya Tambahan (Contractors Fee & Contigency( CFC)) 90.086 71.631 78.597 62.681
Keuntungan untuk kontraktor 30.024 23.882 26.204 20.898

Biaya konpensasi untuk hal yang tidak diharapkan selama


60.062 47.750 52.394 41.783
proses konstruksi

Estimasi Modal (Direct Fixed Capital Cost (DFC) 690.660 549.167 602.586 480.533

Index. Biaya working capital diestimasi dari 30 hari TKKS berbasis harga TKKS basah Rp 13.500/ton
pemakaian bahan baku, utilitas, pengolahan limbah sebesar Rp 198.450/ton. Sedangkan estimasi harga
dan gaji operator, sedangkan biaya startup tepung biomassa (kadar air 10%) menggunakan
diestimasi sebagai 5% dari DFC. Estimasi biaya teknologi Nanomass System dengan bahan baku
ketergantungan pada fasilitas (FDC) menyertakan limbah industri sawit dengan (kadar air 20%)
perawatan untuk seluruh peralalatan, depresiasi sebesar 2,5 dari harga biomassa hasil shreeding
untuk peralatan dan biaya asuransi (1% dari DFC), (Mamat & Aziz, 2014). Maka pada simulasi ini
pajak lokal (2% dari DFC) dan pengeluaran pabrik diasumsikan harga tepung TKKS Rp 499.500/ton.
(5% dari DFC). Bahan penunjang yang digunakan pada simulasi
Berdasarkan perhitungan terdahulu dengan ini terdiri dari: air bawah tanah dengan asumsi
memperhatikan nilai biaya produksi, yield etanol harga Rp 4.050/ton, (termasuk pajak pemanfaatan
terhadap biomassa; konversi heksosa, pentosa air bawah tanah); High Pressure Steam, dibeli dari
menjadi etanol; dan persyaratan harga jual etanol, unit pembangkit listrik berbahan bakar biomassa di
maka jumlah bahan baku yang digunakan pada sekitar lokasi pabrik, dengan estimasi harga Rp
simulasi 40 ton/jam tepung TKKS. 224.650/ton, karena stillage yang dihasilkan akan
Penentuan harga bahan baku tepung TKKS akan dimanfaatkan oleh unit pembangkit listrik
mempertimbangkan biaya tahap streeding dan tersebut dengan harga jual Rp 21.600/ton (Macrelli
biaya penepungan. Estimasi harga hasil shreeding et al., 2012); produksi enzim, berdasarkan estimasi
cost untuk enzim selulase,

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 24-31
Halaman |29

Tabel 5
Estimasi biaya operasional per tahun (AOC) untuk setiap skenario
SHF Adsorpsi (Juta SHF- VP SSF Adsorpsi SSF- VP
Rupiah) (Juta Rupiah) (Juta Rupiah) (Juta Rupiah)
Bahan Baku dan Bahan Pendukung 703.877 703.877 703.890 703.890
Operator 1.377 1.377 1.526 1.526
Biaya untuk pemanfaatan fasilitas 128.223 101.750 111.686 88.803
Kebutuhan Bahan yang mengalami
41 13.325 41 14.243
penggantian (Consumables)
Pengolahan limbah 9.572 95.715 9.572 9.572
Pemakaian utilitas 175.689 166.941 180.185 172.152
Total AOC 1.018.778 996.854 1.006.884 990.185
Baseline cost produksinya adalah Rp 136.890/kg berdasarkan Upah Minimum Propinsi Sumatera
protein cellulose (Klein-Marcuschamer et al., 2012). Utara, yaitu Rp 2.180.000. Maka perhitungan
Umumnya broth enzim mengadung protein perjamnya adalah Rp 12.420/jam, dengan asumsi:
sebanyak 15% (Roche et al., 2009), dengan asumsi $1 = Rp 13.500; Jam kerja selama 9 jam per hari; 22
aktifitas enzim adalah 600 FPU/g (Kumar & hari perbulan.
Murthy, 2011); Ammonium Sulfat, sebagai sumber Untuk utilitas, estimasi biayanya adalah: harga
nitrogen untuk yeast, dengan asumsi harga Rp listrik, diasumsikan, pabrik bioetanol berlokasi di
1.300/kg (Do et al., 2015); yeast yang digunakan dekat pabrik sawit yang memiliki unit pembangkit
adalah strain jenis Saccharomyces cerevisiae, TMB listrik sehingga listrik yang dibutuhkan, akan dibeli
3400 dengan sifat thermotolerant dan dari unit pembangkit listrik tersebut dengan
memanfaatkan gula heksosa dan pentosa sebagai estimasi Rp 8.100 /kWh (Kazi et al., 2010); steam
sumber karbon (Erdei et al., 2013). Disimpan dan air pendingin merupakan utilitas yang tersedia
dengan slant culture dalam lemari pendingin dengan biaya Rp 229.500/ton untuk steam dan Rp
bersuhu 5 oC. 675/ton untuk air pendingin.
Untuk unit dehidrasi, pemakaian bahan habis Pendapatan dari simulasi ini adalah seluruh
pakai untuk adsorpsi adalah molekular sieve perolehan saat pabrik beroperasi, yang terdiri dari
ukuran 3A-ED Gethanol grade dengan equilibrium produk utama (revenue) dan produk samping
water capacity 21%; bulk density 750 kg/m3; (credit). perolehan dari produk utama yaitu
diameter 5 mm, dengan harga Rp 40.500/kg. Masa Bioetanol standar bahan bakar, dan perolehan dari
pakai molekular sieve diasumsikan selama 40.000 co-product: stillage dengan harga Rp 21.500/ton;
jam operasional, sedangkan pada dehidrasi perolehan dari gas CO2 adalah Rp 135 /kg, dengan
menggunakan metode permeasi uap, bahan habis asumsi, konsumen akan menginvestasikan unit
pakai yang digunakan adalah membran NaAzeolite pemurnian gas CO2 (Do et al., 2015).
yang digunakan panjang 30 cm, diameter 1,5 cm Konversi bioetanol standar bahan bakar yang
dengan biaya produksi Rp 880.650 (Kunnakorn et dihasilkan pada skenario SFS-Permeasi Uap adalah
al., 2013). Membranelifetime diasumsikan selama 3 29,58%:
tahun (Szitkai et al., 2002); gaji operator dihitung
Tabel 6
Analisis Keuntungan untuk Setiap Skenario
SHF Adsorpsi SHF- VP SSF Adsorpsi SSF- VP
(Juta Rupiah) (Juta Rupiah) (Juta Rupiah) (Juta Rupiah)
A. Modal Langsung (DFC) 51.160.000 40.679.000 44.636.000 35.595.000
B. Modal Kerja(diestimasi berdasarkan
30 hari kerja untuk operator, bahan
baku dan bahan penunjang, 5.654.000 5.599.000 5.684.000 5.633.000
pemakaian utilitas dan pengolahan
limbah)
C. Biaya Startup (diestimasi 5% dari
2.558.000 2.034.000 2.232.000 1.780.000
nilai DFC)
D. Total Investasi (A+B+C) ($) 59.373.000 48.312.000 52.551.000 43.007.000
E. Pendapatan dari produk utama 77.503.343 77.489.119 82.947.997 82.940.816
F. Pendapatan dari coproduct 2.329.877 2.329.877 2.364.730 2.364.730
G. AOC actual 75.465.000 73.841.000 74.584.000 73.347.000
H. AOC net (G-F) 73.130.000 71.511.000 72.219.000 70.982.000
I. Keuntungan Sebelum pajak (E-I) 4.369.000 5.978.000 10.729.000 11.959.000
J. Pajak (40%) 1.747.000 2.391.000 4.292.000 4.783.000
K. Keuntungan setelah Pajak (I-
7.481.000 7.451.000 10.678.000 10.557.000
J+Depresiasi)
Depresiasi untuk 10 tahun 4.860.000 3.865.000 4.240.000 3.381.000

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Abdurachman, Gozan, M (2016) Kajian Proses dan Ekonomi Pabrik Bioetanol dari Tandan Kosong Kelapa Sawit Warta IHP, 33(1),24-31
Halaman |30

Tabel 7
Estimasi biaya produksi dan kelayakan investasi untuk setiap skenario
SFT Adsorpsi SFT VP SSF Adsorpsi SSF VP

Biaya Produksi (AOC aktual / jumlah yang


dihasilkan setiap tahun untuk produk utama) 684,375 665,625 628,125 618,75
(Rp/L)
Biaya produksi net (AOC net/jumlah yang
dihasilkan setiap tahun untuk produk utama dan co- 665,625 646,875 609,375 600
product(Rp/L)
Margin sebelum pajak (keuntungan sebelum
pajak/pendapatan dari produk utama dikalikan 5,64 7,71 12,93 14,42
100%) (%)
Return of Investment (keuntungan setelah
12,60 15,42 20,32 24,55
pajak/total investasi dikalikan 100%) (%)
Pelunasan modal (total investasi/keuntungan
7,94 6,48 4,92 4,07
setelah pajak) (tahun)
Tingkat efisiensi suatu investasi (Internal Rate of
4,61 8,20 14,77 18,98
Return (IRR)) (%)

pada skenario SFS-Permeasi Uap adalah 29,58%


berat bioetanol/berat kering TKKS. Fluktuasi harga
tepung TKKS , harga enzim dan harga bahan baku
Limbah yang dihasilkan dialirkan ke dalam
tepung TKKS akan sangat mempengaruhi nilai
beberapa kolam penampungan limbah. Pada keekonomian proses produksi bioetanol standar
simulasi ini, biaya pengolahan limbah cair adalah
bahan bakar.
Rp 27.000/ton (Kumar & Murthy, 2011).
Ucapan terima kasih
3.7. Analisis Keuntungan
Terimakasih kepada pemerintah Republik
Analisis estimasi biaya produksi (tabel 7)
Indonesia dalam hal ini Kementerian RISTEK DIKTI
menunjukkan bahwa untuk skenario SFT-Adsorpsi
(sebelumnya adalah Kementerian Pendidikan
memberikan nilai biaya produksi tertinggi (0,71
Nasional) yang telah mendanai riset ini melalui
US$/liter etanol standar bahan bakar)
skema Hibah Kompetitif DIKTI Kemendiknas
dibandingkan skenario lainnya, sehingga nilai
berjudul Produksi Bioetanol dari Tandan Kosong
untuk ROI, PBP dan IRR nya lebih rendah (ROI =
Sawit melalui Perlakuan Awal dan Hidrolisis
12,60%; PBP = 7,94 tahun; dan IRR = 4,61%).
Tahun 2012-2014.
Sedangkan skenario SSF-Permeasi Uap
memberikan nilai biaya produksi terendah (Rp
Daftar Pustaka
8.640/liter etanol standar bahan bakar), dengan
nilai IRR > 15% (IRR skenario SSF-Permeasi Uap Alriksson, B., Cavka, A., & Jnsson, L. J. (2011). Improving the
adalah 18,98 % untuk harga jual etanol standar fermentability of enzymatic hydrolysates of lignocellulose
bahan bakar Rp 10.125/liter). through chemical in-situ detoxification with reducing agents.
Analisis sensitivitas terhadap skenario SSF- Bioresource Technology, 102(2), 12541263.
http://doi.org/10.1016/j.biortech.2010.08.037
Permeasi Uap untukNPV, IRR, PBP dan ROI Batidas, P. A., I.D Gil, & G. Rodriguez. (2010). Comparison of the
menunjukkan bahwa fluktuasi harga jual bioetanol Main Ethanol Dehydration Technologies through Process
standar bahan bakar, harga bahan baku tepung Simulation. 20th European Symposium on Computer Aided
TKKS dan harga enzim akan mempengaruhi nilai Process Engineering ESCAPE20.Elsevier B. V.
Berg, S., G. Brobst, J. Edmons, A. McGuire, R. Menard, & B. Tracy.
keekonomiannya. (2010). SuperPro Designer User's Manual. Intelegen Inc.
Cardona, C. A., & Snchez, . J. (2007, September). Fuel ethanol
4. Kesimpulan production: Process design trends and integration
opportunities. Bioresource Technology, 98(12), 2415-57
Chandel, A. K., Chandrasekhar, G., Radhika, K., Ravinder, R., &
Berdasarkan hasil simulasi proses produksi Ravindra, P. (2011). Bioconversion of pentose sugars into
bioetanol berbahan baku tepung tandan kosong ethanol: A review and future directions. Biotechnology and
sawit, disimpulkan bahwa skenario yang sesuai Molecular Biology Review, 6(1), 820. Retrieved from
untuk diaplikasikan di Indonesia dengan http://www.academicjournals.org/BMBR
Do, T. X., Lim, Y.-I., Jang, S., & Chung, H.-J. (2015). Hierarchical
memanfaatkan potensi bahan baku yang tersedia, economic potential approach for techno-economic evaluation
adalah skenario desain proses SFS-Permeasi Uap of bioethanol production from palm empty fruit bunches.
dengan nilai keekonomian hasil simulasi untuk PBP Bioresource Technology, 189, 224235.
4,07 tahun; ROI 24,55%; dan IRR 18,98%. Konversi http://doi.org/10.1016/j.biortech.2015.04.020
Erdei, B., Galbe, M., & Zacchi, G. (2013). Simultaneous
bioetanol standar bahan bakar yang dihasilkan saccharification and co-fermentation of whole wheat in

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 24-31
Halaman |31
integrated ethanol production. Biomass and Bioenergy, 56, Kunnakorn, D., Rirksomboon, T., Siemanond, K., Aungkavattana,
506514 P., Kuanchertchoo, N., Chuntanalerg, P., Wongkasemjit, S.
Gnansounou, E., & A. Dauriat. (2011). Techno-economic Analysis (2013). Techno-economic comparison of energy usage
of Lignocellulosic Ethanol: a Review. Bioresource Technology between azeotropic distillation and hybrid system for water-
101(13): 4980-4991. ethanol separation. Renewable Energy, 51, 310316
Hayashi, Y., Sugiyama, S., Kawanishi, T., & Shimizu, N. (1999). Macrelli, S., Mogensen, J., & Zacchi, G. (2012). Techno-economic
Kinetics of sorption and permeation of water in glassy evaluation of 2nd generation bioethanol production from
polyimide. Journal of Membrane Science, 156(1), 1116 sugar cane bagasse and leaves integrated with the sugar-
Indonesia-Investments. 2015. Palm Oil in Indonesia. from based ethanol process. Biotechnology for Biofuels, 5(1), 22.
Indonesian CPO Production & Export _ Indonesia Retrieved from
Investments.htm: http://www.indonesia- http://www.biotechnologyforbiofuels.com/content/5/1/22
Investments.com/business/commodities /palm-oil/item166. 17 Mamat, R., & A. A. Aziz. (2014). Production of Powdered Plant
Mei 2015. Kernel Shell Using a Nano Mass Plant. Malaysian Palm Oil
Kahar, P., Taku, K., & Tanaka, S. (2010). Enzymatic digestion of Board.Persiaran Institute. Selangor
corncobs pretreated with low strength of sulfuric acid for Muhammad, S, M. Gozan, H. Hermansyah, B. Prasetya, M. Nasikin,
bioethanol production. Journal of Bioscience and & T. Watanabe. 2008.Ethanol Production from Bagasse with
Bioengineering, 110(4), 453458. Combination of Cellulase-Cellubiase in Simultaneous
http://doi.org/10.1016/j.jbiosc.2010.05.002 Saccharification and Fermentation (SSF) using White Rot
Kassim, M. A., Kheang, L. S., Bakar, N. A., Aziz, A. A., & Som, R. M. Fungi Pre-Treatment, Journal of Chemical and Natural
(2011). Biothanol Production from Enzymatically Resources Engineering, 3, 20-32
Saccharified Empty Fruit Bunches Hydrolysate using Olofsson, K., Rudolf, A., & Lidn, G. (2008). Designing
Saccharomyces cerevisiae. Research Journal of Environmental simultaneous saccharification and fermentation for improved
Sciences. http://doi.org/10.3923/rjes.2011.573.586 xylose conversion by a recombinant strain of Saccharomyces
Kazi, F. K., Fortman, J. A., Anex, R. P., Hsu, D. D., Aden, A., Dutta, A., cerevisiae. Journal of Biotechnology, 134(12), 112120
& Kothandaraman, G. (2010). Techno-economic comparison Pedersen, M., Johansen, K. S., & Meyer, A. S. (2011). Low
of process technologies for biochemical ethanol production temperature lignocellulose pretreatment: effects and
from corn stover. Fuel, 89(SUPPL. 1) interactions of pretreatment pH are critical for maximizing
Kita, H., Okamoto K. I., Yamamura, T & Abe, J. (2003). Zeolite enzymatic monosaccharide yields from wheat straw.
Membranes for Fuel Ethanol Production. Fuel Chemistry Biotechnology for Biofuels, 4, 11.
Division Preprints, 48(1), 438. http://doi.org/10.1186/1754-6834-4-11
Klein-Marcuschamer, D., Oleskowicz-Popiel, P., Simmons, B. A., & Roche, C. M., Dibble, C. J., Knutsen, J. S., Stickel, J. J., & Liberatore,
Blanch, H. W. (2012). The challenge of enzyme cost in the M. W. (2009). Particle concentration and yield stress of
production of lignocellulosic biofuels. Biotechnology and biomass slurries during enzymatic hydrolysis at high-solids
Bioengineering, 109(4), 10831087 loadings. Biotechnology and Bioengineering, 104(2), 290300
Kumar, D., & Murthy G. S. (2011). Impact of Pretreatment and Snchez, . J., & Cardona, C. A. (2008, September). Trends in
Downstream Processing Technologies on Economics and biotechnological production of fuel ethanol from different
Energy in Cellulosic Ethanol Production. Biotechnology for feedstocks. Bioresource Technology 99(13), 5270-5295.
Biofuels, 4(1), 1-27.
Scragg, A. H. 2009. Biofuels: Production, Application and Performance.Editor Ahindra Nag. Mc Graw Hill Companies
Development. Cambridge, Massachusetts USA. Inc. New York
Shen, F., Kumar, L., Hu, J., & Saddler, J. N. (2011). Evaluation of Wingren, A., Galbe, M., & Zacchi, G. (2008). Techno-economic
hemicellulose removal by xylanase and delignification on evaluation of producing ethanol from softwood: comparison
SHF and SSF for bioethanol production with steam- of SSF and SHF and identification of bottlenecks.
pretreated substrates. Bioresource Technology, 102(19), Biotechnology Progress, 19(4), 110917.
894551. http://doi.org/10.1016/j.biortech.2011.07.028 http://doi.org/10.1021/bp0340180
Szitkai, Z., Lelkes, Z., Rev, E., & Fonyo, Z. (2002). Optimization of Ying, T. Y., Teong, L. K., Abdullah, W. N. W., & Peng, L. C. (2014).
hybrid ethanol dehydration systems. Chemical Engineering The Effect of Various Pretreatment Methods on Oil Palm
and Processing, 41(7), 631646. Empty Fruit Bunch (EFB) and Kenaf Core Fibers for Sugar
Taherzadeh, M. J. & K. Karimi, K. (2008). Bioethanol: Market and Production. Procedia Environmental Sciences, 20, 328335.
Production Processes. Biofuel Refining and http://doi.org/10.1016/j.proenv.2014.03.041

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Priyantono, E., Purwanto, Y. A, & Sobir (2016) Penyimpanan Dingin Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Varietas Bima Brebes, Tajuk,
dan Bali Karet Warta IHP, 33(1),32-38
Halaman | 32

Penyimpanan Dingin Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)


Varietas Bima Brebes, Tajuk, dan Bali Karet
Low Temperature Storage of Shallot (Allium ascalonicum L.)
Variety of Bima Brebes, Tajuk, and Bali Karet

Eko Priyantonoa, Yohanes Aris Purwantob,d, dan Sobirc,d


aProgram Studi Teknologi Pascapanen, Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor
Jl. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680
bDepartemen Teknik Mesin dan Biosistem, Institut Pertanian Bogor

Jl. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680
cDepartemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor

Jl. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

d Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor


Jl. Raya Pajajaran, Kampus IPB Baranangsiang Bogor 16141

arispurwanto@gmail.com

Riwayat Naskah: ABSTRAK: Bawang merah sebagai komoditas hortikultura memiliki permintaan
yang cukup tinggi diketahui sebagai bahan segar yang cepat mengalami
Diterima 06, 2016
Direvisi 07, 2016 penurunan mutu secara fisik maupun kimia. Teknik penyimpanan suhu rendah
Disetujui 07, 2016 merupakan salah satu metode penanganan pascapanen bawang merah untuk
mempertahankan mutunya hingga ketangan konsumen. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisa pengaruh suhu penyimpanan terhadap perubahan mutu
bawang merah serta mengetahui respon beberapa varietas bawang merah
terhadap penyimpanan pada suhu rendah. Bawang merah yang digunakan dalam
penelitian ini adalah varietas Bima Brebes, Tajuk dan Bali Karet. Sampel bawang
merah dikemas ke dalam plastik net masing-masing sebanyak 2 kg dan disimpan
di suhu 0 dan 5oC RH 65-70% dan suhu ruang 25-32 oC dengan RH 50-88% selama
3 bulan. Hasil pengukuran menunjukkan suhu penyimpanan 0oC dapat
mempertahankan kualitas bawang merah hingga akhir penyimpanan tanpa
ditemukan kerusakan umbi untuk semua varietas. Kerusakan tertinggi yaitu
35.81%,ditemukan untuk varietas Bima Brebes yang disimpan pada suhu 5oC.

Kata kunci: bawang merah, penyimpanan suhu rendah, kualitas, kerusakan

ABSTRACT: Shallot can be classified as a perishable horticultural product. Low


temperature storage is a common method in extending self-life and maintaining
freshness of perishable horticultural products. The objectives of this study were to
determine optimum temperature storage of shallot and to analyze the effect of
different temperature storage conditions on the quality of shallot variety of Bima
Brebes, Tajuk, and Bali Karet. A sample of shallots was packed into the plastic net.
Each packaging contained 2kg of shallots. Storage temperature was set at 0 and
5oC with RH 65-70% and room temperature (25-32oC) with RH 50-88 %. The
period of storage was set for 3 months. The experiments were carried out in
triplicate. The results showed that temperature of 0oC could maintain the quality
of shallot up to 3 months with no disorder shallot bulb was found for all varieties.
The highest disorder bulb i.e. 35.81% was found for shallots variety of Bima
stored at 5oC.

Keywords: shallot,bulb disorder, low-temperature storage, quality change.


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 32-38
Halaman | 33

mutunya. Oleh karena itu, penyimpanan dengan


1. Pendahuluan
suhu yang lebih rendah (0oC) dengan beberapa
Bawang merah (Allium ascalonicum L.)
varietas perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan
merupakan komoditas hortikultura yang biasa
untuk menganalisa pengaruh suhu penyimpanan
digunakan sebagai penyedap masakan, bahan baku
terhadap perubahan mutu bawang merah serta
industri makanan dan obat-obatan, disukai karena
mengetahui respon beberapa varietas bawang
aroma dan rasanya yang khas. Konsumsi bawang
merah terhadap penyimpanan pada suhu rendah.
merah penduduk Indonesia sejak tahun 1993-2012
menunjukkan perkembangan yang fluktuatif
2. Bahan dan Metode
namun relatif meningkat. Konsumsi rata-rata
bawang merah untuk tahun 1993 adalah 1.33
2.1. Bahan
kg/kapita/tahun dan pada tahun 2012 telah
mencapai 2.76 kg/kapita/tahun (Dirjen
Bahan utama yang digunakan pada penelitian
Holtikultura, 2013). Tingkat konsumsi bawang
adalah bawang merah varietas Bima Brebes, Tajuk,
merah tertinggi terjadi pada 2007 yaitu 3.01
dan Bali karet dengan umur 60 hst (hari setelah
kg/kapita/tahun dengan volume total permintaan
tanam), kemasan rajut plastik dan kemasan plastik
bawang merah sebesar 901.10 ton, sedangkan
klip. Bahan kimia yang digunakan adalah HNO 3,
konsumsi terendah terjadi pada tahun 2013
HClO4, BaCL2, kapur (CaCO3) dan silica gel.
sebesar 2.06 kg/kapita/tahun (Badan Pusat
Statistik, 2013). Tahun 2015 besarnya konsumsi
bawang merah sekitar 2.30 kg/kapita/tahun atau 2.2. Alat
naik 0.04% dari tahun 2014 (Kementan, 2014). Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
Bawang merah memiliki produktifitas yang refrigerator (Mitsubishi) untuk penyimpanan
dipengaruhi oleh musim. Khususnya di daerah bawang pada suhu 0oC dan 5C, jangka sorong,
Brebes, musim tanam atau on season dilakukan termometer, hygrometer (Opus 10) untuk
pada bulan April, Juli, dan Oktober sehingga panen pengukuran RH, oven (Izuzu), timbangan analitik
dapat terjadi pada bulan Juni, September, dan (Adam PW 184 dan mettle PM 4800), rheometer
Desember sedangkan off season atau musim luar (CR-300) untuk pengujian kekerasan bawang dan
tanam pada bulan Januari Maret. Pada saat musim alat analisa Atomic Absorbtion Spectrophotometer
panen maka bawang merah akan tersedia dalam (AAS).
jumlah yang banyak tetapi dengan harga yang
rendah, namun apabila sudah melewati musim 2.3. Metode
tanam maka persediaan bawang merah nasional
menjadi menurun drastis dengan harga yang tinggi Penelitian ini menggunakan bawang merah
(Mutia et al., 2015). askip yaitu bawang merah yang telah mengalami
Pascapanen bawang merah memerlukan proses curring dan pengeringan di lahan selama
penanganan khusus, karena bawang merah mudah 14 hari. Kemudian bawang merah di angkut
rusak dan sulit dipertahankan dalam bentuk segar. menggunakan transportasi darat dari Brebes
Metode penyimpanan yang diterapkan pada menuju ke tempat penelitian (Bogor, Dramaga).
bawang merah juga memiliki pengaruh terhadap Pengukuran kadar air dilakukan pada saat bawang
mutu bawang merah. Penyimpanan bawang merah merah sampai di tempat penelitian, apabila kadar
yang umum dilakukan di Indonesia adalah secara airnya masih tinggi maka dilakukan penurunan
tradisional pada suhu 25-30oC dengan RH 70%. hingga kadar air 82%.
Penyimpanan pada suhu rendah berkisar 7-10oC Bawang merah disortir berdasarkan umbi
masih terdapat banyak kerusakan pada umbi yang terserang hama, umbi yang mengalami
bawang merah karena pertunasan (Mutia et al., kerusakan serta diameter umbi. Penelitian ini
2015). Tingginya pertunasan pada suhu10oC menggunakan sampel sebanyak 2 kg bawang
disebabkan karena pada suhu tersebut terjadi merah. Setiap perlakuan kemudian dikemas dengan
peningkatan aktifitas enzim dan giberelin dalam sel, menggunakan rajut plastik dan kemudian
kondisi tersebut menyebabkan peningkatan proses dilakukan penyimpanan. Suhu penyimpanan yang
pembelahan sel serta patahnya dormansi sehingga digunakan yaitu suhu 0oC, 5oC dengan RH 65-70%
terjadi perubahan penampilan yang memicu serta suhu ruang (25- 32oC) dengan RH ruang (50-
pembentukan tunas (Jasmi et al., 2013). 88%). Selama penyimpanan pada suhu 0oC, 5oC
Varietas diduga sebagai salah satu faktor yang ditempatkan kapur (CaCO3) dan silika gel pada
menentukan daya simpan bawang merah, varietas refrigerator untuk tetap mempertahankan RH yang
memiliki ciri dan sifat yang berbeda antara varietas diinginkan. Pergantian kapur (CaCO3) dan silika gel
yang satu dengan yang lain (Jasmi et al., 2013). dilakukan setiap minggu. Penyimpanan ini
Kondisi penyimpanan bawang merah dengan suhu dilakukan selama 3 bulan. Pengamatan dilakukan
rendah saat ini masih terus dilakukan untuk setiap 2 minggu sekali dengan parameter yang
mendapatkan suhu optimum yang mampu menjaga diamati adalah kadar air, susut bobot, kekerasan,
WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved
Citation: Priyantono, E., Purwanto, Y. A, & Sobir (2016) Penyimpanan Dingin Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Varietas Bima Brebes, Tajuk,
dan Bali Karet Warta IHP, 33(1),32-38
Halaman | 34

kadar sulfur dan persentase kerusakan menimbang bobot awal dan bobot akhir, kemudian
(busuk/jamur, hampa dan tunas). Diagram alir dimasukkan dalam persamaan berikut ini:
penyiapan dan penyimpanan bawang merah
ditunjukkan dalam Gambar 1.
Susut bobot =
Bawang merah 60 hst
2.4.3 Kekerasan

Varietas Bima Varietas Varietas Bali Pengujian kekerasan diukur berdasarkan


Brebes Tajuk karet tingkat ketahanan umbi terhadap tekanan yang
dilakukan menggunakan rheometer dengan jarum
penusuk (probe) berdiameter 5 mm, diset pada
Curring dan pengeringan hingga kadar air 82%
kedalaman 10 mm dengan beban tekanan
maximum 10 kg dan kecepatan jarum sebesar 60
mm/menit.
Pembersihan dan Penyortiran

2.4.4 Kerusakan
Pemisahan ukuran umbi (Besar, Sedang, Kecil)
Kerusakan=
Bawang merah dikemas dalam rajut plastik seberat 2kg

2.4.5 Kadar sulfur

Penyimpanan Penyimpanan Penyimpanan Nilai kadar sulfur di hitung menggunakan


suhu 0 oC RH suhu 5oC RH suhu ruang rumus sebagai berikut :
65-70 % 65-70 % (25-32)oC RH
50-88% Kadar S (%) = x fp

Keterangan :
Penyimpanan 3 bulan
S = Kadar sulfur (%)
Pengamatan : Dk = Deret standar S (ppm)
Kadar air Bs = bobot sampel (mg)
Susut bobot fk = faktor koreksi kadar air (%)
Tingkat kekerasan fp = faktor pengencer
Tingkat kerusakandan
Kadar sulfur
3. Hasil dan Pembahasan

Gambar 1. Diagram alir penelitian 3.1. Kualitas bawang merah (Allium ascalonicum L.)
sebelum penyimpanan
2.4 Parameter pengamatan
Pengukuran kualitas awal bawang merah yang
2.4.1 Kadar air terdiri dari kadar air, susut bobot, kekerasan,
kerusakan, dan kadar sulfur tersaji pada Tabel 1.
Pengukuran dan Perhitungan kadar air Metode
Oven (AOAC, 2005) ditentukan dengan rumus :
Tabel 1
Hasil pengukuran kualitas awal bawang merah (Allium
ascalonicum L.).
Kadar air (%bb) Varietas Varietas Varietas
Parameter
Bima Brebes Tajuk Bali karet
Keterangan : 82.59
Kadar air (%) 82.95 0.59 83.65 0.73
= berat cawan dan sampel akhir (%) 0.20
= berat cawan dan sampel akhir (g) Susut bobot
0 0 0
(%)
= berat cawan (g) Tingkat
= berat sampel awal (g) 4.14 0.40 3.69 0.26 3.17 1.20
kekerasan (kgf)
Tingkat
0 0 0
2.4.2 Susut bobot kerusakan (%)
Kadar sulfur
0.44 0.28 0.31
(%)
Susut bobot pada penelitian ini dinyatakan
dalam persen dan diperoleh dengan cara
Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 32-38
Halaman | 35

3.2 Perubahan kualitas bawang merah (Allium proses respirasi umbi bawang merah bila di
ascalonicum L.) selama penyimpanan bandingkan dengan suhu ruang yang tidak mampu
menekan proses respirasi selama penyimpanan
3.2.1 Kadar air
(Mutia et al., 2015).
Kadar air dalam bahan pangan sangat
menentukan kesegaran dan daya simpan bahan Tabel 2
Perubahan kadar air berbagai varietas bawang merah (Allium
pangan tersebut. Perubahan kadar air pada ascalonicum L.) selama penyimpanan.
berbagai perlakuan suhu dan varietas penyimpanan Kadar air %
disajikan pada Tabel 2 sebagai berikut: Suhu Lama penyimpanan (minggu)
Interaksi antara perlakuan suhu dan varietas 2 4 6 8 10 12
tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap 0 82.75b 83.11a 82.85ab 82.89a 82.62a 83.10a
kadar air bawang selama penyimpanan. Bawang 5 83.31a 83.20a 83.20a 82.56a 81.56a 82.01b
Ruang 82.44c 82.42a 82.44b 82.51a 81.84a 81.42c
merah yang disimpan pada suhu 0oC mengalami
perubahan penurunan kadar air pada minggu ke-2 Kadar air %
dan minggu ke-6. Sedangkan perubahan kadar air Varietas Lama penyimpanan (minggu)
2 4 6 8 10 12
pada suhu 5oC terjadi pada akhir penyimpanan
Bima
pada minggu ke-12. Perubahan kadar air pada suhu Brebes
82.50a 82.63a 82.10b 83.12a 82.30a 82.09a
ruang terjadi pada minggu ke-2, 6 dan minggu ke- Tajuk 82.98a 82.84a 83.19a 81.99b 81.93a 81.93a
12 (Tabel 2). Bali
Perubahan kadar air bawang merah pada suhu 83.01a 83.27a 83.20a 82.85a 81.80a 82.51a
karet
0 dan 5oC yang berfluktuatif (Tabel 2), baik Ket: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama
penurunan maupun peningkatan kadar air tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT taraf 5%.
dipengaruhi kondisi penyimpanan. Penurunan
kadar air dipicu oleh aktivitas metabolisme, yaitu 3.2.2 Susut bobot
proses respirasi bawang merah serta penurunan
kelembaban (RH). Sementara itu peningkatan kadar Susut bobot merupakan salah satu parameter
air disebabkan karena kelembaban (RH) yang yang mengindikasikan mutu bawang merah. Selama
meningkat dan terserap oleh bawang merah selama penyimpanan bawang merah mengalami proses
penyimpanan. Perubahan kadar air yang sangat metabolisme sehingga mengalami penyusutan
kecil hingga akhir penyimpanan pada suhu 0 dan bobot akibat dari penguapan (transpirasi)
5oC terjadi karena suhu dan RH yang terkontrol kandungan air, kerusakan, dan perubahan tingkat
selama penyimpanan. Suhu dan kelembaban kesegaran yang menurun.
(RH)berpengaruh terhadap kadar air bawang Pada Gambar 2 menunjukan pengaruh suhu
merah yang disimpan. Kelembaban (RH) dalam selama penyimpanan, pada gambar tersebut
ruang penyimpanan berhubungan langsung dengan terlihat peningkatan susut bobot bawang merah
daya tahan kualitas bahan yang disimpan. selama penyimpanan.Bawang merah yang disimpan
Kelembaban yang rendah mengakibatkan pelayuan di suhu ruang mengalami susut bobot yang paling
atau pengeriputan (shriveling) pada bahan, selain tinggi sejak awal pengamatan pada semua varietas.
itu kelembaban yang tinggi dapat merangsang Hal ini diduga terjadi karena aktifitas metabolisme
proses pembusukan jika terjadi perubahan atau serta respirasi yang disebabkan oleh suhu tinggi
variasi temperatur dalam ruangan. Temperatur sehingga menyebabkan banyak kehilangan air.
penyimpanan yang stabil perlu dijaga untuk Semakin banyak air yang hilang maka susut bobot
mendapatkan hasil yang baik setelah komoditas serta tingkat kesegaran bawang merah semakin
disimpan beberapa waktu (Komar, 2001). menurun. Hutabarat (2008) menyatakan
Bawang yang disimpan pada suhu ruang (25- meningkatnya susut bobot sebagian besar
32oC) mengalami perubahan kadar air selama disebabkan oleh kehilangan air akibat transpirasi
penyimpanan. Penurunan kadar air ini dipengaruhi dan terurainya glukosa menjadi CO2 dan H2O
oleh tingginya transpirasi yang terjadi pada saat selama proses respirasi walaupun dalam jumlah
penyimpanan sehingga menurunkan kandungan air kecil. Gas yang dihasilkan akan menguap dan
dalam bawang. menyebabkan susut bobot. Hal ini sesuai dengan
Berdasarkan analisis ragam faktor suhu pernyataan Rubatzky dan Yamaguchi (1998)
memberikan pengaruh nyata pada taraf (p<0.05) seiring dengan peningkatan suhu, maka respirasi
terhadap perubahan kadar air setiap minggu akan berjalan lebih cepat sehingga lapisan sekulen
selama penyimpanan. Perbedaan kadar air pada kulit terluar bawang merah akan mengering.
perlakuan suhu (Tabel 2) menunjukan bahwa kadar Varietas Bima Brebes mengalami susut bobot
air tertinggi di tunjukan oleh penyimpanan suhu tertinggi (22.30%) pada suhu 5oC hingga akhir
0oC hingga diakhir penyimpanan sedangkan penyimpanan, sedangkan varietas Tajuk dan Bali
terendah ditunjukan oleh suhu ruang. Hal ini karet masing-masing sebesar 21.99% dan 17.29%.
disebabkan karena suhu rendah mampu menekan Susut bobot pada suhu 5oC diakibatkan oleh

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation: Priyantono, E., Purwanto, Y. A, & Sobir (2016) Penyimpanan Dingin Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Varietas Bima Brebes, Tajuk,
dan Bali Karet Warta IHP, 33(1),32-38
Halaman | 36

tumbuhnya tunas dan perakaran umbi bawang yang menyebabkan sel mengerut dan menyatu (zat
merah. Hal ini sejalan dengan pendapat Maemunah pektin saling berikatan).
(2010) yang menyatakan bahwa umbi bawang Umbi bawang merah yang disimpan pada suhu
merah yang bertunas memiliki bobot umbi yang ruang menghasilkan nilai kekerasan yang lebih
terus mengalami penurunan, hal ini disebabkan rendah dibandingkan suhu 0 dan 5oC. Nilai
karena cadangan makanan yang terdapat di dalam kekerasan yang rendah pada suhu ruang
umbi digunakan untuk metabolisme dan disebabkan oleh ikatan pektin yang berkurang pada
membentuk tunas. Kerusakan umbi bawang merah dinding sel bawang merah serta terjadinya proses
karena jamur, munculnya tunas dan akar transpirasi yang dipicu oleh suhu tinggi selama
menyebabkan susut bobot serta penurunan mutu penyimpanan. Menurut Hawa (2006) pada suhu
bawang merah. diatas 20C laju respirasi dan aktivitas enzim
Penyimpanan pada suhu 0oC menghasilkan berlangsung lebih cepat sehingga menyebabkan
susut bobot yang lebih rendah jika dibandingkan jumlah pektin pada dinding sel berkurang.
dengan suhu ruang dan 5oC. Susut bobot masing- Penyimpanan suhu ruang dengan RH rendah
masing varietas bawang merah pada suhu 0oC menyebabkan kulit bawang mudah kering dan
berturut-turut adalah Bima Brebes 9.77%, Tajuk mengelupas. Hal ini sesuai dengan laporan Currah
11.61% dan Bali karet 10.16% (Gambar 2). Bawang et al. (2012) yang menjelaskan bahwa kelembaban
merah yang disimpan pada suhu rendah mengalami (RH)<65% menyebabkan kulit luar umbi menjadi
perubahan metabolisme terutama respirasi yang rapuh dan pecah.
melambat akibat tekanan suhu. Hal ini sejalan
dengan pendapat Ahmad (2013) yang menyatakan Tabel 3
Nilai kekerasan bawang merah selama penyimpanan pada
bahwa suhu rendah dapat memperlambat proses masing-masing perlakuan pada minggu ke 8, 10 dan 12.
metabolisme yang merupakan akibat dari beberapa Kekerasan (kgf)
reaksi enzimatis. Suhu Lama penyimpanan (minggu)
8 10 12
0 4.68a 4.50a 4.45a
5 4.34a 4.00a 4.32a
Ruang 3.13b 3.31b 3.46b
Kekerasan (kgf)
Varietas Lama penyimpanan (minggu)
8 10 12
Bima Brebes 4.93a 4.56a 4.74a
Tajuk 3.99b 3.87b 4.18a
Bali karet 3.24b 3.38c 3.31b
Ket: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama
tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT taraf 5%.

3.2.4 Kerusakan

Gambar 2. Grafik perubahan susut bobot bawang merah pada Perhitungan kerusakan dilakukan setiap
berbagai perlakuan suhu dan varietas selama penyimpanan. pengamatan, Kerusakan bawang merah selama
penyimpanan dapat disebabkan oleh
mikroorganisme lapang yang terbawa pada saat
3.2.3 Kekerasan proses pemanenan atau mikroorganisme yang
berada pada wadah atau tempat penyimpanan.
Kekerasan umbi tidak dipengaruhi oleh
Kerusakan yang banyak terjadi selama
interaksi antara suhu simpan dan varietas bawang
penyimpanan disebabkan oleh jamur, kerusakan
merah. Perlakuan suhu secara tunggal
lain dapat disebabkan oleh hama atau penyakit
mempengaruhi kekerasan umbi bawang merah
serta perubahan fisologis yang timbul pada saat
hingga akhir penyimpanan. Umbi yang disimpan
penyimpanan.
pada suhu 0oC menghasilkan nilai kekerasan yang
Gambar 3 menunjukkan presentasi total
paling tinggi dibandingkan suhu 5oC dan suhu
kerusakan bawang merah pada berbagai perlakuan
ruang. Varietas Bima Brebes memiliki nilai
suhu dan varietas selama penyimpanan. Kerusakan
kekerasan tertinggi jika dibandingkan dengan
yang terjadi pada suhu ruang diantaranya adalah
Tajuk dan Bali karet (Tabel 3).
busuk yang disebabkan oleh jamur (Gambar 4a)
Penyimpanan pada suhu 0 dan 5oC
terutama pada 2 dan 4 minggu simpan, hampa
memperlambat metabolisme sel serta menghambat
(Gambar 4b), munculnya tunas (Gambar 4c) dan
proses transpirasi sehingga kekerasan umbi
akar (Gambar 4d). Perkembangan jamur dipicu
meningkat. Menurut Mutia et al. (2015),
oleh suhu dan RH yang tinggi selama penyimpanan.
peningkatan kekerasan umbi bawang pada suhu
Sementara itu, banyaknya umbi hampa terjadi pada
rendah terjadi karena penguapan antar ruang sel
minggu ke-4, sedangkan munculnya tunas dan akar
Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 32-38
Halaman | 37

terjadi pada minggu ke-6 hingga minggu ke-12


penyimpanan. Umbi Bawang merah yang disimpan pada
Varietas Bima Brebes yang disimpan pada suhu 0 oC tidak mengalami kerusakan hingga 12
suhu 5oC mengalami kerusakan yang paling tinggi minggu masa simpan di semua varietas bawang
jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. merah yang diamati. Hal ini disebabkan pada suhu
Kerusakan pada suhu 5oC ini disebabkan oleh 0oC pertumbuhan mikroorganisme dapat dihambat
pertunasan (Gambar 4c) atau perakaran (Gambar serta proses metabolisme terutama respirasi dapat
4d). Hal ini diduga karena pada suhu 5oC, aktivitas diperlambat. Sitorus (2000) menyatakan bahwa
ZPT (zat pengatur tumbuh) alami seperti giberelin suhu rendah dapat menghambat reaksi enzimatis
dan auksin (IAA, NAA dan IBA) meningkat sehingga dan pertumbuhan laju mikroorganisme. Faktor
terjadi pembelahan sel yang menyebabkan tunas yang mempengaruhi perkembangan mikroba
dan akar muncul. Dinarti et al. (2011) menjelaskan adalah suhu dan kelembaban (RH) yang tinggi
bahwa perlakuan suhu rendah (vernalisasi) dapat selama penyimpanan.
meningkatkan aktivitas pembelahan sel, giberelin
endogen, serta aktivitas auksin. Selain aktivitas 3.2.5 Kadar sulfur
ZPT, pertunasan dan perakaran pada umbi bawang
merah selama penyimpanan disebabkan oleh Sulfur merupakan salah satu senyawa yang
kandungan sulfur. Sulfur berperan dalam berperan dalam pembentukkan aroma pada
pembentukan klorofil yangberhubungan dengan bawang merah. Tanaman dari genus Allium sp.
proses fotosintesis. Menurut Tisdale et al. (1985), mempunyai karakter bau bersulfur yang khas.
sulfur memicu pembentukan akar, buah, serta Sejumlah komponen sulfur yang menarik perhatian
mengurangi serangan penyakit. merupakan dasar dari bau khas bawang-bawangan.
Adapun hasil pengukuran kadar sulfur tersaji pada
Tabel 4.

Tabel 4
Nilai kadar sulfur selama penyimpanan
Kadar Sulfur (%) Rata-
Lama penyimpanan (minggu) rata
Perlakuan Kadar
2 4 6 8 10 12 Sulfur
(%)
B. Brebes
0.52 0.4 0.21 0.51 0.45 0.46 0.43
(0 oC)
Tajuk (0
oC)
0.36 0.23 0.32 0.42 0.39 0.46 0.36
B. Karet
0.42 0.25 0.39 0.4 0.37 0.42 0.38
(0 oC)
B. Brebes
0.43 0.15 0.33 0.59 0.42 0.42 0.39
(5 oC)
Tajuk (5
Gambar 3. Grafik presentasi kerusakan umbi bawang merah oC)
0.28 0.29 0.5 0.49 0.47 0.46 0.42
pada berbagai suhu dan varietas selama penyimpanan. B. Karet
0.3 0.34 0.48 0.31 0.31 0.52 0.38
(5 oC)
B.Brebes
0.44 0.25 0.36 0.46 0.43 0.58 0.42
(Ruang)
Tajuk
0.34 0.36 0.23 0.54 0.47 0.42 0.39
(Ruang)
B. karet
0.22 0.42 0.4 0.35 0.25 0.32 0.33
(Ruang)

Varietas Bima Brebes memiliki kandungan


sulfur yang paling tinggi dari semua suhu simpan
(a) (b) hingga akhir penyimpanan, sedangkan kandungan
sulfur terendah ditunjukkan oleh varietas Bali karet
(Tabel 4). Kadar air yang tinggi pada masing-
masing varietas berpengaruh terhadap kandungan
sulfur. Menurut White (2006) kadar air umbi
menentukan kepekatan komponen rasa dan aroma
bawang. Wahyu et al. (2005) menyatakan bahwa
komponen flavor utama pada bawang merah adalah
(c) (d) metil, propil (1 propenil), disulfid, dan trisulfid.
Gambar 4. Kerusakan bawang merah selama penyimpanan pada Senyawa kimia yang termasuk ke dalam golongan
berbagai suhu (a) busuk, (b) hampa), (c) bertunas, (d) berakar
WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved
Citation: Priyantono, E., Purwanto, Y. A, & Sobir (2016) Penyimpanan Dingin Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Varietas Bima Brebes, Tajuk,
dan Bali Karet Warta IHP, 33(1),32-38
Halaman | 38

monosulfida adalah heksil sulfida dan metil propil Irawan, B., Kusmoro, J., & Arifin, Z. (2004). Keanekaragaman dan
Kekerabatan Kultivar Bawang Merah Di Jawa Barat. Jurnal
sulfida dalam varietas Bima Brebes serta trimetil Biotika, 3(2), 36-43.
sulfida pada varietas Menteng. Jasmi, Endang S., & Didik I. (2013). Pengaruh Vernalisasi Umbi
Selain itu kadar sulfur bawang merah juga Terhadap Pertumbuhan, Hasil, Dan Pembungaan Bawang
dipengaruhi oleh respon setiap varietas bawang Merah (Allium Cepa L. Aggregatum Group) di Dataran
Rendah. Jurnal Ilmu Pertanian, 16(1),42 57.
merah terhadap suhu penyimpanan. Hal ini sejalan Kementrian Pertanian (Kementan). (2014) .Buletin Konsumsi
dengan pernyataan Irawan (2004) yang Pangan, 5(1). Jakarta: Pusat Data dan Sistem informasi
menyatakan bahwa setiap kultivar memiliki ciri-ciri Pertanian..
spesifik baik secara morfologi maupun kandungan Komar, N., Rakhmadion, S., & Kurnia, L. (2001). Teknik
penyimpanan bawang merah pasca panen di Jawa Timur.
kimianya. Jurnal Teknologi Pertanian, 2(2), 79-95.
Maemunah. (2010). Viabilitas dan vigor benih bawang merah
4. Kesimpulan pada beberapa varietas setelah penyimpanan. Jurnal
Agroland, 17(1), 18-22.
Mutia, A. K., Purwanto, Y. A., & Nugroho, L. P. E. (2015).
Penyimpanan pada suhu 0oC selama 3 bulan Penyimpanan bawang merah (Allium ascalonicum L.) pada
mampu mempertahankan kadar air, susut bobot, suhu rendah dan tingkat kadar air awal yang berbeda.
kekerasan, dan menekan kerusakan. Suhu Jurnal Pascapanen, 11(2), 108115.
penyimpanan 0 oC merupakan suhu terbaik yang Rubatzky, V. L., & Yamaguchi, M. (1998). Prinsip, Produksi, dan
Gizi Sayuran Dunia 2. Bandung: ITB.
dapat mempertahankan kualitas mutu bawang Sitorus, E., & Imam, M. (2000). Pengaruh pendinginan awal dan
merah hingga akhir penyimpanan dengan susut suhu penyimpanan untuk memperpanjang kesegaran
bobot varietas Bima Brebes 9.77%, Tajuk 11.61% bawang merah. Jurnal Hortikultura, 10(2), 137-143.
dan Bali Karet 10.16%, kekerasan 4.45 kgf, Tisdale, S. L., Nelson, W. L., & Beaton, J. D. (1985). Soil Fertility
and Fertilizers. 4th ed. New York: MacMillan Publishing
kerusakan 0% pada semua varietas dan nilai sulfur Company.
0.43%. Varietas Bima Brebes memiliki nilai mutu Wahyu, Y., Irawan, B., & Muctaridi. (2005). Studi
terendah dengan kerusakan sebesar 35.81%, susut Kemotaksonomi Kultivar Bawang Merah Di Jawa Barat.
bobot tertinggi pada suhu 5oC dan suhu ruang yaitu Seminar nasional PTTI November 2005.
White, P. J., White, A., Chopea, & Terry, L. A. (2006). Effect of
masing-masing sebesar 22.3% dan 37.22%. controlled atmosphere storage on abscisic acid
concentration and other biochemical attributes of shallot
bulbs. Journal Postharvest Biology and Technology, (39),
Ucapan terima kasih 233242.

Penelitian ini merupakan bagian dari skema


penelitian Hibah Penelitian Unggulan Perguruan
Tinggi -Institut Pertanian Bogor, Kementerian Riset,
Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik
Indonesia No 079/SP2H/LT/DRPM/II/2016.

Daftar Pustaka

Ahmad, U. (2013). Teknologi Penanganan Pascapanen Buahan


dan Sayuran. Yogyakarta (ID): Graha Ilmu.
AOAC. (2005). Official Methods of Analysis of The Assosiation
Official Analytical chemistry. USA. Washington DC.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2013). Laporan Sosial Ekonomi
Indonesia, Biro Pusat Statistik,
Jakarta.http://www.bps.go.id/publications/publikasi2013.p
hp (14 Jan 2014).
Currah, L., Cools, K., & Terry, L. A. (2012). Crop Post-Harvest:
Science and Technology, First Edition. Edited by Debbie
Rees, Graham Farrell and John Orchard. 2012 Blackwell
Publishing Ltd. Published by Blackwell Publishing Ltd.
Dinarti, D., Purwoko, B. S., Purwito, A., & Susila, A. D. (2011).
Perbanyakan tunas mikro pada beberapa umur simpan umbi
dan pembentukan umbi mikro bawang merah pada dua
suhu ruang kultur. Jurnal Agronomi Indonesia, 39(2): 97
102.
Dirjen Holtikultura. (2013). Data Susenas. Jakarta (ID):
Departemen Pertanian.
Hawa, L. C. (2006). Pengembangan Model Tekstur Dan Umur
Simpan Buah Sawo (Achras sapota L) dengan Variasi Suhu
Dan Tekanan Pada Penyimpanan Hipobarik. Jurnal Teknologi
Pertanian, 7(1), 10-19.
Hutabarat, S. O. (2008). Kajian pengurangan chilling injury tomat
yang disimpan pada suhu rendah [tesis]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 39-48
Halaman | 39

Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Terhadap Warna Jeruk


Siam Pontianak Setelah Degreening
Effect of Temperature and Storage Period on the Change in Color of Siam Pontianak
Citrus After Degreening

Nuzlul Musdalifaha, Yohanes Aris Purwantob,d, dan Roedhy Poerwantoc,d


a
Program Studi Teknologi Pascapanen, Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor
Jl. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

bDepartemen Teknik Mesin dan Biosistem, Institut Pertanian Bogor

Jl. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

cDepartemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor

Jl. Raya Dramaga, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680

dPusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor


Jl. Raya Pajajaran, Kampus IPB Baranangsiang Bogor 16141

e-mail: arispurwanto@gmail.com

Riwayat Naskah: ABSTRAK: Warna kulit merupakan salah satu faktor pendukung utama yang
secara komersial menentukan pilihan konsumen untuk membeli jeruk. Degreening
Diterima 06, 2016
Direvisi 07, 2016 merupakan proses perubahan kulit jeruk dari warna hijau menjadi warna kuning
Disetujui 07, 2016 atau jingga tanpa mempengaruhi kualitas internal buah. Tujuan penelitian ini
adalah untuk menentukan suhu dan lama penyimpanan yang optimum untuk buah
jeruk Siam setelah proses degreening serta menganalisis perubahan fisiologi buah
selama penyimpanan. Perlakuan cold dan non-cold storage merupakan perlakuan
awal pascapanen sebelum proses degreening. Perlakuan degreening dilakukan
dengan pemaparan gas etilen 200 ppm, suhu 20oC selama 48 jam. Selanjutnya,
jeruk hasil degreening disimpan pada suhu 10, 15, 20, dan 27oC (suhu ruang).
Analisis perubahan warna kulit jeruk dilakukan setiap tiga hari untuk semua
kondisi penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
indeks warna jeruk citrus color indeks (CCI) dari nilai 0.16 menjadi 10.14 pada
suhu 10 oC dan menghasilkan warna jeruk dengan warna kulit optimum jingga
cerah.

Kata kunci: citrus color chart, cold dan non-cold storage, degreening, jeruk Siam, penyimpanan.

ABSTRACT: Orange color is one of the main contributing factors for consumers in
choosing citrus. Degreening is a common method in developing orange color in
citrus without affecting its internal quality. The objectives of this study were to
determine the optimum temperature and storage time for Siam citrus after
degreening and to analyze the physiological changes of fruit during storage. Cold
storage and non-cold storage treatment were set as pretreatment of postharvest
handling before the degreening process. The degreening process was done by
exposing the fruits with ethylene gas of 200 ppm, the temperature of 20oC for 48
hours. After degreening, the samples were placed at 10, 15, 20, and 27oC (room
temperature). During the storage period, the change in color was measured every
3 days. The results showed that the value of citrus color index (CCI) increased
from 0.16 to 10.04 for those citrus samples placed at 10oC and the optimum color
was bright orange.

Keywords: citrus color chart, cold and non-cold storage, degreening, Siam citrus, storage.

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation : Musdalifah, N, Purwanto, YA, dan Poerwanto, R: Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Jeruk Siam Pontianak Setelah
Degreening. Warta IHP, 33(1), 39-48
Halaman | 40

1. Pendahuluan pigmen warna kuning sehingga tidak terjadi


pembentukan warna jingga. Pembentukan warna
Jeruk Siam merupakan salah satu jenis jeruk jingga pada kulit jeruk disebabkan oleh dua zat
yang banyak dikembangkan di Indonesia karena warna, yaitu -citraurin dan criptoxanthin. -
produksinya tinggi dan disukai konsumen. citraurin membuat warna kulit jeruk menjadi
Pengembangan jeruk Siam dalam lima tahun kemerahan, sedangkan criptoxanthin membuat
terakhir ini semakin pesat karena permintaan warna kulit jeruk menjadi kuning. Suhu rendah
pasar terhadap komoditas ini cukup baik. Tetapi dapat mensintesis karotenoid non-photosintetic
karena pengelolaannya mulai dari penanaman, dan memunculkan -citraurin. Selama proses
pemeliharaan, pemanenan, dan penanganan degreening perubahan warna sensitif terhadap
pascapanen masih dilakukan secara sederhana, suhu terutama pada buah yang ditanam pada
menyebabkan jeruk Siam sulit dapat memenuhi daerah tropis (Ramadhani et al., 2015; Arzam et al.,
persyaratan standar mutu untuk buah ekspor. 2015).
Prospek pengembangan jeruk Siam di Indonesia Komoditas hortikultura seperti jeruk segar
sangat bagus, baik untuk pasar lokal maupun untuk pada umumnya memiliki sifat mudah rusak karena
pasar luar negeri. Secara nasional, produksi jeruk mengandung banyak air dan setelah dipanen
di Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami komoditas ini masih mengalami proses respirasi,
peningkatan (Qomariah et al., 2013). transpirasi dan pematangan. Jeruk memerlukan
Produksi jeruk siam/keprok di Indonesia pendinginan yang relatif cepat untuk
sebagian besar berasal dari Sumatera Utara, Jawa mempertahankan kualitasnya. Penggunaan suhu
Timur dan Kalimantan Barat. Untuk Provinsi rendah merupakan cara yang efektif untuk
Kalimantan Barat, pada tahun 2014 memperpanjang daya simpan bahan segar.
menghasilkan 147 105 ton atau 78.7% produksi Penggunaan suhu rendah pada prinsipnya akan
jeruk siam/keprok di provinsi tersebut berasal menurunkan semua kegiatan metabolisme.
dari kabupaten Sambas (Pusat Data dan Sistem Penyimpanan merupakan salah satu teknologi
Informasi Pertanian, 2015). pascapanen yang tepat agar umur simpan jeruk
Warna jeruk pada umumnya yang dipanen dapat bertahan lama (Handoko et al., 2005).
masih kehijau-hijauan. Masyarakat sangat Penyimpanan yang baik adalah menggunakan
menyukai buah jeruk dengan kulit berwarna jingga pendingin, karena suhu yang dingin dapat
karena jeruk yang berwarna jingga merata menghambat kerusakan fisiologis, penguapan serta
dianggap matang sempurna dan memiliki rasa aktivitas mikroorganisme yang mengganggu
yang manis. Konsumen tidak keberatan untuk sehingga kualitas buah dari mulai panen sampai
membayar dengan harga lebih tinggi untuk jeruk diterima ditangan konsumen tetap terjaga.
yang berwarna jingga dan merata (Balai Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu
Tanaman Jeruk dan Buah Sub Tropik, 2012). penyimpanan serta lama penyimpanan yang
Menurut Poerwanto dan Susila (2014), salah optimum jeruk Siam Pontianak hasil degreening
satu faktor yang mempengaruhi daya tarik dan menganalisis perubahan fisiologi selama
konsumen terhadap buah jeruk adalah kulit jeruk penyimpanan.
yang berwarna jingga memiliki peminat yang lebih
tinggi dibandingkan dengan kulit yang berwarna 2. Bahan dan Metode
hijau. Porat (2008) menyatakan bahwa degreening
merupakan perlakuan pascapanen yang dapat 2.1. Bahan
memperbaiki warna kulit jeruk dengan
mempercepat perubahan warna eksternal jeruk Sampel jeruk yang digunakan adalah jeruk Siam
dari hijau menjadi jingga seragam. Etilen eksogen Pontianak yang berasal dari petani di Kabupaten
dalam hal ini gas etilen pada jeruk dapat Sambas, Kalimantan Barat. Lokasi kebun terletak
mendegradasi pigmen hijau (klorofil) pada kulit pada ketinggian 700m dpl suhu sekitar 25-30oC.
buah sehingga membentuk pigmen jingga Buah dipanen pada umur 6-8bulan setelah bunga
(karotenoid) (Mayuoni et al., 2011; Ramadhani et mekar yaitu pada fase kematangan fisiologis.
al., 2015; Arzam et al., 2015). Sampel buah ditransportasikan ke Jakarta dengan
Penyebab warna kulit jeruk Siam dataran menggunakan kontainer berpendingin (cold
rendah tetap berwarna hijau atau kuning meskipun storage) dengan suhu 5oC dan tanpa pendingin
telah matang diakibatkan oleh kegagalan (non-cold storage) selama dua hari perjalanan.
pembentukan warna jingga. Pada daerah tropis Konsentrasi etilen yang digunakan yaitu
pigmen -citraurin yang merupakan pemicu 200ppm. Untuk mengetahui konsentrasi etilen
munculnya warna merah tidak terbentuk yang yang digunakan maka perlu diketahui volume
terbentuk hanya -cryptoxanthine yang merupakan wadah dan volume buah. Volume wadah sebesar

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 39-48
Halaman | 41

9300ml dan volume jeruk diukur dengan warna Hunter. Pengujian dilakukan dengan
menggunakan Hukum Archimedes sehingga menempelkan sensor pada jeruk siam pada tiga
diperoleh volume bebas dalam wadah. Wadah yang bagian yang berbeda. Sistem notasi warna Hunter
berisi jeruk ditutup rapat dan kedap udara. Etilen dicirikan dengan 3 parameter warna, yaitu: warna
diinjeksikan menggunakan syringe dengan kromatik (hue), warna kromatik campuran merah
konsentrasi sesuai perlakuan. Wadah yang berisi hijau yang ditulis dengan notasi a*, warna kromatik
buah jeruk lalu ditempatkan dalam cooling campuran biru-kuning dengan notasi b*, dan
chamber. Pada saat degreening berlangsung, kipas kecerahan dengan notasi L*. Masing-masing nilai
diaktifkan agar etilen menjangkau seluruh buah L*, a*, dan b* dengan kisaran nilai 0 sampai 100
dalam wadah degreening. (Andarwulan et al., 2011). Pengukuran kualitatif
warna kulit jeruk pertama kali dikembangkan oleh
2.2. Alat Jimenez-Cuesta (Ramadhani et al., 2015; Arzam et
al., 2015) menggunakan perhitungan nilai citrus
Alat yang digunakan adalah wadah degreening, color index (CCI) pada persamaan (1):
cooling chamber, syringe, septum, selang plastik,
timbangan digital AdventurerTM OHAUS AR2130 CCI = .................................................. (1)
USA, color reader CR-10 Konica Minolta Sensing
Japan, thermometer digital, dan kamera. Keterangan:

2.3. Metode a* = warna kromatik campuran merah-hijau


b* = warna kromatik campuran biru-kuning
Percobaan ini menggunakan RAL Faktorial L* = kecerahan
terdiri dari dua faktor. Faktor adalah perlakuan
Hasil pengukuran nilai a* dan b* dikonversikan
cold dan non cold storage. Faktor adalah suhu
ke dalam satuan kromatik derajat Hue (oHue).
dengan 4 taraf yakni: 10, 15, 20, dan 27oC (suhu
Persamaan (2) digunakan untuk memperoleh nilai
ruang) diulang sebanyak tiga kali. Data yang oHue:
diperoleh dilakukan analisis keragaman (ANOVA)
oHue = tan-1 ........................................... (2)
pada taraf 5% dengan uji lanjut Duncan multiple
range test (DMRT). Pengujian dilakukan dengan
software SPSS 16.0.
Buah jeruk disortir terlebih dahulu kemudian 3. Hasil dan Pembahasan
dilakukan degreening. Chamber untuk tempat
degreening yang digunakan disterilkan terlebih 3.1. Karakteristik warna buah setelah degreening
dahulu. Penutup chamber telah dimodifikasi
dengan adanya lubang di permukaan penutup Pemberian etilen untuk proses degreening pada
sebagai tempat untuk injeksi etilen. Sampel buah jeruk Siam Pontianak merupakan perlakuan
jeruk dikelompokkan dan diberi label sesuai pascapanen untuk mendegradasi kandungan
dengan kombinasi perlakuan. Perlakuan cold dan klorofil dan meningkatkan kandungan karotenoid
non-cold storage dilakukan sebelum proses pada kulit buah (Zhou et al., 2010). Pada proses
degreening pada buah. Pengukuran warna degreening jeruk siam pontianak mengalami
dilakukan pada sampel buah yang sama untuk perubahan warna selama penyimpanan.
setiap 24 kombinasi perlakuan. Pengukuran Perubahan warna jeruk terjadi akibat degradasi
dengan sampel tersebut dilakukan dimulai dari klorofil pada kulit jeruk dengan pemberian etilen
pasca perlakuan sampai penyimpanan. Buah jeruk untuk menurunkan kandungan klorofil kulit jeruk
dimasukkan ke dalam chamber masing-masing (Peng et al., 2013). Saltveit (1999) menyatakan
sebanyak 25 sampel dengan 24 kombinasi. bahwa pemberian etilen dapat mempercepat
Selanjutnya, setiap chamber diinjeksikan etilen degradasi klorofil sehingga menghasilkan warna
sebanyak 200ppm pada suhu 20oC selama 48jam. kuning atau jingga. Ramadhani et al. (2015)
Setelah pemaparan etilen pada jeruk selesai, jeruk menyatakan bahwa Citrus Color Index atau CCI
hasil degreening selanjutnya disimpan pada suhu pertama kali diteliti oleh Jimenes-Cuesta untuk
10, 15, 20, dan 27oC (suhu ruang). Pengukuran mengevaluasi korelasi antara pengukuran objektif
kuantitatif dilakukan setiap tiga hari sekali selama dengan pengamatan visual berdasarkan CCC
penyimpanan yang mencakup warna kulit dengan (Citrus Color Chart) terhadap perubahan warna
color reader, skoring berdasarkan perubahan kulit buah jeruk dari hijau menjadi jingga.
warna diukur secara visual matching dari skala 1 Perlakuan cold dan non-cold storage pada jeruk
(hijau) sampai dengan skala 6 (jingga tua) serta selama penelitian tidak menunjukkan pengaruh
kandungan total klorofil dan karotenoid. yang signifikan (p > 0.05) terhadap nilai CCI yang
Pengukuran warna dilakukan menggunakan dihasilkan (Gambar 1 dan 2). Sedangkan perlakuan
color reader dengan menerapkan sistem notasi suhu dan waktu penyimpanan menunjukkan

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation : Musdalifah, N, Purwanto, YA, dan Poerwanto, R: Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Jeruk Siam Pontianak Setelah
Degreening. Warta IHP, 33(1), 39-48
Halaman | 42

pengaruh yang sangat signifikan (p < 0.05) dengan lama penyimpanan 42 hari. Nilai CCI jeruk
terhadap nilai CCI yang dihasilkan. Nilai CCI jeruk hasil degreening perlakuan non-cold storage pada
hasil degreening dengan perlakuan cold storage suhu 10, 15, 20, dan 27oC (suhu ruang) masing-
pada suhu 10, 15, 20, dan 27oC (suhu ruang) masing 9.77, 9.56, 9.48 dan 3.68 sehingga
masing-masing 10.04, 9.91, 8.53, dan 8.84 sehingga
diperoleh nilai CCI tertinggi pada suhu 10 oC
Tabel 1
Pedoman deskripsi warna kulit buah jeruk berdasarkan skor dalam citrus color chart (CCC), nilai L*, a*, b*, CCI, dan Hue angle (Referrals
citrus color description based on the citrus color chart (CCC) score, value of L*, a*,b*, CCI, and Hue angle). (Jimenez-Cuesta et al. 1981)

Keterangan: Skor : 1 = jeruk Siam, 2 = jeruk Keprok, 3 = jeruk Berastagi, 4 = Ponkam, 5 = Sweet Orange, 6 = Murcot Mandarin.

diperoleh nilai CCI tertinggi pada suhu 10oC Menurut Efendi (2007) pemberian etilen sangat
dengan lama penyimpanan 39hari. berpengaruh terhadap buah non klimaterik karena
Hasil tersebut menunjukkan adanya korelasi produksi etilen yang dihasilkan oleh buah non
antara nilai CCI dan skor hasil pengamatan klimaterik sedikit. Penerapan degreening dengan
berbasis CCC (Tabel 1). Warna kulit buah jeruk gas etilen dapat mendegradasi klorofil dan memicu
hasil degreening selama penyimpanan mengalami pembentukan karoten. Gas etilen yang berada di
kenaikan nilai CCI yang menunjukkan bahwa kulit sekitar buah jeruk diserap ke dalam sel kulit jeruk
jeruk hasil degreening mengalami degradasi warna melalui pori-pori kulit, sehingga gas ini
dari hijau menjadi jingga (Tabel 2 dan 3). Ladaniya merangsang pembentukan enzim yang berfungsi
(2008) menyatakan bahwa setelah proses merombak klorofil sebagai pigmen yang berwarna
degreening pada jeruk perlu dilakukan pemaparan hijau pada kulit, sekaligus gas ini mampu
untuk memperoleh warna jingga yang optimum. mensintesis pigmen karotenoid yang berwarna

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 39-48
Halaman | 43

Gambar 1. Nilai Citrus Color Index (CCI) jeruk dengan perlakuan cold storage

Gambar 2. Nilai Citrus Color Index (CCI) jeruk non cold storage

kuning dan jingga pada kulit. Peningkatan warna dilakukan untuk menyeragamkan warna kulit pada
jingga pada jeruk dipicu oleh kandungan klorofil jeruk sehingga dapat mengubah warna kulit buah
yang menurun sedangkan total kandungan menjadi jingga. Romero et al. (2015)
karotenoid meningkat selama penyimpanan 10oC menambahkan bahwa penerapan etilen
(Muthmainnah et al., 2014; Zhou et al., 2010). Sdiri mempercepat perubahan warna.
et al., (2012) menyatakan bahwa degreening

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation : Musdalifah, N, Purwanto, YA, dan Poerwanto, R: Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Jeruk Siam Pontianak Setelah
Degreening. Warta IHP, 33(1), 39-48
Halaman | 44
Tabel 2
Perubahan warna jeruk hasil degreening dengan perlakuan cold storage pada berbagai suhu selama penyimpanan
Waktu (Hari) CS 10 oC CS 15 oC CS 20 oC CS 27 oC

12

15

18 -
21 -
24 -
27 - -
30 - -
33 - -
36 - - -
39 - - -
42 - - -
Keterangan: (-) Pengamatan dihentikan karena sampel telah rusak
Tabel 3
Perubahan warna jeruk hasil degreening non cold storage pada berbagai suhu selama penyimpanan
Waktu (Hari) NCS 10 (oC) NCS 15 (oC) NCS 20 (oC) NCS 27 (oC)

12 -
15 -
18 - -
21 - -
24 - -
27 - -
30 - -
33 - - -
36 - - -
39 - - -
Keterangan: (-) Pengamatan dihentikan karena sampel telah rusak

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.33 (No.1) 07 2016: 39-48
Halaman | 45

Perubahan nilai L*, a*, dan b* memiliki pola 3.3. Pengaruh degreening terhadap perubahan
yang sama antara jeruk siam hasil degreening nilai oHue
dengan perlakuan cold dan non-cold storage. Jeruk
Siam hasil degreening pada saat pemaparan pada Perlakuan cold dan non-cold storage pada jeruk
suhu 10, 15, 20, dan 27oC memberikan perubahan selama penelitian menunjukkan pengaruh yang
nilai yang meningkat dari hari ke hari selama masa signifikan (p < 0.05) terhadap nilai oHue yang
penyimpanan. Hal tersebut disebabkan oleh telah dihasilkan (Gambar 3 dan 4). Selain itu, perlakuan
terjadinya degradasi warna hijau pada kulit jeruk suhu dan waktu penyimpanan juga menunjukkan
diikuti dengan proses pembentukan warna kuning pengaruh yang sangat signifikan (p < 0.05)
dan jingga. Ladania (2008) mengungkapkan bahwa terhadap nilai oHue. Nilai oHue jeruk hasil
degradasi klorofil terjadi dalam waktu 3-4 hari degreening dengan perlakuan cold storage pada
setelah pemindahan jeruk dari tempat pemaparan suhu 10, 15, 20, dan 27oC (suhu ruang) masing-
etilen. masing 62.78, 63.64, 68.12, dan 66.70 sehingga
diperoleh nilai oHue terendah pada suhu 10oC
3.2. Pengaruh degreening terhadap perubahan skor dengan lama penyimpanan 42 hari. Nilai oHue
warna jeruk hasil degreening non-cold storage pada suhu
10, 15, 20, dan 27oC (suhu ruang) masing-masing
Skoring dilakukan untuk mengamati perubahan 65.84, 66.20, 67.44 dan 81.14 sehingga diperoleh
warna kulit secara visual matching dari skala 1 nilai oHue terendah pada suhu 10oC dengan lama
sampai 6 dengan menggunakan CCC (Citrus Color penyimpanan 39 hari.
Chart). Hasil penelitian (Tabel 4) menunjukkan Ramadhani et al. (2015) menyatakan bahwa
pengaruh waktu dan suhu terhadap jeruk hasil hasil pengukuran nilai a* dan b* dikonversikan ke
degreening selama penyimpanan. Nilai skor pada dalam satuan kromatik derajat Hue (oHue) yang
jeruk hasil degreening dengan perlakuan cold dan merupakan parameter warna yang penting dalam
non-cold storage terjadi perubahan warna dari pengukuran jeruk. Nilai oHue yang menurun
hijau menjadi jingga. Perubahan skor nilai pada menunjukkan bahwa warna kulit buah jeruk
jeruk hasil degreening dengan perlakuan cold semakin hari semakin jingga.
storage pada hari ke-0 dengan nilai skor 2.0 dan
hari ke-42 dengan nilai skor 5.0 sama halnya pada 3.4. Perubahan total klorofil dan karotenoid
jeruk hasil degreening perlakuan non-cold storage
memiliki nilai skor pada hari ke-0 dengan nilai 2.0 Pemberian etilen pada jeruk dapat merangsang
dan nilai skor 5.0 pada heri ke-39. Hasil skoring berbagai proses pematangan pada jaringan kulit
yang diperoleh selama masa penyimpanan seperti perombakan pigmen hijau atau klorofil
menghasilkan nilai yang optimum dengan kondisi sehingga menghasilkan warna kuning atau jingga
buah jeruk yang berwarna jingga, semakin jingga (Mayuoni et al., 2011). Gambar 5 menunjukkan
warna kulit maka semakin tinggi skornya. total klorofil jeruk Siam Pontianak sebelum
degreening, setelah degreening, dan selama proses
Tabel 4 penyimpanan. Penurunan klorofil total semakin
Skor perubahan jeruk hasil degreening dengan perlakuan cold
dan non-cold storage
tajam dengan adanya perlakuan degreening. Nilai
Suhu ( oC) kandungan korofil buah jeruk pada perlakuan cold
Hari Perlakuan Cold Storage Non Cold Storage storage mengalami penurunan dengan nilai klorofil
10 15 20 27 10 15 20 27 0.112mg g-1 sebelum degreening menjadi 0.009mg
0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.0 2.3 2.0 g-1 setelah degreening. Nilai klorofil pada saat
3 2.0 3.0 2.0 2.7 2.7 2.0 3.3 2.3
6 2.0 3.3 2.6 4.0 3.3 2.7 3.7 3.0
penyimpanan suhu 10, 15, dan 20oC masing-
9 2.7 4.0 3.0 4.7 3.7 3.3 4.7 3.0 masing 0.005 mg g-1, 0.008 mg g-1, dan 0.009mg g-1.
12 3.7 4.3 3.3 5.0 4.0 3.3 4.7 - Nilai kandungan korofil buah jeruk non-cold
15 4.0 5.0 4.3 5.0 4.0 3.7 5.0 - storage juga mengalami penurunan dengan nilai
18 4.3 5.0 4.3 - 4.0 4.0 - -
21 4.3 5.0 5.0 - 4.0 4.7 - -
klorofil 0.092mg g-1 sebelum degreening menjadi
24 4.3 5.0 5.0 - 4.3 5.0 - - 0.010mg g-1 setelah degreening. Nilai klorofil pada
27 5.0 5.0 - - 4.7 5.0 - - saat penyimpanan 10, 15, dan 20oC masing-masing
30 5.0 5.0 - - 4.7 5.0 - - 0.006mg g-1, 0.006mg g-1, dan 0.008mg g-1.
33 5.0 5.0 - - 4.7 - - -
36 5.0 - - - 5.0 - - -
Penyimpanan pada suhu 27oC hasil degreening
39 5.0 - - - 5.0 - - - jeruk baik perlakuan cold maupun non-cold
42 5.0 - - - - - - - storage telah mengalami kerusakan sehingga tidak
Keterangan: (-) Pengamatan dihentikan karena sampel telah dilakukan pengujian kandungan klorofil dan
rusak, 1 (hijau), 2 (hijau kekuningan), 3
karotenoid.
(kuning dengan bercak hijau), 4 (kuning
kejingga), 5 (jingga cerah), 6 (jingga tua). Peng et al. (2013) menyatakan bahwa klorofil
secara jelas mengalami penurunan oleh adanya
aplikasi degreening dengan etilen. Shimokawa et al.

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation : Musdalifah, N, Purwanto, YA, dan Poerwanto, R: Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Jeruk Siam Pontianak Setelah
Degreening. Warta IHP, 33(1), 39-48
Halaman | 46

(1998) menyatakan bahwa menurunnya jeruk pada perlakuan cold storage mengalami
kandungan klorofil pada buah hasil degreening peningkatan dengan nilai karotenoid 0.039mg g-1
disebabkan oleh meningkatnya aktivitas enzim sebelum degreening menjadi 0.066mg g-1 setelah
klorofilase dan menurunnya ukuran serta jumlah degreening. Nilai karotenoid pada saat
kloroplas pada kulit jeruk. Perubahan warna dari penyimpanan 10, 15, dan 20oC masing-masing
hijau menjadi kuning atau jingga sangat berkaitan 0.083mg g-1, 0.083mg g-1, dan 0.082mg g-1. Nilai
dengan degradasi klorofil dan biosintesis (Tanaka kandungan karotenoid buah jeruk non-cold storage
and Tanaka, 2006). Nilai kandungan karotenoid

Gambar 3. Nilai oHue jeruk dengan perlakuan cold storage

Gambar 4. Nilai oHue jeruk non-cold storage

juga mengalami peningkatan dengan nilai penyimpanan. Pada suhu yang rendah terjadi
karotenoid 0.048mg g-1 sebelum degreening sintesis karotenoid nonphotosintetic dengan
menjadi 0.079mg g-1 setelah degreening. Nilai terbentuknya -citraurin pada jeruk Siam yang
karotenoid saat penyimpanan 10, 15, dan 20 oC menyebabkan buah berwarna jingga. Matsumoto et
masing-masing 0.081mg g-1, 0.081mg g-1, dan al. (2009) menyatakan bahwa perlakuan
0.085mg g-1. degreening menggunakan etilen dapat
Total klorofil secara jelas mengalami meningkatkan nilai karotenoid pada kulit jeruk
penurunan (Gambar 5) dan terjadi peningkatan Satsuma. Perubahan warna kulit jeruk menjadi
karotenoid setelah degreening dan selama jingga disebabkan karena terjadinya sintesis

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol. 33 (No.1) 07 2016: 39-48
Halaman | 47

karotenoid yang bersifat nonphotosintetic yaitu - Ucapan terima kasih


citraurin yang merupakan pembentuk warna jingga
kemerahan pada kulit jeruk mandarin. (Ramadhani Ucapan terima kasih disampaikan kepada: (1)
et al. 2015; Kato et al. 2004). Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) yang
telah memberikan kesempatan kepada saya untuk
4. Kesimpulan mengikuti Program Pascasarjana di Institut
Pertanian Bogor melalui bantuan dana Beasiswa
Proses degreening dan penyimpanan optimum Program Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN), (2)
yang menghasilkan warna kulit jeruk terbaik Pusat Kajian Hortikultura Tropika, IPB Bogor.
(jingga cerah) yaitu pada penyimpanan suhu 10oC
selama 42hari, yang akan meningkatkan nilai CCI
dari 0.16 menjadi 10.04.

Gambar 5. Perubahan total klorofil dan total karotenoid


Daftar Pustaka perlakuan degreening dan suhu penyimpanan. Jurnal Horti
Indonesia, 5(1), 10-20.
Peng, G., Xie, X. L., Jiang, Q., Song, S., & Xu, C. J. (2013).
Andarwulan, N., Kusnandar, F., & Herawati, D. (2011). Analisis
Chlorophyll a/b binding protein plays a key role in
Pangan. Jakarta (ID): Dian Rakyat.
natural and ethylene-induced degreening of Ponkam
Arzam, T. S., Hidayati, I., Poerwanto, R., & Purwanto, Y. A.
(Citrus reticulata Blanco). Science Horticulture, (160), 37
(2015). Precooling dan Konsentrasi Etilen dalam
43.
Degreening untuk Membentuk Warna Jingga Kulit Buah
Poerwanto, R., & Susila A. D. (2014). Teknologi Hortikultura Seri
Jeruk Siam. Jurnal Horti Indonesia, 25(3), 257-265.
1 Hortikultura Tropika (ID). Bogor: IPB Press.
Efendi, R. (2007). Pengaruh Dosis dan Lama Pemeraman dengan
Qomariah, R., Hasbianto, A., Lesmayati, S., & Hasan, H. (2013).
Karbit (Kalsium Karbida) dalam Proses Degreening Jeruk
Kajian prapanen jeruk Siam (Citrus suhuiensis Tan) untuk
Bangkinang. SAGU, 6(2), 22-27.
ekspor. Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian. Balai
Handoko, D. D., Napitupulu, B., & Sembiring, H. (2005).
Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan (ID),
Penanganan pascapanen buah jeruk. Prosiding Seminar
417-430.
Nosional Teknoiogi Inovatif Pascapanen untuk
Porat, R. (2008). Degreening of citrus fruit. Tree Forest. Journal
Pengembangan lndustri Berbasis Pertanian. Balai
Science Biology, (2), 71-76.
Pengkajian Teknologi Pertanian Surnatera Utara (ID), 486-
Pusat Data Dan Sistem Informasi Pertanian. (2015). Outlook
497.
Komoditas Pertanian Subsektor Hortikultura Jeruk. ISSN:
Kato, M., Ikoma, Y., Matsumoto, H., Sugiura, M., Hyodo, H., &
1907-1507.
Yano, M. (2004). Accumulation of carotenoids and
Ramadhani, N., Purwanto, Y. A., & Poerwanto, R. (2015)
expression of carotenoid biosynthetic genes during
Pengaruh Durasi Pemaparan Etilen dan Suhu Degreening
maturation in citrus fruit. Plant Physiology, 134(2), 82437.
untuk Membentuk Warna Jingga Jeruk Siam Banyuwangi.
http://doi.org/10.1104/pp.103.031104
Jurnal Horti Indonesia, 25(3), 277-286.
Ladaniya, M. S. (2008). Citrus Fruit: Biology, Technology, and
Romero, L. X. R., Herrera, J. G. A., & Lpez, H. E. B. (2015).
Evaluation. San Diego, USA: Academic Press..
Ethylene and changes during ripening in Horvin plum
Matsumoto, H., Ikoma, Y., Kato, M., Nakajima, N., & Hasegawa, Y.
(Prunus salicina Lindl.) fruits. Agronoma Colombiana, 33(2),
(2009). Effect of Postharvest Temperature and Ethylene on
228-237.
Carotenoid Accumulation in the Flavedo and Juice Sacs of
Saltveit, M. E. (1999). Effect of ethylene on quality of fresh fruits
Satsuma Mandarin (Citrus unshiu Marc.) Fruit. Journal of
and vegetables. Postharvest Biology and Technology, (15),
Agricultural and Food Chemistry, 57(11), 47244732.
279 292.
http://doi.org/10.1021/jf9005998
Sdiri, S., Navarro, P., & Salvador, A. (2012). New degreening
Mayuoni, L., Tietel, Z., Patil, B. S., & Porat, R. (2011). Does
treatments to improve the quality of citrus fruit
ethylene degreening affect internal quality of citrus fruit?
combining different periods with and without ethylene
Postharvest Biology and Technology, 62(1), 5058.
exposure. Postharvest Biology and Technology, (63), 25-32.
http://doi.org/10.1016/j.postharvbio.2011.04.005
Shimokawa, K., & Sakanoshita, H. (1998). Ethylene induced
Muthmainnah, H., Poerwanto, R., & Efendi, D. (2014). Perubahan
changes of chloroplast structure in Satsuma Mandarin.
warna kulit buah tiga varietas jeruk keprok dengan
Journal Plant Cell Physiology, (19), 229-36.

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Citation : Musdalifah, N, Purwanto, YA, dan Poerwanto, R: Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Jeruk Siam Pontianak Setelah
Degreening. Warta IHP, 33(1), 39-48
Halaman | 48
Sims, D. A., & Gamo, J. A. (2002). Relationship between leaf Zhou, J. Y., Sun, C. D., Zhang, L. L., Dai, X. Xu. C.J., & Chen, K.S.
pigment content and spectral reflectance across a wide (2010). Preferential accumulation of orange-colored
range of species, leaf structures and development stages. carotenoids in Ponkan (Citrus reticulata) fruit peel
Journal Remote Sensing Environment, (81), 337-54. following postharvest application of ethylene or ethephon.
Tanaka, A., & Tanaka, R. (2006). Chlorophyll metabolism. Science Horticulture. (126), 229-235.
Current Opinion in Plant Biology, 9(3), 248255.
http://doi.org/10.1016/j.pbi.2006.03.011

WIHP ISSN: 0215-1243, 2016, All rights reserved


Halaman | x
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48
Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)
(Journal of Agro-based Industry)

PEDOMAN PENULISAN WARTA IHP

1. Makalah merupakan pemikiran sendiri, belum pernah dipublikasikan, mengandung unsur kekinian dan
bersifat ilmiah.
2. Judul makalah harus spesifik, jelas, singkat, informatif dan menggambarkan substansi dari tulisan; judul
ditulis dalam dua bahasa (bahasa Indonesia dan Inggris); judul diketik dengan huruf besar pada awal
kata; judul bahasa lainnya di-italic.
3. Nama penulis ditampilkan dengan jelas; lengkap tanpa menyebutkan gelar; nama asli; penulisan nama
sebaiknya tidak disingkat, bila dilakukan penyingkatan nama harus mengikuti kaidah dan konsisten;
nama penulis utama berada pada urutan paling depan.
4. Identitas penulis berisi nama instansi/lembaga tempat penulis bekerja dan alamat; alamat e-mail khusus
untuk penulis utama.
5. Abstrak ditulis dalam dua bahasa; tidak boleh lebih dari 200 kata. Abstrak harus mencakup tujuan
penelitian, bahan dan metode singkat, hasil dan kesimpulan. Hasil dapat didukung dengan data
kuantitatif. Pada akhir abstrak seharusnya memperlihatkan kesimpulan akhir/info baru hasil litbang
(Font Cambria, 10 pt dan spasi 1).
6. Kata kunci ditulis dalam dua bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris), ditempatkan di bawah
abstrak, dapat berupa kata tunggal dan kata majemuk yang terdiri dari 3 sampai dengan 5 kata (Font
Cambria, 8 pt, italic dan spasi 1).
7. Isi makalah penelitian terdiri dari:
o Pendahuluan (latar belakang, state of the art, dan tujuan penelitian)
o Bahan dan metode
o Hasil dan pembahasan (ilustrasi : gambar, tabel, grafik, foto, diagram dll)
o Kesimpulan
o Ucapan Terima Kasih (opsional)
o Daftar Pustaka (paling sedikit 12 referensi).
8. Isi makalah ulasan/ review terdiri dari:
o Pendahuluan (latar belakang, tujuan penelitian)
o Pembahasan (dapat terdiri dari beberapa bab sesuai kebutuhan)
o Kesimpulan
o Daftar Pustaka (paling sedikit 25 referensi)
9. Makalah ditulis 1 spasi pada kertas A4 dengan batas atas dan batas bawah 2,5 cm tepi kiri 3 cm dan tepi
kanan masing-masing 1,5 cm, huruf Cambria Font 10, dengan jumlah halaman makalah maksimal 10
halaman.
10. Tabel diberi nomer berurutan, judul tabel ditempatkan di atas tabel (rata kiri), ditulis dengan huruf kecil
kecuali huruf pertama pada kata pertama ditulis dengan huruf kapital kecuali singkatan (Font Cambria, 8
pt dan spasi 1); Tabel dibuat hanya dengan garis horisontal dan diletakkan rata kiri. Pencantuman
sumber dan keterangan diletakkan di bawah tabel rata kiri (Font Cambria, 8 pt dan spasi 1).
Contoh:
Tabel 2.
Perlakuan penyimpanan starter
Kode Perlakuan pada Penyimpanan
No.
Suhu ruang Suhu pendingin
1. RBa1 RBa2
2. RBb1 RBb2
3. RBc1 RBc2
4. RBd1 RBd2

11. Gambar, grafik, foto atau diagram diletakkan ditengah (center) dan diberi nomer berurutan. Judul
gambar ditempatkan di bawah gambar (center), ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf pertama pada
kata pertama ditulis dengan huruf kapital kecuali singkatan (Font Cambria, 8 pt dan spasi 1). Keterangan
gambar, grafik, foto atau diagram menyatu dengan judul gambar.

12. Cara dan contoh penulisan kutipan dan daftar pustaka disesuaikan dengan American Psycological
Association (APA) style:

Contoh :
Halaman | xi
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48
Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)
(Journal of Agro-based Industry)

a. Terbitan buku (satu penulis):


Daftar referensi
Mandelbaum, M. (2002). The ideas that conquered the world: Peace, democracy, and free markets in the twenty-
first century. New York: Public Affairs.

Kutipan : ( Mandelbaum, 2002)

b. Terbitan buku (beberapa penulis):


Daftar referensi
Reiter, D., & Stam, A. C. (2002). Democracies at war. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Jika penulis lebih dari lima maka hanya ditulis penulis pertama dan ditambahkan et al.

Kutipan
Kutipan (2 orang penulis) : (Reiter & Stam, 2002 )
Kutipan (2-5 orang penulis) ditulis semua penulis pada awal kutipan, kutipan berikutnya hanya ditulis
penulis pertama dan ditambahkan et al.

c. Terbitan buku (beberapa edisi)


Strunk,W., Jr., & White, E. B. (2000). The elements of style (4th ed.). New York: Longman.
Jika penulis lebih dari lima maka hanya ditulis penulis pertama dan ditambahkan et al.

Kutipan
Kutipan (2 orang penulis) : (Reiter & Stam, 2002 )
Kutipan (2-5 orang penulis) ditulis semua penulis pada awal kutipan, kutipan berikutnya hanya ditulis
penulis pertama dan ditambahkan et al.

d. Buku online
Daftar referensi
Reed, J. (1922). Ten days that shook the world. Project Gutenberg. Etext 3076. Retrieved January 12, 2004, from
ftp://ibiblio.org/pub/docs/books/gutenberg/etext02/10daz10.txt
APA tidak mencantumkan tahun setelah URL, ini membuat APA berbeda dengan model referensi lainnya.

Kutipan : (Reed, 1922)

e. Jurnal (satu penulis) :


Daftar referensi
Lipson, C. (1991). Why are some international agreements informal? International organization, 45, 495538.
No. volume pada jurnal diketik italic tetapi no. Penerbitan dan halaman halaman tidak.
Kata "Volume" (atau "vol.") dihilangkan. Tidak perlu untuk nama penerbitan tertentu jika halaman jurnal
diberi nomor berkelanjutan sepanjang tahun. Namun, jika setiap penerbitan dimulai dengan halaman 1,
nomor atau bulan penerbitan diperlukan: 45 (2), 15-30.

Kutipan : (Lipson, 1991)

f. Jurnal (beberapa penulis)


Daftar referensi
Koremenos, B., Lipson, C., & Snidal, D. (2001). Therational design of international institutions.International
Organization, 55, 761799.
Hansen, S. S., Munk-Jorgensen, P., Guldbaek, B., Solgard, T., Lauszus, K. S., Albrechtsen, N., et al. (2000).
Psychoactive substance use diagnoses among psychiatric in-patients. Acta Psychiatrica
Scandinavica, 102, 432438.
Jika penulis lebih dari enam maka ditambahkan et al.

Kutipan
(Koremenos, Lipson, & Snidal, 2001)
(Koremenos et al., 2001)

g. Surat kabar/ artikel majalah (tidak mencantumkan nama pengarang)


Halaman | xii
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48
Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)
(Journal of Agro-based Industry)

Daftar referensi
The United States and the Americas: One history in two halves. (2003, December 13). Economist, 36.
Strong aftershocks continue in California. (2003,December 26). New York Times [national ed.], p. A23.

No. Surat kabar : p atau pp

Kutipan
(United States and the Americas, 2003)
(Strong aftershocks, 2003)

h. Surat kabar/ artikel majalah (mencantumkan nama pengarang)


Daftar referensi
Bruni, F. (2003, December 26). Pope pleads for end to terrorism and war. New York Times [national ed.], p.
A21.

Kutipan
(Bruni, 2003) or, if necessary, (Bruni, 2003, December 26)

i. Surat kabar/ artikel majalah online


Daftar referensi
Vick, K. (2003, December 27). Quake in Iran kills at least 5,000: Temblor devastates ancient city; officials
appeal for assistance. Washington Post [online], p. A01. Retrieved January 2, 2004, from
http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/articles/A31539-2003Dec26.html
Jehl, D. (2004, January 1). U.S. hunts terror clues in case of 2 brothers. New York Times [online], p. A10.
Retrieved February 6, 2004, from ProQuest Newspapers database.

Kutipan
(Vick, 2003) or (Vick, 2003, December 27)
(Jehl, 2004) or (Jehl, 2004, January 1)

j. Naskah yang tidak diterbitkan (poster, tesis, disertasi)


Daftar referensi
Tsygankov, A. (2004, February). Russias identity and foreign policy choices. Paper presented
at the Program on International Politics, Economics, and Security, University of Chicago.
Hanya diperlukan bulan dan tahun untuk paper.

Cheng, D. T., Smith, C. N., Thomas, T. L., Richards, J. A., Knight, D. C., Rao, S. M., et al. (2003, June). Differential
reinforcement of stimulus dimensions during human Pavlovian fear conditioning. Poster session presented at the
9th Annual Meeting of the Organization for Human Brain Mapping, New York, NY.
Reid, P. (1998). Beginning therapists and difficult clients: An exploratory study. Unpublished masters thesis,
University of Massachusetts, Amherst.
Gomez, C. (2003). Identifying early indicators for autism in self-regulatory difficulties. Unpublished doctoral
dissertation. Auburn University, AL.

Kutipan
(Tsygankov, 2004)
(Cheng et al., 2003)
(Reid, 1998)
(Gomez, 2003)

k. Abstrak
Daftar referensi
Kremer, M., & Zwane, A. P. (2005). Encouraging private sector research for tropical agriculture
[Abstract]. World Development, 33, 87.
Abstrak diambil dari sumber asli/ utama, menggunakan format yang sama seperti mensitasi abstrak dari
seminar prosiding yang diterbitkan.
Albin, C. (2003). Negotiating international cooperation: Global public goods and fairness. Review of
International Studies, 29, 36585. Abstract obtained from Peace Research Abstracts Journal, 42, 2005, 6,
Abstract No. 236625.
Abstrak diambil dari sumber kedua.
Kutipan
Halaman | xiii
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48
Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)
(Journal of Agro-based Industry)

(Kremer & Zwane, 2005)


(Albin, 2003/2005)
Jika abstrak yang berasal dari sumber kedua diterbitkan dalam tahun yang berbeda dari sumber utama
maka sitasi dengan memisahkan antara dua tahun tersebut dengan garis miring.

l. Website
Daftar referensi
Digital History Web site. (2004). S. Mintz (Ed.). Retrieved January 10, 2004, from http://www
.digitalhistory.uh.edu/index.cfm?
Internet Public Library (IPL) (2003, November 17). Retrieved January 5, 2004, from http://www.ipl.org/
Yale University, History Department home page. (2003). Retrieved January 6, 2004, from
http://www.yale.edu/history/

Jika website/ halaman web tidak menampilkan tanggal ketika ditulis/ diperbarui, maka cukup
menampilkan tahun.

Kutipan
(Digital History, 2004)
(Internet Public Library, 2003) or (IPL, 2003)
(Yale History Department home page, 2003)

m. Halaman Website (mencantumkan nama pengarang)


Daftar referensi
Lipson, C. (2004). Advice on getting a great recommendation. Retrieved February 1, 2004, from
http://www.charleslipson.com/courses/ Getting-a-good-recommendation.htm

Kutipan
(Lipson, 2004)

n. Halaman Website (tidak mencantumkan nama pengarang)


Daftar referensi
I Love Lucy: Series summary. (2004). Sitcoms Online. Retrieved May 4, 2005, from
http://www.sitcomsonline.com/ilovelucy.html

Kutipan
(I Love Lucy: Series summary, 2004)
a. Jika sitasi mempunyai satu atau dua penulis maka nama belakang penulis dicantumkan
semua (tanpa inisial); apabila penulis 3 orang maka yang dicantumkan nama penulis
pertama (tanpa inisial) ditambah kata et al.
b. Apabila kalimat langsung mengacu kepada nama penulis maka yang dalam tanda kurung
adalah tahun publikasi; apabila kalimat tidak langsung mengacu kepada nama penulis maka
yang didalam tanda kurung adalah nama penulis (tanpa inisial) dan tahun publikasi.
13. Catatan kaki (footnotes) adalah suatu informasi yang merupakan suatu penjelasan tentang sesuatu yang
dinyatakan dalam teks. Penjelasan itu diluar konteks dari teks tersebut. Biasanya catatan kaki itu diberi
nomor berturut menurut teks. Tempat catatan kaki itu dibagian bawah halaman yang bersangkutan
dengan apa yang dijelaskan. Catatan kaki berisi:
1. Keterangan khusus atau tambahan penting, tetapi tidak dimasukkan dalam teks karena uraiannya
akan menyimpang dari garis besar karya ilmiah atau karena uraiannya akan bersifat berlarut-larut
dan di luar konteks.
2. Komentar khusus mengenai bagian yang bersangkutan dalam teks.
3. Kutipan yang akan mengganggu kelancaran penyajian uraian bila dimuat dalam teks.
4. Penunjuk sumber yang diberi komentar tambahan
14. Didukung minimal 13 (tiga belas) daftar pustaka, 80% mengacu pustaka 10 (sepuluh) tahun terakhir, dan
80% berasal dari sumber acuan primer.
15. Lampiran hanya digunakan sebagai data pendukung dalam penilaian dan tidak dicetak dalam Warta IHP.
Citation: Author1, Author2., & Author 3 (xxx) Title of your manuscript. Warta IHP, x(x),xx-xx 2,5 cm
Halaman | xx

Judul Artikel (Cambria, 17 pt, spasi 1)


Judul artikel translasi (Cambria, 13 pt, italic, spasi 1)
1,5 cm 3 cm

Penulis Utamaa, Penulis ke-2b and Penulis-ke-na (Cambria, 13 pt)

a Institusi penulis (Cambria, 8 pt)


alamat (Cambria, 8 pt)

b Institusi selain penulis utama (Cambria, 8 pt)


alamat (Cambria, 8 pt)
e-mail penulis utama (Cambria, 8 pt)

Riwayat Naskah: ABSTRAK: Abstrak harus dimulai dengan latar belakang singkat, tujuan penelitian, bahan
dan metode singkat dan hasil. Hasil dapat didukung dengan data kuantitatif. Pada akhir
Diterimaxx,xxx abstrak seharusnya memperlihatkan kesimpulan akhir/ info baru hasil litbang. Abstrak ini
Direvisi xx,xxx
Disetujui xx,xxx ditulis dalam bahasa sesuai isi artikel (Font Cambria, 10 pt dan spasi 1).

Kata kunci: kata kunci 1, kata kunci 2, kata kunci 5 (Cambria, 8 pt)

ABSTRACT: Abstract should be started with the short background of the study, short
material and method, and result. The result may be supported by quantitative data. At the
end of the abstract should show the final conclusion of the research/ new information
about result. This abstract is written accordance to language of article content (Font
Cambria, 10 pt and single space).

Keywords: key word1, keyword 2, keyword 5 (Cambria, 8 pt)

1. Pendahuluan
2. Bahan dan Metode
Pendahuluan harus menunjukkan sitasi pustaka
yang mendukung penelitian. Untuk mensitasi 2.1. Bahan
pustaka harus mengikuti petunjuk penulisan
(Hirsch et al. 2005; Meng & Bentley 2008; Bardi Tuliskan semua bahan yang digunakan dalam
2009). Format penulisan sitasi dan daftar pustaka penelitian.
mengikuti aturan APA (American Psychological
Association). 2.2. Alat
Pendahuluan berbentuk dua kolom dengan
huruf Cambria, 10pt dan spasi satu. Tuliskan semua alat yang digunakan pada
penelitian ini beserta spesifikasinya.

0.85 2.3. Metode


cm
2.3.1. Bagaimana menulis persamaan

contoh persamaan adalah sebagai berikut:

k v k
f(v) = ( )(k-1) e(-v)/c) (k > 0, v > 0, c > 1)
c c
(1)

Keterangan:
Gambar 1. A typical power- wind speed curve (kurva kecepatan k = parameter bentuk,
angin-Jenis kekuatan)
Faktor bentuk k berhubungan dengan perubahan
kecepatan angin; oleh karena itu berlokasi ditempat
Pada akhir pendahuluan harus menunjukkan tertentu.
tujuan naskah. c = parameter skala

2,5 cm
WIHP ISSN: 0215-1243, xxx,, All rights reserved
Warta IHP/Journal of Agro-based Industry Vol.xx (No.x) mm yyyy: xx-xx
Halaman | xx
1 peletakan tabel pada bagian bawah atau atas dari
f v
N n
n N
f i vi
2
i i v halaman tersebut
v i 1N and i 1
N Tabel 1
fi fi Monthly means and standard deviations of wind speed data
i 1 i 1
Cubic
(2) Arithmetic Standar
Month Mean v d
Mean v (m/s) 3
Deviatio
Keterangan: (m/s)
n
(v) = mean wind velocity, January 5.1427 5.7955 2.0396
v = actual wind speed in m/s, February 5.2659 6.3556 2.7814
N = number of different values of wind March 4.7767 6.0523 2.9158
speeds April 6.2008 7.8349 3.8077
May 9.4697 10.9003 4.2843
observed, June 9.6657 10.4821 3.1620
fi = the numbers of observations of a specific July 10.5473 11.7628 3.9213
wind speed vi and August 9.4452 10.4108 3.4333
n = 1 for arithmetic mean, September 7.1930 8.2827 3.3136
October 4.5461 5.6524 2.6543
n = 2 for root mean square, November 6.8517 7.5004 2.3033
n = 3 for cubic mean cube root. December 5.8205 6.6385 2.4651

3. Hasil dan Pembahasan Tabel 2


Weibull Parameters for The Test Site
3.1. Cara mendeskripsikan Month k c
January 3.1085 6.4796
February 2.4533 7.1633
Cara mendeskripsikan dengan cara March 2.2102 6.8338
menggabungkan antara hasil dan pembahasan April 2.1894 8.8468
sekaligus. May 2.7570 12.2484
June 3.6749 11.6195
July 3.2969 13.1139
3.2. Cara penulisan tabel August 3.3358 11.5997
September 2.7045 9.3133
Tabel harus ditulis secara ilmiah seperti October 2.2725 6.3811
November 3.6044 8.3230
ditunjukkan oleh Tabel 1, Tabel 2. Garis hanya December 2.9325 7.4414
untuk heading dan garis tertutup. Tidak
diperbolehkan garis vertikal.
3.3. Cara penulisan gambar
Cara penulisan tabel dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu: (1) untuk tabel berukuran kecil
Cara penulisan gambar dapat dilakukan dengan
dapat dibuat dalam format dua kolom seperti pada
dua cara yaitu: (1) untuk gambar berukuran kecil
Tabel 1.; (2) untuk tabel berukuran besar dapat
dapat dibuat dalam format dua kolom seperti pada
dibuat dalam format satu kolom, dengan ketentuan.
Gambar 1.; (2) untuk gambar berukuran besar
dapat dibuat dalam format satu kolom, dengan
ketentuan peletakan gambar pada bagian bawah
atau atas dari halaman tersebut, seperti pada
Gambar 2 dan Gambar . Gambar harus dijelaskan
pada kalimat/ pernyataan.

Gambar 2. Keandalan dibandingkan dengan kecepatan angin

WIHP ISSN: 0215-1243, xxxx, All rights reserved


Citation: Author1, Author2., & Author 3 (xxx) Title of your manuscript. Warta IHP, x(x),xx-xx
Halaman | xx

Gambar 3. Keandalan dibandingkan dengan kekuatan per unit menyapu wilayah/ daerah

4. Kesimpulan http://www.netl.doe.gov/publications/others/pdf/Oil_Peak
ing_NETL.pdf.
Jangamshetti, S.H. & Rau, V.G. (1999) Site Matching of Wind
Mohon menyampaikan kesimpulan penemuan Turbine Generators: A Case Study. IEEE Transactions on
disini Energy Conversion, 14(4), 1537-1543.
Jangamshetti, S.H. & Rau, V.G. (2001a) Optimum Siting of Wind
Turbine Generators. IEEE Transactions on Energy
Ucapan terima kasih Conversion, 16(1), 8-13.
Jangamshetti, S.H. & Rau, V.G. (2001b) Normalized Power Curves
as A Tool for Identification of Optimum Wind Turbine
Mohon memberikan ucapan terima kasih disini Generator Parameters. IEEE Transactions on Energy
Conversion, 16(3), 283-288.
Johnson & Gary, L. (1985) Wind Energy Systems, Prentice Hall
Daftar Pustaka Inc., Englewood Cliffs, NJ 07632.
Justus, C.G. (1978) Winds and System Performance, Franklin
A Survey of Canadian Utilities. (1995) Isolated Systems Institute Press, Philadelphia.
Generating Planning Practices. Karki, R. & Billinton, R. (2004) Cost- Effective Wind Energy
Abed, K.A. & El-Mallah, A.A. (1997) Capacity Factor of Wind Utilization for Reliable Power Supply. IEEE Transactions on
Turbines. Energy, 22, 487-91. Energy Conversion, 19(2), 435-440.
Albadi, M.H. & EI- Saadany, E.F. (2010) Optimum Turbine- Site Karki. R. & Po, Hu. (2005) Wind Power Simulation Model for
Matching. Energy, 35, 3593-3602. Reliability Evaluation, In Proc.IEEE Can. Con. Electr. Comput.
Bardi, U. (2009) Peak Oil: The Four Stages of A New Idea. Energy, Eng. Saskatoon, 541-544.
34, 323-6. Manwell, J.F., McGowan, J.G. & Rogers, A.L. (2002) Wind Energy
Billinton, R. & Allan, R.N. (1996) Reliability Evaluation of Power Explained Theory, Design and Application. West Sussex:
Systems. Plenum Press, 2nd ed. New York. John Wiley & Sons Ltd.
Charles, E.E. (2000) An Introduction to reliability and Meng, Q.Y. & Bentley, R.W. (2008) Global Oil Peaking:
maintainability engineering, 1st edition , New Delhi; Tata Responding to The Case for Abundant Supplies of Oil.
McGraw Hill Publishing company Ltd. Energy, 33, 1179-84.
Dong Li, D. & Niu, L.Q. (2008) Reliability Analysis of Electric Salameh, Z.M. & Safari, I. (1992) Optimum Windmill-Site
Distribution System Integrated with Wind Power, IEEE Matching. IEEE Transaction on Energy Conversion, 7, 669-76.
International Conference on Industrial Electronics and Srinath, L.S. (2005) Reliability Engineering, 3rd edition, New
Applications ICIEA, Singapore pp 729- 733. Delhi. Affiliated East- West Press.
Hirsch, R.L., Bezdec, R. & Wendling, R. (2005) Peaking of World Suchitra, G. & Jangamshetti, S.H. (2008) Reliability Evaluation of
Oil Production: Impacts, Mitigation and Risk Management. Wind Power in North Karnataka, India- A Case Study. IEEE
DOE Report. Available from, International Conference on Sustainable Energy Technologies
ICSET Singapore, 24-27, 478-482.

WIHP ISSN: 0215-1243, xxx,, All rights reserved


Halaman | xvii
ISSN 0215-1243
VOL 33 No. 1 Juli 2016 Hal 1 48
Warta Industri Hasil Pertanian (IHP)
(Journal of Agro-based Industry)

UCAPAN TERIMA KASIH

Redaksi Warta IHP mengucapkan terima kasih kepada para Redaktur dan Mitra Bestari
dalam menelaah naskah yang diterbitkan di Jurnal ilmah ini, sehingga jurnal ini dapat
terbit tepat pada waktunya. Mitra Bestari yang telah berpartisipasi dalam terbitan volume
33 No. 1 Juli 2016 adalah:

Prof. Dr. Ono Suparno, S.T.P, M.T.

Prof. Dr. Ing. Misri Gozan, M.Tech

Prof. Dr. Ir. Sutrisno Marjan, M.Eng

Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc

Prof. (Riset) Dr. Ir. Bambang Hariyanto, M.Si.

Dr. Ir. Ingrid S. Surono, M.Sc


BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN INDUSTRI
BALAI BESAR INDUSTRI AGRO

Jl. Ir. H. Juanda No. 11 Bogor


Telp. 0251-8324068 Fax. 0251-8323339
email : cabi@bbia.go.id / warta.ihp@gmail.com
website : www.bbia.go.id